Summer Times 01

DJ’s Present ~

Summer Times… just for you darl.

Short Prolog~

Summer Times..
When I first Saw You..
Summer Times..
When I realize I love You..
Summer Times..
Summer Times..
All my heart, and story…
I’m sorry..



Part 1.

Kubulak-balik halaman majalah khusus cerita yang aku beli tadi depan Rumah Sakit. Membosankan, apa tidak ada tema lain selain ‘Perjodohan’ dan ‘Si orang kaya bertemu si miskin lalu berjodoh’ ? apa para penulis itu sudah kehabisan bahan cerita ? memuat cerita yang bertemakan serupa ?!

Teriakan khawatir bercampur histeris membuat konsentrasiku buyar, ku tengadahkan kepalaku. Pasti sebentar lagi suster akan membuka pintu dengan sekali hentakan dan berkata..

“Dokter. Kim, ada pasien korban keracunan secepatnya di tunggu dokter. Park di ruang UGD sekarang !” seorang suster berperawakan tinggi besar bermarga Moon itu berbicara terburu-buru.
“Segera siapkan alat, saya akan segera kesana..” aku buru-buru memakai jas putih kebanggaanku sebagai salah satu dokter berpontensial di Rumah sakit ini.
Secepatnya aku berlari ke ruang UGD, nyawa korban memang di berada di tangan Tuhan tapi Dokter harus bekerja cepat untuk menjadi perantaranya.

“Semuanya, harap tenang dan hati-hati karena ini tidak akan mudah, tapi kita pasti bisa.” Itulah kata-kata yang membuatku releks menjalani tahap demi tahap pengoprasian pada setiap pasien. Karena aku akan berusaha sekeras mungkin untuk menjadi perantara Tuhan.

Aku melepas masker yang sudah sedari empat jam yang lalu kupakai, akhirnya seperti keyakinan dalam diriku, aku dan tim ku berhasil melakukan operasi pada pasien keracunan itu.

“Pindahkan dia ke ruang rawat biasa..” titahku penuh wibawa pada para suster.
Para suster membawa tempat tidur dorong dan mengangkat pasien kemudian mendorongnya sampai ke ruang inap.

“Assa, dokter berhasil ! ini pertama kalinya aku memberanikan diri untuk ikut andil dalam menangani operasi besar seperti ini, omomo.. tanganku dingin.. dadaku berdetak cepat.. aku jadi ingin cepat-cepat naik tingkat !” Ujar Hyewon, asisten baruku. Baru saja lulus dengan nilai tertinggi bulan kemarin dan baru di terima di Rumah Sakit ini beberapa hari yang lalu.

“ Itu berkat tim kita. Lagipula Operasi besar ? ini hanya menguras racun Hyewon, bukan pengangkatan tulang sumsum atau jantung..”

“Aduh dok, maksudku bukan operasinya, tapi siapa yang di operasinya itulooh.. U-Know DBSK !” katanya gemas.

Aku memang tidak terlalu meperhatikan siapa pasien tadi, yang ada dalam pikiranku hanya menyelamatkannya.
U-Know ? tunggu.. U-Know Yunho ?

“Ya ya ya, itu tadi Yunho ? Jung Yunho ?” tanyaku memastikan pada Hyewon, Hyewon mengangguk bersemangat.

“Tampan kan Dok ? aku seperti akan pingsan saat memegang abs nya, itu menakjubkan [>,<

Dia merindukanku ? ya akupun merindukanmu Lee Donghae.

Aku segera mengiriminya pesan, singkat saja hanya untuk memberitahunya bahwa ponselku sudah aktif, baru saja beberapa detik yang lalu pesanku terkirim Donghae langsung menelponku, aku berdehem untuk menyiapkan diri sebentar.

“Yoboseo ?” sapaku seperti biasa.

“Jagiyaaaaa ~ kenapa baru aktif ? ugh. Kau tahu, aku merindukanmu sampai membuatku sesak.” Suara manjanya yang tidak akan pernah ia perlihatkan di depan public menyeruak masuk kedalam gendang telingaku.

“Aku ada operasi sayang, aku juga merindukanmu. Sudah makan ?”

Dia mendengus kesal. “Jika aku mati kau harus bertanggung jawab ! aku belum makan dari kemarin, hanya cemilan ringan, tidak ada waktu untuk makan, pulang dari Guangzhu langsung ke Sukira, Teuk-hyung berhalangan, jadi aku menggantikannya bersama si monyet itu.” Aku tersenyum sekaligus khawatir, ia pasti kelelahan.

“Kenapa aku yang harus bertanggung jawab ? kau ada waktu sekarang ? aku akan menemanimu makan Pangeran. Bagaimana ?” tawarku sambil melepas masker.

“Jeongmalyo ?!” tanyanya tak percaya.

“Atau kau ingin makan sendiri ?” ucapku membuatnya kelabakan.

“Aniyooo, sekarang di café biasa oke, gidalrike dear..”

Aku menutup sambungannya cepat.

“Aku akan makan siang diluar, akan kembali dua jam lagi. Langsung siapkan untuk Operasi Tn.Yoon.” aku melepas jas putihku sambil memberitahu Hyewon bahwa aku akan pergi.

Hyewon dengan cepat mengangguk. “Arraseo..”

“Sudah lama ?” tanyaku khawatir, akhirnya aku bisa menatapnya langsung lagi Tuhan.

Dia menggeleng. “Jika mungkin seratus tahun pun aku akan tetap menunggumu dear..”

Aku menonjok pelan lengannya. “Belajar darimana bualanmu itu Tuan Lee ?”

“Eunhyuk, my monkey in the zoo..” jawabnya bercanda.

Aku tergelak.

Donghae mendekatiku lalu memelukku erat, pelukan yang nyaman. “Aku rindu senyummu, tawamu, gaya berbicaramu, semuanya.. ” dia mendesah kecil. “..kapan terakhir kali kita bertemu ?”

“Tiga bulan yang lalu.” Jawabku lirih sambil menikmati wangi maskulin yang merebak di indera penciumanku.

“Aku tidak tahan, aku ingin berhenti saja, ini menyiksaku.” Keluhnya putus asa. Aku menggeleng dalam pelukannya.

“Kau akan membuang mimpimu yang bertahun-tahun kau rajut ? sudahlah, aku mengerti keadaan kita. Tak apa.” Aku mengusap pelan punggungnya. Dia malah makin mengeratkan pelukannya.

“Jika kau merasa lelah, bicaralah padaku. Aku tidak bisa membayangkan hariku tanpamu. Aku bisa gila Yonghyun-a..”

“Arreo, sekarang makan dulu, jangan sampai menunggu penyakit maagh-mu kambuh lagi.” Aku melepaskan pelukannya lembut.

“Ye Dokter. Kim..” godanya.

Ya Tuhan, atas dasar apa kau meragukannya ? dia begitu mencintaiku. Kau memang mempunyai cara tersendiri membuat hatiku jungkir balik Lee Donghae.

Kami mengabiskan makan dalam diam, dia tahu kalau makan sambil berbicara itu tidak baik dan tidak sopan, aku yang mengatakannya.

“Kau tahu siapa tadi yang ku operasi sebelum datang kesini ? Yunho-sunbae, temanmu.” Tanyaku tanpa memberinya waktu untuk menjawab.

Dia sempat terbengong. “Yunho ? kenapa lagi dia ?” tanyanya tak sabar.
“Keracunan makanan, dulu juga pernah kan ? makanannya di campur bahan kimia berbahaya, untung langsung di bawa ke rumah sakit, kalau tidak aku tidak bisa membayangkan kemungkinan terburuknya.” Ku suapkan sesumpiyt daging panggang yang masih panas ke mulut.

“Aku baru mendengarnya.. pasti ulah anti itu lagi, sialan. Apa mereka tidak bosan membuat Yunho keracunan ? mereka benar-benar serius dengan ancamannya. Jagiya, kau tahu.. setelah ini siapa sasaran selanjutnya ?” Donghae sedikit emosi, tentu saja Yunho memang teman sekolahnya dulu, sunbae-ku.

Aku menggeleng untuk pertanyaan Donghae, karena memang aku tidak tahu, terlalu sibuk untuk membaca berita para artis dan kegiatannya.

“Aku.” Jawabnya pelan.
Ku hentikan acara mengunyahku, pandanganku masih menunduk melihat piring.
Dadaku berdetak cepat. Ia bercanda kan ? maksudnya ia memang sering menerima ancaman terror seperti ini tapi itu hanya omong kosong buktinya Donnghae-ku masih duduk disampingku di dalan ruang makan VIP. Tapi masalahnya, ancaman dari anti ini berbeda, ia tidak hanya mengucapkan kata-kata kosong, buktinya dua kali Yunho-sunbae menjadi korbannya.

Denting ponsel peringatan waktu operasi Tn.Yoon membuatku tersadar.

“Aku harus cepat kembali ke Rumah Sakit..” kataku sembari memeriksa tas.

Donghae ikut berdiri. “Perlu ku antar ?” tawarnya entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, nada suara Donghae terdengar kecewa.

Aku menggeleng. “Aku pakai taksi saja, lagian kau masih banyak pekerjaan.”

“Anniya.. aku sudah selesai. Sekalian ingin menjenguk Yunho.”

Aku mengangguk menarik tangannya.

“Berapa menit lagi operasinya ?” Tanya Donghae sambil menatapku cemas tapi nada suaranya masih terdengar sama.

“Kurang dari lima menit lagi Hae.” Aku menghembuskan nafas berat. Semoga Hyewon sudah menyiapkan alat-alatnya dan aku bisa langsung memulai operasi saat tiba di RS.

Mobil Donghae berhenti di pintu masuk RS. Aku segera melocat ke luar.

“Hey hati-hati..” katanya kaget.

“Arra.. aku duluan..” aku berlari ke ruanganku mengambil baju hijau khusus.

Untunglah Hyewoon tau situasi, semuanya sudah ia siapkan aku hanya tinggal memimpin jalannya operasi, beruntunglah operasinya berhasil, kalau tidak habislah aku, aku sudah berjanji pada keluarga Yoon akan menyelamatkan anggota keluarga mereka, walaupun persentasinya hanya 30%.

“Operasinya berhasil..” ujarku menganggetkan keluarga Yoon yang sedang harap-harap cemas.

Istrinya berdiri dan memelukku erat sambil menangis bahagia. “Kau memang penyelamat keluargaku Dokter Kim.”

Aku menggeleng mengusap punggungnya untuk sekedar menenangkan.

“Aku hanya menjalankan tugasku, sekarang Tn.Yoon telah di pindahkan ke ruang biasa.”

Si anak yang usianya ku perkirakan lima tahun memeluk kakiku setelah ibunya melepaskan pelukan dari tubuhku. “Aku ingin seperti Noona, aku ingin menjadi perantara Tuhan seperti Noona.” Aku tersenyum lalu menepuk kepalanya dan mensejajarkan tinggiku dengannya.

“Kau pasti bisa.” Ucapku optimis, inilah yang paling aku suka, saat seseorang dengan percaya dirinya menginginkan menjadi seorang dokter.

Aku baru saja akan duduk setelah empat jam berdiri, tapi melihat para suster mengeluh keluar dari ruangan Yunho sunbae aku mengurungkan niatku.

“Ada apa ?” tanyaku penasaran.
“Pasien Jung tidak bisa di atur, dia tidak ingin makan, dan minum obat, katanya ia harus cepat-cepat keluar dari RS, banyak pekerjaan, padahal kondisi tubuhnya masih lemah setelah di operasi..” keluh suster itu.
“Dokter.Park kemana ? dia sudah kutugaskan menjaga disini.”
“Tadi dokter.Park keluar mencari makanan, katanya belum makan siang.”
Oh ya benar, dia sepertinya belum makan, karena saat aku datang dia sudah besiap-siap. Kasian juga kalau di pikir.
“Mana obatnya dan makannya ?”
“Sudah di dalam Dok..”
“Kalian boleh istirahat, biar aku saja yang menaganinya…”

Aku masuk ke ruangan Yunho sunbae, dimana-mana orang yang baru di operasi akan tiduran atau bagaimana lah, ini malah duduk di sofa dengan lengan tanpa infusan sambil mengetik sesuatu di laptop.

“Sunbae…” sapaku mengagetkannya.

“Kau..” dia berusaha mengingat-ngingat maklum saja kami sudah jarang kontak. “..Kim Younhyun ?” tanyanya memastikan

Aku mengangguk tanpa melepaskan senyum. “Sunbae masih ingat…”

“Tentu saja ! aku yang membantu Donghae mendapatkanmu.. aigoo ~ kau sudah jadi Dokter sekarang ? tidak heran dulu kau suka sekali pelajaran biologi.”

“Waah, sunbae kok tahu ?”

“Aku yang mencari berbagai informasi tentangmu, Donghae mana bisa.”

“Aku yang mengoperasi sunbae tadi..” ujarku seraya memberikannya obat. Dan sudah kuduga dia akan menerima dan memasukan ke mulutnya. Gampang sekali mengalihkan perhatiannya.

“Waah, aku berhutang padamu..” ia meminum air yang aku sodorkan.

“Sudah tugasku..” aku tersenyum penuh kemenangan saat dia memasukan sesendok nasi.

“Jadi.. bagaimana gubunganmu dengan Donghae ? baik-baik saja ? atau sudah-”

“Aku masih sunbae..”

Matanya berbinar kagum. “Yang benar ? setelah sepuluh tahun ? waah, daebak.. aku kira kalian akan putus hanya dalam waktu satu tahun, ini sudah ke sepuluh tahun kan ?”

Aku mengangguk.

“Ternyata aku berbakat jadi mak comblang..” guraunya.

“Sunbae, kenapa bisa terjadi lagi ?” tanyaku ingin tahu.

Dia malah mengangkat bahu. “Aku ini terlalu bodoh, sampai bisa di kadali dua kali.”

“Hati-hati sunbae, untung cepat ke rumah sakit, kalau tidak… ya sunbae tahu sendiri, racun itu mengandung bahan kimia yang sangat berbahaya.”

Kulangkahkan kaki menuju ruanganku, lelah baru saja menyergap tubuhku, dari minggu kemarin aku baru bisa keluar rumah sakit hanya dua jam saat menemani Donghae makan siang, itupun harus di bayar oleh waktu tidurku, aku tidur hanya tiga jam beberapa minggu ini, rapat dokter, operasi besar, konsultasi keluarga pasien, dan sekali-kali mencoba untuk membuat racikan obat baru membuatku lelah, tapi aku tidak ingin mengeluh. Berarti hari ini aku hanya punya waktu tidur satu jam, sebelum jam setengah lima aku harus sudah bangun untuk menyiapkan berkas rapat bersama kepala rumah sakit.

Mataku membesar saat melihat Donghae malah menempati tempat tidur kecilku di sudut ruang kerjaku. Ternyata dia tidak langsung pulang, sudah berapa jam dia menungguku ? aku kembali ke RS jam setengah tiga, dan langsung memulai operasi, memberi tahu keluarga Yoon, dan hal penting lainnya sampai aku kembali ke ruanganku tepat pukul.. what ?! jam tiga pagi ? berarti dia sudah menunggu sekitar kurang dari sepuluh jam ? aigoo~

Aku mengelus rambutnya kemudian turun ke pipinya. “Gomawo..” bisikku. Lalu tertidur dalam posisi terduduk di lantai dan kepala di perutnya.


Aku terbangun lai-lagi oleh suara alarm-ku. Sudah jam setengah lima, great.. aku melemaskan otot leherku terlebih dulu, kaku sekali. Mungkin karena tertidur dalam posisi yang salah. Donghae masih tertidur dalam damainya.

Pelan-pelan aku membangunkan Donghae.

Donghae mengucek-ngucek matanya dan melihat kesekeliling mungkin dia merasa asing tertidur di ruanganku.

“Kau…” dia menguap lalu menengadahkan kepalanya sepertinya kepalanya pusing gara-gara tidur tidak memakai bantal. “… kenapa aku bisa tertidur di sini ?” tanyanya. Aku mengangkat bahu tanda tidak tahu.

“Oh ya..” dia tersenyum sinis. Kenapa aku seperti merasa akan sesuatu yang tidak aku inginkan ? tidak biasanya dia seperti itu.

“Aku menunggumu dari jam empat, kemana saja ?! selingkuh dengan pasienmu ?! tidak ingat aku sedang berada di sini ?!!” bentaknya.

Aku yang merasa heran mengerutkan alisku. Tunggu, apa maksudnya dengan aku selingkuh dengan pasien ? dan seharusnnya dia ingat aku tidak pernah menyuruh nya menungguku selama itu. Dia yang melakukannya sendiri.

“Aku tidak ada waktu untuk berdebat dengan orang yang tidak pernah memikirkan perkataanya.” Ucapku lalu meninggalkannya.

Asal dia tahu, aku harus membayar waktu tidurku yang hanya tiga jam untuk menemaninya makan siang, dan aku harus tertidur dengan posisi terduduk di lantai sementara dia menempati kasurku. Bukannya aku tidak ingin menjelaskan semuanya, masalahnya aku sedang di tunggu deadline dan aku tidak ingin membalas ucapannya yang seperti anak kecil umur lima tahun.

“Teruslah menghindar dari pacarmu ini Kim Younghyun ! selingkuh saja sesukamu ! aku muak denganmu.” Katanya kasar.

Anak ini kenapa sih ? menuduhku sembarangan.
Ku tahan air mataku yang tertumpuk. Jangan menangis di depannya Yonghyun !

“Apa ?! tidak bisa menjawab kan ? berarti kau memang benar berselingkuh, sepenting apa sih pekerjaanmu hah ?!” bentaknya lagi.

Aku mengepalkan kedua tanganku sudah tidak tahan dengan sikapnya yang temperamental. Dia boleh mencerca ku tapi tidak dengan pekerjaanku.
Aku menamparnya keras. Dia terhenyak, karena selama kami menjalani hubungan ini sedari SMA sampai sekarang aku tidak pernah menamparnya. Tapi kali ini di benar-benar keterlaluan.

“Aku tidak suka kau menyepelekan pekerjaanku Lee Donghae ! pekerjaanku sangat penting karena ini berurusan dengan nyawa seseorang !” aku mengambil map berisi berkasku di mejaku, kutinggalkan Donghae yang masih memegang pipinya yang kuyakin merah. Aku harus segera mengajarkan Hyewon tentang rapat kali ini, Hyewon masih baru jadi harus menerima banyak bimbingan dariku.

Rapat dimulai, aku segera duduk di sebelah Hyewon dan Dokter.Nam salah satu Dokter senior. Kepala rumah sakit mulai membuka jalannya rapat, dengan menunjukan gamar-gambar grafik kesehatan aku tidak terlalu memperhatikannya, pikiranku masih melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu. Saat Donghae menuduhku yang tidak-tidak, saat aku menampar pipinya. Ada sedikit rasa bersalah karena telah menamparnya. Tapi aku ingin dia berpikir.

Kami sudah berpacaran kurang lebih sepuluh tahun, sudah cukup tahu tentang pribadi masing-masing. Donghae yang bisa sangat romantis dan manis, tapi juga bisa sangat tempra jika sedang marah. Aku selalu memahaminya, aku mencoba untuk mengerti pekerjaanya, aku coba untuk bersabar saat dia di sentuh-sentuh oleh para dancer itu.
Aku mencoba untuk berpikiran positif, ini pekerjaanya. Tapi kenapa dia tidak pernah mengerti tentang duniaku, kenapa harus selalu aku yang memahaminya ? aku lelah saat dia mengekangku ini itu. Tapi aku tidak boleh mengatur kehidupannya hanya karena dia artis. Padahal dulu tidak seperti ini. Saat SMA dia selalu mendukung cita-citaku. Membebaskanku, tapi kenapa semakin kesini hubungan kami semakin aneh dan malah menjadi menyiksaku ?

Sepuluh tahun yang lalu..

Aku masih berkutat dengan buku-buku kedokteran yang aku pinjam pada tetanggaku Sinhye Onnie, dia yang membuatku berusaha untuk menjadi seorang Dokter, dia yang pernah menyelamatkan nyawa appa saat appa kritis. Dia salah satu malaikatku.

“Serius sekali membacanya..” ujar laki-laki dengan rambut belah tengah yang berada di sampingku.

“Tidak pulang ?” tanyaku sembari memberikan senyuman terbaikku.
Dia kekasihku—geli rasanya menyebutnya sebagai kekasihku. Baru beberapa hari dia yang lalu saat dia membuatku dengan terpaksa menerimanya. Konyol sekali, ia mengancamku tidak akan menikah kalau tidak menerimanya, pikiranku masih terlalu anak-anak saat itu. Tentu saja aku langsung berkata ‘aku mau’ saat dia mengancamku.

“Kalau kau ingin menjadi Dokter hebat, aku ingin jadi artis.. pasti keren, aku digila-gilai oleh para noona dan seluruh wanita di dunia.” Ucapnya percaya diri. Aku tertawa sebentar, ini anak terlalu tinggi angan-angannya.

“Yang ada kau yang gila.” Celetukku pelan.

Dia membulatkan matanya.“Tunggu saja, kau akan menyesal telah mengatakan itu padaku, fansclub ku akan menghabisi mu.”

Aku semakin tertawa terpingkal mendengar nya.

“Dokter. Kim ? Dokter.Kim ?” otakku masih lumpuh tidak bisa berpikir.
Kurasakan di sebelahku Hyewon menyenggol lenganku. Aku buru-buru tersadar.
“Ya, ada apa sajangnim ?” ucapku tergagap.
“Bisa kau jelaskan tentang hal-hal yang bersangkutan yang telah aku jelaskan dengan pemikiranmu, aku membutuhkan masukan hebat dari dokter sepertimu..”
“Josonnghamnida sajangnim, aku tidak bisa..mungkin dokter.Park bisa menjelaskannya..” aku balas menyenggol lengan Hyewon, untunglah Hyewon langsung tanggap dan menjelaskan dengan gaya bahasa yang santai.
Aku mengela nafas lega.
Hyewon selalu bisa kuandalkan saat aku dalam keadaan terdesak.

Sore ini aku ingin mengistirahatkan otakku, lagi-lagi Hyewon yang menawarkan bantuannya, ia yang akan mengambil alih pekerjaanku untuk akhir hari ini.
Kukeluarkan ponsel touch ku dari laci meja, ponselnya mati mungkin kehabisan energi karena sudah tiga hari tidak ku isi. Baru saja ingin beranjak dua kali nada sama dari ponsel membuatku terkejut.

Jungsoo Oppa : Jangan percaya apa yang dia katakan Yonghyun-ah, dia benar-benar labil beberapa hari ini.

Aku mengeritkan kening, apa pula maksud dari oppa satu ini..

Pesan kedua.

Heenim Oppa : Dia bodoh ! jangan percaya kata-katanya, jangan nonton Strong heart ! kau akan menyesal, percayalah padaku.

Ini lagi, maksudnya apa sih ?

Hyewon masuk ke ruanganku dengan tampang kecapaian.

“Ampun dok, baru beberapa jam saja aku menggantukan dokter, aku serasa ingin menyerah..” katanya lalu duduk di kursi depan meja ku.

“Apa semuanya beres ?” tanyaku seraya duduk di depannya.

Dia mengacungkan dua jempol.

Aku mengangguk-ngangguk. “Maaf membuatmu sulit, Hyewon-shi..” kataku pelan.

Dia mendongkak dan dengan cepat menggeleng. “Dokter butuh istirahat, lihat itu lingkaran hitam di sekitar mata Dokter..”

Tiba-tiba pesan Heechul oppa melintas di pikiranku. “Kau tahu Strong Heart kapan dimulai ?” tanyaku tiba-tiba,

“Sekarang hari apa ?” Hyewon meneliti kalender di mejaku. “..Ahh, Hari ini jam delapan malam..”

Aku melirik sekilas ke jam dinding. Sekarang jam seteng delapan, apa sebaiknya aku tonton saja ? tapi kata Heechul oppa aku akan menyesal, menyesal apanya ? sedikit perasaan penasaran menyeruak.

“Aah.. mumpung kita sudah selesai, aku butuh merefresh otakku, Dok, aku boleh nonton TV kan ?” tanyanya sambil menunjuk TV di ruanganku.

Aku mengangguk, sebaiknya menuruti kata Heechul oppa saja, daripada aku menyesal nantinya.

“Oaaah ~ Strong Heart ! assa !!” pekik Hyewon, aku membulatkan mataku. Ini bagaimana, niat tidak akan menonton tapi malah.. Gasp.

“Aku keluar sebentar, cari udara segar..” ujarku beranjak dari dudukku.

Belum sampai aku mencapai pintu sebuah suara yang sangat familiar menembus telingaku.

“Aku bingung, kenapa aku selalu di campakan wanita..” aku membalikan badanku dan tatapanku tertuju pada layar TV.

Donghae ?

“maksudmu ? di campakan bagaimana Donghae-shi ?” Lee Seunggi mulai tertarik.

Donghae terlihat tertawa seperti..mengejek ? “Aku mempunyai mantan, dulu saat High School, aku menyukai seorang gadis, itu pertama kalinya aku menyukai seorang gadis sampai sebersar itu, Yunho yang tahu membantuku membuatnya menyukaiku, tapi saat kita sedang berpacaran dia malah mencampakankku, aku tidak tahu letak kesalahanku dimana.”

Aku mengepalkan tanganku kuat, Demi Tuhan Lee Donghae, apa yang kau katakan ? wanita mana yang kau maksud ? aku ? atau siapa ?

Aku berusaha menahan lajunya air mataku.

“Dan sampai sekarang kau tidak punya teman wanita untuk di ajak kencan ?” Tanya Kang Hodong mulai menyerempet.

“Tentu saja…” Jawaban Donghae mengambang membuatku tegang. “.. Tidak” dan aku mulai kehilangan keseimbangan, lalu semuanya gelap.


TBC

Tenang ini udah mer buat beberapa part jadi tinggal buka pc dan publish ^^
Ini beda cerita ma New Summer times ya, New Summer Times nyusul~

silaturahmi ya, fb : Merisa Dwi Juanita
twitt : DJ_merr
wp : heyhan.wordpress.com

mer bakal welcome banget ma kalian ^^

11 thoughts on “Summer Times 01

  1. Laju mobil kali akh!! Nangis y nangis ajj, kluarin smw bban & ingus!! ^^d

    Lanjuutt!! Aq jg mw add fb’a ahh :) Aq Cho Taery *d fb*Ending’a ama haejagi ajj y, dy kn pria tersosweet se ff >0<

  2. seru, hae apa2an coba ngomong gt, gmn ngak emosi lg cape d tuduh gt. . .
    Aku sempet bingung dr awal cerita, aku pikir tu hae yg jd dokter jd aku ngebayangin hae tau y pacar y hae. . .
    Kasi POV y dong author biar aku ngak bingung n baca y jd enak

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s