15

[Freelance] Trouble To Say Love You part 3

Trouble to say love you 3/?

Author : iz a.k.a Park yeon rie

Cast : Kim soo hyeon,,suzy (miss a),IU,Wooyoung (2pm),Choi minho,krystal,taecyeon,eunjung (t.ara),choi siwon,

Genre : Romance

Ratting : PG 16+

haii readerss.. ,,sekedar info untuk nama kim soo hyeon disini author mengubahnya jadi kim soo hyun biar singkat penulisan katanya. Mohon dimaafkan bila ada salah kata dalam penulisan ff ini.

* dont be silent readers,,please commentnya *

kim SOO hyun POV

“besok setelah acara pertunangan,,aku ada meeting di perancis,,jadi aku akan pergi selama beberapa hari” beritauku pada suzy yg tgah aku peluk.

“baiklah hati2 disana.a jgn lupha beri kabar aku” jawab suzy dengan datar dan masih memandang jihyun yg sekrg terlelap di pangkuannya.

“kajja,mari kita istirahat,,besok kita minta maaf pada eomma” aku mengaitkan lengan pada pinggang suzy dan berjalan menuju kamar. *.*

………..trouble to say love you……………

Continue reading

18

[Freelance] Reaper [Dear God, Count Me in/7 end]

(Note: to all appreciate readers,while reading this part please listen “SJ-in my dream” is really advised for get a deep feels. Khamsa^^)

kematian adalah sesuatu yang pasti. Yang tidak pasti adalah apa yang berada di balik kematian itu—The Handbook Of Hauntings

~~~~

“tidak menunggu sampai kado natal-mu datang?” ucap heechul tiba-tiba yang sudah duduk manis di jok sebelah ku.

“tidak tertarik” jawabku datar

“mungkin jika kau mengetahui isi kado-mu kau akan tertarik,tapi kau tak akan pernah tahu…..”

Ucapnya terputus

“selamanya…” lanjutnya pelan diikuti seringai evilnya.

~~~

Aku segera mengengok ke arahnya, jantungku berdegup keras saat itu. Seluruh badanku bergetar, aku tidak menyangka heechul akan mengambil nyawaku detik ini.

Aku bahkan belum menciptakan perpisahan yang indah dengan appa aku malah bertengkar hebat dengan appa.

Aku tetap memandang heechul dengan panik,bibirku gemetar tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut ku. Heechul memandangku dengan tatapan yang sulit diartikan

“times up”

Ucapnya dingin.

“TIIIIIINNNNN!!!!” sinar lampu mobil menyeruak ke indra penglihatan ku membuatku sulit untuk melihat apapun, aku menoleh ke arah jalan dan “BRAAAAAK!!!” sebuah container melempar black-audi ku ke bahu jalan aku mendapatkan hantaman yang sangat keras dikepalaku.

Semuanya persis seperti yang terjadi di dalam mimpi ku tujuh hari yang lalu. Tulang punggungku remuk,darah segar mulai membasahi wajah ku, aku bahkan bisa melihat tulang tanganku yang menonjol keluar sebelum aku menutup mataku untuk selamanya.

~~~

HOSPITAL

8:48 PM

Emergency Room

“satu..dua..tiga..!!”

‘nit..nit..nit..” lagi-lagi aku bisa melihat raga ku sendiri,terbujur kaku dengan luka dan memar di hampir setiap bagian tubuhku. Deja’vu terus memenuhi otak ku sejak tadi.

“detak jantungnya sudah semakin melemah!” ucap seorang dokter panik “YONA!!” aku menoleh ke arah pintu kaca di ruangan ini, kulihat appa sedang meraung-raung untuk diperbolehkan masuk.

“satu..dua..tiga..!!” aku kembali menoleh ke arah ragaku yang sedang terpental karana guncangan dari alat pacu jantung itu. “kau sudah siap?” ucap heechul disampingku. “aku belum siap.sangat” isaku pelan

“kembalilah” ucapnya datar “kembalilah ke raga-mu” lanjut heechul pelan, aku membulatkan mata ku tidak percaya “kupikir kau tak layak untuk hidup kembali tapi ternyata aku salah kau layak untuk hidup kembali” jelas heechul datar dan tetap memandangi raga ku yang detak jantungnya terus melemah.

“tapi kenapa?” tanya ku tak percaya dengan semua yang telah terjadi aku tidak mungkin mempercayai ucapanya begitu saja.

“kau pikir aku tidak tahu,saat kau diam-diam memberikan seluruh ratusan won-mu untuk seorang biarawati tua saat kau sedang berkunjung bersama siwon, memberikan sumbangan makanan ke seluruh panti asuhan di seoul untuk malam natal , dan memberikan seluruh aset dan kekayaan mu untuk panti asuhan dan  seoarang yatim-piatu bernama Park-Miran yang kau tulis dan kau taruh dibawah pohon natalmu”

Jelas heechul tenang, aku menutup mulut ku tak percaya “aku selalu berada disisimu,bahkan saat kau tak bisa melihat diriku” bisik heechul pelan.

“lanjutkanlah hidupmu untuk 50 atau 70 tahun lagi”

Bisiknya lagi namun kali ini terdengar lebih lembut ditelingaku.

Aku mendekatkan diriku ke arah baru saat aku akan menyentuh ragaku “satu pasien kecelakaan lagi,tiba disini!!” teriak seorang suster sambil sibuk membersihkan darah yang bercucuran dari pasien itu.

Aku menengok ke arah pasien itu “Omma!” desahku tertahan,aku langsung berlari mengahampirinya. “biarkan aku pergi,putriku pasti sedang menunggu kehadiran ku,karna aku adalah kado natal-nya” ucap omma meronta menolak semua alat bantu yang akan dipasangkan.

“yona-ssi tunggu omma, aku pasti datang aku tidak akan pernah meninggalkan mu lagi” ucapnya sambil terus meronta dengan tenaganya yang tersisa.

“maafkan omma yona-ssi,omma melakukan ini semua demi kebaikan keluarga kita” lanjutnya, suaranya mulai melemah aku melihat ke arah elektrokardiograf-nya  ya tuhan detak jantungnya semakin melemah. Apa yang harus kulakukan?

“yona-ssi…maafkan omma….aku sangat menyanyangimu” ucapnya pelan,lalu menutup matanya dan aku bisa melihat alat elektrokardiograf-nya yang membentuk sebuah garis lurus yang panjang menandakan bahwa tidak ada aktivitas lagi didalam tubuh itu.

Aku menutup mulutku tak percaya ntah untuk yang keberapa kalinya di hari ini. Aku tak bisa membiarkan semua ini terjadi di depan mataku begitu saja.

Aky berlari ke arah heechul “heechul-ah tolong selamatkanlah omma ku” ucapku panik, namun heechul hanya diam saja “heechul-ah kumohon!” ucapku lagi sambil menggoyang-goyangkan bahunya tapi dia tetap saja terdiam.

Aku berlutut dihadapanya dengan air mata yang mulai berjatuhan dari kelopak mata ku “heechul-ah kumohon selamatkan dia,dia sangat berarti bagi ku dan aku sangat menyayanginya”  isaku.

“aku bisa saja menyelamatkanya tapi kau tak akan pernah bisa melanjutkan hidupmu kembali” jawab heechul dingin.

DEG! Kata-kata itu terdengar seperti petir ditelingaku, aku menoleh ke arah omma yang sedang diberi alat pacu jantung lalu menoleh ke arah ragaku yang telah terbujur kaku “selamatkan dia” jawabku pelan nyaris seperti bisikan

Heechul menatapku dalam “selamatkan dia,lalu aku akan tetap ikut bersamamu” jawabku sambil tersenyum lirih. Saat itu juga elektrokardiograf-omma berbunyi kembali “terimakasih”  ucapku lirih kudengar beberapa dokter dan suster berteriak tak percaya “ini muzikzat”

Aku menghampiri omma, aku mengusap wajahnya walau sekarang aku sudah tidak bisa menyentuhnya lagi “omma berjanjilah kau akan selalu menemani appa” bisiku pelan

“aku sudah memaafkan mu bahkan jauh, sebelum kau menginginkan maaf dariku” lanjutku dengan tetap berbisik, aku bisa melihat setetes air mata keluar dari matanya yang masih tertutup.

“aku sangat menyayangimu dan appa jadi hiduplah untuk 50 atau 70 tahun lagi”

Lalu aku mencium keningnya lembut.

“waktunya pergi” bisik heechul, aku memejamkan mata ku sebentar lalu mengikuti punggung heechul.

~~~

“niiiiiiiiiiiiiiiiiiiittt…………”

Hanya suara itu yang kudengar sebelum aku pergi mengikuti punggung heechul, aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit ini, semuanya terasa seperti adegan slow-motion yang melambat.

Aku bisa melihat donghae yang sedang terduduk dan menangis, hankyung yang menyenderkan kepalanya di dinding dan juga menangis.

Siwon yang berlari sambil berteriak menyebutkan nama ku, menembus bayanganku menuju ruangan itu dengan panik. Appa yang langsung tak sadarkan diri setelah mendengar bunyi tadi yang terus berbunyi hingga sekarang.

Semua orang tahu, satu dari dua pasien yang berada didalam ruangan itu telah pergi. Dan ya, itu aku. Aku melihat sependar cahaya putih di ujung lorong yang semakin lama semakin terang.

“apa kau siap?” tanya heechul sambil mengulurkan jemari-jemarinya yang indah kehadapanku ketika kita telah sampai di depan cahaya putih itu. Aku menatapnya ragu-ragu namun aku segera menyambut tanganya “ya, aku siapa” jawabku yakin seraya tersenyum

Seketika itu juga sayap heechul berubah menjadi putih.

Aku memblalakan mataku tak percaya, kali ini heechul benar-benar terlihat seperti malaikat yang berkilauan di mataku “sebenarnya aku bukan lah malaikat pencabut nyawa tapi aku adalah malaikat-mu” ucapnya sambil tersenyum, senyuman yang tak pernah kulihat sebelumnya, senyuman Malaikat.

Sekarang aku mengerti mengapa Miran bisa melihatnya karna dia adalah seorang malaikat yang turun dari surga untuk menjemputku.

~~~

Sesuatu yang berawal  buruk belum tentu berakhir buruk juga. Siapa yang menyangka bahwa seorang Death Reaper yang selalu aku benci ternyata adalah Malaikatku sendiri yang sekarang menempatkan ku di tempat yang paling indah.

Dan disinilah aku sekarang berada diantara awan-awan memandangi kelanjutan hidup orang-orang yang kusayangi dibawah sana.

Jika kalian tanya apakah aku bahagia disini?

Tentu saja aku sangat bahagia disini

~ THE END~

EPILOG—

26th december 2010

The Cloudy Day

FUNERAL PRESTIGIOUS,SEOUL.

Lembabnya tanah pemakaman menyesap ke setiap indra penciuman. Limosin-limosin dan puluhan mobil mewah lainya terparkir rapih disekitar areal pemakaman itu.

Petinggi-petinggi dari semua perusahaan di Asia terus berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir.

Udara dingin yang menusuk membuat semua orang merapatkan mantel dan Coat mereka. Karangan bunga turut berduka cita terus berdatangan dari berbagai kalangan.

Sebuah foto terbingkai indah dengan seorang gadis cantik yang tersenyum didalamnya membuat semua oarang yang melihatnya berkata “begitu malangnya gadis ini”

Seketika suasana menjadi sunyi senyap ketika peti jenazah mulai memasuki area pemakaman, isakan tangis mulai terdengar ketika pelitur peti jenazah mulai bergesekan dengan tanah.

~Breaking news~

“Kim Yona the one of top supermodel in korea and the heiress of Shinwa’s group has been

died after the tragic accident that happened to her last night.

We prayed for her, Rest in peace at theres

I’m Moon-Seouk live from funeral prestigious,seoul.”

~~~

Gemeneh?mengecewakan kah?mianhe~ yang penting nih ff kelar juga *goyang karawang bareng bang ichul* BIG THX buat semua readers yang uadah mau ngikutin ff ini sejak indonesia belum merdeka #plakk

Maaf juga jangka waktu publish yang terlalu lama. Well,as much as i hate being grounded T^T and not being able to hangout with my all dudes on weekends and sat-nite at least it gives me an excuse to finished this ff surely—without sin(?)

Okedeeeh jangan lupa komen komen komen are greatly appreciate as always. See you soon in other ff~chu~ :*

Cast:  siwon,heechul,donghae,hankyung,superjunior.

Genre: romance,continue,angst,tragedy,fanfiction.


 

 

17

Photograph

Ini FF request dari Rizuka… Semoga tidak menangis saat baca ini ya.. Kekeke~

yang lain, kalo mau request FF bisa kok, komen aja di FF nya L~

tapi L~ specialis sad ending ya… L~ gak begitu bisa bikun happy ending…

Cekidot!!

 

Photograph

 

Hari yang cerah. Saat ini siswa SMU Neul Paran sedang beristirahat. Tak terkecuali aku, Kim Sunhae. Seorang siswi SMU tingkat dua yang hobby fotografi. Aku sedang membersihkan polaroid pink-ku ketika Yi En tiba-tiba datang mengagetkanku.

“Sunhae-ya! Kau sudah mendapatkan tempat yang cocok untuk pemotretan?” tanya Yi En. Dia menyeret sebuah kursi di sebelahku, kemudian duduk di sana.

“Belum.” Jawabku singkat, masih sibuk dengan kamera polaroid pink-ku.

“Ya! Kau bilang akan membantuku membuat kado yang indah untuk Jaejin oppa? Aish…”

“Mianhae, aku sedang banyak tugas.” Jawabku. Kuarahkan polaroid pink-ku itu ke arah Yi En, memotretnya. “Charanta…”

“Ya!” Yi En memukulku. “Ulang tahunnya sebentar lagi! Aku sudah mengandalkanmu beberapa minggu yang lalu dan kau menyanggupinya!”

Kukibas-kibaskan hasil jepretanku itu. “Arasseo, arasseo. Sepulang sekolah aku akan mencari lokasi.” Aku melihat hasil jepretan polaroidku tersebut, kemudian menempelkannya di sebuah album khusus yang kubuat untuk foto-foto hasil jepretan polaroid pink-ku tersayang ini.

“Jeongmal?” tanya Yi En bersemangat. “Gomawo, Sunhae-ya! Kau yang terbaik! Semoga kau bisa menjadi fotografer yang andal! Saranghae!” tiba-tiba Yi En memelukku.

“Saranghajima… Aku masih menyukai seorang namja!”

 

***

 

Karena aku sudah berjanji membantu Yi En membuat kado yang spesial untuk ulang tahun namjachingunya itu, pulang sekolah ini aku mengajaknya menuju sebuah taman di dekat pusat kota. Salah satu taman indah sekali untuk pemotretan, yang dimiliki kota kecilku ini. Segera ku ambil kamera SLR-ku, memotret beberapa angle yang menarik.

“Ya! Bagaimana jika kita mengambil foto di sini?” tanyaku. Kulihat Yi En sedang bermain air kolam di tengah taman. Kupotret dia berkali-kali.

Yi En tidak sadar jika dia sedang menjadi obyekku. “Bukan tempat yang buruk. Terserah kau saja.” Tiba-tiba Yi En berbalik. “Ya! Kau memotretku tanpa ijin!”

“Ani. Aku tidak memotretmu!” teriakku. Segera ku arahkan kameraku ke segala arah, berpura-pura memotret obyek lainnya. Dan aku mendapatkannya. Kameraku menangkap obyek yang tak kalah menariknya dari Yi En. Seorang namja manis yang sedang bermain gitar di dekat sebuah toko. Aigo.. Pengamen dari surgakah dia?

“Yi En-ah! Lihat pengamen di sana?”

Yi En menghampiriku. “Di dekat toko itu?”

Aku mengangguk, masih memotret pengamen dari surga itu.

“Oh. Di sini dia rupanya. Dia Song Seunghyun, siswa SMU Kyungnam.”

Aku terkejut. “Siswa SMU?”

Yi En mengangguk. “Dia hoobae Jaejin oppa, bukan pengamen. Oppa pernah menceritakan salah satu hoobaenya suka bermain musik di taman. Ternyata taman ini yang dimaksud.”

Keren sekali… Baru kali ini aku menemukan seorang siswa SMU bermain musik di tempat seperti ini. Dan entah mengapa aku mempunyai firasat yang baik.

“Dia terkenal di kalangan siswa SMU. Suaranya indah. Sedikit misterius, kata Jaejin oppa dia tidak pernah berbicara pada perempuan ketika di sekolah kecuali dengan guru.” Lanjut Yi En.

“Tampan…” tiba-tiba saja kata tersebut keluar dari mulutku. Kuarahkan kameraku, memotretnya berkali-kali. Seakan setiap detik adalah momen yang tak boleh terlewatkan.

“Ya! Kau sedang apa?”

“Bekerja…”

“Ya! Obyekmu ada di sini! Bukan Seunghyun! Sunhae-ya~ Aish…”

Aku memang bukan seorang fotografer yang andal. Aku hanya memotret momen, karena bagiku momen itu tidak dapat terulang kembali. Meskipun demikian, aku tahu obyek mana yang bagus dipotret, dan mana yang tidak. Yang mana yang pantas untuk diabadikan, dan mana yang tidak.

Dan menurutku, Seunghyun adalah obyek yang sempurna untuk dipotret.

 

***

 

Sejak hari itu, setiap pulang sekolah aku selalu menyempatkan berkunjung ke taman tersebut. Memotret Seunghyun dari kejauhan. Hari itu, sesampainya di rumah, aku segera mencetak foto-foto Seunghyun dan menempelkannya di studio pribadiku. Kuputuskan membuat tempat khusus untuk foto-foto Seunghyun yang akan kucetak setiap harinya.

Hari ini dia menggunakan kaos berwarna putih. Rambutnya yang sedikit panjang untuk ukuran anak SMU diikatnya ke belakang. Dengan senyum khasnya, dia bermain gitar di depan anak kecil yang sedang berlarian itu.

Sadarkah jika dia sangat fotogenik?

Baru kali ini aku menemukan obyek yang sempurna. Biasanya aku akan memotret seseorang hanya dengan beberapa jepretan saja, kemudian mencari yang lain. Tidak perlu bersembunyi, memotretnya diam-diam seperti ini. Seperti paparazi…

Seorang gadis kecil berlari mengejar bolanya yang menuju ke arahku. Segera aku memanggilnya. “Kau… Gadis kecil… Nawa…”

Gadis kecil itu tersenyum. Ku arahkan kameraku, memotretnya.

“Ada apa, eoni?”

Aku berlutut. “Kau tahu oppa yang ada di sana? Yang sedang bermain gitar itu?”

Dia memandang ke arah yang kutunjuk. “Ne…”

“Berikan ini kepadanya…” aku mengeluarkan dua buah permen gula. Kuberikan satu kepada gadis kecil tersebut. “Jangan bilang dari eoni, arachi? Dan ini…” kuberikan satu permen gula lainnya. “Permen gula untukmu…”

“Kamsahamnida, eoni…”

Aku mengelus kepalanya lembut. “Semoga kau tumbuh menjadi gadis yang cantik!”

Aku menyiapkan kameraku untuk memotret momen ketika Gadis kecil tersebut berlari menuju Seunghyun. Diberikannya permen gula tadi. Seunghyun tersenyum, mengelus kepala gadis kecil itu. Menerima permen gula yang kuberikan tadi, membuka bungusannya, kemudian memakannya. Manis sekali!

Hari ini aku memperoleh beberapa kesimpulan tentang Seunghyun. Pertama, senyumannya manis sekali. Kedua, dia menyukai anak kecil. Ketiga, aku menyukainya.

Kesimpulan ketiga itu membuatku tersenyum.

“Seunghyun-ah… Non naekkoya…”

 

***

 

Ku tempel foto terakhir Seunghyun yang kudapat hari ini di dinding studio, ketika dia menerima permen gula dariku itu. Salah satu foto terbaik Seunghyun yang kudapatkan.

Kupandangi semua foto yang kudapat dua hari ini. Sudah lebih dari 100 foto yang kucetak. Dan masih ada beberapa foto lain yang tidak ku cetak. Apa aku sudah gila? Baru dua hari dinding yang kukhususkan untuk foto Seunghyun sudah hampir penuh.

Ddok… Ddok… Ddok…

“Sunhae-ya! Ini Yi En!”

Aku membuka pintu studioku. “Kau membawa pesananku?”

Yi En masuk, menaruh beberapa kantong plastik di meja. “Ne, Kim Sunhae-ssi. Styrofoam, bunga mainan, buku gambar, cat minyak, krayon, balon…. Aigo, Sunhae-ya! Kau sudah gila? Ini khan Seunghyun!” Yi En berjalan memandangi foto-foto Seunghyun. “Ya! Kau menyukainya?”

Aku hanya tersenyum. “Sepertinya begitu… Kau tahu? Ini foto hari ini… Dia tampan, bukan?” aku membuka beberapa kantong belanja. Kukeluarkan isinya, kemudian duduk di sebuah kursi sambil menyiapkan perlengkapan untuk membuat time capsule.

“Sunhae-ya… Kau menyukainya hanya dalam waktu dua hari?” tanya Yi En. Dia duduk di sebelahku, mengambil buku gambar dan krayon. Dia menggambar sebuah hati berwarna merah, besar sekali.

Aku tersenyum tipis. “Begitulah… Kekeke~”

“Kau bahkan belum mengenalnya dan dia belum tahu namamu?”

“Apakah itu penting?”

“Aish… Sinca… Kau fotografer andal tapi tidak sebanding dengan otakmu…”

“MWOYA? MAU KUBATALKAN TIME CAPSULEMU UNTUK JAEJIN?” teriakku.

Yi En tertawa, melemparkan beberapa serpihan styrofoam kepadaku. “Merong~”

 

***

 

Yi En benar. Aku harus bisa berkenalan dengan Seunghyun. Aku tidak boleh selamanya jadi paparazi, aku harus berkenalan dengannya!

Satu minggu sudah aku menjadi paparazi. Pergi ke taman, bersembunyi, memotretnya dari kejauhan, mencetaknya, menempelkannya di dinding studio pribadiku. Hari ini kuputuskan untuk berkenalan dengan Seunghyun, bagaimanapun caranya.

Kulihat Seunghyun datang dengan menenteng gitar putihnya. Karena sudah terbiasa memotretnya, tanpa ada yang mengomando lagi segera kuarahkan kameraku menuju Seunghyun. Setelah puas memotretnya, aku segera merapikan seragamku. Saatnya berkenalan dengan Seunghyun. Sunhae-ya, fighting!

Aku berjalan perlahan sambil berpura-pura memotret sekitar. Kulirik Seunghyun yang sedang memainkan beberapa melodi sederhana. Seperti biasa, anak-anak kecil sudah mengelilinginya dari tadi. Aku memotretnya sebentar, kemudian duduk di dekat seorang gadis kecil. “Gadis kecil, kau tahu siapa dia?”

Gadis di sebelahku itu menjawab, “Seunghyunie oppa…”

Bahkan gadis kecil pun mengenalinya. “Kau sudah mengenalnya lama?”

“Ne… Seunghyunie oppa sudah lama di sini… Aku menyukainya… Karena itu aku berada di sini setiap sore…”

Bahkan gadis kecil pun menyukainya. “Mengapa kau menyukainya?”

“Seunghyunie oppa sangat tampan dan keren… Seunghyunie oppa sering memberiku permen gula…”

Bahkan gadis kecil pun bilang dia tampan dan keren!

“Kalian sudah lama menunggu?” tanya Seunghyun. Mata Seunghyun berbinar. Dia memang tampan dan keren. Pantas saja gadis kecil di sebelahku menyukainya.

“Ne~”

“Mianhae, aku sedang ujian beberapa hari ini. Mungkin akan sering terlambat. Cha, sekarang aku harus memainkan lagu apa?”

Salah satu gadis kecil yang duduk paling depan mengangkat tangannya. “Seunghyunie oppa! Mainkan lagu ‘gom se mari’!”

“Seunghyunie hyung! Mainkan lagu Super Junior, Sorry Sorry!”

“Seunghyunie oppa! Mainkan lagu FT Island, nappeun yoja!”

“Ya~ Kau masih kecil belum boleh mendengarkan lagu itu… Hyung, mainkan lagu T-ara, boopeepboopeep saja!”

“Oppa… Hyung… Oppa.. Hyung…”

Dengan sekejap keadaan berubah menjadi ramai. Anak-anak ini menyebutkan semua lagu yang diketahuinya, agar Seunghyun menyanyikan untuk mereka. Seunghyun hanya tersenyum manis melihat mereka. Seunghyun pasti sangat menyayangi mereka. Begitu pula sebaliknya.

“Kurae… Aku sudah mendengar permintaan kalian. Aku akan memainkan satu lagu pembuka dulu…”

Seunghyun mulai memainkan gitarnya di depan anak-anak ini, dan di depanku juga. Mataku tidak berkedip, dan aku tidak percaya aku bisa melihatnya sedekat ini. Kuarahkan kameraku kearahnya. Momen yang terlalu berharga untuk dilewatkan.

Beberapa detik kemudian aku mendengarnya bernyanyi. Suaranya merdu sekali. Membuatku semakin menyukainya.

Seunghyun mengajak anak-anak ini menyanyi, menari, dan tertawa riang. Tak terasa sore sudah menjelang malam, dan anak-anak ini pun harus pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pulang, Seunghyun membagikan permen kepada mereka. Segera ku arahkan kameraku lagi dan lagi. Ini adalah kesempatan yang langka untuk mengambil foto close up Seunghyun.

“Hari ini selesai sampai sini saja ya, aku harus belajar untuk ujian besok. Kalian juga. Belajar yang rajin! Mungkin besok aku terlambat. Jika aku tidak datang hingga 30 menit, pulanglah saja, jangan menungguku! Jaga kesehatan, arachi?”

“Ne~”

Satu per satu mereka pulang, meninggalkanku dan Seunghyun yang sedang membereskan gitarnya. Aku berjalan perlahan mendekati Seunghyun. Detak jantungku berdebar semakin cepat. Seakan-akan Minhwan, temanku yang seorang drummer itu, memainkan drumnya keras-keras di dalam hatiku.

Aku semakin dekat dengan Seunghyun. Bau parfumnya yang lembut dengan mudah bisa kucium. Ini adalah tipe-tipe parfum seorang namja yang hangat, sopan, penyayang, dan baik hati. Terbukti beberapa saat yang lalu ketika dia bersama anak-anak tadi.

Aku menarik napas dalam-dalam. “Jogi… Aku melihatmu bermain bersama anak kecil…”

Seunghyun melihatku sekilas. “Aku sangat menyukai anak kecil.” Kemudian melanjutkan membereskan gitarnya.

Kuberanikan diri mengulurkan tanganku kepadanya. “Kim Sunhae, kau?”

Aku sempat khawatir dia tidak membalas uluran tanganku, tetapi ternyata dia membalasnya sambil tersenyum. “Song Seunghyun. Aku harus segera pulang. Selamat tinggal.” Katanya, kemudian dia pergi meninggalkanku.

Omona… Aku berhasil menyentuh tangannya! Aku berhasil menyentuh tangannya meskipun hanya sebentar! Aku berhasil berkenalan dengannya!

Segera kuarahkan kameraku ke arah Seunghyun yang sedang berjalan sambil menenteng gitar putihnya itu. Meskipun hanya terlihat punggungnya, tetapi bagiku tetap saja terlihat sempurna.

Aku senang, tentu saja! Bukan awal yang buruk untuk mengenal Seunghyun lebih dekat lagi…

Aku memotretnya berkali-kali, seperti yang setiap hari kulakukan. Kali ini adalah momen ketika Seunghyun pulang setelah bermain gitar, sebuah momen yang belum pernah kudapatkan selama satu minggu ini.

Aku memotretnya ketika Seunghyun berjalan.

Aku memotretnya ketika Seunghyun berlari.

Aku memotretnya ketika Seunghyun berhenti di tempat penyebrangan.

Aku memotretnya ketika Seunghyun mulai melangkahkan kakinya lagi.

Aku memotretnya ketika tiba-tiba sebuah mobil berada sangat dekat dengan Seunghyun.

Aku memotretnya ketika Seunghyun terlempar keras menghantam jalan raya.

Aku memotretnya ketika darah mengalir dari beberapa bagian di tubuh Seunghyun.

Aku memotretnya ketika banyak sekali orang yang mengerumuninya.

Prang!

Kamera SLR-ku terjatuh ketika kusadari aku baru saja mengabadikan momen saat sebuah mobil menabrak Seunghyun, keras sekali…

“ANDWAE!!!!!!!!!!!!!!! SEUNGHYUN-AH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

 

***

 

Ddok… Ddok… Ddok…

“Sunhae-ya… Buka pintumu…” Yi En lagi-lagi mengetuk pintu studio pribadiku. “Kau tidak ikut ke pemakaman Seunghyun?”

Aku menatap nanar ratusan foto yang kutempel di dinding studioku itu. Dia sudah tidak ada lagi… Saat ini dia sudah tidak ada lagi…

“Sunhae-ya… Bukan salahmu Seunghyun meninggal… Kau hanya tidak sengaja memotretnya ketika dia meninggal… Kau tidak boleh seperti ini terus…”

Bukan salahku? Yi En bilang bukan salahku? Ini semua salahku!

“Sunhae-ya… Aku dan Jaejin oppa akan pergi ke pemakaman Seunghyun sekarang… Makanlah… Jangan seperti ini terus, Sunhae-ya… Kami pergi dulu…”

Ku pandangi foto-foto ketika Seunghyun tertabrak mobil.

Dia kesakitan… Dari ekspresinya aku bisa melihat dia kesakitan…

Darahnya mengalir… Warna merah itu terlihat jelas membanjiri tubuhnya…

Seandainya aku tidak fokus memotretnya, seandainya aku melihat mobil tersebut, seandainya aku menahannya dulu agar dia tidak segera pulang…

Aku yang menyebabkan Seunghyun meninggal!

Prang!

Kulempar ketiga kamera SLR koleksiku ke dinding tempat kutempelkan foto-foto Seunghyun hingga pecah berkeping-keping.

“ANDWAE!”

Aku benci pada kamera itu! Aku benci pada semua hal tentang fotografi! Karena fotografi aku kehilangan orang yang kusukai… Karena fotografi… Aku kehilangan orang yang sangat kusukai…

 

***

Aku duduk di sebelah pekuburan yang masih basah tersebut. Tidur dalam keabadian untuk selamanya, Song Seunghyun yang kusukai…

REST IN PEACE, SONG SEUNGHYUN. 1992-2011.

“Seunghyun-ssi… Mianhamnida…” kataku. Aku mengusap airmataku yang tidak berhenti menetes sejak kemarin sore. Bagaimana tidak? Aku mengabadikan sendiri momen ketika orang yang sangat kusukai itu meninggal… Aku yang mengabadikannya…

Kutaruh sebuah bunga dan kotak di dekat nisannya. Kotak berisi ratusan foto-fotonya yang kuambil selama satu minggu ini, yang selama ini melekat di dinding studio pribadiku, termasuk foto detik-detik ketika dia meninggal.

“Jeongmal saranghaeyo…” kataku lagi. Kuambil sebuah surat dari saku jaketku. Kuletakkan di atas kotak tersebut. Aku berdiri, meninggalkan pekuburan itu dengan rasa bersalah yang begitu mendalam.

Seunghyun-ssi… Mianhamnida…

Mulai detik ini, aku berjanji tidak akan memotret lagi…

 

***

 

Dearest Song Seunghyun, Annyeonghaseyo…

Kau masih mengingatku?
Aku Kim Sunhae, yang menyukaimu sejak seminggu yang lalu…
Semoga kau masih mengingatku meskipun pertemuan kita terlalu singkat…
Mianhamnida, Seunghyun-ssi…
Jika hari itu aku tidak fokus memotretmu…
Mungkin saat ini kau masih berada di taman itu…
Bermain gitar bersama anak-anak…
Tersenyum, menyanyi, memberikan permen kepada mereka…
Sekarang, tidak ada lagi kau, yang memainkan gitar untuk mereka…
Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?
Mianhamnida, Seunghyun-ssi…
Sebenarnya aku memotretmu diam-diam selama satu minggu ini…
Aku memotretmu ketika kau tersenyum, menyanyi, memberikan permen kepada anak-anak…
Aku memotret semua yang kau lakukan bersama mereka…
Dan karena terlalu sibuk memotretmu, aku tidak sempat menyelamatkanmu…
Aku tidak sempat melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi yang menabrakmu…
Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?
Seunghyun-ssi…
Aku tidak bisa memotret lagi karena merasa bersalah padamu…
Aku takut melakukan kesalahan yang sama seperti yang kulakukan padamu…
Karena itu aku tidak ingin memotret lagi…
Kuputuskan untuk meninggalkan kamera polaroid pink-ku bersama ratusan foto-fotomu…
Seunghyun-ssi…
Mianhamnida…
Saranghae…

-END-

22

[Freelance] This is What I Call Love [part 1]

Aku kembali. Masa laluku akan selalu menjadi masa lalu. Aku telah kembali ke bentuk awalku. Dulu, dulu sekali aku memang sangat peduli tentang lingkungan ku, teman, dan pelajaran. Tapi, semenjak hal buruk itu menimpaku, aku hanya seperti sampah busuk. Keji memang, tapi tunggu sampai kau bertemu dengannya, baru kau akan mengerti bagaimana dan apa arti keji itu.

Dia brengsek. Itu benar, dia meninggalkan ku diantara cacing-cacing tanah itu. Kurang ajar. Memang benar,dengan  seenaknya menciumku lalu pergi. Tapi, aku tidak pernah bisa meninggalkannya. Begitu melihatnya tersenyum, aku lupa masalah apa yang pernah dibuatnya pada ku.

Aku apa kalau begitu?

Ya, aku jatuh cinta pada laki-laki brengsek itu.

Seoul, Korea Selatan, 29 Maret 2011, 07.00 WIB

“Ya! Cepat jemput aku” teriaknya

“Satu jam lagi aku sampai” kataku malas

“SATU JAM?!!?” teriaknya “aku tunggu kau paling lama setengahnya. Setengah jam! Paham kau? Makanya cepat mandi dan berangkat”

“Oke” aku langsung menutup sambungan dari Yo Jin.

“Setengah jam? Biarkan sajalah, aku kesana satu jam lagi. Aku orang pantang inkar janji” aku memang pintar, aku tau. Oke, bukan pintar pelajaran kurasa. Aku selalu mendapatkan peringkat 7,8, atau 9. Bukan orang pintar kan? Pintar? Oke, pikir dua kali. Itu dari jumlah keseluruhan anak 15 di kelasku.

Yo Jin, teman baikku. Bawel, berisik, bersikap keibuan, dan suka berteriak. Tapi, dialah satu-satunya orang yang mengerti aku. Walaupun terkadang aku tidak mengerti dia.

07.45 tik..tik..

Berangkat, haah kegiatan yang paling malas ku lakukan adalah jalan-jalan. Entahlah, rasanya rumah makan didepan rumah ku terasa begitu jauh. Pemalas. Tepat sekali, itulah sebutan mereka untukku. Untungnya, ada kendaraan bernama mobil yang selalu setia menemaniku menjalani hari-hari yang disertai kemalasan.

“Yo Jin-ah, kau dimana?” tanyaku saat sudah sampai di bandara

“…..”

“Yo Jin-ah?” tanyaku. “Kau dimana? Cepat sedikit bisa tidak?”

“……”

“Yo Jin-ah, kalau kau tidak jawab lagi, kutinggal k…”

“HAN HYO IN PABO!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriaknya

“YA! Aku sudah sampai kau dimana?”

“Dua jam menunggu di bandara, kukira kau kecelakaan, ternyata kau hanya dirumah!!!!! MENYEBALKAN!!!!” lanjutnya

“Yo Jin-ah, he….”

“Kau kira aku senang hah menunggu dua jam kepanasan?!?! Kau ini benar-benar, aku jamin kau hanya tidur dan melakukan aktifitas tidak pentingmu itu”

“Semua aktifitas yang kulakukan itu penting tau” balasku

“HAH. Terserahlah, cepat dimana mobilmu? Aku mau kesana. Sudah ya. Jemput aku di pintu 8.” Katanya lalu menutup telfon.

“YA,YO JIN-AH! PINTU 8 YANG MANA?!?!?!”

“Kau ini, disuruh mencari pintu 8 saja lama sekali” ejeknya

“Yo Jin-ah, pantas saja kau tidak pernah naik rangking kau memang bodoh ya, SEMUA PINTU DISINI PINTU 8 HANYA 8-I,8-II,8-III” teriakku

“HAHAHA, rasakan itu. Itu pembalasanku.” Serunya senang. “Ngomong-ngomong soal rangking, bukankah besok kita tes matemati..ka….?” tanyanya. Kami berdua hanya saling pandang dan…..

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!! Yo Jin-ah, bagaimana ini? Kau tau kan nilai matematika ku bagaimana?”

“YA! Kau kira aku pintar? Bagaimana ini?” tanyanya panik. Aku hanya menggelengkan kepala sambil menunduk

“Hanya ada satu cara Yo Jin-ah” kataku

“Apa?”

“Seperti biasa…”

“Hah? Hyo In bodoh, bagaimana seperti biasa? Apa maksudnya?” tanyanya bingung

“Kita pasrahkan sesuai kemampuan kita saja, dan itu berarti paling tinggi 45”lanjutku. Yo-Jin hanya melirik dan melanjutkan mendengarkan lagu di iPod nya.

“YA! YO JIN-AH!! AKU SEDANG BICARA!!!!!!!”

“Kumpulkan buku matematika kalian. Taruh diatas meja saya. Duduk kembali” kata guru matematika ku yang terkenal sangat menyeramkan. Perempuan. Jenis makhluk yang lebih menakutkan jika marah.

“Yo Jin!” teriaknya. “Kamu dengar tidak? Taruh diatas meja saya!” bentaknya

“Ne”  kata Yo Jin pelan

“Baik, kita mulai ulangannya” perintahnya dan semua murid langsung mengerjakan. Aduh, bagaimana ini? Satu soal pun, tidak ada yang kumengerti. Baru saja 15 menit berjalan, seorang anak pintar nan anak emas dari guru matematika ku ini maju dan mengumpulkan kertas jawabannya. Aku dan yang lainnya hanya melongo.

“Hebat Kyuhyun-ssi” pujinya

“Kamsahamida” balasnya dan tersenyum kepada kami semua lalu keluar. Entah kenapa, saat matanya melihat ku pandangan meremehkan yang kulihat.

“Menyebalkan. Seperti biasa. Tidak berubah. Setiap hari semakin bertambah” aku maju kedepan dan menyerahkan kertas jawabanku.

“Emm.. kau yakin sudah selesai Hyo In-ah?” tanyanya ragu-ragu

“Ne”  kataku lalu pergi.

“HYO IN!!!!!!!!!!” panggil guru matematika ku. “JAWABAN APA INI?!!?!?!” teriaknya lagi

“Ne? Jawaban apa maksudnya?” kataku bingung. Sret, ia memberikanku kertas ulangan kemarin

“INI!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”  lanjutnya

“Hah?”  hanya itu yang keluar dari mulutku. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Hyo In!!! kenapa kau menuliskan tulisan itu?

“nomor 1 : isi lah sumbu X, jika sumbu Y = x(2x-5)-2=0. Jawabannya adalah menyebalkan. Nomor 2 jawabannya Seperti biasa, nomor 3 tidak berubah, nomor 4 setiap hari semakin bertambah?!?!?!? Jawaban apa ini?!?!?!?!” teriaknya lagi

“Mianhe, kepalaku pusing dan aku sedang sakit saat itu. Mohon dimaklumi” kataku. Bohong. Tentu saja. Tapi aku sudah master dalam bidang ini, jadi jujur ataupun bohong, mukaku tetaplah seperti ini. Standard.

“Kamu ikut ulangan ulang besok! Ingat belajar yang rajin!” katanya lalu pergi “ Yo Jin-ah!” panggilnya. “Nilai mu sangat buruk, 30? Yang….” Aku sudah malas mendengarkan dan hanya melihat sekeliling. Merasa diperhatikan, aku melihat ke belakang. Kyuhyun sedang melihat ke arah ku. Sambil tersenyum mengejek. Biasa. Tapi sekarang matanya menahan geli

“Apa?” tanyaku kesal

“Dasar bodoh” balasnya

“Apa katamu? Bodoh? Ya! Cho Kyuhyun, memangnya kau merasa kau yang paling pintar?” tantangku

“Di kelas ini, iya” balasnya tenang

“Menyebalkan”

“Oh. Hahaha” lanjutnya

“Kenapa sih?”

“Jangan-jangan jawaban dikertas matematika mu untuk ku ya?”

“M..Mwo?!?!”

To Be Continue

Maaf ya, baru segini aja soalnya masih part 1, kalau seandainya dalam waktu 5 hari commentnya baru sedikit terpaksa, aku nggak lanjutin. Hehe. Oke, makanya comment ya! Minimal comment dalam waktu 5 hari harus udah 50 hehe, makasih :*

Genre : Romance

Cast : Cho Kyuhyun, Han Hyo In, Yo Jin

35

[Freelance] Snow Flower

Title                 : Snow Flower

Author                        : ChoHyunGiLee

Genre              : Angst, Romance, BoyxBoy Love

Cast                 : Super Junior’s Kyumin (Cho Kyuhyun/Lee Sungmin), Leeteuk, Siwon

Length             : One-Shot

A/N                 : Umm,, sebelumnya, meskipun fic ini one shot, tapi panjangnya sama seperti two/three shot. Dan aku agak yakin, chingu semua akan mengantuk setelah membaca tiga belas paragraf pertama. Tapi aku mohon, please, jebal, baca sampai akhir ya. *bow*

Terinspirasi oleh lagu Yuki no Hana by Mika Nakashima dan unforgettable Kyumin fic: First Love (ide asli ceritana bukan punyaku ^^’).

Snow Flower

You only have one life. So, in that life, love with all your soul.

Butiran-butiran bunga salju pertama musim dingin tahun ini jatuh dari langit. Sungmin tersenyum dan mendongakkan kepalanya, membiarkan butiran-butiran putih itu menjatuhi wajahnya. Dia kemudian memandang ke kejauhan, ke arah jalanan di depannya yang sepi, dan mengerutkan alisnya. Saat itu awal musim dingin, dan Sungmin berpikir kenapa Kyuhyun belum juga datang. Dia seharusnya sudah datang untuk menjemputnya.

Continue reading