57

[Freelance] He’s Mine and That’s It [part 11]

Hei, it’s me Kei and yes, I’m back

Saya masih suka sama karakter antagonis. Jadi saya kembali dengan tokoh utama karakter antagonis. So, enjoy it, my lovely readers  (^^)v

“Siapa?” Tanya Hyori yang sedang sibuk dengan blush-on.

“Ada sebuah paket untuk anda nona Hyori.” Kata seseorang di luar.

“Tunggu sebentar.” Kata Hyori sambil berjalan dan membukakan pintu kamarnya.

“Ini nona.” Katany sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna hijau yang berpita.

“Dari siapa?”

“Saya tidak tahu nona. Tugas saya hanya mengantarkannya.”

“Oh, begitu. Terima kasih.”

“Oh ya, nona. Sudah ditunggu keluarga anda di taman belakang.”

“Bilang pada mereka aku akan segera turun.” Kata Hyori sambil menutup pintu dan membuka kotak hadiah itu.

Ternyata kotak itu berisi sepasang sepatu berwarna hijau tosca yang diinginkannya dan sebuah kartu kecil berwarna kuning yang bertuliskan, “hope you’ll like it.”

“Siapa yang mengirimkannya ya?” Tanya Hyori sambil mencari nama pengirimnya. “Ah, pasti oppa, eomma, atau onnie. Kan kemarin aku sempat menyeritakan kekesalanku tentang sepatu ini. Oh, terima kasih.”

**

*Hyori POV*

“Oppa, happy anniversary.” Kataku sambil memeluk kakak laki-lakiku itu. “Hiduplah bahagia dengan onnie selama-lamanya dan terima kasih untuk sepatu ini.”

“Terima kasih adikku sayang. Hah? Sepatu apa?” Tanya Choi Siwon, oppaku yang malam itu terlihat tampan hanya dengan kemeja dan celana panjang casual.

“Sepatu ini.” Kataku sambil mengangkat sebelah kakiku untuk menunjukkan sepatu baruku itu.

“Aku tidak pernah membelikannya untukmu.”

“Lalu siapa?” tanyaku bingung yang di jawab dengan endikan di pundaknya. “Onnie atau eomma mungkin.

Tapi sayang setelah aku menanyakan pada orang-orang tersebut mereka mengaku tidak pernah mengirimkannya padaku. Lalu siapa yang sudah mengirimkannya padaku?

“Oh, kau. Akhirnya datang juga.” Kata oppa pada seseorang. “Hyo, ayo kita mulai makan malamnya karena tamu undanganku sudah datang.”

Tamu undangan? Memangnya oppa mengundang siapa? Inikan acara keluarga. Paling juga sahabat kuliah oppa atau bahkan Nickhun-oppa sahabat semasa kuliah oppa yang orang Thailand itu? Sudah lama aku tidak bertemu si pangeran Thai.

“KAU?! Apa yang dia lakukan disini?” tanyaku pada oppa. Bingung karena kedatangan laki-laki itu. “Aku kira ini acara keluarga.” Kataku sinis.

“Dia tamu undanganku, Hyo.” Kata oppa pelan dan berwibawa.

“Napsu makanku hilang. Aku mau ke kamar saja.” Kataku segera pergi.

“DUDUK, CHOI HYORI dan hormati tamuku.” Katanya menekankan pada kata duduk dan namaku.

“Siwon-ah, sudahlah. Aku memang bukan anggota keluarga. Jadi biarkan saja aku yang pergi.” Kata laki-laki itu sambil memegang lengan oppa.

“Jangan, Hyuk. Kau tamu undanganku. Kalaupun ada yang harus pergi itu adalah dia, bukan kau.” Katanya lagi.

What?? Kau lebih membelanya yang bukan siapa-siapa itu daripada aku adikmu sendiri?” tanyaku dalam hati. Aku dengan segera berdiri dan melempar serbet yang ada di atas piring.

“Ehem, Hyo duduk dan makan malam bersama kami.” Kata appa tiba-tiba.

“Tapi appa.” Kataku berusaha menyenggah.

“Duduk.” Kata appa lagi. Kali ini dengan nada mengintimidasi yang membuat nyaliku ciut dan terpaksa duduk.

Makan malam itu berjalan dengan baik. Baik kalau yang kau maksud dengan baik adalah kami semua makan dengan bumbu percakapan basa-basi dan sedikit tertawa. Aku? Hanya bisa menggerutu dalam hati mendengar bagaimana appaku memuji proyek bersama mereka –oppa dan Hyuk Jae- yang berjalan dengan baik. Entah mengapa makanan di meja makan malam itu membuatku eneg dan kenyang. Padahal biasanya aku bisa menghabiskan sampai tiga ekor kepiting sendirian saking cintanya aku dengan hewan laut itu. Tapi malam ini? Setengah ekorpun tidak termakan olehku.

Ah, aku tau. Ini semua karena Hyuk Jae. Dia yang menghilangkan napsu makanku. Buat apa sih dia menggaggu hidupku? Sudah cukup dia menggangguku di kantor.

“Oh ya, Hyo. Kau sudah tahu siapa yang mengirimkan sepatu itu padamu?” Tanya eomma padaku.

“Belum, eomma.” Jawabku. ”Aku kira oppa, onnie, atau bahkan eomma yang membelikannya untukku.”

“Kau menyukainya?”

“Sangat, eomma. Ini sepatu yang kuinginkan. Terlihat match kan dengan gaunku?” tanyaku bangga.

“Kau terlihat cantik. Iya kan, Hyuk?” Tanya oppa pada Hyuk Jae.

“Eh, ah, iya.” Jawabnya kaget.

“Aku benar-benar penasaran dengan pengirimnya. Siapa ya?”

“Memangnya mau kau apakan?”

“He? Ya jelas akan ku beri ucapan terima kasih dong, onnie. Memangnya aku mau memberi apa?”

“Seperti cerita-cerita putri-putri donk. Kau akan menikahi pemberi sepatu itu kalau dia laki-laki dan kalau perempuan akan kau angkat sebagai saudara.” Kata onnie yang ditertawai oleh eomma.

“Ih, onnie.” Kataku geli sendiri mendengarnya. “Baiklah kalau memang ini yang onnie mau. Aku, Choi Hyori, mencari pemberi sepatu hijau tosca ini. Apabila laki-laki akan ku jadikan suami dan apabila perempuan maka akan ku jadikan saudara.”

“Heh, kau itu putri dari kerajaan mana?” Tanya oppa.

“Kerajaan Choi. Iya kan yang mulia?” kataku sambil melirik appa yang tertawa melihat tingkah kami.

“Benar sekali putriku sayang.” Kata appa mulai memainkan perannya.

“Kau, penasehat kerajaan. Bantulah putriku ini mencari orang yang dimaksud.” Kata appa pada oppaku.

“Kok aku jadi penasehat kerajaan sih appa? Aku kan pangeran.” Katanya merajuk.

“Heh, sudahlah. Appa sudah menunjukmu sebagai penasehat kerajaan. Turutilah perintah raja.” Kataku sambil memandang penuh kemenangan pada oppaku itu.

“Baik yang mulia. Oh ya, Hyo. Kau yakin dengan kata-katamu tadi itu?”

“Heh, panggil aku tuan putri.”

“Tuan putri, apakah anda yakin dengan kata-kata anda tadi?”

“Tentu saja. Tuan putri tidak pernah ingkar janji, penasehat kerajaan.”

**

*Author POV*

“Hai, Hyori. Sudah makan?” Tanya Hyuk Jae yang tiba-tiba datang (lagi) di kantor Hyori.

“Kau lagi.” Respon Hyori sambil kembali menatap layar laptopnya.

“Sudah makan? Mau makan apa? Aku belum makan dari pagi.”

“Aku sudah makan dan aku mohon untuk yang kesekian kalinya. Tolong hentikan kebiasaanmu yang setiap jam makan siang kemari.”

“Kalau begitu terima tawaranku dulu untuk makan malam denganku.”

“Aku sibuk.”

“Kau selalu mengatakan itu, Hyo. Ini sudah minggu kedua kau mengatakannya.”

“Aku benar-benar sibuk.”

“Kalau begitu aku akan datang terus kemari sampai kau mau makan malam denganku.”

Hyori hanya bisa memberikan tatapan are-you-kidding-me dan di jawab dengan tatapan aku-bisa-melakukannya-untuk-waktu-yang-lama. Dia menghela nafasnya sebelum akhirnya berkata, “Baiklah, hanya makan malam biasa kan. Dimana?”

“Iya, makan malam biasa. Akan kujemput kau.”

“Tidak. Aku hanya menyetujui untuk makan malam bukan untuk di antar-jemput. Terserah kau mau atau tidak.”

“Baik,, Baik. Ini alamatnya dan datanglah jam 8 malam.” Katanya sambil menuliskan alamat sebuah restoran di kertas dan memberikannya pada Hyori. “Kutunggu kau sampai datang.”

“Terserah.” Jawab Hyori malas-malasan.

Malamnya pukul 8 kurang lima menit di apartemen Hyori. Hyori masih menggunakan pakaian rumahnya dan berkutat dengan tugas kantornya. Dia melihat jam dindingnya dan kembali menekuni pekerjaannya. Dia sama sekali tidak berniat untuk datang ke restoran itu.

Terdengar bunyi pertir menyambar beberapa kali sebelum akhirnya hujan deras. Hyori dengan segera menutup jendela apartemen untuk menghindari masuknya air hujan ke dalam.

“Baguslah kalau hujan. Aku jadi punya alasan mengapa aku tidak datang makan malam.” Katanya sambil berjalan ke dapur dan memanaskan spaghetti yang tadi dibelinya.

**

“Kenapa semalam kau tidak datang?” Tanya Hyuk Jae siangnya. Tepat seperti prediksi Hyori.

“Hujan lebat. Aku tidak suka menyetir saat hujan. Bahaya.” Jawab Hyori asal.

“Oh, begitu.” Jawab Hyuk Jae lemah. “padahal aku menunggu semalaman.”

“Apa?”

“Ah, tidak. Kalau begitu kau harus menggantinya.”

“Hah? Maksudmu?”

“Berarti kau masih berhutang makan malam denganku.”

“Waktu kosongku hanya kemarin malam. Aku akan sangat sibuk minggu ini.”

“Kalau begitu besok malam.”

“Kau itu tuli atau apa? Aku bilang aku sibuk.”

“Ini hanya sebentar kok dan tempatnya dekat. Tidak akan menghabiskan waktumu banyak.” Katanya sambil tersenyum dan membayangkan makan malam itu. “Aku akan memberikan detilnya besok. Selamat siang, Hyo. Oh ya, itu ada kimbab kesukaanmu.”

**

“Siang, princess.” Sapanya dengan wajah yang berbinar-binar.

“Hmmmm.”

“Ini kuberikan alamat tempat kita makan malam.” Katanya sambil menuliskan sebuah alamat di kertas dan diangsurkannya padaku.

“Oke.” Kataku sambil menerima kertas itu dan menaruhnya di atas file tanpa membacanya.

“Sampai ketemu nanti malam princess.” Katanya bahagia.

“Terserah.” Jawab Hyori malas.

**

“Ah, sudah sore rupanya.” Kata Hyori sambil meregangkan badannya yang terlalu lama duduk di kursi. Diapun melihat jam dinding. “Baru pukul 6 sore. Lebih baik aku ke café Alice saja. Malam ini kan ada Boyce Avenue.”

Hyori menutup laptopnya dan membereskan kertas-kertas yang berserakan di mejanya. Dia menemukan kertas yang tadi dituliskan alamat oleh Hyuk Jae. Dia melihat alamat itu dan mengerutkan keningnya, “Atap apartemenku? Apa sih maunya?”

**

“Hati-hati menyetirnya, Hyo.” Kata Alice melepas kepergian Hyori di tempat parkir cafenya.

“Iya, sayang. Aku akan hati-hati. Cepatlah masuk. Hujan dan sudah malam.” Kata Hyori sambil tersenyum pada sahabatnya itu.

Sesampainya Hyori di apartemen, dia tiba-tiba saja teringat dengan Hyuk Jae dan janji makan malamnya. Dia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 12.

“Tidak mungkin dia menungguku selama itu. Lagipula ini kan hujan.” Kata Hyori meyakinkan diri sendiri sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Setelah selesai berganti baju, Hyoripun memutuskan untuk tidur. Sayang pikirannya tidak mengijinkannya untuk beristirahat.

“Dia tidak mungkin menunggumu, Hyo. Dia pasti pulang. Dia sudah tidur dengan nyenyak di kamarnya dan bersiap untuk memarahimu besok siang.” Kata Hyori pada dirinya sendiri. “Oke. Jadi sekarang lebih baik kau tidur.”

Tapi sayang, Hyori malah tetap tidak bisa tidur dan memejamkan matanya.

“Aku tahu ini gila. Tapi lebih baik aku memeriksanya dengan mataku sendiri. Daripada aku tidak bisa tidur seperti ini.” Kata Hyori sambil memakaicoat, mengambil payung, dan berjalan keluar apartemen untuk ke atap gedung.

Diluar hujan masih turun dengan derasnya. Hyori merapatkan coatnya saat berjalan menaiki tangga terakhir menuju atap. Dia menghitung sampai tiga sebelum akhirnya dia membuka pintu atap dan menemukan Hyuk Jae duduk menggigil di sebuah kursi. Dia menundukkan kepalanya berusaha untuk melawan hawa dingin.

“HYUKIE.”teriak Hyori kaget dengan apa yang dilihatnya. Payung yang dipegangnya di buang begitu saja. Dia berlari ke arah laki-laki itu dan memegang bahunya.

“Kau akhirnya datang juga.” Katanya sambil tersenyum dan menggigil kedinginan.

“ Ini hujan, Hyuk. Apa yang kau lakukan?” Tanya Hyori panik.

“Kan sudah kubilang aku akan menunggumu.” Katanya sambil berusaha berdiri. “Aku tidak mau kau mengingka…”

Kata-kata Hyuk jae terputus karena tiba-tiba saja dia ambruk ke arah Hyori.

“HYUKIE!!” teriak Hyori panik saat Hyuk Jae ambruk. “Ayo kita ke apartemenku. Kau menggigil kedinginan.”

“Tapi kita belum makan malam.”

“Kita bisa makan malam lain waktu. Ayo kita pergi dari sini.” Kata Hyori sambil mengalungkan tangan Hyuk Jae ke lehernya dan membantu Hyuk Jae berjalan.

Mereka berjalan perlahan-lahan sampai akhirnya sampai di kamar Hyori. Dia membantu Hyuk Jae duduk di kasurnya dan mencarikannya handuk.

“Bajumu basah. Ganti bajumu.” Kata Hyori sambil menyerahkan sebauh kaos dan celana pad Hyuk Jae. Dia membantu Hyuk Jae berjalan ke kamar mandi untuki berganti baju.

“Kau itu bodoh atau apa sih? Ini hujan, Hyukie.” Kata Hyori sambil membantu Hyuk Jae kembali ke kasurnya. “Kau pasti belum makan kan?”

Hyuk Jae menjawabnya dengan gelengan lemah. Bibirnya pucat tapi  entah mengapa matanya menyiratkan kebahagiaan bukannya kekesalan.

“Tunggu disini. Akan ku buatkan kau bubur ayam dulu.”

**

“Hehehehe.” Tiba-tiba saja Hyuk Jae tertawa saat Hyori membereskan mangkuk bekas bubur ayamnya.

“Kau kenapa? Tiba-tiba tertawa sendiri.” Tanya Hyori bingung.

“Aku jadi teringat dulu sewaktu maagmu kambuh. Kan aku yang menjagamu, persis seperti apa yang kau lakukan sekarang.” Kenangnya dengan suara lirih.

“Ah, iya. Kau yang menjagaku semalaman.” Kata Hyori sambil tersenyum sebentar. “Sudah, sekarang kau cepatlah tidur agar kau cepat sembuh.”

“Gajima…” kata Hyuk Jae sambil memegang tangan Hyori yang akan berdiri dan membawa nampan ke dapur. Jangan pergi

“Aku hanya mau ke dapur untuk membereskan bekas memasakku. Tidurlah, aku tidak akan kemana-mana kok.” Katanya lembut.

Hyuk Jae hanya bisa tersenyum dan melepaskan pegangan tangannya sambil berharap bahwa semua ini hanya mimpi. Sikap Hyori yang manis dan lembut ini bagaikan air di padang pasir. Keajaiban alam setelah apa yang telah terjadi diantara mereka.

Tidak beberapa lama kemudian Hyori datang dengan baskom dan sebuah handuk untuk mengompres Hyuk Jae. Dia duduk di kursi di samping kasur dan mulai mengompres kepala Hyuk Jae.

“Besok lagi kau tidak boleh seperti ini lagi, ara!” kata Hyori. tau!

Hyuk Jae hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Aku tidak akan melakukannya lagi kalau kau berjanji tidak akan membuatku menunggu lagi.”

“Kau itu bukan superman. Kau itu bisa sakit, jadi jangan hujan-hujanan. “ kata Hyori lagi mengabaikan kata-kata Hyuk Jae.

“Kalau kau yang merawatku seperti ini, sakit seperti ini setiap haripun aku mau.”

“Sekarang cepatlah tidur agar obatnya bekerja.” Kata Hyori sambil mengelus poni Hyuk Jae.

“Jangan tinggalkan aku sendirian disini.” Katanya perlahan sebelum akhirnya matanya secara perlahan menutup. Obatnya mulai bekerja. Pegangan tangannyapun mulai mengendur di tangan Hyori.

“Berhentilah membuat hatiku tidak karuan seperti ini, Hyukie.” Kata Hyori dalam hati sambil mengambil nafas panjang.

Dia melepaskan pegangan tangan Hyuk Jae dari lengannya dan membenarkan selimutnya.

**

Tbc

Tag: Eunhyuk