7

[Freelance] Love, Mission, Betrayal [part 6/8]

By: NamHeeRin

Genre: action, romance

Tags : eunhyuk, heechul, hangeng, siwon [series]

-previous-

Beberapa saat kemudian, Heerin telah berhasil memecahkan kodenya dan mereka bersiap untuk kembali. Namun, saat Heerin berdiri sambil membawa kotak itu dan membalikkan badannya, ia melihat seorang penjaga sedang berdiri tak jauh darinya dan mengarahkan pistol ke jantung Heerin. Terdengar bunyi tembakan, Heerin berdiri terpaku, bukan karena terkena tembakan, melainkan karena melihat sosok yang terjatuh di depannya karena melindunginya.

“Heechul-ah!” seru Heerin.

—–

Siwon Hangeng pun memaku melihat ke arah Heechul yang tergeletak di lantai dan berlumuran darah. Ternyata, Heechul memaksa menggantikan Eunhyuk sehingga Eunhyuk tetap standby di van. Namun, ucapan Heerin membuat mereka kembali ke dunia nyata.

“Geng-ah, Won-ah, cari sesuatu yang bisa dirakit menjadi tandu untuk mengangkut Heechul, karena tak mungkin ia digendong, akan memperbesar lukanya. Setelah itu kalian gotong dia dan juga kotak ini. Jangan lupa untuk menyuruh Eunhyuk menjemput kita di pintu keluar.” ucap Heerin sambil menaruh kotak tadi di sebelah Heechul.

“But…” kata Hangeng.

“Don’t worry, aku akan membuka jalan untuk kita lewat, dan aku akan menjaga kalian tetap aman. Now, hurry up!” sela Heerin.

Karena tahu perkataan Heerin tak mungkin dibantah dan keadaan yang memang mendesak, akhirnya Siwon Hangeng mencari benda yang bisa digunakan dan menemukan dua besi panjang serta kain tebal bekas gorden. Pada saat yang sama, Heerin mengisikan peluru pada berbagai senapan sembari tetap melumpuhkan penjaga yang menyerang.

“Apa kalian sudah siap? Kita harus segera bergegas sebelum penjaga jadi semakin banyak.” kata Heerin.

“We’re ready, let’s go.” sahut Siwon.

Mereka pun segera berjalan cepat menuju pintu keluar, dengan urutan Heerin yang berada di depan, Siwon memegang tandu bagian depan, dan Hangeng tandu bagian belakang.

Heerin menembaki tiap penjaga yang berusaha mendekat menggunakan senapan yang ia bawa di kedua tangannya, dan tiap penjaga ia lumpuhkan hanya dengan sekali tembak, tepat di jantungnya. Dari mimiknya, terlihat jelas bahwa ia sangat murka, dan ini membuat kemarahannya sebelumnya seperti candaan belaka.

Saat melintasi mayat penjaga yang tadi menembak Heechul, yang segera ditembak oleh Siwon, Heerin menembakinya berkali-kali dengan aura dendam, lalu segera melanjutkan perjalanan mereka.

Tiba di pintu keluar, mereka telah ditunggu oleh Eunhyuk yang segera membukakan pintu van, dan mereka pun masuk. Heerin yang masuk terakhir sempat menembaki penjaga yang hendak mengejar mereka lalu ikut masuk ke dalam van.

Di dalam van dengan 2 kursi paling depan yang diduduki Eunhyuk Siwon, 3 kursi di belakangnya yang ditempati Heerin Hangeng yang tetap memberi celah untuk berjalan ke ruangan luas di belakang tempat berbagai alat canggih serta senjata disimpan, tempat sekarang mereka membaringkan Heechul, suasana terasa tegang, tak ada yang ingin berbicara.

“Segera menuju rumah kita secepat mungkin.” ucap Heerin sambil tetap menatap lurus ke luar jendela.

Eunhyuk baru akan menyela, namun dihentikan Siwon, yang memberi tatapan untuk jangan menambah kemurkaan Heerin dengan pertanyaan bodoh.

“Ya, jangan ke rumah sakit, mereka akan merasa curiga dan masalah akan bertambah banyak.” tambah Siwon yang disahuti anggukan Eunhyuk.

Selama perjalanan tak ada yang berbicara, dan melihat Heerin yang terus memainkan pistol di tangannya membuat ketiga pria tak ingin berbicara apapun.

Tiba di rumah, Heerin Eunhyuk segera masuk untuk menyiapkan ruangan dan perlengkapan yang dibutuhkan. Ruang kerja mereka yang tak terletak di basement dijadikan ruang operasi mendadak setelah Heerin menyingkirkan barang di atas meja dan menaruh kain putih sebagai alas. Eunhyuk datang membawa berbagai perlengkapan rumah sakit, lalu Siwon Hangeng masuk dan membaringkan Heechul di atas meja.

Kegiatan untuk mengeluarkan peluru dari dada bawah atau perut atas Heechul mulai dilakukan di bawah kendali utama Heerin dan Hangeng. Tahap-tahap awal berjalan cukup lancar, namun mulai mencapai klimaks saat peluru hendak dikeluarkan.

“We need him to stay concious, karena ini merupakan daerah yang cukup fatal, tapi itu berarti kita tak bisa memberi terlalu banyak pembius, jadi ada yang harus mengalihkan perhatiannya agar sakitnya tak terlalu terasa.” kata Hangeng.

Heerin segera menjauh dari bagian dada Heechul menuju daerah kepalanya, lalu tanpa ragu ia mencium Heechul. Detak jantung Heechul mulai menunjukkan kesadaran, dan setelah dirasa ia telah mengalihkan perhatian Heechul, Heerin mengangkat tangannya untuk memberi tanda pada yang lain bahwa peluru bisa mulai diambil.

Saat Hangeng mulai memasukkan pinset yang cukup besar untuk mengambil peluru, badan Heechul terasa menegang, menunjukkan bahwa ia kesakitan. Namun Heerin segera memegang wajah Heechul sambil tetap menciumnya, yang mengurangi sedikit ketegangan Heechul.

Beberapa saat kemudian, otot di badan Heechul terasa mulai meregang, dan ternyata peluru telah selesai diambil. Heerin melepaskan ciumannya dan segera beralih untuk membantu pengobatan Heechul. Setelah dirasa cukup dan telah diperban, mereka membawa Heechul ke kamarnya dan menidurkannya di ranjang. Ketiga pria pun keluar dari kamar Heechul dengan tampang lelah. Heerin berjalan mendekati Heechul lalu mengelus kepalanya perlahan.

“Sorry.” gumam Heerin hampir tak terdengar, karena matanya telah digenangi air mata yang hampir tumpah. Ia pun beranjak keluar dari kamar Heechul sambil menahan tangisnya.

—–

Dua hari kemudian, suasana sudah agak mencerah meski belum kembali seperti semula. Mereka sudah mulai menyusun berbagai rencana, meski Heechul tidak ikut karena belum boleh keluar dari kamarnya. Selama itu pula Heerin mencoba untuk tak bertemu dengan Heechul, atau jika ia harus mendatangi kamarnya, ia akan memastikan bahwa Heechul sedang tidur.

Hari itu, mereka sedang beristirahat setelah sibuk menyusun rencana. Heerin berniat untuk melihat keadaan Heechul, karena dipikirnya Heechul sedang tertidur. Ternyata, Heechul sedang membaca buku di atas kasurnya, dan melihat ke arah Heerin.

“Uhm.. I just want to check your condition, I’ll go.” ucap Heerin lalu hendak menutup kembali pintunya.

“Don’t go, stay here please.” pinta Heechul.

Heerin terlihat agak ragu, namun akhirnya ia masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia melangkah mendekati Heechul dan duduk di kursi samping tempat tidur. Agak lama mereka saling terdiam.

“Sorry. Jika aku lebih waspada pasti kau takkan terluka seperti ini.” gumam Heerin sambil menundukkan kepalanya.

“No, I’m the one who need to say sorry, because of all the things that I’ve done to you, sikapku beberapa minggu yang lalu, kejadian tiga tahun lalu, bahkan mungkin berbagai kesalahanku sebelumnya.” ucap Heechul.

“Why do you say this now?” tanya Heerin.

“Karena kurasa aku sudah tak bisa menahan perasaanku lagi, and I finally realized my feeling when I saw you that night, saat kau hampir tertembak. Aku tak sanggup hanya terus memperhatikanmu dari jauh seperti selama ini.” ujar Heechul.

“What do you mean?” tanya Heerin menengadahkan wajahnya dengan tatapan bingung.

“Aku sudah tak bisa menutupinya lagi. Laporan yang waktu itu kau tanyakan padaku, adalah laporan hasil pengamatan mata-mataku selama tiga tahun terakhir tentang kehidupanmu. Memang beberapa saat terakhir datanya tidak lengkap, karena kau telah menembaknya. Namun, aku tetap berusaha untuk mempelajarinya.” kata Heechul sambil tersenyum kecil.

“But, why? I thought you’re the one who hate me with all of your heart.” tanya Heerin.

“Karena aku ingin tetap menjaga adik kecilku agar hidupnya tetap tenang, dan berusaha menjadi kakak yang baik, meski ternyata aku gagal.” jawab Heechul sambil tersenyum pahit.

“You’re still remember it.” gumam Heerin yang kembali menundukkan kepalanya.

“Of couse, how can I forget such an important memory? Aku takkan lupa saat kau mendatangiku hari itu dan memintaku menjadi kakakmu, dan aku menerimanya, and you know that I’m a person who will keep my promise. Lagipula, kau tahu aku tak bisa memperlihatkan emosiku secara transparan, sehingga aku tak berani mengungkapkan bahwa selama ini aku terus mengamatimu.” ungkap Heechul.

Heerin terdiam sambil tetap menunduk, dan Heechul pun memperhatikannya.

“Heerin-ah, do you forgive me?” tanya Heechul yang tak disahut oleh Heerin.

Heechul pun mengarahkan tangannya ke Heerin, lalu memegang dagunya dan menaikkannya sehingga wajah Heerin berhadapan dengannya. Terlihatlah mata yang berlinang air mata, hidung yang memerah, dan bibir yang terkatup rapat menahan tangis.

“Heerin-ah, answer my question.” kata Heechul lembut.

Perlahan, Heerin pun mengangguk yang membuat Heechul tersenyum lega.

“Bagaimana mungkin aku tak memaafkan kakak yang selama ini aku dambakan?” tanya Heerin diiringi isakan.

“Thank you, Rin-ah. Now, let me hug my beloved little sister.” ucap Heechul.

Heerin pun menghambur ke dalam pelukan Heechul, dan tangisnya pun tumpah. Akhirnya ia berhasil mendapatkan kembali sosok kakak yang sempat menghilang.

“Sst, don’t cry anymore, lil sist. I’ll be here for you from now.” gumam Heechul sambil tersenyum damai dan mengelus puncak kepala Heerin.

—–

Sementara itu di suatu tempat yang terpisah jauh, di dalam suatu ruangan kerja…

“Sir, I need to inform you, two days ago other members got attacked. Ini adalah kasus ke 12 selama dua bulan terakhir. Sepertinya mereka memang ditugaskan khusus untuk mencari tahu tentang organisasi ini.” ucap seorang pria.

“Apa kali ini sudah ada bukti yang dapat membawa kita ke pelakunya?” tanya pria yang sedang duduk di kursinya.

“Rekaman CCTV kembali mereka hapus, namun kesaksian penjaga yang selamat adalah pelaku berjumlah 5orang, yaitu seorang wanita dan 4 pria, serta salah seorang pelaku yang berhasil ditembak seorang penjaga bernama Heechul, karena pelaku wanita sempat meneriakan namanya. Namun, tak ada identifikasi khusus tentang wajahnya, karena keadaan saat itu gelap.” ungkap pria itu.

“Heechul? I think I know them.” gumam pria di kursi itu sambil menunjukkan senyum licik kecil.

—–

Beberapa hari kemudian, luka Heechul semakin membaik dan ia pun mulai bisa beraktivitas seperti biasa meski tak terlalu berat. Siang ini, Heerin Heechul sedang duduk di kursi taman sambil berbincang.

“Rin-ah, how’s your relationship with Siwon?” tanya Heechul tiba-tiba.

“Seperti yang kaulihat saja, kenapa memangnya?” balas Heerin.

“Tidakkah kau ingin berhubungan dengannya seperti dulu? Kami bukannya mengatakan kau harus kembali seperti dulu, hanya hubungan antara kau dan kami saja.” ucap Heechul.

“Aku juga menginginkan hal itu, but my heart knows that it won’t be an easy job. Karena meski aku pikir kalian bukannya sengaja mengkhianatiku, tapi kalian telah merusak hatiku, apalagi Siwon yang saat itu berhubungan khusus denganku, itu merupakan tekanan yang berat dengan kondisiku waktu itu. Get it?” jawab Heerin.

“Yah, i know. Just try it, okay?” kata Heechul yang disahuti anggukan Heerin.

Setelah itu mereka melanjutkan pembicaraan ke topik lain. Tak lama kemudian, Siwon datang dengan tampang datar menghampiri mereka.

“Chul-ah, Hangeng is looking for you, he wants to talk about something for the mission.” ucap Siwon.

“Ah, aku akan segera ke tempatnya. Can you stay here for a while? I think maybe Heerin needs someone to accompany her.” kata Heechul.

“Aku sudah memberimu waktu, sekarang cobalah yang tadi kita bicarakan.” bisik Heechul pada Heerin.

Setelah Heechul pergi, keduanya terdiam, kemudian Siwon duduk di sebelah Heerin, dengan mengambil jarak. Keheningan sempat melanda sebelum Siwon menghela napas panjang.

“So now you’ve chosen Heechul?” tanya Siwon.

“What do you mean? I don’t get it.” sahut Heerin.

“You’ve chosen Heechul to replace me in your heart.” kata Siwon.

Perlahan Heerin pun mencerna segala hal yang terjadi akhir-akhir ini, Siwon yang tak lagi berusaha mendekatinya dan malah bersikap agak cuek padanya.

“Jadi itu alasan berbagai perilaku anehmu beberapa hari terakhir ini? Kaupikir aku menggantikan tempatmu di hatiku dengan Heechul?” ujar Heerin.

“Memang apalagi alasannya? Lagipula beberapa hari ini kalian terlihat sangat dekat, lebih dari kau dengan Eunhyuk.” jawab Siwon.

“Heechul selalu memiliki tempat spesial di hatiku sejak dulu.” ucap Heerin, dan sebelum Siwon sempat membalas -yang memang hendak ia lakukan-, Heerin menambahkan, “sebagai kakakku, bukan kekasih.”.

Siwon hanya menatap Heerin dengan bingung, lalu pikirannya mulai menjernih selagi Heerin menjelaskan.

“Dulu aku pernah memintanya menjadi kakakku dan ia menerimanya, dan sejak saat itu kami menjadi dekat. Mulai dari beberapa hari yang lalu, kami kembali menjadi kakak adik, melupakan berbagai masalah yang pernah ada di antara kami. Jangan bilang kau lupa? Aku sudah menebak, tiap kau merasa sedikit cemburu kau pasti melupakan hal penting. Sudahlah, lupakan saja.” jelas Heerin, lalu hendak beranjak dari kursi ketika ada yang menariknya sehingga terduduk lagi.

“Sorry. You know what I was like.” Kata Siwon, lalu melepaskan tangannya yang mencekal pergelangan tangan Heerin.

“Okay, aku terima permintaan maafmu. Now, can I go?” ucap Heerin.

“No, wait here please, I want to say something.” Jawab Siwon.

“Speak it out.” Sahut Heerin.

Siwon pun menghela napas panjang sebelum kemudian mengungkapkan isi hatinya, “I know that you’ve forgiven me, and I know that I shouldn’t ask for something else to you, due to all mistakes that I’ve done. But, I also know that I won’t feel relief until I say this to you directly, because I’m sure that you’ll stay pretend to be blind if I just show it by my attitude. I love you with all of my heart and this feeling never decrease even when the accident happen. Would you be my girlfriend, again?” Tanya Siwon.

Heerin terkejut dengan pernyataan Siwon, karena ia tak menyangka bahwa Siwon akan mengucapkannya secara jelas. Ia pun terdiam sejenak, kemudian menjawab dengan tenang.

“Yes I do, if you promise me that you won’t do that kind of thing anymore.” Kata Heerin, merujuk pada kejadian tiga tahun lalu.

Tanpa basa-basi lagi, Siwon mencium bibir Heerin. Kali ini, mereka melakukannya dengan lembut dan berdasarkan cinta, bukan nafsu seperti saat mereka melaksanakan misi. Beberapa saat kemudian, mereka melepaskan diri.

“Thank you, Heerin. I’ll promise you about thing you’ve said earlier.” Kata Siwon.

“Okay. By the way, I think it’s the first time you ask me directly. Because when we firstly dating, you didn’t even ask me about this.” Ucap Heerin sambil tertawa kecil.

Mereka pun membicarakan tentang berbagai hal mulai dari yang ringan hingga berat, diiringi tawa kecil. Hati mereka terasa lega karena mereka telah mengungkapkan isi hati mereka. Heechul yang melihat diam-diam dari dalam rumah pun tersenyum puas.

Esok malamnya, mereka melaksanakan misi lagi, dan diperkirakan cukup sulit, setingkat dengan misi terakhir mereka yang mencelakakan Heechul, sehingga mereka menyiapkan segalanya lebih matang untuk menghindari hal buruk untuk terjadi.

Setibanya di tempat target, mereka masuk, melakukan kepura-puraan mereka seperti biasa, menyandera target, dan segera mendapat benda yang dicari. Setelah itu, Heerin Siwon segera kembali rumah, karena yang lain sudah kembali ke sana. Mereka semua sempat merasa heran karena misi berjalan tak sesuai rencana, bukan dalam arti buruk, melainkan jadi terasa sangat mudah. Namun, mereka menampik itu semua dari pikiran mereka dengan berpikir positif bahwa persiapan mereka berhasil dengan baik.

Tiba di rumah, mereka segera menuju basement tempat yang lain telah menanti mereka. Segera, mereka membuka koper yang mereka dapatkan, dan tak butuh waktu lama untuk memecahkan kodenya. Namun, alangkah kaget dan gusarnya mereka setelah melihat isi koper itu. Secarik kertas dengan kalimat singkat, namun memiliki arti mendalam.

I KNOW ALL ABOUT FIVE OF YOU

“Keberadaan kita sudah diketahui. What will we do?” ucap Hangeng.

“We’ll decide it soon, after we’re calming down, jadi kita bisa berpikir dengan kepala dingin.” Sahut Heerin sembari berusaha menenangkan Siwon yang terlihat paling gusar, sampai menendang meja di depannya.

Mereka pun terdiam untuk menenangkan diri dan memikirkan rencana selanjutnya. Di tengah kesunyian, handphone Heerin berdering dan Heerin yang malas beranjak dari sofa, disertai keempat pria yang merasa tak mendapat masalah dengan Heerin mengangkat telepon, membuat Heerin segera mengangkat teleponnya di tempat.

“I guess you already got my message.” Ucap suara di seberang.

Heerin sempat terpaku sejenak kemudian, sebelum kemudian ia mengerti sesuatu. Heerin memberi tanda pada yang lain untuk mendengarkan  percakapan telepon yang telah ia loudspeaker.

“So you’re the one who write the message in the case? Who are you? The boss? And where do you get my number?” Tanya Heerin.

“Yes it’s me, and I’m the boss of the organization you’ve been tracked all this 2 months. Ah, don’t you remember me anymore, Heerin-ah?” balas suara itu.

Kelima orang itu terpaku, yakin bahwa orang yang mengaku bos itu memang memiliki info tentang mereka. Namun, mereka takkan membiarkan orang itu menang. Heerin pun menjawab, “Do I know you?”.

Terdengar suara tawa kecil sebelum akhirnya diganti dengan perkataan, “You’re so mean to me. Hmm, let me give you some clues. First, learn about the victim. Second, remember your desperate time. Enough? Or should I give you more clues?”  Tanya suara itu.

Heerin tidak membutuhkan banyak waktu untuk mengungkap semuanya, karena ia segera mengetahuinya sejak mendengar clue pertama. Heerin pun terpaku dan hampir menjatuhkan teleponnya, namun ia berusaha menguasai emosinya. Ia membalas, “Kyuhyun-ah?”.

Tak terdengar jawaban dari seberang, namun mendapati tawa kecil yang terdengar, Heerin yakin tebakannya benar.

tbc.tbc.tbc.tbc.tbc

11

[Freelance] Love, Mission, Betrayal [part 4/8]

By: NamHeeRin

Genre: action, romance

Tags : eunhyuk, heechul, hangeng, siwon, kangin, yesung [series]

-previous-

“Did we make a wrong decision?” batin Eunhyuk.

—–

Keesokan paginya, Eunhyuk bangun masih dengan kepala yang agak pusing, beranjak menuju kamar mandi dan membersihkan badannya. Keluar dari kamar mandi, ia melihat Heerin sedang berada di dalam kamarnya, terlihat mencari-cari Eunhyuk. Eunhyuk pun berdeham dan Heerin menoleh ke arahnya.

“Oh, you’ve took a bath. I was just gotta asked you if you want your breakfast to be brought here or not.” kata Heerin.

“I’ll just go downstair. I’ve felt good.” sahut Eunhyuk.

“Okay then, we’ll wait you at the garden, since those three want to take a fresh air.” ucap Heerin, lalu setelah melihat Eunhyuk mengangguk, ia pun keluar dari kamar Eunhyuk.

Di meja taman, Heerin tampak berbincang cukup ramai dengan yang lain, malah Eunhyuk yang tampak diam, bahkan menyantap sarapan tanpa nafsu. Jika ditanya, jawabannya masih merasa pusing dengan acara minum kemarin. Yang lain pun hanya membiarkan dan melanjutkan berbincang.

Selesai makan, Heerin dan Heechul mencuci peralatan makan, Siwon Hangeng kembali merancang rencana untuk misi berikutnya, sedangkan Eunhyuk duduk di pinggir kolam renang sambil melamun. Yang lain memutuskan bahwa Eunhyuk harus memulihkan badan dahulu, baru boleh mengikuti rapat.

Saat pikirannya sedang asyik menjelajah dunia lain, tiba-tiba pundaknya ditepuk dan ada segelas air di depan matanya. Ia pun mendongak ke atas dan melihat Heerin.

“Drink it. Aku sudah mencampurkan madu di dalamnya. Get better soon, I’ll be inside with the others if you need me.” ucap Heerin lalu beranjak pergi setelah Eunhyuk mengambil gelas yang ditawarkannya.

“Accompany me here, please.” kata Eunhyuk.

“Ok, tapi jangan terlalu lama, or they’ll looking for us and be angry.” jawab Heerin sambil tersenyum lalu duduk di samping Eunhyuk.

“So, are you still being Cassanova?” tanya Heerin.

“Nope, I’m tired being with some strange girls” sahut Eunhyuk.

“Malangnya nasib wanita-wanita yang belum sempat berkencan denganmu.” canda Heerin.

“Well, sebanyak apapun mereka, they can’t fill my heart, which is being empty since you’re gone.” sahut Eunhyuk.

“If you’ve decided to …” ucap Heerin.

“Just to make you know, not all people do things because they want to.” sela Eunhyuk.

“Okay then, just go to the main topic you want to say to me.” kata Heerin.

“Forgive me for all things that I’ve done, although I still can’t told you the reason for the accident three years ago. I won’t beg you to be the old you anymore, I just hope that we can communicate well without any walls that apart us. Can you?” ungkap Eunhyuk.

Heerin awalnya nampak kaget, namun perlahan ia tersenyum sambil tertawa kecil. Ia pun mengacak pelan rambut Eunhyuk.

“Of course, why can’t I? Lagipula, masa aku tak memaafkan jika kau minta maaf padaku?” ujar Heerin.

“Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, dari dulu kau tak berubah.” sungut Eunhyuk sembari merapikan rambutnya.

“Because you’re so childish, Hyukkie.” sahut Heerin.

“Ah, that nickname again, I wish I can get back the words I’ve said.” kata Eunhyuk.

“No no, kau tak bisa menariknya kembali, now I’ve got my Hyukkie again.” ucap Heerin.

Eunhyuk hanya bisa pasrah dipermainkan oleh Heerin, namun dalam hati ia merasa senang karena ia berhasil melakukan apa yang selama ini telah ia tahan. Heerin juga senang dapat kembali akur dengan Eunhyuk, dan ia tak mempermasalahkan alasan kejadian itu. Karena ia pikir mungkin waktunya belum tepat.

Mereka pun bercanda tawa bahkan sampai bermain air tanpa mengingat waktu. Alhasil, kesenangan mereka harus dihentikan oleh suara dari belakang mereka yang terdengar gusar yang datang tiba-tiba.

“Heerin-ah, what’re you doing here? You said that you just want to give him a drink, but you don’t get back to the basement for 45 minutes, dan malah bermain disini.” kata Siwon.

“And you, Eunhyuk-ah, I think you didn’t feel well so we told you to take a rest, tapi kau malah bermain air. Daripada kalian membuang waktu lebih banyak, you better change your clothes and be in the basement 15 minutes from now. If you’re late, I’ll give you a punishment, and you know that I’m not kidding. Hurry up!” seru Siwon.

Heerin Eunhyuk segera berlari menuju kamar mereka sambil tertawa-tawa, meninggalkan Siwon yang menggelengkan kepala lalu berjalan kembali menuju basement.

Selama meeting kali ini, aura cerah terpancar dari Heerin dan Eunhyuk. Bahkan mereka sempat beberapa kali ditegur karena tidak serius dalam membahas. Setelah melihat bahwa Siwon sudah di ambang batas, mereka pun mulai membahas dengan serius, meski tetap diselingi tawa kecil.

“Okay, so our next mission is on tomorrow night. Eunhyuk-ah, have you call Kangin? Apa perlengkapannya sudah bisa diambil? We need to prepare it from now, since the mission is more difficult than the first.” ucap Siwon.

“Yeah, i’ll meet him at 1pm today and take the equipments.” jawab Eunhyuk.

“Okay. So, later Eunhyuk will takes the equipments, Heechul will spies target’s computers, so we don’t need to waste our time like in the previous mission. Hangeng and I will plan the tactics as usual, and Heerin…” Siwon terhenti sejenak memikirkan tugas Heerin.

“She’ll accompanies me meet the dealer, okay?” sela Eunhyuk.

“No, I won’t let both of you together, the tasks will be messed up. Heerin will help Hangeng and I.” ucap Siwon.

“But, you two are enough to make a plan, and later Heerin will see if the plan may work or not. Moreover, she can also meet the dealer so if someday I’m sick or something else, she can replace me.” bantah Eunhyuk.

Siwon baru hendak membantah lagi ketika Heechul menahannya.

“Okay, you may do what you want, but do your job properly. Just go now or you’ll be late.” ucap Hangeng.

Siwon hendak mengatakan sesuatu lagi, namun Eunhyuk sudah keburu menarik tangan Heerin dan berlari menuju pintu.

“Thanks and see you!” seru Eunhyuk lalu menghilang di balik pintu.

“Apa yang merasuki si monyet kecil itu sampai bertingkah autis lagi?” tanya Heechul yang mendapat pukulan di kepala dari Hangeng.

“Maybe he finally realized his feeling, dan ingin mengikuti kata hatinya no matter what would happen.” gumam Hangeng.

Selama perjalanan, Eunhyuk Heerin bertingkah selayaknya anak kecil yang lama tak bertemu temannya. Namun, mendekati tempat pertemuan, yaitu di sebuah lahan kosong di suatu bukit, mereka jadi bersikap profesional, dengan raut dingin dan selalu siaga, meski sekali waktu bertukar senyum kecil.

Tiba di sana, mereka turun dari mobil dengan waspada. Meski dealer bernama Kangin itu sudah bersandar di kap mobilnya dan terlihat sendiri, tak menutup kemungkinan ia menjebak Eunhyuk. Mereka berdua berjalan mendekati Kangin sambil melihat sekeliling. Setelah dekat, Kangin berjalan menghampiri mereka dan menjabat tangan Eunhyuk lalu mengangguk pada Heerin.

Transaksi berjalan cukup lancar, tak ada masalah yang berarti, selain harga yang pada akhirnya telah mencapai kesepakatan yang disetujui kedua pihak. Eunhyuk Heerin sudah berjalan menuju mobil mereka sembari membawa perlengkapan yang telah ditebus, ketika tiba-tiba punggung Heerin seperti ditekan oleh suatu benda.

“Don’t move.”ucap suara pria dari belakangnya.

Heerin pun terpaku, kemudian perlahan-lahan menunduk untuk menaruh perlengkapan yang dibawanya. Eunhyuk juga melakukan hal yang sama.

“Bagus. Sekarang, perlahan memutar kemari.” sambung pria itu lagi.

Heerin dan Eunhyuk pun perlahan memutar badannya, dan mereka sempat bertukar pandangan penuh arti sekilas. Sekitar 90 derajat sebelum menghadap ke arah pria di belakang Heerin, mereka memutar dengan cepat sembari mengambil pistol yang mereka simpan di dalam baju mereka, lalu mengarahkannya pada pria itu. Pria itu tampak kaget namun tersenyum pada Heerin.

“Mengapa kau harus bertindak jahat seperti ini padaku setelah lama kita tak berjumpa, Heerin-ah.” ucap pria itu.

Heerin tampak kaget melihat sosok pria itu, lalu perlahan menurunkan senjatanya. Eunhyuk masih tetap mengarahkan pistolnya meski dalam hati ia merasa bingung.

“Yesung-ah?” tanya Heerin.

—–

“Ah, kau masih mengingat wajahku rupanya, padahal kita sudah 2 tahun tak bertemu, hanya berhubungan tidak langsung.” Ujar pria yang disebut Yesung itu.

“Do you really think I’m that stupid? Kita hanya tak bertemu selama 2 tahun, of course I stil remember your looks.” Sahut Heerin.

“Buktinya kau tak menyadari suaraku meski kita baru berkomunikasi seminggu yang lalu.” Tuduh Yesung.

“Suaramu terdengar berbeda, dan kau menodongku, mana mungkin aku sempat berpikir apa aku mengenalmu. Moreover, in my world, friends can changed into enemies easily.” Ucap Heerin.

“But now you know that I’m not your enemy right? Lagipula aku hanya menekankan jari telunjukku, not the real gun. So, can you tell your friend to put his gun down?” sahut Yesung.

Heerin yang bertemu dengan teman lamanya sampai tak menyadari bahwa ia sedang bersama Eunhyuk. Ia pun menoleh kea rah Eunhyuk yang masih menodongkan pistolnya meski terlihat ragu dan bingung.

“Hyukkie, put your gun down, you scary him. Don’t worry, he’s my friend.” Ujar Heerin.

Lalu, Eunhyuk menurunkan pistolnya dan menaruhnya kembali ke dalam bajunya. Setelah itu, ia menatap Heerin dengan pandangan penuh tanya, Yesung lah yang akhirnya menghilangkan rasa penasaran Eunhyuk.

“Aku temannya saat ia baru pindah kuliah 3 tahun lalu, namun setahun setelah bertemu aku harus pindah sehingga sejak saat itu kami hanya berkomunikasi melalui telepon dan internet. Aku juga adik dari dealer perlengkapan yang tadi kalian temui.” Kata Yesung.

“You both look close to each other, what’s your true relationship with her?” Tanya Eunhyuk.

“Ah, I forgot to tell you, I’m also her supplier since 3 years ago.” Sahut Yesung.

“Supplier? What kind of thing?” selidik Eunhyuk.

“Just an usual thing I might need. Hyukkie, can you please bring the equipments to our car? I want to talk to him first, aku janji tak akan lama.” Sela Heerin.

Eunhyuk merasa ada yang janggal, namun ia tetap membawa barang-barang itu menuju mobil dan meninggalkan Heerin. Setelah dirasa Eunhyuk berada di luar jangkauan pendengaran, Heerin berpaling pada Yesung.

“He’s one of those people you’ve mentioned to me right? Haven’t you tell them about it?” Tanya Yesung.

“Yeah, and I’m not ready to tell them yet, I don’t even think they care with such thing, aku baru berbaikan dengannya, itu juga tadi pagi.” Jawab Heerin.

“You know that you can’t hide this thing from them forever.” Balas Yesung.

“I know that, but I don’t think it’s the right time to tell them. So, please help me by not tell them this thing.” Ucap Heerin, lalu setelah melihat Yesung mengangguk, ia melanjutkan, “Okay then, I need to go now, terimakasih untuk toleransimu. Sampai jumpa.”.

DI dalam mobil, Eunhyuk masih merasa penasaran dengan hal yang disembunyikan Heerin. Namun, ia merasa bahwa Heerin akan memberitahunya jika tiba waktunya, maka ia membahas berbagai hal lain dengan Heerin, dan Heerin merasa senang dengan rasa pengertian Eunhyuk.

—–

Heerin Eunhyuk tiba di rumah menyaksikan ketiga pria itu tertidur di berbagai sofa terlihat kelelahan. Sementara Eunhyuk menaruh perlengkapan di tempat yang aman, Heerin menyelimuti ketiga pria itu menggunakan selimut yang ia temukan di ruang perlengkapan rumah. Ia hendak membereskan kertas-kertas yang tergeletak di meja besar di tengah ruangan basement itu saat ia melihat setumpukan kertas yang telah dijilid dengan rapi, dan ia tahu bahwa itu milik Heechul saat melihat tulisan tangan yang diingatnya di beberapa halaman ketika ia melihatnya sekilas.

Heerin hendak menaruhnya dan membereskan kertas lain, ketika ia melihat namanya tercantum di suatu halaman. Saat ia hendak mencari tahu lebih jauh, sebuah tangan dari belakangnya menarik kertas itu kasar. Ia pun menoleh dan mendapati Heechul sedang menatapnya dengan gusar.

“Siapa yang memberitahumu bahwa kau bisa melihat barang-barang orang lain seenaknya?” Tanya Heechul.

“Aku hanya ingin membereskan kertas yang berserakan di meja saat melihat bahwa di kertas itu terdapat namaku, and I just want to know what that means.” Jawab Heerin.

“Kau tak perlu tahu, karena ini privasiku. Lanjutkan saja lagi merapikan mejanya.” Ujar Heechul kemudian keluar dari basement.

Heerin hanya menatapnya dengan sebal, lalu kembali melanjutkan tugasnya merapikan kertas. Ia tak terlalu mempedulikan  masalah kertas itu karena ia pikir mungkin hanya ungkapan kekesalan Heechul padanya.

Malam harinya, setelah sibuk menyusun rencana bersama Hangeng Siwon, Heerin beranjak menuju kamarnya untuk beristirahat. Namun, ia menghentikan langkahnya di ambang pintu ketika ia melihat sosok seseorang di kamarnya, dan yang lebih buruk, sosok itu sedang memegang barang yang selama ini selalu Heerin sembunyikan.

“What’re you doing in my room?” Tanya Heerin dingin.

“Just like what you saw before, aku merasa tak enak badan lalu ijin ke kamar. Ternyata aku salah masuk ke kamarmu, dan aku baru menyadarinya saat membuka laci pinggir tempat tidur untuk mengambil barang,namun yang kudapat malah ini. Can you explain it to me what medicine is it?” balas sosok itu yang tenyata Heechul.

Heerin segera beranjak menghampiri Heechul dan berniat merebut botol obat itu darinya, namun Heechul sudah menduganya dan segera menaruhnya di dalam saku jaket bagian dalamnya.

“Give it back to me, now!” ucap Heerin tajam.

“I won’t give it to you unless you tell me what medicine is it.” Sahut Heechul.

“You have no right to do this to me. Kau tak ingin aku mencampuri urusanmu, lalu mengapa kau mencampuri urusanku?” Tanya Heerin yang membuat Heechul terdiam sejenak.

“just answer my question.” Ujar Heechul.

“No way I’ll do that, give it to me now, or I’ll take it forcely from you.” Ancam Heerin.

“If you can, do it.” Kata Heechul.

Heerin pun mulai menyerang Heechul, namun Heechul berhasil menghindar, meski tak terlalu gesit. Beberapa saat kemudian, Heechul terlihat semakin lengah, dan ia tahu bahwa ia tak mungkin bertahan lebih lama. Akhirnya, saat ada kesempatan, Heechul membanting badan Heerin ke arah kasur, lalu ia menahan kedua tangan Heerin dengan kedua tangannya. Tapi, sepertinya nasib baik sedang tak berpihak padanya. Belum sampai setengah menit, pintu terbuka dan terdengar suara keras dari arah pintu.

“Kalian berdua, apa yang sedang kalian lakukan? Jika hendak melakukan hal seperti itu, paling tidak kunci pintunya terlebih dahulu.” Ucap Hangeng keras.

“Ini tak seperti yang kau lihat.” Bantah Heechul yang segera bangun dari posisinya.

“Tak seperti yang kulihat? Posisi tak mengenakan di tempat tidur dengan napas terengah-engah dan pakaian yang berantakan? What else can you explain to me?” Tanya Hangeng.

Heerin memanfaatkan kesempatan ini dengan mengambil botol obatnya dari dalam jaket Heechul. Heechul hanya bisa mendelik tajam saat mengetahui bahwa ia telah gagal.

“Hangeng-ah, can you please bring him out here? I’m not in the mood to be with him.” Ujar Heerin tampak lesu.

“Okay, don’t worry Heerin-ah, and sorry for that bad behavior. Heechul-ah, come on, or I’ll tell Siwon about it, and you know that you won’t like it.” Kata Hangeng kemudian menarik Heechul keluar dari kamar Heerin.

“It’s not over yet.” Bunyi kata yang diucapkan Heechul tanpa suara sembari menatap tajam Heerin, yang dibalas dengan tatapan meremehkan Heerin.

tbc.tbc.tbc.tbc.tbc