14

[Freelance] Harder Than You Know [part 3]

I’m back with the 3rd part of Harder Than You Know Fanfiction *otak lagi bermasalah banget pas buat part ini* =.= but Happy Reading ya Guys :)

Cast:

Cho Kyuhyun

Lee Donghae

Yang Yoseob

Choi Minho

  • Choi Nara
  • Jo Chaerin

Support Cast:

Siwon, Heechul, Eunhyuk, Sungmin (Super Junior) & Victoria (Fx)

LengthPart 3 – :)

Genre: Friendship, Romance

Rate: AG (All Age)

Author: Nana (@keiichiro_nana)

—————————————-

Kami tertawa sampai cegukkan berulang kali, saling mengejek hingga kehabisan kata-kata. bermain-main dengan senter kecil, foto, puzzle, bedak (?), dan kami bermain dengan banyak mainan-mainan yang sering kami mainkan dulu.

kamar ini sangat menyenangkan. Penuh dengan kenanganku dan nara. Kenangan yang sudah ku lupakan selama 3 tahun. Kenangan yang mendarah daging dalam hidup ku lebih dari 7 tahun.

Kamar yang menjadi saksi bahwa dulu aku pernah berjanji akan menjaga Nara selamanya. Kamar yang menjadi saksi bahwa “Choi Nara adalah sahabat terbaik!” bagi seorang Cho Kyuhyun !

.

** 3 days Later **

.

Nara

Tak pernah ku bayangkan keadaan seperti ini akan kembali lagi.

Tak pernah ku bayangkan Kyuhyun akan seperti ini lagi.

Haengbokae so !! gamsahamnida

.

@ class 2A

“annyeong!!” sapaku & Kyuhyun bersamaan. Seluruh murid melihat kami heran.

Donghae yang sedang mengerjakan tugas pun terhenti melihat kami. Chaerin yang sedang sibuk searching di IPad miliknyapun meletakkan IPadnya sembarang dan bediri menatap kami

.

“wait! wait! wait!” ujar Donghae saat kami tiba di hadapannya

“sudah tak marah lagi?” Tanya Chaerin dan kami mengangguk bersamaan

“sudah tidak rivalan lagi?” Tanya Donghae dengan nada tinggi dan lagi-lagi kami tersenyum dan mengangguk bersamaan

.

“bagus kalau begitu !! kita ulangan!!” ujar Heechul seonsangnim mendadak

“heee??” seru kami semua dan kami semua kelabakan

“tapi 2 minggu yang lalu baru ulangan!” ujar temanku Yoseob

“lalu??” ujar seonsangnim dengan nada lucu

“ini??” bantah Yoseob dengan suara lucu, dan kami semua tertawa dengan sikap autis mereka. Mereka selalu seperti itu

“tambahan! Ppalli!! Ppalli!!” bantah seonsangnim. Dan kami pun duduk mengerjakan ulangan. Ulangan mendadak membuat kami stress. Pasrah saja

.

** 3 Hours later **

** Lunch **

Aku mulai mengerjakan penelitian “seberapa besar remaja percaya dengan persahabatan”. Aku mengerjakannya sendiri tanpa mengungkit-ungkitnya di depan Kyuhyun. Biar ini jadi kado spesialnya saja. Ku rasa menyenangkan memberikan kejutan

“kau sedang apa?” Tanya Kyuhyun. Aku refleks menutup bukuku. Lembaran kerja yang memang sudah mulai ku kerjakan saat di berikan

“ah, aniyo. waeyo?” Kyuhyun sepertinya penasaran dengan bukuku. Bagaimanapun tidak boleh tau

“ada yang kau sembunyikan?” Tanya kyuhyun penasaran

“anirago, Kyuhyun-ah. Waeyo??” aku berkelit sealami mungkin agar Kyuhun tidak curiga, tapi dia diam saja melongok ke bukuku

“yaa!!” aku membentaknya cukup keras

“ah, mian. Oh iya, rabu besok ada acara di Myeongdong!”  ujarnya memberitahuku. Aku mencoba mengingat, tapi tidak bisa

“Bazar bunga! Apa kau lupa??” ujar Kyuhyun mengingatkan. oh iya, di taman selalu ada bazaar bunga setiap tanggal 11 pertengahan tahun. Dulu kami selalu kesana. Sangat menyenangkan

“ayo pergi bersama!!!” ajak Chaerin dan Donghae

“ah geurae. Pasti menyenangkan” imbuh Kyuhyun

“ah, arasso! Kajja!” ujarku mengiyakan ajakan mereka

.

** 3 Days Later **

.

@ Myeongdong Park , @ 2PM

Beberapa hari yang sangat amat sibuk. Mengumpulkan berbagai data dari setiap anak. Kyuhyun sudah panik dengan data riset yang tak kunjung mulai. Padahal sudah setengah jalan di tanganku. Mianhae, Kyu. Aku berbohong

“yaa!! Nara!” teriak Donghae, Chaerin, dan Kyuhyun dari arah utara

“mianhae, lama” ujar Chaerin meminta maaf lalu memelukku

“hey, kau datang kan Nara?” Tanya Donghae

“kemana??” ujarku dan Chaerin bersamaan

“aku baru tau kau di panggil Nara juga, chaerin-ah!” ketus Kyuhyun, dan Chaerin senyum-senyum aneh

“pementasan kami minggu depan” jelas Kyuhyun. Oh iya, minggu depan kyuhyun, Donghae, eunhyuk oppa, dan lainnya akan pentas drama musical di gedung sekolah

“tentu! Ne chaerin?” ujarku lalu tersenyum

“tentu saja !! ah, kajja! Aku mau kesana!!!” ujar Chaerin manja.

Aku dan Chaerin memang baru bertemu di SMA. Tapi Chaerin sudah ku anggap saudaraku. Yeoja yang ramah dan baik hati. Nae chingu-ah, Jo Chaerin.

Sarangahe chingu-ah !

.

** 3 Days later **

.

Kyuhyun

Sudah beberapa hari ini wajah nara selalu pucat. Dia selalu minum vitamin ketika makan siang. Chaerin selalu membantunya merapikan berbagai suplemennya. Ku pikir ia berbohong. Tapi donghae selalu melihat tulisan di obatnya itu “suplemen”. Ku pikir itu benar suplemen. Sebanyak itukah?

“kau yakin tidak apa-apa??” tanya donghae pada nara

“gwenchana!” ujar Nara ramah

“aku khawatir! Sudah hampir 2 bulan ini kau selalu minum suplemen Nara!” imbuh Chaerin

“2 bulan?” Tanya Donghae heran

“bukankah baru 1 mingguan saja??” tanyaku

“mana kau tau !! saat itu kau masih menjadi rivalku, Kyuhyun!” ujar nara. Ya, aku meninggalkannya. Tak tau dia sakit apa. Dan aku sangat amat menyesal mengacuhkannya

“mianhae” sesalku. Nara tersenyum lalu memelukku

“nae gwenchana” ujar nara semangat

.

“ah, tugasku sudah selesai. Judulnya ‘efek Super Junior terhadap ELF luar negeri’ lho” jelas Chaerin semangat

“dia memaksa!!!” Donghae kesal dan menuding-nuding Chaerin yang tersenyum bangga terhadap boyband kesayangannya

“tapi lagunya bagus kok!” Nara membela Chaerin dan donghae masih saja menggerutu

“ah!! Tugas kita bagimana nara!!!” astaga aku lupa!! Tinggal 6 hari lagi. Sedangkan 5 hari lagi aku pentas. Tak mungkin!!”

“mwoya?? Jeongmal babo namja!!” donghae menoyorku berkali-kali. Chaerin dan nara tertawa lepas melihat kelakuan kami

.

** bruuukkk **

.

“yaa!! Nara!! Nara-ah!!” nara tiba-tiba jatuh pingsan

“bawa ke UKS!! Ppalli!!” aku menggendong Nara! Aku sangat panik! Chaerin dan donghae mengikutiku dari belakang

Sesampainya di UKS, Taeyeon seonsangnim menyuruh kami membawanya ke rumah sakit. Aku langsung menelpon noona dan minho hyung agar ke rumah sakit

.

@ Seoul International Medical Centre

Sudah hampir seharian ini aku menunggunya siuman. Wajahnya pucat. Chaerin  tertidur pulas di sampingnya. dan di luar ruangan sudah ada Minho hyung dan Victoria noona sedang mengobrol

“pucat sekali yeoja ini!” ujar Donghae khawatir. Sesungguhnya aku jauh lebih khawatir

“hmm” aku menatapnya iba. Nara, dulu kau jarang sakit, apalagi sampai di rawat begini. Salahku, semua salahku

“jangan menyalahkan dirimu, Kyuhyun!” ujar minho hyung tiba-tiba

“heee?” tanya Donghae bingung

“kau selalu menjaga Nara, dan jika nara kelelahan atau mengantuk, kau selalu menyalahkan dirimu. Sekarang ini bukan salahmu, Kyu! Jangan menyalahkan diri. Ara!!” mulut donghae membulat dan aku hanya tersenyum pada noona yang memandangku

“Nara akan tidur seharian. Kami memberinya obat bius. Dia kelelahan” jelas noona pada kami. Donghae menggendong Chaerin ke sofa dan aku gantian menjaganya. Ku genggan tanganya

“tanganmu dingin” ke gosok-gosok tangannya ke tanganku berharap tidak dingin lagi. Perasaanku tidak karuan melihatnya di bius seperti ini

.

** in the morning **

.

Nara

“hey!” dia terbangun dan tersenyum

“sudah sadar rupanya!!” ujarnya semangat

“tentu saja! Lihat minho oppa, donghae, dan chaerin sudah berangkat!” ujarku

“ah, mianhae. Aku ketiduran!!” wajahnya panic

“terima kasih sudah menjagaku, Kyu!” ujarku

“ini bukan apa-apa. Aku meninggalkanmu 3 tahun, dan ini bukan apa-apa” rautnya sedih. Aku benci raut wajahnya yang seperti ini

“hey, besok kau pentas ya!” tanyaku pada Kyuhyun tuk membuatnya semangat

“ah iya!! Tapi kau tak menontonnya!” ujarnya sedih, aku bangun lalu memeluknya erat

“aku pasti menonton. Lihat saja” ujarku memastikan

“nee” aku menyukainya bila tersenyum, nae chingu, Kyuhyun. Aku menyuruhnya latihan. Besok sudah waktunya ia pentas. Aku berharap bisa menontonnya

.

** malam hari **

Aku tak bisa napas !! bagaimana ini !! ku ambil handphoneku dan ku telpon minho oppa yang sedang ada di apotik menebus obatku

Aku : “oppa!! ppalli! Aku tak bisa ber-nap-aass- haaah”

Minho : “arasso!! Chakkanman~”

.

*klik*

.

**10 minutes later**

“yaa!! Gwenchana!!” minho oppa datang dengan suster-suster dan Victoria eonni

“jangan di bius! Aku mau melihat Kyu besok!” aku berontak ke suster-suster. Minho oppa menatapku iba

“oppa!! please!!” mohonku pada minho oppa

“letakan. Jangan suntik dia” ujar minho oppa mengahalangi suster

“kau gila!!” minho oppa memandang Vitoria eonni. Lalu Victoria eonni menatapku sedih dan memelukku

“Kyuhyun-ah, joha shireo??” Tanya Victoria eonni

“aniyo!” ujarku singkat

“waeyo??” imbuh minho oppa

“kau sahabatnya??” Tanya Victoria eonni

“aniyo! Dia sahabatku! Nae Chingu, Cho Kyuyhun!” ujarku simple. Victoria eonni tersenyum

.

“besok kau datang, nara-ah?” ujar seseorang dari balik tirai

“yoseob??” apa yang ia lakukan

“dia adalah siswa disini. Pembelajaran diri!” jelas Victoria eonni padaku

“besok aku akan mengantarmu!’ ujarnya semangat

“yaksokk??” tanyaku meyakinkan kalimatnya

“geurae! jam 8 kita berangkat!” ujarnya tegas, dan seluruh suster, minho oppa dan Victoria eonni tertawa

.

@ Neul Paran High School

“lihat itu Kyuhyun!!” ujar Chaerin menunjuk Kyuhyun. Kyuhyun sangat tampan disana

“siapa yang akan menjagamu Kyu?” bathinku

“Nara! Jangan perlihatkan!” bisik Yoseob

“mwo?” tanyaku pelan

“jangan tunjukkan sakitmu disini! Berbahagialah, nara!” aku kaget dengan kalimat Yoseob

“apa kau mau bertanya ‘kenapa kau tau?’ ? tentu saja, aku murid Victoria noona!! Tenang. Aku akan diam saja sampai kau mengizinkanku mengatakannya” imbuh Yoseob berbisik, dan Chaerin mulai penasaran

“waeyo??” tanyanya bingung. Yoseob mengalihkan kepala Chaerin menjauhiku dan aku hanya tertawa melihatnya

“chaerin! My best friends!” bathinku

.

** 2 hours later **

“selesai!!!” teriak Kyuhyun dari atas panggung. Donghae dan Kyuhyun menghampiriku

“aku keren tidak nara?” Tanya Donghae

“kau selalu tampan!!” ucapku dan Chaerin berbarengan

“terima kasih Nara!” Kyuhyun memelukku. Satu ruangan bersorak melihatku di peluk Kyu

“cheonmaneyo!” balasku. Dia tersenyum

.

Kyuhyun

Akhirnya semua kembali seperti semula !!

Thanks god I found you !

.

“hey, kau sudah sehat?” tanyaku pada nara

“tentu!” jawabnya ringan

“kau pucat sekali nara!” ujar Donghae

“ah!! Kok kamu ada disini ??” tanya donghae pada Yoseob. Aku pun menatap Yoseob

“aku belajar dengan Victoria noona! Tugasku merawat nara kemarin dan hari ini!” jelas yoseob. Pantas dia ada disini bersama Nara

“baiklah!! Saatnya kembali ke rumah sakit!” ajak Yoseob

“huwaa! Andwae!” Chaerin memeluk nara

“penyakitmu nanti…”penyakitmu ?? yoseob membekap mulutnya sendiri dan melihat Nara. Tapi nara kelihatan santai

“maksudnya??” Tanya Chaerin

“dia kan sedang sakit!!” bentak Yoseob. Nara hanya tertawa melihat tingkahnya

“baiklah! Sana kembali!” ujarku pada nara

“tersenyumlah, Kyu!” pintanya padaku

“mwo?” tanyaku bingung

“tersenyumlah!” aku mengikutinya. Aku tersenyum. Dan dia pun pergi dengan Yoseob kembali ke rumah sakit. Wajahnya sangat pucat. Aku khawatir padanya

.

** bruuukkk **

.

“nara!!” yoseob berteriak. Aku langsung membalikan badaku

“Nara!!” teriakku melihat nara pingsan

“yaa!! Nara! Bangun!! Jangan sekarang!!” teriak Yoseob di samping Nara

“yoseob!! Eottohkke?” Tanya Nara lemah. Chaerin menangis sambil menggenggam tangan Nara

“telpon minho hyung dan Victoria noona !! ppalli!! Ppalli!” bentak Yoseob panic

.

Donghae langsung membopong Nara ke arah ambulans. Chaerin dan aku mengikutinya dengan mobilku. Yoseob naik ambulan bersama Donghae dan nara

.

“ppalli, Kyu! Perasaanku tidak enak!” teriak Chaerin , dan tanpa peduli lampu merah, ku kebut mobil ku menuju rumah sakit

“shit!!” terjebak macet. Ada kecelakaaan

“nara! Nara!” Chaerin terus menangis. Perasaanku juga tidak enak !!

.

Minho

Yoseob menelponku, kondisi nara parah. Saat itu aku panik, tapi juga pasrah!

Victoria noona sibuk memeriksa nara. Aku, yoseob, dan donghae menunggu kedatangan Kyuhyun. Pikiranku buram !

“kemana manusia bodoh ini!!” gerutu Donghae sambil terus menelpon Kyuhyun dan Chaerin

“bisa?” Tanya Yosoeb, Donghae hanya menggeleng. Tak lama Victoria noona keluar dengan raut pasrah

“noona??” Tanya Yoseob, dan Victoria noona hanya menggeleng. Yoseob menangis lalu berlari masuk keruangan Nara. Donghae hanya bingung mengapa semua begitu panik!

.

“hyung, bisa jelaskan??” Tanya Donghae dengan raut khawatir

“tak perlu khawatir!” ujarku “dia tak akan merasakan sakit lagi!”

“mwo??” Tanya Donghae

“1 tahun yang lalu nara divonis mengidap kanker stadium 3! Keajaiban dia bisa bertahan sampai detik ini. Dia juga terkena Anorexia, penyakit yang menyerang psikologis remaja. Kita sebut saja tertekan” jelasku pada donghae. Donghae menangis sambil berusaha menghubungi Kyuhyun atau chaerin. Tak lama Kyuhyun dan chaerin datang

“mianhae, macet sekali!!’ ujar Chaerin sambil menangis.

Kyuhyun langsung ke ruangan. Sedangkan Donghae menjelaskan apa yang tadi ku jelaskan padanya kepada Chaerin tanpa kyuhyun. Chaerin berteriak dan menangis, memukul-mukul donghae dengan tasnya

“oppa??” tanyanya miris padaku. Aku hanya mengangguk. Dia tambah menangis! aku harus apa!

.

** di ruangan **

.

Kyuhyun

“Nara?” tanyaku pada nara yang terbaring lemah. Dia tersenyum manis sekali

“hey! Uhuuk uhuuk!” dia terbatuk-batuk dan terus tersenyun  padaku

“yoseob, keluarlah. Aku ingin bicara dengan kyuhyun” pinta nara pada yoseob. Lalu yoseob keluar ruangan dengan menangis

“ini….” Nara memberikan buku data

“sudah selesai???” tanyaku heran. Tugas kami sudah selesai

.

“surprise!! Kau hanya bertugas menyerahkannya pada heechul seonsangnim!” ujarku. Mwo? Dasar babo yeoja, aku hanya tersenyum lalu memeluknya

.

“aku mengantuk” ujarnya pelan, matanya sedikit demi sedikit menutup

“kau harus istirahat?” tanyaku dan ia hanya mengangguk pelan.

.

Ia menatap dalam mataku, membelai wajahku, dan mengacak-acak rambutku. Ia menaruh tangan kanannya di sebelah tubuhnya. Ia tersenyum melihatku

.

“nara?” panggilku dan dia tak menyaut, dia hanya tersenyum

“choi nara?” panggilku lagi, dan dia tetap tak menyaut. Semua masuk ke ruangan. Chaerin menangis

“kau kenapa menangis?” tanyaku bingung

.

“…….” Chaerin hanya diam menatap Nara

“nara?” nara menutup matanya

“hey!! Ini bagaimana! Panggil noona!!” aku panik dan berteriak. Matanya menutup dan jujr aku sangat amat takut

“yaa!! Nara!! Nara!!” aku berteriak memanggilnya tapi tak ada jawaban. Chaerin dan yoseob menangis.

.

Noona menepuk bahuku sambil menangis

.

“hyung??” tanyaku pada minho oppa. ada apa ini!! Mengapa dia tersenyum dan tertidur!

“hey, tak sopan kau tidur ketika aku bicara! Bangun dulu Nara!! Bangun!!!

.

Aku mulai menangis! Berteriak dan sesak ! ada apa ini ?? semua hanya terdiam melihatku. Semua menangis menatapku, ada apa ini !!

.

“she is gone, Kyuhyun! She is gone!” ujar noona sambil menepuk pundakku

“mwo?? Don’t kidding me~ ya ! nara~ wake up right now!!!” aku menggoyangkan bahunya agar terbangun, tapi ada reakasi. Aku semakin panik. Chaerin, Donghae, danYoseob makin menangis

“eotthokkaji??” tanyaku lemah pada Minho Hyung

“……” Minho hyung hanya diam dan menggelengkan kepalanya

.

“Nara sudah pergi, Kyu. Dia sudah pergi!!” ujar Donghae lemah

“nara~ nara~ nara~” Chaerin menangis semakin dalam, dan tanpa henti

.

“katakan ini hanya tipuan bodohmu ! yaa~ Choi Nara!!!” aku berusaha membangunkannya, tapi matanya tetap meuntup dan ia tak bergerak

“Nara!!” panggilku pelan

“Nara sudah meninggal!” ujar yoseob sambil menarik keras lenganku

.

“yaa!!! CHOI NARA~ !!!” aku menangis keras, sekeras-kerasnya. Aku belum bisa, bahkan tak bisa, dan tak akan bisa terima!!

“mianhae Kyu~ aku sudah berusaha, tapi kanker otaknya sudah terlalu parah” ujar Victoria noona

“kanker?” tanyaku pada Minho hyung, dan hyung hanya mengangguk setuju

“tahun lalu ia divonis kanker otak, dan anorexia, Kyu. Kau lihat kan? Dia semakin kurus, dan rambutnya semakin tipis?? Tapi dia bertahan, Kyu. Sampai kalian benar-benar kembali bersahabat seperti dulu!” ujar Minho hyung menjelaskan.

.

Aku hanya bisa terdiam. Semua salahku, semua kesalahanku. Andai aku tidak terpengaruh saat itu, mungkin detik ini kamis emua merayakan keberhasilan pentasku di rumah makan~

.

Aku harus apa? Aku harus bagaimana?

Aku tidak tau ! pandanganku kosong ! saat nara di makamkan, aku hanya bisa terdiam dan melihat semua menangisi kepergian Nara. Mencoba tidak menangis, rasanya bagus

.

Sekarang aku benar-benar merasa sendiri !

Aku kesepian tanpanya !

Hey, bisakah kau kembali ? aku ingin bersahabat lebih lama denganmu, nara !

.

dia pergi! benar-benar meninggalkanku. selamanya pergi dari sisiku. tanpa menungguku.

“Nara, saranghae!!”

.

“are we just lost in time??”

56

[Freelance] He’s Mine and That’s It [part 9]

Hei, it’s me Kei and yes, I’m back

Saya masih suka sama karakter antagonis. Jadi saya kembali dengan tokoh utama karakter antagonis. So, enjoy it, my lovely readers  (^^)v
“Kalau aku bilang aku mencintaimu dan menyesal atas apa yang telah kulakukan padamu kau percaya?” tanyanya tiba-tiba dan sukses membuat Hyori terkejut.

“Ka..ka..kau bilang apa?” Tanya Hyori terbata-bata.

“Aku akan meninggalkan lasagna ini disini. Jangan lupa memakannya. Kau tidak tahu berapa lama aku harus mengantri untuk makanan ini kan?” katanya sambil tersenyum pada Hyori. “Aku pergi dulu ya.”

**

*Hyuk Jae POV*

Aku berjalan keluar dari kantor Hyori dengan perasaan yang tidak menentu. Aku tahu kalau apa yang telah aku perbuat selama ini tidak bisa dengan mudah dimaafkan olehnya. Aku sangat tahu hal itu hanya saja aku tidak mau mempercayainya. Aku bodoh dan egois memang. Karena datang kembali ke perempuan yang telah aku sakiti dan berharap dia masih menungguku. Tapi itulah manusia, mau menang sendiri atas apapun yang ada di dunia ini terutama yang berhubungan dengannya.

Masih segar diingatanku malam sewaktu aku menelpon Hyo untuk meminta bantuannya. Aku sedang bingung dan putus asa sambil memandangi foto-fotoku dan Jiwoon yang diberikan oleh pak Kim pada eomma. Tiba-tiba saja wajah Hyori ada disalah satu foto itu sedang berbicara dengan atasan Jiwoon dan sampailah kami pada sandiwara bodoh itu.

Jujur, aku merasa nyaman ketika berada di samping Hyori. Dia perempuan yang berbeda dengan Jiwoon. Dia sangat independent tapi mudah untuk didekati. Tipikal sosialita yang sudah jarang ditemukan di abad 21, apalagi di Korea dengan jumlah social climber yang makin menggila dan membuatku cukup muak dengan perjamuan-perjamuan dan pesta-pesta. Dia terlihat sangat manusiawi kalau dibandingkan dengan Jiwoon. Jiwoon itu sangat baik hati dan sempurna –walaupun tidak ada yang sempurna di dunia ini, tapi menurutku dia cukup sempurna- tapi Hyori dia berbeda. Dia memaki seperti selayaknya orang memaki orang lain –kalian tahu kan kalau bagi perempuan memaki itu adalah hal yang tidak sopan apalagi di Korea- , dia berbuat curang sesekali, dan dia-pun kadang berbohong.

Aku bisa tertawa dan menceritakan hal-hal bodoh dengannya –bukan berarti dengan Jiwoon aku tidak bisa- tapi aku bisa lebih bebas. Mungkin karena background keluarga kami yang sama sehingga sewaktu dia berkata, “Aku tahu bagaimana rasanya.” aku selalu percaya kalau dia memang benar-benar tahu bagaimana rasanya. Bukan seperti orang lain yang hanya sekadar mengatakannya tanpa benar-benar tahu bagaimana rasanya.

Malam itu saat Jiwoon terkena serangan asma, malam saat Hyori berkata kalau aku menelantarkannya, membuatku berpikir ulang tentang hubungan kami. Aku mulai merangkai beberapa keganjilan-keganjilan yang terjadi selama ini. Bagaimana tiba-tiba Hyori bersikap manis dan tahan terhadap semua permintaanku yang biasanya akan dengan cepat akan ditolaknya. Dia berusaha menyampaikan pada Jiwoon siapa sebenarnya perempuan yang pantas bersanding di sampingku. Dia sudah memulai perang dengannya.

Sampai puncaknya adalah saat sore itu aku secara tidak sengaja melihat mobil Hyori di depan sebuah café bersama Jiwoon. Mereka hanya berdua sehingga pikiran positifku bahwa mereka sedang membicarakan proyek ku kesampingkan dan membawaku kepada kenyataan bahwa Hyori memang berencana untuk menghancurkan hubunganku dengan Jiwoon. Dia berkata kalau dia mencintaiku dan berbuat semua ini karenanya. Tapi tidak tahukah dia dengan kata-kata bijak bahwa cinta tidak harus memiliki dan cinta itu saat kau melihatnya bahagia walaupun dengan orang lain?

Aku benar-benar tidak tahan lagi dengan semua sandiwara ini. Aku muak dengan segala sikap manis Hyori pada orang-orang disekelilingku. Eomma, appa, onnie, bahkan pada sekretarisku. Dia kembali meyakinkan mereka kalau hubungan kami baik-baik saja dan dia adalah pasangan terbaik untukku. Cih, maaf saja tapi aku sudah muak dengan semua tipu daya mu.

“Aku lelah, Hyuk.” Kata Jiwoon suatu sore di sebuah taman kota.

“Kalau begitu ayo kita pulang.” Ajakku padanya.

“Bukan lelah seperti itu. Tapi lelah dengan semua ini.”

“Maksudmu?”

“Aku lelah kalau harus selalu bersembunyi seperti ini. Pasti cepat atau lambat mereka menemukanmu. Korea itu kecil, Hyuk.”

“Kau tidak mencintaiku lagi?” tanyaku sambil mencari matanya yang saat ini sedang menunduk.

“Aku..aku..aku tentu saja mencintaimu. Tapi tidak tahukah kau kalau aku sakit melihatmu harus berpisah dengan keluargamu demi aku?” katanya sambil menahan tangisannya. “Aku tahu kalau kau sangat mencintai keluargamu. Kembalilah pada mereka.”

“Kau itu kenapa?” tanyaku tidak percaya dengan kata-katanya barusan. “Kau mau kita keluar Korea? Bisa kok. Kau mau kemana? Tabunganku bisa membawa kita ke Eropa. Bagaimana? Kita bisa mengganti identitas agar tidak terlacak.”

“Dan aku akan hidup dalam kekhawatiran kalau suatu saat kau akan di bawa pulang paksa?” tanyanya masih dengan air mata yang mengalir. “Aku tidak bisa hidup seperti itu, Hyuk.”

“Mak,,mak,,,maksudmu?”

“Kau tahu kata-kata bahwa cinta itu saat kau melihat orang yang kau cintai bahagia meski tanpa dirimu?” tanyanya setelah mengambil nafas.

“Jadi kau mau melepasku?”

“Cintaku padamu melebihi apapun karenanya aku melepasmu pergi, Hyuk. Kau bisa hidup tanpaku dan menemukan perempuan yang lebih baik.”

“TIDAK!!AKU MENCINTAIMU, JIWOON-ah!!” teriakku frustasi. “Berapa keluargaku membayarmu untuk mengatakan semua ini? Atau jangan-jangan Hyori?”

“Bukan kedua orang tuamu ataupun nona Hyori. Tapi hanya karena aku mencintaimu lebih dari apapun. Kau tidak bahagia disampingku, Hyuk.”

“Aku bahagia kok. Lihat, aku tidak pernah bersedih sewaktu bersamamu. Kita hidup bahagia kan? Kalau kau ingin restu dari kedua orang tuaku, kita bisa mengaturnya. Kita akan pelan-pelan mengusahakan itu. Mereka pasti luluh, aku yakin.” Kataku meyakinkannya.

Jiwoon hanya tersenyum mendengar penjelasanku yang panjang itu. Dia hanya memandangku, memegang wajahku dengan kedua tangannya, menciumku, memelukku, dan tiba-tiba dia berjalan menjauhiku. Aku hanya bisa diam melihat semua perlakuannya padaku dan setelah itu -sewaktu dia membalikkan badannya dan memandangku- dia berteriak, ”Hyuk Jae, saranghae!!Mianhae!!”. Lalu beberapa orang dengan jas datang menghampiriku dan mengunci kedua tangaku di tangan mereka. Ah, aku tahu sekarang. Dia menelpon keluargaku dan memberitahukan keberadaanku pada mereka. Jadi ini arti dari kata-kata mianhae tadi?

*Jiwoon POV*

Aku cepat-cepat membalikkan badanku saat Hyuk Jae berteriak-teriak memanggil namaku sambil bertanya mengapa aku melakukan semua ini padanya. Kalau kalian mengira semua ini aku lakukan karena orang tuanya yang memaksaku sperti yang sering kali ada di drama-drama itu, tapi maaf kalian salah. Ini murni adalah pemikiran dan keputusanku sendiri.

Bukannya aku tidak bahagia tinggal bersama orang yang kucintai dan bahkan kami akan menikah, tapi aku tahu kalau dalam hatinya Hyuk Jae tidak mungkin meninggalkan keluarganya hanya demi aku. Aku sering melihatnya memandang nanar ke arah sebuah keluarga kecil yang sedang menghabiskan waktunya di taman. Awalnya aku kira dia sudah tidak sabar mempunyai anak sendiri, tapi setelah melihat gelagatnya akhir-akhir ini yang membuatku mengambil kesimpulan tersebut.

Aku tahu kalau di drama-drama perempuan miskin sepertiku –well, aku tidak miskin-miskin amat, hanya saja aku berasal dari keluarga yang tidak kaya- akan hidup bahagia dengan pacar kayanya yang sudah kabur dari rumahnya karena hubungan mereka tidak disetujui oleh orang tua sang pacar. Tapi aku hanyalah perempuan biasa yang mencoba realistis. Cukup aku bermimpi agar bisa hidup bahagia dengan Hyuk Jae, tapi buat apa kalau aku hidup dengannya tapi pikirannya tidak 100% untukku?

Cinta adalah saat kau melepas orang yang kau cintai agar bisa berbahagia meski itu tanpamu dan terasa berat diawalnya. Tapi saat kau tahu kalau memang itu adalah jalan terbaik untuknya maka kau tidak mungkin untuk tidak membantunya kembali ke ‘jalan yang benar’ kan? Aku tidak tahu bagaimana masa depanmu, Hyuk. Tapi aku yakin kau sangat mencintai keluargamu lebih dari apapun di dunia ini dan pasti sangat berdosa sekali aku kalau aku harus memutus hubungan itu. Karenanya aku akan membantumu kembali ke ‘jalan yang benar’ dan pasti kau akan menemukan perempuan yang lebih baik dariku yang juga disetujui oleh keluargamu.

Lupakan aku dan kembali jalani hidupmu yang lama, Hyuk. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagianmu meski itu bukan denganmu. Saranghae, Lee Hyuk Jae.

“Halo, nona Hyori? Saya Jiwoon. Saya hanya ingin memberi tahukan bahwa Lee Hyuk Jae sudah pulang ke rumahnya dan saya harap nona tahu apa maksud saya ini. Saya mau menagih janji nona pada saya. Janji saat nona mau membuat Hyuk Jae bahagia bagaimanapun caranya.”

*Sora POV*

Malam ini dapur sedikit ramai karena eomma mampir kesana. Aku yang baru saja pulang bingung dan segera ke dapur untuk mengetahui apa yang terjadi. Pak Joong berkata kalau Hyuk Jae, adikku yang sedang kabur itu, sudah ditemukan tadi siang. Karena itulah eomma gembira dan memasakkan makanan favoritnya.

Aku memutuskan untuk menemuinya segera sebelum eomma menangkapku dan menyuruhku membantunya meramaikan dapur. Aku agak kurang bisa memasak, beda dengan eomma yang sangat suka memasak. Dia ditemukan? Bagaimana bisa? Bukannya aku selalu memberi peringatan padanya agar tidak mudah tertangkap para pengawal itu? Dasar bodoh, kalau dia tertangkap seperti ini bagaimana dia bisa kabur untuk yang kedua kalinya?

“Heh, anak bodoh!!Bagaimana kau bisa tertangkap sih? Bagaimana aku harus mengeluarkanmu dari sini coba?” tanyaku sambil berjalan mendekatinya yang sedang duduk di sofa memandang taman belakang.

Dia tidak menjawab. Hanya memandangku dan kembali ke kegiatan awalnya yaitu memandang taman belakang.

“Hei, kau itu kenapa? Sakit?”

Dia hanya menggeleng. Wajahnya menyiratkan kekecewaan dan sakit hati yang mendalam. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tiba-tiba saja otakku kosong dan aku hanya bisa diam melihatnya seperti itu.

Ini sudah hari ke empat sejak kepulangannya. Dia tidak menyentuh makanannya sedikitpun. Eomma dan appa khawatir kalau sesuatu akan terjadi padanya sehingga akhirnya menancapkan infus di lengannya. Dia hanya berbaring dan memberi tatapan kosong sewaktu kami semua datang dan ‘menjenguk’nya. Dia menolak untuk makan, minum, dan berbicara dengan siapapun, termasuk aku nunanya sendiri.

Sampai suatu malam aku masuk ke kamarnya dan membawakannya bubur ayam yang sangat disukainya. Aku mencoba membujuknya untuk makan tapi sia-sia saja sama seperti satu minggu ini. Aku yang sudah tidak tahan lagi dengan semua ini akhirnya meledak sambil bertanya apa yang terjadi. Sayang lagi-lagi dia hanya diam.

“Hyukie, apa yang harus aku lakukan agar membuatmu kembali seperti sedia kala?” tanyaku padanya. “Akan kutelpon Jiwoon dan membawanya kemari kalau memang itu maumu atau aku juga akan berlutut memohon pada orang tua kita agar kau direstui. Apa, Hyukie? KATAKAN PADAKU!!” pintaku sambil sesegukan.

“…”

“Hyukie, tolong. Jangan menyiksa nunamu ini seperti ini.”

“…”

“Hyuk…” kataku melemah dan menundukkan wajah sambil melanjutkan tangisanku. Entah ini sudah malam keberapa aku menangisinya. Dia terlihat sangat lemah dan tidak berdaya berbaring di kasur yang lebar ini. Botol infus yang menjadi satu-satunya asupan gizinya terllihat berdiri menjulang angkuh di samping kasurnya. Dua hari sekali dokter datang dan memeriksa keadaannya sambil sekali-kali menyuntikkan sesuatu pada tangannya yang pucat itu.

Aku menengadahkan kepalaku dan memandangnya -yang saat ini sedang mencoba tersenyum padaku-sambil berkata, “Nuna, jangan menangis lagi.”. Tangannya yang berinfus mengelus rambutku. Aku bingung dengan pengelihatan dan pendengaranku saat ini. Apakah ini nyata? Hyukie-ku sedang mengelus kepalaku sambil tersenyum padaku? Ini pasti mimpi.

“Nuna, jangan menangis lagi untukku. Aku tidak suka.” Katanya lagi lemah. “Nuna? Kau mendengarku?”

“Hyuuuukkkk.” Kataku sambil memeluk tubuhnya yang sekarang ringkih itu. Ini bukan mimpi. Dia tersenyum dan mengelus kepalaku.

“Nuna, aku tidak bisa bernafas.” Ucapnya merespon pelukanku.

“Ma,,ma,,maaf. Aku terlalu bahagia.” Kataku sambil melepaskan pelukanku. ”Kau mau makan? Akan kuambilkan yang baru.”

“Tidak usah nuna. Aku hanya mau kau duduk disampingku.” Katanya sambil menepuk kasur disampingnya.

Aku hanya bisa menuruti permintaannya dan duduk di sampingnya. Segera setelah aku duduk disana, dia memiringkan kepalanya dan bersandar pada pundakku. Tanganku diambilnya dan digenggamnya.

“Nuna, aku lelah. Aku lelah dengan semua ini.” Katanya tiba-tiba. “Jiwoon tidak mencintaiku lagi. Dia yang menyerahkanku pada eomma dan appa. Aku…”

“Aku yakin ini pasti ulah eomma dan appa sampai Jiwoon menyerahkanmu. Akan kucari tahu. Tenang saja, adikku sayang. Kau pasti akan ku bebaskan dari sini.” Kataku sambil mengelus kepalanya dengan tanganku yang satu lagi.

Dia meresponku dengan gelengan. “Ini bukan ulah mereka. Ini memang keputusannya dan hal itu membuatku lebih sakit lagi, nuna. Apa kurangnya diriku nuna?”

Pundaknya sedikit berguncang menandakan bahwa dia sedang menahan tangisnya. Tanganku di genggamnya makin kencang. “Menangislah Hyuk kalau memang itu akan melegakan beban hatimu. Aku akan disini dan menjagamu.”

**

Aku bergerak pelan turun dari kasur dan keluar dari kamar Hyuk Jae. Dia tertidur dengan pulas setelah semalaman menangis di pangkuanku. Aku harap beban hatinya sedikit terangkat setelah dia menangis semalam. Aku tahu ada ‘peraturan tidak tertulis’ tentang boys don’t cry, but bullshit with that. Boys are human and they can cry to express their feeling, rite?

Yoboseyo? Aku mau laporan tentang apa yang aku minta kemarin ada di mejaku setelah makan siang.”

Oke, saatnya mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.

Tersangka pertama adalah kedua orang tuaku.

Menurut laporan memang mereka telah menyebar banyak orang untuk mencari Hyuk Jae, tapi semua itu masih dalam kekuasaanku. Jadi selama ini aku masih bisa memberitahu Hyuk Jae dan menyuruhnya untuk bersembunyi. Orang tuaku juga pernah membujuk Jiwoon dengan uang dan di tolaknya. Ah, ini laporan kemarin malam. Eomma menemui Jiwoon untuk memberinya imbalan karena telah mengembalikan putranya tapi ditolaknya. Jiwoon hanya minta agar keluarga Lee menjauhi keluarganya dan mulai sekarang dia akan pura-pura tidak kenal dengan keluargaku.

Oke, ini aneh. Berarti memang bukan kedua orang tuaku penyebab semua ini.

Tersangka kedua adalah Hyori.

Oh, kita semua masih ingat bagaimana kelicikan yang diperbuatnya agar mendapatkan Hyuk Jae. Tapi aku sedikit yakin kalau dia tidak terlibat dengan semua ini. Kulihat dia sangat terpukul semenjak malam itu. Dia bahkan tidak mau menemui kedua orang tuaku setelahnya. Tapi siapa tahu saja dia masih mencintai Hyukie dan memonopoli semua ini.

Tapi sebentar, di laporan ini tidak ada tanda-tanda bahwa Hyori campur tangan. Hanya terlihat seorang suruhannya mengintai Jiwoon setelah kepulangan Hyuk Jae dan juga ada yang mengintai Hyuk Jae? Apa maksud gadis ini sih?

Dan tersangka terakhir adalah Jiwoon.

Memang aneh. Tapi bisa saja dia punya motif dalam rangka pemulangan Hyuk Jae. Dilaporan ini diberitahukan setelah peristiwa itu dia pulang ke Busan dan menetap disana. Dia terlihat bekerja di sebuah event organiser lokal disana, menjual apartemennya disini dan keluar dari tempat kerjanya yang lama. Sepertinya dia benar-benar ingin memulai kehidupan baru di Busan.

**

Hyukie sudah membaik. Setelah malam itu, dia mulai makan dan berangsur-angsur pulih. Sekarang dia terlihat sehat jasmani, tapi aku tahu batinnya masih belum bisa beranjak dari peristiwa pemulangan paksanya itu.

Dia pergi untuk bertemu dengan Jiwoon dan menanyakan alasannya. Tapi sepertinya dia tidak bisa menemukan jawabannya yang dicari –atau yang lebih tepatnya adalah jawaban yang diharapkannya- keluar dari mulut gadis manis itu. Gadis itu tetap pada pendiriannya dengan melepaskan Hyuk Jae pergi dari kehidupannya dan kembali pada keadaan saat mereka pertama kali bertemu.

Hyukie pulang dan mabuk.

Jiwoon pulang dan menangis.

Aku tidak habis pikir dengan orang yang berkorban demi cinta seperti yang dilakukan oleh Jiwoon. Dia bilang kalau nanti Hyuk Jae pasti akan menemukan parempuan yang lebih baik dan pantas untuk dinikahi dan dicintainya.

“Bukannya pernikahan itu bukan hanya tentang menyatukan dua hati tapi lebih pada menyatukan dua keluarga? Bagaimana bisa menikah tapi dua keluarga tidak bersatu bahkan bertikai?” Katanya sambil menangis.

*Hyuk Jae POV*

Sore itu aku sedang tidak ada kerjaan sehingga aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota. Sudah lama aku tidak kemari. Banyak orang sedang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, sedangkan aku sibuk dengan ipodku dan memandangi mereka. Sampai ada seorang anak kecil yang meminta ibunya untuk membeli ice cream. Anak itu tersenyum bahagia saat menghabiskan ice creamnya. Dia duduk disebelahku dan tidak peduli dengan mulutnya yang belepotan. Dia memandangku saat ice creamnya hampir habis sambil tersenyum dan memamerkan gigi depanya yang ompong.

Entah mengapa aku tersenyum memandangnya dan memberikan sapu tanganku untuk mengelap mulutnya. Dia menggeleng menolakku dan kembali ke kegiatan makan ice creamnya. Baru setelah ice creamnya habis dia mau kubantu membersihkan sisa ice cream di mulut dan bajunya. Dia berkata, “Aku tidak suka membersihkan sisa ice cream sebelum aku selesai memakannya. Itu mengurangi keenakan ice cream-ku, ajussi.”

“Oh, ini seperti dejavu. Tapi aku lupa dimana.” Kataku dalam hati sambil memandang anak itu. Saat ini dia sedang berjalan bergandengan tangan dengan ibunya pulang ke rumah. “Ah, Hyori.”

Hyori juga suka makan ice cream dengan peraturan aneh itu. Bahkan bukan hanya ice cream tapi juga burger. Aku tidak tahu mengapa, tapi dia selalu melakukannya. Ah, buat apa mengingatnya lagi? Dia sudah berbuat jahat kepadaku. Lebih baik aku melupakannya.

**

“Ah,, Hyuk Jae kembalilah pada dirimu yang biasanya. Jangan memikirkannya lagi.” Kataku pada diriku sendiri sambil memukul-mukul kepalaku pelan.

Memang akhir-akhir ini aku jadi suka memikirkan Hyori. Semenjak bertemu dengan anak kecil di taman kota itu, setiap melihat sesuatu selalu berkaitan dengan Hyori. Hyo yang tidak suka makanan pedas, Hyo yang suka boneka binatang, kemeja yang dibelikan Hyo, bagaimana kesalnya Hyo kalau ada orang yang merokok sembarangan, dan banyak hal yang lain. Oke, ada apa denganmu Lee Hyuk Jae?

Buat readers yang minta lebih panjang lagi,,,

Maaf saya g bakat bikin yg panjang-panjang (hehehee,,ngeles)

Kan malah lebih fokus dan penasaran klu pendek-pendek kayak gini :P

TBC

Tag: Eunhyuk

5

[Freelance] Onew=Key=Mulan [part 2]

Author  : Mi-Cha

Main Cast : – Lee Jinki

– Kim Kibum

Support Cast : – Jessica

– Heechul

Rating  : G

Genre  : Comedy(?) and romance

Disclaimer : Tentu saja semua bukan punya saya kecuali plot dan Umin oppa selaku suami kedua dan Onew oppa suami ketiga #plak

Annyeong, sorry for long update *bow* dikarenakan saya (sok) sibuk sekali disekolah. Kalo lupa dengan part satunya, baca aja : Part 1

Dan, ff ini juga sudah pernah dipublish beserta foto-foto pelengkap di Emily’s Dream World

Comment or like please

The Real Battle is Begin!

Mommy El : “Ciiaatt!!! *kok kaya silat yah #plak* kembali lagi di Final Emak Fashionista Contest bersama saya, mommy el yang masih imut-imut, cute abizz, sexy, semok, bohai” *dilempar kaos kaki monkey oppa ama Penonton *

Penonton : “Huuuuu…. Kenarsisan lo, kebanyakan gaul ama Kim Heechul sih! Buuu… Perasaan di part kemaren bilang mo jadi juri. Yoona-nya kemana? Bagusan Yoona juga! ganti MC! Ganti MC!, turunkan Nurdin!! #loh? (lempar timun, jambu, nanas, bengkoang, cabe, kacang…….) *lo pikir mo ngrujak apa?*

Mommy El : “Hah! Yang bener aja deh, masa kalian ga bisa melihat kecantikan diriku yang masih polos ini? *dibakar* Lagian si Yoona diganti gara-gara dia mau syuting film terbarunya yang judulnya ‘Monyetku Cinta Pertamaku’ bareng Eunhyuk Suju *dimutilasi YoonHyuk*. Lagian kalo aku yang jadi MC gabakal rugi kok, soalnya tiap ronde, MC-nya berbeda-beda. Dan untuk ronde pertama ini, partnerku adalah….. Mami Teuki! Give her applause!” (Mami Teuki keluar)

Mami Teuki : “Halo semuanyaa… siap digoyang?!! Yoyoyo, Ah, karena semua udah penasaran *readers : enggak* langsung aja, kita mulai ronde pertama!”

Round I

Menyan dibakar tanda ronde pertama segera dimulai. Onew, Key, dan Umin segera mengambil tempat masing-masing di atas panggung disertai asisten masing-masing. Lalu mendengarkan dengan penuh khidmat lantunan surat yasin apa yang dikatakan oleh duo MC stress tersebut.

Mommy El : “Baiklah, para finalis harap dengar baik-baik. Jika anda merasa pendengaran anda kurang baik segera bersihkan kuping anda secepatnya dan pergi ke dokter hewan #pletak”

Mami Teuki : “Para finalis harus berdandan sesuai dengan tema yang disebutkan nantinya. Asisten boleh membantu. Sekarang, bersiap ditempat masing masing, karena tema akan dibacakan”

Key  : “Woi, kita udah siap daritadi. Banyak omong banget sih. Cepetaan!!!”

Mommy El : “Aigoo, Mimi Kim, jangan marah-marah, muka situ kan udah ada keriputnya, ntar keriputnya nambah loh, jadi banyak” #DOR! *ditembak Key+Lockets*

Mami Teuki : “Iya iya. Yaudah, langsung saja, temanya adalah….. “I’m a School Girl! ”

Mommy EL : “Yak, lomba dimulai dari…sekarang!”

Gong(?)  : “Goongggg….!!!!!”

Para peserta kini menuju tumpukan pakaian yang ada. Mencoba satu-satu. Dan tentunya ada dialog yang terjadi. Mari kita liat sama-sama!

Onew  : “Heh, konci, kamu dah nemu bajunya belom?”

Key  : “Belum yam. Belom nemu yang sexy ama warnanya pink sih. Kamu sendiri gimana?”

Onew  : “-.-. Ah, belom nih. Aku belum nemu seragam yang motifnya ayam…”

Key  : “Hyung, kamu kalo bego jangan kebegoan. Onew SHINee yang asli aja ranking 2 paralel diskolah”

Onew  : “Jangan nyalahin aku. Aku kan Cuma mraktikin yang ditulis di skrip. Salahin nih author yang dodol. Dia bego sih, boro-boro SMA, SD aja kaga lulus.”

Author(?) :”Heh New, gausah bocorin rahasia perusahaan dong. Ntar gue malu nih. Balik lagi ke dialog yang bener ato peranmu takhapus dari ff ini!”

Onew  : “Ya silahkan, aku malah seneng kok kaga main di ff ini. Udah apus aja. Berani kaga?!”

Author  : “Eh, eh, jangan marah. Entar aku beliin Mexicana Chicken yang sekarang bintang CF nya IU 5 box deh. Yayaya?”

Onew  : “Huh! Tau aja apa yang kusuka. Sekarang kembali ke benang kasur!”

Balik Ke Dialog Normal

(kata Onew Benang Kasur kata Parto Benang Merah)

Onew  : “Ah, Mama Umin udah nemu yang bagus?”

Umin  : “Hehe, iya. Saya duluan yak. Mari biscuit.”

Onew  : “Ya (biscuit) selamat jalan. Ati-ati. Saya bentar lagi nyusul kok. Ini udah nemu. Byee konciii!!!” *author : kenapa saya masukkin nama bikuit selamat dan mari? Soalnya saya lagi mupeng 2 biskuit itu #gapen*

Key  : “Oh, tidak bisa, saya duluan. Byeee.”

Akhirnya ketiga emak tersebut berdandan bersama. Dan bagaimana hasilnya? Kita saksikan setelah pesan-pesan berikut ini

-Iklan-

Mommy El : “Ya,kembali lagi bersama saya Mommy El dan Mami Teuki di Final Emak Fashionista Contest 2011. Apakah anda sudah penasaran?

Penonton : “Enggak! Malah pengin acaranya cepet selese. Bosen liat mukamu!”

Mommy El : “Eits, ndak boleh gitu. Kalo jadi penonton baik, ntar aku kasih hadiah deh”

Penonton : “Apaan?”

Mommy El : “Hadiahnya, bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan selamat”

Penonton : -_________-  * Penonton: kita masuk kandang macan rupanya*

Mami Teuk : “Oke, kita biarkan saja dua pihak geje ini. Langsung saja peserta pertama mama umin!”

Mama Umin keluar dengan imutnya, berseragam kuning dengan rambut panjang (ala kuntilanak #plak) plus bando. Mengangkat sedikit rok-nya dihadapan Penonton (kaya yang di intimate note ituuh) yang langsung gempar, lalu aksi mama umin diakhiri dengan duduk sambil membuat tanda hati dengan tangannya disertai ucapan “Saranghae”

Mami Teuk : “Ahk, Mama Umin! Imut-imut deh. Ini kan seragam yang di-iklanin ama Choi Byul-I *ngiklan~* Kenapa milih tema ini?”

Mama Umin : “Ah, sebelumnya, saya kasih tempe (bosen tahu) ya temanya ini Yellow Banana Girl. Saya milih warna kuning karena saya tadi lagi kepengin makan pisang. Yaudah deh, tak dapat pisang hyukpun jadi, eh, seragampun jadi”

Mommy El : “-___- Ah, aneh lagi. Yasud, Mama Umin, silakan jongkok dulu dipinggir. Kontestan kedua, Mami Lee!”

Asap putih memenuhi panggung. Mami Lee alis Onew keluar dengan seragam ala Geum Jandi. Hitam dari atas ampe bawah, tapi kulitnya kaga ikut item, lalu rambut digulung pendek.

Mommy El : “Aigoo, ini lebih cantik dari Ko Hye Sun! Congrats Mami Kim! Ngomong-ngomong, kenapa pilih seragam ini”

Onew  : “Ah, enggak kok, ini tadi saya asal ngambil. Terus asisten saya cerita dia ngefans Lee Minho. Jadinya buat bikin dia seneng saya maksain image Geum Jandi ini. Tidak nyambung bukan?”

Mami Teuk : “Astaghfirullahaladzim *MWO?! Teuk oppa nyebut?!* Saya setuju deh ama Mommy El. Finalisnya otaknya pada kebalik semua. Lanjut, sekarang, Mimi Kim! Dan Mami Lee jongkok bareng Mama Umin dulu yaa”

Key dengan seragam super imut dan sexy pun keluar. Kemeja putihnya dengan aksen bulet bulet(?) dan rok pink berendanya membuat supporter Percibum (Persatuan Pecinta Kibum)(?) berteriak riuh.

Key  : “Hello everybody! Already miss me? Don’t worry, I’m here now!” *author : cish, mentang-mentang pernah sekolah di Amrik. Begaya banget pake bahasa inggris**key : thor, lo bilang apa? Mau tak jadiin Elzam saus asam manis ya?**author : ah, aku gak ngomong apa-apa kok. Hehe. Peace*

Mami Teuk : “Yaa! Disini dilarang narsis! Cuma saya yang boleh narsis!” (dilempar duren)

Mommy El : “Aigoo. Mami Teuk ini. Yah oke. Mimi Kim, jelaskan mengapa anda memilih tema ini secara singkat padat jelas tajam dan terpercaya *kaya berita*”

Key  : “Yaa udah jelas kan. Because I love Pink! Kim the pink lover! Mama Umin, toss dulu nyook (mereka bedua toss)”

Mami Teuk : “Ya sudahlah. Baiklah, semuanya, ayo kumpul sini. Para finalis. Kita saksikan penilaian para Penonton.”

Mommy El : “Yak. Penonton, siapakah yang anda suka? Jika suka tekan tombol bertuliskan nama finalis. Dimulai dari, sekarang!

-1 abad kemudian-

*kyu : gausah nglawak deh kalo ngetik. Kaga lucu tauk* *author : iya iya. Aku ganti nih*

*DIGANTI*

-1 menit kemudian-

Mommy El : “Semuanya, berhenti ngevote sekarang juga!”

Mami Teuki : “Kita lihat hasilnya bersama-sama! 3….2….1…!”

JENG! JENG! Hasil Vote :

Mami Lee 30 suara, Mimi Kim 30 suara, Mama Umin 30 suara, 10 suara golput.

Mami Teuki : “Aigoo, kenapa jumlah suaranya sama semua? Mana 10 golput lagi!”

Mommy El : “aku tau kenapa ini bisa sama semua. Soalnya si author yang kepengen.”

Mami Teuki : “Hmmm… yaudah deh. Sebentar lagi kita umumkan ronde kedua. Tapi sebelumnya, kita ganti MC dulu. Siapa MC ronde selanjutnya Mommy El?”

Mommy El : “Oke, langsung saja, MC selanjutnya! Jessica dan Heesica! Bye bye! eLTeuk undur diri!”

Kedua MC aneh itupun meninggalkan stage. Lalu masuklah Sica Bersaudara, Jessica dan Heesica

Jessica  : “Annyeong! Kita kembali lagi di acara Final Emak Fashionista Contest!

Heesica  : “Tentunya anda lebih suka MC-nya kami daripada eLTeuk kan, penonton?”

Penonton : “Neee!!!  It’s better! Hidup Sica Bersaudara!”

Heesica  : “Yeah! Good good! Neomu banjjak banjjak nuni busyeo no no no no no no!”

Jessica  : “Ealah, nge-Gee lagi! Baiklah, sebelum Tema Ronde kedua dibacakan, ada baiknya kita iklan dulu yaa!”

-IKLAN-

*readers : he, thor. Perasaan ini contest kaga disebutin disiarin ditipi kok daritadi ada iklan yaa?**author : itulah ajaibnya ff saya(?) yang gaje ini. Kekeke**readers : -____-*

Jessica  : “Kami kembali!!! Langsung saja ya, untuk menyingkat durasi (lagi) kami bacakan temanya!”

Heesica  : “Tunggu dulu. Finalisnya kan belum disini.”

Jessica  : “Oh iyaya. Ooooiii!!! Kim, Lee, Umin! Sini nyook. Arisan dulu! #pletak”

Heesica  : “Ndul, kita bukan mau arisan! Ah, sini ngumpul semua. Jessica bacain temanya!”

Jessica  : “Baiklah, tema ronde kedua adalah….”

JS+HS  : “Lolita couple!”

ROUND II

Onew  : “Hah?! Lolita couple?!!”

Heesica : “Yep! Di ronde ini kalian harus dandanin diri kalian sendiri plus model yang kita siapin. Kalian harus dandanin mereka biar keliatan cantik!”

Jessica  : “Dan modelnya, ayo emak-emak, sini, ambil undian. Ambil satu aja yaa.”

(Emak-emak ngambil undian)

Jessica  : “Sepertinya ini memang untung-untungan, karena model yang tersedia itu, 2 cowok, dan satu cewek”

Key  : “Apphua??!! Jadi kalo cowok harus dandanin dia jadi bencis gitu??”

Heesica : “yee, gausah pake hujan local lagi. Bukan banci, jadi kaya main cosplay gitu. Kalo jadi bencis, itu kalo dandannya kaya yang di Taman Lawang.”

Jessica  : “Gausah banyak omong. Langsung kita umumin pasangannya dan kemudian langsung dandan okeh? Oke, pasangan mami lee adalah Lee Temin! Silakan naik bagi model yang dipanggil. Lalu Mimi Kim adalah Cho Minho dan untuk Mama Umin, dia beruntung, dia mendapatkan Park Raera! Chukkae. Langsung saja!

Peluit(?) : Prrriiitt (tanda dandan dimulai)

-di backstage-

Taemin dan Minho masuk bersama yang lainnya dengan muka shock dan pucat. Sementara Onew, Key, dan Raera dari tadi menahan tawa. Mama Umin yang kaga tau apa-apa Cuma diem, latian aegyo *kaga nyambung*. Akhirnya…

ON+KY+RR : “BWAHAHAHHA! HAHAHHA, HOHOHHO, OHOK..OHOK…(batuk) Taemin ama Minho kena juga lo, suruh jadi cewek. hyahahahaha”

Minho  : “bawel lu. Liat wujud sendiri dong.”

Taemin  : “Aku pasrah aja deh, lagian kalo jadi cewek aku tetep imut kok”

Key  : “Eh, Min, gini-gini gue cantik, imut, sexy *author muntah*. Lah, elu, perut six packs, muka sangar(?), tangannya mekar lagi “*otot maksudnya, ni author bego, harap dimaklumi*

Minho  : ”Ah, Tuhan, malangnya nasibku #bacapuisi. SEKARANG CEPET GANTI!”

Key  : “Ah, sepertinya aku butuh bantuan. Minchan, sini!”

Onew  : “Sepertinya aku juga. Sungrin, puss..puss” (Sungrin ama Minchan dateng Bareng)

Sungrin  : “Pas pus pas pus, emang aku kucing apa?”

Onew  : “Iya, tuh, kamu kumisan soalnya. Panjang panjang lagi *aslinya kaga*”

(Onew dibanting Sungrin)

Key  : “Waah! Sungrin hebat banget. Aku selalu ngimpiin punya cewek yang bisa nindas Onew. Kamu mau jadi pacarku?” *author : jangan jadi pacarnya, entar kena rabies. Ama aku ja* *ditampol nena*

Sungrin : “Wah, kamu cewek kok suka ama cewek, sih Mimi Key?” (muka innocent – Key speechless)

Onew  : (bisik-bisik ke Sungrin) ‘Eh, rin, dia itu nasibnya sama kaya aku. Aslinya dia cowo tulen kok, mirip Key SHINee(?). namanya juga Key”

Sunrin  : “Oh. Yaudah deh, aku mau. Eh Minchan (ceritanya udah kenal) kita tukeran yuk. Kamu jadi asistennya Onew aku jadi asistennya Key jagi. Gimana?”

Minchan : “Ya sudahlaah~” *bondan mode : on*

Akhirnya, Sungrin dan Minchan bertukar posisi. Lalu, mereka semua akhirnya dandan *nyingkat durasi (lagi dan lagi) #plak*. Dan, bagaimanakah hasilnya?

JS + HS  : “We’re back! Yeah, neomu banjjak banjjak nuni busyeo no no no no no!”

Jessica  : “Langsung saja, to the point! Pasangan LeeMin!

LeeMin Couple keluar dengan dandanan ala Orange Caramel Lizzy dan Nana di MV Magic girl, plus boneka dan pasangpose imut *menurut mereka*

ON + TM : ‘Hello everybody! LeeMin is here! Muah” *muntah-muntah lagi*

Heesica  : “Aigoo, ini Lizzy Nana ato Taezzy Leena?”

Onew  : “No! it’s orange caramel season 2!” *sekalian aja season 7 kaya cinta pitri tropika*

Heesica  : “sablengnya kumat lagi”

Taemin  : ‘Ini bukan Magic girl, tapi Magic Emak-Emak!”

Jessica  : “Tambah sableng, entar aku kirim kalian ke RSJ aja yah, bukan ke studio rekaman. Daripada tambah gila, lanjut pasangan kedua, Mimi Kim dan Cho Minho!”

KimHo keluar dengan dandanan serba hitam, gaun selutut dan sepatu bertali. Bedanya gaun minho lengan panjang dan gaun Key tanpa lengan. Mereka pake wig rambut lurus hitam sekuping dengan poni.

Heesica : “Woaa, woman in black! Sexy-nyaa. Yang ini keliatannya normal!”

Key  : “Kekeke tentu saja. Kami kan normal, kaga kaya LeeMin. Ya gak, min?”

Minho  : “Absolutely yes” *sok inggrisan lu min*

Jessica  : “omo..aku aja kalah imut ama Mimi Kim.” *imutan gua lagi**ditampol pake bibir kyu**kyu : najis dah*

Jessica  : “Sekarang pasangan terakhir! Mama Umin dan Park Raera!”

Mereka berdua dengan gaun selutut dengan desain yang sama, namun berbeda warna, biru untuk Rae dan kuning untuk Mama Umin. Rambut mereka sama seperti pasangan KimHo

Heesica  : “Sepertinya ronde dua ini peserta pada normal-normal ya, kecuali LeeMin. Yaa, apakah tema dandanan kalian ini?”

Mama Umin : “Ah, temanya ‘Cute Kid in Lolita’ kami imut kaan. Ayo Rae, pasang gaya imut”

UM + RR : “Cheese!”

Jessica  : “Aigoo, aku jadi merasa rendah. Sekarang, kita langsung ngevote aja yaa. Hitungan ketiga, 1, 2, 3!”

-1 menit kemudian-

Heesica  : “Oke, kita langsung bacakan hasilnya! 2 pemegang suara tertinggi akan maju ke ronde final, yang akan diadakan di part selanjutnya ff ini(?). Hem, kelihatannya pasangan KimHo bakal dapet suara tertinggi”

Jessica  : “Lihat saja hasilnya nanti.Oke, dan inilah hasilnya!!”

LeeMin  : 60 vote

KimHo  : 19 vote

RaeMin  : 21 vote

Jessica  : “IGE MWOYA??! LeeMin 60 vote? Ada apa ini penonton??”

Menanggapi pertanyaan Jessica, penonton mengangkat spanduk (dari mana datengnya?) bertuliskan : “WE ARE PLAY GIRLZ”

Kemudian Jessica pingsan saking shock-nya *lebai* lalu ditendang oleh Heesica ke backstage untuk mendapatkan pertolongan *author ditendang balik ama Jessica*. Sementara itu Key dan Minho bersorak senang yang membuat penonton bingung. Kalian tau kenapa kan, aku males ngejelasin #plak

Heesica : “Jadi, intinya pasangan KimHo tersisih dan tunggulah ronde finalnya! Byee”

TBC

Gimana? Ini gak lucu karena aku gak dapet ide T.T. yaa, sekian

11

[Freelance] No Other [part 1/2]

Author  : Kirana Park

Genre   : Romance (?)

Rating  : PG 15

Main Cast : Cho Kyuhyun, Park Kyo Ra ( can be replace as U )

Support Cast : Lee Donghae, Kim Heechul

Ps:

Assalamualaikum, annyeong ^^

Ini ff ketigaku yg di publish di wonder ff. buat adminnya makasih udah mau publish ff gaje-ku lagi hehe. Oya ini ff udah pernah aku publish di ffindo sama blog-ku www.kyukirana.wordpress.com

———— Happy Reading ————

      Entah apa yang membuatku betah mempertahankan statusku sebagai pacar seorang Cho Kyuhyun. Sudah dua tahun kuhabiskan hari-hariku bersamanya. Pengalaman yang menyenangkan dan perasaan bahagia memang pernah kurasakan bersamanya. Tapi rasa cintaku seakan memudar dan aku sudah tak merasa nyaman lagi dengannya akhir-akhir ini.

Putus? Kata yang ingin kukatakan. Namun sulit. Dua tahun waktu yang relative lama dan kenangan yang indah yang pernah kurakit bersama Kyuhyun membuatku bertahan menjadi pacarnya.

“Kyo Ra… Kyuhyun sudah menunggumu sejak tadi.” panggil Heechul oppa dari lantai bawah.

“Ne oppa, aku turun.” jawabku lesu.

Minggu pagi ini Kyuhyun mengajakku berkeliling kota SEOUL. Meski aku terlihat lesu hari itu, aku berusaha menutupi itu semua dengan memasang tampang ceria. Walaupun terkesan memaksa.

“Mianhae oppa membuatmu menunggu. Ayo berangkat.” Ajakku sambil menarik tangannya.  Kyuhyun oppa hanya tersenyum.

Hari itu bisa dikatakan menyenangkan bagi Kyuhyun oppa. Berjalan-jalan, nonton bersama, makan ice cream bersama. Tetapi biasa saja bagiku. Mungkin karena itu hal yang sudah biasa kulakukan jika berkencan dengannya.

BUGH~ Kurebahkan tubuhku di atas kasur empukku.

“Akhirnya aku sampai di rumah setelah seharianku bersamanya.” kataku pelan.

Mataku tertuju pada sebuah poster di dekat jendela kamarku. Kuberjalan mendekati poster itu dan kupandangi dalam-dalam poster itu. Tampan dan berbakat. Hanya dua kata itu yang selalu kuucapkan jika kumelihat poster itu. Melihatnya walau hanya di video, foto, ataupun hanya di internet membuatku merasa senang. Bahkan lebih senang jika dibandingkan dengan kencan bersama Kyuhyun.

Malam ini setelah kuselesaikan tugas-tugas kuliahku, aku browsing sebentar tentang Lee Donghae, dancer idolaku sejak SMA dulu.

“Ah, dia akan menggelar konser dua minggu lagi, Tetapi kenapa hanya 500 tiket yang akan dijual?” gumamku heran.

Kuambil handphone di meja kecilku dan segera ku sms Hyun Ra, sahabatku sejak SMA untuk memberi tahunya. Karena yang ada di konser itu tidak hanya Donghae tetapi juga Eun Hyuk, Shindong, dan Leeteuk.

Receiver: Hyun Ra

Hyun Ra, Lee Donghae akan menggelar konser dua minggu lagi. Idolamu, Eun Hyuk juga pasti ada lho. ^____^

Sent:

22:16:08

Ddeerrrt…  ddeerrrt… ddeerrrt… Getar handphone-ku mengagetkanku, mungkin balasan sms dari Hyun Ra.

Sender : Evil Kyu

Malam chagiya, met bobo ya! Have a nice dream… ^___^

Sent :

22:17:55

“Hyaa~ malah Kyuhyun oppa, aku kira Hyun Ra.” kataku sebal lalu meletakkan handphone-ku di atas meja tanpa membalas sms itu.

22.30 pm. Tak ada balasan dari Hyun Ra. Mungkin dia sudah tidur, pikirku. Kumatikan lap top-ku dan segera tidur.

***

      “Kyo Ra… Bangun!!! Kau ini mau kuliah tidak???” kata Heechul oppa sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku.

“Ne oppa, aku bangun.”

Bergegas aku mandi lalu menyusul Heechul oppa sarapan di lantai bawah. Aku memang tinggal berdua saja dengan Heechul oppa, karena appa sedang ada tugas di Canada dan eomma harus menemaninya sejak lima tahun lalu.

“Emmm, sepertinya enak oppa.”

“Coba saja.”

Tttiiinnn… tttiiinnn…

Di tengah aku sedang asyik melahap sarapan buatan Heechul oppa, suara klakson mobil mengagetkanku. Siapa lagi kalau bukan suara klakson mobil milik Kyuhyun. Seperti biasa dia selalu menjemputku untuk pergi ke kampus bersama karena aku dan dia satu kampus dan satu jurusan. Kami sama-sama mengambil jurusan kedokteran.

“Oppa aku pergi dulu ya…” kataku sambil meninggalkan Heechul oppa yang masih melahap makanan.

“Hmm, hati-hati.”

***

      “Kau kenapa tak membalas sms ku tadi malam?” tanya Kyuhyun oppa memulai pembicaraan di mobil.

“Hehe… mianhae oppa, aku sudah tidur.” jawabku bohong.

Sesampai di kampus aku langsung menghampiri Hyun Ra. Aku cari dia di sekeliling kampus tetapi ku tak menemukannya. Mataku tertuju kepada sekerumunan orang yang ada di depan papan pengumuman. Aku berjalan menuju ke tempat itu karena siapa tahu Hyun Ra ada di sana.

Aku menelusup di antara kerumunan mahasiswa-mahasiswa lain karena aku juga ingin tahu apa yang ada di papan itu. Lomba dance se-SEOUL.

“Hyaa~ ternyata hanya itu. Tak berminat.” kataku seraya meninggalkan papan pengumuman itu.

“Kyo Ra…” panggil Hyun Ra dari arah papan pengumuman.

“Mian, tak membalas sms mu tadi malam. Handphone aku charge. Sebenarnya aku sudah tahu dan aku ingin memberi tahumu sebelum kau sms aku, tapi karena batre handphone yang keburu habis, aku tidak jadi sms kamu.” terang Hyun Ra.

“Oh, apa kamu mau menemani aku menonton konser itu?”

“Pasti. Aku tadi sudah memesan dua tiket. Satu buat aku dan satunya lagi buat kamu.”

“Gomawo Hyun Ra.” ucapku sambil memeluk Hyun Ra.

Saat aku tengah mengobrol dengan Hyun Ra, Kyuhyun menyambung pembicaraan kami.

“Oh benarkah?” tanyanya menyahut pembicaraan.

Huff dia lagi. Bisakah aku tak melihat wajahnya dan berbicara kepadanya untuk satu hari saja? Jujur aku semakin bosan. Bosan dengan tingkahnya, bosan memandang wajahnya yang seperti genderuwo, dan bosan melihat warna rambutnya yang aneh seperti gulali itu.

“Ada apa oppa?” tanyaku sambil memasang senyum paksa.

“Chagiya, pulang kuliah kencan yuk?”

“Mianhae oppa, aku mau ada praktek bareng Hyun Ra?”

“Praktek? Praktek ap….” cetus Hyun Ra menggantungkan perkataannya karena ia melihat kerlingan mataku dan ia pun mengerti maksudku.

“Oh, baiklah.” balas Kyuhyun seraya meninggalkanku.

Pulang kuliah, aku dan Hyun Ra tidak sedang praktek di rumah sakit. Aku tadi hanya berpura-pura karena aku memang benar-benar sedang malas dengannya. Aku dan Hyun Ra hanya mengobrol di kamarku.

“Kyo Ra, aku bingung denganmu. Kenapa sikapmu akhir-akhir ini beda terhadap Kyuhyun?”

“Beda bagaimana?”

“Kyo Ra, sudahlah jujur saja. Aku kan sahabatmu. Aku tahu kamu selalu mengelak kan kalau Kyuhyun mengajakmu berkencan?

“Ya, memang aku sedang malas berkencan dengannya.”

“Tapi kenapa? Ingatkah perjuanganmu dulu mendapatkan cintanya semasa SMA?”

*flashback*

Juni 2007

At Shinwa High School

“Aaaa…” teriakku.

“Kyo Ra, kau ini kenapa? Sifatmu jelas-jelas menunjukkan ke dia kalau kamu menyukainya.” terang Hyun Ra

“Tapi aku nervous kalau dia lewat.” balasku sambil menarik tangan Hyun Ra menaiki tangga.

Cho Kyuhyun seorang cowok yang sangat terkenal di sekolahku. Bukan karena dia seorang artis atau anak pejabat negara, namun kepintaran dan ketampanannya.

“Hyun Ra-ssi aku punya rencana.”

“Apa? Pasti tentang Kyuhyun kan?” tebak Hyun Ra.

“Pastinya. Aku mau ngerjain dia. Haha… Tunggu aja besok.”

Malam ini aku menjalankan misi. Meskipun tergolong misi yang sudah pasaran namun aku tetap akan menjalankannya. Ya, aku akan berpura-pura mengirim sms nyasar.

Receiver: 083288111095

Hyun Ra, tugas matematika kita gimana?

Sent:

21:03:45

5 menit kemudian, tak ada balasan dari Kyuhyun. Sampai pada akhirnya aku ketiduran karena kelamaan menunggu balasan darinya.

Ddeerrrt…  ddeerrrt… ddeerrrt… Aku yang masih setengah tidur mengambil handphone-ku dan membuka sms itu.

Sender: 083288111095

Maaf, kamu salah orang. Ini bukan nomornya Hyun Ra.

Sent:

21:30:26

“Aaaaaaa sms-ku dibalas…” jeritku kegirangan.

Receiver: 083288111095

Hyaa~ Maaf. Kamu siapa ya?

Sent:

21:31:01

Sender: 083288111095

Aku Kyuhyun anak Shinwa High School. Kelas XI.

Sent:

21:33:49

Receiver: 083288111095

Oh. Kenalkan aku Eun Ra. Anak Daebok High School, kelas XI juga.

Sent:

21:34:00

5 menit,

10 menit,

15 menit,

20 menit,

25 menit,

30 menit,

“Aissh dia tidak membalas. Sudah tidur kali ya?” kataku sambil menarik selimut dan tidur.

***

      “Kyo Ra, kamu punya rencana apa tentang Kyuhyun?” tanya Hyun Ra saat di kantin sekolah.

“Haha tadi malam aku kerjain tu si Kyuhyun.” jawabku penuh kemenangan.

“Iya apa?”

“Aku pura-pura salah kirim sms terus aku nyamar pakai nama Eun Ra anak Daebok High School. Dan dia pun membalas. Nanti aku kerjain lagi. Semoga dia membalas sms-ku.”

“Wah selamat deh kalau dibalas. Tapi resiko ketahuan siap tanggung lho?”

“Ne, tapi kayaknya tidak bakal ketahuan.” jawabku mantap.

Sepulang sekolah aku kerjakan semua PR-ku dan kusiapkan buku-buku yang akan aku bawa sekolah besok karena nanti malam misi akan berjalan lagi.

Receiver: 083288111095

Hai…  Lagi apa?

Sent:

18:45:23

Seperti hari kemarin, dengan penuh kesabaran aku menunggu balasan sms dari Kyuhyun.

Sudah lima kali aku mengirimkan lima sms yang sama. Tetapi belum ada balasan darinya. Untuk mengatasi rasa bosan aku memutuskan untuk membaca buku-buku pelajaran. Rasa bosan sedikit teratasi namun apa yang aku baca tak satupun masuk ke dalam pikiranku. Yang aku pikirkan hanyalah balasan sms dari Kyuhyun.

Ddrrtt…  ddrrtt… ddrrtt…

Aku terhenyak dan langsung mengambil handphone di atas meja kecilku.

Sender: Hyun Ra

Belajar! Jangan Kyu terus yang di pikir. Hehe…

Sent:

19:35:54

“Hyaa~ aku kira Kyuhyun…” kataku kesal.sambil meletakkan handphone tanpa membalas sms dari Hyun Ra.

Satu jam berlalu. Kyuhyun juga belum membalas sms dariku. Kekesalanku memuncak dan aku putuskan untuk mengiriminya sms lagi.

Receiver: 083288111095

Kau ini sombong sekali ya? Kenapa kamu tidak membalas? Aku kan hanya ingin mengenalmu. Apa itu salah?

Sent:

20:37:06

Aku masih menunggu balasan sms dari Kyuhyun. Namun aku tak lagi membaca buku-buku pelajaran karena menurutku itu percuma. Aku lebih memilih browsing tentang dancer terkenal di Korea. Lee Donghae, tampan, muda, dan berbakat. Dia adalah salah satu anggota SUPER DANCE yang beranggotakan Eunhyuk, Shindong, Leeteuk, dan Donghae sendiri.

“Lumayan lah dapat info terbaru dari Donghae sambil mengurangi rasa penat gara-gara menunggu balasan sms.” ucapku pelan.

Lee Donghae sangat menginginkan seorang perempuan yang rambutnya diikat karena ia mengidamkan perempuan yang memiliki leher yang seksi untuk menjadi pacarnya. Selain itu ia….

      Ddrrtt…ddrrtt…  ddrrtt…

Sender: 083288111095

Kamu yang salah. Kenapa kamu sms aku waktu jam belajar? Itukan mengganggu.

Sent:

21:09:33

“Aissh anak ini rajin benar. Oiya ya kenapa aku lupa kalu Kyuhyun itu anak yang pintar. Pabo!” geturuku.

Receiver: 083288111095

Mianhae. Kalau lewat sms mengganggu, Aku minta alamat facebook kau saja.

Sent:

21:10:59

Sender: 083288111095

Tidak punya.

Sent:

21:11:04

Receiver: 083288111095

Baiklah. Twitter?

Sent:

21:11:48

Sender: 083288111095

Tidak punya. Aku mau tidur.

Sent:

21:12:21

“Kyuhyun… Kenapa kau menyebalkan sekali? Facebook tidak punya, twitter juga tidak punya. Kau ini terlalu pintar sehingga tidak ada waktu untuk seperti itu atau kau terlalu kuper? Balasan smsmu pun terlalu singkat dan bahasa smsmu pun terlalu cuek… Aissh dasar kau!” hardikku kesal.

***

            “Kenapa muka kamu? Dari tadi murung terus. Pasti gara-gara Kyu ya?”

“Iya. Hyun Ra dia memang benar-benar anak yang rajin. Saking rajinnya dia tidak punya facebook maupun twitter. Sungguh kuper anak itu.”

“Hahaha lucu sekali. Benar-benar anak yang polos. Pasti belum terkena virus internet. Tidak seperti kau Sang Ra, yang setiap hari online dan browsing tentang SUPER DANCE…”

“Tapi kamu juga suka SUPER DANCE kan?”

“Kalau Eunhyuk tidak ada aku pasti tidak menyukai group dance itu.”

Aku memang beda kelas dengan Kyuhyun, aku di kelas XI IPA 2, sedangkan dia di kelas XI IPA 1. Setiap istirahat aku pasti curi-curi pandang. Walaupun ia terkenal di sekolah, namun tak banyak siswa perempuan yang menyukainya. Sifatnya yang dingin, suka menyendiri, dan enggan bergaul dengan siswa lain membuat siswa perempuan menganggapnya sombong. Tapi bagiku sosok misteriusnya membuatku tertarik padanya. Wajahnya juga tampan walaupun masih kalah dengan Lee Donghae.

“Hyun Ra, itu…” kataku histeris sambil menunjuk Kyuhyun yang akan berjalan melintasi aku dan Hyun Ra.

“Kyo Ra, calm down. Bersikaplah biasa saja. Kau ingin dia mengetahui kau menyukainya?”

“Huff… Tidak.” balasku singkat sambil menarik napas panjang.

Dag dig dug dag dig dug dag dig dug

“Duuaarrr… Hyaa~ Kyo Ra sadar…”

“Benar-benar tampan. Hyun Ra dia tadi melihatku dan matanya… Aaaa…”

“Ah kau ini berlebihan.”

***

      Sesampainya di rumah aku tidak melakukan hal yang sama dengan kemarin. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Aku akan mengiriminya sms siang ini dan malam harinya aku gunakan untuk belajar dan browsing sebentar.

Receiver: 083288111095

Hai…

Sent:

15:07:52

Sender: 083288111095

Hai juga…

Sent:

15:08:09

“Aaaa… dia membalas sms dan menyapaku. Aaaaa…” jeritku sambil berjingkrak-jingkrak di atas kasur.

“Kau ini kenapa Kyo Ra? Kau sudah membangunkan tidurku.” protes Heechul oppa di balik pintu kamarku.

“Ne oppa, aku tidak apa-apa. Mianhae telah mengganggumu.”

Receiver: 083288111095

Boleh tahu hobimu apa dan idolamu siapa?

Sent:

15:09:00

Sender: 083288111095

Tidak punya. Aku gamer.

Sent:

15:09:55

Receiver: 083288111095

Wah kau gamer rupanya. Kamu sering ke game online? Game kesukaanmua apa?

Sent:

15:10:20

Sender: 083288111095

Ya. Starcraf dan Diablo.

Sent:

15:10:49

Aku hanya terkikik sendiri karena aku sama sekali tidak mengerti tentang game.

Receiver: 083288111095

Oh. Rumah kamu di mana?

Sent:

15:11:13

Sender: 083288111095

Jalan Seongkok no 11. Sudah ya aku mau les clarinet…

Sent:

15:11:33

Receiver: 083288111095

Wah kalau pulang sekolah aku sering lewat jalan itu. Ya sudah.

***

            “Kamu kenapa Kyo Ra? Kok senyum-senyum terus sejak tadi? Kyu lagi?”

“Ah tebakanmu selalu benar Hyun Ra, kemarin dia membalas sms dariku.”

“Wah misimu berhasil nih…”

“Sepertinya begitu. Hyun Ra-ssi antarkan aku ke alamat ini ya…” kataku sembari menyondorkan handphone-ku ke wajah Hyun Ra.

“Tapi kenapa tidak pulang dan ganti baju dulu?”

“Ah tidak perlu. Kita pulang kan melewati alamat ini. Makanya dibaca yang benar.”

“Baiklah, demi kamu.”

Rumah Kyuhyun tidak terlalu besar namun sangat terlihat indah dan nyaman untuk ditinggali. Pagar bercat putih dan rumah bercat biru dikelilingi tanaman-tanaman membuat pekarangan rumah Kyuhyun terlihat asri. Aku dan Hyun Ra berada di seberang jalan untuk melihat rumah itu. Kami tidak berani mendekat karena anjing besar sudah menghadang di depan rumah Kyuhyun. Rumah itu tampak sepi. Mungkin Kyuhyun juga masih berada di sekolah.

“Kyo Ra, ini rumah siapa?”

“Sudah diamlah nanti kamu juga tahu.”

Setengah jam berlalu Kyuhyun sudah sampai di depan rumahnya. Anjingnya yang menggonggong dari tadi diam seketika setelah Kyuhyun mengelus-elus punggung anjing itu. Aku yang takut ketahuan, menarik tangan Hyun Ra untuk bersembunyi di belakang semak-semak seberang jalan rumah Kyuhyun.

“Sang Ra itu kan Kyuhyun?”

“Ya, itu rumahnya.”

“Bagaimana bisa kamu mendapatkan alamat rumahnya?”

“Kemarin aku tanya lewat sms.”

“Oh. Bagus juga rumahnya.”

***

      Seminggu berlalu aku sudah mengetahui sedikit demi sedikit tentang Kyuhyun. Memang dia pernah mencurigaiku tapi karena aku mempunyai sejuta alasan maka untuk meyakinkannya,  diapun percaya. Mengganggunya setiap hari dengan mengiriminya sms setiap hari terkesan seperti perempuan yang kegatelan, pikirku. Aku harus jujur. Ya aku harus jujur siapa aku sebenarnya.

Receiver: 083288111095

Hai, apa kabar?

Sent:

15:04:12

Sender: 083288111095

Baik.

Sent:

15:05:00

“Ah kau ini masih saja bersikap dingin. Balasan smsmu juga singkat sekali.” gerutuku.

Receiver: 083288111095

Oh. Ngomong-ngomong kamu sudah punya pacar belum?

Sent:

15:05:34

Sender: 083288111095

Kenapa kamu tanya itu? Aku tidak memikirkan pacar. Lagipula aku belum boleh pacaran sebelum lulus SMA.

Sent:

15:06:09

“OMONA~ anak ini benar-benar polos. Berbeda 180 derajat denganku.” batinku.

Receiver: 083288111095

Maaf membuatmu marah. Sebenarnya aku mau jujur siapa aku sebenarnya.

Sent:

15:06:44

Sender: 083288111095

Siapa?

Sent:

15:06:59

Receiver: 083288111095

Aku teman satu sekolahmu. Namaku juga bukan Eun Ra. Maaf aku hanya ingin mengenalmu. Dan dengan cara ini mungkin aku bisa menjadi temanmu. Sekali lagi maaf kalau aku membuatmu marah.

Sent:

15:07:36

Sender: 083288111095

Namamu siapa?

Sent:

15:07:55

Receiver: 083288111095

Aku belum siap memberitahu namaku sekarang. Aku kelas XI IPA 2. Kita masih bisa berteman kan?

Sent:

15:08:21

Sender: 083288111095

Ya.

Sent:

15:08:44

Lega memang mengakui sebuah kebohongan. Walaupun aku belum sepenuhnya jujur, setidaknya aku sudah merasa lega. Tidak, tidak aku memang sudah sedikit jujur namun lagi-lagi aku telah membohongi Kyuhyun. Aku melakukan hal itu bukan hanya untuk mengenalnya sebagai teman tapi juga untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya.

***

      Hari Minggu ini aku bosan sekaligus kesepian. Hyun Ra yang biasa pergi denganku hari ini tidak bisa menemaniku jalan-jalan karena neneknya datang. Heechul oppa yang lembur sebagai penyiar di Young Street Radio juga tidak bisa menemaniku mengobrol.

Ah, benar-benar bosan. Memang aku bisa browsing tentang SUPER DANCE di rumah tapi itu juga masih belum mengatasi rasa bosanku. Berita tentang Lee Donghae juga masih itu-itu saja.

Receiver: 083288111095

Hai, lagi apa bosen nih?

Sent:

14:23:35

Sender: 083288111095

Main game. Aku penasaran sama kamu besok ketemuan di sekolah ya…

Sent:

14:25:13

Receiver:

Hah? Besok?

Sent:

14:25:56

Sender: 083288111095

Ya. Kenapa? Tidak bisa?

Sent:

14:27:28

Receiver: 083288111095

Bisa kok bisa. Pulang sekolah di tangga dekat kantin ya?

Sent:

14:28:09

Sender: 083288111095

Ok!

Sent:

14:29:11

“OMONA~ aku tidak sedang bermimpi kan? Kyuhyun mengajakku bertemu. Aaaa…”

***

      “Kyo Ra, kamu mau menunggu siapa?” keluh Hyun Ra yang sudah bosan menemaniku menunggu Kyuhyun.

“Nanti kamu juga tahu. Kalau orangnya sudah datang kamu boleh pergi.”

“Hyaa~ jadi aku diusir nih?”

“Ya bukan begitu… Aaa Hyun Ra…” jeritku saat Kyuhyun jalan menaiki tangga.

“Kyu, Kyuhyun? Ternyata kamu ingin mengobrol dengannya. Baiklah aku akan pergi.” kata Hyun Ra seraya meninggalku.

“Ah ikut…”

“Kau mau kemana…” cetus Kyuhyun tiba-tiba.

Pabo! Kata yang pantas untukku. Kesempatan emas bertemu dan mengobrol dengan Kyuhyun kulewatkan begitu saja. Hanya karena malu aku kabur mengikuti Hyun Ra. Kyuhyun memang sempat menungguku di tangga dekat kantin tetapi karena aku masih takut untuk menemuinya maka kubatalkan.

Receiver: 083288111095

Maaf bertemu dan mengobrol denganmu lain kali saja.

Sent:

14:01:13

Sender: 083288111095

Kenapa?

Sent:

14:01:42

Receiver: 083288111095

Aku masih belum siap.

Sent: 083288111095

Baiklah.

Sent:

14:02:20

***

      “Aaaa…” jeritku sambil menarik tangan Hyun Ra mengajaknya bersembunyi di dekat tangga kantin.

“Kyo Ra, sampai kapan kamu akan terus seperti ini?”

“Aku belum siap. Aku belum siap. Hyun Ra apa Kyuhyun tadi melihatku?”

“Tentu saja. Bahkan dia melihatmu menjerit histeris dan melihatmu bersembunyi di sini.”

“Benarkah? Pabo!”

Jam sekolah berakhir. Aku masih saja memikirkan kejadian tadi. Betapa malunya aku melakukan hal yang bodoh itu. Aku terlihat seperti orang yang sangat ketakutan melihat setan di siang bolong.

Hari ini aku dijemput Heechul oppa yang kebetulan sedang tidak siaran. Raut wajahku yang sedang tidak karuan membuat Heechul oppa heran.

“Kamu kenapa dongsaeng-ku?” tanya Heechul oppa memulai pembicaraan di mobil.

“Ah tidak oppa. Aku hanya kecapaian.” jawabku bohong.

Sesampainya seperti biasa aku mengganti bajuku dan makan siang. Namun saat aku kembali ke kamar, betapa terkejutnya aku saat kubaca sms dari orang yang sebelumnya belum pernah mengajak sms-an.

*TBC*

Gimana-gimana? Gajekah? Hahaha sudah kuduga ==”

Apapun kesannya tinggalin komentar ya J

Oya lanjutannya udah ada di blog pribadi saya www.kyukirana.wordpress.com

Mampir ya hehe *maaf promosi*

Thx admin, thx readers…  chu~

4

[Freelance] Little Sweet Carols [Prologue+Part 1]

Author  : Afi

Main Cast : Jang WooYoung {2PM}, Cho Kyuhyun {Super Junior}, Lee Hyuk Jae/ Eunhyuk {Super Junior},Jung Ji Rin {yg kemarin itu loh J }, dan Jung Angel

Support Cast : Member 2PM, Member Super Junior, artis dari JYPent dan SMent

Rating  : 15++

Genre  : romance and friendship

Prolog

Hidup, harapan dan perjuangan adalah motto terbaik yang bisa di harapkan dimasa masa seperti ini,kehidupan kosong yang tidak berpeluang hanya akan menambah beban kehidupan semua orang dikota besar ini. Los Angeles, siapa yang tidak tahu nama tempat ku berdiri ini. Masih sepagi ini saja, tempat ini sudah ramai. Kota ini sudah sibuk dengan orang orang yang bekerja ataupun berjalan jalan.

By the way namaku Jung Ji Rin, aku sudah bekerja di kota yang amat sangat ramai ini. Memang sudah menjadi ritualku untuk selalu berlari pagi dihari minggu ,satu satunya hari yang kosong untuk seorang yang sibuk di kota besar ini. Setiap hari senin hingga sabtu aku menghabiskan waktu ku hanya untuk bekerja. Aku bekerja di perusahaan milik keluargaku

Appa ku adalah pemilik Carols Group, usaha dalam bidang advertisement dan garment. Eomma ku juga ikut membantu dalam bidang stylish dan salon. Sementara aku, aku bekerja sebagai pemilik salah satu anak perusahan Appa, dan nama cabang itu ku buat sendiri. Valentine’s Carols. Yang lebih dikenal dengan VC. Sesungguhnya kehidupanku sekarang sudah sangat sempurna.

Langkahku terhenti di depan pintu rumahku, aku menghela nafas panjang dan berjalan memasuki rumah bercat putih tinggi. Ruang tamu yang luas, rumah bertingkat, teras belakang dengan kolam berenang. Rumah impianku sudah ada digenggamanku sekarang. Mimpiku sudah menjadi kenyataan. Aku tersenyum kecil memasuki rumahku, seketika kurasakan getaran diponselku. Aku membuka ponselku dan melihat reminder yang menunjukkan tanggal 16 februari.

Hari ini genap 5 tahun aku meninggalkan negara kelahiranku. Rasanya rindu sekali merasakan musim semi di Korea. Aku keluar dan menu reminder, dan terlihat foto seorang pria yang menghiasi layar ponselku. Aku tersenyum kecil dan langsung memasukkan ponselku ke saku. Bagaimana keadaannya ya ? apa dia baik baik saja. Satu hal yang belum bisa ku gapai di kehidupankku ini. Cahaya ku yang paling terang. Cinta.

* Part 1 *

Ji Rin PoV
Kuhirup udara yang menyentakkan kedua dadaku, ku buka mataku perlahan dan beranjak dari tempat tidurku. Matahari sudah membangunkanku dari mimpi indahku. Sudah saatnya bekerja, kehidupanku dimulai. Ku hentakkan kaki ku ke lantai kayu untuk membangunkan seseorang yang masih mendengkur halus disisi kanan tempat tidurku. Aku membuka tirai pink yang memisahkan kamar yang luas ini menjadi dua bagian

”Angie, wake up !” seruku membangunkan seorang gadis yang masih tertidur didalam selimut pink tebalnya
Angel, begitu nama panggilan nona muda yang satu ini dirumah. Angel adalah adik angkatku, dulu dia adalah sepupuku. Sayangnya kedua orang tuanya meninggal karna kecelakaan, sehingga saat aku dan keluargaku resmi tinggal di LA Eomma mengangkatnya sebagai anak. Angel di besarkan di kota ini sejak kecil, jadi dia belum terlalu fasih dalam berbahasa korea. Kami lebih sering berkomunikasi dalam bahasa inggris. Angel anak yang baik, walaupun dia dibesarakan di LA, Dia masih mau menghormati budayaku yang ku bawa dari Korea.

Sebelum bekerja aku harus mengantar adikku ini ke sekolahnya, bagaimanapun Angel masih bersekolah di Senior Highschool. Setelah mandi, aku langsung mengenakan pakaian tempurku. Blazer, kemeja putih, dan rok. Aku menyisir rambutku perlahan dan langsung beranjak menuju pintu keluar. Jam sudah menunjukkan jam setengah 7 pagi, aku menghela nafas panjang dan kembali berjalan ke sisi pink world milik Angel.

”angie, come on ! wake up, it’s too late to wake up !”

“a minute sist”

“wake up now !”seruku sambil menarik selimut yang masih menutupi tubuhnya

“ok ! I have already wake up”jawabnya yang langsung beranjak berdiri dan berjalan gontai menuju kamar mandi

Aku tersenyum kecil dan langsung beranjak keluar kamar, kuturuni tangga perlahan dan berhenti didepan meja makan. Appa masih sibuk bergelut dengan korannya, sementara Eomma masih memoles roti bakar dan selai untuk Appa. Ku letakkan laptopku diatas kursi disebelahku dan langsung mengambil roti bakar yang ada didepanku. Tiba tiba pandanganku terpaku melihat Angel yang sudah duduk dihadapanku. Omo~ cepat sekali mandinya

”bagaimana keadaan kantor ?”tanya Appa tiba tiba membuatku menoleh dan tersenyum

”baik baik saja daddy, semua lancar”

”kau tetap akan merilis coklat dengan merek brand mu ?”

”yes, that’s great. Isn’t that ?”
”ya, hanya saja apa tidak apa menggabung pangan dengan garment ? apalagi VC sudah mengeluarkan garment, produk kecantikan, tas, sepatu, dan salon. Apa tidak terlalu berat ? Apa lagi kau juga akan membuat cabang di Korea. Daddy takut, kau sulit mengatur semuanya Jenni ah”

”tidak apa, akukan tidak bekerja sendiri. Untuk cabang di korea aku sudah menyerahkannya pada Shin Min shi. Daddy tenang saja, lagipula … sebentar lagi Angel akan membantuku. Iyakan ?”tanyaku membuat Angel menoleh kearahku sambil tersenyum

Kuletakkan laptop dan tasku kedalam mobil. Angel dengan cepat membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil. Aku juga langsung menyusul Angel dan menjalankan mobil silverku meninggalkan rumah. Ku tolehkan pandanganku kearah spion, dan sesekali menangkap ekspresi sedih di wajah Angel. Aku menghela nafas sebentar dan mempercepat laju mobilku

”why ? kau marah padaku ?”

”tidak, hanya … aku merasa sedih pada diriku sendiri”ujarnya saat kuhentikan mobilku saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah

”ke..kenapa ?”

”Sist, you’re the best. Siapa yang tidak tahu Ms. Jennifer pemilik anak cabang Carols group ? Valentine’s carols ? siapa yang tidak tahu brand new itu ? Kau sudah memiliki cabang di negara besar Paris, Jepang, dan sebentar lagi Korea. kau orang yang sangat pekerja keras, sangat berbeda denganku”

”masalah ini lagi ? kau selalu bilang hal itu setiap pagi saat aku mengantarmu ke sekolah”ujarku sambil tertawa kecil

”sampai sekarang aku tidak tahu harus menjadi apa, hidupku harus bagaimana ? dan aku tidak punya mimpi sama sekali. Sial ini membuatku … membuatku ingin marah”

”kau tidak perlu begini, lihat saja nanti malam. Kau akan pergi ke pub atau club bersama teman temanmu lagi kan ? sudah berapa kali ku bilang jangan pergi ketempat itu terlalu sering”

”hanya tempat seperti itu yang membuatmu merasakan hidup sist”

”tapi kau tidak akan menemukan mimpimu disitu. Mengerti ? Come on Angie, waktu belajarmu tinggal 1 bulan lagi. Apa kau tidak tahu akan melanjutkan sekolah dimana ?”

”kau sendiri ? apa kau sudah mendapatkan semua mimpimu ? kau sudah hidup dalam kesempurnaankan ?”

”tidak kau salah, aku masih mencari dan berusaha mendapatkan mimpiku”

”kau masih punya mimpi ? apa itu ?”

”sudah sampai, i’ll tell you about this next time. Byeeee~” jawabku saat sudah menghentikan mobilku tepat didepan gerbang sekolah Angel. Ia mengangguk pelan dan langsung mencium pipiku

“I love you sist, byeee~”jawabnya

Aku terus memandangi punggung Angel yang makin lama makin jauh dari pandanganku. Aku tersenyum kecil, siapa yang tidak mengenalku ? ada saja yang tidak mengenalku. Kukeluarkan ponselku dan menatap layar ponselku yang masih menyala. Pasti kau tidak mengenaliku lagikan ? cahayaku. Satu yang belum bisa ku dapatkan sejauh ini. Aku belum bisa mendapatkan cahaya ku sendiri.

***

WooYoung PoV

Ting tong, suara bel terdengar nyaring mengakhiri mimpiku. Aku merenggangkan otot ototku yang mulai mengencang. Ku gelengkan kepalaku perlahan dan menguap selebar lebarnya. Waktu masih menunjukkan jam 8 pagi. Aku melihat kesekelilingku dan baru menyadari semua orang masih tertidur

Aish siapa sih yang mengganggu sepagi ini ? Aku berjalan perlahan menuju pintu keluar dam membukakan pintu. Petugas kantor pos ? Aku menerima sebuah kotak coklat dari pria ini. Setelah menandatangi surat, aku berjalan perlahan masuk ke ruang tengah. Ini pasti pesanan JunHo. Aigo mengganggu saja

“Siapa yang datang ?”Tanya NicKhun hyung yang berjalan perlahan sambil menyikat giginya

“Entah ini milik JunHo”

“Pesananku sudah datang ?” Seru JunHo yang tiba tiba keluar dari kamarnya, seolah alarm di kepalanya menyala saat aku menyebutkan pesanan ini

“Ha… Ini, dan aku sudah terbangun gara gara itu” gerutuku dan langsung meletakkan

“Huaaa… Akhirnya VC ku datang” serunya dengan penuh antusias membuat Chansung terbangun dari tidurnya.

Kuhempaskan diriku disofa dan memperhatikan JunHo yang masih duduk di lantai sambil membuka bingkisannya itu. Aku menguap dengan lebar bersama dengan ChanSung yang sudah duduk disebelahku. JunHo mengeluarkan sebuah jaket dan topi berwarna putih dari sana.

Keren memang, fashionable dan sangat cocok saat JunHo memakainya. Aku menoleh sebentar dan melihat sebuah katalog yang terjatuh dari dalam kotak tadi. ChanSung juga menoleh perlahan dan ikut melihat katalog itu. Wah memang sangat keren, model model baju ini tidak terlalu mencolok dan aneh aneh.

“Hyung kau membelinya dari LA ?”Tanya ChanSung

“Ne… Ini keren kan ?”

“Pantas saja, modelnya bagus dan tidak ketinggalan jaman. Warna putihnya juga bagus. VC itu…”

“Valentine’s Carols, ini merek yang cukup terkenal kan ? Tidak kalah keren pula” jelas JunHo yang masih berdiri didepan cermin

“Produknya banyak, pemiliknya pasti sangat pintar” pujiku saat melihat semua isi katalog tadi

“Ku dengar pemiliknya seorang perempuan, dan usianya masih 22 tahun. Bukankah itu hebat ?”

“Siapa ?”

“Entah aku pun tidak tahu, kalau tidak salah… Jennifer siapa gitu”

“Yak kalian !” Seru JunSu hyung tiba tiba “cepat siap siap, aku lupa memberitahu kalian. MinJae hyung bilang kita harus sampai kantor jam 9”

“Ha ? Yak… JunSu hyung ! Kau kebiasaan terlambat memberitahukan apapun” gerutu Chansung “kenapa kalian berdua diam saja ?”

“Kapan dia bangun ?” Tanyaku membuat JunHo tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya dan bergegas kembali kekamar

***

Mobil terhenti didepan pintu masuk gedung JYPent. Ku buka headset yang menutupi kedua telingaku. Langkahku mulai cepat saat Taecyeon hyung sudah mempercepat langkahnya. Tidak biasanya Jin Young hyung mengumpulkan kami sepagi ini. Apalagi melihat kebiasaannya yang sama seperti JunSu hyung. Paling tidak bisa bangun pagi

JunSu hyung langsung membuka pintu ruang rapat, terlihat sudah banyak orang disana. Aku memakai kacamataku dan langsung duduk diantara JunHo dan TaeCyeon hyung. MinJae hyung terlihat menggeleng pada JunSu hyung yang datang dengan senyuman diwajahnya

“Baiklah karna yang ditunggu tunggu sudah datang, aku akan memberitahukan satu berita bagus untuk kalian”

“Daebak, jarang jarang pagi hari sudah dapat berita bagus” bisik ChangMin hyung yang sudah membuka notebooknya di atas meja

“Jadi… Project kita yang akan mengadakan konser di LA sudah di setujui”

“Ji..jinjja ?” Tanya Suzy tiba tiba membuat semua mata tertuju padanya “ahm mianhae… Aku hanya sedikit… Berlebihan”

“Baiklah dengarkan baik baik, latihan rutin dari sekarang, 3 minggu lagi kita akan berangkat. Kalian bisa membaca beberapa kegiatan kita disana pada laporan yang ada di depan kalian”

Aku mengulurkan tanganku perlahan dan langsung mengambil map biru yang ada dihadapanku. Terlihat jadwal yang tersusun rapi di halaman ketiga. Sampai disana langsung latihan, setelah itu konser, setelah itu pemotretan, lalu… Banyak sekali kegiatannya.  Mana waktu bebasnya.

“Hyung ! Pemotretan ini vogue dan VC ? Valentine’s carols ?” Tanya JunHo saat baru membaca jadwal

“Ne… Sudah kubilang ini kabar bagus. Dan hanya 15 orang dari kalian saja yang akan melakukan pemotretan di VC. Denganku tentunya”

“Wah… Daebak, ini sangat sangat bagus. Iyakan Wooyoung ah”

“Mana waktu bebasnya” gerutu dan menggubris kata kata JunHo

“Yak ! Kenapa kau tidak mendengarkanku ha ?”

“Mwo ? Mianhae mianhae. Apa tadi kau bilang apa ?”

“Lupakan, tumben kau mencari waktu bebas ? Bukankah yang ada di pikiranmu itu hanya latihan”

“Tempatnya akan berbeda. Come on, kita harus merasakan dunia malam disana”jawabku membuatnya menggeleng pelan

Aku tersenyum kecil dan mengeluarkan ponselku dari saku jaketku. Ini kesempatanku. LA, selama ini aku menantikan kesempatan ini. Aku akan mencarimu. Ku pakukan pandanganku pada gadis dengan seragam coklat yang menghiasi layar ponselku. Aku akan menemukanmu, aku akan menunjukkan diriku yang sekarang. Dan kau harus menunjukkan kerja kerasmu.

Apa kau masih mengingatku ? Apa kau tidak melihat nomer handphone yang ku berikan ? Kenapa kau tidak pernah menghubungiku. Aku menghela nafas panjang dan kembali memasukkan ponselku ke jaket. Aku harus berlatih dengan keras disini, jadi… Aku punya banyak waktu mencarimu di LA.

Setiap orang satu persatu keluar dari ruang rapat. Ku teguk segelas air yang ada dihadapanku dan langsung beranjak keluar ruangan bersama ChanSung dan Seulong yang ada didepanku.

“Cah, kata Jin Young hyung kita boleh beristirahat hari ini, dan besok kita mulai latihan rutin. Bagaimana kalau kita karoke ?”

“Yak Chansungie, suaraku akan habis kalau karoke, bagaimana kau kita ke club saja ? Kau mau ikut ? Wooyoung ah”

“Aku ? Anio… Kalian saja. Aku mau latihan saja”

“Dia memang orang aneh”

***

Angel PoV

Jarum jam berputar sangat cepat, ini sudah jam 5 sore. ku dengar bel sudah berbunyi ditelingaku. Great ! It’s time to go home. Aku langsung berjalan kelockerku dan meletakkan buku bukuku disana. Ku coret tanggal hari ini di kalender yang terpampang di depan ku. Hufh sudah tinggal 3 hari lagi menjelang ujian kelulusan. Tapi aku belum memutuskan dimana akan bersekolah

Apa yang bisa ku lakukan sekarang, semenjak kedua orang tua kandungku meninggal hidupku jadi tidak beraturan seperti ini. Padahal aku sudah dibesarkan dikeluarga adik ibu kandungku. Tidak seharusnya aku seperti ini, tapi aku sendiri bingung. Aku tidak ingin belajar. Aku tidak ingin mengurusi kertas kertas seperti yang dilakukan Jennifer. Aku tidak bisa.

“Oh Angel kebetulan kau sudah pulang”ujar daddy yang sedang duduk diruang tamu

“Aku pulang, ada apa dad ? ”

“Ini.. Rekan kerjaku menawarkan ini. Bagaimana kalau kau sekolah di Seoul ?”

“Seoul ? But why ? Kenapa tidak di kampus Jennifer”

“Menurut daddy, lebih baik kau sekolah di Korea. Dengan begitu pergaulanmu bisa lebih baik”

“No ! Aku tidak mau ! Aku tidak mau meninggalkan LA” teriakku dan langsung berlari keluar rumah

Ku hentikan taksi dan langsung duduk dibelakang. Aku menutup mataku perlahan sambil merasakan detak jantungku yang terus terusan berdetak cepat. Aliran darahku mengalir dengan deras sekarang. Aku menghela nafas panjang dan melihat kearah luar. Memang benar selama ini aku tidak bisa membahagiakan mereka

Yang selalu kukerjakan hanya apa yang kusukai, mereka sudah sangat menyayangiku bahkan sama seperti Jennifer. Walau aku pulang malam, nilai sekolahku buruk, pakaianku yang serba mini dan sesuka hati. Mereka tetap menyayangiku sebagai anggota keluarga mereka. Aku memang tidak ingin mengecewakan mereka, tapi aku tidak mau meninggalkan LA. Bagaimanapun kenanganku bersama orang tua kandungku…hanya ada disini.

Tapi aku tidak bisa begini terus, aku harus maju. Aku tidak mau mengecewakan mommy and daddy. Terutama aku tidak mau membuat malu Jennifer. Aku langsung memakai tasku dan beranjak meninggalkan sekolah. Lebih baik aku ke kantor VC dan meminta pendapat Jennifer, dia pasti tau yang terbaik.

Taksi memberhentikan lajunya tepat di depan sebuah gedung kaca yang menjulang tinggi. Aku langsung melangkah cepat dan berjalan memasuki gedung itu. Semua mata tertuju padaku. Bagaimana tidak ? Seorang gadis dengan tanks top pink dan rok mini serta sneakers memasuki sebuah perusahaan besar.

Biar saja mereka bicara apa. Yang jelas aku ingin bertemu dengan jennifer. Aku menekan tombol lift yang bertuliskan angka tiga belas. Ku turunkan topiku untuk menutupi wajahku, sambil bersandar di pojokan lift mulutku terus mengunyah permen karet. Tiba tiba pintu lift terbuka, dan beberapa karyawan memasuki lift.

“Kau sudah tau ? Ada gosip yang bilang, Ms. Jennifer itu tidak suka dengan laki laki”

“Really ? Jangan bicara yang tidak tidak”

“Apa kau tidak melihat, Ms. Jennie sangat baik pada setiap perempuan. Dan sangat berjaga jaga saat bersama laki laki kan ?”

Aku mengepal tangaku perlahan dan mengulurkannya untuk menarik rambut gadis pirang yang ada didepanku

“Do you want to die ? Keep your silly mouth girls ! I don’t want to see you again in my sister’s company, go out !” Ujarku dan langsung keluar dari lift saat pintu lift terbuka di lantai tiga belas.

Langkah ku semakin cepat, rasanya kepalaku sudah diliputi emosi. Aku langsung membuka pintu yang berwarna coklat mocca yang ada dihadapanku. Terlihat Jennifer yang masih bertaut dengan laptop yang terbuka didepannya.

“Oh angie, ada apa ? Tumben kau ada disini”

“I don’t know, aku seperti ke hilangan arah sekarang”

“Hei ? Ada apa ? Kenapa marah marah begini ?”Tanyanya sambil menepuk nepuk pundakku

“Aku bingung, aku ingin pergi dari sini. Aku ingin berubah”

“Lihat ini, aku akan kembali ke Korea dalam waktu 3 bulan dari sekarang. Bagaimana kalau kau ikut ? Siapa tahu kau tertarik belajar disana ?” Ujarnya sambil menunjukkan sebuah brosur padaku

“Tidak ! Aku tidak mau sekolah disana. Kenapa kalian semua meremehkanku ? Sebegitu tak bergunanya aku disini sampai kalian membuangku ke Asia ? Aku tidak mau meninggalkan LA !” Seruku kencang dan langsung melemparkan brosur itu ke sofa panjang.

Kutarik tas ku dan segera beranjak meninggalkan ruangan itu. Langkahku semakin cepat dan semakin cepat. Rasanya aku ingin berteriak sekencang kencangnya. Air mataku mulai menyapa kedua pipiku. Aku langsung menghapusnya dan segera mengeluarkan ponselku. Jemariku menari diatas ponselku, brak-, kurasakan hantaman yang cukup kuat dibahuku

Aish ! Sakit. Gerutuku yang sudah terduduk dilantai, aku menoleh kearah pria yang berwajah oriental yang berdiri didepanku. Ia mengulurkan tangannya mencoba membantuku berdiri. Kuraih ponselku yang terjatuh sambil menepis tangan pria itu. Sudah mendorongku dan sekarang ingin menarik perhatianku ?

“Ahm sorry”

“Watch your step dude ! Move !” Bentakku sambil mendorong bahunya dan segera keluar dari kantor itu

Ku ulurkan tanganku membuka pintu taksi yang sudah terparkir didepan. Aku menghela nafas panjang dan langsung menyandarkan kepalaku. Kenapa ? Kenapa aku seperti ini. Tidak seharusnya aku berbuat seperti ini pada mereka yang sudah menyayangiku. Dan menerima semua sikap burukku.

Apa yang bisa ku lakukan untuk membahagiakan mereka ? Nilai nilaiku selalu pas pasan, semua hidupku kuhabiskan di club malam dan untuk alkohol. Tapi… Kenapa ? Kenapa mereka ingin membuangku ke Seoul. Kenapa mereka tidak mengerti perasaanku ? Hanya disini… Hanya di LA. Semua kenanganku bersama orang tua kandungku hanya ada di sini.

Aku langsung melangkah memasuki sebuah club besar yang terletak ditengah kota beverly hills. Dentuman keras mulai menyapa telingaku. Para penjaga yang berdiri didepan pintu langsung mengantarku memasuki ruang VIP yang sudah ku pesan. Disana sudah ramai, semua teman temanku sudah datang.

Ku hempaskan tubuhku disofa panjang dan langsung meneguk beberapa gelas alkohol yang sudah tersedia didepanku. Hanya ini yang bisa kulakukan. Menghabiskan uang kedua orang tua angkatku dan juga menjual nama kakakku untuk masuk ketempat seperti ini. Tapi hanya ini gaya hidupku, gaya hidup yang melekat padaku. Apa yang harus kulakukan ?

“Miss, please wake up !”Seru seseorang membuatku menoleh perlahan

Aku membuka mataku perlahan, kepalaku masih pusing. Ruangan yang tadinya berisik sudah sangat sepi. Aku mengambil tasku dan mengeluarkan kartu kredit yang tersusun rapi didompetku.

“Kemana semua orang ?”

“Teman teman anda sudah pergi dari tadi. Apa nona masih ingin memakai tempat ini ?”

“No. Aku mau pulang” jawabku membuat pelayan tadi pergi sambil membawa kartuku.

Kakiku terasa gemetar, tubuhkupun lemas saat menuruni tangga. Bagaimana aku bisa pulang ? Aku benar benar sangat mabuk sekarang. Aku membuka dompetku dan mendengus kencang. Sial ! Aku tidak bawa uang yang cukup. Bagaimana bisa pulang. Ku rogoh tasku dan langsung mengambil ponselku.

Tiga puluh panggilan tak terjawab. Sesuai dugaan pasti Jennifer. Ku genggam erat ponselku dan kembali memasukkannya kedalam tas. Kakiku terus melangkah entah kemana. Kutolehkan pandanganku kearah jam tanganku, sudah jam 2 pagi. Aku mendengus pelan dan terhenti didepan vending machine.

Kopi ? No. Bir, yang kubutuhkan adalah alkohol. Aku tersentak saat menekan tombol orange juice. Ash ! Bodoh, kenapa orange juice. Aku menggenggam kaleng orange juice itu dan berjalan memasuki taman. Suasana serasa masih ramai di pagi buta seperti ini. Aku menoleh perlahan dan duduk di ayunan kecil sambil terus memandangi sekaleng minuman yang ada ditanganku.

“Aku… Mau mati saja” ucapku “aku tidak berguna berada disini… Rasanya mau mati saja”

Kukeluarkan sebuah cutter kecil dari dalam tasku, aku membawa ini untuk berjaga jaga. Tapi sekarang aku menggunakan ini untuk mengakhiri hidupku. Mom, dad. I want to see you. Right now. Aku menutup mataku perlahan, I’m sorry Jennie. I will never see you again.

* To Be Continue *

P.S : hei hei author afi kembali lagi dengan ff terbaru yang tidak jelas ini haha. Sesuai janji kemarin, saya membuat ff lanjutan dari My Life Time. Yang belum baca … coba di baca dulu My Life Timenya … takutnya ga ngerti alurnya nanti hehe jangan lupa comen juga tentunya… btw mohon maaf ya atas salah salah kata kata di atas haha. Dan terima kasih untuk yang udah setia baca My Life Time dan sekarang jadi pembaca Little Sweet Carols. Mohon maaf kalo comennya yg kemarin kemarin belum terpenuhi, tapi seperti biasanya saya minta comen dari temen temen semua. Don’t be a silent reader ya guys, comenmu menentukan alur cerita ini hahah. Gomawo J

9

[Freelance] Angel Hranitel [Extra!]

Angel Hranitel’  extra part

Credits by. Lucas Delacroix

Tags. Super Junior

Hampton hill, 2 february 1917

Mereka menjatuhkanku..

Mereka menarik paksa sayapku…

Mereka menghukumku..

Aku menunduk diatas tanah basah dibawah kakiku, merasakan sesak yang menghimpit dadaku karena tidak terbiasa oleh udara tempat ini yang terlalu kotor. Aku benar-benar tidak bisa bernapas lega. Sesekali aku terbatuk karena debu tanah kering yang basah oleh air hujan.

Aku menatap tanganku yang terluka karena goresan ranting saat aku jatuh tadi.

Rasanya seperti ditusuk-tusuk. Sakit dan berdarah.

Manusia..aku menjadi manusia..mahluk paling menjijikan yang pernah kulihat.

Kupukul tanah basah dibawah tubuhku keras-keras.

“AAAAAAAAAAAKKKKKKHHHHHHHH!!!!”

      *****

      Hujan tidak ada hentinya. Sudah cukup lama aku duduk dibawah pohon kering ini, terguyur hujan seraya mengasihani diriku sendiri.

Tidak ada yang lebih menyedihkan dari fakta bahwa aku hampir terbiasa dengan udara kotor ini atau berdarah dan merasakan sakit.

Aku bahkan merasakan haus seperti manusia. Aku menjadi lemah.

“Elliot,” panggil seseorang dengan suara yang khas diantara bunyi deras hujan di area pemakaman seperti ini. Aku menolehkan kepalaku kearah sumber suara.

Dre.

Dia berdiri sempurna diatas sebuah nisan dengan bayangan sayapnya yang terkembang seperti tirai.

“Aku menyelinap untuk menemuimu. Aku tahu kau tidak akan pergi jauh dengan keadaan seperti itu,” dia melompat turun dari tempatnya. “Lilith mencarimu,”

“Minerva?” sahutku lemas dengan suara serak. Aku haus. Air hujan bahkan tidak membantuku sama sekali walaupun aku mencoba meminumnya seliter  sekalipun.

Dre kelihatannya kaget dengan perubahan suaraku. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Telingaku berdesing, suara kepala Dre atau suara mulutnya hanya terdengar seperti desisan angin ditelingaku, “Ya, Minerva. Dia mencarimu. Kau bukan lagi orpheans. Kau anaknya, Mammon,”

Aku berusaha mendengarkannya dengan seksama, “Minerva? Minerva maksudmu..Lilith?” kini suara serakku mulai memelan lembut bahkan—yang tanpa kusangka-sangka—terdengar sehalus beledu.

“ ’Siapapun yang turun karena kenistaan, maka itu adalah mereka’. Kau ingat?” Dre mengedarkan pandangannya kesekeliling dengan sikap waspada. “Dia tahu kau baru saja dijatuhkan. Salah satu anaknya sepertimu, mencuri dengar pembicaraan langit. Dia sudah lama menginginkanmu. Dia akan men—“

Suara  tepuk tangan bertempo lambat yang terdengar jelas, menghentikan kalimat Dre begitu saja. Membungkamnya seperti menyumpalnya mulutnya.

Dre menegang dengan tubuh kaku.

Aroma wangi bunga Lily tiba-tiba tercium oleh penciumanku.

“Baik sekali kau mau menjelaskan semuanya, panglima Dre,” suara lembut itu mengalun dari kegelapan dihadapanku, mengalahkan suara deras berisiknya hujan.

Sesosok wanita berparas cantik—bahkan terlalu cantik—berjalan pelan dihadapan kami dengan senyum ramah palsu. Rambutnya yang berwarna pirang keemasan tampak gelap karena air hujan yang membasahinya. Tubuhnya yang langsing sempurna terbaluti oleh cocktail dress putih tanpa cacat sedikit pun.

“Minggir kau, Minerva,” desis Dre dengan rahang terkatup rapat. Iris matanya berubah putih seperti milik wanita yang terus berjalan tenang menghampiri kami. Tangannya terangkat bersamaan dengan bunyi desing logam melompat.

Paths-nya berkilauan mengerikan dibawah temaram mendung malam. Wanita dihadapan kami itu tersenyum manis, “How sweet, diavolo,”

Aku kenal wanita ini.

Dia Lilith atau mungkin lebih dikenal sebagai Lilith, pelacur milik Lucifer yang terbuang dari langit karena dosanya sendiri. Aku bahkan melihat pembuangannya dengan mata kepalaku sendiri.

Jika kau tanya darimana iblis berasal? Maka mereka inilah jawabannya..

“Hati-hati, panglima. Kau bisa melukai Putra kesayangannku,” katanya tenang, berjalan menghampiriku. Tangan dinginnya tiba-tiba saja menarikku, membelai lembut wajahku. “Kau haus kan, sayang?” wanita itu mengelus rambutku. Matanya yang berwarna putih memandangiku penuh dengan rasa cinta dan kasih yang berlebihan.

Tiba-tiba muncul rasa kebencian yang mendalam padanya dalam diriku.

“Menjauh dariku, Minerva,” aku bisa merasakan kegeraman yang bergetar halus didadaku. Suaranya seperti dengkur halus serigala. “Menjauh dariku!” teriakku marah.

“Oh, hebatnya suara itu,” puji Minerva penuh dengan kekaguman yang berlebihan. Ia membelaiku dengan sikap hampir memuja, membuat mual dalam waktu singkat. “Lucifer akan senang jika mendengar hal ini,”

Aku mengulurkan tanganku, merasakan sesuatu mengalir didalamnya. Rasanya panas tidak tertahankan. “Pergi dari tempat ini dan tinggalkan kami,” aku mencekik lehernya. Aku bisa merasakan rasa panas membakar mataku dan tengorokanku dalam waktu bersamaan.

Minerva tersenyum, “Panglima, kau benar-benar membawa pengaruh yang buruk untuk putraku. Sudah seharusnya kau dihukum,” katanya tenang.

Tiba-tiba saja Dre melonjak kesakitan. Pedangnya terlepas dari tangan. Tubuhnya seperti dibakar hidup-hidup walaupun tidak apapun yang terjadi padanya. Tapi ia tetap melonjak kesakitan. Iris matanya yang putih menghilang, tergantikan matanya yang terbuka kesakitan, memperlihatkan padaku urat-urat matanya yang merah.

Aku melepaskan tanganku dari leher Minerva, “Apa yang kau lakukan padanya?” raungku marah,tidak mengerti. Dia tidak melakukan apapun, kan? tanpa sadar tanganku bergerak melontarkan Minerva sampai tubuh indahnya menabrak batang pohon dihadapanku.

Minerva tersenyum manis, “Elliot,” panggilnya, menatapku dengan kedua matanya yang putih sempurna. “Elliot, putraku. Eliiot sayangku,”

Tiba-tiba aku merasakan hawa panas dikepalaku pelan-pelan membakarku. Tubuhku terasa tertarik seperti dipaksa putus disaat bersamaan. Tanpa sadar aku jatuh berlutut. Tubuhku rasanya sakit sekali hingga rasanya seperti hampir mati.

Minerva menghampiriku. Rasa sakit itu perlahan hilang, meninggalkan jejak sakit yang merajam diseluruh tubuhku. “Aku tahu kau emosi hanya karena rasa haus yang membakar tenggorokanmu, kan sayang?”

“Minerva, kumohon, tinggalkan Elliot. Dia bukan anakmu,” seru Dre lemah. “Minerva, lepaskan dia,”

“Aku hanya ingin memberi makan anakku, Dre. Tolong jangan berisik,” Minerva memelukku , mengusap-usap pelipisku. Rasa sakit itu masih tersisa ditubuhku, membuat mataku berkunang-kunang kabur. Semuanya terlihat mulai berkabut dan samar.

“Aku menyiapkannya khusus putra kesayanganku,” bisik Lilith lembut ditelingaku. Dia bergerak pelan, menarik sesuatu. tangannya yang dingin memelukku, “Biarkan dia mencicipimu, anak manis,”

“Ma’am, kumohon. Tolong, lepaskan aku,” pinta seseorang yang tidak terlihat dengan suara serak ketakutan.

Aku mencium aroma darah tercampur aroma tubuh manusia..

Tapi kenapa terasa menggiurkan di lidahku? Aromanya terasa begitu manis sehingga mengundang air liur di ujung mulutku.

Rasa panas membakar tenggorokanku, membuatku merasakan haus  yang teramat sangat.

“Kau haus, Elliot?” bisik Minerva meneteskan sesuatu didekat mulutku. Tanpa sadar aku menjulurkan lidahku, menggapai-gapai tetesan itu dengan sia-sia. Aku bisa merasakan tiba-tiba saja pandanganku menjadi  jernih. Aku bisa melihat jelas dikegelapan pekat seperti ini. Aku juga bisa merasakan sesuatu yang tajam menggesek-gesek lidahku.

Seorang manusia, lebih tepatnya seorang gadis kecil, terlihat ketakutan dihadapanku.

Aku bisa mendengar jelas detak jantungnya yang memompa darahnya keseluruh bagian tubuhnya yang hangat.

Perutku bergejolak, berteriak lapar. Jika aku diam, maka aku akan mati kelaparan.

Aku menginginkannya…,aku menginginkan tetesan  hangat itu    membasahi tenggorokanku..

Aku tidak mau menahan diri lagi. Aku menarik tangan gadis itu kasar dan membawa lehernya kemulutku. Dia berteriak kencang, histeris ketakutan ketika aku menggigit lehernya.

Rasa manis dan hangat itu langsung membasahi tenggorokanku. Aku merasakan puas teramat sangat. Rasanya haus yang sedari tadi membakar tenggorokanku, menguap sia-sia.

Gadis kecil itu terus berteriak seiring aku menghisap habis darahnya. Aku bisa mendengarkan jantungnya melambat karena aku hampir menguras habis darahnya. Suara teriakannya bahkan berhenti begitu aku melemparkan tubuhnya begitu saja ke bawah kakiku.

Dan merasa seperti ketagihan, aku menagih lebih.

“Berikan aku satu lagi,” tuntutku dengan suara lembutku yang baru. Minerva mengangkat tangannya, mengusap noda darah di pipiku. “Berikan aku satu lagi!” seruku marah ketika ia diam saja tidak mengabulkan permintaanku.

“Kau bisa menghabiskan setiap manusia yang kau lihat nanti, Elliot,” katanya lembut. “Tapi asalkan kau mau membunuh mahluk lemah itu,” Minerva menunjuk Dre yang terkulai kesakitan diatas tanah yang basah. Percikan-percikan lumpur air hujan mengotori sayap putih bersihnya.

“Lilith..,” desis Dre memanggil Minerva dengan nama lamanya waktu ia masih menjadi mahluk manis yang tidak mungkin berkhianat . Ia menatap Minerva dengan tatapan aneh yang tidak bisa kuterjemahkan, walalupun aku berusaha sekeras mungkin. “Kau mau membunuhku Lilith..?” Dre berusah berdiri dengan tubuhnya yang lemah. Kakinya gemetar, membuat tubuhnya terlihat gontai.

Minerva tersentak pelan setiap kali Dre memanggilnya dengan sebutan Lilith. Ada sebuah konspirasi yang tidak bisa ia tolak didalam matanya setiap kali Dre menatapnya tajam. “Aku tentu akan membunuh saksi mata sepertimu,” katanya dengan gemetar.

Dre tertawa miris, “Kalau begitu lakukan saja. Aku tidak keberatan,” katanya. “Dari sejak kau mengkhianatiku, aku tidak keberatan untuk dihukum mati,”

“Itu masa lalu!” raung Lilith marah. Matanya bersinar kemerahan yang tampak ganjil. Dia mengulurkan tangan, mencekik Dre dengan kekuatannya.

“La-lakukan saja..Ji-jika itu memang maumu, Lilith,”

Minerva melepaskan kekangannya pada leher Dre dengan kasar. Mereka benar-benar tidak sadar kalau akau dari tadi diam menonton berusaha mencerna apa saja yang mereka bicarakan. Aku bahkan mencuri dengar kedua pikiran mereka masing-masing tanpa mereka sadari. “Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu lagi!!”

“Kau lemah Lilith.” sahut Dre, “Tidak seharusnya kau mengabdi pada orang sepertinya. Kau hanya dimanfaatkan. Seharusnya aku tidak membuangmu. Seharusnya aku memang harus membunuhmu dari awal jika itu memang meninggalkan kenangan buruk seperti ini,”

“Lalu kenapa kau tidak membunuhku?” tuntut Minerva tampak frustasi. Dia sepenuhnya melupakanku yang berdiri tegak disampingnya. “Kau takut?”

“Tidak,” Dre menggeleng. “Aku tidak membunuhmu bukan karena aku takut. Aku malah melihat ketakutan itu melintas diwajahmu. Itu sebabnya aku tidak membunuhmu, Lilith,”

“Dre..jangan buang aku. aku takut. Tolong aku,”

Ingatan pendek itu melintas dipikiran Dre dengan cepat seperti kumpulan rol film yang rusak. Wajah Minerva saat ia masih murni sungguh berbeda dari wajahnya yang sekarang. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, yang membuatku ikut tertegun diam.