22

[Freelance] Always Together [part 4]

Kyuhyun POV

“Oppa, kau mau kemana?” tanya Kyuchi saat aku keluar dari kamar dengan pakaian rapi.

“A.. aku harus ke studio.” Jawabku berbohong.

“Bukankah kau mendapat libur selama 3 hari?” tanyanya heran.

‘Aiish.. aku lupa. Bagaimana ini?’ batinku.

Continue reading

Gallery
10

Coagulation *first part*

Author : Hyuniminnie a.k.a Lee Hyunjin

Title : Coagulation

Cast : Lee Donghae, Lee Hyukjae, Lee Hyunjin (me), Park Yoomin (Donghae’s wife), Kim Yeongra (Hyukjae’s wife), and other.

Genre : sad, tragedy(?)

Author said : nie cerita terinspirasi dari kisah nyata yang berhasil membuatku berlinang air mata*saya bukan orang yg gampang nangis, kalau karena masalah sepele. Tapi bakalan nangis kalau hal-hal yg bersangkutan ama yeoboku, oppa2ku, dan lain-lain…hehe* tentu saja sudah bercampur dengan imajinasi saya yg kata org2 udah kelewat batas..kkkkkk. So, let’s cekidot this fanfiction..*ancur bahasanya*

####

Donghae POV

Annyong, Lee Donghae imnida. Aku adalah pewaris dari Lee’s Corp. Terlahir dari keluarga yang cukup ternama memang menyenangkan. Kau tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan, karena sebuah perusahaan keluarga akan diwariskan kepadamu, apalagi jika kau anak tertua..haha

Tapi jangan kalian pikir kalau kami yang berlimpah kemewahan sama sekali tidak memiliki kesedihan. Yaa…kami memilikinya. Lebih tepatnya aku dan saudaraku. Karena menurutku kedua orang tua kami hanya sibuk dengan pekerjaannya dan sekarang mereka malah berliburan di Skotlandia, pada saat masalah kami ini mulai serius dan mungkin membahayakan bagi saudaraku, adikku.

Oh iya,,aku harus melihat keadaan adikku sekarang..

”Hyunjin-ah,,kau sedang apa?” tanyaku. Hyunjin menolehkan pandangannya padaku, terlihat lingkaran hitam dimatanya. Lingkaran hitam itu bukan karena dia tidak tidur semalaman atau apalah. Tapi itu karena perbuatannya sendiri, dia memukul dirinya sendiri. Ini berlangsung sejak beberapa bulan yang lalu, sejak musibah itu datang menghampiri kami, bukan orang tua kami.

”Oppa obatin ya? Nanti makin parah” dia hanya menganggukkan kepalanya. Dan air matanya jatuh lagi.

”Oppa Rin mana??” pertanyaan itu membuatku shock lagi. Aku berusaha menahan air mataku, dan mencoba tersenyum padanya. Dan menggelengkan kepalaku. Aku keluar dari kamarnya. Karena sudah tidak tahan, air mataku jatuh juga. Beberapa menit aku menangis didepan kamarnya. Setelah sedikit tenang, aku mengambil kotak P3K yang berada dilantai bawah.

’ting tong’

Ah,,ada tamu. Aku berjalan kearah pintu dan membukanya.

”Annyong jagi!!” teriak gadis cantik dihadapanku ini. Ya,,dia adalah istriku.

”Yoomin, kau darimana??” tanyaku, dan melirik kearah beberapa kantong plastik yang ada ditangannya. Dia hanya tersenyum.

”Dari minimarket didepan” jawabnya dan menuju dapur.

”Kenapa tidak membawa kunci??” tanyaku lagi. Karena aneh jika dia memencet bel.

”Hmm,,ketinggalan dikamar” jawabnya lagi.

Rumah kami memang harus selalu terkunci, karena jika tidak hal yang membahayakan akan terjadi jika kami sedikit lengah.

Aku mengambil kotak P3K tadi dan membawanya menuju kamar Hyunjin. ”Aku mengobati luka Hyunjin dulu” pamitku padanya yang sedang membongkar belanjaannya.

”Dia memukul dirinya lagi?? Yeobo! Sebaiknya kau keluarkan barang-barang yang membahayakan dari kamarnya!” benar juga saran Yoomin. Baiklah, jika dia tertidur aku akan membereskan kamarnya.

Saat sampai dikamar Hyunjin, aku langsung kaget dengan apa yang dilakukan olehnya.

”Jin-ah!!!ANDWAE!!!” teriakku. Dia memegang sebuah bolpoin dan menusuk-nusukkannya dikulitnya. Sama sekali tidak ada wajah kesakitan diraut wajahnya. Aku berlari kearahnya dan mengambil paksa bolpoin itu.

”Oppa~” panggilnya lirih, lingkaran matanya membuat tatapannya semakin seram. Apalagi sebagian wajahnya tertutup oleh rambutnya yang panjang itu. Wajah manisnya yang dulu hilang. Wajah yang selalu terawat dengan baik.

”Aniyo,,Hyunjin. Oppa tidak akan memberikannya padamu!! Shiro!! Jinja Shiro!!” darah segar sudah mengalir dengan deras dari beberapa lubang yang terukir oleh tusukan bolpoin tadi.

”Aku ingin bersama Rin oppa~” dia menitikkan air matanya ketika menyebutkan nama Rin, Lee Hyunrin. Aku menggelengkan kepalaku cepat.

”Shiro!! Kau harus bersama Oppa disini!!” teriakku. Dia berjalan mendekatiku, sementara aku semakin menjauh. ”Jangan seperti ini Hyunjin! Oppa mohon,,kembalilah seperti dulu” air mataku jatuh lagi.

Hyunjin menghentikan langkahnya. ”Aniyo..takkan seperti dulu tanpa Rin. Oppa, berikan padaku” pintanya lagi, kini dia sudah menengadahkan tangannya.

”SHIRO!! JANGAN SEPERTI INI!!” teriakku.

”KYAAAAAA!!!!” teriaknya histeris. Bagaimana ini, dia kembali histeris. Aku sudah salah langkah.

”Yeobo!!” Yoomin masuk kekamar dan menenangkan Hyunjin.

”Saeng!! Istirahatlah. Hentikan,,” Hyunjin masih berteriak histeris. Aku sendiri tidak bisa mengatur nafasku. Aku panik, ya..aku panik sekarang.

”Onni mohon,,tenanglah” mungkin karena capek atau apa Hyunjin tidak sadarkan diri dipelukan Yoomin. Yoomin membopong Hyunjin ketempat tidurnya.

”Mana kotak P3K-nya?” tanyanya padaku. Aku sama sekali tidak bergerak dari posisiku semula. Masih menggenggam dengan kuat bolpoin yang penuh darah itu.

”Yoomin..aku..” Yoomin mengambil kotak P3K itu, dan mengeluarkan beberapa kapas dan antiseptik. Dengan terampil dia mengobati luka Hyunjin. Beberapa menit semuanya telah beres. Beberapa kapas yang penuh dengan darah dibuangnya ke tempat sampah.

Aku terduduk, menimpa beberapa boneka yang berserakan dilantai. Yoomin mendekatiku, dia mengambil bolpoin yang masih kugenggam erat.

”Jangan berteriak lagi padanya” dan menarikku untuk keluar dari kamar Hyunjin.

 

####

 

Yoomin POV

Aku lihat suamiku masih shock. Sudah beberapa kali dia seperti ini. Hyunjin seperti ini, bukan karena kemauan kami. Ini karena musibah itu, musibah yang merenggut nyawa adik Donghae, saudara kembar Hyunjin, Lee Hyunrin.

Aku pergi kekamar Hyunrin, setelah kepergian Rin. Kamar ini sama sekali tidak pernah disentuh siapapun. Karena jika ada yang berubah dari kamar ini, maka Hyunjin akan histeris lagi. Dia akan mengira kalau Rin kembali.

Kamar yang penuh sesak oleh beberapa poster Rockstar. Beberapa aksesoris yang membuatku bergidik ngeri melihatnya. Kamar ini dinuansai oleh warna hitam, warna kesukaan Rin.

Rin adalah anak yang tomboy. Dia tidak pernah mengikuti peraturan yang ada dirumah, sehingga membuat Eomonim dan Aboji selalu naik darah. Rin yang senang tawuran, Rin yang senang taruhan, Rin yang senang balapan, kebut-kebutan. Dan Rin yang sayang kepada kedua saudaranya, Donghae dan Hyunjin.

Semua yang pernah dilakukan Rin sewaktu ia masih ada takkan bisa terlupakan olehku yang hanya sebatas kakak iparnya. Rin yang bandel, yang sering membuat kesal berhasil membuat Hyunjin kehilangan kesadarannya. Hyunjin tidak gila, menurutku dan Donghae dia hanya stress. Tapi orang tuanya menyuruh kami untuk membawanya ke rumah sakit jiwa. Teringat jelas pertengkaran anatara Donghae dan kedua orang tuanya, yang mengakibatkan kami pindah dari rumah orang tua Donghae.

 

Flashback

”Bawa dia ke rumah sakit jiwa” perintah Aboji membuatku dan Donghae terkejut.

”Andwae Appa! Aku tidak akan membawa adikku ketempat seperti itu!” jawab Donghae yang sudah tersulut emosi.

”Jangan menentang perintah!!” teriak Aboji lagi. Aku hanya bisa terdiam menyaksikan hal itu.

”RIIIIINNNNNN!!!!!!!” teriak Hyunjin dari kamarnya.

”Kau dengar!! Dia sudah gila. Kita tidak bisa mengatur orang gila seperti itu!!” teriak Aboji lagi. Donghae menarik nafasnya.

”SUDAH BERULANG KALI KUKATAKAN KALAU HYUNJIN TIDAK GILA!!!! AKU TIDAK PEDULI LAGI!! AKU AKAN MEMBAWANYA, DAN MERAWATNYA!!” Donghae berlari kekamar Hyunjin. Tak lama kemudian dia menggendong Hyunjin yang sedang tertidur dengan beberapa luka yang ada disekujur tubuhnya. Tanpa permisi lagi dia langsung keluar dan pergi menuju rumah kami. Rumah yang kami sediakan untuk tempat tinggal Rin saat dia diusir dari rumah.

Flashback end

 

Aku ingin menangis melihat masalah dari keluarga kami ini. Diluar sana mungkin tidak ada yang tau akan keadaan keluarga yang cukup terkenal seantro Korea ini. Karena yang mereka tau pemilik Lee’s Corp hanya memiliki 1 anak yaitu Lee Donghae. Keberadaan si kembar tidak dipublikasikan, entah apa alasannya.

Aku melihat beberapa koleksi kaset milik Rin, tidak ada satu film pun yang membuatku tertarik untuk menontonnya. Tapi,,sebuah kaset yang bertema balapan membuatku mengingat kejadian mengerikan itu. Kejadian yang merengut nyawa Rin.

Author POV

”Yoomin-ah!!” teriak Donghae. Dengan terburu-buru Yoomin keluar dari kamar Rin, dan menuruni anak tangga.

”Waeyo?” tanyanya ketika sudah sampai dihadapan Donghae.

”Ke rumah sakit yuk! Kita jenguk Hyukjae” ajak Donghae yang sudah baikan.

”Hmm…bagaimana dengan Hyunjin??” tanya Yoomin. Donghae berpikir sejenak dan mengembangkan senyumnya.

”Dia akan aman. Aku sudah membereskan kamarnya” jawab Donghae. Hyunjin tidak pernah keluar kamar jika tidak ada yang mengajaknya mengobrol atau ada yang berteriak padanya sehingga membuatnya histeris.

”Baiklah aku siap-siap dulu. Kau pamitlah dengan Hyunjin” Yoomin berlari kearah kamarnya dan Donghae berjalan kemar Hyunjin.

 

####

 

”Saeng~,,Oppa pergi dulu. Tenanglah dirumah” pamit Donghae dengan sangat pelan, karena tidak ingin membangunkan istirahat Hyunjin.

Sebuah foto yang ada dimeja disamping tempat tidur Hyunjin membuat Donghae sesak nafas menahan tangisnya. Didalam foto itu terpampang 3 anak muda yang sedang tersenyum dengan bahagianya. Latar pantai dibelakangnya menambah suasana damai di foto itu. Donghae yang sedang merangkul kedua adiknya Hyunrin dan Hyunjin. Wajah Rin yang ada di foto itu mengingatkan Donghae akan kejadian menakutkan yang berhasil merengut nyawa Rin.

 

####

 

@rumah sakit

”Hai,,hyuk! Bagaimana keadaannya??” tanya Donghae sambil memperlihatkan sederet gigi putihnya. Hyukjae hanya sedikit tersenyum melihat Donghae dan Yoomin.

Yoomin menghampiri Yeongra, istri dari Hyukjae. ”Bagaimana keadaannya??” tanya Yoomin pada Yeongra.

Yeongra menggelengkan kepalanya, ”Lukanya memang sudah sembuh total. Tapi psikisnya belum sembuh sama sekali. Biasanya dia hanya termenung ketika kita mengajaknya ngobrol” Yeongra menahan tangisnya, dan Yoomin langsung memeluk sahabatnya itu.

Hyukjae adalah sepupu dari Donghae. Sudah hampir 2 bulan dia masuk rumah sakit karena hal yang sama dengan Rin. Tapi Hyukjae sedikit beruntung dari Rin.

Tak lama kemudian, dua orang gadis masuk ke ruang rawat Hyukjae.

”Hyuk!! Maaf aku baru datang sekarang. Aku baru tau kalau kau masuk rumah sakit kemarin” kata salah satu dari mereka panik dan berlari kearah Hyukjae dan dengan sengaja mendorong Donghae yang ada di samping tempat tidur Hyukjae.

”Hati-hati sedikit nona” kata Donghae kesal. Gadis itu hanya melirik Donghae sekilas, dan tanpa mengucapkan kata sedikitpun langsung mengalihkan pandangannya. Dongahe hanya bisa mencibir.

TBC

Author said : Hah..akhirnya selesai juga part 1 nya…gmn? bgus gax? kalo bgus bakal dilanjutin..tapi kalo gx bakal jdi simpenan (?) author aja..hahaha
Please rate and leave some commen..ok? author mau main dulu bareng Umin..hhe
Ingat!! COMENT *readers: author cerewet!!*

Oh iya..buat someone yg ada di ‘sana’..semoga tenang dan dilindungi oleh yg Maha Kuasa..amin,,

13

To Be Loved [AfterStoryOf : But The Truth Remain u’re Gone]

L~ datang dengan after story But The Truth Remain You’re Gone. .drabble tidak bisa tepat waktu karena L~ sibuk ~.~

happy reading, guys! lebih afdol lagi kalo baca and komen part sebelumnya biar gak bingung. .cekidot !!

To Be Loved

“Yeobseo?”

“Noona, besok acara wisudaku, kau datang kan?”

“Ne. Apa aku perlu pergi ke salon?”

“Hahaha, tentu, tentu! Noona harus ke salon agar terlihat sedikit cantik!”

Klik.

“Yeobseo? Ya!”

Aku memasukkan ponsel ke saku jas praktikku. Setelah Jonghun pergi, Minhwan pindah ke Korea untuk meneruskan SMU-nya. Besok dia wisuda. Dia lulus dengan nilai yang baik. Mungkin, jika Jonghun masih ada, dia pasti akan lulus dengan nilai yang baik pula.

Tak terasa, sudah hampir dua tahun Jonghun meninggalkanku sendiri. Tapi sampai sekarang, aku masih tetap mencintainya. Belum ada yang bisa menggantikannya di hatiku. Aku tidak mempermasalahkan itu semua, aku kini hanya fokus pada studiku. Ya, aku berkuliah di jurusan kedokteran. Aku memang tidak pintar. Aku hanya tidak mau orang lain merasakan hal yang sama denganku, kehilangan orang yang dicintai karena sebuah penyakit. Aku akan berusaha semampuku untuk menjadi dokter yang andal.

Aku segera membereskan bukuku, kemudian pergi menuju butik untuk membeli pakaian.

Continue reading

17

[freelance] Reaper [part 3 : Forever After]

REAPER-part 3 (forever after)

Author:  @soniaPer & @fridaychan

DAYS THREE

Aku merasakan sesuatu menjilat-jilat pipiku “AARRRGGHHH!!!” teriakku ketika seekor kucing sedang asik mejilati pipi ku. Heechul dengan sigap menangkap kucing itu ketika aku melemparnya dari pipiku.

“Mengapa aa..ad…ada ku…kucing di kkka.. kamarku?” ucapku terbata-bata sambil berusaha menstabilkan detak jantungku dan nafasku yg terengah-engah. Seingatku aku tak pernah mempunyai hewan peliharaan.

“Ah, kenalkan dia Heebum kucing kesayanganku” jawab Heechul antusias sambil melambai-lambaikan tangan si kucing ke arahku. Aku menatap Heechul tak percaya, seharusnya dia memelihara hewan yg lebih cocok dengan dirinya yg seorang The Reaper, seperti burung gagak contohnya. Who cares he does?

~~~

Aku mengerenyit heran ketika Siwon menghentikan mobilnya di sebuah bangunan.

Continue reading