Love Like Oxygen~

Title : Love Like Oxygen
Main Cast :
• Kwon Yoora
• Henry Lau
Other Cast :
• Shim Miyoung – Zhoumi.
• Park Ririn – Choi Siwon.
Notes : Mih, kaka ipar, minjem nama nyak ? yadong onn, juga denk. Wkwkwk.
:* (Kecupan sayang dari merr *?*)



Aku selalu bertanya pada diriku..
Kenapa aku begini? Kenapa harus begitu? Atau kenapa dengan kita?
Aku bercerita pada Tuhan..
Dan itu bukan salah Tuhan
Mungkin ini memang sebuah proses yang harus aku atau kamu lewati
Untuk menuju sebuah kata
‘Kepastian’
Sebuah alur untuk membuat kita mengerti kata
Menghargai, Menyesal dan terlambat
Dan sebuah jalan yang mengantarkan kita..
Kedewasaan bukanlah usia
Dan kedewasaan tanpa bijak
Itu buta…
_Mrs. Andrew_

“Menikah ?! What the…” teriak Ririn berlebihan.

Yoora mengangguk sambil memasang senyum malaikatnya pandangannya penuh harap.

“Iya menikah, aku ingin segera menikah, sepertinya menyenangkan..” pikir Yoora.

Mata Ririn membesar. “Ya ya ya.. lihat.. usiamu baru menginjak delapan belas tahun, SMA saja belum lulus sudah membicarakan-”

Miyoung mengusap telinga kanannya kasar, jelas sekali ia terganggu dengan segala teriakan Park Ririn, novelis terkenal itu.

“Sudahlah Rin, toh Yoora kan cuman bilang ingin menikah, bukan besok nikah..” tanggap Miyoung meneruskan aksi bacanya.

Yoora mengangguk setuju. “Lagian apa salahnya jika aku ingin menikah, toh aku menikah dengan Henry gege bukan dengan Siwon oppa..” Yoora melipat tangannya di depan dada.

“Aish~ sekali lagi kau membawa-bawa nama hubby-ku, awas saja..” ancam Ririn semakin memelototkan matanya.

Yoora malah tersenyum senang menjulurkan lidahnya kemudian berlari menjauhi Ririn yang sudah bersiap menerkamnya.

“Jangan lari kau Kwon Yoora !”

Miyoung mengulas senyum tipisnya melihat Yoora dan Ririn berlari-lari layaknya anak kecil.
Angin musim semi membuat helaian rambut Miyoung terbang.
Lucu memang pertemuan mereka yang semula hanya formalitas mengenalkan pasangan member Super Junior satu sama lain malah berlanjut menjadi persahabatan.
Miyoung ingat wajah Yoora dulu dua tahun yang lalu, saat usia Yoora masih enam belas tahun, sebenarnya Miyoung sedikit kaget dalam pikirannya, bagaimana bisa seorang Violints terkenal yang juga member Super Junior M termuda itu malah jatuh cinta pada Kwon Yoora yang masih anak ingusan, mengeja cinta juga baru bisa. Tapi Miyoung sadar, bukan usia yang menentukan pantas atau tidaknya.

Dan Miyoung semakin yakin saat melihat pandagan Henry pada Yoora sesudah Super Junior M menampilkan Super Girl di Dream Concert 2009 lalu, seluruh staff dan member dan tentu saja pasangannya menghadiri acara seperti jamuan perayaan Super Junior M di terima di Korea, senyum malu-malu Yoora saat Henry menyuapi Fruits salad ke mulutnya dan sikap tanggung jawab Henry saat mengantar Yoora ke rumahnya walaupun pada akhirnya mendapat ceramah panjang dari ayah Yoora yang terkenal tegas, bayangkan saja mana ada orang tua yang tidak khawatir saat anaknya pulang bersama laki-laki pada pukul dua malam ? gila apa.

Terdengar suara nafas tidak beraturan di samping Miyoung, Miyoung menolehkan kepalanya.

“Waeyo ?” Tanya Miyoung memandang wajah Ririn yang memerah.

“Dasar bocah itu ! Lari nya cepat sekali..” Ririn menelan ludahnya, deruan nafasnya mulai teratur.

Miyoung menyapu sekeliling taman mencari sosok Yoora yang membuat image mature Ririn hancur. Miyoung tertawa kecil saat melihat Yoora menunggu anteran panjang di stand ice cream keliling. Pipinya yang menggelembung membuat Miyoung menggeleng-gelengkan kepalanya, ‘benar-benar seperti anak kecil..’

Miyoung kembali memfokuskan lagi pandangannya pada Ririn.
“Salahmu sendiri mengejar Yoora, dia kan masih remaja, pantas saja kau kalah.. babo.” Cibir Miyoung. Usianya dengan Ririn memang tidak terlalu terpaut jauh.
Ririn mendengus kesal. “Bilang saja ingin mengataiku tua !”

“Memang Ririn Onnie tua..” sahut Yoora dari belakang.
Salah satu tangan Yoora memegang cone ice cream.
“Apa kau bilang ?! Yaish ! Bocah sialan !”

Yoora memain-mainkan ujung pensilnya di kertas selembar untuk menghitung soal matematika, tapi apa daya, otak tak sampai, rumusnya saja Yoora tak ingat bagaimana mau mengerjakan PR matematika ?!

Yoora menggaruk-garuk kepalanya, pikirannya sudah stuck ! Yoora melempar buku matematikanya kesembarang tempat. Tau ah, masa bodoh dengan matematika !

Pandangannya terjatuh pada ponsel touch yang tergeletak di kasur berseprai kombinasi warna putih dan pink dengan kartun-kartun unik. Tergoda untuk menyentuhnya hanya sekedar memeriksa apakah ada pesan atau mungkin telepon.

Tapi.. ugh.. Yoora menghembuskan nafasnya kesal. Tidak ada. Nothing ! dari Henry pun tidak (T.T)
Yoora menggelincirkan tangannya ke menu dan berakhir di my files, setelah membuka password tangan Yoora terus menggelincir di files ‘Edelweis ’, satu-satu Yoora membuka foto-fotonya dengan Henry, seulas senyum membentuk di kedua sudut bibir Yoora. Apalagi saat foto selca Henry yang sedang tidur pulas dengan mulut menganga yang di ambil Yoora satu tahun yang lalu itu.

Terkadang Yoora merindukan saat-saat bersamanya dulu dengan seorang Henry lau, Henry yang selalu ada untuknya, menghiburnya, tertawa untuknya, menggantikannya menangis, atau hanya menjadi bantal di saat Yoora mengantuk dan tertidur.

Kini, frekuensinya bertemu Henry semakin sedikit, pertama, memang di karenakan jadwal Super Junior M yang di sibukan dengan latihan-latihan untuk album barunya, dan juga tugas sekolahnya yang semakin menumpuk di karenakan banyaknya tugas di berikan oleh para Sam, tapi toh Yoora bisa membagi waktunya.

Foto selanjutnya foto dimana mereka menghabiskan malam minggu pertama mereka di kawasan Apgujeung, Henry menampilkan senyum terbaiknya, sambil tangannya memeluk pundak Yoora agar semakin dekat, dan Yoora malah membuat senyum canggung, karena itu pertama kalinya sedekat itu dengan laki-laki.

Yoora baru ingat, dia sudah tidak bertemu kekasihnya selama enam bulan. Miris, sms pun Yoora jarang menerimanya, telepon apalagi. Email ? jangan berharap. Kenapa semakin kesini Yoora menjadi merasa hambar ? dalam pikirannya Henry sudah tidak ingat lagi ada gadis bernama Kwon Yoora yang selalu mengkhawatirkannya. Dia sudah lupa mempunyai kekasih.

Ya Tuhan…
Yoora menepuk-nepuk dadanya, sesak, matanya tiba-tiba panas.
Sejak kapan Kwon Yoora menjadi cengeng ?
Oh,ya Yoora ingat, semenjak ia mengenal anak laki-laki dari Kanada keturunan China itu.

Kenapa hanya aku yang lelah ? kenapa hanya aku yang berharap ? kenapa hanya aku yang mengkhawatirkannya ? kenapa hanya aku ? kenapa ?!

Yoora mencengkram kerah kemeja tidurnya.
Sudahlah..
Yoora mengusap bekas air matanya kasar.
Ia menangis sampai Seoul banjir pun Henry tidak perduli.

Yoora menidurkan tubuhnya, sudahlah, ini sudah biasa. Tenang saja, besok pun Yoora akan seolah terlihat baik-baik saja di depan para teman sekolahnya yang tidak mengetahui apa-apa atau di depan kedua orang tuanya, atau juga di depan kedua sahabatnya.. Miyoung dan Ririn.

Kesedihannya tidak bisa mengubah apapun.

Sinar matahari memang tidak masuk semua melewati jendela kamar Yoora, tapi sinarnya berhasil menembus pertahanan tirai krem milik Yoora, membuat mata Yoora terganggu karena terlalu banyak menerima cahaya, belum lagi cahaya lampu yang masih menyala terang.

Yoora terbangun,ia menguap sebentar, memastikan kembalinya ruh ruh nya.
Saat melewati kaca sedang dekat ranjangnnya Yoora sedikit terkejut, sialan ! bagaimana mungkin matanya ini bisa bengkak memerah ?
Setidaknya pasti ada satu dua orang yang menanyakan alasannya, ‘kan ?
Yoora berdecak pelan menuju kamar madinya, mengusap-usap matanya.

“Matamu kenapa ?” Tanya Ririn penasaran.

“Apanya yang kenapa ?” Yoora malah balik bertanya dengan wajah innocent nya.

“Itu..” Ririn menunjuk kea rah kacamata minus berwarna coklat samar hitam milik Yoora.

“Oh..” Yoora mengangguk-angguk paham, lalu menyuapkan spagethi bollognes ke mulutnya.

“Mataku kan memang bermasalah Onn.. dan sepertinya aku tambah cantik saja kalau memakai kacamata.” Puji Yoora pada diri sendiri.

Ririn yang mendengarnya lalu mencibir. “Cantik kepalamu!”

Lain hal nya dengan Miyoung yang sangat memperhatikan Yoora, anak ini tidak akan mau pakai kacamata kalau tidak sedang membaca, menurut Yoora dirinya akan seperti orang bloon*Maaf2 gak ada maksud nyindir, ini emang teori bodoh aku ma diri aku sendiri.wkwkkwkwk.* jika memakai kacamatanya.

Dan sekarang Miyoung lihat Yoora fine-fine saja memakai kacamata padahal mereka sedang berjalan-jalan dan parkir sebentar untuk makan.

Lamunannya buyar saat lengan kekar meligkari lehernya. Miyoung sedikit terkejut tapi langsung tersadar saat melihat cincin emas putih di jemari manis kiri laki-laki itu.

“Zhoumi..” lirih Miyoung.

“Hey cantik..” bisik Zhoumi di telinga Miyoung lalu duduk bersama Ririn dan Yoora.

Terlihat Yoora mendesah seperti kecewa, entah apa yang ia pikirkan.
Ririn malah asik menggoda pasangan itu.

“Sekarang jam berapa ?” Tanya Ririn tiba-tiba.

“Jam empat sore, waeyo ?” Yoora yang menjawab.

“Aish.. hubby kemana sih ? katanya mau jemput..” keluh Ririn mondar-mandir.

Yoora menelan ludahnya walaupun sulit.

Kenapa orang lain bisa tapi kau tidak?
Aku lelah kalau hanya menunggu yang tidak pasti..

Yoora benar-benar lelah !
Demi Tuhan !
Dengan niat bulat ia memberanikan memberi pesan pada Henry..
Cukup sudah Yoora bisa gila !

To : My Edelweis .

Aku lelah, aku ingin putus.

Message sent..

Yoora tersenyum getir, semuanya sudah selesai, tidak akan ada penantian lagi, tidak akan ada harapan lagi, dan.. tidak akan ada cinta lagi..

Apakah Yoora terlalu payah ?

Alasan?
Alasan takkan perna habissjika kau harus membuat daftarnya
Tapi dari sebuah aksi kecil
Itu yang hanya kubutuhkan

_Mrs.Andrew_

‘Oh, Sorry, gak sengaja..’ Yoora memungut kertas partitur lagu She dari Elvis Costelo yang telah kotor oleh tanah sepatu Yoora, senyum terukir di bibir Yoora, ia salah satu penganggum lagu ini.
‘It’s okay, don’t….worry’ laki-laki dengan kulit terlalu putih itu semakin mengamati wajah Yoora, entah kenapa seperti ada aliran listrik saat gadis di depannya tersenyum seperti itu.

Laki-laki itu menggelengkan kepalanya. ‘Jika anda mau, silahkan..’

‘Terimakasih, aku hanya suka lagunya saja, aku tidak mengerti tentang not-not balok seperti ini, nilai seni musikku tidak terlaku bagus..wah sudah sore, aku harus cepat-cepat kembali ke rumah,apa tidak apa-apa kertas nya kotor ?’

Laki-laki itu menggeleng cepat, ‘aku punya copyannya di rumah, tenang saja’

Yoora tersenyum lebar. ‘Sekali lagi maaf saya tidak sengaja, annyeong’ bukannya menjawab Henry malah tersenyum malu-malu.


‘Happy birthday Dear..’

‘Apa yang kau inginkan ?’

‘Tidak ada, yang aku inginkan hanya Kwon Yoora selalu ada di samping Henry lau, hanya itu, bagaimana ?’

‘Tentu saja aku akan mengabulkannya..’


‘Sayang maaf aku sibuk..’

‘It’s ok..’

‘Aku merindukanmu..’

‘Ya, aku juga..’

‘Aku mencintaimu melebihi aku mencintai diriku sendiri, aku membutuhkanmu seperti aku membutuhkan oksigen, jika kau tak ada, aku akan mati.. Henry Lau <3 Kwon Yoora ^^, Happy Anniversary..’

‘Ge..’

‘Ra-ya, nanti saja ya, aku sibuk.’

‘It’s ok..’

Tuuuut ,,

“GEGE !” nafas Yoora memburu, dadanya naik turun, keringat dingin mengaliri pelipis dan lehernya. Perlahan air matanya turun.

“Kenapa aku tidak bisa menghilangkanmu ?” isak Yoora bertambah.


Aku seperti tak memiliki mata saat menyentuhmu
Tak berakal saat bersatu denganmu
Tahu..
Hati dengan hati ini
Hingga aku bisa mengenalmu
Bertaut jemari denganmu
Hati
Hati ini yang menuntun itu semua

_Mrs.Andrew_

Sampai keesokan harinya pun tidak ada pesan balasan dari Henry, Yoora semakin yakin bahwa ia bukanlah apa-apa.

Sebegitu tidak perdulinya kah kau ?
Egois kah jika aku memutuskanmu dengan cara sepihak ?
Tapi logika nya, mana ada wanita yang di gantung selama enam bulan ?
Aku bukan boneka yang bisa di tinggal pergi, aku tahu pekerjaanmu sangat penting, tapi aku punya hati !
Toh Siwon dan Zhoumi bisa meluangkan waktu mereka..
Aku tahu aku memang masih bocah jika aku harus bersanding denganmu.
Aku bukan Ririn onnie yang sangat dewasa,sebanding dengan Siwon oppa.
Aku bukan Miyoung onnie yang bisa menjaga image cool nya.
Ataupun Haejin onnie yang bisa bersikap layaknya kekasih yang mesra.
Aku tahu.
Aku tahu.
Dan aku menyerah untuk mengimbangi langkahmu.

Seminggu setelah pemutusan status sepihak Yoora, Yoora lebih menyibukan kepada jadwal-jadwal sekolah, ia tahu jika ia berdiam diri tidak menutup kemungkinan ia akan mengingat laki-laki yang sekarang menjadi mantannya itu.

Les tambahan matematika dan Inggris pun di jalani, padahal dulu ia paling anti mengikuti pelajaran tambahan di luar jam sekolah. Intesitas pertemuannya dengan kedua sahabat dari pasangan teman mantannya pun di hindarinya, pokoknya Yoora ingin menghindari segala sesuatu tentang laki-laki itu. Setiap pelajaran musik Yoora selalu pura-pura sakit, musik adalah segalanya bagi laki-laki itu, dan sekali lagi, Yoora tidak ingin mengingat apapun tentangnya.

“Yoora !” panggil seseorang, itu pasti suara Ririn onnie.

Yoora mengeratkan genggamannya pada tas slempang putihnya dan mempercepat langkahnya.

“KWON YOORA !” panggilan itu berubah jadi pekikan, dan Yoora kini bukan lagi mempercepat langkahnya, melainkan berlari.

Ririn dan Miyoung mengejar Yoora sebisa mungkin.

Ririn menarik tangan Yoora. “Yoora ! Kamu kenapa sih ?!” bentak Ririn.

Yoora menundukan kepalanya.

“Lihat aku kalau sedang bicara !”

Yoora sebisa mungkin menghindari tatapan tajam dari dua wanita yang umurnya lebih tua darinya itu.

“Jadi sekarang apa maumu ? menghindari kita sampai kiamat, Hah ?” Tanya Ririn sarkastis.

Yoora menggeleng dalam diamnya

Miyoung berdehem. “Mungkin, sebaiknya kau bicarakan dulu hal ini dengannya, bagaimana ?” katanya tenang.

Yoora menggeleng lagi, kini ia mengangkat kepalanya.
“Aku..” Yoora tidak tahu kalimat sanggahan apa yang pas dengannya saat ini.

Ringtone ponsel Ririn memecah kekikukan di antara mereka.
“Sebentar..” ijin Ririn lalu keluar café.

Ririn kembali, tapi tidak sendiri dua laki-laki ikut bersamanya di belakang. Yoora yang tidak menyadari itu masih berkutat dengan jus lemon pesanannya.

“Kau selesaikan masalahmu dulu, tidak baik menyimpan masalah berlarut-larut..” ucap Ririn yang membuat Yoora mengerutkan keningnya, Yoora mengangkat kepalanya, tadinya ia ingin meminta penjelasan dari ucapan Ririn tapi pandangannya bertubrukan dengan laki-laki yang mati-matian ia hindari. Mendengar namanya saja Yoora sudah tidak kuat apalagi bertemu, rasanya Yoora ingin bumi menelannya.

“Onnie..” suara Yoora lebih terdengar rengekan.
Ririn dan Miyoung menggeleng.

Keduanya masih terdiam dalam alunan musik Jazz café, tidak ada yang memulai terlebih dahulu,

“Aku hanya butuh persetujuan darimu, aku tidak ingin di cap wanita egois oleh fans-mu.” Ujar Yoora akhirnya, suara nya menjadi dingin padahal tidak dengan hatinya.

Tidak ada lagi rengekan manja dari bibir Yoora, tidak ada lagi cubitan lembut yang Henry buat pada pipi Yoora. Yang ada hanya keheningan dan suasana canggung, wajar mereka sudah enam bulan tidak bertemu.

“aku tidak tahu Ra-ya..” balas Henry pasrah.
“Bukan tidak tahu, tapi tidak perduli.. ” sahut Yoora kesal.

Henry tidak menjawab, kekesalan Yoora semakin bertambah. Yoora menendang pelan kursinya, lalu bangkit berdiri.

“Selamat tinggal Henry-ssi..”
Henry menahan tangan Yoora. “Tidak seperti ini, Ra-ya..”
Yoora menatap Henry tidak suka. “.. oh ya, aku ingat..”
Yoora melepaskan tangannya, lalu mencabut kasar kalung biola kecil yang di berikan Henry dulu saat masa-masa awal mereka menjalin hubungan.
“Ini, maaf aku sudah tidak bisa menjaganya lagi.. selamat tinggal..”


Henry Lau POV.

Aku masih menatap punggung Yoora yang masih berbalut jas sekolah nya makin menjauh.

Semuanya telah berakhir.
Bukan dia yang egois, tapi aku.
Aku yang telah menyianyiakannya hanya demi pekerjaan.
Aku yang tidak bisa membagi waktu.
Aku yang menganggapnya hanya sebagai anak kecil penurut.
Aku yang bodoh, menganggap hubungan ini hanya persoalan sepele.
Bukan dia.

Kalau aku menganggapnya hubungan ini hanyalah permainan saja, kenapa sekarang aku merasa hampa ?
Merasa kosong ?

Hubungan kami memang tidak pernah menjurus pada sesuatu yang negative, hanya pegangan tangan, pelukan dan sekali mengecup pipinya saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas, itupun hanya tiga detik.

Tidak pernah aku berani mencium bibirnya.
Kenapa ?
Ya memang karena itu bukan gaya pacaranku, dan diapun tidak pernah meminta yang aneh-aneh.
Ya dia tidak pernah meminta, tapi kesabaran itu ada batasnya,
Dia sudah cukup bersabar dua tahun bersamaku.

– In Singapore, for SS3, day 2-

Latihan hari ini hancur, gara-garaku…lagi.
Selama sebulan ini pikiranku benar-benar tidak bisa di alihkan dari apapun yang berbau Kwon Yoora.

Kenapa sekarang dia menjadi seperti candu buatku ?
Dulu aku pernah mengatakan bahwa dia adalah oksigenku, aku akan mati jika dia tak ada, tapi itu hanya kata-kata gombal yang kutemukan di internet.
Dan sekarang aku memang membutuhkannya seperti aku membutuhkan oksigen.

“Istirahat sepuluh menit..” Siwon hyung mengintrupsi.

Aku berjalan gontai menuju sudut ruangan, menyendiri, menghidari tatapan kasihan dari para member.

Perutku sakit, terhitung dari seminggu kemarin aku memang tidak makan apa-apa kecuali seperempat roti isi di pagi hari.
Tidak bermaksud seperti itu juga, hanya saja… rasanya semua yang kumakan menjadi tak ada rasa, hambar. Seperti perasaan Yoora terhadapku kata Miyoung noona.


Author POV.

“Hyung..” Henry merintih, memegangi perut bagian tengah sedikit menyerong ke kanan.

Tidak ada yang menyadarinya, selama beberapa menit Henry memegangi perutnya.
“Hyung…” kali ini lebih keras.

Siwon yang pertama menyadarinya, langsung berlari menuju sudut ruangan tempat Henry biasa menyendiri.

“Ya ya , wae geure ?” Siwon menepuk-nepuk pipi Henry yang sudah tidak sadarkan diri.

“Kita ke Rumah sakit sekarang !”

‘Deg’

Yoora memegangi dadanya, kenapa jantungnya jadi berdetak lebih kuat dari biasanya ?
Yoora yang baru saja pulang les melangkahkan kakinya ke kursi taman yang kebetulan berada di dekatnya.

Debaran jantungan semakin cepat, sekilas pikiran liarnya tiba-tiba menghkhawatirkan Henry. Ya Tuhan.. ini ada apa ?

Yoora bangkit dan melanjutkan perjalanan pulangnya yang tinggal sedikit lagi.
Okeey, ini mungkin efek dari cara belajarnya yang kini menjadi lebih gila, tidak apa-apa semuanya baik-baik saja..

Yoora membuka gerbang rumahnya yang berwarna hijau, tangan kirinya masih memegangi dadanya, gemuruh detak jatungnya makin liar, dan tangan kanannya mengecek ponselnya, takut-takut ada pesan dari teman sekolah atau lesnya.

Yoora membuka pintu utama kediaman keluarga, pandagannya tertuju pada tamu yang sangat ia kenal.

“Ririn onnie ?” Tanya Yoora gugup.

Ririn langsung berdiri seperti di sengat lebah. “Ra-ya..”

“Onnie, wae geure ?” Yoora mendekati Ririn hati-hati.

“Ra-ya, kau punya passport ?” tembak Ririn langsung.

Yoora mengerutkan keningnya. “Ada sih, kenapa ?”

“Bagaimana dokter ?” Seunghwan manager Super Junior berdiri menyamakan posisinya dengan dokter dari Hongkong yang baru keluar dari ruangan Henry.

“Tidak apa, tapi lambung nya memang bermasalah tadi, berapa hari dia belum makan nasi ?” Tanya dokter itu berwibawa.

Seunghwan melirik member SJ-M dengan pandangan memojokan.

“Mungkin sekitar seminggu, atau lebih ?” Siwon sendiri tidak berani berspekulasi.

“Maggh kronis kalau begitu..” si dokter mulai menyimpulkan. “Sebentar lagi juga sadar, tunggu saja..”

Seunghwan membungkuk singkat. “Terimakasih..”

Dokter itu hanya mengangguk singkat.

“Ada masalah apa lagi sih sampai dia tidak makan seminggu ?” Kibum manager Super Junior yang usianya di atas Seunghwan geram.

“Biasa hyung.. anak muda..” Kyuhyun menjawab dengan nada malas.

“Dengan Yoora ? lho kok ? Aku kira hanya Donghae dan Siwon saja yang suka berantem..” celetuk Seunghwan tanpa sadar, Donghae dan Siwon melemparkan death glare.

“Makanya contoh Zhoumi..” Kibum menambahkan.

Zhoumi yang nyatanya sedang di puji tentang asmara hanya tersenyum simpul.

“Onnie jangan bercanda..” Yoora menciut ponsel yang di genggamnya jatuh dengan mulus.

“Demi Tuhan Yoora…” Ririn meyakinkan.

Detik berikutnya Yoora berlari seperti orang kesetanan ke kamar, membawa passport tentunya, juga ATM.

“Ayo Onnie !” Yoora menarik tangan Ririn yang kaget tiba-tiba di tarik, tapi Ririn tersenyum, ternyata mereka tidak berubah.

“Setidaknya ganti dulu bajumu..” Ririn memperingatkan saat sudah berada di bandara.

“Masa bodoh dengan seragam !” balas Yoora sambil menggigit kukunya, gugup.

Miyoung datang dengan nafas tersenggal.

“Maaf taxi nya lama..”

Ririn mengangguk memaklumi. “Cham.. kita berangkat sekarang..”

Henry masih belum sadar, detak jantung memang sudah normal tapi matanya tak kunjung terbuka.

“Kita harus ke lokasi sekarang..” Zhoumi memperingatkan.

“Apa tidak apa ?” Donghae tidak yakin.

“Disini kan banyak perawat..”

Yoora sudah tak memperdulikan lagi tatapan orang-orang rumah sakit yang melihatnya berlari-lari seperti orang gila memakai seragam aneh.

“Yoora pelan-pelan…” keluh Miyoung yang ada di belakannya.

Yoora tidak menggubrisnya dan berhenti di ruang VIP, tempat Henry di rawat.
Setelah meyakinkan dirinya sendiri Yoora membuka pintu, mata Yoora memanas saat melihat Henry terbaring, wajah Henry yang selalu tersenyum jadi dingin tanpa ekspresi.

Perlahan Yoora mendekat ke ranjang Henry, air matanya tidak bisa berhenti.

“Dasar bodoh..” ujar Yoora pelan seraya memukul-mukul dada Henry.

Miyoung dan Ririn merasa harus keluar.

“Bodoh… bodoh… bodoh…” Yoora terus mengulang perkataanya sambil menangis.

“Kau mau membuatku mati, hah ?”

Yoora mendongkak, suara itu…

Yoora memeluk Henry di perutnya, kepalanya di tempelkan di dada Henry, mendengarkan detak jantung Henry.

“Terimakasih Tuhan..” Yoora menggumam dalam hati.

Henry mengusap rambut Yoora lembut. “Jangan pergi lagi…” bisik Henry.

Yoora diam melepaskan pelukannya. “Tidak bisa, aku harus.”

“Tidak, kau tidak Harus, aku minta maaf jika-”

“Andwae, hentikan.” Isak Yoora. “Jangan semakin memberatkanku..”

Yoora tidak ingin pergi, tidak pernah ingin, tapi kalau nyatanya Henry masih tidak menganggapnya, untuk apa ia bertahan lagi ?

_
Bagaikan melodi itu berdenting dengan sendirinya
Berdenting memetik nada mengikuti alur kita
Hanya kamu dan aku
Hanya kamu untukku
Dan aku untukmu
Menjadi lirik dalam satu lagu…
Mencipta harmoni

_Mrs.Andrew_

“Aku bodoh, ya, seperti yang kau katakan.. aku memang bodoh, mempermainkanmu dengan seenakku, mengacuhkanmu, membuatmu bingung, ya aku bodoh, tapi apakah tidak bisa kau berikanku kesempatan yang ke dua ? aku mohon… ” suara Henry yang seperti bisikan seakan membentur hati Yoora.

Yoora menjauhi ranjang Henry. “Aku takut…”

Henry melepas infusannya, darah dari nadinya berceceran ke kasur, dengan langkah sempoyongan ia berjalan mendekati Yoora lalu memeluknya.

“Tolong… kalau kau ingin pergi jangan bawa oxygen-ku… aku tidak bisa bernafas jika kau tak ada.. ” dengan lirih Henry membisikan kata-kata itu membuat tengkuk Yoora merinding.

“Aku bersedia jika kau mau menjadi paru-parunya…” Yoora balas memeluk Henry. Ia sadar ia pun tidak bisa jika tanpa Henry.

“Tentu saja..”

Yoora membawa Henry kembali ke ranjangnya dan memijit tombol merah di belakang ranjang, suster datang.

“Kenapa di lepas Tn. Lau ?” Tanya suster itu kaget melihat banyak darah berceceran di spresi putih ranjang.

“Aku sudah tidak membutuhkannya lagi, karena aku telah menemukan oxygen-ku kembali..”

_
Love like oxygen..
Itu mungkin perumpamaan buat kami..
Bukan hanya sekedar sebait kalimat
Tapi itulah yang kami alami..
Bodoh bukan jika kau telah mendapatkan oxygen itu
Kemudian membiarkannya
Melepaskannya
Memuai begitu saja..
Tidak, tidak
Hargai setiap detik setiap hembusan setiap selubungnya
Karna kita tak perna tahu esok apa yang akan terjadikan?
_Mrs.Andrew_
__END__

Apeeee ini ? *ngeliat ke atas*
Ff terispirasi dari RINso onnie yang sms Henry sakit pas SS3 di Singapore hari kedua, aku kagak tau, karna belum OL2.

Pokoknya Henry sekarang kudu sehat walafiat lagi.. sedih pisunddh*??? 4l4y* pas tau Henry sakit, ampir nangis anee*Lebehnyak ?*

Thank’s silent reader , I love you good reader ~

The underscors line original special from Mput onn or Mrs.Andrew
Love sistaaaaaaaaaaaa~ :*

21 thoughts on “Love Like Oxygen~

  1. ff nya so sweet…. Kalo henry paru2 n yoora oksigen, berarti kyu lambung n ane makanan’a dong? *gajetingkatdewa*

    huhu kenalin ane newbie d wff :) *bow60degree*

  2. Iya bisa,kan kita juga gak bisa tanpa lambung.wkwkwk
    iya sayangku,salam kenal juga ya,dj.merr imnida,author yg paling ngaret.ehehe.
    makacih udah baca ma komen :*

  3. Assalamu’alaikumm
    Eskuizmeehh
    Misiii
    Tok tok tok *plak*

    Ga bosen untuk baca yg kesekian kalinya wkwkwkwk

    Kata2nya itu lo buat saia ouuchhhh so touching.

    She’s a potential or great author for me.
    Love u too sis *chu*

    Waiting for next ur fanfic *wink*

  4. Rinso onnie : #ngefly #blush
    makaciiih onnie beibeh sayaaaang #cipok
    ttiwi : :)
    lereen : makacih cayaaaang,iya tuh henry apa cakit mikilin aku~ #pede parah

  5. ohmaigat , sukses bener ini ff bikin aku nangis :( *ngelap air mata sama ingus*

    KEREN !

    suka banget katakatanya …
    keren keren , katakata romantisnya pas banget *.*

  6. Onnie-ya, aku baru tau kalo onnie author di sini
    Hahahaha geblek *tampol diri sendiri*
    Aku baru main2 ke sini soalnya
    Suka deh
    Henrynya bandel *toss sama hen*
    Bahasanya alus
    Aku jadi ikut ngerasain sakitnya yoora & bandelnya mochi *apadeh*

  7. hmm, ikut lari-lari sama yoora di rs. hehe. kenapa ya, hal kecil kaya info sms bisa nyiptain sebuah karya? otak manusia emang jjang!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s