Grave Diggers [1]

Grave Diggers [1]: Yonghwa
Main Character(s): CN Blue
Other character(s): Super Junior, Kara
Genre: friendship, angst, tragedy
Rating: R, untuk kekerasan, obat-obatan, kehidupan malam, dsb.

Inpired by CN Blue’s Intuition.
Masterlist

 

Awalnya pedih. Tiap teriakan berdenging di telinganya, tiap makian menghujam jantungnya seperti puluhan pisau. Seperti tenggelam dalam laut dalam, kakinya seolah tak berpijak. Sesak. Sesak. Dan yang bisa ia lakukan hanyalah menutupi wajahnya dengan bantal, berteriak sekeras-kerasnya. 

***

 

Distrik Hongik cenderung lebih sepi daripada wilayah Dangdaemun kemarin. Rata-rata isinya hanya tempat makan dan toko-toko kecil. Jam 2 malam, kebanyakan toko juga sudah tutup. Namun bukan berarti wilayah ini akan lolos dari mereka. Tidak, distrik ini adalah garis start dari petualangan mereka malam ini.

 

“Ready?”

Empat orang laki-laki menyelinap keluar dari salah satu gang. Semunya mengenakan masker gas yang menutupi wajah mereka seluruhnya. Masing-masing membawa kaleng pilox berbeda warna. Dua orang membawa botol besar berisi cairan bewarna kuning. Tujuan mereka, seperti biasanya, simpel saja.

Beberapa pejalan kaki yang melihat mereka menyingkir, menghindari sosok-sosok tanpa identitas itu dengan terburu-buru. Suara tawa keji terdengar memecah malam. Sementara warna-warni cat mulai menghiasi permukaan apa saja yang bisa disentuh. Dinding yang semula bersih kini dipenuhi warna mencolok, kaca yang semula bening kini lenyap di bawah warna hijau dan merah. Dan tulisan besar di atas aspal menegaskan pelaku semua ini:

C.N. Blue

 

“Akhir yang mengawali,” gumam salah satu dari mereka ketika tujuan mereka malam itu sudah terlihat. Sebuah gereja megah dengan cat putih, salah satu tempat favorit para pasangan untuk mengikat janji. Dindingnya terbuat dari batuan putih, salah satu objek wisata yang populer karena arsitektur yang indah dan sejarah yang tertoreh dalam dindingnya.

“Puitis sekali, Jungshin,” balas seorang yang lain. Meskipun wajahnya tersembunyi di balik masker gas, tiga orang yang lain bisa membayangkan seringai mengejek muncul di wajahnya.

Orang pertama yang dipanggil Jungshin hanya mengangkat bahu, “I’m just saying, Yonghwa.”

“Cukup bicara, ayo kita mulai,” ujar seorang yang lainnya, membuka tutup botol dan memberikannya pada Yonghwa. “Kau duluan.”

Feeling generous, Jjong?”

“Ini malammu,” ujar Jonghyun sambil mengangkat bahu, meletakan botol berisi cairan kuning tadi di tangan Yonghwa. “Kau yang memimpin.”

 

Ini malamnya.

Ini malam di saat semua masa lalunya akan lenyap bersamaan dengan lidah api menjilat langit. Saat semua kepingan memori akan terbang bersamaan dengan serpihan abu. Saat semua kisahnya berakhir, sekaligus saat di mana simfoni hidupnya yang baru dimainkan untuk pertama kalinya. Akhir yang mengawali, kata Jungshin tadi. Di tempat ini semuanya bermulai, di tempat ini juga semuanya akan berakhir.

 

***

 

“Pagi, Yonghwa,” sapa seorang wanita ketika ia memasuki dapur di pagi hari. Wangi pancake yang baru dimasak memenuhi ruangan. Di atas meja terdapat dua piring putih yang masing-masing berisi dua potong pancake dengan sirup marple. Vas putih berisi bunga krisan yang segar menghiasi bagian tengah meja.

“Pagi, ma,” balas pemuda yang dipanggil Yonghwa itu sambil mengecup pipi ibunya. Ia duduk di salah satu kursi dan menatap menu sarapannya, “hmm, kelihatannya enak.”

 

Wanita itu tersenyum, meletakan secangkir kopi yang masih mengepul di depan putranya. “Hari ini ada rencana apa?”

“Teman-teman sekelasku mengajak pergi ke karaoke,” ujarnya singkat, memasukan suapan pertama pancakenya ke dalam mulut. Ia menutup matanya, membiarkan inderanya fokus pada rasa manis yang menyebar di mulutnya.

“Hm… Pulang jam berapa?”

“Jam 9 mungkin, lebih telat daripada biasanya. Boleh?”

“Tentu saja,” ujar ibunya sambil tertawa kecil, meneguk cangkirnya sendiri yang berisi the camomile, “setidaknya kau pulang, tidak seperti ayahmu.”

Yonghwa memaksakan dirinya untuk tersenyum. Pemuda 16 tahun itu memusatkan perhatiannya pada sarapan di atas piringnya, berusaha untuk melupakan perasaan tidak enak yang merayap memasuki hatinya. Seperti gemuruh badai di kejauhan, terasa terlalu dekat untuk kenyamanannya. Ia menusuk pancakenya, mengusir jauh suara-suara ribut yang terus bermain di kepalanya.

 

***

 

“Aah, manis sekali mereka berdua,” ujar teman perempuannya gemas, mencubit lengannya yang tidak bersalah apapun.

“Lepaskan aku, Nicole, sakit,” Yonghwa mengernyitkan dahinya dan berusaha menarik tangannya dari cengkraman gadis itu. Ia hanya melirik sekilas ke arah yang ditunjuk, mendengus pelan ketika melihat pasangan yang dimaksud (Wooyoung dari kelas sebelah dengan seorang adik kelas, IU atau siapalah namanya). Mereka berdua memang terlihat cocok, tapi untuk berapa lama? Paling nantinya keduanya akan bosan dan, the end.

Nicole meninju bahunya pelan, “setidaknya kau bisa pura-pura senang atau apa.”

“You know already, Nicole, I don’t believe in love,” kau tahu aku tidak percaya pada cinta, jawabnya mudah. Membuat temannya itu menatapnya skeptis kemudian memutar bola matanya, isyarat bisunya untuk mengatakan ‘terserah kau sajalah’. Pandangannya menyapu sekeliling kafetaria, tempat mereka menghabiskan waktu istirahat siang mereka. Tidak ada yang spesial di hari itu, sama seperti hari-hari biasanya. Kaku dalam rutinitas yang terlalu teratur, membusuk dalam tempat yang sama.

 

“Ayahmu, belum pulang?”

Yonghwa menghela nafas, “bagusnya, sih. Lebih baik dia tidak usah pulang lagi saja.”

Nicole meletakan satu tangannya di bahu pemuda itu, “jangan berkata begitu, dia tetap ayahmu, kan…”

“Sayangnya.”

 

“Kau tahu,” mulai gadis itu dengan nada yang sedikit lebih ceria, “daripada kita ke karaoke nanti, bagaimana kalau kau ikut denganku?”

“Hm? Kemana?”

“Ada sebuah bar di wilayah Gangnam, temanku bekerja di sana.”

“Bar?” Alis si pemuda naik, agak tidak percaya temannya bisa memberikan ide seperti itu mengingat usia keduanya sama-sama baru tujuh belas tahun. Entah kenapa dari nada bicaranya, ia bisa menebak bahwa ini bukan pertama kalinya Nicole mengajak seseorang pergi ke bar. Yah, memang temannya itu tidak terkenal karena yang baik-baiknya.

“Aku tahu yang kaupikirkan, tapi seperti yang kubilang, temanku bekerja di sana,” Nicole sudah mulai nyengir mencurigakan sekarang, “aku yakin kita bisa mendapatkan, kau tahu, minuman.”

 

Yonghwa tersenyum kecil. Mungkin bagus untuknya mengikuti ajakan temannya itu. Melupakan semua masalah dengan tiap tegukan alkohol. Bagus juga kalau dia bisa mendapat seorang perempuan untuk dimainkan. Yah, semua itu pasti bisa membuatnya merasa lebih baik setelahnya.

“Oke, jam berapa kita pergi?”

“Kita jelas tidak mungkin memakai seragam, jadi kita pergi dulu ke rumahku,” ujar temannya itu sambil meminum cola-nya, “Kau bisa meminjam baju kakakku, kau tidak mungkin pulang kan?”

“Tidak, ibuku pasti curiga,” jawab Yonghwa cepat. Yah, ibunya sekarang selalu mencurigainya karena alasan sekecil apapun. Wanita itu berubah paranoid sejak pria yang dipanggil suaminya berselingkuh.

“Baiklah, sudah diputuskan!”

 

***

 

“Gyuriiiiii!” Pekikan melengking dari temannya membuat Yonghwa mengernyit. Ia memasukan tangannya ke dalam kantung jeansnya, merasa berada di tempat yang salah. Jaket dan baju yang dipakainya terlalu berkelas, sama sekali tidak mencerminkan dirinya. Nicole yang mengajaknya ke sini dapat berbaur dengan keramaian dengan mudah. Dengan mini dress hitam dan rambut pendeknya yang stylish, dia memang tampak seperti bagian dari tempat ini. Entah kenapa ia merasa iri, seakan-akan memang ia tidak akan pernah cocok di mana pun.

Sementara ia berdiri diam dan merasa salah tempat, temannya itu sedang memeluk seorang gadis lain dengan rambut panjang gelap bergelombang dan amat sangat cantik. Bahkan kata cantik masih kurang cocok untuk menggambarkan perempuan itu. Yonghwa mempertahankan ekspresi datarnya, meskipun dalam hati ia mengagumi bagaimana mini dress dan stocking hitam membalut tubuh gadis itu dengan sempurna.

“Yonghwa, kenalkan temanku,” ujar Nicole ceria sambil menarik gadis tadi, “Gyuri, hostess nomor satu di bar ini.”

 

Hostess?

 

“Hei,” sapa pemuda itu sambil mencoba untuk tersenyum, berharap ia tidak terlihat kaku atau apa.

“Hai,” balas gadis cantik itu tersenyum sembari mengibaskan rambut panjangnya ke belakang, “Yonghwa-sshi? Pertama kali ke sini?”

“Yonghwa saja, dan memangnya kelihatan sekali, ya?”

“Angkat kepalamu dan mulailah berpikir bahwa kau salah satu penguasa di sini,” Gyuri mengatakan itu sambil tertawa, menggamit lengan Yonghwa dengan santai, “harga diri memainkan peran yang sangat penting di sini.”

Pemuda itu hanya dapat mengangguk, tidak tahu harus membalas bagaimana. Dan yah, coba saja berdiri dalam jarak yang sedekat ini dengan perempuan secantik ini. Yonghwa hanya bisa pasrah saat Nicole pergi ke belakang untuk bertemu dengan seseorang bernama Key, meninggalkannya berdua dengan sang hostess.

 

“Kau sudah pernah minum bir?”

“Ah,” ucap Yonghwa sedikit bingung, “belum. Umurku…”

“Tidak apa,” potong gadis itu sambil tertawa kecil, menarik tangan pemuda itu ke arah bar, “semua masalah akan tampak trivial kalau kau sudah menenggak alkohol.”

“Dari mana kau tahu aku punya masalah?”

“Yonghwa, sayang, hanya orang-orang bermasalah yang datang ke sini,” jawab Gyuri lembut, ada sesuatu di mata gadis itu yang membuat Yonghwa merasa kecil. Semua orang di sini memiliki masalah, dari pria mabuk di sudut ruangan sampai pemuda kaya yang memamerkan lembaran won pada gadis di sebelahnya. Yah, semua orang memiliki masalah.

 

Tegukan pertama yang diminumnya membakar kerongkongannya, rasa manis-pahit dalam mulutnya menyebar, membuat kepalanya terasa ringan. Perutnya terasa hangat, dan sensasi yang ia rasakan begitu nikmat hingga ia terus meneguk isi gelasnya sampai habis. Ia tidak tahu apa yang diberikan Gyuri kepadanya, tapi ia menyukainya.

“Bagaimana?”

“Mabuk,” jawabnya sambil tertawa, pemuda itu menggoyang-goyangkan gelasnya, tampak senang melihat cairan keemasan di dalamnya bergerak. Gyuri ikut tertawa dan Yonghwa merasa suara tawa gadis itu juga seindah wajahnya. Dan mungkin ia sedikit menyukainya.

“Kau manis. Kau bisa melamar jadi host di sini beberapa tahun lagi.”

Yonghwa hanya nyengir dan menyentuh pipi gadis itu.

Hey, can I kiss you?

 

***

 

“Gara-gara kau Yonghwa jadi seperti ini! Padahal, padahal dulu dia anak yang baik… Ini semua kesalahanmu!”

“Diam kau! Apa salahnya jika dia ingin bersenang-senang sedikit?”

“Membawa seorang perempuan ke rumah dan mabuk-mabukan, kau bilang itu hanya sedikit?!”

 

Yonghwa mengerang kesakitan. Kepalanya terasa seperi dibelah dua dan suara-suara ribut dari bawah tidak membantu sama sekali. Ia menarik rambutnya, frustasi. Perutnya mual dan ia tidak ingin memikirkan apa yang membuat dua orang tuanya bertengkar, lagi. Seakan tiap malam tidak cukup, ia juga harus terbangun karena teriakan mereka juga. Dan dentuman di kepalanya sama sekali tidak memberikan bantuan. Hangover, begini rasanya, ya.

Tangan lain menyentuh lembut dahinya. Matanya langsung membelak, tidak tahu siapa yang sedang berada di sana. Awalnya ia tidak mengenali siapa orang itu, tapi kemudian pandangannya memfokus dan sosok orang itu semakin jelas.

 

“Nicole.”

“Hei,” sapa gadis itu ceria, “ibumu hampir terkena serangan jantung sewaktu melihatku di sini. Kukira dia mengira kau meniduriku atau apa.”

Persetan,” gumam pemuda itu sambil membenamkan wajahnya di bantal. Terserahlah orang tuanya mau berpikir apa.

 

“Kurasa aku mengerti sedikit perasaan ibumu,” ujar temannya pelan, membuat Yonghwa terpaksa membuka matanya untuk kedua kalinya. Ia melirik Nicole yang sedang memegang koleksi pialanya dulu. Dulu, sebelum orang tuanya memutuskan bahwa bertengkar adalah salah satu cara yang baik untuk membesarkan anak.

“Aku berubah,” ia menjawab sekenanya.

“Yah, memang,” balas Nicole tertawa kecil, “tapi selama kau bahagia, Yonghwa, aku akan mendukungmu.”

“Hm… Thanks, Nic.”

Anytime.”

 

***

 

“Kenapa kau jadi seperti ini Yonghwa, mama mohon, kembalilah seperti dulu,” isak wanita itu, mencengkram bahunya keras-keras. Si pemuda yang dipanggil meringis kesakitan namun tidak mengatakan apa-apa.

“Tidak perlu dengarkan dia, Yonghwa, lebih baik kau tinggal dengan ayah. Ayah bisa memberikanmu kehidupan yang layak.”

“Diam kau! Yonghwa jadi begini karena ulahmu!”

“Ma, tenanglah aku dan Nicole tidak—“

 

Plak.

 

“Mama percaya padamu Yonghwa, tapi ternyata kau sama saja seperti ayahmu!”

“Ma, tolong dengarka—“ ujar pemuda itu pelan, menyentuh pipinya yang seperti tersengat akibat tamparan itu. Satu tangannya yang lain mengepal, menahan diri untuk tidak membalas. Diberikan kesempatan untuk menjelaskan saja tidak, seharusnya sekalian saja ia membawa pelacur kemarin. Toh ibunya tetap akan berasumsi begitu.

 

Plak.

 

“Jangan panggil aku mama! Anakku sudah mati! MATI!”

“Dasar wanita sialan! Apa yang kau lakukan pada anakku!”

“Sekarang kau bilang dia anakmu! Setelah kau mengubahnya menjadi lelaki hidung belang sepertimu!”

 

Berhenti.

 

“Hah, dia begini karena kau terlalu mengekangnya! Memaksanya untuk terus memenangkan ini dan itu agar kau bisa membanggakannya pada teman-temanmu!”

“Lebih baik daripada menjadikannya laki-laki tidak tahu diri seperti yang KAU lakukan!”

“Mungkin dia mulai menyadari kalau kau sebenarnya memanfaatkannya!”

 

Berhenti.

 

“Apa?! Dasar kau lelaki mata keranjang! Tukang selingkuh!”

“Diam kau, jalang!”

 

BERHENTI.

 

Yonghwa menepis vas bunga di atas meja, membiarkan suara pecah nyaring berdenging seiring dengan lenyapnya suara teriakan. Pemuda itu menatap lantai, benci harus berada di sini, di tengah-tengah pertengkaran yang tidak ingin ia lihat. Sakit, ulu hatinya. Kepalanya terasa akan pecah, ia ingin menusuk pperutnya dengan pisau hingga ia tidak perlu merasakan sakit ini.

“Yonghwa…?”

 

Ia menepis tangan yang berniat menyentuh bahunya. Matanya memancarkan kebencian. Terserah, terserah. Ia mendengus dan melangkah ke kamarnya, tidak menghiraukan suara yang memanggilnya.

Ranselnya sudah siap, berisi baju secukupnya. Ia sudah mengosongkan tabungannya, menyimpannya baik-baik di bagian bawah ransel. Ia menyampirkan ransel itu di bahunya. Kemudian melangkah pergi dari rumah itu, tak peduli lagi, tak mencoba untuk mendengarkan suara yang memohon padanya agar tetap tinggal.

Bullshit.

 

 

Ia tidak tahu kemana kakinya membawanya pergi, namun ia akhirnya menemukan dirinya sendiri di depan bar itu lagi. Sapphire. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya sehabis ini, bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya setelah melarikan diri dari orang tuanya. Tapi untuk saat ini, ia tidak ingin peduli.

 

“Yonghwa?”

Pemuda itu menoleh ke arah sumber suara. Ia tersenyum lemah, “Gyuri.”

Gadis itu menatapnya heran, namun tidak berkomentar. Meskipun Yonghwa tau ia pasti kelihatan aneh dengan ransel dan seragam sekolah, berdiri di depan bar. Tapi ia berterima kasih, ia belum ingin menjelaskan apa yang terjadi padanya.

“Ayo, masuk,” ajak Gyuri, menggamit lengannya seperti malam itu lagi.

“Ah, tapi aku…” Ia melirik seragamnya.

Tawa merdu itu terdengar lagi. Gadis itu menepuk bahunya dan memberi isyarat ke gang kecil di samping bar, “kita masuk lewat pintu pegawai, ada seseorang yang ingin kukenalkan padamu.”

Pemuda itu mengikuti sang hostess menuju pintu belakang bar. Pintu itu tersembunyi dan dijaga oleh dua orang berpakaian hitam yang mengangguk ketika melihat Gyuri datang.

 

Bagian dalam tempat para pegawai itu sama mewahnya dengan bagian depan bar. Sofa-sofa besar bewarna delima memenuhi ruangan yang tampak seperti ruang duduk besar. Hanya ada tiga orang lain di sana. Ketiganya lelaki, yang satu tampak berusia akhir dua puluhan dengan rambut kemerahan dan senyum berlesung, dua lagi terlihat berumur dua puluh awal. Seorang dengan rambut hitam dan wajah yang manis, yang satunya berambut ikal cokelat dengan ekspresi dingin.

“Leeteuk-sshi, ini Yonghwa yang kemarin kuceritakan,” ujar hostess di sebelahnya kepada pria dengan rambut kemerahan, yang terlihat paling tua di antara lainnya. Yonghwa melirik ke arah Gyuri, tidak mmengerti kenapa gadis itu bisa bercerita tentangnya ke pria itu.

“Oh, yang mencoba menciummu dan membuat keributan kemarin?” Tanya pria yang satunya, yang berambut ikal dengan seringai di wajahnya.

“Kyuhyun!” Gyuri tertawa namun melirik ke arah Yonghwa dengan tatapan bersalah.

“Aku… Apa?”

“Kau mencoba mencium hostess favorit di sini dan beberapa pria iri dan mencoba menghajarmu. Kabar baiknya temanmu Nicole membawamu lari sebelum terjadi apa-apa,” ulang pemuda yang dipanggil Kyuhyun tadi dengan tatapan iseng. Dia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu lagi, tapi pemuda di sampingnya (yang berambut hitam) meninju bahunya. “Min!”

“Jangan meledeknya begitu,” orang yang satunya, yang dipanggil Min tadi, menegur Kyuhyun yang hanya mengangkat bahu.

 

“Aku… Benar begitu?” Tanya Yonghwa pelan, mengerling ke arah Gyuri dengan rasa tidak enak. Ia seharusnya tahu ada yang salah ketika melihat Nicole di tempat tidurnya kemarin, ia terlalu mabuk sampai tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di rumah. Ia harus berterima kasih pada Nicole nanti. Melihat Gyuri hanya tersenyum kecil membuat rasa malunya berlipat-lipat. Belum lagi tatapan iseng dari pemuda lain yang dipanggil Kyuhyun tadi.

“Sudahlah, Kyuhyun, Sungmin. Yonghwa, aku Leeteuk, pemilik tempat ini,” ujar pria yang berambut kemerahan tadi, mengulurkan tangannya ke arah Yonghwa, yang menyambutnya dengan ragu-ragu.

“Senang bertemu denganmu, Leeteuk-sshi.”

“Aku bisa membantumu.”

“Eh?”

“Aku kenal orang-orang sepertimu,” ujar pria itu lagi sambil tersenyum, matanya melirik ke arah dua orang pemuda yang lain sebelum kembali fokus padanya, “kau tidak punya tempat tujuan dan aku bisa memberikannya padamu.”

 

***

 

Yonghwa tersenyum mengingat rangkaian kejadian itu. Pada akhirnya seisi bar Sapphire menjadi keluarganya yang baru. Ia tidak perlu lagi mengingat-ingat kehidupan yang telah ia tinggalkan. Dan malam ini ia akan membuktikannya dengan sumpah kecilnya ini.

Ia menyiramkan minyak tanah ke dinding geraja itu. Genangan cairan itu berkumpul di tepian bangunan, sementara dinding yang semula putih kini memiliki bercak-bercak kuning besar. Ia memberikan cengiran kecil ke arah Minhyuk yang mengangkat kedua jempolnya, memberikannya semangat dan tanda untuk meneruskan. Jonghyun hanya berkonsentrasi dengan pekerjaannya sendiri, menumpuk bahan mudah terbakar di dekat dinding dan menyiramnya dengan minyak. Sementara Jungshin melakukan hal yang sama, meskipun berkali-kali ia menolehkan kepalanya ke arah Yonghwa.

Di tempat ini kedua orang tuanya mengikat janji, di sini juga ia akan bersumpah untuk melanjutkan hidupnya dan tidak menoleh ke belakang lagi. Lidah api yang menjulang ke langit ini menjadi saksinya.

Ia tertawa.

 

Angkat kepalamu dan mulailah berpikir bahwa kau salah satu penguasa di sini

 

Inilah Yonghwa dari CN Blue,
dan sebaiknya kau mulai berlutut padanya sekarang.

 

20 thoughts on “Grave Diggers [1]

  1. 4 thumbs up chingu!!
    Aku sengaja nyetel intuition dulu sebelum baca ini, n ternyata asik banget. sambil dengerin oppa, sambil baca.

    btw tu oppadeul kenal d bar semua gitu ya thor?
    kasiaan yong oppa, ternyata brokenhome.. sini ma aku aja.. :P *digeplak author

  2. authhoorr..!! keren bgt ff nya..!! suka sama karakternya yonghwa oppa di sini :D
    di tunggu yg selanjutnya ya… :)

  3. cuma bisa nganga lebar liat kekerenan bahasanya :O wawawaw jadi Yong brokenhome, ahh my first bias dibilang hidung belang lagi cup cup

    aku liat di blog chingunya mau hiatus ya? padahal penasaran bgt-bgtan :( tapi yaudah, ditunggu loh(y)

  4. huahaha. .
    Ternyata tetua suju yg jd empunya bar?
    *digeplak teuk oppa*
    *dongsaeng durhaka saia mah*

    keren keren!
    Jd penasaran gimana latar belakang jjong,
    dan itu awal pertemuan yonghwa dngn 3 yg laen g diceritain y? Jd cm lewat teuk aja ya perkenalannya?

  5. wah, ffnya keren banget sumpah!! Authornya keren!!
    Gak tau kenapa, aku ngerasa tampang yonghwa cocok banget buat jadi bad boy kayak gini #plaak
    gara-gara ni ff, aku jadi makin suka sama lagu intuition *apa hubungannya?*
    yonghwa sadis banget. Oia, kok mereka bisa saling kenal? Gak diceritaiin disini ya? jadi bad boy kayak gini #plaak
    gara-gara ni ff, aku jadi makin suka sama lagu intuition *apa hubungannya?*
    yonghwa sadis banget. Oia, kok mereka bisa saling kenal? Gak diceritaiin disini ya?

  6. yeah! akhirnya ketemu juga grave diggers yg pertama!!!
    author, mana yg bagian jungshin?? aku nungguin bgt nih :3
    grave diggers bagus bgt! yg excalibur aku jg suka! hihihiiiii

  7. woaaaahhh!!! keren sumpahhh!
    eh,,pas bc komen br nyadar klw ini dbikin sekuel ya? hahaha…
    Go Go Go fighting…

    step by step dip dip daa dri du~~~

  8. Keren! Aku selalu suka sama genre yang gak pasaran kayak gini. Yonghwanya kasian >< oh, aku juga seneng pairing cewenya sama KARA jarang ada yg mau jadiin member KARA sbg cewe pendamping cast lain + FF-nya kece pula lagi :) Good Job!!! :D

  9. Aku… sedikit kecewa karena cowok berambut hitam itu bukan yesung. Lol. Mungkin belum bagiannya nongol di sini. Haha
    pembakaran tempat ibadah, ide cerita yg ga pernah sampe aku fikirin. Daebak!!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s