17

[Freelance] Angel Hranitel [part 1]

Credits by. Lucas Delacroix

Tags. Super Junior, Park Eunri, Jo Seungmi

Genre. Romance, adventure(?)

p.s. All of this story will begin from Kyuhyun’s POV. Not bargaining. This is fantasy tale, sorry. That’s my skill, fantasy tale. And in this story, (please remember it) Kyuhyun has a name, Elliot Russel, Donghae has a name too Dre Gergoff. And one thing..Dyfeds are Lucifer’s sons..similiar to vampires if you want to know. Sometimes they being called “Incubus”

Hampton Hill, at 10.00 am

Aku membuka mataku, menatap pemandangan kota yang tampak terbalik dimataku. Angin laut berhembus tenang menyapu wajahku. Aroma garam laut terpatin aroma ranum dari buah apel yang bergelantungan diatas kepalaku, sejenak membuat kepalaku sedikit tenang dari suara-suara berisik dikepalaku yang tidak bisa kuhindarkan itu.

Kupejamkan mataku, memandang sinar kemerahan yang memantul dari balik selaput kulit mataku.

Sudah hampir puluhan abad aku bungkam soal ini. Tidak ada yang kuberitahu dan tidak ada yang tahu soal hal ini selain diriku sendiri. Aku benar-benar ingin menjaganya seorang diri.

Aku benar-benar tidak ingin ada orang yang tahu identitas diriku yang sebenarnya.

Identitasku yang sebenarnya sebagai mahluk yang terbuang.

Sebuah ciptaan yang bahkan tidak lebih buruk dan hina dari seekor hewan.

Kutatap kalung perak yang bergelantungan dihadapanku. Benda pipih perak itu berkilau-kilau terkena sinar matahari.

Jo Kyuhyun…

Itu hanyalah sebuah identitas palsu..

Untuk seorang Incubus, sepertiku. Itu hanya sebuah kebohongan kecil dari mahluk-mahluk berlumur dosa sepertiku. Bagi kami kebohongan seperti bukanlah hal yang sulit. Segalanya terasa mudah jika kau terlahir kembali sebagai mahluk yang memiliki bakat untuk menjadi sempurna.

Dan sebagian besar dari mahluk-mahluk abadi sepertiku bergantung hidup dengan sebuah kenistaan. Atau bisa dibilang kami bergantung hidup pada setiap manusia yang ada dibumi ini.

Kami katakan itu sebuah kenistaan karena dulu kami mengira diri kami adalah mahluk yang sempurna dari mereka. Bahkan setelah dibuang pun—yang bahkan derajat kami tidak lebih hina dari seekor hewan—kami masih menganggap manusia adalah barang hina yg penuh dengan emosi.

Kaum incubus, seperti kami, dikaruniai berbagai kehebatan. Terlepas dari keadan fisik kami yang nyaris sempurna, kami punya bakat tambahan. Bakat itu sungguh berguna untuk membunuh setiap manusia, menghisap jiwanya atau meminum darahnya demi memuaskan dahaga yang selalu membakar tenggorokan kami yang tak pernah belajar soal rasa puas.

Butuh belasan abad bagiku untuk membiasakan diri dengan makanan manusia dan berkompromi untuk tidak membunuh mereka demi diri sendiri.

Memang tidak memuaskan, tapi itulah yang keluarga Krsytal ajarkan padaku. Aku butuh sesuatu yang bisa membuatku berkompromi dengan kehidupanku dan juga menghargai setiap manusia yang hidup disekitarku untuk tidak dianggap hanya sebagai mahluk hina dan sebuah mangsa.

Dan itu murni kulakukan demi keluarganya yang sudah menjaga sisi eksistensiku dari dunia luar.

“Elliot, apa yang sedang kau lakukan disitu?” tanya Krystal dari balik pagar kayu rumahnya. Aku bisa mendengar suara roda karet kursi roda miliknya berderak-derak melintas bebatuan kecil dibawahnya, menghampiriku. “Kenapa kau bergelantungan disini seperti seekor kelelawar?”

Aku membuka mataku perlahan, menatap wajah cantiknya yang mulai keriput termakan usia, “Lilith menyuruhku untuk menunggu diluar. Katanya aku tidak boleh melihat dekorasinya,” kataku tenang teringat kata-kata Lilith, adik angkatku, yang melarangku masuk sebelum acaranya dimulai.

“Tidak apa-apa, dia ingin merayakan ulang tahunmu,”

Aku mendengus, “ Ya, asik sekali merayakan ulang tahun orang yang memiliki umur bahkan lebih tua dari sebuah fosil,” gurauku. Krsytal tertawa, menunjukkan kerut-kerut wajahnya. Aku begitu benci melihatnya. Itu hanya mengingatkanku bahwa tidak semua orang yang kusayangi bisa hidup sepanjang masa sepertiku.

“Adikmu sudah berusaha, Kyuhyun,” ucapnya menyebut nama pemberian ibuku.

Maksudku, Ibu angkatku..,

Ya, cicit perempuan Krystal yang keturunan asia itu, Jo Ahra, mengangkatku menjadi putranya. Dia mantan model yang sangat cantik. Dia menikah dengan laki-laki berkebangsaan irlandia lalu dianugerahi putri cantik yang super cerewet, Lilith Rutherford.

Dia tahu segala hal tentang diriku, termasuk suaminya. Dan dari awal dia melihat dan tahu diriku dia sudah berencana dalam pikirannya untuk mengangkatku jadi putranya. Dia sudah jatuh cinta lebih dulu dengan wajah dan sikapku. Dia bahkan tidak segan-segan memperlakukanku seperti anaknya sendiri sebelum ia menikah dengan suaminya, Matthew.

“Itu juga karena Mom yang merayunya. Mom berhasil mencuci otaknya untuk merayakan ulang tahunku. Aku berharap aku bisa mengadu soal ini pada suaminya,” sungutku. Aku bisa mendengarkan keramaian orang-orang didalam. Dengan pikiran Lilith yang semurni mata air, apa yang ada didalam sana sudah tidak lagi menjadi kejutan bagiku.

Dan aku tetap menguping walaupun Mom berkali-kali memblokir pikirannya.

Aku akan benci sekali denganmu Kyuhyunnie, jika kau berusaha mengintip, ancam Mom keras.

“Ahra ingin menyenangkanmu. Dia ingin melihatmu tersenyum Elliot. Tidak ada yang lebih indah dari senyummu. Aku bahkan berharap bisa melihatnya sebelum aku mati nanti,” katanya kalem dengan suara serak khas nenek yang selalu disesalinya karena ia merindukan suara emas gadisnya.

Aku melompat turun dari dahan tempatku bergelantungan tadi dan berjongkok didepan kursi rodanya. “Demi Tu—“ aku menghentikan kalimatku, merasakan sesuatu mengganjal dikerongkonganku setiap aku ingin mengucapkannya. “Demi Tu..han, kau tidak akan pergi secepat itu. Kau tak kan meninggalkanku secepat itu,”

Krystal membelai lembut wajahku. “Aku sudah tua, Elliot. Kau tidak akan tahu seberapa inginnya aku terlepas dari rasa sakit ini,”

“Aku akan melakukan apapun,” rengekku hampir tidak rela. Aku tahu beberapa minggu ini Krsytal terus-terusan masuk rumah sakit karena penyakitnya yang terus kambuh dan mulai menggerogoti tubuhnya sendiri. Membuatnya semakin lemah dimataku. Aku bahkan tidak berani memeluknya karena takut ia akan hancur atau apa.

“Elliot, pengabdianmu sudah cukup. Aku bukan lagi gadis sehat yang siap menendang wajahmu jika kau berusaha melanggar peraturan kakekku,” tangannya menepuk-nepuk puncak kepalaku, seakan-akan aku ini cucunya yang hampir menangisi kondisinya yang sekarat. “Kau bebas Elliot. Ahra-lah yang akan menjagamu,”

Aku melihat semua pertumbuhannya. Aku melihat kelahirannya, aku melihat pertumbuhannya dari seorang gadis kecil ingusan sampai menjadi nenek tua bahagia yang memilki banyak cucu. Aku melihat semuanya, tapi aku tidak mau melihat kematiannya. Cukup bagiku melihat orang-orang yang kucintai mati satu per satu meninggalkanku.

Aku tidak mau kehilangan Krsytal seperti aku kehilangan Serra.

Aku mulai merasakan kesedihan purba yang menyiksa.

‘Ini pasti akan jadi kejutan besar untuknya,’ aku mengangkat kepalaku yang tertunduk, mendengar suara kenop pintu terputar . Lilith..aku mengenal aroma tubuhnya.

“Aku harus pergi,” kataku cepat tanpa melihat wajah Krystal lagi.

‘Berjanjilah satu hal padaku Elliot..berjanjilah untuk membiarkanku pergi,’

Aku masih menunduk, “Aku tidak bisa berjanji soal itu,” aku bisa mendengar langkah perlahan kaki Lilith yang kebingungan. Dia pasti ragu ingin menghampiri kami atau tidak.

‘Aku ingin kau berjanji..’ Krsytal menangkap tanganku dan mencengkramnya dengan tenaganya yang bahkan bisa kutepis tanpa harus benar-benar menepisnya. Tangan tuanya sudah tidak sekuat yang dulu.

Aku berbalik, menghiraukannya. Lilith berdiri canggung beberapa meter dihadapan kami. “Apakah kau sudah selesai , Lilo?” tanyaku pura-pura jengkel. Krsytal mencengkram tanganku semakin erat,, menahanku pergi.

“Ya, sudah. Kalian sedang bicara?” tanyanya menunjuk tangan Krsytal yang mencengkram tanganku.

Aku melepaskan tangan tua itu dengan mudah, “Tidak juga,” dustaku tenang.

‘Dia marah..aku bersalah soal ini..,’

Aku berbalik cepat. Apa? berani sekali ia menyalahkan dirinya atas ini. Jadi dia berempati padaku sekarang? “Tidak Krsytal. Demi Tuhan, tidak,” sahutku hampir berseru frustasi. Untunglah aku bisa menahan kontrol suaraku sendiri.

“Kelihatannya kalian sedang bicara. Kalau begitu ini bisa ditunda,” ucap Lilith tiba-tiba. Aku bisa merasakan rasa canggung yang terlalu menekan dirinya. “Kyuhyun kau bi—“

“Tidak,” potongku cepat. “Aku tidak mungkin membiarkan Ahra kecewa. Dan aku tidak membicarakan apapun dengan Krsytal, jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Sekarang bisakah akau masuk melihat semua kekacauan yang telah kau buat?”

‘Kau berbohong..kau melepas janjimu demi ketenangan hati adikmu. Akan kuanggap itu sebuah janji, Elliot. Janjimu untuk melepaskanku..,’ aku meringis mendengar jalan pikiran Krsytal yang terus-menerus menggangguku.

Air muka Lilith berubah, ceria. “Tentu saja! Aku yakin kau akan suka. Ini karya terhebatku, kau tahu?”

Aku menghampirinya, meninggalkan Krsytal dibelakang. Kuacak-acak rambutnya yang berwarna cokelat tanah itu, “Awas kalau itu tidak membuatku puas,”

Lilith mendengus. Ia meraih pegangan kursi roda Krsytal, ingin membawanya serta, “Aku bertaruh uang makan siangku seminggu ini,” aku tertawa keras meninggalkan mereka berdua dibelakang, melenggang menuju pintu.

Pikiran Krsytal sudah sepenuhnya sunyi. Tidak terdengar apapun.

Mungkin dia lebih memilih membiarkanku tenang…

Dan pikiran sunyi itu kini tergantikan berbagai suara berbisik berisik dari balik pintu yang langsung memenuhi kepalaku. Mereka berbicara bersamaan, membuatku tak bisa memilahnya satu per satu.

“Happy Birthday, Jo Kyuhyun!!” seru mereka bersamaan ketika aku membuka pintu. Mereka juga melemparkan berbagai ledakan kertas warna-warni ketubuh dan wajahku. Aku tertawa miris.

Ulang tahun..yang lebih tepatnya hari diamana aku dijatuhkan secara paksa dari langit hanya karena sebuah cinta..

Belum sempat aku bicara, ibu angkatku, Ahra menarikku ke tengah ruangan. Dia memintaku meniup lilin berbentuk delapan belas diatas kue tiramisu milikku. Aku sempat menolak hal konyol itu, tapi puluhan suara dikepalaku memintaku untuk meniupnya. Terlebih lagi suara itu..

Suara serak yang hanya memanggilku dengan nama asliku…

‘Tiup lilinnya Elliot, cucuku yang tampan. Buat permintaan, mungkin saja Tuhan berbaik hati untukmu, nak..’

Hanya untuk suara itu aku melakukannya. Dan aku akan mengucapkan harapanku seperti orang tolol.

Demi dirinya.

Ya Tuhan..biarkanlah aku mati. Biarkan aku merasakan sakit yang sudah lama kulupakan itu..

Semua orang bersorak untukku ketika lilin itu mati. Lilith langsung melompat kesampingku, merangkulku. Tangannya terangkat mencolek krim kue yang lengket dibawahnya dan menorehkan krim lengket itu pada wajahku.

“Selamat ulang tahun, nyamuk!” serunya, membuat semua orang melakukan hal yang sama. Mereka mengejarku dan memaksa, membutku terpaksa harus mengalah dengan segala hal tentang krim lengket itu.. Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Segalanya terasa normal..

‘Aku akan mati bahagia jika dia bahagia,,’ tiba-tiba suara itu menggelegak seperti setetes air murni dipikiranku. Aku mengangkat kepalaku, mendapati Krsytal menatapku sambil tersenyum. ‘Kau bahagia, Kyuhyun?’

Aku mengerjap. Saat itu rasanya waktu seperti diperlambat.

Aku bisa melihat Serra dalam diri Krsytal…..gadis sederhana yang dulu mati karena cintaku..

Aku bisa mendengar jantung Krsytal melambat dan melemah seperti jantung Serra yang melambat untukku..

Tidak..seharusnya tidak secepat ini.

Aku berbalik, menoleh kearah pintu diantara keramaian orang disekitarku.

Michael, dia berdiri diambang pintu dan tersenyum padaku. Hampir terlihat seperti tersenyum menang.

Aku melihatnya berbicara tanpa suara padaku, Sudah saatnya Elliot. Dia sudah diujung masanya..,

“Tidak..,” desisku pelan hampir tanpa suara. Aku setengah berlari kearah Krsytal yang terlihat seperti orang yang kehabisan napas. Puluhan pasang mata, mengawasiku bingung, “Tidak, kumohon. Tidak sekarang!” seruku pada Michael yang kasat mata bagi siapapun ditempat ini selain diriku dan Krsytal.

Michael mengarahkan tangannya. Dia terlihat seperti sedang memutar sesuatu yang kasat mata ditangannya.

Krsytal langsung terlihat kesakitan. Dia mengerang pelan, meremas dadanya. Orang-orang diskeitarku mulai sadar apa yang sedang terjadi. Lilith menyambar telepon, menelpon rumah sakit.

Tidak..bisa..tidak secepat ini..,

Aku bisa merasakan kabut hitam mulai menutupi bola mataku. Membuatnya hitam pekat seperti lautan tinta. Aku bukan seorang yang pengecut. Aku tidak takut untuk mengusir golongan Orphens seperti Michael dari tempat ini.

‘Kau tidak bisa..Elliot. ini memang sudah waktuku. Biarkan dia melakukannya,’ Krsytal mengenggam tanganku erat-erat. Menahanku diantara keributan seperti ini. ‘Ulang tahunmu hancur karenaku ya? aku minta maaf,’

“Persetan, dengan ulang tahun,” raungku marah. Aku bisa merasakan sebelah tangan Ahra yang melingkar di pinggangku.

’Kau tidak bisa melarangku Elliot. Ini tugas. Apa hakmu melarangku disini? kau bahkan sudah tidak punya nama diatas sana,’ olok Michael keras. Dia memutar tangannya, membuat Krsytal mencengkaram tanganku semakin kuat untuk menahan rasa sakit yang merajam tubuhnya.

“Lepaskan dia,” geramku.

‘Elliot, kau sudah berjanji. Peganglah janjimu anak bodoh,.’

Tepat saat itu aku melihat kabut putih tipis keluar dari mulut Krsytal bersamaan dengan menghilangnya Michael dari hadapanku.

Tidak ada lagi..suara detak jantungnya tidak ada lagi..

“Aku mohon kirimkan segera ambulan keruma h kami. Nenekku terkena sera—“ aku merampas paksa pesawat telepon dari genggaman Lilith dan membantingnya keras. Benda itu hancur berantakan dilantai.

Ahra melepaskan kekangannya dari pinggangku, “Kyuhyun..,”

“Dia sudah mati,”

‘Berjanjilah satu hal padaku Elliot..berjanjilah untuk membiarkanku pergi,’

Kau tahu, Krsytal..? aku tidak pernah berjanji soal itu. aku tidak pernah bisa berjanji untuk merelakan siapapun pergi dari sisiku.

Tidak untukmu, tidak untuk Serra atau bahkan siapapun..

“Berjanjilah Elliot bahwa kau tidak akan menangisi Serra, merelakannya sebagaimana manusia biasa lakukan,”

Aku merengut, “Aku bukan seperti kalian yang mudah melupakan. Jiak da sedikit perubahan dalam hidupku, maka itu kan bersifat permanen,”

“Tidak ada yang bersifat permanen, Elliot,” bantah Krsytal bersikeras. “Kau bisa melakukannya. Bahkan mungkin untukku nanti. Dan aku mau kau menganggapku serius soal ini. Aku mau kau terus hidup,”

Aku memutar bola mataku kemudian menatap gadis bodoh dihadapanku, skeptic, “Ya, terserah kau saja,”

“Berjanjilah untukku,”

“Ya..aku janji,”

19

[Freelance] Angela

By : rizuka^^

Cast : Lee Donghae, Kim Sunhae, Cho Kyuhyun

Genre : AG

tag : Lee Donghae, Cho Kyuhyun

happy reading^^

Lee Donghae berlari menuju bus tujuannya. Untung saja bus itu belum meninggalkannya. Ia menarik napas lega lalu masuk ke dalam bus itu. Ia memandang sekeliling mencari tempat duduk. Semua kursi telah penuh oleh penumpang. Ia berdecak kesal karena ia harus berdiri kira – kira 30 menit untuk mencapai sekolahnya.

Bus berhenti. Seorang yeoja masuk. Gadis mungil yang rambutnya dikuncir satu di samping. Donghae memandangnya.

***

Donghae’s POV

Saat bus berhenti, aku melihat seorang yeoja masuk. Gadis itu masuk dengan tergesa – gesa. Matanya yang bulat itu melihat sekeliling, lalu tidak sengaja matanya melihat ke arahku, ia tersenyum ke arahku, tetapi aku hanya bisa memandangnya tanpa respon.

I think of the first time I saw you… in a moment, my heart fell apart

Aku merasakan gejolak aneh. Perasaan yang sejuk dan menyenangkan. Perasaan yang membuatmu tersenyum dan merasa ringan. Aku merasa ingin mengenalnya lebih dekat…

***

Three months later…

“Ya~! Donghaeeee! Andwaeee! Itu makanan kesukaanku. Jangan dimakan!”

Aku tersenyum mendengar suaranya, lalu memakan kimbap yang ada di hadapanku.

“Yaaaa!” katanya lagi, mendekatiku sambil berjalan terengah – engah. Gadis itu, Kim Sunhae, aku sangat mencintainya sejak pertama kali aku melihatnya.

You are my angel…

I love you everyday..

The sadness of only one,

I pray that I won’t wake up from this dream

Aku tidak menyangka ternyata kami satu sekolah, dan bahkan satu kelas. Karena dia tidak mengenal siapapun disini, akhirnya ia menjadi teman satu mejaku. Aku senang. Aku bisa mengenalnya lebih dekat. Jarak kami juga terasa memendek. Tapi aku merasa tidak pantas untuknya-untuk menjadi seseorang yang terpenting dalam hidupnya-. Aku merasa aku tidak mempunyai apapun yang dapat kuberikan padanya. Dan aku  tidak pernah mampu memperlihatkan perasaanku padanya. Tapi namja yang penakut ini tidak akan menyerah..

“Kau harus mengganti makananku! Ya~! Jangan melamun.” katanya lagi, membuatku tersadar dari lamunan.

“ne, ne. aku akan menggantinya besok pulang sekolah. Otte?”

“waaaa, aku mau!” jawabnya senang.

Aku mengacak – acak rambutnya sambil tersenyum. Bel masuk berbunyi dan Choi sonsaengnim masuk ke kelas.

“Yorobeun, hari ini kita kedatangan murid baru. Ayo masuk dan perkenalkan dirimu.”

Seorang namja yang sepertinya lebih tinggi dariku masuk. Ia tersenyum, dan senyumnya terlihat menyebalkan bagiku. Tapi ternyata tidak bagi yeoja – yeoja di kelasku. Mereka berteriak kegirangan. Semua kecuali satu orang.

“Annyeong haseyo. Cho Kyuhyun imnida.” kata namja itu sambil membungkukkan badannya dan mengeluarkan smirknya yang terlihat meremehkan dan terasa jauh lebih menjengkelkan. Aku menolehkan kepalaku ke arah Sunhae, ia masih memandang lurus ke depan dengan pandangan yang sulit kuartikan.

Donghae’s POV end

***

The next day..

Donghae masuk ke dalam kelas. Kelasnya menjadi kelas yang paling berisik, padahal saat itu masih pagi. Banyak yeoja yang mengerumuni meja Kyuhyun dan memberikan hadiah – hadiah mereka di laci. Bahkan ada pula yang membersihkan meja dan kursi itu lalu menghiasinya dengan stiker berbentuk hati di sana – sini yang bertuliskan nama mereka. Aigooo, benar – benar memalukan! Donghae benar – benar bingung apa bagusnya si Kyuhyun itu, ia berpikir sambil berjalan keluar kelas.

Tidak lama kemudian, Kyuhyun datang. Yeoja – yeoja itu berteriak histeris, lalu membuntuti Kyuhyun. Mereka sibuk memberitahukan hadiah mereka masing – masing. Para namja lain yang melihat peristiwa itu memandang Kyuhyun dengan tatapan jijik. Kyuhyun masih bercuap – cuap mengucapkan terima kasih ketika Sunhae masuk dan duduk di bangkunya tanpa sedikitpun melihatnya. Kyuhyun diam, lalu mengamati Sunhae. Sunhae mengeluarkan bekal makanan dari tasnya dan mulai membuka bekalnya. Kyuhyun berjalan menghampiri Sunhae.

“Chogiya, boleh aku minta kimbapnya? Tadi aku belum sempat sarapan.” kata Kyuhyun dengan senyum mautnya. Belum sempat Sunhae menjawab, para yeoja tadi yang membawa hadiah berupa kimbap langsung mengerumuni Kyuhyun dan memberikan hadiahnya.

“Gomawo. Aku sudah bisa melihat kalau kimbap kalian enak. Aku penasaran dengan kimbapnya.” kata Kyuhyun sambil menunjuk kimbap milik Sunhae.

“Kau mau merebut Sunhae dari Donghae?” bisik salah satu yeoja. Yeoja – yeoja lain melihat ke arah yeoja tadi dengan tatapan kesal.

“Mworago? Mereka pacaran?” kata Kyuhyun balik berbisik kepada yeoja tadi. Yeoja itu terlihat senang, sedangkan yeoja – yeoja lain tambah merasa kesal karena Kyuhyun tidak memperhatikan mereka.

“Ani, tapi walaupun mereka belum pacaran, kelihatan sekali kalau Donghae menyukai Sunhae.”

“Gomawo.” kata Kyuhyun. Ia tersenyum.

***

“Sunhae-ya, ayo kita pulang! Aku akan mengganti kimbap yang kemarin kumakan.”

“Mianhae. Hari ini aku tidak bisa.” wajahnya terlihat menyesal.

“wae?”

“Kyuhyun mau mengantarku pulang karena tadi ia sudah menghabiskan kimbapku.”

“mwo? Tapi kan aku sudah membuat janji padamu dari kemarin.”

“arayo… geunde, daritadi ia memaksaku, padahal aku sudah bilang padanya kalau aku sudah ada janji padamu. Mianhae Donghae-ya.”

“gwenchana. Mulai besok aku latihan penuh untuk pertandingan futsal. Jadi baru minggu depan aku bisa mentraktirmu, arachi?”

“ne! aku pasti bisa” jawabnya sambil tersenyum.

***

Three weeks later..

Donghae’s POV

Sebenarnya aku janji pada Sunhae 2 minggu lalu. Tapi latihan untuk pertandingan futsal sangat menyita tenaga dan waktu. Latihannya sangat intensif. Aku juga sibuk mengurus acara sekolah yang sebentar lagi akan diadakan. Benar – benar melelahkan.

Aku berjalan menuju kelas. Tapi sampai taman belakang sekolah, langkahku terhenti. Aku melihat Sunhae dan Kyuhyun mengerjakan sesuatu disana. Mereka terlihat sangat akrab. Padahal aku hanya meninggalkan Sunhae selama 3 minggu, tapi ia sudah terasa jauh. Sunhae tertawa. Ia terlihat sangat manis. Tapi tiba – tiba Kyuhyun mencium pipi Sunhae. MWO?! Dasar anak kurang ajar! Aku mendatanginya.

“YA! Waeirae?!” seruku ke arah Kyuhyun dengan sebal. Sunhae terlihat kaget, mungkin karena ia tidak terbiasa melihatku marah. Kyuhyun hanya tersenyum dan lagi – lagi mengeluarkan smirknya yang menyebalkan itu. Aish! Aku ingin sekali menghajarnya. Tapi kuurungkan niatku dan pergi meninggalkan mereka.

***

Sejak Kyuhun mencium pipi Sunhae, aku benar – benar kesal setengah mati padanya. Tapi Sunhae… aku merasa akhir -akhir ini Sunhae lebih dekat dengan Kyuhyun daripada denganku. Harusnya sudah sejak dulu aku mengatakan perasaanku pada Sunhae, sekarang sepertinya kesempatan itu sudah hilang.

Entahlah, aku merasa Sunhae menatap Kyuhyun dengan pandangan yang berbeda dari yang lain, termasuk aku.

***

Aku duduk di bawah pohon. Menunggu Sunhae. Aku akan mentraktirnya hari ini. Dan hari ini juga aku akan mengatakan perasaanku.

Sunhae datang, lalu tersenyum padaku. Dia masih seperti gadis yang dulu kutemui di bus. Gadis mungil dan polos yang rambutnya dikuncir satu di samping, dan semoga perasaanya juga tak berubah. Lebih baik perasaannya sama seperti dulu saat pertama kali bertemu denganku daripada jika perasaannya telah berubah untuk Kyuhyun.

“Annyeong, mianhae aku terlambat.” katanya sambil membungkuk 90 derajat. Aigooo, lucunyaaa…

“gwenchana. Kajja!” aku menggandeng tangannya.

***

At the ‘Steak House’

“ Donghae-ya, gomawo. Aku sangat menikmati makananku. Hehehe. Harusnya kau mengajakku dari dulu. hm, apa yang ingin kau katakan? Marhaebwa..” kata Sunhae setelah kami selesai makan.

“Chonmaneyo. Euuuh, keuge, em, kau juga mau menceritakan sesuatu kan? Kau duluan.” kataku mulai gugup. Aish!

“gwenchana? Kau bilang apa yang ingin kau katakan itu sangat penting.”

“gwenchanayo. Marhaee..”

“em, bagaimana aku menceritakan ini padamu? Em, jangan bilang siapapun. Yaksokhae?”

“Yaksokhae. Marhae bbaliii, aku sudah penasaran.”

“ne, ne, ne, aku…aku menyukai Kyuhyun.” kata  Sunhae cepat yang seketika membuat dadaku mencelos.

“mworago?” kataku panik.

“Ya~! Jangan buat aku mengulangi kata – kata memalukan itu lagi Donghae-ya. Aku..menyukai Kyuhyun.”  katanya sambil menutup mukanya.

“jeongmal? Kau yakin?” kataku lebih untuk meyakinkan diriku sendiri.

“keurom. Disini…disini selalu berdetak lebih cepat bila ada Kyuhyun, Donghae-ya.” katanya sambil menyentuh dada kirinya.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan tadi?” katanya lagi yang sontak membuatku kaget.

“eh? Itu..em, aku lupa. Hehehe. Besok kalau ingat aku akan memberitahumu.” kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Sepertinya hari itu telah datang. Hari dimana aku ingin menenggelamkan diriku bersama perasaanku. Hari dimana aku merasa hari – hari selanjutnya akan terasa berat dan menyulitkan. Hari dimana aku mencoba untuk melupakan Sunhae, tapi seperti yang kuduga, itu mustahil!

***

Andwae! Sunhae memintaku untuk menjadi cupidnya?! Mwo?! Untuk kebaikanku?! Untuk bisa berbaikan dan akrab dengan si evil Kyuhyun itu?! Aish! Yang benar saja! Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku menjadi sahabat yang baik untuk Sunhae? Sahabat baik yang membantu gadis tercintanya mendapatkan cinta dari orang lain? Sungguh ironis! Tapi tentu saja aku harus memilih..

***

Rencana – rencanaku berjalan lancar. Sunhae dan Kyuhyun menjadi lebih dekat. Kyuhyun benar – benar telah menggantikan posisiku yang susah payah kudapatkan. Meskipun hatiku terluka saat menjalankan rencana ini, tapi ketika melihat wajah Sunhae yang penuh tawa, hatiku terobati meski tidak sepenuhnya. Aku senang Sunhae bahagia. Bukankah itu yang selalu dikatakan orang? Melihat cinta itu bahagia bersama orang lain kita juga bahagia, adalah cinta sejati? Ya, aku harus meyakinkan diriku bahwa aku akan tetap mencintai Sunhae sampai kapanpun. Kim Sunhae, walaupun aku bukanlah orang yang menjadi prioritas pertama dalam hidupmu, tapi aku akan mencoba untuk selalu disisimu baik itu saat senang maupun sedih. Jika kau ingin menangis, menangislah di bahuku, walaupun aku bukan kekasihmu, aku akan selalu menjagamu. Sunhae-ya, jika kau ingin tertawa tertawalah bersamaku. Kadang aku masih berharap bahwa senyum yang kau tunjukkan padaku, itu hanya untukku. Tapi kini, aku hanya bisa berharap. Sunhae-ya,  jebal, walaupun sekali, tapi cobalah kau berbalik dan melihatku. Aku disini Sunhae-ya… cobalah melihatku…

***

1st May 2010

Hari ini tepat satu bulan Sunhae dan Kyuhyun berpacaran. Dan aku? Aku masih seorang Donghae yang menjadi sahabat terbaik gadis yang dicintainya. Kadang aku melihat Sunhae benar- benar senang dengan keadaannya sekarang. Tetapi, pernah suatu kali aku melihatnya melamun dengan tatapan yang sangat menyayat hati. Dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat melihatnya murung.

When you’re lonely, or even when you’re sad

If that man who can protect  you is me

I can love you right now as you are… forever, really forever

Seperti saat ini, aku melihatnya duduk di taman belakang sekolah. Hanya duduk dan melamun. Sendirian. Aish! Dimana si Kyuhyun itu? Kenapa dia bahkan tidak menghibur Sunhae? Aku ingin memeluk Sunhae erat, menghangatkan hatinya, tapi dia sudah menjadi milik orang lain. Aku tidak berhak untuk melakukan itu, aku hanya akan menghampirinya.

“Sunhae-ya”kataku sambil menyentuh bahunya pelan. Ia mendongak dan aku melihat kristal bening di matanya yang mulai menetes.

“uljima..”kataku sambil menyeka matanya yang basah.

“gomawo” katanya pelan.

“wae? Kenapa kau menangis? Marhaebwa”

“ani, gwenchanayo”

“geojitmal” kataku,”aku sudah mengenalmu lebih daripada Kyuhyun.”

“ara, tapi aku baik – baik saja. Hm, tadi, ada pesawat yang mengeluarkan gas air mata. Shoo,shoo, shoo, begitu.” jawabnya melucu.

Aku tertawa. Kering. Biasanya aku akan tertawa  sekeras mungkin tidak peduli itu lucu atau tidak. Tapi kali ini hal itu menjadi lebih sulit. Keadaannya sudah berbeda.

I’ll be okay… I’ve always been like this

Even being behind you, I’m still happy like this

Tears fall again, even at you jokes

Because I have to stay by your side with just a cold face

Sunhae melucu lagi.Air matanya mulai mengering. Ia melakukan gerakan – gerakan lucu yang dulu menjadi kesukaanku. Aku tertawa. Terlalu hambar. Terlalu terlihat. Aku menahan air mataku agar tidak jatuh. Ya, itulah perasaanku saat ini. Aku mencoba tertawa padahal dalam hati aku ingin menangis. Sunhae dan aku sekarang… kita sudah berbeda.. keadaan sudah berbeda. Lalu, apakah aku masih bisa tertawa dengan keadaan yang menyedihkan seperti ini?

***

I shouldn’t be thinking thoughts like this

I know the place that should have

Now, I’ll (try to) erase you who fills my mind

Sudah berkali – kali aku mencoba melupakan Sunhae. Tapi sepertinya itu mustahil. Hari demi hari, perasaanku terasa lebih kuat. Lebih dari dulu aku mencintainya. Walaupun aku tahu, seiring waktu berjalan, perasaan itulah yang menggerogoti hatiku, membuat hatiku terasa jauh lebih sakit dari sebelumnya. Aku bahkan masih ingat wajahnya yang tersenyum saat pertama kali aku melihatnya. Tidak ada yang bisa menghapus senyum itu dari ingatanku. Saat hatiku sakit, aku selalu mengingat senyumnya saat itu agar hatiku sembuh, tapi senyum itu jugalah yang  justru menyadarkanku bahwa sampai sekarang aku masih mencintai gadis yang sudah menjadi milik orang lain.

You’re my angel, whisper softly

I imagined your once-sweet smile all night long

The memories of staying up all night  from one meaning less word

***

Malam ini aku tak bisa tidur lagi. Aku keluar dari kamarku menuju balkon. Dari sini aku bisa melihat ruang tengah rumah Sunhae yang ada di seberang jalan. Malam ini ruang itu kosong. Aku berdecak pelan, lalu memandang langit yang biasanya dulu menjadi hobiku dan Sunhae. Memandang langit malam kali ini sungguh berbeda. Bintang juga tidak tampak. Terasa dingin dan sepi. Kehangatan yang dulu kurasakan tampaknya kini mulai menghilang.

Terdengar suara klakson mobil. Aku melirik ke bawah dan kulihat Kyuhyun yang sedang membukakan pintu mobilnya untuk Sunhae. Bodoh! Untuk apa aku melihat semua ini? Ini hanya akan menyiksaku lagi. Aku masuk ke dalam kamar. Air mataku menetes. Ya, aku tau aku hanya namja cengeng yang pengecut! Sekali lagi aku meyakinkan diriku bahwa memang inilah yang seharusnya kulakukan. Tapi pertanyaan itu tiba – tiba muncul kembali ke otakku. Apa masih ada harapan? Apa aku bahagia dengan keadaan seperti ini? Aku memejamkan mataku sejenak, lalu kuyakinkan diriku dengan sebuah anggukan kepala.

***

Sudah dua tahun sejak Kyuhyun dan Sunhae berpacaran. Dan aku selalu setia mendengarkan semua cerita Sunhae. Meskipun sebenarnya hatiku tidak. Aku tau ini menyakitiku. Tapi yang kutau, ini satu – satunya hal yang dapat kuberikan pada Sunhae. Menjadi seorang sahabat.

Hari – hari menjelang kelulusan akan tiba sebentar lagi. Appa dan eomma terus mendesakku untuk memikirkan masa depanku. Tapi aku bahkan belum memikirkan kemana aku akan kuliah nanti. Hatiku masih bisa bertahan seperti ini..

***

Hari – hari berjalan cepat ketika kau tak menginginkannya . Itu memang benar. Appa memberiku waktu untuk berpikir mengenai masa depanku, kuliahku, karirku, dan tujuan hidupku. Tapi sampai sekarang, sampai waktu yang diberikan appa habis, aku belum menentukan jawabannya.

Kesabaran appa dalam menghadapiku sepertinya sudah habis. Tanpa sepengetahuanku, appa sudah mendaftarkanku ke sekolah musik di Paris. Appa bahkan sudah mengirimkan dokumen – dokumen yang harus dilengkapi, serta mengurus kepindahanku kesana. Ya, sebentar lagi pesawat tujuan Paris akan tinggal landas. Eomma dan appa mengantarkanku ke bandara dua jam lalu. Sampai sekarang aku masih tidak percaya hal ini yang pada akhirnya terjadi padaku-berpisah dengan Sunhae- Aku belum memberitahukan Sunhae mengenai ini semua, aku hanya menitipkan suratku untuk Sunhae pada eomma. Menit – menit menjelang keberangkatanku, aku memeluk eomma dan appa. Menit – menit menjelang keberangkatanku, aku selalu menengok ke belakang, berharap Sunhae akan datang dan meminta padaku untuk tidak pergi. Aku tahu itu mustahil. Harapanku pada Sunhae masih ada walau tidak sebesar dulu. Aku tau Kyuhyun benar – benar mencintai Sunhae dan aku percaya padanya. Bahwa Sunhae akan bahagia. Bahwa Kyuhyun akan selalu menjaganya.

Selamat tinggal, Sunhae-ya, maafkan aku karena tidak memberitahukan hal ini padamu semoga kita dapat bertemu kembali dalam keadaan bahagia, Sunhae-ya. Annyeong..

Aku menengok ke belakang untuk terakhir kali. Aku melambaikan tanganku kepada eomma dan appa. Maaf karena aku selalu merepotkanmu, eomma. Maaf karena aku selalu menyulitkanmu, appa. Aku berjalan menjauh. Meninggalkan tatapan mereka yang mulai sendu dan melanjutkan langkahku ke depan tanpa menoleh lagi ke belakang.

***

To : Sunhae

From : Donghae

Sunhae-ya, jeongmal mianhae karena aku tidak memberitahumu dari awal.

Saranghae… kata inilah yang ingin aku katakan sejak dulu, Sunhae-ya. Tapi mulutku terlalu kaku. Aku terlalu pengecut!

Kau tahu Sunhae-ya?

Aku sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu 3 tahun lalu. Kau masih ingat? Kau tersenyum padaku dengan bola matamu yang jernih dan mulutmu yang mungil di bus dan mulai saat itu, aku merasa kau adalah pusat gravitasiku, Sunhae-ya. Aku selalu menikmati setiap detik waktu yang kita lewati bersama. Hatiku selalu tersenyum jika melihat senyummu, aku selalu merasa senyum itu hanya milikku. Tapi aku salah bukan?

Saat Kyuhyun mulai datang di kehidupan kita, aku mulai merasa cemas, Sunhae-ya. Kau terlihat berbeda jika bersamanya. Aku merasa terpukul ketika kau mengatakan kau menyukainya. Aku bingung ketika kau menyuruhku mempersatukan kalian berdua. Aku sedih, marah, dan kecewa ketika kau lebih memilihnya. Tapi aku menghargaimu. Itu perasaanmu. Dan aku tidak bisa memaksa perasaanmu untuk menyukaiku. Saat aku benar – benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku teringat satu hal. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Sunhae-ya. Jadi meskipun aku bukan kekasihmu, aku selalu berada di sampingmu. Aku sudah cukup bahagia ketika kau mengizinkanku selalu berada di sampingmu..

Saat kau memulai dengan lelucon – leluconmu yang konyol, saat itulah aku tersadar bahwa kau bukan milikku, Sunhae-ya. Maafkan aku karena aku selalu berpura – pura tertawa di depanmu. Yang kutahu hatiku ini memang sakit, tapi aku tak boleh lemah di hadapanmu.

Sekali lagi tolong maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat kau menangis dan sedih karena kekasihmu. Aku hanya dapat memandangimu dari jauh. Aku takut jika aku mendekat, egoku ini tidak dapat bertahan dan aku langsung memelukmu. Ya, semua itu menyiksaku. Tapi aku harus tetap bertahan disisimu. Sebagai sahabatmu yang baik. Karena seperti yang kubilang tadi, aku membutuhkanmu.

I’ll be okay… I’ve always been like this

Even the brushing past of your hand makes me happy like this

Tears fall again, even at your playfulness

Because I have to stay by your side just as your most comfortable friend

Tapi seiring waktu berjalan, aku sadar bahwa hatiku sakit, Sunhae-ya. Bahkan mungkin saat ini, detik ini jika aku melihatmu, hatiku masih akan terasa sakit. Kadang aku berharap kau juga merasakan apa yang aku rasakan. Aku berharap suatu saat nanti kau akan melihatku. Kau akan mencintaiku. Hah, aku hanya terlalu jauh berharap. Dan itulah hal yang membuatku semakin sakit. Bukan karena kau. Sama sekali bukan.

Aku pernah berharap kalau saja kita tidak pernah bertemu, kalau saja aku tidak pernah mengenalmu, kalau saja aku bisa melupakanmu sejak awal. Mianhae. Maafkan aku karena aku tak bisa melupakanmu. Nama Kim Sunhae sudah benar – benar mengkristal di hatiku dan kau akan selalu menjadi Angela-ku. Peri mungilku.

Love me….

No, forget me..

Even being behind you I’m still happy like this

Sunhae-ya, kepergianku ke Paris ini bukan karena aku tidak ingin lagi melihatmu. Bukan. Ini keputusan appa. Dan setelah kupikir lagi, hal ini mungkin adalah hal yang terbaik untukku. Maafkan aku karena aku tidak bisa memberitahumu secara langsung. Aku benar – benar tidak dapat menahan air mataku bila aku bertemu denganmu, Sunhae-ya.

Aku selalu mencoba kuat di depanmu, Sunhae-ya. Tapi setelah membaca surat ini kau akan tau, aku hanyalah seorang penakut. Sebenarnya aku ingin berpamitan padamu dengan senyum yang terlukis di wajahku, tapi namja yang penakut ini tidak mampu melakukannya. Aku tahu Kyuhyun akan selalu mencintai dan menjagamu, dan hal itu sudah membuat hatiku lega.

Mianhae. Aku hanya dapat mengatakan kata itu berulang – ulang dengan mudahnya. Jeongmal mianhae Sunhae-ya. Aku tidak bisa lagi berada di sampingmu seperti dulu. Aku berharap suatu saat nanti kita akan bertemu kembali dengan membawa seseorang yang kita cintai. Aku sudah tidak sabar menunggu hal itu.

Sunhae-ya, semua yang telah kukatakan padamu melalui surat ini, janganlah kau anggap sebagai beban. Aku hanya ingin kau tau agar aku merasa lega. Maafkan aku yang terlalu egois ini. Aku hanya ingin mengeluarkan semua pikiranku.

Sunhae-ya, terima kasih karena selama ini kau memperbolehkanku untuk terus berada di sampingmu. Jaga kesehatanmu. Aku percaya bahwa kita pasti akan bertemu lagi. annyeong…

Lee Donghae

***

-END-

Readers, mian kalo ffnya aneh, geje, ataupun biasa banget

Author memang lagi bingung nyari ide*alesan*

ini ff kedua author di blog ini

author dulu pake nama princess rizuka tapi karena udah ada yang make, nama author sekarang jadi rizuka^^ aja

hehe

makasih yang udah baca ff ini

mohon komennya buat memperbaiki ff berikutnya agar lebih baik^^

kamsahamnida~

 

Gallery
20

Autizz_fam [Which One That Very Strauge??]

Author : Hyuniminnie a.k.a Lee Hyunjin

Title : Autizz_fam [Which one that very strauge??]

Genre : tentuin aja ndiri, yg jelas nie cerita sangat2 tidak jelas*ditimpuk reader*

Cast : yang pastinya Autizz family

Author said : Sekarang kita bercerita tentang kisah sebuah keluarga yang sedikit aneh,.mengapa dibilang aneh? Baca saja dulu, maka kalian akan mengerti..hehe..Sok dinikmatin..bukan makanan ya..tapi ceritanya, kalau mau sambil makan juga boleh..tapi makanannya dari anda sendiri..*ditimpuk raeder*

<<AUTIZZZZ>>

”Yoomin-ah!!aku pergi dulu ya!!” teriak Yesung.
”Hyung, tunggu aku! Yoomin-ah, aku pergi dulu ya!!” teriak Donghae tak kalah nyaring.
”Appa!!kalau pulang bawa makanan ya” kata Hyunjin manja kepada Donghae.
”Minta beliin sama Appa Junsu aja ya, Appa pulang malam hari ini” jawab Donghae. Hyunjin menatap Appanya yang lain yaitu Junsu.
”Appa hanya dirumah hari ini, tidak kemana-mana” jawab Junsu, ketika menyadari Hyunjin menatap kearahnya.
”Sudah, biar Appa Yesung yang belikan” Yesung membuat Hyunjin tersenyum.
”Appa!kalau Noona dibeliin, Jongmin juga dong” pinta Jongmin pada Appanya. Yesung mengangguk mengiyakan.
”Kalian berdua, kapan mau berangkat?udah terlambat tuh” kata Yoomin tiba-tiba.
”Umma!!mau dibeliin makanan gak?aku dan Noona udah pesan dengan Appa Yesung” kata Jongmin. ”Jangan minta sama Appa Donghae, dia pelit” sambungnya.
’PLETAKK’ sebuah buku mendarat tepat dikepala Jongmin.
”Apa kau bilang? Appaku pelit?” teriak Hyunjin.
”Memang iya kan?” Jongmin melempar balik buku itu, dan terjadilah perang buku antara Hyunjin dan Jongmin.
Sementara kedua Appa mereka sudah kabur duluan karena takut terlambat.
”Hyunjin-ah, Jongmin-ah!!hentikan!!buku Appa sudah hancur tau!” teriak Taecyeon.
”Noona duluan Appa” Jongmin melas.
”Tidak perduli siapa yang duluan. Cepat bereskan!” perintah Taecyeon. Kedua kakak beradik itu segera menurutinya.

”Noona, menurutmu aneh mana, Appa Yesung atau Appa Donghae?” tanya Jongmin setelah mereka selesai membereskan buku-buku milik Taecyeon yang berserakan akibat ulah mereka.
”Tentu saja Appa Yesung, anaknya aja aneh” jawab Hyunjin.
”Iiihh, maksudmu aku aneh? Yang aneh itu Appa Donghae, selain aneh dia juga pelit” Jongmin naik darah.
”Aku tidak mau dimarahi oleh Appa lagi. Lebih baik kita tanyakan kepada seluruh orang yang ada dirumah ini. Appamu atau Appaku yang aneh” Hyunjin memberi usul.
Kedua kakak beradik itu melancarkan misinya. Dimulai dari Ummanya, Yoomin.
”Umma, menurutmu aneh mana?Appa Yesung atau Appa Donghae?” tanya mereka berdua.
”Dua-duanya. Kalau tidak aneh bukan Appa kalian” jawab Yoomin singkat dan jelas. Keduanya saling pandang-memandang. Dan mereka segera berlari ke taman dan mendapatkan Appa mereka yang lain, Junho.
”Oppa, anehan mana..Appa Yesung atau Appa Donghae” kata Hyunjin membuat Junhotersentak.
”Hey, aku Appamu. Seenaknya saja memanggilku seperti itu” ambek Junho.
”Wajahmu sama sekali tak mendukung” jawab Hyunjin dan segera berlari meninggalkan Junho yang kesal, dan tak lupa ia menarik Jongmin.
”HYUNJIN!!!!”
Mereka berlari ke dapur dan mendapati Junsu yang sedang minum.
”Appa!!” teriak mereka berdua.
”Yak! Kalian membuatku tersedak” Junsu memukul-mukul dadanya yang sakit.
”Mianhae Appa”
”Ne, gwenchana. Ada apa?” kedua kakak beradik itu menanyakan hal yang sama. Dan jawabannya adalah…
”Semua Appa kalian itu aneh. Kecuali Appa,.hehe” Hyunjin dan Jongmin menghela nafas.
”HYUNJIN!!!” teriak Junho yang masih mencari kedua anak itu.
”Jongmin-ah. Kabur!!!” mereka berdua kembali berlari meninggalkan Junsu yang masih nyengir-nyengir.*Junsu emang nggak aneh, tapi sarap…hahaha…**Lari!!!Yoomin bawa panci!!*

Sampailah mereka ditempat Taecyeon berada.
”Hah, Appa….” kata mereka terengah-engah.
”Kalian kenapa sih, kok kelihatan capek banget?” tanya Taecyeon khawatir.
”Menghindar dari terkaman monster baby face, Appa” jawab Jongmin yang membuat Hyunjin tertawa.
”Ha?? Sudahlah, kenapa mencariku?” kedua anak itu menanyakan hal yang sama. Dan jawaban Taecyeon adalah..
”Yang aneh itu Umma kalian” tiba-tiba…
”Yak! Apa kau bilang?” tanya Umma mereka.
”Yoomin-ah” kaget Taecyeon.
”Noona, lebih baik kita pergi” ajak Jongmin. Sekali lagi mereka tidak mendapatkan jawaban yang pasti.

”Yoomin-ah, Hyung!!apa aku tidak cocok jadi Appa?” tanya Junho melas.
”Heh??” Taecyeon dan Yoomin bingung.
”Aku bukan ’Oppa atau Hyung’,,aku kan Appa mereka” sambung Jonho, dan sekarang hampir menangis.
”Yak! Taecyeon-ah, apa yang kau lakukan? Kenapa Junho sampai seperti ini?” tanya Junsu khawatir dan segera mengambil posisi tepat disamping Junho.
”Hyung! Aku bukan ’Oppa atau Hyung’ kan?” rengek Junho. Junsu menjadi bingung dengan yang dikatakan Junho berulang-ulang kali itu.
Sementara Hyunjin dan Jongmin yang memperhatikan tingkah Appa mereka yang satu itu menjadi bingung.
”Noona, sepertinya yang aneh itu bukan kedua Appa kita. Melainkan Appa Junho” Jongmin memberikan pendapat.
”Kau benar Jongmin-ah…” Minhae mengangguk setuju.

<<AUTIZZZZ>>

Author said : Sekian dulu ceritanya yo…kita lanjutin cerita-cerita keluarga yang aneh ini nanti,,kalau ada yang mau ditanyakan, silahkan tinggalkan pertanyaan itu di forum komentar..Di part yg pertama ini castnya belum keluar semua. Dan sedikit bocoran, cast dicerita keluarga tidak jelas ini sangaaaaattttt buanyak..hehe

KAMSAHAMNIDA…^0^

1

And Our Memories [Part5]

Title : And Our Memories

Main Cast :

Song Eunjin

Choi Jonghun

Other Cast : FT.Island

Image and video hosting by TinyPic

“Eun.. boleh aku bertanya?” Hongki melihatku serius. Aku mengangguk.

“Ne. apa?” tanyaku.

“Apa Inri benar-benar membenciku?” tanyanya. Ah~ apa itu sangat terlihat?

“Em… Sebenarnya tidak Hongki… tak ada yang membencimu…”

“Jangan tutupi semua Eun… aku tahu kalau Jonghun benar-benar tak menyukaiku… dan Inri, dia bersikap sama…”

“Kau tahu Inri sepupu Jonghun kan? Dia sangat sayang pada Jonghun… dan, posisimu membuat Inri sedikit tak senang…” jelasku. Continue reading

21

[Freelance] That Should Be Me Being His Mom [part 1]

Author: Park Shilla

Cast : Siwon Super Junior

Oke ini pernah di publish di blog pribadi saya.. hanya ingin ikut share aja ni ff ma kalian.. hope you’ll like it….

Part 1

Bagaimana rasanya saat kau merasa hidupmu telah sempurna tapi kemudian kau merasa kesempurnaan itu hilang begitu saja???

Aku bahagia. Sungguh bahagia. Semua terasa begitu indah. Menikah dengan orang yang kau cintai dan mempunyai buah hati yang begitu imut dan lucu. Semua terasa sempurna.

Aku mencintai suamiku Choi Siwon dan putra kami Choi Hye Joon. Meski Hye Joon bukan anak kandungku tapi aku sangat mencintainya. Meski ia tak lahir dari rahimku tapi dia selamanya adalah anakku. Aku mencintainya sangat mencintainya, tak seperti ibunya yang justru meninggalkannya.

Sampai sekarang aku tak tahu siapa Ibunya. Siwon Oppa bilang ibu Joon tidak ada di korea. Entah kemana. Aku tidak peduli.

Satu-satunya yang membuatku sedih dengan hadirnya Joon adalah bahwa aku bukan ibunya. Dia lahir dari rahim wanita lain. wanita yang mungkin pernah mengisi hati Siwon Oppa. Kadang aku bertanya apakah Siwon Oppa mencintai ibu Joon, tapi dengan tegas ia katakan bahwa ia sangat mencintaiku. Joon lahir karena kesalahan, tapi Joon bukan kesalahan. Joon tak salah, dia hanya bayi yang tak berdosa.

Semua kenyataan itu tak membuatku membenci Joon. Karena nyatanya aku sangat menyayangi Joon. Aku mncintainya dengan segenap jiwaku. Aku bahkan orang yang pertama khawatir saat Joon sakit. aku sangat menyayanginya.

Umur Joon sekarang 4 tahun. Di umur sekarang ini anak kecil masih imut-imutnya. Dan itu juga yang terjadi pada Joon. Dia sangat pintar. Dia mewarisi hampir semua sifat ayahnya. Untung saja gen dominan yang diturunkan ke Joon adalah gen ayahnya. Bukan ibunya.

“Eomma, Joon mau eskrim.” Katanya manja padaku saat aku menjemputnya di Play group.

“Geurae? Baiklah ayo kita beli eskrim” kataku akhirnya setelah melihat puppy eyes nya. Aku selalu tak bisa menolak saat ia sudah berwajah seperti itu.

Kami pergi ke café biasa. Tempat biasa aku, Siwon Oppa dan Joon pergi kalau Joon sudah merengek seperti ini.

Aku sedang mencari tempat untuk duduk sebelum akhirnya aku menemukan pemandangan yang sama sekali tak ingin kulihat. Siwon Oppa. Duduk berdua bercanda dengan riang dengan seorang gadis. Gadis itu bergelayut manja pada suamiku. Aku terpaku melihat mereka.

Aku masih berfikir positif bahwa mungkin gadis itu adalah rekan kerjanya. Tapi kenapa begitu akrab?

Yang membuat aku tak percaya adalah ketika gadis itu mencium Siwon Oppa. Mataku memanas. Tapi bahkan aku tak bisa bergerak sedikitpun. Kakiku seolah menempel pada lantai tempatku berdiri sekarang.

“Eomma,, eomma eomma,,, EOMMAAAA!” teriak Joon sambil menarik-narik tanganku. Aku tersadar. Seketika kutarik Joon dalam gendonganku. Kubawa ia pergi meninggalkan tempat yang memuakkan ini.

<Siwon pov>

Aku tersentak saat tiba-tiba Hyora menciumku. Bukan ciuman di bibir memang Cuma di pipi. Selama ini hanya Shilla yang selalu menyentuhku. Tak ada wanita lain.

“Eomma,, eomma eomma,,, EOMMAAAA!” teriak seorang anak kecil. Tapi suaranya mirip Joon. Aku tersentak. Seketika ku lepas ciuman Hyora. Mencari sumber suara yang mengagetkanku.

Dan benar saja kulihat Joon dalam gendongan Shilla.

Ah tidak jangan bilang Shilla melihat kejadian barusan. Ia pasti salah paham.

Dan sepertinya ia memang melihatnya karena ia segera lari sambil menggendong Joon. Demi Tuhan aku tak bisa melihat Shilla terluka. Selama ini dialah yang menemaniku. Ia lah yang menempati seluruh hatiku. Aku harus menjelaskannya.

“Oppa kau mau kemana?” Tanya Hyora saat aku beranjak pergi.

“Aku harus pergi Hyora-ya. Aku harus “

“Kajiman! Kumohon Oppa dengarkan aku dulu. Aku belum selesai bicara.”

“Tapi Hyora-ya..”

“Kumohon ini sangat penting. Aku tak akan mengganggumu lagi setelah ini tapi kumohon dengarkan permohonanku. Jebal”

Akhirnya aku duduk kembali. Mendengarkanya. Dan setiap kata yang ia ucapkan membuatku tercengang, tak percaya.

<Shilla pov>

Aku tersiksa. Apa-apaan mereka. Demi Tuhan selama ini tak pernah terlintas dalam benakku bahwa Siwon Oppa akan selingkuh. Aku begitu yakin kalau ia sangat mencintaiku. Tapi apa yang kulihat barusan benar-benar tak bisa kupercaya.

“Eomma aku mau eskrim. Kenapa kita pergi?”

“Kita cari tempat lain Joon-ah. Tadi tempatnya penuh.”

“Tapi aku mau eskrim yang disana. Eommaaaaa…” Joon kembali merengek.

“Iya, nanti Eomma belikan es krim yang banyak ya. Tapi tidak disana.”

“Yaksok???”

Aku hanya mengangguk. Kutatap wajah polos Joon. Menatapnya kembali mengigatkanku pada wajah ayahnya. Dan itu membuatku terluka.

Kubelikan Joon es krim yang banyak sesuai janjiku. Tapi saat Joon asik menikmati es krim nya aku masih terbayang kejadian di café tadi. Membuatku tersiksa.

“Eomma? Habis. Pulang?” kuusap mulut Joon yang belepotan.

“Ehm Joon, kau mau main ke taman hiburan tidak?”

“Mauuuuuu. Tapi apa tidak apa-apa Eomma? Appa tidak marah?”

“Ani. Kau kan bersama Eomma.”

Joon berteriak kegirangan. Sebenarnya alasanku ke taman bermain adalah untuk menghindari Siwon Oppa. Sekaligus aku ingin meluapkan kekesalanku.

Aku coba semua macam permainan. Biasanya aku tak berani pada ketinggian, tapi sekarang entah dapat keberanian darimana aku berani mencobanya.

Aku berteriak sekencangnya. Bukan karena permainan ini tapi karena aku ingin meluapkan kekesalanku. Joon juga ikut berteriak di sampingku.

“Eomma, kau menangis? Gwenchana?” Tanya Joon khawatir saat kami baru saja turun dari Rooler coaster.

“Ani Joon-ah. Eomma Cuma agak takut ketinggian.” Jawabku bohong. Sejujurnya aku menangis karena Appa mu Joon. Appamu selingkuh dibelakang Eomma.

“Joon-ah, Eomma ke toilet dulu ya. Tetap disini sampai Eomma kembali.” Joon mengangguk setuju.

<Author pov>

Neo gateun saram tto eopseo

Juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol eodiseo channi

Neo gatchi joheun saram

Neo gatchi joheun saram

Neo gatchi joheun ma eum

Ponsel Shilla berdering. Joon yang mengetahui ponsel Eommanya bergetar segera mengangkatnya tanpa tahu siapa yang menelepon.

“Yoboseyo? Nuguseyo?” Tanya Joon pada orang di seberang sana dengan suaranya yang imut.

“Joon-ah? Ini Appa. Kau dimana?”

“Oh appa! Aku di taman bermain. Appa dimana?”

“Oke appa kesana. Tapi janji Joon-ah pada Appa, jangan pergi dari sana dulu sebelum Appa datang. Araseo?”

“Ne appa araseo”

“Oya satu lagi jangan bilang Eomma kalau appa telepon. Oke?”

“Oke daddy” jawab Joon riang.

Sambungan telepon terputus. Siwon langsung pergi ke tempat Shilla dan Joon berada. Sejujurnya Siwon sudah menelepon Shilla dari tadi. Tapi tak pernah Shilla angkat. Untuk itulah Siwon meminta Joon untuk tidak bilang kalau dia menelepon. Ia takut Shilla akan segera pergi kalau tahu Siwon akan menyusul.

Dan seperti yang diamanatkan ayahnya, Joon tak mau pulang sebelum Siwon datang. Tapi tentunya ia tak bilang kalau Siwon akan menyusul. Joon benar-benar anak yang penurut.

“Joon-ah ayo pulang. Sudah gelap sayang” shilla membujuk Joon untuk pulang.

“Andwe aku masih ingin disini Eomma. Sebentar lagi ya” Joon memohon.

“Baiklah tapi jangan lama-lama ya sayang. Ini sudah gelap”

“Joon-ah!” teriak seseorang yang tak lain adalah Siwon. Shilla kaget. Joon segera berhambur ke pelukan ayahnya. Sementara Shilla terdiam di tempatnya berdiri. Masih bingung apa yang akan dia lakukan.

“Appa ayo pulang. Eomma ayo pulang!” Joon menyeret Shilla ke mobil Siwon. Shilla hanya pasrah.

Di dalam perjalanan pulang pun Shilla hanya diam. Dia enggan bicara. Paling dia hanya biacara saat Joon mengajak bicara. Tapi itu tak berlangsung lama karena baru 15 menit perjalanan Joon sudah tertidur pulas. Terlalu capek.

Siwon merebahkan Joon di kamarnya begitu mereka sampai rumah. Shilla masih bertahan pada kebisuanya.

“Shilla-ya apa yang kau lihat tadi hanya salah paham” kata Siwon pada Shilla sesaat setelah menidurkan Joon.

“Memangnya apa yang aku lihat?” Shilla berpura-pura tak tahu.

Siwon diam. Ia bingung harus berkata apa.

“Kenapa diam? Kau tidak berani bilang kalau kau tadi berciuman dengan yeoja lain?” kata Shillla sarkastik.

“Mianhae Shilla-ya. Tapi kau salah paham. Tadi itu”

“Apa? Kau mau bilang aku salah lihat? Aku tidak buta Oppa”

“Tapi apa yang kau lihat tak seperti yang kau bayangkan. Aku juga tak menyangka kalau Hyora akan menciumku”

“Oh jadi Hyora namanya. Tch”

“Tapi jujur Shilla-ya aku juga shock dengan perlakuanya. Tapi sungguh aku tidak bermaksud untuk..”

“Tapi Oppa bahkan tidak menolak kan dia cium?”

“Aku”

“Siapa dia Oppa? Apa sekarang kau tak mencintaiku lagi?”

“Ani Shilla-ya. Aku mencintaimu, sangat. Dia hanya… hanya…. Dia”

“Siapa? Kau tak mau mengatakanya? Atau haruskah aku katakan kalau dia selingkuhan Oppa?”

“Bukan Shilla-ya kau salah. Dia.. dia.. hanya…wanita..yang…melahirkan Joon”

Shilla terdiam. Tak mampu berkata lagi. Sekarang ia bagai disambar petir. Ia bahkan tak pernah membayangkan kalau Ibu kandung Joon akan datang lagi. Mendengar namanya saja tak pernah.

“Apa maunya?” kata Shilla akhirnya. Pandanganya kosong.

“Dia hanya ingin bertemu Joon. Dan ia ingin …” siwon seakan susah untuk mengatakanya. “ Dia ingin menginap disini selama 2 minggu” kata Siwon akhirnya.

“Mwo? Oppa bercanda kan? ANDWE?”

“Mianha Shilla-ya tapi Hyora hanya ingin bertemu Joon. Anaknya.”

“Andwe! Joon anak kita Oppa. Aku…”

“Kumohon Shilla-ya. Hyora janji hanya 2 minggu saja setelah itu ia akan pergi. Kumohon Shilla-ya”

“Terserah oppa saja” kata Shilla akhirnya. Meskipun Siwon tahu ada ketidak ikhlasan dalam nada bicara Shilla.

Esok paginya.

<Shilla pov>

“Annyong haseyo” sapa seorang yeoja dengan ramah. Dan aku terdiam. Yeoja itu…ibu Joon. Ah tidak, yeoja yang melahirkan Joon. Pada kenyataanya akulah ibu Joon. Aku yang membesarkanya, aku yang merawatnya.

“Annyeong haseyo Hyora-ya. “ jawab Siwon Oppa tak kalah ramah. Aku benci ini. Aku cemburu jujur saja.

“Annyeong Joon-ah. Park Hyora imnida.”

“Annyeong ahjuma. Joon imnida” jawab Joon ramah. Yeoja itu terlihat bahagia saat mendengar Joon bicara.

“Annyeong Shilla-ssi” dia menyapaku. Kubalas salamnya. Entah senyum yang ia berikan tulus atau tidak aku tak tahu. Tapi yang jelas senyum yang ku berikan tak tulus. Jujur aku masih belum bisa menerimanya.

“Joon-ah, Hyora ahjumma akan tinggal disini sementara. Kau harus baik padanya ya” nasehat Siwon Oppa. Joon hanya mengangguk setuju.

“Eomma Joon mau es krim.”

“Eh? Kan kemarin kamu sudah makan es krim banyak sayang.”

“Eomma, aku mau.. ya Eomma” Joon merengek. Saat ia merengek seperti ini pasti aku tak bisa menolak. Tapi saat aku ingin mengiyakan, Hyora mendahuluiku.

“Kalau begitu kau makan es krim bersama ahjumma saja. Bagaimana?” tawarnya dengan seyum yang lebar. Dan Joon, tentu saja jadi sumringah.

Hyora menggandeng Joon. Hal yang biasa aku lakukan. Hatiku sesak. Aku melihat pemandangan yang tak menyenangkan. Seorang ibu bergandengan dengan anaknya. Sedangkan aku? Hanya menatap punggung mereka. Seolah memberi gambaran kalau aku bukan siapa-siapa.

@@@@

Sudah dua hari Hyora di rumahku. Aku memang tidak bersikap dingin padanya. Aku bersikap sebiasa mungkin. Meski terkadang aku tersiksa.

Kami sedang berada di dapur menyiapkan makan malam. Setidaknya kehadiran Hyora menguntungkanku. Dia bisa membantuku memasak.

Tapi kecelakaan kecil terjadi. Tak sengaja sup yang sudah siap dihidangkan terjatuh.

Arghhhhhhh

Teriakku dan Hyora bersamaan. Siwon Oppa segera menghampiri kami.

“Hyora-ya gwenchana?” diluar dugaan Siwon Oppa langsung menghampiri Hyora. Bukan menghampiriku, istrinya.

“Hyo, kau berdarah. Gwenchana? Ayo kubantu membersihkan lukamu” aku tertohok. Dia bahkan lebih perhatian pada Hyora. Dia begitu mencemaskan Hyora. Padahal Hyora hanya tergores sedikit oleh pecahan mangkuk sup di pergelangan tangannya.

Tapi aku? Aku tidak hanya tergores tapi juga terkena tumpahan sup panas. Tidakkah Siwon Oppa lihat itu?

Aku masih terpaku menatap tanganku yang terluka. Berdarah dan melepuh.

“Eomma, gwenchana? OMO! Eomma kau berdarah?” suara Joon yang panic menyadarkanku. Ternyata Joon jauh lebih perhatian padaku.

“Eomma ayo Joon obati. Joon ambilkan obat ya Eomma” Joon menuntunku ke kamar. Dia begitu mencemaskanku. Sangat perhatian.

“Eomma apa sakit? eomma uljima”

Iya sakit Joon. Tapi bukan luka di tangan Eomma yang sakit. hati Eomma yang sakit. appamu menyakiti Eomma lagi. Dan eomma menangis bukan karena luka ini, tapi karena Appamu jauh lebih memperhatikan Hyora dibandingkan aku.

“Fuhhhh fuhhhhh” terasa dingin di bagian tanganku. Joon meniup luka bakar di tanganku.

“Apa lebih baik Eomma?” Joon bertanya dengan polos. Darimana ia punya ide untuk meniup lukaku? Dia bahkan sangat pintar.

Aku tersentuh. Sangat terharu.

“Eomma lebih baik sekarang Joon. Gomawo” kukecup keningnya. Aku sangat menyayangi Joon, Tuhan.

“Eomma pipi Joon belum dicium” pintanya. Aku tertawa. Ternyata Joon pandai menghiburku.

“Joon-ah, malam ini kau tidur bersama Eomma ya!”

“Oke Eomma. Mau kunyanyikan lullaby untuk Eomma?”

Aku mengangguk. Aku mulai berbaring. Kupeluk Joon. Dan dia mulai menyanyikan lullaby untukku.

Suaranya membuatku damai. Aku terisak pelan. Terharu dengan sikapnya. Bagaimana mungkin anak ini begitu perhatian. Begitu mengerti diriku meski ia masih sangat kecil. Tapi Appanya? Appanya justru tak mengerti aku. Ia bahkan telah melukai hatiku.

Setelah empat tahun usia pernikahan kami baru kali ini kurasakan sakit hati. Selama ini Siwon Oppa tak pernah menyakitiku. Selama ini rumah tangga kami berjalan begitu harmonis.

Tapi sekarang??????

To be continued

 

14

[Freelance] Please, Accept My Love!

Mianhae kalo jelek. Ini ff pertamaku, semoga kalian suka yah!. Emm jangan lupa ya komentarnya.

Author : Annisa Rahmawati

Judul    : Please, Accept My Love!

Cast      : Kim Heechul
Jia
Cho Kyuhyun

Genre    : Love/Friends

Katagori : All ages

Length   : One Shot

Baca dan Komen ya J

JJ

Author Pov

Jia setiap hari terus memikirkan cinta pertamanya. Seseorang di masa lalunya pernah berjanji akan kembali padanya ketika masalah keluarganya sudah selesai di California. Sayang, seseorang yang ditunggu Jia belum muncul atau Jia mungkin belum menyadarinya.

Tetapi…..
Perlahan namun pasti Jia mulai menyampingkan cinta pertamanya. Dia malah lebih fokus pada idolanya Kim Heechul –anggota super junior. Heechul sudah merubah hidupnya, mungkin dia melihat Heechul seperti cinta pertamanya, tatapan matanya, hidungnya, bahkan semua yang ada di diri Heechul. Dan itu semua membuat Jia penasaran, dan dia ingin sekali dekat dengan idolanya.

Jia Pov

Saat pertama bertemu, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda padanya. Tatapannya, wajahnya, bahkan matanya selalu saja membuat jantungku berdetak tak menentu –sesuatu yang tidak wajar karena aku hanya seorang fans. Dan satu lagi, dia sangat membuatku penasaran, karena dia sangat mirip dengan cinta pertamaku.

“Heechul ssi……”. Tidak sengaja aku bertemu dengan namja idolaku di sebuah toko buku.

“Ada apa, mau minta tanda tangan?”. Heechul menanyakan padaku. Dia pasti sudah tahu alasan semua orang memanggilnya.

“Emm, oppa saranghae!”. Aku reflek mencium pipinya. Aku tidak tahu apa konsekuensinya, aku hanya penasaran, apakah dia itu cinta pertamaku atau bukan.

Perlahan dia mendekatiku. Aku tak tahu apa yang mau ia lakukan. Mungkin dia mau memarahiku atau dia mau membunuhku saat itu juga.

“Kamu adalah orang pertama yang berani menciumku, aku salut denganmu”. Heechul membisikanku.

Mendengar kata-kata itu aku kaget bukan main. Ternyata Heechul tidak memarahiku. Dan luka di pipinya juga tidak ada –atau sudah dihilangkan. Dan dia berarti bukan cinta pertamaku dong!.

JJ

Heechul Pov

Hari ini aku bertemu seorang elf. Dia sepertinya fanatik denganku, sampai-sampai dia mencium pipi ku saat di toko buku. Sebenarnya aku bisa saja marah dengannya, karena luka masa kecilku yang berada di pipi terasa sakit saat dia menciumku dan aku tidak menggubrisnya. Malahan aku merasakan sesuatu, dia… dia sangat mirip dengan ‘kelinci kecilku’.

_flashback_
Kelinci Kecilku itu, cinta pertamaku. Aku pernah berjanji untuk kembali padanya saat masalah keluargaku sudah selesai. Tapi sayang, aku belum pernah bertemu dengannya –atau belum menyadari mungkin dia ada di salah satu elf.

JJ

Author Pov

Hari ini anggota Super Junior sedang berkumpul di dorm. Jia juga sudah mengetahui ini, bahkan dia sudah menyiapkan strategi khusus untuk bertemu dengan Heechul. Dia menyelinap masuk ke kamar Heechul. Dan disana ada seseorang melihat Jia, kyuhyun.

“Halo, kamu siapa?”. Kyu menanyakan pada Jia. Jia kaget setengah mati. Dia takut ketahuan, dan diusir dari dorm dan yang paling buruk dia tidak akan bertemu dengan Heechul.

“Aku Elf sunbaenim, apakah aku bisa bertemu dengan Heechul?”. Jia jujur, karena dia sudah sampai pada strategi yang erakhir –harus bertemu Heechul bagaimanapun caranya.

Kyuhyun mencari Heechul di kamarnya

“Hyung, ada seorang fans di depan, katanya dia mau bertemu denganmu”. Kyuhyun memberi tahu.

“Bilang saja, aku sedang tidak enak badan!”. Heechul memberi tahu.

Kyuhyun kembali ke Jia

“Hyung sedang tidak enak badan bagaimana kalau kau pergi bersamaku?”. Kyuhyun mengajak Jia.

Mereka berdua akhirnya pergi.

JJ

Kyuhyun Pov

Aku bertemu dengan seorang Elf yang fanatik dengan Hyung-ku. Dia sangat menarik. Dia juga nekat nerobos dorm demi ketemu dengan hyung. Tapi… mungkin hyung sedang tidak enak badan jadi dia tidak mau bertemu dengan fansnya. Jadi aku mengajaknya berkeliling dengan mobilku.

“Nama mu siapa?”. Aku membuka pembicaraan. Karena baru kali ini aku melihat seorang Elf yang tidak fanatik saat melihatku.

Dia tidak menggubris pertanyaanku dan tiba-tiba ia menyuruh mobilku berhenti di suatu tempat. Tempatnya mirip sebuah taman.

“Ini tempat apa?”. Aku bertanya karena mukanya berubah ceria saat tiba di tempat ini.

“Ini taman impian, saat kecil aku biasa kesini dan melihat bintang dengan sahabatku”. Dia diam sejenak “Oh ya, aku sampai lupa. Namaku Jia”. Dia memperkenalkan diri.

“Kalau boleh tau.. kenapa kamu bisa nge-fans dengan hyung?”. Aku sangat penasaran.

“Heechul oppa? Dia mirip banget dengan sahabatku,Mario”. Air matanya jatuh satu persatu, aku sangat tidak tega melihatnya.

“Mario, kemana dia sekarang?”.

“Dia pergi ke California saat kami kecil, dan dia janji akan kembali. Tapi, sampai sekarang dia belum datang menemuiku”. Jia mengusap air matanya.

“Sudah malam, ayo kita pulang”. Aku mengajaknya sambil memakaikan jaketku padanya, karena udara sangat dingin.

JJ

Heechul Pov

Kyu datang malam sekali. Dia masuk ke kamarku.

“Hyung, hyung bangun. Aku ingin cerita!”. Kyu membangunkanku.

“Mmm.. ada apa?”. Aku bangun dari tempat tidurku.

“Aku tadi diajak sama fans Hyung ke taman impian, Hyung menyesal tidak bertemu dengannya. Dia mengajakku ke taman impian, bahkan dia cerita alasan dia ngefans sama Hyung”. Kyu bercerita panjang lebar padaku.

“Memang apa alasannya?”. Aku membuat pertanyaan gurauan.

“Katanya Hyung mirip dengan Mario, cinta pertamanya”. Kyu meninggalkanku sendirian di kamar.

Mario… sepertinya aku familiar dengan nama itu dan taman impian sepertinya aku sudah pernah kesana. Tapi aku kan Kim Heechul bukan Mario. Aku mencoba mengingat semuanya, tetapi percuma karena memoriku sedang tidak bisa diajak kompromi.

JJ

Author Pov

Heechul berjalan menuju kamar orang tua nya. Lalu tiba-tiba dia tidak sengaja mendengar orang tua nya berbicara.

“Sayang, bagaimana dengan Heechul apakah kita akan bilang yang sebenarnya pada dia?”. Terdengar ibu Heechul berbicara pada suaminya.

Heechul mendobrak pintu, dan langsung masuk ke dalam kamar orang tuanya.

“Ibu, Ayah jelaskan apa yang kalian maksud. Apakah aku bukan anak kandung kalian?”.

“Maaf sayang, kita belum punya waktu yang tepat selama ini untuk bilang ke kamu”. Ayah menjelaskan.

“20 tahun yang lalu, kami menemukan kamu di sebuah panti asuhan di California”. Ibu diam sebentar “Katanya orang tuamu sehabis bercerai kecelakaan mobil dan disana hanya kau yang selamat, tetapi kau hilang ingatan”.

“Eomma apakah aku masih punya keluarga disini?”. Heechul bertanya sambi menangis.

“Eomma tidak tahu, lebih baik besok kita ke rumah sakit untuk mengecek ingatanmu. Kau mau kan?”.

Heechul bimbang apakah dia siap untuk menerima kenyataannya. Segala kenangan pahit dan manisnya akan terbuka besok.

JJ

Heechul Pov

Aku harus ke rumah sakit. Aku harus siap melihat segala kenangan di masa laluku.

“Kondisinya sudah mulai membaik, tetapi otaknya harus di pacu agar dia lebih mudah mengingatnya”. Dokter berkata pada ibuku.

Tiba-tiba saat aku berjalan pulang dari rumah sakit. Ada seseorang yang memanggilku, iya dia Elf yang fanatik denganku.

“Oppa, kau kenapa? Muka mu pucat sekali?”. Dia bertanya padaku. Aku pun meminta ibuku untuk pulang duluan.

“Aku tidak apa-apa, oh ya Kyu pernah cerita padaku tentang taman impian, maukah kau ajak aku kesana?”.

Di sepanjang perjalanan fansku itu sangat ceria. Bahkan dia sudah tidak sabar untuk sampai disana.

“Oppa, kita sudah sampai. Baguskan?”. Terlihat wajah cerianya bersinar.

“Iya bagus sekali, apakah kau punya cerita tentang tempat ini?”. Aku bertanya, karena sepertinya aku pernah kesini dengan seorang cewek ketika aku masih kecil.

“Aku punya sahabat namanya Mario, dia selalu saja pergi ke tempat ini bersamaku. 20 tahun yang lalu dia pergi ke California untuk ikut keluarganya, tapi sekarang dia belum kembali”. Ingatanku sepertinya mulai kembali. Aku mengingat semua kejadian ini.

“Ya udahlah Oppa, aku punya satu pertanyaan Will you accept my love? I love you at first sight”. Aku kaget setengah mati. Kelinci kecil ini berani juga mengungapkannya padaku.

“Kau tahu, selama ini aku mencari kelinci kecilku yang selalu memanggilku beruang besar, tetapi aku baru menyadarinya sekarang”.

“Jadi Oppa, Mario. Kenapa oppa tidak bilang dari tadi, pernyataan cintaku aku cabut”. Dia gengsi dan memukul badanku.

“Aku sudah ingat semuanya, 20 tahun yang lalu aku kecelakaan. Dan maaf aku baru bisa bertemu denganmu sekarang, dan dengan pernyataanmu, apakah kau tidak menyesal mencabutnya?”. Aku meledeknya.

“Ahh Oppa berhenti meledekku”.

JJ

Jia Pov

Aku bahagia sekali. Ternyata selama ini idolaku adalah beruang besar yang selama ini aku cari. Dan sejujurnya aku menyesal mencabuat pernyataan cintaku. Tapi aku hanya ingin dia yang menyatakan padaku. Meskipun aku tidak tahu, apakah dia mencintaiku selama ini?.

 

6

[Freelance] May I Love You [part 6]

 

Author : Wella

Tags : Sungmin, Leeteuk

Genre : Romance, angst

Sebelunya uda di post :

http://ourfanfictionhouse.wordpress.com/

Cerita sebelumnya :

Sungmin mulai menjalankan rencana busuknya untuk membalaskan dendamnya pada Jung Soo, Sungmin telah mengetahui rahasia Jung Soo. Dan selanjutnya jalan Sungmin untuk membalaskan dendamnya menjadi mulus, bahkan Jung Soo sampai berlutut dibawah kakinya untuk meminta kemurahan hati Sungmin. Namun tentu saja Sungmin tidak begitu saja bisa melupakan semuanya, satu hal yang diminta Sungmin untuk memaafkan Jung Soo. Menjilat kakinya.

Cast :

~ Park Jung Soo

~ Park Min Rin

~ Sungmin

Your browser may not support display of this image.

~ Jung Soo P.O.V ~

Kaki bergetar hebat, aku tidak peduli lagi harga diriku dan gengsi. Persetan itu semua, yang penting Min Rin tidak terluka oleh makhluk bejat yang satu ini. Aku sudah berbesar hati berlutut dibawah kaki Sungmin namun ia belum puas juga.

“Jilat kakiku” manusia itu meletakkan kakinya tepat dibawah wajahku yang menunjuk hampir mencium lantai, jantungku seakan berhenti berdetak. Jilat?! Apa aku sehina itu? Bahkan aku yakin dia tidak akan menyuruh anjing manapun untuk menjilat kakinya, dan aku?!

“Jilat dan aku akan melupakan semuanya” aku menatapnya dari sudut mataku, senyum itu. Senyum itu senyum mengejek yang sudah kuhapal betul. Kalau saja ini bukan menyangkut Min Rin tanpa berpikir lagi aku pasti langsung meremukan kaki sialan ini, tapi ini…..

Aku hanya diam, ini dilema yang amat sangat membingungkan. Meskipun aku tidak lagi memikirkan harga diri tapi tetap saja ini terlalu hina untuk dilakukan! Tapi kalau tidak Min Rin akan…..

Kepalaku serasa akan meledak, aku berusaha melawan egoku namun itu tidak semudah yang dibayangkan, aku tidak bisa….

“Ku hitung sampai 3, tentukan pilihanmu dalam 3 detik terakhir. 1… 2…” bisa kudengar kekehan dari mulut busuknya itu, waktu seakan berjalan ditempat, sampai dia mengucapkan kata 3 aku baru mengambil keputusan

“3..” Sungmin selesai menghitung dan dia menarik kakinya menjauh

“Chakaman!” aku menarik kembali kakinya, kudekatkan mulutku pada kaki itu namun ia menarik kembali kakinya dengan cepat

“Wae? Kau berubah pikiran? Kau ingin menjilatnya?” Sungmin menjambak rambutku agar aku menatap wajahnya yang masih menyunggingkan senyum brengsek itu

Dengan sangat berat hati aku menganggukkan kepalaku pelan sekali

“Jawab aku! Kau tidak bisu bukan!?” Sungmin menatap mataku lekat-lekat

“Ne…” mulutku menjawab dengan teramat pelan, sepertinya lebih baik aku menggigit lidahku hingga putus daripada aku menjawab Sungmin tapi….

“Kau banci? NYARINGKAN SUARAMU!” Sungmin meneriakiku tanpa perasaan, bisa kurasakan nafas beratnya menerpa wajahku

“NE!!!!” aku meneriakinya senyaring yang kubisa

“Bukankah kau bersekolah? Kau tidak diajari menjawab pertanyaan orang dengan benar? jawab yang benar!!!” sekali lagi dia meneriakiku, hatiku mulai panas sekarang

“Ne aku akan menjilatnya” aku mengenggam celanaku kuat-kuat, tinjuku siap melayang kearahnya kapanpun

“Akan? Aniya…. Itu kata yang salah, cari kata yang lebih enak didengar dan juga kau tidak jelas ingin menjilat apa, katakan yang jelas hyungku sayang…” Sungmin menjambak rambutku 2x lipat lebih keras sekarang

Aku bahkan tidak sadar darimana aku mendapat kesabaran darimana, ya Tuhan kenapa bisa ada manusia yang seperti dia? Bahkan aku tidak pernah sekalipun berpikir adegan di drama ini akan benar-benar terjadi dan itu menimpaku!

“Aku ingin menjilat kakimu” kupejamkan mataku saat mengucapkan kalimat terkutuk itu

“Kau pintar Jung Soo yha, ingin? Kukira kau akan menggunakan kata dengan senang hati atau berharap. ‘aku dengan senang hati menjilat kakimu’ atau ‘aku berharap bisa menjilat kakimu’ bukankah itu lebih bagus? Kau tidak lebih dari seekor binatang hina dihadapanku” si brengsek itu bahkan masih bisa menegosiasi kata yang tepat, binatang? Binatang katanya? Kurasa dialah yang hina, tidak ada manusia yang akan menyuruh orang lain melakukan hal semacam ini kalau ia masih punya hati nurani

“Harus berapa lama lagi?” Aku menatapnya sinis, aku tidak bisa lagi menahan mataku agar tidak menatapnya seperti itu

“Emh… sayangnya tadi aku sudah mengucapkan kata 3, jadi itu semua sudah hangus. Kau kurang beruntung, miane” Sungmin melepas tangannya dari rambutku, bisa kurasakan beberapa helai rambutku gugur akibat ulahnya. Darahku sudah mencapai ubun-ubun, tanganku melesat begitu saja pada mata kanannya dan dia tersungkur kelantai

Sialnya Min Rin turun pada saat yang sama sekali tidak pas, Min Rin melihatku menonjok namjanya itu hingga tersungkur. Seketika matanya membelalak

“OPPA!!!!!!!” secepat kilat Min Rin berlari menghampiri Sungmin, ia membantu Sungmin berdiri. Hatiku sungguh sakit melihatnya, andai saja dia tau apa yang dilakukan Sungmin padaku. Bisa kulihat lebam dimatanya, sayangnya aku tidak merasa kasihan padanya sama sekali

“Oppa ini kenapa?!!!” Min Rin menatapku kesal, sebelumnya tidak pernah dia berbicara denganku dengan nada sesinis ini

“Ini salah paham, Min Rin yha dengarkan oppa dulu” aku berusaha membuat Min Rin percaya padaku bukan pada apa yang dilihatnya

“Salam paham? Nanti saja kita bicarakan,aku harus membantu Sungmin” Min Rin membantu si brengsek itu berjalan menuju mobilnya, akting manusia itu sangat bagus, apa sesakit itu sampai berjalan sendiri saja tidak mampu?

Aku hanya bisa menatap mereka berdua dengan nanar, mataku panas sekali melihat pemandangan itu. Aku hanya bisa berdiri mematung, aku hanya bisa berharap Min Rin bisa mempercayaiku dan tidak dibutakan oleh cintanya……..

~ Sungmin P.O.V ~

Sebenarnya aku beruntung, si bodoh itu memukulku disaat yang tepat. Sekarang Min Rin sangat mengkhawatirkan keadaanku, sebenarnya tidak separah yang kutunjukkan padanya hanya saja aku ingin membuat semuanya menjadi kacau, hubungannya dan Jung Soo akan berakhir lebih cepat.

“Ah… sakit” aku meringis ketika Min Rin membasuh luka itu dengan lap basah

“Miane, tahan ya…” dia menggigit bibir bawahnya seperti ikut merasa sakit, sepertinya dia sudah sangat mencintaiku sampai bisa ikut merasakannya

“Ne, pelan-pelan… Ouch” aku menjauhkan mataku padanya, sial dia itu sama bodohnya dengan si Jung Soo itu, bisa-bisanya dia membasuh dengan sekasar itu

“A… mian” Min Rin menundukkan kepalanya, aku hanya tersenyum padanya, senyum palsu yang selalu kuberikan padanya

Kami sudah berada jauh dari rumah Jung Soo, kami masih berada didalam mobil dan dia yang berinisiatif untuk membasuh lukaku yang berdarah

“Kumohon maafkan kesalahan oppaku, kalau boleh aku tau sebenarnya apa yang terjadi?” Min Rin menatapku sendu

“Ah… ani, tidak ada apa-apa. Lupakan saja” aku mulai memancing penasarannya

“Ceritakanlah padaku, tidak mungkin kalau tidak terjadi sesuatu Jung Soo memukulmu seperti ini” Min Rin menggengam tanganku erat

“Kau pasti tidak akan percaya, sudahlah…” aku melepas tangannya pelan, hah dia pasti semakin penasaran

“Jebal… ceritalah” dia mendekatkan telingganya padaku, dasar aneh!

Aku menarik nafasku panjang “Baiklah, akan kuceritakan. Tadi aku hanya menanyakan keadaannya tapi tiba-tiba dia mengancamku agar melepasmu, dia bilang tidak ada namja lain yang pantas untukmu selain dia, dia mengutuk dan mengumpatku kasar” aku menatap wajah pucat Min Rin “Seperti yang kau tau kalau oppamu itu sangat mencintaimu, dia tidak sudi aku dekat denganmu, dia bahkan mengancamku kalau aku masih berani mendekatimu. Aku sudah berlutut dibawah kakinya, aku memohon-mohon padanya tapi semuanya sia-sia…. Dia malah menonjokku sampai tersungkur” kupegang lebam dimataku itu, sepertinya gadis ini sudah terpengaruh, matanya sudah berkaca-kaca sekarang

“Jung Soo oppa bukan orang yang seperti itu… aku kenal dia” Min Rin menggelengkan kepalanya masih dengan mata yang berkaca-kaca

“Aku tidak memintamu untuk percaya Min Rin yha, asal kau tau saja namja seperti apapun biasa berubah kalau menyangkut perasaan” kugenggam tanggannya erat

“Tapi….”

“Disaat seperti ini kau harus memilih diantara kami berdua, aku atau oppa-mu” kutatap manik matanya, biasanya ini selalu bekerja dengan sempurna

“Aku tidak bisa…..” dia menundukkan kepalanya

“Arasso, kalau begitu kita harus berpisah. Miane aku sudah mengganggumu, asal kau tau saja aku sangat bersyukur bisa mengenalmu, aku akan tetap mencintaimu selamanya….” Kucium punggung tangannya sebentar, apa dia tidak terpengaruh?

“Oppa! Aku tidak bisa hidup tanpamu, aku mencintaimu….” Ia memelukku erat, bisa kurasakan bajuku basah karena air matanya

“Andai saja kita bisa saling mencintai, hidup bahagia bersama dan meninggalkan semuanya….” Sial mau tidak mau aku harus mengeluarkan senjata terakhirku

“Ma..ksud op..p.a?” Min Rin bertanya sambil sesegukan, matanya merah. Kalau saja Jung Soo sialan itu melihat gadis yang paling dicintainya itu menangis separah ini hanya karena aku apa reaksinya?

“Kalau kau mau kita bisa hidup bersama, meninggalkan yang lainnya. Bahagia selamanya tanpa memikirkan yang lainnya, termasuk oppa-mu. Hanya kau dan aku, apa kau mau?” aku menatap wajah mulusnya dengan tatapan sungguh-sungguh

“Be…benarkah? Apa bi..sa?” Min Rin menatapku tidak percaya, dasar gadis polos…

“Tentu saja! Datanglah kesini nanti malam, aku akan membawamu pergi bersamaku, hidup bahagia selamanya, memujudkan mimpi indah kita” kukecup keningnya sekilas “Aku menunggumu”

“Tapi aku tidak tega dengan Jung Soo oppa….” Suaranya bergetar hebat

“Ini untuk kebaikan kita bersama Min Rin yha… oppamu bisa melupakanmu dan mencari yeoja lain, dia tidak bisa mencintaimu, itu dosa. Dan juga kita bisa hidup bahagia, aku janji setelah oppamu itu menikah dan sudah meninggalkan perasaannya padamu kita bisa menemuinya lagi sebagai sepasang suami-istri, kau maukan?” aku sengaja melembutkan suaraku

“Tapi dia yang membesarkanku, dia yang melindungiku selama ini, bagaimana bisa aku meninggalkannya begitu saja….” Apa dia tidak bosan menangis? Air matanya kini jatuh lagi

“Tugasnya sudah selesai, sekarang giliran aku yang akan menjaga dan membahagiakanmu. Dia dikirim Tuhan untuk menjaga malaikat kecil yang bernama Min Rin dan sekarang malaikat itu sudah dewasa, dan Tuhan mengutusku untuk menggantikan posisi Jung Soo yang sudah selesai. Aku lah sekarang yang akan menjagamu, percayalah……” apa kata-kata itu bagus? Dengan mudahnya aku bisa menarik hati gadis mana pun dengan keahlianku yang satu ini

“Yakinkan aku kalau Jung Soo oppa akan baik-baik saja”

“Dia bisa menjaga seorang malaikat selama belasan tahun, meskipun ia masih sangat muda dan tidak tau apa-apa tapi dia mampu menjaga dan menyayangimu. Dia juga mampu mendidikmu menjadi gadis yang baik, dia melakukan semuanya dengan baik dan semua itu dengan jerih payah dan usahanya dari nol. Semua itu dilakukannya dengan sempurna, bagaimana bisa dia tidak akan baik-baik saja sedangkan dia orang yang begitu hebat?! Percayalah dia hanya butuh beberapa waktu untuk memulihkan hatinya, dengan cepat dia akan melupakan perasaannya. Itu semua sulit ia lakukan karena selama ini kau ada disampingnya, setelah kau pergi dia akan dengan cepat memulihkan semuanya, hanya percaya dan semuanya akan baik-baik saja” aku akan muntah mengucapkan kata-kata tadi, hebat?! Sempurna?! Dia hanya seorang pengecut! Jangan pernah menyuruhku mengulangnya lagi!

“Aku percaya……” Min Rin tersenyum padaku, sudah berhasil bukan?

“datanglah kesini malam ini, aku akan menunggumu” dan dengan cepat gadis itu menggangguk yakin~

~ Min Rin P.O.V ~

Apa yang dikatakan Sungmin benar, bagaimanapun aku harus membuat Jung Soo oppa melupakan aku, dia tidak bisa mencintaiku. Aku yakin dia pasti mampu mencari yeoja yang 100x lipat lebih baik, dia hampir sempurna jadi bagaimana bisa dia tidak dapat meluluhkan hati gadis lain? Hanya percaya dan semuanya akan baik-baik saja………

Aku sudah diantar Sungmin pulang dan sesuai janji kami akan bertemu nanti malam di tempat tadi malam ini. Begitu kulangkahkan kakiku memasuki rumah Jung Soo oppa sudah menghampiriku

“Dengarkan aku dulu” dia menarik tanganku dan mendudukanku paksa ke sofa

“Aku sudah tau semuanya” kutatap Jung Soo oppa lekat

“Dengarkan aku, kau tidak bisa hanya mendengar cerita darinya dan langsung percaya, biarkan aku menjelaskan perkara ini dari sudut pandangku” ia menatapku serius, seumur hidup belum pernah dia menatapku seperti ini, aku tidak suka.

“Baiklah, jelaskan saja padaku”  akhirnya aku member kesempatan ini juga padanya

“Sungmin itu anak tiri appa, appa meninggalkan kita dan eomma hanya karena dia dan ibunya. Dia dulu datang ke panti asuhan dengan appa makanya aku bisa tau, dia memacarimu hanya karena ingin membalaskan sakit hatinya padaku karena dulu oppa sudah mengatakannya sesuatu. Dia hanya mempermainkanmu, kaulah yang dipilihnya supaya bisa membuat oppa sakit hati….” Kata-kata dari mulutnya itu tidak pernah terbayangkan dalam benakku, ini mustahil!

“Ani, jangan berbohong….. aku tau ini hanya cerita akal-akalan oppa agar aku memutuskan hubunganku dengan Sungmin, aku tau ini bohong!” entah kenapa refleks aku meneriaki Jung Soo oppa

“Kau tidak percaya? Yha namanya dulu Lee Sungmin dan sekarang dia berganti marga menjadi Park karena ibunya menikahi appa!” Jung Soo oppa mencengkram tanganku kuat, apa-apaan dia?

“Walaupun oppa mau aku memutuskan Sungmin tapi bukan begini caranya! Jangan memfitnah Sungmin! Dia tidak salah apa-apa!” aku hentakkan tangan Jung Soo oppa

“Mwo?! Sebenarnya apa yang sudah diceritakannya padamu?! Sadarlah! Bagaimana bisa kau lebih percaya dengan orang yang baru kau kenal beberapa bulan dariapda oppamu sendiri yang membesarkanmu belasan tahun!” untuk pertama kalinya ia meneriakiku

“Aku kenal Sungmin! Dia bukan orang yang seperti oppa pikirkan! Berhenti memfitnahnya! Bahkan dia bisa memaafkan oppa yang sudah memukulnya, bahkan dia berlutut pada oppa! Kemana hati nuranimu?! Aku bukan orang yang bisa oppa miliki! Berhentilah…..” air mataku menetes begitu saja, aku tidak bisa menahan semuanya, bagaiman bisa Jung Soo oppa melakukan ini semua pada Sungmin?!

Jung Soo oppa hanya diam menatapku untuk waktu yang cukup lama

“Begitukah? Jadi kau tidak mempercayai oppa lagi? Oppa tau kalau oppa salah karena mencintaimu tapi oppa bukan orang yang bisa melukaimu, sepertinya percuma saja oppa menjelaskannya padamu. Uljima….” Dia menatapku dengan pandangan sendu dan melangkah pergi kekamarnya begitu saja

Apa aku salah?~

Ini sudah larut malam dan hujan mulai turun, apa aku harus pergi dan meninggalkan Jung Soo oppa? Aku tidak tega tapi aku juga tidak bisa tinggal diam seperti ini, aku harus bicara dengannya dulu kurasa

Kulangkahkan kakiku menuruni tangga menuju ruang tamu tempatnya berada

“Oppa kita harus bicara” aku duduk disampingnya

“Bukannya kau tidak percaya dengan oppa? Percuma saja” dia menatapku sebentar lalu memalingkan wajahnya membelakangiku

“Begitu kah? Miane kalau aku salah tapi aku berhak menentukan hidupku. Aku sudah dewasa dan aku bisa membedakan mana yang harus kulakukan dan tidak, aku akan pergi dari sini bersama Sungmin” seketika dia menatapku tajam, tanganku dicengkramnya kuat

“Sampai mati pun tidak akan kuberi kau izin! Dia akan mengahancurkanmu! Masuk kekamarmu dan jangan pernah berpikir melakukan hal bodoh itu! Jangan temui dia lagi” Jung Soo oppa menarikku masuk kekamar

“Yha!! Ini hidupku! Oppa tidak berhak melakukan ini semua! Aku hanya mencintai dia!” aku berusaha sekuat tenaga memberontak tapi tetap sia-sia

“Jika kau berpikir oppa melakukan ini karena oppa berusaha mendapatkanmu itu kesalahan besar! Oppa melakukan ini semua sebagai seorang oppa! Percayalah….” Jung Soo oppa menatapku lama sekali, entah kenapa aku tidak bisa tunduk seperti kepada Sungmin

“Ani, aku tidak percaya…..” aku membalas tatapannya dengan kesal

“Apa cinta begitu membutakan?” matanya berkaca-kaca, bisa kulihat kesedihan dari matanya

Begitu Jung Soo oppa lengah secepat kilat aku meloloskan diri dari cengkramannya, aku berlari secepat yang aku bisa, kusambar kunci mobilnya, teriakannya tidak kuperdulikan sama sekali.

Segera aku masuk kedalam mobil putih milik Jung Soo oppa, derasnya hujan tidak akan menghentikan langkahku, aku harus menemui Sungmin, aku harus bahagia….

Dengan satu hentakan keras aku menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, bisa kudengar teriakannya di belakangku. Dia tidak akan bisa mengejarku, dia tidak akan bisa mengekangku lagi.

Sial, hujan deras sekali sampai-sampai aku tidak bisa melihat jalan dengan baik, yang ada diotakku hanya menuju tempat itu secepat mungkin dan pergi meninggalkan semuanya secepat mungkin.

Dengan kecepatan penuh mobil putih yang kubawa ini melesat bak kereta terbang, aku tidak peduli akan klakson yang memperingatkanku akan kecepatan yang kupacu.

Sedikit lagi…

Sedikit lagi…

Sial! Kenapa bisa taksi itu membuntutiku dengan kecepatan yang hampir menyamaiku, itu pasti Jung Soo oppa!

Kuinjak pedal gas lebih dan lebih

Sedikit lagi….

Bisa kulihat tempat itu, sedikit lagi

Aku tidak memperhatikan sekelilingku, yang kulihat hanya tempat itu

Dan tiba-tiba sebuah lampu yang sangat menyilaukan menerpa mataku

tubuhku menghantam setir kuat sekali

aku bisa merasakan darah mengalir deras dari keningku…

Selanjutnya badanku sudah amat sakit….

Tulangku akan remuk rasanya, aku terjepit diantara mobilku dan mobil yang menghantamku

Pandanganku mulai kabur….

Sebelum aku menutup mataku rapat aku masih bisa mendengar suara….

Dia memanggilku……….

Dan semuanya telah gelap…..

TBC