9

[Freelance] Mr. Pianist! I Miss You

Author  : Adinda Putri aka JonghyunsAddict

Genre  : Romance, Sad, Fan Fiction, Oneshot (?)

Gender : General (?)

Cast  : YOU, Kim Jonghyun, Choi Minho (Figuran)

    • Backsound : In My Room SHINee

Annyeong! Kali ini membawakan FF galau plus sedih versi Jonghyun. Semoga kalian terhibur dan disarankan sambil mendengarkan lagu diatas dengan headset. Okelah langsung saja! Silent readers wajib comment (?) XD

******

Aku merentangkan kedua tanganku keudara. Pegal sekali rasanya sehabis berlatih piano. Kulirik jam tangan yang kupakai di tangan kiriku dan ternyata jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Aku mencoba beranjak dari kursiku namun aku kembali terduduk. Lagi-lagi aku memandangi piano yang berada di depanku, aku tersenyum pilu. Tepat diatas piano terdapat sebuah foto, fotoku dengan seorang namja. Namja yang amat-sangat kucintai. Kupandangi foto tersebut, foto dimana namja itu sedang memelukku dan berusaha mencium pipiku. Kami terlihat bahagia, sangat bahagia. Namun sayang, aku tak bisa lagi melihat tawanya yang indah itu. Aku tak bisa lagi mendengar suaranya yang lembut dan menenangkan. Aku tak bisa lagi berkeluh kesah dan yang paling tidak terlupakan adalah ruangan ini. Ruangan dimana kami berdua mengadu kasih bersama, dimana ia dengan sabar mengajariku bermain piano dan bernyanyi. Aku masih ingat dulu aku sangat membenci dunia musik. Namun ia telah merubahku, menjadi gadis lembut yang sudah cukup matang dan ahli dalam bermain piano. Aku mengambil foto itu dan kuelus lembut wajah namja itu.

Aku merindukanya…

Aku sungguh merindukanya…

Aku ingin ia kembali…

Tak terasa air mata yang sudah terbendung di pelupuk mataku kini tumpah dan membasahi foto tersebut tepat di wajahnya. Aku langsung membasuhnya dengan ibu jariku. Aku mendekap foto itu di dalam pelukanku. Rasanya aku tidak ingin melepaskanya.

“Oppa, kau disini kan?” Aku tertawa dalam tangisanku. Berharap ia bahagia disana. Namun itu percuma. Tawaku bukan tawa bahagia, tawaku adalah tawa kesedihan oppa. Aku sungguh merindukanmu.

“Oppa, bicaralah padaku…” Aku kembali terisak. Kulepaskan foto tersebut dari dekapanku dan kembali kuletakkan di dinding. Tepat diatas piano tercintaku.

“Oppa, selagi kau disini. Aku akan memainkan sebuah lagu untukmu.” Aku tersenyum sembari menghapus air mataku. Seperti biasa, setiap malam aku selalu memainkan lagu yang sama untuknya. Lagu dimana dulu ia dan aku selalu menyanyikanya bersama. Dimana ia duduk disebelahku, kami berdua memainkan piano bersama. Terkadang aku hanya diam memandangnya, suaranya yang lembut dan khas masih kukenang sampai saat ini. Suara yang sudah tidak mungkin akan kudengar lagi. Aku ingin ia benyanyi lagi denganku, jangan… ia mendengarnya saja aku sudah cukup senang.

Sebelum memulai laguku aku kembali memandang foto tersebut dengan senyuman. Aku mencoba tersenyum walaupun perih.

“Oppa, dengar ya…” kataku sambil menatap foto itu.

Jamdeuljee anhnun bameh nuneul gamah geunyeorul ddeoohlreendah

ahmugeotdo muhlrahtdeon naegah neomu meewoseo

buhleul keegoh bangeul duhlreobundah…” Aku mencoba menahan air mataku yang sudah mulai jatuh.

“Oppa, apa kau ingat?” Aku kembali berbicara sendiri. Namun aku tau, ia disini. Ia sedang memandangiku dengan senyumanya, senyuman yang tidak akan pernah bisa kulupakan. Senyuman manis yang tersungging dari bibirnya.

Hweemeehageh bahlahooneun duh nunee meomchun goht

beoreejee mothaetdeon saengsheelseonmuhl keureego neo

keu mohdeun geot…

“Oppa, aku sudah lancar loh!” Aku mencoba tersenyum dalam tangisanku. Hatiku mengerang sakit. Tuhan, kenapa kau ambil dia secepat itu? Mengapa kau ambil namja yang sangat kucintai semudah itu? Tuhan, sekali saja biarkan waktu berpihak padaku. Tiap malam aku mendoakanya. Namun tiap malam juga aku menangisinya. Aku tau aku bodoh, aku tau ia tidak akan tenang jika aku terus menangisinya. Aku sakit, Tuhan. Aku merindukanya.

Cause you were my sun, the moon

nae jeonbuyeotdeon neo

nae bangeh eetneun modeun geotdeulee neol keureeweohanabwa

neol weehae chatdah jeechyeoseo neol jamshee eejeodoh

sumgyeonoheun uhreeye chueogee

gadeuk namah cause you’re still in my room…

“Oppa, neomu guliwo…”

Tak terasa aku mengakhiri akhir bait lagu tersebut dengan air mata yang sudah membanjiri kedua pipiku. Tiap hari, bahkan tiap malam aku selalu begini. Setelah berlatih piano selalu saja aku mengakhirinya dengan tangisan, berharap ia akan datang. Berharap ia akan memelukku dan mengatakan ia selalu mencintaiku. Tuhan, tidakkah kau mendengar doaku tiap malam? Sekali saja, Tuhan. Kirim dia kesini untuk menjagaku.

“…aku rindu suaramu…” air mataku semakin membanjiri wajahku. Aku tidak berhenti terisak, aku tidak ingin berhenti menangis. Biarkan air mataku habis, aku ingin menangisimu oppa. Aku tahu ini salah, aku tahu kau mengkhawatirkanku disana. Maafkan aku, oppa. Aku terlalu egois.

“…apa kau mendengarku oppa?”

“Oppa, aku merindukanmu!” Aku mulai berteriak. Aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku, membiarkan seluruh air mataku tumpah, menghabiskan air mataku.

“Aku masih ingin mendengarmu oppa!” Aku kembali berteriak. Suaraku terdengar sangat serak.

“Oppa! Babo, babo, babo! Kenapa kau tak menjawabku?!” Aku memukul kedua pahaku lalu menenggelamkan wajahku di kedua tanganku. Sungguh aku tidak tahu setan apa yang merasukiku malam ini. Aku sungguh ingin bertemu denganya. Air mataku masih mengalir deras, sungguh aku tidak bisa berhenti menangis. Tuhan, biarkan air mataku habis karena menangisinya.

“Kumohon…” Aku kembali berbicara dalam tangisanku. Aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku masih sambil terisak. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang hangat mengelilingi pundakku. Aku langsung membalikkan tubuhku.

“Oppa?!!” Senyum yang telah mengembang di wajahku tiba-tiba langsung memudar. Ini Minho oppa yang sedang memelukku, bukan Jonghyun oppa. Sadar,____!

“____…” Panggil Minho oppa lembut sambil mengusap punggungku pelan.

“Ayo tidur. Tidak baik jika kau mengingatnya terus. Oppa khawatir, tiap malam kau selalu begini.” Minho oppa menarikku kedalam pelukanya. Tubuhnya yang besar dan hangat mampu menenangkanku. Namun tetap saja, ia bukan Jonghyun oppa.

“Matamu sangat sembap.” Minho oppa menghapus air mataku dengan ibu jarinya sambil mengusap pipiku pelan.

Dia bukan Jonghyun oppa…

Minho oppa berbeda denganya…

“Mianhaeyo, oppa.” Aku masih terisak di dalam pelukan Minho oppa. Namun ia dengan sabar mengelus rambutku lalu ia makin memelukku erat.

“Kau tahu? Aku hanya ingin melihatmu bahagia,____. Tidak peduli kau mencintaiku atau tidak aku akan terus disisimu. Aku akan jadi orang pertama yang akan selalu ada untukmu, menjagamu, menjadi lengan di saat kau butuh kehangatan. Aku, namja yang selalu mencintaimu…”

Aku tersentuh mendengar isi hati Minho oppa. Sebesar itukah ia mencintaiku? Setulus itukah? Apa ia tidak akan meninggalkanku? Sudah beribu kali aku mencoba melupakan Jonghyun oppa, mencoba membuka lembaran bersama namja baru. Namun hasilnya selalu nihil, aku selalu ditinggalkan karena aku selalu menangisi Jonghyun oppa tiap malam. Apakah Minho oppa seperti itu? Apakah ia akan bosan dengan gadis cengeng sepertiku?

“____, sudah kubilang ratusan kali. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, bagaimana aku akan meninggalkanmu? Sedetik pun aku tidak pernah memikirkan hal itu. Aku akan berusaha membuatmu tersenyum ketika memandang foto Jonghyun, bukan lagi menangis. Aku akan menjagamu,____.”

Minho oppa semakin mempererat pelukanya. Aku tersenyum, berusaha menghapus air mataku.

“Oppa…” Panggilku pelan.

“Hmm…”

“Gomawoyo.”

Tiba-tiba Minho oppa melepaskan pelukanya dari tubuhku dan memandangku. Ia tersenyum dan menghapus air mataku dengan ibu jarinya. Mata Minho oppa yang besar dan bulat menatapku dalam. Dapat kurasakan wajahku mulai memanas.

“Saranghae.” Aku hanya bisa tersenyum tulus pada Minho oppa.

Setengah hatiku masih mencintai Jonghyun oppa.

“Gomawo, oppa.” Aku hanya bisa memeluk Minho oppa. Kuyakin ia mengerti.

******

Sekarang aku percaya, gadisku memang ditakdirkan denganya. Aku hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua. Aku berusaha merelakanya dengan namja lain. Walaupun aku adalah makhluk abadi sekarang, namun selamanya aku akan tetap mencintainya. Apapun yang terjadi aku akan selalu menjaganya dari atas sini. Berdoa untuknya, untuk gadisku yang paling kucintai. Kadang aku merasa tersentuh ketika ia memainkan lagu yang sama tiap malam untukku. Aku sempat menangis, aku ingin memeluknya, membalas lagunya dengan cintaku. Tapi apa daya aku hanya bisa melihatnya dari atas sini. Kuharap namja itu akan menjaganya dengan baik. Saranghae,____…

-THE END-

Hehe gimana? Sedih atau gaje nih? Mianhae ya hehe ini buatnya tengah malem pas lagi galau sih. Maaf kalau judulnya ga nyambung juga sama ceritanya -digantung reader- hehe yaudah waktunya comment nih! Sekali lagi maaf soalnya ini juga no edit hehe. Gomawo J

 

5

[Freelance] May I Love You [part 5]

Author : Wella

 

Tags : Sungmin, Leeteuk

Genre : Romance, angst

Sebelunya uda di post :

http://ourfanfictionhouse.wordpress.com/

Cerita Sebelumnya :

Sungmin yang hanya mempermainkan Min Rin akhirnya meluluhkan hati Min Rin dan memulai rencananya untuk menyakiti Jung Soo yang belasan tahun yang lalu telah menyakitinya. Namun Sungmin sadar bahwa tidak mudah baginya untuk melakukan hal tersebut pada Jung Soo, dan pilihan terakhirnya adalah dengan membalaskan dendamnya pada Min Rin yang merupakan adik kandung Jung Soo. Akan hal tersebut berhasil? Lantas apa yang akan dilakukan Jung Soo begitu mengetahui bahwa adik yang sekaligus gadis yang teramat sangat dicintainya itu telah menjadi pacar seorang Sungmin?

Your browser may not support display of this image.

Cast :

~ Park Jung Soo

~ Park Min Rin

~ Sungmin

~ Jung Soo P.O.V ~

“Oppa…” Min Rin mengguncang badanku yang telah kaku itu dengan panik, namun tidak ada respon sama sekali dariku, badanku sudah sekeras hatiku

“Oppa!” dengan setengah teriak Min Rin memanggilku, ottokhe? Hatiku seakan telah beku. Jadi selama ini dia hanya menganggap aku bermain-main padanya? Betapa bodohnya ku sampai bisa berpikir Min Rin menyukaiku…..

Untuk beberapa saat kami berdua terdiam, aku bingung harus bagaimana. Tidak mungkin bagiku untuk marah padanya, apa dia salah? Kurasa tidak, bagaimana mungkin aku marah padanya hanya karena dia menyukai namja lain dan tidak membalas cinta ‘konyol’ku ini? Tapi aku tidak bisa ikut tersenyum bahagia bersamanya, hatiku sudah hancur…..

“Wae? Miane….” Min Rin menundukkan kepalaku, aku tau meski hatiku sudah luluh lantak tapi tetap saja aku harus menjadi oppa yang akan selalu turut bersamanya, aku bukanlah namja yang pantas bahagia disampingnya sebagai orang yang dicintainya, hanya sekedar oppa..

“Kau punya pacar?! Yha oppa sampai shock! Bagaimana mungkin gadis kecil oppa sudah bisa mencintai namja lain selain oppa?! Chukae…….” Aku memeluk Min Rin erat, aku menahan agar suaraku tidak bergetar tapi ini sangat susah

“Oppa tidak marah?” Min Rin bertanya dengan nada ketakutan, dari kecil dia tidak pernah bisa menyembunyikan apapun dariku

“Marah? Menurutmu? Yha sejak kapan oppa bisa marah padamu? Yha kau ini mengada-ada saja! Oppa malah bahagia Min Rin a…. bawalah namja beruntung itu pada oppa, oppa harus memastikan dia orang yang bisa menjagamu” apa suaraku tidak bergetar? Kurasa aku akan menangis meraung-raung malam ini, rasanya seperti dihujat beribu belah samurai pada saat yang bersamaan, aku baru tau begini rasanya patah hati pantas saja orang lainnya sampai bunuh diri. Mungkin kalau bukan untuk menjaga Min Rin aku juga akan mengakhiri hidupku

“Oppa bukannya sangat marah kalau kau dengan namja manapun selain oppa? Kenapa sekarang oppa berbeda sekali?!” dia menatapku curiga, apa selama ini aku seperti itu?

“Eh? Kau tidak salah? Oppa tidak pernah begitu, yha tidurlah ini sudah tengah malam” aku mendorong tubuhnya untuk mengalihkan pembicaraan

“Ara! Aku rasa aku tidak akan bisa tidur malam ini, oppa harus cepat-cepat pacaran! Ini sangat menyenangkan oppa yha! Cepatlah cari yeoja, ini sangat memabukkan” Min Rin cekikikan dan berlari kearah kamarnya masih dengan senyum yang merekah

Pacar? Ha… bodohnya aku mengira dia mencintaiku, dia bahkan menertawakanku sekarang. Dia mengejekku? Memabukkan? Kaulah yang terlambat Min Rin yha, oppamu ini sudah merasakannya bahkan jauh sebelum kau tau apa itu cinta, jauh sebelum kau tau kejamnya dunia ini aku sudah menyukaimu. Belasan tahun yang lalu aku sudah mulai mencintaimu dan cinta ini tidak pernah padam sekeras apapun aku mencoba, setiap saat hanya ada kau yang menghiasi hariku bahkan mimpiku sekalipun. Kau tau itu memabukkan? Itulah sebabnya aku mencintaimu……

^^^^^^^^^

Min Rin sukses membuatku menangis semalaman, kamarku sudah akan banjir ketika aku sadar tangisanku terlalu keras untuk didengarnya dikamar sebelah. Sepertinya dia sudah mimpi sangat indah tadi malam, dia tidak sadar sama sekali kalau aku menangis sampai menggigit bantalku hingga robek. Kukira hatiku tidak akan sakit lagi kalau aku menggigit bantal itu hingga robek, faktanya sama saja. Meskipun bantalku sudah koyak sekalipun hasilnya tetap nihil, nol besar. Masih dengan rasa sakit ditusuk pelahan pedang aku mengaca di cermin putihku, mataku sembab. Kalau mataku tidak sembablah aku baru heran, apa kau bodoh sampai menangisi orang yang bahkan tidak sama sekali khawatir akan keadaanku orang yang bahkan sedang bahagia diatas kesedihanku yang teramat sangat. Hanya gadis itu yang bisa meluluhkan hatiku, hanya dia yang bisa membuatku rapuh seperti ini………

++++++++++

“Oppa! Matamu kenapa? Yha sembab! Oppa me..nangis?” Min Rin menunjuk-nunjuk mataku dengan semangat

“Ani, hanya salah tidur” Aku mengambil air putih dan meneguknya sebanyak yang kumampu, kata orang air putih itu sangat baik untuk kesehatan, dan aku membutuhkannya untuk menjaga agar jantungku tidak berhenti berdetak hanya karena hal itu

“Seumur hidup baru satu kali oppa salah tidur, isange!” Min Rin masih tidak percaya kata-kataku, sial kenapa dia memperhatikan mataku setiap hari?!

“Kau memperhatikan mataku? Apa karena jatuh cinta kau jadi begitu mengambang? Oppamu ini sudah sering seperti ini, kau saja yang kurang perhatian” entah kenapa aku merasa kesal ketika mengucapkan kata jatuh cinta, sepertinya aku agak kasar bicara padanya

“He? Oppa gwaenchana?” dia menatapku khawatir, wajar saja selama ini aku tidak pernah bersikap sekasar ini

“Gwaenchana….” Kali ini aku melembutkan nada bicaraku

“Sepertinya ada yang aneh, ah mulai hari ini aku diantar pacarku ya…” senyumnya kembali mengembang, tidak bisakah dia berhenti tersenyum? Senyum itu membuat hatiku semakin perih

“Benarkah? Baiklah” kuambil lagi air segelas penuh, aku harus tetap hidup walau nampaknya jantung dan hatiku tidak lagi berfungsi sebagaimana seharusnya

“Oppa berubah!” Min Rin menunjuk wajahku

“Berubah?! Apa tidak salah? Oppa tidak pernah berubah, yang berubah itu kau Min Rin yha, oppa tetap sama tetap Jung Soo yang biasanya” sebisa mungkin aku menjawab sesantainya walaupun aku agak gugup karena aku memang merasa agak berubah dari sebelumnya

“He?na? oppa yang berubah! Apa oppa tidak suka kalau aku pacaran?” gadis kecilku itu menatapku serius, aku ingin sekali berteriak IYA, AKU TIDAK SUKA! AKU BENCI ITU! Tapi itukah seorang oppa yang selama ini Min Rin kenal?!

“Apa harus oppa ulang lagi?! Oppa SENANG kalau kau SENANG” pada kata senang aku menggunakan penekanan yang sepetinya agak berlebihan

“Benar? Carilah yeoja! Aku yakin banyak yeoja yang menyukai oppa, aku juga mau punya onnie! Oppa sudah tua, pacar saja tidak punya. Payah!” aku tau dia sengaja memancingku, tapi aku sama sekali tidak tertarik makan pancingannya, jangan panggil aku Jung Soo kalau aku tidak kenal Park Min Rin

“Belum ada yeoja yang masuk kriteriaku” aku menjawab singkat berharap dia berhenti bertanya yang tidak-tidak lagi

Memang harus seperti apa?”

“Sepertimu”

“MWO?!”

“Kaget? Makanya jangan banyak tanya, oppa bisa mengurus masalah oppa sendiri. Urus saja namjamu itu” kulangkahkan kakiku menjauh darinya, dalam benakku hanya ada cara bagaimana aku harus melupakan yeoja itu

*0*

Setelah berkutat sekian lama akhirnya kuputuskan untuk menyuruh Min Rin memperkenalkan namja itu padaku agar aku bisa memastikan dia pantas menjaga malaikatku atau tidak . setelah itu aku akan pergi jauh darinya, aku tau aku akan amat sangat tersiksa karena ini tapi ini satu-satunya cara agar aku bisa melupakannya, selanjutnya aku hanya akan mencari yeoja yang akan kunikahi, kuharap aku akan sanggup mencintai yeoja lain selain Min Rin-ku….

~ Min Rin P.O.V ~

Akhir-akhir ini Jung Soo oppa aneh sekali, dia sudah bukan oppa yang dulu lagi. Aku tidak pernah mengerti kenapa dia selalu bersikap dingin padaku, seingatku dia berubah sejak aku memberitaunya bahwa aku sudah berpacaran. Tapi apa mungkin gara-gara itu semua dia berubah? Rasanya tidak mungkin, untuk apa Jung Soo oppa marah hanya karena aku sudah punya pacar? Lagipula dia selalu bahagia disaat bahagia, dia orang yang paling mengerti aku selain Sungmin tentunya.

Sudah 1 bulan ini Jung Soo oppa tidak terlalu memberi perhatiannya padaku seperti sebelumnya, dia lebih banyak keluar entah kemana, dia juga tidak pernah tanya apa-apa lagi. Aku kehilangan sosok seorang oppa yang telah membesarkanku sejak kecil, dia sudah berubah sekarang, bukan lagi Park Jung Soo yang kukenal.

Dia cuek sekali, dia tidak pernah peduli lagi apa yang kulakukan. Untung saja ada Sungmin yang walaupun belum bisa menggantikan peran Jung Soo oppa tapi setidaknya dialah yang menghiburku dan aku mendapat perhatian yang tidak lagi kudapat dari Jung Soo oppa padanya.

Tanpa kusadari aku sudah sangat dekat dengan Sungmin, namja yang selalu ada disampingku kapanpun kubutuhkan. Aku banyak curhat padanya tentang perubahan Jung Soo oppa, kurasa dia hanya ingin memihak padaku tapi perkataannya seperti menjelekkan Jung Soo oppa. Dari masukan yang selama ini dia berikan padaku kebanyakan menyuruhku menjauhi Jung Soo oppa, aku tidak tau kenapa dia sensitif sekali kalau aku curhat tentang Jung Soo oppa, dia selalu memojokkan Jung Soo oppa seakan-akan Jung Soo oppa 100% salah.

Aku tidak terlalu mengambil pusing masalah ini, mungkin dia hanya tidak senang aku yang pacarnya terlalu dekat dengan oppaku, aku selalu memaklumi hal ini. Sampai siang itu aku baru mengerti…………..

^^

Hari ini aku tidak kuliah, Sungmin juga sedang sibuk. Jadi aku putuskan hari ini untuk bersih-bersih rumah saja, sepertinya sudah lama sekali aku tidak mengurus rumah lagi. Pertama yang kumulai dari kamarku, tidak terlalu lama untuk mengatasi kamar petak itu. Selanjutnya ruangan lain seperti dapur, teras dan kawan-kawannya.

Semua sudut rumah sudah bersih kecuali satu ruangan, kamar Jung Soo oppa. Aku ragu apa harus membersihkan ruang yang 90% isinya berwarna putih itu, setelah bergulat dengan hatiku cukup lama kuputuskan untuk membereskan kamar itu juga. Memang sudah seharusnya kau membereskan kamar oppa kan?

Tidak terlalu kotor, walaupun ruangan berbentuk bujur sangkar itu identik dengan putih tapi tampak jelas kalau kamar oppa masih bersih. Hanya menyapu, ngepel dan membereskan file kerjanya yang berserakan dimeja kerjanya.

Kubereskan semua kertas yang sepertinya sangat penting itu kedalam laci meja kerjanya yang berwarna putih susu itu. Ketika kubuka isinya banyak foto, kuraih foto itu dengan semangat sepertinya itu foto masa kecil kami. Dan benar itu foto aku, oppa, seorang ajuma dan seorang ajussi yang sedang duduk disebuah teras rumah yang agak luas. Fotonya masih putih hitam, foto yang lama, meski aku tidak tau itu ajuma dan ajussi itu siapa tapi aku yakin itu pasti orang yang melahirkan aku dan Jung Soo oppa.

Dengan cepat aku mengganti foto itu dengan foto lainnya, terlalu menyakitkan untuk dikenang. Selanjutnya foto aku dan oppa di panti asuhan, disana aku sudah agak besar dengan menggandeng tangan Jung Soo oppa.

Kebanyakan tumpukan foto itu adalah foto masa kecil kami, sampai foto itu terganti menjadi fotoku dan oppa yang sudah dewasa. Aku tertawa pelan melihat foto itu, lucu.

Aku meletakkan kembali tumpukan foto itu ketempatnya semula, dan apa itu?

Kuraih sebuah note putih, ah diary! Diary Jung Soo oppa? Apa mungkin seorang namja menulis diary? Buka tidak buka, aku bingung sekali apa yang harus kulakukan dengan diary putih rapi itu, aku penasaran sekali apa isinya tapi itu privasi oppa kan?

Dengan keyakinan bahwa aku orang yang paling dekat dengannya akhirnya kuputuskan untuk membaca diary itu.

Aku mulai membuka lembaran pertamanya……

~ Sung Min P.O.V ~

Sudah 1 bulan, hah?

Aku sudah bersenang-senang selama satu bulan, meskipun aku agak kecewa dia tidak sama seperti yeoja lainnya. Dia tidak pernah sekalipun memberi lampu hijau kalau aku boleh menjamahnya lebih jauh, dia sangat tertutup.

Cih, pacaran seperti apa itu? Hanya untuk mengantarnya pulang balik kuliah, aku lebih mirip sopir pribadinya selama satu bulan ini. Dan bisakah dia berhenti membicarakan si brengsek Jung Soo OPPA-nya itu?!

Apa dia pikir aku dewa sampai bisa tau kenapa OPPA-nya itu berubah? Aku bersumpah akan membuatnya membenci Jung Soo, bukan kah bagus kalau sampai aku bisa menyakiti Jung Soo 2x lipat? Menyakitinya secara langsung dan tidak langsung.

Aku sudah menimbang semuanya secara matang-matang, dan ini rencana terbaik yang pernah ada. Jung Soo hanya tinggal tunggu saja aku, kau akan menyesal telah melakukan hal itu padaku.

~ Author P.O.V ~

Jung Soo menunggu dengan cemas, kakinya tidak berhenti mengitari ruang tamu berhias bulu-bulu putih itu dengan mimik cemas. Dia sedang menunggu seseorang yang mungkin akan mengubah hidupnya untuk selama-lamanya.

“Semuanya akan baik-baik saja, hanya memastikan dan semuanya selesai” Jung Soo bergumam sendiri untuk menghibur dirinya dari kesedihannya yang amat mendalam, tidak bisa disangkal lagi bahwa dirinya harus hidup jauh dari Min Rin setelah ini

“Aku tidak apa-apa, tidak masalah sakit ini masih bersamaku atau tidak yang penting aku tidak melihatnya dan aku akan melupakannya” masih bergumam lirih, Jung Soo menggenggam tangannya erat

Namja bertubuh tegap itu memegang dadanya “Masih perih? Kenapa bisa hal sekonyol ini terjadi?! Bahkan aku akan lebih memilih dikuliti daripada merasakan hal ini” namja itu tersenyum pelan, seluruh rencana sudah terancang sempurna diotaknya, hanya menunggu hari ini selesai dan semuanya juga akan selesai

Sebuah bunyi bel membuyarkan lamunannya, tangannya seketika bergetar hebat, ketakutan itu terlalu berlebihan pikirnya. Dengan kekuatan yang tersisa dibukanya pintu itu dengan lemas, dipasangnya seulas senyum tulus yang dipaksakan dan ini semua dilakukannya hanya untuk seorang gadis yang menunggunya diluar sana.

“Oppa aku menepati janjiku! Aku sudah membawa namaj itu kehadapanmu” gadis yang ditunggu-tunggunya tersenyum lebar tanpa tau sedikitpun kesedihannya amat sangat

“Ne, annyeong” Jung Soo menatap namja didepannya seksama, wajahnya tidak asing lagi dimata Jung Soo

“Annyeong” namja manis yang digandeng Min Rin menyunggingkan senyum kepada Jung Soo, senyum mengejek

“Masuklah” Jung Soo mempersilahkan namja itu masuk, ada keanehan yang dirasakannya. Memang tidak ada yang aneh dari pacar adiknya itu hanya saja wajah itu mengingatkannya pada sesuatu yang ia sendiri tidak mampu mengingatnya

“Min Rin yha masuklah kekamarmu, ada hal yang akan oppa bicarakan dengan namjachinggumu” tanpa menunggu lama Jung Soo sudah memulai semuanya, lebih cepat akan lebih baik pikirnya

“Owh, serahasia itukah? Ara, jangan lama-lama!” Min Rin melepas tangannya dari gandengan namja berambut hitam itu dan berlari kelantai atas tempat dimana kamarnya berada

“Duduklah, ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu” setelah Min Rin menghilang dari pandangan Jung Soo langsung to the point

“Kau lupa denganku Park Jung Soo yha” namja itu kembali menyunggingkan senyum mengejek yang pernah ditunjukkannya belasan tahun yang lalu

“Ne? apa ada yang kulupakan? Kalau ada maafkan aku, ada hal yang jauh lebih penting” Jung Soo tidak terlalu menganggap omongan Sungmin penting

“Kau bahkan berubah ratusan kali lebih sombong! Kau tidak pernah berubah! Itulah yang kubenci darimu, Park Jung Soo-sshi” namja itu menatap Jung Soo serius, tatapan mata itu kembali mengingatkan Jung Soo akan seseorang yang telah dilupakannya

Nugu? Sepertinya kau sudah mengenalku dengan baik, pertama aku ingin tau namamu. Sangat tidak adil kalau kau bahkan mengetahui segalanya dariku sedangkan namamu saja aku tidak tau” Jung Soo tidak lagi tersenyum pada namja itu, namja itu bukan orang yang bisa diajak kompromi secara baik-baik

“Mungkin kau masih ingat kata ini ‘Kau siapa? Hebat? Apamu yang hebat? Bajumu saja pink! Dasar banci!! Kalau mau melawanku kau harus berkaca dulu!’ itu kata-kata siapa? Kata itulah yang membuatku membencimu hyung” selesai namja itu bicara, wajah Jung soo seketika berubah

“KAU?!!! Aku bahkan masih ingat baju pink yang kau gunakan namun sayangnya kau lupa namamu, bajumu itu bahkan lebih berharga dari nama busukmu itu” Jung Soo menatap namja itu tajam

“Aku akan membuatmu mengingatku selama-lamanya, aku akan menjadi orang yang akan selalu kau sebut namanya, PARK SUNGMIN” lelaki bernama Sungmin itu menaikkan alisnya tinggi

“Oh benar, Sungmin. Orang yang bahkan aku tidak sudi punya appa yang sama, aku lebih baik kehilangan appa daripada harus melihat wajahmu satu detik lebih lama” Jung Soo menaikkan bibirnya

“Kau lihat betapa sombongnya dirimu, sayangnya itu tidak cukup. Aku butuh satu hal lagi, PENDERITAAN-mu” Sungmin mengangkat wajahnya tinggi

“Rupanya penderitaanku selama belasan tahun itu tidak cukup?! Kau mau apa lagi? Hartaku? Ambillah yang kau mau, itu tidak lagi penting untukku bahkan aku rela melepas ayahku hanya untuk orang sampah sepertimu” emosi Jung Soo perlahan-lahan mulai tersulut

“Aku bahkan sudah ratusan kali lebih kaya darimu, aku hanya ingin mengambil satu darimu. Adikmu yang cantik, Park Min Rin.” Sungmin terkekeh puas melihat wajah ucatJung Soo

“Kau BRENGSEK BAJINGAN! KEPARAT! Berhenti mengejar Min Rin dan pergi, aku akan melupakan semua yang telah terjadi asal kau pergi dari sini SEKARANG!” Jung Soo menahan tinjunya agar tidak melayang ke wajah mulus Sungmin

“Hahaha… apa kau pikir aku orang bodoh yang bisa kau gertak? Melupakan semuanya? Yha aku mau kau MENGINGATNYA DENGAN BAIK! SELAMA-LAMANYA!” Sungmin tertawa puas

“KELUAR DARI SINI!” Jung Soo menarik kerah baju Sungmin dan menyeretnya menjauh

“Lepas! Kau tidak bisa mengusirku begitu saja! Aku bahakan butuh belasan tahun untuk mencapai ini semua, ini tidak akan berakhir secepat ini hyung” Sungmin menepis tangan Jung Soo dan kembali lagi ketempat duduk awalnya

“Hyung?! Harus kukatakan berapa kali kalau aku tidak punya adik selain Min Rin! Berhenti sekarang juga atau aku akan memanggil Min Rin! Kau tidak akan pernah bisa menyentuh Min Rin lagi” Jung Soo menghampiri Sungmin dan menariknya keluar lagi

“KUBILANG LEPAS!!!” Sungmin menghentak tangan Jung Soo dan menatap Jung Soo tajam “Kau pikir aku tidak tau?! Aku tau semuanya! Adik bodohmu itu juga sudah tau! Dialah yang menceritakan semuanya padaku! Kau MENCINTAINYA! Kau TERGILA-GILA padanya! Kau BODOH! Berhenti seolah-olah kau berhak! Kau terlalu naif!” Sungmin berteriak seakan-akan ini rumahnya

“A… Tidak mungkin! Ti…dak mungkin Min Rin tau…kan?” Jung Soo seketika lemas, tubuhnya roboh begitu saja, ketakutannya selama ini akhirnya terjadi juga

~ Flash Back ~

Min Rin menatap diary putih itu dengan air mata yang siap tumpah, tangannya bergetar hebat. Apa yang dia baca bagai petir yang menyambar tubuhnya, kaget, shock, bersalah, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Perasaannya kini tidak berarah, gadis itu terus-menerus mengutuk dirinya sendiri yang bahkan tidak bisa mengartikan perhatian Jung Soo yang jelas-jelas berlebihan.

Gadis yang terduduk lemas itu hanya bisa menatap diary itu tidak percaya, semua rahasia Jung Soo telah terkuak. Semua telah dibaca Min Rin, tidak ada lagi salah paham diantara mereka. Permainan yang selama ini dikiranya hanya main-main ternyata diartikan lain oleh Jung Soo, bahkan tanpa sadar Min Rin telah memberi kebahagiaan palsu untuk Jung Soo.

Min Rin masih tidak mempercayai semua tulisan yang tertera rapi dalam note itu, kalimat yang singkat namun jelas sekali apa yang dituliskan disana. Kata-kata yang bahkan Min Rin tidak pernah terfikirkan akan ditujukan Jung Soo untuk dirinya. Bulu roma gadis itu berdiri, ketakutan melanda dirinya, imannya mulai goyah sekarang.

Min Rin tidak bisa menyalahkan oppanya itu, cinta itu tumbuh sendirinya seiring berjalannya waktu, Min Rin memang membutuhkan Jung Soo tapi ia hanya membutuhkan Jung Soo hanya sekedar butuh seorang oppa saja. Sayang Min Rin juga hanya sekedar sayang antar saudara saja, apakah salah jika Min Rin tidak bisa membalas perasaan Jung Soo?

“Oppa miane……” hanya kata itu yang terlontar dari bibir merahnya itu, perasaan bersalah mulai menggerogoti dirinya, air mata gadis itu tidak berhenti jatuh.

Hatinya sudah berlabuh pada Sungmin, namja yang dicintainya bukan Jung Soo…..

#.#

“Adikmu dan kau sama bodohnya! Dia menceritakan semuanya padaku, SEMUA!” Sungmin menatap Jung Soo kasihan “Silahkan saja kau racuni otak adikmu itu agar menjauhiku, katakana padanya kalau aku itu Park Sungmin, orang yang tidak jauh berbeda denganmu, aku oppanya juga bukan? Hanya saja dia lebih memilihku dari pada kau Jung Soo!”

“Hya! Jaga omonganmu! Aku bersumpah tidak akan membiarkan Min Rin meemuimu lagi! Apapun akan kulakukan, walau nyawa taruhannya aku tetap tidak akan membiarkan kalian melakukan hal ini!” Jung Soo menahan suaranya agar tidak terdengar oleh Min Rin

“Wae? Oh aku mengerti, kau sendiri bukan yang ingin memacari Min Rin? Kau sa…” sebuah tinju mendarat tepat di tulang pipi kiri Sungmin

“Berhenti mengatakan hal omong kosong!” Jung Soo menahan tangannya agar tidak melukai Sungmin lagi

“Kau! Kau berani memukulku HAH?! Bahkan orang tuaku saja tidak pernah menyakiti aku barang sehelai rambut pun! Kau akan menyesal! Kau tau apa yang akan kukatakan apa adikmu itu? ‘oppamu itu ingin memisahkan kita chagiya… kau tau kan kalau dia mencintaimu? Dia tidak suka kalau kita berpacaran, dia ingin mendapatkanmu’ kita lihat saja apa yang akan dilakukannya nanti” Sungmin memegang pipi kirinya yang lebam berkat Jung Soo

“Itu tidak masuk akal! Dia tidak akan mendengar ucapanmu, aku kenal betul siapa adikku” suara Jung Soo mulai bergetar, ada keraguan disana

“Baiklah, berpegang saja pada pendirianmu, tinggal kita lihat nanti” Sungmin melangkahkan kakinya menjauhi Jung Soo

“Jangan… jangan sakiti dia, lakukan saja apapun yang kau suka padaku, kumohon… jangan Min Rin” Jung Soo menahan Sungmin dan melemahkan suaranya

“Kau takut? Aigoo kau kasihan sekali yha Park Jung Soo… sayangnya aku lebih suka melihatmu tersiksa seperti ini, ini berkali-kali lipat lebih menyenangkan daripada aku langsung menyakitimu, ini jauh lebih sakit bukan?” Sungmin tertawa puas melihat wajah pucat Jung Soo “Ini belum apa-apa, lihat saja permainanku nanti” baru Sungmin akan melangkahkan kakinya lagi, kembali Jung Soo menahannya

“Lakukan apapun yang kau suka padaku” Jung Soo menekukkan kakinya dihadapan Sungmin, ia menundukkan kepalanya hingga kelantai. Jung Soo membuang segala keegoisannya, ia berlutut memohon-mohon bagai orang yang tidak lagi mempunyai harga diri

“Jilat kakiku” Sungmin mendekatkan kakinya pada Jung Soo

“Jilat dan aku akan melupakan semuanya”~~

TBC

 

5

[Freelance] You It’s You

Author: Beauty

Cast: Kim Yesung, Lee Donghae, NN (a.k.a Beauty)

Category: OneShot

Di rumah Donghae, sekarang.

Lagi-lagi anak itu belum pulang. Latihan sampai malam lagi, kayaknya. Hhh, dia harus berhenti menyiksa dirinya sendiri seperti itu.

Ai kamchagi! Buset dah, kaget aku. Hah? Itu beneran pacarnya Donghae, kan? Ngapain dia di sini? Kok tumben banget pagi-pagi begini. Deng!! Dia udah ngeliat aku. Ga sempat kabur dong aku. Aduh, ngomong apa ya? “Hai,” sebodo ah. Sapa aja.

Kenapa dia ga jawab ya? Aku kan jadi grogi. Aku tanya lagi ah, “Donghae, dimana?”

Jangan-jangan ni cewek nginep di sini tadi malem, sama Donghae? Oh tidaaak, rasanya ada yang tersayat dalam hatiku. Tapi Donghaenya mana ya? Kok ga ada?

“Dia sudah pergi tadi malam,” jawabnya.

“Oh,” jawabku. Aku merasakan naiknya amarah dalam dada. Enak aja Donghae langsung pergi abis dapet malem yang indah. Kayaknya ni cewek lagi nyesek. Apa gara-gara itu ya?

Tapi aku juga laper. Marahnya entar aja deh. Pikirin dulu solusinya, jadi nanti kalau udah tau masalahnya apa, langsung udah ketemu solusinya. Tapi masalahnya apa? Gimana mau mikirin solusi kalo masalahnya aja ga ketauan? Ah gini deh kalo laper kebangetan. Lieur euy.

Nah, di kulkas Donghae ada apa ya? “Kau sudah sarapan?” Basa-basi aku bertanya padanya. Kuharap sih udah. Aku meliriknya pura-pura perhatian. Eh, eh, eh, lho kok malah nangis? Apa dia ga dikasih makan dari tadi malem ya sama si Donghae sialan itu? Sibuk sih sibuk, tapi masa ceweknya dateng ke rumah untuk pertama kalinya ga ditawarin makan sama sekali? Aku menutup pintu kulkas dan menghampirinya.

“Aku merindukannya,” katanya serak sambil menangis. Aduh suaranya… seksi banget dah. Pagi-pagi begini menggoda iman ajah. Tapi kok dia bilang merindukannya? Kan baru ketemu tadi malem? Atau jangan-jangan ga ketemu?

Aku lirik tempat tidur Donghae. Ga kaya abis ada yang ‘bergulat’di situ.

Lalu pengertian itu datang begitu aja, membuat aku mengutuk sahabatku itu setakzim-takzimnya. Brengsek kau Donghae! Kamu itu udah menelantarkan hal yang seharusnya paling kamu jaga. Kamu udah dapetin dia tapi kamu terlantarin gitu aja. Jujur aku sangat geram memikirkannya.

Aku tak tahan melihat kesakitannya. Pasti sakit sekali diabaikan oleh pacar tercintanya tanpa ada peringatan sama sekali. Ga ada masalah, ga ada sebab, tiba-tiba ditinggal. Aku harus bicara serius sama si Donghae. Aku berusaha mendukungnya dengan menyentuh lengan atasnya.

“Bogoshippo..”

“Jeongmal bogoshippo…”

“Aku merindukannya…” dia terus merintihkan kata-kata itu. Augh! Seandainya saja dia memiliki sedikit hati untukku, aku ga akan deh bikin dia begini. Tapi dia cuman melihat Donghae dan hanya Donghae. Cowok brengsek yang sialnya aku sayangi sangat sebagai sahabatku.

“Hmm, areo…” aku tak tahan lagi, maka kupeluk dia. Rasakanlah hatiku, manis. Aku di sini. Jangan menangis lagi. Sakit sekali hatiku melihatmu begini.

“Aku kangen, uri saranghaneun Donghae-a” katanya menyiramkan air dingin dalam jiwaku. Oke, aku harus bangun. Secinta apapun aku sama dia. Dia tidak berhak ditambahbingungkan lagi oleh perasaanku. Maka aku pun diam saja. Tapi tubuhku sepertinya tidak mau menyerah kalah begitu saja. Tanganku terus mengelus punggungnya.

Meskipun dia itu cintaku, cinta terpendamku, yang sedang bersedih hati uwo uwo, tapi dia mau nangis sampe kapan ya? Kakiku pegel nih. Ah, duduk di samping dia aja deh. Ga papa deh ga meluk lagi dari depan. Ga papa deh ga ngerasain isakannya di leherku lagi. Plak! Aku menampar diriku sendiri dalam pikiran. Ini orang lagi susah, akunya malah mupeng.

Waktu akhirnya dia berenti nangis, aku udah selesai ngupil, garuk-garuk nyari ketombe, dan sudah selesai juga stretching dengan cara melurus-luruskan kaki yang ngegantung di meja. Tapi kayaknya dia masih sedih banget, mukanya masih nunduk dalem-dalem. Curiga nih aku, jangan-jangan dia kebelet tapi ditahan ya? Ke belakang aja, Sayang.. aku ga papa kok.

Eh, dia noleh! Wadhuh, jangan-jangan dia bisa ngebaca pikiranku ya? Tapi mukanya memelas banget, aku jadi ngerasa bersalah, baik itu karena pikiranku yang udah nuduh dia kebelet, maupun karena bersekongkol dengan Donghae perihal kelakuannya.

Kriuk..~

Wah, nyari gara-gara nih perut! Aku bisa ngerasain mukaku jadi panas. Mungkin sekarang udah jadi merah. “Aku lapar…” aku mengaku.

“Ayo kubuatkan kau sarapan. Kau tidak boleh sakit karena kelaparan,” ujarku sambil turun dari meja.

Aku membuatkannya bibimbap meskipun dia bilang dia tidak akan merasakan masakanku sama sekali. Suaranya terdengar pedih sekali ketika mengatakannya. Hatiku ngilu. Kami lalu makan di satu mangkok besar. “Selamat makaaaaaaaaan!” seruku penuh semangat. Aku memang semangat karena aku lapar banget dan di sisi lain aku ingin menyemangatinya. Aku lalu menyantap makananku dengan semangat matador menghadapi bir seusai menang.

Tapi dia belum menyuap nasinya. Ah, hatinya pasti sakti banget. Sejak mengenalnya, baru kali ini aku ga melihat senyum di wajahnya. Kuambil nasi, lalu aku arahkan ke mulutnya. “Aaaaaaa,” kataku.

Dia mengelak. “Apa-apaan sih?” dia berusaha menepiskan tanganku.

“Bibimbapku jadi kurang rasa gara-gara kau tidak makan, tahu?! Jangan sampai aku jadi sakit gara-gara tidak makan dengan baik ya! Ayo makan!” paksaku padanya.

Akhirnya dia makan juga nasi yang kusodorkan. Hahaha, mukanya lucu sekali. aku mengambilkan nasi banyak-banyak tadi, dan sekarang mulutnya penuh, bahkan ada selembar bayam nyangkut di sudut bibirnya. Selanjutnya seperti semangatku sudah menularinya, dia mulai makan dengan lahap. Mungkin tadi dia nangis setengahnya karena kelaperan kali ya. Ah, kasihan manisku.

Aku ngeliat satu bayam itu ngejogrok penuh penantian untuk dimangsa. Dia berada di balik nasi-nasi yang berkilauan. Dengan semangat sumpah pemuda mengheningkan cipta, aku bergerak menyerang. Ini kesempatanku! Bayam itu milikku!

“Andweeeeeeeh!” Aaarrgh, dia mengambil bayamku! Aku pelototin dia! Teganya dia ngambil bayamku! Aku terluka.

Tapi hatiku bersuka cita. Dia tertawa tergelak-gelak sekarang. Cantik sekali. Aku pun jatuh cinta. Bangkit. Lalu jatuh cinta lagi. Bangkit lagi. Jatuh cinta lagi. Aku ga ngerti kenapa Donghae bisa menjauh dari wajah yang seolah memiliki cinta di seluruh dunia seperti ini? Tawanya membahagiakan hatiku. Dan karenanya aku pun ikut tertawa. Entahlah, aku merasa jahat karena di saat aku puas bisa membuatnya tertawa, aku sedih memikirkannya dijauhi Donghae, sekaligus aku juga tertawa getir karena merasa tidak rela kalau tawa itu hanya menjadi milik Donghae.

Karena perasaanku sendiri kacau, aku tertawa sekeras-kerasnya. Keras banget malah, sampe rasanya cuman aku sendiri yang ketawa. HUaahahahaha!

Aku melihatnya dan ternyata emang cuman aku yang tertawa. Dia itu lagi nangis lagi. Air matanya bercucuran. Mulutnya penuh. Nasi muncrat kemana-mana. Ada bayam nyelip di giginya. Tampangnya jelek banget. Orang jelek tercantik yang pernah aku kenal, yang membuatku jadi pengin nangis ngeliat muka jeleknya karena dia nanya ke aku, “Appua dshia ma-an dengan benar?”

Apa dia makan dengan benar? Donghae?! Becanda ya kamu?! Aku mengangguk karena ga yakin bisa menguasai amarah ku kalo ngeluarin suara. Tapi aku paksain juga sih ngomong, “Jangan khawatir, dia selalu makan dengan benar.”

Kurajam kau Donghae-a!

Setelah reda tangisnya, dia meminta maaf sambil malu-malu gitu ke aku. Aku sendiri berhenti makan karena merasa kacau dengan perasaanku. “Ga pa-pa,” jawabku sambil menunduk. “Meskipun aku tidak suka melihatmu menangis, tapi aku bisa bayangkan perasaanmu. Menangislah sampai kau lega. Aku akan berada di sini menemanimu. Tapi aku ingin meminta tolong satu hal padamu.”

Dia menatapku bertanya.

“Setelah menangis, kau harus membantuku menghabiskan bibimbap ini,” kataku.

Dia tersenyum tipis. Itu pun cukuplah. Aku ga yakin bibimbap ini akan ada rasanya lagi. Tapi aku ga mau ngebuang makanan. Aku udah ngebuat bibimbap ini dengan perasaan bahwa dia dan aku akan memakannya bersama. Aku ingin membuatnya makan makanan buatanku. Aku ga ingin ngabisin makanan ini sendirian dengan hati tersayat-ngeliat kesedihannya. Aku milih nunggu. Nunggu sampai dia bisa ngatasin sakit hatinya, lalu kami berdua akan melanjutkan makan.

Taman, tiga bulan yang lalu.

“Hyung, aku akan debut.”

Suaranya biasa dan datar. Ga kedengeran tuh semangatnya di balik kabar gembira yang disampaikan. Aku takjub mandangin dia. Ni anak bener-bener cool atau ga punya perasaan sih? Tapi sebenernya aku udah tahu jawabannya. Anak ini sedang miris.

“Akhirnya!” akhirnya akulah yang teriak untuknya. Mungkin dia sebenernya pengin teriak, tapi dia ga bisa. Orang-orang ngeliatin aku, bikin aku bertanya-tanya apa bener aku segitu gantengnya?

Donghae tersenyum tipis. “Hyung,” protesnya lemah.

Aku ngeliat dia dan ikut merasakan kegetirannya. Dulu ayah Donghae pengin banget anaknya jadi penyanyi, sebab dia sendiri ga kesampaian jadi penyanyi. Giliran sekarang dia bisa debut, eh, ayahnya malah udah meninggal. Om, gimana sih, anakmu sekarang lagi sedih nih.

“Ya, Donghae-a,” panggilku.

Dia ngeliat ke aku. “Tenang ajalah, ayahmu pasti liat kamu terus bangga kok sama kamu.”

“Iya, Hyung. Aku tahu.” Lha itu tau, terus kenapa masih mellow-mellow ga jelas gini sih?

“Donghae-a, kamu makan cabe rawit seons lagi ya? Udah dibilang ga usah diturutin itu perintah pelatih-pelatih kamu yang ga masuk akal. Sakit perut kan jadinya sekarang?” emang kadang-kadang sialan tuh para pelatih. Kalo udah mabuk, ngerjain trainee seenak jidat kapalan dia aja.

“Ya! Hyung!” Donghae manggil. “Siapa yang abis makan cabe rawit? Udah deh, ga usah ngebahas yang itu lagi!”

Yah, sewot dia. Emang sih, bukan pengalaman yang menyenangkan kalo harus bolak-balik ke WC selama dua hari sementara hari itu masih musti jadi penari latar. Hahahaha, tapi lucu juga kok diliat.

“Yang jelas, Hyung gimana? Kapan Hyung akan debut?”

Ah, itu toh. Emang sih, aku agak nyeri-nyeri gimana gitu waktu denger Donghae mau debut. Tapi kan emang aku belum waktunya kali, jadi ya udahlah. “Tenang aja, Bruder. Hyung-mu ini paling bentar lagi juga debut.”

“Hyung, mianhe.”

Ye elah, kenapa juga dia yang minta maaf. Ada juga manajemen kali yang mestinya minta maaf ama gue. Bukannya elu. Kenapa trainee bongkotan begini belum diterbitin juga.

Aku merangkul bahunya. “Bruder,” kataku. “Itu udah rejekimu, Bruder. Emang aku udah lumutan jadi trainee, tapi kayaknya pasarku belum buka. Jadi masih harus nunggu dulu. Chukae,” kataku.

Aku bangun. “Nah, sekarang kan kamu udah mau jadi artis beneran nih. Gimana kalo kamu traktir aku makan?”

Dia malah ketawa. “Hyung, sejak kapan sih aku ga traktir kamu makan? Aku lagi sedih aja yang minta ditraktir makan kamu.”

Preet. Wah melukai harga diri, nih anak. “Ya Donghae-a! Kamu ngehina aku? Mentang-mentang aku selalu minta makan ama kamu?”

“Ani, Hyung..!” dia berseru membela diri.

Aku harus ngubah taktik nih kayaknya, “Putakhe, Donghae-a. Kamu kan tau aku hobinya ga punya duit. Gimana dong? Ga ada pemasukan terus.” *puppy eyes*

Berhasil! Senyum ngalahnya dia udah keluar. Itu berarti, aku dapet makan malem gratis lagi! Yes!

Warung makan, tiga bulan lalu, hari yang sama, malemnya.

“Gomawo, Donghae-a,” aku menepuk punggungnya setelah kenyang.

“Kok ga nambah lagi, Hyung?”

“Ga ah. Kalo dibungkus boleh ga?”

Hobae-ku itu ketawa keras. Orang ditanyain bukannya dijawab malah diketawain.

“Sok, atuh Hyung. Bungkus dah, kalo perlu dua.” Nah, gitu dong dijawab.

“Ahjumma! Bungkus 2!”

Aku ngebersihin selilit yang nyangkut di gigi. Wah, berarti bentar lagi bakalan susah dong ditraktir ama hobae-ku ini. Hmm, musti cari trainee baru yang baik nih.

“Hyung, tau ga…”

“Meneketehe. Kamu kan belom ngomong apa-apa.”

“Iya makanya ini mau ngomong. Jangan disela dulu dong.” Donghae protes. “Kemaren Mirae dapet teror.”

“Hah?! Mirae, Shin Mirae?” itu salah satu trainee di manajemen kami. Seangkatan sama Donghae. “Teror apa, oleh siapa, diapain?” lanjutku ga sabar.

“Dia diteror fans-nya Jungsoo.”

“Jungsoo yang debut tahun kemaren itu?”

“Iya.”

“Kok aku ga denger beritanya?” penasaran juga aku jadinya. Kan aku ga kenal Mirae.

“Emang Hyung kenal Mirae?”

“Ga lah.”

“Jungsoo? Kenal?”

“Ya ga lah, gimana sih kamu ini. Kan aku jarang ke tempat latian. Mana kenal sama anak-anak baru berkarisma begitu.” Sewot juga aku denger pertanyaan Donghae. Emang dia pikir aku ga punya perasaan?! Pake ngingetin para hobae yang udah pada debut, lagi.

“Ya itulah kenapa Hyung ga denger kabarnya. Soalnya ini dirahasiain. Sebenernya Mirae ga ada hubungan apa-apa sama Jungsoo, tapi masalahnya mereka itu berteman dekat. Jadi kadang-kadang Mirae ditawarin ikut proyek manggungnya Jungsoo. Rupanya ada fans Jungsoo yang merhatiin dan mulai nyelidikin Mirae. Abis itu dia diteror.”

Aku bengong. Gila, mau dong, punya fans cinta mati gitu ama kita.

“Sebenernya Mirae udah lama diteror, tapi baru kemaren terbuka masalahnya gara-gara itu fans geregetan ga digubris ama Mirae. Masa dia dilempar botol kaca! Untung cuman kena di kakinya.”

“Kasian juga si Mirae, ya?” kataku bersimpati. Meskipun rasa iriku buat Jungsoo lebih gede sih.

“Makanya, Hyung. Aku mau minta tolong.”  Donghae tiba-tiba berubah serius.

“Apaan, Bruder? Ngomong aja. Kalo aku mau aku pasti tolongin kok.”

“Hyung, tolong bantu rahasiain ini dari pacarku ya? Soal aku mau debut, soal kerjaanku?”

Deg. Pacar Donghae. Tuh kan, sakit lagi hatiku.

Taman, dulu banget sebelum tiga bulan.

“Hyung!”

Nah tuh dia si Donghae. Asyik, mau ditraktir makan siang ama dia. Baru jadian katanya.

“Hyung, ini pacarku.” Senyum Donghae lebar banget.

Aku udah mau nyengir memperkenalkan diri. Tapi ga bisa. Mulutku beku, perasaanku mati.

Cinta itu aneh ya. Ga perlu alasan, ga perlu latar belakang, tiba-tiba ngegebug aja dari segala arah. Ya gitu itu cara aku jatuh cinta. Begitu ngeliat pacar Donghae, aku langsung tau aku jatuh cinta. Ga pake ancang-ancang, ga pake taksir-taksiran, terjadi aja pokoknya. Senyumnya, okelah. Gayanya, boleh juga. Suara, lumayan. Fisiknya, ga mengecewakan. Sifatnya, aku tau ga akan ada yang aku sesali kalau aku pacarnya, hanya dari sekali liat itu. Aku tau aku akan menerima dia apa adanya, dari perkenalan pertama itu. Aku tau akan melakukan apapun biar dia bahagia.

Sialnya, Donghae udah duluan melakukan itu. Anak itu emang beruntung. Aku jatuh cinta dan langsung patah hati. Tapi aku juga bener-bener bahagia untuk Donghae. Ga bohong kok. Aku tulus. Dan aku sakit.

Sejak itu kadang aku ngeliat mereka berdua. Hatiku bahagia ngeliat senyumnya, bahagia juga ngeliat senyum Donghae. Mereka emang bener-bener serasi. Tapi ada yang aku rahasiain dari Donghae. Aku kadang bener-bener sakit hati ngeliat kebersamaan mereka sampai-sampai aku ga bisa ngeliat wajah Donghae. Di saat-saat begitu, aku milih bolos latihan, nyusup keluar asrama, cari duit dengan caraku sendiri.

Suatu hari mungkin aku lagi PMS kali, ga ding, rasanya sebel banget ngeliat Donghae senyum-senyum mau kencan gitu sama pacarnya. Emosi, sakit ati, cemburu, semua udah sampe ke ubun-ubun. Setelah itu begitu Donghae berangkat, aku ngeberesin sebagian besar bajuku, terus kabur dari asrama. Ga ada niat selamanya, cuman beberapa hari doang sampe amarahku reda.

Ternyata beberapa hari berubah jadi beberapa minggu. Apa alasannya sodara-sodara? Alasannya adalah karena aku menjadi pengantar surat. Eits, bukan pengantar surat biasa, tapi pengantar surat dengan salah satu rutenya adalah Universitas Wanita Ewha. Siapa yang ga betah kalo dalam seminggu bisa ketemu cewek-cewek bening berkali-kali? Ah, hidup ini indah.

Berubah menjadi lebih indah waktu lagi nikmatin pemandangan ‘cantik’ UWE ternyata malah nemu ratunya. Pacar Donghae ternyata kuliah di sana. Dan aku ga mau lagi pergi dari universitas itu.

Maksudnya, aku ga pengin balik ke tempat training, maunya jadi pengantar surat aja setiap hari. Ngeliatin dia tiap hari, ngamatin dia, ngejagain dia dari jauh. Buatku, universitas ini udah jadi UPD, Universitas Pacarnya Donghae. Wanita lain ga ada di sana.

Dasar manusia itu diciptain buat jadi susah, suatu hari aku liat dia duduk sendirian di bawah pohon asem, eh, pohon sakura. Dari abis makan siang, sampe hampir gelap. Sendirian, termangu-mangu. Aku khawatir juga, kalo ada orang jahat nantinya gimana ya? Jadi aku duduk di belakang dia, di balik semak-semak, mengamati dan menunggu. Hatiku kayaknya udah punya feeling bahwa aku ga akan suka ending dari penantianku ini, tapi aku kalo lagi niat emang suka keras kepala, jadi aku tetep nunggu.

Beneran. Dia nungguin Donghae. Kantuknya, kerutan di dahinya, bungkuknya, bahkan lelahnya, bisa aku liat menghilang dari tubuhnya hanya dengan suara Donghae yang manggil dia, “Hey…”

Si brengsek itu bahkan ga manggil namanya. Dan di sanalah aku. Sakit hati, capek, merasa kalah, cemburu, sedih, sendiri di balik semak, sekaligus sadar. Wajah mereka berdua lebih terang dari lampu manapun di sekitar situ ketika bertemu. Mereka emang saling mencintai. Donghae yang biasanya berwajah sendu pun bisa tersenyum selebar itu begitu melihat ceweknya.

Yang aku lakukan selama ini cuman menyakiti diri sendiri, pabbo.

Terus akhirnya aku putusin untuk kembali ke asrama. Ga ada gunanya juga aku ngebuang masa depanku sendiri yang udah lama aku cita-citain hanya buat ngarepin hal yang ga mungkin. Aku akan jadi kuat. Mendukung mereka, dan kalau beruntung, jatuh cinta lagi.

Rumah Donghae, dua hari dari sekarang.

Aku ada di dapur Donghae. Numpang sekaligus ngebuatin makanan buat calon bintang itu. Dia lagi duduk di depan tv. Begitu selesai, kubawa dua piring spagheti ke depan tv. “Makanlah,” kataku padanya.

Dia melihatku, “Oh, gomawo, Hyung.”

Mukanya keliatan serius banget memperhatikan video Michael Jackson. “Udah sampe mana persiapan debutmu?” aku nanya.

“Hah?” dia ngerutin kening sambil ngeliatin aku. “Hyung, ini spagheti dimasak apa sih?”

“Kenapa? Ga enak? Ga bisa dimakan?”

“Ya dimakan sih bisa tapi sumpah aneh banget rasanya, Hyung.”

“Eh, kamu tuh mestinya bersyukur, aku udah buatin kamu makanan. Kalo ga, kamu pasti makan ramyeon doang seumur hidup.”

“Enakan ramyeon kali, daripada spagheti buatan Hyung ini. Hyung masukin apa aja sih? Ini bumbunya saos apa?”

“Ini namanya spagheti saos suka-suka-gue. Cuman saos tomat biasa kok, ditambahin bumbu dikit.”

“Iya makanya aku nanya, bumbunya apa aja?”

“Tau, aku masukin aja semua yang ada di rak bumbu kamu.”

Donghae tersedak. “Semua?!”

“Iya, semua. Biar kaya rasa. Malah biar ada rasa Koreanya aku masukin itu pasta kedelai hitam punyamu.”

Donghae naroh piringnya di atas meja. “Hyung, coba Hyung rasain spaghetinya.”

“Udah kok.”

Donghae melotot, “Belom! Tuh piring Hyung masih bersih, rapi, belum belepotan bumbu. Cobain, ga?”

“Iya, iya, aku cobain, ga usah ngancem gitu deh.” Ah, lumayan kok. Walaupun ada meskipunnya. “Lumayan kok, Bruder.”

“Kalo gitu abisin!”

“Orang yang masak itu biasanya udah kenyang cuman nyium baunya doang.”

“Alesan. Hyung juga ga doyan, kan?!”

“Donghae-a, mianhe.”

“Ah, Hyung! Hyung tuh ngabis-abisin aja deh! Udah ah, aku mau bikin ramyeon aja!”

Wah, marah beneran dia. Kenapa ya? Biasanya dia ga pernah semarah itu deh. Lagi PMS apa ya? Wah, PMS pelampiasannya MJ, hmm, boleh juga selera sohibku itu. Tapi kayaknya mending aku tanyain deh.

Aku deketin area dapur yang sekarang ribut dengan suara klontang-klontang panci dibantingin sama Donghae. Duh panci, maafkan aku yang telah menumbalkanmu ya.. Kayaknya mending aku duduk dan ga ngomong apa-apa dulu deh. Aku perhatiin Donghae mukanya bener-bener kusut.

“Donghae-a,” eh, ini udah 5 menit belum ya?

“Apa?!” Idiih, sadis.

“Donghae-a, wae geurae?”

Kok diem?

“Hyung, cewekku kemaren nginep sini.”

“Terus?”

“Aku mesti gimana, Hyung? Aku ga pengin dia tau kerjaanku, soalnya dia itu satu-satunya hal yang bikin aku tetep waras. Dia pengikatku di dunia yang aku bisa jadi Donghae apa adanya.”

“Jadi dulu itu kamu mau nyembunyiin dia buat apa? Ngelindungin dia dari fans gila apa buat nenangin perasaan kamu sendiri?!”

Ah, keluar deh. Keluar deh. Ini anak didiemin makin ga waras aja jalan pikirannya. Jadi marah kan akunya?! Kalau udah ga mau ya udah sini buat aku aja cewekmu itu! Brengsek. Aku jadi inget lagi gimana muka cantiknya kemaren jadi kacau balau gara-gara mikirin makhluk plin-plan kayak kamu. Aku memandang dia dengan sebel sesebel-sebelnya.

“Aku tau kemaren dia ke sini! Ga usah motong!” aku cegah kata-katanya. “Asal kamu tau, waktu aku dateng, dia kaya udah ga ketemu dunia berminggu-minggu. Mukanya kacau, pipinya kasar gara-gara air mata. Dia nangis, sesenggukan di sini!” aku menepuk keras dadaku. Ouch, sakit. Ntar kalau nepuk lagi pelan-pelan aja ah.

“TAPI!” aku buru-buru nyambung lagi ngeliat Donghae udah buka mulut lagi. “Tapi, dia bahkan masih nanyain apa kamu makan dengan bener apa ga. Tadinya ku pikir kamu bener-bener mau ngelindungin dia. Tapi ternyata kamu egois, tau ga?! Demi keenakanmu sendiri kamu mempertahankan dia, sementara dia ga boleh masuk dalam hidup kamu?! Donghae, uri dongsaeng Donghae-a! Pikir dengan bener kamu itu maunya apa!” aku menggebrak meja terus pergi ke arah pintu. “Aku pulang!”

Di pintu aku teriak, “Urus sendiri piring-piring kotormu!” nitip sama panci-panci yang tadi aku pake buat bikin spagheti ya, tambahku dalam hati.

Bener deh, tubuhku bener-bener gemeter karena emosi. Aku sendiri ga tau kenapa aku bisa semarah itu sama Donghae. Padahal selama ini aku nganggep dia udah kaya adik kandung, tentunya di luar kepentingan numpang makan ya.

Tapi dia ga pantas diperlakukan begitu. Cewek itu bukan barang sembarangan. Donghae sendiri tau itu, tapi kenapa dia masih egois aja sih?! Tau gini dulu aku rebut dia dari tangan Donghae. Tau gini aku ga merelakan perasaanku. Agh! Donghae sialan!

UWE, tiga hari dari sekarang.

Kenapa aku dateng ke sini lagi? Udah lama banget aku ga dateng ke sini. Tapi aku ga bisa tenang. Aku pengin liat wajahnya. Aku pengin mastiin kalo dia baik-baik aja.

Wah, cewek jaman sekarang berani-berani ya? Itu roknya pendek bener…

Aaagh, fokus! Aku harus fokus.

Itu dia target pengamatanku. Hmm, memang cantik. Kamu harusnya ngeliat aku, aku ga akan buat kamu nangis kaya Donghae. Eh, dia ketawa. Seneng banget sih keliatannya? Ucuk ucuk ucuk, tambah cantik deh kamu.

Oke, pengamatan selesai. Kayaknya dia baik-baik aja. Aku ngeliat dia sekali lagi.

Saranghe. Anyeong.

Kamar, empat hari dari sekarang.

Sial, nyeri euy! Kenapa di mimpi aja aku ga boleh bersatu ama dia sih?

Aku duduk di pinggir tempat tidur sambil merenung. Kenapa aku ga bisa menghentikan rasa cinta ini? Kenapa aku ga bisa berani maju? Aku benci ada di titik ini. Apa Donghae udah memikirkan baik-baik keinginannya? Sebagian dari diriku ga pengin mereka putus karena aku tau cewek itu akan sangat sangat amat menderita sekali. Tapi bagian nafsu dari diriku mendoakan dengan takzim agar hubungan mereka berakhir sehingga aku bisa leluasa mendekatinya. Dua-duanya adalah diriku. Aku harus gimana?

Hhh, kayaknya hari ini bakal kelabu deh.

Supermarket, enam hari dari sekarang.

Cantiknya, rok pendek, ngedorong kereta belanja, wajah bahagia. Aku sapa ah, niatku sambil menepuk bahunya. “Yesung ssi!” serunya.

Namaku ternyata bisa sekeren itu ya kalau diucapkan oleh dia. Aku menyapanya, pura-pura belum melihatnya lagi setelah seminggu lalu dia nangis di dadaku. Dia bilang dia jauh lebih baik. “Aku dan Donghae udah baikan,” lanjutnya disertai senyum lebar.

Hatiku sakit. Tapi wajahnya sangat cantik waktu menceritakan hal itu. “Waa~ baksu!” aku bertepuk tangan sendirian. Aku harus melakukannya kalo ga aku pasti bakal berekspresi aneh karena sedih. Aku harus menahan diri soalnya aku ga mau wajah cantiknya hilang gara-gara ngeliat aku yang aneh.

Lalu dia mulai menceritakan bahwa Donghae memiliki posisi baru dan sedang ditraining di kantornya. Bahwa Donghae dapet partner baru. Apa-apan ini?! Jadi Donghae masih juga main kucing-kucingan?! Minta dihajar anak itu!

“Jadi heran, sebenernya dia kerja apa sih?” dia tanya ke aku.

Aku ga mau emosi mikirin kebohongan Donghae, dan aku ga mau ngebohong lagi ke si cantik ini. Udah cukup semuanya. Biarpun mereka ga tau, tapi aku juga disakiti di sini. Aku melewatinya. “Wah, tomatnya seger banget! Hei, coba liat ini. Kamu harus beli tomatnya. Nih, ambil,” seruku sambil meletakkan 3 kotak tomat ke dalam kereta belanjanya.

Taktikku berhasil. Pikirannya teralihkan dari Donghae dan sekarang kami bahkan sibuk mencari kebutuhanku. Abis itu dia ngajak aku makan, ”Aku yang traktir deh. Aku kan belum sempat berterima kasih sama kamu karena udah nemenin aku malem itu,” katanya manis banget. Donghae, aku ga bakal ngebiarin kamu nyakitin cewek ini lagi. Biarpun kamu udah sangat ngebantu aku dengan segala dukungan logistik, untuk urusan cewek ini, aku akan bikin perhitungan sama kamu.

Sambil jalan nyari tempat makan, aku sibuk nyusun rencana gimana caranya ngasih pelajaran ke Donghae. Udah dendam kesumat aja bawaanku. Bahkan aku sampai kayak ngeliat dia di tengah keramaian gini.

Oh, no! Bukan kaya ngeliat lagi, itu emang dia! Kami harus berbalik. Aku ga mau kami berpapasan dengan Donghae soalnya dia lagi dikelilingin sama orang-orang perusahaan. Kayaknya mereka lagi negosiasi buat funding debutnya Donghae deh.

Aku menahan tangan halus cewek yang ada di depanku ini, “Aku baru inget kalo aku… aku… aku lagi diet mie.” Diet mie? Yang bener aja!

“Ih, aneh-aneh aja deh. Udah deh, ga usah khawatir, ini jajangmyunnya dijamin enak kok!” Dia berbalik sambil menarik tanganku.

Tapi aku ga boleh nyerah, “Anu, ini karena pencernaanku. Kata dokter aku harus istirahat makan mie. Kita.. kita.. makan ayam goreng aja yuk? Itu ada warung langgananku yang enak banget ayam gorengnya.”

“Eh, tapi.. Tapi kita hampir sampe lho. Itu warung jajangmyunnya… Donghae-a…” Sial! Dia udah ngeliat Donghae!

Dia keliatan gembira banget. Lalu berusaha nyamperin Donghae yang akhirnya berakhir dengan kepahitan. Orang-orang keamanan dari manajemen kami menghalanginya dan Donghae yang menyadari keberadaannya memutuskan untuk segera menyembunyikan diri.

Aku geram, tapi mau bagaimana lagi. Kalau mereka bertemu sekarang, aku yakin wajah cantiknya akan terluka lagi, sebab orang-orang manajemen kami dikenal sangat keras terhadap urusan “hubungan pribadi” artis-artisnya. Bisa-bisa dia malah akan dipermalukan. Aku kenal orang yang sekarang bersama Donghae. Dia adalah manajer yang paling banyak menangani artis baru. Mereka semua selalu sukses, tapi dia dikenal sangat kejam. Satu badan isinya otak semua dan satu otak mikirnya duit melulu. Ga punya hati sama sekali. Kurasa itu juga salah satu alasannya kenapa Donghae takut ceweknya ini mengenal dunianya.

Dengan penuh kebingungan akhirnya dia menurut kubawa ke warung ayam goreng. Meskipun iba melihat kebingungannya, tapi aku sendiri juga ga ngerti harus gimana. Semua rencana yang tadi kurancang ga berguna. Kalau begini caranya, kayaknya ga bakal ada kesempatan untuknya lepas dari Donghae tanpa sakit hati.

Teleponku bunyi. Dari Donghae. Aku keluar supaya percakapan kami ga terdengar oleh ceweknya.

“Dimana Hyung?”

“Kami lagi makan siang bareng.”

“Hyung, ga usah cerita yang ga-ga ke dia.”

“Heh, pengecut! Kalo kamu ga berani cerita ke dia, ga usah berlagak berani deh!”

“Hyung!”

“Aku bukan ember bocor, Donghae-a! Ga usah nuduh yang ga-ga deh. Mendingan kita bicara langsung aja. Sebentar lagi aku sampe di rumahmu. Kalaupun kamu belum pulang, aku tunggu!” klik. Aku tutup teleponnya.

Aku kembali ke tempat dudukku. Kutatap sesaat wajah yang selalu bikin aku ga karuan. Terus aku bilang padanya bahwa aku ingin ngomongin sesuatu dan memohon padanya supaya mau ikut. Untungnya dia mengiyakan. Donghae, aku harus ngelakuin ini. Demi kamu, demi dia, demi kita. Bohong, demi perasaanku.

Sesampainya di depan rumah Donghae, dia turun dari motorku dan hendak masuk ke dalam. Aku tahan tangannya, “Aku mohon. Jangan masuk dulu. Biar aku masuk dulu. Nanti kalau aku panggil baru kamu masuk. Ya? Aku mohon?”

Dia kayaknya ngerti. Atau setengah ngerti, aku ga tau. Aku masuk dan ternyata Donghae udah di sana. Begitu aku masuk, dia langsung nanya, “Kalian kenapa bisa barengan?”

“Kalian ngapain jalan bareng begitu?!” matanya melotot dan mukanya keras banget. Kayaknya dia bener-bener emosi.

“Baru perhatian sekarang, lo?” saking nyeseknya dada ini, aku mulai ngomong seenaknya. Ga ada lagi panggilan kekeluargaan. “Kalo segitu takutnya pacar lo gue rebut, kenapa ga tadi aja lo bertindaknya? Gentle dong man, kalo jadi orang!”

“Lo sengaja, kan?! Lo sengaja kan ngajak cewek gue ke sana?! Lo tau jadwal gue terus lo bawa dia ngeliat gue?! Brengsek lo!” Bugh!

Ah, sakit. Sial, aku kena pukul. Belum sempat aku bereaksi, Donghae udah mencengkeram bajuku, barengan sama pintu depan kebuka. “Maksud lo apa? Lo sengaja nunjukin ke cewek gue? Temen macam apa lo?! Padahal gue udah memohon bantuan lo agar ngerahasiain ini dari dia! Lo malah sengaja bawa dia buat ngeliat gue?! Lo ga mikir!?”

“Donghae-a..” selaku.

“Apa lo?! Sialan. Gimana kalo orang lain sampe tau dia pacar gue? Hah?”

“Donghae-a,” selaku lagi. Sial, dia ngedenger semuanya langsung dari mulut Donghae.

“Apa lo?!” Donghae masih kalap. “Minta dipukul lagi, lo?!”

“Donghae-a!” kali ini aku berseru keras dan berhasil mendorong mundur Donghae.

Kantong belanjaannya jatuh. Donghae terkejut. Dia menoleh, mendapati ceweknya sedang mematung dengan isi kantong belanjaan berserakan.

“Kalau..” dia menelan ludah. “Kalau orang lain tahu aku pacarmu, terus kenapa?” tanyanya serak.

UWE, dua minggu dari sekarang.

Udah seminggu aku terus dateng ke sini. Aku selalu nyari-nyari dia. Aku selalu menemukannya sih, tapi aku ga pernah mendekatinya. Dia ga keliatan begitu baik, tapi sesuatu mengatakan kalau aku harus memberinya sedikit waktu buat sendirian. Kurasa dia juga belum berhubungan dengan Donghae lagi, sebab debut Donghae itu minggu depan. Pasti sahabatku itu lagi sibuk-sibuknya.

Hari itu kami bertiga duduk bersama, Donghae mengatakan semuanya dengan jujur, dan dia mendengarkan. Aku penengah, bisa jadi apa lagi? Dia emang istimewa. Mungkin kalau aku cewek, aku udah teriak-teriak megang pisau ngejar-ngejar Donghae. Tapi dia cuman duduk ngedengerin, sambil melontarkan pertanyaan sekali-dua. Mereka bener-bener ‘bicara’ dalam arti sesungguhnya hari itu. Dan hari itu, aku untuk pertama kalinya aku melihat Donghae menangis, “Aku ga mau kehilangan kamu,” katanya serak sementara air mata mengalir bisu di pipinya.

Donghae sangat mencintainya, itu aku bisa liat. Tapi ketakutannya akan dunia baru yang ga pernah pasti bikin dia mikir berkali-kali untuk bertindak sesuai kata hatinya.

Teleponku berbunyi. Manajer-Hyung. “Diterima, Yesung-a. Minggu depan kita rekaman. Lagumu.”

“Gomawo, Hyung.”

Dia ada di sana, sendiri. Dan aku di sini, sendiri mengamatinya. Aku ingin menghampirinya, mengatakan berita gembira ini. Aku akan rekaman. Akhirnya aku selangkah lagi menuju debut. Aku ingin memeluknya, memutarnya dalam pelukan, membuatnya tertawa bersamaku, tapi badanku kaku. Dia ga akan menghargai itu. Sebab baginya aku ini ga sepenting itu.

Aku menatapnya lagi, yang terakhir sebelum pergi menemui manajer-hyung ku yang paling baik. Yang tidak tegas tapi berhati lembut. Kulemparkan ucapan terima kasihku padanya melalui bisikan tanpa suara. Lagu ini, untukmu. Lagu pertamaku. Aku menciptakannya, dengan seluruh hatiku tertuju padamu.

Mungkin kita ga akan bertemu lagi, mungkin suatu saat nanti akhirnya kau jadi milikku, aku ga tahu tentang masa depan, tapi saat ini dengan segala rasa sakit di hati aku yakin kau bukan untukku. Aku mencintaimu. Aku ga pernah menyesal ataupun menguranginya meskipun aku selalu tertusuk karenanya. Karena yang kucintai itu kamu. Saranghe.

Pusat kota, 6 bulan dari sekarang.

*Papan iklan itu menayangkan lagu pemenang music-chart bulan ini*

Oh nan, geu nuga nuga mworaedo

naneun sangwan obgado

Geu nuga nuga yokhaedo nomanbarabun dago

Na dashi taeor nandedo ojik noppunirago

(Tic toc tic toc) shigani heullodo

Oh nan, nol sarang handa malhaedo

chonbumanbon malhaedo

Nae gaseumsok dabultago mareun ibsol daldeorok

Na dashi taeor nande do ojik noppunirago

(Tic toc tic toc) shigani heullodo

Oh nan!

Singer : Yesung

Music and lyrics: Yesung

 

29

[Freelance] Me And My Doctor [part 3]


Jengg. . Jeng. . .ini dia lanjutannya. Semoga suka.

Selamat membaca ^^

Haduh bagaimana ini? Eomma, appa bantu aku! Menjaga tengkorak tersebut sejam saja sudah membuatku stress, apalagi seharian penuh. . Aigoo. .

“Jebal, Ji Kyung-sshi. . Kumohon. . Aku tidak akan tenang meninggalkan Kyuhyun sendirian. . .Jebal” pinta Leeteuk-sshi dengan wajah memohon lagi. Hahh, terpaksa kuiyakan permintaan namja satu ini. Lagipula hanya satu hari saja. “Baiklah Leeteuk-sshi. Hanya satu hari saja, tidak lebih tapi boleh kurang,hehe”

“Gomawo!!!” Leeteuk-sshi langsung memelukku. Semua tatapan mata tertuju ke arah kami. Waduh, gawat. Bisa-bisa aku dibunuh oleh fans mereka. “Leeteuk-sshi kumohon lepaskan. Kau ingin melihatku mati di tangan fans mu hah?” Dia segera melepaskan pelukannya dan tersenyum ke arahku “Hehehe, mian” ucapnya sambil menggaruk-garuk kepala.

“Eumm, bisakah kau tidak memanggilku Ji Kyung-sshi. Itu membuatku tampak tua. Cukup Ji Kyung saja, lagipula aku lebih muda darimu”

“Emm, baiklah. Aku juga. Panggil aku oppa saja. Oh iya, kau kuliah dimana sih?” tanyanya

“Kyunghee University, kenapa?” tanyaku

“Mwo?? Kyunghee? Berarti sama dengan Kyuhyun dong”

Mwo? Kyuhyun juga sekolah disana?. God! Penderitaanku akan bertambah sepertinya.

“Ji Kyung ayo ke dalam. Kajja” ajak Leeteuk oppa. Dia berjalan mendahukuiku.aku mengikutinya dari belakang.

Kyuhyun POV

“Hahh, teuki hyung lama sekali” gumam Wookie Hyung. “memangnya Teuki hyung kemana?”

“Tadi dia pergi dengan Ji Kyung-sshi” jawab Siwon hyung yang tiba-tiba saja muncul.

Mwo? Dengan dokter bodoh itu. ‘Aishh. .’ aku mengacak-acak rambutku frustasi. Entah mengapa sikapku selalu begini setiap mendengar dokter bodoh itu pergi dengan namja lain.

“Ckckckc, aigo. . Sepertinya ada yang cemburu nih? Goda Eunhyuk diikuti suara tawa member lain.

Tokkk. . . tokk. . .”Ah, pasti teuki Hyung” ucap Wookie

“Hai, Kyuhyun. Bagaimana keadaanmu?” tanya Teuki hyung. “Baik” jawabku seadanya. “Hyung, dia cemburu padamu” goda Eunhyuk lagi. “MWO?Aniyo! mereka bohong hyung” aku menyangkal perkataan mereka. “Kekeke~ tenang saja aku tidak akan merebut pujaan hatimu” ejek Teuki hyung.

“Kau tadi bicara apa dengan Ji Kyung-sshi?” tanya Siwon. “Oh, besok kita kan ada pemotretan di luar kota. Jadi aku minta tolong Ji Kyung untuk menjaga Kyuhyun” jelas Teuki.

Ha? Besok seharian aku akan dengan Dokter bodoh itu.

“Wah, chukkae dongsaeng! Besok adalah kesempatanmu” ucap Eunhyuk hyung dengan nada mengejek. “Aishh. . Diam. . “ Aku kembali berkutat dengan PSP ku dan mengacuhkan perkataan para hyungku.

==================================================================================

Keesokan Harinya. . . .

Ji Kyung POV

Kring. . . .Kring. . . Jam beker di kamar ku berbunyi nyaring. Aku menguap lebar dan mengambil HP ku. One Missed Call from 08xxxxxxxxxx

Mwo? Pagi-pagi begini sudah ada yang menelponku? Nomor tak dikenal pula. . .

Can you feel my heartbeat. . Lagu Heartbeat-2PM berdering di Handphone ku. Aku selalu menggunakan lagu 2PM sebagai nada dering Handphoneku. Ya, I’m a big fans of 2PM ^^. Nomor tadi menghubungiku lagi. .

“Yobboseo”

“Ji Kyung ini Leeteuk oppa.”

“Ohh, ada apa oppa?”

“Eumm, kau bisa tidak menjaga Kyunnie sekarang. Jadwal kami dimajukan pagi ini”

Haishh, pagi ini? Aku kan ada janji dengan Yoonie oppa.

“Ehmmm, bagaimana ya? Aku ada janji dengan chinguku hari ini” ucapku pada Teuki oppa. Terdengar desahan berat dari arah sana.

“Jebal Ji Kyung. . Kumohon” pintanya lagi. Tiba-tiba terlintas perkataan Dokter Jang di pikiranku. “Jaga terus pasien yang satu ini. Turuti keinginannya. Arraseo?” . Aigoo, perkataan ini semakin menyudutkanku. Yoonie oppa mianhae L

“Hahh, baiklah oppa” aku akhirnya terpaksa menjaga bocah tengkorak itu.

“Gomawo!” ucapnya.

Klik. .Sambungan telepon kuputuskan. Hahh, Bagaimana caranya bicara dengan Yoonie oppa. Hp ku berdering lagi.

Yoonie oppa calling. .

Aku memencet tombol hijau di Handphone ku.

“Yobboseo oppa”

“Ji Kyung aku sudah di halaman apartemenmu”

“Oh, sudah di halaman apartemenku. MWORAGO? di halaman apartemenku?” Aku berjalan cepat menuju jendela. Kusibakkan tirai yang menutupi jendela kamarku. Yap, Yoonie oppa tidak berbohong. Mobil caddilac nya telah terparkir di halaman depan.

“Oppa, aku baru saja bangun. Dan aku juga belum mandi.” Terdengar suara tawa dari arah sana

“hahaha, sudah kutebak. Kau pasti baru saja bangun. Dan kalau tidak salah, pasti kau semalaman bermain PSP” ejeknya

“Mwo? Bagaimana kau tahu?” tanyaku

“Babo! Semalam PSP ku kau bawa. “

“eh, iya ya. .Mian”

“Gwenchana. Cepat mandi sana. Kutunggu di depan”

“Ne oppa”.

Aku memutuskan sambungan teleponku dan bergegas mandi. Tidak sampai 5 menit aku sudah keluar dari kamar mandi. Hari ini sebenarnya aku berencana ke Lotte World bersama Yoonie oppa. Tapi gara-gara tengkorak satu itu, aku tidak jadi kesana -__-. Aku hanya memakai jeans dan kaos dilapisi hem biru.

Aku berjalan keluar dan mendapati Yoonie oppa asik dengan iPod nya. Aku menghampirinya dan mengambil salah satu earphonenya.

“Hmm, lagunya bagus.” Ucapku saat ikut mendengarkan lagu dari iPod Yoonie oppa.

“Ini lagu milik Kyuhyun, judulnnya Love Again. Bagus ya?” tanyanya. Jadi, pemilik suara indah yang mengalun di telingaku adalah Kyuhyun, si tengkorak itu?. Aku menghayati bait demi bait. Kuakui aku kagum dengan suaranya.

“Ji Kyung. . .Ji Kyung”  Yoonie oppa mengibaskan tangannya di depan tanganku. “Ehh, apa?”

“Haishh, aku daritadi memanggilmu tapi kau tak mendengar. Ayo nanti kita telat”. Yoonie oppa menarik tanganku. Omo! Aku lupa memberi tahunya kalau hari ini aku tidak bisa ke Lotte World. Hwaaa. . Bagaimana ini.

“eumm oppa. .” panggilku “Ne” jawabnya sambil masih fokus menyetir.

“Hari ini aku ti. .”

“Hari ini kau tidak bisa ke Lotte world bersamaku karena harus menjaga Kyuhyun-sshi” ucap Yoonie oppa. Mwo? Bagaimana dia bisa tahu??Kan aku belum bilang.

“Tadi Leeteuk menelfonku. Dan aku tidak keberatan kalau kita membatalkan janji. Kan masih ada besok” ucap Yoonie oppa lagi seakan dia bisa membaca pikiranku.

“Benar tak apa oppa?” aku bertanya untuk lebih meyakinkan. “Ne, Gwenchana. Aku bisa kok menemanimu nanti”

“Gomawo oppa” jawabku.

Mobil berhenti di lapangan parkir SIH. Kami berdua masuk kedalam. Tiba-tiba Yoonie oppa menghentikan langkahku. “Wae oppa?” tanyaku. Dia menatapku dari atas sampai bawah. “Kau akan praktek dengan pakaian seperti ini?” tanyanya

“memangnya kenapa?” aku ikut-ikutan memandangi tubuhku dari atas sampai bawah. Hmm, tak ada yang salah. Lalu kenapa?

“Ji Kyung babo! Kau memakai celana jeans. Kan peraturannya tidak boleh memakai celana jeans”

“Ohh, itu. Kan hari ini aku hanya menjaga manusia tengkorak itu. Jadi tidak usah dipikirkan”

“Yasudahlah terserah kau”. Kami berdua pun berjalan kembali ke kamar Kyuhyun-sshi.

Dia sibuk bermain dengan PSP nya dan tidak menyadari kehadiran kami. Hahh, biarlah, daripada dia cerewet lebih baik dia diam seperti itu. Aku mengeluarkan iPod ku dan memutar playlist ku.  Aku juga meminjam PSP milik Yoonie oppa lagi *author ga modal*. Aku pun terlarut dalam game Final Fantasy ini.

Kyuhyun POV

Haisshh, dokter jelek itu mana sih?. Aku melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan angka 12. “Dasar, jam 12 masih belum juga datang?”gumamku.

Aku mendengar suara pintu kamarku terbuka. Pasti dokter itu. Aku berpura-pura memainkan PSP ku agar tidak terlalu terlihat kalau aku menunggunya. Dia masuk dan duduk di sofa yang memang merupakan fasilitas rumah sakit ini.

Diam-diam aku melirik untuk melihatnya. Hahh, kanapa hari ini dia datang dengan namja itu lagi. Terddengar suara dering HP. Namja itu mengangkatnya. Setelah menutup telponnya dia menghampiri Dokter Park dan berbicara sesuatu. Dia mengacak-acak rambut Dokter Jelek itu.

Haishhh. . . Aku mengalihkan pandanganku kembali ke layar PSP. Namja itu pun keluar dan dokter jelek itu sibuk kembali dengan PSP nya.

Ji Kyung POV

Handphone milik Yoonie oppa berdering. Dia mengangkat teleponnya. Kulihat, sekilas Kyuhyun melirik ke arah kami. Yoonie oppa menghampiriku.

“Ji Kyung, mian aku harus meninggalkanmu”

“Memangnya ada apa oppa?”

“dongsaengku katanya pingsan di sekolah, dan aku harus menjemputnya sekarang” ucapnya sambil menunduk. Aku tahu dia pasti sangat khawatir dengan keadaan dongsaengnya.

“Pergilah oppa, dongsaengmu membutuhkanmu. Aku bisa kok menjaga dia sendiri.” Ucapku mantap

“Gwenchana?” “Ne, gwenchana oppa. Aku kan yeoja tangguh. Hehehe” Dia mengacak-acak rambutku hemas. “Baiklah aku pergi dulu. Kalau ada apa=apa telpon saja aku.”  “Ne oppa”. Yoonie oppa pun meninggalkan aku sendirian disini.

Aku kembali menatap layar PSP. ‘Aigoo. . level ini kenapa susah sekali’ rutukku pelan. Aku mencoba terus tapi gagal

“Left, A, A, Right, B, B” aku mengikuti petunjuk seseorang yang ada disampingku. Yeayy,, berhasil berhasil. Aku pun menoleh kesamping untuk mengucapkan terimakasih.

“Kau?”

Kyuhyun POV

Dokter jelek itu masih saja tidak menggubrisku. Aku bangun dari tempat tidurku dan bejalan ke arahnya.Dia masih saja tidak menyadari kehadiranku disampingnya. ‘Aigoo. . level ini kenapa susah sekali’ dia menggumam tapi mampu kudengar. Kulihatdi sedang memainkan Final Fantasy. ‘Level ini kan mudah sekali’ batinku. “Left,A,A, Right,B,B” aku memberi petunjuk padanya. Dia mengikutinya. Dan, tara. . . . level ini selesai dengna indahnya. Dia tampak senang sekali.

Dokter Park meletakkan PSP nya dan beralih menatap seseorang yang ada di sampinya, yakni aku.

“Kau?” ucapnya. “Hai” sapaku. “sedang apa kau disini” tanyanya. “membantumu menyelesaikan game gampang itu”. Dia tampak memajukkan bibirnya. Kulihat dia kesal karena tahu kalau aku yang membantunya. Kuakui segala ekspresi yang dibuat oleh yeoja ini membuatku jatuh hati.

“Hei, kau tidak mau berterimakasih padaku?”

“Untuk apa?” tanyanya. “Kan aku sudah membantumu. Seorang yeoja yang baik harus mengucapkan terimakasih apabila sudah ditolong” jelasku. Dia menggembungkan pipinya. Aigoo. . Neommu Kyeopta. Aku ingin sekali mencubit pipinya itu. Tapi sayangnya harus kutahan.

“Hufft. . Baiklah. Gomawo Cho Kyuhyun-sshi” ucapnya dengan senyum yang sangat dipaksakan. “panggil aku Kyuhyun saja.” Pintaku. “Baiklah, kau juga panggil aku Ji Kyung”.

Dia menarikku berdiri dari sofa. “Hei, aku mau kau apakan?” tanyaku. “Kembali ke kasur! Aku mau pergi sebentar” ucapnya.

“Hyaaa, kau mau kemana? Kau tega meninggalkan namja tampan sepertiku sendirian?”

“Aku lapar!” jawabnya ketus. “kau mau beli apa?” tanyaku. “eumm, kira-kira ya jangjangmyeon.”. Mendengarnama makanan itu perutku jadi berdisko ria. Huaa. . aku merindukan makanan itu.

“Ji Kyung” panggilku

“Ne, apa?”

“Bolehkan sehariiiiiiiii sajaaa.. aku memakan jangjangmyeon? Aku ingin sekali makan itu. Jebal Ji Kyung” pintaku sambil memasang tatapan puppy eyesku.

Dia tampak berfikir. Come on, dewi Fortuna help me. Aku ingin sekali mkan itu.  “Baiklah. Hanya hari ini.Selanjutnya jangan harap aku memenuhi permintaanmu”  jawabnya. “Yeye, gomawo Ji Kyung” ucapku refleks memeluknya.

“Eumm, mian” ucapku lagi sambil melepaskan pelukanku. “Ne Gwenchana” jawabnya.
Dia meninggalkan ku. Aku melihat HP nya tertinggal di meja. Aku mengambilnya dan iseng membukanya. Kubuka folder foto dan music. Aigooo. . . . .

TBC

 

43

One Out Of Two #2 // END [AfterStoryOf : Why, Baby?]

last part [AfterStory Of : Why, Baby?] ONE OUT OF TWO !!!!!

butuh waktu berhari2 buad mikir gimana endingnya ><

sankyuu all readers, silent or active readers, yg udah setia baca nih FF yang bikin hati miris, geregetan, marah, bahkan bisa gak suka sama biasnya sendiri… atau semakin cinta~

miannnn bangedddd…. seperti yg udah L~ bilang di ff Why Baby? dulu, L~ gak ada maksud apa2…

and, cekidot !

WARNING :: REMAJA ONLY

One Out Of Two #2 // END

[AfterStoryOf : Why, Baby?]

Tuut…Tuut…

Itu pasti Yunho!

“Yeobseo?”

***

“Sojung-ssi, Yunho mengalami kecelakaan!”

“Kecelakaan?”

“Dia sudah mabuk ketika kembali ke dorm. Kemudian dia terjatuh dari tangga dan…”

Tuut…tuut…tuut…

Yunho oppa bodoh! Mengapa dia melakukan hal itu? Mabuk sambil mengemudi di jalan! Kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bagaimana? Andwae! Aku bisa gila jika dia tidak ada di sisiku!

Kupacu mobilku sekencang mungkin sambil menangis. Khawatir, cemas, bingung, marah, merasa bersalah, semua bercampur menjadi satu.

“Andwae… Oppa…” rintihku. Aku tidak mau kehilangan dia!

Setelah kuparkir mobilku, segera aku berlari menuju dorm TVXQ!

“Yeobseo? Manajer Park… Aku sudah berada di depan dorm.” Aku memang tidak mengetahui kode dorm TVXQ! Karena itu kuputuskan untuk menghubungi manajer Park.

“Aku sedang keluar. Biar Changmin yang membukakan pintunya.”

Changmin? Mengapa aku tidak terpikir untuk menghubunginya saja?

Dengan tidak sabar aku menunggu Changmin sambil sesekali menghubungi ponsel Yunho. Tetapi hasilnya tetap sama, dia tidak mengangkat telepon dariku. Beberapa menit kemudian Changmin datang dan membukakan pintu dormnya.

“Bagaimana keadaan hyungmu?” tanyaku ketika Changmin baru saja membukakan pintu. Segera aku berlari masuk, mencari keberadaan namjachinguku yang mengalami kecelakaan itu.

Continue reading