But The Truth Remain You’re Gone

this’ L~

sesekali L~ mo post FF. .Drabble nya ntar ya tunggu tgl 20 *g nanya*

happy reading :)

But The Truth Remain You’re Gone

11 Januari 2011

Sial! Mengapa terlambat lagi? Ini semua gara-gara omma, selalu saja membawakan bekal yang macam-macam lupa membangunkanku!

Tapi sebenarnya aku yang datang terlambat atau Choi Sonsaengnim yang datang terlalu pagi sih?

“Misun-yang, alasan apa lagi pagi ini?”

“Maaf, Sonsaengnim…” aku menunduk, meminta maaf. Bagaimana bisa aku mengatakan karena omma lupa membangunkanku? Apa kata teman-teman sekelasku?

“Berdiri di depan pintu!”

Aku segera menuruti perkataan Choi Sonsaengnim, berdiri di depan pintu. Kulihat semua teman-temanku, menatapku dengan tatapan ‘Misun-ah, selalu saja terlambat! Kapan kau berubah, hah?’ aku membalas tatapan mereka dengan tatapan meminta maaf dan berharap mereka memaklumi kebiasaan burukku ini.

Hanya satu mata yang tidak menatapku demikian. Mata yang selalu menatapku dengan tatapan ‘Misun-ah, kau dihukum lagi? Karena itu, jangan terlambat, ara?’

Mata Jonghun. Namjachinguku^^

“Saranghae” lirihku. Aku melihat bibirnya yang sepertinya mengatakan ‘Nado Saranghae, baby~’

Bibir Jonghun. Namjachinguku^^

“Goo Misun! Apa yang lucu? Mengapa tersenyum? Cepat kerjakan soal di papan!” teriakan Choi Sonsaengnim membuyarkan lamumanku. Aku segera menuju ke papan, dan menyelesaikan soal yang diberikan oleh beliau dengan mudah. Bukan karena aku pintar, tetapi karena soal tersebut sudah pernah dibahas oleh Jonghun ketika mengajariku matematika^^

12 Januari 2011

“Mengapa menangis?”

Aku mendongakkan kepalaku. “Baby…” kataku manja. Segera kupeluk tubuh namjachinguku itu.

“Sshhh… uljima…”

“Appa memukuli Jaesun oppa lagi…” isakku. Aku tidak tahu aku harus membela siapa, karena itu aku selalu menangis ketika Appa memukuli oppaku itu.

Jaesun oppa sering pulang dengan mabuk. Aku tidak tahu mengapa dia seperti itu. Ketika ditanya, dia akan selalu menjawab ‘Kau masih kecil, jadi diam saja!’ atau mengalihkan pembicaraan. Tetapi dia adalah oppa yang bertanggung jawab. Pekerjaannya bagus, dan namja yang sopan. Dia sangat menghormati appa dan omma. Tetapi jika kebiasaan buruknya itu muncul, dia sudah seperti orang asing. Appa juga bukanlah orangtua yang suka memukul, beliau hanya kesal dan kecewa mengapa putra sulungnya mempunyai kebiasaan jelek seperti itu.

Setelah mendengar jawaban dariku, Jonghun langsung memelukku erat sekali. “Uljima… Baby~ Kau harus yakin bahwa appa memukuli Jaesun hyung karena beliau menyayanginya.”

“Tapi aku tidak tega, baby… Tadi malam appa memukul Jaesun oppa keras sekali, saat ini Jaesun oppa tidak pergi ke kantor karena sakit.”

Tangan Jonghun lembut membelai rambut hitamku. “Kau sudah merawat luka Jaesun hyung?”

Aku mengangguk. “Tapi Jaesun oppa masih lemah…”

Jonghun melepas pelukannya, mencium keningku lembut, kemudian menatapku dengan tatapan damainya. “Kau sudah menjadi dongsaeng yang baik, Misun-ah… Saat kau merawat Jaesun hyung, katakan pelan-pelan agar dia merubah kebiasaan buruknya itu… Pelan-pelan saja… arasseo?”

Aku mengangguk lagi. “Akan kulakukan. Gomawo, baby. Saranghae~”

13 Januari 2011

“Baby… Temani aku pergi ke toko buku, Jebal~”

Jonghun tersenyum lembut. “Mianhae, baby… Kali lain saja. Omma sedang sakit, aku harus mengantarkannya berobat.”

Aku menarik napas panjang. “Omma kambuh lagi? Aku ikut mengantarkan ya?”

Jonghun menggeleng lemah. “Aniya, kau di rumah saja, mengerjakan tugas hukuman tadi pagi. Jika tidak bisa, telpon aku saja. Nanti malam aku akan mengajarimu.”

Salah satu alasan mengapa aku menyukainya adalah, karena dia pintar dan lembut^^

“Arasseo. Salam untuk Omma, semoga lekas sembuh. Dan kau, baby, jangan macam-macam dengan gadis lain!” kataku mengancam. Sebenarnya aku tahu dia tidak akan menyakitiku, ataupun menduakanku. Jonghun bukanlah tipe seperti itu. Aku hanya ingin menunjukkan padanya bahwa dia hanya milikku, milik Goo Misun.

Jonghun mencium keningku, seperti yang selalu dilakukannya ketika mengantarkanku sampai depan rumah. “Ne, princess…”

Entah mengapa hari ini aku menginginkan lebih. Segera ku tarik kerah seragam sekolahnya, dan menempelkan bibirku ke bibirnya. Dia tidak bereaksi apapun, tetapi beberapa saat kemudian dia membalas ciumanku.

“Nappeun yoja…” katanya, setelah kami selesai berciuman.

“Kau milikku, Choi Jonghun. Saranghae.”

14 Januari 2011

Malam ini hujan turun deras sekali. Aku berkali-kali memencet tombol 3 di ponselku, tetapi tidak ada jawaban di seberang sana. Tidak biasanya dia seperti ini. Dia selalu menjawab telepon dariku, sesibuk apapun. Tetapi mengapa kali ini tidak? Apa terjadi sesuatu? Andwae! Jangan sampai!

Aku semakin gelisah, ketika sudah hampir 2 jam dia tidak menghubungiku. Hujan pun semakin deras, dan tidak menampakkan tanda-tanda akan berhenti. Tidak mungkin aku pergi kerumahnya dengan keadaan seperti ini. Apalagi ini sudah tengah malam.

Tuhan, dimana namjachinguku itu?

Dimana Baby Jonghunku?

Mengapa dia tidak menjawab telepon dariku?

Semoga tidak terjadi apa-apa!

15 Januari 2011

“Hongki-ya, mengapa hari ini Jonghun tidak masuk?”

“Ya~ Siapa yang yojachingunya? Aku atau kau?”

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Benar juga. Seharusnya aku yang lebih tahu, bukan Hongki. Aku khan yojachingunya!

“Misun-ah…”

Aku menoleh.

“Ada apa denganmu pagi ini? Kau tidak terlambat! Kau sudah bertobat? Dan, apa itu lingkaran hitam di matamu? Seperti panda!”

Aku memandang Hongki geram. Ini pasti karena aku tidak tidur semalaman gara-gara memikirkan Jonghun. “Aku memang panda, panda yang selalu dipeluk Jonghun saat dia tidur, menemaninya setiap malam. Kau puas?”

16 Januari 2011

Kupikir hari ini Jonghun akan masuk sekolah, tetapi ternyata aku salah. Karena itu nanti sepulang sekolah aku akan pergi ke rumahnya, mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Rumah megah itu terasa sangat sepi, dan dingin. Tidak ada kehangatan yang terpancar dari rumah tersebut. Sangat berbeda dengan kepribadian Jonghun. Sesaat setelah memencet tombol masuk, pagar terbuka secara otomatis.

“Sebutkan nama dan tinggalkan ponsel di dalam sini.”

“Goo Misun.” Kataku, seraya mengambil ponselku di dalam tas. Belum sempat aku meletakkan ponselku, tiba-tiba pintu utama segera terbuka, dan muncul seorang namja yang masih muda.

“Goo Misun, yojachingu Jonghun hyung?”

“N..ne.. Aku datang kesini karena Jonghun tidak masuk sekolah dan tidak mengangkat teleponku.”

“Sudah kuduga cepat atau lambat kau pasti mencarinya. Masuklah. Tapi tinggalkan ponselmu di sini.”

“Wae?”

“Nanti kau akan tahu sendiri. Ah, aku Minhwan, adik Jonghun hyung.”

Aku menyambut uluran tangan Minhwan. Jadi ini dongsaeng yang selalu diceritakan Jonghun? Adik yang bersekolah di California, dan tidak mau pulang ke Korea jika tidak ada sesuatu yang mendesak? Lantas jika dia ada di sini, ada sesuatu yang terjadi, seperti itu kan analisanya?

Kami tiba di depan sebuah ruangan yang tertutup tirai dari dalam. “Noona, ku harap kau tidak terlalu terkejut.”

Aku mengernyitkan dahiku. “Maksudmu?”

Minhwan menekan sebuah tombol. Dengan sekejap tirai yang menutupi ruang tadi terbuka.

Omo, ruang apa ini? Terlalu banyak peralatan yang tidak kumengerti.

Dan itu. Siapa itu di dalam sana? Di tengah ruangan yang banyak mesin-mesin aneh itu?

“J..Jong…hun… Jonghun?”

Aku menatap Minhwan tidak percaya. Mengapa Jonghun ada di dalam sana? Sedang apa dia dengan alat-alat yang menempel di seluruh tubuhnya?

“Jonghun hyung… Operasi jantungnya gagal, noona.”

“Jonghun, sakit? Kau jangan bercanda!”

Giliran Minhwan yang terkejut. “Kau tidak tahu?”

Aku menggeleng. “Bukankah selama ini omma kalian yang sakit?”

“Omma? Orangtua kami sudah meninggal, noona. Di California.”

Tubuhku lemas, tiba-tiba saja aku ambruk. Dengan cekatan Minhwan menangkap tubuhku. “Sepertinya kau masih belum tahu apa-apa, noona.”

“Gomawo.” Kataku lemas. “Bisakah kita bicara sambil duduk saja? Aku tidak punya tenaga untuk berdiri…”

Minhwan segera memanggil beberapa pelayan, kemudian menyuruhku duduk di depan ruangan kaca tersebut. Ruangan tempat tubuh Jonghun dirawat.

“Jantung Jonghun hyung lemah sejak lahir, noona. Dulu dokter memprediksi hyung tidak akan bisa bertahan sampai dewasa. Tetapi keajaiban, dia masih bisa bertahan sampai saat ini.

Selama ini dia menggunakan alat untuk membantu fungsi jantungnya, agar jantungnya tidak terlalu keras bekerja. Tetapi saat orangtua kami meninggal, dia sudah tidak mau menggunakan alat tersebut. Dia mengatakan bahwa sudah cukup bertahan di depan orangtua kami. Karena orangtua kami sudah tidak ada, sudah tidak ada alasan untuknya bertahan.”

“Aku? Bagaimana denganku? Mengapa dia tidak bertahan untukku?”

Minhwan tersenyum. “Dia sudah bertahan untukmu, noona. Dia melepas alat tersebut selama hampir 3 tahun ini. Bukankah itu waktu yang cukup lama, untuk seseorang yang divonis tidak akan bisa bertahan hingga dewasa? Dan itu semua, alat-alat yang saat ini kau lihat, hyung memintaku untuk membuatkan ruang khusus untuknya, agar dia tetap bisa bertahan hidup. Setiap malam dia tidur di sana.”

Aku menatap Jonghun tak berdaya. Mengapa kau membohongiku, baby? Mengapa tidak kau katakan saja yang sebenarnya?

“Dan alasan mengapa ponsel tidak diperbolehkan, karena sinyal ponsel akan mempengaruhi kerja alat itu. Akibatnya akan fatal.”

“Apakah itu artinya selama 3 tahun ini, Jonghun bertahan hidup karena alat-alat ini?”

Minhwan mengangguk. “Benar. Jika tanpa alat-alat ini, Hyung tidak akan bisa bertahan.”

“Lantas mengapa dia melepas alat bantu yang dulu? Mengapa dia memilih menyiksa dirinya seperti ini?”

“Memakai alat asing selama bertahun-tahun di dalam tubuhmu, aku tidak tahu rasanya, noona. Tetapi yang ku tahu, Jonghun hyung selalu menangis di kamar mandi setiap malam.”

Airmataku menetes. Baby, benarkah seperti itu?

“Minhwan… Kuharap kau mengijinkan aku menginap di sini untuk sementara waktu… Aku ingin merawat Jonghun…”

“Tapi noona…”

“Jebal…”

Minhwan menarik napas panjang. “Baiklah, kalau itu maumu, noona. Aku akan meminta ijin kepada orangtuamu, dan guru di sekolahmu.”

“Gomawo…”

17 Januari 2011

Aku masih berdiri di depan ruang kaca tersebut. Menatap Jonghun yang masih tidak sadarkan diri. Semalaman aku tidak beranjak dari tempat ini, dan tidak berhenti menangis.

Aku tidak tahu, mengapa Jonghun menyembunyikan semua itu padaku. Selama ini Jonghun terlihat baik-baik saja. Bahkan saat kita bersama, aku bisa merasakan detak jantungnya. Aku tidak tahu jika detak jantung yang selama ini kurasakan itu ternyata tidak berfungsi dengan baik.

Dan sekarang, aku hanya bisa mendengar detak jantung itu melalui alat yang terpasang diseluruh tubuh Jonghun.

“Noona, istirahat saja dulu.” kata Minhwan.

“BAGAIMANA AKU BISA BERISTIRAHAT JIKA DIA TERBARING SEPERTI ITU, HAH?” teriakku. Emosiku sudah tidak bisa dibendung lagi.

“Noona…”

“SELAMA INI DIA SELALU BILANG OMMA YANG SAKIT! OMMA KAMBUH! OMMA HARUS DIRAWAT DI RUMAH SAKIT! MENGAPA DIA BERBOHONG PADAKU? APAKAH DIA LEBIH SUKA MELIHATKU SEPERTI INI? TERSIKSA MELIHAT KEADAANNYA YANG SEMAKIN BURUK!”

“Noona, tenanglah…”

Aku ambruk. Tubuhku lemas, dan lelah. Aku sudah tidak mempunyai kekuatan lagi.

“Noona… Istirahatlah. Bagaimana bisa kau merawat Jonghun hyung dengan keadaan seperti ini? Istirahatlah…”

18 Januari 2011

Karena aku keras kepala dan Minhwan juga, akhirnya Minhwan menaruh sebuah tempat tidur di depan ruang tempat Jonghun dirawat. Agar aku bisa istirahat dan menunggunya sekaligus.

“Minhwan… Bagaimana seandainya dia sudah meninggal?”

“Mengapa noona bilang begitu?”

Aku menarik napas panjang. “Entahlah. Aku hanya berpikir dia sudah mati. Dia hidup karena alat-alat itu, bukan karena jantungnya sendiri. Seandainya alat itu tidak melekat di tubuhnya seperti saat ini, dia pasti sudah mati.”

“Noona… Jangan menyerah…”

Aku menunduk. Ya. Aku memang belum menyerah. Tapi entah mengapa hal itu yang memenuhi pikiranku, saat aku pertama kali mendengar operasinya gagal, saat aku melihat alat-alat di tubuhnya, dan saat aku menunggunya. Aku merasa tanpa alat itu pasti Jonghun sudah meninggal.

Tttttttttttttttttttiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttttttttttttttttt.

Deg.

Suara apa itu?

“HYUNG!”

Aku melihat Minhwan berlari menuju ruang kontrol. Saat itu juga aku merasa pikiran-pikiran itu menjadi nyata. Aku segera berlari menuju pintu ruang tempat Jonghun dirawat.

“MINHWAN! MINHWAN! BUKA PINTUNYA! PPALI!” aku berusaha membuka pintu itu. Mencari dimana tombol untuk membukanya, karena bunyi menakutkan tadi semakin membuatku khawatir.

“MINHWAN! BUKA!” Aku masih terus berusaha membuka pintu tersebut. Setelah pintu terbuka aku segera berlari menuju Jonghun.

“BABY! BABY BUKA MATAMU! PPALI! BUKA MATAMU! SADARLAH!”

Aku mengguncang-guncang tubuh Jonghun. Dia masih tidak bergerak. Airmataku sudah menetes sejak mendengar bunyi menakutkan tadi.

“BABY SADARLAH! CHOI JONGHUN SADARLAH!”

Aku merasakan tangan Minhwan menarikku, tetapi aku tidak mempedulikannya. Aku terus mengguncang-gungang tubuh Jonghun. Airmataku semakin deras, dan tubuhku bergetar.

Aku mencium bibirnya. Berharap setelah menciumnya, dia segera sadar.

“BABY BUKA MATAMU!” teriakku.

Aku menciumnya lagi.

“Noona!” Minhwan masih berusaha menarikku menjauh dari Jonghun, dan aku tetap tidak peduli.

Aku menciumnya lagi. Tapi dia belum sadar. Aku terus menciumnya berkali-kali tapi dia tidak juga sadar.

“YA! CHOI JONGHUN! MENGAPA KAU MASIH TIDAK MEMBUKA MATAMU, HAH?”

Aku menciumnya lagi. Kali ini, aku mulai merasakan bibirnya yang dingin.

Tubuhku lemas, dan langsung terjatuh setelah menyadari ciuman yang kulakukan tadi tidak ada gunanya. Dia sudah pergi.

“Noona…” Minhwan memeluk tubuhku.

“Dia sudah pergi… Minhwan..” isakku. “Dia sudah pergi…”

25 Januari 2011

Ddok ddok ddok…

“Goo Misun? Terlambat lagi?”

Aku menunduk. “Maaf, Sonsaengnim…”

“Kau sudah tahu hukumannya?”

Aku menangguk, kemudian segera berdiri di dekat papan. Kepalaku masih menunduk, menahan malu. Entah mengapa kebiasaan buruk ini tidak juga hilang.

“Baby…”

Aku mendengar suara seseorang yang memanggilku lirih.

“Misun-ah…”

Ah, mungkin aku hanya berhalusinasi saja.

“Baby… Lihat ke sini…”

Karena penasaran, aku segera melihat ke arah suara tersebut.

Dia disana, dengan tatapan damainya, yang menatapku dengan tatapan ‘Misun-ah, kau dihukum lagi? Karena itu, jangan terlambat, ara?’

“Baby… Goo Misun… Ini yang terakhir kalinya kau terlambat. Jangan terlambat karena tidak ada lagi yang mengajarimu mengerjakan hukuman dari sonsaengnim. Jangan terlambat karena tidak ada lagi yang melihatmu dengan tatapan damai. Jangan terlambat karena tidak ada lagi yang akan mengantarmu pulang jika hukumanmu sampai larut malam. Kau mengerti? Dan jangan menangis karena tidak ada lagi yang akan menghiburmu. Kau mengerti tidak? Jangan diam saja seperti itu, tersenyumlah padaku jika kau mengerti!”

Aku tersenyum. “Arasseo. Saranghae, Choi Jonghun.”

Dia membalas senyumku, “Nado saranghae, baby~ Kau milikku. Selamanya.”

“Misun-yang! Kebiasaan buruk. Terlambat, tersenyum sendiri ketika dihukum! Apa yang lucu? Cepat kerjakan soal di papan!” teriakan Choi Sonsaengnim membuyarkan lamumanku.

Aku segera menuju ke papan. Sudah bisa di tebak, aku tidak bisa menyelesaikan soal yang diberikan Choi Sonsaengnim. Berbeda dengan hari-hari ketika Jonghun masih di sini.

Tidak ada lagi yang mengajariku matematika, tidak ada lagi yang menatapku damai, tidak ada lagi yang mengantarkan aku pulang dan memberikan kecupan di keningku, tidak ada lagi yang memelukku ketika aku menangis.

Kenyataannya memang seperti itu, dia sudah pergi. Baby Jonghun-ku pergi beberapa hari yang lalu.

Dan kenyataannya lagi, aku tetap mencintainya. Dia tetap milikku selamanya, Baby Jonghun tetap milik Goo Misun, meskipun dia sudah pergi.

-END-

10 thoughts on “But The Truth Remain You’re Gone

  1. annyeong^^
    bru pertma comment.. Jeongmal mianhae, coz biaxa na jdi silent reader mlu..^^
    nih ff kren bgt. Aku xka^^
    tdi, smpt nangz paz baca.. Pkok na bnr” kren deh^^ 2jmpol wat author na..!!

  2. @all
    makasi uda baca n komen :)
    L~ emg kurang bisa bkin FF happy ending, kbnykn sad ending :)
    tunggu karya yg lain yaa :)

    @saehae
    maaf uda bkin kamu nangis. .tpi L~ berterimakasih bangettttt kamu uda gjdi silent reader lg :)
    mulai skr komen yaa. .L~ tunggu :)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s