[Freelance] He’s Mine and That’s It [part 9]

Hei, it’s me Kei and yes, I’m back

Saya masih suka sama karakter antagonis. Jadi saya kembali dengan tokoh utama karakter antagonis. So, enjoy it, my lovely readers  (^^)v
“Kalau aku bilang aku mencintaimu dan menyesal atas apa yang telah kulakukan padamu kau percaya?” tanyanya tiba-tiba dan sukses membuat Hyori terkejut.

“Ka..ka..kau bilang apa?” Tanya Hyori terbata-bata.

“Aku akan meninggalkan lasagna ini disini. Jangan lupa memakannya. Kau tidak tahu berapa lama aku harus mengantri untuk makanan ini kan?” katanya sambil tersenyum pada Hyori. “Aku pergi dulu ya.”

**

*Hyuk Jae POV*

Aku berjalan keluar dari kantor Hyori dengan perasaan yang tidak menentu. Aku tahu kalau apa yang telah aku perbuat selama ini tidak bisa dengan mudah dimaafkan olehnya. Aku sangat tahu hal itu hanya saja aku tidak mau mempercayainya. Aku bodoh dan egois memang. Karena datang kembali ke perempuan yang telah aku sakiti dan berharap dia masih menungguku. Tapi itulah manusia, mau menang sendiri atas apapun yang ada di dunia ini terutama yang berhubungan dengannya.

Masih segar diingatanku malam sewaktu aku menelpon Hyo untuk meminta bantuannya. Aku sedang bingung dan putus asa sambil memandangi foto-fotoku dan Jiwoon yang diberikan oleh pak Kim pada eomma. Tiba-tiba saja wajah Hyori ada disalah satu foto itu sedang berbicara dengan atasan Jiwoon dan sampailah kami pada sandiwara bodoh itu.

Jujur, aku merasa nyaman ketika berada di samping Hyori. Dia perempuan yang berbeda dengan Jiwoon. Dia sangat independent tapi mudah untuk didekati. Tipikal sosialita yang sudah jarang ditemukan di abad 21, apalagi di Korea dengan jumlah social climber yang makin menggila dan membuatku cukup muak dengan perjamuan-perjamuan dan pesta-pesta. Dia terlihat sangat manusiawi kalau dibandingkan dengan Jiwoon. Jiwoon itu sangat baik hati dan sempurna –walaupun tidak ada yang sempurna di dunia ini, tapi menurutku dia cukup sempurna- tapi Hyori dia berbeda. Dia memaki seperti selayaknya orang memaki orang lain –kalian tahu kan kalau bagi perempuan memaki itu adalah hal yang tidak sopan apalagi di Korea- , dia berbuat curang sesekali, dan dia-pun kadang berbohong.

Aku bisa tertawa dan menceritakan hal-hal bodoh dengannya –bukan berarti dengan Jiwoon aku tidak bisa- tapi aku bisa lebih bebas. Mungkin karena background keluarga kami yang sama sehingga sewaktu dia berkata, “Aku tahu bagaimana rasanya.” aku selalu percaya kalau dia memang benar-benar tahu bagaimana rasanya. Bukan seperti orang lain yang hanya sekadar mengatakannya tanpa benar-benar tahu bagaimana rasanya.

Malam itu saat Jiwoon terkena serangan asma, malam saat Hyori berkata kalau aku menelantarkannya, membuatku berpikir ulang tentang hubungan kami. Aku mulai merangkai beberapa keganjilan-keganjilan yang terjadi selama ini. Bagaimana tiba-tiba Hyori bersikap manis dan tahan terhadap semua permintaanku yang biasanya akan dengan cepat akan ditolaknya. Dia berusaha menyampaikan pada Jiwoon siapa sebenarnya perempuan yang pantas bersanding di sampingku. Dia sudah memulai perang dengannya.

Sampai puncaknya adalah saat sore itu aku secara tidak sengaja melihat mobil Hyori di depan sebuah café bersama Jiwoon. Mereka hanya berdua sehingga pikiran positifku bahwa mereka sedang membicarakan proyek ku kesampingkan dan membawaku kepada kenyataan bahwa Hyori memang berencana untuk menghancurkan hubunganku dengan Jiwoon. Dia berkata kalau dia mencintaiku dan berbuat semua ini karenanya. Tapi tidak tahukah dia dengan kata-kata bijak bahwa cinta tidak harus memiliki dan cinta itu saat kau melihatnya bahagia walaupun dengan orang lain?

Aku benar-benar tidak tahan lagi dengan semua sandiwara ini. Aku muak dengan segala sikap manis Hyori pada orang-orang disekelilingku. Eomma, appa, onnie, bahkan pada sekretarisku. Dia kembali meyakinkan mereka kalau hubungan kami baik-baik saja dan dia adalah pasangan terbaik untukku. Cih, maaf saja tapi aku sudah muak dengan semua tipu daya mu.

“Aku lelah, Hyuk.” Kata Jiwoon suatu sore di sebuah taman kota.

“Kalau begitu ayo kita pulang.” Ajakku padanya.

“Bukan lelah seperti itu. Tapi lelah dengan semua ini.”

“Maksudmu?”

“Aku lelah kalau harus selalu bersembunyi seperti ini. Pasti cepat atau lambat mereka menemukanmu. Korea itu kecil, Hyuk.”

“Kau tidak mencintaiku lagi?” tanyaku sambil mencari matanya yang saat ini sedang menunduk.

“Aku..aku..aku tentu saja mencintaimu. Tapi tidak tahukah kau kalau aku sakit melihatmu harus berpisah dengan keluargamu demi aku?” katanya sambil menahan tangisannya. “Aku tahu kalau kau sangat mencintai keluargamu. Kembalilah pada mereka.”

“Kau itu kenapa?” tanyaku tidak percaya dengan kata-katanya barusan. “Kau mau kita keluar Korea? Bisa kok. Kau mau kemana? Tabunganku bisa membawa kita ke Eropa. Bagaimana? Kita bisa mengganti identitas agar tidak terlacak.”

“Dan aku akan hidup dalam kekhawatiran kalau suatu saat kau akan di bawa pulang paksa?” tanyanya masih dengan air mata yang mengalir. “Aku tidak bisa hidup seperti itu, Hyuk.”

“Mak,,mak,,,maksudmu?”

“Kau tahu kata-kata bahwa cinta itu saat kau melihat orang yang kau cintai bahagia meski tanpa dirimu?” tanyanya setelah mengambil nafas.

“Jadi kau mau melepasku?”

“Cintaku padamu melebihi apapun karenanya aku melepasmu pergi, Hyuk. Kau bisa hidup tanpaku dan menemukan perempuan yang lebih baik.”

“TIDAK!!AKU MENCINTAIMU, JIWOON-ah!!” teriakku frustasi. “Berapa keluargaku membayarmu untuk mengatakan semua ini? Atau jangan-jangan Hyori?”

“Bukan kedua orang tuamu ataupun nona Hyori. Tapi hanya karena aku mencintaimu lebih dari apapun. Kau tidak bahagia disampingku, Hyuk.”

“Aku bahagia kok. Lihat, aku tidak pernah bersedih sewaktu bersamamu. Kita hidup bahagia kan? Kalau kau ingin restu dari kedua orang tuaku, kita bisa mengaturnya. Kita akan pelan-pelan mengusahakan itu. Mereka pasti luluh, aku yakin.” Kataku meyakinkannya.

Jiwoon hanya tersenyum mendengar penjelasanku yang panjang itu. Dia hanya memandangku, memegang wajahku dengan kedua tangannya, menciumku, memelukku, dan tiba-tiba dia berjalan menjauhiku. Aku hanya bisa diam melihat semua perlakuannya padaku dan setelah itu -sewaktu dia membalikkan badannya dan memandangku- dia berteriak, ”Hyuk Jae, saranghae!!Mianhae!!”. Lalu beberapa orang dengan jas datang menghampiriku dan mengunci kedua tangaku di tangan mereka. Ah, aku tahu sekarang. Dia menelpon keluargaku dan memberitahukan keberadaanku pada mereka. Jadi ini arti dari kata-kata mianhae tadi?

*Jiwoon POV*

Aku cepat-cepat membalikkan badanku saat Hyuk Jae berteriak-teriak memanggil namaku sambil bertanya mengapa aku melakukan semua ini padanya. Kalau kalian mengira semua ini aku lakukan karena orang tuanya yang memaksaku sperti yang sering kali ada di drama-drama itu, tapi maaf kalian salah. Ini murni adalah pemikiran dan keputusanku sendiri.

Bukannya aku tidak bahagia tinggal bersama orang yang kucintai dan bahkan kami akan menikah, tapi aku tahu kalau dalam hatinya Hyuk Jae tidak mungkin meninggalkan keluarganya hanya demi aku. Aku sering melihatnya memandang nanar ke arah sebuah keluarga kecil yang sedang menghabiskan waktunya di taman. Awalnya aku kira dia sudah tidak sabar mempunyai anak sendiri, tapi setelah melihat gelagatnya akhir-akhir ini yang membuatku mengambil kesimpulan tersebut.

Aku tahu kalau di drama-drama perempuan miskin sepertiku –well, aku tidak miskin-miskin amat, hanya saja aku berasal dari keluarga yang tidak kaya- akan hidup bahagia dengan pacar kayanya yang sudah kabur dari rumahnya karena hubungan mereka tidak disetujui oleh orang tua sang pacar. Tapi aku hanyalah perempuan biasa yang mencoba realistis. Cukup aku bermimpi agar bisa hidup bahagia dengan Hyuk Jae, tapi buat apa kalau aku hidup dengannya tapi pikirannya tidak 100% untukku?

Cinta adalah saat kau melepas orang yang kau cintai agar bisa berbahagia meski itu tanpamu dan terasa berat diawalnya. Tapi saat kau tahu kalau memang itu adalah jalan terbaik untuknya maka kau tidak mungkin untuk tidak membantunya kembali ke ‘jalan yang benar’ kan? Aku tidak tahu bagaimana masa depanmu, Hyuk. Tapi aku yakin kau sangat mencintai keluargamu lebih dari apapun di dunia ini dan pasti sangat berdosa sekali aku kalau aku harus memutus hubungan itu. Karenanya aku akan membantumu kembali ke ‘jalan yang benar’ dan pasti kau akan menemukan perempuan yang lebih baik dariku yang juga disetujui oleh keluargamu.

Lupakan aku dan kembali jalani hidupmu yang lama, Hyuk. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagianmu meski itu bukan denganmu. Saranghae, Lee Hyuk Jae.

“Halo, nona Hyori? Saya Jiwoon. Saya hanya ingin memberi tahukan bahwa Lee Hyuk Jae sudah pulang ke rumahnya dan saya harap nona tahu apa maksud saya ini. Saya mau menagih janji nona pada saya. Janji saat nona mau membuat Hyuk Jae bahagia bagaimanapun caranya.”

*Sora POV*

Malam ini dapur sedikit ramai karena eomma mampir kesana. Aku yang baru saja pulang bingung dan segera ke dapur untuk mengetahui apa yang terjadi. Pak Joong berkata kalau Hyuk Jae, adikku yang sedang kabur itu, sudah ditemukan tadi siang. Karena itulah eomma gembira dan memasakkan makanan favoritnya.

Aku memutuskan untuk menemuinya segera sebelum eomma menangkapku dan menyuruhku membantunya meramaikan dapur. Aku agak kurang bisa memasak, beda dengan eomma yang sangat suka memasak. Dia ditemukan? Bagaimana bisa? Bukannya aku selalu memberi peringatan padanya agar tidak mudah tertangkap para pengawal itu? Dasar bodoh, kalau dia tertangkap seperti ini bagaimana dia bisa kabur untuk yang kedua kalinya?

“Heh, anak bodoh!!Bagaimana kau bisa tertangkap sih? Bagaimana aku harus mengeluarkanmu dari sini coba?” tanyaku sambil berjalan mendekatinya yang sedang duduk di sofa memandang taman belakang.

Dia tidak menjawab. Hanya memandangku dan kembali ke kegiatan awalnya yaitu memandang taman belakang.

“Hei, kau itu kenapa? Sakit?”

Dia hanya menggeleng. Wajahnya menyiratkan kekecewaan dan sakit hati yang mendalam. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tiba-tiba saja otakku kosong dan aku hanya bisa diam melihatnya seperti itu.

Ini sudah hari ke empat sejak kepulangannya. Dia tidak menyentuh makanannya sedikitpun. Eomma dan appa khawatir kalau sesuatu akan terjadi padanya sehingga akhirnya menancapkan infus di lengannya. Dia hanya berbaring dan memberi tatapan kosong sewaktu kami semua datang dan ‘menjenguk’nya. Dia menolak untuk makan, minum, dan berbicara dengan siapapun, termasuk aku nunanya sendiri.

Sampai suatu malam aku masuk ke kamarnya dan membawakannya bubur ayam yang sangat disukainya. Aku mencoba membujuknya untuk makan tapi sia-sia saja sama seperti satu minggu ini. Aku yang sudah tidak tahan lagi dengan semua ini akhirnya meledak sambil bertanya apa yang terjadi. Sayang lagi-lagi dia hanya diam.

“Hyukie, apa yang harus aku lakukan agar membuatmu kembali seperti sedia kala?” tanyaku padanya. “Akan kutelpon Jiwoon dan membawanya kemari kalau memang itu maumu atau aku juga akan berlutut memohon pada orang tua kita agar kau direstui. Apa, Hyukie? KATAKAN PADAKU!!” pintaku sambil sesegukan.

“…”

“Hyukie, tolong. Jangan menyiksa nunamu ini seperti ini.”

“…”

“Hyuk…” kataku melemah dan menundukkan wajah sambil melanjutkan tangisanku. Entah ini sudah malam keberapa aku menangisinya. Dia terlihat sangat lemah dan tidak berdaya berbaring di kasur yang lebar ini. Botol infus yang menjadi satu-satunya asupan gizinya terllihat berdiri menjulang angkuh di samping kasurnya. Dua hari sekali dokter datang dan memeriksa keadaannya sambil sekali-kali menyuntikkan sesuatu pada tangannya yang pucat itu.

Aku menengadahkan kepalaku dan memandangnya -yang saat ini sedang mencoba tersenyum padaku-sambil berkata, “Nuna, jangan menangis lagi.”. Tangannya yang berinfus mengelus rambutku. Aku bingung dengan pengelihatan dan pendengaranku saat ini. Apakah ini nyata? Hyukie-ku sedang mengelus kepalaku sambil tersenyum padaku? Ini pasti mimpi.

“Nuna, jangan menangis lagi untukku. Aku tidak suka.” Katanya lagi lemah. “Nuna? Kau mendengarku?”

“Hyuuuukkkk.” Kataku sambil memeluk tubuhnya yang sekarang ringkih itu. Ini bukan mimpi. Dia tersenyum dan mengelus kepalaku.

“Nuna, aku tidak bisa bernafas.” Ucapnya merespon pelukanku.

“Ma,,ma,,maaf. Aku terlalu bahagia.” Kataku sambil melepaskan pelukanku. ”Kau mau makan? Akan kuambilkan yang baru.”

“Tidak usah nuna. Aku hanya mau kau duduk disampingku.” Katanya sambil menepuk kasur disampingnya.

Aku hanya bisa menuruti permintaannya dan duduk di sampingnya. Segera setelah aku duduk disana, dia memiringkan kepalanya dan bersandar pada pundakku. Tanganku diambilnya dan digenggamnya.

“Nuna, aku lelah. Aku lelah dengan semua ini.” Katanya tiba-tiba. “Jiwoon tidak mencintaiku lagi. Dia yang menyerahkanku pada eomma dan appa. Aku…”

“Aku yakin ini pasti ulah eomma dan appa sampai Jiwoon menyerahkanmu. Akan kucari tahu. Tenang saja, adikku sayang. Kau pasti akan ku bebaskan dari sini.” Kataku sambil mengelus kepalanya dengan tanganku yang satu lagi.

Dia meresponku dengan gelengan. “Ini bukan ulah mereka. Ini memang keputusannya dan hal itu membuatku lebih sakit lagi, nuna. Apa kurangnya diriku nuna?”

Pundaknya sedikit berguncang menandakan bahwa dia sedang menahan tangisnya. Tanganku di genggamnya makin kencang. “Menangislah Hyuk kalau memang itu akan melegakan beban hatimu. Aku akan disini dan menjagamu.”

**

Aku bergerak pelan turun dari kasur dan keluar dari kamar Hyuk Jae. Dia tertidur dengan pulas setelah semalaman menangis di pangkuanku. Aku harap beban hatinya sedikit terangkat setelah dia menangis semalam. Aku tahu ada ‘peraturan tidak tertulis’ tentang boys don’t cry, but bullshit with that. Boys are human and they can cry to express their feeling, rite?

Yoboseyo? Aku mau laporan tentang apa yang aku minta kemarin ada di mejaku setelah makan siang.”

Oke, saatnya mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.

Tersangka pertama adalah kedua orang tuaku.

Menurut laporan memang mereka telah menyebar banyak orang untuk mencari Hyuk Jae, tapi semua itu masih dalam kekuasaanku. Jadi selama ini aku masih bisa memberitahu Hyuk Jae dan menyuruhnya untuk bersembunyi. Orang tuaku juga pernah membujuk Jiwoon dengan uang dan di tolaknya. Ah, ini laporan kemarin malam. Eomma menemui Jiwoon untuk memberinya imbalan karena telah mengembalikan putranya tapi ditolaknya. Jiwoon hanya minta agar keluarga Lee menjauhi keluarganya dan mulai sekarang dia akan pura-pura tidak kenal dengan keluargaku.

Oke, ini aneh. Berarti memang bukan kedua orang tuaku penyebab semua ini.

Tersangka kedua adalah Hyori.

Oh, kita semua masih ingat bagaimana kelicikan yang diperbuatnya agar mendapatkan Hyuk Jae. Tapi aku sedikit yakin kalau dia tidak terlibat dengan semua ini. Kulihat dia sangat terpukul semenjak malam itu. Dia bahkan tidak mau menemui kedua orang tuaku setelahnya. Tapi siapa tahu saja dia masih mencintai Hyukie dan memonopoli semua ini.

Tapi sebentar, di laporan ini tidak ada tanda-tanda bahwa Hyori campur tangan. Hanya terlihat seorang suruhannya mengintai Jiwoon setelah kepulangan Hyuk Jae dan juga ada yang mengintai Hyuk Jae? Apa maksud gadis ini sih?

Dan tersangka terakhir adalah Jiwoon.

Memang aneh. Tapi bisa saja dia punya motif dalam rangka pemulangan Hyuk Jae. Dilaporan ini diberitahukan setelah peristiwa itu dia pulang ke Busan dan menetap disana. Dia terlihat bekerja di sebuah event organiser lokal disana, menjual apartemennya disini dan keluar dari tempat kerjanya yang lama. Sepertinya dia benar-benar ingin memulai kehidupan baru di Busan.

**

Hyukie sudah membaik. Setelah malam itu, dia mulai makan dan berangsur-angsur pulih. Sekarang dia terlihat sehat jasmani, tapi aku tahu batinnya masih belum bisa beranjak dari peristiwa pemulangan paksanya itu.

Dia pergi untuk bertemu dengan Jiwoon dan menanyakan alasannya. Tapi sepertinya dia tidak bisa menemukan jawabannya yang dicari –atau yang lebih tepatnya adalah jawaban yang diharapkannya- keluar dari mulut gadis manis itu. Gadis itu tetap pada pendiriannya dengan melepaskan Hyuk Jae pergi dari kehidupannya dan kembali pada keadaan saat mereka pertama kali bertemu.

Hyukie pulang dan mabuk.

Jiwoon pulang dan menangis.

Aku tidak habis pikir dengan orang yang berkorban demi cinta seperti yang dilakukan oleh Jiwoon. Dia bilang kalau nanti Hyuk Jae pasti akan menemukan parempuan yang lebih baik dan pantas untuk dinikahi dan dicintainya.

“Bukannya pernikahan itu bukan hanya tentang menyatukan dua hati tapi lebih pada menyatukan dua keluarga? Bagaimana bisa menikah tapi dua keluarga tidak bersatu bahkan bertikai?” Katanya sambil menangis.

*Hyuk Jae POV*

Sore itu aku sedang tidak ada kerjaan sehingga aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota. Sudah lama aku tidak kemari. Banyak orang sedang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, sedangkan aku sibuk dengan ipodku dan memandangi mereka. Sampai ada seorang anak kecil yang meminta ibunya untuk membeli ice cream. Anak itu tersenyum bahagia saat menghabiskan ice creamnya. Dia duduk disebelahku dan tidak peduli dengan mulutnya yang belepotan. Dia memandangku saat ice creamnya hampir habis sambil tersenyum dan memamerkan gigi depanya yang ompong.

Entah mengapa aku tersenyum memandangnya dan memberikan sapu tanganku untuk mengelap mulutnya. Dia menggeleng menolakku dan kembali ke kegiatan makan ice creamnya. Baru setelah ice creamnya habis dia mau kubantu membersihkan sisa ice cream di mulut dan bajunya. Dia berkata, “Aku tidak suka membersihkan sisa ice cream sebelum aku selesai memakannya. Itu mengurangi keenakan ice cream-ku, ajussi.”

“Oh, ini seperti dejavu. Tapi aku lupa dimana.” Kataku dalam hati sambil memandang anak itu. Saat ini dia sedang berjalan bergandengan tangan dengan ibunya pulang ke rumah. “Ah, Hyori.”

Hyori juga suka makan ice cream dengan peraturan aneh itu. Bahkan bukan hanya ice cream tapi juga burger. Aku tidak tahu mengapa, tapi dia selalu melakukannya. Ah, buat apa mengingatnya lagi? Dia sudah berbuat jahat kepadaku. Lebih baik aku melupakannya.

**

“Ah,, Hyuk Jae kembalilah pada dirimu yang biasanya. Jangan memikirkannya lagi.” Kataku pada diriku sendiri sambil memukul-mukul kepalaku pelan.

Memang akhir-akhir ini aku jadi suka memikirkan Hyori. Semenjak bertemu dengan anak kecil di taman kota itu, setiap melihat sesuatu selalu berkaitan dengan Hyori. Hyo yang tidak suka makanan pedas, Hyo yang suka boneka binatang, kemeja yang dibelikan Hyo, bagaimana kesalnya Hyo kalau ada orang yang merokok sembarangan, dan banyak hal yang lain. Oke, ada apa denganmu Lee Hyuk Jae?

Buat readers yang minta lebih panjang lagi,,,

Maaf saya g bakat bikin yg panjang-panjang (hehehee,,ngeles)

Kan malah lebih fokus dan penasaran klu pendek-pendek kayak gini :P

TBC

Tag: Eunhyuk

56 thoughts on “[Freelance] He’s Mine and That’s It [part 9]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s