To Be Loved [AfterStoryOf : But The Truth Remain u’re Gone]

L~ datang dengan after story But The Truth Remain You’re Gone. .drabble tidak bisa tepat waktu karena L~ sibuk ~.~

happy reading, guys! lebih afdol lagi kalo baca and komen part sebelumnya biar gak bingung. .cekidot !!

To Be Loved

“Yeobseo?”

“Noona, besok acara wisudaku, kau datang kan?”

“Ne. Apa aku perlu pergi ke salon?”

“Hahaha, tentu, tentu! Noona harus ke salon agar terlihat sedikit cantik!”

Klik.

“Yeobseo? Ya!”

Aku memasukkan ponsel ke saku jas praktikku. Setelah Jonghun pergi, Minhwan pindah ke Korea untuk meneruskan SMU-nya. Besok dia wisuda. Dia lulus dengan nilai yang baik. Mungkin, jika Jonghun masih ada, dia pasti akan lulus dengan nilai yang baik pula.

Tak terasa, sudah hampir dua tahun Jonghun meninggalkanku sendiri. Tapi sampai sekarang, aku masih tetap mencintainya. Belum ada yang bisa menggantikannya di hatiku. Aku tidak mempermasalahkan itu semua, aku kini hanya fokus pada studiku. Ya, aku berkuliah di jurusan kedokteran. Aku memang tidak pintar. Aku hanya tidak mau orang lain merasakan hal yang sama denganku, kehilangan orang yang dicintai karena sebuah penyakit. Aku akan berusaha semampuku untuk menjadi dokter yang andal.

Aku segera membereskan bukuku, kemudian pergi menuju butik untuk membeli pakaian.

***

Aku melihat Minhwan naik ke podium. Tampan sekali, seperti Jonghun.

Tidak, tidak. Jonghun lebih tampan. Andai Jonghun sempat naik ke podium juga sama sepertinya.

Ah, apa yang sedang kupikirkan!

Acara wisuda ini terlihat cukup meriah. Bahkan wisudaku dulu tidak begitu meriah. Atau aku yang tidak bersemangat? Karena aku kehilangan seseorang yang kucintai sesaat sebelum wisuda.

“Noona!”

Aku menoleh. Minhwan datang bersama seorang temannya.

“Chukae!” kataku, kemudian memeluknya. Aku sudah menganggapnya sebagai dongsaengku sendiri.

Tidak, dia memang dongsaengku. Dongsaengku dan Jonghun.

“Kau akan melanjutkan ke California?” tanyaku.

“Molla. Mungkin di sini saja. Atau di Jepang? Ah, aku ingin pergi keliling dunia!” jawab Minhwan, sambil tersenyum. “Ah, noona! Ini Song Seunghyun, temanku. Sepertinya dia akan menjadi hoobaemu.”

“Benarkah? Misun, Goo Misun.” Kataku, sambil mengulurkan tanganku.

“Seunghyun.” Dia membalas uluran tanganku sambil tersenyum.

Omo, dia tampan sekali ketika tersenyum! Mirip artis Lee Seung Gi, artis favoritku!

“Maaf, noona. Aku tidak bisa lama-lama. Aku harus segera pulang.” Katanya, membuyarkan lamunanku.

“Ah, arasseo. Senang berkenalan denganmu, Seunghyun-ah. Semoga kau benar menjadi hoobaeku.”

***

“Noona, sudah hampir 2 tahun sejak Jonghun hyung pergi.”

Ah, mengapa Minhwan mengingatkan hal itu! “Benar.. Hampir 2 tahun.”

“Noona tidak mencari pengganti hyung?”

Aku berhenti mengaduk supku. “Ya! Kau bicara apa, hah? Bagaimana bisa kau menyuruhku mencari pengganti Jonghun?”

“Noona, tenang saja. Jonghun hyung pasti menginginkanmu bahagia. Dan kau butuh bahagia, noona. Kau butuh seseorang untuk berada di dekatmu. Selama ini, mungkin aku bisa membantumu dalam beberapa hal. Tetapi sekarang aku sudah lulus SMU, aku tidak janji bisa membantumu lagi.”

Aku tersenyum. “Kau juga, tenang saja. Aku bisa sendiri. Dan kau, dimanapun nantinya kau akan melanjutkan studimu, kau harus berjanji padaku, jaga dirimu baik-baik. Jika terjadi sesuatu, hubungi aku. Aku akan sering mengunjungimu.”

Tidak ada yang mengomando memang, tetapi aku merasa seperti bertanggungjawab atas Minhwan, sejak Jonghun pergi. Mungkin Minhwan pun merasa demikian, bertanggungjawab atas aku, sejak Jonghun pergi.

***

Minhwan memutuskan untuk melanjutkan ke California. Dia sudah pergi beberapa minggu yang lalu. Kemarin dia meneleponku mengatakan bahwa teman-temannya yang dulu sekarang satu kampus lagi dengannya. Dia merasa menemukan keluarganya lagi.

Dan aku, kembali dengan rutinitas kampus yang membuatku hampir gila. Hanya ingatan akan sakit setelah Jonghun pergi yang membuatku kuat.

Aku mengangkat tumpukan buku-buku tebal yang kupinjam di perpustakaan. Berat sekali! Rencananya aku akan membacanya sesampainya di rumah.

“Biar kubantu, noona!”

Aku menoleh. “Seunghyun-ah? Kau benar menjadi hoobaeku?”

Dia mengangguk, kemudian tersenyum. Omo, senyuman itu lagi! “Noona mau pulang? Biar ku antarkan.”

“Tidak, terimakasih. Aku bisa sendiri.”

“Noona, jangan menolak. Barang ini berat sekali.”

“Baiklah. Demi kau, hoobaeku yang baru.”

Dia tersenyum lagi. “Kajja! Mobilku di sana, noona!”

Aku mengangguk. Ya, Seunghyun-ah! Jangan terlalu sering tersenyum di depanku! Lama-lama aku bisa gila ~.~

***

“Butuh bantuan, noona?”

Aku menoleh. Ah, Seunghyun. Lagi-lagi dia datang ketika aku butuh bantuan. “Bisa ambilkan buku di rak atas? Aku tidak sampai.”

Dia tersenyum. Oh, ayolah. Berhenti mengeluarkan senyumanmu itu!

“Ini?” tanyanya, memegang sebuah buku di rak paling atas.

“Ne.”

Dia mengambilnya. “Sedang mencari tugas dari dokter Min? Kubantu mencari?”

“Kau tidak ada kelas?” tanyaku, sambil menerima buku di tangannya.

“Tidak. Bagaimana? Bukankah lebih mudah jika kita mengerjakan bersama-sama?”

Aku diam sejenak. Sebenarnya aku memang membutuhkan seseorang untuk membantuku. “Tetapi akan butuh waktu lama. Bagaimana?”

“Gwaenchana, noona.” dia tersenyum lagi.

Oh, Tuhan, kuatkan aku. Sepertinya dia akan sering mengeluarkan senyuman ‘maut’nya itu padaku! “Baiklah. Kau cari di rak sebelah sana. Aku akan mencari di sebelah sini. Setelah itu, bawa semua bukunya di meja.”

***

Sudah hampir pukul 10 malam, tetapi kami masih mencari buku di perpustakaan. Sebenarnya aku menyuruh Seunghyun pulang, tetapi dia tidak mau. Dia bilang akan menemaniku sampai aku selesai.

“Noona, mau kopi?”

“Gomawo.” Kataku, sambil menerima secangkir kopi darinya.

Dia duduk di sebelahku. “Noona, sebenarnya mengapa ingin menjadi dokter?”

“Mengapa kau tiba-tiba bertanya begitu?”

“Aku dengar dari Minhwan, noona sebenarnya tidak pintar. Noona masuk ke sini karena beruntung.”

Aku terdiam. Ya! Minhwan sialan!

“Noona ingin menjadi dokter karena Jonghun hyung?”

Aku menghela napas panjang. “Benar. Aku kehilangan Jonghun karena jantungnya. Jantung yang biasa berdetak di dekatku, ternyata tidak berfungsi dengan baik.”

“Noona sangat mencintai hyung? Hingga noona memutuskan melanjutkan studi dokter?”

“Benar. Aku tidak mau orang lain merasakan hal yang sama denganku. Kehilangan orang yang kau cintai itu, menyakitkan.”

“Dan noona akan mengambil spesialis jantung?”

Aku berhenti menulis, kemudian memandangnya. “Benar. Aigo, pantas saja kau jadi dokter. Kau pintar sekali, Seunghyun-ah!”

“Tidak, noona. Sebenarnya aku tidak menjadi dokter karena aku pintar.”

Eh?

“Aku memilih kedokteran karena orang yang kucintai melanjutkan di sini juga.”

Mataku membulat. “Benarkah?”

Dia mengangguk. “Aku mencintainya sejak dia menolongku dulu. Dia seperti wonder woman, menolongku dari gerombolan namja yang tidak dia kenal, walau dia seorang yoja, keren sekali. Karena itu aku mencintainya. Tetapi aku tidak bisa menemukannya, sampai ketika aku wisuda, aku menemukannya. Dia kuliah di sini, jurusan kedokteran. Aku tidak akan membiarkannya pergi lagi. Kali ini dia harus menjadi milikku.”

Aku menepuk-nepuk pundak Seunghyun. “Aa, keren sekali. Beruntung sekali yoja itu! Siapa dia? Mungkin aku bisa membantumu mendapatkannya?”

“Kau.” Seunghyun tiba-tiba menatapku tajam. “Kau, Misun-ah. Kau yang menolongku dari teman-temanku beberapa tahun yang lalu, di dekat toko bunga.”

Flashback~

“Ya! Kalian tidak boleh seperti itu kepada teman kalian sendiri! Mau jadi apa kalian jika nanti sudah besar?”

“Noona! Jangan ikut campur!”

“Ya! Untuk apa aku lebih tua dari kalian jika tidak untuk mendidik kalian, hah? Cepat pergi! Atau aku akan melaporkan pada guru! Kalian murid sekolah dekat lapangan itu kan?”

“Aish. Seunghyun-ah, kali ini kau beruntung ada noona sok hebat ini!”

“Gwaenchana?” tanya gadis kecil tersebut.

“Ne, gomawoyo, noona…”

~END

“Kau ingat itu kan, Misun-ah? Aku menyukaimu sejak saat itu.” Seunghyun menyentuh pundakku, masih menatapku tajam. Dia mendekat.

Deg.

Deg.

Deg.

Aish! Tidak! Tidak boleh! “Seunghyun-ah… Kau tidak boleh mencintaiku!”

“Wae?” tanyanya. Aku bisa merasakan napasnya, dekat sekali denganku.

“Aku… mencintai Jonghun.” jawabku terbata-bata. Tuhan, mengapa jantungku berdebar?

Dia melepaskan tengannya, memandangku marah. “Ya! Mengapa kau masih saja mencintainya, hah? Mengapa tidak membiarkan orang lain menggantikannya? Dia sudah mati!”

Plak.

Aku melihat bekas tanganku di pipi mulusnya.“Sudah malam, sebaiknya kita pulang.”

Hatiku sakit, karena telah menampar Seunghyun dengan tanganku sendiri.

Dan hatiku semakin sakit, karena dia menyuruhku berhenti mencintai Jonghun. Benar, aku mencintai orang yang sudah mati.

***

Sudah hampir pukul 12 malam, tetapi aku masih tidak bisa tidur. Aku memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu bersama Seunghyun. Apakah aku menyakitinya? Tetapi dia pantas mendapatkannya! Dia tidak berhak bicara seperti itu!

Ddok… Ddok…Ddok…

Aku bangun, kemudian pergi menuju pintu. Siapa malam-malam begini?

“Nuguseyo?”

“Aku.”

Itu suara Seunghyun. Segera aku membukakan pintu apartemenku.

Aku terkejut. Seunghyun memegang tangan kanannya yang berlumuran darah. “Omo! Kau apakan tanganmu, hah?”

“Aku memecahkan kaca.” Jawabnya singkat.

“Babo!” kataku, kemudian menariknya masuk. Aku menyuruhnya duduk di ruang tamu, mengambil taplak meja ruang tamu untuk membungkus tangan kanannya sebentar agar darahnya tidak menetes. Kemudian aku pergi menuju kamar tidur untuk mengambil peralatan P3K.

“Misun-ah…” panggilnya lemah. Suaranya bergetar. “Mengapa kau tidak membiarkan orang lain menggantikan Jonghun hyung?”

Aku diam, masih membersihkan lukanya.

“Ah…” rintihnya. “Setidaknya kau membiarkan aku mencoba dulu?”

Aku tidak menjawab.

“Sudah dua tahun Jonghun hyung pergi…” katanya lagi. “Kau butuh seseorang untuk berbagi… Ah… Kau butuh seseorang untuk berada di sampingmu, memelukmu ketika kau menangis, tertawa bersamamu ketika kau bahagia…”

“Selesai.” kataku. “Jangan lupa minum obat, agar lukamu cepat mengering. Beruntung tidak dalam jadi tidak perlu di jahit.”

“Misun-ah…”

Aku membereskan peralatan P3K. “Kau bisa pulang sekarang, Seunghyun-ah. Jangan pernah melukai tanganmu sendiri. Beruntung kau masih mempunyai tangan karena banyak orang yang tidak mempunyainya!”

“Tidak sebelum kau jawab pertanyaanku!” katanya. Tangan kirinya menggenggam tanganku kuat. “Mengapa kau tidak membiarkan aku mencoba menggantikan Jonghun hyung?”

Aku berusaha melepaskan genggamannya. “Ini sudah malam, cepatlah pulang!”

Tiba-tiba tangannya dengan sigap menarikku.

Cup.

Aku terkejut. Dia melakukannya. Dia menciumku. Melumat bibirku.

Aku mendorong tubuhnya menjauh. “Ya! Aku ini sunbaemu!” aku mengusap bibirku. Keterlaluan!

Seunghyun menarikku, menyudutkanku ke tembok. Dia berusaha menciumku lagi. Aku pun berusaha menjauhkan wajahnya meskipun dia sudah berhasil menciumku. Sial! Tangan kanannya terluka tetapi mengapa dia masih bisa mencengkeram tubuhku kuat sekali?

“Ya! Apa yang sedang kau lakukan, hah?”

Seunghyun tidak mempedulikanku. Tangannya yang terluka bahkan berhasil mendorong kepalaku lebih dalam agar membalas ciumannya.

Plak.

Dia melepas ciumannya. Tubuhnya belum beranjak dari depanku. Tangannya yang terluka mengusap pipinya. Ini kedua kalinya aku mendaratkan tanganku di pipi mulusnya, di malam yang sama.

“Hentikan, Seunghyun-ah. Hentikan.”

***

Aku menangis. Entah mengapa aku menangis. Air mataku tidak berhenti menetes sejak aku menampar pipi Seunghyun, dan kemudian dia pergi begitu saja tanpa berkata sepatah kata pun padaku.

“Baby…”

Aku mendengar suara seseorang yang memanggilku lirih.

“Misun-ah…”

Ah, mungkin aku hanya berhalusinasi saja. Sejak Jonghun pergi, aku sering berhalusinasi mendengar suara Jonghun, menyuruhku melakukan sesuatu atau membenarkan pekerjaanku.

“Baby… Goo Misun…”

Tidak! Ini tidak berhalusinasi! Aku yakin! Karena aku merasakan suaranya begitu nyata. Karena itu aku segera mencari asal suara, dan menemukan sosok yang selama ini kudengar suaranya saja.

“Jong…hun…?”

Dia ada di sana. Berpakaian serba putih, dan tersenyum manis kepadaku. Tatapan mata itu, tatapan yang selalu menatapku ‘Misun-ah, kau dihukum lagi? Karena itu, jangan terlambat, ara?’

Dia mendekat. Aku segera bangun dari tempat tidurku.

“Kau merindukanku?” tanyanya. Entah mengapa dia bisa memelukku. Pelukan yang selama 2 tahun ini tidak kurasakan. “Mianhae, baby… Kau menangis? Karena Seunghyun?” tanyanya, mengusap pipiku.

Aku tersenyum, kemudian mengangguk. Tuhan, aku merasa Jonghun telah kembali!

“Sshh.. Uljima~ Mengapa kau tidak memberinya kesempatan?” tanyanya lembut, seperti yang dulu dilakukannya ketika aku menangis.

“Tidak mungkin. Aku milikmu selamanya, baby. Aku milikmu selamanya.”

“Arasseo. Kau milikku. Tetapi aku sudah tidak ada di sampingmu, baby. Kau butuh orang lain.”

Aku memukul dadanya. Tuhan! Aku bahkan bisa memukul dadanya! “Ya! Mengapa kau menyuruhku begitu, hah? Kau sudah tidak mencintaiku lagi?”

Dia mengusap rambutku lembut. Tuhan, aku benar-benar merasa dia telah kembali! “Baby, Seunghyun mencintaimu, dan cintanya tulus. Aku bisa merasakannya.”

“Tapi…”

Jonghun melepas pelukannya.

Cup.

Dia mencium bibirku lembut. Aku menutup mataku. Benar, aku menutup mataku karena aku menikmatinya. “Baby, kau bebas mencari kebahagiaanmu…”

Aku membuka mataku. Dia sudah tidak ada.

Tunggu! Seharusnya dia ada di sini! Kemana dia?

“Baby! Jonghun-ah!” teriakku. Airmataku menetes lagi. Aku masih merindukannya! Aku masih menginginkan dia ada di sini!

Tuut…tuut…

Ponselku berbunyi. Aku segera mengusap airmataku. “Yeobseo?”

“Yeobseo? Benarkah ini Goo Misun?”

“Ne, nuguseyo?”

“Sunbae! Ini aku Jaejin, teman Seunghyun. Dia mabuk, sunbae. Saat ini berada di cafe dekat rumah sunbae… Bisakah sunbae menemuinya? Dia menyebut nama sunbae terus.”

***

“Babo…” kataku pelan. Seunghyun tertidur. Di atas meja aku menemukan beberapa botol minuman. Sepertinya dia meminum semuanya sendirian.

“Seunghyun-ah…” aku menggoyang-goyangkan tubuhnya. “Ya! Kau bilang aku harus memberimu kesempatan? Bagaimana bisa aku memberi kesempatan kepada seorang pemabuk seperti ini, hah? Seunghyun-ah…” aku masih menggoyang-goyangkan tubuhnya. Dia diam saja. Pasti dia mabuk sekali.

Aku menatapnya, miris. Hatiku terluka.

“Mianhae… Seunghyun-ah…” kataku, kemudian aku memeluknya. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya.

“Jonghun bilang aku bebas mencari kebahagiaanku…” aku mengusap rambutnya lembut. Seperti yang Jonghun lakukan ketika aku menangis.

“Dan aku sudah menemukannya…” kataku lagi. “Bersama Jonghun. Aku tidak butuh orang lain…”

Dia bergerak sedikit, membuatku bangun.

“Jeongmal Mianhae, Seunghyun-ah…” aku menatapnya, mengusap rambutnya lagi. “Kau harus bisa mendapatkan orang yang mencintaimu seutuhnya, karena aku tidak bisa. Aku sudah menyerahkan hatiku pada Jonghun, dan dia membawanya sampai dia mati. Aku tidak bisa mengambilnya kembali, karena aku merelakan hatiku dibawa mati olehnya.” Aku mengusap tangan kanannya yang terluka tadi. “Aku merelakan cintaku mati bersamanya, Seunghyun-ah. Aku merelakannya.”

Aku berdiri, menangis, dan berlari meninggalkan Seunghyun dengan penuh rasa bersalah.

Jonghun menyuruhku mencari kebahagiaanku. Dan aku menemukannya, baru saja. Ketika dia datang, memelukku, mengusap lembut rambutku, menciumku… Aku telah menemukan kebahagiaanku.

-END-

13 thoughts on “To Be Loved [AfterStoryOf : But The Truth Remain u’re Gone]

  1. daebak..!!!
    like this ff^^
    @ author aka L unnie??*ga au mw manggl ap^^* mengenai yg mren, akn d cba^^ biz na lbh xka bca dri pda comment seh.. Haha.. Mian..

  2. Gileee,, pjg bgt dah bca’a.. mna ud mlm lg, bsk TO! Tp gpp la terobati dng ff ini,, daebak! I like it! Lanjut bwt lgi ayo.. :)

    Semoga klian bsa mnemukn kbhagiaan msg2,, spa tw ntr ktemu lg! ^_^

  3. sediih.. T.T
    aku kira misun bakal jadian sama seunghyun..
    gak taunya dia tetep setia sama jonghun..
    good woman..
    hahahaha..

  4. Waaah, aku suka jalan ceritanya :D
    Kukira ntar endingnya sama seunghyun
    bagus, salut deh! Soalnya jarang yg buat alur kayak gini
    aku juga suka kata2 misun yg terakhir, keren!
    L onnie bikin another love story nya seunghyun dong! Pairingnya sama aku, kim sunhae^^
    kamsahae~

  5. daebak chingu..^^
    alurnya g muter2,,
    ini beda bner dr perkiraan ku,
    kalo cerita umum biasanya kan jadian,,hehe,ini beda..suka begini sih,,
    Salut sama cinta nya misun *ntar dia g nikah2 dong,kesian juga yak..

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s