[Freelance] Second Life [part 1]

SECOND LIFE (page 1)

Author : Kyune

Category : Chapter

Cast : Choi Minho (SHINee)

Choi Siwon (Suju)

Minho berbaring di kamarnya. Matanya tak juga bisa terpejam. Minho melirik jam kecil di meja di sebelah tempat tidurnya. Pukul setengah 12 malam. Minho merubah posisi baringnya dan merapatkan selimutnya, ditutupnya matanya berusaha untuk tidur.

Baru saja minho akan memasuki alam mimpi, handphone yang ditaruhnya di bawah bantal bergetar. Minho terbangun, diambilnya handphonenya.

1 new message

from : Kevin

race di roundstreet sekarang.

Kami tunggu di tempat biasa.

Minho berfikir sebentar, lalu dia segera bangkit dari tempat tidurnya, memakai jeans dan menyambar jaketnya. Tanpa meminta izin pada kedua orangtuanya, Minho berlari ke tempat yang Kevin maksud.

Kevin, Eli, dan Alexander menunggu Minho di depan minimarket yang sudah tutup. Mereka tampak saling bercanda. Eli melambaikan tangannya begitu melihat Minho datang.

begitu Minho mendekat mereka mengangkat tangannya untuk ber-highfive.

”Michael Choi akhirnya kau datang juga.” Kata Eli.

”Siapa yang kau panggil Michael Choi? Namaku Minho.” Kata Minho sinis.

calm down man!” Kata Eli. ”Kenapa sih kau tidak suka nama Amerikamu?” Minho mengangkat bahu.

Aish, geumanhae.” Kata Kevin. Logat Koreanya masih terdengar jelas walau dia sudah 10 tahun lebih di Amerika. ”Let’s go”. Mereka berempat lalu masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju tempat race.

Minho memacu motornya dengan kecepatan 120 km/jam di sepanjang Roundstreet. Papan peringatan yang berbunyi batas kecepatan 60 km/jam tak dipedulikannya. Ini ketiga kalinya sejak kenal dengan Kevin dkk, Minho ikut balapan liar di tengah malam. Kevin dan Eli sendiri sudah tidak berani memacu kembali motor mereka karena kecelakaan yang hampir merenggut nyawa mereka 2 tahun  yang lalu. Kini motor yang menjadikan Kevin the king of the road sekaligus hampir mengakhiri hidupnya itu digunakan oleh Minho.

Minho berada di posisi tiga dari 14 racer. Tinggal 2 km lg ke garis finish. sekarang Minho tinggal membalap 2 racer di depannya, yang salah satunya adalah Alexander, lalu memacu motornya lebih kencang untuk memenangkan hadiah 2000$ sebagai hadiah juara pertama. Minho memutar gas lebih kencang, tiba-tiba dari belakang terdengar raungan sirine polisi. Minho panik, baru kali ini dia bertemu dengan polisi. Kevin pernah memberitahu cara untuk mengelabui polisi tapi waktu itu Minho pikir, tak akan ada polisi bertugas di tengah malam jadi Minho tak terlalu medengarkan Kevin.

Minho makin panik ketika dilihatnya polisi itu mengejar dirinya, dia kehilangan kontrol pada motornya. Tiba-tiba dari arah kiri datang sebuah mobil di jalur yang berlawanan dengan kecepatan pelan. Minho kaget dan tak sempat menginjak rem. Akibatnya, motornya yang melaju kencang menabrak mobil itu. Bunyi tabrakan yang begitu keras mengagetkan Kevin, dan Eli yang berada di garis finish 100m dari tempat kejadian, juga Alexander yang memenangkan race malam ini.

Minho terseret 10m dari motornya. Dia terbaring di tengah jalan, Minho merasakan sakit yang luar biasa di punggungnya. Seketika masa lalunya terlintas di pikirannya seperti adegan film yang diputar ulang. Minho bisa melihat dirinya yang berusia 1 tahun merayakan ulang tahun pertamanya di korea bersama kedua orang tuanya, halmeoni dan harabojinya serta Siwon, hyungnya. Dia juga bisa melihat senyum bahagia kedua orangtuanya ketika dia mendapat peringkat pertama di akhir tahunnya di smp. Ketika dia menangis ditinggal Siwon yang mengejar karirnya ke Korea negara kelahirannya. Ketika dia pertama kali menginjakkan kakinya di amerika 7 tahun yang lalu. Semua kenangan di masa lalunya berputar di kepala Minho. Hal terakhir yang dilihatnya adalah Kevin yang berteriak panik. ”Minho yah, gwaenchana?” Lalu semuanya gelap.

Minho POV

Aku membuka mataku perlahan, tubuhku terasa ringan. aku memandang berkeliling. Semua dindingnya di cat putih. Ini bukan kamarku, dinding kamarku penuh dengan poster pemain bola. Lalu aku melihat tiang infus dan berbagai alat kedokteran di sebelah ranjangku. Kini aku tahu dimana aku berada. Rumah sakit. Perlahan aku juga ingat bagaimana aku bisa ada di sini. Kecelakaan itu terbayang kembali di kepalaku, aku bergidik ngeri. Aku tak menemukan sosok eomma atau appaku di ruangan ini. Mungkin mereka di luar. Aku bangkit lalu berjalan ke luar, aneh sekali aku tak merasakan sakit sedikitpun di tubuhku, aku merasa sangat sehat.

Aku tak menemukan eomma atau appa ku di mana-mana. Aku melihat tiga wanita yang sedang duduk di dekat kamar rawatku, dua dari mereka sedang mengobrol. aku memberanikan diri untuk bertanya pada mereka.

”Permisi, apa anda melihat orang yang menjagaku di kamar ini?” Tanyaku. Tapi dua wanita yang sedang mengobrol itu tidak menjawab. Melihat padaku saja tidak. Aku mendengus kesal.

Wanita yang satu lagi menatapku dengan pandangan curiga. Aku membungkuk padanya. Wanita itu mengenakan pakaian putih, wajahnya datar tanpa ekspresi dan pucat sekali. Aku mengangkat bahu lalu melanjutkan mencari orang tuaku. lalu aku merasakan makin banyak wajah pucat yang menatapku. Aku salah tingkah, mengapa mereka menatapku seperti itu?

Lalu kulihat Siwon hyung keluar dari salah satu ruangan. Aku memanggilnya, tapi sepertinya dia tak mendengarku. Aku memanggilnya lebih keras lagi, wajah-wajah pucat itu menatapku tajam, sepertinya mereka terganggu oleh teriakanku. Aku berhenti berteriak dan memutuskan menunggu Siwon hyung di depan kamar rawatku, dia pasti akan kesana. Aku duduk menunggu dengan sabar.

Tak lama Siwon hyung datang, wajahnya tampak lesu, aku tersenyum padanya dan melambaikan tanganku. Tapi, lagi lagi Siwon hyung tak menggubrisku. Dia duduk di sebelahku tanpa mengatakan apapun. Dia menunduk dan memegang kepalanya.

”Hyung, kapan datang?”

”…”

”Hyung, kenapa tak menjawabku, kau tak merindukanku?”

”…”

Aku kesal karena Siwon hyung tak juga menjawabku. Kucoba mengguncang tangannya. Aku terkejut ketika tanganku menembus tubuhnya, aku tak bisa menyentuh Siwon hyung. Apa yang terjadi pada diriku. Siwon hyung juga tampak terkejut. Dia bergidik dan memegang tengkuknya, lalu berdiri dan masuk ke dalam kamar rawatku.

”Kenapa aku tak bisa menyentuhnya?” Bisikku pelan. Aku mengangkat tangan ku dan memandanginya. Tak ada yang aneh. Wanita yang dari tadi memperhatikanku menatapku iba, aku menatapnya putus asa.

”Alam mu sudah berbeda nak.” Katanya pelan.

”Apa maksudmu?” Aku tak mengerti.

”Kau dan kakakmu sudah tidak berada di dunia yang sama lagi.” Aku menatap wanita itu dengan tatapan bingung.

”Masuklah ke dalam. Kau akan mengerti.” Kata wanita itu lagi menunjuk kamar rawatku. Aku masuk dan menemukan Siwon Hyung berbicara pada sesosok tubuh yang sangat kukenal. Pada tubuhku. Apakah ini berarti aku sudah meninggal?

”Minho yah, kau bisa mendengarku?” Siwon hyung meraih tanganku dan menggenggamnya.

”Minho yah, ireona.” Panggilnya. Aku menatap tubuhku yang terbaring lemah dengan alat-alat kedokteran menempel di seluruh tubuhku. Aku belum ingin mati, aku masih ingin membuat orang tuaku bangga batinku. Lalu aku mencoba untuk masuk kembali ke dalam tubuhku. Tapi tak bisa, aku malah terpental begitu keras.

Percobaanku itu membuat bagian tubuhku bergerak sedikit. Tanganku yang sedang dipegang oleh Siwon hyung tiba-tiba balas menggenggamnya sekejap. Siwon hyung terkejut, dia buru-buru memencet tombol di samping tempat tidur untuk memanggil dokter. Tak lama seorang dokter masuk bersama seorang suster. Dokter itu langsung memeriksa keadaanku.

”Bagaimana dok?” Tanya Siwon hyung harap-harap cemas.

”Masih belum ada perkembangan Sir. kata dokter itu datar. ”Apa anda yakin tadi ada gerakan?”

”Saya yakin sekali dokter. Dia tadi balas menggenggam tangan saya.” Jawab Siwon hyung histeris. Dokter itu tersenyum.

”Itu pertanda bagus. Ajaklah dia bicara. Walaupun sedang koma, dia bisa mendengar anda.” Kata dokter itu. Siwon hyung menganggukan kepalanya.

thank you doctor.” Katanya. Doktor itu mengangguk.

”Panggil saya apabila ada gerakan lagi.” Kata dokter itu lalu berjalan keluar kamar rawatku.

Siwon hyung memandangku dengan tatapan sedih, ”Minho yah, ireona.” Bisiknya. Lalu dia berceritakan kegiatannya bersama boybandnya Super Junior yang baru saja menyelesaikan promosi album keempat mereka di Korea pada tubuh diamku. Aku meringkuk di pojok ruangan mendengarkannya. Siwon hyung akhirnya lelah dan berhenti berbicara padaku. Dia bangkit lalu berjalan keluar kamar rawatku. Aku mengikutinya. Dia merogoh sakunya dan menerima telepon dari seseorang.

”Eomma.” Sapanya. Aku tak bisa mendengar yang eomma katakan. sepertinya eomma menanyakan keadaanku.

”Masih seperti kemarin eomma.” Siwon hyung mendesah pelan.

Uljima eomma, aku yakin dia bisa bertahan. Tadi dia bergerak.” Siwon hyung tersenyum kecil. Aku bisa membayangkan eomma yang menangis tersedu-sedu di ujung telepon.

”…..”

”Jangan Eomma. Biar aku yg disini. Eomma istirahat saja di rumah. Aku akan menjaganya.”

”…..”

Arasso.” Siwon hyung mengakhiri teleponnya. Lalu duduk dan memandang kosong ke satu arah. Aku memanggilnya lirih. Tapi dia tetap tak menggubrisku. Aku memandanginya dengan sedih, dia baik sekali bersedia menjagaku di tengah kesibukannya, padahal selama ini aku jarang bersikap baik padanya, aku selalu merasa appa dan eomma lebih menyayanginya daripada aku. Aku berjanji bila nanti aku sembuh aku akan bersikap lebih baik padanya.

Tak lama kemudian, aku melihat sosok yang sangat kukenal berjalan tergesa-gesa menghampiri Siwon hyung. Itu appa dengan Kim ahjussi assistennya, appa mengenakan jas resmi. Sepertinya dia baru saja pulang dari pertandingan. Appa adalah pelatih tim sepakbola. Itu yang membawa kami sekeluarga ke Amerika. Appa dikontrak oleh LA Galaxy (timnya Beckham) untuk melatih selama dua musim. Tapi melihat prestasi appa yang berhasil membuat tim yang diasuhnya menjadi lebih baik, mereka memperpanjang kontraknya sampai saat ini.

”Siwonnie, bagaimana keadaannya?” Tanya appa cemas. Siwon hyung berdiri lalu membungkuk sopan pada appa dan Kim ajussi, hal yang jarang sekali kulakukan.

”Dokter bilang belum ada kemajuan aboji.” Jawab Siwon hyung. Appa tampak makin sedih. ”Tapi tadi dia bergerak.”

”Jongmalyo?” Tanya appa. Siwon hyung mengangguk. Appa memandangku dari balik kaca.

Ahjussi, bagaimana pertandingannya?” Tanya Siwon hyung pada Kim ahjussi.

”Kami menang. Pelatih Choi sangat profesional. Dia bisa tetap fokus pada pertandingan, walaupun aku yakin pikirannya ada di sini.” Jawab Kim ahjussi.

Aboji masuklah. Ajak Minho bicara, dia bisa mendengarmu.” Kata Siwon hyung. Appa mengangguk dan masuk ke dalam kamar rawatku.

”Minho yah,” panggil appa ”ireona. Appa wasseo. Waktu itu kau pasti marah pada appa karena appa tak mengizinkanmu bermain bola. Kau tahu kenapa appa melarangmu?” Badanku tetap diam.

”Karena appa ingin kau beristirahat. Kau ingat seharian itu kau sibuk sekali. Pagi sampai siang di lapangan basket. Lalu sorenya kau ikut berlatih dengan appa. Malamnya kau minta izin untuk keluar dengan teman-temanmu, tentu saja appa keberatan. Kau bisa sakit karena kelelahan.”

Appa terus berbicara padaku. Aku mendengarkannya di pojok ruangan. Aku ingat malam itu saat aku membanting pintu di depan appa karena tak diizinkan keluar dengan Kevin, Eli, dan Alexander. Aku kira appa sengaja tidak mengizinkan ku keluar, hanya karena ingin menghalangi kesenanganku. Aku baru sadar arti tatapan appa waktu itu. Karena dia sangat menyayangiku dan tak ingin aku jatuh sakit. Mengingat itu membuat hatiku sakit karena menyesal.

Hari demi hari berlalu aku belum juga bisa kembali. Aku bisa melihat dan mendengar semua yang terjadi di sekelilingku. Eomma, appa dan Siwon hyung bergantian menjagaku dan berbicara pada tubuhku. Selama itu pula aku mencoba untuk masuk kembali ke tubuhku, tapi tak berhasil. Semua usahaku itu membuat tubuhku bereaksi. Kadang-kadang tanganku atau mataku yang bergerak. Orang tuaku dan Siwon hyung sangat berharap aku cepat sadar. Tapi mereka selalu kembali kecewa ketika dokter mengatakan masih belum ada kemajuan. Eomma selalu menangis jika berada di dekatku, maka Siwon hyung tak mengizinkan eomma sering-sering membesukku.

Hari ini eomma, appa dan Siwon hyung sedang menjagaku bersama. Mereka memandangiku dengan tatapan sedih. Aku berusaha lagi memasuki tubuhku. Masih belum berhasil, tapi tanganku bergerak dan mereka melihatnya. Siwon hyung buru-buru memanggil dokter. Mereka kembali kecewa ketika dokter mengatakan kondisiku masih seperti sebelumnya.

Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggilku. Aku mengenal suara ini. Suara yang sering kudengar waktu aku masih kecil. Itu suara halmeoni yang sudah meninggal. Aku mencari arah suara itu sambil memanggil-manggilnya. Lalu tanpa kusadari aku tiba di tempat yang asing bagiku. Aku bisa merasakan rumput hijaunya menyentuh kakiku. tak jauh dari tempatku berdiri ada sebuah danau yang luas dengan bebek putih bersih berenang di atasnya. Apakah ini surga? Lalu aku melihat sosok yang ku kenal, halmeoni dan haraboji ku.

TBC

Reader yang baik, hehehe… ini FF pertama saya, mudah-mudahan jalan ceritanya bisa dimengerti.. ini murni imajinasi saya, jadi kalo ada yang agak aneh maklumin aja ya, namanya juga fanfiction.. nah, sekarang pada penasaran gak apa yang tejadi pada Minho? Tunggu kelanjutannya disini ya J. Jangan lupa komennya ya… Gomawo^^

7 thoughts on “[Freelance] Second Life [part 1]

  1. kaya’y aku telat komen ya?? ~.~
    huaa,.. 2 biasku, dlam 1 ff,.. seneng,… seneng,… XD
    tpi mino,.. hiks,.. T^T
    buat mino kembali ke tbuh’y ya,…. miris ngebaca’y,.. :(
    ayo lanjutin ya,. di tunggu sangat,. ^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s