This is Love [AfterStory of : To Be Loved]

Readers… Mianhae *bow* Tiba2 nih ide muncul dan L~ gak bisa nolak. .huhuhu

Ini susunannya ya, buad yg baru baca, biar g bingung. .

Part 1 : But the truth remain you’re gone

Part 2 : To be loved

Part 3 : This is love

L~ janji ini yg terakhir. .janji *bow lagi* Cekidot!

This is Love

Aku bersembunyi di balik sebuah rak, mengintip Hongki dan Jaejin yang sedang berbicara di depan pintu perpustakaan. Lagi-lagi aku menghindarinya. Setelah kejadian satu tahun yang lalu, aku belum pernah menemui Seunghyun lagi.

Jaejin memberi hormat kepada Hongki, kemudian dia pergi. Aku menghela napas panjang, sambil keluar dari balik rak yang sempit itu.

“Misun-ah, aku tidak mau jadi tameng lagi!” kata Hongki, teman satu SMU-ku dan Jonghun dulu, setelah dia duduk di sebelahku.

“Mwoya~”

Plak!

Hongki memukul kepalaku. “Ya! Meski kau tidak menyukainya, jangan menghindarinya seperti itu! Sudah berapa lama kau tidak menemuinya? Satu tahun? Aigo~ Kau bisa mengirimnya ke rumah sakit jiwa!”

***

Aku berlari menuju lift kampus. Pakaianku belum rapi benar, tetapi aku tidak peduli. Aku bisa merapikannya di dalam lift. Hari ini entah mengapa kebiasaan terlambatku saat SMU muncul lagi.

Aku memencet tombol lift. Lama sekali. Aku melihat jam tanganku, 5 menit lagi dokter Park akan masuk kelas. Sial! Aku benar-benar terlambat!

Beberapa detik kemudian pintu lift terbuka.

Deg.

“Noona…” kata seseorang yang berada di dalam lift. Aku segera berbalik, hendak berlari. Tetapi sebuah tangan menghentikanku. “Kita harus bicara!”

“Aku… aku…” kataku terbata-bata. Aku harus bagaimana?

Dia melepas cengkeramannya. “Jebal…”

Aku tidak punya pilihan. Akhirnya aku menurutinya, masuk ke dalam lift. Aku memencet tombol 5. Dan kemudian suasana hening. Aku merapikan pakaianku, dan dia berdiri di sampingku. Kami hanya berdua di dalam lift ini.

Tiba-tiba aku merasa ini seperti deja vu. Benar. Aku pernah mengalaminya, bersama Jonghun. Bukan di dalam lift kampus atau lift sekolah, melainkan di lift sebuah pusat perbelanjaan. Saat itulah pertama kalinya aku mengenal Jonghun.

Ah, Tidak! Ini berbeda! Saat itu di sampingku Jonghun, sedangkan sekarang yang berada di sampingku adalah Seunghyun, seseorang yang selama satu tahun ini ku hindari.

“Mengapa noona menghindariku?” tanya Seunghyun memecah keheningan.

“Aku sibuk, Seunghyun-ah… Bukan menghindarimu…” jawabku. Aish… Mengapa jantungku berdegup kencang sekali? Apa karena aku berbohong? Omma pernah memberitahuku jika kita berbohong, jantung akan berdegup kencang. Benar, pasti karena aku berbohong! Tidak ada alasan lain!

“Bohong…”

Binggo.

“Noona…” katanya. Tangannya merapikan poni rambutku. Sial! Mengapa jantungku berdegup semakin kencang?

“Kau tidak memberiku kesempatan untuk menggantikan Jonghun hyung, aku bisa menerima. Tetapi aku tidak bisa menerima kau menghindariku. Hatiku sakit, noona. Dan karena noona menghindariku hatiku menjadi semakin sakit.”

Aku menepis tangan Seunghyun. “Mianhae, Seunghyun-ah.”

“Jangan menghindariku lagi, janji?” dia menyodorkan jari kelingkingnya kepadaku.

Aku melihatnya sekilas. Bekas luka satu tahun lalu masih terlihat jelas di tangannya. Luka yang disebabkan olehku. “Janji.” Kataku, membalas uluran kelingkingnya.

Dia tersenyum. Tetap manis seperti dulu. Tidak berubah meskipun aku pernah menyakitinya. “Kalau begitu ikut aku makan siang!”

“Aku ada kelas, Seunghyun-ah… Setelah kelas saja, bagaimana?”

“Baiklah. Aku akan menunggu, sampai aku tidak bisa menunggu lagi.”

***

“Enak?”

Aku mengaduk supku perlahan. Sudah lama aku tidak datang ke sini. “Dari mana kau tahu restoran ini?”

“Minhwan.”

Aku melihat sekeliling. Dan semua kenangan tentang aku dan Jonghun pun seperti film yang terputar jelas di otakku. Makan bersamanya di meja dekat jendela, mengerjakan hukuman dari Choi Sonsaengnim, terasa begitu nyata. “Kau tahu aku dan Jonghun sering makan di sini?”

Seunghyun mengangguk. “Tetapi aku mengajak noona ke sini karena makanannya enak, bukan karena Jonghun hyung.”

Aku tersenyum tipis. Seunghyun benar, makanan di sini enak sekali. Karena itulah aku dan Jonghun sering mengunjunginya.

Setelah makan, kami segera berjalan menuju apartemenku. Dan ini benar seperti deja vu. Bedanya, sekarang Seunghyun yang mengantarkanku, bukan Jonghun.

Karena terlalu memikirkan semua yang begitu tiba-tiba ini, aku tersandung.

“Noona!” Seunghyun menangkapku sebelum aku terjatuh. “Gwaenchana?” tanyanya. Dia memelukku. Dan aku bisa mencium bau tubuhnya. Omo… Ini parfum yang sama seperti yang biasa Jonghun pakai!

Masih dengan berjuta pertanyaan yang belum sempat terjawab, kami berjalan hingga sampai di dekat apartemenku. Tiba-tiba aku berhenti. Aku melihat seseorang di depan pintu apartemenku. Orang yang selama ini aku hindari juga. “Jaesun oppa…”

“Ne?” tanya Seunghyun. Dia melihat seseorang yang ku tunjuk itu.

“Seunghyun-ah… Ottohke? Dia pasti mabuk…” kataku. Suatu hari, Jaesun oppa pernah datang ke apartemenku. Dia mabuk, dan mengamuk. Memukuliku, hingga aku dirawat di rumah sakit. Beberapa hari kemudian dia datang menjengukku dan minta maaf. Dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi sekarang, Jaesun oppa ada di depan pintu apartemenku lagi. Memukul pintu apartemenku keras sekali.

“Ottohke…” Aku merapatkan tubuhku ke Seunghyun. Airmataku menetes.

Tiba-tiba Seunghyun memelukku, membenamkan wajahku ke dadanya yang bidang.  Sepertinya dia tahu aku ketakutan. “Ssshhh, uljima….” katanya. Tangannya membelai rambutku lembut. “Ayo kita pergi dari sini dulu.”

Aku masih menangis, tetapi entah mengapa aku merasa sedikit lebih tenang berada di dadanya. Detak jantung Seunghyun yang teratur membuatku tenang. Seperti ketika aku menangis di dada Jonghun. Belaiannya pun menenangkanku, seperti belaian Jonghun.

Ini deja vu. Terlambat masuk kelas. Kejadian di lift tadi pagi. Makan di resto tempat kami biasa makan bersama. Mengantarkanku pulang. Bau parfumnya. Dan terakhir, pelukan dan belaiannya ketika aku menangis. Ada apa sebenarnya?

“Noona, semuanya akan baik-baik saja, percayalah padaku.” katanya lagi. “Uljima…”

Aku semakin terisak di dadanya. Pertama, karena ketakutanku. Kedua, karena aku merasakan kehadiran Jonghun di tubuh Seunghyun.

***

Malam yang indah, tetapi aku tidak bisa tidur. Aku masih memikirkan mengapa semuanya bisa terjadi seperti itu? Jika ini sebuah kebetulan, maka ini semua terlalu sempurna.

Tunggu. Apakah Jonghun hidup kembali dalam tubuh Seunghyun?

Aku melirik jam di sebelah tempat tidurku. Pukul 1 malam. Jonghun selalu menggunakan piyama berwarna biru ketika tidur. Aku akan membuktikannya. Aku akan pergi ke apartemen Seunghyun dan melihat apakah benar Jonghun hidup dalam tubuh Seunghyun, atau ini hanya sebuah kebetulan belaka.

***

Ddok… Ddok… Ddok…

“Nugunde?”

“Misun.”

Pintu dibuka. Mataku tertuju pada piyama yang dikenakannya. Tuhan, dia kembali! Jonghun-ku kembali!

“Ah, noona! Tengah malam begini ada…”

Cup.

Aku masuk, menarik kerah piyama warna biru yang dikenakannya, menciumnya. Aku menciumnya ketika dia belum selesai bicara.

Aku melepas ciumanku. Baby, kau kembali! Pikirku, kemudian menciumnya lagi.

Aku melepas ciumanku lagi. Baby, aku merindukanmu! Pikirku, kemudian menciumnya lagi.

Aku melepas ciumanku lagi. Baby, aku benar-benar senang kau kembali! Pikirku, kemudian menciumnya lagi.

Aku melepas ciumanku lagi. Baby, kali ini kau tidak akan menghilang tiba-tiba seperti malam itu, kan? Pikirku, kemudian menciumnya lagi.

Aku melepas ciumanku lagi. Baby, mengapa kau tidak bereaksi? Kau tidak merindukanku? Pikirku, kemudian menciumnya lagi.

Dia tidak bereaksi sama sekali. Bahkan ketika aku mengalungkan tanganku ke lehernya, dia hanya bergeming.

Tunggu! Ini tidak benar! Dia bukan Jonghun! Dia Seunghyun!

Aku segera melepas ciumanku. Airmataku menetes begitu saja setelah menyadari orang yang kucium bukanlah Jonghun.

“Mianhae… Seunghyun-ah…” kataku. Suaraku bergetar. Babo! Apakah aku sudah gila? Bagaimana bisa aku berpikir orang yang sudah mati hidup kembali? Ini hanya sebuah kebetulan, Misun-ah! Jonghun tidak bisa hidup kembali! Dia sudah mati!

Aku berbalik, pergi meninggalkan Seunghyun. Tetapi tangan Seunghyun menarikku, menempelkan bibirnya di bibirku yang bergetar karena menangis. Dia menciumku lembut. Dan naluriku mengatakan aku harus membalasnya.

Dan tiba-tiba saja kami melakukan hal itu…

***

5 bulan kemudian…

Aku hamil.

Ini sudah bulan ke 4 memasuki 5. Karena perutku yang semakin membuncit, aku memutuskan untuk cuti kuliah selama satu tahun.

Kalian pasti tahu siapa ayahnya. Ya, dia Seunghyun. Aku sempat akan memberitahunya ketika aku menyadari bahwa aku hamil, tetapi dia sedang sibuk dengan tugas-tugasnya. Aku tidak tega, dan usianya pun baru 22 tahun, benar-benar usia yang belum matang untuk menjadi seorang ayah. Masa depannya cerah, tidak sepertiku.

Menurutku aku sudah tidak ada harapan lagi. Bagaimana omma jika tahu aku hamil? Bagaimana appa jika tahu aku hamil? Bagaimana Jaesun oppa jika tahu aku hamil? Aku terus menerus memikirkannya ketika pertama kali aku menyadari ada makhluk baru di perutku ini. Aku bahkan sempat berniat menggugurkan makhluk ini.

Tetapi aku seorang calon dokter. Bagaimana bisa aku berpikir sekejam itu? Lagipula ini salahku, bukan salah makhluk ini. Dan bukan juga salah Seunghyun. Ini semua salahku. Cintaku pada Jonghun yang membuatku begini. Malam itu aku berpikir Jonghun hidup kembali dalam tubuh Seunghyun.

Dan sudah hampir 4 bulan masa-masa sulit itu kulalui. Tidak ada yang tahu kecuali Hongki. Dia benar-benar teman yang baik. Dia yang selama ini mengantarkan makanan, menemaniku pergi ke dokter, dan membawakan beberapa buku kehamilan.

Hari ini Hongki akan datang. Biasanya dia datang sekitar pukul 5 sore, sepulangnya dari kampus. Aku sudah memesan makanan, dan beberapa kaset musik klasik untuk makhluk di dalam perutku ini. Aku menunggunya sambil menonton televisi.

Ddok… Ddok… Ddok…

Ah, itu dia. Aku pergi menuju pintu. Tanpa basa basi aku segera membukanya.

Deg.

Dengan cekatan aku menutup pintu lagi.

“Noona! Chamkanman!” katanya, menahan pintu apartemenku.

Dia datang. Ayah dari makhluk di perutku datang. Seunghyun datang.

Aku berusaha menutup pintu apartemenku dengan sekuat tenaga. Tetapi tiba-tiba aku mual. Segera aku berlari menuju kamar mandi.

“Noona… Gwaenchana?” tanya Seunghyun. “Mianhae, aku sibuk akhir-akhir ini. Profesor Kang menawariku beasiswa. Karena itu aku tidak sempat menemuimu.”

Bodoh! Mengapa kau datang sekarang? Cepat pergi atau masa depanmu akan hancur!

“Mereka bilang noona cuti selama satu tahun. Mengapa cuti selama itu?”

Aku merapikan rambut dan pakaianku. Tenang, Misun-ah. Jika kau tidak memperlihatkan tanda-tanda kau sedang hamil, dia tidak akan tahu!

Aku keluar dari kamar mandi, berusaha tersenyum padanya. “Seunghyun-ah, lama tidak bertemu. Aku cuti karena… hoek…”

Baru sebentar aku mual lagi. Kali ini Seunghyun ikut masuk ke dalam kamar mandi. Dia memijit leherku pelan. “Noona, kau sakit apa? Mengapa kau pucat sekali?”

Aku masih mual, sehingga tidak menjawab pertanyaannya. Airmataku hampir menetes. Jangan sampai dia mengetahui yang sebenarnya. Aku benar-benar akan menghancurkan masa depannya!

Seunghyun masih memijit leherku. Tapi kemudian dia berhenti. “Noona… Kau, hamil?”

Deg.

Aku tersenyum tipis. “Aniya! Bagaimana bisa aku hamil?”

Seunghyun menyentuh perutku. “Sekitar 5 bulan… Noona! Kau hamil… Anakku?”

Deg.

“Noona! Kau hamil anakku, kan?” Seunghyun memegang kedua pundakku. “Noona!”

Airmataku menetes. Tidak ada gunanya lagi menutupi semua itu pada Seunghyun. Dia calon dokter juga, dan lebih pintar dariku. Dia pasti tahu, meskipun aku menutupinya. Karena itu kuputuskan untuk mengangguk. “Mianhae…” kataku lemah. “Kau pergi saja dari sini. Anggap tidak pernah mengenalku. Aku tidak akan memintamu bertanggungjawab, Seunghyun-ah. Aku berjanji akan menghilang dari hadapanmu, secepat yang aku bisa.”

Tiba-tiba Seunghyun memelukku. “Aku tidak akan meninggalkanmu ataupun anak ini.”

“Tapi….”

“Gomawo, noona, telah mempertahankan anak kita. Aku tahu malam itu kau hanya memikirkan Jonghun hyung. Kau menciumku, tetapi kau berpikir kau mencium Jonghun hyung. Kau melakukannya bersamaku, tetapi kau berpikir kau melakukannya bersama Jonghun hyung. Gomawo, kau mempertahankan anak kita meski kau sebenarnya tidak mengharapkannya.”

***

Hari-hari berikutnya kulalui dengan ringan. Seunghyun terkadang menginap di apartemenku ketika libur. Dia mengambil kelas akselerasi dan melaksanakan kewajibannya sebagai calon ayah dengan baik.

Aku menunggu Seunghyun sambil membaca buku kehamilan yang dibelikan Hongki.

Semoga kalian bahagia^^ Seunghyun-ah, selamat menjadi ayah! Misun-ah, selamat menjadi ibu! Jangan lupa beri nama anak kalian Hongki agar mirip pamannya ini, kekeke~

Aku tersenyum tipis. Seandainya itu nama Jonghun, bukan Seunghyun, mungkin aku akan bahagia sekali.

Baby, apa kau masih mencintaiku setelah aku mengandung anak Seunghyun? Apa aku masih milikmu setelah mengandung anak Seunghyun? Jika kalian bertanya apakah aku masih mencintai Jonghun, jawabannya adalah sangat. Dan jika kalian bertanya apakah aku mencintai Seunghyun, jawabannya aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah aku merasa damai bersamanya karena mencintainya, atau karena rasa bersalahku yang terlalu besar padanya.

Tuut… Tuut…

Ponselku berbunyi. Itu pasti Seunghyun. Biasanya sebelum dia datang dia akan meneleponku terlebih dahulu untuk menanyakan apakah aku membutuhkan sesuatu.

Bug.

“Nnngggggghhhhh…”

Aku terjatuh. Kaki kananku tersandung kaki meja sehingga membuatku jatuh.

“Nnnggggghhhhhh….” lenguhku lagi. Rasanya perutku sakit sekali. Aku melihat ke arah perutku dan mendapati darah segar mengalir dari pahaku. Andwae!

“Nnnnggggghhhhhh….”

Andwae! Andwae! Tidak boleh terjadi sesuatu pada anak ini!

Aku berusaha menyeret tubuhku, menahan sakit yang teramat sangat di perutku. Aku harus bisa menggapai ponselku!

Klik.

“Nnggghhh… Seunghyun-ah…” kataku lemas. Setelah itu aku tidak sadarkan diri.

***

Putih. Semua serba putih ketika aku membuka mata. Dimana aku? Terakhir aku ingat aku terjatuh ketika akan mengangkat telepon dari Seunghyun. Aku memegang perutku. Omo! Dimana makhluk dalam perutku itu? Mengapa perutku mengecil lagi?

“Baby…”

Suara itu!

Aku segera mengedarkan pandangan ke tempat yang benar-benar seperti tanpa ujung ini, mencari pemilik suara itu. Ah, itu dia!

Aku berlari kearahnya, dan bersimpuh di depannya. “Baby, mianhae…”

Jonghun duduk, memelukku. “Untuk apa? Tidak ada yang perlu ku maafkan. Kau tidak bersalah, baby. Dan aku turut bersedih kau kehilangan anakmu.”

Aku tidak bisa menahan untuk tidak menangis. “Jangan membahas itu! Aku semakin merasa bersalah padamu, baby.” Benar, aku sangat merasa bersalah kepadanya.

“Gwaenchana, aku tidak marah padamu.” Kata Jonghun. Dia membenamkan kepalaku di dada bidangnya. Tidak ada detak jantung lagi yang kurasakan.

“Baby, mulailah mencintai Seunghyun. Kau akan bahagia bersamanya. Kau tidak perlu cemas. Aku akan selalu di sampingmu, baby. Aku akan menjaga kalian berdua.”

Kata-katanya itu… Membuat airmataku mengalir semakin deras. Mengapa Jonghun diciptakan begitu sempurna?

Jonghun memelukku semakin erat. Seperti memberikan pelukan untuk yang terakhir kalinya, pelukan yang dulu tidak diberikannya ketika dia pergi meninggalkanku, beberapa tahun yang lalu.

“Kau harus melanjutkan hidupmu bersama Seunghyun, baby…”

“Tidak! Aku tidak mau! Bawa aku bersamamu, baby! Aku tidak mau kembali! Kau tahu malam itu aku melakukannya karena apa? Karena aku memikirkanmu! Bayang-bayangmu selalu ada ketika Seunghyun bersamaku! Aku tidak bisa lepas darimu, baby! Jangan memintaku pergi! Ini kesempatanku untuk kembali bersamamu!” teriakku histeris. Bodoh! Jonghun bodoh! Mengapa dia menyuruhku melanjutkah hidup bersama seseorang yang tidak kucintai, sedangkan saat ini aku punya kesempatan untuk bersamanya lagi?

“Kau akan menyakiti Seunghyun, baby…”

“Apa kau tidak memikirkan perasaanku? Bagaimana bisa aku hidup dengannya jika bayang-bayangmu ada bersamanya? Aku akan menjadi orang yang paling jahat karena lebih mencintai bayangmu, yang sudah mati, bukan Seunghyun, orang yang benar-benar ada di sampingku! Baby, jebal. Aku lelah… Biarkan aku bersamamu saja… Aku tidak mau menyakiti Seunghyun lebih dalam lagi, aku tidak mau…”

***

Aku membuka mataku, melihat Seunghyun tertidur di sebelah tubuhku yang terbaring sambil menggenggam tangan kananku. Aku duduk, melihat tubuhku yang sebentar lagi akan kutinggalkan.

“Seunghyun-ah…” kataku lirih. “Mianhae, aku benar-benar tidak bisa berada di sampingmu… Tentang anak kita…Aku juga minta maaf…”

Aku menggenggam tangannya yang sedang menggenggam tangan kananku. Bekas luka ini…

“Seunghyun-ah, kau tahu aku mencintai Jonghun, kan? Kau tahu aku akan bahagia bersama Jonghun, kan? Kau pasti bisa menerima jika aku memilih Jonghun, kan? Masa depanmu cerah. Dan suatu saat kau pasti menemukan seseorang yang mencintamu. Cintamu terlalu sempurna jika kau berikan padaku, Seunghyun-ah. Aku tidak pantas menerimanya”

Aku mengelus kepala Seunghyun. Dia harus kuat. Selain kehilangan anaknya, dia juga akan kehilangan aku. Aku tidak bisa semakin menyakitinya, aku tidak bisa hidup dengan perasaan bersalah lagi.

Aku lelah terus-terusan tersiksa dengan perasaanku. Aku terlalu mencintai Jonghun, dan benar-benar tidak bisa mencintai yang lain. Ini adalah kesempatanku untuk bersama Jonghun lagi. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.

Aku bangkit dari tubuhku, terbang menuju Jonghun. Dia sudah menunggguku di atas sana.

Mulai saat ini, aku akan bersama Jonghun, selamanya.

Dan Seunghyun, dia akan menemukan cintanya yang terlalu sempurna itu, secepatnya.

-END-

10 thoughts on “This is Love [AfterStory of : To Be Loved]

  1. PS special for Rizuka?????

    pengen another love story nya Seunghyun pairing kamu?? L~ gak begitu mahir bkin happy ending. .gimana?? ><

  2. Waaaa
    nangis aku bacanya ><
    jeongmal gomawo onnie
    buat terserah onnie aja ;)
    walopun aku pengen happy ending, tapi kalo endingnya bukan itu gapapa kok
    waa, seneng banget onnie mempertimbangkan usulku :D
    gomawo onn~

    • ah, sinca??

      ini udah tamat . . selesai sampai di sini aja soalnya aku takut kepanjangan ><

      tunggu karya yg lain aja ya?? ehehe

    • sinca?? aduh. .mian udah bkin kamu nangis. .tpi uda baca yg sebelumnya kan?? biar gak bingung. .

      tunggu karya yg lain ya.. ak suka sad ending, ehehehe

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s