21

[freelance] The Light [part 1]

Author: tasha.kyu

Cast :

  • Lee Tasha
  • Cho kyuhyun
  • Anggota suju lainnya…

Kategori : chapter ( 1/?)

Cuap-cuap: oke… saya author freelance di sini. Hehe..mau mebuat pengakuan.. amat sangat suka dengan FF buatan KyuTeuk_EunHae… terutama death kiss. Yang menjadi pertanyaan adalah? Apakah ada cinta yang sebegitu dahsyat seperti milik kyuhyun? Ah..aku harap ada.. siapa siy yang nggak mau di gituin? Haha..nie sebenernya coment buat death kiss ato mau cuap-cuap siy? Sekali dayung..dua tiga pulau terlampaui. Oke…buat cuap-cuap nie ff. Nie terispirasi dari death kiss ( mianh KyuTeuk_EunHae, peace…) juga TVD, tpi dikit siy. Tpi nggak tahu lagy kalau menurut kalian banyak.. hahah.. nie FF Gj. Amat. Sangat.aku sendiri yang bikin ngerasa Gj, apalagi yang baca ya? Haha.. teralu banyak cuap-cuapku..sekian dulu dah.. selamat menikmati raiderss… ( sampai chapter berapa aku  sendiri kagak tahu…)

Ta sha pov

“ungu…”

“ biru..”

“ungu..”

“biru..”

“ungu kyulkas…”

“ biru kucing..”

“ aduh…dilihat dr mana siy bagusya. Ungu tuch gimana-gimana juga bagus…”ucapku tak mau kalah dari namjaku ini. Dia menepuk bahuku.

Basah. Dan hangat. Itu yang aku rasakan saat ini. Bibirnya menyentuh bibirku lembut. OMO dia menciumku.  Cepat terjadi, cepat pula berhenti.

“ biru..atau aku akan membawamu pulang saat ini juga dan kita ke apartemen.”

Aku menelan ludahku. Apartemen katanya? Haiish.. kalau hanya ke sana siy oke. Tapi yang akan di lakukannya di apartemen?! Ku bunuh kau kyuhyun.

“ ungu. Bodoh.” Ucapku masih tak mau kalah. Oh…aku memang tak pernah mau kalah dari namja satu ini.

Di menarikku pergi dari toko jam itu. “ terima hukumanmu sayang…”

“ iya deh..iya deh..biru..”

“ terlambat….”

“ tapi jamnya..”

“ biar tuan park yang mengurusnya…” ucapnya tetap menyeretku pergi. Hah…pasti akan menajdi malam yang panjang…. aku memayun-mayunkan bibirku..

“ jangan bertingkah seperti itu..atau aku akan mencari hotel terdekat…”

Aku membelalakan mataku..” aiish..apa yang kau katakan siy? Sejak kapan kau jadi mesum begitu..”

“ sejak aku mengenal park ta sha…”

Aku menjitaknya… saat itu kami sudah ada dalam mobil.

“ heh..bodoh. kau mengenalku sejak dahulu kala. Jangan-jangan otakmu mesum dari sananya?!”

“ issh..sakit tahu. Apa kau tidak sadar waktu pertama kali kau pindah ke soul sudah berapa kali aku menciummu?”

“ ya…kapan?! aku tak pernah merasa di cium olehmu saat itu.”

“ tak terhitung Tasha, tak terhitung saat kita bersama dulu. Tapi saat kau pindah. Pertama, saat kau ketiduran di kamarku. Kedua saat kau memintaku menemani di rumahmu karena kau ketakutan, ketiga saat kau tertidur di pangkuanku, keempat saat kau pingsan di uks, kelima, saat tertidur..”

Aku menutup telingaku dengan kedua tanganku..” haiissh…. hentikan… kau membuat aku malu..”

Dia terkekeh pelan.. wajahku pasti memerah saat ini. Tapi hatiku senang..amat senang. Kalau para setan itu datang sekarang, aku rela tuhan. Aku rela mati, asal aku bisa terus memandang wajah itu saat aku di neraka.

Dia menatapku dan tersenyum. Tatapan yang paling aku suka.Tatapan yang hanya iaberikan untukkus sejak dahulu kala. Tuhan..serasa dunia ini hanya milik kita berdua..

“ kyu…” ucaku lemah tapi aku yakin dia mendengarnya.

“ hemmm..” ucapnya seakan tak mau melepaskan pengilihatannya dari wajahku meski sepersekian detik.

“ lihat jalan dodol.. aku masih mau bermimpi menjadi istrimu.” Ucapku lagsung memalingkan wajahku menghadap depan lagi.

Dia malah tertawa.. “ tenang saja.. kau tahu siapa diriku kan? Kau meragukan kemampuanku? Jadi..takkan ada masalah..bermimpi? kau takkan berimpi sayang. Kau akan menjadi istriku, satu-satunya wanita yang akan membuatku tetap bertahan hidup.”

“ ya..ya..aku percaya padamu..” masalahnya..aku tidak percaya apakah jantungku masih sanggup bekerja jika ia terus-terusan menatapku seperti tadi… dan meneruskan kata-katanya itu…

@@@@@@@@

Namaku Lee Ta Sha.. sedikit aneh memang namaku. Itu karena ibuku orang Indonesia, sedangkan ayahku orang korea. Jadilah diriku. Aku sempat tinggal di Indonesia selama 16 tahun, kemudian aku pindah. Karena kedua orang tuaku bercerai dan aku ikut bersama appaku. Saat itulah aku bertemu dengan kyuhyun. Cinta masa laluku.. oh tidak.. masa kini dan masa depan.

Aku egois sekali bukan? Tapi itulah kenyataannya. Seberapa besar aku membencinya, emosi itu akan hilang hanya karena aku melihat wajahnya. Aku bukan mencitainya karena ketampanannya, tapi karena dirinyalah aku mencintainya.  Meski aku tahu rahasia terbesar dari seorang cho kyuhyun.

Cho kyuhyun.. namja tertampan yang pernah aku temui. Oh..kesan pertama saat aku mengenalnya? Benar-benar namja dingin yang aku yakin takkan bisa mencair.

@@@@@@@@@

3 tahun yang lalu….

Ta sha pov

Aiissh… rumah baru, negara baru, tetangga baru, kekosongan yang sama. Hari ini aku pindah bersama ayahku ke korea. Kedua orang tuaku bercerai, well aku nggak tahu alasanya, dan nggak mau tahu dari mereka. Karena mereka semua sama, mereka pembohong. Mengatakan ini yang terbaik, tapi apa?

Semua sudah terlambat. Hatiku membeku. Entahlah, rasanya hatiku benar-benar sudah mati rasa. Buktinya, sekarang aku tak merasakan emosi apapun.

Ya.. aku orang yang mudah melupakan emosi. Suatu saat emosiku  membuncah, aku ingin marah, aku ingin berteriak, ingin menangis, tapi beberapa saat kemudian. Kalian pasti tidak akan percaya.. emosiku hilang. Aku bahkan bingung sendiri? Kemana emosiku yang tadi? Kenapa ku harus marah tadi? Padahal hal yang mebuatku seperti itu adalah saat aku mengetahui omma berselingkuh dengan pria lain dan bodohnya aku..aku tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan menceritakan pada siapaun. Aku hanya anak kecil yang tahu bahwa dirinya di khianati oleh ibu kandungnya sendiri.

Sejak saat itu, aku mati rasa. Aku mungkin tertawa, tapi itu hanya topeng.  Aku tersenyum, tapi hatiku kosong. Tak ada yang tahu tentang keadaanku, hanya aku sendiri. Aku tak pernah menangis. Tak akan. Itu janjiku. Aku tak akan pernah menjadi gadis lemah yang mudah menangis. Seberat apapun masalahnya. Karena aku yakin, tuhan memberikan cobaan yang lebih besar pada orang lain dan mereka tetap bertahan. Kenapa aku tidak bertahan?

Aku sering menangkap ommaku berselingkuh. Tapi apa yang bisa kulakukan? Appa kupun tak bisa berbuat apa-apa? Bahkan omma dari ibuku juga tak bisa berbuat apapun. Aku hanya seorang gadis cilik berumur 14 tahun yang selalu mendengar pertengkaran di setiap malam miliknya.

Aku sekarang tinggal bersama appaku. Appaku direktur dari sebuah perusahaan. Kekosongan tetap sama kan? Appaku tetap meninggalkanku untuk pekerjaannya. Hari-hariku hanya di isi dengan kegiatan sekolah dan latihan-latihan lainnya. Aku memang yang memintanya. Hanya untuk menyibukkanku dan melupakan semuanya.

Hingga pada suatu hari. Aku bertemu dengan dirinya. Namja tampan yang berdiri menyenderkan bahunya, memasukkan kedua tangannya di saku celana putihnya, menatapku lekat. LEKAT?

Hingga aku berhenti dari latihan berpedangpun dan aku memperhatikannya, ia tak bergeming. Melihat berbeda dengan menatap. Ketika kamu melihat, kamu bisa melihat benda lain. Tapi ketika kamu menatap, hanya ada satu objek yang kamu tatap. Hanya ada satu benda yang kamu kunci.

Aku tersenyum canggung, menyapanya. “ hai.. ada yang bisa ku bantu?”

Argggghh..namja itu benar-benar membuatku kesal. Dia pergi meninggalkanku begitu saja. Tanpa berkata apapun. Aku melempar pedangku. Awas aja tuch orang…..

Tapi..ada satu yang berbeda. Hatiku terasa hangat. Aku tersenyum kecil.

Aku cepat-cepat menggelengkan kepalaku. Apa yang kulakukan siy..?

Kyuhyun pov

“ tuan muda.. anda sudah siap?” tanya tuan park di depan pintu kamarku.

“ sebentar lagi tuan park. Aku akan menyusul.” Ucapku tidak bergeming dari depan kaca besar yang memantulkan diriku. Aku menghembuskan nafasku.

“ aku takkan berhenti mencarimu sayang.. tak akan pernah. Sejauh apapun kita dipisahkan, selama apapun kita tak bertemu, aku pasti akan menemukanmu. Aku berjanji.” Ucapku memegang kalung setangah sayapku dan memasukkannya ke kaos hitam yang kukenakan. Aku membenarkan jas putihku, kemudian keluar menemui tuan park.

“ ayo kita berangkat.” Ucapku seraya berjalan keluar rumah, menuju mobil porsche yang sudah sedari tadi menungguku.

“ dengan siapa kali ini?”

“ L corporation” Ucap tuan park.

**************

Aku memasuki halaman rumah besar itu. Tring..tring..tring.. aku mendengar seperti suara pedang yang sedang beradu. Penasaran,kuputuskan untuk melihatnya dan menyuruh tuan park untuk membereskan semuanya.

Kenapa jantungku bekerja lebih cepat? Tak seperti biasanya. Tuhan.. ada apa ini? Kenapa darahku mendesir. Aura ini… aura yang amat aku kenal….

Saat itulah aku melihat siluetnya. Bertarung dengan pedang, memakai pakaian ala baghdad. Tapi bukan itu yang membuat aku tak bergerak. Seakan tersetrum listrik 100 watt milik pikachu. Aku bahkan tak berkedip menatapnya. Nafasku seakan berhenti. Hanya untuk melihatnya ada. Melihatnya hidup.

Wajah itu, aura itu. Itu Ta Sha-ku. Tuhan..benarkah itu dia? Gadis yang selama ini aku cari? Pasangan hidupku yang aku cari ratusan tahun, ribuan mil? Aku menatapnya lekat. Ingin berlari dan memeluknya. Mendekapnya dan tak akan melepaskan sampai kapanpun bahkan jika nyawaku dia ambil saat ini juga. Aku rela tuhan..aku rela. Melihatnya hidup saja, seakan menemukan oase kecil di 100 padang sahara.

Dia berhenti. Kini dia memperhatikanku. Aku tak bergeming. Menelusuri tiap lekuk di wajahnya. Meyakinkan bahwa ini bukan sekedar halusinasi liarku.

Tunggu..dia tersenyum. Hancur sudah syarafku hanya karena melihatnya tersenyum canggung. Tapi..kenapa senyum itu bukan senyum ta sha-ku? Dia seperti menyembunyikan sesuatu. Kepedihan, kekososngan, tuhan..apa yang terjadi padanya selama ini?

Aku tak sanggup berlama-lama di sini. Kalau aku terus menatapnya, aku akan berlari memeluknya dan.. aku tak bisa membayangkan tingkah liar apalagi yag akan aku lakukan jika menyentuhnya.

@@@@@@@@@@@@@

“ you met her..” ucap seseorang yang sedang duduk dengan menyilangkan kakinya di sofa.

“ how about her?” ucap seseorang lainya yang keluar sambil membawa gelas berisi wine.

“ yeah I met her. She look exactly alike Princess TaSha.”

“ yeah..she is.” Ucap orang lainnya.

“ you run to her? Hug her, tell her, and….” orang yang membawa gelas wine itu tersenyum jahil. “ kiss her?”

“ I run to her, hug her, tell her, kiss her, and the darkness will be know, and kill her.” Ucapku sinis.

“ not that way hyung….” ucapku kemudian duduk di sebelah leeteuk hyung.

“ so.. what your plan.”

“ its mellow..I know. But..this is the only way….” ucapku misterius kemudian memberitahu mereka tentang rencanaku.

@@@@@@@@

Ta Sha pov

Arrgghh…. kenapa aku kepikiran dia terus siy? Wajah itu.. sepertinya sangat familiar.. amat. Tapi kenapa aku tak bisa mengingatnya sama sekali.  Kenapa dia sangat tampan tuhan…

Selesai berlatih waktu itu..kami semua dinner. Ya ampun… atau hanya aku saja yang ke Gran. Dia terus menatapku. Benar-benar mengunciku. Aku tak pernah grogi di depan siapapun. Tapi kali ini. Sukses sudah dia membuatku diam. Cho KyuHyun.. selamat atas kesuksesanmu..

Hari ini aku masuk ke sekolah baruku. Aku juga tidak tahu kenapa appa tiba-tiba memindahkanku. Tapi yang jelas, pemandangan pagi ini benar-benar membuatku muak. Dan bertambah sudah alasanku untuk tak jatuh cinta padanya.

Aku menghampiri dia yang dengan angkuh menatap gadis manis di hadapannya. Apa memang sudah menjadi kebiasaannya? Menaruh tangannya di saku celananya? Aiissh..lupakan. aku harus memberi dia pelajaran. Bagaimana bisa membuat seorang gadis manis menangis. aku mendengar, tidak sengaja, pembicaraan mereka tadi. Gadis manis itu menyatakan cinta pada si kyulkas itu. Tapi emank dasar kyulkas….. kalian tahulah apa yang terjadi.

“ heh.. kyulkas. Kamu pikir kamu siapa. Nggak usah sombong deh. Nggak usah sok cakep. Nggak ada cakep-cakepnya juga.” Oke…semua itu bullshit. Aku benar-benar berbohong. Dia tampan. Amat tampan. Tatapan matanya itu, aissh…kenapa dalam sekali. Aku seperti hanyut dalam tatapannya.

“ masih banyak tau yang lebih cakep dari kamu.” Ucapku sambil berkacak pinggang.

“ oh ya?” dia maju selangkah mendekatiku.  Refleks aku mundur. “ siapa?”

Aku mengecap-ngecap bibirku.” Ehm… ehm… kucing kesayanganku. Bahkan kucing kesayangnku lebih tampan dari pada dirimu.”

Dia terkekeh. “ dasar kucing…”

“ kau memanggilku apa?”

“ kucing. Ada yang salah?”

“ amat. Salah. Manisan aku tau, dari pada kucing.”

“ lantas kau tadi memanggilku apa?”

“ehmm..” aku meringis.. “ kyulkas.”

“ apa itu kyulkas?”

“ cari tahu saja sendiri…”ucapku pergi seraya menarik gadis manis yang sejak dari tadi melongo melihatku dan si kyulkas itu bertengkar.

@@@@@@

Kyuhyun pov

Gadis ini benar-benar tak pernah pantang menyerah. Dia terus-terusan mengejarku. Sudah berapa kali aku menolakknya. Tetap saja tak pantang menyerah. Dia bahkan tak menandingi kecantikan Tashaku. Dan sekarang..dia menangis hanya gara-gara aku menolak ice cream buatannya?! Aiiissh…dasar manusia.

Deg. Aura ini…

“ heh.. kyulkas. Kamu pikir kamu siapa. Nggak usah sombong deh. Nggak usah sok cakep. Nggak ada cakep-cakepnya juga.  masih banyak tau yang lebih cakep dari kamu.” Ucap seseorang yang tanpa aku lihatpun aku tahu siapa dia. Rasa ini membuncah kembali. Aku ingin memeluknya. Sangat. Tapi tidak. Tidak untuk saat ini.

“ oh ya?” aku maju selangkah mendekatnya.  dia mundur. “ siapa?”

Dia mengecap-ngecap bibirnya. Tak pernah berubah. Aku yakin ini dirimu sayang.” Ehm… ehm… kucing kesayanganku. Bahkan kucing kesayangnku lebih tampan dari pada dirimu.”

Aku terkekeh. Selalu beralasan kucing. Apa tak ada hewan lain di dunia ini? “ dasar kucing…” gumamku. Tapi cukup untuk dirinya mendengar.

“ kau memanggilku apa?”

“ kucing. Ada yang salah?” ucapku terlanjur dia mendengar. Sedikit demi sedikit….

“ amat. Salah. Manisan aku tau, dari pada kucing.”

“ lantas kau tadi memanggilku apa?”

“ehmm..” dia meringis.. “ kyulkas.”

“ apa itu kyulkas?” tanyaku pura-pura tak tahu.

“ cari tahu saja sendiri…”ucapnya pergi dan menarik gadis yang berdiri di sebelahnya itu. Aku tersenyum kecil. Aku  tau Tasha..aku sangat tahu.

“ kau sudah bisa tersenyum kyu?” ucap seseorang mengagetkanku.

“ sungmin hyung..sejak kapan kau ada di sini?”

“ cukup untuk melihat kalian berdua saling mengejek seperti dahulu kala..” ucapnya tersenyum.

“  dia tak berubah, ya kan?”

Sungmin hyung mengagguk. “ jadi…..kapan kau akan memberi tahunya?”

“ kau tahu peraturannya hyung…..”

Sungmin hyung mengangguk kembali sambil memegang pundakku. “ takkan susah membuatnya jatuh cinta padamu lagi kyu. Karena kau adalah pasangan sayapnya….”

“ ehmmm…..”

“  tapi …ada yang membuatku bingung..”

“ apa?”

“ kenapa kau tidak langsung terang-terangan pdkt padanya.. mengatakan cinta, menyanjungnya…”

“ oh..come on hyung. She is not that girl. Meskipun 100 tahun aku melayangkan kata-kata cintaku, dia tak akan bergeming. Kau tahu itu hyung.”

“ tapi kenapa dulu saat kau bersamanya, kau bisa ceplas-ceplos di hadapannya tentag perasaanmu?”

“ itu karena dia sudah menjadi hak paten milikku. Aiissh..aku sulit menjelaskannya. Dia berbeda hyung…”

“ baiklah aku mengerti..”

“ lagipula… aku ingin dia menyadari keberadaanku. Kalau aku ceplas-ceplos terhadap perasaanku, dia akan menggapku sama seperti si cecunguk-cecunguk itu..” ucapku sambil menunjuk pada gerombolan namja yang sedang berbincang dengan gadisku.

“ astaga kyu..kau cemburu pada mereka?”

“ cemburu?”  aku mengiyakan dalam hati. “ tidak akan…”

@@@@@@@@@

Tasha Pov

Bagaimana bisa aku sekelas dengan si kyulkas itu? Dan parahnya..aku sebangku dengan dia?! OMO… bisa boring diriku.. ah..tapi kurasa tidak. Aku bisa puas melihat wajahnya.

Aiissh..aku memukul kepalaku. Bagaimana bisa kau Tasha berpikiran seperti itu. Dia itu kyulkas. Aduh..nggak usah deket-deket deh… tapi gimana mau nggak deket-deekt? Dia teman sebangku-ku.. Appa.. kenapa kau memindahkan diriku?????

Aku berjalan gontai menuju bangku yang di tunjuk Go songsaenim. Dia berdiri dan memberiku jalan untuk masuk ke bangku paling pojok dekat jendela. Aku duduk. Eunhyuk oppa, yesung oppa, ryeowok oppa dan shindong oppa tersenyum dan bersama-sama melambai padaku. Aku tersenyum miris. Dunia benar-benar tak adil.

Kenapa aku tidak duduk bersama mereka saja? Aiisssh…..  mereka lebih baik dari pada si kyulkas babo ini….

*****************

Benar kan prediksiku? Satu hari penuh aku di cuekkin. Sumpah serasa duduk dengan kulkas beneran. Aduh…sampai kapan harus begini? Apa 1 tahun ini harus kuhabiskan dengan si kyulkas itu? Omo…Apa yang harus aku lakukan?

“ tak ada tasha..” ucap hyori yang seakan tahu pikiranku. “ 1 tahun aku berusaha nyairin dia. Dari A sampai Z, nggak ada satupun cara yang berhasil.”

Hyori menjadi temanku sejak insiden Kyulkas-Kucing itu.. kami berbeda kelas, jadi hanya bertemu saat ada kesempatan saja.  Seperti kali ini, aku menunggu jemputanku datang. Aku pamit padanya dan beranjak pergi ketika mobil jemputanku datang.

Di jalan..aku benar-benar stress memikirkan nasibku setlah ini. 1 tahun itu lama… apa benar kyuhyun tak bisa di cairkan? Kenapa aku sangsi akan hal itu?! Tapi melihat kenyataan yang ada, kyuhyun memang tak bisa di cairkan. Ehm..kata omma..cowok bisa luluh dengan masakan.. atau aku masak untuknya ya?

@@@@@@@@@@@@@@

Author pov

Tasha memasuki ruangan kelas yang hampir cukup ramai itu (?). dia menemukannya. Sosok yang membuatnya bekerja keras, menurut pembantunya, pagi ini.

“ kyulkas…aku lagi baik hati nie. Aku mau genjatan senjata. Sebagai permulaan, aku bikinin bekal..” ucap Tasha seraya menyodorkan kotak bekal berwarna ungu. Kyuhyun bangkit mengambilnya. Oh..terang saja membuat hati Tasha gembira. Karena itu artinya 1 tahun ini tak akan menjadi neraka baginya..

Tapi Tasha salah.. kyuhyun memberikan itu pada orang lain. Eunhyuk. Pupus sudah harapan Tasha. Tasha menunduk.

“ sungmin hyung..ambil saja. Aku tak mau.”

Hold on.. sungmin? Bukankah tadi mengarah pada eunhyuk. Aduh..bukan masalah itu sekarang… yang jadi masalah.. adalah nasibku..

“ kau mau genjatan senjata seperti apa?”

Tasha memanyunkan bibirnya. “ setidak-tidaknya kau bicara. Kalau aku bertanya berbicaralah. Begitu pula pada semua orang. Jangan menghiraukan mereka. Itu sakit kyu…”

“ you got it..” ucap Kyuhyun kemudian pergi meninggalkan Tahsa, di ikuti dengan sungmin. Eunhyuk akan mengikuti kyuhyun tapi ia berhenti sesaat dan menepuk bahu Tasha, “ kau yang sabar ya..”

Tasha hanya mengangguk..

@@@@@@@@@

Kyuhyun pov

Aku memakan bekal yang di bawa Tashaku di atap sekolah. Dia tak berubah soal warna rupanya. Buktinya, dari kemarin aku perhatikan semua perlengkapannya berwarna ungu juga kotak bekal ini.  Apalagi soal masakan. Rasa masakannya tetap sama…

“ kau kenapa jaim sekali siy?”

Aku tak merespon.

“ heh..kyu. bukannya tadi kau memberikannya padaku? Kenapa kau malah memindah tangankan pada sungmin hyung? Malah sekarang, kau sendiri yang memakannya.”

“ karena ini buatan Tashaku. Kalau aku memberikannya padamu, kau akan memakannya langsung di tempat. Tapi kalau sungmin hyung, diapasti tahu keinginanku…”

“ aiissh..kau itu ribet sekali kyu……” ucap eunhyuk hyung, dari matanya aku tahu dia ingin mengambil sosis yanga da di bekalku. Dia menjulurkan tanganya. Aku memukulnya.

“ pelit sekali dirimu kyu…” ucap eunhyuk. Belum aku membalas perkataan eunhyuk hyung, shindong hyung melakukan hal yang sama seperti si monyet lakukan. Aku pun memukulnya juga.

“ kalian ini.. bisa diam tidak siy….”

Haha..mereka kesal. Dan pergi. Lebih baik begitu. Aku ingin menikmati masakan Tashaku…

“ apa kau tidak keterlaluan pada Tasha?”

“huh?”

“ apa kau tak melihatnya? Dia sedih kyu…”

“ aku melakukan ini agar ia menyadari keberadaanku hyung…”

“ tanpa kau begituka dia sudah menyadari keberaaanmu kyu….”

“ egois kedengarannya.. tapi aku mau hanya aku yang ia sadari keberadaannya.”

“ aku mengeti. Seperti itulah perasaanku pada Minra..”

“ dia pasti kembali hyung…” ucapku meberi semangat…..

Sungmin hyung beranjak… “ aku pergi..”

Aku tak merespon.. terbenam pada kejadian barusan. Saat Tasha tiba-tiba datang dan mengajakku genjatan senjata. Haaah..apapun yang ia lakukan, benar-benar membuatku tak tahan untuk memeluknya.

Satu hari kemaren benar-benar membuatku repot. Hampir saja aku kelepasan kontrol saat melihatnya mencoba tersenyum ke arahku.. senyumnya. Senyum yang selalu aku rindukan. Tuhan…sampai kapa ini harus berlangsung?

Aku mengeluarkan ponselku. “ tuan park, bisa kau menjalankannya sekarang? Ehm… terima kasih..”

@@@@@@@

Tesha pov

Mwo…apa penderitaanku tak cukup? Setelah aku satu sekolah, satu kelas, dan satu bangku dengan namja dingin itu. Sekarang aku harus satu rumah dengannya? OMO…..kenapa hidup benar-benar tak adil padaku.

21

[Freelance] KyuWhite

Mi-cha present : “Kyu White” a parody of Snow Whiite :D

Title                 : Kyu White

Author  : Elzami Haqie (yeoja)

Length  : Oneshot

Genre              : Humor (jayus kayaknya)

Rating              : G

Cast  : Kyuhyun, Heechul, Super Junior, Lee Soo Man, Sunny

Disclaimer : Semua bukan milik saya kecuali plot dan Kyu tentunya

Ps. Aku mau jelasin nih, disini Heechul ama Kyuhyun oppa jadi cewek yaa dan semuanya author POV

Annyeong, ini ff pertama saya yang dapat dipastikan ini adalah ff gagal karena ini jayus. yak, tahukah anda, *tentu aja engga soalnya belum dikasi tau* bahwa saya dapat ide setelah liat iklan kartu as yg snow white itu looh, juga setelah saya nonton EHB ep 12 yg nahan nafas di air itu, dan Super Junior’s Foresight episode 12 *reader : gimana bisa?* *Author : yaa, bisa saja* Eh, temen-temenku yang namanya kesebut juga guru ips satu-satunya(?), Pak Sarjono, pinjem nama yaa, kekeke. Disini soalnya saya dan kawan-kawan mo ngeksis…Okeh, cekidot!

Once upon a time *sok inggrisan* disebuah kerajaan yang bernama Junior Super Kingdom *males nyari nama, hehe* hiduplah seorang putri cantik nan tampan(?) yang bernama Kyu White. Kenapa ia namanya seperti itu? Karena ibunya yang ngasih nama karena kulitnya putih seperti salju. Terutama wajahnya, meski wajahnya berlubang-lubang(?) tak halus bekas jerawat karena dia ga doyan sayur.

Nah, Kyu White ini ceritanya ibunya udah mati saat umurnya 10 tahun, jadi bapaknya, sang raja menikah setahun kemudian lagi dengan wanita yang sangat cantik dan putih tapi sadis dan kejam, teriakannya bisa bikin budeg seketika *digolok Chulppa* yang bernama Queen Chullie. 2 bulan setelah menikah, sang raja ditemukan tewas karena keselek mahkotanya(?), sehingga Queen Chullie menjadi penguasa Junior Super Kingdom. Hingga menyebabkan kesadisan Queen Chullie pada Kyu White pun semakin menjadi-jadi.

5 tahun kemudian….

Kyu White tumbuh dewasa. Ia menjadis semakin cantik dan tampan(?) yang tergila-gila pada game. Selain itu karena ajaran ibu tirinya ia jadi punya evil personality. Dan kulitnya pun semakin putih dan wajahnya masih tetap jerawatan karma ia masih tak suka sayur.

Melihat kulit Kyu White yang putih, Queen Chullie takut tersaingi. Ia tak mau gelar Milky Skinnya direbut Kyu White. Oleh karenanya, suatu hari ia memanggil pengawal sekaligus selingkuhannya, Pengawal Siwon (Pacarnya Sir Hangeng lagi di China)

Chullie             : “Honey, sini deh”

Siwon              : “Ne, jagii. I’m coming!!” *cengar cengir bayangin Siwon kek gini*

Chullie             : “Honey, gini nih, aku lagi takut gelar Milky Skinku direbut Kyu White”

Siwon              : “Oh, terus aku musti gimana jagi? Njemur Kyu White biar item?”

Chullie             : “Kalo Cuma dijemur ntar bisa putih lagi. Aku maunya kamu masak  Kyu White buat dijadiin makanannya  Heebum, oke?”(pake tatapan  ngancem ala Chullie yg bikin Siwon mengkeret, abs-nya langsung ilang semua, badannya jadi kerempeng,  kulit pucet jadi kaya zombie…) #BUGH *digebug Petals ama Siwonest

Siwon              : “MWO?! Ah, nn..ne.. Akan kulakukan sekarang” (takut-takut)

Chullie             : “Thanks Honeyy!!” (peluk n cium Siwon) *aku juga mauu!!!*

Akhirnya, Kyu White digiring *kaya hewan deh* ke dapur. Namun ternyata, Koki Shindong dan Pengawal Siwon tidak tega memasak Kyu White. Akhirnya, mereka menitipkan Kyu White pada truk sampah yang lewat istana(?) untuk kabur ke hutan. Sebelum kabur, Pengawal Siwon menjelaskan semua pada Kyu White dengan singkat padat jelas terpercaya tajam setajam Silet! *PLAK!*

Siwon              : “Nona Kyu White,pergilah kalu kau tak mau dijadikan makanannnya Heebum oleh Queen Chullie yang takut tersaingi oleh putihnya kulitmu”

Kyu                  : “MWO!! Ah, okelah kalo begitu…tapi…”

Shindong         : “Tapi apa nona Kyu White? Cepet bilang!”

Kyu                  : “PSP-ku dan Uang sakunya mana? PSP nya buat mainan, takutnya ntar dihutan bosen trus uangnya buat beli makan kalo laper” (ShinWon jatuh)

Siwon              : “Yak! Ini udah kusiapin, sekarang cepet pergi.Hush!!”

Kyu                  : “Yee, ama putri kok kaya ama kucing. Yaudah, byee!” (dadah2 najong)

Akhirnya Kyu White berangkat ke hutan dengan menumpang truk sampah. Akhirnya, dia sampai di hutan yang sepi itu, SuJu Forest *ketauan males banget nyari nama*. Ia berjalan masuk kehutan, dan mulai mengeksplor *jiah, bahasanya* hutan.

Kyu                  : “Ini hutan ko sepi banget ya. Dari tadi Cuma liat ular, singa, monyet, kupu-kupu, ulat, semut, kucing, penguin(?) sama pohon…”. *Author :Hooii!!! Kyu, itu mah rame oon! Katanya juara olimpiade matematika* *Kyu : lha, yang bikin dialog sapa coba? Jagi yang oon tuh kamu. Gue kan Cuma acting disini* *Author : iya ya..oohh. Sori bro, Heheh”

Sore harinya, perut Kyu White berkeruyuk keras, tandanya ia lapar kalo jantung berhenti berdetak tandanya mati. Oleh karenanya, ia berkeliling hutan kalau-kalau nemu makanan atau penjual makanan. Tapi yang ada dia malah tersesat jauh sampe ketengah hutan, tepatnya di sebuah padang rumput, di tepi sebuah sungai.

Kyu  : “Aduh, laper nih…mana kaga ada yang jualan makanan disini *yaiyalah orang di hutan*. yang ada cuma rumput. Huwee, aku laper. Hiks.. hiks. Ya udah deh, aku makan rumput aja, daripada gamakan sama sekali.sama aja kaya makan sayur kan…”

Kemudian, Kyu White mencabut segenggam rumput dan mulai memakannya layaknya binatang ternak #DHUAR!! *di-bom SparKYU* Setelah selesai makan, tiba-tiba Kyu White merasakan perutnya sakit hebat layaknya orang mau melahirkan

Kyu                  : “Aduuhh…perutku sakit. Huwee tolongin aku… Sakiittt…” (sambil  nggelinjang geje kaya ulet)

Di seberang sungai, ternyata ada 7 kurcaci bersaudara baru pulang kerja. Mereka adalah Kurcaci Leeteuk, Yesung, Kangin, Eunhyuk, Donghae, Ryeowook dan Kibum. Waktu mau nyebrang jembatan, si kurcaci tertua, Leeteuk yang ada didepan melihat pemandangan jannggal. Seorang gadis cantik sedang guling-guling ditanah dan menggelinjang sambil megangin perutnya + ekspresi kesakitan. Karna kasihan, dia terus ngajak adik-adiknya mendekati si gadis untuk menolongnya.

Leeteuk          : “Hei, kenapa mba? Butuh bantuan?”

Kyu                  : “Huwee…Aku butuh bantuan, perutku sakit abis makanin rumput disini”

Leeteuk           : “Yaa, jelas saja perutmu sakit, oon banget sih. Yaudahlah, ayo semua, gotong cewe ini kerumah.”

6 kurcaci         : “Ne, hyung”

Akhirnya, Kyu White pun dibawa kerumah para kurcaci dan diberi obat. Semua kurcaci berkumpul mengelilingi Kyu White kecuali Ryeowook yang sedang membuat makanan.

Leeteuk           : “Ehm, annyeong, Leeteuk imnida. Ini adik-adikku, Yesung, Kangin, Eunhyuk, Donghae, Kibum dan yang didapur Ryeowook. Anggap saja ini rumah sendiri dan tak usah segan”

Kyu                  : “Annyeong, Kyu White imnida, makasih buat bantuannya. Oh, iya kamar mandi dimana? Aku mau mandi, siapin air panas gih!”

Kangin             : “Yaa, udah ditolong malah begitu. Huh! Kami ini lebih tua darimu”

Segera saja, Kyu White memancarkan Death-Glare yang membuat semuanya ciut dan bubar meninggalkan Kyu White serta menyiapkan air untuk mandi.

Ryeowook       : “Annyeong, Ryeowook imnida., ini sup-nya. Dihabiskan yaa.”

Kyu                  : “Ah, annyeong Ryeowook, Kyu White imnida. Makasi makanannya.”

Ryeowook       : “Nama yang bagus. Panggil saja aku Wookie oppa. Tak usah segan -segan. Anggap saja ini rumah sendiri”

Kyu                  : “ap tu yu. Ngomong-ngomong, supnya diganti dong, aku tak suka Sayur. Juga ambilin minum gih. Juga siapkan tempat tidur ya, aku cape” (Ryeowook cuma mlongo dan segera menukar supnya gara-gara tatapan tajam Kyu White)

Setelah puas makan dan tidur, Kyu White segera tidur diatas ke-7 ranjang para kurcaci tanpa gosok gigi, cuci muka, pipis, apalagi solat *pletak* udah gitu tidurnya ngorok pula. Para kurcaci pun geram, terutama si galak Kangin *dor!* *ditembak Kangin oppa pake pistol pinjeman tempat dia wamil*

Kangin             : “hyung, di nyebelin banget. Tau gitu tadi ga usah ditolongin aja. Sekarang kita tidurnya gimana, ranjangnya dipake dia semua udah gitu ngorok keras banget lagi.”

Leeteuk           : “Hmmm, mikir dulu neh….. Aha! Glindingin aja dia biar tidur dilantai trus Tutupin mukanya pake bantal. Selese deh!”

6 kurcaci         : “seSUJU!!! Mari glindingin Kyu White rame-rame”

Akhirnya Kyu White diglindingin kelantai dan mukanya ditutupin pake bantal, dan para kurcaci pun ikut tidur dengan damai diranjang masing-masing. Paginya saat bangun akhirnya Kyu White ngamuk marah-marah. Kemarahannya meluap hebat laksana Godzilla lagi ngamuk menghancurkan rumah para kurcaci, memukuli para kurcaci dengan membabi buta *dikeroyok Suju*. Akhirnya para kurcaci berangkat kerja dengan tubuh lebam diiringi umpatan Kyu White.

Kyu                  : “Dasar. Kurcaci kurang ajar ama putrid. Pokoknya awas kalo pulang Kaga bawa apa-apa. Kugorok satu-satu *merinding sendiri*”

7 kurcaci         : “hiks…iya. Kita bakal kerja bener bener kok..”

Kyu                  : “Ya udah cepet berangkat. Lama amat sih. Hush!”

………………

Setelah, para kurcaci berangkat kerja, maka Kyu White sendirian di rumah. Ia bingung hendak melakukan apa. Kemudian, dia teringat, akan hal yang disayanginya, dicintainya, dibanggakannya seumur hidup…….. yakni sang PSP tercinta. Dan segera saja, Kyu White merogoh kantong ajaibnya *kyu : lo kata gue doraemon?! Pake kantong ajaib segala* *Author : yaa, abis aku keingat hari sabtu pas olahraga bareng anak 8F ngomongin Aji kusuma dan doraemon bareng nita, detika, sama tina* *Kyu : hah?! Aji Kusuma? Nita? Detika? Tina? Siapa tuh?* *Author : Aji ketua OSIS di sekolahku, yang 3 terakhir itu temenku*…. *Oke, itu gapenting banget, sekarang balik lagi ke kyu, oke?!*

Kyu merogoh saku gaunnya dan mengambil PSP-nya. Dan kemudian larut dalam Starcraft tanpa membersihkan rumah apalagi memasak seperti yg dilakukan Snow White ‘asli’.

………………

Sementara itu, di halaman istana Junior Super Kingdom tepatnya didepan air mancur, Queen Chullie sedang bercakap-cakap dengan kucingnya, Heebum karena dia udah gila #DOR! *ditembak bang ichul(?)* buksn, itu karena Heebum adalah kucing ajaib yang dilahirkan dari perkawinan peramal kerajaan seberang dengan seekor kucing Persia(?)

Chullie            : “Heebum my ket (cat), sini dong.. kurr..kurr…”

Heebum         : “Aku ini kucing ajaib miaw, bukan ayam, miaww…”

Chullie            : “Omaigot! Sorry sorry naega naega meonjeo nege nege ppajyeo ppajyeo beoryeo baby. Sori ya bum!”

Heebum         : “Shawty shawty nuni busyeo busyeo sumi makhyeo makhyeo makhyeo naega michyeo michyeo baby miaw.Oke, miaw. Sekarang, apa yang mau kamu tanyain miaw?”

Chullie            : “Gini, secara ya, terakhir aku nanya kamu, aku tuh yang paling putih, apakah sekarang masih aku yang paling putih? *nada genit*

Heebum         : “Hemmm.. aku mau nerawang dullu ya miaw… *dilihat, diraba, diterawang! #PLAK* ha! Sudah kutemukan jawabannya miaw!”

Chullie            : “Siapa?! Apakah masih tetap aku yang paling cantik ini?!” *author mual à hamil! #BUGH abaikan*

Ternyata, si Heebum menggeleng dan menuju air mancur. Dia komat kamit setengah nyanyi baca mantra buat ngedatengin kekuatannya. Mantranya : “Ada si Heebum sedang nglayanin Queen Chullieee….miaw! Konon katanya ada yang lebih putih darinyaa… uyeeeeeeee!!! Kekuatan, datanglah!! MIAWWW!!!”

Kemudian Heebum menyentuhkan salah satu kakinya ke permukaan air. Lalu, tampaklah seorang gadis sedang main PSP sambil ongkang-ongkang. Queen Chullie menyipitkan matanya, sesaat kemudian, dia sadar, itu KYU WHITE! Maka, murkalah dia.

Chullie            : “APA!!! KYU WHITE?!! Siwon honey pasti boong sama aku! Katanya Kyu White udah dimasak. Nyatanya, sekarang dia malah lagi main PSP dengan santainya! Awas Kyu White, kali ini aku turun tangan langsung melenyapkanmu! AAARRGGGHH!!! Siwoooonnnn!!!! Kita putus!” ( teriak-teriak ampe Siwon denger dan langsung kabur sambil ngehentak-hentakin kaki ke lantai batu ampe lantainya jebol)

*Author : Yaa, berhubung Siwon udah putus ama Chullie dan saya udah punya Kyu, jadi Siwon diobral! Uyee!! Siapa mau siwon? Siapa mau siwon? Hubungi 0852xxxxxxxx secepatnya!* *Author dibakar Siwon*

Kemudian, langsung saja Queen Chullie yang ternyata mempunyai kekuatan sihir masuk ke ruang eksperimen sihirnya untuk mencari cara melenyapkan Kyu White. Sekaligus menyiapkan boneka voodoo untuk nyantet Siwon. Sementara itu Siwon yang merasa dirinya dalam bahaya segera menemui kurcaci Yesung yang kerja sambilan jadi dukun untuk minta penangkal santet *Dikutuk Yesung*

…………………

7 hari kemudian….

Queen Chullie telah berhasil membuat ramuan yang akan membuat Kyu White mati. Dan rencananya, ia akan berpura-pura menjadi penjual sayur dan buah. Nantinya, ramuannya akan diteteskan ke sayur atau buah yang akan ia paksa untuk Kyu White makan. Dengan begitu Kyu White akan mati dan ia akan menjadi yang paling putih lagi. Hahaha! #evil laugh

Setelah semua persiapan selesai, pada pagi di hari Senin kira-kira pukul 10.00, Queen Chullie menyamar jadi nenek jelek keriputan dorong2 gerobak sayur buah teriak-teriak tanpa toa tapi bisa bikin kuping budeg *Dirajam Petals* didepan rumah kurcaci.

Chullie            : “Mba-mba dan ibu-ibu cantik ayo beli sayur dan buahnya, saya diskon nih. Yang jelek juga boleh beli kok, cuma harganya bakal saya tambahin. Eh, si mbak yang lagi maen PSP beli buah sama sayur sini, murah lhoo, bisa dimakan lagi *yaiyalah*. Daripada maen PSP kan PSP-nya kaga bisa dimakan *ega nyambung banget*”

Kyu White yang sedang main PSP diteras rumah kurcaci marah, gara-gara si nenek teriak-teriak dia jadi marah.

Kyu                  : “Heh, nek, udah deh jangan teriak-teriak lagi. Udah suara jelek muka jelek aku jadi kalah neh#DHUAR BUGH DOR KROMPYANG MIAW!! *dihancurkan dalam sekejap oleh Heechul oppa + petals*”

Chullie            : (dongkol setengah mati setengah idup) “yaa ndak usah marah dong mba, lagian kalo marah-marah ntar laper loh..”

Kyu                  : “Hmmmm… iya juga ya, sekarang aku laper. Ada yang enak ga?”

Chullie            : “Tuh kan, saya saranin, yang disukai semua orang, nikmat membikin ngantuk kata Pak Sarjono…Kangkung!”

Kyu                  : “Yikes! Kamu pikir aku kelinci?! Pokoknya kaga mau sayur. Lagian sapa tu Pak Sar…sarji..eh Sarjono? Dari tadi author sableng ini bawa-bawa nama-nama aneh terus, aji, nita, detika, tina, sekarang sarjoni, eh sarjono huh!”

*Aji : woii, nyari masalah ya zam* *Nita : dasar,aku bilangin pak edi entar!* *Detika : iya iya, setuju sama nita* *Tina : Bakar aja si elzam!” *Pak Jon : nilai mu diturunin jadi 6…* *saya : TIDAAKKK!!!!* (KyuChul bengong ngeliatin ini orang pada ribut) #PLAK lupakan…

Back to the story…

Chullie            : “kalo gitu ini aja nih, apel. Enak lho…”

Kyu                  : “Yaa, apel kan juga makanan kelinci(?)! Pokoknya kaga mau semua makanan kelinci! Titik!”

Chullie            : (mulai jengkel lagi) “heehhh.. yaudah ini deh, duren. Kaga ada kelinci makan duren kok”

Kyu                  : “hemmm..yaudah deh, lagian aku lagi pengen mabok makan duren(?) aku beli satu deh”

Chullie            : “Gitu dong… aku pilihin dulu ya”

Saat Queen Chullie sedang memilihkan duren untuknya, Kyu White merasa bosan sehingga memutuskan main PSP lagi. Ini memberikan Queen Chullie meneteskan ramuan pada durian yang dipilih. Dalam hati ia bersorak karena ia sebentar lagi berhasil melenyapkan Kyu White.

Chullie            : “Mba, ini durennya. Mo nyicip dulu ga?”

Kyu                  : “yadeh, sini ambilin satu”

Maka Queen Chullie memberinya satu biji durian yang sudah ditetesi ramuan. Dengan lahapnya Kyu White memakan durian tersebut dengan nikmat… tak lama kemudian, Kyu White merasa kesakitan, pandangannya mulai kabur, kepalanya berdenyut hebat ia merasa akan segera pingsan….

*kyu : stop! Tunggu dulu* *author : aduuh ganggu banget sih. Apaan?* *kyu ambilin kasur dong* *author : jah, buat apaan?* *kyu : kalo aku pingsan dilantai kan sakit jatuhnya, trus gaunnya juga kotor* *author : eh gila lo ya! Mana ada orang pingsan sengaja ditadahin(?) kasur. Pingsan ya pingsan aja!* *kyu : lo udah pernah digebuk sparKYU belom? Kalo kaga mau digebuk mending ambilin kasur deh* *author : (mengkeret) i..iiya..aku ambilin deh. Jangan marah, peace!*

Lanjoot…!

Tiba-tiba datang seorang gadis cungkring gering misterius gotong-gotong kasur dan ditaruh persis dibawah Kyu White. Dan kemudian berlalu saja sambil menatap Kyu White dengan tatapan ‘sekarang-puas-belom?’-nya.

Kemudian Kyu White ambruk begitu saja diatas kasur. Queen Chullie lompat-lompat girang kaya anak TK dapet permen karena Kyu White sudah mati.

Chullie            : “berhasil berhasil hore! *lompat-lompat kaya dora the explorer bukan Theodora sekar avianita #PLAK* sekarang kamu udah mati Kyu White. Dan akulah yang paling putih sekarang, hahahahahahahahaha *evil laugh ato ketawa bonamana? Terserah kalian* bubyee Kyu White, sampai jumpa di akhirat…”

Maka Queen Chullie pulang ke istananya dengan hati gembira riang, eh riang gembira. Dan sorenya, saat para kurcaci pulang kerja, mereka mendapati Kyu White terkulai begitu saja di teras rumah dan mereka terkejut. Yang membuat mereka terkejut bukan karena Kyu White terkulai diteras, tetapi bagaimana bisa ada kasur diteras #plak.

Yesung           : “OMO! Kyu Whitee!!! Eottoke?!! Ireona…ireona, jebal” (sambil guncang-guncang kyu kaya di Super Junior’s Foresight episode 12 terus nyentuhin bagian atas bibir yang aku gatau namanya #PLAK kaya kebiasaannya Yesung)

Leeteuk          : (meriksa denyut nadi Kyu White) “Ani, ini pasti tidak benar… aduh plis Kyu White, meskipun kamu egois, nyebelin, evil banget jangan matii. Kyu White!”

Kangin            : “Kyu White mati?! Jinjja hyung?!”

Hening……..

7 kurcaci        : “Horee!!! Gabakal ada yang jahatin kita lagi. Yaay! Evil telah lenyap!”

*kyu : -speechless-* *author : sabar ya kyu, sebagai sesame evil, aku tau perasaanmu… sini kupeluk (senyum licik)” *kyu nangis mewek di pelukan author (author jerit-jerit kegirangan hamper pingsan saking senengnya, KALO ITU NYATA…)*

Kibum             : “Tapi hyung, dia ini putri loh. Kita harus hormat sama dia. Kita musti ngadain upacara pemakaman yang khidmat.”

Eunhyuk          : “iya ya. Tapi yang sederhana aja. Hemat duit. #PLETAK”

Leeteuk          : “okelah kalo begitu. Ayo semuanya, kita siapin upacara pemakaman ‘putri’ Kyu White”

Maka, diadakan lah upaca ra kematian Kyu White. Mereka menidurkan Kyu White diatas meja reyot ditengah hutan, dan disekelilingnya ditaburi kembang 7 rupa yang nyolong dari kuburan. Mereka mengelilinginya sambil pura-pura menangis kecuali donghae, eunhyuk, dan ryeowook yang udah dasar cengeng #PLAK. Didekat situ, seorang pangeran, Prince Sungmin yang sedang berburu lewat. Ia terpana melihat kecantikan dan ketampanan(?) Kyu White. Ia mendekati kelompok kecil itu dan…

Sungmin         : “Ehm, persimi, eh permisi kenapa gadis cantik ini tidur ditengah hutan begini?”

Leeteuk          : “Ah, dia sudah mati. Sepertinya kena kutukan atau semacamnya..”

Prince Sungmin yang pernah mempelajari ilmu sihir meneliti tubuh Kyu White, ia tahu ada cara untuk ‘membangunkan’ Kyu White

Maka, ia mendekati Kyu White, merapatkan tubuhnya, mendekatkan tangan dan wajahnya ke wajah Kyu White, kemudiann….

Dia membuka paksa mata Kyu White dengan tangannya pemirsa! Dan apa yang terjadi? OH, Kyu White terlonjak bangun, menatap Prince Sungmin dengan tatapan genit eh, cinta. Para kurcaci lalu benar-benar menangis, karena sang evil telah kembali.

Prince Sungmin meminta izin untuk memboyong Kyu White keistananya dan memperkenalkan Kyu White pada ayahnya, sang Raja.

Di istana…..

Sungmin         : “Ayahanda, perkenalkan, ini Kyu White”

Kyu                 : “Annyeonghaseo, Yang Mulia. Kyu White imnida!

Raja                : “Ah, annyeong Kyu White, Lee Soo Man imnida. Eh, Sungmin panggilin Sunny sana”

Kemudian Sungmin pergi sebentar dan kembali bersama seorang gadis.

Kyu                  : ”Annyeong, Kyu White imnida”

Sunny              : “Annyeong, Lee Sunkyu imnida, panggil saja Sunny, tunangan Prince Sungmin…”

Kyu                  : “Eh?! Tunangan? Tunangan Prince Sungmin?” (Sunny ngangguk)

Raja                : “Hahaha! Ini tunangan putraku, Prince Lee Sung Min. Mereka akan menikah minggu depan. Oh ya, Sungmin, Sunny bukankah kalian harus fitting baju pengantin, sana pergi.

SM+SN          : “Ne, kami pergi dulu yang mulia.”

Sepeninggal SunMin, Kyu White frustasi karena patah hati. Oleh karenanya ia mulai bernyanyi : “Oh, patah hati daku. Cinta bertepuk sebelah tangan, tak punya pacar tak punya kawan ibu tiripun jahat, malangnya akuuu…Uwwoooooo!!!”

Raja Soo Man yang mendengar nyanyian Kyu White terpesona dengan suara Kyu White. Kemudian ia mendekati Kyu White.

Raja                : “Kyu White, suaramu indah! Mau kukontrak di agency-ku SM Ent?

Kyu                  : “Mwo? Hem, daripada sedih terus gara-gara patah hati, ya sudahlah, Yang Mulia, aku terima tawaranmu.”

Begitulah, akhirnya Kyu White merintis karir sebagai penye. Dan ini ia sangat terkenal sebagai penyanyi berwajah dan bersuara malaikat namun berhati evil. Dan Queen Chullie yang tidak tahu apa-apa pun biasa-biasa saja karena memang tidak tahu apa-apa. Ia menghabiskan harinya dengan mengagumi diri sampai lupa ngasih makan Heebum sampai akhirnya Heebum mati. Dengan matinya Heebum Queen Chullie pun tak akan pernah tau bahwa Kyu White masih hidup. Dan they live happy happily ever after.

FIN

Tau artinya FIN? Tamat! Uyee FF pertama saya tamat! Haha. Saya bikin FF ini  gara-gara gabisa tidur akhirnya bikin ff ampe jam 3 pagi dan baru selesai setengahnya. Alhasil paginya dimarahin gara-gara molor terus *malah curcol* oke, makasih banget buat yang uda

8

[Freelance] 7 Days of Love [part 1]

Author: Lee Hyera aka Retha

Cast: Ok Taecyeon, Kim Heechul, 2PM, Miss A

Kategori: Romance

—————————

Annyeong!!

Oke jadi FF ini diadaptasi dari salah satu program MNet, yaitu MNet Scandal. Buat yang belum pernah nonton Mnet Scandal, silahkan nonton dulu, biar ngerti jalan ceritanya.

Oh ya, ada beberapa cerita yang memang aku ambil dari acara itu. Jadi jangan anggap aku plagiat ya.. hehehe ^^ daripada banyak omong, langsung baca aja ya :D :D :D

—————————

MNet Office 12:00 AM

“Bagaimana Taecyeon-ssi?” tanya salah seorang staff Mnet yang duduk berhadapan dengan Taecyeon. Taecyeon membaca script yang diberikan staff tersebut dengan teliti. “Kau dan Nickhun ‘kan sudah pernah ikut acara ini, jadi kita tidak perlu membicarakan hal teknisnya lagi” tambah staff itu.

Taecyeon menatap staff itu sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke script itu lagi. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.

“Atasanmu, manager dan para member akan menyetujui semua keputusanmu. Semua keputusan ada di tanganmu. Lagi pula, sewaktu kau dan Nickhun ikut acara ini, kita mendapatkan rating yang cukup tinggi. Apalagi, kau baru-baru saja membintangi drama yang terkenal” kata staff tersebut membujuk Taecyeon yang masih belum bersuara. “Apa kau tertarik?” tanyanya.

Taecyeon meletakkan script tersebut di mejanya lalu menatap staff itu. Ia nampak berpikir, takut kalau nanti akan terjadi gosip besar yang tidak diinginkan olehnya. Taecyeon menghela napasnya yang berat. “Baiklah, aku setuju” kata Taecyeon. Staff tersenyum senang.

“Dengan satu syarat” kata Taecyeon. Staff itu memasang wajah bingung. “Tidak pakai script. Semua dialog tidak menggunakan script, dan semua adegan harus berlangsung begitu saja. Bagaimana?” tanya Taecyeon. Staff tersebut terkejut.

“Kau yakin? Bicara dengan orang yang baru pertama kali kau temui tidaklah mudah, Taecyeon-ssi. Saya khawatir kalau nanti malah membuat penonton bosan” kata staff itu.

Taecyeon menggeleng, “Aku bosan kalau terus-terusan berakting dengan script. Ayolah PD-nim…” bujuk Taecyeon dengan aegyonya. Staff itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

————————-

DAY 1

“Baiklah Taecyeon, ini rumahnya.  Kau yang harus bilang semuanya pada gadis itu, aku tidak akan membantumu. Ingat, kamera akan selalu mengikuti kalian, jadi jagalah sikapmu. Arraseo?” tanya Minjae-hyung, sang manager, sebelum Taecyeon turun dari mobilnya. Minjae mengantarnya ke rumah calon yeojachingunya itu, diikuti para staff yang berbeda mobil dengan mereka. Taecyeon tersenyum manis dan mengangguk yakin.

“Aku turun dulu, hyung. Doakan aku, ya!” kata Taecyeon dan melambai pada sang manager. Lalu, mobil manager pun berlalu dari hadapannya. Kini tinggal dirinya dan para staff yang bekerja untuk syuting hari ini. Taecyeon menghadap ke kamera dan seperti biasa, berbasa-basi sedikit.

“Aigo, aku nervous sekali. Walaupun ini yang kedua kalinya, tapi aku betul-betul nervous. Semoga calon pacarku ini adalah gadis yang baik dan cantik. Ok Taecyeon fighting!” kata Taecyeon sambil mengepalkan tangannya.

“Apa kau tahu identitas yeojachingmu ini?” tanya salah satu staff yang ada di belakang kamera.

“Anio, aku tidak tahu dia sama sekali. Makannya aku gugup sekali sekarang. Apa aku sudah rapi?” tanyanya pada kamera TV tersebut. Kamera itu mengangguk-angguk. “Oke, mari kita ketuk pintunya” kata Taecyeon dan mengetuk pintu calon yeojachingunya itu.

———————

“Hyera-ya! Bangun! Ya, Kim Hyera! Bangun!”

“uhh.. Eomma, sebentar lagi. 5 menit lagi saja. Aku masih mengantuk” sahut gadis bernama Hyera itu dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut berwarna biru muda.

“YA! Bangun sekarang juga! Ada temanmu menunggu di ruang tamu! Teman lelakimu! Namjachingu baru, ya?” tanya eomma Hyera. Seketika itu juga, Hyera membuka selimutnya dan bangkit dari tidurnya.

“MWO? Namjachingu?? Aku belum punya namjachingu!” kata Hyera setengah berteriak, lalu kembali ke posisi tidurnya dan memeluk guling kesayangannya.

“Aish, Eomma serius! Temanmu menunggu di bawah. Dia bilang dia akan mengantarmu ke sekolah. Turunlah, paling tidak bicara dulu dengannya!” kata Eomma dan menarik Hyera dari tidurnya.

“Argghh! Arraseo, arraseo! Aku akan turun!” Hyera dengan kesal bangun dari tempat tidurnya dan keluar kamar. Ia mengambil sisir dan mengumpulkan kesadarannya dengan mencuci muka. Samar-samar ia bisa mendengar suara laki-laki yang belum pernah ia dengar, sedang berbicara dengan oppanya. Hyera pun menuruni anak tangga perlahan-lahan dan mengintip dari belakang tembok. Sayangnya, namja itu duduk membelakangi dirinya dan ia hanya melihat oppanya duduk berhadapan dengan namja itu.

“Hyera-ya! Kau sudah bangun akhirnya. Kemarilah!” kata Heechul, oppa Hyera. Hyera pun berjalan ke arah mereka dan namja itu pun menengokkan wajahnya ke arah Hyera. “Kau pasti sudah mengenalnya ‘kan?” tanya Heechul. Namja itu tersenyum manis pada Hyera. Hyera terdiam dan melongo.

Heechul tersenyum melihat adiknya hanya diam terkejut seperti itu. “Ah, maaf Taecyeon-ah, dia pasti terlalu shock melihat namja tampan sepertimu. Dia memang tidak terlalu terkenal di kalangan pria” ejek Heechul. Taecyeon hanya tersenyum mendengar kata-kata Heechul, ia menunggu apa yang akan dikatakan Hyera. Tapi akhirnya, Hyera membuka mulutnya.

“Neo…” katanya. “Nuguya?” tanya Hyera polos dan berhasil membuat 2 orang di hadapannya kaget setengah mati.

———————————

“YA! KIM HYERA! Neo micheoso?? Kau gila atau bodoh? Masa kau tidak mengenalnya? Kau datang dari abad 18 ya? Kau ini kuper sekali sih!” bentak Heechul. Mereka berdua kini berada di kamar Hyera di lantai 2 sehingga Taecyeon tidak akan mendengar pembicaraan mereka berdua.

Ketika Hyera dengan polosnya bertanya siapa namja yang mengobrol dengan oppanya, Heechul langsung berkata, “ah adikku ini belum terkumpul jiwanya. Makannya dia lupa siapa dirimu. Maaf ya Taecyeon-ah.. Aku akan membantunya mengumpulkan jiwanya dulu. Permisi.. Hehehe” kata Heechul sambil tersenyum paksa dan menarik Hyera ke kamarnya.

“OPPA! Jahat sekali kau mengatai adikmu sendiri seperti itu! Aku memang tidak mengenalnya!” teriak Hyera tidak kalah keras.

“Aisshh! Adik macam apa kau ini? Kau tidak tahu siapa dia?” tanya Heechul sekali lagi. Hyera menggeleng pasti. “Jinjjayo! Kau ini makhluk planet Bumi bukan sih? Kakakmu ini artis, masa kau tidak tahu namja itu yang artis juga?” bentak Heechul frustasi.

“Oppa ‘kan tahu sendiri, selama ini aku hanya menyukai boyband oppa! Aku hanya tahu Super Junior saja! Mana aku tahu soal boyband lainnya!” teriak Hyera tak kalah keras dengan oppanya. Sedangkan Heechul hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Yang kucintai itu, hanya satu orang! Oh.. Kyuhyun oppa –ku…” kata Hyera sambil memabyangkan dirinya dipeluk dan menjadi kekasih Kyuhyun.

“YAK!” teriak Heechul dan membangunkan adiknya dari mimpi gilanya di pagi hari. “Kau tahu, dia itu member 2PM! Kau tahu 2PM? Paling tidak, kau pernah mendengar namanya kan?” Hyera menggelengkan kepalanya tidak peduli. “Aish, kau ini orang Korea bukan sih? Namanya Ok Taecyeon! Masa kau tidak pernah mendengarnya?”

“Aku harus berapa kali bilang, aku buta soal boyband lain selain Super Junior!”

Heechul menghela nafasnya, tidak tahu harus berkata apalagi pada adiknya yang bodoh itu. “Yah, kau temui sajalah dia. Aku tak mau mencampuri urusan kalian. Jangan buat dia menunggumu terlalu lama” Heechul berkata sambil melengos keluar dari kamar Hyera dan Hyera, yang masih memakai piyama pink kesayangannya, memutuskan untuk menemui Taecyeon.

—————————–

“Jadi, er… Taecyeon-ssi, kenapa kau datang ke rumahku?” tanya Hyera judes. Hyera memang bukan gadis yang mudah ramah pada siapapun, termasuk orang terkenal seperti Taecyeon. Ia hanya bisa bersikap ramah pada keluarganya atau pada orang yang memang sudah dikenal lama olehnya, misalnya member Super Junior.

“Jadi Heechul-hyung belum memberi tahumu?” tanya Taecyeon. Hyera menggeleng kuat. Taecyeon pun menceritakan semuanya, mengenai variety show yang akan menampilkan mereka berdua sebagai pasangan kekasih selama 7 hari.

“MWO? NAMJACHINGU-KU?? KALIAN GILA?? Aku bahkan tidak tahu namamu kalau saja Heechul oppa tidak memberi tahuku barusan! Dan sekarang kau memintaku menjadi pacarmu di acara ini?” tanya Hyera yang masih kaget setengah mati.

Taecyeon menganggukkan kepalanya santai dan tersenyum menghadapi Hyera yang seperti anak kecil. “Tunggu, kau tidak tahu namaku? Wow, daebak!” lanjutnya sambil tertawa.

“Kameranya belum menyala ,‘kan?” tanya Hyera pada salah satu staff engan nada agak judes. Salah satu staff menjawabnya, “Tenang saja, Hyera-ssi. Belum ada yang kami rekam. Oh ya, kali ini kami memberi kesempatan untuk kalian berdua untuk tampil tanpa menggunakan script, jadi bersikaplah seperti biasa saja.”

“Tanpa script?” tanya Hyera bingung. “Lalu aku harus apa?”

“Ini permintaan Taecyeon-ssi. Ya, berusahalah untuk membangun suasana sebisamu, Hyera-ssi” kata salah satu staff dengan santai. Sedangkan mata Hyera sudah menatap tajam Taecyeon yang masih tenang dan santai menghadapi perempuan satu ini.

“Jadi, apa kau keberatan?” tanya Taecyeon.

“Tentu sa…”

“Tentu saja tidak!! Hyera sudah lama ingin punya pacar yang tampan sepertimu, Taecyeon-ah! Dia sangat siap untuk menjadi pacarmu!” teriak Heechul yang berada di lantai 2, diikuti senyuman dari para staff dan Taecyeon. “Kalau begitu, kita bisa mulai syuting ‘kan?” tanya Taecyeon.

‘MATI KAU KIM HEECHUL! LIHAT NANTI, KULEMPAR SEPATU KE WAJAH TAMPANMU ITU!’ batin Hyera dalam hatinya.

—————————————-

Pagi itu adalah hari pertama mereka melakukan syuting, Taecyeon mengantar Hyera ke sekolahnya. Mereka berdua kini berada di dalam bus menuju sekolah Hyera. Taecyeon, seperti biasa, mengenakan jaket berwarna hitam serta topi kesayangannya untuk menutupi identitasnya.

Beruntung di dalam bus itu masih sepu, sehingga tidak terlalu banyak orang yang curiga kalau mereka sedang melakukan syuting. Kamera pun sengaja ditempatkan di tempat yang tidak mencolok, tapi masih bisa merekam semua yang Taecyeon dan Hyera lakukan.

Hyera dan Taecyeon duduk di bangku paling belakang, dengan Hyera duduk di dekat jendela, sedangkan Taecyeon duduk 15 cm dari dirinya. Keduanya masih belum bicara apapun sejak mereka berada di bus tersebut. Padahal, salah satu staff sudah menyuruh Taecyeon untuk mengajak Hyera bicara.

“Satu, dua, tiga. Cue!” kata salah satu staff, yang menandakan syuting sudah dimulai. Keduanya masih diam.

“Kau sekolah di mana, Hyera-ssi?” tanya Taecyeon dengan sopan.

“Kangnam High School” jawab Hyera tanpa ekspresi, matanya masih menatap jalanan kota Seoul yang masih sepi.

“Bukankah itu sekolah terkenal? Kau pasti punya prestasi akademik yang baik, ‘kan?” tanya Taecyeon dengan nada yang mulai antusias. Bagaimanapun, sebagai idol, Taecyeon harus bisa membangun suasana agar tidak terlalu kaku.

“Tidak juga” jawab Hyera yang kemudian mengalihkan pandangannya ke Iphone hitam pemberian kakakknya. Membuat Taecyeon sedikit bingung harus berbuat apa, karena yeoja itu tidak bisa diajak bekerja sama.

“Aku tidak tahu kau adik dari Heechul-hyung” kata Taecyeon berbasa-basi sedikit. “Oppa dan dongsaeng sama-sama cantik”

“Gomawo, Taecyeon-ssi” Hyera masih belum melepaskan pandangannya dari Iphone miliknya.

“Jangan terlalu formal, panggil saja Taecyeon”

“Tapi kau jauh lebih tua dariku”

“Kalau begitu panggil saja aku dengan sebutan ‘oppa’” kata Taecyeon. Hyera menatapnya dengan pandangan terkejut. “Shireo!” ujarnya, kemudian kembali asik dengan Iphone-nya.

“Wae?? Kau bilang aku lebih tua darimu?”

“Itu panggilan untuk orang yang ingin romantis. Dan aku tidak suka hal-hal berbau romantis seperti itu. Jadi jangan harap aku akan menanggilmu ‘oppa’!”

“Arraseo, jagiya!” kata Taecyeon usil.

“YAK! Sudah kubilang! Cih, terserah kau sajalah. Aku pusing denganmu” kata Hyera menghentikan perdebatan mereka dan Taecyeon tersenyum menang. Sedangkan kamera masih merekam semua perdebatan dan dialog mereka berdua.

“Kau kelas berapa?”

“Tiga. Wae?”

“Berarti kau akan kuliah sebentar lagi?” tanya Taecyeon, dibalas anggukan Hyera yang masih asik (juga) dengan handphone. “Mau kuliah di mana?”

“Aku ingin satu kampus dengan Kyuhyun-oppa” jawab Hyera santai.

“Kyuhyun OPPA?” tanya Taecyeon yang menekankan kata ‘oppa’

“Waeyo? Kenapa kau terkejut? Ada yang salah?”

“Kau memanggil Kyuhyun dengan sebutan Oppa? Yah, aku ini pacarmu” kata Taecyeon pura-pura cemburu.

“Cish, sudah kubilang jangan harap aku memanggilmu oppa, Mr. Ok!” kata Hyera yang mulai melepaskan pandangannya dari layar handphone.

“Whoa! Kau ingat nama margaku!” kata Taecyeon bangga.

“Kau berlebihan sekali, sih. Jangan terlalu percaya diri, Mr. Ok” kata Hyera dengan nada mengejek.

“Arraseo, jagiya” kata Taecyeon sambil mengubah posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Hyera, lalu merangkul Hyera layaknya mereka berdua adalah sepasang kekasih. Hyera hendak protes, tapi Taecyeon langsung menunjuk ke arah kamera sambil tersenyum, membuat Hyera mendengus kesal dan menurut dengan Taecyeon. Lagi-lagi, Taecyeon tersenyum menang.

——————————-

Bus yang mereka tumpangi tiba di halte dekat Kangnam High School. Keduanya turun dari bus diikuti kamera yang masih menyala. Taecyeon merenggangkan kedua tangannya sedangkan Hyera bersiap untuk menjauhi kamera dan Taecyeon.

“Yak, kenapa buru-buru? Kameranya masih menyala” kata Taecyeon menghentikan langkah Hyera. “Apa sekolahmu masih jauh?”

“Anio, dekat sekali. Tinggal belok di perempatan di sana” Hyera menunjuk salah satu jalan yang berada 500 meter dari mereka. “Hanya 5 menit dari sini. Aku harus buru-buru, kalau terus di sini, bisa-bisa terlambat”

“Apa perlu aku ikut denganmu?”

“Tidak”

“Aku ingin menunjukkan bahwa aku adalah pacarmu” katanya Taecyeon sambil tertawa.

“Andwae! Apa kata teman-temanku nanti? Masuk ke sekolah itu sama dengan masuk ke jurang kematian! Mereka semua tergila-gila dengan boyband! Kau mau dikerubuti fans gilamu?” tanya Hyera kesal sambil melirik jam tangannya.

“Arra, arra. Aku tahu kau khawatir padaku”

“Cish.. Jangan beermimpi di pagi hari seperti ini, Mr. Ok!”

“Baiklah, jam berapa kau pulang? Aku akan menjemputmu di sini”

“Jam 2”

“Oke, hati-hati, ya” kata Taecyeon. Kemudia ia memberikan ciuman di pipi kanan Hyera, membuat Hyera terkejut dan bersiap melempar tasnya ke muka Taecyeon, sayangnya Taecyeon sudah keburu lari dari hadpannya.

‘Cih, dasar genit!’ batin Hyera dalam hatinya, kemudian berjalan menuju ke sekolahnya.

——————————

Hyera masuk ke kelasnya dengan lunglai, teman sekelasnya masih asik dengan kesibukan mereka masing-masing. Ada yang ribut meminjam contekan PR, ada yang mengobrol sendiri, bahkan ada yang menonton video yadong (-__-‘”). Hyera duduk di tempat duduknya yang termasuk belakang, kemudian meletakkan kepalanya di atas meja. Ia terlalu pusing pagi ini. Semuanya begitu membuat Hyera lelah, menjadi pacar seorang idola besar yang bahkan ia tidak mengenalnya sama sekali. Ia tahu ini hanya acara TV belaka, tapi bagaimana kalau ini menjadi skandal yang besar? Apa Taecyeon tidak memikirkannya sama sekali?

“Hyera-ya!” salah seorang teman dekat Hyera, Jung Eunji, menggebrak mejanya dengan keras, hingga membangunkan Hyera yang masih berwajah kusam. “Lihat ini!” kata Eunji yang memegang satu majalah dengan cover sebuah boyband terkenal yang tidak pernah dilihat Hyera sebelumnya. Eunji segera duduk di sebelah Hyera yang kembali ke posisi semulanya, menelungkupkan wajahnya di meja.

“2PM!” kata Eunji. Hyera membuka matanya, tapi belum mengangkat kepalanya sama sekali. Nama boyband yang baru tadi pagi ia dengar dari oppa-nya, kini didengar lagi dari sahabatnya. “Aigo, mereka tampan sekali. Lihat ini, semuanya punya abs. Aigo…” kata Eunji. “Lihat ini, Hyera-ya, jangan hanya melihat Super Junior saja! Walaupun kau ini adiknya Hee.. bmmfhhh” kata-kata Eunji terhenti karena tangan Hyera menutup mulutnya.

“Eunji-ya! Babo! Sudah kubilang jangan mengatakan itu keras-keras!” ujar Hyera dengan pelan sekali, tepat di telinga Eunji. Eunji hanya mengangguk dan Hyera melepaskan tangannya.

“Mianhe, aku keceplosan” kata Eunji sambil tersenyum, memperlihatkan giginya yang dikawat. “Baiklah, sampai mana tadi? Ini dia. Kim Junsu, Ok Taecyeon, Nickhun, Jang Wooyoung, Lee Junho, Hwang Chansung. Aigo.. tampan sekali mereka semua” kata Eunji masih memandangi keenam member tampan itu. “Kau mau kubacakan yang mana dulu, Hyera-ya? Taecyeon atau Junho?” tanya Eunji.

“Terserah kau saja, aku mau tidur” kata Hyera tidak peduli.

“Kalau begitu, dari Taecyeon saja. Aigo, kau tampan sekali Ok Taecyeon!” kata Eunji membuat telinga Hyera semakin panas. “Nama lengkap, Ok Taecyeon. Lahir tanggal 27 Desember 1988, berarti sekarang sudah 22 tahun. Wah, hanya berbeda 5 tahun! Posisi di 2PM sebagai rapper utama dan dancer. Selama 10 tahun tinggal di Busan dan 6 tahun tinggal di Boston, Amerika. Mempunyai 1 kakak perempuan. Taecyeon adalah member paling tinggi di 2PM, tingginya sekitar 185 cm. Taecyeon adalah member yang paling bisa memasak dibandingkan dengan yang lainnya. Selain itu Taecyeon dikenal sebagai member yang memiliki sense of fashion paling rendah, dia bisa mengenakan kaus kuning, celana oranye dan topi berwarna hijau dalam satu peristiwa.Makannya dia sering disebut Fashion Terrorist.” Eunji menelan ludahnya, kemudian melanjutkan membaca majalah itu. “Taecyeon memiliki satu kelemahan, giginya yang terlalu maju (=__=). Walaupun demikian, Taecyeon tetaplah salah satu penyanyi Korea yang tampan”

“Kau sudah selesai membaca belum? Aku bosan mendengarmu berbicara tentang boyand itu. Aku tidak suka mereka” kata Hyera pada Eunji yang hanya bisa melongo mendengar perkataan Hyera.

“Tapi, Hyera-ya, kau harus liat ini dulu! Jangan hanya Super Junior!”

“Berhentilah membacakan itu di depanku, atau mulutmu kusumpel dengan kaus kakiku?” tanya Hyera dengan nada datar, Eunji pun menciut dan diam. Walau begitu, Eunji masih tetap asik dengan majalah yang baru dibelinya.

‘Cih, apa bagusnya Taecyeon? Apa kata Eunji tadi? Fashion Terrorist? Dasar namja babo’ Hyera mendengus kesal dalam hatinya. ‘Kenapa begitu banyak wanita yang terpikat dengannya? Wajahnya memang lumayan, tapi badannya terlalu besar. Kurasa kalau aku jalan berjalan dengannya, dia seperti bodyguard-ku. Dan itu aneh. Aish, untuk apa aku pikirkan? Tidak penting…’

————————–

Hyera berjalan keluar dari gerbang sekolahnya menuju ke tempat yang sudah ditentukan staff Mnet agar mereka bisa menjemput Hyera dan melanjutkan syuting. Hyera mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri, tetapi tidak mendapati staff Mnet ada di situ. Tiba-tiba pandangannya gelap, Hyera mencoba meraba-raba tangan siapa yang menutupi pandangannya.

“Lepaskan tanganmu, Taecyeon-ssi. Ini seperti pasangan kekasih yang norak tau!” kata Hyera dengan nada judesnya. Taecyeon melepaskan tangannya.

“Kajja!” kata Taecyeon sambil menarik tangan Hyera menuju mobilnya.

“Yak! Lepaskan, banyak orang di sini!” Hyera mencoba melepaskan genggaman tangan Taecyeon, tapi tidak bisa. Akhirnya mereka berdua pun masuk ke mobil berwarna hitam itu. “Ini mobilmu?” tanya Hyera.

“Yup. Sudah dipasang kamera di sini” kata Taecyeon menunjuk ke atas kaca spion mobilnya. Ia kemudian menyalakan mesin mobilnya. “Tidak akan ada yang mengganggu kita di sini” kata Taecyeon bercanda.

“Jangan macam-macam padaku!” ancam Hyera. “Kita mau ke mana?” tanya Hyera lalu mengeluarkan Iphone dari tasnya, bersiap mengabaikan semua perkataan Taecyeon. Taecyeon dengan segera mengambil Iphone kesayangan Hyera dari tangannya.

“Yak, kembalikan handphone-ku! Atau kuadukan kau pada Heechul-oppa!” kata Hyera. Mobil Taecyeon mulai berjalan. “Ppali! Aku mau mendengarkan lagu!” katanya kesal.

“Ini handphonemu yang baru. Tada!” Taecyeon mengeluarkan sebuah handphone flip yang berwarna putih, dengan gantungan huruf ‘T’ dan ‘H’ di atasnya. “Oppamu yang menyuruhku mengambil handphonemu. Dia bilang kalau kau sudah memegang handphone kesayanganmu ini, kau akan lupa dunia luar” jawab Taecyeon santai.

“Lalu ini apa?” tanya Hyera sambil melihat-lihat handphone barunya itu. “Yak! Kenapa ada gantungan norak seperti ini! Aish, jinjja! Kau genit sekali, sih!”

“Itu handphone couple, untukku dan untukmu. Kita punya handphone yang sama dengan gantungan yang sama. Soal gantungan itu, sepertinya para staff yang membelinya. Hehehe” kata Taecyeon yang masih fokus pada jalanan Seoul yang cukup ramai. “Jadi jangan salahkan aku”

Hyera hanya mencibir pelan. “Kau belum jawab pertanyaanku, kita mau ke mana?”

“Ke kantorku. Tempat latihanku”

“Lalu aku harus menunggumu seharian di sana?” tanya Hyera bingung. Taecyeon menggeleng.

“Kau akan kukenalkan dengan member yang lain. Paling tidak kau harus akrab dengan mereka. Anggap saja mereka seperti Super Junior. Lagipula, di sana pasti ada Suzy atau Fei yang main ke kantor di siang bolong ini” kata Taecyeon.

“Suzy dan Fei itu siapa?” tanya Hyera polos. Taecyeon menepuk jidatnya keras.

“Aigo, aku lupa kalau kau baru saja pulang dari Zimbabwe!” kata Taecyeon jahil dan mengejek Hyera. Hyera memukul lengan Taecyeon dengan keras. Berhasil membuat Taecyeon meringis kesakitan. “Tenagamu seperti kingkong saja. Kau ikut klub angkat besi ya?”

“Terserah apa katamu saja, Mr. Ok”

“Kau tidak tahu Suzy dan Fei? Mereka member Miss A” kata Taecyeon. “Aku yakin kau tidak tahu Miss A” tambahnya dengan cepat.

“Kau pintar, Mr.Ok”

“Kau ini hanya tahu Super Junior saja? Jinjja?” tanya Taecyeon dengan nada merendahkan. “Hoa, Daebak! Kakakmu superstar, tapi adiknya seperti bukan orang Korea saja”

“Tidak juga! Aku kenal semua member SHINee dan SNSD! Aku kenal dengan Sooyoung dan Yoona onnie! Aku kenal Taeminnie, Jinki oppa dan Minho oppa!” kata Hyera tidak mau kalah dari Taecyeon.

“Kalau begitu, sekarang saatnya kenalan dengan 2PM! Cobalah memanggil mereka dengan sebutan ‘oppa’ juga” kata Taecyeon, Hyera hanya diam. “Lihat, ada toko cokelat! Kau mau cokelat?” tanya Taecyeon menepikan mobilnya dan mematikannya. Hyera pun turun dari mobil, diikuti Taecyeon.

“Tunggu” kata Taecyeon. Hyera menoleh ke arahnya.

“Tidak ada kamera ‘kan?” tanya Hyera.

“Kalau kita berjalan terpisah, malah dikira kau anak hilang. Sini, gandeng tanganku. Biar kita dikira sepasang kekasih” kata Taecyeon menggenggam tangan Hyera.

“Kau senang sekali membuat skandal,ya” Taecyeon hanya diam. Mereka berdua masuk ke dalam toko cokelat itu, disambut ajumma sang penjaga toko.

“Aigo, kau tampan sekali” kata ajumma itu. Taecyeon membungkukkan badannya, tanda terima kasih dan tersenyum padanya. “Kau yeojachingunya? Kalian serasi sekali. Cantik dan tampan..” tambah ajumma itu.

“Ah, ajumma bisa saja” kata Taecyeon sopan. “Hyera, kau mau cokelat? Ambillah” kata Taecyeon sambil memilih-milih cokelat untuk member 2PM yang lain.

Mereka selesai berbelanja dan berjalan ke kasir. “Aku bayar sendiri” kata Hyera. Taecyeon bingung. “Ini hanya cokelat kecil. Tidak perlu kau yang bayar” tambah Hyera. Hyera meraba tasnya, raut wajahnya menampakkan bahwa ia sedang bingung. Hyera mencari dompetnya lebih seksama.

“Wae?” tanya Taecyeon. “Dompetmu hilang?”

“Aigo! Dompetku tertinggal di rumah! Aish! Babo-ya!” kata Hyera menyesali perbuatannya.

“Ya sudah aku saja yang bayar” kata Taecyeon menggeser posisi Hyera dan mengeluarkan dompetnya. “Sesekali aku mentraktir pacarku, dong. Berapa ajumma semuanya?” Ajumma itu menyebutkan harga yang cukup mahal dan Taecyeon mengeluarkan beberapa lembar Won.

Mereka berdua keluar dari toko dan masuk ke dalam mobil. Taecyeon kembali menyalakan mesin mobilnya dan menyetir lagi.

“Gomawo. Mianhe, aku lupa membawa dompetku. Kau jadi harus membayar cukup mahal” kata Hyera, sambil membuka bungkus cokelat yang baru dibelinya.

“Gwenchana. Sekali-kali aku harus bersikap baik pada pacarku” kata Taecyeon dan tidak mengalihkan pandangannya dari jalan raya. “Oh ya, di handphonemu, apa nama kontak untukku?” tanya Taecyeon. Hyera mengambil handphone couplenya dan mngecek kontak di handphonenya.

“Hanya Ok Taecyeon. Memangnya kenapa?”

“Ganti saja, biar lebih romantis” kata Taecyeon. “Apa yang pantas untukku, ya? ‘Taecyeon tampan’ atau ‘Taecyeon imut’?

“Mr. Ok yang sangat tampan dan imut, kau ini narsis sekali sih. Apa tidak ada nama yang lebih baik dari itu? Misalnya..” Hyera tampak berpikir. “Fashion Terrorist? Atau Tuan Gigi Besar (-__-“)?” tanya Hyera dengan nada mengejek.

“Yak! Kau tahu dari mana soal gigiku? Kau mencarinya di internet? Aigo, rajin sekali pacarku ini” kata Taecyeon sambil mengacak-acak rambut Hyera.

“Seperrtinya Fashion Terrorist lebih baik. Aku tidak mau terlalu jahat untuk pacarku yang bergigi besar ini” kata Hyera, mengetik nama itu sebagai kontak Taecyeon di handphone miliknya. “Ngomong-ngomong gigimu itu apa benar dioperasi? Besar sekali, seperti gigi orang purba saja” kata Hyera sambil tertawa. Taecyeon hanya mencibir.

“Sekarang kau senang menjadikanku bahan olok-olokmu. Kau sama saja seperti member yang lain. Lagipula, inigigiku ini asli dari sananya! Enak saja operasi. Buang-buang duit aja” kata Taecyeon yang masih kesal. “Hyera-ya, jangan Fashion Terorrist. Itu tidak bermutu. OkCat saja! Aku suka nama itu”

“OkCat?” Hyera bingung, tapi menuruti apa kata Taecyeon. Menurutnya, nama itu lucu juga. “Apa di handphonemu juga ada namaku? Apa nickname untukku? Carilah yang bagus” kata Hyera sambil mengetik.

“Ini paling bagus, paling daebak!” kata Taecyeon bangga. “Beauty Evil! Bagaimana?” tanya Taecyeon memperlihatkan gigi-giginya yang besar. Hyera hanya diam mendengar perkataan Taecyeon. “Hyera, bagaimana? Keren tidak?”

“Kampungan” kata pedas Hyera membuat Taecyeon cemberut seketika.

————————————-

……JYP OFFICE 4.00 PM…..

“Annyeong!” kata member 2PM serentak dan bangkit berdiri, begitu melihat Taecyeon dan Hyera, serta staff dan kamera, memasuki ruang latihan mereka. Ternyata di sana tidak hanya ada member 2PM, sesuai dengan apa yang dikatakan Taecyeon, ada 2 member Miss A, Suzy dan Min.

“Kau pasti Kim Hyera? Yeojachingunya Taecyeon” kata Junho dari jauh. “Kau pasti sudah mengenal kami ‘kan?” tanyanya.

“Coba sebutkan nama kami satu per satu” Wooyoung menambahi. Hyera hanya bisa diam mendengar itu semua. Ia menoleh ke arah Taecyeon, meminta bantuan. Taecyeon hanya tersenyum dan mengangkat bahu lalu memberikan belanjaannya pada Fei. Dalam hati, Hyera mendengus kesal, bisa-bisanya dia terdampar bersama orang-orang berbadan besar tapi tampan dan sama sekali tidak dikenal olehnya. Kesan pertama Hyera melihat mereka adalah mereka seperti bodyguard, tidak seperti Super Junior yang rata-rata tidak terlalu tinggi.

“Eng.. Kau..” Hyera menunjuk Junsu. “Jun… Jun.. Jun..” kata-kata Hyera terputus.

“Jun apa? Junho atau Junsu?” tanya Nickhun menimpali. Hyera makin merasa bodoh. Kenapa dalam satu grup ada 2 orang yang mempunyai nama yang mirip. Membuatnya harus berpikir lebih keras untuk memilih. Dari jauh ia melihat Taecyeon sedang mentertawainya bersama 2 member Miss A itu.

“Engg.. kau Junho” kata Hyera polos. Seketika semua yang ada di dalam ruangan itu tertawa terbahak-bahak dan mengejek Junsu.

“Hyung, kau lihat ‘kan? Aku memang jarang muncul di TV, tapi aku selalu lebih terkenal darimu! Akui saja, hyung kalau aku memang terkenal!” kata Junho sambil tertawa. Junsu memukul Junho dengan sepatunya.

“Kalau dia siapa?” tanya Chansung menunjuk Nickhun.

“Ah, itu terlalu mudah, Chansung-ah!” kata Nickhun. Semua member menyoraki Nickhun yang terlalu percaya diri. Hyera menghela nafasnya, ia tidak hafal semua nama member 2PM. Beruntung tadi ia berhasil menebak nama depan Junsu.

“Annyeong! Suzy imnida ^^” kata Suzy dengan sopan. “Sepertinya kita seumuran?” tanyanya lagi. Hyera mengangguk sambil tersenyum memaksa. “Ya, aku lahir tahun 1993” kata Hyera.

“Wah! Aku 1994! Berarti aku harus memanggilmu onnie! Hyera-onnie!” sahut Suzy girang. “Ah, ini Min! Dia 2 tahun lebih tua darimu” kata Suzy mengenalkan perempuan yang bertubuh kecil dan berwajah imut seperti anak kecil itu.

“Annyeong” kata Min sambil tersenyum manis pada Hyera. Hyera terkejut. Berbeda 2 tahun tapi tingginya lebih rendah dari pada dirinya. Min terlihat seperti anak kelas 1 SMA.

“Nah kalau aku Wooyoung” timpal Wooyoung tiba-tiba dengan gaya perempuan. “Panggil aku oppa, ya!” kata Wooyong. Hyera hanya tersenyum memaksa dan menganggukan kepalanya.

“Hyera-ssi, kau memanggil Taecyeon apa? Oppa atau Yeobo?” tanya Junsu.

“Aku tidak memanggilnya oppa atau yeobo” kata Hyera. Yang lain bingung, sedangkan Taecyeon tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Lalu?” Chansung kembali bertanya, berharap jawaban yang menarik dari mulut Hyera.

“Aku memanggilnya Mr. Ok” jawab Hyera polos. Para member pun kecewa. “Yah, tidak romantis!” kata Wooyoung. “Apa kau sudah bergandengan tangan?” tanya Wooyoung lagi. Hyera mengangguk. Paling tidak sewaktu di toko cokelat itu dia sudah bergandengan dengan Taecyeon.

“Itu lebih baik daripada tidak. Hyera-ssi, kau harus bersikap romantis pada Taecyeon-hyung. Kalau tidak..” Junho memutuskan kata-katanya. Hyera bingung, memberikan tatapan ‘kalau tidak kenapa?’ pada Taecyeon. Taecyeon hanya tersenyum lagi, membuat Hyera kesal karena namja ini hanya bisa tersenyum di hadapan teman-temannya.

“Kalau tidak, kau akan didahului Nickhun!” kata Wooyoung, memperlihatkan adegan romantis Taecyeon dengan Nickhun. Nickhun mengelus pipi Taecyeon hingga ke bawah dagunya. Hyera membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan tatapan ‘iuh, dia aneh sekali’.

Para member pun berhenti bercanda dan melanjutkan latihannya. Kini Taecyeon ikut di dalamnya. Sesekali mereka melakukan sexy dance, apalagi Wooyoung. Membuat kedua member Miss A tertawa terbahak-bahak, tetapi tidak membuat Hyera tertawa sama sekali. Hyera hanya memaksa tersenyum sebagai ungkapan formalitas.

“Hyera-ssi, apa menurutmu, Taecyeon-oppa orang seperti apa?” tanya Suzy.

“Eh? Taecyeon… oppa?” ada yang janggal dari kalimat itu, membuat Hyera bertanya sekali lagi pada Suzy. Suzy menggangguk. “Apakah dia orang yang romantis menurutmu?” tanya Suzy penasaran.

“Haha. Bagaimana, ya? Aku belum mengenalnya sampai dalam. Jadi aku tidak tahu dia orang seperti apa” kata Hyera sambil tersenyum lagi. Sebenarnya Hyera ingin sekali mengatakan bahwa Taecyeon adalah orang paling aneh dan norak yang pernah ia temui. Semua orang menganggapnya cool, tapi menurutnya, Taecyeon tidak cool sama sekali.

“Kau harus lebih peka, Hyera-ssi. Taecyeon-oppa memang tidak pernah memperlihatkan perasaannya secara langsung, tapi ia selalu melakukan hal-hal kecil yang membuat wanita kagum dengan karismanya” kata Min menambahi. Hyera mengangguk. Hyera berpikir dalam hatinya, melakukan hal kecil katanya? Membuat wanita kagum? Cih, aku tidak akan termakan karisma gombal itu.

——————————————

Kruyuk kruyuk~

Bunyi suara perut Hyera yang meminta ‘setoran’ memecah kebisuan Taecyeon dan Hyera. Mereka berdua baru saja pulang dari kantor JYP. Entah mengapa, lama-kelamaan Hyera cukup nyaman berada di tempat itu. Mungkin karena ada Suzy dan Min yang menemaninya selama berjam-jam. Apalagi, member 2PM yang selalu bertingkah menyenangkan, membuat Hyera harus lebih sering melemaskan otot wajahnya dengan tertawa terbahak-bahak. Menurutnya, 2PM tidak terlalu buruk seperti apa yang dipikirkan.

“Kau lapar? Kita makan di sekitar sini saja. Sepertinya di sini banyak yang jual ddukbogi yang enak. Kau suka ddukbogi?” tanya Taecyeon sambil mencari-cari salah satu penjual ddukbogi langganan anak-anak 2PM.

“Kau ini idol, tapi untuk pacarmu sendiri pelit sekali. Masa hanya membelikanku ddukbogi?” ujar Hyera, sebenarnya Hyera sangat suka ddukbogi. Apalagi kalau ia sedang lapar, ia bisa menghabiskan banyak ddukbogi.

“habisnya, aku sudah lama tidak makan ddukbogi. Kapan lagi bisa makan ddukbogi bersamamu” matanya masih mencari tempat jual ddukbogi itu. “Ah itu, dia. Sepertinya parkir di sini saja. Ayo turun” Taecyeon mematikan mesin mobilnya dan melepas seatbeltnya. Hyera mengikutinya dan bertanya, “apa masih filming?” Taecyeon mengangguk.

“Pegang tanganku” kata Taecyeon memberikan tangannya pada Hyera. Hyera menolak, tapi Taecyeon keburu menggenggam tangannya tanpa ba-bi-bu. “Kau ini, pegangan tangan saja susah. Kita harus terlihat seperti pasangan tahu” kata Taecyeon pelan ketika kamera Mnet masih jauh dari pandangannya. “Kajja!”

Mereka berdua masuk ke salah satu penjual ddukbogi itu dan makan bersama. Sesekali Taecyeon menyuapi salah satu staff, maklum sudah malam, para staff ikut kelaparan. Kemudian ia menyuapi Hyera yang sedang asik makan ddukbogi sendirian. Hyera memalingkan kepalanya ketika Taecyeon menyuruh membuka mulutnya.

“Aaaa. Buka mulutmu” perintahnya.

“Shireo! Aku bukan anak kecil!” kata Hyera. “Suapi saja staff yang lain!”

“Kau ini anak kecil! Buka mulutmu” Taecyeon mendekatkan makanannya ke mulut Hyera dan memaksa Hyera membuka mulutnya. “Yak!!” Hyera berteriak dan membuka mulutnya lebar-lebar, dengan segera Taecyeon memasukkan makanan ke dalam mulut Hyera.

“Aku menang! Hahaha. Menurutlah padaku, Hyera-ya!” kata Taecyeon tertawa menang. Hyera memukul tangan Taecyeon dengan keras lagi dan membuat Taecyeon kesakitan.

“Lihat, kau makan saja belepotan seperti itu” kata Taecyeon. “Bersikaplah anggun sedikit, nona Hyera” Taecyeon mengambil  selembar tisu di meja dan membersihkan sisa makanan di pipi Hyera. “Aku tahu kau sedang kelaparan. Pelan-pelan seidkit. Kau ini perempuan, bukan preman”

Hyera hanya diam mendengar Taecyeon bicara. Di dalam hatinya, ada sedikit perasaan kagum pada Taecyeon yang selalu berbuat baik padanya. Tapi pikiran itu segera ditepis Hyera, mengingat ini semua adalah acara TV belaka, seorang idola haruslah bersikap baik pada gadisnya.

————————————–

“Sudah sampai, Nona Hyera yang manis” kata Taecyeon menyadarkan Hyera yang sedari tadi bermain game di handphone couplenya. Hyera menoleh ke jendela, rumahnya sudah di depan matanya. Dengan segera ia melepaskan seatbeltnya.

“Gomawo, Taecyeon-ssi. Terima kasih untuk cokelat dan makan malamnya”

“Never mind” Taecyeon terseyum manis. Hyera membuka pintunya. “Tunggu” kata Taecyeon. Hyera berbalik badan dan langsung saja Taecyeon memeluk Hyera dan memberinya ciuman di dahi Hyera. Hyera membelalakkan matanya dan tidak menolak dengan perlakuan lembut. Taecyeon melepas pelukannya. “Selamat Malam, Hyera-ssi”

Hyera tidak menjawab dan hanya tersenyum, menganggukan kepalanya dan keluar dari mobil Taecyeon. Tanpa melambaikan tangannya pada Taecyeon, Hyera langsung masuk ke dalam rumahnya. Mobil Taecyeon pun melaju kencang pada malam itu.

11

[Freelance] May I Love You [part 7]

 

Author : Wella

Tags : Sungmin, Leeteuk

Genre : Romance, angst

Sebelunya uda di post :

http://ourfanfictionhouse.wordpress.com/

Cerita sebelumnya :

Min Rin yang lebih mempercayai Sungmin akhirnya melarikan diri. Ia menyetir ugal-ugalan karena ingin secepatnya sampai di tempat dimana ia telah berjanji akan menemui Sungmin. Namun sayangnya sebelum Min Rin berhasil sampai dan menemui Sungmin sebuah kecelakaan menimpanya, akankah Min Rin berhasil mengalahkan mautnya atau…..

Your browser may not support display of this image.

Cast :

~ Park Jung Soo

~ Park Min Rin

~ Sungmin

~ XXX (Heed)

~ Jung Soo P.O.V ~

Aku bersumpah tidak akan membiarkan Min Rin menemui brengsek biadab itu, bagaimana bisa Min Rin lebih mempercayai dia dibanding aku yang telah bersamanya belasan tahun? Aku yakin Sungmin telah mengatakan sesuatu yang sangat mengerikan hingga Min Rin percaya begitu saja dan malah menuduhku memfitnah Sungmin.

Kalaupun aku harus mati itu lebih baik daripada Min Rin tersakiti, sampai titik dari terakhir pun aku akan mempertahankannya.

Betapa lengahnya aku sampai bisa membiarkan Min Rin lari dengan membawa mobilku, Sial! Hujan deras sekali dan Min Rin sudah pergi jauh dengan mobilku. Satu-satunya cara adalah mengejarnya dengan taksi, tapi itu tidak mudah untuk mencari taksi di malam dengan cuaca sejelek ini.

Seluruh badanku sudah basah akan terpaan hujan, persetan akan itu semua yang penting aku dapat mengejarnya dan menyelamatkan Min Rin.

Akhirnya aku berlari menyusuri jalanan yang dilewati Min Rin sambil mencari taksi yang lewat.

Tuhan begitu baik, sebuah taksi melaju mengarah kepadaku. Refleks saja kakiku berlari didepan taksi itu untuk memberhentikannya, aku tidak sama sekali berpikir kalau taksi itu bisa saja menabrakku yang ada hanya Min Rin an Min Rin

Taksi itu berdecit karena rem mendadak, bisa kulihat taksi itu membawa penumpang. Seorang namja duduk dijok belakang, ia menatapku bingung.

Tanpa minta izin aku langsung membuka pintu taksi itu

“Biar aku yang menyetir” kutarik sopir taksi itu dengan paksa agar membiarkanku duduk di jok pengemudi

“Yha!” ajussi yang kutarik itu agaknya terlampau shock hingga hanya bisa mengatakan’yha’

“Ini penting! Akan kubayar 1000x lebih mahal dari namja itu” tanpa melihat lagi aku menancap gas dengan kecepatan maksimal menyamakan Min Rin yang ugal-ugalan jauh di depanku

“Keluar! Aku bisa melaporkanmu pada polisi!” ajussi itu menarik-narik baju basahku

“Silahkan tapi setelah aku menyelamatkan adikku” aku tidak memperdulikannya dan masih mengejar mobil putih milikku itu

“Aku tidak peduli kau mau menyelamatkan siapa! Itu urusanmu! Sekarang keluar! Aku ada penumpang yang harus kuantar! Kalau mau mati jangan bawa kami” ajussi sialan itu tidak berhenti mengoceh dan memarahiku, siapa peduli? Aku tidak menghiraukannya sama sekali

“Yha kau budeg?! Aku ada penumpang! Berhenti atau aku yang akan menghentikanmu” pria paruh baya itu membelokkan setirku agar merapat kesamping namun dengan cepat aku membanting setir dan melanjutkan pekerjaan genting ini

“Gwaenchana, biarkan saja” namja yang daritadi diam itu akhirnya membuatku lega

“Ta… tapi”

“Tidak apa-apa, biar aku yang bayar. Sepertinya ini sangat penting, anggap saja aku minta diantar olehnya ke tempat yang akan ditujunya” aku mengintip dari kaca yang mengarah ke jok belakang, lelaki sejati itu tersenyum padaku, aku bersumpah akan membalasnya dengan hal yang luar biasa

“Gomawo, aku akan membalasmu nanti” kupalingkan pandanganku darinya dan kembali melanjutkannya

Apa Min Rin kerasukan? Sejak kapan dia menyetir seperti ini?! Hampir semua mobil menghidarinya dan mengklaksonnya agar berhenti namun semuanya sia-sia. Yang ada dia semakin ugal-ugalan

Tepat ketika ia melihat taksi yang kubawa mengejarnya, mobil yang dibawanya seakan terbang saking cepatnya

“Berpeganglah, pasang sabuk pengamanmu”  aku menatap ajussi itu, memperingatinya sebelum sesuatu terjadi

Agaknya ajussi itu mempelototiku saat aku menginjak pedal gas maksimal, aku hampir menyamai kecepatan Min Rin. Bagaimanapun dia seorang wanita dan aku tidak mungkn kalah darinya.

“Itu adikmu? Dia tangguh sepertinya” namja bermata sipit itu menatap mobil putihku dan menggeleng-geleng

“Dia wanita bodoh!” aku memutar tubuhku dan menatapnya, apa dia buta sampai tidak bisa membedakan?

“AWAS!!!!!!!” baru akan kulihat wajahnya, ia berteriak amat nyaring yang membuatku menginjak rem mendadak

Begitu aku melihat sebuah mobil Hummer biru mengahantam samping kiri mobilku rasanya aku akan pingsan.

Mobil itu seketika penyok………

Aku tidak peduli apa mobilku akan seperti apa, tapi Min Rin…..

Tanpa berpikir lagi langsung aku berlari sekencangnya kearah Min Rin

“Min Rin yha!!!!!!! Park Min Rin!!!” suaraku sudah bergetar ketika namanya kusebut

Aku berteriak histeris meminta bantuan pada orang-orang, air mataku sudah bercampur dengan air hujan yang menerpaku.

Aku memukul-mukul kaca mobilku agar pecah dan memberiku celah untuk membawa Min Rin keluar dari mobil yanf benar-benar rusak parah itu, bisa kulihat Min Rin yang terjepit di dalam, dari dahinya darah mengalir deras.

Dan ketika aku sedang berteriak meminta pertolongan aku melihat Sungmin, dia duduk di dalam mobilnya memandang kearahku. Senyum itu tersungging di mulutnya, dan mulutnya membentuk kata ‘Annyeong’ satelah itu ia membawa mobilnya pergi dari tempat itu. Aku tidak peduli lagi si bejat itu melakukan apa, yang kutau sekarang aku harus mengeluarkan Min Rin secepatnya.

Teriakanku semakin menggila karena tidak ada satu pun orang yang menolongku, orang-orang yang lewat tidak menghiraukanku sama sekali, apa mereka BUTA?!

“Aku sudah menelpon polisi, sebentar lagi mereka akan datang kesini” namja bermata sipit itu tiba-tiba saja ada dibelakangku

“Tapi adikku! Dia bisa mati kalau menunggu polisi datang!” tanpa sadar aku berteriak padanya, padahal dia sudah membantu sangat banyak

“Aku akan membantumu menggeluarkannya” dia meninju kaca mobilku dengan kepalannya, tangannya mengeluarkan darah namun kaca itu tidak juga pecah. Aku membantunya menghancurkan kaca itu, kami berdua memukul kaca itu semakin menggila sampai seseorang menepuk punggung kami

“Biar kubantu” ajussi sopir itu tersenyum padaku dan menghantam kaca mobil yang sudah mulai retak itu dengan sikunya, kaca itu akhirnya pecah juga namun hanya terdapat celah yang kecil sekali “Pakailah siku lenganmu, anak muda seperti kalian lebih kuat” ajussi itu mundur dan member tempat untukku dan namja yang tidak kukenal itu

Tanpa menunggu lagi aku langsung menggunakan lengan siku-ku untuk membuka kaca itu, kaca yang menancap dikulitku tidak lagi terasa sakit sekarang. Celah yang terbuka semakin lebar, secara bergiliran aku dan namja itu menghantukan siku kami untuk membuka kaca itu.

“Masuklah” namja itu menunjuk celah yang mengangga lebar yang kami buat, aku menggangguk dan langsung merayap masuk. Serpihan kaca yang tajam menusuk perutku bahkan ada beberapa yang menancap di perutku dan melukai kulitku, ini bukan masalah lagi sekarang, matipun tidak lagi masalah.

Celah itu sebenarnya tidak cukup luas untukku masuk namun karena kupaksakan akhirnya aku dapat masuk walaupun itu menyakiti diriku sendiri. Begitu tubuhku masuk semua aku langsung menarik Min Rin yang terkulai di tempatnya

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, langsung kubuka pintu yang terkunci dari dalam itu dan membawa Min Rin keluar dari mobil yang sudag peyot itu.

Begitu akan kumasukkan Min Rin kedalam taksi polisi sudah tiba dan memintaku untuk tinggal dan menjadi saksi dan juga karena mobil itu milikku jadi aku harus bertanggung jawab. Aku menolak berulang kali karena Min Rin berada dalam taksi dan harus kubawa ke Rumah Sakit secepatnya, namun polisi itu tidak mau tau sama sekali, kesabaranku sudah habis…

“APA NYAWA SESEORANG TIDAK PENTING?! AKU HANYA MENGANTARNYA! AKU AKAN BERTANGGUNG JAWAB!” aku meneriaki pollisi itu dengan geram, bagaimana bisa ia menyuruhku menjelaskan disaat segenting ini

“Biar aku yang mengantarnya ke Rumah Sakit, kau disini saja” namja paling baik hati itu menepuk punggungku dan masuk kedalam taksi bersama ajussi dan langsung melaju dari pandanganku

Semoga Min Rin tidak apa-apa, semoga…..

~ Author P.O.V ~

Kedua manja yang telah basah kuyup itu melaju menuju Rumah Sakit terdekat yang bisa mereka jangkau, gadis yang mereka bawa tidak sadarkan diri. Darah segar mengalir dari keningnya, darah mengalir dari keningnya yang bocor. Gadis itu sudah terlampau pucat, tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.

“Cepat! Nadinya semakin melemah!” pria berkumis yang mengenakan seragam panik karena nadi gadis itu semakin melemah

Namja yang disuruhnya itu hanya diam dan mempercepat laju mobil yang dibawanya, lampu merah dilanggarnya, klakson tidak dihiraukannya, bahkan ia tidak lagi melihat kiri kanan ketika membelok, mobil lainlah yang menghindarinya.

Setelah melawan maut akhirnya mereka sampai pada Rumah Sakit yang dituju, namja yang menyetir itu langsung menggendong gadis itu kedalam sembari berteriak kepada perawat yang ditemuinya, kepanikannya sudah mencapai titik puncak.

Gadis itu dibawa ke ruang ICU, karena lukanya yang juga parah maka tidak ada tempat lain lagi yang akan dibawa dokter untuk menyelamatkannya.

“Ajussi berapa yang harus kubayar? Biar aku yang bayar” namja itu menatap pria yang sebaya dengan ayahnya itu

“Ani, hanya jaga gadis itu. Kau sudah membayar semuanya dengan kebaikan hatimu” ia tersenyum dan menepuk lengan pria muda itu “Ajussi pamit, sampaikan salamku pada orang tadi ‘miane aku sudah kasar padamu, jaga adikmu dengan baik’ tolong sampaikan itu pada namja tadi” ajussi itu berjalan menjauhi pria yang mematung ditempatnya, senyum menghiasi kepergiannya, ada kebanggaan dalam dirinya melihat lengannya yang luka……

~ Jung Soo P.O.V ~

Semalaman aku ditahan dikantor polisi, kejadian semalam adalah murni kesalahan Min Rin. Keluarga dari pria yang mengaku ditabrak Min Rin meminta ganti rugi dan uang pengobatannya hingga pulih. Aku tidak menolak sama sekali, namun polisi ini menahanku padahal aku sudah berjanji untuk bertanggung jawab. Mereka tidak henti-hentinya menanyaiku pertanyaan konyol, apa mereka pikir aku punya mata dewa hingga bisa merekam semua kejadian itu secara jelas?! Tidak cukupkah dengan bertanggung jawab?!

Sebenarnya aku menjawab dengan sembarangan, aku tidak bisa menjawab lagi sebenarnya karena yang ada dibenakku hanya ada Min Rin dan Min Rin, apa dia baik-baik saja?!

Ketika polisi mengatakan aku boleh pergi rasanya aku akan terbang menuju Rumah Sakit yang paling dekat, aku tidak tau namja itu membawa Min Rin ke Rumah Sakit mana. Feelingku mengatakan kalau ia berada di Rumah Sakit yang paling dekat, tidak mungkin mereka membawa Min Rin ke Rumah Sakit yang jauh dalam keadaan sekarat seperti itu.

Dengan taksi aku berangkat ke Rumah Sakit yang terdekat, aku bertanya pada resepsionis apakah ada pasien bernama Park Min Rin namun data Min Rin tidak ada. Yang ada hanya seorang gadis yang tidak diketahui namanya, itu pasti Min Rin!

Aku mengikuti perawat itu menuju tempat dimana gadi itu dirawat, dan benar saja namja semalam itu duduk di depan pintu kamar ICU.

“Akhirnya” namja itu menatapku dan bernapas lega

“Bagaimana adikku?” aku tidak bisa lagi mengucapkan kata lain lagi, terima kasih saja tidak

“Dia belum sadarkan diri, dia kekurangan darah dan karena darahnya sama denganku aku mendonorkan darahku” aku menatapnya, dengan sekali lihat aku tau darahnya terkuras habis, wajahnya tidak lagi berwarna

“Aku tidak tau lagi apa yang harus kuucapkan padamu, aku tidak bisa mengucapkan terima kasih, itu tidak seimbang dengan apa yang telah kau lakukan” mataku berkaca-kaca sekarang

“Gwaenchana, untung saja darah adikmu AB” ia tertawa kecil, darah Min Rin memang AB. Darah eomma A dan appa B, Min Rin berdarah AB sedangkan aku A

“Mungkin jika tidak ada kau aku yakin aku ….”

“Adikmu cantik”

“Ne?! maksudmu?!”

“Tidak ada alasan untuk tidak menolong gadis malaikat sepertinya, kalau aku membiarkannya aku akan menyesal seumur hidup”

“Kau masih bisa bergurau?” aku tertawa kecil, bagaiman bisa dia mengatakan hal ini

“Aku menolongnya hanya karena aku tidak mau menyesal” pria itu tiba-tiba duduk di kursi

“Yha gwaenchana?!” aku duduk disampingnya dan menepuknya pelan

“Tidak makan, hanya kurang makan, aku lari dari rumahku” namja itu masih tersenyum

“Akan kubelikan makanan, siapa namamu?! Akan kuhubungi keluargamu” aku menepuk jaket kulit yang masih lembab ditubuhnya

“Jangan hubungi mereka, belikan saja aku makanan” ia mendorongku masih dengan senyumnya

“Baiklah, tunggu disini” aku bergegas dari tempatku

“Yha tunggu sebentar” ia memanggilku dengan suara lemahnya

“Wae?” aku membalikkan tubuhku

“Jangan masukkan daging, aku sedang diet” aku hanya bisa geleng-geleng, dia itu humoris atau tidak waras?!

Dia itu tidak makan berapa bulan?! Dia makan seperti ini makanan terakhir yang bisa dinikmatinya, tidak lebih dari 2 menit makanan yang kubelikan sudah ludes. Apa dia monster?!

“Apa perlu kubelikan lagi?” aku menatapnya kasian

“Eng? Ka..lau ka..u ma.u ke..na.pa tida…k?” dia menjawabku dengan mulut penuh

“Biar kubelikan lagi saja” aku berjalan lagi menuju kantin Rumah Sakit, apa pantas aku membayar jasanya dengan 2 bungkus nasi?!

Lagi-lagi dia melahapnya tanpa berhenti, aku jadi berpikir kalau dia bahkan sudah lama sekali tidak melihat nasi. Dia itu terlihat sangat polos, namja baik yang mungkin sangat jarang ditemui

“Kau baik sekali!” ia akhirnya bersuara setelah semua nasi itu habis tanpa tersisa sebutir pun

“Ini tidak ada apa-apanya dengan jasamu” aku menatapnya sambil tertawa kecil

“Begitukah? Kalau begitu kenalkan aku dengan malaikat itu, mungkin aku bisa menjadikannya istriku” ia berbicara begitu tanpa mimik yang serius, dia itu sedang bercanda bukan?!

“EH?!” aku kehilangan kata-kata, dia itu aneh

“Yha aku langsung suka padanya, meskipun dia berlumuran darah aku bisa melihat inner beauty-nya. Aku kabur karena dijodohkan, jadi kalau aku pulang dengan membawanya kemungkinan besar aku akan diizinkan menikah dengannya, boleh aku menikahinya?” namja ini kembali tersenyum padaku menampakkan gigi putihnya, sepertinya dia tidak sedang melucu

“Aku bahkan tidak kenal siapa kau, dan yang akan kau nikahi itu adikku bukan aku jadi kenapa kau bertanya padaku?!” aku menatapnya heran, entah kenapa aku tidak marah sama sekali ketika dia mengatakan akan menikahi Min Rin, mungkin kalau aku akan melepas Min Rin hanya pada dialah aku rela

“Ah betul. Kenalkan aku Kim Jong Woon, aku bekerja sebagai penyanyi kafe, setiap hari aku dimarahi orang tuaku karena aku menyanyi, aku pria yang baru pertama kali jatuh cinta dan itu dengan adikmu, siapa namanya?” ia berkata seakan dalam hidupnya tidak pernah ada masalah sama sekali

“Mwo?! Kau penyanyi? Kenapa aku tidak pernah melihatmu? Kau se..rius dengan perkataanmu?” aku menelan ludah, astaga dia ini manusia macam apa

“Aku penyanyi kafe, kalau kau sering ke kafe tempatku bekerja pasti kau akan tau. Hanya menunggu waktu saja sampai aku terkenal. Apa kau mau tanda tangan?” dia lagi-lagi tersenyum padaku, benar-benar namja aneh

“Tidak perlu” aku tertawa pelan menanggapinya, aku tidak yakin Min Rin akan menganggapnya

Siang itu aku lewati dengannya, dia itu namja yang nyentrik, aku menyukainya.

Aku terbangun  dari lelapku, aku tidak tidur semalaman jadi aku dengan gampangnya tidur di kursi tempatku menunggu Min Rin. Sudah malam ternyata, Jong Woon menghilang? Kemana dia?

Aku melihat ke ruangan Min Rin

MWO?!

Dia sudah berada disamping Min Rin?!

Dan…..

Min Rin tertawa bersamanya? Aku tidak pernah melihat Min Rin tertawa selepas ini sebelumnya, ini ajaib….

Aku membuka pintu kamar Min Rin, bisa kulihat perban diwajahnya, kakinya juga terluka, dia belum bisa duduk maupun bersandar, Min Rin hanya berbaring disamping Jong Won

“Kau sudah bangun? Yha adikmu lucu sekali! Dia tadi menangis dan sekarang tertawa! Dia mencari Sungmin! Siapa itu?! Bukankah namamu Jung Soo? Apa kau punya dua nama?” Jong Won mencercaku dengan begitu banyak pertanyaan, aku tidak memperdulikannya, yang ada diotakku hanya Min Rin

“Kau sudah baikan? Jangan mencari Sungmin, namja brengsek itu sudah pergi meninggalkanmu apa kau tau dia pergi begitu saja tanpa menolongmu? Dia bahkan tersenyum melihatmu! Dia mempermainkamu” aku mendekatkan diriku padanya

“Bohong….” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan suara bergetar

“Kau mau menangis lagi?! Yha kau bisa berubah dengan cepat! Yang kutau shi hanya kami bertiga yang menolongmu. Aku, oppamu dan ajussi, siapa itu Sungmin?” Jong Woon menatap Min Rin dengan tatapan bingung

“Katakan ini bohong… Sungmin tidak seperti itu” air mata Min Rin jatuh, dan sebelum air matanya jatuh menuju pipinya Jong Won menempelkan tangannya di pipi Min Rin

“Walau aku tidak tau siapa Sungmin, tapi aku bisa tau dia itu brengsek. Bagaimana bisa malaikatku menangis karenanya? Uljima…. Kan ada aku” Jong Won kembali tersenyum “Menikah saja denganku” Jong Woon tertawa pelan. Namun Min Rin tidak menanggapi Jong Woon

“Aku tidak percaya… aku harus menghubunginya” Min Rin mencoba bangun tetapi tidak bisa

“Yha kakimu itu tidak bsa digerakkan, kata dokter kakimu lumpuh temporer. Kau harus diterapi sampai bisa berjalan normal, mobil itu menjepit tubuhmu untung saja tulangmu tidak remuk, hanya lumpuh saja kok” Jong Woon menunjuk kaki Min Rin dengan santai, aku syock dengan perkatannnya tapi tidak bisa dipungkiri memamng luka Min Rin parah

“MWO?! Kau siapa?! Kuakui tadi kau bisa melucu dengan baik, tapi sekarang kau jadi menyebalkan!” Min Rin meneriaki Jong Woon keras

“Yha jangan begitu! Dia yang menolongmu, kalau tidak ada dia kau tidak akan selamat. Kau harusnya berterima kasih padanya bukan meneriakinya, cepat minta maaf” aku menatap Min Rin tidak suka, sejak mengenal Sungmin sikapnya jadi berubah drastis

“Aku tidak menyuruhnya menolongku” sekarang dia malah membalasku

“Kau sudah berubah, tunggulah pujangga hatimu itu, aku tidak mengerti lagi. Kau akan tau sebenarnya manusia macam apa dia itu, tunggulah dia” aku menarik Jong Woon keluar dari ruang Min Rin, aku sudah muak!

Sudah lewat dua minggu, namun Sungmin tidak pernah datang sekalipun. Aku tau Min Rin setiap hari mencoba menghubunginya tapi tetap saja tidak bisa. Awalnya hanya tidak diangkat namun lama-lama nomor Sungmin sudah tidak aktif lagi, aku yakin dia mengganti nomornya supaya tidak diganggu Min Rin lagi.

Aku tidak lagi menasehatinya, dia sudah besar, dia tau apa yang harus dilakukannya. Aku juga tau setiap malam Min Rin menangisi namja brengsek itu, entah kenapa aku tidak merasa kasian pada Min Rin. Dia terlalu bodoh sampai menangis setiap malam.

Aku sengaja tidak terlalu sering datang menjenguknya, aku sangat sibuk akhir-akhir ini dan juga aku ingin member kesempatan pada Jong Woon untuk mendekati Min Rin. Namja itu masih datang setiap hari, bahkan dia meginap di Rumah Sakit. Sepertinya dia tidak punya tempat tinggal lagi setelah kabur dari keluarganya.

Aku juga heran kenapa dia tidak menyerah saja, padah Min Rin tidak menganggapnya sama sekali, Min Rin sangat cuek padanya malah tidak jarang dia dimarahi Min Rin. Tapi tetap saja dia tersenyum dan melucu lagi, aku tidak tau isi hatinya seperti apa, kurasa dia juga akan bosan kalau setiap hari diperlakukan judes seperti ini.

Akhir-akhir ini aku sedang dekat dengan Hasang, aku perlu seseorang untukku bersandar disaat seperti ini, dan Hasang selalu ada untukku. Aku selalu curhat semua masalahku padanya bahkan aku juga mengatakan kalau aku mencintai Min Rin adikku.

Dia tidak memojokkanku dan juga dia selalu memberiku saran, dia sangat baik dan juga aku suka kepribadiannya.

Aku pernah mendegar kata orang kalau manusia yang bisa kita jatuhi cinta bukan satu orang, dulu aku menepis kata itu jauh-jauh, namun sekarang aku percaya akan kata itu. Perasaanku terhadap Min Rin semain berubah, aku tidak lagi suka Min Rin yang sekarang, dia bukan lagi yeoja yang kupuja, melainkan hanya adik yang kukasihani. Aku juga tidak tau kenapa aku bisa berubah, perasaaan cintaku yang teramat sangat sudah lenyap diganti aksih seorang oppa.

^^

~ Jong Woon P.O.V ~

Sungmin itu siapa shi?! Apa aku kurang ganteng sampai dia tidak menghiraukanku? Aku akui dia memang gadis yang cantik, tapi kalau dia terus menerus seperti ini aku harus pergi. Dia sepertinya membenciku, setiap ucapanku selalu dibantahnya, dia bahkan menangis disaatku melucu! Apa kehilangan seorang Sungmin begitu susah?! Padahal Sungmin tidak mengangkat telpon Min Rin, bahkan sekarang HP-nya sudat tidak aktif lagi.

Setiap hari aku menemaninya melakukan terapi, Jung Soo agak jarang datang. Sepertinya dia sibuk sekali, kalau datang juga malam dan hanya sebentar, aku jadi merasa seperti eomma Min Rin, haha.

Ini sudah sebulan, kurasa eomma pasti kelabakan mencariku. Bukankah sudah kubilang aku tidak mau dijodohkan? Mana mungkin aku hidup dengan orang yang baru kulihat. Tidak akan!

Apa mereka pikir aku peduli dengan perusahaan?! Apa mereka tidak pernah dengar kalau aku tidak akan bekerja dengan mereka?! Aku hanya akan menjadi penyanyi! Aku hanya melakukan hal yang kusenangi saja

Sebenarnya aku sudah akan pergi dari Rumah Sakit ini, aku tidak pernah dihiraukan. Sebagai seorang lelaki aku juga punya rasa malu dan gengsi, bagaimana mungkin aku masih saja berada ditempat yang bahkan aku tidak diharapkan?! Tapi semuanya berubah ketika Jung Soo memintaku agar tetap disamping Min Rin, dia menceritakan semuanya mulai dari masalah orang tuanya sampai tentang Sungmin.

Sebenarnya aku kaget tapi aku menanggapinya sesantai mungkin dengan mengatakan “Benarkah? Ah aku akan menjaga malaikatku lebih lama lagi, selamanya mungkin”

Terdengar mudah? Tapi sebenarnya aku juga merasa sakit, dan kata-kata itu akan benar-benar kulakukan, menjaga Min Rin seumur hidup.

Dan juga Jung Soo mengatakan kalau dia sempat mencintai Min Rin, aku juga kaget dengan yang ini tapi aku hanya membalas

“Lupakan itu, menikah dengan orang lain karena dia sudah ku-booking!” Jung Soo hanya tertawa mendengarku, kata Jung Soo itu hanya masa lalu. Dia sedang mendekati wanita lain, haha dia itu bodoh kalau kataku, bagaimana bisa dia melepas Min Rin. Kalau aku jadi dia aku tetap akan menikahi Min Rin, apa peduliku dengan sedarah atau tidak?! Apa salahnya? Orang saja bisa dengan santainya menunjukkan kalau dia menyukai sesama jenis, kenapa dia tidak? Haha aku yang bodoh atau dia shi!?

Apa yang harus kulakukan untuk mencairkan perasannnya dan mendapatkan perhatiannya? Dia itu seperti berhala yang kusembah, sial dia semakin membuatku penasaran.

Seharusnya aku menemui Sungmin dan bertanya padanya bagaimana trik yang tepat, ha jangan! Untuk apa aku menjadi orang lain? Aku harus tetap jadi diriku sendiri, aku pasti bisa meluluhkannya dengan caraku, pasti!

Kakinya baru bisa melangkah beberapa langakh kedepan, itupun masih bergetar hebat. Aku tidak bisa berhenti menertawakannya, aku selalu mengatakan

“Bagaimana bisa gadis sepertimu jalan seperti itu? Cacat!”

Dan aku dimarahinya lagi, aduh bagaimana bisa aku bisa membuatnya tertawa seperti pertama kali shi?! Huaaaaaaa aku bisa gila

~ Min Rin P.O.V ~

Aku sudah putus asa, aku bahkan membanting Hp-ku hingga bertebaran di lantai. Apa dia brengsek seperti yang dikatakan Jung Soo oppa? Tidak…. Aku tidak percaya….

Aku tidak bisa melupakan Sungmin, aku sudah memenuhi dinding Twitter-nya dengan pertanyaan yang selalu sama namun tidak ada respon darinya sam sekali. Air mataku tidak berhenti jatuh setiap kali mengingatnya….

Sampai siang ini, sepuluh menit sebelum terapi aku menyempatkan diri untuk mengecek apa dia ada membalas twit-ku atau tidak, dan twit-ku dib alas oleh orang lain

Aku tidak tau itu siapa yang kutau di menulis

@Mirhaemin : berhenti menggangu Sungmin! Apa kau tidak punya malu sampai melakukan ini pada namjachinggu orang?!, dia milikku

Darahku seakan membeku, apa maksud semua ini? Milikku?! Jadi semua kata oppa benar? Sungmin hanya mempermainkan aku?! Dia telah meninggalkanku?!

Aku menangis histeris, bagaimana bisa orang yang telah kupercaya, orang yang karena dia aku mengorbankan semuanya, orang yang hanya demi dia aku mengabaikan yang lainnya dan sekarang dia mengkhianatiku?! Badanku lemas……..

Aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku, aku telah melakukan hal terbodoh dengan mempercayai Sungmin….  Cintaku padanya begitu membutakan.

Sedih, bersalah, menyesal, galau, semuanya bercampur menjadi satu. Dunia bagai akan runtuh bagiku, sungguh aku menyesal….

“Yha wae?” namja yang selalu mengganguku itu lari menghampiriku, aku tidak menjawabnya sama sekali, aku hanya menangis terus tanpa menghiraukannya

“Menangislah” dia menelungkupkan kepalaku didada bidangnya, aku menangis lepas didadanya sedangkan dia terus membelai rambutku, hatiku sakit sekali rasanya aku mau mati saja…

Bajunya mulai basah, aku menarik kepalaku dari dadanya, aku merasa tidak enak padanya, kuhapus air mataku cepat

“Siapa yang menyuruhmu berhenti?!” dia lagi-lagi menarik kepalaku seenaknya, kapan dia bisa mengerti perasaan seorang gadis? Tidak bisakah dia bersikap sebagai seorang namja sekali saja?

Entah kenapa aku menangis lagi, tanganku memukul-mukul pundaknya sekuat yang aku bisa

“Kau brengsek!! Kau meninggalkanku! Dasar bajingan!!!!!!! Aku membencimu! Jangan lagi kemba….li” aku berteriak seakan Jong Woon adalah Sungmin si brengsek itu

“Huaaaaaaaaaaaaaaaaaa” aku menghantam Jong Woon dengan tinjuku, perasaanku ada baikan sedikit dengan memukul Jong Woon

“Kau monster! Berhenti memukulku! Sakit bodoh! Kalau mau hantam saja dinding!” Jong Woon melepasku dan melangkah menjauh dariku

“Biar aku saja” suara itu, Jung Soo oppa masuk dan memelukku erat “Pukul saja oppa bodohmu ini, miane…..” aku hanya diam entah kenapa aku tidak bisa memukul Jung Soo oppa

“Mian, mian mian…. Aku terlalu bodoh” air mata itu tidak bisa berhenti mengalir dari pelupuk mataku

“Gwaenchana, akhirnya kau sadar juga…. Kau tidak mau minta maaf pada Jong Woon?” Jung Soo oppa tersenyum padaku

“Eh?” aku melihat kearah Jong Woon, wajahnya yang kusut membuatku tertawa

“Apa lucu? Tanganku memar! Aku menyesal mencoba menjadi sandaranmu! Dasar monster” sekarang dia malah menatapku sinis

“Miane…” aku menghapus ingus yang belepotan karena tangisanku

“Aish jorok” Jong Woon mengeluarkan sapu tangan kuningnya dan menyodorkannya padaku “Pakai saja, aku tidak akan mengambilnya kembali, untukmu saja”

Aku mengelap hidungku secepat mungkin, wajahku mulai merah. Aku dibilang jorok oleh seorang namja? Aish bodohnya aku…..

“Aku sudah bisa menikahimu, kan?” dia menyeringai setan kearah Jung Soo oppa bukan padaku!

“MWO?!” aku berteriak kaget, apa-apaan dia? Aku baru patah hati dan dia melucu lagi?!

“Pacaran saja dulu, aku yang akan menikah dulu bukan kalian” Jung Soo oppa tertawa melihat tampangku, ini tidak benar! Bagaimana bisa Jung Soo oppa mengatakan hal ini? Bukannya dia mencintaiku? Dia tidak marah seperti ketika aku berpacaran dengan Sungmin dulu!

“Oppa….” Aku menatap Jung Soo oppa minta penjelasan

“Itu panjang ceritanya, oppamu ini sudah punya kekasih, aku tidak suka denganmu lagi gadis cengeng! Ada yeoja yang lebih baik darimu beribu kali lipat” Jung Soo oppa tertawa lagi, sepertinya virus gila Jong Woon sudah menularinya

“Benarkah? Syukurlah….” Aku mengusap dadaku lega, dia sudah normal!

“Ayo kita menikah” Jong Woon lagi-lagi ngebanyol, apa ini lucu? Tidak!!

“Aku sedang tidak mood mendengar ocehanmu” aku menatapnya sinis, apa dia tidak bisa mengubah hobinya saja, menggangu terus!

“Ah bukankah ini waktunya untuk terapi calon istriku?”

“Diam!” aku menutup mulutnya kesal, Jung Soo oppa malah tertawa, sial!

~ Author P.O.V ~

3 months later

Hubungan Jung Soo dan Hasang semakin serius, Jung Soo sudah mantap akan menikahi Hasang, sedangkan hubungan Min Rin dan Jong Woon tetap begitu(?)

Hubungan mereka sudah melampau pertemanan pada batas wajar, hanya saja Jong Woon tidak pernah mengungkapkan perasaannya ada Min Rin dan juga Min Rin tidak benar-benar mengerti hubungan apa yang mereka jalani karena keanehan Jong Woon

Keadaan Min Rin sudah pulih meskipun kakinya masih belum dapat diajak kompromi jika akan berjalan jauh, dan sasaran Min Rin pasti KIM JONG WOON

“Yha sebenarnya kau menganggapku apa shi?” Min Rin sudah tidak tahan lagi menanyakan hal yang sudah dipendamnya itu

“Aku sendiri tidak tau” Jong Woon menatap Min Rin bingung

“Yha! Jadi selama ini kau menganggapku apa?!” Min Rin nyaris berteriak

“Apa ya? Kau menganggapku apa?” Jong Woon malah balik bertanya

“Aish aku tidak akan mau jawab sebelum kau duluan”

“Bukan pacar” Jong Woon menatap Min Rin yang shock

“Bukan juga teman dekat” Jong Woon mengedipkan matanya pada Min Rin

“Lalu aku ini apa?” Min Rin sudah terlampau shock akan jawaban Jong Woon, jadi selama ini Jong Woon hanya menggapnya apa? Padahal hubungan mereka sudah sangat jauh

“Kau adalah gadis yang akan kukenalkan pada ommaku, gadis yang pertama kali kujatuhi cinta sekaligus terakhir, gadis yang dikirim Tuhan untuk kujadikan pajanganku, gadis yang akan kujaga bak berlian, gadis yang tidak akan kujadikan apa-apa selain istriku, gadis yang hanya dengan rahimnya anak-anakku akan lahir, gadis yang akan kupenjarakan dalam istanaku, gadis yang tidak akan pernah bisa lepas lagi dariku, itulah kau Park Min Rin” Jong Woon tertawa kecil melihat Min Rin yang hanya bisa melonggo “Tidak ada alasan lagi untuk menolakku”

“Kau ambil kata-kata itu dari novel mana? Aku harus membelinya” Min Rin masih melonggo tidak percaya

“Itu kuambil dari novel yang tersimpan dalam hatiku, kau tidak akan bisa membeli buku itu, kau harus membeli dengan pengarangnya juga”

“Kau yakin? Aku tidak mau pengarangnya, aku hanya mau kata-katanya saja” Min Rin tersenyum lepas

“Berarti kau hanya akan menerima jantung hati orang itu, dengan kata lain kau membunuhnya, itu tidak adil!” Jong Woon memandangi wajah gadis dihadapannya lekat-lekat, tidak akan ada wanita manapun yang akan menandingi keindahannya, dia terlalu sempurna

“Kenapa kau berubah? Biasanya kau tidak begini, wae?” Min Rin mendekatkan wajahnya pada Jong Woon

“Aku bukan namja yang bisa melakukan hal yang disukai oleh yeoja pada umumnya, aku payah dalam merayu, aku tidak bisa mengatakan hal-hal indah semanis madu, ucapanku lebih kearah racun pahit. Aku hanya mengatakan kebenaran, kalau aku tidak suka aku akan bilang aku benci, kalau aku suka aku akan bilang itu bagus, jika aku membencimu aku akan menyuruhmu jangan menemuiku lagi, kalau aku sakit aku akan mengatakan kau buruk. Tidak akan menjadi namja pengecut yang akan mengatakan gwaenchana padahal aku sangat tidak baik-baik, kalau aku tidak menyukaimu lagi aku akan bilang kau membosankan, dan kalau aku sudah suka pada seseorang dia tidak akan pernah kulepas lagi. Itulah aku Kim Jong Woon, jangan pernah main drama padaku” aku menggengam tangannya, rasanya hangat… jantungku memompa darah lebih cepat sepertinya

“Kau aneh….” Min Rin menatap Jong Woon tidak percaya

“Aku tidak tau apa yang Sungmin lakukan padamu, aku tidak tau apa yang dia lakukan padamu sampai kau begitu menggilainya. Mungkin aku tidak bisa memperlakukan seorang gadis dengan baik tapi aku bisa memperlakukan seorang manusia dengan baik. Aku tidak akan membuat seseorang menangis karena aku, kalau aku akan meninggalkanmu aku akan melakukannya dengan cara yang baik, bukan membiarkanmu menemui maut. Kalau aku meyukaimu aku tidak akan mengatakan sarange, tidak akan pernah. Cukup dengan satu kata, menikahlah denganku” Jong Woon mengeluarkan unek-uneknya, ada kelegaan yang dirasakannya

“Kau me..lamar..ku?”

“Sejak kapan aku melamarmu? Aku hanya mengatakan perumpamaan, asal kau tau aku tidak perlu melamarmu, aku sudah membookingmu, tidak perlu mengatakan hal-hal menjijikan, hanya lakukan dengan tindakan saja” Jong Woon senyum

“Apa kau tau aku menyukaimu tapi dalam hatiku masih ada tempat kosong untuk Sungmin, mungkin kalau dia datang lagi aku akan meninggalkanmu dan pergi bersamanya” Min Rin melepas tangan Jong Woon cepat

“Tidak apa-apa, aku tinggal mengusirnya dari hatimu”

“Semudah itu? Bagimana caranya?”

“Mudah, menikahimu lalu menghamilimu dan punya anak sebelas, tidak akan ada tempat lagi dihatimu untuk Sungmin, yang ada hanya ada aku dan anak-anak kita, kau tidak akan punya ruang lagi untuk manusia itu, hanya ada anak-anakku, hanya aku”

“Apa kau pikir aku mau menikahimu?”

“Apa alasanmu menolakku? Tidak ada”

“Seyakin itu?”

“Tentu. Aku tidak pernah meragukan kata-kataku, karena aku Kim Jong Woon”

“Kau gila”

“Kau baru tau? Dari lahir aku sudah abnormal”

“Aku bisa ikut gila”

“Kau sudah gila! Kalau kau tidak gila tidak mungkin kau menyukai Sungmin, dia itu juga saudaramu, akan lebih baik kau menyukai Jung Soo daripada Sungmin”

“Kau!”

“Aku hanya mengatakan kebenaran, kau cantik”

“…”

~ Author P.O.V ~

Waktu berjalan begitu cepat, Jung Soo telah mantap akan pilihannya dengan Hasang. Usia mereka tidak lagi muda, sebentar lagi Jung Soo akan menginjak kepala 3 dan sudah saatnya mereka menjalani hidup yang mereka pilih. Memang waktu pacaran mereka terbilang singkat, hanya 7 bulan namun mereka saling mengenal sudah lebih dari 4 tahun.

Min Rin-lah yang paling bahagia akan pernikahan ini, dia akan segera memiliki seorang onnie yang akan menjaganya selain Jung Soo dan Jong Woon tentunya. Sejak kecil Min Rin jarang mendapat perhatian dari seorang ibu maupun kakak, sudah saatnya Min Rin dibimbing untuk menjadi seorang gadis dalam sentuhan seorang wanita.

Hubungan Min Rin dengan Jong Woon juga semakin baik, mereka bahkan sudah saling mngenal keluarga masing-masing. Min Rin baru mengetahui kalau Jong Woon sebenarnya adalah anak seorang konglomerat, dari sejak bertemu pertama Jong Woon tidak memunculkan sisi itu sama sekali, pakaian dan gayanya sangat biasa dan terbilang cuek, namun siapa sangka dia adalah pewaris perusahaan kain terbesar di Korea?

Tidak ada yang berubah dari seorang Kim Jong Woon, dia tetap menjadi pribadi yang jujur dan ceplas-ceplos, hanya saja dia agak lembut sekarang. Tidak ada lagi meludah sembarangan, tidak ada lagi menutup pintu dengan kaki, tidak ada lagi tidur sebelum gosok gigi, semua itu dia lakukan karena seorang wanita, Park Min Rin.

Begitu juga dengan Min Rin, tidak ada lagi Sungmin dalam hatinya, ia sudah ikut ajaran Jong Woon, tidak ada lagi kata bohong. Ketika ia lelah ia tidak akan memperdulikan semua orang dan hanya akan mengatakan ‘aku akan tidur, hubungi aku nanti’. Hari-harinya diisi dengan tawa karena Jong Woon selalu melakukan hal-hal ajaib setiap harinya, mereka tidak mempunyai panggilan kesayangan seperti pasangan lainnya, mereka memanggil sesuai dengan mood. Bodoh, Gila, Monyet, adalah nama-nama yang paling sering mereka berdua gunakan. Meski begitu mereka berdua tidak pernah bertengkar karena kejujuran yang mereka berdua bina dalam hubungannya.

Setiap orang yang bertanya pada Jong Woon ‘siapa dia?’ akan dijawab dengan cepat oleh Jong Woon ‘orang yang tidak akan kujadikan apa-apa selain istriku’. Tidak ada kemarahan sama sekali, karena memang begitulah hubungan mereka, pacar bukan teman dekat juga bukan.

~ Jong Soo wedding day ~

Acara sakral itu berlangsung dengan sempurna, acara sederhana itu dihelat pada hari minggu dengan nuansa pesta kebun. Mempelai pria dan pengantin wanita tidak hentinya tersenyum bahagia, mereka telah resmi menjadi sepasang suami-istri yang akan memulai lembaran baru mulai dari hari ini.

Jong Woon diminta menjadi saksi Jung Soo dan Min Rin saksi Hasang.

Awalnya Jong Woon menolak dengan alasan tidak dibayar namun dengan tatapan maut Min Rin semuanya berubah, tidak ada kata kedua yang dikeluarkan Jong Woon.

“Apa kau akan menyumbang sebuah lagu untuk kami? Bukannya kau penyanyi?” Jung Soo mengahampiri Jong Woon yang sedang mengkritik gaun yang dikenakan Min Rin dengan Hasang dalam gandengannya

“Kau kira aku penyanyi apa? Aku hanya menyanyi untuk dibayar, suaraku mahal” Jong Woon kembali menatap Min Rin tanpa menghiraukan Jung Soo

“Kau mau kubayar berapa memangnya? Baiklah, akan kusewa kau untuk menyanyi hari ini” Jung Soo tertawa pelan melihat calon adik ipar anehnya itu

“Aku tidak butuh uangmu, baiklah hari ini aku akan bekerja amal, untukmu gratis” Jong Woon mengganguk tidak jelas dan menarik Min Rin menuju tempat yang telah tersedia pengiring lagu dan alat musik untuk bernyanyi tentu saja.

“Kau bernyanyi untuk apa menarikku?! Lepas!” Min Rin menghentak tangan Jong Woon dan menatapnya tidak mengerti

“tunggu disini sampai aku selesai menyanyi, jangan pandang siapapun selain aku, awas!” Jong Woon berjalan menuju tempat yang telah disediakan

“Emeh… tes, ah mohon perhatiannya. Artis akan bernyanyi! Berhenti sebentar dan dengarkan aku” Jong Woon berteriak dengan mice-nya begitu nyaring

“Aku akan bernyanyi sebuah lagu untuk seorang gadis yang bernama Park Min Rin, semoga kau tidak berpaling dariku, jangan memandang arah lain hanya tatap aku” Jong Woon menatap Min Rin yang tersipu malu dan tertawa pelan dan mulai mengeluarkan suara emasnya

‘oneuldo nae gieogeul ttarahemaeda

i gil kkeuteseo seoseongineun na

dasin bol sudo eomneun niga nareul butjaba

naneun tto i gireul mutneunda’

Today, i wander in my memory

‘Today, i wander in my memory

I’m pasing around on the end of this way

You’re still holding me tightly, even though i can’t see you any more

I’m losing my way again’

‘neol bogo sipdago

tto ango sipdago

jeo haneulbomyeo gidohaneun nal’

‘I’m praying to the sky i want see you and hold you more

that i want to see you and hold you more’

‘niga animyeon andwae

neo eobsin nan andwae

na ireoke haru handareul tto illyeoneul

na apado joha

nae mam dachyeodo joha nan

geurae nan neo hanaman saranghanikka’

‘It can’t be if it’s not you

i can’t be without you

it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this

it’s fine even if my heart’s hurts

yes because i’m just in love with you’

‘na du beon dasineun

bonael su eopdago

na neoreul itgo salsun eopdago’

‘i cannot send you away one more time

i can’t live without you’

‘niga animyeon andwae

neo eobsin nan andwae

na ireoke haru handareul tto illyeoneul

na apado joha

nae mam dachyeodo joha nan

geurae nan neo hanaman saranghanikka’

‘it can’t be if it’s not you

i can’t be without you

it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this

it’s fine even if my heart’s hurts

yes because i’m just in love with you’

‘nae meongdeun gaseumi

neol chajaorago

sorichyeo bureunda’

‘my bruised heart

is screaming to me to find you

where are you?

can’t you hear my voice?

to me…’

‘neon eodinneungeoni

naui moksori deulliji annni

naegeneun

na dasi sarado

myeot beoneul taeeonado

harudo niga eobsi sal su eomneun na

naega jikyeojul saram

naega saranghal saram nan

geurae nan neo hanamyeon chungbunhanikka

neo hanaman saranghanikka’

‘if i live my life again

if i’m born over and over again

i can’t live without you for a day

You’re the one i will keep

you’re the one i will love

i’m…yes because i’m happy enough if i could be with you’

Dengan suara yang terlampau merdu lagu itu selesai dinyanyikan Jong Woon dengan sempurna, semua yang hadir bertepuk tangan riuh

Min Rin hanya bisa diam melihat namja yang bernyanyi untuknya itu tersenyum, dia tidak pernah bernyanyi didepan Min Rin sebelumnya, apa itu suara Jong Woon? Semerdu itu?

Jong Woon berjalan mendekati Min Rin yang masih membatu, ia tertawa melihat gadis itu tidak berkedip sedari tadi

“PARK MIN RIN, HARI INI AKU KIM JONG WOON SECARA RESMI MENGATAKAN MENYUKAIMU, KARENA ITU KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB DAN MENIKAHIKU. AKU HANYA BUTUH SATU JAWABAN, IYA ATAU MENGGANGUK. AKU TIDAK MENERIMA JAWABAN LAIN, KAU HARUS MENIKAHIKU” Jong Woon berteriak dengan mice di tangannya, dia tidak peduli orang-orang menutup telingga karena suara lengkingannya itu, yang ia tau hanya Min Rin

“Kau memaksaku? Bagaimana kalau aku tidak mau?” Min Rin menggoda Jong Woon

“KALAU TIDAK AKU AKAN MEMBAWAMU PULANG DAN MENIDURIMU, KAU HARUS MENIKAH DENGANKU” lagi-lagi Jong Woon berteriak, dan kali ini semakin melengking

“Kau mempermalukanku bodoh! Tutup mulutmu! Apa kau mau mati?” Min Rin menginjak kaki Jong Woon keras

Jong Woon berlutut didepan Min Rin dan mengeluarkan sepasang cincin berlian dari kocek celananya

“Please Marry me”

Seketika semuanya menjadi diam, tidak ada satu pun yang bersuara, ini adalah moment yang tidak akan terjadi 2x. Jung Soo tersenyum melihat pemandangan itu, tidak ada yang lebih baik dari Jong Woon, hanya dia yang bisa menjaga Min Rin.

“What must I do? I can’t refuse you” Min Rin menjawab dengan malu-malu, namun wajah Jong Woon menjadi pucat pasi

“Wae? Kau baik-baik saja?” Min Rin menjadi panic melihat Jong Woon

“Kau me..no..la..kku?” Jong Woon menatap Min Rin tidak percaya

“Mwo? Kau tidak mendengar kata-kataku? Aku tidak bisa menolakmu bodoh!” Min Rin menjitak kepala Jong Woon kesal

Seketika Jong Woon memeluk Min Rin erat

“Kau tidak bercandakan?” Jong Woon berbisik di sela teriakan riuh

“Menurutmu? Kenapa kau jadi bertanya padaku bodoh?!” Min Rin menjadi cemberut, moment yang seharusnya indah malah dirusak Jong Woon

“Karena kata temanku kau akan menjawab yes, ido kalau kau mau. Aku tidak tau ungkapan lain selain itu karena hanya itu yang diajarkannya” Jong Woon nyengir lebar

“Bisa tidak kau tidak mempermalukanku? Jangan gunakan bahasa asing kalau kau tidak bisa!” Min Rin berteriak kesal

“Haha tidak apa-apa, yang penting kau menerimaku” Jong Woon memeluk Min Rin semakin erat

“Kenapa kau memilihku?”

“Karena kau yang kusukai”

“Selain itu?”

“Karena kau jodohku”

“Kau percaya jodoh?”

“Tentu saja, karena Jung Soo yang meyakinkanku kalau aku pasti menikahimu”

“Benarkah? Bagaimana kau bisa yakin?”

“Karena kau tercipta dari rusukku”

“Itu benar?”

“Bukankah aku hanya mengatakan kebenaran?”

“Itu indah….”

FIN

hehe selesai juga

bagaimana? aneh? gaje? kkk~ itu sudah biasa kalo authornya saya

mian kalo mengecewakan

kalau readers mau bakal dibikinin after storynya, itu kalau mau loh

makanya komen biar author tau minat pembaca hehe

ok, selamat ketemu di kesempatan lain

sekali lagi komen yak…..

 

4

[Freelance] Angel Hranitel [part 2]

Credits by. Lucas Delacroix

Tags. Super Junior, Park Eunri, Jo Seungmi

Notes . Sorry if it’s kinda late..i’m busy with my last-grade-school-stuff..it’s kinda difficult cause I’m the third grade student..this is my last year…so hard to face it..TT^TT, so sorry if it’s kinda late And I’m so sorry if it seems like Twilight story..honestly,it  just a lil bit. Just about vampire-thingy.

Hampton Hill’s cementery at 06.00 am

Tidak ada yang lebih tenang selain tempat ini bagiku.

Aku mengadahkan kepalaku, awan putih mulai terlihat berarak diatas langit mendung pagi ini. Sinar matahari hanya terlihat seberkas kemerahan di kaki langit. Aku berdecak, hari ini akan turun hujan lagi. Padahal ini hari pertama aku kembali kesekolah setelah sekian lama mengambil cuti istirahat berduka yang bahkan sebenarnya tidak begitu kuperlukan. Ini bakal jadi hari yang membosankan  buatku.

Kulangkahkan kakiku yang berdenyut-denyut sakit menelusuri jalan berbatu kerikil dibawah kakiku. Kulirik luka itu cepat selagi aku berjalan. Tidak kusangka lukanya akan separah ini. Kupikir hewan itu hanya mencakar kakiku saja, tidak terasa ternyata dia menggigitnya juga. Aku tidak begitu memperhatikan, saking laparnya perutku.

Aku mengibas-kibaskan kakiku yang terasa kebas. Nanti juga akan sembuh sendiri. Tidak sulit mempunyai tubuh yang bisa meregenerasi jaringan yang rusak.

Kuedarkan pandanganku kesekeliling area pemakaman.

Tidak ada siapapun disini…sepagi ini..

Bagiku tempat ini sudah menjadi tempat kesukaanku setiap kali aku mencari sebuah ketenangan. Tidak ada yang lebih baik dari tempat ini. Entah karena letaknya ditepi jurang dan menghadap kearah laut atau karena memang inilah tempat pertama yang kuinjak semenjak aku dijatuhkan, aku tidak tahu. Yang kutahu hanyalah pemakaman ini adalah tempat terbaik bagiku untuk mencari ketenangan.

Aku mencari tempat ditepi jurang dan duduk menyandar pada batu nisan disebelahku.

Inilah tempat kesukaanku..

Makam Serra Wellington, gadis yang dulu sempat kukenal dan kucintai.

Semenjak kematiannya, tempat inilah yang menjadi tempatku untuk kembali tenang. Tempatku mencari kedamaian diantara keramaian manusia yang kadang tidak lebih beradab dari seekor hewan. Tempatku bersembunyi dari sebuah ketakutan akan kematian orang-orang disekelilingku, yang selalu ada untuk menghantuiku.

Tempat inilah yang selalu menemani berbagai keluh kesah yang meluncur halus dari mulutku. Dan tidak ada yang bisa mengambil tempat ini selain diriku sendiri.

Aku memejamkan mata, merasakan angin laut terpatin aroma garam menerpa wajahku. Suara berisik deburan ombak memecah karang dibawah sana seperti menambahkan berbagai suara berisik yang ada dikepalaku.

“Elliot Russell, itukah namamu?”

Aku tersenyum, mengingat suara itu dengan begitu jelas, jernih seperti gelegakan air murni dikepalaku. Mengusir segala suara berisik yang ada dikepalaku.

“Demi Tuhan apa yang kau lakukan? Kenapa bajumu penuh dengan noda darah seperti ini? apa yang terjadi?”

“Berburu..,”

Tidak ada yang lebih melegakan saat itu ketika ia mengetahui identitasku dan menerimaku apa adanya. Aku bahkan tidak menyesal dibuang ke dunia, menjadi manusia saat itu.

Aku menelusuri  rumput basah dibawah tubuhku dengan jari-jariku.

Kuhela napasaku keras-keras. Tubuhku terasa sakit semua.

Baiklah, seharusnya aku tidak mengeluh soal ini lagi..

Karena inilah kerugian yang bakal kuterima jika aku memilih kehidupan vegetarian seperti ini. Jika saja aku mau membunuh seorang manusia seperti dulu lagi, efek lelahnya tidak akan sampai begitu parah seperti ini—bahkan membuatku hampir jatuh tertidur. Itu sebabnya kaum sepertiku punya lelucon kalau hewan itu lebih berkolestrol ketimbang manusia.

Hebat.

Dan aku hampir saja aku jatuh tertidur kalau saja suara itu tidak mengusik pikiranku.

Deg..deg..deg..deg..

Ada seseorang dibelakangku. Jantungnya lambat seperti orang tua. Pikirannya sepi, tidak ada apapun. Aromanya juga agak asing di penciumanku.

“Kyuhyun,” panggil orang itu mendesis pelan dengan suara serak. Aku menoleh, mendapati Madam Goff berdiri dibelakangku, tersenyum ramah. Cepat-cepat aku bangkit, merasa tidak sopan membuat tubuh tuanya membungkuk terlalu lama. “Kau sedang mengunjungi makam nenekmu?” wajah tuanya tertutup jaring cadar tuanya yang telah usang itu, tersenyum. Dia mengira aku mengunjungi makam Krsytal yang tidak pernah mau kudatangi lagi karena trauma yang terlalu menekan.

Aku tersenyum. Mataku tertumbuk pada seseorang yang berlarian dibelakang dari kejauhan. “Ya, hanya kunjungan harian,” dustaku. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya disini. Terakhir kali aku bertemu dengannya saat diputuskannya Ahra sebagai sekertaris walikota. Itu pun tidak berbicara banyak. Aku tidak begitu mengenalnya—aku bahkan tidak ingat dengan suaranya—itu sebabnya pikirannya terdengar sepi, hanya seperti desisan radio tanpa saluran. “Anda sendiri?” tanyaku berusaha lebih sopan.

‘Suaranya lembut sekali, Krsytal tidak melebih-lebihkan anak  ini,’ desis pikirannya mulai terdengar. Aku tersenyum sedikit. Aku senang jika aku bisa mendengarkan pikiran orang lain, setidak nya aku tidak merasa tuli, dalam artian lain.

Wanita tua itu tertawa pelan, tepat saat seseorang  yang berlarian dibelakangnya tadi—yang tenyata seorang  perempuan—berhenti dengan napas tersengal dibelakangnya. “Aku hanya mengunjungi teman lama,” jawabnya. Aku tidak begitu memperhatikan wanita tua ini, aku hanya memperhatikan gadis yang baru saja datang itu. Wajahnya begitu asing buatku. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Butuh beberapa detik bagiku untuk memutuskan bahwa perempuan ini bukanlah orang penting dan tak akan ada hubungannya dengan hidupku. Dia tak kan bertahan lama di ingatanku.

Aku harus pergi dari sini. Ketenangan tidak selamanya milikku. Yah, lagipula aku tidak mengenal orang-orang ini. Beberapa tahun kemudian mereka pasti mati dan tidak ada yang ingat padaku. Wajahku atau apapun.

Tidak ada orang yang mau mengingat wajah orang asing yang ia temui di area pemakaman.

“Kalau begitu, saya permisi,” pamitku, menunduk.

“Ah! Tunggu dulu sebentar,” madam Goff tiba-tiba menahanku. Dia membuat keputusan mendadak, bahkan sebelum aku menyadarinya. Aku terkesiap, begitu terkejut dan hampir takut ia menyadari keganjilan kulit tubuhku. “Ada yang ingin kukenalkan denganmu,” tanpa sadar, aku langsung menghembuskan napas lega terang-terangan. Ternyata indera perasa wanita tua ini sudah lumpuh total. Dia tidak menyadari sama sekali kehalusan kulitku yang terlalu ganjil untuk ukuran manusia.

Gadis disebelahnya bergumam dalam bahasa Rusia yang kental. Ia terdengar seperti menggerutu dan hampir memutar bola matanya.

Aku hampir tertawa. Terbaca sekali.

Tidak ada yang lebih menyebalkan ketika nenekmu berusaha mengenalkan kau pada siapapun didesa tempatnya tinggal. Ini hampir seperti perjodohan singkat yang tersembunyi.

Kekuatan memaksa mereka bahkan lebih hebat dari keputusan dekrit Presiden.

“Ini cucuku, Park Eunri. Dia sepertimu, keturunan Korea. Ibunya korea sedangkan ayahnya Rusia,” ucapnya, menarik cucunya yang menggerutu itu kehadapanku dengan antusias.

Aku tersenyum diam-diam.

Yah, siapa yang peduli soal status strata budaya yang sama. Toh aku sendiri juga keturunan Korea gadungan. Tidak ada darah Korea sedikit pun dalam tubuhku. Jika benar-benar ada yang bertanya apa keturunanku, maka aku akan menjawab, Incubus dyfed dan Orpheans.

Aku tersenyum palsu, mengulurkan tangan. “Jo Kyuhyun,”

Kupikir tidak ada salahnya mengenal cucu madam Goff. Toh, dia tak kan lama berada disini.

Perempuan itu terlihat ragu sesaat sebelum ia mengulurkan tangannya untuk menjabat tanganku. Kuharap gadis ini mau bicara atau apa, karena jujur saja aku merasa tidak nyaman dengan pikirannya yang terlalu sepi.

Ah,

Tapi pernahkah terpikirkan olehmu bahwa sebuah bahaya bisa muncul hanya karena kau mau menjabat tangan seseorang?

Ada dua hal yang terjadi bersamaan ketika kami hendak berkenalan.

Ketika gadis itu hendak menjabat tanganku dengan tangannya yang sudah terulur, ada angin berhembus pelan, mengacak-acak rambut panjangnya yang berwarna kecokelatan, membawa aroma manis kedalam tubuhku..membakar tenggorokanku dengan rasa haus yang tidak pernah terbayangkan.

Dan aroma itu tercium begitu saja olehku seakan-akan itu seperti aroma kue yang baru saja matang.

Aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aroma itu terlalu manis..terlalu menggiurkan untuk dibayangkan. Beribu tahun kedepan pun aku bahkan tidak akan pernah bisa menemukan aroma semanis ini.

Perutku bergejolak, berteriak lapar. Monster didalam tubuhku menggeliat liar, senang menemukan mangsa langka.

“Park Eunri,” ucap gadis terdengar begitu lambat ditelingaku.

Kau harus membunuh gadis ini..bisik batinku menggoda.

Aku menarik cepat tanganku, membatalkan diri menjabat tangannya.

Demi Tuhan, dia hanya seorang gadis cilik yang mudah di taklukkan. Lawanmu hanya seorang nenek tua yang bisa kau bunuh bahkan tanpa melihat sekalipun..bayangkan betapa hangat dan menggiurkannya darah itu sekarang..

Aku membayangkan rasa hangat ketika darah manis itu mengalir membasahi kerongkonganku.

Itu hal yang langka sekaligus menakutkan..

Aku mengepalkan kedua tanganku keras-keras, menggertakkan rahangku kuat-kuat.

Tidak, tidak bisa. Aku tidak bisa membunuh gadis ini hanya karena rasa haus yang bodoh ini.

Aku tidak mau menyentuh tangannya.

Aku takut jika aku menyentuh tangan yang hangat itu, aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk tidak mengikutinya seharian ini ataupun membujuknya untuk mengikutiku.

Aku bahkan berusaha keras menulikan telingaku dari bunyi detak jantungnya yang memompa darahnya keseluruh tubuh.

Aku berbalik, melangkah pergi begitu saja tanpa berkata apapun. Meninggalkan mereka yang terlihat bingung dengan sikapku. Butuh kemauan yang begitu besar bagiku untuk tidak berbalik menawarkan segala rayuan tolol agar dia mau mengikutiku.

Aroma manis itu masih tertinggal ditenggorokanku. Rasanya panas dan menyebalkan.

Aku menelan bulat-bulat ludah asamku yang berkumpul didalam mulutku. Aku bahkan bisa merasakan taringku mencuat diantara yang lain, menggesek-gesek lidahku.

Tubuhku begitu menginginkannya..tapi tidak dengan hatiku..

Aku tidak akan dan tidak mau membunuh siapapun.

Tapi…..Ya Tuhan, apa ini neraka kecil yang Kau kirimkan padaku?

Apa aku bisa bertindak dengan rasional seharian ini? Aku bahkan tidak bisa menahan diriku untuk tidak memikirkan berbagai cara untuk membunuhnya.

Aku tidak lagi menoleh kebelakang. Kutekadkan sepenuh hati untuk tidak berbalik walaupun otakku berkali-kali mengingatkan soal lain kali padaku.

Tidak ada lain kali! protesku keras dalam hati.

Gadis itu harus pergi dari hadapanku jika dia ingin tetap hidup sebagai manusia, bukan sebagai mangsa.

******

Hampton Hill,  Burgkeley villey, Ahra’s house at 08.00 am

Aku menandaskan habis segelas air putih yang baru saja Ahra tawarkan padaku. Rasanya hambar, bahkan tidak membantu menghilangkan perasaan kering dikerongkonganku, seliter air pun tak kan bisa meredam rasa panasnya. Air itu mungkin hanya turun begitu saja tanpa membasahi kerongkonganku terlebih dahulu.

“Lebih baik?” tanya Ahra menunggu reaksiku. Aku berani bertaruh, ia sekarang sedang mencoba psikologi terbalik padaku karena dari tadi pikirannya tidak mau berhenti meributi ekspresi kacauku pagi ini. “Kau butuh sesuatu yang lain?”

Aku menggeleng cepat. “Tidak, aku baik-baik saja,” dustaku tenang. Rasa panas itu muncul lagi ditenggorokanku. Membakarnya pelan-pelan seolah aku baru saja menelan bola api.

“Kau yakin?” tanya Ahra sekali lagi. Ia seperti membaca pikiranku. Dia menatapku, memperhatikanku. Pikirannya diam, tidak ada apapun. Tapi aku yakin dia pasti tahu ada yang salah denganku pagi ini.

“Mom,” panggilku lambat-lambat. “Apakah..ada warga baru ditempat ini yang belum kuketahui?” tanyaku pada akhirnya. Aku yakin gadis itu adalah warga baru disini, atau mungkin pernah tahu dan tinggal ditempat ini. Karena kalaupun ia seorang turis, ia tak kan tahu soal area pemakaman itu atau soal kematian Krsytal sedikitpun. Dan tidak mungkin madam Goff yang super pikun itu bisa berjalan sendiri ke area pemakaman kecuali diantar.

“Ada,” jawab Lilith tiba-tiba muncul dari balik sofa, mewakili mulut ibunya yang hendak menjawab pertanyaanku. “Namanya Park Eunri kalau tidak salah. Dia cucunya madam Goff. Dia tinggal di samping danau, dirumah madam Goff,” ceritanya. “Tidakkah kau tahu? Semua orang membicarakannya”

Aku membeku, mengerang. Bayanganku soal kejadian yang tadi masih terbayang dipikiranku. “Kenapa dia bisa mengenal Krsytal?” tanyaku hampir marah. Lilith mengernyit.

“Karena neneknya, madam Goff adalah teman baik dari nenek,” Lilith berbicara seperti seakan-seakan sedang bicara dengan orang sinting. Ya, aku memang mulai sinting, “Apakah itu salah?”

Aku mengepalkan tangan, merasakan sesuatu memberontak keras dalam diriku.

Aku tidak percaya..

Aku masih ingat betapa manisnya aroma itu ketika aku melewatinya…

Aku bahkan tidak bisa membayangkan bisa bertemu dengan orang seperti itu lagi seratus tahun kedepan..

‘Seberapa parah?’ tanya Ahra tiba-tiba bisa membaca kegelisahanku. Aku mengerang pelan, berusaha memberitahunya tanpa bicara. “Kau butuh istirahat. Aku akan mengurusnya,” dan mencari tahu soal anak itu. tambahnya dalam hati.’ Jangan sampai adikmu tahu.’

Aku mengangguk pelan, memutuskan untuk menurutinya saja. Aku bahkan membiarkan Ahra menuntunku duduk disebelah Lilith dan menyuruhku menonton acara kartun bersamanya. Menurutnya itu lebih sehat untukku ketimbang ia membiarkanku mengurung diri dikamar.

Aku hampir setuju jika saja Lilith tidak menyetel  Spongebob Squarepants. Demi apapun yang merasa kudus disini, spons kotak kuning itu bahkan tidak memperbaiki selera makanku sedikit pun.

Lilith memotong batangan cokelatnya dan menyuapkannya padaku satu. “Kuharap itu bisa membantu. Darah dan cokelat tidak sebanding. Setidaknya cokelat lebih padat,” katanya tenang.

Aku menelan batangan itu bulat-bulat. Tidak bisa kubayangkan betapa menjijikannya aku harus memuntahkan benda ini nanti. Aku selalu tidak bisa menerima makanan manusia dalam bentuk apapun jika aku baru saja selesai berburu.

Aku mengerjap, “Darimana kau tahu tadi aku..,”

Lilith mengangkat tangannya, memotong kalimatku, “Aku sudah bertahun-tahun hidup denganmu. Sadarkah kau jika kau sedang menahan rasa lapar-mu itu kau selalu terlihat tampak tersiksa? Kau bersikap seolah-olah ada orang yang membakarmu hidup-hidup. Lagipula, matamu,”

“Teori lagi?” aku memotongnya kali ini.

“Ya, bisa dibilang. Warna matamu jadi lebih gelap jika kau merasa lapar atau kau menahan lapar. Dan kau jadi mudah emosi,” Lilith menirukan mimik wajahku ketika marah. Aku menyentil dahinya pelan.

“ Tidak seburuk itu, copycat,”

“Terserah, yang penting ada benarnya. Memangnya seberapa parah? Kenapa kau bisa bertemu dengannya?” tanya Lilith heran. Kalau aku ada diposisinya pun, aku akan melakukan hal yang sama.

“Aku tidak tahu,” aku menggeleng pelan. “Tidak pernah aku menemukan hal yang seperti itu selama hidupku. Rasanya terlalu sakit, aku bahkan tidak bisa membayangkannya. Aku sangat tidak ingin membunuh siapapun,”

“Tentu kau tidak akan membunuh siapapun,” Lilith mengangguk-angguk yakin, “ Tapi akan bertahan berapa lama keyakinan bodohmu itu? kau tidak bisa menyuruh pecinta anggur untuk berhenti meminum anggur, kan? kurasa itu hukum alam,”

“Lalu apa? Membunuhnya?” seruku frustasi. Lilith menggeleng pelan.

“Tidak, tapi cobalah untuk menempatkan dirimu sebagai dirinya. Apa yang akan kau rasakan jika kau ada diposisinya, menatap takut orang dihadapanmu karena orang itu terus-terusan menatapmu dengan tatapan lapar? Kau bahkan tidak suka jika aku menatap lapar roll cake-mu,”

Roll cake itu kasus yang berbeda,” protesku.

“Menurutku sama saja kasusnya,” ucapnya merengut kesal.

“Lilith!” panggil Ahra dari ambang dapur. Dia baru saja keluar dari kamarnya, mengganti baju. Aku berusaha untuk tidak mendengarkan apapun yang terjadi disana demi sisi privasinya. Lagipula aku bersyukur dia keluar tepat waktu, jadi semua pembicaraan bodoh itu terhentikan. “Cepat habiskan sarapanmu. Kau hampir telat, sayang,”

“Ugh, sekolah. betapa buruknya hari ini,” keluh Lilith melempar piring makannya keatas meja kopi. Dia melompat berdiri dengan langkah ringan, menyambar  cardigan yang ia sampirkan diatas sofa. “Kyuhyun,” panggilnya

Aku mengangkat kepala malas, “Apa?”

“Sekolah. Kau lupa? Kau lupa kalau kau termasuk remaja-remaja tanggung yang harus bersekolah seperti  kami?” Lilith menarik tubuhku paksa. Aku mengerang sebal. Demi Tuhan, sekolah adalah hal yang paling menyebalkan kedua setelah pertemuan dengan gadis asing tadi.

Aku sudah mengulang SMU berulang kali. Aku bahkan sudah menamatkan studi Sains-ku dua kali di universitas Cambrigde. Seharusnya aku sudah tidak perlu lagi sekolah.

“Bisakah aku mengambil cuti istirahat sehari lagi, Mom?” pintaku hampir merengek pada Ahra. Sungguh, setelah apapun yang terjadi tadi pagi, berhasil menghancurkan mood-ku sepagian ini untuk pergi kesekolah. Lagipula jika aku memutuskan untuk memaksakan diri pergi kesekolah, aku tak kan bisa berhenti memikirkan cara terbaik untuk bolos dan menyelinap kembali kerumah untuk menghabiskan waktuku dengan tidur siang.

“Tidak ada orang yang mengambil cuti berduka cita sampai lima hari, sayang,” ucap Ahra dengan lembut, terbiasa dengan segala sikap anehku.

“Ayo, Justin Bieber, kita harus sekolah,”

Aku merengut kesal mulai malas sekaligus tidak suka dengan kebiasaan baru Lilith yang suka seenaknya mengganti  nama orang.

Aku lebih senang jika dia mensejajarkanku dengan Spongebob saja ketimbang bocah kehilangan status gender seperti itu.

“Hati-hati dijalan. Kyuhyun, perhatikan dirimu, oke?” peringat Ahra tepat sebelum aku keluar. Aku mengangguk. Bagaimana kalau kalimatnya yang tadi kuartikan saja? Karena bagiku terdengar seperti: “Hati-hati Kyuhyun. Aku tidak mau mendengar ada berita kematian besok pagi,”

Yah, semoga.

Semoga saja tidak ada yang mati ditanganku hari ini.

*****

Hampton Senior High School, at 08.30 am

Lilith menggerutu panjang pendek begitu dia berhasil keluar dari dalam mobil. Gerutuannya tidak pernah lebih dari bagaimana dia merasakan mati hampir setiap hari. Dia hanya berlebihan dan tidak mau terbiasa soal kebiasaanku yang tidak pernah bisa menyetir dibawah kecepatan 80km/jam. Bagi Lilith keselamatan itu sekitar 20km/jam. Kalau seperti itu caranya menyetir, kapan ia pernah sampai disekolah tanpa merasa khawatir menabrak apapun yang melintas dijalan.

“Kalau kau merasa stress karena distorsi pagimu yang buruk, kau bisa kan tidak melibatkanku dalam acara bunuh dirimu? Lain kali biarkan aku yang menyetir mobil. Please, demi keselamatan jantungku yang sepertinya tidak berumur panjang jika terus membiarkanmu menyetir,”

Aku tertawa, “Kau saja yang terlalu takut,”

“Apa jaminan yang bisa kau gadaikan pada adikmu supaya dia mau lagi percaya dengan caramu menyetir?” tuntutnya kesal. ‘Demi Tuhan Kyuhyun, jika Dad ada dirumah kau akan kuadukan setiap saat,’

“Haha, coba saja. Aku tidak pernah sekalipun terkena tilang. Dia tidak akan mengambil apapun dariku. Aduanmu tidak akan berlaku banyak, Lilo,” Aku mengacak-acak rambutnya, membuatnya semakin kesal. “Ini jaminanku,” kuketuk-ketuk dahiku dengan sikap yakin. “Radar pelacak alami,” kataku sombong.

Lilith cemberut, “Dan aku dibesarkan dengan hukum. Aku tidak bisa menerima hal itu. Aku mau berumur panjang, Kyuhyun,”

Aku mengangguk-angguk, “Tentu, tentu. Orang jahat selalu berumur panjang,”

‘Kyuhyun? Jadi anak itu kembali? Katanya dia  pindah ke Manchester, hidup dengan ayahnya setelah kematian Krsytal?’

Aku mendesah lelah.

Lagi–lagi gosip baru. Apa tidak bisa mereka mencari bahan pembicaraan yang lain selain diriku?

Semenjak kematian Krsytal, mereka mulai terdengar gencar membicarakanku. Muncul berbagai pembicaraan hangat tentang diriku. Tentang statusku, tentang asalku sebenarnya atau tentang soal kepindahanku yang tidak  masuk akal itu.

Padahal itu hanya bermula dari hal sepele.

Hanya karena aku tidak datang dalam pemakaman Krsytal.

Bagaimana jika kukatakan aku seorang Necrophobia? Apa itu masalah besar buat mereka sehingga mereka harus menganggapnya itu hal yang aneh dan membicarakannya terus menerus?

Terkadang aku tidak mengerti dengan manusia..

Sejujurnya bagiku itu bukan masalah besar. Tapi dampaknya untuk Lilith atau Ahra begitu besar. Pandangan masyarakat pada mereka hampir sama mencurigakannya dengan pandangan mereka terhadapku.

Aku hanya tidak bisa membiarkan mereka diadili seperti itu.

Walaupun Ahra sudah berkali-kali mengatakan padaku kalau itu bukan masalah besar baginya. Karena baginya masalah besar adalah melihatku tersiksa seharian.

Hah..khas ibu sekali dia..

“Hai, Lilith!” seru Emily berlarian dilorong, menghampiriku dan Lilith. Gadis kecil itu melambai senang, tidak mengangguku sama sekali dengan pikirannya yang jernih. “Aku ada satu kabar untukmu,”

“Apa?”  tanya Lilith seraya mengambil buku kalkulusnya dari tanganku. “Aku harus mengejar kelas kalkulusku yang sudah tertinggal jauh karnamu. Jadi jika siang ini aku telat menemanimu makan siang, jangan mengomel,” bisik Lilith kejam, menginjak kakiku.

“Aw,” gumamku pelan, pura-pura. Injakan kakinya tak lebih seperti sentuhan bulu buatku.

‘Ah, aku lupa soal Kyuhyun,’ desis Emily pelan dipikirannya saat ia mendengar suaraku. Dia sopan sekali, “Oh, hai Kyuhyun. Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana keadaanmu?”

“Aku baik-baik saja. Terima kasih,” balasku sopan, tidak lebih dari menghargai kesopanan seorang perempuan yang mungkin sudah sangat jarang di masa seperti ini. “Bagaimana dengan kelas bahasa inggris-nya? Maaf jika aku absen terlalu lama,”

“Tidak apa-apa. Tidak masalah,” Emily tersenyum kecil.

“Jadi apa berita barunya?” tuntut Lilith tidak sabar, melotot marah kearahku karena memotong pembicaraannya.

Emily menggerakkan tangannya panik, ‘Ya ampun karena mencari Lilith aku sampai lupa soal kelasku sendiri. Ceritanya nanti saja,’. “Bagaimana kalau saat kelas biologi nanti?”

“Hm, ya, boleh,” sahut Lilith cepat merasa ia sudah hampir terlambat saat melirik jam tanganku.

Ya, kurasa aku juga sudah hampir terlambat untuk kelas bahasa Spanyol-ku.

Tapi bagiku itu bukan masalah besar karena ms. Elena tidak pernah mempermasalahkan bahasa Spanyolku yang lebih baik darinya.

Lilith menepuk pelan dadaku, “Aku ke kelas dulu,” pamitnya. Aku mengangguk, melihatnya mulai berbalik. Dia berlari memunggungiku, mengejar kelasnya.

Aku menyandarkan punggungku pada loker usang dibelakangku.

Apa aku bolos saja ya?

******

Ternyata yang menjadi berita heboh seharian ini adalah anak walikota menjadi murid dari sekolah ini. Anak itu harus hidup terpisah dari ibunya dan kakaknya karena ayahnya-lah yang mengambil hak asuh atas dirinya. Dan bagi sebagian warga disini, itu adalah sebuah kemajuan hebat karena pada akhirnya si pak tua itu tidak harus menghabiskan malam sabtunya dengan memancing seharian karena, tentu saja, dia punya putri manis yang harus dijaga dari remaja-remaja hidung belang yang berusaha terus-menerus mencari perhatiannya seharian ini.

Ya Tuhan..

Aku tidak peduli sedikit pun soal ini. karena bagiku ini hanya akan menambah populasi murid-murid disekolah ini saja. Dari 345 siswa menjadi 346 siswa.

Tambah sesaklah sekolah kecil ini.

Lilith mengetuk-ketuk kaca mobilku, “Keluar,”

Aku mematikan perangkat audio mobil lalu menurunkan jendela otomatisnya, “Ada apa?”

“Hebat sekali. Kau bolos dua kelas?” aku mengangguk jujur. “Aku mencarimu. Aku lapar. Temani aku makan,”

“Aku akan menemanimu, dengan syarat kau tak kan mengadukan hal ini pada Mom,” aku mengacungkan telunjukku. Lilith mengangguk cepat, tidak peduli. Aku bisa mendengar perutnya yang bergejolak lapar. “Baiklah-baiklah. Aku juga tidak tahan mendengar suara perutmu yang berteriak lapar itu,”

Wajahnya langsung merona merah muda karena malu. Dia langsung menghantam pundakku dengan buku kalkulus-nya begitu aku keluar dari mobil. “Bisa tidak tulikan telingamu dari hal-hal yang bersifat pribadi seperti itu?”

Aku mengangkat bahu polos, “Aku takut, aku tidak bisa,”

“Ha.ha. Terkutuklah kau Elliot Russel,” umpat Lilith teramat pelan untuk telinga manusia.

Sepanjang jalan menuju kafetaria ia habiskan untuk memikirkan bagaimana caranya membunuhku tanpa ketahuan ibunya itu. Beberapa hal dipikirannya sempat membuatku tertawa terbahak seperti orang gila.

“Kau tahu, itu tak kan berhasil,” tandasku ketika ia mulai membahas soal pasak pohon evergreen. “Kau pikir aku bakal mati dengan benda selembek itu? kau bisa ambil jantungku dan aku masih tetap hidup. Untuk apa kau repot-repot menusuknya dengan kayu lembek itu?”

‘Kalau begitu pukulkan saja salib besar yang ada di katedral ke kepalamu. Mungkin kau mati jika dekat-dekat dengan perak,’ sahut Lilith tak mau habis.

Aku mengacungkan kalung yang diberikan Ahra padaku. “Ini apa? Jadi ini bukan perak ya?” ucapku dengan nada bergurau. Lilith mengerang dalam hatinya. Dia benar-benar ingin tahu mahluk sesempurna diriku lemah oleh benda apa.

Hampir saja aku bergurau soal kryptonite jika saja Lilith tidak berpikir soal api dipikirannya.

“Kau mau membunuhku?” tanyaku tiba-tiba tertarik dengan pikirannya.

Mungkin saja dia mau melakukannya jika aku memang memintanya..

“Apa?”

“Kau bisa bunuh aku dengan api. Lemparkan saja aku pada api unggun. Setelahnya aku pasti tak kan kembali. Terbakar sampai hangus,” kataku setengah serius. Lilith menatapku ngeri.

Aku tidak mungkin membunuhmu,’

“Oh, tentu tidak,” sahutku tenang. “Aku hanya ingin kau tahu. Siapa tahu kau mau membantuku bunuh diri jika aku memang menginginkannya,”

“Kenapa kau menginginkannya?” tanya Lilith lambat-lambat, mengejutkanku dengan pikirannya yang cepat.

“Karena…., hidup abadi hanya bisa membuatmu tersiksa. Kau tidak pernah bisa merasakan apa itu hidup sebenarnya,” aku menunduk, “Bernapas, merasakan jantungmu berdetak, sakit, memiliki anak dan menjadi tua sampai akhirnya kau merasakan apa itu mati,”

Kau membuatku jadi malas makan jika mengingat kau ingin sekali bunuh diri,’ desis Lilith sedih dalam pikirannya. Aku tersentak. Aku lupa, tidak seharusnya aku seperti ini.

Aku merangkulnya, “Demi Tuhan, Lilo. Aku hanya bercanda. Aku tidak benar-benar ingin bunuh diri. Tenang saja,” tidak jika itu dihadapanmu.., tambahku dalam hati. “Kau mau makan, kan? hari ini biar aku yang teraktir,” bujukku.

Ada sedikit berkas semangat melintas cepat diraut wajahnya, “Benar? Biasanya kau pelit sekali soal uang,”

Pahit, aku mengangguk. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghiburnya selain dengan hal ini. “Aku serius. Kalau kau meragukannya, aku jadi malas membelikannya,”

Lilith melompat panik, “Ah~, aku hanya bercanda,”

“Iya, iya, aku tahu,” aku mengeluarkan dompetku, “Ini beli sendiri. aku mencari temp—“ belum aku selesai bicara, Lilith sudah menyambar dompetku dan melenggang dengan riang menuju kasir.

Aku berdecak, demi Tuhan cepat sekali ia merubah mood-nya

Aku berjalan kesudut kafetaria dekat dengan kaca-kaca besar mereka yang menghadap kearah bukit tebing. Disana terdapat meja kafetaria seperti yang lain. Aku tidak tahu kenapa, tapi kursi ini jarang ada yang menempatinya.  Mungkin karena tempatnya yang terlalu terang, hingga jika sinar matahari masuk, yang duduk dikursi ini merasa kepanasan untuk alasan yang masuk akal karena kaca ini tidak memakai kaca film.

Tapi setidaknya ditempat ini aku merasa tenang dan lebih leluasa untuk mencari ketenangan demi meredam suara-suara berisik yang bergemuruh ditelinga dan pikiranku.

Derit kursi plastik saat aku mendudukinya, membuatku sadar bahwa tempat ini tidak sepi. Kuedarkan pandanganku kesekeliling kafetaria yang tampak ramai dan penuh ini.

Berbagai manusia dikelompokkan ditempat ini. Dari kelompok yang merasa paling hebat seperti bocah-bocah klub football, cheerleader dan lainnya sampai kelompok yang paling terbuang, kumpulan nak aneh yang biasanya diduduki oleh bocah-bocah kutu buku yang ikut klub-klub sains aneh yang sepertinya punya niatan meledakkan sekolah ini. Atau kelompok yang termasuk biasa saja karena kehebatan mereka untuk tidak terlibat dalam apapun seperti Lilith atau Aku.

Itulah manusia..rasis..

Tapi bagiku mereka tetaplah sama. Manusia tetaplah manusia, objek khusus yang masuk kedalam rantai makanan dalam populasi mahluk-mahluk fantasi seperti kami.

Mereka sama bagi kami. Punya denyut jantung, darah yang segar, emosi yang berantakan dan bodoh. Kami menghormati manusia hanya karena merekalah mangsa mahluk-mahluk seperti kami. Tanpa mereka, mungkin kaum-ku akan mati-hidup sepertiku.

Bagi kami semakin banyak mereka berkembang biak, semakin senang hati kami.

Aku memejamkan mata, mendengarkan suara-suara berisik itu satu per satu. Aku hanya berharap ketertarikanku untuk melompat diantara mereka, membunuh mereka satu per satu karena suara ribut mereka, teredamkan.

“Aku bawakan kau coke,” ucap Lilith pelan, menaruh nampannya diatas meja. Aku memperhatikan makanannya yang terlalu sehat itu. Aku heran, senang sekali Lilith menelan benda hijau itu.

Aku mengangkat sendok salad brokolinya dengan perasaan jijik, “Aku memberimu uang untuk membeli pizza atau apa, bukan benda menjijikan ini,” keluhku jijik melihat saladnya.

“Pantas kau suka lelah. Pilih-pilih sekali kalau dalam urusan makanan. Aku yakin kau lebih memilih kucing dan singa gunung ketimbang rusa atau biri-biri,” Lilith merebut mangkuk saladnya dari tanganku dan menggantinya dengan sebotol coke.

Aku menyengir, “Lebih asik lagi kalau itu beruang grizzly yang baru saja berhibernasi,”

“Ya, aku tahu kok betapa bosannya dirimu jika harus menghabiskan waktu bermain catur dengan sapi-sapi peternakan. Berapa kali skak mat, Kyuhyun?” sahut Lilith acuh. Aku mencubit pipinya yang gemuk (dalam artian bagus)itu dengan kedua tanganku, gemas.

“Berkali-kali samapi aku bosan dan sapi itu stress,” jawabku, memutar bola mataku konyol.

‘Tentu saja ia mencari Kyuhyun. Tidak ada anak perempuan baru yang tidak mencarinya,’ bisik Leighton tiba-tiba dalam pikirannya, mendesis kesal. Aku menoleh kebelakang punggungku, menemukannya sedang bicara dengan seseorang. ‘Kapan aku bisa semenarik si maha sempurna itu’

“Jadi kau mengenal Jo Kyuhyun? Dia bersekolah ditempat ini?” tanya orang yang diajak bicara itu dengan sikap penasaran. Suaranya lembut, aku asumsi itu perempuan. Ada sedikit rasa sebal disuaranya ketika menyebutkan namaku.

Aku terus memperhatikan punggung Leighton, berharap orang itu mau mengangkat wajahnya supaya aku bisa melihat orang itu.

Leighton mengangkat kepalanya sesuai dengan harapanku, “Tentu. Tentu aku mengenalnya. Dia sekelas denganku dikelas geometri,” Leighton menatap wajah orang itu.

Aku hampir tersedak oleh ludahku sendiri.

Demi yang kudus…..

Park Eunri..?

Kenapa harus ada gadis itu disini? Jadi dialah anak walikota itu? kenapa aku sampai sebodoh itu tidak menyadari hal ini?

Seharusnya aku kabur saja ke Manchester..

Kau ingin menemuinya?” tanya Leighton penasaran. Gadis itu mengangguk pelan.

Tidak boleh..

Aku menegang dibangkuku, menatap punggung Leighton dan pendingin udara di sudut pintu masuk bergantian dengan nanar. Aku benar-benar tidak mau gadis itu kesini..

Aku harap dia punya waktu untuk membiarkanku bicara dengan adiknya. Kurasa dia tidak begitu ramah,” ucapnya. Suaranya bergetar pelan, ketakutan. Ia sepertinya masih ingat soal perlakuan tidak sopanku padanya tadi pagi. “Memangnya dimana mereka?”

Aku menggertakkan rahangku kuat-kuat saat Leighton menariknya mendekat dengan posisinya yang tepat disebelah pendingin udara.

Aroma manis itu mulai tercium oleh penciumanku. Padahal gadis itu tidak berdiri tepat didepan pendingin udara.

Aku tidak akan membunuhnya..

Kutarik napasku kuat-kuat dan menahannya. Aroma manis itu terbawa sampai ke tenggorokanku. Rasa panas dan haus yang tidak terelakkan mulai membuatku gelisah dan kesakitan.

“Kau baik-baik saja?” tanya Lilith menatapku cemas. Aku menunduk, mengepalkan tanganku kuat-kuat, menahan gejolak diri yang hampir meledak. “Kyuhyun?”

Gadis itu berjalan dituntut Leighton agar dapat melihat kami lebih jelas diantara keramaian kafetaria, mendekati pendingin ruangan. Dan dia berhenti tepat di dalam lintasan putar pendingin ruangan. Hatiku bergejolak menolaknya keras-keras.

‘Dia hanya gadis rapuh..Elliot. hanya sedikit gerakan, maka segalanya akan mudah,’ bisik instingku menyuruh.

Angin pendingin ruangan berhembus, menerbangkan rambutnya yang berwarna kecokelatan.

Aroma manis itu menguar, menerjangku kuat-kuat walaupun aku berusaha untuk tidak bernapas sedetik pun.

Perutku bergejolak, berteriak lapar. Air liurku mengumpul, membuat mulutku terasa semakin asam oleh bisanya. Aku merunduk ketakutan seperti orang bodoh.

Aku takut dengan instingku…

“Adakah orang ditempat ini yang menganggumu?” Lilith mengedarkan pandangannya kesekeliling. Tanganya merangkulku, berusaha menenangkan tubuhku yang bergetar takut.

Dia benar-benar bermaksud baik…..tapi tidak di mataku.

Aku mengangkat kepala, menatapnya yang sedang sibuk mengedarkan pandangannya kesekeliling kafetaria. Mataku tertumbuk pada relung leher dan tengkuknya yang putih halus.

Aku bisa merasakan denyut nadinya yang penuh dengan darah segar.

glug…glug…glug…

Monster didalam tubuhku berteriak haus..

Aku hampir gila karena rasa haus ini. Mataku tidak bisa dilepaskan dari tengkuk putih itu.

Perutku bergemuruh lapar..

Kelihatannya menyenangkan sekali jika aku bisa merasakan kehangatan dan manis darahnya jika aku menempelkan mulutku di relung lehernya yang hangat itu….

Dia pasti akan mengikutiku, apapun yang aku katakan.

Aku hanya tinggal memohon, maka dia tak kan membiarkanku tersiksa.

Tidak sulit kan? Dia hanya Lilith. Mahluk rapuh yang tidak berdaya…

Aku bisa membunuhnya kapan saja aku mau..

“Kau baik-baik saja, Kyuhyun?”

Aku bisa merasakan kabut hitam tebal menutupi seluruh bola mataku, merubahnya menjadi seperti lautan tinta.

Monster didalam hatiku tertawa kencang.

Aku mengecap taring didalam mulutku dengan lidah. Aku bisa merasakan sisa asam bisa racun yang memenuhi mulutku tadi.

Aku haus..tenggorokanku sakit..

Aku mengedarkan pandanganku kembali pada gadis beraroma manis itu. Dia bisa kuurus nanti, nikmati saja yang ada dihadapanmu dulu..

“Aku baik-baik saja. hanya sedikit haus. Kau mau menemaniku keluar?”tanyaku dengan suara lembut.

Lilith mengerut bingung . Seberkas raut terkejut terlintas cepat diwajahnya. Dia pasti terkejut dengan sikapku yang tiba-tiba. Dia tidak akan curiga…bisik hatiku, jahat.

“Kemana?” tanyanya polos.

“Kau akan tahu nanti, Lilo,”

*****

Lilith menatap gelisah ruang gudang kosong dihadapannya. Jantungnya berdegup tenang, tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Dia hanya berkali-kali menatapku dan pintu gudang bergantian. Ada seberkas kepanikan kecil melintas dimatanya.

“Apa yang akan kita lakukan ditempat ini? ini gelap dan..berdebu. Aku asma, kau ingat?” serunya agak memekik, mulai panik karena aku menutup pintu gudang. Ruangan agak redup ini membuatnya panik hampir menangis. Dia langsung memelukku begitu aku menutup pintu. “Kyuhyun, kumohon, kita keluar saja. Kau tidak bisa disini,” pintanya mendesak dengan suara hampir terputus.

Aku menyentuh rahangnya, “Ssst. .Lilith, tenang. Tidak akan terjadi apapun,”

“Aku tidak mau disini. aku mau keluar, kumohon keluarkan aku,” kini dia menangis. Air matanya membasahi tanganku. Aku mengangkat tanganku yang basah dan membawanya kemulutku.

Aku menjilat air matanya yang tersisa ditanganku.

Manis..

Aku menundukkan wajahku, mendekatkan wajahku dengan relung lehernya. Aroma segar membuai rasa hausku.

“Tidak akan terjadi apapun, Lilith,”

“Kyuhyun?” Lilith menggerakkan tangannya menahan tubuhku. Sama sekali tidak berguna. Kekuatannya terlalu lemah. Kutempelkan hidungku ditengkuknya yang hangat.

Menggiurkan..

Aku bisa merasakan tolakan keras dari hati nuraniku, tapi instingku lebih kuat dari apapun sekarang.

Aku bisa mendengar jantung Lilith memburu takut, “Apa yang akan kau la-lakukan?” Lilith memukul dadaku ketika ia merasakan taringku  menggesek kulit lehernya. “Kau mau mati ya?!” serunya kesal, sekarang. Dia terus memukul dadaku walaupun aku tidak bergeming sama sekali.

“Aku berjanji akan melakukannya dengan cepat, Lilo. Kau tidak akan merasakan sakitnya,” bisikku ditelinganya. Lilith menarik rambutku dengan marah.

“Ya! karena saat itu aku pasti sudah mati. Lepaskan aku!” Lilith memberontak, membuatku mencengkram tangannya kuat-kuat sampai terdengar seperti bunyi derak tulang.

Kau mematahkan tangannya!! Teriak hatiku keras-keras.

Lilith mengerang kesakitan berusaha menendang-nendang kakiku. “Kau memang benar-benar ingin mati, ya Elliot?” desisnya marah.

Aku tidak begitu mepedulikannya karena taringku sudah lebih dulu membuat luka kecil di lehernya.

Setetes darah segar melewati kulit bibirku yang terlampau peka.

Terkutuklah kau Elliot, semoga reinkarnasimu tidak menjadi nyamuk besar yang menyebalkan,’ bisik Lilith tenang dalam pikirannya. Jantungnya tidak lagi berdegup kencang, melainkan tenang seperti biasanya.

Aku meliriknya lewat ekor mataku.

Bocah itu tersenyum licik..

Aku tidak mengerti, kenapa tiba-tiba aku merasakan panas ditangan kiriku? Aku mengangkat tangan kiriku dan memperhatikannya dengan seksama.

Lilith menyalakan pematik apinya dibawah pergelangan tangan kiriku.

Saat itulah aku merasakan diriku kembali.  Rasanya seperti terlempar keras hingga mewajibkanku sadar dalam waktu cepat.

“AW, AW!! LILITH, SIAL!!” pekikku ramai, mematikan api ditangan kiriku. Lilith tertawa keras seraya membantuku. Sumpah, suara tawanya tidak membantuku untuk tenang sedikit pun. “Pakai air Lilith! Ini sakit!” protesku keras saat Lilith hanya meniup-niup apinya. Lilith terkekeh-kekeh , mencari sesuatu yang cair ditempat seredup ini.

Dia menyodorkan kotak oli padaku dengan polos, membuatku semakin marah, “KAU MAU MEMBAKARKU SAMPAI HABIS YA?”  kuteriaki seperti itu dia malah jatuh tertawa, guling-gulingan diatas lantai gudang.

Aku berdecak kesal, menyambar cepat sebotol coke yang ia pegang. Tanpa mau berepot-repot membuka segelnya lagi, aku meremas kaleng itu sampai pecah.

Cairan karamel itu mematikan api ditanganku membuatku menarik napas lega keras-keras.

Aku meringis melihat kulitku yang terkelupas cukup parah. Ini bakal memakan waktu lama untuk sembuh. Setidaknya butuh 4 jam untuk kembali kekeadaan semula.

Lilith sialan.

“Oh, ya Tuhan lucu sekali hari ini,” ucap Lilith terengah-engah kehabisan udara. Dia mengusap air mata tawanya. “Itu akibatnya kalau kau bersikap menyebalkan,” Lilith menyentuh lehernya yang memiliki luka baret kecil karena ujung taringku. “Kyuhyun, ini sakit,” protesnya. “Kau bahkan mematahkan tanganku,”

Kekesalanku langsung hilang, tergantikan rasa bersalah yang teramat sangat. Aku berjongkok, menyentuh lukanya, “Lilith, aku minta maaf. Aku…aku benar-benar minta maaf,”

“Kumaafkan. Tapi kalau terjadi lagi, kau kubakar sampai hangus,” ancamnya. “Memangnya siapa yang menganggumu tadi?”

“Anak baru itu..Park Eunri,” ucapku pahit, lambat-lambat. Timbul rasa kebencian dalam diriku setiap kali menyebut namanya. Rasanya tenggorokanku seperti dibakar sampai hangus.

Lilith berdecak pelan. kemudian tangannya terangkat menepuk-nepuk rambutku yang berantakan. “Tidak apa-apa. Kau pasti bisa bertahan. Kau tidak bisa membunuhnya seenaknya, kan?”

Aku mengangguk pelan. Lilith memelukku. “Bisa kita disini sebentar. Aku tidak tahan jika harus menemui orang itu lagi,” bisikku parau.

“Terserahmu,”

Aku memejamkan mataku, merasakan ketenangan yang menyelimutiku. Mungkin dengan cara ini kau bisa meredam kemauanku untuk membunuh gadis itu dengan tanganku sendiri..

Mungkin aku memang harus berjauhan dengannya..

Mungkin memang aku harus kembali menjadi aku yang dulu..

Park Eunri..,’ bayangan waktu itu melintas lagi dipikiranku, membuatku menegang takut ketika ingatanku tentang aroma itu memenuhi otakku.

Kuharap aku mati saja..