17

[Freelance] Kau Siapa?

KAU SIAPA??!

Sedikit FF gaje dari Kei. Lagi bosan dengan FF yang bertema berat, jadinya keluarlah FF rada gaje ini.

Kkk

But, just enjoy it, my lovely readers

 

“Hyuk bangun!!” kata Donghae sambil menggoyang-goyangkan badan temannya itu.

“Hmmmm.” Jawab Eunhyuk sambil tetap tidur. “5 menit lagi, Hae. Aku masih mengantuk.”

“LEE HYUK JAE!!BANGUN!!” teriak Siwon dari pintu kamarnya.

“Hmmmm.” kata Eunhyuk dari balik selimutnya dan menggeliat.

“Sabar, Siwon-ah.” Kata Sungmin hati-hati.

“Aku tidak bisa sabar Hyung. Ini sudah keterlaluan. Walaupun aku bukan yang paling tua tapi aku tetaplah leader di sini.”

“Hyuk, ayolah bangun!!” kata Donghae lagi.

Continue reading

10

LAST AND NOW LOVE

Well, ini ff buatan dongsaeng saya yang juga author wff, cuma karena lagi sibuk nampaknya *sotoy* dia nitipin ini buat di posting, okey.. ayo baca dan komen ^^ buat Queen, aku tambahin foto ya hehehehe~ *ditakol Queen*

[author: Queentamaknae ]


Hai.. apakabar semua ? aku rindu wff. Udah lama aku ngak nulis ff dan sekarang aku nulis lagi. Terima kasih buat Amanda onni udah nolongin aku ngepost makasih onni sayang. Aku rindu onni-onni di wff, sarang umma dan reader. Dari pada aku banyak bacot mending langsung baca aja ff oneshot aku semoga suka ya

 

Cinta lama…
Cinta lama…

Yah…aku tidak percaya lama datang kembali yang biasa kita bilang dengan sebutan CLBK dan cinta lama itu datang kembali pada ku. Dan sungguh aku sangat mengharapkan cinta lama itu kembali tapi sekarang….aku juga mencintai orang lain sekarang. Apakah selamanya aku mengharapkan cinta yang dulu akan kembali lagi pada ku ? tuhan tolonglah aku.

“uh…capeknya!” aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Capek..ya aku rasakan sekarang pulang dari kerja part time-ku. Aku hanya hidup sendiri disini dan tidak memiliki siapa-siapa. Orang tuaku tidak sudi memiliki ku karena aku seorang anak haram dari seorang hubungan ibuku dengan laki-laki lain. Lalu, saat aku berumur menjelang 12 tahun ayah ku membuangku karena jijik melihatku dan ibuku…DIALAH ORANG YANG AKU BENCI DI DUNIA INI !!

Aku termenung memikirkan nasibku dan seseorang yang dulu pernah mengisi kehidupanku dulu. Henry lau ya dialah cinta lamaku. Ngak terasa air mata sudah keluar dari mata ini dan mengalir jatuh.

Young eun…kau sudah bejanji pada henry jangan menangis. Tolong tuhan hentikan air mataku ini. Sungguh aku rindu henry tapi dimalah memilih perempuan lain pada aku.

BACK POV

Aku mengaguminya. Sungguh aku mengaguminnya. Pipinya yang cubi itu yang aku suka. Sungguh dia sangat membuatku terpukat.

Dan akhir-akhir ini ntah sejak kapan dia dekat padaku sering me-sms ku , perhatian dengan ku.

Dan kemarin dia mengatakan SUKA pada ku melalui pesan-sms. Oh, sungguh dunia ini mau runtuh, hati ku sangat senang ia mengatakan SUKA pada ku.
Continue reading

13

My Destiny is You. [1/?]

Donghae berjalan sempoyongan masuk ke kamarnya, setelah ia berhasil menggapai tempat tidurnya, ia langsung membaringkan dirinya di atasnya. Ia merasa sangat lelah. Jadwalnya begitu padat. Bagaimana tidak, ia harus pulang balik China-Korea untuk menjalankan semua schedule yang sudah di atur oleh manager perusahaannya.

Donghae memejamkan matanya dan memeluk bantalnya, ia meringkuk di balik selimut tebalnya, mencoba untuk tidur. Tapi entah kenapa, matanya tidak mau tertutup, suara dari luar begitu ribut terdengar di telinganya.

“YA! Lee Hyukjae, barusan kau memanggilku apa?!” teriak seseorang yang Donghae kira adalah Heechul. Memangnya, siapa lagi yang suka berteriak di dorm selain Heechul?

“Hee-Heechul Hyung,” terdengar Eunhyuk menjawab dengan takut-takut.

Donghae mulai merasa jengkel. Ia menutup kedua telinganya dengan bantal, dan tetap meringkuk di balik selimutnya, tapi keributan itu masih berlanjut di luar sana, menembus pendengarannya dan membuatnya merasa tidak nyaman.

Dengan geram, Donghae bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar, ia membuka pintu kamarnya dengan kasar.

“YA! Tidak bisakah kalian tenang sedikit?! Aku ingin tidur!” gertaknya membuat semua member tersentak sesaat.

Mi-mianhae, Donghae-ah,” Eunhyuk berkata dengan terbata-bata.

Donghae menggerutu sebal. Kemudian ia mengambil jaket kulitnya yang tersampir di pinggiran sofa, lalu berjalan keluar. Ia ingin ke rooftop gedung apartemen ini, mungkin di sana lebih nyaman daripada suasana dormnya sekarang.

Continue reading

11

[Freelance] My Life Time [part 7]

Author    : Afi

Cast   : all member super junior, khususnya Eunhyuk dan Kyuhyuh, all member 2pm, khususnya WooYoung dan beberapa cast tambahan dari SMent dan JYPent

kategori   : on writing, 16+

Ps: hahaha entah kenapa pengen aja bikin hal yang beda, mau menunjukan sisi persaingan antara orang orang yang beda agency. Mudah mudahan ga ada yg kecewa aja. Author pengen masuki satu peran baru. Terima kasih, jangan lupa komennya ya teman teman. Komen kalian berpengaruh untuk cerita selanjutnya gomawooo :D

#Part 07#

Ji Rin PoV

Riuh suara para siswa dan siswi saat mendengar bel berbunyi dengan keras menandakan sekolah sudah usai. Aku pun segera memakai tasku dan langsung berlari menuju kelas Mi Yeonnie. Ku hela nafas sebentar melihat kawanku yang masih termenung di pojokan kelas

Pasti dia memikirkan nilai matematikanya. Kyuhyun sshi sedang promosi album baru mereka dichina, itu membuatnya kehilangan guru privat nya selama ini. Aku menghela nafas perlahan dan mendekatinya. Kulirik kertas yang ada disebelahnya. Nilai ulangannya bagus kok. Apa dia memikirkan Eunhyuk sshi ?

Sudah sebulan lebih Mi Yeon tidak bertemu dengan Eunhyuk sshi. Eunhyuk sshi juga sedang melakukan debutnya di china. Itu membuat Mi Yeon jarang bertemu dengannya. Tapi besok sekolah kami akan study tour ke negri tirai bambu tersebut. Dan semoga saja, Mi Yeon bisa bertemu dengan Eunhyuk sshi disana.

“Hei, wae ? Kau terlihat tidak sehat. Gwenchana ”

“Ne…gwenchana. Ayo kita pulang, kau butuh istirahat buat besok”

“Kau ? Anio… Kita”jawabku sambil merangkul bahunya

“Iya iya, kita butuh istirahat. Ppalli.”

***

Matahari mulai tinggi. Kukeluarkan koperku putih kecilku dari mobil dan segera menariknya memasuki bandara internasional. Aku tersenyum kecil dan berlari menuju rombongan sekolahku. China, aku tidak sabar untuk melihat negara yang satu ini. Aku ingin makan sebanyak banyaknya disana.

Kue kue, jajanan pasar, lampion, barongsai tunggu aku. Aku akan segera tiba senyumanku terus merekah diwajahku. Ku alihkan semua pikiranku itu dan memfokuskan diri mencari sahabatku. Apa dia belum datang ? Kenapa tidak ada Mi Yeon disetiap pandanganku ? Kan tidak mungkin dia belum datang, 30 menit lagi kan sudah berangkat

Pipip~ tiba tiba ponselku bergetar dari saku rok miniku. Aku langsung merogoh sakuku dan mengangkat telfon yang baru masuk. Choi Mi Yeon,

“Yoboseyo ? Mi Yeonie ah ? Kau dimana ?”

“Aku dirumah sakit”

“Mwo ? Wae ?”

“Tidak apa apa, aku hanya transfusi saja. Ji Rin ah, pergilah. Gwenchanayo”

“Tapi aku-”

“Jika kau tidak pergi aku akan sangat marah padamu, aku akan menyusul secepatnya”

“Arasso, tapi berjanjilah kau akan baik baik saja. Dan kau harus terus menghubungiku kalau ada apa apa. Arasso !”

“Iya bos, siap. Sudah ya dokternya sudah datang, selamat bersenang senang Ji Rinnie. Hati hati ya”

“Yap. Kau harus menyusul. Bye byeeee~”

Aku mematikan ponselku dan menghela nafas panjang. Pantas kemarin dia terlihat sangat sangat tidak sehat. Ku matikan ponselku dan langsung memasukkannya kedalam tasku. Baiklah, untuk sahabatku. Aku akan menuruti permintaanya. Bersenang senang di china. I’m coming red town ! Teriakku dalam hati dan langsung menarik koperku untuk check in.

Matahari sudah semakin tinggi. Kubuka penutup mataku dan melihat kearah jendela pesawat. Sudah di bandara. Tidurku pulas sekali, sampai sampai saat yang paling kutakutkan tidak terasa sama sekali. Bangku disebelahku sudah kosong. Aku langsung membuka cabin dan menarik koper putihku.

“Omoo~”seruku saat koper itu justru mau jatuh menimpaku

“Awas…”Teriak seseorang yang berdiri disebelahku dan menahan koper yang hampir menimpaku

“He ?”Aku membuka kedua mataku dan langsung berdiri. Aku tidak sadar kalau aku sudah terduduk dibawah sambil menutupi kepalaku dengan kedua tanganku

“Agashi ? Gwenchana ?”

“Ah ne. Aku.. Aku benar benar berterima kasih”ujarku sambil menunduk sopan

“Lain kali hati hati, agashi”ujar pria itu dan memberikan koper itu padaku

“Sekali lagi aku berterima kasih”

“Ya tentu saja, sama sama. Kita kan sama sama orang asing dinegara ini. Ya kan ?”

“Ha ? Ne, kau benar”jawabku sambil tertawa kecil. Alasannya sangat lucu pikirku “silahkan duluan”

“Anio… Ladies first”ujar pria itu sambil menunjuk kearah pintu keluar. Pria yang baik ujarku dalam hati

Aku tersenyum kecil dan langsung melangkah menuju pintu keluar. Aigo~ kenapa turun tangga begini. Aku harus mengangkat koper ini, menyesal rasanya tidak menaruh koper ini di bagasi. Apalagi aku memakai high heels. Aigoo~ teman temanku juga sudah terlihat jauh disana.

Tiba tiba kurasakan sesuatu menyentuh tanganku, aku berbalik dan melihat pria tadi mengambil alih koperku dan membawanya menuruni tangga yang sangat tinggi ini. Aku hanya terdiam dan terus memperhatikan pria itu yang sekarang sudah tiba di tanah dengan selamat

Aku menggeleng pelan dan segera menuruni tangga dengan cepat. Kenapa dia baik sekali. Anioo… Ini memang tugas seorang laki lakikan. Keep it cool Ji Rin ah, teriakku dalam hati dan langsung mengulurkan tanganku untuk menarik koper putih yang sangat menyusahkanku.

“Terima kasih banyak, tapi sesungguhnya kau tak perlu melakukan hal ini. Jinjja”

“Kalau aku tidak membantumu, kau akan kembali ke seoul karna tidak bisa turun”

“Mwo ? Apa yang kau bilang ?”

“Kidding, tidak ada salahnya kan berbuat baik untuk seseorang”

“Ne.. Gomawo”

Ia tersenyum kecil dan melambaikan tangannya. Aku mengangguk dan langsung berjalan meninggalkan pria tadi. Ia benar benar menyebalkan, kebaikannya membuatku terlihat sangat lemah dan tidak bisa apa apa. Aku kesal menunjukkan sisi lemah didepan seorang pria.

Aku paling tidak suka dikasihani. Ku hela nafas panjang dan langsung masuk kedalam rombongan sekolah. Tapi dia tidak salah juga, dia memang baik. Aku berbalik, pandanganku sudah tidak melihat pria berjaket hitam tadi. Rasanya aku pernah melihat pria itu tapi dimana ya ? Apalagi matanya tadi ditutup kacamata. Sudahlah tak usah dipikirkan

***

EunHyuk PoV

Ku baringkan badanku diatas tempat tidur hotel. Sudah hampir 2 bulan aktifitasku penuh di china. Aku merogoh ponselku dan tidak menemukan apapun disana. Kuhela nafas lelahku, lelahku terasa melekat disetiap nafasku. Pintu terbuka dan terlihat Kyuhyun dan Donghae yang baru memasuki kamar

“Lelah hyung ? Sebentar lagi kita harus pergi”

“Anio. Aku sangat bersemangat. Kaja”jawabku sambil langsung beranjak dari tempat tidur

Aku memutuskan untuk berjalan menuju mobil terlebih dahulu. Kulangkahkan kakiku keluar dari pintu lift yang sudah terbuka. Pandanganku terpaku pada beberapa orang yang berjalan dengan balzer coklat muda dengan rok pendek mereka. Seperti seragam Choi Mi Yeon.

Aku mengedipkan kedua mataku dengan cepat dan langsung mengamat amati rombongan itu. Apa mungkin sekolah Mi Yeon sedang jalan jalan ke china ? Sudah hampir 2 bulan aku putus komunikasi dengan Mi Yeon. Apa dia baik baik saja ? Eottohke, kenapa jantungku berdebar kencang begini. Apa Mi Yeon baik baik saja.

“Hyung, kaja”ujar SiWon yang sudah berdiri disebelahku

“Ha ? Ya.. Ne, kaja”

Hari ini hari terakhir schedule untuk minggu ini. Lusa atau besok aku sudah bisa kembali ke Seoul sebelum jadwal jadwal padat menungguku di china mulai minggu depan. Semua bertepuk tangan dan berteriak terima kasih atas kerja samanya. Shoot kali ini sudah selesai.

Hari sudah mulai malam, Donghae masih saja sibuk dengan ponselnya di tempat tidur, sementara Kyuhyun masih saja sibuk dengan laptopnya. Aku segera memakai jaketku dan memakai topiku. Chakeman, untuk keamanan lebih baik memakai kacamata saja. Cih~ tidak perlu mereka tidak akan mengenaliku

Kulangkahkan kakiku perlahan menuju pintu lift. Ku dengar suara tawa dari arah depanku saat pintu lift sudah terbuka di depanku. Ahm~ bagus. Gadis gadis ini memang dari sekolah Mi Yeonnie. Musah mudah mereka kenal dengan Mi Yeonie

“Ahm permisi”ujarku membuat mereka berbalik dan tersenyum padaku “ah, annyonghaseyo”

“Ne, annyonghaseyo”

“Kalian dari Seiren school ?”

“Ne, wae ?”

“Ahm apa kalian mengenal model Choi Mi Yeon ?”

“Ya, tapi sayang Mi Yeonie tidak ikut study tour kali ini”

“Tidak ikut ? Wae ?”

“Entahlah Ji Rin hanya mengatakan Mi Yeon masuk rumah sakit karna harus transfusi darah”

“Transfusi darah ? Ha ? Ke..kenapa ?”

“Ahm a..aku kurang tahu. Lebih baik tanya Jung Ji Rin saja. Kalau tidak salah dia sedang bertelfon dengan Mi Yeonie dibawah”

Setelah mendengar saran tersebut. Aku langsung menekan tombol lift, lobby. Mudah mudah gadis gila itu masih ada dibawah. Aku berjalan lebih cepat sambil terus mencari sosok Ji Rin

“…oh ya, syukurlah. Ya ? Yasudah, telfonnya sangat mahal disini. Sudah dulu ya”ujar suara gadis menyebalkan itu

Ia berbalik dan berjalan melewatiku. Mwo ? Apa dia tidak mengenaliku. Dasar gadis gila. Kuulurkan tanganku dan segera menghentikan langkahnya dengan menarik tangannya. Ia berbalik dan menatapku dengan tatapan bingung.

“Yak ! Jung Ji Rin”

“Wae ? Kau siapa ?”

“Ini aku. Eunhyuk Super Junior”

“Ah. Kau masih hidup ternyata, kau tinggal disini selama dicina”

“Memang, wae ? Tidak suka ?”

“Pantas saja sejak masuk hotel ini aku merasakan aura negatif disini. Membuatku tak tenang”

“Yak !”Teriakku, kukepal tanganku sambil mencoba menahan emosiku. Aku butuh informasi darinya “mana Mi Yeon ?”

“Wae ? Kau terlihat ingin tahu”

“Yak ! Kudengar Mi Yeonnie masuk rumah sakit… Wae ?”

“Ini apa ha ? Manner atau-”

“Manner !”

“Ya, dia harus transfusi darah dirumah sakit. Dan sekarang dia harus dirawat beberapa hari”

“Ke..kenapa bisa masuk rumah sakit ?”

“Ka..karna, wae ? Kenapa aku harus menjawab semua pertanyaanmu ? Cukup untuk manner, kau tak perlu tahu hal lain.”

“Kau !”

“Kekhawatiranmu sangat berlebihan jika ini semua hanya manner”

“Ma..maksudmu ? Apa kau tidak khawatir dengan sahabatmu sendiri?”

“Ya. Ini lah aku jika khawatir. Permisi”jawabnya singkat dan langsung meninggalkanku.

Mwo ? Aish jinjja. Wae ? Kenapa Mi Yeon bisa punya sahabat seperti dia. Penyihir, monster, tidak ada lagi yang bisa menggambarkan sikap keras kepalanya itu lagi. Eotttohke ? Bagaimana keadaan Mi Yeonie ya. Ku keluarkan ponselku dan langsung mengetik nomer Mi Yeon

Ani…anio. Aku tidak boleh menelfonnya. Hubungan kami sedang tidak baik, lagipula ini sudah malam. Aku menggeleng pelan, kulangkahkan kakiku berjalan menuju pintu lift. Aku terus menatap ponselku selama di lift. Aku tidak mau menelfonnya tapi aku harus menelfonnya

Anio… Aku tidak boleh begini. Hyuk Jae ah ! Wake up ! Dia bukan siapa siapa. Ya, dia bukan siapa siapa. Aku menutup mataku perlahan, dadaku seperti tertusuk saat ku teriakan kalimat tadi di kepalaku. Aku membuka kedua mataku perlahan dan langsung berjalan menuju kamar

Ku tolehkan pandanganku kearah laptop yang masih menyala diatas meja. Kyuhyun kemana ? Apa dia lupa mematikan laptop ini. Ku dekatkan diriku ke arah meja dan tersenyum kecil. Daripada khawatir berlebihan, kenapa aku tidak mencarinya di internet. Tidak perlu bertanya dengan gadis gila tadi

Jemariku langsung menari nari diatas keyboard laptop. Keywordnya apa ya ? Ha anemia. Aku membuka satu artikel yang terlihat menarik. Aku membacanya dengan teliti. Sampai tanganku bergetar hebat dan pandanganku terpaku pada tulisan yang ada didepanku

“….anemia berlebihan sehingga harus melakukan transfusi darah, ini merupakan gejala dari leukimia”bisikku

“Le..leukimia ? Siapa yang leukimia hyung ?”Tanya Kyuhyun yang sudah berdiri dibelakangku sambil meminum yogurt

“Anio. Hanya… Menambah pengetahuan saja”jawabku cepat dan langsung menutup laptopnya “aku lelah. Aku tidur duluan”

Aku langsung membaringkan tubuhku ditempat tidur. Ku hela nafasku perlahan. Semua akan baik baik saja. Gwenchana. Besok malam kau sudah bisa pulang Hyuk Jae ah. Aku menghela nafas sekali lagi, dan langsung menutup kedua mataku perlahan.

To Be Continue….

 

35

[Freelance] He’s Mine and That’s It

Hei, it’s me Kei and yes, I’m back

Saya masih suka sama karakter antagonis. Jadi saya kembali dengan tokoh utama karakter antagonis. So, enjoy it, my lovely readers  (^^)v

“Ikuti mobilku, kita harus bicara banyak malam ini.” Kataku sambil berjalan ke arah mobilku dan menstaternya.

**

 

“Aaarrggghhh!!!!” kata Hyori frustasi sambil mengacak-acak rambutnya sendiri di kamar mandi. “Sialan kau Lee Hyuk Jae, sudah berani kau melupakanku? Fine, you’ll see what I am going to do.”

Hyori berjalan ke luar kamar mandi dan kembali duduk di kursi bar di café milik sahabatnya, Alice Han. Dia adalah perempuan berdarah campuran Inggris-Korea yang bersuamikan orang Korea. Mereka berkenalan beberapa tahun yang lalu sewaktu Hyori berlibur ke Inggris.

“Hyo, mana Hyuk Jae?” Tanya Alice dari balik bar.

“Dia ada urusan dadakan.” Jawabnya malas.

“Urusan dadakan? Sering sekali dia tiba-tiba membatalkan janjinya.” Kata Alice sambil menyampurkan beberapa minuman dan menempatkannya di sebuah shaker. “Lagipula inikan penyanyi favoritnya, Boyce Avenue yang sedang manggung disini. Biasanya dia tidak pernah melewatkan penampilannya. Aku ingat dulu dia selalu duduk dikursi ini, memesan fruit punch bersamamu, dan merequest sebuah lagu.”

“Ini penyanyi favoritku Alice bukan dia.” jawabnya pelan.

“Apa?”

“Tidak, mungkin dia sedang sibuk dengan urusan perkerjaannya. Sudahlah, mana pesananku tadi?”

“Tumben kau minum ini. Kau sedang ada masalah?” Tanya Alice sambil mengangsurkan sebuah minuman.

“Aku butuh sesuatu yang lebih kuat dari fruit punch malam ini. Masalah? Hidup ini penuh masalah , teman.”

Are you okay, darl?”

Okay? Super fine.” Jawabnya sambil meminum minumannya dalam satu tegukan. “More, darl.”

 

**

“Hey, kau dimana? Cepat kemari. Hyo sedikit mabuk dan aku tidak memperbolehkannya pulang dengan menyetir sendiri.”

Dua puluh menit kemudian, laki-laki itu datang dengan tracksuit berwarna biru tua dan nafas yang memburu.

“Kau habis berlari? Jangan bilang kau tidak membawa mobil kemari.” Tanya Alice.

“Aku bawa mobil kok. Aku tadi sedang di gym sewaktu kau menelponku.”

“Kau di gym? Jam segini?”

“Badanku pegal-pegal semua, jadi kuputuskan untuk melakukan sedikit olah raga sebelum tidur.”

“Jadi daritadi kau berolah raga?” Tanya Alice tidak percaya. Laki-laki itu hanya tersenyum sambil mengambil tas Hyori dan membawanya di tangan kiri. “Kau ingat sekarang hari apa?”

“Sekarang hari selasa. Kenapa?” tanyanya balik.

“Selasa minggu kedua dan kau tidak tahu ini hari apa?”

“Boyce Avenue!!” Kata Alice sambil membantu mengangkat tubuh Hyori.

“Ya ampun!!”

“Jadi urusan dadakanmu adalah nge-gym?” Tanya Alice masih tidak percaya.

“Hah? Urusan dadakan apa?”

“Sudahlah, lebih baik kau bawa Hyori pulang dan bicara padanya besok pagi.” Kata Alice sesampainya mereka di mobil Hyuk Jae.

**

 

“Kau sudah bangun?” tanyanya ringan dari arah dapur.

“Hah? Bagaimana kau bisa disini pagi-pagi begini?” Tanya Hyori sambil mengucek matanya perlahan.

“Aku tidur disini semalam setelah menjemputmu dari café Alice.” Katanya santai sambil menyerahkan sebuah mug yang berisi kopi. “Ini.”

“Terima kasih.” Jawab Hyori sambil duduk di stall dapurnya. “Jadi semalam Alice menelponmu untuk menjemputku?”

“Iya dan aku mau bertanya sesuatu padamu.”

“Apa?”

“Ada urusan mendadak apa aku semalam?”

“Hah?”

“Alice bertanya tentang urusan dadakanku dan aku kebingungan.”

“Oh, itu. Aku bilang kau ada urusan dadakan.”

“Untuk apa?”

“Kalau kau INGAT, Boyce Avenue tampil kemarin di café dan SEHARUSNYA kita datang kesana, memesan fruit punch dan memesan lagu seperti biasanya.” Jawab Hyori sambil memberikan penekanan pada beberapa kata-kata. “Tapi dimana kau? Malah enak-enakan di apartemen Jiwoon. Cih,,,”

“Kau kan bisa menelponku.” Katanya defensive. “dan darimana kau tahu aku di apartemennya?”

“Aku tidak perlu jadi detektif ataupun peramal untuk mengetahui keberadaanmu, bodoh.” Kata Hyori getir. “Sudahlah, aku mau mandi.”

“Hey, tunggu. Pembicaraan kita belum selesai. Jangan pergi begitu saja kau Choi Hyori.”

“Tapi pembicaraan kita sudah selesai Lee Hyuk Jae.” Teriak Hyori dari dalam kamar mandi. Dia berhenti di depan wastafel kamar mandi untuk melihat keadaannya. Berantakan dan tidak terkendali. Rambutnya acak-acakan dengan kemeja yang sudah sepenuhnya keluar dari celana jeans. Anting-antingnya hanya tinggal yang sebelah kiri dan kalungnya-pun sudah tidak berbentuk lagi.

“Bagaimana dia bisa menyukaiku kalau aku jelek seperti ini?” kata Hyori sambil mengikat rambutnya dan mencuci muka. “Pantas saja kalau dia lebih menyukai perempuan itu.”

Hyori memutuskan untuk berendam di bath-up sambil menikmati buble bath soap strawberry yang sudah lama tak disentuhnya. “Minyoung-ah. Aku akan datang setelah makan siang.” Tulisnya di handphone dan mengirimnya ke Minyoung sekretaris pribadinya itu.

Belum ada tiga minggu dari batas waktu tiga bulan yang diberikan Hyori saja, Hyuk sudah melupakan janji dan kegiatan yang sering mereka lakukan.

Apa yang harus ku lakukan? Aku bisa gila kalau seperti ini terus. Why should I fall for those cheesy words? Lihat apa yang telah dia perbuat padamu sekarang, Hyori. Membuatmu tidak berdaya seperti ini kan? Ahhhh, aku tidak suka tidak berdaya seperti ini. Aku adalah Choi Hyori yang selalu memegang kendali. Bukan orang yang tidak mengerti apa-apa. Aku bukanlah seorang kura-kura bodoh yang terjebak dalam cangkangnya.

Oke, aku sudah kuputuskan. Aku tidak mau kalah dari perempuan itu. Aku akan menyingkirkannya dari kehidupan tunanganku. Toh, keluarganya-pun menyukaiku. Aku adalah calon menantu idaman mereka. Tapi kemarin, ahjuma bilang dia suka gadis yang pandai memasak dan aku? Sebenarnya kalau aku berusaha, aku bisa sih memasak. Cuma buat apa ada pengurus rumah dan pembantu kalau aku harus memasak? Tunggu sebentar, di drama-drama seorang calon ibu mertua bisa diluluhkan melalui masakan buatan calon menantunya dan mereka-pun hidup bahagia. Ahhh,,, tidak!!!TIDAK BOLEH!!

Tapi di drama-drama juga menceritakan kalau nuna-nya luluh setelah melihat perjuangan cinta adik laki-lakinya dengan seorang perempuan miskin yang ternyata mengidap sebuah penyakit. Akhirnya mereka kawin lari, mempunyai anak, lalu direstui dan akhirnya hidup bahagia. Ahhh,,, tidak!!!TIDAK BOLEH!!

“Andwe!!!” kata Hyori sambil membenamkan wajahnya ke lautan busa.

“Ah, aku punya ide.” Katanya tiba-tiba dan mengeluarkan wajahnya yang tertutup oleh busa-busa.

**

 

“Kita kembali bekerja sama lagi nona Hyori.” Kata seorang perempuan yang memakai blazer abu-abu menjabat tangan Hyori yang kebetulan mampir ke kantornya siang itu.

“Aku dan dewan direksi suka dengan hasil kerja kalian sewaktu menangani pembukaan hotel kami waktu itu.”

“Ah, itu kan juga berkat campur tangan anda. Anda memberikan pengarahan yang jelas sehingga kami bisa menjalankannya dengan baik pula.”

“Ah, anda bisa saja Jihyo-ssi. Jadi besok senin kita akan membahas detilnya?” Tanya Hyori.

“Tentu saja nona Hyori. Senin di kantor anda?”

“Jam 9. Saya tunggu di ruang rapat. Oh, ya bawa crew terbaik anda.” Kata Hyori sambil berjalan keluar dari ruangan Jihyo. Dia berjalan dengan santai sambil sesekali tersenyum pada beberapa orang yang sudah dikenalnya. Dia memakai kacamata hitam dan menaiki mobilnya. Suasana hatinya sedang baik sehingga dia membiarkan mobilnya tak beratap (roof top model). “Hey, sun. I’m in the good mood now. Can’t wait till Monday.”

**

 

“Kau memperkerjakan Jiwoon?” Tanya Hyuk Jae siang itu di ruangan Hyori.

“Iya. Memangnya kenapa?” Tanya Hyori balik.

“Kau gila? Apa yang ada di pikiranmu? Bagaimana kalau orang-orang tahu?”

“Tahu apa?”

“Tahu kalau aku dan dia..”

“Itu kan urusanmu. Aku memperkerjakannya karena alasan professional dan kalau kau tidak keberatan, aku ada urusan yang lebih penting sekarang.” Kata Hyori sambil mengambil tasnya dan berjalan keluar ruangan.

“Kau mau kemana?”

“Ke hotel baru. Tadi Jihyo menelponku, katanya ada yang mau dibicarakan. Kau mau ikut dan bertemu dengan kekasihmu itu?”

“Aku antar!”

“Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri kok.” Kataku sambil memencet tombol di lift.

“Sudahlah, aku antar saja. Lagipula aku sedang tidak ada kerjaan.”

“Terserah, tapi ingat! Kau tidak boleh meninggalkanku. Kalau aku ingin pulang atau pergi kemanapun kau harus mengantarku.”

Arasso.”

@ Hotel

Hyori turun dari mobil terlebih dahulu sebelum Hyuk Jae memarkirkan mobi. Dia langsung mencari Jihyo dan membahas beberapa hal penting tentang persiapan pembukaan hotelnya. Sementara itu, Hyuk Jae berjalan santai kearah hotel dan tersenyum sewaktu melihat sosok gadis yang membuatnya datang kesitu.

“Jiwoon-ah.” Panggilnya sambil melambaikan tangan.

“Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau bisa tahu kalau aku disini?” tanyanya kaget.

“Aku kan bisa membaca pikiranmu.”

“Ah, kau itu. Kau tidak bekerja?”

“Aku sedang malas bekerja jadinya aku mencarimu deh. Kau sedang apa?”

“Aku sedang menghitung beberapa hal. Kau mau membantuku?” tawarnya sambil tersenyum.

“Oke, apa yang bisa kubantu nona cantik?”

“Jadi nanti kolam renang aka nada lilin-lilin mengapung dan akan ada rangkaian bunga juga yang mengapung. Lalu nanti di ruangan ini akan ada …” terang Jihyo pada Hyori. Sayang beberapa kalimat terakhirnya tidak didengar oleh Hyori karena matanya tertuju pada seorang laki-laki da perempuan yang sedang duduk santai di pojok taman sambil memakan kimbab. Mereka tampak bahagia dan saling melemparkan senyuman. Sang laki-laki menyeka pojokan bibir sang perempuan dengan tisu. Ah, mereka juga makan jajjangmyon dan minum orange juice.

Krrrukkk. Bunyi perut Hyori. Untung Jihyo dan asistennya tidak menyadari suara itu. Hyori menutupinya dengan dehaman keras. ”Anda kenapa nona Hyori?”

“AH, tidak. Hanya saja saya sedikit haus.” Katanya sambil tersenyum.

“Ah, sudah waktunya makan siang. Kita istirahat dahulu bagaimana?”

“Baiklah, aku akan ada di ruanganku. Temui aku kalau kau butuh sesuatu.” Kata Hyori tersenyum dan berjalan ke ruangannya. Sebenarnya itu bukan ruangannya. Itu adalah ruangan direktur yang baru. Hanya saja selama hotel belum resmi dibuka, ruangan itu masih menjadi miliknya. “Huh, apa-apaan sih mereka? Pamer kemesraan seperti itu di depan umum? Bagaimana kalau ibunya melihat?”

Kekesalan Hyori-pun bertambah dengan banyaknya laporan yag harus diteliti siang itu. “Ah, kenapa laporan ini banyak sekali sih? Aduh, perutku. Sabar ya. Kalau semua ini sudah selesai kita akan makan.”

“Hyo, kau mau pulang kapan?” Tanya Hyuk Jae sambil membuka pintu ruangan Hyori. Terlihat Hyori dalam posisi menundukkan kepalanya di meja. “Hyo, kau tidur?”

Hyori menengadahkan kepala sambil meringis kesakitan. “Kau kenapa?” Tanya Hyuk Jae cemas dan memegang kepalanya. “Kepalamu tidak panas. Kau kenapa?”

“Perutku sakit. Maag, tolong ambilkan obat di tasku.”

“Tidak ada.” Katanya sambil mengobrak-abrik tas tangan Hyori. “Sudahlah, ayo ke rumah sakit saja.”

“Tidak perlu. Aku hanya perlu obat maag saja.”

“Jangan keras kepala, ayo ke rumah sakit.” Kata Hyuk sambil menarik tangan Hyori untuk berdiri.

“Aku tidak bisa berjalan, sakit.” Kata Hyori sambil memegang perutnya.

“Ayo aku gendong.” Kata Hyuk Jae sambil menggendong Hyori keluar dari ruangannya dan ke rumah sakit.

**

 

“Aku tak tahu kalau kau punya maag.” Kata Hyuk Jae sewaktu menyuapkan bubur pada Hyori sesampainya mereka di apartement Hyori.

“Aku jarang mengalaminya. Ini baru yang ke tiga dalam seumur hidupku.” Jawabnya. “Pertama kali sewaktu aku ujian masuk perguruan tinggi, yang kedua sewaktu pembukaan hotel kami karena itu adalah projek pertamaku, dan ini yang ketiga. Aaah, sakit.”

“Tidak usah banyak bergerak. Cepat habiskan bubur ini dan istirahatlah.”

“Kau mau kemana?”

“Membawa mangkok dan gelas ini ke dapur.”

“Bisakah kau menemaniku sampai aku tidur dulu sebelum pergi?”

“Kau itu seperti anak kecil saja.”

Please…”

“Baiklah, sekarang kau tidur ya.” Katanya sambil membantu Hyori menata bantal yang tadinya dipakai untuk sandaran punggung. “Sakit kah?” Tanya pelan sewaktu Hyori tidur meringkuk di dalam selimut.

“Iya, melilit.” Kata Hyori lemah.

“Makanya besok lagi kau tidak boleh telat makan. Lihat kan, perutmu jadi sakit.” Katanya dengan nada pelan sambil mengelus kepala Hyori. “Tidurlah, aku akan disini menjagamu.”

Hyuk Jae mengelus-elus kepala Hyori sampai dia tertidur pulas. Dia berjalan pelan keluar dari kamar Hyori dan menaruh mangkuk bubur dan gelas di tempat cuci. Tiba-tiba saja handphonenya berbunyi.

 

From: Jiwoon

Kau dimana?

 

**

Hyori terbangun dari tidurnya dan sedikit menggeliat karena posisi tidurnya yang meringkuk. “Aaah, sakit.” Katanya sambil memegang perutnya. Memang obat itu bekerja dengan baik menghilangkan rasa sakitnya hanya saja sekarang dia merasa agak mual. “Hyuk?” panggilnya pelan.

Hmm, bodoh. Mana mungkin dia masih disini untuk menjagaku? Dia pasti sudah pergi berkencan dengan pacarnya itu. It’s just another cheesy words, dear.

Hyori berjalan keluar dari kasurnya dan menyadari kalau hari telah beranjak malam. Dia menyalakan lampu kamarnya dan berjalan keluar kamar. Di ruang tengah, lampu belum dinyalakan sehingga dia berjalan menyandung sesuatu.

“Auw.” Kata Hyori sambil memegang tulang keringnya. Dia berjalan tertatih menuju saklar dan menyalakannya. “KAU??”

TBC

Jadi gimana ni reader sejauh ini ceritanya? Like it??

Ada yang mau ngasih ide cerita??