11

[Freelance] My Life Time [part 11]

Author  : Afi

Cast : all member super junior, khususnya Eunhyuk dan Kyuhyuh, dan beberapa cast tambahan dari JYPent {2PM, Jang WooYoung}

kategori   : on writing, 16+

#Part 11#

Mi Yeon PoV

{backsound : dreaming- Kim Soo Hyun/only you (acoustic ver.)- 2pm/ marry you- super junior}

Langit malam terasa sangat dingin sekarang ini. Aku merasakan nafasku sedikit sesak saat duduk diayunan taman rumahku. Ku buka album foto yang ada dipangkuanku sejak tadi. Foto foto ini membuatku lebih bersemangat setiap harinya, itu juga untuk menghilangkan rasa bosanku karna selalu berada dirumah seharian. Kondisiku sudah tidak memungkinkan lagi aku beraktivitas seperti biasa.

Sejak 2 bulan yang lalu, aku resmi keluar dari aktivitas modellingku. Dan sudah lama juga aku tidak kembali ke sekolah. Kupandangi salah satu foto, fotoku dan Ji Rin saat upacara penerimaan siswa baru. Wajahku sudah terlihat sangat pucat, walaupun tidak sepucat sekarang. Kulitku masih terlihat mulus, sementara sekarang wajahku semakin jelek. Makin lama aku makin kurus, pipiku juga, bawah mataku jadi cekung, dan … dan lihat semua bekas jarum infus dan suntikan di lenganku

Setiap kali EunHyuk oppa membantuku berdiri, ia selalu memandangi semua ini dengan tatapan yang penuh dengan kesedihan. Bukan hanya itu saja, pundakku juga, tangan kiriku juga, bahkan muka ku sangat pucat, warna bibirku juga sudah suram. Aku berusaha semampunya untuk menutupi semua ini. Aku berusaha bersikap seperti biasa, agar kalian semua tidak khawatir. Makanya, makanya selama ini aku pakai lipstik.

Nafasku mulai terengah sekarang, aku mencoba melepaskan isak tangis ku perlahan. Air mata jatuh satu persatu membasahi album foto yang sudah kututup. Aku langsung mendongak dan segera menghapus air mataku ini. Berapa lama lagi ? berapa lama lagi aku bisa bernafas ? perlahan kuletakkan tanganku di depan dadaku, berapa lama lagi aku bisa merasakan irama detak jantungku ini

”Mi Yeonnie kau disana ?”seru seseorang, aku berbalik dan melihat EunHyuk oppa yang berlari mendekatiku ”bagaimana keadaanmu ?”

”aku baik baik saja” jawabku sambil tersenyum

”oh ya hari ini aku bertemu dengan beberapa junior baru… mereka cantik cantik dan lucu lucu. Walaupun lebih cantik dirimu…” jelasnya dengan cepat

”oppa…”

”lalu…tadi Kyuhyun juga dia salah nada dalam menyanyikan lagu Lee Seunggi sshi, itu membuatku tertawa terus. Rasanya itu kesalahan pertamanya..”

”oppa”

”lalu tadi juga… aku bertemu dengan -” ia menghentikan ucapannya saat aku menyentuh pipinya dengan ujung jemariku, ia menatapku sambil menunduk

”oppaa..”ujarku dan menempelkan keningnya di keningku ”bicaranya pelan pelan saja, aku masih punya waktu untuk mendengarkan semua ceritamu”

”i..iya Mianhae”ujarnya dan langsung menarikku kedalam dekapannya ”aku minta maaf”

”tidak apa apa… ” Jantungnya berdetak sangat cepat, dia pasti merasa takut melihat keadaanku yang semakin lemah ini “oppa, boleh aku minta sesuatu padamu ?”

Aku membisikkan sesuatu padanya, ia tersenyum kecil dan langsung mengangguk. Aku berjalan menuju kamarku dan segera mengganti bajuku. Selagi masih ada waktu, aku ingin mewujudkan mimpi terakhirku. Kukenakan mantel pink panjang dan syal putih untuk menutupi leherku. Perlahan kuturuni tangga dan masuk keruang kerja Eomma. Kulihat eomma yang sedang duduk sambil membuka laptopnya

”Eomma”

”oh Mi Yeonnie ah ? kau mau kemana ? EunHyuk sshi tadi-”

”aku mau pergi sebentar, sama EunHyuk oppa kok boleh kan ?”

”tentu saja, tapi jangan pulang terlalu malam ya”

Aku tersenyum kecil saat Ia tersenyum padaku, aku langsung memeluknya dengan erat. Harum ini, Eomma….aku sangat sayang padamu. Aku benar benar sangat menyanyangimu.

”Mi Yeonnie ?”
”Eomma.. eottohke ? banyak sekali yang ingin aku sampaikan padamu, selama ini aku sudah banyak sekali menyusahkan Eomma. Mianhae, aku sering sekali membuat eomma kecewa dengan nilai nilai dan sikapku. Aku belum bisa membahagiakan eomma. Mianhae eomma”

”yak, hei… kau bicara apa sayang ? kau anak eomma … anak eomma yang hebat. Eomma sudah sangat bahagia melihatmu yang sekarang ini, kau sehat dan kau punya semangat”

”Eomma… mianhae, aku benar benar menyayangimu”ujarku dan langsung memeluknya lebih erat. Eomma satu permintaanku padaku… bisakah kau tidak menangis saat aku pergi nanti ? bisakan eomma ?

Mobil Eunhyuk oppa melaju dengan cepat, kulihat kerlipan lampu di jalan yang mulai mewarnai jalan raya. Rasanya sudah lama tidak melihat dunia luar. Hiasan diluar rumah membuatku tersadar. Besok itu hari valentine kan ? kenapa aku bisa lupa ? tidak terasa aku sudah mengenal Eunhyuk oppa selama 1 tahun lamanya. Eunhyuk oppa melewati toko coklat yang sering kukunjungi, toko itu terlihat sangat ramai. Sangat ramai sekali.

Tiba tiba ponselku berbunyi, aku langsung membuka tasku dan mengangkat telfon yang baru masuk. Jung Ji Rin. Sahabatku menelfonku.

”yoboseyo?” jawabku

”Mi Yeonnie, kau dimana ? kau baik baik saja kan ?”

”ne… aku sedang bersama EunHyuk oppa. Wae ? kau dimana ?”

”aku ada bersama Wooyoung oppa. Besok valentine, kukira kau membuat coklat malam ini. Kalian mau kemana ?”

”kami ingin kesuatu tempat, aku tidak membuat coklat Ji Rin ah. Aku saja lupa besok valentine. Ah ya Ji Rin ah”

”kenapa ?”

”aku sangat sayang padamu, terima kasih ya kau sudah mau bersahabat dengan gadis aneh sepertiku. Mianhae, kalau selama ini aku selalu merepotkanmu”

”yak ! kau bicara apa ? justru aku yang harusnya berterima kasih padamu. Kau sudah mengubahku menjadi lebih baik Mi Yeon ah, karna itu… kau harus terus bersemangat ya”

”ne… arasso. Ya byeeee~” ujarku dan langsung menutup telfon Ji Rin.

Mobil EunHyuk oppa terhenti di depan gerbang besar. Aku langsung keluar dari mobil dan perlahan mengikuti langkah EunHyuk oppa. Ia menggengam tanganku dengan erat dan membawaku memasuki gerbang tinggi yang ada dihadapan kami. Gelap sekali. Wajar saya, taman bermain ini kan sudah tutup. Sekitar 10 menit lagi hari akan berganti, itu artinya 10 menit lagi hari valentine akan tiba.

Tiba tiba kurasakan genggaman Eunhyuk oppa terlepas dari tanganku, aku mencoba melangkah dan mencari tangannya. Kemana dia ? aish disini gelap sekali, aku tidak bisa melihat apapun. Aku terus mencari dan mencoba menggapai sesuatu yang ada dihadapanku. Click~ tiba tiba lampu lampu menyala disekitarku, aku melihat ke sekelilingku. Aku berdiri tepat ditengah tengah taman bermain

Di belakangku terlihat bianglala yang besar dengan kerlip kerlip lampu yang indah. Aku berbalik dan melihat semua lampu yang menyala dengan indah. Taman bermain ini jadi romantis sekali. Aku menyipitkan mataku dan memakukan pandanganku saat melihat seseorang datang menghampiriku, di…dia kan EunHyuk oppa ? sejak kapan dia berganti baju ?

EunHyuk oppa yang sudah memakai baju serba putih berdiri dihadapanku sambil membawa buket bunga berwarna merah. Ia berlutut dengan sebelah kakinya dan menyodorkan buket bunga itu padaku. Keadaan ini membuatku teringat satu hal, coklat valentine yang ku berikan untuk Eunhyuk oppa tahun lalu. Aku menoleh perlahan dan melihat jam yang sudah menunjukkan jam 12 malam. Ia tersenyum padaku perlahan

”Mi yeonnie ah”

”ya…oppa kenapa melakukan ini ?”

”kau ingatkan satu tahun yang lalu, aku bilang padamu aku tidak bisa melakukan hal yang ada diminiatur coklat itu ?” aku mengangguk pelan membuatnya tertawa ”sekarang aku melakukannya Mi Yeonnie”

”ha ? jangan bilang oppa~”

”Choi Mi Yeon shi, will you marry me ?”ujarnya sambil menyodorkan sebuket bunga mawar itu padaku

Jantungku berdebar sangat cepat, ingin meledak rasanya. Tak terasa air mataku terjatuh perlahan menyentuh pipiku. Isak tangisku makin tak tertahan. Eunhyuk oppa langsung mendongak dan menatapku bingung.

”wae ? kenapa kau menangis ?” tanyanya dan langsung berdiri dihadapanku

”tentu saja aku mau” ujarku dan langsung memeluknya dengan erat. Bolehkan aku melakukan ini ? bolehkan ?

EunHyuk oppa membantuku duduk dibangku taman. Aku terus mengagumi semua kejutan yang ia buat ini. Aku juga tersenyum melihat sebuah cincin yang melingkar dijari manisku. Belum lagi sebuket mawar merah yang ada dipangkuanku. Ini hari valentine yang terindah dalam hidupku. Semua sama seperti impianku, impianku sejak aku kecil. Mimpiku untuk mendapatkan kebahagian di hari valentineku ini sudah terwujud

Eunhyuk oppa duduk disebelahku sambil menggenggam tanganku dengan erat, ku baringkan kepalaku di pundaknya. Ia terus menyanyikan lagu cinta untukku, itu membuatku sangat bahagia. Argh~ ku genggam tangannya kuat, aku merasa kepalaku mulai sakit lagi. Kepalaku mulai pusing lagi. Aku menutup kedua mataku perlahan. Apa ini ? kenapa jantungku berdebar sangat cepat.

”Mi Yeonnie ? kau baik baik saja …”tanya Eunhyuk oppa membuatku mengangguk pelan

”aku baik baik saja”jawabku singkat ”oppa… kau tahu sesuatu ?”

”apa ?”

”aku bahagia sekali hari ini”

”benarkah ? kenapa kau bahagia ?”tanyanya lagi

”dulu hidupku tidak pernah seindah ini, yang ada dipikiranku adalah kapan waktu ku akan habis. Selalu seperti itu setiap hari. Tapi setelah ada dirimu, semua berubah. Aku jadi jauh lebih bersemangat.”

”benarkah ?”

”terima kasih ya oppa, terima kasih kau sudah membawakan cahaya terang dalam kehidupanku. Terima kasih karna oppa sudah mau menerima aku, terima kasih oppa sudah menyayangiku dan menerimaku apa adanya”

”Mi Yeonnie ah ? Kenapa kau bicara seperti itu”

”banyak sekali yang inginku katakan padamu, tapi lebih dari semua itu. Aku bersyukur bertemu denganmu, dan aku bersyukur karna aku jatuh cinta padamu”

Ia menatapku dengan lembut, perlahan ia merengkuh kedua pipiku dan mendekatkan wajahnya padaku. Aku menutup kedua mataku dan kurasakan bibir hangatnya yang lembut menyapa bibirku. Aku membalas ciumannya dan memeluknya perlahan. Air mataku jatuh perlahan dari kedua mataku, aku bahagia sekali. Aku bahagia karna aku tahu. Aku tahu kalau aku sangat mencintaimu

”Mi Yeonnie” panggilnya membuatku tersenyum dan kembali membaringkan kepalaku dipundaknya

”aku..aku bahagia sekali. Aku sangat mencintaimu Lee Hyuk Jae sshi”jawabku dan langsung menggenggam jemarinya. Perlahan pandanganku mulai merabun, semua terlihat gelap. Tapi aku masih bisa merasakan sesuatu, aku bisa merasakan debar jantungku yang mulai tenang. Aku tersenyum dan meneteskan air mataku lagi. Aku benar benar sangat bahagia

***

Ji Rin PoV

{backsound : Miss You- SM the ballad/ like crazy – 2AM}

Matahari mulai terbenam, langit mulai gelap. Angin juga bertiup sangat kencang. Aku berdiri didekat gerbang rumahku sambil menggenggam sepucuk surat yang ada ditanganku. Aku langsung memasukkan surat itu ke saku hanbok putihku. Terdengar suara guntur yang berbunyi. Tumben, ini masih februari kenapa sepertinya akan turun hujan.

Kulangkahkan kakiku perlahan, pandanganku kosong. Tidak ada yang bisa kulakuakn. Kurasakan tetesan air hujan mulai membasahi tubuhku. Langkahku semakin lama semakin berat. Hujan yang turun juga semakin deras dan semakin cepat membasahi tubuh mungilku. Tiba tiba mataku mulai memanas, rasanya aku sudah tidak bisa membedakan lagi… mana yang air hujan dan mana yang merupakan air mataku.

Brak~ sesuatu membuatku tersandung. Aku langsung terjatuh ke tanah. Hanbok putihku sudah kotor dan sangat basah. Apa ini ? apa yang sebenarnya terjadi… kenapa semua bisa seperti ini. Aku menoleh kearah sampingku, ini… inikan toko coklat yang sering didatangi Mi yeonnie. Perlahan daku berdiri dan bersandar di pagar penghalang yang ada diseberang toko itu

Aku merogoh saku ku dan mengeluarakan headphone yang ada di sana. Aku memasang lagu yang ada di iPodku dan menatap toko yang ada dihadapanku dengan tatapan kosong. Sebentar lagi, biasanya dua lagu habis Mi yeon akan keluar dengan senyumannya yang seperti anak anak. Toko ini tetap gelap, tidak ada siapapun yang berlalu lalang disini. Tiba tiba lagu di iPod ku berhenti.

”Ash sial, karna kena hujan iPodku jadi mati. Aku harus menunggu Mi Yeon tanpa musik” gerutuku sambil tersenyum kesal.

”yak..Mi yeonnie.. Mi Yeonnie disini dingin…cepatlah keluar” ujarku dan langsung menjatuhkan diriku ke tanah

Bodoh~ dia tidak akan datang lagi Ji Rin ah. Air mataku terus keluar dari kedua mataku. Mi Yeon benar benar sudah meninggalkanku. Apa yang kau perbuat disini ha ? menunggu Mi Yeonnie ? menunggu untuk apa ? bukan kah kau tadi sudah melihat Mi Yeonnie yang berbaring di tempat tidur rumah sakit ? bukan kah aku baru pulang dari pemakamannya ?

Kenapa ? kenapa kau meninggalkan ku dengan cara seperti ini Mi yeonnie ah ! kenapa kau lakukan ini padaku ? apa ini yang kau sebut sahabatku ? apa ini yang namanya sahabatku ? ke..kenapa kau melakukan ini ? kenapa kau tidak menyampaikan sesuatu padaku ? kenapa kau selalu bilang kau baik baik saja Mi yeonnie ah. Kenapa kau pergi diam diam seperti ini.

Flashback

Tangisan sudah berhenti ditelingaku sekarang, aku beranjak memasuk kamar sahabat terbaikku. Aku melihat foto foto yang tersusun rapi di meja belajarnya. Foto foto yang hampir sama dengan yang tersusun di meja belajarku. Aku melihat kearah cermin sekarang. Wajah ku terlihat kusut. Sejak dari pemakaman Mi yeon tadi, aku belum tidur. 

Wajah Mi yeon yang mencoba tersenyum di saat saat terakhirnya selalu teringat kembali di kepalaku.bahkan dengan seluruh kemampuannya, ia mencoba menggenggam tanganku, ia juga masih sempat mengucapkan terima kasih padaku. Aku menggelengkan kepalaku dan berpaling melihat laptop Mi yeonnie. Aku membuka laptop yang ada di meja belajarnya.

Password ?? apa mungkin, aku mengetik nama EunHyuk sshi dan menekan enter. Salah ? sebenarnya apa yang ada dipikirannya. Aku mengetik namaku sekarang dan menekan enter. Dengan mudah password yang baru saja ku masukkan benar. Jadi selama ini ? Orang yang terpenting itu ?

Dilayar laptopnya terdapat sebuh note yang bertuliskankan ”laci meja”. Aku membuka laci meja yang dimaksud dan mengambil sebuah photo album. Aku membolak balik halaman photo album itu, itu foto foto kami berdua.

Hingga aku sedikit terdiam melihat foto terakhir. Dengan tulisan ”my best friend, Jung Ji Rin”. Aku mengambil foto itu dan membaliknya. Ada sebuah surat, untukku?

”buat sahabatku,

Ji Rin ah … mungkin saat membuka surat ini aku sudah tidak ada. Mungkin aku sudah melihatmu dari atas, mengawasimu dan menemanimu dalam perjalanan mimpimu. Ji Rin ah …. Pasti kau sulit kan melupakanku, kekeke apa jangan jangan kau sudah melupakanku ? wah jahat sekali jika kau melakukan itu pada sahabatmu ini. Sebelumnya aku… mau berterima kasih. 

Terima kasih sudah tertawa bersamaku, terima kasih sudah menemaniku, terima kasih sudah menjagaku, terima kasih sudah memarahiku, terima kasih sudah memotivasiku, terima kasih karna sudah menjadi sahabatku, dan Terima kasih untuk kasih sayang yang sudah kau berikan padaku. Aku tidak pandai memilih kata kata untuk mengucapkan terima kasih. Jadi aku tidak bisa mengungkapkannya dengan baik

Ji Rin ah selama kepergianku, aku beharap kehidupanmu tidak pernah berubah. Surat ini ku tulis sebelum kepergian panjangku ini bukan untuk membuatmu makin terpukul dan sedih, Surat ini ku tulis untuk mengingatkanmu akan semua kenangan indah kita. Aku menulisnya sambil mengingat kenangan kenangan indah kita loh Ji Rin ah.

Ji Rin ah tolong jaga eomma untukku, aku yakin eomma tidak akan gampang keluar dari kesedihannya. Eomma juga sendirian sekarang, jadi jaga dia untukku ya. dia salah satu orang yang paling penting untuku. Sama sepertimu, jadi rawat dia untukku ya Ji rin.

Aku senang punya sahabat sepertimu, aku sangat sayang padamu. Kau harus tersenyum saat membaca surat ini. Huah~ cape ah nulisnya, sudah dulu ya. Doaku selalu untukumu, Jung Ji Rin!  FIGHTING ! lanjutkan kehidupanmu ya temanku.”

“Ji…Ji Rin ah !”seru seseorang dari luar dan langsung mendekatiku

“seharusnya aku ada disebelahnya… seharusnya aku terus menemaninya. Tidak peduli apapun yang terjadi, aku sudah berjanji padanya. Aku akan terus ada disampingnya. Tapi apa yang sudah ku perbuat.. aku malah tidak ada disaat saat terakhirnya”

“Ji rin ah sudah jangan begini, kau tidak bisa menyalahkan dirimu seperti ini terus. Mi yeon shi pasti sedih melihatmu seperti ini”

“pergi… tinggalkan aku, kau tidak mengerti apa apa tentang perasaanku ini Wooyoung sshi. Pergi…”

“aku benar benar mengerti perasaanmu, tapi cobalah mengerti perasaan yang lain. Bukan hanya kau yang merasa kehilangan. Kita semua disini juga merasakan hal yang sama”jelas WooYoung oppa yang langsung menarikku kedalam dekapannya 

”kenapa dia tidak bilang apapun padaku ? kenapa Mi Yeonnie selalu bilang dia baik baik saja”

”Mi yeon shi hanya berfikir dia mau melakukan apapun untuk sahabatnya. Ia tidak mau menyusahkan dan membuatmu cemas. Dia cuma mau sahabatnya bahagia”

“Kenapa harus dia harus melakukan ini oppa.. kenapa ?”

“Karna cuma dia sahabat yang paling mengerti kau Ji Rin Ah”jawab WooYoung oppa membuat ku menjatuhkan air mata lagi. WooYoung oppa memelukku pelan dan mencoba menenangkanku

Aku membuka mataku perlahan, mimpi tadi malam ? aku memimpikan kejadian yang sudah terjadi kemarin. Sial hatiku masih saja tidak tenang, aku merasa seperti sudah membohongin diriku sendiri. Aku selalu berjanji untuk ada di samping Mi Yeon tapi apa buktinya ? Bahkan disaat saat terakhirnya pun. Aku tidak bisa menemaninya. Kenapa ? Kenapa harus di pangkuan Eunhyuk sshi.

Kulihat langit langit yang agak asing untukku. Ini bukan dikamarku. Aku menoleh kekanan dan kiri. Ini rumah WooYoung oppa. Aku beranjak berdiri dan melihat WooYoung oppa yang tertidur dilantai. Ku ulurkan tanganku dan membangunkannya

”o..oh kau sudah bangun Ji Rin ah”

”ne.. kau menemukanku ditengah jalan ?”

”ya, aku menemukan wanita bodoh yang terbaring didepan toko coklat dengan hanbok putihnya”

Aku hanya terdiam. Ini bukan mimpi. Mi Yeon benar benar sudah pergi meninggalkan kami semua. Wooyoung oppa langsung beranjak dari lantai dan duduk disebelahku.

“Aku benar benar sudah gila. Iya kan ?”Ujarku membuatnya menepuk pundakku

”Ji Rin ah, dengarkan aku sekali ini saja”

”apa ?”

”bukankah kau ingin melihat Mi yeonie bahagia ?”

”iya aku ingin melihat dia bahagia, hanya ingin melihat senyumannya”

”kau sudah melihatnya kok, saat ia tertidur untuk selamanya. Aku melihat senyuman di wajahnya, dan dia mengatakan padamu kan ? ia benar benar bahagia” jelas Wooyoung oppa membuat ku mengangguk pelan ”kalau begitu, aku siapkan sarapan dulu”

Aku mengangguk dan terus memandangi punggungnya yang perlahan menghilang dari pandanganku. Tiba tiba kurasaka harum mawar yang menyapa hidungku… ini kan ?

“yak …wae ? kenapa wajahmu suram begitu seperti habis kalah di pertandingan basket ?”

“nde ?”ujarku sambil menolehkan kepalaku melihat gadis yang manis dibalik dress mini putih dengan rambut panjang yang tergurai duduk di sebelahku “Mi… Mi Yeonnie”

“boo~ kaget ya, aku datang untuk menyapamu maaf ya kalau aku baru datang”

“Apa ?”tanyaku membuatnya tersenyum dan mengusap kepalaku dengan lembut

“sahabatku ini pasti marahkan kalau aku pergi tanpa pamit”ujarnya sambil memeluk leherku dari belakang, membuatku tetap mematung dan terdiam. Wangi ini … aku benar benar merindukannya “benar tidak ?”

“Kau benar”ujarku pelan dalam hati

“Ji Rin ah… mianhae, jangan marah padaku. Kita masih bersahabat kan ?”

“Ne..”

“Gomawo… Aku mau pergi dulu, pergi ketempat yang jauh. Kau jangan menangisiku sekarang. karna kita akan bertemu lagi nanti, suatu saat kita akan bertemu”

“Mi yeonnie ah…” aku menutup mataku perlahan

“aku sangat sayang padamu dan aku sangat bahagia sekarang. Joengmal mianhae saranghae”ujarnya sambil mencium pipiku dan kembali mengusap rambutku dengan lembut

Aku membuka kedua mataku, dan tanpa terasa cepat sekali… air mataku mengalir cepat sekali. Mengalir deras tanpa henti. Kepalaku terasa kosong tanpa bisa berpikir dengan jelas. Yang kutahu sekarang tidak ada siapapun didepanku, tidak ada yang memelukku lagi.Kau benar sebenanya kepergianmu tidak akan berarti apapun untukku, kehidupanku harus berjalan seperti biasa tidak boleh ada yang berubah.

Aku langsung menghapus air mataku dan beranjak berdiri. Aku tidak boleh membiarkan Mi yeonnie bersedih. Aku harus melakukan aktivitasku seperti biasa. Aku akan menjadi mata Mi yeonnie di dunia nyata ini. Lihat lah Mi yeonnie, aku akan membuatmu bangga. Aku akan membuatku benar benar bahagia. Setiap senyumanku, itu adalah rasa sayangku padamu. Pada sahabatku Choi Mi Yeonnie

Fin

P.S : terima kasih ya sudah membaca ff ku yang gajelas ini sampai episode yang terakhirnya. Mohon komennya ya. Jangan lupa nanti ada Epilog juga loh…Aku berencana membuat ff baru lagi dengan tokoh Ji Rin yang menjadi tokoh utamanya. Jadi mau tahu kelanjutan ceritanya ? saksikan nanti hahaah hanya di wonderfanfiction.wordpress.com bersama saya tentunya hahaha apa tau  -____-. Sekali lagi terima kasih banyak ya, jangan lupa mohon komennya.

20

[Freelance] Me And My Doctor [part 6]

Annyeong. . author kembali dengan FF gajelas ini. Makasih yang udah mau baca dan komen. Mian kalo lanjutannya agak mengecewakan kalian.

Let’s Read. .  ^^

================================================================================

Kyuhyun POV

“Ji Kyung palli~~~ cepat bangun” aku menggoyang-goyangkan badan Ji Kyung yang masih meringkuk di dalam kasur. “Hahh. . kau siapa sih. . pagi-pagi menggenggu” Ji Kyung menendangku. Arghh. . yeoja sinting.

Dia bangun dan mengucek matanya. Hihhi, tampangnya lucu kalau seperti itu. “Hoamm. . “ dia membuka matanya dan melihatku. “Mwo?? Kau?? Bagaimana??” dia kaget melihatku.

“Annyeong. .” sapaku. “cepat jelaskan kenapa kau bisa kesini?” dia berteriak padaku sambil melemparkan bantal padaku. “Stop!! Oke oke kujelaskan”

Flashback

“Hyung, alarm mu berbunyi terus! Berisik tau!” Sungmin hyung membangunkanku. Aku menggeliat pelan dan mengambil handphone ku. Disana tertera angka 06.00.

“Aigo!! Aku telat. Rencanaku bisa gagal ini” aku bergegas ke kamar mandi. 5 menit bagiku cukup untuk mandi. Aku mengambil tas yang telah kusiapkan kemarin malam. “Hyung, pinjam mobilmu” aku mengambil kunci mobil milik Siwon hyung tanpa persetujuannya.

Aku memajukan mobilku menembus jalanan Seoul yang masih cukup sepi. Maklumlah ini masih jam pagi. Aku melajukan mobil ke alamt yang tertera di kertas yang kemarin  Ji Kyung berikan. Ini dia. .

Kuhentikan mobil ini di salah satu apartemen di kota Seoul. Aku masuk ke dalamnya. Tampak seorang ahjumma menunggu di dalam. “Annyeong ahjumma” sapaku

“Ahh, ada apa?” tanyanya. “Saya Cho Kyuhyun Ahjumma. Benarkah Park Ji Kyung tinggal disini?”

“Ne, dia tinggal disini. Sebentar. . . namamu tadi Cho Kyuhyun. Tunggu. . sepertinya aku pernah dengar” Ahjumma itu tampak mengingat-ingat sesuatu. Dia berjalan ke salah satu meja yang ada disana. Dia mengambil selembar foto. “Ini fotomu kan?” dia menyerahkan foto tsb padaku.

“Ne. Ahjumma mendapat dari mana?” tanyaku. “ahh, ini milik cucuku. Dia sangat menyukaimu. Bisakah kau tanda tangani ini?” tanyanya. “Ne. Dengan senang hati ahjumma” aku menandatangani foto tsb. “Selesai” aku menyerahkannya pada ahjumma tadi.

“Ini kunci duplikatnya. Kamar miliknya ada di pojok sebelah kanan.” Kata Ahjumma tsb sambil menyerahkan sebuah kunci. “Gomawo” aku pun berjalan menuju arah yang ditujukan Ahjumma tadi. Dan sampailah aku di depan kamarnnya

Flashback end

“Begitu ceritanya. . “ ujarku. “Mwo? Jadi cucu Ahjumma adalah fans mu. Aigo. . kenapa manusia tengkorak sepertimu ada yang menyukai?”

“Mwo? Iarpun kurus tapi pesona wajahku tak dapat diragukan lagi” ujarku menyombongkan diri. BUGHH. . .sebuah bantal menimpa wajahku.

“Bingo!tepat sasaran!” ucapnya. “haishh. .”

“Cepat mandi sana. . bau!!” aku mendorong tubuhnya ke arah kamar mandi. Dia menurutiku. Aku tak sengaja melihat laptopnya tergeletak di meja belajarnya. Aku membuka folder game. ‘halah. . paling hanya game perempuan yang membosankan’ gumamku pelan. Tapi semua pemikiranku tadi salah besar. Kalian tau apa isi folder itu? Starscraft, Final Fantasy, Airstrike, dan semua game tempur lainnya. ‘Aigoo. . . dia maniak game’

CEKLEK. . Pintu kamar mandi terbuka. Dia sudah berpakaian lengkap. “Heh, kau memangnya tidak membaca tulisan di layar laptop ku hah?” Aku segera menutup folder tadi dan melihat note yang ada di layar laptop

‘DON’T TOUCH AND OPEN WITHOUT PERMISSION’

“hehe, mian aku kan tidak mengerti bahasa planet ini” ucapku dengan nada bersalah. “Ne, aku tahu. Kau kan babo” ucapnya enteng sambil memasukkan bukunya ke tas ranselnya. “Mwo? Kalau aku babo kau apa?” tanyaku sengit. Aku tidak terima dengan ucapannya. Walaupun aku tidak mengerti bahasa Inggris tapi aku ini Juara Olimpiade Matematika. “Eumm, aku? Ya cerdas lah. . Ayo berangkat. Ini sudah hampir telat.” Ji Kyung menarik tanganku.

God, kalau keadaan seperti ini terus bagaimana aku bisa menyatakan perasaanku padanya.

JI KYUNG POV

Aku menariknya keluar apartemen. “Cepat. . “ suruhku. Hihihi aku senang sekali menggodanya. Dia membukakan pintu mobil sambil memanyunkan bibirnya. “Hei, kalau kau seperti itu tambah jelek tahu!” Dia langsung merubah raut mukanya. Dia tersenyum dengan sangat memaksa. “Kau jurusan apa?” tanyaku memecah keheningan di dalam mobil ini. “Modern art. Kenapa?” tanyanya dingin. Sepertinya dia masih marah. “Aniyo. Tidak apa-apa. Kau marah ya?”

“tidak” jawabnya singkat. “Bohong. Kau marah. Jebal. . . . mianhae.  .maafkan aku” ucapku memelas. Entah mengapa aku sangat takut kalau dia marah. “Buahahahaha. . “ dia tertawa dengan kerasnya. “Kau masuk perangkapku. Kau takuat aku marah kan” ucapnya lagi masih dengan tawanya yang seperti setan. “Kau. . “ aku menimpuknya dengan sepatu kets ku. “Hya kau menyebalkan sekali” ucapku lagi sambil memukulinya dengan sepatuku. “hya. .hya stop. Aku minta maaf” ucapnya.

Aku menghentikan aktivitasku sementara. Dia tampak kesakitan. Aku tak menghiraukannya. Aku menatap jalanan  Seoul yang mobil ini lewati.

“Ji Kyung” panggilnya “….” aku tak bergeming menjawab ucapannya. Kekeke~ rasakan. Aku akan berbuat sama sepertimu. “Ji Kyung jangan marah. . jebal maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi”

“Janji?” tanyaku. “Ne kau bisa percaya padaku” dia mengacungkan jari kelingkingnya padaku. Aku menautkan jari kelingkingku juga. “Nah, gitu dong. Aku khawatir kalau kau marah” ucapnya

“Ha? Untuk apa kau khawatir?” tanyaku. “Karena aku. . Ah tidak” jawabnya. “Hya kenapa?” aku memaksanya untuk melanjutkan ucapannya tadi. “Tidak apa-apa. Sekarang turun kita sudah sampai” ucapnya berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

“Kau pulang dengan siapa?” tanyanya. “Aku? Mungkin dengan Yoonie oppa. Kau pulang saja duluan.” Jawabku sambil berjalan menuju arah kanpus kami. “Baiklah. Aku duluan ya. Aku nanti selesai jam kuliah pertama kira-kira pukul 2 siang. Kau?” tanyanya.

“Jam 2 juga” ucapku sambil setengah berteriak. “Aku akan menghampirimu. Tunggu saja” jawabnya dengan berteriak juga. Aku berjalan menuju kelas ku. Yoonie oppa sudah datang dan duduk di tempat biasanya. “Annyeong oppa”

“Annyeong. . “ jawabku. “Cie. . yang baru saja dijemput oleh chagiya nya” godanya padaku. “Mwo? Dia bukan namjachinguku. Kau ini apa-apaan sih” aku memukul lengannya pelan. Aigoo. . pasti pipiku merah sekarang. “Tuhkan pipimu seperti tomat” ucapnya sambil menunjuk kedua pipiku yang sepertinya memang telah bersemu merah. “Hushh. . . Diam. . Jang Songsaenim sudah datang” Yoonie oppa berhenti menggodaku dan berfokus pada pelajaran. Selama pelajaran pikiranku tidak konsen. Aku masih memikirkan perkataan Kyuhyun yang tadi sempat terpotong. Ditambah dengan ucapan Yoonie oppa tadi. Mungkinkah aku menyukai namja tengkorak itu. ‘Aniyo!’ gumamku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Ji Kyung!!! Kau tidak mungkin menyukainya.

“Pelajaran hari ini selesai. Gomawo atas perhatiannya” ucap Jang Songsaenim sambil mengakhiri pelajarannya. Aku berjalan keluar kelas dengan Yoonie oppa. “aku ke kamar mandi dulu ya. . .Nanti kita bertemu di taman. Arra?” “Ne Arraseo oppa”

Aku berjalan ke arah yang entah kemana. Aku mengikuti langkah kaki ku. Dan membawaku ke Kampus milik mahasiswa Modern Art. Ya. .kampus dimana Kyuhyun berada. Aku menuju ke tempat yang tadi dijanjikan oleh Kyuhyun.

Aku melangkah dengan senang kesana. Kulihat disan tampak seorang namja tengah berciuman dengan seorang yeoja. “Aigo. . memangnya tidak ada tempat lain?” ucapku pada diriku sendiri. Kusipitkan mataku untuk lebih jelas melihat tampang namja itu.

KYUHYUN??? Aku tercengang melihat hal itu. Cho Kyuhyun, jadi kau membawaku kesini hanya untuk melihat adegan ini. Tes. . tanpa terasa air mataku jatuh.

Kyuhyun POV

“Saranghaeyo oppa. Aku masih sangat menyukaimu” ucap mantanku. Dia menempelkan bibirnya ke bibirku. Aku menolaknya. Tapi dia tetap memaksaku untuk menerima ciumannya. Kulihat seorang yeoja terpaku disana. Ji Kyung? Tunggu dia menangis. Cho Kyuhyun kau babo! Membuat yeoja yang sangat kau sukai menangis karena ulahmu. Ji Kyung berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat janjian kami. Aku menghempaskan tubuh yeoja tadi dan berlari mengejar Ji Kyung. Sial. . aku kehilangannya. Aku panik sekarang. Aku menyusuri setiap ruang kedokteran. ‘Ji Kyung dimana kau sekarang?’ gumamku dalam hati

JI KYUNG POV

Aku berlari sekencang-kencangnya. Aku berusaha menjauh dari kejadian tadi. Aku berlari menuju tempat persembunyianku dan Yoonie oppa. Ya, di danau dekat kampus. Aku meluapkan seluruh tangisku saat ini. Entah mengapa aku ingin menangis melihat kejadian tadi. “Ji Kyung lupakan” ucapku pada diriku sendiri. Aku memukul-mukul kepalaku berusaha melupakan kejadian tadi. Tapi semua usahaku gagal. Yang kudapat malah sekelebat bayangan kejadian tadi.

VVIP come with me. . join with me. . lagu dari Seungri BigBang berdering dari handphoneku menandakan telepon masuk. Aku mengangkatnya.

“Yobboseo”

“Ne, ada apa oppa?” jawabku dengan suara serak.

“Ji Kyung kau kenapa? Kau menangis ya? Sekarang kau dimana?” tanya namja dari seberang sana.

“Di tempat biasa oppa”

“Baiklah tunggu aku”

KLIK. .aku memutuskan sambungan telepon tadi. Aku melanjutkan (?) kembali tangisku. Hatiku rasanya sesak mengingat kejadian tadi. Pertahananku runtuh seketika. “Ji Kyung kau kenapa?”  tanya seorang namja yang beru saja datang. Aku refleks langsung memeluknya. “Ky. . yu. . hy.. yun…” ucapku dengan sesenggukan.

“Kyuhyun kenapa?” tanyanya sambil berusaha menenangkanku. “Tenangkan dirimu dulu baru bercerita padaku” dia mengelus pelan rambutku. Aku nerusaha menenangkan hatiku. Menata kembali perasaanku.

Beberapa menit kemudian tangisku berhenti. Namja tadi menyerahkan selembar tissue padaku. “Cepat hapus airmatamu.”  Ucapnya lembut. Namja ini adalah salah satu oppa terbaikku. Yang selalu ada untukku. Yoonie oppa.

“Sekarang ceritakan masalahmu” ucapnya. “Jangan tertawakan aku ya. . Arraseo?”

“Ne arraseo” dia menganggukan kepala tanda berjanjji. Aku pun menceritakan semua. Mulai dari kejadian awal sampai kejadian yang membuatku runtuh. Dia menggumam pelan.

“Tandanya kau cemburu” ucapnya. “Mwo? Tidak mungkin. Aku  kan tidak menyukainya. Jadi mana mungkin” sanggahku. “Tapi dari cerita yang kudengar tadi. . sepertinya kau menyukainya”. Aku diam tak menjawab pertanyaannya. Aku juga bingung dengan perasaan ku sekarang. “Jujurlah padaku” rayunya lagi.

“ne aku mulai menyukainya. Tapi hanya sedikiiiiiiit” aku pun membeberkan rahasiaku. “Benarkah?” tanyanya lagi. “Apa hanya sedikiiiiiit?” tanyanya sambil menirukan ucapanku tadi. “Iya. . sedikit.”

“hahahaha. . .”Kami pun tertawa bersama. “Oppa?”

“Ne?” tanyanya. “Aku menginap di apartemenmu ya. . Jebal. . .” aku menatapnya dengan aegyo andalanku. “Ne. . .” jawabnya pasrah.

1 jam kemudian kami meninggalkan danau itu dan pulang. Aku sengaja tidak pulang ke apartemenku. Aku malas sekali kesana. Hatiku berkata akan ada Kyuhyun disana. Tapi tidak mungkin. .

Kyuhyun POV

Aku melajukan mobilku menuju apartemen milik Ji Kyung. Semoga dia disana. Pikiranku sekarang sudah benar-benar kacau. Aku langsung masuk ke dalam. Kuketuk pintu apartemen Ji Kyung.

“Ji Kyung. . Buka. .” ucapku sambil masih menggedor-gedor pintunya. “Ji Kyung belum kembali sejka tadi. Memangnya ada apa?” tanya ahjumma yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangku. “Ah, gwenchana Ahjumma. Apakah Ji Kyung belum pulang?”

“Belum. Terakhir kulihat dia ke kampus bersamamu” Aku mengangguk tanda mengerti dan pamit keluar. Sesampainya di mobil aku mengeluarkan handphone ku. Kupencet angka 2.

Calling Ji Kyung. . . speedial no 2 memang kutujukan ke Ji Kyung. No 1 untuk eomma ku tercinta.

‘Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan hubungi beberapa saat lagi’ Bukan Ji Kyung yang menjawab. Tapi operator telfon yang menjawab. ‘Ji Kyung kau dimana? Jangan buatku tambah khawatir’ gumamkku pada diriku sendiri. Aku memutuskan untuk kembali ke dorm. Besok akan kucari dia di kampus.

Aku melajukan mobilku ke dorm. Pikiranku sama sekali tidak bisa diajak kompromi. Hanya Ji Kyung yang memenuhi rongga otakku saat ini. Aku memakirkan mobil Siwon Hyung ke tempat semula. Aku berjalan gontai menuju dorm. “Kyunnie kau kenapa?” tanya Siwon Hyung begitu aku masuk ke dalan dorm. “….” aku tidak menjawabnya dan memberikannya kunci mobil yang tadi kupakaai.

“Sungmin tanya dia kenapa!” bisik Siwon Hyung pada Sungmin hyung tapi masuh sangat jelas terdengar. “Kau kenapa?” tanya sungmin Hyung saat aku baru saja merebahkan diriku ke kasur. “Gwenchana” jawabku singkat. Ryeowook Hyung masuk sambil membawa sepiring makanan. “Kyu, makanlah. Kau tadi kan belum sarapan” ucapnya sambil duduk di sebelahku. “Aku tidak nafsu makan” ucapku pelan. Mereka semua akhirnya meninggalkanku sendiri di kamar. Aku memejamkan mataku dan mencoba tidur.

Ji KYUNG POV

“Ji Kyung irreona. . ini sudah siang. . kita ada jadwal jam 11” Yoonie oppa membangunkanku. Aku menggeliat pelan. “Oppa aku bolos saja ya. . aku malas”

“Kau ini. Malas mengikuti kuliah atau malas bertemu Kyuhyun?” godanya padaku. “Aniyo. . Ne. . aku bangun sekarang” Kuakui aku malas bertemu dengan Kyuhyun. Aku pun mandi dan berganti pakaian. Dan berangkat ke kampus.

Sesampainya di kampus. . . .

“Ji Kyung kau duluan saja. Aku mau bertemu dosen dulu” ucap Yoonie oppa saat kami tiba di kampus. “Ne. . aku mau ke kantin dulu. Perutku lapar” ucapku sambil menunjuk-nunjuk perutku. “Ne. . hati-hati”

Aku berjalan ke arah kantin. Disana ramai sekali. Aku berjalan ke arah berlawanan. DEGGG. .

Kyuhyun saekarang berada di hadapanku. ‘Otthokke. . bagaimana menghadapinya?’ gumamku dalam hati. Aku melewatinya dengan ekspresi yang sangaaaat datar. Tapi sebuah tangan menghadangku. Aku pun menghentikan langkahku. “Tunggu dulu. . Aku mau menjelaskan sesuatu”

“Tak ada yang perlu dijelaskan” jawabku datar. “Jangan bohong. Semalam kau kemana. Kuhubungi handphone mu tetapi tidak aktif. Kudatangi apartemenmu kau belum pulang. Kemana kau? Aku khawatir” ucapnya.

Aku terhenyak dengan ucapannya. “Untuk apa kau mengkhawatirkanku? Lagipula aku bukan siapa-siapa mu!”  ucapku. “Ne kau memang bukan siapa-siapa ku. Tapi suatu saat kau akan mengerti”

Aku lumayan bingung dengan ucapannya. Mengerti apa? Aku memutuskan untuk meninggalkannya. Batu selangkah aku berjalan, Kyuhyun sudah menarikku ke dalam pelukannya.

“Kumohon, jangan diamkan aku seperti ini. Jangan manjauh dariku. Jangan pergi tanpa memberiku kabar. Kau boleh memakiku. Kau boleh memukulku. Asal kau jangan bersikap ini terhadapku. Aku lebih menyukaimu saat kau marah padaku, sebal padaku. Dan semuanya” ucapnya tepat ditelingaku. Aku berusaha membendung airmataku. Dia melepaskan pelukannya dan menatap mataku.

“Jangan diamkan aku lagi. Arraseo.”

“Ne.” Jawabku sambil menyunggingkan senyumku. Kyuhyun memelukku lagi. “Ehem. . sepertinya sudah ada yang baikan lagi nih. . “

Kami langsung melepaskan pelukan kami. Ternyata Yoonie oppa. “Oppa. . “ aku meukul lengannya pelan. “Haha, kalian ini lucu. Seperti pasangan kekasih yang baru saja baikan”  ejek Yoonie oppa lagi.

“OPPAAAAAAAAA!!!!!” aku memukuli dada bidangnya . “Yaya. . Stop. Sakit” ucapnya. Aku mengentiakn pukulanku. “Ji Yoon, nanti pulang aku akan mengantar Ji Kyung. Boleh kan?”

“Boleh, asal kau menjaganya baik-baik” jawab Yoonie opa. “Ne. Percayalah pada namja tampan satu ini” ucapku menyombongkan diri.

PLETAKK. . Ji Kyung memukul kepalaku. “Berhentilah menyombongkan dirimu”

“Yasudah kami ke kampus kami dulu. Kau kembalilah ke asalmu” ucap Ji Kyung padaku. Kami pun terpisah disini.

Jam pulang. . ..

“Annyeong Ji Kyung. . .” sapaku padanya saat tiba di depan kelasnya.

JI KYUNG POV

“Annyeong Ji Kyung. .” sapa Kyuhyun padaku. Aku sedikit kaget. Tiba-tiba dia sudah dihadapanku sekarang. “Annyeong. .” jawabku.

“Ayo cepat. . aku mau mengajakmu ke suatu tempat. .” ucapnya dengan penuh rahasia. “Kemana?”

“Ke. . . . . “

TBC

9

[Freelance] Love, Mission, Betrayal [part 1/8]

By: NamHeeRin

Genre: action, romance

Tags : super junior [series]

Suasana malam yang cukup ramai, terutama di sebuah club yang terlihat cukup mewah, dikarenakan hari itu merupakan malam minggu. Terlihat sosok wanita muda berumur 20an dengan rambut terurai menggunakan pakaian yang cukup membuat lelaki tergiur, ditambah rupanya yang memang menawan, memasuki club itu dan berjalan menuju bar. Banyak pria yang menggodanya namun ia terlihat tak tertarik, sampai suatu saat sesosok pria yang cukup tampan dan terlihat glamour mendekatinya. Wanita itu pun tersenyum dan percakapan dimulai.

Beberapa saat kemudian mereka beranjak dari bar menuju kamar-kamar yang memang disediakan oleh bar. Pintu kamar terbuka, dan mereka langsung berciuman dengan cukup panas. Pria itu mulai mencoba membuka pakaian wanita itu namun tiba-tiba gerakannya terhenti dan sedetik kemudian pria itu terjatuh ke lantai dengan darah mengalir dari dadanya.

Terlihat wanita itu memegang pistol dengan raut dingin yang berbeda 180 derajat dari sebelumnya. Ia pun menaruh kembali pistolnya ke sabuk di paha kiri di dalam roknya, lalu mengambil sapu tangan dari tas tangannya dan berjongkok di dekat mayat pria itu, mengusap saputangannya yang telah dibasahi alcohol ke seluruh tubuh dan pakaian pria itu, untuk menghilangkan sidik jari yang mungkin menempel, terlebih setelah mereka berinteraksi cukup dekat. Setelah dirasa cukup, ia bangkit dan memasukkan kembali saputangannya dan mengambil handphonenya sembari berjalan menuju keluar club melalui jalan belakang.

“mission complete.” ucap wanita itu, lalu memasukkan kembali handphonenya.

“so disgusting.” gumamnya dan masuk ke dalam mobilnya yang ia parkir lalu melaju dengan kecepatan tinggi.

Beberapa saat kemudian, mobil wanita itu terlihat memasuki gerbang sebuah rumah megah. Setelah memarkirkannya, wanita itu masuk ke dalam rumah itu, terlihat beberapa pelayan yang sedang bekerja lalu menghentikan pekerjaannya dan membungkuk 90 derajat pada wanita itu.

“Selamat malam nona. Makan malam telah disiapkan.” ucap seorang wanita tua yang terlihat sebagai kepala pelayan di rumah itu.

Wanita tadi balas menganggukan kepalanya sedikit dan berkata “Tolong taruh di kamarku, aku hendak membersihkan diri dulu.” kemudian menaiki tangga yang membawanya ke kamarnya.

Setelah itu wanita itu memasuki kamarnya dan menuju kamar mandi yang terletak di dalamnya. Tak lama kemudian, wanita itu keluar dari kamar mandi dan duduk di tepi kasurnya, lalu mengambil handphonenya dan melihat ada sebuah pesan, ia pun membukanya.

“Private and important meeting at the main office tomorrow at 8am, , don’t be late.” itulah isi pesannya.

Wanita itu menaruh kembali handphonenya lalu merebahkan badannya di kasur dan menghela napas.

—–

Keesokan paginya, mobil wanita itu memasuki sebuah gedung di kawasan gedung perkantoran yang cukup megah, namun dengan melihat sekilas pasti langsung tahu bahwa gedung yang dimasukinya merupakan gedung termewah di kawasan itu. Setelah memarkirkan mobilnya di tempat khusus, ia keluar dari mobilnya menggunakan pakaian kerja -kemeja dan rok- yang cukup resmi dan menuju lobby gedung dan langsung disapa hormat oleh satpam yang sedang bertugas.

Ia pun berjalan menuju lift dan menekan angka tertinggi yang ada, dan menunggu sampai tiba di lantai yang dituju. Setelah keluar dari lift, ia berjalan memasuki sebuah pintu gudang yang jarang dipakai, terus memasuki kegelapan gudang sampai berdiri di depan sebuah pintu kayu kumuh. Ia membuka sesuatu yang terlihat seperti kotak sakelar di dinding sebelah kanan atas dan mengeluarkan sebuah kartu identitas dari dompetnya dan menempelkannya ke dalam kotak, lalu mengambil kartu itu dan menutup ‘kotak sakelar itu’. Tiba-tiba pintu itu bergeser ke dua arah, wanita itu melewatinya, dan pintu tertutup kembali. Ternyata pintu itu terbuat dari baja yang cukup tebal dengan berbagai macam proteksi untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi.

Wanita itu berjalan menuju lift rahasia dan menempelkan kartu itu lagi pada pemindai yang kini terlihat jelas tanpa penyamaran di dinding kanan lift, dan pintu lift terbuka. Ia masuk lalu menggesekan kartunya pada tempat yang disediakan dan menekan angka 11 dari 13 angka di dinding. Di barisan angka itu terdapat batasan antara angka 8 dan 9. Lantai 1-8 terdapat di bawah tanah gedung, sedangkan lantai 9-13 terdapat di atas gedung. Tidak ada yang tahu keberadaan dan fungsi asli lantai-lantai itu selain orang-orang yang bekerja di lantai-lantai itu. Untuk 5 lantai teratas dikamuflase sebagai gudang penyimpanan.

Setelah lift tiba di lantai tujuan, wanita itu menempelkan lagi kartunya pada pemindai yang ada, pintu pun terbuka menampakkan lorong panjang, dan sesampainya di ujung lorong ia memindai kartunya lagi dan menatap sensor retina yang ada di atas tempat pemindai kartu. Ia menaruh kartunya ke dalam dompetnya lalu memasuki pintu dan memijak pada suatu lantai bulat yang menonjol yang bergerak secara automatis menuju pintu selanjutnya sembari berotasi untuk pemindai identitas badan secara keseluruhan.

Setelah itu pintu terbuka dan terlihatlah sebuah ruangan kerja yang cukup megah dengan beberapa staff yang sedang sibuk berkutat di depan komputer. Staff yang melihat kedatangannya langsung berdiri dan membungkuk 45 derajat -tingkat mereka leih tinggi dibanding pelayan-, wanita itu membalas dengan sedikit anggukan lalu kembali berjalan menuju sebuah ruangan tertutup yang terdapat di ujung koridor. Ia mengetuk pintunya dan terdengar suara “Come in.”, ia pun masuk dan melihat sesosok pria 40an yang cukup berwibawa sedang duduk di kursi paling ujung sambil sibuk dengan handphonenya. Wanita itu membungkuk 20 derajat pada pria itu.

“Have a seat, please.” ucap pria itu tanpa menoleh pada wanita itu.

Wanita itu berjalan dan duduk di kursi terdekat dengan pria itu, karena ia rasa yang datang untuk pertemuan ini takkan terlalu banyak.

“We’ll start the meeting after the others come. While waiting, you may do your own business.” kata pria itu yang bermarga Shin.

Merasa bahwa orang-orang yang ditunggu akan datang dalam jangka waktu yang cukup lama, wanita itu pun mengeluarkan handphonenya dan terlihat tak kalah sibuk dengan pria tadi. Setelah 10 menit menunggu, terdengar bunyi ketukan di pintu. Wanita itu memasukkan kembali handphonenya dan menatap pintu untuk melihat siapa orang-orang yang membuatnya menunggu agak lama. Pintu mulai terbuka dan terdengar percakapan orang-orang itu.

“Actually security here is as tough as in the country where we worked before.  At first I thought it won’t be this tough, since the condition is not in danger like ours.” ucap seorang pria.

“Well, like you all know, our company’s priority is safety, so I guess it’s not a great thing to be think about.” Sahut pria lainnya.

“I just want to spoke out my opinion, so I don’t need your comment.” Balas pria pertama.

Sepertinya pria kedua hendak membalas ucapannya, namun terdengar suara lain seiring pintu terbuka semakin lebar.

“Well well well, let’s see who’s here, guys.” Kata pria ketiga.

Sekarang pintu sudah terbuka seutuhnya, sehingga wanita itu dapat melihat 4 pria dalam umur 20an yang sedang berdiri di ambang pintu, begitu pula sebaliknya.

“Long time not see,  Heerin-ah.” Ucap pria keempat dengan senyum dingin.

—–

Wanita yang ternyata bernama Heerin tetap menampakkan ekspresi dinginnya yang biasa, namun jika diamati rahangnya terkatup dengan keras, menandakan bahwa ia tak mengharapkan kedatangan mereka disana. Namun ia tetap menjaga kesopanannya. Ia pun menggangguk sedikit pada mereka.

Keempat pria itu pun membungkukkan badannya 20 derajat pada pria berwibawa itu, lalu berjalan menuju kursi di dekatnya. Pria pertama, kedua, dan ketiga duduk di sebrang Heerin, sedangkan pria keempat duduk di sebelahnya.

“Ok, so now all the people are here, let’s begin the meeting. ” ujar pria berwibawa itu.

Meeting itu pun dimulai. Saat sedang berlangsung, kelima orang yang hadir turut berprtisipasi menyumbang saran, ide, dan kritik yang dirasa diperlukan untuk hal yang sedang mereka bicarakan. Namun, aura dingin antara Heerin dan keempat pria itu dapat dirasakan dengan jelas.

“So, the next mission is in Seoul, our own country? Then why do we need to come here first? It’s waste of time.” Ucap pria muda kedua.

“Well, four of you need to meet your partner first, and this country is nearer to Seoul than the country where you worked before.” Jawab pria berwibawa itu.

“Do you mean that she will be our partner in this mission?” Tanya pria pertama.

“Yes, because you will need a woman in this mission and you can’t just pick some strange girl. Our woman agents also can’t do things as good as her, so why not? Moreover, I’ve heard that you all have known each other for a long time, so It shouldn’t be a problem for you. Is there anybody who disagree with my decision?” jelas pria berwibawa.

Kelima orang itu terdiam, tampak memikirkan berbagai hal, terutama Heerin. Beberapa saat kemudian, sepertinya Heerin hendak mengemukakan sesuatu, namun ketika ia hendak mengangkat tangannya, ia tak bisa karena ada yang menahan tangannya. Heerin menoleh ke bawah, dan dilihatnya tangan pria di sebelahnya sedang menggenggamnya dengan erat. Heerin sedikit menoleh pada pria itu, dan terlihat bahwa ia menggelengkan kepalanya secara samar pada ketiga pria di depannya.

“What does he want? Should I just let him bring me to their game?” pikir Heerin.

Setelah itu, tangan Heerin mulai dilemaskan, tanda ia takkan mengangkat tangannya, namun pria itu masih belum melepas genggamannya, untuk berjaga-jaga, meski tidak seerat sebelumnya.

“Nobody? Okay, I’ll take it as your agreement with all my decision. So, that’s all for this meeting, next meetings for the mission will be held in our office in Seoul. You will fly to Seoul in 4 days, so prepare yourself and do your best for this mission. Thanks for coming.” Ujar pria berwibawa itu kemudian keluar dari ruangan.

Kelima orang itu kembali terdiam, ruangan pun sunyi seperti tanpa kehidupan. Kemudian, Heerin beranjak dari kursinya dan menoleh ke arah mereka berempat.

“I need to go, see you all in our flight.” Ucap Heerin sambil menganggukan kepalanya, lalu hendak berjalan menuju pintu saat tangannya kembali dicegat.

Heerin berhenti lalu memutar badannya menghadap mereka lagi, dan melihat bahwa pria yang duduk di sebelahnya lagi-lagi mencengkeram pergelangan tangannya.

“That’s it? Don’t you want to say something else to us?” Tanya pria keempat.

“”What else should I say? ‘Oh, long time not see, I miss you all so much!’ , do you hope I’ll say that?” sahut Heerin, dengan mimik pura-pura girang saat mengatakan dialog tadi.

“If you don’t want to meet us anymore, why didn’t you say that to Director?” Tanya pria ketiga.

“Don’t you aware that you took my hand so that I can’t raise my hand?” jawab Heerin.

“You can just forced me to let your hand go, I don’t think you’ve been weaker than last time we met.” Balas pria keempat.

“I don’t want to broke my hand because of stupid thing like this. So, can you please let go of my hand now? I need to go.” Sahut Heerin.

Pria keempat dengan perlahan melepaskan genggamannya pada tangan Heerin. Heerin pun menatap mereka sejenak kemudian melanjutkan jalannya. Setibanya di depan pintu ia terhenti sejenak saat mendengar ada yang berkata padanya.

“You’ve changed, Heerin-ah.” Ujar pria pertama.

“Don’t you know my reason to changed myself like this?” jawab Heerin sambil tetap membelakangi mereka.

“Is it about 3 years ago?” Tanya pria kedua.

Heerin terdiam sesaat lalu keluar dari pintu tanpa mengucapkan sepatah katapun pada mereka. Namun mereka sudah mendapat jawabannya. Ya, ini berkat kejadian 3 tahun lalu.

—–

Setibanya di rumah, Heerin langsung menuju kamarnya dan membanting tubuhnya ke kasur lalu menatap hampa langit-langit kamarnya.

“Why do they need to come to my life again? Couldn’t they let me have a peaceful life without them?” batin Heerin.

Heerin terus menatap kosong sampai tiba-tiba ia merasa kepalanya sakit. Ia segera bangun lalu berjalan menuju meja rias dan mengambil plastic kecil yang berisi kapsul-kapsul. Diambilnya satu dan diminum dengan air yang sudah disediakan. Ia terduduk di kursi selama beberapa saat dengan mata terpejam sampai dirasanya sakitnya sudah mereda, lalu membuka matanya.

“And why do they need to come now when I’m in this condition? Damn.” Keluh Heerin.

—–

Hari ini mereka sudah tiba di Seoul dan sedang dalam perjalanan menuju kantor perusahaan itu menggunakan mobil yang disiapkan untuk menjemput mereka. Sepanjang perjalanan, keempat pria itu mengobrol santai tanpa melibatkan Heerin. Heerin tak menganggap itu sebagai masalah yang berarti, karena saat di pesawat keadaannya tak lebih baik.

Setibanya di kantor, mereka memasukinya dengan melewati berbagai macam proteksi yang diterapkan. Setelah itu, mereka memasuki ruang rapat dan melihat Direktur telah duduk di kursinya, mereka pun duduk di sekitarnya dan rapat dimulai. Beberapa jam telah berlalu dan rapat pun selesai.

“So, the conclusions of this meeting are Heerin and Siwon will be direct agents,” ucap Direktur sambil menoleh pada Heerin dan pria yang selalu duduk di sebelahnya, “Hangeng will be their back up,” menoleh pada pria ketiga, “Heechul will be the one who search data and information that you might need” mengangguk pada pria pertama, “and Eunhyuk will be the one who look for supply of equipments.” , menatap pria kedua, “For tactics and plan, I hope you can cooperate well.  If the situation is urgent or the others have finished their job, they can help the direct agents.”Jelas Direktur.

“The mission should be complete within 4 months, and during the mission, you’ll live in one house, and each of you will get your own car. You can use the money we gave you in your card, and don’t worry about the amount. Any question?” Tanya Direktur.

“Why don’t we live in our own house? Like you’ve known, Seoul is our hometown.” Balas Hangeng.

“It will harden your communication and you can’t be ready quickly if something urgent happened. Moreover, we’ve already prepare a special room for you to do your tasks so you don’t need to be worry about anything. Oh, you also get your own room if you’re afraid about woman being together with men. Anything else?” ungkap Direktur, semua diam.

“So now you may go to the house and take a rest first, then do your job. Hope you success in this mission.” Kata Direktur lalu pergi keluar dari ruangan.

“Together with four of them in one house for 4 months? So great.” Gerutu Heerin dalam hati.

tbc.tbc.tbc.tbc.tbc

2

[Freelance] My Secret Diary Book [part 1]

Main cast :

Kim Hye na

Kim Heechul

Kim Jong woon

And other casts..

Genre : Comedy, romantic

Ini adalah cerita yang dihasilkan dari khayalan tingkat tinggi sekali banget kebangetan. Kisah seorang pria yang berada dalam kutukan selama beratus-ratus tahun yang lalu. Kim Jong Woon adalah seorang putra raja yang jatuh cinta kepada seorang putri, namun ayah dari sang putri tersebut tidak menyetujuinya untuk menikah dengan putri satu-satunya dari kerajaan tersebut. Tak hanya itu hal lain yang ikut menghambat hubungan mereka adalah karena kedua kerajaan ini merupakan sekutu. Akibat nasib buruknya maka sang ayah putri tersebut yang juga memiliki seorang adik penyihir mengutuk Kim Jong Woon dalam sebuah buku diary dan mengurungnya hingga ratusan tahun di dalam sebuah buku diary kuno yang warnanya sudah kusam. Putri yang ia cintai tidak tahu menahu akan hal tersebut, dia hanya mengira bahwa Kim jong woon yang adalah kekasihnya telah tiada akibat pertarungan yang terjadi antara kerajaannya dan oleh karena itu sang putri pun akhirny meminum racun untuk mengakhiri hidupnya dan pergi menyusul Jong woon.

(kebanyakan ga nih, yakin readers tidur abis baca ini.. haha)

“Apa ada cerita macam ini?” Hye na memutar bola matanya, menilik gambar-gambar yang ada di koran kuno yang ia dapat dari perpustakaan sekolah.

“Aku juga tidak yakin bagaimana bisa orang menghabiskan beratus-ratus tahun kehidupannya dalam sebuah buku? Tak masuk akal.. haha kecuali kalau orang tersebut menyerupai thumbellina mungkin” Heechul meletakan buku geometri yang tadi dipegang ke raknya semula. Hari sudah mulai sore tapi hye na dan heechul masih diperpustakaan karena heechul harus berurusan dengan tugasnya yang menumpuk.

“Ya.. oppa aku pergi duluan saja, pusing sekali rasanya melihat tumpukkan buku sebanyak itu” Hye na bangkit dari tempat duduknya, heechul hanya mengibaskan tangannya menyuruh hye na untuk segera lenyap dari pandangan heechul. Kim Heechul dan Kim Hye na adalah murid sekolah Gyunchan high school, Hye na merupakan murid tingkat XI di sekolah tersebut sedangkan Heechul yang merupakan kakanya adalah murid tingkat akhir yang sedang sibuk untuk menyiapkan diri memasuki universitas.

Kim Hye Na Pov

Aku sangat bosan jika harus langsung pulng ke rumah, tak ada siapa-siap disana. Heechul oppa masih disibukkan dengan setumpuk tugasnya, dan aku harus pulang sendiri.. ah membosankan.

“Hye na bye bye” sapa seseorang menyembul dari kaca mobilnya, ku balas lambaian tangannya itu dengan malas.

“Bye” ucapku singkat, di persimpangan jalan mataku tertuju pada sebuah pemandangan. Yes besok adalah chuseok dimana hari itu orang-orang diliburkan dari semua kegiatan hariannya. Dan di kota sebesar seoul selalu ada bazaar besar-besaran di hari tersebut.

“Ahjumma neomu yeoppuda” aku memilah-milah buku diary yang sangat menarik ini, ahjumma itu hanya mengangguk pelan seraya memperlihatkan senyuman manisnya padaku.

“Kau pilih saja.. semuanya gratis” ujarnya lembut, kepalaku langsung terangkat melihat ke arah ahjumma penjual buku ini.

“Jeongmal?” tanyaku tidak yakin.

“Nde.. semuanya gratis untuk pengunjung pertamaku”

Aku tersenyum bahagia dan dengan asik ku pilih buku-buku ini hingga akhirnya kuputuskan untuk membawa sebuah buku diary berwarna sapphire blue dengan motif balon, ukurannya tidak begitu besar. Sebenarnya aku sendiri tidak suka jika harus menuangkan rahasia pribadiku di sebuah buku semacam ini, hem tak apalah agar naluri kewanitaanku sedikit nampak jadi jangan ada lagi celaan dari heechul oppa yang sangat tidak menyukaiku yang agak tomboy ini.

“Aku ambil satu.. ghamsahamnida ahjumma” aku membungkukan badanku untuk mengucap terimakasih pada ahjumma yang masih tersenyum kepadaku. Ku melangkah meninggalkan tempat tadi.

Sesampainya di rumah..

Masih sepi, rupanya heechul oppa belum pulang. Ku lemparkan saja tas ranselku ke sembarang tempat dan langsung memasuki kamarku. Ku letakan buku diary itu di atas meja belajar sementara aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur.

“Ah.. Sepi sekali, tidak mungkin disaat membosankan seperti ini aku selalu mengisinya dengan memainkan psp? Ah” aku membalikan tubuhku diatas kasur, tertelungkup dan berpikir apa yang akan aku lakukan selama menunggu heechul oppa pulang? Hem aku berganti pandang hingga kulihat buku diaryku yang ku letakan begitu saja di atas meja belajar.

“Lalu untuk apa aku membawa buku itu?” gumamku dan langsung ku sambar buku tersebut. Aku mencari sebuah bolpen dan mulai untuk menorehkan tinta di dalamnya.

“Semoga kau berguna.. ara?” dengan susah payah aku membuka kancing di sampul depannya. Ku buka lembaran pertama, hem.. aku suka kertasnya. Ku pegang bolpenku dan mulai menorehkan tinta diatasnya.

“20 maret 2011..

Humm.. aku bingung harus menulis apa tapi ini benar-benar membosankan dan aku membutuhkan seorang teman, ku harap kau bisa menjadi teman yang baik.. janji?”

Sudah selesai, hanya itu yang ku tulis kemudian ku letakkan kembali buku itu ke atas meja belajarku dan mulai membaringkan tubuhku dengan santai di atas tempat tidur.

“Tk..tk..” sebuah suara kembali membuka mataku yang sudah mulai terpejam. Aku melirik ke kanan dan ke kiri, tidak ada apa-apa. Ku pejamkan kembali mataku dan mulai menyusup ke alam mimpi.

Gordenku bertebaran tertiup angin, jendelaku terbuka. Aku pikir sebentar lagi akan turun hujan karena keadaan langit yang mulai mendung. Aku beranjak dari tempat tidur untuk menutup jendelaku dan menguncinya karena sudah banyak sampah dari daun-daun yang masuk. Ku lihat buku diary itu bergerak dengan gerakan aneh, semua lembaran membuka dengan cepatnya..

“Mwo?? Ada apa ini??” aku mulai kebingungan, antara mengunci jendela atau menghampiri buku diary yang tidak masuk di akal itu. Dia bergerak makin cepat, aku medekati buku itu dan dari sana keluar sekumpulan asap berwarna putih halus, aku amati lembaran depannya dan tulisanku lenyap tidak berbekas, kertasnya seperti masih baru namun lama kelamaan warnanya berubah kekuningan dan sampul depannya berubah menjadi sampul beludru kecoklatan. Tak lama setelah itu gemuruh petir mulai terdengar dan… “Clang!!..” ketika hujan turun seorang namja muncul dihadapanku seiring dengan memudarnya sekumpulan asap tadi. Namja berpakaian lengkap berambut panjang terkuncir rapi dengan baju “pakaian kerajaan korea jadul” yang terpasang rapi. Aku terperangah dan shock, ini pasti mimpi ya mimpi. Aku kembali tidur untuk mencoba mengulang ingatanku.

“Ini pasti mimpi..” Gumamku yakin dan kemudian kupejamkan mataku.

Beberapa saat kemudian..

“Ya..ya..kau tidur atau mati hah?” seseorang menepuk pipiku, aku terbangun dan menggeliatkan tubuhku perlahan.

“Hoaamhh.. ternyata tadi hanya mimpi” ujarku seraya meregangkan otot-ototku.

“Oppa kau baru pulang?” lanjutku tanpa memandang wajahnya sedikitpun, ketika ku menoleh..

“AAAAAAAAA!!!!!” aku terlonjak kaget melihat sosok pria aneh yang tidak kukenali ini.

“Nuguseyo?” Aku berteriak sekencang mungkin, tapi dia tidak menggubrisnya.

Author Pov

Mata namja itu terus berkeliling memerhatikan keadaan kamar Hye na, dia masih terlihat agak kebingungan begitupun hye na yang masih belum bisa membedakan yang mana itu mimpi ataupun kenyataan.

“Ghamsahamnida.. kau sudah membebaskanku dari kutukan itu” Namja itu membungkuk berulang-ulang, Hye na masih memandangnya dengan mulut setengah menganga.

“M..m..wo?” hye na memiringkan kepalanya tidak mengerti. Tapi namja tadi hanya tersenyum.

“Kim jong woon imnida” ujarnya seraya menunjukan garis tangannya.

“aku keturunan kerajaan jeonsong dinasty XVI”

Hye na kembali membelalak, membuat bola matanya seperti akan lompat dari tempatnya.

Bagaimana ceritanya geje kan?

Haha buat sekedar hiburan aja kok, mumpung author belom sibuk-sibuk amat..haha

(readers : sibuk ngapain thor?

Author : nonton video suju)

Hahahaha

Gomawoyo (bungkukin tubuh berulang-ulang kayak jong woon)..

*Hug readers..*

“baru nyadar main castnya kim semua..hahaha”

13

[Freelance] Fight, Love, and Revenge [part 2]

Hyukjae’s POV

“Jika hal yang paling kau benci di dunia ini adalah pria yang berani memukul wanita, maka hal yang paling kubenci adalah pria yang berani bersikap kurang ajar pada seorang gadis,” ucapku tajam. “Lee Donghae,” sambungku lagi.

Aku bisa melihat mata tajam itu membesar, menatapku sangar.

“Bukan hanya pria yang berani memukul wanita yang kubenci di dunia ini, tapi aku juga sangat membenci pria manja yang selalu ikut campur urusanku bahkan berani menyebut nama itu,” balasnya.

“Tak ada alasan untuk diriku takut menyebut namamu, Lee Donghae.”

“Dan tak ada alasanku untuk membuatmu tetap hidup, Lee Hyukjae.”

Seketika itu juga pria itu langsung melayangkan tinjunya. Aku berkelit dari tinjuannya yang terus memburuku tanpa ampun. Menahan emosiku untuk tidak membalas serangannya.

Brukkkk…

Aku merasakan dadaku berdenyut sakit. Donghae mendaratkan tendangannya tepat di dadaku. Dia menyeringai padaku.

“Jangan pernah mencoba menantang emosiku, jika kau masih ingin hidup di dunia ini.”

Sedetik kemudian dia kembali bersiap melayangkan pukulannya ke wajahku tapi tiba-tiba seorang gadis berdiri memunggungiku sembari merentangkan tangannya. Gadis ini…

“Oppa, Hentikan!!!” teriaknya.

*****

Donghae’s POV

“Oppa hentikan!!!”

Seketika itu juga aku langsung menahan tanganku yang hampir saja menghantam wajah yang sangat ingin kulindungi.

Hyeobin berdiri tepat dihadapanku, membuat jarak diantara diriku dan pria brengsek itu. Hyeobin menatapku sayu dan tiba-tiba saja tetesan bening itu menetes begitu saja di pipinya. Aku tersentak melihat air mata itu. Air mata yang sudah lama tak pernah kulihat. Tujuh tahun yang lalu, aku yang menghapus air mata itu dan sekarang justru diriku yang membuatnya menetes kembali.

“Aku mohon hentikan oppa,” ucapnya lemah.

“Hyeobin-a.”

“Jebal,” ucapnya lagi dengan nada memelas yang benar-benar membuatku tak berkutik.

Sedetik kemudian dia langsung melingkarkan tangannya di lenganku, kemudian membuatku mengikuti langkah kakinya.

*****

Hyukjae’s POV

“Hyeobin-a.”

Aku sedikit tersentak mendengar nada bicara ini. Inikah Lee Donghae??? Sang harimau yang tiba-tiba berubah menjadi seekor kucing??

“Jebal,” ucap gadis itu lagi.

Aku bisa mendengar suaranya sedikit bergetar. Apa dia menangis?? Aku tak menyangka, seorang Lee Donghae bisa luluh hanya dengan isakan tangis gadis ini.

“Jonghyun, ikut aku.”

Sedetik kemudian gadis itu melingkarkan tangannya di lengan Donghae dan menolehkan kepalanya sejenak ke arahku. Sisa tetesan air mata itu masih melekat di pipinya yang kemerahan. Gadis itu Kemudian menarik Donghae mengikuti langkahnya. Sesaat kemudian aku melihat Donghae melirik tajam ke arahku. Aku tau ini belum selesai.

*****

Author’s POV

Seorang pria muda tengah asyik menonton keributan dari audy putih mewahnya. Pria itu menurunkan kaca jendela mobilnya dan tersenyum licik ketika matanya menangkap sosok seseorang.

“Kau sudah kembali??? Sudah lama aku tak sabar menunggu kedatanganmu. Dan sekarang lihatlah, Permainan ini akan segera dimulai, Lee Hyukjae,” ujarnya lirih.

Lagi-lagi senyum licik itu tersungging di bibirnya dan Sorot mata elang itu tak lepas membidik korbannya.

“Tuan muda,” panggil seseorang.

“Cari tau tentang pria itu dan aku ingin melihat hasilnya sore ini juga,” ucapnya lagi.

“Baik tuan.”

“Jalankan mobilnya,” ucapnya tanpa memandang orang tersebut.

*****

Hyeobin’s POV

Fishy oppa berjalan kasar di depanku dan kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa keras yang ada di rumah kami. Aku duduk di sampingnya. Kutelusuri dengan mataku wajah yang masih menegang itu. Aku tau sifatnya, bahkan aku sangat mengenal sifatnya itu.

Jangan pernah mencoba menantang Fishy jika kau masih ingin hidup dengan tenang.

“Oppa,” panggilku tapi Fishy oppa memalingkan wajahnya begitu saja. Dia tak mau menatapku.

Aku sadar semua yang terjadi hari ini adalah kesalahanku. Aku tau dia hanya mencoba melindungiku. Tapi apa dia juga bisa mengerti bahwa aku juga berusaha melindunginya?? Melindunginya dari semua pandangan buruk yang ditujukan semua orang terhadapnya.

Hatiku sakit melihatnya seperti ini. Ini pertama kalinya dia mengacuhkanku.

“Oppa, aku mohon lihat aku.”

Tapi lagi-lagi dia tetap membisu dan tak mau menatapku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah oppadeul dan Jonghyun yang berdiri di depan pintu. Air mataku menetes begitu saja. Aku sungguh tak bisa menahannya lagi.

“Oppa, hiks..”

Mendengar isakan tangisku, Fishy oppa langsung menoleh ke arahku dan menatapku marah. Dia berdiri tepat di hadapanku.

“Sudah berapa kali kubilang padamu, air mata tak akan mengubah sesuatu menjadi seperti yang kau inginkan. Hentikan tangismu!!” ucapnya dengan nada mengancam.

Aku hanya tertunduk pasrah. Air mata ini tak henti-hentinya mengalir di pipiku, bahkan isak tangis ini pun tak bisa kuredam.

“Kubilang hentikan tangisanmu, Hyeobin!!!!!!!!!!” teriaknya garang.

Aku langsung berdiri dan mundur beberapa langkah mendengar teriakannya. Melihat raut wajah dan tatapannya, sungguh membuat dadaku berdetak cepat. Aku takut. Kemarahannya membuatku takut.

Kugigit bibir bawahku untuk menahan isak tangisku. Tatapannya masih terhunus di mataku dengan tajam. Tiba-tiba Kangin oppa berdiri di depanku. Memberikan perlindungan untukku di balik punggungnya.

“Fishy, sudahlah,” ucap Kangin Oppa.

“Minggir Hyung,” balasnya dan dengan cepat dia menarik tanganku hingga berdiri di hadapannya.

“Kenapa kau selalu mengintimidasiku dengan suara tangisanmu?? Kenapa kau selalu menggunakan air matamu untuk menekanku?? Sudah berapa kali kubilang, aku tidak suka dengan air mata. Air mata hanya akan membuatmu terlihat lemah. Dan apa kau bisa mengerti, semua yang kulakukan selama ini hanya untuk melindungimu. Melindungi adikku!!!” teriaknya.

Aku memejamkan mataku, membiarkan semua air mataku tumpah membasahi wajahku.

“Aku berusaha mati-matian untuk melindungimu, tapi kau malah dengan mudahnya membiarkan orang lain melukai tubuhmu. Bahkan kau menghalangiku untuk menghajar orang-orang yang berusaha menyakitimu.”

“Hyung, soal memar itu, aku…”

“DIAM KAU JONGHYUN!!!” bentaknya.

“Aku tidak peduli meskipun aku akan mendapatkan ratusan bahkan ribuan pukulan asalkan mereka berhenti menghina oppaku!!” Teriakku.

Aku mengangkat kepalaku dan kutatap matanya yang melebar dengan nanar.

“Aku tau oppa selalu berusaha melindungiku, tapi apakah salah jika aku juga berusaha melindungi oppaku?? Aku tak suka jika ada yang melihatmu sebagai sampah.”

“Aku tak peduli dengan tatapan semua orang terhadapku!!” balasnya. Fishy oppa berjalan mendekatiku dan menatapku dengan dingin. “Sekalipun kau mengancam akan membunuh semua orang yang membenciku, tetap saja tak akan pernah mengubah keadaan. Inilah hidupku,” lanjutnya lagi.

Setelah itu Fishy oppa langsung pergi meninggalkanku begitu saja. Bahkan dia tak menghiraukan teriakan teman-temannya yang terus memanggil namanya.

Oppa, apa kau mulai menyesal dengan kehadiranku???

*****

Hyukjae’s POV

Aku memarkirkan mobilku di garasi rumah. Sejak kejadian tadi, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Tatapannya terus saja menerawang. Bahkan wajahnya pun masih terlihat pucat. Aku tau, semua yang terjadi sangat membuatnya shock.

“Gaeul-ah,” panggilku.

Jangankan menjawab bahkan dia tak menoleh ke arahku. Tiba-tiba dia langsung membuka pintu mobilku dengan kasar dan kemudian berlari masuk ke dalam rumah. Aku berusaha mengejarnya tapi dia terus berlari menuju kamarnya tanpa menghiraukan sapaan orang tuaku dan akhirnya..

Blammmm..

Dia membanting pintu kamarnya dengan keras.

Aku bisa merasakan tatapan orang tuaku yang langsung tertuju kepadaku. Aku berjalan mendekati mereka dan menghempaskan tubuhku pada sofa yang berada di samping mereka.

“Hyukie, apa yang terjadi?? Apa kalian bertengkar??” Tanya eomma.

Aku menggelengkan kepalaku pelan dan kemudian mengacak-acak rambutku frustasi.

“Sebenarnya ada apa??” Tanya eomma lagi yang masih tak puas dengan gelengan kepalaku.

“Hanya terjadi sesuatu yang membuatnya marah,” jawabku.

Lee Donghae?? Jadi pria itu yang berhasil mengobrak-abrik emosi Gaeul kemarin.

Brukkkk..

Suara debuman keras berhasil membuyarkan lamunanku. Aku langsung menoleh ke arah sumber suara itu.

Brukkk..

Lagi-lagi suara itu kembali terdengar.

Eomma dan appa langsung menatapku dengan cemas. Aku tau apa yang ada di pikiran mereka.

“Biar aku yang bicara padanya,” ucapku kemudian langsung berjalan menaiki setiap anak tangga hingga akhirnya langkahku berhenti di depan kamarnya.

Kuketuk pintu kamarnya, tapi tak ada jawaban dari mulutnya. Dengan nekat kutarik knop pintu kamarnya dan kulihat Gaeul duduk di atas ranjang dengan ditutupi selimut. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku ketika melihat kamarnya yang berantakan. Semua barangnya bertebaran di lantai. Sepertinya dia melampiaskan kekesalannya dengan semua barang-barang ini.

Kudekati dirinya dan kutarik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya itu. Dia langsung memalingkan wajahnya ketika melihat diriku. Aku naik ke atas ranjangnya dan duduk di sampingnya.

“Ya, Aku siap mendengarkan semua omelan atau kemarahan tunanganku,” ucapku lembut yang langsung membuatnya menoleh ke arahku.

Aku tersenyum padanya. Mencoba menghitung di dalam hatiku, kapan dia akan meledak. 1.. 2.. 3… dan..

“Hoaaaaa… Aku benci dirinya!!! Aku sangat membencinya!!! Dasar pria brengsek!!!” teriaknya.

“Donghae. Namanya Lee Donghae,” ucapku.

“DASAR LEE DONGHAE BABO…!!!! DASAR KAU PRIA MESUM!!!”

Kulihat dia mulai mencari-cari bantal yang ada di atas ranjangnya. Aku langsung menahan tangannya ketika dia bersiap melayangkan bantal itu ke sembarang tempat.

“Chakkaman. Aku siap mendengar semua teriakanmu, tapi aku tidak tahan jika melihat kamar ini seperti kapal pecah,” tahanku.

“Ahhhhh lihat saja kau LEE DONGHAE. Saat appaku pulang, kujamin hidupmu akan sengsara!!!” teriaknya lagi.

Gaeul menggembungkan pipinya kesal. Kurangkul pundaknya.

“Apa sudah puas??” tanyaku.

Dia tak menjawab ucapanku dan merebahkan kepalanya di bahuku. Aku bisa mendengar suara hembusan napasnya yang perlahan mulai teratur.

“Ciuman pertamaku,” rengeknya pelan. “Aku hanya ingin memberikan ciuman pertamaku pada orang yang aku cintai. Tapi dia merebutnya begitu saja. Aku tidak rela.”

“Hmmm??? Jadi kau tak pernah mencintaiku??” ucapku yang langsung membuatnya mendongak menatapku.

“Mwo??”

“Kau kan tak pernah memberikan ciumanmu padaku, berarti kau tak pernah mencintaiku,” jawabku.

Rasanya ingin tertawa melihat ekspresi polosnya itu. Dia mengerucutkan bibirnya.

“Bukankah oppa juga tak pernah memintanya. Itu juga berarti oppa tak pernah mencintaiku kan??” balasnya.

Aisss gadis ini. Kenapa dia selalu memiliki jawaban untuk mematahkan ucapanku??

Tapi, cinta?? Apa benar ada cinta dalam pertunangan ini?? Atau hanya karena terbiasa bersama??

“Aigoo kau ini, selalu saja tak pernah mau mengalah,” ucapku sembari mengacak rambutnya dengan gemas.

Dia tersenyum padaku. Rasanya lega sekali bisa melihat senyuman khas itu.

“Karena aku Cho Gaeul,” jawabnya.

Aku terkekeh mendengar ucapannya.

“Ne, karena kau Cho Gaeul. Tuan putri yang keras kepala, manja dan ingin menag sendiri,” balasku yang langsung membuatnya menggembungkan pipinya.

*****

Siwon’s POV

Aku mengambil map berwarna cokelat yang disodorkan asistenku ke depan wajahku. Dengan pelan kubuka map itu dan membaca semua informasi yang tertulis di dalamnya.

“Fishy??”

“Ne, Tuan. Namanya Fishy. Tak ada yang tau asal usul keluarganya. Saat ini dia hanya tinggal bersama adik perempuannya.”

“Cari tau dimana dia sekarang,” perintahku.

“Ne, tuan muda,” jawabnya.

Tiba-tiba kudengar suara ketukan dari pintu ruanganku. Seorang wanita berjalan masuk dan membungkukkan badannya padaku.

“Tuan muda, Tuan besar Choi sedang menunggu anda di ruangannya,” ucapnya.

Aku menoleh sejenak ke arahnya kemudian langsung menuju ruangan appaku.

Tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu aku langsung masuk ke dalam ruangannya dan duduk di hadapannya.

“Aku ingin kau memenangkan tender itu. Aku tidak mau lagi mengenal kata kalah,” ucapnya tanpa basa basi.

“Aku tau,” jawabku singkat. “Lee Hyukjae sudah kembali,” lanjutku lagi.

Dia menyeringai padaku.

“Arrayo. Sudah satu minggu dia berada di sini. Dan karena itu, kau harus menunjukkan taringmu Choi Siwon. Lee Corporation harus jatuh ke tangan kita, apapun caranya,” ucapnya tegas.

“Termasuk menggunakan caramu 16 tahun yang lalu??” sindirku.

“Hahaha Tentu saja. Akan lebih baik jika anak ingusan itu menyusul appanya yang bodoh itu secepat mungkin, dan setelah itu Lee Sooman juga akan menghilang dari dunia ini,” jawabnya.

“Aku tidak peduli dengan tua bangka Lee sooman itu. Aku hanya ingin menikmati permainan ini dengan Hyukie, sepupuku tersayang.”

Lee Hyukjae, kau mengambil semuanya dariku. Kau mengambil kebahagianku. Kau membuatku terlibat dalam dendam ini. Membuatku tak bisa menikmati kasih sayang keluargaku. Bahkan kau membuat haraboji tak pernah menatap wajahku. Kenapa hanya kau yang ada di mata haraboji?? Kenapa hanya kau yang diakui sebagai keturunan keluarga Lee??

Kau mengambil semuanya, Lee Hyukjae. Membuatku hidup dalam kebencian.

*****

Donghae’s POV

Aku menaikkan kakiku ke atas meja yang ada di kedai ini. Aku tidak peduli dengan semua orang yang diam-diam melirik ke arahku.

“Ahjusshi, berikan 2 botol soju lagi,” teriak Kangin hyung pada pemilik kedai.

Aku mengibas-ngibaskan tanganku di depan hidung. Bau alkohol dari mulut mereka sangat menyengat, membuat perutku mual saja.

“Tidak perlu ahjusshi,” sergahku.

“Ya Hyung, kami kan tidak memintamu untuk membayar minuman ini,” protes Kyuhyun.

Pletakkkkk..

Kujitak kepala anak setan ini. Diantara kami berlima, dia adalah magnae, tapi aku heran kenapa dia bisa sekuat ini dalam hal minum. Aissss…

“Appo!!” teriaknya. “Kenapa kalian suka sekali memukul kepalaku??”

“Karena kau setan kecil,” jawab Sungmin Hyung.

“Aisss… Minnie. Kau jangan keterlaluan padaku.”

“Ya!!! Dasar magnae kurang ajar. Kami semua lebih tua dari dirimu. Apa susah sekali mulutmu untuk memanggil kami dengan sebutan Hyung??” gertak Kangin Hyung.

“Memangnya kenapa?? Minnie saja tidak marah,” gerutunya pelan.

“Ya!!!” bentak kangin Hyung lagi.

“Ne Arraseo!!!” balas Kyuhyun dengan malas.

“Aisss kenapa kalian berisik sekali?? Dan kau Fishy, kami tau suasana hatimu sedang buruk hari ini, tapi apa kau juga harus mengganggu kesenangan kami??” ucap Heechul Hyung.

Aisss pria ini sungguh menyebalkan.

“Aisss jincha sarami. Bukan seperti itu maksudku. Kalian sudah menghabiskan 4 botol soju, aku tidak mau menggendong para pemabuk seperti kalian ke rumah,” geramku.

Kenapa aku bisa memiliki teman pemabuk seperti mereka??

Tiba-tiba…

Brukkk..

Sebuah amplop cokelat berukuran cukup besar terhempas di atas meja. Aku segera menurunkan kakiku dari atas meja dan mencari siapa yang berani melemparnya ke atas meja ini.

“Senang bertemu denganmu Fishy,” ucap seseorang.

Aku langsung menoleh ke arah sumber suara itu dan kudapati seorang pria bertubuh menjulang berdiri di hadapanku. Kupandangi dirinya dari ujung kaki hingga kepala. Meskipun aku seorang pria, tak kupungkiri pria ini memiliki kesempurnaan fisik. Kemudian kulirik 3 orang bertuxedo hitam yang berdiri di belakangnya. Sepertinya mereka bukan orang biasa.

Aku bangun dari dudukku dan berdiri di hadapannya. Pria ini melepaskan kaca mata hitam yang membingkai matanya dengan sempurna.

“Choi Siwon,” ucapnya lagi sembari menjulurkan tangannya.

Aku melirik sejenak tangan yang terulur itu, kemudian tanpa menyambut uluran tangannya, aku kembali menatap wajahnya.

Dia menepuk-nepukkan tangannya pelan sembari menganggukkan kepalanya ketika aku menolak berjabat tangan dengan dirinya.

“Aku tidak suka berbasa basi. Aku ingin kita bekerja sama,” ucapnya arogan.

“Apa maksudmu??”

“Habisi Lee Hyukjae,” ucapnya tajam.

Aku terperangah mendengarnya. Aku mengalihkan pandanganku sejenak kemudian kembali menatap matanya dengan tajam.

“Sepertinya kau salah orang.”

Pria ini menggelengkan kepalanya dan tersenyum licik kepadaku. “Annieyo. Aku tau, aku menemui orang yang tepat,” jawabnya. “Dan tenanglah, uang itu belum seberapa. Kau bisa mendapatkan yang lebih banyak dari yang kau duga,” lanjutnya sembari melirik amplop cokelat yang ada di atas meja.

Aku berbalik dan mengambil bungkusan itu kemudian melemparkannya tepat ke dada bidangnya. Aku bisa melihat matanya melebar melihat reaksi dariku.

“Aku memang bukan manusia yang baik, tapi kau salah jika menganggapku sebagai pembunuh bayaran. Ingat baik-baik Tuan Choi, Aku bukan pembunuh,” ucapku tajam.

“Tapi uang ini bisa merubah kehidupanmu,” balasnya.

Kutantang tatapan tajamnya. Kuangkat tanganku hingga ke depan wajahnya dan mengepalnya dengan kuat.

“Dan tanganku juga bisa merubah kehidupanmu, membuatmu menghilang dari dunia ini.” Ucapku dingin

Jangan pernah merendahkan harga diriku hanya karena uang.

Seketika itu juga ketiga pria yang berdiri di belakangnya bersiap maju menghajarku dan saat itu juga teman-temanku langsung berdiri di sampingku. Choi Siwon langsung mengangkat tangannya dan langsung menghentikan para pengawalnya. Setelah itu dia kembali menatapku.

“Saat ini kau bisa menolak tawaranku, Fishy. Tapi suatu saat nanti, kau yang akan datang sendiri mencariku.”

“Aku bisa memastikan bahwa itu hanyalah harapanmu, tuan Choi.”

Dia mengepalkan tangannya erat sesaat sebelum meninggalkan kedai ini. Aku tau dia berusaha menahan emosinya.

Choi Siwon?? Lee Hyukjae?? Dua nama yang tiba-tiba hadir dalam kehidupanku. Dua nama yang datang hanya untuk mengusik hidupku.

*****

To be Continue…

By : dongHAEGAeul