17

[Freelance] Reaper part 5

REAPER~PART FIVE~ (The Rude Way)

Days one

 

 

Aku membuka mata ku dengan perlahan,seingat ku kemarin aku tertidur di tangga. Mungkinkah heechul yang memindahkan ku? Aku menatap ke arah jam digital ku ‘7:25 AM.sat,25 dec.2010’

 

Aku menghela nafas,25 december?ya,inilah hari kematian ku,tragis sekali mengetahui jika hari ini kalian akan mati padahal pagi ini kalian masih terbangun di ranjang mewah kalian. Sayup-sayup aku mendengar seseorang membuka pintu kamar ku dengan perlahan

 

 

Kulihat gaeul sedang menaikan suhu,di pengontrol suhu kamrku. Ya,gaeul adalah pelayan pribadi ku jika kalian tanya siapa yang selalu menyaksikan semua kekejaman ku jawabanya adalah gaeul. Aku masih pura-pura tertidur

 

Lalu gaeul membenarkan selimutku “agasshi,akhir-akhir ini kau lebih sering berada dirumah,teruslah seperti ini,aku merindukan mu yang seperti ini.merry x-mas agasshi~” bisik gaeul tersenyum

Continue reading

8

[Freelance] May I Love You? part 1

MAY I LOVE YOU? (Part 1)

Sebelumnya uda di post : http://ourfanfictionhouse.wordpress.com/

Author : Wella

Genre : Romance

Tags : Park Jung Soo, Sungmin

Prolog :

Park Jung Soo dan Park Min Rin adalah kakak beradik yang memiliki hubungan teramat dekat.

Bagi Min Rin, Jung Soo adalah oppa terbaik yang pernah ada, namun hanya sebatas oppa saja.

Namun, tidak begitu dengan Jung Soo dari kecil dialah yang menjaga Min Rin dari kecil hingga dewasa sekalipun karena percaraian orang tua mereka. Jung Soo dari kecil sangat over protective terhadap Min Rin itu semua dilakukannya karena dia tidak mau Min Rin jauh darinya, seiring dengan berjalannya waktu Jung Soo tidak bisa membohongi hatinya sendiri kalau dia menaruh hati pada adiknya sendirin, Min Rin. Ia tidak bisa menyangkal hatinya sendiri bahwa dia membutuhkan Min Rin lebih dari apapun.

Namun disatu sisi Jung Soo juga sadar kalau cintanya ini terlarang dan juga hati Min Rin bukanlah untuknya, hati Min Rin telah berlabuh pada namja lain.

Jung Soo berjanji untuk tidak larut dalam perasaannya itu, namun semakin ia ingin melupakan perasaannya itu semakin besar rasa cinta itu pada Min rin.

Lantas berhasilkah Jung Soo melupaka Min Rin?

Siapa pria yang berhasil meluluhkan hati Min Rin?

Apa yang akan dipilih Min Rin?

Cintakah? Atau ……..

 

Cast :

~ Park Jung Soo

~ Park Min Rin

~ Lee Sungmin

~ Other support cast

~Park Jung Soo P.O.V ~

Tahun 1995

“Hu… hu… hu… omma!! Omma ada cimana? Oppa… min lin cakut” adikku Min Rin menangis sudah lebih dari setengan jam, aku tidak bisa berbuat apa- apa selain memeluknya, dan mengatakan janji palsu

“Oppa tadi sudah menelpon eomma, sebentar lagi eomma datang kok, Min Rin tidur ya… nanti kalau sudah bangun pasti sudah ada eomma” bujukku sama seperti 30 menit yang lalu

“Oppa boong!! Oppa celalu ilang egitu!! Capi omma cecap cidak ada calau Min Lin angun!! Oppa jaat!!” teriak Min Rin disela tangisannya

“Miane… oppa tidak bermaksud membohongi Min Rin, mengertilah Min Rin yha oppa juga rindu eomma… oppa juga tidak tau eomma dimana” mataku berkaca-kaca, aku berusaha kuat tapi aku tidak bisa, aku juga membutuhkan eommaku dimasa sulit seperti ini.

“Huaaaa… Min Lin Benci oppa!!!” Min Rin memukulku sekuat dia bisa, jujur sakit sekali pukulannya itu, tapi hatiku jauh lebih sakit melihat adikku menangis seperti ini setiap hari

“Min Rin boleh benci oppa, tapi jangan nangis lagi ya… pukul saja oppa” aku mendekatkan tubuhku padanya, setiap kali aku mendekatkan tubuhku dia pasti diam, dia pasti menatapku sambil sesegukan

“Oppa miane.. Min Lin calah, oppa cangan malah ya” Min Rin menatapku agak takut

“Min Rin yha… selamanya oppa tidak akan marah dengan Min Rin, Min Rin yang oppa punya satu-satunya, eomma dan appa sudah pergi, kita harus bertahan berdua Min Rin yha” Min Rin menatapku sepertinya dia tidak mengerti, wajar saja umurnya masih 5 tahun yang dia tau eomma tidak lagi menciumnya setiap malam, tidak ada lagi yang menyuapinya makan selain aku, tidak ada lagi eomma yang memanjakannya, yang ada hanya aku oppanya yang mengurus dirinya sendiri saja tidak becus

“Omma jaat!! Omma cidak mau main cama Min Lin lagi, Min Lin janji cidak nakal lagi, Min Lin cidak mau melengek beli oneka lagi acal ada omma” Min Rin masih merengek

“Min Rin yha, dengar oppa. Mulai sekarang Min Rin tidak boleh cengeng! Sudah tidak ada eomma lagi, kita tinggal berdua dipanti asuhan, hanya ada oppa dan Min Rin, arasso?” aku menatap wajahnya yang sembab, aku menahan air mataku agar tidak jatuh tapi itu susah sekali

“Capi calau Min Lin cidul biacanya omma yang cama Min Lin ukan oppa” dia masih sangat polos, malah terkadang jawabanya tidak nyambung, ini pasti sangat sulit untuknya

“Mulai sekarang Min Rin akan sama oppa, apapun yang Min Rin mau kasih tau oppa saja ya” aku membelai rambut hitam sebahunya lembut

“Oppa cidak pelgi cepelti omma kan? Oppa canji ya…” Min Rin mendekatkan jari kelingkingnya ke tanganku

“Ne yaksokhe!!” aku melingkarkan jari kelingkingku ke kelingking Min Rin

“Oppa baik!! Oppa sarange!!” Min Rin memelukku sambil tertawa lepas, jantungku berdebar-debar setiap dia memelukku, ini pasti hanya karena aku jarang dipeluk makanya aku merasa begini

“Nado Sarange Min Rin yha” aku memeluknya erat, hangat sekali rasanya, Min Rinlah yang bisa menghiburku, hanya dia yang ku punya didunia ini

Appa dan Eomma cerai 1 bulan yang lalu karena appa selingkuh dengan seorang janda beranak satu, sebenarnya aku kasian dengan eomma. Dan pada akhirnya eomma tidak tahan dan pergi meninggalkan aku dan Min Rin dengan appa, eomma hanya memberi kami sepucuk surat dan sejumlah uang yang masih kusimpan sampai sekarang.

Aku menyimpan surat itu, aku tidak pernah memberi tau Min Rin keadaan yang sebenarnya dia masih terlalu kecil untuk tau.

Aku hanya seorang anak kecil berumur 9 tahun, aku hanya lebih tua 4 tahun dari Min Rin.

Namaku Park Jung Soo, aku sekarang harus menjaga Min Rin adikku. Meski aku tau aku masih terlalu kecil untuk bisa melakukan apa yang biasa eomma berikan pada Min Rin tapi aku akan mulai berusaha untuk membuat Min Rin tidak sedih lagi, aku pasti bisa!!

“Oppa Min Lin antuk” Min Rin mengucek matanya yang masih basah oleh air mata

“Tidur saja, besok pagi oppa bangunkan, besok appa akan datang” aku menyelimutinya, kamar kami sangat sempit, panti asuhan ini sebenarnya sudah tidak bisa menampung lebih banyak anak lagi hanya saja appa bersikeras untuk menaruh kami disini

“Oppa cangan pelgi ya…” Min Rin menatapku, barang kali dia ketakutan sekali aku akan pergi karena hanya aku yang menyayanginya sekarang

“Tentu saja, Min Rin tidur saja… oppa akan tidur disamping Min Rin” aku menyenderkan kepalaku dikasur yang hanya tersisa celah kecil sekali

Min Rin mulai memejamkan matanya, sekitar 10 menit dia sudah mendengkur menandakan dia sudah terbawa kealam mimpinya.

Aku melihat kearah jam, sudah jam 11 sekarang.

Tidak ada lagi suara ribut anak-anak lainnya seperti 2 jam yang lalu.

Aku menangis sekarang, aku tidak menahan sedihku, aku tinggal sendiri dengan Min Rin, tidak ada lagi yang bisa menjagaku disaat aku terlelap, aku harus bisa menjaga diriku sendiri dan Min Rin. Aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri, Park Jung Soo.

Kata biarawati disini appa besok akan datang, aku tidak berharap banyak pada appa. Aku bahkan sangat membenci appa, dia bisa bersenang-senang dengan istri barunya itu dan anak angkatnya, sedangkan kami? Aku dan Min Rin anak kandungnya dibuang!!

Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan pernah menyakiti siapa pun, aku tidak akan seperti appa!! Aku harus menjadi orang yang berhasil kelak!! Lihat saja appa yha!! Anak yang kau buang ini akan menjadi apa kelak!! Kau akan menyesal telah mencampakkan kami!!

Aku juga membenci eomma!! Eomma sama saja dengan appa, dia membiarkan aku dan Min Rin begitu saja, barang kali dia sudah tidur pulas di kasur empuk dengan namja lain, sedangkan kami?

Air mataku tumpah tak terbendung lagi, rasa benciku mengalahkan rasa aku membutuhkan orang tua. Yang aku tau sekarang hanya ada aku dan Min Rin, orang tuaku sudah MATI!!!!!

Aku membaringkan kepalaku dilantai, dingin sekali.

Aku menggigil kedinginan, aku merasa badanku sudah seperti mayat, dingin.

Aku hanya mengenakan baju tipis yang diberikan appa, dia hanya menyuruhku menjaga Min Rin dan pergi begitu saja, mengucapkan salam perpisahan saja tidak, orang tua macam apa itu?!

Aku sudah sangat ngantuk sekali, aku mulai memejamkan mataku, aku tidak peduli lagi dingin seperti apa, aku mau lari dari kenyatannku walau tuk sementara……

Berisik sekali….

Aku masih tidak sepenuhnya sadar, aku masih sangat mengantuk sekali, kupejamkan lagi mataku

“Oppa!! Ayo angun!! Dilual anyak eman-eman!!” Min Rin menarik bajuku

“Eng?  Oppa masih mengantuk Min Rin yha, nanti saja ya” aku menjawab sangat pelan

“Ayoooo, catanya mau caga Min Lin!!” begitu mendengar kata-katanya, aku langsung membuka mataku

Ya, aku harus menjaga Min Rin-ku, hanya ada aku sekarang

“Kkaja, kita main” aku beranjak dari tempat tidurku tadi, aku berusaha ceria meski hatiku masih kelabu~

^^

Sudah jam 2 siang, appa belum juga datang. Aku dan Min Rin menunggu didepan panti asuhan, aku sesekali bercanda dengan Min Rin agar dia tidak bosan, tapi Min Rin sudah menguap, sepertinya dia mulai ngantuk lagi.

“Oppa Min Lin antuk, tidul yuk” dia menarik lenganku kedalam

“Oppa harus tunggu appa, Min Rin tidur saja dibawah pohon nanti oppa bangunkan” aku tersenyum padanya

“Ya cudah, Min Lin tidul cendili” Min Rin tidur dibawah pohon tepat seperti yang kukatakan padanya

Sudah satu jam lebih aku menunggu, anak-anak yang lain sudah bermain bola sedangkan aku masih menunggu seperti orang bodoh didepan gerbang

Aku sudah mulai putus asa, appa tidak akan datang, dia pasti sudah lupa dengan kami

Aku beranjak dari gerbang, begitu akan kubangunkan Min Rin, terdengar suara mobil berhenti didepan panti asuhan kami, itu suara mobil appa, aku hapal betul suara mobil itu mobil yang setiap malam tidak pernah kuharapkan.

Aku mengurungkan niatku membangunkan Min Rin, aku berdiri digerbang menunggu appa masuk

Tapi yang pertama keluar bukan appa tapi seorang anak laki-laki yang sebaya denganku, siapa dia?

Dan setelah anak itu keluar dari mobil disusul appa dan seorang ajuma, sekarang aku mengerti siapa mereka.

Aku tidak lagi sedih, aku malah tersenyum, aku tidak bisa marah lagi, percuma saja aku marah tidak akan ada yang berubah jika aku mengamuk sekalipun.

“Jung Soo yha ini adikmu, Lee Sungmin maksud appa Park Sungmin” appa tersenyum pada Sungmin padahal yang dia ajak bicara itu aku

“Aku tidak punya adik selain Min Rin” jawabku ketus

“Jaga sikapmu!! Ini Sungmin adikmu” appa mempelototi aku

“Aku tidak punya adik selain Min Rin” aku tidak akan menggangap dia adik sampai mati pun

Appa menghela nafas panjang “Sudahlah, terserah kau saja. Ini” appa memberikan aku sebuah tas

“Apa ini?” aku mengambil tas itu, berat sekali, entah apa isinya

“Itu bajumu dan Min Rin, juga ada uang disana, pakailah secukupnya, appa akan memberimu uang setiap bulan, jangan nakal” appa bahkan tidak menanyakan Min Rin

“Aku tau, pulanglah” aku membalikkan badanku

“Yha!! Beraninya kau mengacuhkan aku! Kau tidak tau aku siapa? Aku Sungmin!! Aku namja terhebat” teriak anak bernama Sungmin itu, aku tidak menghiraukannya

“Yha apa kau tuli?! Dasar pabbo!!” dia menantangku rupanya, aku melepaskan tas itu dan balik badan mengahapinya

“Kau siapa? Hebat? Apamu yang hebat? Bajumu saja pink! Dasar banci!! Kalau mau melawanku kau harus berkaca dulu!” aku mempelototinya

“Kau!!! Eomma dia mengatakan aku banci!!” Sungmin merengek pada eommanya, Min Rin saja tidak pernah semanja itu, dasar menjijikan

“Jung Soo yha!! Jaga sikapmu!! Kau seperti anak berandalan saja!”appa memarahiku

“Dia yang mulai duluan!!” aku menatap appa kesal

“Masih berani membantah?!” appa teriak semakin nyaring

“Aku tidak takut!! Aku benci appa!! Aku dan Min Rin harus kehilangan eomma gara-gara appa!! Dasar egois! Aku sa….” Belum selesai aku bicara appa sudah menampar pipi kananku

“Appa tidak pernah mengajarimu jadi berandalan seperti ini! Cepat minta maaf pada adikmu” appa masih menatku tajam

Air mataku sudah mau jatuh, mataku panas sekali melihat anak itu, aku diam aku hanya memandangi Sungmin, aku sampai mati tidak akan minta maaf, aku tidak salah!!

“Appa dia tidak mau minta maaf!” Sungmin merengek pada appa, cih aku tidak sudi berbagi appa dengan anak manja seperti dia, aku tidak butuh appa lagi.

“Jung Soo yha, kau mau appa hukum?” appa memandangiku, aku tidak bisa melihat kasih sayangnya lagi seperti ketika aku masih kecil

“Hukum saja!! Aku tidak akan mau minta maaf! Aku tidak salah! Bencong ini yang harus minta maaf padaku!” aku malah berteriak

“Kau…” baru appa akan berteriak lagi, ajuma itu memotong ucapan appa

“Yobo sudahlah, namanya juga anak kecil, Jung Soo yha tidak apa-apa kalau tidak mau minta maaf pada Sungmin” ajuma itu tersenyum padaku, tapi aku tidak suka melihat senyumnya itu, senyum yang memunjukkan kemenangannya telah merebut appa dari kami

“Memang aku tidak perlu minta maaf! Anakmu yang harusnya minta maaf padaku!” aku berteriak pada ajuma itu

“PARK JUNG SOO!!!” suara appa menggelegar, aku tidak peduli dia mau marah atau mengamuk sekalipun

“Jangan datang lagi, aku dan Min Rin akan baik-baik saja” aku mantap dengan ucapanku

“Dan kau!!” aku menunjuk Sungmin “Jangan menampakkan batang hidungmu lagi didepanku! Kau sudah mendapatkan semuanya!” aku menatapnya tajam, aku memungut tasku lalu berjalan kearah Min Rin. Appa tidak lagi memanggilku, dia tidak peduli lagi, baguslah aku juga tidak butuh seorang ayah seperti DIA.

Appa kembali kedalam mobilnya, aku masih duduk dibawah pohon disamping Min Rin, aku mengintip dibalik pohon sampai mobil biru itu tidak tampak lagi dari pandanganku.

Aku tidak lagi menangis atau sedih, aku sudah terlalu banyak kecewa, aku sudah biasa dikecewakan, ini sudah biasa kulalui, meski pahit inilah jalan yang harus kujalani bersama Min Rin~

~ 15 tahun kemudian ~

“Min Rin yha, apa enak?” aku menatap Min Rin yang tepat didepanku, dia sedang asik menjilat es krimnya

“Sangat!! Gomawo” Min Rin tersenyum masih sibuk menjilat es krimnya, aku mengacak rambutnya gemas

“Cepat habiskan, kita harus pulang” aku tersenyum padanya

“Nanti saja! Aku masih mau makan!” rengaknya seperti biasa, aku hanya bisa senyum melihat tingkah manjanya itu. Meski sudah kuliah dia tetap saja manja padaku, karena hanya ada aku yang ada untuknya

Mimpi buruk kami sudah selesai, kami sudah dewasa, aku sudah berhasil menetapi janjiku, aku sudah menjadi orang berhasil sekarang!! Aku sudah mampu membeli rumah dan membiayayai Min Rin. Masalah lalu kelam kami telah berakhir, itu hanya akan jadi kenangan saja, aku bukan lagi Jung Soo yang akan menangis setiap malam hanya karena orang tua kami. Mereka dimana saja aku tidak tau, yang kutau aku punya seorang eomma dipanti asuhan kami dulu, dialah eommaku dia yang menjaga aku dan Min Rin selama dipanti asuhan, dia adalah biarawati, kami biasa memanggilnya eomma, bahkan sampai sekarang aku tidak tau apa namanya, aku hanya memangilnya eomma.

Min Rin juga sudah menggangap biarawati itu eomma, dia bahkan sudah lupa orang tua kami siapa, entah lupa atau pura-pura melupakannya aku tidak tau, yang kutau dia selalu bilang dia lupa dengan orang tua kami.

“Oppa sarange!!” Min Rin berteriak padaku sambil cekikikan

“Nado Sarange” aku tersenyum menampakkan lesung pipitku, aku sangat senang dia mengatakan sarange padaku, aku tidak tau apa aku mencintainya sekedar sebagai adik atau lebih, aku tidak bisa membedakannya, yang ku tau aku tidak bisa sehari pun tidak melihatnya, dia segalanya.

“Oppa lihat? Orang-orang memandangi kita! Mereka pasti kira kita sepasang kekasih” Min Rin berbisik padaku

“Min Rin yha mau kah kau menjadi kekasihku?” aku tidak tau kenapa aku mengatakannya, aku sudah menyimpan perasaan ini belasan tahun, hatiku akan meledak kalau tidak kukatakan sekarang, aku tidak tau perasaan apa ini, hatiku berdetak sangat kencang, aku merasa sangat gugup, aku tidak peduli apa kata orang, yang kutau aku tidak mau kehilangan Min Rin, dia harus jadi milikku!

Tapi sekarang aku menyesal mengatakannya, Min Rin menatapku, dia diam, apa dia kaget?

Apa dia menggapku aneh? Apa dia akan menjauhiku setelah ini?

Atau dia juga mencintaiku? Dia juga merasakan perasaan yang sama?

Aku menunggu jawabnnya, apa yang akan dia jawab?

Jantungku serasa akan copot, aigoo Min Rin yha ayo cepat jawab……..

TBC

 

9

[Freelance] Spring Breeze

Author : mhelyndz/ melin

Judul : Spring Breeze

Cast:

Lee Taemin

Lee ChonSa

Kategori: One Shoot

 

 

Setiap orang pernah merasakan cinta, entah sekedar cinta sesaat ataupun cinta yang benar-benar tulus dari dalam hati. Setiap orang juga pernah merasakan hati berdebar keras dan wajah yang berubah merona. Tapi di kehidupan nyata cinta tak selamanya indah, tak selamanya berakhir dengan keindahan, dan tak selamanya berakhir dengan akhir yang bahagia.

 

Chon sa POV

Aku bersandar santai di bangku panjang tepat dibawah pohon yang sangat rindang. Aku sering sekali menghabiskan waktuku duduk disini, merasakan hembusan angin yang menerpa kulitku, merasakan aroma dedaunan kering yang tertiup angin. Ku lirik sekilas buku sastra romance yang sedari tadi tergeletak di sampingku, senyum sinis ku tersungging. Untuk saat ini aku tak bisa mempercayai cinta lagi. Karena aku adalah korban dari keegoisan cinta yang tak dapat ku miliki. Aku pernah dikecewakan oleh namja yang ku sayangi, yang ku cintai dengan sepenuh hati, yang lebih ku prioritaskan dibanding teman-temanku. Tapi justru dia meninggalkanku, lebih memilih yeoja lain yang baru dia kenal, dibanding aku pacarnya yang beberapa tahun mencintainya dengan tulus.

“cinta??” aku tersenyum sinis mengucapkan kata itu. Ku pejamkan mataku pelan.

“ yaa!!!!” sebuah tangan tiba-tiba melingkar di leherku, aku menoleh kaget.

Ternyata taemin, sahabatku, satu-satu nya namja yang dekat denganku saat ini. Satu-satu nya namja yang dapat ku percaya, yang tak mungkin pernah menyakitiku, karena kami tidak memiliki perasaan apa-apa. Kami tulus berteman, dia tau semua perasaanku yang tidak bisa percaya dengan cinta lagi setelah kejadian itu. Dan taemin pun sepertinya juga tidak mau mengerti apa itu cinta.

“aiisssh, taemin-ah mengagetkanku saja”  aku memicingkan mataku kepadanya.

Wajah imut taemin tersungging sebuah senyum, dia mengacak rambutku.

“waeyo??kenapa kau melamun seperti itu??tak mungkin kan kau memikirkan diriku??” taemin langsung duduk tepat di sebelahku, mengambil buku sastra romance di sebelahku, alisnya mengerut.

“mwo??apakah dewa cupid menembakan panahnya kepadamu chon sa?sampai-sampai kau membaca buku romance seperti ini??” taemin terkesiap takjub, memandangku dan buku itu bergantian.

“siapakah namja yang beruntung mendapatkan cintamu itu??” taemin bertanya lagi, membuatku sedikit risih. Mana mungkin aku semudah itu percaya lagi dengan yang namanya cinta.. ”ya ! berhenti kau menggodaku” omelku, Aku meraih buku yang sedari tadi di genggamnya, memukul perutnya dengan gemas.

“ahhh !” rintih taemin, memegangi perutnya seraya menunduk. Aku tersentak kaget, apa aku memukulnya terlalu keras?? Tubuh taemin memang kurus, tapi apakah dia selemah itu??

“waeyo taemin-ah??miane, aku tak sengaja” aku memegangi kedua pundak taemin dengan khawatir. Tubuh taemin bergetar hebat. Aku benar-benar khawatir.

“hahahaha” tawanya tiba-tiba meledak, membuatku terdiam beberapa saat. Kenapa dia tertawa?? ”ya, chonsa, pabbo, memangnya aku namja yang selemah itu??”ujarnya, lalu memeletkan lidahnya ke arahku.

“ekspresi-mu lucu” tawanya semakin keras, sampai-sampai dia memegangi perutnya semakin erat. Dasar taemin, masih saja aku termakan tipuannya, padahal sudah sering sekali aku di tipunya seperti ini. Aku yang sedikit kesal hanya memanyunkan bibirku lalu bangkit berdiri, berjalan menjauhi taemin.

“chonsa-ah??kau marah??miane chonsa ah !” taemin mensejajarkan langkahnya denganku, memohon maafku. Sebenarnya aku tidak marah, tapi memangnya Cuma dia yang bisa mengerjaiku.

“ne, ne !! ayo ku traktir kau apapun yang kau mau” ujar taemin merangkulku, dia masih berusaha berhenti tertawa, tapi samar-samar tawanya masih terdengar.

“ne?? baiklah aku mau es krim, cokelat, boneka, cd boy band terbaru, dvd Sushow, gomawo  taemin” ujarku dengan nada manis di buat-buat

“ya, apa kau mau membuatku bangkrut??tega sekali kau” taemin menjewer kupingku hingga aku kesakitan, tangannya masih merangkulku seperti biasa. Benar-benar menyenangkan punya sahabat seperti taemin disaat aku sedang down karena masalah cinta.

 

***

 

sudah dua minggu aku dan taemin tak bertemu, entah kemana sahabatku yang satu itu. Dia menghilang tanpa jejak, tidak menelpon atau sms aku seperti biasa, di kampus pun batang hidungnya sama sekali tak kelihatan, membuatku sedikit kesepian karena biasanya aku selalu bersamanya.

“ring ding dong, ring ding dong, ring ding ding ding”

handphone ku berbunyi, kulihat nama taemin muncul di screen, dengan cepat ku angkat telepon itu, akhirnya dia menghubungiku juga.

“ya ! taemin ah, kemana saja kau, menghilang tanpa jejak??” aku mengomel dengan cepat.

“chonsa ah, besok kau ada dirumah??” tanyanya pelan, tidak biasanya taemin bertanya seperti itu.

“ne, aku tak ada acara kemana-mana, waeyo??”

“hmm, aku, aku, bisakah kita bertemu??” tanyanya terbata-bata, aku semakin bingung.

“ya, taemin-ah, kau aneh sekali, tak seperti biasa kau bertanya seperti ini, waeyo??kau ada masalah??”

“aniyo, hmm chonsa ah, aku hanya ingin  menanyakan itu, sampai jumpa lagi” taemin langsung menutup telepon tanpa aku sempat berbicara lebih jauh lagi. Benar-benar membuatku penasaran dan bertanya-tanya. Sudahlah biar besok ku tanyakan lagi saat kita bertemu.

 

Ending Chon sa POV

***

 

Author POV

 

Minggu siang terasa begitu kelam dan gelap, hujan turun dengan lebat menambah kelamnya siang ini. Padahal ini sudah masuk musim semi, tapi cuaca benar-benar buruk. Chon sa duduk seraya memandang keluar jendela dengan gelas, alisnya berkerut gelisah. Dia terkurung di rumah, sendirian hari ini, appa dan umma nya sudah 2 hari pergi ke luar kota. Dia mendesah sekali lagi.

“ku rasa taemin tak akan datang” ujarnya sedikit bete. Padahal dia sudah kangen sekali dengan sahabatnya itu, tak mungkin taemin nekat menerobos hujan selebat ini.

Bel rumahnya tiba-tiba berbunyi, chon sa bangkit berdiri dengan malas-malasan. Menggerutu kepada orang yang mengganggu keasikannya menatap hujan.

“taemin ah??” chon sa tersentak kaget melihat namja yang ada di hadapannya, basah kuyup terguyur hujan. Benar-benar tidak menyangka kalau taemin nekat datang di cuaca se ekstrem ini. Chon sa terburu-buru membersihkan dedaunan kecil yang menempel di tubuh taemin.

“ayo masuk taemin aku berikan kau baju ganti” chon sa menarik tangan taemin untuk mengikutinya masuk. Tapi taemin tak bergeming sama sekali, dia hanya mematung di depan pintu. Bibirnya sudah sangat biru kedinginan.

“waeyo??” chon sa bertanya tak mengerti.

“chon sa-ah, miane, aku, aku,” taemin terlihat sulit untuk meneruskan kata-katanya.

“sarange chon sa ah, miane” ucapnya lemah, lalu taemin pergi begitu saja meninggalkan chon sa yang hanya bisa berdiri mematung. Entah bingung atau kaget mendengar pengakuan tiba-tiba taemin.

 

***

 

Chon sa POV

 

Hari demi hari berlalu, lewat seminggu sudah semenjak taemin mengungkapkan perasaannya padaku. Dia sama sekali tidak terlihat di kampus, dia kembali menghilang tanpa kabar. Entah bagaimana perasaanku pada taemin, aku berusaha melupakan kejadian itu, berusaha tak terjadi apa-apa. Aku hanya sedikit kesal karena taemin telah membohongiku, bukannya seharusnya rasa saying itu tak ada??seharusnya rasa cinta itu tak perlu ada di antara kita, apa taemin lupa dengan komitmen kita?? Bahwa kita sahabat selamanya?? Sahabat tak mungkin berubah menjadi cinta. Apa itu cinta?? Mendengarnya saja sudah membuat hatiku sakit.

 

Sore ini aku menghabiskan waktuku duduk dibawah pohon rindang tempatku biasa berteduh. Uhh, cuaca panas sekali??sore ini yang panas atau hati inikah yang panas??bahkan semilir angin musim semi pun tak bisa memberikan kesejukkan sedikitpun untukku. Aku benar-benar tak menyangka hubungan ku dengan taemin bisa seperti ini, ini semua karena cinta, karena keegoisan cintalah yang membuatku kembali seperti ini. Aku benar-benar benci cinta !

“chon sa ah” suara seorang namja lembut memanggil namaku, taemin.

Aku menoleh, menatap wajahnya bersikap biasa saja. Wajah taemin terlihat semakin tirus.

“soal perasaanku. .”

“cukup, aku tak ingin membicarakannya” potong ku cepat, terlalu takut bila taemin mengungkit masalah cinta lagi.

“chon sa??apa aku salah jika aku menyukai chingu ku sendiri??apa aku salah menyukaimu??” tanyanya lemah.

Aku yang terlanjur tidak percaya akan cinta, justru menatapnya sinis.

“aku menyukaimu, tulus, tanpa mengharapkan balasanmu, aku hanya ingin kau tau perasaanku, tidak lebih” ujarnya lembut

“ya ! kalau kau menyukai orang lain, itu tak masalah, apa kau lupa komitmen kita??apa kau lupa kalau aku tak pernah mau percaya apa itu cinta??cinta itu omong kosong taemin ! kau sahabatku, terlalu egois jika berharap hubungan ini lebih” pekikku keras.

“apa kau bisa menebak umur seseorang??bisa saja aku mati besok, atau kau , aku tak mau hanya memendam cinta yang tak bisa ku ungkapkan, itu lebih menyakitkan dari cinta yang tak terbalaskan” taemin berusaha mengontrol suaranya agar tak terdengar emosi.

“cinta itu klise, kau lupa bagaimana ceritaku dengan namja chinguku??aku tak mau percaya cinta”desisku frustasi, mencoba membentengi diriku agar tak terlihat lemah di depan taemin.

“terserah padamu, aku tak pernah merasa bersalah karena telah mengungkapkan perasaanku padamu, sudah saatnya kau membuka hatimu untuk cinta yang baru chon sa, yang jelas aku sudah jujur kepada orang yang aku sayangi, aku tak mau menyesal nantinya”

“aku tak mau mendengar omong kosongmu tentang cinta” pekikku keras. Aku juga bingung kenapa aku bisa seemosi ini.

“chon sa-ah, kau jangan terlalu egois dan terbayangi masa lalu mu, jangan sampai kau terlambat ketika kau sudah berada jauh dari orang yang kau sayangi” tambahnya pelan, kemudian taemin pergi menjauh. Aku hanya bisa memandang kosong sekelilingku. Aku memang menyangkal semua yang taemin ucapkan, tapi kenapa hati ini justru terasa hangat??menerima semua perkataan taemin. Apa aku memang masih bisa menerima cinta yang baru??

“kenapa anak itu?!” suara teriakan seorang ahjumma membuatku berpaling ke arah jalanan. Mataku terpaku kepada sesosok namja yang tengah tergolek tak berdaya di trotoar jalan. Taemin?!

 

***

 

Author POV

 

Chon sa hanya memandang taemin dengan lemah, pandangannya hanya terfokus ke arah taemin tapi sepertinya pikirannya entah berada dimana. Dokter tadi sudah memberitahu chon sa mengenai penyakit paru-paru yang di derita taemin. Ternyata penyakitnya lebih parah dari yang chon sa kira. Chon sa memang tau kalau taemin memiliki penyakit paru-paru tapi dia benar-benar tidak tau kalau penyakit itu separah ini. Dan sudah 1 bulan terakhir taemin sedang menjalani terapi, pantas saja taemin jarang terlihat di kampus. Sekarang chon sa hanya bisa menyesali semua perkataannya kepada taemin.

Chon sa bangkit berdiri saat melihat seorang wanita, ibu taemin.

“ahjuma” gumam chonsa, wanita itu tersenyum letih, garis-garis penuaan tampak jelas tercetak di wajah cantiknya.

“kondisi taemin benar-benar tak bisa di tolong lagi, aku tak tau harus bagaimana, aku tak bisa kehilangan anakku satu-satunya” wanita itu menangis tiba-tiba, chon sa hanya bisa memeluknya, berusaha menenangkan sebisanya. Dada chon sa juga terasa sakit membayangkan akan kehilangan taemin.

“aku benar-benar bukan ibu yang baik, hanya sibuk memikirkan pekerjaan semenjak bercerai dengan appa-nya, tak menyadari anakku memiliki penyakit seserius ini” isaknya. Chon sa terus memeluk wanita itu, wajahnya tampak terlihat menahan air mata yang akan keluar.

 

***

 

Taemin POV

 

Aku hanya bisa terdiam mematung saat chon sa tiba-tiba menyetujui untuk menjadi yeoja chinguku, hatiku tiba-tiba menghangat saking gembiranya. Tapi aku tak semudah itu percaya, bagaimana mungkin hati chon sa yang sedingin Cleopatra bisa luluh dengan semudah ini??apa karena penyakitku??aku tak bisa menerima belas kasihannya.

“aniyo! Kau jangan memikirkan hal yang tidak tidak ! kita jadian, sekarang kau namja chinguku, arra ??” ujarnya tegas lalu berjalan mendorong kursi rodaku masuk ke dalam rumah sakit.

Hari hari ku lewati bersama chon sa, aku sangat senang karenanya, aku benar-benar tak peduli kalau dia menerimaku hanya karena belas kasihan, yang jelas saat ini aku sangat bahagia. aku hanya berharap agar tuhan memberikan lebih banyak kesempatan untukku bersama chon sa, orang yang benar-benar ku sayangi dengan tulus. Setelah itu aku akan benar-benar ikhlas melepaskannya bila ia ingin pergi meninggalkanku ataupun tuhan sudah tak mengijinkan ku bersamanya lagi.

Aku benar-benar mencintainya, benar-benar mencintai senyum manisnya, sifatnya, derai tawanya atau bahkan tangisannya.

Tapi terkadang aku berharap kalau dia tidak mencintaiku, aku tak mau dia menangis saat aku meninggalkannya nanti. Tak mau dia kembali tak mempercayai cinta lagi.

Chon sa??aku benar-benar mencintaimu.

 

Ending Taemin POV

***

 

Chon sa POV

 

Hari ini taemin pingsan lagi saat kami sedang berada di kafe, makin lama dia semakin sering pingsan. Setiap pingsan jantungku serasa berhenti berdetak. Wajahnya yang dulu kurus kini semakin tirus. Tubuhnya pun semakin kurus, meskipun begitu dia tetap tampan. Tetap namja tampan yang ada di hatiku.

Aku mencintainya. Ya sekarang aku bisa berkata dengan yakin kalau aku mencintainya, aku mencintainya tanpa mengharapkan balasan apapun, aku mencintai semua yang ada di dirinya, aku mencintai keberadaannya saat ini. Keberadaannya di dunia ini dan keberadaannya di hatiku bila nanti dia sudah tidak ada di dunia ini. Aku tak mau memikirkan itu lagi, yang jelas aku mencintainya dengan tulus. Aku baru menyadari semua kebodohanku yang membenci cinta dulu. Mana mungkin ada orang di dunia ini yang tak butuh cinta. Chon sa ah, kau benar-benar pabbo !

Taemin kau harus sadar secepatnya, aku sudah menyadari perasaanku yang seusungguhnya padamu,aku ingin kau tau aku tak menerimamu hanya karena kasihan padamu. Taemin sarange, kau harus bangun untuk mendengarnya.

 

***

– back sound: one more time-kim hyun joong

 

akhirnya taemin sadar, saat sadar dia tiba-tiba ingin mengajakku pergi keluar. Dia meminta ijin kepada umma dan dokter, awalnya dokter tak mengijinkan karena kondisi taemin yang lemah, tapi entah kenapa tiba-tiba dokter itu berubah pikiran. Taemin memintaku menemaninya ke daerah pantai, dia juga bersikeras tidak ingin memakai kursi roda. Sudah lama sekali dia tak menghirup udara segar. Aku hanya menyetujuinya. Hari ini aku berjanji akan mengungkapkan perasaanku padanya.

“gomawo” ujar taemin pelan, saat ini kami sedang ada di tebing karang, aku sedikit takut, tapi taemin bilang kalau ini tidak berbahaya, aku pun percaya padanya.

“ne??” tanyaku bingung

“gomawo atas semua yang kau lakukan padaku di akhir hidupku, aku bahagia sekali chon sa” ujarnya. Aku sontak menggeleng kuat-kuat.

“kau akan baik baik saja taemin, percaya padaku” aku menyemangatinya.

“aku mengerti tubuhku sendiri chonsa ah, mengerti sampai mana batasan tubuhku” senyumnya mengembang, hatiku sakit mendengarnya.

“kau tidak bole seperti itu” ujarku tercekat, aku belum siap kehilangannya, aku baru merasakan cinta ini, cinta yang manis yang tulus antara aku dan taemin. Apa aku harus kembali kehilangan cinta itu lagi??

“gomawo chon sa ah, saat aku tidak ada kau harus berjanji tak boleh terpuruk membenci cinta lagi, arra??” dia memegang kedua wajahku, menatapku dalam. Hatiku tiba-tiba sesak, apa ini sudah waktunya??sudah saatnya kah aku kehilangan taemin?kehilangan cinta yang baru saja ku dapat??air mataku tiba-tiba keluar tanpa bisa ku tahan. Taemin aku benar-benar mencintai keberadaanmu saat ini, bisakah kau terus di sisi ku??

“ya??kenapa kau menangis?bagaimana cinta bisa dengan hebat menggetarkan langit sampai-sampai membuat yeoja tegar seperti mu menangis??” ujarnya bergurau, tapi air mataku tak bisa ku tahan.

“sarange” ujarku dalam isakan tangis. Wajah taemin tersentak kaget mendengar ucapanku, kemudian dia memelukku erat.

“aku bahagia mendengarnya chon sa, tapi kenapa hati ini mengaharapkan kau tidak perlu mencintaiku??aku tak mau, kau bersedih karena kepergianku” ujarnya wajahnya terlihat sangat terluka.

“sarange yeongwonni taemin-ah” ujarku lagi dalam isak tangisku.

Taemin melepas pelukanku lembut.

“na do sarangeo chon sa ah” ujarnya lembut. Hatiku langsung terasa hangat mendengarnya. Aku berjanji akan selalu mencintaimu taemin. Kau selalu ada di hatiku. Wajah taemin mendekat ke wajahku, hangat nafasnya menyapu wajahku, aku memejamkan mataku, bibir taemin terasa lembut dan hangat menyapu bibirku. Aku benar-benar mencintaimu taemin.

“sarange yeongwonni” bisik taemin di telingaku. Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba tubuhku terasa berat, tubuh taemin menimpa tubuhku, aku pun terjatuh tertimpa taemin. Mata taemin terpejam.

“taemin ah?? Taemin ah??” pekikku kaget, air mataku tiba-tiba terjatuh kembali. Apa ini sudah benar-benar saatnya??taemin meninggalkanku??

Hatiku sakit sekali. Taemin ah aku selalu mencintaimu.

 

***

aku tersenyum untuk yang terakhir kalinya, menatap nisan bertuliskan nama taemin. Nisan tempat orang yang ku cintai di semayamkan. Orang yang benar-benar ku cintai. Aku tak ingin taemin disana merasakan kesedihanku, dan semoga taemin bahagia di alamnya. Taemin aku akan melanjutkan hidupku lagi, aku tak kan terpuruk karena masalah cinta lagi.

aku harap kau melihatku dari sana, melihatku yang sudah berubah, chon sa yang sekarang bisa mengerti apa itu cinta. gomawo taemin.

 

gomawo karena kau selalu disisiku membantuku yang terpuruk karena cinta.

gomawo karena kau selalu tersenyum untukku.

gomawo karena telah membuat aku tak membenci cinta lagi.

gomawo karena keberadaanmu sempat mengisi hidupku sehingga menjadi berarti.

taemin ah, gomawo karena telah memberikan cintamu untukku sampai saat kau diemayamkan.

aku berjanji akan menlanjutkan hidupku dengan senyum dan penuh cinta.

gomawo, sarange taemin.

 

Rasanya seperti angin musim semi, yang dinginnya menyapu tubuhku tapi juga menghangatkannya, begitupun denganmu taemin, meskipun kau tak ada di sisiku lagi, tapi kau selalu ada di hatiku menghangatkan hatiku yang dingin ini. Selalu ada tempat kosong di hatiku untukmu, ruangan khusus dimana hanya kau yang bisa membukanya.

Setidaknya saat ini aku sadar,aku tak boleh membenci cinta. Sekarang aku mengenal cinta, cinta yang tulus tanpa mengharapkan balasan. Semua itu karenamu taemin. Sekarang aku bisa tersenyum menyambut cinta yang akan datang.

sekali lagi gomawo taemin ah,,

Atas semua yang kau ajarkan kepadaku, aku selalu mencintaimu.

 

The end

2

[Freelance] Its Only You Part 13

Author            : Afi

Cast                : all members, khususnya cho kyuhyun, kim heechul, lee hyuk jae,

choi si won. Dan beberapa cast tambahan/ khayalan

Kategori         : on writing (long story), 16+

 

* Part 13 *

 

EunMi PoV

 

Aku berlari perlahan menuju kamarku dan segera membaringkan diri ditempat tidur, hari ini Eunhyuk Oppa sudah kembali baikan. Dia juga selalu mengatakan akan selalu menjagaku, Aku senang , aku senang dia tidak marah padaku. Aih~ aku harus latihan, aku mengambil pensil dan kertas music untuk mencatat not not yang ku dengar nanti

 

Aku menyalakan iPod milik Eunhyuk Oppa dan mendengarkan lagu last carnival. Wah lagu ini bagus, alunan music pembukanya benar benar indah. Aku merasa mataku sangat berat untuk terbuka, aku menutup kedua mataku dan tak terasa aku tertidur. Aku tertidur ? kenapa ? kenapa aku tau aku tertidur. Hei ? jiwaku dimana ? Kenapa disekelilingku gelap. Aku melihat seberkas cahaya kecil di sebelah kananku, aku berjalan perlahan kearah cahaya itu

 

Aku tersenyum dan seakan tak percaya melihat sesuatu yang ada dihadapanku, padang bunga yang uas dan sangat ini. Aku pasti bermimpi sekarang, aku langsung berlari dan berputar di padang bunga itu. Aku terpaku pada sebuah gazebo kecil yang ada ditengah padang bunga itu. Aku berjalan perlahan dan duduk disana. Aku menghela nafas dan tersenyum kecil, seandainya ini mimpi aku ingin menemukan tempat seperti ini di dunia nyata.

 

“Hai , boleh aku bergabung ?”Tanya seseorang dibelakangku, aku berbalik perlahan melihat kearah sumber suara itu dan terkejut melihatnya “Annyong”

 

“An..Annyeong, kau kan …”

 

“Ah iya, Annyeong Haseyo Joenun Airi Imnida, kau EunMi kan ?”

 

“Iya, aku EunMi, bagaimana bisa kau ada disini”

 

“Akan ku jelaskan nanti, boleh aku bergabung ?”

 

Aku terus memperhatikan wanita mungil itu yang sibuk menghidangkan teh dihadapanku, bagaimana dia bisa masuk kemimpiku ? Tapi kalau ini mimpi kenapa aku bisa merasakan harum teh itu nyata, dan bagaimana aku bisa tahu pembicaraanku ini. Yang paling penting, kenapa dia ada disini ?

 

“Silahkan diminum tehnya”

 

“Ah iya, gomawo”ujarku dan meminumnya perlahan “Ah Airi shi bagaimana kau bisa menemuiku ?”

 

“Aku ? aku datang sesuka hatiku EunMi ah. Apa kau lupa ? aku ini hanya bayangan bukan kenyataan”

 

“lalu ? kenapa kau datang ke mimpiku ?”

 

“Bukan aku yang datang ke mimpimu, tapi kamu yang datang menemuiku”

 

“Jinjja ? tapi…”

 

“Banyak yang ingin kau tanyakan ? Tanyakan saja selagi kita bertemu”

 

“Ah benarkah, jadi begini kenapa kau memintaku menjaga Super Junior ?”

 

“Ahm~ sudah ku duga kau menanyakan itu. Begini EunMi shi, aku menyembunyikan kotak biru yang berisi kunci time capsule bukan hanya untuk kesenangan semata. Aku menyimpannya di kamarku, di bawah kayu yang sudah retak. Sulit menemukannya jika seseorang itu tidak teliti atau pun tidak perduli akan hal kecil”

 

“Lalu ?”

 

“Itu yang pertama, yang kedua … aku yakin kalau time capsule itu akan dibuka oleh Super Junior saja, karna yang tahu letak time capsule itu hanya mereka dan aku saja. Dan masalah kunci itu juga yang tahu hanya mereka dan aku. Aku yakin jika kunci itu sampai pada mereka, yang menemukan kunci itu pasti dekat dengan mereka”

 

“Ya benar aku tahu itu, tapi kenapa kau tahu kalau yang menemukan itu perempuan ?”

 

“Bukankah aku sudah menaruh sebuah gaun disana ? entah kenapa filingku mengatakan seseorang yang menemukan kotak itu adalah perempuan, jadi aku menaruh gaun itu. Itu juga menandakan pada Super Junior, kalau kunci time capsule sudah ditemukan”

 

“Benar juga ya, saat itu Kyuhyun oppa bertanya padaku mengenai kunci itu, saat aku memakai gaunmu”

 

“Itu bukan gaunku lagi, pakailah jika kau mau EunMi ah. Semua barang barangku ku sembunyikan di balik dinding sebelah pintu. Tekan saja balok paling bawah dan kau akan menemukan sesuatu disana”

 

“Ah~ kenapa kau menyembunyikan barang barangmu ?”

 

“Aku hanya tidak ingin dilupakan, aku tahu aku jahat. Tapi aku benar benar tidak ingin dilupakan oleh mereka. Aku yakin semua barang barang ku sudah dipindah entah kemana sekarang ini”

 

“Arasso, boleh aku bertanya lagi Airi shi ?”

 

“Aku onniemu, panggil saja Onnie jangan terlalu formal seperti itu”

 

“Arasso, Apa onnie yakin aku orang yang tepat untuk dekat dengan mereka”

 

“Aku yakin itu, apa lagi kau pernah dekat dengan Kyuhyun. Magnae itu jarang sekali menyatakan suka pada seseorang loh. Bahkan kami saja tidak pernah akur, Mereka memiliki keprbadian yang berbeda. Tapi jiwa mereka tetap satu EunMi ah, mereka sulit berpecah. Ingat itu”

 

“Aku tahu, aku bisa melihat keakraban mereka”

 

“Ah kalau masalah heechul Oppa, kau tak perlu khawatir. Dia memang dingin tapi disisi lain dia sangat perhatian pada wanita, moodnya suka berubah. Tapi… saat dia ada disampingmu, kau akan merasa sangat nyaman”ujarnya membuatku menggangguk pelan

 

“Sepertinya waktu kita sudah habis, aku akan merindukanmu EunMi ah”

 

“Ne, ah onnie bagaimana aku bisa bertemu denganmu lagi ?”

 

“Aku ada dimana saja, saat kau membutuhkanku aku akan menghampirimu”

 

“Arasso, tapi Onnie… seandainya mereka tidak menerimaku ?”

 

“mereka akan menerimamu, layaknya aku. Oh ya boleh aku minta tolong sekali lagi ?”

 

“Apa ?”

 

“Tolong berikan kotak hitam yang ada di balok paling bawah pada Heechul Oppa”

 

“Arasso”

 

“Sampai Jumpa EunMi ah ~ sampai kan sayangku pada Super Junior”

 

Aku terus memperhatikan kepergiannya, Ia berjalan dengan anggun ditengah padang rumput. Kurasakan angin sepoi yang meyapa rambutku. Ini pertama kalinya aku berbicara dengan Airi shi, aku merasanya nyaman. Aku merasa memiliki kakak perempuan. Ku baringkan diriku dan perlahan ku tutup mataku.

 

Aku membuka mataku perlahan, kupandang langit langit kamarku dan segera beranjak duduk. Aku … aku kembali kekamar, tadi itu hanya mimpi. Aku melihat iPod Eunhyuk Oppa yang sudah mati. Bukankah aku sedang mendengarkan last carnival tadi ? Aku beranjak berdiri dan segera berjalan menuju pintu kamarku. Sebelum membuka pintu aku memandang dinding yang ada disebelahku. Apa benar ? itu mimpi ? tapi kenapa perasaanku bilang itu kenyataan.

 

Aku menunduk dan mendekat kearah tempat yang ku dengar dimimpi tadi. Aku menekan beberapa balok di dinding dan ternyata ada satu balok yang goyah dan dapat dilepaskan dari kerumunannya. Aku mengambil sebuha kotak yang cukup besar didalamnya dan segera mengluarkannya. Kubuka kotak itu, dan terdapat beberapa kotak kecil, handphone, dan foto foto yang tersusun rapi. Ini kenyataan. Aku mengambil kotak hitam yang cukup mencolok dan segera memasukkannya ke dalam tasku

 

Aku berjalan menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri. Kukenakan kaos tebal dan celana panjang dan juga mantel panjangku. Aku berlari keluar kamar dan segera berlari menuju rumah Heechul Oppa. Aku menutup pintu rumahku dan pada saat itu pula pintu lift terbuka, kulihat Heechul Oppa yang sedang berjalan keluar lift menuju rumahnya.

 

“Heechul sshi !”seruku menghentikan langkahnya dan berbalik melihatku

 

“Apa ?”

 

“Ah~ ini aku hanya ingin memberikan ini”ujarku sambil memberikan kotak hitam yang ada didalam tasku “Aku… aku hanya ingin memberikan itu”

 

“Ini apa ?”

 

“Sejujurnya aku tidak tahu, tapi firasatku bilang. Aku harus memberikan kotak itu padamu”

 

“Aneh~”

 

“Sebenarnyanya aku juga tidak percaya hal ini, tapi meski sulit dipercaya. Ini memang kenyataan”ujarku membuatnya menyipitkan mata dan segera mengangguk pelan

 

***

Heechul PoV

 

Aku berjalan perlahan menuju kamar dan membuka kotak hitam yang diberikan EunMi padaku. Aku membuka pita hitamnya perlahan, aku menahan tanganku dan segera meletakkan kotak itu di atas meja riasku. Aku berbaring sebentar dan merasakan degup jantung yang cepat. Apa ini ? pasti ini tentang Airi lagi. Aku belum siap untuk hal ini, aku benar benar belum siap.

 

Aku beranjak duduk ditempat tidurku dan kembali melihat kearah kotak hitam yang kuletakkan diatas meja rias. Aku membuka kotak tersebut dan kutemukan sebuah sweater panjang berwarna putih didalamnya. Aku mengambil sweater itu dan mencium wangi bunga lili, benar benar tentang Airi lagi. Aku membuka Sweater itu dan melihat tulisan disudut bawahnya.

 

Kim Heechul, tulisan itu terajut rapi dengan warna pink. Aku membuka sweater itu dan Prak~ sesuatu jatuh dari lipatan sweater itu.Aku mengambil kota kaset itu dan segera menyalakannya di laptopku. Aku memakai headset dan mulai menyalakan kaset itu. Beberapa lama menunggu tiba tiba suara Airi terdengar cukup keras di headphone ku. Aku langsung memangku laptopku dan melihat video itu dengan serius.

 

Benar benar tidak bisa dipercaya, aku mengulurkan tanganku dan menyentuh layer laptopku. Heenim kau bisa melihat bidadarimu lagi. Aku melihat Airi dan segala tingkah lucunya dilayar laptopku.Beberapa video tampil dilayar laptopku, mulai dari awal pertemuan, perjalan pertama ke sungai han, saat Airi kembali ke jepang, sampai saat Aku menyatakan perasaanku padanya.

 

Alunan lembut biola Airi pun berhasil membuat air mataku jatuh satu persatu.

 

“Tes…tes… Heenim annyeong”

 

“Airi”ujarku pelan saat semua video itu berubah menjadi sosok Airi yang sedang berwebcam sendiri “Airi joengmal ini Airi”

 

“Aih mianhae, kau pasti marah jika ku panggil begitu. Aku ganti deh, Heechul oppa Annyeong Haseyo”

 

“Kau …”

 

***

EunMi PoV

 

Aku melirik kekanan dan kiri, sambil menggendong buku tebalku kulangkahkan kakiku perlahan menuju sebuah lorong yang sangat ramai. Aish~ disana ruangannya, tapi… aku tidak bisa seenaknya masuk kesana aku kan bukan siapa siapa, lagipula ada manager mereka diluar. Aku berbalik dan mengurungkan niatku untuk berjalan kesana.

 

Brak~ auch sakit, aduh lagi lagi aku menabarak sesuatu, aku yang masih terduduk dilantai sedikit menggerutu kecil karna seseorang yang sudah menabrakku tadi langsung pergi meninggalkanku dengan buku bukuku yang berantakan. Aku benci hari ini. Aku segera berdiri dan mulai membanahi buku tebal dan isi tasku yang berjatuhan dilantai.

 

“Agashi ? gwenchana ?”

 

“Ah~ gwenchana, gomawo”ujarku pada wanita itu dan tersenyum kecil, diakan kembarannya Airi shi

 

“Tidak masuk ?”tanyanya membuatku bersikap gugup dan hanya terkekeh pelan

 

“Aku menunggu mereka diluar saja,”

 

“Mereka keterlaluan tidak membiarkanmu masuk. Ayo ikut aku”ujarnya sambil menarik tanganku dan menggandengku hingga tepat didepan pintu

 

“Annyeong ~”teriaknya saat membuka pintu

 

“Ne, annyeong”ujar SungMin Oppa yang langsung menyambut Kairi dengan pelukan

 

“Eunmi kenapa baru datang ?”

 

“Dia sudah datang dai tadi, apa kalian tidak memberikannya passport pass ?”

 

“Ah~ iya kami lupa”ujar donghae oppa sambil memelukku dari belakang “Mianhae”

 

“kau pasti menunggu diluar”ujar Leeteuk Oppa yang langsung berdiri dari tempat duduknya “Mianhae EunMi ah”

 

“Gwenchana oppa, jangan begitu aku jadi tidak enak”

 

“ne, arasso. Oh ya chagiya ? wae ?  kenapa tumben datang kesini ?”Tanya Leeteuk Oppa sambil mengecup pipi kairi shi dengan lembut

 

“Ah ya, aku hampir lupa. Aku ingin minta bantuan kalian, Lusa malam aku akan menggelar pagelaran busana. Ini undangan untuk kalian”

 

Aku menerima undangan itu dan tersenyum kecil, hebat bukankah Kairi shi masih aktif didunia hiburan ? tapi dia bisa membuat fashion show di waktu yang sangat dekat. Dia luar biasa, perempuan yang hebat. DongHae Oppa juga segera melihat selembaran yang diberikan Kairi shi padanya.

 

“Wah, sudah mau pagelaran lagi ? bukankah Noona baru menyelesaikan drama kemarin”

 

“Iya, aku baru saja menyelesaikan sketsa terakhirnya kemarin. Kalian harus datang”

 

“Tentu Noona, kami pasti datang”

 

“Aku mau minta tolong satu hal lagi”

 

“Apa ?”Tanya SungMin Oppa

 

“Aku ingin minta tolong, untuk SiWon dan Heechul sshi agar menjadi modelku nanti”

 

“Oke, aku akan sampaikan pada manager hyung”

 

“Ah~ syukurlah, kalian harus datang ya”

 

“Aku tidak mau”ujar seseorang dari belakangku, aku berbalik pelan dan melihat sosok Heechul oppa baru memasuki kamar ganti Super Junior “Maaf aku keberatan”

 

“What ? Heenim ah~ come on, aku sudah menyiapkan beberapa baju untukmu”

 

“Maaf Kairi ah, tapi aku tidak berminat dengan modelling”

 

“Oke… oke, kau bebas memilih pasanganmu saat di cat walk”

 

“Wow ? aku tahu kau pandai membujuk chagiya”ujar Leeteuk Oppa sambil memeluk bahu Kairi shi

 

“Katakan siapa yang kau ingin kan ? Jessica SNSD ?”

 

“Anio”

 

“SulLi ?”

 

“Anio”

 

“Victoria ? ani….Krystal , ani… ahm Yuri shi”

 

“Ani… ani… anio”

 

“Jadi siapa ? kau tidak mungkin meminta aku kan”

 

“Kalau dengan adikmu aku mau”ujar Heechul oppa membuat Kairi shi berdecak palan dan menghentakan hak tebalnya dilantai

 

“Katakan saja siapa, aku akan membujuknya dan membawanya untuk tampil bersamamu”ujar Kairi sambil menghela nafas kencang

 

“EunMi… Kim EunMi”ujar Heechul Oppa dengan lantang dan memeluk pundakku

 

“MWO ?”seruku dan melepaskan rangkulannya “Ani… aku tidak bisa, aku tidak mau”

 

“Aku tidak mau kalau bukan EunMi, selanjutnya urusanmu”ujar Heechul sambil menepuk bahu Kairi shi

 

Kairi shi memandangku dengan tatapan memohon, aku mengigit bibiru pelan dan melihat sekelilingku dan yang sudah memperhatikan aku. Kumohon… jangan aku, janga melihatku seperti itu. Aku tidak bisa melakukannya, ku mohon jangan aku… jangan aku

 

“kairi shi”ujarku pelan

 

“EunMi Shi, kau tahukan perasaanku sekarang. Kumohon”ujarnya lirih sambil menggenggam kedua bahuku

 

Bagaimana ini ? wajah ini … ingin sekali aku membantunya, tapi aku tidak ingin mengecewakannya nanti. Heechul Oppa kau membuatku jadi serba salah. Aku benci … benci padamu. Aku melirik kearah siapa saja yang ada disebelahku untuk meminta bantuan, tapi oppa yang lain hanya mengangkat bahu saja

 

“Aku bisa membatalkannya jika kau tidak mau”

 

“hah~”ujarku lemah “Arasso, aku akan coba”

 

“Gomawo”serunya sambil memelukku dengan erat “Jongmal gomawo EunMi ah, joengma gomawo” tambahnya

 

“Ne… sama sama”ujarku lemah

 

“Aku harus mengabarkannya, HEENIM ~ I got you babe !”serunya dan segera keluar dari ruang ganti Super Junior

 

“Eottohke ? bagaimana ini”gerutuku dan langsung duduk dikursi yang ada dibelakangku

 

“Kau baik baik saja kan”Tanya Ryeowook Oppa yang sudah menepuk bahuku

 

“Aku rasa aku benar benar dalam masalah”

 

“Dia memang pintar membujuk”ujar Leeteuk membuat yang lain menggangguk pelan

To Be Continued….

P.S from Author : teman teman jangan terpaku sama EunMi ya … cerita ini memiliki beberapa tokoh yang tak kalah penting hehehe. Gomawo, ceritanya makin rumit jadi jangan lewatkan satu perkataan pun ya hahahah :D.

 

3

And Our Memories [Part3]

Title : And Our Memories

Main Cast :

Song Eunjin

Choi Jonghun

Other Cast : FT.Island

Image and video hosting by TinyPic

 

Nomornya tak kukenal.

 

“Yobseo…” suaraku.

 

“Yobseo… Song Eunjin…” suara di seberang.

 

“Ne. aku Song Eunjin…”

 

“Kami dari redaksi majalah… ingin memberitahukan, kalau kau diterima… selamat Eunjin…” ujarnya.

 

Mwo? Redaksi majalah? Ah Jeongmal? Continue reading

11

[Freelance] Heart Of The Black Piano part 6

Author : veahwa eunve

Title : heart of the black piano

Genre : sad romance

Cast :

Park jung soo (leeteuk suju)

han soo ra

Kim jong woon (yesung suju)

Kim eun joo

 

Part 6

 

“bagaimana kelasmu??” tanya jong woon. Ini hari pertama soo ra mulai kuliah dikorea.

“semuanya baik2 saja. . . suasana disini lebih nyaman daripada disana. . .”

“jjinja?? Bagus kalau begitu. . .”

“mm. . .  aku ingin mencari eun joo setelah ini, kau bilang dia ada dijurusan arsitek bukan??”

“ne, maaf aku tidak bisa menemanimu, sebentar lagi aku ada kelas. . .”

“tidak apa2 oppa, pergilah. . .”

“mm. . . nanti kita pulang sama2!!”

“ne,”

Soo ra menatap kepergian jong woon sejenak kemudian berbalik dan melangkah menuju tempat eun joo. Ia berjalan pelan melewati koridor yang lumayan sepi.

“park jung soo ssi!!!”

Soo ra membeku mendengar nama itu dipanggil. Ia berbalik kebelakang dan mendapati seorang namja yang sedang melambaikan tangannya kepada namja yang memanggilnya tadi.

“ada apa??” tanyanya pada namja itu.

Sepertinya mereka sedang membicarakan tentang tugas kuliah. Mata soo ra tidak berkedip menatapnya. Ia sudah berubah sekarang. . . sudah lebih tinggi. . . rambutnya masih sama panjang, tapi dicat pirang. . . wajahnya jauh lebih manis. . . dan kalung itu, masih tetap melingkar dilehernya. Tiba2 saja soo ra tangan soo ra menekan dadanya, terasa sakit. . .

Namja itu memberikan beberapa lembar kertas kemudian berjalan pergi. Sedangkan jung soo menggulung kertas itu dan memasukkannya kedalam tas dan berjalan lagi, kearah soo ra??

Soo ra merasa jantungnya melambat. Masih ditatapnya namja itu, namun tubuhnya membeku saat jung soo melewatinya begitu saja. Dengan cepat ia berbalik.

“oppa. . .” panggilnya lirih.

Jung soo menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap soo ra dengan bingung. Matanya menatap sekelilingnya memastikan kalau dirinyalah yang dipanggil.

Air mata soo ra menetes begitu saja tanpa ia sadari. Jung soo menghampirinya dengan wajah bingung.

“kau memanggilku??” tanyanya bingung.

Tiba2 saja soo ra memeluknya erat. Rindu. . . ia benar2 merindukan namja itu. . . walaupun hatinya terasa berdenyut2 perih.

“yaak. . . apa yang kau lakukan??” tanya jung soo kaget.

“ini aku. . .” bisik soo ra pelan, kemudian ia melepaskan pelukannya dan menatap namja itu “maafkan aku. . .”

“ma. . .maaf. . .” ucap jung soo pelan “tapi. . . apakah kita saling kenal??”

Soo ra menatap terkejut “kau. . . tidak mengenaliku. . .??” tanyanya lirih dengan tatapan tidak percaya.

“maaf. . . aku benar2 lupa. . .”

“aku han soo ra oppa. . .”

“han soo ra. . .” jung soo mengerutkan alisnya “sepertinya aku pernah dengar. . . ah iya, kau han soo ra temannya kim eun joo itu bukan?? Tapi eun joo bilang temannya itu ada diparis. . .”

“ya, benar. . . aku temannya eun joo. . .baru datang dari paris kemarin. . . tapi bukan itu oppa. . . apa kau benar2 sudah melupakanku?? Melupakan tentangku??” tanya soo ra lirih hampir tidak terdengar.

“maafkan aku. . . kata orang tuaku dulu aku pernah mengalami kecelakaan, dan sejak itu aku tidak ingat masa laluku. . .apa dulu kita saling kenal??”

Air mata soo ra jatuh. Ia menatap jung soo dengan pandangan tidak percaya “kau. . .lupa segala2nya. . .??” bisiknya lirih. Soo ra menggeleng pelan kemudian menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan berbalik, berlari pergi. . .  meninggalkan jung soo yang masih bingung.

 

Air itu menetes lagi. . . ya, selalu saja begitu. . . entah sudah berapa banyak air mata yang dikeluarkannya, soo ra tidak tau. Fakta bahwa jung soo tidak ingat apapun tentangnya begitu sangat menyakitkan. Tidak. . . soo ra menggeleng pelan. Ini yang terbaik. . . ia mendengar hati kecilnya berkata. Biarlah jung soo tidak ingat apapun tentangnya. . . biarlah jung soo tidak ingat apapun tentang kenyataannya. . . biarlah ia tidak ingat. . .

Soo ra menghela nafas pelan dan menghapus air matanya. Dadanya masih terasa sakit. ia membutuhkan udara lebih banyak ditempat tak terbatas itu. otaknya mencoba berfikir jernih. Ia bisa menganggap semua masa lalunya itu sebagai mimpi panjang, karna saat ini, hanya ia yang tau kenyataan yang sesungguhnya.

Ia bisa melupakan masa lalunya, ia bisa melupakan kenyataan itu, namun, apa ia bisa melupakan rasa yang ada dihatinya itu?? tidak, tidak. . . bukan melupakan tapi menghilangkan. Apa ia sanggup?? Ia tak tau. . . karna hingga kini, ia masih berharap semua itu tidak benar. . .

Biarlah. . . biarlah rasa sakit ini ditanggungnya sendiri. . . melihat bahwa jung soo bisa kembali seperti dulu lagi, sudah cukup untuknya. Dan kalaupun saat ini jung soo hidup dalam mimpinya, ia tidak akan pernah membangunkannya dari kenyataan yang ada.

Tiba2 saja kepalanya terasa sakit. benar2 sakit. ia memegang kepalanya erat. Samar2 didengarnya ponselnya berbunyi.

“yeobseo. . .??” jawabnya sambil menahan sakit “oppa. . . aku ditaman belakang kam__” kata2 soo ra terputus karna tiba2 saja semuanya berubah menjadi gelap. . .

 

“yaak eun jo ah!!!” teriak jung soo tepat dihadapan gadis itu.

Eun joo terlonjak kaget kemudian mengerucutkan bibirnya “kenapa kau berteriak didepanku??” gerutunya.

“kenapa kau menatapku terus??” tanya jung soo “jangan jangan. . . . kau menyukaiku ya??”

Eun joo mendengus keras “bermimpilaaah. . .!! aku hanya mencintai jong woon oppa!!”

Gantian jung soo yang mengerucutkan bibirnya “terlihat sangat jelas!!”

“oppa. . .”

“mm??”

“apa sebelumnya kita pernah bertemu??” tanya eun joo pelan.

“aaaiiiissshh. . . . kau ini bicara apa?? Tentu saja kita pernah bertemu!! Satu setengah jam yang lalu kita bertemu dikoridor, kemarin juga kita bertemu, kemarin kemarinya lagi kita juga bertemu, aku sampai bosan melihatmu. Aku heran, kita hanya satu club melukis tapi kau sering sekali berkeliaran didekatku!!”

“bukan itu maksudku. . .” kata eun joo sambil cemberut “sebelum kita bertemu di kampus ini sepertinya aku pernah melihatmu. . . tapi aku lupa. . . jong woon oppa juga pernah bilang padaku kalau wajahmu sepertinya tidak asing!!”

“hmm. . .mungkin saja dulu aku orang yang terkenal. . .” jung soo terkekeh.

“kau ini, selalu saja memuji diri sendiri!!” runtuk eun joo.

“sudahlah, lebih baik kau selesaikan lukisanmu!!”

“aku sudah selesai!!”

“mwo?? Kenapa cepat sekali?? Aiiissh. . .” runtuk jung soo “aku heran, kata eomma aku suka melukis, tapi kenapa aku tidak bisa melukis ya??” gumamnya pelan.

“memangnya apa yang kau sukai??”

“hmm. . . entahlah. . . tapi saat aku melihat alat2 musik, terutama piano. . . aku ingin sekali memainkannya. . . tapi sudah pasti aku tidak bisa!!” jung soo tersenyum lemah “eomma bilang dulu aku suka sekali menggambar, karna itu aku masuk club melukis, ia ingin aku menjadi seorang arsitek!!”

“mm. . . oppa. . . kau bilang dulu kau pernah mengalami kecelakaan, kenapa bisa??”

Jung soo terdiam sejenak sambil memandang lapangan basket universitas mereka “entahlah. . . sejak kecelakaan itu aku tidak ingat apapun kejadian sebelumnya. eommaku bilang saat itu aku kabur dari sekolah karna bertengkar dengan teman2ku, kemudian aku mengalami kecelakaan saat pulang kerumah!! Teman2ku juga bilang begitu. . . aku pergi begitu saja setelah aku marah pada mereka, bahkan kata mereka aku sempat membanting ponselku. . .tapi mereka tidak tau kenapa aku marah2. . . sampai sekarang hal itulah yang ingin kuketahui. . .”

“apa kecelakaan itu begitu parah??”

“eomma bilang aku sempat koma dua minggu dan baru sadar setelah hampir sebulan. . .karna itu aku harus mengulang lagi pelajaranku dan jadi seangkatan denganmu, asal kau tau, sebenarnya aku ini ada ditingkat atasmu!!”

“ne, ne. . . kau sudah mengatakan itu ribuan kali!!”

“ah, aku baru ingat, kemarin ada seorang gadis menemuiku. . . dia bilang dia adalah temanmu!!”

“temanku??”

“ne, kalau tidak salah dia temanmu yang dari paris. . . siapa namanya. . .han. . .han. . .”

“han soo ra??”

“ah, benar, han soo ra!! Dia gadis yang aneh. . .”

“mwo?? Jangan bercanda denganku oppa!! mana mungkin soo ra disini?! Jong woon oppa tidak mengatakan apapun padaku!!”

“apa hubungannya dengan jong woon??”

“dia itu sepupunya jong woon oppa!!”

“aku tidak bohong!! Tanya saja dia kalau tidak percaya!!”

Eun joo mengambil ponselnya kemudian beranjak dari duduknya dan menjauh dari jung soo.

“kenapa dia harus selalu menjauh saat menelphone laki2 itu?!” gerutu jung soo kesal.

 

“ah oppa??” sapa eun joo begitu jong woon menjawab telphonenya. “kau ada dimana sekarang?? . . .oh begitu, . . .ani. . . aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu, apa soo ra pulang kekorea??. . . jjinja?? Kenapa kau tidak memberitahuku?? . . . kejutan?? . . .ah ne, ne, aku akan mencarinya sekarang!! Anyeong!”

Eun joo menutup ponselnya kemudian berlari kearah jung soo dan mengambil gambarnya “oppa, kau pulang sendiri saja nanti, aku ada urusan!!”

“mau kencan dengan laki2 itu??” tanya jung soo.

“apa2an kau ini, sudahlah teruskan saja lukisanmu!!” dengan cepat eun joo membereskan peralatannya dan pergi meninggalkan jung soo.

 

“yaak han soo ra!!!”

soo ra menoleh dan mendapati seorang gadis sedang berlari2 menuju kearahnya “eun joo ah??”

“akhirnya kita bisa bertemu!!” katanya dengan nafas tersegal “ah, aku sangat merindukanmu!!” eun joo memeluk tubuh soo ra sebentar.

“aku juga. . .” balas soo ra.

“kemarin aku mencarimu, tapi kau sudah meninggalkan kampus!! Kenapa tidak memberitahuku kalau kau ada dikorea?? Sampai2 jung soo oppa yang mengatakannya kepadaku!!”

“kau mengenalnya??” tanya soo ra dengan terkejut. Ia baru ingat sekarang kalau kemarin jung soo sempat menyebut nama eun joo, tapi saat itu fikirannya sedang kacau!!

“tentu saja, dia temanku sejak aku masuk universitas ini, dan kami sama2 diklub melukis!! Tunggu dulu. . . bagaimana dia mengenalmu?? Apa kau juga mengenalnya??”

Tubuh soo ra membeku. Apa yang harus ia katakan. Apa??

“a. . .aku. . . kami. . . tidak sengaja bertemu, aku menanyakannmu, dan kebetulan ia mengenalmu!!” jawab soo ra berbohong, ia tidak sempat memikirkan alasan lain.

“oh begitu. . .” saut eun joo paham “ah, bagaimana kabarmu??” tanyanya riang.

“aku baik. . .” jawab soo ra pelan.

“sekarang kau tinggal dimana??”

“aku ada dirumah jong woon oppa. . .”

“ah, itu bagus!! Ada banyak hal yang harus kau ceritakan kepadaku, nanti selesai kuliah aku akan mampir kerumah jong woon oppa!!”

“hmm benarkah?? Kau ingin mendengar ceritaku atau ingin bertemu dengan oppa??” goda soo ra, ia sudah bisa menguasai keadaannya.

“hmmm. . . dua-duanya!!” jawab eun joo sambil tertawa kecil.

“yaaak eun joo ah!!!”

Soo ra membeku mendengar suara itu. ia mengenalnya. . . ia mengenal suara ini,

“jung soo oppa!!” sapa eun joo ceria.

Belum sempat soo ra memikirkan apa yang harus dilakukannya, namja itu sudah ada dihadapannya.

“kenapa kau datang sekarang?? Tidak biasanya. . .” kata eun joo.

“memangnya tidak boleh? Ini bukan kampusmu, jadi aku bebas datang kapan saja!!”

“baiklah baiklah. . .”

“oh, kau yang kemarin kan??”

Soo ra tersentak kaget saat menyadari jung soo sedang berbicara kepadanya. Rasa sakit itu kembali berdenyut didadanya. Soo ra menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh. Ia mengangguk perlahan.

“ah, kebetulan, aku mau tanya kepadamu, kenapa kemarin kau tiba ti__”

“aku salah orang, maaf. . .” potong soo ra cepat. Ia tidak ingin eun joo tau hal itu. ia tidak ingin orang lain tau.

“apa??” tanya eun joo bingung.

“ani. . .” jawab soo ra langsung kemudian menatap jung soo.

Sepertinya laki2 itu memahami arti tatapannya “bukan urusanmu nona cerewet!!” saut jung soo pelan sambil mengacak2 rambut eun joo.

Ya tuhan, kenapa mereka begitu akrab?? Luka yang semula berdenyut perih didada soo ra kini mulai berdarah lagi. Kenapa ia masih saja tidak bisa menghilangkan rasa yang ada dihatinya??

“yaak oppa, hentikan!!!” gerutu eun joo sambil merapikan rambutnya. “ah, jong woon oppa!!” teriak eun joo tiba2.

Soo ra dan jung soo sontak melihat kearah tatapan eun joo, dan benar saja, disana terlihat jong woon sedang berjalan sambil membawa beberapa map.

“soo ra ah, aku kesana dulu ya!!” katanya cepat dan langsung berlari kecil menuju joong woon.

Hening sejenak, mereka masih menatap sosok eun joo.

“selalu saja begini. . .” kata jung soo memecah keheningan.

Soo ra menoleh menatap laki2 yang masih memandang eun joo itu.

“kenapa ia selalu meninggalkanku saat melihat laki2 itu. . .??!” gerutu jung soo.

“kau menyukainya??” tanya soo ra terkejut.

Laki2 itu menoleh kearah soo ra “apa terlihat jelas??” tanyanya.

Seketika itu juga kepala soo ra terasa tertusuk. . . benar2 sakit. . .

“kau kenapa??” tanya jung soo cemas saat melihat soo ra memegang kepalanya dengan setengah sadar.

“aku tidak apa2. . . lepaskan aku. . . aku harus pergi. . .”

“apa kau yakin??”

“ya. . .”

Dengan menahan sakit soo ra berjalan meninggalkan jung soo. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegahnya. Sakit. . . benar2 sakit. . .

 

 

Soo ra menatap ruang music yang terbuka pintunya itu kosong. Ia melihat ada piano disudut ruangan itu. dengan ragu2 ia melangkah pelan masuk kedalam ruangan itu. bukan piano hitam yang sama, namun mampu menariknya kemasa lalu lagi. Ia duduk di depan piano itu. air matanya bergulir. . .

Ia tidak mampu membaca takdirnya. . . kenapa jalan hidupnya seperti ini?? perlahan ia menekan tuts2 piano itu. rasa itu masih sama seperti empat tahun yang lalu. . . lagu itu juga masih sama, dengan melody yang sama juga. . . tapi tidak dengan kenyataan. . .

Kenyataannya adalah, saat ini. . .laki2 itu tidak mengingat apapun tentang masa lalunya, saat ini. . . laki2 itu telah menyukai gadis lain. . . dan saat ini, tidak ada namanya ataupun tentangnya dihati laki2 itu. . .

Lagu itu mengalun lembut, seolah2 menyampaikan perasaan soo ra. Soo ra memejamkan matanya, dan air matanya terus berjatuhan. Pada akhirnya melody itu memelan dan berakhir, hening. . . sama seperti yang dirasakannya sekarang, kekosongan dan kehampaan. . .

Ia membuka mata dan mengusap pipinya yang basah kemudian beranjak dari duduknya dan berbalik. . . saat itu juga tubuhnya membeku. Laki2 itu, park jung soo, ada disana sedang bersandar di ambang pintu. Kedua tangannya dilipat didepan dada dan matanya, menatapnya lekat2. . . air mata soo ra, jatuh begitu saja tampa sempat dicegahnya. . .

 

To be continue. . .

50

[Freelance] My Marriage Life part 8 {END}

Title : My Marriage Life

Author : Minyoung

Casts : Lee Donghae, Lee Kikwang, Nam Minyoung

Genre : Romance

Rating : PG-15

 

 

 

Aku dan Kikwang menunggu Haejin di ruang tunggu rumah Sakit. Sebelumnya aku menelfon Donghae dari handphone Kikwang. Aku lupa membawa handphoneku tadi, karena terlalu terburu-buru dan panik. Donghae bilang akan datang 15 menit lagi karena masih ada urusan yang benar-benar tidak bisa ditinggal di kantornya. Dan Minho sedang ada di Incheon mengantar tamu perusahaan ke bandara.

 

Haejin akhirnya diputuskan untuk dirawat didalam ruang ICU. Dokter bilang Kankernya sudah menyebar. Dan sudah tidak bisa hanya menggunakan chemo. Jika tidak cepat diangkat akan lebih menyebar dan akan lebih menyakitkan bagi Haejin. Dokter sedang mengatur jadwla operasi pengangkatan bagi Haejin.

 

Aku merasa bersalah pada Haejin. Bisa-bisanya aku marah dan benci pada Haejin hanya karena cemburu padanya. Aku biarkan pun Donghae tetap suamiku yang jelas-jelas aku tahu bahwa Donghae teramat sangat mencintaiku. Dan melihat Haejin yang seperti tadi, tidak berdaya dan rapuh. Sangat amat kebalikan seperti yang Haejin yang angkuh jika sedang berhadapan denganku.

 

Aku seperti merasakan semua kenelangsaan hidupnya selama ini. Sekarang aku mengerti sikap Haejin yang sangat angkuh terhadapku. Mungkin dia sudah sangat muak dengan semua tatapan iba dan kasihan terhadapnya yang mengetahuinya sedang sakit seperti itu. Ditambah lagi ia ditinggalkan oleh tunangannya untuk menikah dengan wanita lain yang lebih sehat lahir dan batinnya.

 

Tidak terasa air mataku tumpah. Dan Kikwang yang menyadari aku menangis langsung memberikan pundaknya untuk menangis. Kikwang mengusap-usap punggungku lembut dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya membelai rambutku. Aku malah semakin terisak.

 

”Inikah yang selalu kalian lakukan saat aku tak ada hah?” Donghae datang dan langsung menarikku.

 

”Aku hanya menenangkannya hyung!”

 

”Menenangkan dan masih mencuri kesempatan untuk memeluknya?” Donghae mengangkat kerah baju Kikwang.

 

”Ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar Donghae!” Aku menarik tangnnya dan memeluknya.

 

Aku mendengar suara detak jantung Donghae yang bergemuruh.Ia sedang marah saat ini aku tahu. Aku melepaskan pelukanku dan Menarik Donghae untuk ke kantin di lantai bawah. Donghae tetap menatap sinis Donghae. Aku menolehkan kepalanya lembut.

 

”Ayo kita ke kantin bawah.” Donghae tidak membalasku dan malah menggamit tanganku dan menarikku dengan berjalan cepat. Aku menyamai langkahnya dengan setengah berlari.

 

Sesampai di kantin aku sengaja duduk di meja agak dipojok dekat jendela yang tidak terlalu ramai. Donghae duduk dan aku memesan dua cangkir teh hangat lalu langsung membayarnya di kasir.

 

”Donghae-ya.” Aku duduk diseberangnya dan Donghae malah menoleh kearah luar jendela.

 

”Sayaaaang..” Aku mengambil tanggannya untuk ku genggam. Akhirnya Donghae menengok kearahku.

 

”Jangan marah ya.”

 

”Bagaimana caranya? Apa kau bisa memberi tahuku?”

 

”Donghae-ya”

 

”Bukankah sudah kuperingatkan kau agar tidak duduk disebelah Kikwang kurang dari satu meter? Tapi tadi malah….. Haaah!!” Donghae kembali menoleh kearah luar.

 

”Iya aku salah. Aku tidak mendengarkan peringatanmu. Tadi Kikwang hanya sedang menenangkanku yang sedang menangis saja sayang.”

 

”Tapi aku tidak suka.”

 

”Iya aku tahu. Aku minta maaf. Eung?”

 

”Mulai dari sekarang jangan pernah lagi menangis di depan laki-laki lain selain dengaku!! Terutama di depan Kikwang!”

 

”Iya aku janji!” Aku membentuk angka v dengan kedua jari telunjuk dan tengahku.

 

”Awas saja sampai terulang!”

 

”Iya iya kau cerewet sekali. Kan aku sudah berjanji tadi.” Aku mengerucutkan bibirku dan Donghae tersenyum.

 

”Bagaimana Haejin?”

 

”Sekarang dia sedang berada di ruang ICU, dan dokter sedang mengatur jadwal operasi pengangkatan untuknya. Kankernya sudah semakin menyebar sudah tidak mempan lagi dengan hanya di chemo.”

 

”Memang tadi dirumah Haejin kenapa?”

 

”Aku juga tidak tahu. Setelah makan Haejin langsung kembali kekamarnya. Aku dan Kikwang masih di meja makan. Dan tiba-tiba saja Haejin berteriak. Dan sat aku masuk kekamar dia sedang meringis kesakitan di lantai lalu pingsan. Kikwang langsung menggendongnya dan membawanya kesini.”

 

”Maaf..permisi..” Seorang waiter menaruh dua cangkir teh didepanku dan Donghae.

 

”Ah ye. Gomawoyo.” Aku menjawab. Dan langsung menyeruput teh hangat di depanku.

 

”Apa kau sudah menelfon ibu Haejin?”

 

”Sudah tadi dari telfon kantor. Katanya dia baru bisa pulang lusa. Besok pemakamannya. Dan Ibu Haejin mempercayakan aku untuk mengambil segala keputusan untuk Haejin bila ada sesuatu sebelum ia pulang.”

 

”Syukurlah kalau begitu.” Aku kembali menyeruput tehku

 

”Sayang..”

 

”Heem?”

 

”Karena Haejin di rawat, dan pasti harus ada yang menjaganya kan? Dan Ibu Haejin belum pulang, eehm…”

 

”Kau mau menjaganya dan menginap disini?”

 

“Hah? Iya.. apakah boleh?”

 

“Yasudah. Tidak apa-apa kok sayang.” Aku tersenyum kearahnya.

 

”Benar? Kau tidak marah?”

 

”Ia aku tidak marah, tapi aku ikut menginap juga.”

 

”Hah? Tapi kan kau sedang hamil.”

 

”Memangnya kenapa? Ada larangan ibu hamil dilarang menjaga pasien rumah sakit memang?”

 

”Tidak ada. Tapi kan Haejin itu di ICU. Aku akan tidur di ruang tunggu. Kumohon jangan cemburu dulu disaat seprti ini Minyoung-ah.”

 

”Siapa yang cemburu? Aku juga mengkhawatirkan Haejin. Dan sebenarnya…. aku takut jika harus tidur dirumah sendirian.”

 

”Sejak kapan kau menjadi penakut seperti itu? Kau kan sangat tertarik kakan hal-hal yang mistis biasanya”

 

”Mistis? -_-” bukan takut itu yang ku maksud. Karena kejadian akhri-akhir ini. Aku menjadi sangat benci jika harus berada sendiri dirumah. Ada perasaan yang tak enak di hatiku. Dan aku tidak suka.”

 

”Minyoung-ah” Donghae menggenggam tanganku. Di matanya terbersit rasa penyesalan.

 

”Tidak apa-apa sayang. Bukan karena kau”

 

”Baiklah jika memang seperti itu. Kau tidur disini denganku. Apa sebaiknya aku menyewa satu kamar disini? Kan kau sedang hamil. Bilang saja kau kelelahan dan butuh istirahat. Bagaimana?”

 

”Jangan bodoh! Memangnya kau sangka ini hotel hah?”

 

”Tapi aku teteap tidak mau kau ikut menginap disini. Atau aku suruh Minho yang menjaga Haejin?”

 

”Memangnya Minho bisa?”

 

”Bisa atau tidak bisa, harus bisa. Mau aku pecat anak itu jika menolak perintahku?” Donghae mengambil handphonenya dari kantung jasnya. Dan terlihat sedang mengetik pesan untuk yang pasti untuk Minho.

 

”Ayo kita kembali keatas. Siapa tahu Haejin sudah sadar.”

 

”Baiklah.” Donghae menghabiskan tehnya dengan sekali teguk.

 

Lalu kami berdua kembali keatas dan menghampiri Kikwang. Kulirik Donghae. Sorotan matanya kepada Kikwang masih sinis. Begitu pun dengan Kikwang. Aku duduk di sebelah Donghae di seberang Kikwang. Tidak lama ada seorang perawat keluar dari dalam ruangan.

 

”Apakah ada Tuan Lee Donghae?”

 

”Iya saya suster. Ada apa?” Donghae berdiri.

 

” Nona Choi Haejin ingin berbicara dengan anda.”

”Baiklah. Terima kasih sus. Ayo?” Donghae mengarahkan tangannya kearahku.

 

”Hah?”

 

”Ayo cepat bangun.”

 

”Untuk?”

 

”Ya masuk kedalamlah. Ayo”

 

”Kok aku ikut ke dalam? Kan Haejin hanya ingin berbicara denganmu.” Aku bangun perlahan dan mengambil tangan Donhghae.

 

”Aku tidak ingin kau berduaan dengannya.” Kepala Donghae menggerakkan kepalanya menunjuk kearah Kikwang.

 

”Donghae-ya. Apa-apaan sih kau?”

 

”Sudah ikut aku saja. Aku tidak percaya padanya.”

 

”Cukup Donghae-ya.”

 

”Tidak apa-apa nuna.” Kikwang tersenyum kearahku.

 

”Tuh kaan..ada aku di depanmu saja dia masih berani-beraninya merayumu.”

 

”Apa merayu sih? Aneh! Sudah ayo masuk. Tunggu sebentar ya Kikwang.” Aku membalas senyum Kikwang dan menarik Donghae masuk keruangn.

 

Sebelum masuk aku dan Donghae memakai baju steril hijau, sarung tangan dan penutup kepala. Lalu suster menuntun kami menghampiri tempat tidur Haejin. Suster membawa kami keujung ruangan dan membuka tirainya perlahan. Haejin memejamkan matanya dan berbagai kabel terlihat terpasang di dadanya yang tertutup baju. Tangan kirinya terinfus. Dan terdapat selang oksigen di hidungnya.

 

Bunyi bip-bip dari mesin disampingnya semakin membuat hatiku miris. Tubuhnya sangat amat terlihat rapuh. Sangat kontras jika aku mengingatnya dirumah tadi pagi. Haejin membukamatanya saat Donghae menggenggam tangannya.

 

”Haejin-ah.” Donghae berbisik perlahan.

 

”Op….pa.”

 

”Iya? Ada apa Haejin-ah?”

 

”Aku.. ” Haejin lalu menyadari keberadaanku dan melrikku. Lalu ia mengangkat tangan kirinya. Seperti ingin memegangku, langsung saja aku mengambil tangannya.

 

”Ba..gus kau ju..ga di..sini. Aku ingin minta ma..af dengan..mu.”

 

”Tidak apa-apa eonnie. Kau tidak salah apa-apa kok. Tidak perlu minta maaf padaku.” Aku tersenyum kearahnya dan air mataku jatuh perlahan.

 

”Oppa.. aku juga min.ta maaf padamu. Kare..na seelama.. ini aku sudah merepotkan.mu.” Donghae mengeratkan genggamannya.

 

”Tidak apa-apa Haejin-ah. Aku senang direpotkan olehmu.” Kulihat Donghae juga mulai menitikkan air matanya.

 

”Terima kasih ka..lian su..dah mau menjagaku.” Haejin tersenyum kearah kami.

 

”Sudah jangan banyak bicara dulu. Kau istirahat saja eonnie.”

 

”Apakah anda Tuan Lee Donghae? Bisa bicara denganmu sebentar?” Seorang dokter menghampiri kami.

 

”Ah yee..” Donghae berjalan di belakang dokter itu. Aku mendekat ke samping tempat tidur Haejin.

 

”Minyoung-ah..”

 

”Ye eonnia?”

 

”Aku benar-benar minta ma..af atas se..muaanyaa.”

 

”Kan sudah kubilang eonnie. Tidak apa-apa.”

 

”Maaf aku sem..pat memisah..kanmu dengan Dong..hae. Maafkan a..ku.”

 

”Iya eonnie.. aku maafkan. Tapi eonnie harus berjanji padaku untuk sembuh oke?” Haejin menjawabku dengan anggukan.

 

”Maaf Nyonya. Apakah bicaranya sudah selesai? Biarkan pasien beristirahat.” Perawat  penjaga menghampiriku.

 

”Yee..” akui menjawab dan berbungkuk kearah perawat itu.

 

”Eonnie.. istirahat ya. Aku tunggu diluar.” Haejin lagi-lagi membalasku dengan anggukan dan senyum.

 

Setelah melepas semua peralatan steril ditubuhku aku berjalan keluar dan menghampiri Kikwang.

 

”Donghae belum keluar?”

 

”Sudah tadi dan langsung masuk keruangan dokternya. Mungkin sudah bisa mengoperasi Haejin.”

 

”Benarkah?”

 

”Aku hanya menebak.”

 

”Nuna..”

 

”Ne?” Aku menengok kearahnya dan Kikwang menatapku dalam.

 

”Sepertinya aku akan secepatnya ke Jepang setelah aku lulus dari SMA. Aku benar-benar ingin menjadi seorang dokter sekarang.”

 

”Saat melihat Haejin pingsan dikamar tadi dan menggendongnya aku tak tahu ada rasa sangat ingin menyembuhkannya. Aku harus menjadi dokter untuk menyembuhkannya.”

 

”Kikwang-ah..”

 

”Aku benar-benar tidak ingin melihatnya menderita seperti itu. Tadi aku sempat menengoknya ke dalam saat kalian dibawah. Aku sangat tidak tega melihatnya. Aku merasakan aku harus menjaganya, melindunginya dan selalu bisa membuatnya tersenyum.”

 

”Aku rasa aku ingin menikahi Haejin saja dibandingkan mengejarmu yang sudah mempunyai Donghae hyung.”

 

”Kikwang-ah.. apa benar yang kau katakan?”

 

”Aku serius nuna. Baru kali ini aku merasa seperti ini. Bahkan kepadamu pun tidak.” Mata Kikwang terlihat berbinar-binar. Entah kenapa aku merasa lega. Setidaknya aku tidak perlu menyakitinya lagi. Tapi… aku kenapa merasa tidak rela?

 

”Syukurlah Kikwang-ah.” Aku ingin memeluknya tapi Kikwang menahanku. Aku memandangnya bingung.

 

”Nanti kalau Donghae hyung melihat bisa masalah lagi.”

 

”Aaaah iyaya. Tapi syukurlaaaaah” Aku menepuk-nepuk pundaknya.

 

Aku melihat Minho sedang celingak-celinguk seperti orang kebingungan sepertinya dia sedang mencari kami.

 

”Minho-yaa!” aku baerdiri dan melambai-lambaikan tanganku kearahnya. Saat melihatku Minho lari menghampiriku.

 

”Apakah Haejin baik-baik saja?”

 

”Bagaimana kau bisa tahu Haejin?” Kikwang langsung berdiri.

 

”Ya jelas tahulah. Saat berselingkuh dengan Donghae Haejin sering datang ke kantor. Dan aku kaget saat Donghae bilang dia membuatkan bekal untukku tadi siang. Lagian apa urusanmu?”

 

”Ya jelas itu menjadi ursanku. Haejin itu calon istriku!”

 

”APA??? Jangan mengkhayal kau bocah!”

 

Aku pergi meninggalkan mereka berdua bertengkar. Dan kulihat seorang perwat memarahi mereka yang berteriak-teriak. Haaah lagi-lagi Kikwang mengaku-ngaku seorang wanita menjadi calon istrinya. Dan aku tidak tahu kalau Minho itu ternyata menyukai Haejin. Biarkan lah mereka bertengkar.

 

Aku melihat Donghae keluar dari ruangan Dokter dengan memegang berkas. Raut mukanya tidak terlalu bagus sepertinya. Aku berjalan menghampririnya.

 

”Sayang.. bagaimana?” Dongahe mendongak.

 

”Setelah kondidi Heejin memulih Haejin bisa secepatnya dioperasi. Tapi..” Donghae kembali menunduk.

 

”Tapi apa keberhasilan operasi hanya 70%. Masih ada sisa 30% kemungkinan gagal. Dan kalau gagal Haejin bisa saja meninggal.”

 

Aku memeluk Donghae menenangkannya. ”Lebih banyak kesempatan berhasilnya bukan? Kau tidak perku cemas. Haejin eonni bahkan sudah berjanji padaku untuk sembuh.” Aku berbicara dengan air mata yang mengalir tanpa paksaan dari mataku.

 

”Dan katanya satu payudaranya pun harus diangkat.”

 

”Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Haejin sayang. Kau bukan malaikat kau tetap manusia biasa yang mempunyai keterbatasan. Kau sudah berusaha semampumu untik membantu Haejin. Dan sekarang kita serahkan kepada yang ahlinya. Dan terutama pada Tuhan pemilik raga.” Donghae memelukku dan aku menangis di dalam pelukannya.

 

”Oiyaa.. Minho sudah datang. Dan mungkin masih bertengkar dengan Kikawang sekarang.” Donghae melepas pelukannya dan menatapku heran.

 

”Bertengkar dengan Kikwang? Karena apa?”

 

”Ternyata Kikwang menjadi menyukai Haejin semenjak dia menolongnya tadi. Dan bahkan dia bilang padaku kalau dia juga mau menikahi Haejin agar bisa selalu menjaga dan melindunginya. Karena Kikwang ingin menjadi dokter untuk menyembuhkan Haejin.” Donghae tersenyum dan raut wajahnya terlihat sangat lega. Tapi mukanya tiba-tiba kembali bingung.

 

”Lalu apa hubungannya dengan Minho?”

 

”Jadi kau tidak tahu kalau selama ini Minho menyukai Haejin?”

 

”Menyukai Haejin? Kau tahu darimana?”

 

”Minho sih tidak mengatakannya. Tapi aku tahu.”

 

”Ya Tuhaaaan… pantas saja setiap Haejin datang ke kantor, Minho langsung menjadi aneh. Sebentar-bentar masuk ruanganku. Ternyata dia menyukai Haejin tooh. Hahaha”

 

”Iya dan tadi siang kau memberikan bekalmu yang Haejin buat ke Minho kan? Dan kau bilang Haejin sengaja membuatkannya untuknya? Asal kau tahu Minho sangat senang.”

 

”Iyaa?? Hahaha.”

 

”Yasudah ayo kita hampiri mereka. Janagn sampai membuat keributan di ramh sakit dua bocah itu. Tadi saja aku lihat sudah dimarahi perawat.” Donghae terkekeh dan merangkul pundakku sedangkan aku memeluk pinggangnya. Kami berjalan menghampiri Minho dan Kikwang.

 

Dua anak itu terlihat saling memandang membunuh. Mereka duduk berseberangan. Mereka seperti bertengkar melalui pandangan mata. Donghae melepaskan rangkulannya dan duduk di sebelah Minho dan aku duduk desibelah Kikwang. Donghae seperti menjelaskan keadaan Haejin. Begitupun denganku.

 

”Aku akan menginap disini untuk menjaga Haeji nuna. Kau bisa pulang dengan Donghae hyung.” Kikwang tersenyum kearahku.

 

”Apa maksudmu hah? Aku yang akan menjaga Haejin dan menginap disini.” Minho lantas berdidi setelah mendengar Kikwang. Tapi Donghae menariknya dan mendudukkannya lagi.

 

”Aku yang menginap!” Kikwang membalas setengah berteriak dan langsung ku tutup mulutnya dengan tanganku.

 

”Jangan keras-keras! Ini rumah sakit!” Aku menoyor kepala Kikwang.

 

”Dasar bocah! Hah” Minho mencibir kearah Kikwang dan berhasil membuat Donghae mengeplak kepalanya.

”Kau juga bocah diam! Kalian berdua yang menjaga Haejin disini! Dan kalau sampai bertengkar disini dan membuat keributan kalian akan aku habisi! Mengerti?” Donghae berdiri dan menunjuk-nunjuk Kikwang dan Minho. Mino dan Kikwang hanya berdeham mengiyakan Donghae.

 

”Baiklah Minho kalau ada apa-apa langsung telfon aku. Besok pagi aku dan Minyoung akan kembali kesini. Dan kau Kikwang sebaiknya sekarang kau ikut kami pulang dulu akan kuantar kau ke apartementmu ganti baju dulu. Jangan membantah!!” Kikwang seperti akan bersuara tetapi tangan donghae langsung berada tepat dimukanya.

 

”Kami pulang dulu Minho-ya.” Aku membungkuk kearah Minho dan Minho membalas membungkuk kearahku. Namun dia tersenyum dengan penuh kemenangan kearah Kikwang.

 

Saat Kikwang akan menghampiri Minho Donghae langsung menarik kerah kemeja belakang Kikwang dan menyeretnya. Aku terkekeh dan mengikui mereka berdua di belakang.

 

Aku dan Donghae sampai apartement pukul delapan malam sebelumnya mengantar Kikwang ke apartementnya. Sesampainya di apartement aku langsung mandi dan Donghae mandi setelahku. Aku memakai baju tidurku dan naik keatas kasur tanpa memakai krim muka. Walaupun masih jam setengah sembilan aku merasa sangat mengantuk. Donghae kemudian masuk kedalam selimut juga dan memelukku.

 

” Aku tidak menyangka mereka berdua malah menjadi memperebutkan Haejin. Apalagi Kikwang. Hahaha.” Donghae menyeringai.

 

”Iya aku juga.” Aku membalas Donghae dengan mata terpejam.

 

”Kau sudah sangat mengantuk ya?”

 

”Iya.. dan besok pagi-pagi sekali kita harus kembali kerumah sakit kan. Ayolah tidur jangan banyak bicara lagi. Nanti lagi saja kita membahasnya. Heeeeeeeeem.” Aku berkata sambil mengangkat tangan Donghae mencium ketiaknya dengan mata masih terpejam.

 

”Dasar kau mata sudah terpejam seperti itu masih saja bisa mencium ketiakku.”

 

Aku tak membalasnya dan tetap menciumi ketiak Donghae sampai aku tertidur.

 

*****

 

Keesokannya aku dan Donghae pagi-pagi ekali berangkat kerumah sakit. Sesampainya disana Kikwang dan Minho masih tertidur di ruang tunggu. Mereka tidur dalam posisi duduk dengan kepala Kikwang menyandar di bahu Minho dan kepala Minho diatas kepala Kikwang. Hahaha lucu sekali mereka berdua.

 

Aku membangunkan mereka dan mengajak sarapan di kantin bawah. Saat terbagun mereka kaget akan posisi tidur mereka lalu berdiri berbarengan. Saat dibawah kami memili meja dengan empat tempat duduk dipinggir kaca. Aku dan Donghae yang memesan makan sedangkan mereka duduk dengan masih menguap dan mengulat.

 

”Kau mau makan apa sayang?” Aku bertanya kepada Donghae.

 

”Heeem mau makan apa ya? Bubur aja deh. Kau apa?” Donghae melihat kearah menu didepannya dan menengok kearahku.

 

”Aku mau sandwich tuna saja ah.. anak-anak itu dibelikan nasi goreng saja kali ya?”

 

”Iyalah biar kenyang dan tidak banyak bicara.” Aku terkekeh.

 

”Nona Kami pesan Bubur ayam lengkap satu. Sandwich tuna satu. Nasi Goreng special dua. Dan minumnya Empat air mineral dan satu teko kecil teh hangat.” Aku berkata kepada sang pelayan.

 

”Ada lagi?”

 

” Kau mau pesan apa lagi? Sepertinya itu saja.” Donghae menggeleng.

 

”Silahkan bayar dikasir. Nanti pesanan kami antar.”

 

”Semuanya 30.000 won tuan.” Donhghae mengeluarkan dompetnya dan membayarnya.

 

Kami kembali duduk. Aku meminta Kikwang pindah kesebelah Minho karena aku ingin duduk disebelah Donghae. Awalnya Kikwang menolak, namun Donghae memandangnya sangar dan akhirnya Kikwang pindah kesebelah Minho dengan terpaksa.

 

Aku mencium-ciumi ketiaknya Donghae dari sela-sela tangannya di belakang badannya. Karena Donghae sedang menaruh tangannya dimeja dan berbicara dengan Minho. Minho dan Kikwang hanya menatapku aneh dan jijik dan Donghae menjelaskan kalo aku sedang ngidam. Sampai makanan datang pun aku tetap menciumi ketiak Donghae dari belakang. Aku melarang Donghae untuk senderan di kursi.

 

”Sudah makan dulu, nanti dilanjutkan.” Donghae menarikku tapi aku menahannya.

 

”Nanti dulu aku sedang merasa mual. Sebentar lagi. Kau makanlah dulu. Jangan senderaaaaaan.” Aku mendorong badannya kedepan lagi.

 

”Aku susah makannya. Terlalu dekat ke meja.”

 

”Ya dorong saja mejanyaaaaa.” Lalu Donghae mendorong mejanya dan terdengar protes dari kedua bocah di depan kami.

 

Setelah 5 menit dan rasa mualku hilang aku berhenti menciumi ketiak Donghae dan memakan sandwichku.

 

”Sudah hilang mualnya?” Donghae bertanya padaku sambil mengusap rambutku. Aku membalasnya dengan anggukan, karena mulutku penuh dengan roti.

 

”Minyoung-ah.. sungguh aneh ternyata ngidamnya.” Minho menggeleng-geleng.

 

”Iya nuna. Perasaan saat tingal bersamaku kau tidak pakai acara ngidam-ngidaman. Kenapa sekarang malahan seperti ini?” Kikwang ikut menyahut.

 

”Aku juga tidak Tahu Kikwang-ah. Aku juga heran.”

 

”Itu tandanya istriku ini sangat cinta padaku. Sampai-sampai ngidamnyapun hanya ingin mencium ketiakku. Hahaha.”

 

Setelah aku selesai makan, kami langsung kembali keatas. Aku membawa satu botol air mineral bersamaku. Entah kenapa aku saat ini merasa mual. Lalu kami kembali duduk diruang tunggu.

 

”Mukamu terlihat pucat sayang. Mual lagi?” aku mengangguk menjawab Donghae.

 

”Kenapa sih?” Aku menggeleng sambil menaikkan pundakku.

 

”Kurang apa doppingnya?”

 

”Mungkin.”

 

”Yasudah sini.” Donghae memelukku dengan tangan kanannya, aku merendahkan badanku dan mulai kembali menciumi ketiaknya. Saat itu juga dengan anehnya rasa mualku hilang.

 

”Merasa baikan?”

 

”Hem…” Aku menjawab dan Donghae mengusap-usap rambutku.

 

”Bagaimana jika nanti aku ada  tugas keluar kota?” Donghae tiba-tiba bertanya.

 

”Ya aku ikut.”

 

Selama sepuluh menit aku terus menciumi ketiak Donghae. Beberapa kali Donghae terdengar berkata ”Sedang ngidam” dan suara ”Ooooh” dari orang. Aku tidak perduli. Yang penting rasa mualku hilang.

 

Haejin mendapat jadwal operasi jam 8 pagi. Kami mengantarkannya hingga keruang operasi. Dan kami pindah menunggu Haejin di tempat duduk di dekat ruang operasi. Minho dan Kikwang terlihat sangat amat super duper cemas sampai mereka duduk bangin sudah berapa kali tak terhitung. Aku dan Donghae hanya menggeleng-geleng melihat mereka berdua yang seperti cacing kepanasan seperti itu.

 

Operasi berlangsung enam jam. Selama operasi berjalan beberapa kali perawat keluar masuk dengan tergesa-gesa selalu mengagetkan kami dan membuat kami menjadi tambah cemas. Terutama kedua bocah itu. Dan akhirnya Dokter keluar dan serentak kami berempat berdiri dan menghampiri dokter itu.

 

Dokter mengatakan walaupun ada sedikit hambatan saat pengangkatan tapi operasinya berhsil dan Haejin sedang ada di dalam ruangan pemulihan sampai dua jam kedepan.

Aku memeluk Donghae dan Minho berpelukan dengan Kikwang. Donghae mengajak kami untuk makan siang sekarang.  Karena sudah jam dua siang dan aku harus makan. Tapi Minho dan Kikwang menolak dan memilih untuk tetap menunggu Haejin sampai  keluar. Mereka bilang mereka tidak bisa makan sebelum melihat wajah Haejin.

 

Aku dan Donghae akhirnya pergi ke kantin bawah tanpa mereka berdua. Setelah makan kami kembali naik keatas dan aku membungkus dua paket bento special buat Kikwang dan Minho. Dan dalam sekejap makanan itu habis. Mau gaya tidak bisa makan sebelum melihat Haejin. Buktinya dalam sekejap mata makanan mereka sudah habis.

 

Setelah dua jam dari ruang pemulihan, Haejin dipindahkan ke dalam kamar rawat inap. Dan kami lebih dulu menunggu Haejin disana. Tidak lama kemudia Haejindatang. Dia sudah tersadar dan tersenyum saat melihat kami berempat.

 

”Haejin-ah.. Kwaenchana? An apheo?” Minho bertanya kepada Haejin.

 

“Ya tentu saja sakitlah. Dasar bodoh!” Kikwang membalasnya.

 

”Ya! Kalian jangan mengganggu Haejin dulu. Dia baru saja selesai operasi!” Donghae menyahut. Dan kulihat Haejin hanya tersenyum. Senangnya bisa melihat Haejin tersenyum lagi.

 

Aku menyuruh Minho dan Kikwang pulang dulu untuk istirahat dan mandi. Awalnya mereka menolak tapi aku memaksa dan akhirnya mereka pulang. Malamnya Ibu Haejin datang dan langsung menangis memeluk Haejin dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Donghae dan aku.

 

*****

 

 

Sudah tiga bulan belakangan ini Minho dan Kikwang memperebutkan Haejin. Ibu Haejin jauh lebi suka dengan Minho, namun Haejin memilih Kikwang. Mereka sudah berpacaran satu bulan ini. Kikwang dengan rajin selalu menemani Haejin untuk terus berobat sampai benar-benar sembuh total. Akan tetapi Minho tetap saja tidak menyerah dan dengan licik selalu mengambil hati Ibu Haejin dengan rajin datang kerumah Haejin dengan membawa hadiah sogokan untuk Ibu Haejin seperti hari ini. Haejin dan Kikwang sedang di apartementku dan Donghae untuk mengadukan Minho yang seperti itu ke[ada Donghae.

 

”Hyuuung… tolong peringatkan anak buahmu tiu agar berhenti mengejar Haejin. Haejin kan sudah memilihku.” Kikwang melayangkan protesnya ke Donghae.

 

”Itu kan urusanmu dan Haejin. Jkenapa jadi aku juga dibawa-bawa?” Donghae membalas tanpa menoleh kearah Kikwang.

 

”Oppaa aku mohon bantulah aku. Ibu selalu saja menjelekkan Kikwang di depanku dan teruuuus saja memuji Choi Minho. Aku begah mendengarnya.” Haejin menarik-narik baju Donghae.

 

”Bantulah mereka. Kasihan kan.” Aku menyahut.

 

”Haaaah nuna memang sangat baik. Tuh hyung istrimu saja menyuruhmu membantuku. Masa kau tidak mau juga?”

 

”Baiklah-baiklah. Istriku sudah berkata sih. Aku jadi tidak bisa menolak lagi deeh.” balas Donghae sambil mencubit pipiku.

 

”Tuh yeobo lihat! Nanti kalau kita sudah menikah juga harus seperti itu ya. Tetap mesra.”

 

”Iya yeobo… hiiiiiing..” mereka berdua cubit-cubitan pipi. Mual aku melihatnya.

 

”Sudah-sudah jangan menjijikan di depanku.” Aku memprotes, Donghae lalu memelukku.

 

”Anakku…. om dan tantemu ini jangan dicontoh yaaa. Mereka terlalu menjijikan.” Donghae berbicara di depan perutku sambil mengusap-usapnya.

 

Kikwang dan Haejin terlihat menatap kami sinis. Aku dan Donghae hanya tertawa melihatnya.

 

 

4 tahun kemudian…..

 

“Eommaaaa… eommaaaaa. Ileonaaa!!!” Aku terbangun mendengar suara teriakan anakku. Lalu ia naik keatas tubuhku dan memencet-mencet hidungku.

 

“Eommaaaa… ileonaaaa.” Bada kembali berteriak.

 

Aku membuka mataku ”Iya eomma sudah bangun. Kiss? Mmuah..sedapnya. Hug? Eeeng.. sekarang Bada ikut Eomma tidur lagi.” Aku memiringkan tubuhku yang btetap memeluk Bada dan menjadikannya guling.

 

”Aaaah eomma.. shileeooo…” Bada menendang-nendang dan berusaha keluar dari pelukanku.

 

”Ayo bangunlah sayang. Sudah jam 7. Aku malas mendengar ocehan Kikwang dan Haejin kalau kita terlambat.”

 

Aku mendongak dan ternyata Donghae sudah duduk sambil bersandar ke tembok.

 

”Eeeh ayang udah bangun.” Lalu aku duduk dan anakku duduk di pangkuanku dan menciumi pipi dan bibirku.

 

”Bada-ya Appa cemburu niih. Mau dicium juga.” Donghae mengerucutkan bibirnya.

 

”Okee.” Bada langsung menghambur kedalam pelukan Donghae.

 

Aku turun dari kasurku dan membuka pintu penghubung antara kamar kami dengan kamar anak-anak. Aku berjalan kearah box bayi di sudut kamar dan melihat Haneul masih tertidur pulas. Lalu aku mengelus-elus pipinya.

 

”Bangun sayang. Kita mandi yuu. Kan mau pergi.” Haneul terlihat mengulat dan membuka mata indahnya.

 

Aku lantas menggendongnya dan menciumnya. Haneul kembali meringkuk di gendonganku. Aku mengusap-usap punggungnya dan merapihkan bajunya. Menggendongnya membawa ke kamar.

 

”Eomma.. Aku mandi baleng appa ya?”

 

”Jangan lama-lama ya! Tidak pakai main pistol-pistolan segala. Taruh pistolnya!” Kulihat wajah mereka berdua kecewa.

 

”Neeeeee…” mereka menjawab berbarengan sambil menaruh pistol diatas kasur.

 

Aku dan Haneul mandi dikamar mandi depan. Setelah semua siap, kami langsung pergi.

 

”Eonnie maaf kami terlambat. Habis tadi Donghae dan Bada mandinya lama sekali”

 

”Lagian kau mengizinkan mereka mandi berdua. Aaaaah haneul lucu sekali memakai dress seperti ini.” Haejin langsung mengambil Haneul dari gendonganku dan memangkunya. Haneul terlihat terkesima melihat Haejin yang memakai baju pengantin.

 

”Minyoung-ah.. kenapa aku sangat gugup yaa?”

 

”Haha.. Eonnie.. dimana-mana orang yang akan menikah pasti gugup. Tenang saja semua pasti lancar kok.”

 

”Pengantin wanita diharap bersiap. 5 menit lagi ya.” Seoarang wedding planner menongolkan kepalanya di pintu.

 

”Aaaaaaaah Minyoung-aaah Eotteokhae???”

 

”Tenang Eonnie. Tenang. Tarik nafas. Buang. Tarik lagi. Buang.” Aku mengambil Haneul dari pangkuan Haejin dan berjalan keuar ruangan.

 

”Eonnie.. Fighting!!” Aku meneriakkannya sebelum menutup pintu.

 

Lalu aku berjalan ke hall utama dan mencari Donghae denag Bada. Setelah ketemu aku  mendudukkan Haneul di sebelah Bada dan aku duduk disebelah Haneul.

 

”Uwaaa… Putra eomma tampan sekali memakai jas dan dasi seperti itu.”

 

”Iya doooong siapa dulu appanya? Iya ga?” Donghae lalu ber-toss-an dengan Bada membuatku terkekeh.

 

Kikwang sudah ada di altar dan menengok kearahku lalu aku tersenyum dan menggumamkan kata fighting sambil mengepalkan tanganku untuk menyemangatinya. Kikwang malah memonyongkan bibirnya. Tidak lama kemudian suara denting piani terdengar dan Haejin memasuki hall. Mereka mengucapkan janji setia dihadapan Tuhan. Semoga mereka selalu bahagia. Aku tersenyum kearah Donghae dan Donghae membalasku.

 

Setelah dua tahun terpisah akhirnya mereka menikah juga. Kikwang melanjutkan studynya di Jepang dan mengambil kedokteran. Sampai dua tahun Minho masih terus mengejar Haejin. Sampai akhirnya Minho menyerah dan pergi pindak ke China dan menetap disana. Kudengar dari Donghae kalau Minho sudah menikah satu tahun lalu dengan gadis Korea yang ia temui di china.

 

Pesta selesai siang hari. Namun untuk keluarga pesta pindah ke kediaman Ayah Kikwang. Ya. Kikwang sudah berbaikan dengan ayahnya.

 

Kami sampai apartement pada pukul sepuluh malam. Anak-anak sudah tidur. Aku menaruh Haneul didalam box dan Donghae menaruh Bada dikasur mobilnya. Aku menggantikan dan memasang pampers untuk Haneul terlebih dahulu. Lalu aku menggantikan baju Bada setelahnya. Setelah selesai aku mencium kedua anakku dan masuk ke kamar.

 

”Giliran aku dong yaaaang…” Donghae tidur celentang dikasur.

 

”Apa siih? Aku mau mandi dulu ah.”

 

”Ikutan doong.”

 

”Engga ah nanti lama. Aku capek.”

 

”Yaaaaah”

 

”Besok aja ya.”

 

”Neeeeee.” Donghae kembali tiduran dikasur.

 

Selesai aku mandi gantian Donghae yang mandi. Aku mematikan lampu dan masuk kedalam selimut. Lalu tertidur.

 

*****

 

Aku memicingkan mata karena terkena sinar matahari. Sudah pagi ternyata. Perasaanku baru saja aku selesai mandi dan ternyata sudah pagi saja. Aku memmiringkan tubuhku dan melihat Donghae yang betelanjang dada dan memperlihatkan ketiak bersih putihnya.

 

Kenapa aku menjadi sangat ingin menciumnya lagi ya? Padahal terakhir aku begini saat hamil Bada. Saat hamil Haneul boro-boro mencium ketiaknya. Melihat muka Donghae saja aku kesal. Kasian Donghae waktu itu jika dipikir-pikir. Ketiaknya benar-benar menggodaku sekarang dan aku dengan perlahan menciumi keteknya. Heeeeeem.

 

”Ya! Kenapa kau?” Donghae terbangun kaget merasa geli diketeknya karena aku yang menciuminya, dan reflek menurunkan tangannya. Tapi aku menaikkan kembali tangannya.

 

”Shuuut diam ah. Berisiik! Heeeeeeem.”

 

“Kenapa kau tiba-tiba seperti ini lagi?” Aku menjawabnya dengan mengedikkan pundakku kearahnya.

 

”Jangan-jangan…….?”

 

END

 

Aaaaaaaah…akhirnya selesai juga. Ga nyangka ternyata benyak yang baca dan comment. Ini ff pertamaku looh.hehe. *ga ada yang tanya* Terima kasih sekali lagi buat para reader setiaku yang udah nyempetin baca dan comment dari part awal. Kalo yang ga comment terima kasihnya setengah aja ah. Hehehe maaf juga buat semua typo. Aku malas mengedit. Hehe. Yeorobuuuuuun Gamsahamnidaaa *bow*