New Summer Times ~ HOT II

DJ’s Story…

New Summer Times…

Aiden Lee-Viona Kim.
And other..


Aiden sedang mondar-mandir di kamarnya, setelah ia melakukan perdebatan singkat dengan sang ibu tadi, sampai kamar ia tidak bisa tidur.

Dalam pikirannya ia terus bertanya, apakah keputusan yang ia pilih benar, apakah ini yang terbaik, atau…oh ! Demi Tuhan, Aiden bingung !

Jam sudah menunjukan pukul O1.30, jam delapan ia harus sudah menjemput Viona ke bandara, tapi boro-boro ke bandara, mengepack baju-bajunya selama dua hari saja belum.

Jam terus bergerak, Aiden mengigit bibirnya, ia sudah memutuskan untuk mempertahankan cintanya, bagaimanapun caranya, aiden harus bisa, untuk Viona.

Viona melirik jam tangannya sekilas. ‘Sudah jam setengah Sembilan, Aiden kemana sih?’ gerutu Viona sambil memainkan gantungan ponsel berbentuk hati, hadiah ulang tahun pemberian Aiden tahun lalu.

Viona makin mengeram kesal, kenapa laki-laki ini selalu menguji kesabarannya terus? awas saja kalau Aiden-

“Kemana aja sih ? Niat nikah gak sebenernya kamu ?” semprot Viona ke depan muka Aiden.
Aiden cuman nyegir ngerasa salah. “Tadi ban nya kempes sayang, jadi agak telat.”
Viona berdecak memejamkan matanya lalu mengambil tas dan koper kecilnya ke bagasi Aiden.

“Kita kan udah janjian jam 8 Aiden, pesawat gakkan nunggu kita kalo terlambat.” Viona masih merasa kesal. “..Kamu kebiasaan nyepelein suatu hal Den..” Viona melempar pandangannya ke luar jendela, mengamati jalanan kota Paris yang bersih.

“Aku juga kan gak mau gini Vi, ban nya gak bisa di kompromi. Mana aku tahu bakal jadi telat gini. ” kata Aiden mengeles, sebenarnya ia terlambat gara-gara di kunci di kamar oleh ibunya jadi ia mencari-cari cara untuk kabur, dan satu-satunya cara ya lewat jendela, makanya Aiden cuman bawa beberapa bajunya saja yang sekiranya masuk ke tas ranselnya. Untung cuman tiga hari jadi gak perlu bawa koper-koper segala.

Sesampainya di bandara Charles de Gaulle, Viona dan Aiden bisa bernafas lega karena pesawatnya kena delay satu jam.

“Den, kira-kira orang tuaku setuju gak yah kalo kita nikah gini ?” Tanya Viona tak yakin.

“Ya kita coba dulu aja Vi, pokoknya kita harus jadi nikah!” tekad Aiden bulat.

Pesawat sudah turun landas, Aiden tertidur dan dibangunkan oleh Viona, memang perjalanannya memakan waktu dan Aiden semalam baru bisa tidur jam dua dini hari.

Dalam taksi perjalalan ke rumah Viona, Aiden terus berkumat-kamit.

“Kamu kenapa sih ? aneh tahu.” Viona buka suara.

“Ssst.. aku lagi berdoa Vi, biar di restuin sama orang tua kamu.” Aiden mengenggam kedua tangannya dan di letakan di depan dada, matanya terpejam, mulutnya masih berkumat-kamit.

“Den, udah sampe..”

Aiden membuka matanya, memang sih rumahnya Viona sederhana tapi ada kesan hangat saat mereka memasuki halamannya yang kecil tapi asri, beberapa bunga yang di tanam depan rumah membawa kesan anggun, seperti Viona.

Viona melirik Aiden sebelum mengetuk pintu rumahnya, suara derap langkah terdengar dan pintu terbuka, wanita paruh baya dengan garis-garis tua tak menyamarkan kecantikannya, mengamati Aiden sebelum beralih pada Viona yang berada di sampingnya.

Mata wanita tua itu membesar lalu memeluk Viona erat.

“Vio, sayang, kamu kembali nak!” pekik wanita itu.
Viona tersenyum tipis. “Ya..mom”
“Ayo masuk dulu sayang dan..” wanita yang Viona sebut ‘mom’ itu menatap Aiden.
“A-Aiden Lee..” Aiden tergagap.
“Oke Aiden, please..”

Aiden dan Viona duduk di sofa sederhana di ruang tamu yang juga sederhana, hanya ada dua foto, menghiasi meja samping sofa. Yang satu mungkin…foto keluarga, ada Viona dan wanita tadi juga tiga laki-laki lain, dan Aiden bisa memastikan yang berada di tengah itu ayahnya Viona, terlihat jelas raut wajah tegas dan oh.. sekarang Aiden tahu, darimana Viona mendapatkan mata seindah itu.

“Aiden.. Aideeen..” bisik Viona lirih sambil menyikut rusuk Aiden.
Aiden mengalihkan pandagannya dari foto itu dan mengangkat alisnya heran. Tadinya ia akan bertanya ‘Ada apa sih Vi ?’ tapi mulutnya langsung kelu saat matanya beralih ke depan.

Tiga laki-laki dan wanita yang di panggil mom itu menatap Aiden tajam.

“So ?” Tanya laki-laki rambut blonde yang menurut Aiden paling kalem penampilannya, atau mungkin dewasa.

“Den, kenalin diri dulu..” bisik Viona lagi.
Aiden mengangguk-angguk.

“Hello everyone, saya Aiden Lee, err.. teman laki-laki nya Viona.” Aiden tersenyum ragu melirik Viona yang berada di sampingnya yang sedang meringis.

“Teman laki-laki,eh ?” Tanya laki-laki dengan wajah sangar di sebelah laki-laki kalem tadi.

“Y-yaa, ituloh.. aduh, pacar.”

Sunpah nyali Aiden menciut kalau di liatin lama-lama gini sama anggota keluarganya Viona.
Apalagi sama yang tadi ngomong.

Laki-laki yang menurut Aiden kalem itu tersenyum ramah.

“Saya Dennis, ayo kalian kenalin diri dulu..” kata Dennis memberi perintah.

Aiden mengangguk dan menyimpulkan,, jadi yang tadi itu Dennis, kakak pertama Viona sudah bekerja di perusahaan minyak asing, di sebelahnya lagi Vincent, guru seni di sebuah sekolah negeri sederhana, dan yang kata Aiden sangar tadi, Marcus, adik Viona, bungsu, kuliah S2 dan selalu menjadi yang teratas, otaknya berbeda sedikit dengan Viona tapi memang lebih unggul Viona.

“Kalian bisa istirahat dulu, mungkin kalian jetlag kan ? ayo Marcus antar Aiden ke kamar tamu.” Suruh ibunya.

Aiden melihat Marcus memutar bola matanya.

“Merepotkan saja.” Keluh Marcus menyindir Aiden.

Mati kau Aiden !

Aiden menyapu seluruh sudut kamarnya, hanya ada satu kasur single dan meja kecil di samping kasurnya. Aish ! masa bodoh yang penting sekarang Aiden harus mengistirahatkan otot-otot tubuhnya yang terasa remuk setelah duduk berjam-jam di pesawat, belum lagi kepalanya terasa pusing,mungkin jetlag, dan perlakuan Marcus tadi membuatnya semakin tidak yakin. Tuhaaaaan ~

Baru saja Aiden akan menutup matanya, suara lembut Viona menghapus rasa lelahnya, selalu seperti ini, setiap ia lelah hanya mendengar suara Viona seolah-olah apapun yang ia rasakan menguap ke udara, yang ada perasaan menyenangkan yang tidak akan pernah orang lain tahu kalau tidak merasakan indahnya jatuh cinta.

“Aiden ?”
“Masuk aja Vi, gak di kunci..” seru Aiden dari dalam.

Viona membuka pintu dan menutup nya hati-hati, Aiden langsung duduk di kasurnya dengan alis bertaut heran.

“Ada apa ?” Tanya Aiden langsung.
“Err.. kamu gak apa-apa ? kamarnya kecil banget, maaf ya..” Viona mulai tidak enak hati.

Jelas saja, perbedaan kamar ini dengan kamar Aiden yang ada di Paris memang kontras sekali, mungkin lima kali lipat lebih besar, tapi Aiden tidak memusingkan persoalan itu,pokoknya yang penting ada kasur dan Viona. Aiden tidak butuh apa-apa lagi.

“Emangnya kenapa ? Kamar ini nyaman kok buat aku.”

Viona duduk di sebelah Aiden.

“Bukan gitu, tapi-”
Viona merasakan tangan kekar Aiden melingkari lehernya, hangat. Viona merasa selalu benar jika berada di dekat Aiden.

“Aku gak minta yang lebih, cukup seperti ini.” Aiden menaruh dagunya di atas bahu kanan Viona.

Viona sedikit bergidik saat nafas Aiden menyapu lehernya.

“Den, kamu janji kan gakkan ninggalin aku ?”
Aiden mematung di posisinya, bukannya tidak ingin tapi Aiden takut terjadi sesuatu yang membuatnya harus, mau tak mau meninggalkan Viona. Aiden tidak ingin menjanjinkan sesuatu yang tidak bisa ia tepati, tapi kalau berbicara masalah hati, demi Tuhan dan hambanya Aiden mencintai Viona tulus. Aiden tidak bohong.

“Vi, aku cinta kamu..sebisa mungkin aku bakal pertahanin cinta aku buat kamu.” hanya itu yang bisa Aiden katakan.

Viona menekan rasa kecewanya. Cuman cinta kamu gak bisa ngejamin apa-apa Den. Viona meringis dalam hati.

“Aku tahu..” balas Viona berbisik.
Aiden tahu benar apa yang kini dirasakan kekasihnya ini, pasti Viona kecewa tapi mau bagaimana lagi. Fiuuh ~

“Pokoknya yang penting kamu harus percaya sama aku, itu aja cukup. Aku cinta sama kamu, cuman kamu. Ok ?” Aiden meyakinkan.

Viona mengangguk sambil menggenggam tangan Aiden yang ada di lehernya. Menikmati kebersamaan mereka.

“Ehemmm~” deheman suara bass membuat Aiden melepaskan tangannya dari leher Viona, Viona kikuk. Ia pura-pura merapihkan rambutnya.

“Mom, manggil kalian buat makan malem..” ujar Marcus singkat lalu berbalik.

Viona tertawa kecil, kenapa pake acara gugup segala sih ? padahal kan mereka tidak melakukan apa-apa, di cium Aiden di bibir saja belum.

“Ganggu aja aah~” keluh Aiden berdiri, mengulurkan tangannya mengajak Viona ikut berdiri.

“Selamat makan..” ucap keluarga Viona berserta Aiden serempak.

Viona langsung memakan sup shci nya, sedangkan Marcus setia pada roti beserta ikan asap nya, lain hal nya dengan Dennis yang walaupun sedang makan masih terlihat sisi kebijaksanaanya memakan sup shci sama dengan Viona. Sedangkan Vincent dalam diamnya mengunyah ikan asap. Ibu Viona belum makan, malah memperhatikan makan Aiden yang sekali-kali melirik Viona, anak perempuan satu-satunya dalam keluarga.

Aiden yang sekali-kali mengusap sudut bibir Viona dan mengambilkan minum membuat ibu Viona tersenyum geli, bagaimana bisa Aiden mirip sekali dengan mendiang ayah Viona ? mungkin hampir keseluruhan terutama tatapannya. Tidak bisa di pungkiri itu tatapan sayang yang tulus bukan hanya sekedar nafsu dan main-main saja. Ibu Viona paham betul.

Hari ini Viona mengajak Aiden jalan-jalan ke Saint Basil’s Cathedral di Moscow, hari ini Viona benar-benar ingin bebas, ibaratnya sambil menyelam mencari ikan. Sekalian minta restu sekalian juga jala-jalan, toh Rusia juga keren kok, gak kalah dari Paris.

Aiden masih membulatkan matanya terpana akan keindahan St. Basil’s Cathedral.
Viona terkekeh.

“Gimana ? Emang Paris aja yang punya menara keren sama Cathedral klasik ? Rusia juga punya dong.” Ucap Viona bangga.

Aiden menyeringai. “Tapi lebih romantis di Eiffel, kaaan ?” goda Aiden.

Viona hanya meringis. “Pikiran kamu tu ya.. kaya anak kecil ! romantis rimantisan mulu.”

“Jangan salah Vi, kamu lupa di puncak menara itu aku nembak kamu dan ngambil first kiss kamu.” Goda Aiden makin menjadi.

Viona membulatkan matanya. “Gak perlu di omongin yang terakhir kalinya juga kan Aiden Lee !!” seru Viona kesal.

Aiden tertawa kecil, sambil memasukan tangannya ke saku celana. “Aku suka deh kalo muka kamu udah mereah gitu, jadi pengen…” Aiden melirik Viona genit dan di hadiahi injakan kaki super keras dari high hells 7cm milik Viona.

Aiden kelabakan. “Ah, maennya asal injek aja nih pacar aku, sakit Viiii~” rengek Aiden manja, Viona mengalihkan pandagannya sebal.

Viona memicingkan matanya melihat seseorang di depan sana. Sepertinya ia kenal orang itu.. tapi siapa ya ? Viona berusaha mengingat-ingat.

Sekilas ingatannya saat High School mencuat di pikirannya.

“Andrew…” Gumam Viona tak yakin, Aiden masih asyik mengelus-elus kakinya yang tentu saja bengkak parah.

Tepat saat itu laki-laki yang Viona lihat berbalik pandang dengan Viona dan langsung berlari memeluk Viona erat. Aiden yang kaget hanya bisa bengong, padahal Viona kaget setengah mati di peluk orang sembarangan, di tambah pelukan itu terlalu erat membuat nafas Viona sesak.

Viona memukul-mukul punggung laki-laki itu.

“Vi.. Vi.. ini bener kamu ? Ya Tuhaaan~”

Aiden tak tinggal diam, ia dengan geram menarik-narik laki-laki yang memeluk Viona sekuat tenaga.

Laki-laki itu menghiraukan Aiden yang tengah ngambek pacarnya di peluk orang asing.
“Andreeew, lepasin dulu, iya ini aku Viona.” Sahut Viona sekuat tenaga karena nafasnya sudah kembang kempis.

Laki-laki bernama Andrew itu melepaskan pelukannya dan langsung nyengir tiga jari.

“Kangen deh sama kamu, kamu kemana aja ? kok gak ada kabar selepas SMA ?” Tanya Andrew masih tak memperdulikan Aiden yang kumat-kamit ingin menedang bokong laki-laki joker itu ke antartika.

“Aku ngelanjutin kuliah di Sorbone sampe S3, ini juga baru pulang. Tapi mungkin hanya sebentar.langsung balik lagi ke Paris.” Jawab Viona lugas.

Aiden yang merasa di cueki berdehem keras sehingga membuat Viona dan Andrew menoleh.

“Kamu ya, mau selingkuh terang-terangan, eh ? awas aja kamu.” Bisik Aiden kesal.

Viona mengerjap-ngerjapkan matanya. “Oh eh.. iya ini kenalin Aiden Lee, pacar aku. Den ini Andrew dan Andrew ini Aiden.”

Andrew mengangkat alisnya lalu menilai Aiden dari atas ke bawah.
Andrew menjulurkan tangannya yang di balas dengan remasan oleh Aiden.

“Ok, Aku Andrew Choi.. pacar pertamanya Viona di SMA.” Andrew mengangkat kembali senyum jokernya yang membuat Aiden jijik.

“Aiden Lee, Arsitek muda, terkenal, rupawan, dan. Calon.Suaminya.Viona.Kim.” balas Aiden penuh penekanan.

“Salam kenal Tuan Aiden, hati-hati loh jangan terlalu posesif, jaga-jaga calonnya, soalnya saya masih suka dengan Viona dan berniat merebutnya, dengan atau tanpa persetujuan anda.” Andrew melepaskan tangan Aiden sambil mengakat alisnya jenaka.

__TBC__

Dan yang mau ngobrol ma mer bias follow twitt : DJ_merr
Atau FB : Merisa Dwi Juanita

7 thoughts on “New Summer Times ~ HOT II

  1. woah merr is back..
    masih ingat saya??.. *gapen*
    eh eh itu andrew jail amat..
    pokoknya andrew slamanya buat saya ga boleh ma viona.. viona wat aiden aja… *maksa*

    • ingeeeeet dung ^^
      makacih udahmau baca#terharu
      aceeeek~
      ada yang cembulu XD
      iya andrew just for shilla park laaah ~ hahahahha

  2. akhrny ff ni d lnjtin jg.sy kira mer*blh g sok akrab gni?* lupa nglnjtn ff ni.ngakak pas bagian aiden cmburu sm andrew choi..smpe mo d tndg bokg-ny..hehe,lnjt..

    • nggak dong onn, bakal di lanjutiiin ~
      hahahaha.
      tapi kalo ngaret harap maklum, bad habbit mer banget itu mah.hehehehe.
      pokoknya harus lebih baik lagi…
      go go go~ ^^v
      makacih udah komen nunggu ma baca :*

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s