32

[Freelance] First Love

Author : pipidtookyu

Main cast : Cho Kyuhyun , Kim Ryeowook , Choi Hasoo , Kim Hee Young

Support cast : Choi Siwon , Park Jungsoo , Kim Jonghyun , Lee Hyukjae , Lee Donghae , Cho Jinho

Rating : PG 13

Genre : Romance

PS : FF pertama saya , Happy Reading ^^

Disclaim : 100% murni buatan saya

Choi HaSoo POV

“Kim Hee Young” teriak ku memanggil yeoja yang sedang berjalan tergesa gesa itu . haissh kenapa juga dia harus berjalan setengah berlari seperti itu eh ? aku segera berlari menghampirinya setelah dia terdiam sesaat mendengar teriakanku lalu berjalan cepat lagi .

“YA~ youngie kenapa berjalan secepat ini ? dikejar rentenir eh ?” tanyaku asal dan langsung mendapat hadiah timpukan buku yang sedang dibawanya .

“ youngie appo“

“Soo kau tau kau itu berisik ! sebentar lagi kita lewat didepan kelas jung soo , aku tak mau bertemu dengannya”

“Waeyo ? kau bertengkar ? JungYoung yang super mesra itu bisa bertengkar ? waaah daebak !”

“Ya~ kau mau sepatuku mendarat di kepalamu hah ? diamlah”

“ne songsaenim , arraseo” youngie kembali mendelik kearahku . hihi aku hanya bisa nyengir kepadanya dan mengangguk tanda aku akan diam . Benar saja dia berjalan tambah cepat saat melewati kelas jung soo sunbae . sunbae ? ya namjachingu youngie memang satu tingkat diatas kami . aku melirik sekilas ke dalam kelas jung soo sunbae , ck namja itu disana . Dan surprise Jung soo sunbae melihatku dan

“Yongie-ya” Gotcha !! jung soo sunbae melihat Hee Young dan memanggilnya eh kurasa . Kulihat Hee Young langsung menghentikan langkahnya , dan tanpa aba aba jung soo sunbae segera menghampirinya .

“wae ?” Tanya Hee Young dingin .

“mianhae , eomma kemarin sakit jadi aku harus menjaganya . kau tak marah kan ?”

“ani” jawab Hee young singkat

“jinjja ? tapi kenapa sepertinya kau marah youngie-ya ?” jung soo sunbae meletakkan tangannya di pipi Hee young . aishh jinjja aku iri dengan mereka . Tapi dengan kasar Youngie menepiskan tangan Jung soo sunbae dan pergi meninggalkannya , woooo .

“Aishh youngie pabo , tidak marah tapi bersikap seperti itu ? ckckck dasar” gumamku sambil berkacak pinggang melihat aksi kejar kejaran mereka berdua .

“Ya~ Choi HaSoo kau mau pindah kelas eh ? kenapa diam berdiri didepan kelasku?” seketika aku memutar tubuhku keasal suara itu dan mendapati namja itu menyandarkan tubuh sampingnya ke pintu dan memasukan kedua tanganya kedalam saku seragam . aku melongo melihatanya , dia SEMPURNA .

“Wae ? kau naksir aku eh ? wajahmu jelek sekali jeongmal” aishh ku tarik kata kataku , sekali menyebalkan dia tetap menyebalkan . dari dulu !

“sunbae mengenalku eh ? tapi maaf kurasa aku tidak mengenal sunbae ” akupun meninggalkannya yang sekarang ganti melongo haha kurasa . mampus kau Cho Kyuhyun !

Cho Kyuhyun POV

Aishh yeoja itu . aku mengacak rambutku kesal . Dia selalu seperti itu didepanku , padahal didepan ryeowook , donghae maupun Jung soo dia tidak seperti itu . aishh jinjja .

“wae kyu ? kau tampak kesal.“  Tanya Hae saat aku kembali duduk disampingnya .

“aniyo.”

“Jinjja ? hey kau tau , Min Ji dan teman temannya mengajak kita berempat keluar . kau mau ?” aku mengerutkan kening . Min Ji ? siapa lagi ?

“Min Ji ? nuguya ? YA~ hae kau tidak berubah juga hah ? dasar playboy !”

“neo paboya ? cewek terseksi di sekolah kita kau pun tidak tau ? ishh kurasa kau harus memeriksakan kenormalanmu .”

Kim Hee Young POV

Aisssh kenapa juga namja ini masih mengikuti . Menunggu selama 3 jam dimusim dingin tidak masalah bagiku , tapi menunggu 3 jam untuk kebohongannya jelas masalah bagiku . aku tau dia bohong soal eommanya yang sakit . Kemarin saat aku pulang dari menunggunya , aku tak sengaja melihatnya bersama mantannya itu . aishh , dia pikir dia bisa menipu seorang Kim Hee Young eh ?

“youngie-ya berhenti”  jung soo menarik tanganku dan memegang kedua bahuku , memaksaku untuk menatapnya .

“Kau marah?” jangan menangis jangan menangis youngie . jangan menangis untuk namja ini .

“Kita putus oppa”  perlahan aku melepaskan kedua tangannya yang ada dibahuku .

“waeyo ? aku tidak bisa putus denganmu Youngie . tidak akan”

“kembalilah pada Hyo Mi onnie , aku tau kau masih mencintainya.” Kutatap matanya , dia tampak terkejut , ku berikan senyum terbaikku dan berbalik meninggalkannya sebelum air mataku jatuh didepannya .

***

Aku menghempaskan tubuhku di samping HaSoo saat sudah berada di kelas dan tak menghiraukan ocehannya . entahlah pikiranku kacau memikirkan jung soo . Bagaimanapun juga dia itu  cinta pertamaku . jadi tak salah bukan bila susah menghapus cinta pertama ?

Aku merasakan bahuku digoncangkan dengan keras . ck bocah ini . tak taukah dia wajahku sedang suntuk ? tak bisakah dia diam semenit saja

“Youngie-ya , waegeurae ? kenapa wajahmu suntuk begitu ? marhae”

Nah dia tau kan aku sedang suntuk , kenapa juga dia masih bertanya .

“YA~ Kim Hee Young kau mau mati hah ? kenapa diam saja ? kau tuli kau bisu ? sejak kapan ?”

“Haisssh jinjja , kau berisik sekali HaSoo-sshi . tak bisakah kau biarkan aku tenang semenit saja?” dan kali ini pertahananku runtuh . aku tidak bisa menahan isakku dan akhirnya menangis . HaSoo langsung membawaku kedalam pelukannya. Selamat tinggal Park Jung Soo .

***

Choi HaSoo POV

Aku menyelimuti Hee Young yang sekarang tertidur di ruang kesehatan setelah dia menceritakan tentang jung soo sunbae . Ck dasar namja semua sama . aku memperhatikan matanya yang tampak sembab karena terlalu lama menangis .

aku menghela nafas menatap ke arah luar . sekarang musim dingin . kenapa Hee Young harus mengalami kehilangan cinta pertamanya sama disaat musim dingin seperti ini

Flashback

“Eomma kenapa rumah ahjjussi sepi sekali , kemana mereka ?” tanyaku pada eomma saat mendapati rumah Cho ahjjusi yang sepi .

“Mereka harus pindah ke Seoul sayang”

“wae ? berarti aku nanti tidak akan bertemu lagi dengan kyu eomma ? waeyo eomma ? kenapa ahjjusi jahat sekali , kenapa kyu tak mengajak hasoo huaaaaaaa”

END of Flash back

Haisssh kenapa harus mengingat hal itu lagi . Cho Kyuhyun pabo ! 12 tahun aku tak pernah melupakannya dan berharap setelah bertemu kelak bisa seperti dulu saat masih kecil bersamanya . tapi apa yang ku temukan dia justru lupa denganku . Napeun namja !!!

BRAK

Tiba tiba saja pintu menjeblak terbuka , dan jreng jreng .

“YA~ Kim Ryeowook . kau apa apaan hah ?” dia cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang ku yakin tidak gatal sama sekali .

“Hee Young , dia kenapa Soo?”

Namja ini adalah Kim RyeoWook yang sebenarnya sepupuku tapi tak ada yang tau bahkan Hee Young sekalipun . dia sebenarnya menyukai Hee Young dari sejak SMP saat Hee Young pertama kali bermain kerumahku dan Wookie kebetulan berada dirumah dan dia tak sengaja berpapasan dengan Hee Young .

Hee Young mungkin sudah lupa dengan wookie , tapi tidak dengan wookie yang saat itu langsung jatuh cinta padanya . Saat Wookie tau Hee Young masuk SMA yang sama denganku dan dia , dia sangat senang sekali dan hancur sekaligus saat tau Hee Young menjadi yeojachingu Jung Soo Sunbae . Dari awal aku sudah mengatakan kepadanya untuk mengungkapkan perasaanya , tapi dia terlalu malu . Dan saat dia tau Hee Young jadiaan dengan sahabatnya kalian tau apa yang dikatakanya ? tidak apa bila aku harus sakit soo, asalkan Hee Young bahagia itu sudah cukup . Ck ingin sekali aku memukul wajahnya saat itu karena ucapannya sama wajahnya itu sungguh jauh berbeda . kalian tau wajahnya itu seperti orang orang yang berada dipemakaman .

“kenapa kau tak bertanya pada sahabatmu itu wookie-ah”

“YA~ kau mau semua orang tau bahwa aku menyukai Hee Young”

“kalau kau berteriak seperti itu semua orang justru akan tau pabo ! Jung Soo sunbae dia sepertinya masih mencintai yeojachingunya yang dulu . Dan Hee Young dia merelakan Jung Soo sunbae kembali ke yeojanya itu . Bodoh kan ? sama saja sepertimu . Aku heran dengan kalian untuk apa kalian jatuh cinta kalau akhirnya bakal seperti ini ?”

“karena kau belum pernah merasakan cinta yang sesungguhnya soo makannya kau bilang seperti itu . Cinta itu butuh pengorbanan .” kau salah wookie aku sudah berkorban selama 12 tahun untuk menunggunya , untuk mencintainya tapi apa yang kudapat ? dilupakan .

“Ne , dan aku tidak akan pernah mau merasakan cinta itu lagi”

“Lalu bagaiman hidupmu ? kau tidak akan menikah kelak ? bagaimana mungkin kau bisa menikah bila tidak mau mencintai orang. Lupakan dia soo , hidupmu masih panjang.”

“YA~ wookie-ah kau sudah seperti eomma saja , menikah tidak harus dengan cinta . Dijodohkanpun cukup kurasa”

“aissh jinjja kenapa aku mempunyai sepupu sakit sepertimu soo-ya” aku bangkit dari dudukku menghampiri wookie yang berada diujung tempat tidur Hee Young .

“Molla , aku lapar , aku kekantin dulu . Jaga Hee Young dan jangan kau apa apakan arra ?”

***

“KyuHyun oppa . aaaaaa” ck yeoja yeoja itu . kenapa mereka brutal sekali eh bertemu dengan seorang cho kyuhyun ? dan apa apaan namja itu . Sok Cool .

“kau tak seperti mereka HaSoo-sshi ?” tanya namja disampingku . siapa dia eh ? bukannya dia teman jung soo sunbae dan wookie ?

“Ne ? berteriak teriak seperti itu didepan namja ? ah maaf aku bukan yeoja seperti itu sunbae” dia tertawa memegangi perutnya . ck maunya apa sih namja ini .

“kau tidak gugup aku duduk didekatmu seperti ini ?”

“wae ? kenapa harus gugup?” kataku dengan alis terangkat

“Kau tak termakan pesonaku eh ?”

“Ya sunbae aku kesini untuk makan siang bukan untuk memakan pesonamu itu”

“Aigoo uri HaSoo bisa sejahat ini” katanya sambil mencubit kedua pipiku .

“Ya Lee Donghae lepaskan tanganmu itu”  aigoo apa lagi ini ? Tuhan selamatkan hambamu ini . kenapa harus Cho Kyuhyun lagi .

“Waeyo Hyunnie ? kau cemburu ?”

“Ani , hanya saja ini dikantin Hae-ya . kau tidak malu”

“Tidak , bahkan kalau aku mau aku bisa memeluknya seperti ini”

“Ya~ kubilang lepaskan tanganmu hae , dia tunanganku” Hening . Bukan hanya aku saja yang terdiam tapi seluruh kantinpun ikut terdiam . apa maksudnya ini ?

“Ikut aku soo-ya” deg . panggilan itu sama seperti dulu . kenapa dia memanggilku seperti ini lagi Tuhan ? apakah dia sudah ingat ?

“neo” jinjja aku tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun . susah sekali untuk bicara . lidahku kelu .

“Aishhh” dengan tidak sabar kyu menarikku dan membawaku keluar dari kantin .

***

“Ya~ apa maksud sunbae tadi ?” tanyaku setelah kami berada di atap sekolah setelah insiden dia menarikku dan menjadi tontonan banyak orang . hoaah Choi HaSoo akan terkenal diselur penjuru sekolah pasti akibat dari masalah ini .

“Tak ada” jawabnya singkat tanpa menoleh sedikitpun kearahku . Ya~ apa apaan dia ini .

“begitukah? Baiklah . saya permisi sunbae” saat aku hendak melangkah pergi tiba tiba dia mengenggam tanganku .

“Boleh aku meminta sesuatu padamu soo-ya?” ck setiap dia menyebut namaku seperti itu kenapa susah sekali menolak permintaannya .

“apa?”

“Duduklah” Dia menarikku duduk didekatnya dan kemudian dia menidurkan kepalanya dipahaku eh ? YA~ ige mwoya .

“aku pusing , aku ingin tidur.” Kyu mengenggam tanganku dan meletakkan diatas perutnya dan matanya mulai terpejam .

Apa apaan ini ? kenapa dia seperti ini ? bagaimana bila aku berharap lagi ?

“Mulai sekarang jangan memandang namja lain , kau hanya boleh memandangku . Hanya aku yang boleh memelukmu , memegang tanganmu dan  berada disisimu . arra ?” dia tersenyum , apakah aku bermimpi ? bila aku sedang bermimpi seseorang tolong bangunkan aku segera .

“Diam , berarti iya soo-ya ! bukankah kau sangat senang eh namja tampan sepertiku ini mengatakan hal yang begitu romantis kepadamu ?” aissh apa apaan dia ini , kau menyebalkan Cho Kyuhyun . akupun segera bangun dari dudukku dan membiarkan kepalanya terbentur lantai . Masa bodoh bila dia gegar otak .

“YA~ Choi Hasoo sakit bodoh” kulihat dia mengusap kepalanya yang terbentur lantai yang agak keras kurasa .

“Sunbae , kau mau mencoba mempermainkanku eh?”

“ck bodoh . aku serius soal tadi . kau hanya boleh memandangku arra ?”dia tersenyum padaku dan mengacak rambutku pelan sebelum akhirnya pergi meninggalkanku . kau membuatku gila Cho Kyuhyun .

***

Kim Ryeowook POV

Aku berjalan mendekatinya yang tertidur dengan damai . aku menduduki tempat yang ditinggalkan Hasoo barusan . Kupandangi wajah Hee Young lekat . Seandainya aku bisa aku ingin memeluknya , aku ingin menjadi pendengarnya dan berada disampingnya saat dia terpuruk seperti ini . Tapi sekali lagi rasa maluku mengalahkan semuanya . Bahkan untuk berbicara dengannya pun terkadang aku tak berani , aku hanya berbicara dengannya apabila terpaksa saja .

Jung Soo , aku tau dia menyayangi Hee Young , Tapi rasa sayang Jung Soo ke Hee Young tak sebesar rasa sayangnya ke Hyo Mi . berkali kali aku berbicara ke Jung Soo untuk melupakan Hyo Mi , tapi tak semudah itu .

tanpa sadar tanganku mulai mengusap kepalanya dan menyeka keringat disekitar dahinya . Bermimpi buruk kah kau youngie-ya ? kenapa wajahmu tampak tersiksa seperti itu bahkan dalam tidurmupun ?

“Kumohon aku rela menyakiti diriku sendiri untuk kebahagiaanmu youngie-ya , jadi jangan seperti ini .” bisikku dan mencium dahinya dengan pelan agar dia tak terbangun. Tapi dugaanku salah , Hee Young tampak bergerak dan perlahan membuka kedua matanya . Sebelum dia melihatku , kuputuskan untuk pergi dari sana .

***

“soo , Neo eodigga ?” aku menelpon Hasoo setelah jauh dari ruang kesehatan . Aku takut Hee Young menyadari ada seseorang sebelum dia terbangun , dan dengan kurang ajarnya mencium dahinya . Aishh Kim Ryeowook pabo !

“Mwo ? atap ? kenapa kau disana ? kau mau bunuh diri ?”

“aissh jangan berteriak seperti itu . Kau membuatku tuli . aku kesana , kau jangan kemana oke.”

***

“Mwo ?” Teriak HaSoo saat aku menceritakan kejadian diruang kesehatan tadi .

“aish tak sampai sebulan aku hidup denganmu telingaku pasti akan tuli kalau kau setiap hari berteriak seperti ini Soo” Dia cengengesan sambil menunjukan jari tengah dan ibu jarinya kearahku .

“ini kemajuan Wookie-ah , lanjutkan . Fighting ! manfaatkan kesempatan ini . Kau pasti bisa , tunjukan bahwa kau memang benar laki laki” BLETAK , aku memukulnya dengan tanganku . Dia kira selama ini aku bukan laki-laki?

“Ya~ appo ! Tidak kau tidak Hee Young , kalian sama saja jinjja suka memukul.”

“Jodohkah kami soo?”

“ne , maka dari itu ungkapkan cintamu wookie-ah ! aku pergi , annyeong”

Benarkah aku dan Hee Young berjodoh ? hanya memikirkannya pun sudah membuatku sebahagia ini

Choi Hasoo POV

“eomma kenapa banyak sekali makanan ?” tanyaku pada eomma saat baru pulang dan mendapati dimeja makan ada begitu banyak makanan , tak seperti biasanya .

“kita akan ada tamu Soo , bersiaplah . lalu bantu eomma membangunkan oppamu itu . dia susah sekali dibangunkan”

“Mwo ? oppa ? oppa pulang ? aissh kenapa baru memberitahuku sekarang eomma .” dengan segera aku berlari ke lantai 2 dan memasuki kamar didepan kamarku , ya kamar oppaku , siapa lagi ? namja paling tampan , siwon oppa .

BRAK ! kubuka pintu kamar siwon oppa dan benar saja dia tertidur sangat pulas . Hah jadi tidak tega membangunkannya .

“Oppa ireona , bogoshipoyo oppa , ireona” dia membuka matanya dan tersenyum saat melihatku

“Nado soo , kau sudah sebesar ini”

“Ya~ aku masih sama saja seperti 2 tahun yang lalu oppa , kenapa kau tak mengabariku kalau kau akan pulang ?”

“eomma memaksaku pulang kemarin , kata eomma aku harus disini membantu mempersiapkan segalanya”

“ck mempersiapkan jamuan makan saja sampai memanggilmu dari aussie ? aigoo uri eomma daebak!” siwon oppa tampak menahan tawanya, aishh haruskah dia mempertahankan sikap charmingnya itu didepan yeodongsaengnya sendiri ?

“Bersiaplah , 2 jam lagi mereka akan datang , oppa benar benar lelah soo , jadi biar oppa tidur dulu oke ?”

“Arra” dengan langkah gontai aku berjalan menuju kamarku . aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur .

Kali ini siapa lagi anak teman appa yang akan appa bawa untuk dijodohkan denganku ? setelah 2 minggu lalu appa membawa Kim Jonghyun . Kim Jonghyun ? aku jadi tertawa geli bila mengingatnya . Awalnya dia menerima perjodohan ini setelah kami bertemu , tapi begitu kami jalan berdua dan sifat anti namjaku muncul didepannya , dia dengan sendirinya mundur dari perjodohan ini . Tak Tulus eh ? entahlah . Haishh daripada memikirkan perjodohan konyol itu , lebih baik aku tidur .

***

“Choi HaSoo bangun , haishh kenapa kau susah sekali untuk dibangunkan” Cho Kyuhyun setelah kau memasuki hidupku kembali berani beraninya kau memasuki mimpiku .

“Pergi kau namja bodoh . teganya kau datang ke kehidupanku lagi , kau mau menyengsarakanku lagi hah?” aku memukul mukul bayangan kyuhyun dalam mimpiku itu , hahaha jinjja ini rasanya seperti kenyataan .

“apa maksudmu?” hah berani beraninya dia bertanya dan sekarang memegang kedua tanganku agar berhenti memukili dadanya dan menatapku tanpa dosa seperti itu . Haissh ini benar benar membuat aku menangis . kenapa air mata ini tidak bisa berhenti ? terlalu lelahkah aku diam selama 12 tahun ini ?

“Ya kenapa menangis ? apa ada yang sakit ?” sekarang dia menghapus air mataku dengan ibu jarinya dan menarikku kedalam pelukannya .

“Kau jahat Kyu , kenapa kau dulu meninggalkanku ? aku benci padamu!” kali ini isak tangisku semakin keras dan aku terisak didadanya . dia semakin mempererat pelukannya dan mengusap kepalaku pelan dan membuat mimpi itu perlahan hilang . aku tertidur kembali tanpa mimpi itu .

“mianhae” hanya kata itu yang terakhir aku dengar .

***

Aku terbangun saat merasakan ada yang menggoncang pelan bahuku . Hee Young .

“Youngie kenapa kau ada dikamarku eh ?”

“appa dan eommamu yang menyuruhku kesini . Ya~ kenapa kau susah sekali dibangunkan soo ? kau tau sudah berapa orang yang sudah membangunkanmu ?” aku hanya bisa nyengir didepan

“Kau habis menangis ? kenapa matamu sembab seperti itu ?” Mwo ? bukankah itu hanya mimpi ? aku segera berlari menuju meja rias dikamarku dan benar saja kedua mataku sembab . Bisakah bila menangis dalam mimpi tapi kenyataannya mata juga ikut sembab ?

Tunggu dulu , kenapa firasatku jadi tidak enak .

“Youngie-ya , dibawah ada siapa saja ?”

“ada keluargaku , keluarga wookie sunbae , Ya~ kau itu sepupu wookie sunbae ? kenapa kau tak pernah cerita kepadaku hah ?” kulihat Hee young tampak kesal .

“Hehe , lalu siapa saja yang membangunkanku tadi ?”

“Appamu , eommamu , oppamu , aku”

“ah syukurlah” aku mengelus dada bersyukur . Ternyata yang ku khawatirkan tidak benar .

“waeyo ?”

“ani , hehehe . baiklah aku bersiap dulu.Otte,merah atau biru ?” aku menunjukan 2 dress pada Hee Young .

“Biru . ah iya soo aku lupa . Tadi Kyuhyun Sunbae juga ikut membangunkanmu , tapi nihil sama seperti yang lain . Tapi anehnya setelah kembali dari kamarmu dia jadi murung . Lalu , keluarga kalian berdua sudah dekat ya ? kenapa eommamu percaya sekali pada dia sampai boleh masuk kamarmu ?” seperti tersambar petir mendengar ucapan Hee Young seketika aku terduduk lemas dilantai . Mampus kau Choi HaSoo

***

Kim Hee Young POV

“Ya Waeirae ? kau sakit ?” tanyaku pada Ha soo saat dia tiba tiba terduduk lemas dilantai . kulihat tatapan matanya . Syok . kenapa dengannya ?

“Youngie , bisakah kau mengatakan pada eomma aku sedang tak enak badan dan tidak bisa turun kebawah ?” aku mengangguk dan membantunya berdiri lalu membawanya ketempat tidur .

“ Ya~ gwenchana ? kau tampak pucat soo , perlukah aku memanggikan eommamu dan membawamu kedokter ?”

“tidak perlu , kurasa istirahat sebentar cukup . Gomawo youngie-ah”

“Ne , jaljjayo” kunaikan selimut Ha Soo . kulihat kedua matanya sudah terpejam tapi aku tau dia belum tidur , ada apa denganmu ? kenapa kau tak menceritakan masalahmu kepadaku soo ?

***

“mwo ? Ha soo tidak enak badan ?”

“ne ahjjuma , jadi Ha Soo tidak bisa bergabung dengan kita”

“anak itu , pasti berpura-pura lagi . siwonnie lihatlah adikmu itu . apakah dia benar sakit atau tidak.” Kulihat siwon oppa mengangguk lalu beranjak dari duduknya dan naik kelantai 2 . Aishh kalau tak ada Ha Soo apa yang akan aku lakukan sekarang ? kulihat sekelilingku . para orang tua sedang mengobrol dengan santai diruang tamu . Bernostalgia eh ? lalu diruang tengah kuliahat kyuhyun sunbae duduk sambil menatap kearah luar .

Tak seperti biasanya dia diam seperti itu  padahal didpannya adiknya Jino dan wookie sunbae sedang bermain PS . bukankah dia rajanya Game ?

Ah wookie sunbae , ck kenapa aku jadi mengingat hal itu . benarkah yang diruang kesehatan tadi dia ? tapi bukankah dia sangat cuek kepadaku ? bukankah dia malas eh berdekatan denganku ? bahkan mengobrol dengankupun sepertinya anti ?

Kutatap dia dengan lekat , dia tampak serius bermain PS . Tanpa diduga dia menoleh dan pandangan kami bertemu , Ya~ kenapa aku berdebar seperti ini menatap matanya ? semudah itukah aku melupakan jung soo ? ck dia dengan cepat mengalihkan pandangannya . Oh Tuhan aku bisa gila memikirkan ini .

***

Cho Kyuhyun POV

Aku menatap kearah luar , pemandangan malam ini benar benar indah . Tapi bukan itu yang sedang ku Fikirkan . Aku sedang memikirkan Choi Ha Soo , ya Gadis itu sudah mengambil seluruh pusat perhatianku .

Dari awal aku bertemu dengannya entah kenapa semua fikiranku langsung terarah kepadanya . Dia seperti magnet . Tapi sikapnya kepadaku benar benar membuaku gila . didepan namja lain dia tampak biasa saja , aku tau dia anti namja tapi begitu berhadapan denganku tatapan benci itu keluar. Kenapa ? apa aku ada salah dengannya ? bahkan didepan donghae yang lebih suka menggodanya tatapan matanya tak seperti itu .

Dan tadi , apa yang dikatakannya ? meninggalkannya ? kapan ? bahakan kita belum pernah bersama . Dan kenapa aku sangat sakit dia menangisiku seperti itu ? haish apakah aku mencintainya ?

“Eomma soo demam” seketika lamunanku buyar saat mendengar siwon hyung mengatakan hal itu .

“ne ? jadi soo benar benar sakit ? kalau begitu saya permisi dulu sebentar , saya mau merawat Ha soo” dia sakit ? seketika aku berlari ke ruang tamu mencegah ibu Ha Soo .

“Ahjjuma biar saya saja yang merawat Ha Soo , boleh kan ?” seketika semua pandangan beralih kearahku . bahkan appa dan eomma tampak sangat terkejut . wae ?

“Ne , tolong ya hyunnie” aku mengangguk dan bergegas menuju kamar Hasoo setelah mengambil beberapa obat , termometer dan pengompres .

Kuketuk pintu kamarnya , tak ada jawaban . Lalu kuputuskan untuk masuk . Kamarnya gelap dan kulihat dia sedang berdiri dibalkon kamarnya menatap kearah langit .

Perlahan aku berjalan mendekatinya dan berdiri disampingnya . Dia tak tahu karena matanya terpejam sekarang . Kutatap lekat wajahnya , dia menangis lagi .

“Bukankah angin malam tak baik untuk orang yang sedang demam?” dia menoleh kearahku dan tampak terkejut . aku tersenyum sekilas kepadanya .

“kenapa kau disini ? siapa yang mengijinkanmu masuk kesini ?”

“tak ada , aku sudah berulang kali mengetuk pintu kamarmu soo-ya , tapi kau tak menjawab juga . Padahal aku ingin merawatmu . masuklah . kau harus istirahat.”

“Shiro , pergilah . Aku tak ingin dirawat olehmu” dia tampak mengambil nafas sebentar “dan jangan tunjukan perhatianmu kepadaku.”

Suaranya bergetar , apakah dia akan menangis lagi ? dia menatapku lagi . tatapan itu . tatapan bencinya . dia beranjak dari tempatnya sekarang dan hendak pergi , tapi aku mencegahnya dengan memegang kedua bahunya dan memeluknya dari belakang .

“wae ? apa salahku padamu hasoo-ya ? kenapa kau begitu membenciku ?” dia berusaha melepaskan pelukanku dengan meronta tapi hal itu justru membuatku memperat pelukanku kepadanya .

“Lepaskan Cho Kyuhyun , lepaskan .”

“Menangislah , aku disini. untukmu” seketika dia terdiam , tidak meronta lagi dan sekarang yang kudengar adalah isakan tangisnya yang semakin keras . kubalikan tubuhnya menghadapku . dia menunduk . kuangkat wajahnya agar menatapku . tatapan ini bukan tatapan benci lagi , tapi tatapan sakit . aku mengecup bibirnya kilat . kenapa soo-ya ? apa yang sudah kulakukan padamu dimasa lalu

“Mianhae , aku tak tau apa salahku soo-ya . mianhae . Tapi mulai sekarang aku berjanji aku akan menjagamu dan tak akan membuatmu menangis lagi.” Aku memeluknya dan mengecup puncak kepalanya . Mainhae Hasoo-ya , aku berjanji akan menepati janjiku .

***

Kim Hee Young POV

Aish jinjja aku benar benar bosan berada disini . Coba disini ada Jung Soo aku pasti tak sebosan ini . Mwo ? Jung Soo ? aigoo kenapa kau memikirkannya lagi Kim Hee Young . sadarlah , dia sudah bukan milikmu lagi .

Mungkin Wookie sunbae lebih baik . OMO~ kenapa jadi wookie sunbae lagi ? Kim Hee Young Pabo belum tentu yang diruang kesehatan itu wookie sunbae . aishh sadarlah sadaralah Hee Young . aigoo lama-lama disini aku bisa gila . haissh aku harus mencari udara segar untuk mendinginkan kepala .

“ahjussi , ahjjuma , appa , eomma , saya permisi sebentar” aku menundukan kepala kepada semua orang yang berada diruang tamu . etika baik eh ?

Aku berjalan menuju halaman belakang rumah HaSoo . Disini salah satu tempat Favoritku di rumah Hasoo . Kami sering berada disini sekedar menghabiskan sore atau belajar bersama di gazebo didekat kolam ikan .

Bagaimana keadaan anak itu eh ? ck bukannya menemaniku dia justru berduan dengan kyuhyun sunbae dikamarnya . aigoo sebenarnya ada hubungan apa mereka berdua ? issh kenapa udara disini semakin dingin , lebih baik aku segera masuk kedalam rumah .

Saat aku hendak berbalik , tiba tiba aku menabrak seseorang . aku dan orang itu jatuh ketanah berlawanan .

“YA~ kau tidak punya mata hah , jinjja ini sakit sekali.”

“mianhae aku tak melihatmu , aku terlalu sibuk dengan kemeraku.”

“aishh jinjja , neo..” aku mendongakkan kepalaku melihat orang yang sudah seenaknya menabrakku itu , omoo wookie sunbae , kenapa disaat seperti ini harus bertemu dengannya .

“Kim Hee Young” dia tampak kaget dan memalingkan wajahnya sebentar . aiyaa Kim Hee Young lihatlah bahkan dia tak mau melihat wajahmu , apa lagi yang kau harapkan dari dia

“Gwenchana Hee Young?”

“ne sunbae gwenchana , mian aku tak tau kalau itu kau . aku permisi sunbae” aku menundukkan kepalaku sebentar kepadanya lalu berjalan meninggalkannya . ah amplop coklat ? milik wookie sunbaekah ?

Akupun mengambil amplop itu dan berbalik mencari wookie sunbae . Ternyata dia masih berdiri ditempat tadi dan sekarang kami berdua saling bertatapan . Hingga akhirnya wookie sunbae sadar dan mengalihkan pandangannya ke arah lain . Ketika dia berbalik akan pergi aku segera berlari menghampirinya .

“Sunbae tunggu sebentar” aku memegang bahunya untuk menghentikannya . wookie sunbae tampak keget dan menghempaskan tanganku

“ah mianhae sunbae , aku tak bermaksud ini kau menjatuhkan ini kah?” tanyaku menunjukan amplop coklat itu .

Dia tampak terkejut saat aku menunjukan amplop itu dan segera merebutnya dari tanganku dengan kasar . akibatnya semua isi amplop itu jatuh berserakan . aku melihat berlembar lembar foto berserakan di tanah sekarang , dan apa ini ? semua fotoku ?

“Sunbae , Igo” aku bertanya tidak yakin , kulihat wookie sunbae terdiam membelalak matanya saat aku mengambil salah satu fotoku dan menunjukan kepadanya .

“Bisakah sunbae menjelaskan ini padaku?”

“ini ehm” dia tampak mengatur nafasnya “ini bukan seperti yang kau fikirkan Hee Young , aku bukan maniak yang suka mengambil fotomu diam diam , aku aku , aishh” dia mengacak rambutnya frustasi.

“Mian , diruang kesehatan…”

“mwo ? HaSoo menceritakan semuanya? Ashh anak itu” sebelum aku selesai berbicara wookie sunbae memotongku pembicaraanku .

“berarti itu benar kau sunbae ? apakah kau menyukaiku ?”

“Ne?” dia sangat kaget sekarang , aku menatapnya menunggu jawaban yang akan diberikannya .

***

Kim Ryeowook POV

Ya Tuhan harus menjawab apa aku , dia masih menatapku menunggu jawaban dariku . Aku takut bila aku mengatakannya dia justru akan membenciku dan menjauh dariku .

“Sunbae?”

“Dengarkan baik baik Kim Hee Young” kali ini kuberanikan diri menatap matanya , Kau Namja Kim Ryeowook kau harus bisa , kau harus berani .

“saranghae” dia terdiam . mampus kau Kim Ryeowook , dia akan membencimu .

“hahaha kau kaget ya ? mian Hee Young aku mengagetkanmu mengatakan ini tapi…”

“sejak kapan?”

“Ne?” tanyaku bingung .

“sejak kapan sunbae menyukaiku?”

“sejak kau masih SMP youngie , sejak kau pertama kali datang kerumah ini.”

“selama itukah ? dan kenapa sunbae tidak mengataknnya padaku ?”

“Aku bukanlah namja seperti Park JungSoo yang pemberani dan selalu membuatmu tersenyum Kim Hee Young , aku hanyalah Seorang Kim Ryeowook yang pemalu dan pendiam.aku tidak mempunyai keberanian untuk hal itu. aku pergi , terima kasih sudah mendengarkanku. ”

“YA~ KIM RYEOWOOK , neo jinjja . Setelah kau mengatakan itu seenaknya saja kau mau pergi hah ? Kim Ryeowook adalah Kim Ryeowook , Park Jungsoo adalah park Jungsoo . aku tak ingin Kim Ryeowook berubah seperti Park Jungsoo . Tetaplah menjadi Kim Ryewook yang pemalu dan pendiam seperti itu , dan buatlah aku segera melupakan Park Jungsoo . Itu baru namanya namja . arraseo ?” aku membalikan badanku menatapnya , dia tampak terengah engah sekarang setelah mengatakan itu .

“Maksudmu , aku boleh menyukaimu youngie?”

“Ani kau tak boleh menyukaiku , kau harus mencintaiku dan menyayangiku. Kau harus…” reflek aku menariknya kedalam pelukanku .

“Gomawo youngie-ya. aku berjanji akan mencintaimu seumur hidupku aku berjanji akan membuatmu melupakan Park Jungsoo . Jeongmal Gomawoyo.”

“Ne sunbae , tapi kau memeluk terlalu erat sunbae , aku kehabisan nafas.” Aku terkaget dan segera melepaskan pelukanku dan tersenyum kikuk kepadanya . Ya Tuhan aku tak bisa menggambarkan lagi kebahagiaanku sekarang . Terima kasih telah memberikan seorang Kim Hee Young kedalam hidupku .

***

Choi Hasoo POV

“Ya~ shiro , aku tak mau meminum obat itu.” Aish jinjja dari dulu dia sangat suka sekali memaksa .

“Kau mau aku meminumkan obat ini lewat mulutku ke mulutmu eh ?”

“Ya~ Namja mesum , pergi pergi.” Akupun medorongnya menjauh dari hadapanku , tak sadarkah dia bila dia dekat dekat denganku seperti itu , itu akan memperpendek umurku ?

“Ya Ya Ya , kau tega eh berlaku seperti ini pada tunanganmu?”

“Ya~ siapa yang akan bertunangan denganmu ?”

“Kau tak tau ? dari kecil kita sudah dijodohkan oleh orang tua kita”

“kau….kau ingat ?” tanyaku terbata .

“Ani , eomma yang memberitahuku.” Aku langsung melemparkan bantal ke mukanya , namja ini benar benar menyebalkan .

“Ya~ Choi HaSoo neo jinjja.” Aku berlari turun dari tempat tidur menuju balkon dan menutup jendela dari luar saat dia akan membalas melemparkan bantal ke arahku . Tak bisakah dia mengalah sedikit saja dengan yeoja .

“Choi HaSoo buka jendelanya”

“Shiro , kau pasti akan melemparkan bantal itu dan memaksaku minum obat lagi .”

“ani , disana dingin soo-ya , sakitmu akan semakin parah . aku tak akan melemparkan bantal ini dan tak akan memaksamu minum obat.”

Aku menimang sebentar dan akhirnya mengalah dan membuka jendela itu . Kyu langsung menjitak kepalaku dengan keras .

“neo paboya ? disini sangat dingin kau hanya memakai piyama seperti itu dan kau tidak mau minum obat dan berani beraninya ku berdiri disini hah ?”Teriaknya marah , ishh jinjja dia mengkhawatirkanku tapi marah marah seperti itu . Dasar Cho Kyuhyun .

“Mianhae oppa , aku bosan dikamar terus oppa , bolehkah aku disini sebentar?” kataku se aegyo mungkin , lihatlah dia bersemu merah . hahaha aku berhasil mengerjainya .

“mehrong , kau kena cho kyuhyun”

“neo” dia mendelik kearahku .

“Arra , mian mian , tapi aku benar benar ingin berada disini .” aku berjalan menuju pembatas balkon kamarku dan mulai menikmati pemandangan dari atas sini . oh bukankah itu wookie dan Hee Young ? kenapa mereka bisa berpelukan seperti itu ? aigoo kemajuan . jangan jangan wookie sudah mengungkapkan perasaanya ? Wah Kim Ryeowook aku tak mengira kau bisa sedaebak ini .

“Keurae , kau boleh disini . Tapi kau tak boleh kedinginan soo-ya , aku tak mau sakitmu bertambah parah.” Dia memelukku lagi dari belakang . aigoo haruskah dia seperti ini . efek pelukan pertama tadipun belum hilang sampai sekarang . Ya Tuhan selamtkan nyawa hambamu ini .

“Kau tak boleh protes soo-ya , arra ? \ bukankah itu wookie ? wah daebak dia berhasil mendapatkan Hee Young.”

“Kau tahu Wookie menyukai Youngie? Apakah wookie mengatakannya padamu ?”

“Ani , dari tatapannya aku sudah tau dia menyukai Hee Young.apakah kau ingin kita mempublikasikan hubungan kita seperti itu soo-ya?”

“Ya~ hubungan apa ? aku tak mau!”

“Ya~ berapa kalipun kau menolak kau akan tetap menjadi milikku Choi Hasoo ! ingat itu ! kau itu wanitaku ”

“Egois”

“Saranghae” DEG . kenapa dia mengatakan harus mengatakan itu .

“mungkin aku belum ingat masa kecil kita , mungkin aku terlalu banyak menyakitimu di masa lalu , Tapi asal kau tau soo-ya aku sudah mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu disekolah walaupun aku baru menyadarinya sekarang.”

“neo…” kataku geram . ishh masih saja dia berlaku seperti ini . menyebalkan.

“maukah kau mencintaiku Hasoo-sshi?”

“nan…”

“Kau memiliki 2 pilihan HaSoo-sshi Antara Mau dan Ya , selain itu tidak ada opsi lain untukmu . Otte ?”

“egois , bodoh , seenaknya sendiri ….”

“Ya Ya Ya, kau mau aku membungkam mulutmu itu dengan bibirku soo-ya? Cukup jawab saja mau atau iya.”

“aku tak punya pilihan lain bukan selain mau dan iya ? jadi aku mau dan iya”

“aku tau kau akan mau soo-ya , hahaha kau tak akan mungkin bisa menolak namja setampan aku.” Aku langsung melepaskan tangannya dari perutku dan mendelik kearahnya .

“Ya~aku bercanda . biarkan kita seperti ini dulu.” Dia memelukku lagi . jinjja bermimpi apa semalam sekarang bisa seperti ini dengan seorang Cho Kyuhyun .

“ah iya satu lagi , bantu aku untuk mengingat masa laluku , aku ingin memeperbaiki semuanya.”

“Shiro , bukankah kau bilang kau pintar , apakah orang pintar akan seperti ini ? bahkan hyujae yang bodohpun masih bisa mengingat masa kecil kita .”

“Ya~ kenapa kau membawa Lee Hyukjae itu . ck aku lupa karena hilang ingatan akibat kecelakaan soo bukan karena ingatanku buruk aku ..”

“Arra , kau berisik sekali cho Kyuhyun , biarkan aku tidur sebentar . aku lelah .”

“Ne arraso , jaljayo soo-ya” dia mencium puncak kepalaku dan aku mulai memejamkan kedua mataku . Cho Kyuhyun Cinta pertamaku dan Cinta terakhirku . Tak apa bila aku harus menderita terlebih dahulu , asalkan akhirnya bisa bersamanya itu sudah cukup .

::END::

Hahahaha gimana gimana FF pertama ini , jadi mohon comment .

Kasih kritik dan saran ya (?) kalo OL lewat HP susah comment , comment via twitter saya aja ya  @pipidtookyu

Kalo comment banyak insya allah bikin After storynya (pede banget lo thor #ditimpuk readers)

Terima kasih yang udah mau baca ^^ *bungkuk bungkuk*

39

[Freelance] He’s Mine and That’s It [part 7]

ei, it’s me Kei and yes, I’m back

Saya masih suka sama karakter antagonis. Jadi saya kembali dengan tokoh utama karakter antagonis. So, enjoy it, my lovely readers  (^^)v
  “Yoboseyo? Bisa kita bertemu sekarang? Ah, aku tahu. Baiklah, aku akan kesana.”

**

“Onnie!” panggil Hyori di taman belakang. Terlihat perempuan yang dipanggil onnie itu melepaskan selang air, menoleh, dan tersenyum lebar.

“Hei, calon adik iparku. Kau kemana saja? Aku merindukanmu.”

“Aku juga onnie. Maaf aku sedang sedikit sibuk. Hotel kami baru saja membuka cabangnya yang baru.”

“Ah, iya. Selamat ya. Kudengar acara pembukaannya sukses.”

“Terima kasih, onnie. Oh ya, mana ahjuma dan ajussi?”

“Mereka sedang berlibur sambil mengurusi bisnis di China.” Katanya sambil mencopot topi dan duduk di kursi taman. “Kau mau minum apa? Teh bunga krisan?”

“Tentu saja.” Jawab Hyori sambil duduk. “Onnie, aku mau bertanya sesuatu padamu.”

“Apa? Kelihatannya penting sekali.” Katanya sambil memandang Hyori. “Ah, tunggu sebentar. Ada yang menelpon.”

Hyori mengangguk sambil memandang taman yang baru saja dirawat oleh Sora. Mereka tampak beraturan dan terpangkas rapi. Terlihat seorang tukang kebun yang sedang membereskan alat-alat berkebun dan melanjutkan tugas Sora yang belum selesai.

“Hyo, ayo mengobrol di kamarku saja. Jonghun akan makan malam disini. Kau ikut sekalian ya. Biar ku telpon Hyuk Jae.”

“Tidak usah, onnie. Aku kebetulan ada acara nanti. Onnie makan malam berdua saja dengan Jonghun-oppa.” Kata Hyori.

Mereka-pun berjalan memasuki rumah dan menaiki tangga yang akhirnya sampai di kamar Sora. Kamarnya cukup besar dan manis. Wallpapernya yang berwarna pink cerah serta perabotnya yang dipilih benar-benar mewakili kepribadiannya yang ceria namun tetap elegan dan manis.

“Jadi apa yang mau kau ceritakan padaku?”

“Onnie sayang padaku?”

“Hah? Kau itu kenapa?”

“Jawab dulu pertanyaanku.”

“Iya, aku sayang padamu Hyori.”

“Walaupun aku dan Hyukie berpisah?”

“Hah? Kau ini kenapa? Kau sedang bertengkar dengan Hyuk?”

“Bukan itu, onnie.”

“Lalu?”

“Sebenarnya pertunangan kami hanya palsu. Hyukie punya pacar dan dia belum bisa memperkenalkannya pada kalian karena perempuan itu berasal dari keluarga biasa.” Kata Hyori yang dijawab dengan wajah kaget Sora. “Tapi aku mulai menyukainya sehingga aku mau dia menjadi milikku. Sayangnya dia malah menjauhiku. Sampai akhirnya aku memberikannya waktu untuk putus dari perempuan itu.”

“Lalu?”

“Waktunya habis kemarin malam dan mereka belum putus.”

“Seperti apa perempuan itu?”

“Tipikal perempuan Korea. Tidak cantik hanya baik hati. Onnie, pasti memilihku kan? Mendukungku kan?” Tanya Hyori sambil memandang Sora dengan puppy eyesnya.

“Tentu sayang. Aku menyayangimu seperti adik sendiri. Kalau kau bahagia, akupun bahagia. Aku hanya ingin kebahagian untukmu dan Hyuk Jae.”

“Yang bisa membuatku bahagia hanya memilikinya, onnie. Kalau kau ingin aku bahagia maka bantu aku.”

“Membantumu?”

“Iya, aku mau mengatakan semua ini pada ahjuma. Biar hubungan mereka benar-benar putus.” Kata Hyori lagi putus asa. “Aku sudah menyerah.”

“Apa yang telah kau lakukan?”

“Hanya hal-hal biasa. Tidak ada yang ekstrim.” Jawab Hyori sambil tiduran dan memandang langit-langit kamar Sora.

“Bagaimana kalau kau melepaskan Hyuk untuk perempuan itu?”

“Hah? Maksud onnie?”

“Kau bilang kau mau bahagia. Daripada kau makan hati dengan melihat Hyuk tidak bahagia disisimu bukankah lebih baik merelakannya pergi untuk perempuan itu?”

“Aku lebih baik melihatnya menderita disampingku daripada melihatnya bersama perempuan itu. Aku tidak suka melihat mereka bersama.”

“Tidak kah itu sedikit jahat, Hyo?” Tanya Sora hati-hati.

“Aku hanya mengatakan realitanya, onnie. Ahjuma dan ajussi tidak akan mungkin merestui hubungan mereka. Onnie ini seperti tidak tahu seperti apa keluarga kita kalau maslah pernikahan. Lihat saja onnie dan oppaku.” Ucap Hyori. Dia tiba-tiba bangun dan memandang Sora yang sedang membelakangi karena sedang membuka lemarinya, “Onnie dipihakku kan?”

“Tentu saja, sayang.”

“Terima kasih, onnie.”

**

“Kau mencintainya?” Tanya Sora pada Hyuk Jae di kamarnya. “Siapa namanya tadi?”

“Jiwoon, nuna.”

“Ah, iya. Kau mencintainya?”

Hyuk Jae mengangguk.

“Kau rela meninggalkan apapun deminya?”

Hyuk Jae mengangguk lagi.

“Bahkan harta, rumah, dan keluarga?”

Kali ini Hyuk Jae tidak langsung menjawabnya dengan gerakan kepala. Dia memandang kakak perempuannya itu dengan intens mencari tahu arah pembiacaran mereka.

“Kenapa? Kau bingung? Kau itu pernah tidak sih menonton drama Boys Before Flower episode dimana kakak Goo Jun Pyo bertanya hal yang sama?”

“Nuna, aku tidak suka menonton drama.”

“Ah, kau itu payah. Sudahlah, sekarang jawab saja pertanyaanku.”

“Aku bisa meninggalkan harta dan rumah. Tapi kalau kalian, aku …”

“Iya, keluarga. Aku, omma, dan appa. Bisakah kau membuang kami demi perempuan itu? Kau tahu sendiri kalau appa dan omma tidak menyetujui hubungan kalian.”

Ya, tadi merupakan makan malam yang ditunggu oleh Hyori dalam seminggu ini. Terhitung tujuh hari tepat setelah Hyori datang ke rumah itu untuk menceritakan permasalahannya pada Sora, tuan dan nyonya Lee kembali dari perjalanan bisnis mereka.

Makan malam yang berawal dengan suasana hangat dan berakhir dengan sedikit drama. Hyori menceritakan tentang hubungan Hyuk Jae dan Jiwoon pada orang tua Hyuk dan membuat mereka murka. Seperti yang sudah diprediksi Hyori, tuan dan nyonya Lee tidak suka dengan Jiwoon yang merupakan perempuan dari kalangan orang biasa dan mengancam Hyuk Jae untuk memutuskan hubungannya atau mereka yang akan turut campur. Hyori merasa senang karena rencananya berhasil. Tuan dan nyonya Lee merasa kasihan padanya dan membelanya mati-matian. Dengan begini maka Hyuk Jae mau tidak mau harus memutuskan hubungannya dengan Jiwoon.

“Aku bingung nuna.” Jawab Hyuk Jae sambil memijit keningnya. “Hyori itu jahat sekali pada Jiwoon. Dia memanipulasi Jiwoon dan bahkan menawarkan uang untuk Jiwoon agar dia meninggalkanku.”

“Benarkah?”

“Aku tidak pernah menyangka dia akan berbuat seperti itu.”

“Bukannya kau yang membuatnya seperti itu? Kau kan yang dulu membuatnya menjadi pacar bohonganmu?”

“Darimana nuna tahu?”

“Hyori yang menceritakannya padaku.”

“Awas nuna, dia itu pandai berbohong.”

“Coba kau ceritakan versimu agar aku tahu siapa yang bohong dan tidak.” Kata Sora sambil duduk di samping adik lelakinya. Hyuk Jaepun memulai menceritakan cerita versinya sendiri. Bagaimana dia menemukan beberapa keganjilan-keganjilan yang berujung pada percakapan Hyori dan Jiwoon sore itu pada saat Hyori menawarkan ‘bantuan’nya kepada Jiwoon.

“Oh, jadi seperti itu.” Ucap Sora pendek.

“Oh, Nuna?” Tanya Hyuk Jae tidak percaya. “Hanya itu yang reaksimu?”

“Memangnya kau berharap aku berkata apa?? Daebak?” Tanya Sora balik dan tersenyum.

“Ya!!NUNA,,AKU TIDAK SEDANG BERCANDA.”

“Aku tahu, adikku sayang.”

“Jadi bagaimana menurutmu? Kau ada dipihak mana?”

“Aku? Aku belum tahu. Biarkan aku berpikir dulu, oke?”

**

1 tahun setelahnya…

*Hyori POV*

“Onnie mau belanja apa lagi sih? Aku capai.” Keluhku pada kakak perempuanku itu. Tapi sayang dia dengan sengaja mengindahkan pertanyaanku sambil terus mencoba beberapa baju.

“Bagaimana dengan gaun ini?” tanyanya sambil memamerkan sebuha gaun berpotongan pendek berwarna hijau toska dengan taburan permata kecil di dada sebelah kanannya.

“Onnie, selera fashionmu itu lebih bagus dariku. Kenapa sih kau tidak belanja sendirian saja?” tanyaku kesal. “Aku belum sempat beristirahat. Aku hanya tidur beberapa jam kemarin.”

“Berhentilah mengeluh dan bantu aku memilih.”

“Aku akan berhenti mengeluh kalau kau membebaskanku dan membiarkanku pulang.”

“Dan aku akan menemukanmu menyibukkan diri dengan pekerjaanmu sampai lupa makan-tidur seperti yang sudah kau lakukan satu tahun ini?” Tanyanya sambil duduk dan memandang mataku lekat-lekat.

“Onnie, aku baik-baik saja. Hanya saja pekerjaanku memang sedang menumpuk akhir-akhir ini.”

“Kau menghabiskan semua jatah pekerjaanmu untuk setahun ini. Bahkan pekerjaan oppamu-pun sudah kau tangani.”

“Oppa, butuh waktu lebih sering bersama istrinya. Mereka sedang dalam program rekonsiliasi. Aku hanya membantu.”

“Omong kosong. Kau kira masalah mereka belum selesai? Kau tidak melihat seberapa bahagianya mereka sekarang?”

“Ah, onnie. Aku capai. Aku pulang ya.” Kata mengalihkan pembicaraan.

“Ya, Hyori! Aku hanya ingin mengembalikan dirimu seperti sedia kala. Aku bosan melihatmu seperti ini terus. Dia sudah bahagia dengan perempuan itu. You got to move-on, my sister.”

I do move-on, onnie.”

“Siapa yang mau kau bohongi?” tanyanya sambil mengelus rambutku. “Cuma orang bodoh yang mempercayainya, termasuk dia.”

“Setidaknya dia tidak merasa bersalah padaku.” Ucapku sambil berdiri dan pergi meninggalkan kakak perempuanku itu.

Sudah satu tahun setelah peristiwa itu. Malam dimana Hyuk Jae memperkenalkan Jiwoon pada keluarganya sebagai satu-satunya perempuan yang dicintainya.

Aku?

Sakit hati? Check.

Malu? Check.

Ingin membunuh Jiwoon? Check.

Ingin menangis? Check.

Merasa dihianati oleh Sora-onnie? Check.

Kehujanan? Check.

Menyedihkan? Check.

Demam? Check.

Ada yang kurang?

Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah aku meninggalkan jamuan makan malam itu. Yang aku dengar hanyalah teriakan dari Lee ajussi pada Hyuk Jae agar membawa Jiwoon keluar dari ruangan itu dan teriakan Lee ahjuma yang menyuruhku untuk tetap tinggal di ruangan itu. Sayang sekali aku sudah terlanjur sakit hati dengan perlakuan Hyuk Jae padaku dan juga Sora-onnie yang bilangnya akan mendukungku apapun yang terjadi. Semenjak malam itu aku menutup semua aksesku ke keluarga Lee. Bahkan telpon dari Lee ajussi dan ahjuma-pun hanya kubalas sekali dan itupun sebagai salam perpisahan. Maaf, tapi hatiku sangat sakit.

Setelah itu seperti yang sudah onnieku bilang tadi. Aku menyibukkan diri dengan pekerjaanku. Membantu appa mengurus bisnis-bisnisnya dan kadang meng-take over beberapa pekerjaan oppaku. Mereka bilang aku terlalu memaksakan diri, tapi aku hanya ingin belajar bisnis lebih dalam lagi. Toh, aku juga yang akan menggantikan appa dalam beberapa bisnisnya. Daripada aku menghabiskan waktu tidak berguna, lebih baik aku bekerja kan?

*Author POV*

“Alice!!” panggil Hyori sambil meloncat-loncat ringan.

“Hey, ada apa? Tumben sekali kau seperti ini.”

“Aku sedang senang. Projectku disetujui oleh dewan direksi dan besok akan mulai.” Katanya sambil tersenyum. “Oh ya, terima kasih sudah membawaku pulang semalam.”

“Heh? Membawamu pulang?”

“Iya.” Ucap Hyori lagi sambil memakan buah strawberry yang menjadi garnish di minumannya.

“Kapan? Kemarin? Kau kemari?”

“Hey, stop lying to me.”

“Hyo, kemarin itu aku memang kemari tapi aku pulang terlebih dahulu dan aku tidak tahu kalau kau mabuk.”

“Lalu kok tiba-tiba aku bisa tidur di apartement?” Tanya Hyori sambil memandang wajah Alice serius. Alice hanya menjawab dengan gelengan kepala.

“Nanti akan ku tanyakan pada pekerjaku.”

“Masa aku menyetir sendiri? Dan yang paling parah aku tidak ingat apapun.” Kata Hyori sambil meruntuki dirinya sendiri.

“Hei, kudengar mereka sudah putus.” Kata Alice tiba-tiba.

“Mereka? Siapa?”

“Ah, kau itu Hyo. Jangan belagak tidak tahu.”

“Aku memang tidak tahu Alice.”

Prince charming and the princess.” Kata Alice yang dijawab dengan endikan pundak yang menandakan keengganan Hyori akan topik ‘terlarang’ itu. “Kau tidak tahu atau sudah tahu dan pura-pura tidak tahu?”

“Aku tidak tahu.”

“Oh, kau tidak tahu ya? Padahal aku melihat pak Jang sedang mengintai si monyet.” Kata Aice berbisik dan membuat Hyori sedikit panik.

“Kira-kira apa yang dilakukan tangan kananmu itu disana ya? Oh mungkin dia sedang tidak sengaja disitu.” Kata Alice sambil menekankan kata ‘tidak sengaja’.

“Mu..mungkin saja. Aku tidak tahu apa yang dikerjakan pak Jang disana.”

“Oh.”

“Eh, boyce avenue sudah naik ke panggung.” Kata Hyori memutar kursinya ke arah panggung.

“Kau kira kau bisa berbohong padaku? Aku tahu semuanya.” Kata Alice lirih sambil tersenyum melihat punggung Hyori.

Alice secara tidak sengaja ‘menangkap’ pak Jang. Salah satu tangan kanan keluarga Hyori. Awalnya pak Jang tidak mau memberitahu alasan keberadaannya, tapi setelah didesak oleh Alice akhirnya dia mengaku. Dia disuruh oleh Hyori mengintai Hyuk Jae setelah mendengar kabar kalau Hyuk Jae kembali ke rumah setelah usaha kawin larinya berhasil digagalkan oleh ayahnya sendiri. Lalu setelah itu, Jiwoon memutuskan hubungan mereka dan Hyuk Jae kembali ke rumah.

Kata pak Jang, selama 6 bulan berikutnya, tidak sekalipun Hyuk Jae terlihat menemui Jiwoon. Jadi bisa disimpulkan mereka telah benar-benar putus.

**

“Oh, Minyoung-ah. Kau pulanglah terlebih dahulu. Ada yang tertinggal di ruang rapat tadi.” Kata Hyori pada Minyoung, sekretarisnya itu.

“Baik nona. Sampai jumpa besok di kantor kalau begitu.” Katanya sambil memencet tombol di lift.

Hyori berjalan ke arah ruang rapat dan mengambil handphonenya yang tertinggal. Di ruang rapat itu hanya ada seorang perempuan dan laki-laki yang sedang mengumpulkan beberapa kertas dan membereskan laptop.

“Tahan lift-nya.” Teriak Hyori tepat saat pintu lift akan tertutup. Untung saja ada sebuah tangan yang menahan pintu itu sehingga Hyori bisa memasuki lift.

“Terima kasih.” Ucap Hyori menunduk sambil mengatur nafasnya. “Kaaaau??”

Akhirnya sampai di part 7 juga *lap kringet. Jangan lupa komen ya ^^

Oh ya,,aku tiba-tiba aja kepikiran mau bikin side-story dari FF-ku yang “Kau siapa?” yang di post dalam rangka ultahnya Eunhyuk (kalau mau search, ini FF di publish di tanggal 4 April). Jadi ntar ceritanya bukan dari POVnya Eunhyuk tapi POVnya author. So, what do you think?

TBC

Tag: Eunhyuk (Lee Hyuk Jae)

4

[Freelance] Angel Hranitel [Part 7a]

Angel Hranitel’  (part7a)

Credits by. Lucas Delacroix

Tags. Super Junior, Park Eunri, Jo Seungmi

Notes: I’m in MISERY…annyeong haseo, my lovely-exist-readers or my lovely-silent-readers. I love you all..You already know that I’m a high school student at third grade, right? Maybe this is my last part before I take a lot of things for my-stupid-graduate year..i’ll take a long-long holiday from writing. I promise, I’ll continue this story after this…I mean, after my graduate. Wish me luck, guys..pray for me..for national exam or SAT test. I’ll take a school of midwifery…J

And from this part..a place information such as Hampton hill, high school at blablabla..i’ll no longer to used it..i’ll use something which is more like..poem?? kekekkk, enjoy it!

  Do you think who I am ? A Wizard of Oz ?

6 days later after that terrible confession..

Aku memperhatikan bentuk luka dibagian bawah pergelangan tanganku dengan seksama. Rasanya agak sakit jika terus kuperhatikan seperti ini. Entah sudah berapa lama aku memiliki kebiasaan baru seperti ini. Rasanya seperti sudah lama sekali.

Semenjak Dre mengungkit soal bekas luka ini, aku jadi terus memperhatikannya. Aku terus memperhatikannya berharap seperti anak kecil kalau kulihat terus-menerus maka bekas luka itu akan hilang. Tapi, mau selama apapun aku memperhatikannya, bekas luka itu akan terus berada disana, tidak akan bisa hilang, kecuali ada yang membakar tanganku. Itu pun tidak mengubah nasibku sama sekali.

Tidak akan merubah kenyataan kalau Eunri dan aku berada dalam satu garis keturunan yang sama. Tidak akan ada yang berubah jika luka ini tetap ada disini, menggariskan nasib hidupku.

Benar-benar sial..

Aku benar-benar sesial Eunri sekarang. Tidak akan ada yang bisa kulakukan sekarang selain menjaga gadis sial itu untuk terus hidup agar segel yang tertanam baik-baik didalam tubuhnya tidak lepas seperti yang diinginkan Minerva.

Aku tidak ingin menjadi sesuatu-yang-bodoh yang mau melindunginya.

“Tubuh manusia memang tidak enak,” keluh Reed, menjatuhkan diri disebelahku yang duduk tenang di pinggir pelabuhan. Rambutnya yang pirang keemasan jatuh berantakan disampingnya, setengahnya menyentuh tanganku. Aku mengangkatnya beberapa kemudian menjatuhkannya. “Aku sudah tidak tahu seberapa banyak yang kubunuh,” dia menunjuk kebelakang, memintaku untuk memeriksanya.

Hampir lima vampire liar dibunuhnya dalam satu kali gerakan.

“Hampir lima, jika saja kau membunuh yang salah satunya..,” aku melempar Folianch-ku dalam satu kali gerakan dan tepat mengenai kepala seekor vampire yang tersuruk-suruk marah, “Tepat dikepalanya,” aku melanjutkan. “Mereka seperti puzzle. Kalau tidak benar-benar dikepala atau dibakar, mereka tak kan mati,”

Reed mengangkat kepalanya malas, “Wow,” pujinya dengan sikap yang malas.

Aku menghela napas lelah. Aku hampir sama lelahnya dengan Reed, tapi aku hanya berusaha menyembunyikannya. Sudah hampir tiga hari aku membiarkan diriku kelaparan demi menulusuri kota mulai mencari informasi. Kini aku tidak bisa tidur sama sekali sebelum aku berburu dan Dre belum memperbolehkanku untuk tidur.

Semenjak aku berhasil menguasai kekuatanku sendiri—yang ternyata diluar dugaanku, hanya membutuhkan satu setengah hari—Dre langsung menarikku untuk berpatroli bersama dirinya, Reed dan Ethan disetiap kota di Negara ini hanya untuk memastikan sesuatu yang kelihatannya hampir mustahil untuk diketahui..

Keberadaan Minerva..

Kami berpergian setiap malam, mencari setiap vampire yang menetap disisi kota yang membaur dengan manusia dan mendapatkan informasi dari mereka yang mungkin memang tidak ingin mati ditangan kami.

Kebanyakan dari mereka menuntutku. Menuntutku yang berada bukan dipihak mereka dan membiarkan mereka mati begitu saja. Mereka tahu siapa aku dan bagaimana Minerva menganggapku.

Sangat menyebalkan dimana kau tidak mau diperlakukan dengan terhormat dan dikudeta dalam waktu sekaligus.

“Kenapa kau membiarkan kami mati, Elliot?!” raung seorang vampire wanita bertubuh ramping dan mungil hampir seperti Lilith. “Kenapa kau berada dipihak mereka? Aku tidak salah! Saudara-saudaraku juga tidak bersalah! Kami tidak pernah membunuh manusia, tapi kenapa kami dibunuh hanya karena kami tidak mau memberitahu dimana Lady Minerva?”

Aku memejamkan mataku. Lagi-lagi hal ini. Harus berapa kali lagi aku disalahkan?

Dre menundukkan tubuh gadis itu dengan pelan-pelan, berusaha tidak mau menyakitinya. Mungkin karena perawakan kecilnya mengingatkannya pada adikku, “Kami akan bersikap baik padamu, sekarang kenapa tidak kau katakan saja dimana Minerva? Aku tahu kau pasti mengetahui semuanya. Aku sudah melihat semuanya, Ellarose..,” bisik Dre, memanggilnya dengan teramat lembut. Gadis itu berhenti menangis. Wajahnya termangu. Matanya menerawang kosong. “Kau bisa beritahu aku apa saja,”

Dre lagi-lagi mencuri sebagian memori si vampire malang itu dari dalam kepalanya.

Lady Minerva..,” desisnya memulai pengakuannya, “Aku tidak bertemu dengannya. Aku hanya melihatnya sedang berbicara dengan ibuku. Dia menanyakan soal keberadaan putranya. Ibuku tidak mau memberitahunya..dan Minerva..,” gadis itu menyebut namanya dengan penuh rasa dendam dan kemarahan yang memuncak. Aku bisa melihat kedua tangannya yang terkepal bergetar. “Wanita sialan itu..membunuh ibuku. Dia membunuhnya karena melindungimu darinya!!” vampire yang bernama Ellarose itu berteriak marah kehadapanku. “Apa yang kau rasakan jika seorang manusia yang sudi mengurusmu sebagai anak dibunuh begitu saja karena melindungi orang lain yang bahkan tidak dikenalnya?!! Bagaimana perasaanmu, Elliot?!”

“Elliot, mundur,” Reed bangkit dan berdiri dihadapanku, mendorongku pelan kebelakang tubuhnya. Rambut pirang keemasannya menyapu wajahku. “Dia bisa melukaimu kapan saja,”

Ellarose mencondongkan tubuhnya padaku. Kedua pasang taringnya, mencuat tajam khusus untuk merobek kulitku. Kedua matanya bahkan tidak lagi berkilat polos, melainkan tampak berwarna abu-abu penuh kemarahan.

Aku tidak bisa membiarkannya menganggap bahwa akulah yang menyebabkan ibunya terbunuh.

Dan aku tidak bisa membiarkan seorang wanita rapuh berusaha melindungiku sampai harus mempertaruhkan nyawa seperti itu..

Aku menarik Reed yang melindungiku dan mengabaikannya yang berusaha menarikku kembali. Aku menghampiri tubuh ringkih Ellarose yang bergetar takut tapi tetap tegar saat aku menghampirinya. “Biar kubayar nyawa ibumu,” bisikku. Aku menahan rahangnya dengan tangan kananku. “Dre lepaskan dia,” pintaku.

“Kau jangan gila, Elliot,” seru Ethan. “Kau pikir segala akan mudah jika kau melepaskannya?”

“Lepaskan dia!” perintahku kali ini hampir membentak. Dre melepaskan kekangannya pada gadis itu dan serta merta Ellarose langsung menerjangku, membuatku terjatuh dalam sekali sentakkan. Wajahnya yang marah kini tidak begitu jauh lagi dengan wajahku, hanya berjarak beberapa centi saja.

“Kau ingin membunuhku, kan? Kau ingin nyawa ibumu terbayar, kan?” aku menepuk-nepuk  pipi pucatnya. “Kau boleh membunuhku. Aku ingin membayar hutangku pada ibumu yang baik itu,” ketika aku menyebut ibunya, Ellarose seperti ditampar keras. Kesadarannya pelan-pelan kembali. Wajahnya mulai menyendu dan airmatanya menggenang. “Aku..berterima kasih pada ibumu, Ellarose,”

Ellarose langsung terisak kencang diatas dadaku, menangisi ibunya yang mati bodoh karena melindungiku yang bahkan belum pernah bertemu dengannya. Dia hanya wanita paruh baya yang baik hati. Aku bisa melihat semua kebaikannya pada ingatan Ellarose..

“Kau tahu, aku juga punya ibu dan adik yang sama rapuhnya dengan ibumu,” bisikku. Langit gelap kota Arsenal diatas kepalaku berkelip-kelip penuh dengan bintang. Tiba-tiba aku merasakan kesedihan yang purba.

Serra juga mati karena melindungiku, kan?

Berapa banyak lagi orang yang harus mati karena melindungiku…?

“Aku punya ibu yang begitu baik dan cantik..juga adik perempuan kecil yang mungkin seumur denganmu. Jika mereka mati..mungkin aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku kagum padamu yang masih bisa berdiri tegar mencari teman untuk perlindungan,” aku tersenyum pahit. “Mungkin jika aku mengalami hal yang sama denganmu, aku akan lebih memilih mati,”

Atas semua kesalahanku, mungkin, memang sepatutnya aku mati. Aku bahkan tidak tahu, berapa banyak diluar sana Incubus atau vampire yang berusaha melindungiku dengan mempertaruhkan nyawa mereka karena mereka tahu tidak seharusnya mahluk itu bangun dari tidur panjangnya.

Berapa banyak lagi nyawa yang harus kukorbankan?

Apa keluargaku juga harus mati karena melindungiku?

Atau Eunri mungkin juga harus mati demi menolongku jika ia tahu?

Seberapapun besar rasa benciku padanya, aku tidak mungkin membiarkannya mati hanya karena seorang laki-laki yang bahkan tidak mau menjabat tangannya itu.

Aku tidak mau menjadi yang selamanya bersalah ditempat ini…

Tidak. Tidak ada lagi kematian..untukku atau untuk siapapun disekitarku..

      *****

      Pagi ini awan gelap menggelayut dilangit, menutupi semua akses matahari untuk menunjukkan sinarnya yang cerah. Kabut tipis bahkan menggantung diudara seperti sekumpulan awan yang turun kebawah.

Kelihatannya siang ini akan hujan deras..aroma kabut yang lembab terlalu pekat diudara.

Aku melirik keluar dari balik jendela-jendela besar lorong sekolah yang berembun. Kabutnya terlalu tebal, ditambah cuaca yang tiba-tiba menurun drastis, membuatnya segalanya jadi sulit kualami. Terutama aroma manusia yang tercium lebih pekat jika cuacanya seperti ini.

Harapan terakhirku hari ini pada Tuhan, semoga saja aku tidak dipertemukan oleh neraka kecilku hari ini. Sudah cukup berat aku menahan rasa laparku hari ini.

“Hei, Hei, jangan membuat keributan. Kumohon tenanglah. Tunggu beberapa teman kalian yang sedang dipanggil dari gedung utara,” celoteh Madam Vee saat beberapa diantara siswa yang dipanggil membuat keributan dilorong. “Termasuk kalian, siswa kembar baru!” dia menunjuk Reed dan Ethan. Ethan sedang menahan Reed yang hendak memukul Dre lagi, entah apa masalah mereka. Lagipula, sebenarnya masalah terbesar mereka adalah, kenapa ikut-ikutan menjadi siswa menengah keatas yang membosankan seperti ini hanya dengan alasan dangkal ingin mengawasiku? Jadi mereka berusaha keras

keluar dari dimensi yang mengerikan itu hanya untuk bersekolah?

Aku hampir ingin tertawa miris.

“Haruskah kita masuk kekelas ini, Elliot?” tanya Ethan alih-alih menahan tubuh mungil Reed.

Aku menghela napasku yang terasa berat.

Itulah..aku tidak tahu  kalau sebenarnya ada hal semacam ini. Kalaupun aku tahu, aku mungkin sudah menolak program ini. Hal yang kutahu hanyalah pagi tadi Mr. Caster melemparku dengan sengaja dari kelas kimianya yang aman.

Sebenarnya ini program yang bagus, tapi bukan untukku atau Dre atau Reed bahkan Ethan yang bisa lolos keperguruan tinggi tanpa buang-buang waktu. Seharusnya orang-orang seperti kami dibiarkan saja dikelas regular dan memberikan tempat kepada mereka yang memang benar-benar berbakat.

Kelas khusus ini tidak seharusnya untuk orang-orang seperti kami.

“Kurasa harus, karena tes masuk kalian nilainya hampir sempurna,” jawabku, memutar bola mata, teringat dengan kertas pengumuman nilai tes penempatan milik mereka yang nilainya nyaris sempurna. Jika seandainya Dre, Reed atau Ethan tidak mengerjakan soal itu dengan sungguh-sungguh, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya.

“Aku hanya mengabulkan keinginan ibunya Donghae untuk membuat putranya bisa mendapatkan kelas berbakat dengan mudah,” kata Dre mengangkat bahu. “Soalnya terlalu mudah. Aku heran kenapa Donghae tidak bisa melewatinya dalam kurun waktu dua tahun,”

Aku  mendengus. Mudah bagimu bicara, tapi tidak untuk bocah itu. Dia butuh tiga tahun bahkan untuk bisa menyelesaikan soal SAT trigonometri dan susunan deret geometri yang terkenal bisa membuat siswa muntah dalam hitungan detik. Tidak heran Donghae selalu ikut kelas pengulangan kalau urusan matematika.

“Ayo anak-anak, berdirilah dengan baik supaya aku bisa mengabsen kalian semua,” Madam Vee menepuk-nepukkan tangannya ketika Mrs. Cope membawa murid-murid lain yang hampir sama menggerutunya denganku dari gedung utara.

Kebanyakan mereka hampir mengeluh setengah mati dengan kebosanan untuk setahun kedepan yang harus mereka jalani. Lain denganku dan Dre yang hampir menghela napas lega karena tidak harus berkutat dengan tipe-tipe kutu buku membosankan yang ternyata tidak terpilih sama sekali dalam kelas berbakat ini.

Tipe-tipe kutu buku dikelas ini paling-paling…

Park Eunri? Lagi? Sedang apa anak itu disini?

Tuhan benar-benar sedang tidak berbaik hati padaku hari ini..

Tanpa sadar aku mundur perlahan ketika menangkap sosok mungil itu berdiri diseberang tampak mungil diantara siswa-siswa bertubuh tinggi disekitarnya.

Sosok mungil itu menangkap gerakanku dalam pandangannya. Kedua matanya membulat syok, tidak percaya. Ada sedikit kekesalan melintas dimatanya.

Aku menurunkan lengan kemejaku sampai batas pergelangan tanganku.

Tidak bisa. Tidak seperti ini..

“Aku keluar,” desisku agak keras karena buktinya Madam Vee mendengar kalimatku. Wanita paruh baya itu berbalik dan memelototiku dari balik kacamatanya yang berbingkai tipis.

“Apa maksudmu, Jo Kyuhyun?” tanyanya hampir mendesis seperti ular. Beberapa siswa bergidik takut saat Madam Vee memelototiku seperti itu. “Asal kau tahu, ini kelas wajibmu, pintar,” cibirnya pedas. ‘Apa-apaan anak ini? merasa sudah sok pintar??’

Aku merogoh sakuku—mengabaikan cibirannya— membuka dompetku dan memberikan kartu pelajarku pada Madam Vee, “Aku keluar dari kelas ini,”

      *****

Eunri’s point of view

Dia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu dari dompetnya yang tampak tebal. Aku tidak tahu apa itu, tapi aku menduga beberapa lembar uang nominal besar terselip didalamnya.

Seharusnya dari awal aku sudah menduga kalau orang itu akan masuk dalam program kelas ini. Dia itu “terlalu” pintar dan tidak mungkin pihak sekolah menyia-nyiakan hal seperti ini untuk mempromosikan sekolah mereka pada Universitas-universitas ternama demi melonjakkan nama sekolah ini dengan cara yang paling mudah.

“Aku keluar dari kelas ini,” Kyuhyun menaruh kartu pelajarnya tepat diatas tangan Madam Vee, membuat wanita paruh baya itu melotot lebar hampir mengeluarkan bola matanya sendiri. Madam Vee menarik tangan Kyuhyun tepat sebelum ia berbalik.

“Apa maksudmu, Jo Kyuhyun?” Kyuhyun menarik tangannya  dengan sikap jengah. Dia sepertinya memang benci disentuh atau alergi? “Biar aku luruskan,” Madam Vee mendesah hebat, tetap berusaha sekuat mungkin untuk tidak mendebat laki-laki itu. “Kenapa aku jelaskan kelas ini wajib untukmu, Kyuhyun? Karena kau siswa terbaik yang kami miliki. Jika kau keluar dari kelas ini,” Madam Vee mengangkat bahunya pura-pura tidak peduli walaupun lebih kelihatan sebaliknya bagiku.

“Apa masalahku jika aku keluar dari kelas ini? Aku sudah diterima di Universitas Cambridge. Aku hanya butuh menyelesaikan essai terakhirku dan ujian akhir sekolah,” balasnya tenang seperti mendapat kemenangan. Madam Vee diam saja tidak menyangkal satu pun kalimat sombongnya—walaupun dia tidak terlihat begitu sombong ketika mengatakannya. Mungkin aku mengatakan sombong karena faktor rasa sebalku padanya.

“Aku tidak menyangkal, kau memang pintar,” Madam Vee tersenyum. Tangannya terbuka lebar ke arah kami, “Tapi jika kau cukup pintar, kau tidak mungkin membiarkan sembilan belas siswa lainnya kehilangan kesempatan emas yang sama denganmu. Karena jika kau keluar, pihak Cambridge akan menghentikan subsidi beasiswa-nya. Pikirkan yang lainnya,”

Kerumunan orang dibelakangku mulai berbisik-bisik protes. Mereka tidak berani sama sekali berbicara lebih dari sebuah bisikan. Kyuhyun terlalu banyak mengintimidasi kami dengan segala sikapnya yang jauh dari kata ramah itu.

Aku tidak bisa bertahan lagi.

Mungkin aku kurang suka dengan nasibku yang tiba-tiba memburuk dan dikelompokkan seperti orang bodoh. Tapi tetap saja. Aku tahu bagaimana rasanya di intimidasi sekaligus dihancurkan harinya dalam sekali waktu.

Aku melangkah maju keluar dari kerumunan, selaras dengan langkah mundur pelan Kyuhyun yang mengamatiku keluar dari kerumunan. Kedua tangannya bergerak menurunkan lengan kemejanya yang sudah turun. “Aku keberatan,” sahutku dengan nada sok yakin yang kubisa. Intimidasi Kyuhyun terlalu kuat, hampir membuatku sulit untuk menghadapinya.

Aku tidak perlu takut pada orang tidak ramah itu..

“Aku keberatan karena ini juga hak-ku. Aku punya hak untuk mendapatkan beasiswa itu, Jo Kyuhyun, jika aku boleh menyebut namamu,” kataku sombong. Aku mengangkat daguku, berusaha bersikap anggun dan angkuh seperti yang kupelajari dari Kirstjen Millar, si gadis pesorak. “Dan aku akan keberatan sekali jika aku terpaksa kehilangan beasiswa itu hanya karena,” aku menelan ludah, “Harus mengalah demi kecengenganmu itu,”

Donghae mengatupkan mulutnya cepat, menahan tawanya yang hampir meledak saat aku mengatai Kyuhyun ‘cengeng’. Sedangkan si anak kembar baru itu—cukup menghebohkan karena pasangan kembar itu berhasil menyedot perhatian seantero kota dalam waktu sepagian karena kedatangan mereka yang mengejutkan sebagai keponakan Madam Ellena yang flamboyan itu—lebih senang menyembunyikan senyum senang mereka dengan memalingkan muka.

Reaksi positif ini hanya membuatku berani saja..

Kyuhyun menatapku, terkejut—mungkin hampir menganga jika ia tidak tahu malu. Wajahnya menyiratkan kebingungan sekaligus geli dalam waktu bersamaan. Alisnya yang sempurna mengerut diantara dahinya. Bibirnya terkatup rapat. Matanya yang berwarna gelap itu bergerak pelan, memperhatikanku. Beberapa detik setelah membiarkanku berada diatas awan karena berhasil meledeknya, dia menggeleng. “Aku tidak punya urusan denganmu, Eunri,” katanya mendengus.

Apa?

Tidakkah aku bermimpi sekarang?

Kyuhyun bicara padaku? Kyuhyun memanggil namaku?

Sarapan apa yang ia makan tadi pagi sampai-sampai kepala korslet begitu? Ditambah dia tersenyum remeh sekarang.

“Bukan urusanku jika kau kehilangan beasiswa-mu Park Eunri. Kau pikir aku akan simpati?” Kyuhyun masih bicara padaku, tapi mengambil langkah mundur. “Aku bahkan tidak berharap sekelas denganmu,”

DANG!

Terasa seperti ditampar keras-keras, kalimat pedas Kyuhyun mengembalikan sisi normalku yang mulai bermasalah semenjak senyuman itu muncul dan suara berat itu memanggil namaku.

Suara sumbang dikepalaku memintaku dengan-teramat-sangat-keras untuk menghantam wajah sempurnanya itu dengan tas-ku atau mungkinConverse All-star abu-abuku.

“Kenapa kau membenciku? Inikah alasanmu keluar dari kelas ini? hanya karena keberadaanku?” tanpa sadar kalimat itu meluncur begitu saja tanpa bisa kutarik atau kuedit lagi. Suara bisik-bisik mulai terdengar lagi, tapi kali ini lebih seperti curiga ketimbang desis protes.

Kyuhyun tersentak pelan.

Kesinisan diwajah Kyuhyun menghilang, berubah menjadi muram. Dia tampak seperti orang yang mengalami kehidupan yang buruk dan dipaksa untuk mengaku. Dia bersikap seakan-akan seperti ada yang sedang menghukumnya berat.

Kemudian dia menghela napasnya dengan teramat pelan dan mengerang dalam diam. Walalupun yang lain tidak bisa mendengarnya, tapi telingaku cukup mampu untuk mendengar suara itu.

Tanpa bicara dia mengambil lagi kartunya dengan sikap terpaksa dari tangan Madam Vee dan melenggang masuk kedalam kelas tanpa menghiraukanku lagi. Dia hanya menarik ujung tali ranselku lalu melepaskannya didepan pintu, membuatku terkesiap beku didepan pintu.

Apa maksudnya menarik tali ranselku?

“Anggap saja hari ini dia sudi berdamai denganmu, Eunri,” sahut Donghae di belakangku tiba-tiba. Aku berbalik, memperhatikannya yang menyandar santai di loker. “Lalu? Kita akan selamanya disini? Dan membiarkan si maha pintar itu sendirian didalam?” dia mengedarkan pandangannya pada kami. Beberapa diantara kami tersadar dan mulai bergerak, termasuk Madam Vee yang menepuk-nepukkan tangannya menyuruh kami untuk bergerak lebih cepat. Aku yang masih mematung didepan pintu, ditarik oleh Donghae sampai kedalam.

Mereka mulai menyebar mencari tempat duduk. Aku berharap Donghae mengajakku duduk bersamanya, tapi sayangnya dia lebih dulu mengajak Angela untuk duduk bersamanya. Si kembar itu duduk bersama, dan yang lainnya lebih senang untuk tidak memilihku menjadi patner kelas ternyata. Hanya aku yang tertinggal sendirian dihadapan kelas dan bangku kosong disebelah Kyuhyun menungguku.

Dasar sial. Sudah bertengkar malah harus terpaksa duduk disebelahnya. Bagaimana perlakuannya nanti padaku. Dia saja rela menukar semua jadwalnya demi untuk tidak bertemu denganku dalam satu kelas, tapi sekarang malah dipaksa duduk bersama. Aku harus habiskan tahun terakhirku bersama orang yang tidak menginginkanku. Bakal seperti apa reaksinya nanti?

Ya Tuhan..rencana apa lagi ini? Aku lelah menjalani hidup baruku disini sebagai putri tunggal walikota yang berhasil pulang setelah melarikan diri bersama kakak laki-lakinya karena kecewa dengan perceraian orang tua. Lalu sekarang harus menjalani hidup sebagai teman sebangku yang tidak diinginkan? Sebenarnya dosa apa aku sampai sesengit ini pembalasannya?

Aku seharusnya percaya saja pada Mom kalau Hampton Hill bukan kota kecil yang baik untukku. Semuanya tampak jahat dan memperlakukanku seperti benda berharga yang mudah rapuh. Kalau aku boleh berteriak, aku akan berteriak bahwa aku bisa berdiri sendiri tanpa harus ada ratusan pasang mata yang mengawasiku.

Aku melangkahkan kakiku pasrah ke meja itu. Tidak ada pilihan. Ini satu-satunya tempat duduk yang tersisa. Suka tidak suka aku harus mendudukinya untuk setahun kedepan. Lagipula Kyuhyun tampaknya tak kan bersikap menyebalkan kalau aku tak mengganggunya. Aku hanya harus bersikap normal seakan-seakan tak mengenalnya.

Itu akan lebih baik. Untuknya atau untukku.

Setelah hampir terantuk kakiku sendiri, aku berhasil duduk dikursiku sendiri. Aku menaruh tasku diatas meja dan melirik kesamping dengan sikap waspada. Kyuhyun sedang menarik bangkunya—dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi—menjauh dariku. Dia bahkan tidak keberatan terpojok begitu hanya agar dia bisa duduk sejauh mungkin denganku. Kemudian setelah beres dengan urusan kursinya, Kyuhyun mengedarkan pandangannya keluar. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat diatas pahanya, membuat semua urat-urat yang selama ini tersembunyi dibalik kulit putih sempurnanya terlihat dan tampak tidak sekurus yang kubayangkan karena Kyuhyun membiarkan lengan baju kanannya terlipat sampai batas siku.

Dia menoleh, mendapatiku yang sedang memperhatikannya. Aku cepat-cepat membuang pandangan maluku. Seberkas merah jambu sepertinya mulai menyebar di pipiku. Rasanya hangat.

Dia memperhatikanku. Raut wajahnya berkerut bingung antara tidak suka dan tidak puas. Entah pada apa tapi aku rasa itu ada pada diriku. Kemudian dia mengerang pelan lagi. Hampir sama dengan erangan pertama, seperti tampak tersiksa atau apa.

Kemudian,

“Eunri,” panggilnya tiba-tiba yang praktis langsung membuatku terkejut. Aku bahkan hampir menjatuhkan buku kalkulus ditanganku. “Ah, maaf. Aku tidak bermaksud mengejutkanmu,”

“Ti-tidak. Aku baik-baik saja,”

“Aku hanya..,” dia mengulurkan tangannya kearahku tapi kemudian diurungkan. “Bisakah kau menyingkap rambutmu?” aku menyingkap rambutku. Dia tampak sedikit agak melega. “Terima kasih. Itu jauh lebih baik,” kemudian dia cepat-cepat membuang mukanya. Fokus lagi pada pemandangan diluar kelas.

Apa maksudnya? Apa dia juga terganggu dengan kuciranku atau bagaimana?

Sumpah demi Tuhan aku tidak mengerti.

Aku menutup diri, berusaha tidak bicara atau apapun. Yang kulakukan hanya fokus dan bersikap seakan-akan aku mengikuti semua pelajaran yang Madam Vee jelaskan., walaupun pada kenyataannya aku malah terlalu sibuk memikirkan apa yang Kyuhyun benci dari kehadiranku.

Tidak ada yang peduli dengan kalkulus jika orang disebelahmu bersikap mengancam.

Jam pelajaran berakhir. Kyuhyun lebih dulu berdiri beberapa detik sebelum bel berbunyi. Tepat saat bel berbunyi dia sudah melesat keluar kelas dengan sikap sangat tidak bersahabat.

Aku menghela napasku yang terasa sesak. Apa-apaan itu tadi? Memang aku sebegitu menyebalkannyakah baginya?

“Apa yang kau lakukan Eunri?” tanya Donghae yang tiba-tiba saja sudah bersandar diujung mejaku. Aku memasukkan barang-barangku dengan ganas kedalam tas. “Kyuhyun..tampak seperti orang yang hampir ditusuk pensil atau apa. Apa kau menusuknya?”

“Menusuknya pun tidak,” gerutuku yang mengundang kekehannya yang terdengar seperti denting lonceng angin yang menyenangkan.

“Jadi, kau mau ke kantin bersama? Mungkin ini lebih baik daripada kau sendirian dan memikirkan sakit hati,” Donghae mengangkat bahu. Aku tidak tahu tapi sebenarnya tawaran Donghae bagus juga. Donghae terlihat lebih ramah ketimbang Kyuhyun. Dan aku lebih nyaman jika aku bersama dengan Donghae ketimbang duduk –walaupun hanya semenit—bersama Kyuhyun.

“Baiklah. Tidak ada salahnya,”

      *******

Kyuhyun’s point of view

Aromanya menampar wajahku seperti pendobrak yang tak ada ampun. Perutku lapar, bergejolak keras. Monster didalam tubuhku berteriak keras minta dilepaskan. Air liurku mengumpul diujung mulut, membayangkan manis darahnya membanjiri tenggorokanku.

Tidak akan lagi ada hal seperti ini untuk seribu tahun kedepan sekalipun..

Aku melirik seisi kelas dengan ekor mataku. Hanya beberapa manusia rapuh ditambah beberapa Orpheans yang mudah ditundukkan. Hanya butuh beberapa detik bagiku untuk membantai isi kelas ini. Tidak akan ada yang sadar. Aku bisa menghabiskan mereka semua sebelum Madam Vee sempat sadar.

Aku bisa menghabisi Eunri bahkan sebelum dia berteriak takut.

Aku sudah siap dengan semuanya. Aku mengerang, merasakan kedua mataku memanas seperti ada api yang membakarnya. Tidak sedikitpun pikiranku sekarang mendekati sisi manusia.

‘ELLIOT!! SADARLAH!!’ pekik Dre begitu keras dikepalaku, membuatku tersentak pelan tanpa sadar. Aku meliriknya. Dia, Reed dan Ethan memperhatikanku dengan tajam. ‘Fokuskan dirimu! Lakukan sesuatu yang mungkin bisa mengalihkan aromanya,’

‘Minta dia menyingkap rambutnya. Kurasa itu membantu,’ saran Reed. Dia menyingkap rambut pirang keemasannya dengan tangan, berusaha membuatku mengerti. ‘Itu sangat membantumu. Rambutnya bisa mengaburkan aromanya yang terlalu pekat,’

Aku mengangguk pelan, tidak kentara. Kemudian dengan sikap sangat terpaksa, aku beralih pada Eunri yang duduk kaku diatas bangkunya yang nyaman. Aku berusaha menghibur diriku sendiri kalau ia takut pada monster sepertiku.

Ya..dia seharusnya takut, mengingat reaksinya saat melihatku dirumah sakit itu..

“Eunri,” panggilku tanpa bernapas, berusaha sesopan mungkin. Gadis itu menoleh cepat, terlalu antusias. Aku mengerang melihat sikapnya yang hampir mengundangku seperti itu. Monster didalam tubuhku berteriak keras meminta ini dipercepat. Kembali, setengah bagian isi kepalaku sudah tidak lagi mendekati sisi manusia manapun. Beribu cara melintas didalamnya, memikirkan banyak kesempatan yang kupunya untuk membunuh gadis rapuh dihadapanku ini. Untung saja Dre terus menerus memukul-mukul permukaan mejanya, setidaknya dengan suara yang ditimbulkannya itu, aku bisa berusaha sesadar yang kumampu.

Gadis itu rasanya terlalu terkejut sampai hampir menjatuhkan buku kalkulus dari tangannya. “Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu,” ucapku dengan penuh paksa, meredam keinginanku untuk menempelkan mulutku pada relung lehernya yang putih dan hangat itu. Aku memejamkan mataku, tersiksa.

“Ti-tidak, aku baik-baik saja,” bisiknya gugup dengan suara teramat lemah. Aku tersentak pelan mendengarnya.

Kenapa suara itu terdengar begitu lemah dari seharusnya? Apa dia takut padaku?

Tunggu..seharusnya dia memang takut padaku, kan? Tapi kenapa aku merasa agak tidak rela? Sesaat aku lupa dengan keinginan terbesarku untuk menghabisinya.

Tubuh mungilnya tampak begitu rapuh sekali dimataku. Dia hampir kelihatan seperti menggulung tubuhnya sendiri diatas bangkunya. Dia tampak tidak ingin menganggu privasiku. Mata cokelat itu bahkan mengerjap segan, seakan dia tidak ingin membuatku jauh lebih membencinya.

“Aku hanya..,” aku mengulurkan tanganku, ingin merapikan rambutnya dan menyingkapnya agar aku tahu apa sikapku benar-benar mengganggunya atau tidak. Tapi ketika dia menghembuskan napasnya dan aroma manis itu menampar wajahku dengan begitu keras sebelum aku sempat memalingkan wajah, aku kembali membencinya untuk sesuatu yang mustahil. “Bisakah kau menyingkap rambutmu?” tambahku datar. Dia menuruti permintaanku. Tanpa bertele-tele, dia langsung menyingkap kuciran kudanya yang berantakan

Seperti kata Reed, ini sangat membantu sekali. Aku hampir mendesah lega. Aromanya diudara agak terhamburkan oleh rambutnya. “Terima kasih, itu jauh lebih baik,”

Dan tanpa menambah kata-kata lagi, aku memalingkan wajahku darinya, berusaha tidak membayangkan darahnya yang—mustahil akan menjadi milikku—mengalir dibalik kulitnya yang transparan.

Aku berusaha keras memikirkan ayah dan ibuku. Aku memikirkan adikku. Aku memikirkan mereka yang akan kesulitan jika aku melakukan hal ini. Aku harus memikirkan kebaikan Ahra yang telah begitu baik mengurusku, melebihi ibu manapun didunia ini, atau Matthew yang telah menjadi ayahku yang tidak pernah mengkekangku soal apapun dan membanggakanku sebagai putranya. Aku juga memikirkan Lilith, adikku. Aku tidak mungkin membiarkannya sedih karena melihatku melanggar janjiku sendiri pada Krsytal..

Jika saja tidak ada mereka, mungkin aku sudah memutuskan untuk menghabisi diriku sendiri.

Aku melirik jam dinding diatas kepala Madam Vee. Lima belas detik lagi bel akan berbunyi. Kenapa rasanya 6 detik saja lama sekali?

Tujuh detik sebelum bel berbunyi, aku sudah bangkit berdiri dan melesat keluar kelas tepat saat bel berbunyi. Aku bisa mendengar Eunri menghela napasnya yang begitu sesak. Dia membanting tasnya keatas meja.

Dia pasti tersinggung dengan sikapku.

Aku tidak peduli. Dia mau tersinggung atau apa, itu bukan urusanku.

Ini semua adalah pembalasan dosaku.

Tumpukan dosa yang selama ini kulakukan dan kusembunyikan diam-diam didalam tubuhku, membiarkannya bersarang dan menjadi tumpukan dosa didalam tubuhku.

Tidak heran jika Tuhan marah padaku dan menimpakan Eunri sebagai neraka kecil untukku, sebagai pembalasan atas semua dosa yang selama ini sudah kulakukan.

Aku berhenti berlari, merasakan sesuatu yang sesak menggumpal didadaku. Kemudian tiba-tiba berhenti, merasakan gumpalan itu mulai menyulitkanku untuk bernapas.

Tanpa sadar aku memukul keras dinding beton sekolah dihadapanku sampai menimbulkan bunyi “buk” yang mengerikan. Beberapa orang yang berjalan disekitarku melambatkan langkah mereka dan memperhatikanku dengan sikap curiga dan penasaran.

Ini hanya sebuah fase..fase terburuk dalam hidupku..

  “Apa yang kau lakukan Eunri?” terdengar jelas ditelingaku suara Dre yang menggelegak dikepalaku seperti denting lonceng diantara dengung lebah. “Kyuhyun..tampak seperti orang yang hampir ditusuk pensil atau apa. Apa kau menusuknya?”

Aku mendengar Eunri mendesah dengan begitu sengaja dan terang-terangan, “Menusuknya pun tidak,” jawabnya.

Hah! Tidak menusukku, tapi menyiksaku.

“Jadi, kau mau ke kantin bersama? Mungkin ini lebih baik daripada kau sendirian dan memikirkan sakit hati,”  tawar Dre. Dia mengangkat bahunya, tapi matanya melirik ke tangan Eunri. Tanda lahir itu memiliki letak yang atau bahkan bentuknya persis dengan milikku.’Jadi Ethan benar..tanda lahirnya mirip sekali dengan milik Elliot,’ pikirnya tanpa sadar.

“Baiklah, tidak ada salahnya,” kata Eunri mengiyakan ajakan Dre. Dre mengulurkan tangannya, membantu Eunri berdiri, tapi juga seraya menurunkan lengan sweater Eunri sampai batas pergelangan tangannya.

‘Jujur saja, melihat hal itu membuatku jadi merasa aneh. Terlihat mengerikan,’ pikirnya sekali lagi diluar kesadarannya kalau aku masih bisa mendengarkannya.

“Kau baik-baik saja?” tanya seseorang padaku. Dia menyentuh bahuku. Aku menatap wajahnya. Seorang gadis dan aku tidak mengenalnya. Mungkin anak baru, atau mungkin dia seangkatan denganku. Wajahnya tampak agak lebih dewasa dari perkiraan umur aslinya. Tapi aku tidak pernah mengenalnya, dan aku tidak peduli.

Jadi aku mengangkat tanganku dengan sikap mengusir, “Tidak, aku baik-baik saja. Terima kasih,” kataku. Gadis itu mengibaskan rambutnya yang kemerahan. Aku memalingkan wajahku, takut monster di otakku kembali berteriak marah jika berdekatan dengan hal-hal seperti ini.

“Kau yakin? Kau tampak pucat,” katanya lagi berusaha menahanku. Siapa sebenarnya gadis ini? kenapa dia berani sekali menyapaku? Menyebalkan sekali. Tidak pernah aku melihat orang yang begitu menyebalkan seperti ini.

“Tidak pernah aku seyakin ini,” sahutku sambil lalu, mulai berjalan, berharap orang ini mau melepaskanku. Tapi gadis aneh yang–tak–kukenal-namanya itu terus mengikutiku. Aku melirik pantulan diriku pada kaca ruangan tata usaha disampingku. Aku memang tampak pucat dan kantung mataku mulai menggelap.

“Aku bisa mengantarkanmu ke ruang kesehatan kalau kau mau,” tawarnya lagi tanpa mengenal rasa menyerah.

Aku menghela napasku keras-keras kemudian berbalik menghadapnya, “Bisakah kau tinggalkan aku sendiri saja?”

Gadis itu tersenyum, mengibaskan lagi rambut kemerahannya, “Tidak bisa,”dia menggeleng, “Aku harus mengenalkan diriku padamu. Aku Near.Kau Jo Kyuhyun, kan? Kau pernah membantuku. Kau membantuku merapikan buku-buku yang kujatuhkan sewaktu diperpustakaan kota, jika kau ingin aku kembali mengingatkanmu,”

Ingatanku terputar ulang mundur kebeberapa hari yang lalu saat aku menemani Lilith ke perpustakaan kota untuk meminjam buku refrensi. Aku ingat kalau aku sempat membantu seseorang. Tapi aku tidak pernah peduli siapa itu. yang kuingat saat itu, aku membantunya karena bukuku kebetulan jatuh dan tumpukan buku-bukunya itu menutupi bukuku, jadi mau tak mau aku harus membantunya membereskan tumpukan buku itu.

“Ya, aku ingat,” kataku agak kesal. Jelas sekali aku kesal. Gadis aneh ini jelas menghabiskan waktuku. “Dan maaf, bukannya aku mau menyakiti kebaikan hatimu, aku baik-baik saja dan tolong jangan ikuti aku lagi,”

“Kenapa?” pekiknya hampir menyeru nyaring. Kedua matanya yang berwarna kecokelatan membulat besar, memamerkan bulu matanya yang tersapu maskara yang terlalu tebal untuk ukuran anak gadis sepertinya. Aku berbalik dan memutuskan untuk benar-benar mengabaikannya kali ini.

“Kita sudah ditakdirkan untuk bertemu, kan?” gumamnya pelan mengejutkanku.

“A-apa?” aku mengerjap pelan, heran dengan pola pikirnya yang sama sekali tak terbaca olehku. Aku membalikkan tubuhku kesal, tapi gadis aneh itu sudah tidak ada disana, meninggalkanku berdiri kebingungan tidak mengerti apa yang dibicarakannya.

Siapa lagi dia? Kenapa selalu saja ada masalah muncul setiap kali satu masalah sudah selesai? Tidakkah hal ini terlalu mustahil untuk dipercayai?

Baru kali ini aku dibodohi dan merasa bodoh seperti ini..apa yang terjadi padaku sebenarnya? Kenapa rasanya setelah kejadian dikelas itu aku berubah menjadi orang yang paling bodoh?

Apa kesialan Eunri itu menular?

Drrrrt..

Handphoneku bergetar hebat dikantung celanaku, mengejutkanku dari lamunan panjang. Tanpa melihat caller ID-nya, aku mengangkat sambungan telepon itu.

Aku ingin kau pulang sekarang, Kyuhyun,”

Aku berkerut mengenali suara ini, “Mom?”

      *****

      Aku melirik Ahra yang terus-terusan menatapku dibalik kacamatanya. Matanya sembab, bengkak karena terus menangis. Dan kacamata itu hanya sebagai pengalih belaka dariku kalau ia menangis. Ia tidak pernah mau aku tahu soal kesedihan yang sedang dialaminya. Baginya melihat Lilith yang baru saja menangis histeris tadi sudah cukup menyakiti hatinya. Dia hanya ingin bersikap seperti ibu yang baik yang tidak akan mengumbar kesedihannya demi kesehatan mental anak-anaknya.

Tapi apa masalah ini harus disembunyikan jika sudah seperti ini?

Aku tidak menyangka mereka melakukan ini padaku dan Lilith. Apa yang terjadi diantara mereka? Bukankah selam ini mereka baik-baik saja? Bukankah Matthew mencintai Ahra dengan sepenuh hatinya? Apa yang Matthew pikirkan sampai meminta Ahra menandatangani surat cerai dihadapan kami semua?

Aku tidak bisa berpikir sehat untuk mereka berdua.

“Minum teh-mu sebelum itu menjadi dingin,” Ahra mengusap-usap wajahku seraya menyorongkan secangkir teh yang tadi kutolak dengan sangat tidak sopan.

Aku menunduk, “Tidak. Aku tidak haus. Kau berikan saja itu pada Dad,” kataku mendorong kembali cangkir itu menjauh dariku. Mm menghela napasnya kemudian menepuk-nepuk wajahku dengan lembut. “Apa yang kalian pikirkan? Tidakkah ini berat untuk Lilith? Bahkan untukku?”

Ahra merapatkan bibirnya serapat mungkin, membuatnya tampak seperti garis tipis yang berwarna kemerahan diwajahnya, “Ini rumit Kyuhyun. Kami memutuskan untuk mengakhirinya saja sebelum kau dan adikmu terluka lebih jauh,”

“Lalu bagaimana dengan masalah hak asuh itu yang kalian bicarakan? Apakah itu tidak cukup memberatkan untukku?” aku tidak mengerti. Apa yang Matthew pikirkan? Kenapa dia bersikeras mengambil hak asuhku dari Ahra sementara ia menolak mengakui kalau aku sudah cukup umur untuk memilih siapa yang akan mengurusku?

Ini berakhir rumit.

Aku tidak tahu akan seberapa kusutnya permasalahan ini nanti. Manusia benar-benar tidak bisa kumengerti.

Ahra memelukku. Tubuhnya gemetar tidak menentu. Dia memelukku dengan begitu erat sampai aku hampir tidak bisa bernapas. “Maafkan aku Kyuhyun, maafkan aku..,”

“A-Ahra..,”

“Aku tidak akan melepaskanmu. Aku tidak akan melepaskanmu. Sampai kapan pun. Aku tidak akan biarkan wanita itu yang mengasuhmu,” isaknya lirih dibahuku.

“Mom..” aku mengangkat tanganku untuk membalas pelukannya. Ahra menangis lebih keras dari sebelumnya.

Sepertinya bahunya memang sudah tidak lagi sanggup untuk menahan beban seberat ini.

Aku tidak tahu kalau wanita setegar dirinya bisa serapuh ini..

Seandainya Tuhan mau mendengar doaku, mungkin aku akan lakukan apa saja untuk mengembalikan Matthew pada Ahra. Dia sangat mencintainya, tidak mungkin dia bisa ikhlas begitu saja. Ditambah lagi, kini sekarang aku—satu-satunya harapan untuk bangkit setelah perceraian ini—harus tinggal sementara dengan ayahku sampai, mungkin tapi aku yakin, Ahra memutuskan untuk membawa masalah hak asuh ini ke persidangan.

Aku benar-benar butuh istirahat yang panjang..

      ******

Eunri’s point of view

Donghae benar-benar mengantarku pulang sampai kerumah. Dia benar-benar tidak mengizinkanku untuk naik bus sendiri dengan alasan takut sial atau apa. Dia ikut naik bus denganku padahal jarak rumahnya dan rumahku cukup jauh karena dia harus mengulang trayek untuk sampai kerumahnya yang ada disudut kota.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya yang entah sudah keberapa kalinya. Alisnya mengerut khawatir.

Aku tersenyum, “Tidak apa. Grandma tak kan lama. Dia mungkin hanya sedang pergi ke tetangga untuk minum teh sore. Kau mau masuk?” aku menawarkannya hanya demi kesopanan dan sekaligus membalas kebaikannya yang sudah mau mengantarku sejauh ini.

Dia menyandarkan dagunya diatas pagar kayu rumahku, sedikit merengut seperti anak-anak kemudian menggeleng, “Kurasa tidak. Hari ini aku ada janji dirumah te—“

Tiba-tiba saja mobil Ford hitam berhenti tepat didepan rumahku dan membunyikan klakson dengan begitu kencang.

Hebat. Mobil ayahku.

Donghae menunjuk mobil Ford hitam itu, “Ayahmu?”

Aku hampir mengangguk, “Kau lebih mengenalnya. Ayahku pelanggan tetap restoran ibumu, kan?”

Donghae mengangguk pelan, mengiyakan, “Ya, begitulah,” katanya. Dia berbalik menghadap ayahku yang baru saja keluar dari mobilnya, membawa banyak dokumen aneh yang tebal-tebal. “Mayor,” sapanya ketika ayahku melihatnya.

“Oh, hai, nak!” sapanya langsung, mengenali Dongahe. “Sore ini mungkin aku akan makan direstoran ibumu,” katanya seraya memintaku membukakan pintu pagar untuknya . “Dan, Eunri, sepertinya malam ini kau tidak perlu memasak untukku dan nenekmu,”

“Kenapa? Sebanyak itukah pekerjaanmu, Dad?” tanyaku menunjuk tumpukan laporan yang dibawa dikedua tangannya yang penuh.

“Ya,” Dad mengangguk, “Aku membantu temanku, Ahra, untuk menyelesaikan kasus perceraian dan hak asuh putra tunggalnya,”

“Nyo..nya Ahra?” tiba-tiba Donghae menyeru bingung sekaligus kaget. Terlihat jelas dari ekspresinya yang tampak syok itu kalau sahabatnya, Kyuhyun, tidak memberitahu apapun soal hal ini. hebat, ternyata selain pendiam, Kyuhyun ternyata juga lebih senang menyimpan masalahnya sendiri.

“Ya, benar. Nyonya Jo Ahra,”Dad membetulkan letak tumpukan kertas ditangannya yang hampir jatuh. “Aku tidak tahu kenapa wanita sebahagia dirinya harus mendapatkan masalah seber—hei, dimana anak itu?”

Aku menggeleng pelan, menatap kearah jalan yang sudah kosong.

Perceraian? Orang tuanya bercerai?

      *****

Now, I write sins not tragedies..

Matthew berhasil membawaku pergi dengan cara baik-baik ketika Ahra memintanya untuk membawaku sebelum Lilith terbangun. Aku tidak tahu bagaimana reaksi Lilith nanti saat tahu aku tidak ada dirumah. Tapi aku harap Dre benar-benar ada disana menjaga Lilith.

“Kuharap kau tidak keberatan dengan ini semua, Elliot,” katanya agak merasa enggan. Aku tahu apa yang dia rasakan sekarang. Dia merasa tidak enak hati ketika melihat reaksiku yang tidak lagi mengajaknya bicara sepanjang perjalanan tadi. Aku hanya menghabiskan waktuku untuk berdiam diri, duduk dibelakang tanpa bicara apapun. “Aku tidak bermaksud menyakitimu atau apa, nak,”

“Dad,” kataku pada akhirnya. Aku menghela napasku secara terang-terangan, memperlihatkan bahwa kau lebih lelah dari apa yang dia pikirkan, “Aku tahu. Aku sudah tahu. Aku lelah,” tanpa kusadari, aku membanting tas travelku kelantai sampai berdebum keras.

Dia mengangguk segan, “Baiklah jika itu maumu. Aku tahu kau tidak suka diganggu,” kelihatannya dia tak kan selesai bicara. Hebat sekali. Matthew selalu terlihat tampak diam, tapi pikiran dan mulutnya tidak pernah diam jika ia merasa tidak enak hati, mengganggumu sampai mati. “Tapi aku harap kau datang,”

Dia memberikanku sebuah amplop putih panjang yang memiliki hiasan ornament indah disudut kirinya dan bertuliskan ‘Orchid Ochestra: Night’s tale concert’ dengan tulisan bergaya Erdwardian kuno.

Aku menerima amplop itu dengan bingung, entah akan kuapakan amplop undangan ini pada akhirnya. Sudah lama sekali aku melupakan instrument klasik dan meninggalkannya semenjak aku tahu semakin kau mendalami instrument klasik, semakin aku akan teringat dengan kematian Serra yang hampir seperti kiamat dalam hidupku.

“Aku akan mengadakan konser. Mungkin dua malam dari sore ini. Dan aku ingat kalau kau suka sekali dengan musik klasik,”  ingatannya tentang diriku yang dulu selalu mengikutinya kemanapun terputar di otaknya. “Jadi aku menyiapkan ini khusus untukmu dan Lilith,”

“Terima kasih, Dad. Sungguh, ini sudah dari cukup,” kataku berusaha sopan, masih menatapi amplop itu. “Aku tidak mungkin bisa membawa Lilith jika seperti ini, kan?”

“Aku tidak mungkin sejahat itu pada kalian. Aku tahu kau sangat menyayangi adikmu. Aku sudah meminta ibumu untuk membawa adikmu ju—“

“Dad,” potongku. Aku menatap amplop itu dan memainkannya di tanganku. “Haruskah..maksudku, apakah ini memang jalan terbaik?” tanyaku nyaris berbisik.

Mata Matthew membulat besar tampak syok tapi kemudian menyendu, “Kuharap ada jalan lain yang lebih baik dari ini, Elliot,” jawabnya lirih. “Aku tidak ingin menyakiti ibumu lebih jauh dari ini. aku harus jujur. Ini berat untukku,”

“Ini juga berat untuknya, seharusnya kau sadar,” bantahku tak lagi bersikeras memaksakan kehendakku yang sebenarnya, tidak kumengerti, tidak bisa kupaksakan pada perasaan manusia yang aneh.

Mereka bisa bahagia dengan hidup seperti ini? Kenapa mereka bisa bertahan?

“Aku hanya ingin berusa—“

Aku memotongnya lagi. kali ini kepalaku berdenyut hampir seperti ingin pecah. Ribuan masalah berputar dikepalaku dalam waktu bersamaan, menyengatku satu per satu seperti sekumpulan hornet ganas.

Aku tidak tahu kalau mahluk sepertiku bisa sakit kepala? Apakah aku juga bisa gila?

“Sudahlah,” aku melontarkan tanganku frustasi. “Aku benar-benar lelah sekarang. Aku tidak bisa mengerti sampai kapanpun mahluk aneh seperti kalian yang bisa bertahan menahan rasa sakit seperti ini,” keluhku. Matthew terkekeh pahit. Dia tampaknya hampir sama herannya denganku.

“Itu namanya bertahan. Kami manusia paling pandai melakukannya,”

“Ya, ya terserah kalian saja,” aku berjalan pelan, menjauhi Matthew, menyegerakan diriku kekamarku sendiri.

Aku menatap lantai kayu hangat dibawah kakiku.

Sudah lama aku tidak lagi kerumah ini. Kira-kira sudah berapa lama Ahra memutuskan untuk pindah ke Hampton dan meninggalkan Matthew disini sibuk dengan konsernya dan kehidupan sibuknya sebagai komposer dan penulis buku? Rasanya seperti sudah lama sekali..

Matthew memanggil tuan Humprey untuk membawakan barangku dan menunjukkan kamar untukku. Lama sekali aku tidak melihat laki-laki tua ini. Rasanya dulu dia masih tegap..

“Tuan muda, saya senang sekali akhirnya anda mau menyempatkan diri untuk kembali berkunjung ketempat ini,” katanya seraya membukakan pintu kamar lamaku. “Aku selalu membersihkannya untukmu,”

“Aku tidak akan lama,” gumamku. “Terima kasih sudah menjaga kamarku,”

“Tidak apa-apa tuan muda, bagiku melihat anda kembali kesini sudah membuatku senang,” laki-laki tua itu akan lebih senang jika bukan hanya aku yang kembali pulang. “Istirahatlah yang cukup, Tuan muda,” dia menunduk sopan kemudian keluar meninggalkanku sendirian dikamar.

Kamar ini benar-benar tidak mengalami perubahan sedikit pun. Bahkan biola itu masih berada ditempat yang sama dimana aku meninggalkannya.

“Elliot,” tiba-tiba Matthew muncul diambang pintu kamarku yang tidak kututup.

“Ya?” aku menoleh tanpa membalikkan tubuhku.

Dia menghela napasnya yang terasa agak berat, “Kuharap kau tidak keberatan soal ini,”

“Soal hal apa?”

Matthew menunduk gelisah, pikirannya kacau tak terbaca dengan jelas, “Malam ini, kekasihku akan datang untuk makan malam,” oh tidak..”Dia datang untuk bertemu denganmu,”

“Maksudmu,” aku memutar tubuhku dan menyilangkan tanganku didepan dada, “Aku harus bersikap sportif?” Matthew mengangguk, “Ya, aku tidak akan serendah itu,” ucapku menyetujuinya. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Manusia itu sulit, tidak sesimpel yang kau pikirkan. Jadi, lebih baik bagiku untuk membiarkan mereka saja.

“Akan kuhargai itu, nak. Dan..besok kau bisa mulai sekolahmu lagi. Humprey akan mengantarmu,”

“Tunggu,” aku menahannya, “Hm..bisakah aku membawa sendiri mobilku?” aku ingat kalau aku meninggalkan mobilku disini. Mobil yang tidak pernah lagi kusentuh semenjak Ahra tahu aku memiliki ketertarikan dengan kecepatan.

“Ya, kalau itu bisa membuatmu nyaman disini,”  Matthew kelihatannya lebih sennagn membiarkanku saja daripada mengekangku dan membuatku semakin tidak nyaman disini untuk memenuhi permintaan kekasihnya yang ingin mengurusku itu.

Dan, jujur saja, aku juga tidak tahan menghadapi isi pikiran Matthew jika saja kau menolak bersikap baik pada kekasihnya itu. Diluar dugaan, dia terlalu jujur dengan pikirannya sendiri, membuatku menjadi terbebani lebih mudah dari biasanya jika mendengar isi pikirannya.

“Kalau begitu, beristirahatlah. Dia akan datang malam nanti,” kemudian Matthew membiarkanku sendirian. Kali ini benar-benar sendirian karena sepertinya dia tidak akan kembali. Aku berjalan pelan dan menutup pintu kamarku dengan kakiku, terlalu malas untuk menggerakkan tanganku.

Aku menjatuhkan tubuhku malas ketas tempat tidurku lau menatap langit-langit kamarku yang rendah.

Kupejamkan mataku perlahan.

Akan seperti apa hari ini berakhir?

      *****

      “Ethan?”  Reed membuka pintu kamarnya yang sedari tadi tertutup. Dia pikir Ethan lebih dulu memilih pulang ketimbang bermain dulu disekolah sepertinya.

Ini pengalaman pertama Reed menjalani kehidupan manusia. Ternyata rasanya lebih mengasyikkan dari yang dia duga selama ini . Banyak hal yang menarik perhatiannya, termasuk bagaimana wanita tua seperti Ellena mudah diperdaya pikirannya sehingga dia dengan mudahnya membiarkan Reed dan Ethan mengaku sebagai keponakannya. Reed masih heran dengan hal ini. entah dia yang pintar atau manusia yang terlalu bodoh untuknya, itu masih dipertanyakannya.

Dan ternyata Ethan tidak ada dikamarnya. “Aunt Ellena,” panggilnya, mencari wanita tua ke dapurtempat biasa wanita tua itu menghabiskan waktunya.

‘Ah, Reed sayang. Kau sudah pulang, nak? Mana kakak kembarmu?” tanyanya menilik kebalik bahu Reed.

“Dia tidak ada. Apa tadi dia lebih dulu pulang?”

“Tidak, dia belum pulang, sayang. Kenap akau tidak mencarinya?”

Mencarinya? Iya, tapi kemana? Ethan tidak memberitahuku sedikit pun. aku bahkan tidak mendengar pikirannya. Dimana dia?

      *******

20

[Freelance] 6 Guys, 6 Different Love

Author: Tiwie

Main Cast

  • Kim Jongwoon (Super Junior)
  • Park Yunhwa (T-Max)
  • Choi Seunghyun (Big Bang)
  • Kim Junsu (2PM)
  • Jang Wooyoung (2PM)
  • Lee Taemin (SHINee)

Other Cast

  • Kim Hyuna (4minute)
  • Lee Ji Eun/IU
  • Choi Sulli (f(x))
  • Moon Geun Young

Genre: Love, Romance, Sad

Rating: G/PG-13 (bingung)

Note: FF ini juga aku kirim ke blog lain….^^

-Kim Junsu’s Story-

Dilahirkan sebagai putra bungsu di keluarga Kim menjadikanku pribadi yang agak manja. Segala permintaan maupun keinginanku harus dikabulkan. Tak heran saat dewasa aku tumbuh menjadi sosok yang meremehkan sesuatu. Bahkan sesuatu yang amat sangat sacral. Sesuatu yang disebut cinta.

=====================================================================================

“Aku pulang,” aku memasuki rumah dengan langkah gontai. Hari ini sangat menyebalkan. Dosen itu seenaknya saja memberikan tugas di musim liburan seperti ini.”Kau sudah pulang, oppa?” kata Hyuna, adik perempuanku satu-satunya.”Ne, waeyo,” jawabku sambil menonton televisi.”Temanku nanti akan datang. Aku mau ke minimarket dulu membeli cemilan. Kalau dia sudah datang, suruh naik ke kamarku saja ya oppa,” katanya. Aku mengangguk.

“Sekalian belikan aku kripik kentang dan jus,” kataku setengah berteriak karena Hyuna sudah hampir keluar rumah.”Ne…!!” jawabnya. Temannya Hyuna? Aku jadi penasaran seperti apa temannya Hyuna. Bukankah selama ini Hyuna yang kukenal merupakan anak yang tertutup?.

Ting…..Tong….

“Ne,sebentar,” jawabku sambil berlari ke arah pintu. Di luar tampak seorang yeoja yang sedang berdiri membelakangiku.”Kau…temannya Hyuna?” tanyaku. Dia berbalik dan…. Aku tak bisa mengedipkan mataku. Baru kali ini aku melihat seorang yeoja semanis ini.

“Ne, joneun Choi Sulli imnida,” katanya sambil membungkukkan badannya.”Ne..jonenun Kim Junsu imnida,” balasku –sedikit- terbata-bata. Segera ku persilahkan Sulli masuk.”Sulli-ah, kau langsung ke kamarnya Hyuna saja ya. Di atas, yang pintunya berwarna putih,” kataku.”Gomawo, Junsu…,”,”Oppa,” sambungku cepat.”Gomawo Junsu oppa,” katanya lagi lalu berlari kecil ke kamar Hyuna. Aku tersenyum.

=====================================================================================

Apakah tadi aku sudah bilang aku terkadang seperti meremehkan sesuatu?. Itu yang kulakukan saat ini. Menganggap bahwa perjalanan cintaku akan mudah. Semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, ternyata aku salah. Cinta itu bukan sesuatu yang mudah ditebak.

=====================================================================================

“Sulli-ah, saranghaeyo..Would you be my girlfriend?” kataku suatu hari. 2 minggu setelah pertemuan itu, aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku padanya.”Oppa..??” jawabnya heran.”Kau tak usah malu-malu, Sulli-ah,” jawabku dengan tingkat kepercayaan diri tinggi. Sulli tersenyum sinis,”Oppa,ternyata memang benar yang dikatakannya Hyuna. Kau terlalu meremehkan sesuatu,”.

“Kuberitahu sesuatu, cinta itu bukan sesuatu yang bisa datang semudah itu,” kata-katanya membuatku tersentak.”Kau…menolakku?” tanyaku. Dia menggeleng pelan.”Aku belum menolakmu oppa,” jawabnya. Membuatku semakin kebingungan.”Perlihatkan padaku seberapa besar cintamu padaku atau mungkin juga kau bisa memperjuangkan cintamu. Mungkin suatu saat nanti aku akan berubah pikiran,”.

===================================================================================

Kata-kata Sulli membuatku sadar akan satu hal. Cinta merupakan satu hal yang sakral. Yang perlu diperjuangkan terlebih dahulu sebelum memiliki cinta itu seutuhnya. Ingat satu hal ini Choi Sulli. Aku, Kim Junsu, akan memperjuangkan cintaku untuk memilikimu seutuhnya. Tak peduli kapan saat itu tiba.

-Lee Taemin’s Story-

Aku Lee Taemin. Anak angkat di keluarga Kim. Keluarga Kim merupakan sahabat lama ayah dan ibuku. Menjadi anak angkat disini membuatku selalu mengalah. Tak jarang aku mengalah untuk sesuatu yang benar-benar berarti untukku. Semua itu hanya supaya aku tidak mengecewakan keluarga Kim.

=====================================================================================

“Sulli-ah, kau ada disini?” tanyaku. Kulihat Sulli dan Junsu hyung sedang bercakap-cakap di ruang tamu.”Ne, Taemin, aku sedang menunggu Hyuna,” jawabnya.Baru aku mau membuka mulutku lagi, aku melihat Junsu hyung menatapku dengan pandangan aneh. Bisa kurasakan Junsu hyung menyuruhku menyingkir.

Aku langsung paham dan mengalihkan pandanganku pada Sulli. Tiba-tiba, jantungku berdetak sangat kencang. Melihat satu sosok disana.”Sulli, mian membuatmu menunggu lama,” suara Hyuna membuatku sadar.”Tidak apa-apa kok. Tadi Junsu oppa menemaniku,” jawabnya. Tanpa pikir panjang, aku langsung menaiki tangga dan naik ke kamarku. Sebelum jantungku berhenti karena melihatnya.

“Besok minggu kau datang kan, Sulli-ah?” lamat-lamat aku mendengar Hyuna bertanya kepada Sulli.”Tentu saja,” Sulli menjawab. Aku tak tahan mendengarnya lagi. Segera aku masuk ke kamarku dan menguncinya dari dalam. Sulit bagiku mengetahui dia menjadi milik orang lain.

Aku menutup pintu kamarku dan menarik napas pelan. Kusenderkan tubuhku di pintu kamar. Membayangkan senyumnya, tingkahnya, tawanya. Membuatku sadar dia tercipta bukan untukku. Setetes air mata jatuh menuruni pipiku. Entah sudah berapa kali aku menangis tertahan seperti ini. Hanya karena dirinya.

=====================================================================================

Aku tahu aku mencintainya. Tapi, aku juga tahu jika aku tak bisa, aniya, tidak boleh memilikinya. Ada tembok pembatas di antara kami berdua. Lagipula, Junsu hyung juga tak akan suka aku dekat-dekat dengannya. Aku bisa merasakan tatapan mata Junsu hyung saat kami mengerjakan PR bersama. Sungguh sulit bagiku untuk berdekatan dengannya. Sangat sulit.

=====================================================================================

Sekarang aku sedang berada di pesta pertunangan Hyuna dan Wooyoung hyung. Dan jantungku kembali berdetak cepat saat melihatnya. Dia memakai gaun putih selutut yang sangat pas ditubuhnya. Sayang, aku tak bisa –ah tidak, tidak boleh- memilikinya. Dia terlihat duduk berbaur dengan tamu yang lain. Sedangkan aku?. Duduk di pojok ruangan sembari memperhatikannya. Sungguh, aku sangat ingin memilikimu.

=====================================================================================

Cinta itu datang kepadaku begitu saja. Awalnya aku hanya menganggapnya sebagai sahabat, karena kami seumuran. Tapi, lama kelamaan aku sadar, aku membutuhkannya. Lebih dari seorang sahabat. Tapi, jika aku memilikinya, aku akan menghancurkan keluarga ini. Keluarga yang telah membesarkanku.

Tapi, bagiku cinta itu tak selamanya harus memiliki. Mungkin saja aku bisa menemukan cinta sejatiku suatu saat nanti. Tapi, satu sisi hatiku juga mengakui, bahwa  aku, Lee Taemin, anak angkat di keluarga Kim, mencintai Kim Hyuna, kakak angkatku sendiri dengan sepenuh hati dan segenap ragaku.

-Kim Jongwoon’s Story-

Menjadi pewaris perusahaan itu keberuntungan sekaligus bencana bagiku. Beruntung, sebab aku tak perlu repot-repot mencari pekerjaan. Bencana, sebab aku tahu, hidupku tak akan tenteram dan damai. Apalagi kalau mempunyai hobi yang bertentangan dengan perusahaan.

=====================================================================================

“Jongwoon…!!!! Ini sudah jam berapa? Ayo bangun!” teriak ibuku tepat ditelingaku. Aku menentangnya dengan menarik selimut ke kepalaku. Ibuku terus menarik selimutku hingga aku terbangun karena merasa terganggu.”Umma, tadi malam aku lembur sampai jam 1 pagi. Biarkan aku tidur sebentar lagi,” pintaku dengan mata setengah terpejam.”Umma tidak mau tahu. Bangun atau umma bakar semua fotomu!”.

=====================================================================================

Aku memejamkan mata. Menghirup udara sedalam-dalam mungkin. Membiarkan oksigen mengisi paru-paruku, lalu menghembuskannya lagi. Aku memandang kota Seoul dari atap kantorku.”Jongwoon-ssi, ada tamu,” sela Yunhwa, asistenku, sebelum aku sempat memotret langit Seoul siang ini.”Sebentar lagi, Yunhwa,”. Aku buru-buru membidik seekor burung yang sedang terbang di langit. Mana mungkin aku kesini tanpa memotret apa pun.

=====================================================================================

“Asisten baru???” tanyaku tak percaya. Aku menoleh ke arah Yunhwa yang sedang –pura-pura- sibuk.”Tentu saja, kau tak kasihan dengan Yunhwa?” kata Seung Hyun. Aku menghela napas,”Jongwoon-ssi, ayolah, aku juga butuh teman,”. Aku memainkan bolpoin ditanganku,”Oke, tapi kau tetap jadi asisten utamaku,” putusku.”Siapa namanya, Seung Hyun?” tanyaku.”Moon Geun Young,”.

=====================================================================================

“Annyeong….,” pintu ruanganku terbuka dan muncullah sesosok yeoja. Membuatku yang sedang asyik melihat hasil kameraku terlonjak.”Ne, Geun Young-ah. Ada apa?” tanyaku. Dia memberiku beberapa berkas.”Ada yang perlu sajangnim tanda tangani,”. Aku jengah,”Jangan panggil aku sajangnim, panggil saja Jongwoon-ssi,”. Bisa kurasakan dia sedikit terkejut.”Ne, Jongwoon-ssi,”.

====================================================================================

“Jongwoon-ssi, boleh aku bertanya?” kata Geun Young. Saat ini kami sedang di café langgananku, sehabis bertemu dengan klien.”Ne, ada apa?” tanyaku sambil terus melihat-lihat foto dikameraku.”Apa…kau pernah jatuh cinta?” tanyanya. Aku langsung memandangnya tepat dibenik matanya.”Kau menyukai Yunhwa ya?” tanyaku. Sepertinya benar.

Pipinya langsung bersemu merah. Aku meletakkan kameraku lalu memandangnya dalam-dalam,”Percayalah padaku. Yunhwa bukan lelaki  yang tepat untukmu,”.”A…apa hakmu mengatakan itu? Kau ini sahabatnya, Jongwoon-ssi!” katanya kesal. Aku tahu segala tentang sahabatku yang satu itu, Moon Geun Young.”Percaya padaku,” kataku sambil menggenggam tangannya.

“Aku tak percaya kau tega mengatakan hal seperti itu tentang sahabatmu, Jongwoon-ssi,’ katanya sambil melepaskan tanganku dan pergi meninggalkan café ini. Segera kuraih tas –juga kamera- dan menyusulnya.”Geun Young, tunggu!” teriakku. Dia tak peduli. Dia terus saja berjalan menyeberang jalan. Tanpa melihat sekelilingnya. Aku berlari mengejarnya.

Ciiiittt……..BRUUUUK….

Aku merasakan tubuhku terhempas ke jalan. Aku mendengar jerit cemas Geun Young. Aku tersenyum saat dia mengangkat kepalaku ke pangkuannya.”Jongwoon-ssi…kenapa?” tanyanya sambil menangis. Aku tersenyum sekali lagi,”Because I love you, Moon Geun Young,”. Bisa kurasakan air matanya jatuh ke pipiku. Hangat.”I will sacrifice my everything for you, even if its my own life,”. Samar-samar aku mendengar suara ambulans.

Aku merengkuh wajah Geun Young dan mengecup bibirnya lembut. Aku menarik napas panjang,”Don’t cry,” kataku sambil menghapus air matanya. Beberapa orang mengangkatku ke atas tandu. Tanganku masih menggenggam erat tangan Geun Young.”Geun Young-ah, saranghae,” kataku. Dan aku tak bisa melihat apa pun lagi. Semuanya gelap.

=====================================================================================

Aku tahu sejak awal Geun Young menyukai Yunhwa. Tapi, aku juga tahu persis bagaimana Yunhwa itu. Aku takut Geun Young akan terluka. Aku juga tahu sejak awal aku menyukai Geun Young. Tapi, entah kenapa, aku tak pernah berani mengatakannya. Aku hanya berani mengambil gambarnya secara diam-diam, lalu menempelkannya di kamarku.

Seperti ceritaku, cinta itu butuh pengorbanan. Cinta membuat orang rela mengorbankan apa saja untuk orang yang kucintai. Seperti yang kulakukan. Tapi, setidaknya, aku sekarang bisa menjaganya. Dan kali ini aku berani mengakui, aku, Kim Jongwoon, rela mengorbankan hidupku untuk Moon Geun Young. Hanya untuk Moon Geun Young.

-Choi Seung Hyun’s Story-

Aku Choi Seung Hyun. Anak pertama dari keluarga Choi, sahabat sekaligus rekan kerja Kim Jongwoon. Banyak orang yang mengatakan bahwa wajahku seperti malaikat maut. Tapi, aku tak pernah peduli. Toh, masih banyak orang yang sayang padaku. Nyatanya, aku mempunyai banyak penggemar dengan wajah seperti ini.

=====================================================================================

“Perlu bantuan?” tawarku pada seorang yeoja. Dia tersenyum,”Ne, tolong ambilkan buku yang itu,” katanya sambil menunjuk salah satu buku di rak yang tinggi. Dengan mudah aku mengambil buku itu untuknya.”Gomawo,” katanya. Aku mengulurkan tanganku,”Choi Seung Hyun imnida,”.”Lee Ji Eun imnida,”.

=====================================================================================

Itu pertemuan pertamaku dengannya. Aku tak menyangka gadis manis sepertinya satu kelas denganku. Selanjutnya kami sering bertemu untuk mengerjakan tugas, makan siang, bahkan berjalan-jalan. Aku selalu merasa ada something weird saat aku bersamanya. Seperti ada yang tidak beres dengan perutku. Entah apa pun itu.

=====================================================================================

“Ji Eun-ah, gwaenchanayo?” tanyaku. Siang ini Ji Eun Nampak sedang tidak sehat. Sudah beberapa kali dia hendak tersandung.”Gwaenchana, aku hanya kurang tidur,” jawabnya sambil menguap.”Perlu kuantar pulang?” tawarku. Dia menggeleng,”Tak usah. Lihat itu, fansmu sudah menunggu,”. Aku melihat keluar jendela. Benar saja, banyak yeoja menunggu di luar kelas. Malas sekali meladeni mereka hari ini.”Sudah ya, aku pulang duluan,” kata Ji Eun.

====================================================================================

“Seung Hyun!” teriak Ji Eun mengagetkanku. Aku hampir tersedak karenanya.”Wae?” tanyaku. Hari ini dia terlihat sangat senang.”Aku….jatuh cinta,” jawabnya malu-malu. Aku diam terpaku,”Nugu?”.”Jang Wooyoung, kau tahu dia kan?” tanya Ji Eun. Jang Wooyoung, siapa yang tak tahu dia. Namja pendiam yang sangat pintar. Pewaris tunggal Jang’s Corporation.

“Kapan kau bertemu dengannya?” tanyaku –berusaha bersikap normal.”Kemarin siang, setelah aku berpisah darimu,” jawabnya berseri-seri.Damn! Harusnya kemarin aku antar saja Ji Eun pulang.”Kakimu kenapa?” tanyaku. Tidak biasanya dia memakai flat shoes seperti itu ke kampus.”Aku terkilir. Gara-gara ini juga aku bertemu dengan Wooyoung,” jawabnya.”Dapat musibah malah senang,” kataku sambil menjitak kepalanya.

=====================================================================================

“Jang Wooyoung, pewaris tunggal Jang’s Corp,” kataku. Wooyoung yang sedang mencari buku menatapku.”Choi Seung Hyun. Pemilik CS Entertainment,” nada bicaranya seolah-olah mengejekku. Aku menatapnya tajam.”Waeyo? Junsu tak ada disini, Seung Hyun,” dia menekankan pada nama ‘Junsu’.”Aku ingin bicara denganmu,”.

“Kau…menyukai Ji Eun?” tanyaku to the point.”Apa ini salah satu caramu memilih artismu?” tanyanya lalu berjalan meninggalkanku. Aku menarik lengannya,”Jawab saja pertanyaanku, Jang Wooyoung,”.”Waeyo? Jika memang aku menyukainya, kau mau apa?” tanyanya balik.”Kau bahkan bukan oppanya,” lanjutnya yang langsung menohok hatiku.

“Well, aku hanya ingin tahu,” jawabku tenang.”Lagipula,aku berani bertaruh kau tak akan bisa memilikinya,” balasku. Bisa kulihat ada sorot tidak percaya di matanya.”Apa…jangan-jangan kau lupa bahwa namamu Jang Wooyoung?”.”Neo….,” desisnya marah. Aku tertawa penuh kemenangan dalam hati. Dia pasti mengerti apa yang aku bicarakan.

=====================================================================================

Aku menatap Ji Eun khawatir. Sudah sebulan sejak pertunangan Wooyoung dia seperti ini. Pandangan kosong.”Dia tetap tak menghabiskan makanannya,” kata Yunhwa, kakak sepupu Ji Eun. Aku menghela napas. Hanya karena dia kau jadi seperti ini, Ji Eun?. Apakah kau tidak sadar ada seseorang yang selalu berada di sampingku?.

====================================================================================

Aku tahu Ji Eun menganggapku sebagai sahabat. Tak lebih. Tapi, aku juga tahu bahwa cinta itu juga meliputi kesetiaan. Dan aku, Choi Seung Hyun, akan setia menunggu Lee Ji Eun. Entah sampai kapan.

-Jang Wooyoung’s story-

Annyeong, aku Wooyoung. Anak tunggal di keluarga Jang.  Segala kehidupanku dari kecil seakan-akan sudah diatur. Aku bersekolah dimana, berteman dengan siapa, itu semua seolah-olah sudah diatur. Aku rasa jodohku nanti juga akan diatur oleh kedua orang tuaku. Aku yakin itu.

=====================================================================================

“Wooyoung-ie,kau sedang apa?” tanya Junsu padaku. Kim Junsu, anak dari keluarga Kim, yang juga sahabatku dari SD.”Entahlah..aku sendiri tak yakin,” jawabku asal. Junsu memutar bola matanya kesal. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.”Hei, lihat itu!” kata Junsu setengah berteriak. Kuikuti arah telunjuknya. Di kejauhan terlihat seorang lelaki sedang dirubung oleh beberapa wanita.”Choi Seung Hyun,” desisku menyebutkan namanya.”Menyebalkan bukan? Dengan tampang seperti itu dia bisa punya banyak penggemar,” kata Junsu –sedikit- emosi.”Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku pulang duluan,” kataku sambil mengangkat tasku dan meninggalkan Junsu.

Bbbrrruuukkk…. Aku sedang berjalan di lorong kampus saat kudengar sesuatu jatuh. Segera kuedarkan pandanganku mencari tahu. Di taman, tampak seorang yeoja terduduk sambil memegangi kakinya.”Neo gwaenchanayo?” tanyaku sambil membantunya berdiri.”Gwaen…AUW!!” belum sempat berdiri, dia sudah terjatuh lagi.

Segera kulihat pergelangan kakinya. Tampak lebam disana.”Kau terkilir. Ayo kuantar kau ke ruang kesehatan,” kataku sambil berjongkok didepannya. Sesaat dia nampak ragu.”Ayolah, aku tak akan macam-macam,” jawabku meyakinkan. Akhirnya dia melingkarkan tangannya di leherku.

“Siapa namamu?” tanyaku sambil berjalan kearah ruang kesehatan. Dia menyenderkan kepalanya dibahuku.”Lee Ji Eun imnida,” katanya pelan.”Aku Jang Wooyoung. Kita sudah sampai, mau aku temani?” tawarku sambil menurunkannya di kursi di ruang kesehatan. Dia menggeleng pelan.”Gomawo, Wooyoung-ie,”.

=====================================================================================

“Wooyoung-ie, kau pacaran dengan Ji Eun ya?” suatu hari Junsu tiba-tiba bertanya seperti itu padaku. Aku yang sedang meminum jusku langsung saja tersedak.”Darimana kau punya pikiran seperti itu?” tanyaku. Dia memutar bola matanya –kebiasaannya kalau sedang kesal.”Akhir-akhir ini kau terlihat dekat dengan Ji Eun,” tudingnya lagi.”Kami hanya berteman. Tak lebih,”.

=====================================================================================

Walau dihadapan Junsu aku berbicara seperti itu, nyatanya saat bersama Ji Eun aku merasakan sesuatu yang berbeda. Ada satu perasaan yang nyaman disana. Tapi, kebiasaan diatur sejak kecil oleh orang tuaku membuatku tak mengerti dengan apa yang kurasakan. Mungkin itu hanya perasaan sayang terhadap sahabat. Mungkin.

=====================================================================================

“Wooyoung-ie?” tanya Ji Eun. Aku tak tahu mengapa aku berdiri disini. Di depan apartemen Ji Eun.”Mau masuk?” tawarnya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung masuk. Ternyata, bukan aku satu-satunya namja disini. Sudah ada Seung Hyun dan….aku tak tahu siapa namja yang satu itu.”Annyeong, Wooyoung-ie,” sapa Seung Hyun. Ada nada kesal dalam suaranya.

“Annyeong, Park Yun Hwa imnida. Aku sepupunya Ji Eun,” kata namja –cantik- itu.”Oya, Wooyoung-ie, ada apa kau kesini?” tanya Ji Eun. Aku seakan sadar dari alam mimpiku. Kukeluarkan secarik kertas dari saku jaketku.”Ini,” kataku,”Besok minggu hari pertunanganku. Kuharap kalian bisa datang,”. Bisa kulihat ada kilatan shock dimata Ji Eun.”Tunangan?” tanyanya.

=====================================================================================

Aku bukannya tak tahu kalau Ji Eun menyukaiku. Atau mungkin malah mencintaiku. Aku tahu sekali perasaannya terhadapku. Tapi, seperti yang sudah kubilang, hidupku sudah diatur oleh orang tuaku. Bahkan untuk urusan cinta.

Pada akhirnya aku dijodohkan dengan Kim Hyuna, adik Junsu. Ibuku mengatakan perjodohan ini dilakukan agar hubungan kedua keluarga semakin erat. Padahal aku tahu, semua ini hanya untuk urusan bisnis belaka. Teman-temanku, sekolahku, bahkan pasangan hidupku, itu untuk mempertahankan perusahaan.

=====================================================================================

Maafkan aku Ji Eun. Selama ini aku selalu menggantung hubungan kita. Aku tak mengatakan aku mencintaimu ataupun hanya menganggapmu sebagai teman. Selama ini aku memperlakukanmu layaknya kekasih bagiku. Aku hanya takut akan mengecewakanmu, Ji Eun.

Aku tahu kita tak mungkin bersatu. Aku menjalani hidup yang penuh dengan aturan. Aku juga tahu kau datang ke pesta pertunanganku dengan wajah habis menangis. Walau kau menutupinya degan make upmu, aku tahu. Aku tahu segala tentangmu, JI Eun. Karena, percaya atau tidak, aku, Jang Wooyoung, mulai mencintaimu.

-Park Yunhwa’s Story-

Kau tahu betapa menyebalkannya hidupku?. Setiap hari diejek oleh teman-teman karena wajahku yang cantik. Aku, Park Yunhwa, memang dilahirkan dengan wajah cantik. Terlampau cantik malah. Padahal aku ini seorang namja.

=====================================================================================

“Well…well…well… Lihat siapa yang datang sepagi ini,” kata seorang namja. Kim Junsu. Sudah sering dia berkata seperti itu.”Yunhwa-ssi, apakah kau tak salah memakai pakaian?” tanyanya lagi. Aku hanya bisa diam di tempatku, mengepalkan tanganku erat-erat. Ingin sekali aku menghajarnya. Kelakuannya beda sekali dengan sahabatnya itu.

“Tuan Kim Junsu, bisakah kau tutup mulutmu itu?” kata seseorang tiba-tiba. Aku tahu siapa pemilik suara itu.”Seung Hyun-ah,” gumamku pelan. Dia menatapku.”Ada Choi Seung Hyun rupanya. Kau siapa? Pacarnya?” ejek Junsu lagi.”Tentu saja tidak. Dia sahabat baikku. Apa…jangan-jangan kau suka pada Yunhwa?” balas Seung Hyun tenang.

“Neo…,” gumam Junsu kesal.”Sudahlah, tidak baik bertengkar pagi-pagi seperti ini,” kata Wooyoung menenangkan.”Oya, satu hal lagi Tuan Kim, bisakah kau contoh sahabatmu yang pendiam itu?” tanya Seung Hyun. Untung Wooyoung cepat menarik Junsu keluar dari kelas. Kalau tidak, aku tak tahu apa yang bakal terjadi.

“Gomawo,” kataku. Dia tersenyum,”Aku kan sahabatmu. Oya, nanti siang kau jadi ke rumahku kan? Akan kukenalkan kau pada adikku,”. Aku tersenyum. Andai saja aku bisa menceritakan semuanya padamu, Seung Hyun.

=====================================================================================

“Yunhwa, ini adikku, Sulli,” kata Seung Hyun.”Annyeong oppa, joneun Choi Sulli imnida,” kata yeoja manis ini.”Annyeong, Park Yunhwa imnida,”. Sulli memandangku tak berkedip.”Oppa, neomu yeoppeo,” katanya. Aku terkekeh pelan.”Kata ummaku, aku ini cantik luar dalam,” kataku sambil mengedipkan sebelah mataku. Matanya berbinar-binar,”Aku ingin seperti oppa,”.

=====================================================================================

Aku tak tahu kapan tepatnya rasa itu datang. Rasa nyaman saat melihatnya. Rasa tenteram saat berada disekitarnya. Aku bahkan tak tahu apakah aku pantas memiliki rasa ini. Mengingatnya membuatku takut. Takut kehilangan dirinya. Padahal aku tahu benar kalau aku tak mungkin memilikinya. Bahkan untuk sekejap mata.

=====================================================================================

“Yunhwa-ah! Yang benar saja! Kau gila!” kata Jongwoon. Akhirnya aku memutuskan menceritakan tentang ini. Jongwoon merupakan sahabat sekaligus bosku. Heran kenapa dia bisa menjadi bos sedangkan aku masih kuliah?. Gampang, saat SMP dan SMA dia mengambil kelas akselerasi.”Entahlah, aku juga tak tahu,” kataku lemas.”Bagaimana kalau dia sampai tahu?” tanyanya. Aku menggeleng pelan.”Aku bahkan masih tak percaya dengan diriku sendiri,”. Jongwoon menghela napas berat,”Aku tak bisa membantumu kali ini Yunhwa-ah. Masalahmu kali ini benar-benar…,”.

“Aku tahu, Jongwoon. Tapi, aku benar-benar tak bisa lepas,” kataku. Suaraku mulai bergetar.”Kau tahu,bagaimana pertama kali kami bertemu?”. Jongwoon menghela napas,”Dia bahkan sempat iri padamu, benar kan?”. Aku mengangguk. Merasakan setetes air jatuh menuruni pipiku.

=====================================================================================

Semua orang yang ada disini menangis. Tak terkecuali aku. Bahkan Seung Hyun pun menangis. Kami semua sekarang berada di pemakaman Jongwoon. Dia rela mengorbankan nyawanya demi orang yang dia cintai. Apakah aku bisa seperti dia?.”Jongwoon-ssi,kau bahkan belum melihatku menyelesaikan masalahku sendiri,” gumamku. Setetes air mata mengalir menuruni pipiku. Bisa kurasakan tangan Seung Hyun menyentuh bahuku. Berusaha menguatkanku.

“Geun Young-ah, sudahlah jangan meratapinya seperti itu…,” hiburku. Geun Young sejak tadi tak berhenti menangis. Aku tahu Jongwoon-ssi tiada karena menyelamatkan dirinya.”Tinggalkan aku sendiri,” gumamnya. Eh.? Ini sudah hampir malam. Aku menyentuh bahunya,”TINGGALKAN AKU SENDIRI!” teriaknya.”Sudahlah, biarkan saja dia,” kata Seung Hyun menarikku keluar.

=====================================================================================

Bagiku, cinta itu buta. Cinta bisa datang kepada siapa pun dan kapan pun. Cinta juga tak memilih-milih orang untuk kita cintai. Tak masalah jika cinta itu terlarang. Seperti diriku. Aku tak tahu kenapa aku bisa mencintai dirinya. Aku yang selalu diperhatikannya, tiba-tiba mempunyai perasaan seperti itu. Cinta itu buta, iya kan?. Sampa sekarang saja aku masih belum berani mengakui bahwa aku, Park Yunhwa, mencintai Choi Seung Hyun.

THE END

33

[Freelance] {After Story} I Wanna Love U-Finally I Got It (Story 2)

Gaeul’s POV

Aisss ini memalukan sekali. Video menjijikkan.

Dengan cepat kutekan tombol off dan akhirnya hal menjijikkan itu lenyap tak berbekas.

Lee Hyukjae Matilah Kau!!!!!!!!!!

”Ummm.. Ra.. Rasanya kamar ini gerah sekali,” ucap Donghae oppa kaku.

Perlahan kutolehkan kepalaku ke arahnya. Kulihat dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya. Wajahnya masih memerah.

”Ah, n.. ne oppa. Panas sekali,” jawabku tak kalah gugup dengannya.

Sungguh tidak mengenakan berada dalam situasi seperti ini. Akhhhh menyebalkan!!!!

”A.. aku haus. Aku ambil minum dulu,” ucapnya lagi, kemudian tergesa-gesa berjalan keluar kamar.

Aku menghembuskan napas lega ketika punggungnya menghilang dari jarak pandangku. Sungguh ini hari terburuk dalam hidupku, bahkan lebih buruk dari hari-hariku tanpa seorang Lee Donghae selama 5 tahun kemarin. Monyet sialan itu membuat jantungku berolahraga berat hari ini.

Kusambar ponselku yang tergeletak di atas meja kecil di samping ranjang. Lalu kutekan sederet angka dengan kasar.

”Yeoboseyo,” sahut seseorang.

Dadaku naik-turun menahan emosi ketika mendengar suara tanpa dosa itu.

”Adik kecil,” panggilnya lagi karena tak ada jawaban dariku.

”Ya Lee Hyuk Jae!!!! Apa maksudmu??” teriakku kesal.

”Yayaya!!!! Sopan sekali adik kecilku ini. Waeyo?? Sebenarnya kau ini kenapa??”

Aisss kau itu sudah bodoh, jadi tak perlu berpura-pura bodoh lagi.

Continue reading

12

[Freelance] Three Months Curse part 1

THREE MONTHS CURSE

Author                        : donghaetales

Main cast        : Lee Donghae

Support cast   : Lee Hyukjae

Ps                    : pernah dipublish di donghaetales.wordpress.com

PLEASE ENJOY READING, READERS…

-In Kim Hajin’s eyes-

Tiga bulan…akhirnya hubunganku dan dia sudah menginjak tiga bulan.  Malam ini kami akan merayakan tiga bulan kami berpacaran.  Akhirnya aku punya kesempatan juga untuk merayakan tiga bulanan.   Lee Hyukjae.  Semoga kali ini aku tidak salah pilih lagi.  Semoga malam ini bukan akhir dari hubungan kami.  Aku sudah lelah berulang kali gagal menjalin hubungan dan terlihat seperti playgirl oleh banyak orang karena sering bergonta-ganti pacar.  But, Damn it!  That’s not my fault!  Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kekasihku.  Tapi endingnya, tetap saja, selalu berakhir di bulan ketiga.  Am I cursed?

Tiin tiin!

Ah…itu Hyukjae sudah datang.  Aku mematut penampilanku sejenak di cermin.  Hmm…You look perfect tonight, Kim Hajin…Jika Hyukjae tidak memujimu berarti dia buta.  Kau sudah menghabiskan banyak uang untuk membeli gaun dan pergi ke salon.  Dua hal yang sebenarnya sangat kau benci kan, Kim Hajin?  It’s okay…Asalkan kali ini tidak putus lagi, aku rela puasa membeli komik satu bulan ini.

Aku membuka pintu rumahku.  Seperti yang kuharapkan, mata Hyukjae langsung membulat melihat penampilanku malam ini.  Matanya tidak sedetik pun berkedip.  Diamatinya aku lekat-lekat dari ujung kaki hingga ujung kepalaku.  Lalu, dengan senyum simpul dia mengeluarkan kata-kata yang sudah kutunggu-tunggu, “You’re very beautiful, my princess…”

Aku pun tersenyum malu.  Hyukjae malam ini juga terlihat sangat tampan.  Yaah..meskipun dia memang selalu terlihat tampan, tapi malam ini dia jauuuh terlihat tampan.  Mungkin karena efek mood-ku yang sedang sangat amat baik ini.  “You look very handsome too, my prince…” balasku sambil melangkah mendekatinya.  “As always…” lanjutku tepat di telinganya.  Hyukjae meraih pinggangku, mendekatkan tubuhku pada tubuhnya.  Aku merasakan hawa panas di antara kami.  Apalagi ketika dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.  Aissh…Dia pasti ingin menciumku.  Andwe!

Spontan aku menutup mulutku dengan kedua tanganku kemudian menjauhkan tubuhku dari tubuh Hyukjae.  “Malam masih panjang, yeobo…” kataku yang dibalas dengan senyumannya yang tidak bisa kuterjemahkan maksudnya.  “Yup…Kau benar, honey…Malam masih panjang…”

***

Hyukjae membukakan pintu mobilnya untukku.  Aku turun dengan gaya anggun bak putri raja.  Aku benar-benar harus menjaga image-ku malam ini.  Selain karena tidak ingin membuat Hyukjae il-feel lalu meninggalkanku, ternyata restoran yang sudah direservasi oleh Hyukjae untuk kami berdua adalah restoran high class.  Hmm…ini pasti restoran mahal.  Jujur, aku tersanjung dengan segala perlakuan istimewa Hyukjae malam ini.  Dia benar-benar pria yang sempurna.  Diam-diam aku berjanji pada diriku sendiri akan melakukan apapun demi mempertahankan hubungan kami ini.

“Yeobo…Ini restoran yang sangat mahal…Memangnya tidak apa-apa menghabiskan uangmu hanya untuk makan disini?”  tanyaku padanya setelah kami dipersilahkan duduk oleh salah seorang waiter yang menurutku, dia sedang tidak dalam keadaan sehat tapi memaksakan diri untuk bekerja dan tersenyum pada kami.

“Kau lupa siapa aku, honey?  Aku bisa memberikan apapun yang kau mau di dunia ini…” jawabnya santai.

“Gomapta, yeobo…” Aku meraih tangan Hyukjae dalam genggamanku.  Aku merasa beruntung memiliki Hyukjae.  Meskipun dia terkenal sebagai casanova kelas kakap di kampusku, aku tidak peduli.  Aku yakin dia pasti bisa berubah bersamaku.  Lagipula, selama tiga bulan kami berpacaran, Hyukjae sama sekali tidak pernah macam-macam.  Dia sangat setia kepadaku.

“Permisi, tuan…nona…Ini menunya…” waiter yang tadi mempersilahkan kami duduk datang lagi dengan membawa daftar menu.

Continue reading