[Freelance] Angel Hranitel [Extra!]

Angel Hranitel’  extra part

Credits by. Lucas Delacroix

Tags. Super Junior

Hampton hill, 2 february 1917

Mereka menjatuhkanku..

Mereka menarik paksa sayapku…

Mereka menghukumku..

Aku menunduk diatas tanah basah dibawah kakiku, merasakan sesak yang menghimpit dadaku karena tidak terbiasa oleh udara tempat ini yang terlalu kotor. Aku benar-benar tidak bisa bernapas lega. Sesekali aku terbatuk karena debu tanah kering yang basah oleh air hujan.

Aku menatap tanganku yang terluka karena goresan ranting saat aku jatuh tadi.

Rasanya seperti ditusuk-tusuk. Sakit dan berdarah.

Manusia..aku menjadi manusia..mahluk paling menjijikan yang pernah kulihat.

Kupukul tanah basah dibawah tubuhku keras-keras.

“AAAAAAAAAAAKKKKKKHHHHHHHH!!!!”

      *****

      Hujan tidak ada hentinya. Sudah cukup lama aku duduk dibawah pohon kering ini, terguyur hujan seraya mengasihani diriku sendiri.

Tidak ada yang lebih menyedihkan dari fakta bahwa aku hampir terbiasa dengan udara kotor ini atau berdarah dan merasakan sakit.

Aku bahkan merasakan haus seperti manusia. Aku menjadi lemah.

“Elliot,” panggil seseorang dengan suara yang khas diantara bunyi deras hujan di area pemakaman seperti ini. Aku menolehkan kepalaku kearah sumber suara.

Dre.

Dia berdiri sempurna diatas sebuah nisan dengan bayangan sayapnya yang terkembang seperti tirai.

“Aku menyelinap untuk menemuimu. Aku tahu kau tidak akan pergi jauh dengan keadaan seperti itu,” dia melompat turun dari tempatnya. “Lilith mencarimu,”

“Minerva?” sahutku lemas dengan suara serak. Aku haus. Air hujan bahkan tidak membantuku sama sekali walaupun aku mencoba meminumnya seliter  sekalipun.

Dre kelihatannya kaget dengan perubahan suaraku. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Telingaku berdesing, suara kepala Dre atau suara mulutnya hanya terdengar seperti desisan angin ditelingaku, “Ya, Minerva. Dia mencarimu. Kau bukan lagi orpheans. Kau anaknya, Mammon,”

Aku berusaha mendengarkannya dengan seksama, “Minerva? Minerva maksudmu..Lilith?” kini suara serakku mulai memelan lembut bahkan—yang tanpa kusangka-sangka—terdengar sehalus beledu.

“ ’Siapapun yang turun karena kenistaan, maka itu adalah mereka’. Kau ingat?” Dre mengedarkan pandangannya kesekeliling dengan sikap waspada. “Dia tahu kau baru saja dijatuhkan. Salah satu anaknya sepertimu, mencuri dengar pembicaraan langit. Dia sudah lama menginginkanmu. Dia akan men—“

Suara  tepuk tangan bertempo lambat yang terdengar jelas, menghentikan kalimat Dre begitu saja. Membungkamnya seperti menyumpalnya mulutnya.

Dre menegang dengan tubuh kaku.

Aroma wangi bunga Lily tiba-tiba tercium oleh penciumanku.

“Baik sekali kau mau menjelaskan semuanya, panglima Dre,” suara lembut itu mengalun dari kegelapan dihadapanku, mengalahkan suara deras berisiknya hujan.

Sesosok wanita berparas cantik—bahkan terlalu cantik—berjalan pelan dihadapan kami dengan senyum ramah palsu. Rambutnya yang berwarna pirang keemasan tampak gelap karena air hujan yang membasahinya. Tubuhnya yang langsing sempurna terbaluti oleh cocktail dress putih tanpa cacat sedikit pun.

“Minggir kau, Minerva,” desis Dre dengan rahang terkatup rapat. Iris matanya berubah putih seperti milik wanita yang terus berjalan tenang menghampiri kami. Tangannya terangkat bersamaan dengan bunyi desing logam melompat.

Paths-nya berkilauan mengerikan dibawah temaram mendung malam. Wanita dihadapan kami itu tersenyum manis, “How sweet, diavolo,”

Aku kenal wanita ini.

Dia Lilith atau mungkin lebih dikenal sebagai Lilith, pelacur milik Lucifer yang terbuang dari langit karena dosanya sendiri. Aku bahkan melihat pembuangannya dengan mata kepalaku sendiri.

Jika kau tanya darimana iblis berasal? Maka mereka inilah jawabannya..

“Hati-hati, panglima. Kau bisa melukai Putra kesayangannku,” katanya tenang, berjalan menghampiriku. Tangan dinginnya tiba-tiba saja menarikku, membelai lembut wajahku. “Kau haus kan, sayang?” wanita itu mengelus rambutku. Matanya yang berwarna putih memandangiku penuh dengan rasa cinta dan kasih yang berlebihan.

Tiba-tiba muncul rasa kebencian yang mendalam padanya dalam diriku.

“Menjauh dariku, Minerva,” aku bisa merasakan kegeraman yang bergetar halus didadaku. Suaranya seperti dengkur halus serigala. “Menjauh dariku!” teriakku marah.

“Oh, hebatnya suara itu,” puji Minerva penuh dengan kekaguman yang berlebihan. Ia membelaiku dengan sikap hampir memuja, membuat mual dalam waktu singkat. “Lucifer akan senang jika mendengar hal ini,”

Aku mengulurkan tanganku, merasakan sesuatu mengalir didalamnya. Rasanya panas tidak tertahankan. “Pergi dari tempat ini dan tinggalkan kami,” aku mencekik lehernya. Aku bisa merasakan rasa panas membakar mataku dan tengorokanku dalam waktu bersamaan.

Minerva tersenyum, “Panglima, kau benar-benar membawa pengaruh yang buruk untuk putraku. Sudah seharusnya kau dihukum,” katanya tenang.

Tiba-tiba saja Dre melonjak kesakitan. Pedangnya terlepas dari tangan. Tubuhnya seperti dibakar hidup-hidup walaupun tidak apapun yang terjadi padanya. Tapi ia tetap melonjak kesakitan. Iris matanya yang putih menghilang, tergantikan matanya yang terbuka kesakitan, memperlihatkan padaku urat-urat matanya yang merah.

Aku melepaskan tanganku dari leher Minerva, “Apa yang kau lakukan padanya?” raungku marah,tidak mengerti. Dia tidak melakukan apapun, kan? tanpa sadar tanganku bergerak melontarkan Minerva sampai tubuh indahnya menabrak batang pohon dihadapanku.

Minerva tersenyum manis, “Elliot,” panggilnya, menatapku dengan kedua matanya yang putih sempurna. “Elliot, putraku. Eliiot sayangku,”

Tiba-tiba aku merasakan hawa panas dikepalaku pelan-pelan membakarku. Tubuhku terasa tertarik seperti dipaksa putus disaat bersamaan. Tanpa sadar aku jatuh berlutut. Tubuhku rasanya sakit sekali hingga rasanya seperti hampir mati.

Minerva menghampiriku. Rasa sakit itu perlahan hilang, meninggalkan jejak sakit yang merajam diseluruh tubuhku. “Aku tahu kau emosi hanya karena rasa haus yang membakar tenggorokanmu, kan sayang?”

“Minerva, kumohon, tinggalkan Elliot. Dia bukan anakmu,” seru Dre lemah. “Minerva, lepaskan dia,”

“Aku hanya ingin memberi makan anakku, Dre. Tolong jangan berisik,” Minerva memelukku , mengusap-usap pelipisku. Rasa sakit itu masih tersisa ditubuhku, membuat mataku berkunang-kunang kabur. Semuanya terlihat mulai berkabut dan samar.

“Aku menyiapkannya khusus putra kesayanganku,” bisik Lilith lembut ditelingaku. Dia bergerak pelan, menarik sesuatu. tangannya yang dingin memelukku, “Biarkan dia mencicipimu, anak manis,”

“Ma’am, kumohon. Tolong, lepaskan aku,” pinta seseorang yang tidak terlihat dengan suara serak ketakutan.

Aku mencium aroma darah tercampur aroma tubuh manusia..

Tapi kenapa terasa menggiurkan di lidahku? Aromanya terasa begitu manis sehingga mengundang air liur di ujung mulutku.

Rasa panas membakar tenggorokanku, membuatku merasakan haus  yang teramat sangat.

“Kau haus, Elliot?” bisik Minerva meneteskan sesuatu didekat mulutku. Tanpa sadar aku menjulurkan lidahku, menggapai-gapai tetesan itu dengan sia-sia. Aku bisa merasakan tiba-tiba saja pandanganku menjadi  jernih. Aku bisa melihat jelas dikegelapan pekat seperti ini. Aku juga bisa merasakan sesuatu yang tajam menggesek-gesek lidahku.

Seorang manusia, lebih tepatnya seorang gadis kecil, terlihat ketakutan dihadapanku.

Aku bisa mendengar jelas detak jantungnya yang memompa darahnya keseluruh bagian tubuhnya yang hangat.

Perutku bergejolak, berteriak lapar. Jika aku diam, maka aku akan mati kelaparan.

Aku menginginkannya…,aku menginginkan tetesan  hangat itu    membasahi tenggorokanku..

Aku tidak mau menahan diri lagi. Aku menarik tangan gadis itu kasar dan membawa lehernya kemulutku. Dia berteriak kencang, histeris ketakutan ketika aku menggigit lehernya.

Rasa manis dan hangat itu langsung membasahi tenggorokanku. Aku merasakan puas teramat sangat. Rasanya haus yang sedari tadi membakar tenggorokanku, menguap sia-sia.

Gadis kecil itu terus berteriak seiring aku menghisap habis darahnya. Aku bisa mendengarkan jantungnya melambat karena aku hampir menguras habis darahnya. Suara teriakannya bahkan berhenti begitu aku melemparkan tubuhnya begitu saja ke bawah kakiku.

Dan merasa seperti ketagihan, aku menagih lebih.

“Berikan aku satu lagi,” tuntutku dengan suara lembutku yang baru. Minerva mengangkat tangannya, mengusap noda darah di pipiku. “Berikan aku satu lagi!” seruku marah ketika ia diam saja tidak mengabulkan permintaanku.

“Kau bisa menghabiskan setiap manusia yang kau lihat nanti, Elliot,” katanya lembut. “Tapi asalkan kau mau membunuh mahluk lemah itu,” Minerva menunjuk Dre yang terkulai kesakitan diatas tanah yang basah. Percikan-percikan lumpur air hujan mengotori sayap putih bersihnya.

“Lilith..,” desis Dre memanggil Minerva dengan nama lamanya waktu ia masih menjadi mahluk manis yang tidak mungkin berkhianat . Ia menatap Minerva dengan tatapan aneh yang tidak bisa kuterjemahkan, walalupun aku berusaha sekeras mungkin. “Kau mau membunuhku Lilith..?” Dre berusah berdiri dengan tubuhnya yang lemah. Kakinya gemetar, membuat tubuhnya terlihat gontai.

Minerva tersentak pelan setiap kali Dre memanggilnya dengan sebutan Lilith. Ada sebuah konspirasi yang tidak bisa ia tolak didalam matanya setiap kali Dre menatapnya tajam. “Aku tentu akan membunuh saksi mata sepertimu,” katanya dengan gemetar.

Dre tertawa miris, “Kalau begitu lakukan saja. Aku tidak keberatan,” katanya. “Dari sejak kau mengkhianatiku, aku tidak keberatan untuk dihukum mati,”

“Itu masa lalu!” raung Lilith marah. Matanya bersinar kemerahan yang tampak ganjil. Dia mengulurkan tangan, mencekik Dre dengan kekuatannya.

“La-lakukan saja..Ji-jika itu memang maumu, Lilith,”

Minerva melepaskan kekangannya pada leher Dre dengan kasar. Mereka benar-benar tidak sadar kalau akau dari tadi diam menonton berusaha mencerna apa saja yang mereka bicarakan. Aku bahkan mencuri dengar kedua pikiran mereka masing-masing tanpa mereka sadari. “Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu lagi!!”

“Kau lemah Lilith.” sahut Dre, “Tidak seharusnya kau mengabdi pada orang sepertinya. Kau hanya dimanfaatkan. Seharusnya aku tidak membuangmu. Seharusnya aku memang harus membunuhmu dari awal jika itu memang meninggalkan kenangan buruk seperti ini,”

“Lalu kenapa kau tidak membunuhku?” tuntut Minerva tampak frustasi. Dia sepenuhnya melupakanku yang berdiri tegak disampingnya. “Kau takut?”

“Tidak,” Dre menggeleng. “Aku tidak membunuhmu bukan karena aku takut. Aku malah melihat ketakutan itu melintas diwajahmu. Itu sebabnya aku tidak membunuhmu, Lilith,”

“Dre..jangan buang aku. aku takut. Tolong aku,”

Ingatan pendek itu melintas dipikiran Dre dengan cepat seperti kumpulan rol film yang rusak. Wajah Minerva saat ia masih murni sungguh berbeda dari wajahnya yang sekarang. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, yang membuatku ikut tertegun diam.

9 thoughts on “[Freelance] Angel Hranitel [Extra!]

  1. DAMN!!! This’s my fault!!

    sorry. i’ve wrong part to publish.

    cerita ini sebenenya belum boleh di publish!

    ini bahkan belum selesai.

    aduuuh lucas bego, bego..

    tapi ya sudahlah kalo udah terlanjur. au engga marah kok. nanti aku lanjutin lagi..

  2. omo~ i really love your story.
    i read 1st, 2nd and 3rd part in suju ff 2010, but i really curious about next part, so i look for it by myself and find this blog.

    bagus banget. suka dengan alurnya yg awalnya bikin aku kurang paham, tapi semakin dibaca semakin paham. suka juga sm konsep ceritanya. bagus bgt!
    *mianhe kalo komennya byk bacot
    i do love your story and wait for the next part.

    good luck for all your graduate stuff :)

  3. annyong, saya reader baru di mari *bow*
    ini cerita prolog, epilog, udah sampe tengah2 apa gimana?
    di blog author udah dipost lengkap sampe tamat?
    maaf banyak nanya,
    beneran buta FF ini tp pengen baca.
    critanya menariiikk!! :D :D

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s