One Out Of Two #2 // END [AfterStoryOf : Why, Baby?]

last part [AfterStory Of : Why, Baby?] ONE OUT OF TWO !!!!!

butuh waktu berhari2 buad mikir gimana endingnya ><

sankyuu all readers, silent or active readers, yg udah setia baca nih FF yang bikin hati miris, geregetan, marah, bahkan bisa gak suka sama biasnya sendiri… atau semakin cinta~

miannnn bangedddd…. seperti yg udah L~ bilang di ff Why Baby? dulu, L~ gak ada maksud apa2…

and, cekidot !

WARNING :: REMAJA ONLY

One Out Of Two #2 // END

[AfterStoryOf : Why, Baby?]

Tuut…Tuut…

Itu pasti Yunho!

“Yeobseo?”

***

“Sojung-ssi, Yunho mengalami kecelakaan!”

“Kecelakaan?”

“Dia sudah mabuk ketika kembali ke dorm. Kemudian dia terjatuh dari tangga dan…”

Tuut…tuut…tuut…

Yunho oppa bodoh! Mengapa dia melakukan hal itu? Mabuk sambil mengemudi di jalan! Kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bagaimana? Andwae! Aku bisa gila jika dia tidak ada di sisiku!

Kupacu mobilku sekencang mungkin sambil menangis. Khawatir, cemas, bingung, marah, merasa bersalah, semua bercampur menjadi satu.

“Andwae… Oppa…” rintihku. Aku tidak mau kehilangan dia!

Setelah kuparkir mobilku, segera aku berlari menuju dorm TVXQ!

“Yeobseo? Manajer Park… Aku sudah berada di depan dorm.” Aku memang tidak mengetahui kode dorm TVXQ! Karena itu kuputuskan untuk menghubungi manajer Park.

“Aku sedang keluar. Biar Changmin yang membukakan pintunya.”

Changmin? Mengapa aku tidak terpikir untuk menghubunginya saja?

Dengan tidak sabar aku menunggu Changmin sambil sesekali menghubungi ponsel Yunho. Tetapi hasilnya tetap sama, dia tidak mengangkat telepon dariku. Beberapa menit kemudian Changmin datang dan membukakan pintu dormnya.

“Bagaimana keadaan hyungmu?” tanyaku ketika Changmin baru saja membukakan pintu. Segera aku berlari masuk, mencari keberadaan namjachinguku yang mengalami kecelakaan itu.

“Dia tidak…”

Karena tidak menemukannya dimana-mana, segera ku potong jawaban Changmin sebelum dia selesai bicara. “Dimana dia?”

“Kamar…” Changmin menunjuk ke sebuah pintu bertuliskan ‘Jung Yunho Territory~~’ kepadaku. “Masuklah.”

Ku buka pintu kamar Yunho. Baru kali ini aku memasukinya. Kamar yang sangat rapi, wangi, dan bersih. Benar-benar mencerminkan seorang Jung Yunho yang perfeksionis.

Dia di sana, tertidur di atas ranjang mewah yang empuk. Kakinya diperban. Tidak ada perban lain selain di kakinya itu.

Syukurlah, setidaknya lukanya tidak parah.

“Oppa…” Aku berjalan perlahan mendekatinya. “Oppa gwaenchana?”

Tanpa membuka matanya, Yunho berbalik memunggungiku. “Aku hanya butuh istirahat.”

Hatiku sakit.

Aku duduk di pinggir ranjang. “Dimana yang sakit? Mau aku pijit?” tanyaku. Tanganku menyentuh kakinya yang tertutup perban itu.

Tetapi dia bergerak, menolak sentuhanku. “Ada yang lebih sakit daripada itu…” katanya. “Aku ingin istirahat…”

Hatiku sakit.

Aku menghapus airmataku. “Baiklah. Aku pergi. Aku tidak akan mengganggumu.” Sudah bisa ditebak, dia tidak menginginkanku di sini. Lebih baik aku pergi saja, membiarkan dia sendiri.

Aku keluar, tersenyum tipis kepada Changmin. “Aku sudah selesai.”

Changmin mengangguk, kemudian mengantarkanku sampai pintu dorm. “Noona… Gwaenchana? Sepertinya kalian ada masalah…”

“Gwaenchana…” jawabku lemas. Pikiranku kacau, semuanya berantakan.

“Jangan berbohong… Noona tidak bisa membohongiku…”

Aku hanya tersenyum, kemudian pergi meninggalkannya. Changmin tidak bisa dibohongi. Dia selalu mengetahui apa yang kurasakan, seakan-akan bisa membaca pikiranku. Dia sangat peka terhadap segala sesuatu tentangku.

Kulangkahkan kakiku perlahan menuju parkiran.

Aku harus bagaimana sekarang?

Tiba-tiba sebuah tangan menghentikanku membuka pintu mobilku. “Noona… Kau mencintaiku? Kau merindukanku?”

Aku melihat seseorang yang menghentikanku itu dari kaca mobil. Changmin.

Aku diam. Entah mengapa aku tidak bisa menjawabnya. Biasanya aku akan menjawab ‘Tentu saja! Saranghae!’ Tetapi mengapa malam ini aku tidak bisa mengatakan kata-kata itu?

Tiba-tiba Changmin membalikku, mendorongku merapat ke mobil. Kedua tangannya menekan pipiku, mengunci kepalaku agar tidak bergerak. Dengan kasar dia mendaratkan bibirnya ke bibirku.

“Hmph….”

Seperti sebuah film, ingatanku kembali ke beberapa tahun yang lalu ketika Yunho mengatakan dia menyukaiku, dan memintaku untuk menjadi yojachingunya….

“Hmph…”

Aku mengingat ketika Yunho memelukku, mengatakan bahwa meskipun fans tidak menyukaiku tetapi dia akan tetap mempertahankanku…

“Hmph…”

Aku mengingat ketika Yunho memelukku, mengatakan bahwa setelah wamil dia akan menikahiku…

“Hmph…”

Aku mengingat ketika Yunho melihatku berciuman dengan Changmin, memandang kami dengan tatapan kecewa…

“Hmph…”

Aku mengingat ketika aku berlutut di kaki Yunho, menangis sambil memeluk kakinya…

“Hmph…”

Semakin Changmin memperdalam ciumannya, semakin banyak kenangan-kenangan tentang Yunho yang terputar jelas dalam ingatanku…

Tanganku memukul keras dada Changmin yang sangat rapat dengan tubuhku itu. Tetapi dia tidak mempedulikannya. Dia semakin merapatkan tubuhnya, membuatku susah bergerak.

“Geumanhae…”

Changmin beralih menciumi leherku, membuat beberapa kissmark di sana. Tangan kanannya merengkuh pinggangku, sedangkan tangan kirinya menelusup masuk dalam pakaianku. Perlahan mengusap punggungku, membuatku menggeliat.

“Aahhhhhhhh… Changmin-ah geumanhae…”

Kupukul lagi dada bidangnya itu, hingga dia melepaskan ciumannya. “Wae?” tanyanya. Nafasnya terengah-engah. “Noona sudah tidak mencintaiku?”

Aku menunduk, memandang kakiku lemas. Tanganku memegang kemeja Changmin yang masih berdiri sangat dekat denganku itu, agar tidak terjatuh. “Yunho oppa…” kataku perlahan. “Dia sudah tahu semuanya…”

***

Kejadian malam itu menyadarkanku bahwa selama ini aku lebih mencintai Yunho daripada Changmin. Aku lebih membutuhkannya, dan aku akan terluka jika tidak bersamanya. Aku sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal, menyakitinya, menorehkan luka yang sangat dalam di hatinya.

Dan ketika aku menyadari semua itu, aku pun menyadari bahwa aku sudah terlambat.

Masa depanku bersama Yunho, hubungan yang selama 5 tahun terjalin, semua sudah berubah menjadi abu-abu…

Dan dua bulan sudah hubungan kami menjadi abu-abu. Tidak saling bertemu, berbicara, semuanya. Menyakitkan. Karena itu, hari ini, ku putuskan untuk membuatnya menjadi jelas.

Lantai 6 ruang A46. Aku berjalan menuju tempat Yunho biasa berlatih. Tiba-tiba mataku menangkap sosok Yunho yang sedang berjalan menaiki tangga. Segera aku berlari mengejarnya.

“Oppa, Kita harus bicara…” teriakku.

Yunho berhenti. Dia pasti sudah hafal benar suaraku. “Untuk apa? Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi…” katanya, tanpa memandangku. “Sojung-ah, aku harus berlatih.”

Aku mengejang. Dia, memanggil namaku? “Oppa! Kita harus bicara!”

Yunho berjalan menaiki tangga tanpa sekali pun menoleh ke arahku. Aku mengikutinya. “Oppa kita tidak bisa seperti ini terus!”

Dia masih tidak mempedulikanku.

“Oppa!” Aku berhasil mengejarnya. Kutarik pakaiannya agar berbalik kearahku. “Oppa dengarkan aku!” kataku. Nafasku belum teratur. “Oppa mianhae…”

Yunho menatapku. Ini pertama kalinya dia menatapku setelah kejadian itu. “Kau bisa pergi sekarang, Sojung-ah…”

Benar, dia memanggil namaku. “Oppa sudah tidak memanggilku jagiya lagi…”

“Kau bisa pergi sekarang…” katanya, kemudian berbalik.

Dengan cekatan aku menghentikan langkahnya lagi. “Apa oppa masih mencintaiku?”

“Aku harus berlatih.” jawabnya. Tangannya berusaha melepas tanganku dari pakaiannya, menyuruhku pergi agar tidak menghalangi langkahnya.

Aku berjinjit, menarik kerah pakaiannya, berusaha mendaratkan ciuman di bibirnya yang sudah lama tidak menciumku itu. Tetapi saat bibirku semakin dekat, dia segera memalingkan wajahnya. Aku tersenyum datar. Airmata yang sudah kutahan akhirnya menetes juga.

“Bahkan oppa menolak ciumanku… Hhh… Oppa ingin kita selesai? Katakan saja jika ingin diakhiri… Jangan menyiksaku seperti ini…”

***

Aku meminum segelas alkohol terakhir yang ada di depanku. Memandang sekeliling, dan semua kenangan tentang Yunho lagi-lagi melintas di pikiranku.

Sepuluh tahun yang lalu, di bar ini. Beberapa siswa SMU sedang minum di pojok bar. Seseorang diantaranya tidak jago minum. Baru segelas saja dia sudah mabuk. Dia berjalan gontai, menabrakku, dan kami berciuman.

Ciuman pertamaku bersama Yunho.

“Hhh…” Aku tersenyum. Kenangan itu…

Beberapa bulan yang lalu, di bar ini. Aku sedang mabuk karena pekerjaanku yang berantakan, Yunho sibuk, dan orangtuaku bercerai. Semuanya terjadi bersama-sama, membuatku hampir gila. Tidak ada seorang pun yang mempedulikanku, atau berempati padaku. Aku mengendarai mobilku untuk pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Sialnya aku menabrak seseorang, yang ternyata sangat peduli, perhatian, dan selalu ada saat aku membutuhkannya. Membuat semangat hidupku kembali, dan akhirnya aku bisa bangkit dari keterpurukanku itu. Tanpa kusadari aku mulai mencintainya.

Mencintai Changmin.

“Hhh…” aku tersenyum. Semua berawal dari bar ini… Dan berakhir di bar ini juga…

Aku meletakkan gelasku. Dengan susah payah kuambil ponsel di dalam saku jasku dan memencet tombol 2. Beberapa detik kemudian terdengar suara sambungan telepon.

“Yeobseo?” kata seseorang di seberang telepon sana.

“Hiks… Changmin-ah…” kataku setengah sadar.

“Noona… kau mabuk?”

“Ani… Aku tidak mabuk… Hiks… Aku hanya minum beberapa gelas saja… Kekeke~” aku menggeser gelas-gelas di depanku, meletakkan kepalaku yang semakin berat di atas meja.

“Noona, odiya?”

“Di bar biasanya kita minum…”

“Kita tidak pernah minum bersama, noona…”

“Ya~~~” teriakku. “Kau lupa? Di bar pertama kali kau menciumku! Kau belum menjadi siapa-siapa saat itu!”

“Noona…”

“Kau masih SMU… Hiks… Masih menjadi murid training…”

“Noona… Kau bicara tentang Yunho hyung…”

“Hiks… Sinca? Ah, mianhae… Kekeke~”

“Katakan dimana noona sekarang?”

Aku mengangkat kepalaku, melihat sekeliling. “Di…” pandanganku sedikit kabur ketika mengeja nama bar tempatku saat ini. “Can… Dy… Candy… Bar? Hiks… Permen batangan?”

“30 menit lagi aku datang… Jangan kemana-mana…”

Klik.

Sambungan telepon terputus. Kepalaku semakin berat, dan aku merasa mengantuk. Kusandarkan kepalaku pada sebuah botol minuman. “Hiks…”

Tidak pernah terpikir sedikit pun olehku, hubungan yang sudah terjalin 5 tahun ini berakhir seperti ini. Sia-sia kami merahasiakannya selama 3 tahun, dan baru mengaku bahwa kami berhubungan selama 2 tahun kepada media. Semua telah berakhir, dan itu semua karenaku. Aku sendiri yang menghancurkannya.

“Hiks… Pabo-ya…”

Beberapa menit kemudian aku merasa seseorang mengambil botol tersebut.

“Mwoya~~~~~~”

Aku melihatnya. Samar-samar, tetapi aku masih bisa melihat dia adalah seorang namja.

“Changmin-ah…”

Dia memegang tanganku, menaruhnya di bahunya.

“Changmin-ah… Bogosippo?” aku merasakan namja tersebut menggendongku. Parfumnya… Aku bisa mencium parfumnya… Seperti parfum Yunho… Ah, bukan, ini parfum Changmin… Ah, molla….

“Changmin-ah, dia marah padaku… Hiks… Dia tidak mau bicara padaku sama sekali… Bahkan dia tidak memanggilku jagiya lagi… Dia juga menolak ciumanku…”

Namja tersebut hanya diam, tidak berbicara sepatah kata pun. “Dia tidak memutuskan hubungan kami ataupun melanjutkan hubungan kami…”

Namja tersebut membuka pintu mobilnya, mendudukkanku. Kemudian dia duduk di seat pengemudi, memasangkan seatbelt untukku.

“Ottohke? Sepertinya aku membuat hatinya sakit?” Aku menunjuk dada namja tersebut. “Di situ… Dia pasti sangat kesakitan…”

Aku merasakan mobil ini mulai melaju. “Changmin-ah… Kau tahu aku mencintainya, khan? Sebenarnya kami sudah bersama sejak 5 tahun yang lalu, bukan 2 tahun… Hiks… Aku sudah mengenalnya selama hampir 10 tahun… Saat dia masih menjadi murid training… Hiks… Aku sudah mengenalnya… Kami sudah melewati detik demi detik bersama… Dan hanya karena aku berselingkuh denganmu, dia tidak mau memandangku lagi… Hiks…”

Namja tersebut hanya diam.

“Ottohke?” Kepalaku semakin pening. “Changmin-ah… Hiks… Kau tidak mengapa jika aku memilihnya? Hiks… Aku tidak bisa tanpa dia…”

Mataku semakin berat. “Dia sudah menjadi bagian dari hidupku… Mianhae, Changmin-ah… Hiks… Gomawo, selama ini telah peduli kepadaku… Tetapi aku harus memilih… Hiks… Dan aku memilih bersamanya… Kau mengerti, khan? Aku memilih bersama Yunho oppa… Aku lebih mencintainya… Mianhae…”

Dan aku pun tertidur.

***

Aku merasakan seseorang menggendongku masuk ke apartemenku, kemudian membaringkanku ke tempat tidur. Dilepaskannya sepatuku. Dia berjalan menuju jendela kamarku, membuka kordennya.

Sinar matahari sore menerpa wajahnya. Dan aku bisa melihat dengan sangat jelas bahwa dia bukan Changmin. Meskipun dalam keadaan mabuk tetapi aku bisa melihat dengan sangat jelas, bahwa namja yang mengantarkanku pulang itu bukanlah Changmin.

Dia Yunho.

“Yunho oppa…” kataku ketika dia melangkahkan kakinya, hendak keluar dari kamarku. Dia berhenti, membelakangiku.

Aku bangun, berjalan ke arahnya. Segera aku berlutut di depannya, seperti yang kulakukan beberapa hari yang lalu. Airmataku menetes. “Oppa… Kajima… Mianhae…”

Dia hanya bergeming.

Aku semakin mengeratkan pelukanku di kakinya. “Oppa… Mianhae…”

Tiba-tiba dia melangkahkan kakinya. Tangannya menyingkirkan tanganku kasar dari kakinya.

“Oppa! Oppa kajima…” Aku berusaha sekuat tenaga mempertahankannya hingga aku terseret saat dia melangkah. Tetapi dia terlalu kuat, dengan mudahnya dia melepas pelukanku, kemudian pergi meninggalkanku. Ditutupnya pintu kamarku keras-keras.

Bruak!

“Mianhae, oppa…” rintihku. Aku menyeret tubuhku menuju tempat tidur karena sudah tidak ada tenaga lagi untuk berdiri. Menangis, dan hanya bisa menangis.

Selesai sudah. Dia benar-benar pergi kali ini…

Aku memang pantas mendapatkannya. Aku pantas kehilangan dia…

Tetapi beberapa saat kemudian pintu kamarku terbuka lagi. Terdengar suara ketukan sepatu yang melangkah semakin cepat menuju ke arahku.

Dia menarik tubuhku yang sudah tanpa daya, memeluk pinggangku erat, membantuku agar bisa berdiri tegak.

Aku melihatnya.

“Oppa…” kataku. “Oppa, kau kembali…”

Yunho tersenyum, kemudian memelukku erat sekali. Yunho kembali!

“Oppa… Mianhae, saat itu aku… Aku tidak tahu… Aku… Jangan marah pada Changmin.. Dia tidak bersalah… Oppa… Mianhae…”

”Yunho melepas pelukannya. “Saranghae, jagiya…” kemudian dia tersenyum.

Dia benar-benar kembali!

Yunho mendaratkan ciumannya ke bibirku. Dia Melumat bibirku. Ku lingkarkan tanganku ke lehernya, membantuku lebih dalam lagi membalas ciuman itu. Sesekali ku remas rambut hitamnya, menikmati ciuman yang sudah lama tidak kurasakan ini.

Yunhoku kembali!

Aku merasakan Yunho mengangkat tubuhku. Masih dengan bibirnya yang menempel di bibirku, dia membawaku ke dekat jendela, menurunkanku di atas meja rias kecil.

Dia menarik kedua tanganku kuat-kuat, menguncinya ke dinding. “Bogosippo…” bisiknya tepat di telingaku. Belum sempat aku menjawabnya Yunho segera mendaratkan ciumannya ke bibirku lagi.

Basah, dan kasar.

Sepertinya dia ingin membuktikan bahwa bibirku tidak boleh dimiliki siapa-siapa. Bibirku hanya untuknya.

Tangan kirinya masih mengunci tanganku, sedangkan tangan kanannya mulai turun dari pipi, leher, pinggang, hingga kakiku. Diangkatnya kaki kiriku, kemudian dilingkarkannya di pinggangnya. Membuat tubuhnya semakin merapat dengan tubuhku.

Tangan kiriku yang sudah bebas mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. Dada bidangnya kini terlihat, tepat dihadapanku. Aku menurunkan sebelah kemeja yang menghalangi dada bidangnya itu, dan mulai menelusuri dadanya sambil tetap berciuman. Yunho semakin merapatkan lagi tubuhnya ke arahku hingga aku bisa merasakan suhu tubuhnya yang hangat itu.

Kami semakin hanyut dalam ciuman ini, hingga aku berpikir jika aku melepaskan ciumannya sedetik saja, aku bisa menjadi gila.

Ini bukan hanya sekadar memilih antara Yunho atau Changmin. Tetapi ini adalah dimana seharusnya aku berada, apa yang seharusnya aku perbuat.

Dan aku sudah menentukannya. Aku harus berada di samping Yunho, melanjutkan statusku menjadi yojachingunya.

***

Sementara itu di luar apartemen…

“Aku memang selalu jadi yang kedua…” kata seseorang di dalam mobil.

Dia melihat ke arah jendela sebuah kamar apartemen. Dari jendela itu dia melihat yojachingu yang sangat dia cintai sedang bercumbu mesra dengan hyungnya. Hatinya sakit.

Dia mengambil sebuah kotak berwarna abu-abu, kemudian membukanya. Terlihat sebuah cincin putih yang mewah berada di dalam kotak tersebut.

“Changminie pabo-ya… Kau sudah tahu akan seperti ini akhirnya, tapi masih saja bermimpi menikah dengannya? Hhh…” katanya pada dirinya sendiri.

Ditutupnya kotak abu-abu berisi cincin tersebut, melemparnya ke luar, kemudian menginjak pedal gas mobilnya kencang-kencang. Meninggalkan semua mimpinya untuk menikahi cinta pertamanya, sekaligus yojachingu hyungnya itu.

Semua sudah berakhir.

-END-

SELESAIIIIIIIII !!!!! AKHIRNYA ><

gimana?? puas?? HARUS !! *maksa*

dan lagu yang jadi inspirasi kali ini adalah lagunya… ANDRA AND THE BACKBONE :: MUSNAH

ehehehe

maklumlah, kPopLovers tapi doyan andra and the backbones juga…

geregetan ??? sama… sakit bangettttttttt rasanya diselingkuhin sama orang terdekat… sayang L~ bukan Yunho yg dengan mudahnya maafin pacarnya (curcol) #lupakan

gomawoooo~~~

*bow*

43 thoughts on “One Out Of Two #2 // END [AfterStoryOf : Why, Baby?]

  1. Sequel lagiii.
    Yang ini kependekan.hehe minta digorok
    Tapi masih ga ngerti kenapa yunho tiba tiba balik lagi trus langsung begitu…
    Changmin nya perlu tuh minta maap sama yunho..
    Haha cuma saran sih

  2. Yunho baik bgt…ttp mau ksh kesempatan buat sojung…
    Changmin…kasian kau…
    Hwaiting…
    Tp aku mau dibkin lanjutan ttg mreka tp yg ttg changmin donk #ditoyol author

  3. waduuuhhh ga bsa ngomong ap” lgi, bguusssssss b^,^d
    tu yunho sengaja ‘begituan.ny’ di jendela ya biar changmin liat,, aduw kasian changmin oppa, jgn d buang dong cincin.ny. buat kita nkah aj,, kekekee *mupeng*
    lanjutin dong, bkin sequel ny after after story , hahahaa
    ._.

  4. dia memang selalu berfikir dewasa dan positif ….
    dia tau kalo dia sangat mencintai gadisnya …
    dia tau memaafkan adalah jalan menuju kebahagiaannya…..

    oooaoaaahhhhhh …. seandainya pasanganku seperti Yunho…

    tapi kira kira HOT – an mana ya ….????
    (((Yunho / Changmin ))….. YUNHOOOooo !!!!

  5. Whooaaa aku suka bagian yang yeojanya mabuk ihi
    changmin sama aku ajaa *geret changmin ._.v
    Sequel sabi kali.-.

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s