One Out of Two (YUNHO POINT OF VIEW!)

Ingat FF L~ yang judulnya “ONE OUT OF TWO”? Banyak komentar yang bilang pengen tahu kenapa Yunho bisa maafin Sojung padahal dia sudah selingkuh sama Changmin… Karena itulah L~ bikin ONE OUT OF TWO versi YUNHO POINT OF VIEW. Buat yang belum baca, baca dulu ya, mulai FF “WHY, BABY?” Sampe “ONE OUT OF TWO versi YUNHO POINT OF VIEW” ini, okeiii


WARNING :: Remaja Only

One Out of Two

(YUNHO POINT OF VIEW)

Entah mengapa aku merasa dia memiliki namja lain selain aku…

Kami memang jarang bertemu, tetapi aku merasa dia sedikit berubah…

Aku mencoba untuk tidak mempercayai firasat tersebut. Tidak mungkin dia seperti itu! Aku berusaha menghilangkannya dengan meminum alkohol, dan sedikit lebih agresif padanya. Menciumnya di depan Changmin dan manajer hyung.

Tetapi firasat tersebut terbukti ketika aku melihatnya berciuman dengan dongsaengku sendiri, Changmin…

“Why, baby?”

***

Tik… Tok… Tik… Tok…

Sudah hampir satu jam kami berdiam diri seperti ini, tanpa sepatah kata pun. Dia hanya menunduk, memandang lantai. Tidak berani menatapku, ataupun mengawali pembicaraan

Aku pun tidak tahu harus bagaimana. Firasatku benar. Hatiku sakit. Lebih sakit lagi karena mengetahui namja lain tersebut adalah Changmin. Mengapa Changmin?

“Sudah berapa lama?” tanyaku memecah keheningan. Suaraku bergetar. Aku marah, sedih, kecewa… Tetapi aku masih meredam amarahku itu. Aku bukan namja yang suka membentak, apalagi membentak yojachinguku.

Apa dia masih pantas kusebut yojachingu?

“Sekitar… Enam bulan…” Jawabnya perlahan. Dia masih menunduk, takut.

“Hhh…” aku tersenyum kecut. Enam bulan… Berarti benar firasatku. Pantas saja beberapa hari yang lalu Changmin menyuapinya setelah aku menyuapinya. Changmin bilang dia cemburu karena kami berciuman di depannya. Dan tatapan Changmin ketika bertemu dengannya… Mengapa aku tidak menyadarinya? Tatapan mereka berbeda sebelum enam bulan yang lalu!

Aku sudah tidak tahan lagi. Aku harus keluar dari apartemennya agar emosiku tidak meledak di depannya. Bisa-bisa aku melukainya jika masih tetap di sini.

Segera aku berdiri, berjalan keluar.

“Oppa mianhae…” Tiba-tiba dia berlutut di depanku, menghentikan langkahku.

“Mian? Apa semua bisa selesai dengan kata maaf?” suaraku meninggi. Semua yang ku tahan sedari tadi sudah tidak mau dikendalikan lagi.

“Kau tahu rasanya?” tanyaku lagi. Aku melihatnya menunduk, memeluk kakiku, dan menangis. “Kau tahu rasanya melihat pacarmu yang selama hampir 5 tahun bersama, berciuman dengan dongsaengmu sendiri?”

***

Kejadian itu sudah satu minggu yang lalu, dan hari itu juga terakhir kalinya kami berbicara. Selama satu minggu ini aku tidak menghubunginya sama sekali. Marah dan kecewa, tentu saja.

Sojung-ku, apa yang sebenarnya ada di pikiranmu? Mungkin aku memang tidak sempurna sehingga kau mencari kesempurnaan itu dengan namja lain. Tetapi mengapa harus dengan Changmin?

Aku mengenal mereka bukan hanya satu dua tahun. Aku mengenal mereka bertahun-tahun. Dan mereka adalah dua orang yang terpenting setelah orangtuaku. Jika mereka tenggelam dan aku harus menyelamatkan satu diantara mereka, aku akan menyelamatkan mereka dan mengorbankan diriku sendiri.

Dan kenyataannya adalah, orang terpenting tersebut menusukku dari belakang.

Aku harus bagaimana?

“Hyung, kau kenapa? Sakit?” tanya Changmin di sela-sela istirahat syuting. Kami saat ini sedang berada di sebuah stasiun televisi untuk mengisi acara. Aku hanya tersenyum tipis, tidak menjawab pertanyaan darinya. Belum saatnya dia tahu aku mengetahui semuanya.

Acara dimulai kembali. Pembawa acara segera menyerang kami dengan berbagai pertanyaan.

“Yunho-ssi, bagaimana hubunganmu dengan yojachingumu?”

Aku terkejut. Apa yang harus ku katakan? Tidak. Aku harus berbohong. Ini masalah kami, bukan konsumsi media. Jika aku mengatakan yang sebenarnya, tidak menutup kemungkinan mereka akan membuat Sojung-ku terluka. Aku tidak mau itu!

“Kami baik-baik saja.” Jawabku sambil tersenyum.

“Kalian sudah lama tidak terlihat bersama.”

“Ne… Aku sibuk dengan kegiatanku sehingga kami jarang bertemu…”

“Lalu apakah sudah ada rencana untuk menikah?”

“Tentu saja… Tetapi kami masih belum memastikan kapan…”

“Bagaimana dengan Changmin-ssi, apakah kau sudah mempunyai yojachingu?”

Changmin tersenyum. “Sudah…” jawabnya, sedikit malu.

Aku terkejut. Pembawa acara dan penonton pun terkejut. “Sincaro? Siapa dia? Sejak kapan kalian bersama?”

Dengan mantap Changmin menjawab, “Sekitar enam bulan yang lalu. Dia orang biasa, sama seperti yojachingu Yunho hyung…”

Kau mengakuinya, Shim Changmin?

“Changmin selalu menyukai semua yang kusukai…” Potongku, membuat seluruh studio tertawa.

“Ne…” Changmin mengangguk sambil tertawa juga.

“Kadang aku harus berbagi dengannya meskipun aku tidak rela…” lanjutku, membuat studio menjadi semakin ramai. Changmin tertawa, dan aku pun tertawa meskipun terpaksa. Benar, secara tidak langsung Changmin mengakui dia berkencan dengan Sojung-ku.

“Apakah ada rencana untuk menikah juga seperti Yunho-ssi?”

Changmin mengatur napasnya. “Mollayo, hubungan kami belum lama seperti hubungan Yunho hyung, aku belum bisa memastikannya. Tetapi aku akan senang jika kami menikah…”

Changmin berharap bisa menikahi Sojung-ku…

***

Besok akan ada acara di stasiun televisi. Aku terus memikirkan apakah aku harus mengajaknya atau tidak. Dengan keadaan kami seperti ini, tidak mungkin aku bertemu dengannya. Tetapi karena pembawa acara tadi bertanya tentang hubungan kami, mau tidak mau aku harus mengajaknya agar terlihat hubungan kami memang baik-baik saja.

Besok ada acara, aku akan menjemputmu pukul 7 malam. Yunho~

Baru saja kukirim pesan singkat kepadanya, Changmin masuk ke kamarku dan bertanya, “Hyung, kau akan mengajak noona di acara besok, kan?”

Aku hanya mengangguk. “Sudah malam, istirahatlah.”

Changmin tersenyum, kemudian menutup pintu kamarku perlahan.

Kau merindukannya, Shim Changmin? Kau merindukan Sojung-ku?

***

Malam itu, tepat pukul 7 malam aku menjemputnya. Kami tidak berbicara sepatah kata pun di dalam mobil. Tidak ada senyum, tidak ada belaian. Aku tidak membantunya menggunakan seatbelt, dan tidak memandang wajahnya sama sekali.

Kupacu mobil merahku menembus jalanan Seoul menuju sebuah stasiun televisi. Sesampainya di sana, aku segera turun dan berjalan meninggalkannya.

“Bersikaplah biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.” Hanya itu yang kuucapkan sebelum membuka pintu ruang tunggu TVXQ!

“Annyeonghaseyo, manajer Park…” sapanya kepada manajer hyung.

Aku segera membuka pakaianku, dan mengenakan kostum dibantu oleh penata busana, seperti biasa. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami bertiga. Aku tidak mau tahu.

“Annyeong, Sojung-ssi. Kau semakin cantik saja! Tetapi sedikit lebih kurus? Yunho-ya, Kau tidak pernah mengajaknya makan malam romantis lagi?” tanya manajer hyung.

“Aigo, hyung! Noona terlihat sedikit pucat juga. Kalian baik-baik saja, kan?” kini giliran Changmin yang bertanya.

“Tentu saja kami baik-baik saja!” jawabku seenaknya. “Changmin-ah, mana yojachingumu? Bukankah ini saat yang tepat untuk mengenalkannya kepada publik?”

“Aku malu hyung…”

Penata rias menyuruhku memejamkan mata. “Kau masih punya malu ternyata…”

“Yaish~ Tentu saja hyung! Aku khan memang pemalu… Kekeke~”

Apakah rasa malumu itu berlaku ketika kau mengencani Sojung-ku, Shim Changmin?

***

Kebisuan antara aku dan dia terus menemani perjalanan kami menuju ke apartemennya.

Mobil ku berhenti di parkiran apartemennya. Aku diam, menunggunya turun.

“Oppa…” dia berusaha memulai pembicaraan.

“Sudah malam.” kataku singkat. Aku tidak ingin bicara atau memandang atau menyentuhnya. Setelah aku berkata demikian, dia segera turun dari mobilku.

Aku menginjak gas mobilku kencang-kencang, segera pergi dari situ. Aku ingin pergi, aku ingin pergi dari hadapannya, selamanya.

***

Oppa, kau masih marah padaku? Sojung~

Oppa, mian… Sojung~

Oppa… Jangan lupa minum vitaminmu… Saranghae… Sojung~

Tiga pesan singkat darinya. Dan aku tidak membalasnya satu pun.

Kupandangi semua fotoku dan dirinya yang tersimpan dalam ponselku.

Sojung-ku… Aku ingin sekali menghilang dari dunia ini agar tidak melihat kau dan Changmin lagi… Kau ada ide, jagiya? Aku ingin mengakhiri 10 tahun kita, 10 tahun yang kau sia-siakan begitu saja.

Aku meneguk minumanku, dan segera kembali menuju dorm. Dengan mabuk ku kendarai mobilku. Tidak peduli aku akan terluka. Bahkan mati lebih baik.

Kupencet kode dorm. Pintu dorm terbuka, dan aku segera berjalan menuju kamarku.

“Hyung… Kau mabuk?” Changmin segera memapahku masuk.

“Aku tidak butuh itu!” teriakku. Changmin segera melepaskan tangannya dari tubuhku, membiarkan aku berjalan sempoyongan.

“Hyung… Kau kenapa?”

Aku menaiki tangga satu per satu dengan susah payah, tidak mempedulikannya. Tiba-tiba aku terpeleset, dan beberapa detik kemudian aku merasa kakiku sakit sekali. “Argh…”

“HYUNG!”

***

Aku mendengar seseorang membuka pintu kamarku.

“Oppa…”

Dia datang.

“Oppa gwaenchana?”

Tanpa membuka mataku, aku berbalik. “Aku hanya butuh istirahat.”

Aku merasakan dia duduk di pinggir ranjangku. “Dimana yang sakit? Mau aku pijit?” tanyanya. Tangannya menyentuh kakiku yang tertutup perban itu.

Aku tidak mau dia menyentuhku!

“Ada yang lebih sakit daripada itu…” kataku. “Aku ingin istirahat…”

Aku mendengar dia sesenggukan. Dia pasti sedang menangis. Tidak, jangan menangis! Aku tidak bisa membiarkanmu menangis!

“Baiklah. Aku pergi. Aku tidak akan mengganggumu.”

Aku mendengar dia menutup pintu kamarku. Aku berbalik, memastikan apakah dia sudah keluar atau belum. Setelah mengetahui dia memang sudah pergi, aku segera mengambil sesuatu di balik bantalku, foto kami berdua.

“Jagiya… Mengapa aku merasa sakit ketika kau menangis? Mengapa aku ingin menghapus airmata itu? Bukankah aku ingin mengakhiri semuanya? Aku tidak perlu melakukannya, kan? Kau sudah berkencan dengan Changmin, dan membuat hatiku sakit. Tapi mengapa aku tidak bisa membencimu?”

***

Dan dua bulan sudah hubungan kami menjadi abu-abu, seperti warna kesukaan Changmin. Tidak saling bertemu, berbicara, semuanya. Menyakitkan. Aku masih tidak memutuskan atau melanjutkan hubungan ini. Aku masih tidak menerimanya, tetapi aku masih mencintainya. Aku tidak tahu harus bagaimana. Biarlah ini menjadi abu-abu. Lagipula kegiatan TVXQ! sedang benar-benar sibuk.

Aku berjalan menaiki tangga menuju ruang latihanku ketika seseorang memanggilku. “Oppa, Kita harus bicara!”

Aku berhenti. Itu Sojung-ku. Mengapa dia ada di sini, di tempat lahitan TVXQ!?

“Untuk apa? Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi…” kataku saat dia berada di dekatku. “Sojung-ah, aku harus berlatih.”

Apa yang ku katakan? Aku memanggil namanya? Mengapa aku memanggil namanya?

“Oppa! Kita harus bicara!”

Aku berjalan menaiki tangga tanpa sekali pun menoleh ke arahnya. Dia tetap mengikutiku. “Oppa kita tidak bisa seperti ini terus!”

Aku masih tidak mempedulikannya.

“Oppa!” Dia berhasil mengejarku. Ditariknya pakaianku sehingga membuatku berbalik menghadapnya. “Oppa dengarkan aku!” katanya. Nafasnya belum teratur. “Oppa mianhae…”

Aku menatapnya. Ini pertama kalinya aku menatapnya setelah kejadian itu. Matanya berair, seperti menahan tangis. Oh, Tidak. Jangan menangis di hadapanku, jagiya.

“Kau bisa pergi sekarang, Sojung-ah…”

“Oppa sudah tidak memanggilku jagiya lagi…”

“Kau bisa pergi sekarang…” kataku, kemudian berbalik. Mengapa aku memanggil namanya lagi?

Dengan cekatan dia menghentikan langkahku lagi. “Apa oppa masih mencintaiku?”

Ya. Aku masih sangat mencintaimu.

“Aku harus berlatih.” jawabku. Tanganku berusaha melepas tangannya dari pakaianku, menyuruhnya pergi. Tiba-tiba dia berjinjit, menarik kerah pakaianku, berusaha mendaratkan ciuman di bibirku. Tidak! Kau tidak boleh mendaratkan ciumanmu di bibirku! Kau sudah mencium namja lain!

Dia tersenyum datar. Airmata yang sudah menggenang di matanya tadi akhirnya menetes juga. “Bahkan oppa menolak ciumanku… Hhh… Oppa ingin kita selesai? Katakan saja jika ingin diakhiri… Jangan menyiksaku seperti ini…”

***

“Yunho-ya! Mengapa kau tidak fokus?”

“Mianhae, hyung…” aku menyeka keringat yang membanjiri tubuhku dengan handuk. Perasaanku tidak enak. Aku tidak tenang. Sejak Sojung-ku datang dan menyuruhku memberikan kejelasan, aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

“Hyung… Mianhae… Bisakah kita selesai di sini saja? Aku ada perlu…”

“Kekasihmu? Ya! Kau selalu bisa profesional!”

Aku segera mengemasi barangku, dan memakai kemejaku. Kukancingkan sekenanya. “Mianhae, hyung. Aku harus segera pergi.”

Aku berlari meninggalkan tempat latihan. Aku harus bertemu dengannya!

Kupacu mobilku menuju apartemennya. Sesampainya di sana, aku segera memencet kode apartemennya yang sudah kuhapal benar.

Apartemennya kosong. Dan ini hari minggu, dia tidak sedang bekerja. Lalu dimana dia? Pergi bersama Changmin? Tidak mungkin. Changmin sedang mengisi sebuah acara.

Tunggu. Dia sedang menangis tadi. Pikirannya sedang kalut karena aku… Dimana biasanya dia ketika pikirannya kacau… Dimana… Ayo, Yunho… Kau pasti tahu dimana dia…

Ah, tempat itu! Dia pasti ke sana!

***

Candy bar… Tempat pertama kali kami bertemu…

Benar saja, dia ada di sana. Sojung-ku menyandarkan kepalanya pada sebuah botol minuman. Penampilannya kacau.

Ada apa dengan kami sebenarnya? Aku, Changmin, dan Sojung-ku. Ada apa?

Ini tidak seharusnya terjadi.

Aku berjalan mendekatinya.

“Hiks… Pabo-ya…” katanya. Airmatanya sudah mengering.

Tidak. Jangan bicara seperti itu! Aku yang bodoh karena masih sangat mencintaimu meskipun kau sudah berkencan dengan Changmin!

Aku mengambil botol tempat kepalanya bersandar tersebut.

“Mwoya~~~~~~” katanya. Aku segera memberikan tip kepada pelayan.

“Changmin-ah…”

Hatiku sakit ketika dia mengira aku Changmin. Tetapi aku tidak peduli. Segera kupegang tangannya, menggendongnya menuju mobilku.

“Changmin-ah… Bogosippo?”

Bukan hanya Changmin yang merindukanmu, jagiya. Aku juga merindukanmu.

“Changmin-ah, dia marah padaku… Hiks… Dia tidak mau bicara padaku sama sekali… Bahkan dia tidak memanggilku jagiya lagi… Dia juga menolak ciumanku…”

Tidak, aku tidak bermaksud memanggil namamu. Kata itu meluncur begitu saja, jagiya. Kau harus tahu itu!

“Dia tidak memutuskan hubungan kami ataupun melanjutkan hubungan kami…”

Aku membuka pintu mobilku, mendudukkannya. Kemudian aku duduk di seat pengemudi. Setelah memasang seatbeltku, kupasangkan seatbeltnya juga.

“Ottohke? Sepertinya aku membuat hatinya sakit?” tiba-tiba dia menunjuk dadaku. “Di situ… Dia pasti sangat kesakitan…”

Benar, jagiya. Di dalam dadaku aku merasa sakit. Setiap hari aku harus bertengkar dengan diriku sendiri. Di satu sisi aku kecewa. Di sisi lain aku tidak ingin kehilanganmu.

“Changmin-ah… Kau tahu aku mencintainya, khan? Sebenarnya kami sudah bersama sejak 5 tahun yang lalu, bukan 2 tahun… Hiks… Aku sudah mengenalnya selama hampir 10 tahun… Saat dia masih menjadi murid training… Hiks… Aku sudah mengenalnya… Kami sudah melewati detik demi detik bersama… Dan hanya karena aku berselingkuh denganmu, dia tidak mau memandangku lagi… Hiks…”

Benar, jagiya. Kita sudah saling mengenal hampir 10 tahun. Aku masih ingat ketika mengakui hubungan kita pada manajer hyung, dan mengatakan bahwa kita baru saja bersama padahal sudah 3 tahun. Karena itu tidak mudah meninggalkanmu, jagiya. Tidak mudah pula memaafkanmu. Tidak mudah menghapus semua kenangan kita, tidak mudah pula menghapus ingatanku ketika melihat kau berciuman dengan Changmin.

“Ottohke? Changmin-ah… Hiks… Kau tidak mengapa jika aku memilihnya? Hiks… Aku tidak bisa tanpa dia…”

Apa maksudmu kau memilihku?

“Dia sudah menjadi bagian dari hidupku… Mianhae, Changmin-ah… Hiks… Gomawo, selama ini telah peduli kepadaku… Tetapi aku harus memilih… Hiks… Dan aku memilih bersamanya… Kau mengerti, khan? Aku memilih bersama Yunho oppa… Aku lebih mencintainya… Mianhae…”

Dan dia pun tertidur.

Aku memandangnya yang sedang tidur di sebelahku itu. Jagiya, aku harus bagaimana? Aku masih tidak bisa menentukan.

Kubelai pipinya yang basah karena air mata. Jagiya… Mengapa kita menjadi seperti ini? Apakah kita masih bisa menjalin hubungan seperti dulu lagi?

***

Aku menggendongnya masuk ke apartemennya, kemudian membaringkannya di tempat tidur. Kulepaskan sepatunya, berjalan menuju jendela, membuka kordennya. Segera setelah ku buka kordennya, sinar matahari sore menerpa wajahku.

Aku harus pergi dari sini sebelum dia menyadari aku yang mengantarkannya.

“Yunho oppa…” katanya ketika aku melangkahkan kaki, membuatku berhenti.

Segera dia berlutut di depanku, seperti yang dilakukannya dulu Airmatanya menetes. “Oppa… Kajima… Mianhae…”

Aku hanya bergeming.

Dia semakin mengeratkan pelukannya di kakiku. “Oppa… Mianhae…”

Aku harus pergi! Aku tidak akan tahan melihatnya menangis!

“Oppa! Oppa kajima…” dia berusaha sekuat tenaga mempertahankanku hingga terseret saat aku melangkah. Aku melepaskan tangannya, kemudian pergi meninggalkannya.

Bruak!

Aku berdiri terdiam di depan pintu kamarnya, memegang dadaku yang terasa sesak.

Yunho-ya, apa yang kau lakukan di sini? Mengapa kau menyiksa dirimu sendiri? Kau sadar benar masih mencintainya, mengapa tidak memaafkannya saja? 10 tahun, kau tahu arti dari 10 tahun itu? Dia sudah menjadi bagian dari tubuhmu… Dia tulang rusukmu…

Dan Changmin. Bukankah kau sudah mengangapnya adik kandungmu? Dia memang berkencan dengan Sojung-mu, tetapi itu hanya 6 bulan! Lagipula Sojung telah mengatakan bahwa dia lebih mencintaimu daripada Changmin! Apa arti 6 bulan jika kalian sudah menghabiskan waktu bersama bahkan sebelum mengenal Sojung? Persahabatanmu… Jangan rusak persahabatanmu… Mereka memang bersalah… Tetapi bukankah kenangan indah bersama mereka lebih berharga?

Mereka berharga. Dan ini semua harus diakhiri sampai di sini saja. Cepat kembali pada Sojung-mu dan katakan kau mencintainya!

Ku buka pintu kamar Sojung. Dia sedang tertunduk lemas di dekat ranjangnya. Jangan menangis, aku mohon! Aku tidak mau melihatmu menangis lagi! Semua sudah berakhir, jagiya! Semua sudah berakhir!

Aku mendekatinya, menarik tubuh yang sudah tanpa daya, memeluk pinggangnya erat, membantunya agar bisa berdiri tegak.

“Oppa…” katanya. “Oppa, kau kembali…”

Aku tersenyum, kemudian memeluknya erat sekali. Jangan menangis… Aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi…

“Oppa… Mianhae, saat itu aku… Aku tidak tahu… Aku… Jangan marah pada Changmin.. Dia tidak bersalah… Oppa… Mianhae…”

Arasseo, jagiya. Jangan menangis! Semua sudah berakhir!

Aku melepas pelukanku. “Saranghae, jagiya…” kataku, kemudian tersenyum.

Aku melihat bibir mungilnya. Bibir yang telah dirasakan oleh Changmin itu berwarna merah karena pemiliknya menangis. Segera kudaratkan bibirku di sana, dan melumatnya. Kurasakan dia melingkarkan tangannya ke leherku, membantunya lebih dalam lagi membalas ciumanku. Sesekali dia meremas rambut hitamku, menikmati ciuman yang sudah lama tidak kami rasakan ini. Aku tidak peduli merasakan alkohol yang diminumnya beberapa saat yang lalu. Aku hanya ingin membuktikan dan meluapkan perasaanku padanya melalui ciuman ini.

Kuangkat tubuhnya menuju ke dekat jendela, kuturunkan di atas meja rias kecil. Aku menarik kedua tangannya kuat-kuat, menguncinya ke dinding. “Bogosippo…” bisikku tepat di telinganya.

Aku tidak menunggu jawaban darinya, tidak perlu. Yang kubutuhkan saat ini hanya bibirnya. Karena itu kudaratkan ciumanku lagi. Basah, dan kasar. Aku bersumpah tidak akan ada lagi yang boleh menyentuh bibir manisnya ini, Changmin sekali pun.

Tangan kananku mulai turun dari pipi, leher, pinggang, hingga kakinya. Kuangkat kaki kirinya, merabanya pahanya, kemudian kulingkarkan kaki mulusnya itu di pinggangku.

Kulihat dia mulai membuka kancing kemejaku satu per satu. Menurunkan sebelah kemeja yang menghalangi dada bidangku, dan mulai menelusurinya.

Aku bisa merasakan dia mencintaiku dari ciumannya. Aku bisa merasakan dia mencintaiku dari sentuhan tangannya. Dan aku bisa merasakan dadaku yang telah lama teruka itu kembali berdegup ketika tangan lembutnya menelusuri abs ku.

Kurapatkan tubuhku hingga aku bisa merasakan degupan jantungnya juga, seirama dengan degupan jantungku. Nafasnya terengah-engah, seirama dengan nafasku yang terengah-engah juga. Membuatku semakin kasar menciuminya.

Mungkin kalian menganggap aku bodoh karena dengan mudahnya memaafkan Sojung. Mungkin kalian menganggap aku bodoh karena dengan mudahnya memaafkan Changmin. Aku tidak peduli itu semua, aku hanya tidak ingin kehilangan tulang rusukku, dan dongsaeg yang kusayangi. Karena jika aku kehilangan mereka berdua, itu sama saja dengan bunuh diri.

Mereka bilang cinta itu sakit. Tetapi menurutku, akan lebih menyakitkan jika kau membiarkan cintamu pergi, padahal kau tahu kau sangat-sangat mencintai dan membutuhkannya.

-END-

PS : curhat guys. FF “Why, Baby?” Terinspirasi dari MV Keep ur Head Down kan? Dan ketika semua FF buatan L~ selesai, TVXQ! comeback dengan lagu Before U Go. L~ sebelumnya ngga tau gimana penampilan mereka saat live, Cuma tau lagunya aja. Dan ketika L~ tau, apalagi SM bkin MV dance version-nya, apa yang L~ pikirkan?

“OMO!!! ITU YUNHO-NYA SOJUNG!”

Yunho yang L~ bayangkan, ciptakan, di FF “Why, Baby?” Dan “One Out of View” ini, SAMA PERSIS DENGAN YUNHO DI BEFORE U GO!!

HOT. SEXY.

"We gonna make it slow down... Let’s slow down... Go slow down..."

*FAINT*

39 thoughts on “One Out of Two (YUNHO POINT OF VIEW!)

  1. Wow baru jadi reader langsung bisa comment pertama ini ada cerita awalnya yah ? Jadi ga nyambung soalnya *haiya tapi dari cerita yang aku baca kayanya yunho sabar bangettt , aku suka ceritanya (wlopun kesel sama sojung) good job buat yang nulis :)

  2. wah yunho oppa setia,acungin jempol,karakternya hidup,aq jd kebawa,bahwa aq bener2 jd yunho dsini,n aq bangga dgn diriku yg ga mau mlpskan cintaku…..:(
    huhuhuhu
    endingnya seru :D *Akut :D

    Kalo aq wktu luang,author L buat lg yah sekuel2 ini,aq ngikutin dr yg 2 shoot itu :)

    yg semangat yah,moga ad ide2 bru2 lg :)

    *deep hug bareng yunho n soojung :D
    Hahahahaha

  3. wah ini terusan why baby yg bbrapa wktu lalu yaa.. Lbih seru jg versi yunho…
    Yonho emng tipe namja idaman, mski songju selingkuh pintu maap msih terbuka lebar c

  4. L, sukaaaaaaaa!
    paling suka kalo satu-satu direvealed gini.
    sojung juga di why baby kerasa banget galaunya.
    tinggal si changmin tuh yg harus dikasih shock terapi
    ada rencana bikin versinya changmin, ga?

    eh, tapi usul nih, versinya changmin jangan di waktu yg sama. jadi di waktu yg akan datang, dia ngerasain apa yg dirasain yunho gitu.. #dezig-disikut-L: ngatur banget sih?!

    ehehehe…

  5. bagus neh, ada POV nya oppa…. hubungan yg udah terjalin lama emang gak gampang untk di lupain,*wah jadinya curhat neh….kekekek* daebak daebak…

  6. Yunho oppa.. ;-(
    hiks..hiks.. Oppa baik banget. .
    Coba Sojung-a, Jeen! Jeen pasti jadi cewek terBAHAGIA seDUNIA bisa mendapatkan cowo seBAIK Yunho oppa #ngarep
    feelnya dr Yunho pov.a dpt banget! Jeen jd ngerasa jd Yunho oppa. .
    Good job! :-D
    daebak! :)
    amazing! ;)
    dsb.

  7. Omonaa~
    yun pov.. KEREN bangeet DAEBAK! Ak ampe nangis noh bacanya L.. TT^TT
    sumpaah keren banget!! Ternyata gini toh perasaannya yun.. Di why baby jga si sojung nya kerasaa banget.. Tinggal si changmin ny aja nih.. L.. Bwt yg changmin povnya jg dong.. Penasaran dgn perasaan nya si minnie.. XD
    over all.. Ak sukaaa bangetngetnget dengn Yun di sini.. XD bkin vers si minnie ya L.. XD

  8. So sweet… yunho oppa baik!! :)
    akhir’a mreka balikan lg.. itu pas lg poppo changmin oppa ngliatin kn dr jnde;a.. sabar y oppa,, sini sama aq ajj yuk ^_-

  9. onnieeeee, kereeeeeen!
    aku nggak nyangka kalo yunho itu galau
    kukira waktu hubungan mereka jadi abu abu itu gara gara yunho emang mau ngasih hukuman buat ceweknya
    yunho oppa, aku salut sama kamu! ;D

  10. @all

    makasiii uda setia menunggu FF ini *haiah

    untuk Changmin PoV, masih dipertimbangkan yaa… takutnya ntar bosen kalo bikin FF ini lagi :(

  11. yunho baik bgt, tapi masih penasaran ma changmin gmn nasib y? Kan ending y changmin da d luar rmh soojung pas yunho ciuman, bikin ver.changmin ya chingu. . . .
    Baru afdol

  12. apa sudah ada yg pernah bilang = baca FF yg bagus itu bisa bikin puyeng..skaligus berpidah hati? sebenernya bias-nya aku itu minnie >,o itu loo go ah ra..yg maen bareng yunpa d no limit+model video klipnya before u go .. aaihhh..pas baca ini k’inget drama vers. nya, wktu mreka dinner romantis bareng..!

    DAEBAK lah for Author! :D *mianhaeyo comentnya panjang.. hhihihi :D

  13. bagus2..
    tapi agak sedikit bingung sama Sojung-nya.
    dia curhat ke Changmin tentang Yunho.. hmm..
    tapi overall, keren! bahasanya juga bagus, truslah berkaryaa! ^^

  14. kerennn…author disini keren2 dah…..
    feel nya dapet banget…..
    bahasanya juga bagus….
    meskipun tak ada Nc..*dasar yadong
    tapi beneran….kerennn terbawa suasana jadinya…

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s