Why, Baby?

Sebelumnya, L~ mo minta maaf dulu, terutama cassie yg mgkn gak begitu suka sm ff ini… hiks… Sumpah ini Cuma ff biasa aja…terinspirasi dari ‘keep ur head down’nya TVXQ! L~ paling suka part Changmin yg teriak “why, baby?” di menit ke 02:33 (MV) atau menit ke 02:02 (MP3) .. karena itulah, ff ini judulnya “Why, baby?”

Kagak ada maksud lain yang tersembunyi dibalik terciptanya ff ini *haiah*

Selamat membaca… saran: puter Keep ur head down pas baca ff ini ya… di repeat aja terus sampe selesei baca… biar lebih kerasa sakit hatinya… kekeke.. piss^^

WARNING :: REMAJA ONLY

Why, Baby?

Pukul 21.00. Saatnya pulang!

Aku berjalan menuju halte bis, menunggu bis 320 datang. Lelah sekali hari…

Tiba-tiba sebuah mobil berwarna merah berhenti di depanku. Pemiliknya membuka sedikit kaca mobilnya. Setelah mengetahui siapa dia, aku tersenyum.

“Sudah selesai?” tanyaku, setelah mengenakan seatbelt.

“Sebentar lagi pergi untuk mengisi acara.” Jawabnya. Kemudian dia memandangku, mengelus pipiku sambil tersenyum, dan mulai menjalankan mobil mewah ini.

“Apa aku tidak merepotkan? Oppa bisa terlambat!”

Tangan kanannya menggenggam tanganku. Dari genggamannya itu aku tahu dia sangat merindukanku. “Gwaenchana, aku akan mengantarmu pulang. Atau kau mau ke sana?”

Aku diam. Datang ke acara itu? Berarti aku akan bertemu dengannya?

“Diam berarti setuju. Jagiya, dandan yang cantik ya? Masih ada waktu satu jam lagi, kuantar kau ke salon dulu.”

***

Yunho menungguku sambil mendengarkan iPod. Matanya tertutup. Sepertinya dia lelah. Kasihan sekali namjachinguku itu. Aku tahu dia sibuk, sangat sibuk sampai tidak ada waktu untuk bersamaku beberapa bulan ini. Jadwalnya sangat padat karena dia baru saja comeback. Selama ini kami hanya berkomunikasi melalui telepon, itu pun malam hari setelah dia selesai dengan semua jadwal-jadwalnya.

“Eoni, sudah berapa lama kalian kencan?” tanya penata rambut yang sedang melayaniku. Sepertinya dia pegawai baru, karena aku belum pernah melihatnya sebelumnya.

“Mmmm…. Sekitar… 2 tahun?”

Dia sedikit terkejut. “Whoa…  Eoni… Beruntung sekali mendapatkan Yunho oppa… Dia tampan, dan keren… Aku sangat menyukainya! Aku salah satu fansnya!”

Aku hanya tersenyum. Benar, aku beruntung mendapatkannya. Tidak mudah menjalin hubungan dengan seorang idola seperti Yunho. Dulu, aku pun tidak luput dari serangan fans. Tetapi Yunho selalu melindungiku. Lama kelamaan aku mulai terbiasa, dan akhirnya mereka tidak mengggangguku lagi.

“Selesai. Eoni, cantik sekali. Pantas saja Yunho oppa menyukaimu. Kalian serasi.”

Serasi?

“Eoni, bolehkah aku berfoto denganmu?”

Aku mengangguk. “Tentu saja!”

Penata rambut tersebut mengeluarkan ponselnya. Setelah mengambil foto, dia segera menunduk. “Gomapseumnida, eoni. Semoga kalian berdua bahagia~”

Aku tersenyum. Semoga.

***

Yunho memasuki gedung sebuah stasiun televisi itu sambil menggenggam tanganku, seakan menunjukkan pada semua orang yang kami lalui bahwa dia mencintaiku. Aku hanya menunduk. Meskipun sudah 2 tahun kami bersama, tetapi aku masih belum terbiasa dengan keramaian seperti ini.

Akhirnya kami sampai pada sebuah ruangan bertuliskan ‘TVXQ!’ Yunho membuka pintunya perlahan.

“Annyeonghaseyo, Changmin-ssi.” kataku, sesaat setelah kami masuk.

Changmin menoleh. Pandangannya mengarah ke tangan kami, kemudian tersenyum. “Ah, noona! Hyung terlambat karena menjemputmu ternyata.”

“Ya! Aku tidak terlambat! Masih ada waktu 15 menit lagi!” Yunho segera membuka pakaiannya, memperlihatkan badannya yang bagus itu. Dibantu oleh beberapa penata busana, dia mengenakan kostum bermotif belang-belang.

Aku merasa sedikit cemburu terhadap penata busana itu.

“Ne… ne… arasseo…” kata Changmin. Dia selesai mengenakan kostum bermotif belang-belang, sama dengan yang digunakan Yunho. “Noona, sudah lama tidak bertemu, kau semakin cantik saja!”

Aku tersenyum. “Kau juga, semakin tampan. Album baru kalian keren sekali!”

Mata Changmin membesar. “Kuraeyo? Noona! Siapa yang lebih tampan di album kami? Aku atau Yunho hyung?”

Aku diam sejenak. Melirik Yunho yang kali ini dikelilingi penata rias, kemudian melirik Changmin yang sedang berkaca. “Kau! Kekeke~”

“Hahaha, kau kalah hyung! Traktir aku makan!” teriak Changmin. Dia melihatku, mengedipkan mata kanannya untukku. Aku tersenyum padanya. Dia benar-benar pintar… Sangat pintar…

“Aish… Arasseo!” Yunho selesai. Kini mereka berdua sudah berubah menjadi malaikat yang turun dari langit. Tampan sekali. Jika sudah seperti ini, aku sering berpikir, apakah aku bermimpi? Apakah benar dia namjachinguku?

Seseorang membuka pintu. “Kajja! Kajja! Ah, Sojung-ssi. Annyeong!”

Aku menunduk. “Annyeonghaseyo!” sapaku pada manajer Park, manager TVXQ!

Manajer Park memberikan mic kepada Yunho dan Changmin. “Yunho-ya… Rapikan pakaianmu! Changmin-ah… Sepatumu! Cha…” Katanya, kemudian mereka berdoa bersama.

“Kajja!” teriak Changmin. Dia menepuk pundakku, kemudian tersenyum.

Yunho memeluk pinggangku, dan kami berjalan menuju belakang panggung bersama-sama. Dia berhasil membuat jantungku berdegup kencang. Rasanya berbeda. Apa mungkin karena aku merindukannya, atau karena sesuatu yang kututup-tutupi itu?

Yunho melepas pelukannya, menatapku lembut. “Jagiya, apa nanti aku bisa mendengar teriakanmu?”

“Tentu^^ Oppa, Fighting!”

***

Malam yang indah, menurutku. Karena aku bertemu dengan Yunho lagi setelah beberapa bulan tidak bertemu. Dan malam ini mereka mendapatkan mutizen lagi. Manajer Park mengajak kami makan di sebuah cafe, memesan makanan yang banyak dan enak.

“Jagiya, kau mau ini?” tanya Yunho. Dia menyodorkan sumpitnya ke arahku.

Aku memakannya. “Mmm. Enak.”

Yunho tersenyum. Tiba-tiba Changmin menyodorkan sumpitnya ke arahku juga. “Noona! Coba ini! Ini juga enak!”

Aku melihat Yunho sekilas. Dia tersenyum, tanda memperbolehkanku. Jadi aku memakannya juga. “Mmm. Kau benar, Changmin-ah! Enak sekali!”

Changmin tersenyum. Senyumnya manis. Dan aku mengakui, lagi-lagi, dia benar-benar pintar… Sangat pintar…

***

“Kau kenyang?” tanya Yunho. Kami dalam perjalanan menuju rumahku, mengantarkanku pulang.

“Tentu saja! Gomawo…” jawabku manja. Changmin di sebelah kananku hanya memandang ke luar jendela.

“Tadi aku melihatmu berteriak…”

“Benarkah?”

Yunho mengangguk. “Karena kau paling cantik yang ada di ruangan itu…”

Pipiku memerah. Sungguh. Yunho benar-benar membuatku tersipu.

“Hyung-ah… Sinca…” teriak Changmin. Aku dan Yunho hanya tersenyum.

“Jagiya…”

“Mm?”

Tangan Yunho menyentuh pipi kiriku mesra. Kemudian dia menempelkan bibirnya ke bibirku. Omo, mengapa dia menciumku di sini?

“Ya! Ya! Mwoya~ Aish..!”

Aku mendengar Changmin berteriak lagi. Yunho semakin memperdalam ciumannya. Ciuman yang, hangat, dan basah. Dari ciumannya aku tahu dia mencintaiku, tentu saja.

“Hh… Passion of love…”

Kali ini giliran manajer Park yang angkat bicara. Yunho sama sekali tidak menghiraukan mereka, seakan-akan di mobil ini hanya ada aku dan dia.

“Aish… Sinca… Kalian membuatku cemburu! Lebih baik aku tidur saja!” kata Changmin, sambil menutup tubuhnya dengan jaket.

Yunho memegang pipiku dengan kedua tangannya, mengunci kepalaku agar tidak bergerak. Ciumannya berubah menjadi sedikit kasar. Dia menciumku seakan-akan ingin memakanku. Aku bisa kehilangan napas jika dia tidak segera berhenti menciumku, beralih menciumi leherku. Aku sedikit menggeliat dan berusaha menjauh dari Yunho agar dia menghentikan kegiatannya itu. Setidaknya agar dia sadar di sini tidak hanya ada kami berdua.

Hampir saja aku mendesah karena ciumannya, jika seseorang tidak menggenggam tanganku tiba-tiba. Dia menggenggamnya erat sekali, sehingga aku bisa meredam desahanku dan mengalihkannya ke genggaman tangan tersebut. Aku bisa merasakan dia cemburu karena aku berciuman di depannya, dari genggaman tangannya yang erat itu.

Tangan Changmin.

***

Entah sudah berapa lama hubungan terlarang itu terjalin, aku sendiri tidak menyadarinya. Mungkin, sekitar 6 bulan?

Aku dan Changmin bukan hanya sekadar noona-dongsaeng. Kami sudah beberapa kali berkencan. Yunho tidak tahu, tentu saja. Dan tidak ada satu pun yang tahu termasuk manajer Park dan para fans. Istilah kerennya, Changmin itu selingkuhanku.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Mudah saja. Karena Yunho terlalu sempurna.

Yunho. Leader TVXQ! Tegas, disiplin, perfeksionis. Baginya semua harus terlihat sempurna. Seperti ketika dia mengajakku malam ini. Dia menyuruhku berdandan agar terlihat cantik. Berbeda dengan Changmin.

Maknae TVXQ! Ceria, humoris, santai. Dia tidak pernah menyuruhku berdandan. Dia bilang dia menyukaiku apa adanya. Katanya, aku terlihat lebih cantik jika tanpa make up. Dan itu yang membuatku menyukainya dan memutuskan untuk menerimanya menjadi selingkuhanku.

Selain itu, Yunho orang yang serius dan pekerja keras. Ketika dia fokus dengan pekerjaannya, dia akan mengutamakan pekerjaanya, bukan aku. Tetapi Changmin, dia akan menyuruhku menyemangatinya, agar pekerjaannya lancar.

Yunho dan Changmin berbeda. Cinta mereka padaku pun berbeda. Jika kau bertanya siapa yang benar-benar aku cintai, aku tidak tahu. Karena cinta mereka yang berbeda itu, mereka seolah-olah saling melengkapi. Dan itu membuatku tidak bisa memilih.

Tuut…tuut…

Aku mengambil ponselku. Changmin.

“Yeobseo?”

“Noona sudah tidur?”

“Belum.”

Changmin diam sebentar. “Noona… Kau cantik sekali malam ini…”

Aku tersenyum. “Gomawo. Kau juga tampan.”

“Lebih tampan siapa? Aku atau hyung?”

“Kalian berdua tampan.”

“Selalu begitu.”

Aku menghela napas panjang. Memang selalu begitu. Aku selalu tidak bisa memilih.

“Noona, aku cemburu melihat kalian berciuman di depanku…”

Aku tahu. Aku bisa merasakan saat dia menggenggam tanganku tadi. Aku pun merasa bersalah. “Mianhae. Tapi bagaimana lagi? Kau sudah tahu konsekuensinya, kan?”

“Kalau begitu cepat putuskan siapa yang kau pilih…”

“Jangan mulai lagi…”

“Baiklah. Aku mengerti. Aku mengerti rasanya menjadi yang kedua…”

“Changmin-ah~ Kau bukan yang kedua! Kau yang pertama!”

“Yunho hyung?”

Aku terdiam. Aku mencintai Yunho, dan mencintai Changmin juga. Bagiku mereka adalah yang pertama.

“Arasseo, arasseo. Mianhae. Yunho hyung hanya lebih dulu bersamamu…”

“Changmin-ah… Seandainya aku memilih Yunho, kau bagaimana?”

“Aku? Aku akan keluar dari TVXQ!”

Aku terkejut. “Ya! Kau tidak boleh seperti itu!”

“Aku tidak bisa melihat kalian memakai cincin yang sama, noona.”

Oh, Changmin tidak bisa melihat kami menikah. Ya, menikah. Yunho bilang dia akan menikahiku setelah dia wamil. “Jika aku memilihmu?”

“Aku akan keluar dari TVXQ!”

“Wae?”

“Karena aku tidak bisa melihat hyung terluka.”

Aku tahu. Memilih salah satu diantaranya akan membuat yang lain terluka. “Kau membuatku semakin sulit memilih…”

“Noona… Apa aku boleh ke apartemenmu sekarang? Yunho hyung sudah tidur. Manajer hyung juga.”

Aku melihat jam. Sekarang pukul 12 malam. “Baiklah.”

“Kalau begitu tunggu aku. 30 menit lagi aku sampai.”

Aku menutup ponselku. Dandan? Tidak perlu. Changmin tidak suka aku berdandan. Karena itu aku memutuskan untuk menyiapkan makanan saja. Changmin lebih suka makan daripada aku berdandan.

***

Ddok… Ddok.. Ddok…

Changmin datang!

Aku membukakan pintu apartemenku. Segera ku tarik tangannya, menyuruhnya masuk. Dia duduk di sofa depan televisi, kemudian menyalakan televisi. Aku berjalan menuju dapur, mengambil beberapa makanan yang sudah ku siapkan untuknya.

Tiba-tiba aku merasakan tangan seseorang menelusup di pinggangku. “Akhirnya kita bisa berdua saja. Aku merindukanmu, noona.”

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya itu. “Malam ini kau pintar sekali…”

Aku berjalan menuju meja makan. Changmin masih saja memelukku, dia mengikutiku kemana pun aku bergerak. “Oh, tentang kedipan mata dan menyuapimu tadi?”

Aku mengangguk.

“Tentu saja. Aku tidak akan diam melihat kalian bermesraan. Tetapi ciuman tadi, aish… Benar-benar mengganggu pikiranku!”

Aku menyentuh tangannya yang masih memelukku. “Mian…”

Changmin membalikkan tubuhku. Menyentuh kedua pipiku, kemudian menciumku. Agak sedikit bernafsu. Seakan-akan dia ingin membuktikan bahwa dia bisa menciumku lebih dari yang dilakukan Yunho beberapa saat yang lalu.

Aku mendorongnya sehingga dia melepaskan ciumannya. “Wae? Mengapa tidak membalasnya seperti yang noona lakukan pada Yunho hyung tadi?”

Aku tersenyum. “Kau tidak merasakan ponselmu bergetar?”

Changmin meraba sakunya. “Aish… Mengganggu saja!” katanya, kemudian mengeluarkan ponselnya. “Yunho hyung. Yeobseo, hyung?”

Aku hanya mendengarkan percakapan kedua namjachinguku itu sambil menyiapkan makanan di atas meja.

“Aku? Keluar membeli makanan ringan. Eh? Alkohol? Arasseo. Satu jam lagi aku kembali. Ne…”

“Alkohol?” tanyaku ketika Changmin memasukkan kembali ponselnya.

Changmin duduk di meja makan, mengambil makanan yang ku siapkan. “Yunho hyung menyuruhku membeli alkohol.”

“Dia minum alkohol?”

Changmin hanya mengangguk. Aku segera mengambil ponselku. Untuk apa dia pesan alkohol? Dia ingin mabuk? Yunho tidak suka mabuk!

“Noona mau menelepon siapa?”

“Hyungmu. Dia tidak biasanya mabuk.”

“Ya! Kita bisa ketahuan!” Changmin mengambil paksa ponselku. “Noona, jika bersamaku, pikirkan aku saja! Jangan pikirkan Yunho hyung!” lanjutnya, kemudian dia melanjutkan makan.

Aku tersenyum melihat tingkahnya tersebut. “Cemburu?”

“Ani.” Jawabnya singkat.

Aku semakin yakin dia cemburu. “Cemburu?”

“Aniya.”

“Ya! Kau cemburu!”

“Aniya! Aniya!” Changmin berdiri. Dengan cekatan dia menggelitik perutku.

“Ya! Ya! Kau cemburu!” kataku. Changmin masih menggelitik perutku. “Ya! Changmin-ah! Hentikan… Ah, perutku sakit! Ya!”

Changmin terus menggelitikku. “Aniya, aku tidak cemburu!”

Aku mencubit tangannya. “Ku bilang berhenti!”

Changmin berhenti, menyuruhku duduk di atas meja makan. Kami saling pandang sejenak, tersenyum, kemudian dia mendaratkan ciumannya di bibirku. Melanjutkan sesuatu yang sempat tertunda tadi.

***

Hari ini aku dan Yunho sudah berjanji akan pergi kencan. Aku sudah menunggunya di tempat kami biasanya bertemu. Tetapi ini sudah hampir 30 menit, Yunho belum saja datang. Tidak biasanya dia seperti ini.

Beberapa bulan tidak bertemu dengannya, sepertinya Yunho sedikit berubah. Menciumku di depan Changmin dan manajer Park, meminta Changmin membeli alkohol, dan kali ini, dia terlambat. Dia berbeda dari Yunho yang sebelumnya. Yunho yang tidak akan menciumku di depan orang lain, apalagi ciuman seperti tadi malam. Yunho juga tidak suka alkohol, dan Yunho selalu datang terlebih dulu sebelum aku datang.

Tuut…tuut…

Aku mengeluarkan ponselku. Telepon dari Yunho. “Yeobseo? Oppa!”

“Jagiya, mianhae. Aku tidak bisa pergi bersama kali ini. Aku dan manajer hyung sedang dalam perjalanan menuju salah satu stasiun televisi. Mianhae, jagiya. Ini mendadak.”

Aish… Sinca… “Arasseo.”

“Saranghae.”

“Nado.” Aku menutup flip ponselku. Mengapa dia tidak memberitahuku dulu? Aku sudah membuang-buang waktuku untuk menunggunya di sini!

Beberapa menit kemudian aku memutuskan untuk menghubungi seseorang. Seseorang yang selalu ada di sampingku ketika aku membutuhkannya.

“Changmin-ah, odiya?”

***

“Sudah lama menunggu?”

Aku menoleh. “Menunggu Yunho oppa, 30 menit. Menunggumu, 30 menit. Jadi aku di sini sudah 1 jam.”

“Aish, sinca…” Katanya. Nafasnya terengah-engah, belum teratur. “Mianhae. Aku harus berbohong dulu pada Kyuhyun!”

“Shiro! Kau harus dihukum!”

“Mwoya?”

Aku tersenyum licik. “Ppoppo. 30 kali!”

Matanya membesar. “Eh? Di sini? Jika Yunho hyung tahu, kita bisa celaka!”

“Yunho oppa tidak akan tahu. Dia sedang keluar dengan manajer Park.”

“Noona yakin? Manajer hyung memang sedang keluar, tapi dia tidak bilang akan keluar bersama Yunho hyung.”

“Ya! Aku kan yojachingunya! Ppali! Kau harus dihukum karena tidak disiplin!” kataku, kemudian memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian aku merasakan bibir lembut Changmin menyapu bibirku.

…. 29 ….30…. selesai. Aku membuka mata. “Gomawo.”

Changmin tersenyum, kemudian menarikku ke pelukannya. “Mengapa kalian tidak putus saja, noona? Jadi kita tidak membohongi hyung terus.”

Aku membalas pelukannya. “Andwae. Aku mencintainya, dan mencintaimu juga. Aku tidak bisa memilih seseorang di antara kalian. Jadi jangan paksa aku.”

Changmin mengelus kepalaku mesra. “Arasseo. Saranghae, noona.”

“Nado saranghae.” Aku tersenyum. Aku bahagia memiliki Yunho sebagai namjachinguku, dan aku bahagia memiliki Changmin sebagai selingkuhanku. Aku bahagia dengan keadaanku seperti ini.

Tiba-tiba mataku menangkap sosok yang sedang memandang kami dengan tatapan tajam di kejauhan sana.

Andwae.

Dia di sana, entah sudah berapa lama. Dia di sana, entah sudah melihat apa saja. Yang pasti, dia, Yunho, melihatku, yojachingunya, berpelukan dengan dongsaengnya sendiri.

Aku melihat bibirnya mengucapkan sesuatu. Ya. Dia memang mengucapkan itu. Aku yakin sekali dia mengucapkan itu.

“Why, baby?”

-END-

37 thoughts on “Why, Baby?

  1. Annyeoonngg*membungkuk 90 derajat,,(^_^) new reader d’sni,,huaaa authorrr ff na sungguh,,sungguhh,,sungguhhh,,membuat q patah hati,,tp bgs crta na,,

  2. baru bacaaaaaa…..miannnn….=))
    anehhhhhh…ngbaca ff TVXQ tanpa jaejoong, yoochun ma junsu……sedihhhhh….

    hah…ceritanya….daebaaakkkk…
    kasian Yunhoo….kasian bangetttt… tapi cwenya juga kasian deng…harus mencintai 2 orang yang perfect…
    kereeeennnnn…

  3. jarang ada ff yg bisa narik emosiku keluar, tp ini hebat
    total bgt jahatnya
    ikut ngerasa keselnya, ikut ngerasa sakitnya. daebak!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s