10

[Freelance] Love, Mission, Betrayal [part 7/8]

By: NamHeeRin

Genre: action, romance

Tags : eunhyuk, heechul, hangeng, siwon, kyuhyun [series]

-previous-

Heerin tidak membutuhkan banyak waktu untuk mengungkap semuanya, karena ia segera mengetahuinya sejak mendengar clue pertama. Heerin pun terpaku dan hampir menjatuhkan teleponnya, namun ia berusaha menguasai emosinya. Ia membalas, “Kyuhyun-ah?”.

Tak terdengar jawaban dari seberang, namun mendapati tawa kecil yang terdengar, Heerin yakin tebakannya benar.

—–

“I’m glad you still recognized me.” ucap Kyuhyun.

“But, …” kata Heerin.

“No, just listen to me now. I want you and those four boys who now also listen to my voice, to come to my house next morning, the one you’ve came to, and I’m sure you still remember the way. See ya.” sela Kyuhyun lalu memutuskan hubungan telepon.

Heerin pun terdiam sejenak, lalu menaruh handphonenya di sakunya. Ia menghela napas pendek, kemudian menoleh ke arah keempat pria itu.

“Okay, now let’s take a rest.” kata Heerin.

“Maksudmu, kita akan melaksanakan apa yang dia inginkan, tanpa perlu berpikir?” tanya Heechul.

“What can we do? Nothing. So just take a rest and prepare yourself for tomorrow. Good night all.” jawab Heerin, lalu melangkah menuju kamarnya.

Keesokan paginya, setelah menyantap sarapan dengan tanpa napsu, mereka bersiap untuk berangkat, dengan sebelumnya berkumpul di basement.

“Let’s go.” ucap Heerin, lalu mengambil pistol biasa yang diselipkan di dalam bajunya, untuk keamanan.

“Wait, don’t you want to bring other weapons? We’re going to go inside dangerous place.” kata Eunhyuk.

“He won’t harm me, and he knows that I don’t want my friends to be harmed, so he won’t harm all of you.” jawab Heerin.

“What make you so sure about this?” tanya Heechul.

“I just know.” sahut Heerin, kemudian segera berjalan menuju pintu keluar.

Mereka menuju rumah Kyuhyun menggunakan sedan Hangeng yang dikendarai Heerin karena hanya ia yang mengetahui jalannya. Dalam perjalanan, hampir tak ada yang berbicara, namun benak keempat pria terisi pertanyaan mengenai hubungan antara Heerin dan Kyuhyun.

Setibanya di rumah yang cukup megah, tanpa banyak pikir Heerin memarkir mobilnya di depan pintu utama, mematikan mesin, dan beranjak keluar menuju pintu. Keempat pria lain hanya mengikuti sambil tetap bersikap waspada. Saat pintu dibuka, tampak jajaran pengawal yang sedang berjaga, yang langsung melihat ke arah datangnya pengunjung. Semua pengawal langsung menodongkan senjata ke arah mereka berlima, namun dengan segera menurunkannya kembali saat terdengar suara pria.

“Put your guns down, they’re big boss’ guests. Long time not see Miss Heerin, how are you?” ucap lelaki tua itu ramah.

“I’ll be fine if I can meet him now and ask him the explanation. ” sahut Heerin datar.

“Kalau begitu mari saya antar ke ruang kerja boss, kalian berlima.” Kata lelaki tua itu.

Mereka pun berjalan melewati lorong yang dijaga berbagai penjaga bersenjata yang mempersilakan mereka lewat karena anggukan dari lelaki tua tadi. Tak lama mereka tiba di depan sebuah pintu yang cukup besar, dan lelaki tua tadi mengetuk pintunya dan menoleh ke arah mereka.

“Big boss has waited for you all, just come inside, I’ll go.” Ucap lelaki tua itu.

Setelah lelaki tua itu hilang dari pandangan, Heerin menarik napas sejenak lalu membuka pintu itu dan masuk diikuti keempat pria lainnya. Ia langsung berjalan menuju meja dengan seorang pria sedang duduk di kursinya.

“Well,it’s been a long time since we last met, how’re you Heerin-ah?” Tanya lelaki itu.

“Jangan banyak basa-basi, Kyuhyun-ah.  Just tell me why you need us to come here.” Kata Heerin.

“Mengapa kau jadi dingin begini Heerin-ah? Don’t you remember, we’ve once became a best friend, right?” ucap Kyuhyun.

“And it’d still be, if you didn’t do thing like this. Now just give me the answer for my question.” Sahut Heerin.

“Well, so tough. I just want to protect my members to not be attacked by you.” Jawab Kyuhyun.

“Then why did you need to kill those people? We won’t kill your members if you didn’t do that.” Tanya Heerin.

“I think you’d known the answer better than me.” Ucap Kyuhyun sambil member senyum dingin.

“But I didn’t ask you to do so!” sanggah Heerin.

“Rin-ah, what is it all about? What does he mean?” Tanya Eunhyuk.

“Ups, I assumed they haven’t know about it at all. Mind if you tell them?or should I be the one?” Tanya Kyuhyun.

“No need to, I’ll do it.” Jawab Heerin, lalu, setelah mengambil napas panjang, Heerin mulai bercerita.

“Saat insiden 3tahun lalu terjadi, aku pergi ke luar negeri untuk menenangkan pikiran, dan bertemu dengan Kyuhyun untuk pertama  kali. Awalnya aku tetap bersikap dingin padanya, namun ia selalu memperlakukanku dengan baik hati. Lama kelamaan , hatiku mulai luluh dan aku menerima dia sebagai sahabatku. Kami sangat kompak dalam berbagai hal, dan aku sering menceritakan hal yang mengganguku padanya.

“Tetapi,  tak lama kemudian, aku merasa berbagai hal aneh terjadi. Bila suatu hari teman kuliahku mengganguku meski karena hal sepele, maka keesokan harinya ia akan menjadi cedera, dan hal itu berlangsung berulang-ulang. Aku mulai curiga pada Kyuhyun, dan menyelidiki latar belakangnya. Ternyata keluarganya bergerak dalam berbagai bidang, salah satunya bela diri dan organisasi keamanan. Ia menyuruh beberapa suruhan organisasi untuk melakukan hal buruk itu pada teman-temanku.

“Aku baru hendak memberitahu hal itu padanya, namun tiba-tiba ia menghilang dan aku kehilangan jejaknya, sampai saat ini, dan ternyata ia sudah berubah sejauh ini. Ah ya, tentang korban dari organisasi mereka, korban adalah orang-orang yang pernah menyulitkanku baik dalam kehidupan biasa maupun saat menjalankan misi, jadi ia masih melakukan hal yang sama, dalam lingkup yang lebih luas. Apa ada yang ketinggalan, Kyuhyun-ah? Mungkin kau ingin menambahkan poin yang kulewatkan?” jelas Heerin.

“Hmm, I think you haven’t miss anything important. Nah, gentlemen, do you get my purpose of doing those thing?”Tanya Kyuhyun, lalu melihat keempat pria itu saling menoleh dengan agak segan, ia mengambil kesimpulan dan melanjutkan, “Sepertinya mereka mengetahuinya, apa kau masih belum mengerti juga, Heerin-ah? Baiklah, akan kuucapkan dengan jelas.” Ucap Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah, please don’t…” sela Heerin yang memang mengerti maksud Kyuhyun dari awal.

“I love you, Heerin-ah, and I’ve done those things in order to protect you, even though you didn’t seem happy at all about my job, but I’m willing to do so because of my feeling for you that wouldn’t ever lost. I know that I would never get a chance to be with you, more over since you’ve already be with him again, but let me ask you this question, do you love me, Heerin-ah?” Tanya Kyuhyun dengan tatapan tulus ke mata Heerin.

“I love you too, Kyuhyun-ah, but…” sahut Heerin.

“Aku sudah merasa cukup senang bahwa kau mencintaiku, meski kau akan lebih memilih dia dibandingkan aku, aku tahu itu. Now, I hope you can fulfill my wish, please kill me, it’s the only thing that may make me have a peaceful life, please Heerin-ah.” Ucap Kyuhyun saat melihat Heerin hendak membantah.

Heerin melangkah perlahan mendekati Kyuhyun, lalu ia mengambil pistol yang disodorkan Kyuhyun dan menaruhnya di atas meja. Ia pun meraih kepala Kyuhyun dan menariknya mendekat, dan menempelkan bibirnya dengan lembut ke bibir Kyuhyun. Mereka saling mengulum dengan lembut dan tangan Kyuhyun berada di leher Heerin. Tak lama kemudian, terdengar suara tembakan dari belakang Kyuhyun, dan Kyuhyun pun ambruk ke lantai dengan senyum di bibirnya. Heerin berjongkok di samping Kyuhyun dan membelai lembut rambut Kyuhyun sambil menatap dengan sedih.

Kemudian ia bangkit dan berjalan keluar dari ruangan, memanggil lelaki tua tadi untuk memakamkan Kyuhyun, lelaki tua tadi sepertinya sudah tau bahwa hal tadi akan terjadi dan segera melaksanakan perintah Heerin. Heerin berdiri dengan hampa melihat tubuh Kyuhyun dipindahkan dari ruangan itu, dan Siwon pun menghampirinya sembari memberi pelukan menenangkan.

Prosesi pemakaman berlangsung dengan sunyi, orangtua Kyuhyun tak datang karena sedang sibuk dengan meeting penting, begitu juga kerabatnya yang memang tak terlalu dekat dengannya. Yang datang hanya seluruh penghuni rumah tadi, yang mengerti tentang Kyuhyun dan turut melakukan hal sulit bersama.

Seusai pemakaman, Heerin dan yang lain berjalan menuju mobil mereka. Sebelum memasuki mobil, mereka berhenti dan menghela napas, kemudian Heechul berkata, “Berarti masalahnya tinggal satu lagi.”.

“Bukan hanya satu.” Sahut Hangeng sambil menatap Heerin.

“Not now.” Jawab Heerin.

Ketiga pria lain hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati apa maksud pembicaraan Heerin dan Hangeng.

tbc.tbc.tbc.tbc.tbc

—–

Setelah beberapa saat yang terasa sunyi di dalam mobil, akhirnya Heechul memutuskan untuk menanyakan perihal masalah tadi pada Heerin. Namun, sebelum sempat mengeluarkan suara, handphone Siwon bordering, yang langsung membuat semua mata tertuju padanya.

“Hello? Ah, okay, we’ll go there now.” Ucap Siwon yang segera menutup teleponnya dan menoleh pada keempat orang lain di mobil dengan tatapan tak nyaman.

“The problem maker wants to see us, including Heerin.” Kata Siwon, yang membuat seluruh penghuni mobil beraut muka pucat.

—–

Setibanya di tempat yang telah diberitahukan, sebuah rumah yang cukup megah dengan berbagai penjagaan ketat, mereka segera masuk tanpa dihalangi oleh para pengawal ke sebuah ruangan yang dituju. Begitu masuk, mereka melihat sosok seseorang yang sedang menghadap jendela membelakangi mereka. Sinar matahari yang terik membuat mereka tak dapat melihat sosok itu dengan jelas.

“Have a seat please.” Ucap sosok itu, sambil tetap tak membalikkan badannya.

Mereka pun berjalan menuju kursi –kursi di meja bundar di tengah ruangan, namun sebelum duduk ia seperti mengenali suara sosok  tadi.

“Park ajusshi?” Tanya Heerin dengan ragu.

Sosok itu pun membalikkan badan dan berjalan menuju kursi yang tersisa, sambil tersenyum dan berkata, “I’m so glad you still remember me, Rin-ah.”

Heerin dan keempat pria lainnya saling bertukar pandang dengan tatapan bingung, namun mereka tetap duduk di kursi yang telah disediakan.

“What are you doing here, ajusshi? We’re supposed to meet someone that has been ruined our lifes since 3 years ago, not you.” Ucap Heerin.

“That person is me, Rin-ah.” Jawab Park Ajusshi dengan tenang, membuat kebingungan 5 orang lainnya bertambah.

“Ah, agar kalian tidak bingung, mungkin lebih baik jika mulai dari awal. Apa kau keberatan untuk menceritakan ulang kejadian 3 tahun yang lalu?” Tanya Park Ajusshi pada Heerin, yang lalu menghirup napas panjang dan mulai kembali pada tahun-tahun mencekam itu.

(flashback)

Heerin saat itu pulang ke rumah dengan hati bahagia, karena hari itu merupakan ulangtahunnya yang ke 17. Namun, ketika tiba di rumah, ia melihat banyak agen tingkat tinggi yang sedang berjaga, dan segera masuk ke dalam dan bertemu dengan Park Ajusshi. Heerin langsung menanyakan apa yang terjadi, dan kebingungan karena tak menemukan orangtuanya dimanapun, padahal sudah menjadi tradisi bahwa sesibuk apapun orangtuanya-yang notabene merupakan para agen yang sangat diandalkan perusahaan-, mereka akan meluangkan waktu di hari ulangtahunnya. Namun, jawaban Park Ajusshi menjelaskan semua yang terjadi saat itu.

“Your parents got killed by our enemies last night. We already killed those damn enemies, but your parents can’t be helped. We’re really sorry about it, Rin-ah.” Ungkap Park Ajusshi.

Heerin langsung merasa dunianya hampir hancur seketika, namun ia tetap berusaha terlihat tegar dan tenang di hadapan para agen lain, karena ia masih memiliki 4 sahabat yang akan menemani ia dalam masa duka ini. Ia segera menghubungi keempat sahabatnya, namun telepon mereka tidak aktif maupun sedang sibuk. Heerin pun berpikir, “Mungkin saat ini aku perlu sendiri dahulu.”

Ia pun mengurus berbagai kepentingan orangtuanya bersama Park Ajusshi, sehingga ia tak memiliki waktu untuk menangis, kecuali di malam itu sejenak. Keesokan harinya, prosesi pemakaman orangtuanya dilaksanakan, ia masih tak melihat keempat sahabatnya, namun ia berusaha think positive. Saat acara telah selesai, ia melihat keempat sahabatnya tak jauh dari tempat ia berada, ia pun segera menghampirinya, tak tahu bahwa itu akan merusak hidupnya.

“Hey kalian, akhirnya kita bertemu juga. Aku berusaha menghubungi kalian dari kemarin, namun tak bisa. Kalian sedang sibuk? Tapi tak apa, yang penting sekarang kalian sudah disini.” Ucap Heerin dengan nada riang, meski rasa sedih masih tersirat.

“Cih dia lagi, tapi sebentar lagi kita akan terbebas kan, darinya?Hahaha.” ucap Heechul.

“Apa yang kalian maksud?” Tanya Heerin bingung.

“Sepertinya kita memang harus menjelaskannya padanya. Hei gadis bodoh, kami tak ada niat untuk berteman denganmu, kami hanya bersamamu karena mengabulkan keinginan orangtua kami, sehingga mereka bisa mendapatkan bisnis yang baik dengan orangtuamu. Sekarang, mereka sudah tak ada, untuk apa kami terus bersamamu, membosankan.” Jelas Siwon dengan nada dingin.

“Kalian pasti bercanda, tak mungkin kalian melakukan hal itu.” Kata Heerin tak percaya.

“Terserah kau mau percaya atau tidak, yang pasti mulai sekarang jangan pernah menghubungi kami lagi.” Ucap Hangeng.

Mereka pun mulai berjalan menjauh, namun Heerin menghalangi mereka, sehingga Eunhyuk akhirnya mendorong Heerin sampai terjatuh di tanah yang basah, kemudian mereka berempat melepas benda persahabatan mereka dan melemparnya ke arah Heerin, lalu berjalan menjauh.

Heerin memandang kepergian mereka dengan rasa tidak percaya, dan ia merasa bahwa sekarang dunia nya memang benar-benar hancur, namun ia sudah tak bisa mengeluarkan airmata lagi, emosinya sudah terpendam jauh di dalam kegelapan hatinya.

Seminggu kemudian, setelah mengurus berbagai hal penting yang mungkin dibutuhkan, Heerin pergi meninggalkan Seoul dan tak pernah kembali lagi, sampai saat ini.

(end of flashback)

Setelah selesai menceritakan masa lalunya,Heerin pun terdiam, keempat pria juga merasa tak nyaman, karena kelakuan buruk mereka diceritakan ulang, meski sekarang Heerin sudah tak mempermasalahkannya lagi. Park Ajusshi lah yang memecah kesunyian.

”Baiklah, sekarang aku akan menceritakan asal mula aku memecahkan persahabatan kalian.” Ucap Park Ajusshi.

tbc.tbc.tbc.tbc.tbc

4

[Freelance] Love, Mission, Betrayal [part 5/8]

By: NamHeeRin

Genre: action, romance

Tags : eunhyuk, heechul, hangeng, siwon [series]

-previous-

“It’s not over yet.” Bunyi kata yang diucapkan Heechul tanpa suara sembari menatap tajam Heerin, yang dibalas dengan tatapan meremehkan Heerin.

—–

Keesokan paginya, tampak bahwa Heechul masih belum bisa melupakan kejadian semalam. Hal itu terlihat dari cara Heechul memperlakukan Heerin saat di meja makan, maupun saat merancang rencana lain. Heechul juga selalu mencari kesempatan untuk mendapatkan obat Heerin agar dapat diteliti, namun Heerin yang sudah menduganya selalu membawanya kemanapun ia pergi ataupun menaruhnya dalam jarak yang mudah dilihat dan dijangkau.

“Sepertinya mulai saat ini, aku juga harus berhati-hati saat berada di dalam rumah, membahayakan.” batin Heerin.

Heerin tak hanya waspada menjaga obat itu, ia juga menghindari pemakaian laptop dan internet jika ada hubungannya dengan obat rahasia tersebut, karena ia mengetahui dengan baik bahwa Heechul sangat lihai dalam menggunakan perangkat canggih, dan Heerin tak mungkin bisa mengalahkan kelihaian Heechul. Maka dari itu, ia hanya menggunakan handphone, yang telah ia usahakan sebisanya untuk aman dari jangkauan Heechul.

—–

Satu setengah bulan sejak mereka diberi misi ini telah berlalu. Berbagai misi telah mereka laksanakan dan berhasil dengan cukup lancar, meski beberapa mengalami kendala.

Heechul juga sudah terlihat tak terlalu peduli dengan obat rahasia Heerin, meski kadang terlihat jelas bahwa ia hanya berpura-pura, namun Heerin tak ambil pusing mengenai hal itu asalkan Heechul belum bertindak langsung.

Siang ini, mereka semua sibuk mempersiapkan misi nanti malam, yang sedikit lebih sulit dari misi-misi sebelumnya. Hal itu nampak dari meja di ruangan basement itu yang semakin berantakan meski Heerin sudah berkali-kali merapikannya.

“Heerin-ah, dimana kau taruh jam tangan multifungsiku?” tanya Heechul dengan mata masih menatap layar komputer.

“Bukankah sudah kukatakan berulang-ulang bahwa jam itu kutaruh di meja kecil di ruang santai di atas?” ucap Heerin sambil mengetik beberapa data.

“Bukankah aku juga sudah mengatakan bahwa aku tak suka barangku dipindah seenaknya? Sekarang, ambilkan jam itu segera, I need it, urgent.” kata Heechul.

Heerin tampak sedikit menggerutu, namun tetap berjalan menuju pintu. Setelah Heerin hilang dari pandangan, Heechul segera berdiri dari kursinya dan mencari wadah obat itu, rupanya ia masih belum menyerah.

Tak lama kemudian, ia melihat tabung obat itu di meja dekat tadi Heerin bekerja. Heechul sempat heran mengapa Heerin meninggalkannya begitu saja, namun ia tak pikir panjang lalu segera mengambilnya dan membukanya.

“Ouch, damn.” umpat Heechul.

Ternyata dari tabung yang terlihat cukup kecil itu, melompatlah sebuah mainan berbentuk tinju tangan dengan per di bawahnya. Alhasil, muka Heechul terkena pukulan itu. Semestinya itu takkan terlalu sakit, namun Heechul menaruhnya cukup dekat dengan mukanya, menyebabkan daya hantam yang dihasilkan lebih besar.

“Do you think I’ll let you know what it is, that easy? Kau tidak belajar dari pengalaman rupanya.” ucap Heerin yang ternyata sudah bersandar di ambang pintu sambil memegang tabung obat yang asli.

“Kau berani mengerjaiku, rupanya.” kata Heechul.

“Sudahlah, menyerah saja, lagipula takkan bermakna apapun bagimu. Now, go back to your seat and continue your work.” sahut Heerin yang melangkah melewatinya, lalu menaruh jam yang dibutuhkan Heechul di meja dekat tempat Heechul berdiri dengan tampang gusar.

Malam itu, Heerin Siwon siap melancarkan aksinya. Setelah perlengkapan diangkut ke mobil, mereka menuju tempat target. Mereka memarkir mobil tak jauh dari gerbang luar tempat target, karena kali ini mereka menyamar menjadi pelayan baru.

Setibanya di dalam bangunan setelah melewati gerbang penjaga, tanpa basa-basi lagi mereka segera melumpuhkan para penjaga yang menghalangi jalan mereka. Tiba di ruangan target, ternyata cukup banyak pelayan dan penjaga disana. Mereka melumpuhkan penjaga dan pelayan dijadikan sandera.

Saat Heerin sedang memaksa target untuk buka mulut, dan Siwon mencari-cari di pelosok ruangan itu sesuatu yang mungkin mengandung data yang mereka butuhkan, tiba-tiba mata Heerin menangkap gerakan kecil di tangan si target yang terikat ke belakang. Saat dilihat ternyata target mengaktifkan tombol tanda bahaya.

“Damn!” umpat Heerin lalu memukul kepala target dengan senapan yang ia bawa.

“What’s wrong?” tanya Siwon yang menghentikan sejenak aktifitasnya.

“He’s activated the security alarm. We don’t have much time left. Gantian saja, kau yang menanyainya, aku yang mencari sesuatu yang mungkin berguna. Jika aku tetap di dekatnya, aku mungkin akan membunuhnya sebelum kita mendapatkan yang kita cari.” ujar Heerin.

Mereka pun bertukar tugas dan segera melakukannya dengan terburu-buru. Ternyata kesabaran Siwon tak lebih besar dari Heerin, karena target tak kunjung memberi informasi, malah mengejek mereka.

Untungnya, Heerin menemukan data yang mereka cari berupa microchip yang terdapat di dasar vas bunga di tengah ruangan. Tepat setelah Siwon membunuh target, Heechul menginstruksikan bahwa 5 penjaga sedang menuju ruangan itu.

Mereka segera kabur lewat jendela ruangan di lantai 3 itu, lalu melewati jalur aman yang diberitahu Heechul. Naasnya, Heechul yang mungkin sedang bermood buruk lantaran kejadian tadi siang menjadi tak jeli dan malah menggiring Heerin Siwon mendekati pos penjagaan. Akhirnya, terjadi baku tembak yang memanggil penjaga lain ke tempat mereka.

“Are you trying to kill us?” umpat Siwon pada Heechul.

“Sorry guys, aku pikir itu pos para pelayan.” jawab Heechul.

Mereka berdua tak memiliki banyak waktu untuk berdebat dengan Heechul, akhirnya memutuskan untuk segera melarikan diri. Mereka melewati kolam, taman dengan banyak patung tertata, dan terakhir sebuah jalan sempit yang hanya bisa dilewati satu orang, namun ujungnya cukup jauh dari luar dan gelap.

“Kita sembunyi disini saja.” suruh Siwon.

“Tapi itu hanya cukup untuk satu orang, dan mereka mungkin saja menyinarinya.” bantah Heerin.

“No, just follow me.” kata Siwon.

Mereka memasuki celah itu, Siwon terlebih dahulu baru Heerin, kemudian Siwon memiringkan badan sehingga ia bersandar pada sisi dinding yang satu, lalu menyuruh Heerin melakukan hal yang sama namun berlawanan di celah yang disisakan Siwon. Sehingga mereka hanya menempati tempat untuk satu orang.

Mereka terdiam untuk mendengarkan langkah para penjaga, dan saat sudah mendekat, seperti yang mereka duga, penjaga menyinari celah yang mereka masuki, namun tak cukup dalam sehingga mereka tak terlihat. Suara penjaga terdengar menjauh sampai kemudian menghilang.

“Sepertinya mereka sudah pergi, ayo kita segera kembali ke …” ucapan Heerin terhenti saat ia memalingkan muka dari jalan celah ke hadapan Siwon, dan ia melihat bahwa Siwon sedang memperhatikannya.

Heerin baru menyadari bahwa tubuh mereka saling menempel, dan tak ada jarak di antara mereka, kecuali di sebagian sangat kecil bagian yang jadi tak berarti. Heerin baru hendak memalingkan mukanya lagi ke arah jalan celah, ketika tangan Siwon memegang mukanya dan Siwon menempelkan bibirnya pada bibir Heerin.

Heerin awalnya hanya menatap kaget pada Siwon, sehingga ciuman itu bisa dibilang datar. Namun, tak sampai 3 detik kemudian, Heerin menutup kedua matanya dan mengalungkan tangannya ke leher Siwon, lalu keduanya saling mengaitkan lidahnya sehingga ciuman menjadi panas dan terasa bergairah.

Cukup lama mereka bertahan dalam adegan itu, dan Siwon sudah hendak memasukkan tangannya ke belakang baju Heerin ketika tiba-tiba terdengar getar dari ponsel mereka. Mereka sudah mau mematikannya saat teringat bahwa mereka sedang melaksanakan misi. Akhirnya, mereka melepaskan diri satu sama lain lalu Siwon mengangkat telponnya sembari berjalan keluar celah mengikuti Heerin, tak lupa membawa senjata mereka.

“Siwon-ah, what’re you doing? Hurry up go back to your car, while all guards are far from your position.” ucap Heechul.

“Ah, ok, kami sedang menuju mobil. Ya, kita bertemu di rumah saja. Baik, see you.” sahut Siwon lalu mematikan telponnya.

Dalam perjalanan menuju mobil dan di mobil menuju rumah, tak ada yang mengatakan sesuatu, bahkan percakapan kecil saja tidak. Siwon hanya mengatakan bahwa mereka telah tiba di rumah lalu segera berlalu ke dalam.

Di dalam, Siwon segera mencari Heechul untuk memarahinya atas keteledorannya sehingga mengancam nyawa Heerin dan Siwon. Sementara itu, Heerin menaiki tangga menuju kamarnya, namun terhenti beberapa langkah dari pintu kamarnya saat melihat Hangeng bersandar di dinding di dekatnya.

“Hangeng-ah, what’re you doing?” tanya Heerin sambil tersenyum tipis.

“Can we talk for a while, in your room?” balas Hangeng, yang juga dihiasi senyum tipis namun ada sedikit hal yang mengganjal.

Heerin mengangguk, lalu berjalan menuju kamarnya, membuka pintu, masuk dan mempersilakan Hangeng untuk ikut masuk. Hangeng pun menutup pintu di belakangnya.

“What do you want to talk about? Sepertinya cukup rahasia.” kata Heerin.

“I want to talk about this.” ucap Hangeng sambil menunjukkan botol obat Heerin di tangannya.

Heerin yang melihatnya langsung merasa tegang, karena ia tahu pasti Hangeng sudah sempat membukanya dan mencaritahu, tak seperti Heechul. Ia pun merutuk diri mengapa sampai lupa membawanya, hanya karena sibuk mengurus misi.

Melihat Heerin yang terdiam namun terlihat bahwa wajahnya jadi cukup pucat, Hangeng melanjutkan, “Are you consuming drugs?”.

“What do you mean?” Tanya Heerin.

“I found it at the basement on your desk when I went back here after the mission completed. Aku penasaran apa yang selalu kau konsumsi, lalu aku membuka kapsulnya dan melihatnya sebentar. Kau tahu bahwa aku pernah berniat untuk mendalami kedokteran, sehingga aku tahu beberapa hal, dan aku yakin bahwa ini tergolong narkoba, dilihat dari jenis dan dosisnya. Jadi, apa kau memang mengkonsumsi narkoba?” ungkap Hangeng.

“You know that I won’t do that kind of thing.” Sahut Heerin.

“If it is so, then I have another speculation. Obat ini dalam narkoba tergolong dalam jenis penghilang rasa sakit yang biasa digunakan dokter untuk membuat pasien merasa kebal. Jika dosisnya sebesar ini, berarti sakitnya cukup parah. Penyakit apa yang sedang kau derita?” kata Hangeng.

“Your speculation is right, but I can’t tell you about this, not now. If I found the right time, I’ll tell all of you. So, it means you can’t tell them anything about this.” Jawab Heerin.

“Okay, I trust you, but you should know that you can’t hide this for a long time. Now, you better take a rest after mission today. Ah, and I want to say sorry about  3 years ago.” Ujar Hangeng.

“I know that,thank you, and no problem.” Sahut Heerin.

Hangeng pun keluar dari kamar Heerin, meninggalkan Heerin yang tampak frustasi dan mengacak sedikit rambutnya.

“Damn, sepertinya memang rahasia ini takkan bisa tersembunyi terlalu lama.” Batin Heerin.

—–

Keesokan paginya, Heerin bangun dengan raut agak kusut, lalu berjalan menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk yang lain. Biasanya Hangeng yang membuat dan Heerin hanya membantu, namun karena Hangeng sedang ada urusan di luar maka Heerin yangmembuatnya.Lagipula,Heerin tak mau terancam keracunan makanan karena menyerahkan tugas membuat makanan pada ketiga pria lain.

Saat sedang memotong daging yang telah dimasak untuk ditata di piring, Heerin merasa ada yang sedang berjalan ke arahnya dari belakang, dan karena langkahnya yang terkesan ingin disembunyikan, Heerin jadi merasa curiga dan waspada, meski ia cukup yakin dengan keamanan rumah mereka. Ia pun membalikkan badannya ke belakang dengan tangan tetap di tempat, sehingga jadi berada di punggungnya, dan memegang pisau yang tadi ia gunakan.

“Hello,Heerin-ah. Mengapa kau terlihat waspada? Dan apa yang sedang kaupegang di belakangmu?” Tanya orang itu yang ternyata adalah Siwon.

“Rupanya itu kau, mengapa kau harus mengendap-endap? Membuatku curiga saja. Jika ingin mengecek makanan, sebentar lagi siap dan aku akan membawanya ke meja makan, jadi kau tak perlu repot-repot ke dapur.”ujar Heerin yang kemudian membalikkan badannya lagi dan melanjutkan memotong daging.

Tanpa diduga, Siwon melangkah mendekati Heerin, dan memeluknya dari belakang. Tangan yang mendekap pinggang Heerin tak terlalu erat, namun badan Siwon menempel pada punggung Heerin. Kepala Siwon berada di pundak kanan Heerin, wajahnya tampak damai dengan mata yang dipejamkan.

“What’re you doing?” tanya Heerin yang sempat terdiam kaget sebentar, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya meski raut wajahnya agak kaku dan risih.

“Hanya mengulangi kegiatan yang dulu biasa kita lakukan.” sahut Siwon.

“May I remind you that now is not the past, and everything’ve been changed.” kata Heerin.

Siwon tampak terdiam sejenak, jelas mengerti apa yang dimaksud Heerin. Namun, kemudian ia kembali merilekskan ototnya dan menikmati Heerin dalam pelukannya.

“Well, tidak ada hal yang takkan berubah. Perubahan yang kami lakukan dulu hanya sedikit … berlebihan. And I want to say sorry about that.” sahut Siwon.

“Permintaan maaf diterima. But, although I forgive you, It doesn’t mean that I’m ready to have another relationship, yang mungkin saja berakhir seperti dulu, dan aku tak bermaksud untuk berpikir bahwa kau belum berubah.” ucap Heerin.

“Then I’ll try not to be the old me and catch up your attention.” jawab Siwon.

“Whatever. Sekarang, bisakah kau melepaskan tanganmu dariku? I need to bring the breakfast to the dining table, and since you’re here, you need to help me.” kata Heerin.

Dengan berat hati Siwon melepaskan tangannya dan mengambil 2 piring untuk dibawa ke meja makan. Setelah itu, Siwon memanggil kedua rekannya dari kamar, dan duduk di sebelah kursi Heerin, padahal biasanya ia duduk di kursi ujung dari meja dengan 6 kursi itu. Hangeng pun datang dari pintu dan ia duduk di kursi seharusnya Siwon duduk.

Di meja makan, tampak jelas usaha Siwon untuk meraih perhatian Heerin, yang hanya ditanggapi pendek oleh Heerin. Ketiga pria lain merasa aneh dengan sikap Siwon, namun memilih untuk tak berkomentar apapun. Hal ini terus terlihat sampai seminggu ke depan.

“Rin-ah, we’re going to buy some food, do you want to request the food?” tanya Siwon.

“No, kalian saja yang menentukannya.” sahut Heerin.

Siwon pun mengangguk lalu masuk ke mobil bersama Heechul, dan mobil pun berlalu menghilang di jalanan.

“Huft, finally, peaceful life. Ah, hampir lupa, persediaanku hampir habis, i need to call Yesung.” gumam Heerin.

Ia pun menuju kamarnya dan menghubungi Yesung menggunakan handphonenya. Setelah cukup lama berbincang, tiba-tiba pintu kamar Heerin terbuka dan tampak kepala Eunhyuk di celah pintu.

“Heerin-ah, are you busy now? I need some help with the plan.” ucap Eunhyuk.

“Ah, no. But wait for a sec, I need to go to the toilet.” jawab Heerin yang mematikan sambungan teleponnya dan meletakannya di atas meja rias, lalu menuju kamar mandi.

Eunhyuk yang merasa agak heran dengan sikap Heerin, lalu mengambil handphone Heerin dan melihat siapa yang barusan berbincang dengannya.

“Yesung? Apa yang mereka bicarakan sampai harus disembunyikan dariku? Lebih baik aku simpan saja nomornya, mungkin suatu saat aku akan membutuhkannya.” batin Eunhyuk lalu menyalin nomor handphone Yesung dan menaruh kembali handphone Heerin ke tempat semula.

Seminggu kemudian, mereka mendapat misi di sebuah club dan tempat gambling, yang berarti Heerin Siwon harus bersikap layaknya pasangan materialistis, dan itu juga harus tampak pada pakaian mereka. Heerin terpaksa menggunakan pakaian mini dan bersikap mesra yang berlebihan dengan Siwon.

Setelah mendapat meja yang sama dengan target, Siwon duduk dengan Heerin di pangkuannya, dan tangan Siwon yang diletakkan di paha atas Heerin. Heerin sudah merasa risih, namun karena ini berkaitan dengan misi mereka, ia hanya bisa pasrah.

“Permainan yang bagus anak muda, tapi sepertinya hubunganmu dengan kekasihmu tak berjalan mulus. Mau kuajarkan wanita itu?” tanya target dengan senyum liciknya.

“No, it’s okay, we’re fine, right darling?” ucap Siwon yang lalu melumat bibir Heerin dan tangannya bergerilya ke pinggang Heerin. Heerin pun menyesuaikan diri dengan memegang tengkuk Siwon dan diupayakan terlihat menikmati ciuman itu.

“Ah, i like both of you. Lets go to my private room sehingga kita bisa bermain dengan lebih tenang.” ucap target sambil berdiri dari kursinya, yang membuat Heerin Siwon bertukar senyum tipis.

Mereka bertiga pun berjalan diikuti beberapa pengawal menuju sebuah ruangan di ujung lorong panjang. Setibanya di dalam ruangan Siwon langsung melumpuhkan para penjaga dan Heerin segera menyergap target. Ia menanyai target, namun target itu tetap tak menjawab.

Tiba-tiba terdengar suara alarm tanda bahaya yang memekakkan telinga. Ternyata, sistem ruangan itu akan mengaktifkan alarm jika terdengar suara tembakan. Heerin melihat sekilas pada Siwon, yang dijawab dengan anggukan.

“Continue, if we go now, our mission will be useless.” ucap Siwon.

Heerin terus menginterogasi target yang sudah babak belur itu, namun tetap tak ada hasilnya. Kemudian, ia melihat kalung berliontin lambang organisasi target yang dipakai si target. Mengikuti arah pandangan Heerin, wajah target seketika menjadi panik, yang menghasilkan senyum kemenangan Heerin. Heerin segera menarik paksa kalung itu, berdiri, dan menembak target di kepalanya.

Mereka segera keluar dari ruangan dan ternyata banyak penjaga yang sedang menuju arah mereka. Mereka memanggil Hangeng untuk ikut membantu, yang berarti posisi Eunhyuk Heechul jadi berada di posisi Hangeng sebelumnya.

Selagi berlari, Heerin meneliti liontin yang ia rampas, apa data yang terdapat dalam liontin ini. Heerin meminta Heechul memeriksanya, dan ternyata itu merupakan peta jalur menuju sebuah tempat, masih di dalam area club itu.

Tiba di tempat yang dimaksud, Heerin menemukan sebuah kotak yang cukup besar dengan laptop tertempel di atasnya. Heerin membuka laptopnya dan ternyata mereka membutuhkan kode rumit untuk melepaskan kotak itu dari dinding di belakangnya, sekaligus membuka gemboknya. Heerin pun bertugas memecahkan kodenya, sedangkan Hangeng Siwon menjadi backupnya. Waktu semakin lama bergulir, namun belum semua kode terpecahkan, dan penjaga yang datang semakin banyak.

“Eunhyuk-ah, we need more weapons. Datanglah kemari membawa berbagai senjata, dan suruh Heechul tetap di tempat untuk berjaga.” seru Siwon di earphonenya.

Beberapa saat kemudian, Heerin telah berhasil memecahkan kodenya dan mereka bersiap untuk kembali. Namun, saat Heerin berdiri sambil membawa kotak itu dan membalikkan badannya, ia melihat seorang penjaga sedang berdiri tak jauh darinya dan mengarahkan pistol ke jantung Heerin. Terdengar bunyi tembakan, Heerin berdiri terpaku, bukan karena terkena tembakan, melainkan karena melihat sosok yang terjatuh di depannya karena melindunginya.

“Heechul-ah!” seru Heerin.