[Freelance] In My Dream

Title : In My Dream

Author : ChunLism [tapi pake nama yg udah ada gapap sih min]

Main Cast : Cho Kyuhyun, Jung Soorim

Supporting cast : Lee Sungmin, Lee Donghae, Park Jungsoo, Cho Ahra

Rating : All ages

Genre : Romance, tragedy, one shot

Ps : pernah di publish di chunlism.tumblr.com

Disclaim : I own this FF and the characters inside this FF are all mine! hahahaha lol *ditimpuk*


Kyuhyun PoV

“Ya! Dasar gadis bodoh, masa begitu saja tidak bisa!” aku memukul pelan kepalanya dengan buku. Sudah 2 jam aku dan Soorim duduk di sudut perpustakaan ini, mengajarinya soal matriks yang begitu gampang, tapi dia tidak mengerti juga. Dia menatapku kesal, lalu membanting penanya.

“Ah, sudah, sudah! Aku pasrah saja ujian besok!” katanya menyerah. Giliranku yang menatapnya kesal.

“Ya! Jangan kau sebut dirimu sebagai pacar seorang Cho Kyuhyun kalau kau mendapat nilai jelek. Aku ajarkan sekali lagi. Sepertinya lain kali kau harus lebih banyak makan ikan agar otakmu yang lambat ini bisa bekerja lebih baik,” saranku. Dia membulatkan matanya.

“MWO?!”

*

“Kyuhyun-ah! aku dapat nilai 65!!!” jerit Soorim lantang sambil melompat-lompat ke kelasku. Astaga, gadis ini… Aku segera menariknya duduk di sebelahku.

“Babo ya! Dapat 65 seharusnya kau malu! Seumur hidupku tidak pernah dapat nilai sejelek itu untuk Matematika!“

“Setidaknya aku lulus!“ ucapnya sambil menjulurkan lidah padaku, “mana janjimu? Katanya kau akan mengajakku jalan–jalan kalau aku lulus?“

Aku menghela nafas, “Aku tidak mau! Kau lulus dengan nilai yang jelek! Kau harusnya belajar lagi!“ tolakku. Soorim mengerucutkan bibirnya, tanda bahwa ia sedang kesal.

“SHIRO!!! Aku sudah lulus! Aku tidak mau bertemu Matematika lagi! Pokoknya kau harus menepati janjimu!“ omelnya sambil berjalan keluar kelas. Aku menggeleng pelan, kenapa aku bisa begitu mencintai gadis pemalas yang sembrono itu

*

Karena tidak tahan dengan rengekan gadis itu, maka aku mengalah dan mengajaknya ke sebuah taman kecil di pinggiran kota Seoul. Soorim terlihat sangat senang. Ia menarik nafas dalam-dalam, menikmati udara hari pertama di musim gugur, musim yang paling disukainya. Ia memakai jaket hitam dan syal merah, dipadu topi rajut berwarna senada. Begitu sederhana, namun begitu menarik dan ceria.

“Kenapa memandangku seperti itu? Aku cantik, ya?“ tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Ya! Ya! Kau tidak punya kaca dirumah? Atau kacamu sudah meretakkan diri karena tidak tahan melihat wajahmu itu?“ decakku sinis.

“Cho Kyuhyun! Neo jeongmal… Aish! Lidahmu sepertinya perlu kupotong sedikit agar tidak begitu tajam,“ gumamnya sengit. Aku hanya tertawa dan merangkulnya. Awalnya ia menolak, namun karena aku terus memaksa, dia akhirnya menyerah.

“Kyuhyun-ah…“ panggilnya tiba-tiba. Aku menoleh, menatapnya. Ia memandang danau di depan kami, “kenapa kau mencintaiku?“

Aku terpana menatapnya. 2 tahun kami menjadi sepasang kekasih, belum pernah ia bertanya hal ini dengan ekspresi seserius itu. Aku memegang dahinya, jangan-jangan dia mulai gila.

“Ya! Aku tidak gila!“ katanya seolah bisa membaca pikiranku. Aku tertawa.

“Kenapa kau tanya begitu?“

“Jawab saja.“

“Hmm…“ aku pura-pura berpikir, “mungkin karena kau terlalu bodoh. Kau tahu, aku tak tahan melihat orang bodoh, apalagi dalam Matematika.“ Dia menanggapi dengan sebuah pukulan keras di pundakku.

“Ya! Aish… Lagipula kenapa kau bertanya hal ini?“ tanyaku sambil mengusap pundak. Aku bertaruh, pundakku sudah lebam dibuatnya.

“Hanya ingin tahu. Kenapa kau memilihku sebagai kekasihmu? Padahal, kau begitu tampan, kaya dan cerdas. Sedangkan aku? Kenapa kau tidak memilih Shim Ae Rin saja yang jelas lebih cantik daripada aku,“ jelasnya. Aku mendesah. Shim Ae Rin adalah murid putri di sekolahku yang merupakan dari seorang pengusaha pemilik perusahaan ekspor-impor terbesar di Korea. Banyak yang bilang kalau ia menyukaiku, dan ia bahkan sudah pernah menyatakan perasaannya padaku.

Soorim masih menatapku, menunggu. Tapi aku hanya diam dan menatapnya balik. Gadis bodoh, apa masih perlu bertanya tentang hal yang sudah pasti jawabannya?

“Kau tidak menjawabku?“ ia terlihat kecewa, namun sedetik kemudian ekspresinya ceria kembali, “Ya sudah, aku tahu kau memang pelit! Aku mau membeli eskrim,“ katanya sambil menunjuk minimarket di seberang jalan.

Aku tersenyum, “Kau mau rasa apa? Biar aku belikan.“

“Ani. Biar aku yang membelinya. Kau tunggu saja disini,“ katanya sambil beranjak. Aku memandangnya. Banyak orang yang bilang kami tidak serasi, mereka bilang, ia terlalu sederhana untukku. Tapi entah kenapa, aku yang biasanya begitu peduli dengan omongan orang memilih untuk tidak menanggapi omongan mereka tentang hubunganku dengannya. Bukan aku tidak mau menjawab pertanyaannya, namun karena aku memang tidak tahu kenapa aku mencintainya. Yang aku tahu hanya, aku merasa dia diciptakan untuk melengkapiku. Ia begitu menghargaiku, bahkan untuk hal kecil saja, kadang ia memberi penghargaan yang berlebihan kepadaku, membuatku merasa dibutuhkan. Gadis bodoh yang polos, kenapa hari ini dia begitu aneh?

Tak lama kemudian Soorim keluar dari minimarket dengan membawa 2 buah eskrim sambil tersenyum lebar. Ia menyebrang jalan dengan langkah ringan, namun sebuah bus besar dengan kecepatan tinggi menghentikan langkahnya. Sedetik kemudian, aku hanya bisa diam melihat ia terhempas ke aspal dengan eskrim yang hancur di dekatnya. Orang-orang yang berlarian ke arahnya membuatku tersadar. Aku berlari seperti kesetanan ke arahnya. Aku mengangkatnya ke pangkuanku, berusaha menyeka darah segar yang mengalir begitu deras dari kepalanya.

“Soorim-ah…“ aku bisa mendengar suaraku yang serak. Aku bisa mendengar gumaman orang-orang di sekitar kami. Ada suara ambulance mendekat.

Andwe.. Kenapa bisa begini?

*

Rumah sakit ini membuat bulu romaku berdiri,  sangat mencekam dan dingin. Soorim sedang ditangani oleh dokter. Bajuku masih bersimbah darah dan aku hanya menunduk, berusaha mencerna kejadian ini. Tak kupedulikan Ahra noona yang sejak tadi membujukku untuk makan. Tidak lama kemudian dokter keluar. Aku segera menghampirinya.

“Mianhamnida… Kami sudah berusaha… “ dokter itu menunjukkan raut penyesalannya. Tiba-tiba ku merasa tubuhku begitu berat, kakiku limbung, Eomma dan Ahra noona memegangku.

“Kyuhyun-ah, sebaiknya kau pulang. Biar Appa yang mengurus Soorim disini,“ kata Eomma dengan suara begetar.

Aku menggeleng, “Eomma, biarkan aku melihatnya.“

”Kyuhyun-ah,“

“Noona, tolong, biarkan aku melihatnya..“ aku memohon. Akhirnya, Ahra noona menuntunku ke kamar itu. Banyak suster sedang sibuk membereskan sesuatu, namun tatapanku hanya terfokus pada sosok yang berbaring di ranjang. Aku mendekatinya. Apa maksud dokter itu meminta maaf? Tidak mungkin ia meninggal, bukan? Ia terlihat seperti sedang tidur! Namun, aku melihat mereka mulai menutupinya dengan kain.

“Apa yang kalian lakukan!!?” bentakku, menghentikan kegiatan para suster itu.

“Kyuhyun-ah… Jangan begini..“ kata Ahra noona sambil menangis.

“Noona, kau lihat mereka menutup tubuh Soorim seperti ia sudah mati! Rumah sakit apa ini? Memperlakukan pasien yang masih hidup seperti mayat?“ teriakku kalap.

“Kyuhyun-ah, Soorim-ssi, dia sudah pergi…“ Eomma mencoba menenangkanku.

“Pergi? Pergi kemana?! Jelas dia ada disana! Dia…“

PLAKK!!

Sebuah tamparan mendarat di wajahku. Ahra noona menatapku tajam dengan matanya yang berair.

“Kyuhyun-ah! Hentikan sikap kekanakanmu! Soorim-ssi sudah meninggal!“ bentaknya.

Aku menggeleng, “Andwe… Tidak mungkin…” sangkalku. Pandanganku mulai kabur. Aku tidak bisa mendengar jelas apa yang mereka katakan, yang terakhir kudengar adalah teriakan histeris Ahra noona memanggil namaku.

*

Author PoV

Ahra menatap adiknya pilu. Sudah 2 minggu sejak Soorim pergi, tetapi Kyuhyun masih seperti mayat hidup. Ia bahkan tidak menghadiri pemakamannya karena ia masih tidak terima kalau Soorim sudah tiada.

“Kyuhyun-ah, Makanlah sedikit…” bujuk Ahra. Kyuhyun memandang kakak satu-satunya itu. Ahra terperanjat, ia baru menyadari betapa pucatnya wajah Kyuhyun.

“Shiroyo, Noona… Aku tidak lapar,” jawabnya sambil berusaha tersenyum. Senyum pahit, Ahra tentu saja mengetahuinya. Ia mengenal adiknya lebih dari siapapun. Ia memeluk adiknya sambil menangis.

“Kyuhyunnie, jangan seperti ini…” Ahra terisak. Namun Kyuhyun tidak mengacuhkannya, pandangannya kosong.

*

Kyuhyun duduk di sudut perpustakaan, tempat ia duduk dengan Soorim terakhir kalinya. Ia memandang buku Matematika di depannya dengan nanar. Matriks. Bab terakhir yang diajarkannya kepada Soorim. Gadis itu membuktikan ucapannya bahwa ia tidak mau bertemu Matematika lagi.

Tiba-tiba Kyuhyun merasa kepalanya dipukul seseorang. Ia berbalik, menemukan sosok yang dirindukannya, berdiri tegak, begitu nyata di hadapannya. Itu Soorim!

Gadis itu… Bukankah ia sudah meninggal?

“Ya! Kenapa kau mengerjapkan matamu seperti orang cacingan?“ kata Soorim seraya mengambil tempat di sebelah Kyuhyun. Kyuhyun terpaku menatap gadis itu.

“Cho Kyuhyun.. Gwenchanayo? Ah, jinja! Kenapa kau mepelajari matriks lagi! Menyebalkan sekali!“ omel Soorim sambil menutup buku matematika Kyuhyun.

“Soorim-ah… Ini benar kau?“ Kyuhyun tidak melepaskan matanya dari Soorim.

“Tentu saja aku… Kau ini kenapa, sih?“ tanya Soorim heran. Kyuhyun memeluknya. Soorim nyata, ia bisa merasakan nafas Soorim di telinganya.

“Jeongmal bogoshipeoyo,“ bisik Kyuhyun tertahan.

“Bogoshipeo apa? Aku tahu aku memang sosok yang selalu dirindukan semua orang, tapi kau ini sungguh aneh!“ kata Soorim sambil melepaskan diri. Kyuhyun tertawa lega. Ternyata ia benar, Soorim masih hidup. Ia mengelus rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang.

“Jangan pergi lagi…“ bisiknya.

*

“Aerin-ah… Aku tahu kau menyukai Kyuhyun. Tapi lihatlah, apa kau tidak merasa dia sudah gila?” kata Ryeona, sahabat Aerin ketika melihat Kyuhyun tersenyum sendiri dan mengelus bayangan kosong. Aerin pun sebenarnya heran, jadi ia memutuskan untuk mendekati Kyuhyun.

“Kyuhyun sunbaenim.. Kau sedang apa?“ tanya Aerin centil sambil memegang tangan Kyu.

“Kau bisa lihat sendiri,” kata Kyu dingin dan menepis tangan Aerin. Dari dulu ia tidak suka dengan perempuan manja ini. Soorim tiba-tiba ingin ke WC pun pasti karena ia melihat perempuan ini, gadis itu memang tidak begitu suka dengan sifat Aerin.

Aerin kesal dengan reaksi dingin Kyuhyun, tapi ia menyembunyikannya, “Perlu kutemani?“

Kyuhyun menatap Aerin tajam, “Yang ada kau akan menggangguku!“ jawab Kyuhyun, membuat Aerin beranjak seketika.  Ia mendengus. Ah, jeongmal*! Kapan pria ini berhenti memikirkan gadis yang sudah beda alam itu?

*

Teman-teman Kyuhyun merasa semangat Kyuhyun mulai tumbuh lagi, entah karena apa. Namun, ada yang aneh, terkadang Kyuhyun bicara sendiri dengan raut wajah yang begitu bahagia. Donghae, Sungmin, dan Jungsoo bertanya-tanya mengenai keanehan sahabatnya ini, namun mereka tidak mau melihat Kyuhyun yang depresi lagi. Jadi, asal mereka bisa melihat Kyuhyun bahagia, semuanya tidak masalah. Walaupun semua ini sedikit aneh dan tidak wajar…………………….

*

Kyuhyun PoV

Soorim mengajakku ke perpustakaan lagi. Ah, sejak kapan itu jadi tempat favoritnya? Aneh sekali.

“Cho Kyuhyun!” panggilnya dari tempat duduk favorit kami. Aku tersenyum dan segera menghampirinya.

“Cepat sekali kau kesini, padahal kan kelasmu jauh dan bel baru saja berbunyi“ ucapku. Gadis itu meringis.

“Kyuhyun-ah… Kau ingat soal kecelakaanku?“ tanya Soorim.

“Jangan bahas itu lagi,“ aku bisa merasakan wajahku mengeras. Sungguh, aku tidak mau mengingat kejadian itu lagi. Benar-benar perih membayangkan gadisku hampir diambil maut.

“Apa mereka bilang padamu aku sudah meninggal?“ Soorim masih keras kepala. Aku hanya mengangguk. Dia ikut mengangguk.

“Tentu saja! Kau pingsan dan meninggalkanku begitu saja, lalu tidak datang-datang lagi! Aku hampir benar-benar meninggal kalau ahjussi*, ahjumma*, dan Ahra noona tidak merawatku!“ omelnya panjang lebar. Aku tertawa.

“Namun sekarang buktinya kau ada disini bersamaku.“ Kataku sambil mengangkat bahu. Soorim mengangguk-angguk lagi. Lalu, ia diam.

“Kyuhyun-ah… Kau tahu, aku sangat menyukaimu?“ kata Soorim sambil menatapku. Ekspresinya lucu sekali.

“Ne… Tentu saja aku tahu. Gadis mana di muka bumi ini yang tidak mencintaiku?“ candaku. Ia menggembungkan pipinya kesal, tetapi tidak menjawab.

“Kyuhyun-ah.. Kalau aku pindah, bagaimana?” tanyanya. Aku menatapnya tak mengerti.

“Kau mau pindah apartemen?” tanyaku. Ia menggeleng, “jadi?“

“Pindah dari Seoul. Bagaimana hubungan kita?“ aku menelan ludah. Apalagi ini, kenapa dia mau pindah tiba-tiba?

“Pindah dari Seoul kan, bukan dari Korea? Itu tidak masalah. Teknologi sudah canggih. Aku juga bisa mengunjungimu,” aku mencoba menghibur, menghibur diri sendiri sebenarnya. Tidak dapat kubayangkan kami hanya bertemu lewat webcam. Aku bisa mati karena merindukannya.

“Kau bisa menjaga diri kan kalau aku tidak dekat denganmu?“ tanyanya.

“Aish.. Jinja, seperti kau akan meninggalkanku selamanya saja! Kan kita cuma beda kota!“ kataku.

“Kau harus janji dulu?“ paksanya.

“Memangnya kau mau pindah kemana?“ tanyaku. Ia meletakkan telunjuknya di mulut.

“Bimil… Kau berjanji dulu akan menjaga diri baik-baik. Kau tahu kau itu sangat bodoh sehingga aku selalu cemas,“ katanya sambil tersenyum lebar. Aku mendengus.

“Ya! Kau tidak memberitahuku? Lagipula siapa yang bodoh? Kau bukan?“ aku mulai kesal. Gadis ini masih saja bermain-main di situasi seperti ini. Ia menyodorkan kelingkingnya padaku, tanda ia ingin aku berjanji. Dengan terpaksa, aku mengaitkan kelingkingku.

Ia tertawa puas. “Besok kau temui aku di alamat ini. Jam 3 sore.“ katanya sambil memberiku secarik kertas berisi sebuah alamat. “Aku akan menunggu! Awas kalau kau tidak datang! Dan jangan ingkar janji!“

Aku tersenyum dan memeluknya, “pernahkah seorang aku ingkar janji?“

*

Author PoV

Kyuhyun turun dari bus dan menuju ke alamat yang ditunjukkan Soorim kemarin. Betapa kagetnya ia, ketika Soorim ternyata memberinya alamat menuju sebuah komplek pemakaman. Jinja, gadis ini mau apa?!

Kyuhyun menuju ke pusara yang ditulis Soorim di kertas itu. Betapa terkejutnya Kyuhyun ketika melihat nama itu. Jung Soorim. Andwe… Ia pasti salah, Soorim tadi pagi baru saja meneleponku untuk tidak ingkar janji.

Kyuhyun mengamati pusara itu… Jung Soorim, 5 Mei 1988 – 19 November 2010. Itu tanggal lahir Soorim, dan itu hari kecelakaannya. Dan ia menemukan sebuah surat diatas pusara itu.

“Ya! Kenapa wajahmu kaget begitu?Kau sungguh terlihat bodoh tahu! Hahaha… Kyuhyun-ah, aku sudah berjanji memberitahumu tempat tinggalku bukan? Baiklah, sekarang, aku tinggal di sebuah tempat yang jauuuuuhhhh sekali dari Seoul, surga namanya, kau tahu kan? Dan kamar untukku pindah ke liang sempit ini! Menyebalkan sekali! Kau tidak bisa memelukku lagi karena sekarang aku dipeluk oleh bumi. Kalau mau, kau peluk saja guling yang penuh dengan air liurmu itu! Hahaha…

Yaya! Kenapa kau mulai menangis? Aish… bocah ini, sungguh tidak bisa membuatku tenang. Kau tahu tidak, aku sampai pulang-pergi dari seoul ke tempatku tinggal sekarang, hanya karena aku tak tahan melihat wajahmu yang sudah seperti tomat diinjak kuda itu karena kutinggalkan. Melelahkan sekali! Andai aku masih di Seoul, pasti aku sudah menyuruhmu operasi plastik untuk kedua kalinya! Untungnya, wajahmu normal kembali setelah aku menemuimu.

 

Jagi, kau tahu, surga sangat indah! Aku sangat populer disini. Beberapa pria tampan memperebutkanku! Ah, hampir saja aku melupakanmu. Tapi, untung aku ini orangnya setia, jadi aku menunggumu kemari. Ehhh! Jangan berpikir bodoh! Aku tidak mau kau mengakhiri sebelum saatnya! Kau sudah berjanji akan menjaga diri baik-baik bukan? Kau tidak boleh ingkar! Aku tidak akan mengakuimu sebagai kekasih kalau kau berani bertindak bodoh! Kau akan kuaniaya! Arraseo?

Meskipun jauh, aku terus ada di dalam hatimu. Bila kau membelahnya, kau akan menemukan diriku versi mini! Haha~

Kau tahu kenapa aku ke surga duluan? Itu karena aku seorang malaikat. Malaikat yang turun ke bumi dan mendampingi seorang evil sepertimu. Tuhan tidak rela, makanya aku ke surga duluan. Haha~ evilkyu! Kau benar-benar evil yang sering membuatku menangis karena tingkah kurang ajarmu. Tetapi aku tahu kau sebenarnya sangat baik. Evil diluar dan malaikat di dalam. Ah, kepalamu pasti besar!

 

Kyuyhun-ah, aku tidak akan menyuruhmu melupakanku, karena aku tahu akan sangat sulit. Tapi, aku mohon, cari seorang gadis yang lebih baik dariku untuk mendampingimu. Eh… tidak ada gadis yang lebih baik dariku! Aku yang terbaik di dunia ini! Haha~ setidaknya, carilah gadis yang bisa menjagamu. Ahh jnja! Aku cemas sekali padamu! Makanya, kau harus segera menemukan seseorang,agar aku bisa tenang dan tidak cemas. Kau tidak boleh menangisiku lagi! Menyebalkan, aku merasa seperti kekasih yang tidak berguna apabila kau menangis!

Anggap aku sebagai hal yang indah dalam hidupmu, tersenyumlah tiap kali kau mengingat aku. Kau mencintaiku kan? Orang yang mencintai pasti ingin melihat orang yang dicintainya bahagia. Makanya, kau harus selalu bahagia agar aku bahagia.

 

Jagiya.. aku ingin melihatmu dengan cucu-cucumu kelak! Mereka pasti begitu lucu dan menggemaskan! Kau harus bertahan sampai keinginanku terlaksana. Nanti kalau sudah waktunya, kita akan bertemu. Kau dengan rambut putihmu, dan aku dengan rona mudaku! Hahahahaah~ tapi aku akan tetap :D

 

Ah.. jinja bogoshipeoyo.. untung aku bisa melihatmu dengan jelas dari sini. Kau sekarang tersenyum bukan? Tetaplah seperti ini. Kau sangat tampan! Hahaha~

 

                                                                                Eonjena saranghae <3

 

 

 

                                                                                                Soorim“

 

 

Kyuhyun menyeka air matanya, menatap surat itu dan pusara Soorim bergantian. Ia tersenyum, lalu ia memandang langit.

“Soorim-ah, apa kau benar-benar bahagia disana? Kau tidak perlu cemas, aku tidak akan pernah ingkar janji,“ ucap Kyuhyun sambil tersenyum.

22 thoughts on “[Freelance] In My Dream

  1. huhuhuhuhu *nangis beneran mbil ngoment* bgus thor!!
    kasihan bgt dah!! kyuhyun dia pasti akn selalu mencintaimu T.T

  2. hiks hiks :'( :'( :'(
    *ngambil tisu*

    ya ampun, authooor~
    kasian kyu, aku gk tega ngeliat dy depresi
    ssshh cup cup cup
    sini aku peluk
    *udah mulai gila*

    ini daebak thor
    menusuk hati hingga berbekas
    *lebeh? sangat*

    DA to the E to the BAK ^^

  3. Jujur , bingung mau komen apa?
    Curcol aja ya , aku nangis baca FF-nya ..
    Sebenernya surat dari Soorim kata-katanya lucu , tp bikin tangisku makin deras (?) TT^TT
    bikin sequel-nya dong !!
    Sampe EvilKyu menyusul Soorim TT^TT

  4. huwwaaaa..
    sedih banget ceritanya. aku sampe nangis!!
    di tambah suasana hatiku yang lagi pengen nangis, pas banget baca ff ini!!
    kereeen..

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s