I Miss You

Annyeonghaseo :D

Admin Yoon kali ini kembali dengan ff buatan sendiri~ kali ini castnya Donghae~ dan ini udah ff ke2 setelah resmi debut (?) di wff~ LOL /plak xD

mungkin ff ini masih kurang gimanaaa gitu, makanya saya sebagai author sangat mengharapkan komennya~

dont be silent reader ya~ ^^

udah deh bacotannya, selamat membaca! ^^~

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Donghae menjatuhkan dirinya di atas sofa panjang itu, lalu menyandarkan punggungnya di sana. ia memejamkan matanya, lalu menghela napasnya dengan berat.

Setelah cukup lama ia memejamkan mata, ia pun membukanya kembali. Sesekali mengerjap-ngerjapkan matanya itu, menatap langit-langit ruang tamu dormnya dengan nanar. Entah kenapa hari ini dia merasa sangat lemas, sangat tidak ingin beraktifitas, padahal begitu banyak yang harus di lakukannya.

Tiba-tiba pintu dorm terbuka, ternyata Leeteuk. “Hae, sedang apa kau?”

Donghae menatap hyungnya yang dijuluki malaikat itu, “Anieyo. Aku hanya… merindukannya hyung…” donghae menjawabnya dengan lirih. Tanpa sadar matanya ikut memanas, hampir saja air mata itu menghambur keluar, tapi ditahannya sebisa mungkin.

_______

Udara dingin kota Seoul sangat menusuk malam ini, bagaimana tidak, sebentar lagi malam natal. Semua orang di kota senang menyambutnya, tapi Yoonhee tidak begitu.

Yoonhee memeluk dirinya sendiri, mencoba memberikan kehangatan pada tubuhnya yang memang tidak pernah cocok dengan udara sedingin ini. ia berjalan pelan menyusuri jalan kota Seoul yang ramai pada malam ini, menuju apartemennya.

Akhirnya sampai juga. Yoonhee buru-buru masuk ke apartemen yang bisa dibilang mewah itu, dan melepaskan pelukannya dari dirinya sendiri. dia meringis, “Di Indonesia tidak pernah sedingin ini,” gerutunya kesal pada cuaca.

Dengan segera ia berjalan menuju lift,lalu memencet tombol naik. Setelah menunggu beberapa menit, lift terbuka dan ia masuk ke dalam. Ternyata ia tidak sendiri, ada Cheonsa, sahabatnya yang memang tinggal di apartemen ini juga.

“baru pulang?” tanya Cheonsa. “Kau kelihatan lelah sekali,”

Yoonhee balas menatapnya dan mencoba untuk tersenyum tipis, “ne, aku memang lelah sekali hari ini.”

“kau masih merindukannya?” Cheonsa langsung bertanya to the point.

Lagi-lagi Yoonhee hanya tersenyum, menatap nanar ke arah pintu lift yang masih tertutup itu, “Ne… aku merindukannya…” ucapnya lirih.

_______

Donghae menatap dirinya sendiri di cermin. Bayangan dirinya itu tampak kelelahan—dan menyedihkan, sama seperti dirinya sendiri.

Ia berjalan mendekati cermin itu, sambil mendengarkan lagu yang ia ciptakan sendiri mengalun dengan indahnya, Beautiful.

Donghae memukul cermin itu dengan tangan kanannya. Sakit, tapi baginya tidak apa-apa. Ia hanya ingin melampiaskan kekesalannya.

Ternyata lagu ini memang benar-benar mengungkapkan isi hatinya, ia tidak bisa jika tanpa gadis itu. Gadis yang dimaksudnya dalam lagu ini. Gadis yang begitu dicintainya, tapi gadis itu malah meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Kim Yoonhee, itulah namanya.

Donghae marah pada dirinya sendiri. marah kenapa ia bisa membiarkan gadis itu meninggalkannya. Pasti Donghae melakukan kesalahan besar sehingga membuat gadis itu pergi dan tidak kembali lagi padanya. Ia marah kenapa ia tidak bisa menjadi apa yang Yoonhee inginkan.

Perlahan ia memejamkan matanya, membuat semua ingatannya tentang Yoonhee mengalir begitu saja.

—FLASHBACK—

“lelah?” tanya gadis itu perhatian pada Donghae.

Donghae menggeleng sambil tersenyum, lalu mengambil handuk kecil yang Yoonhee sodorkan padanya. Mungkin ia bohong kalau ia bilang dia tidak merasa lelah. Donghae lelah, tapi karena Yoonhee ada di sini, rasa lelahnya serasa hilang seketika.

Yoonhee menarik tangan Donghae dan berjalan ke tepi ruangan. Ia duduk dan bersandar di cermin-cermin yang mengelilingi ruangan latihan menari khusus untuk para artis ini. “Istirahatlah,” Yoonhee menepuk lantai di samping tempat ia duduk. Donghae menurut. Ia duduk di tempat yang Yoonhee minta, di sampingnya.

“Aku menciptakan lagu untukmu,” perkataan donghae barusan membuat Yoonhee menoleh ke arahnya, balas menatap tatapan Donghae itu.

“Jinjjayo?” Yoonhee bertanya, seakan-akan tidak yakin dengan perkataan kekasihnya barusan.

Donghae tersenyum. “Ne,” ucapnya.

“Apa judulnya?”

“Beautiful,”

Mendengar judulnya, Yoonhee tersenyum. “Nyanyikan untukku,”

You’re  like a queen and beautiful

I just cant be without you girl

You’re  like a queen and beautiful

I just cant be without you girl

Donghae terus bernyanyi, sementara senyum terus mengembang di wajah tampannya. Matanya tidak pernah lepas dari mataYoonhee , membuktikan bahwa lagu yang dinyanyikannya memang betul-betul diciptakan untuk Yoonhee.

Coz you are so beautiful

Nal sumsuiga haneun ne ibseul saranghandanmal oh

Coz you are so beautiful

Nae geoteman meomulreo, keudae namanui

My beautiful , my beautiful

Ia berhenti bernyanyi, masih sambil tersenyum, Donghae kemudian bertanya, “Bagaimana?”

Yoonhee membalas senyumnya itu, “Bagus,” jawab Yoonhee puas. “Kapan kau akan menyanyikannya?”

“Saat Super Show 2,”

“SuShow?”

Donghae mengangguk sebagai jawabannya.

Yoonhee memainkan tangan Donghae yang sejak tadi digenggamnya, “Kalau begitu… karena lagu ini diciptakan untukku… kau tidak boleh menari dengan dancer wanita lain seperti Ryeowook oppa.” Jelasnya, membuat Donghae tersenyum. Yoonhee kemudian mengangkat wajahnya, “Arasseo?”

Bukannya menjawab, kekasihnya itu malah tertawa terbahak-bahak. Karena merasa dihiraukan, Yoonhee mencubit  lengan Donghae sampai Donghae meringis kesakitan, tapi senyum jahil masih mengembang di wajahnya.

“Waeyo? Jangan-jangan dari awal kau sudah berencana ingin menari dengan wanita lain?” tuding Yoonhee marah.

Donghae tersenyum, “Anieyo… arasseo, arasseo.. aku tidak akan menyanyi dengan dancer wanita yang manapun… yaksok~” Donghae mengangkat kelingking kanannya ke depan wajahYoonhee.

Tanpa menunggu lama lagi, Yoonhee menyambut kelingking Donghae. Sekarang kelingking mereka saling bertautan, berikatan satu sama lain.

“Oya, aku punya satu permintaan lagi,”

Donghae mengernyitkan keningnya, “Apa lagi?”

“Kau hanya boleh menyanyikan lagu itu untukku… lagu itu milikku, jadi… kau tidak boleh menyanyikannya untuk wanita lain. Arasseo?”

Senyum kembali tersungging di bibir Donghae, “Arasseo…”

—Flashback end—

Donghae akhirnya sadar dari lamunannya. Mungkin hal itu tidak akan terulang lagi. Karena mulai sekarang, tidak akan lagi ada seseorang yang cemburu jika ia menari dengan dancer sexy pada saat konser.

“Donghae-ah,” panggil seseorang,

Ia berbalik, lalu mendapati Eunhyuk berdiri di pintu ruang latihan tari ini. “Ini posisi kita dipanggung nanti saat duet kita berdua,” ucap Eunhyuk sambil menyodorkan kertas-kertas yang dipegangnya pada Donghae.

Dengan cepat Donghae mengambilnya, lalu melihat-lihat apa yang tertulis di atas kertas itu. “Jadi ada dancer yang menari bersama kita nanti?” Donghae mengangkat wajahnya, menatap sahabatnya itu.

Eunhyuk mengangkat bahunya, “Manajemen meminta kita begitu. Tariannya juga… yah, kau tahulah. Ada adegan dimana kita harus membuka baju, dan menari dengan dancer itu. Dan mungkin… Hyona akan membunuhku kalau dia tahu tentang hal ini,” jelas Eunhyuk dengan sorot mata enggan, tapi mau tidak mau, hal ini harus dilakukannya. Kemudian ia sendiri membayangkan bagaimana jika Hyona—kekasihnya—tahu ia akan menari dalam keadaan seperti itu dengan wanita lain, Eunhyuk jadi bergidik ngeri membayangkannya.

Seakan tidak peduli, Donghae kembali menyerahkan kertas-kertas itu pada Eunhyuk. Entah kenapa ia merasa iri pada sahabatnya yang satu ini. setidaknya Eunhyuk punya seseorang yang akan cemburu jika ia menari dengan dancer wanita dengan pakaian yang begitu terbuka. Tapi Donghae tidak lagi mempunyai orang yang akan seperti itu, tidak akan ada lagi.

Donghae kembali duduk di tepi ruangan, sendirian karena Eunhyuk sudah keluar dari ruangan itu. Ia menunduk, dan tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja.

“Aku merindukanmu…”

______

Sudah malam. Yoonhee segera beranjak menuju tempat tidurnya. Ia berbaring di atas tempat tidurnya yang empuk itu, memeluk guling pemberian Donghae dulu.

Entah kenapa hari ini ia merasa kedinginan. Begitu dingin sampai-sampai ia membutuhkan seseorang untuk menghangatkannya. tapi tidak ada yang bisa. Ia tinggal sendiri di apartemen ini, sementara kedua orang tuanya menetap di Indonesia.

Yoonhee menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, berharap selimut itu bisa menghangatkan tubuhnya dari dingin malam yang terasa menusuk kulit ini, tapi tidak bisa. Tidak cukup.

Ia memejamkan matanya, dan tanpa sadar, air matanya jatuh, meluncur dari mata jatuh ke pipi mulusnya, lalu membasahi bantal yang ia tiduri. Tidak tahu apa sebabnya, ia jadi sangat merindukan sosok yang selalu menghangatkannya dulu, Lee Donghae.

Sekarang ia begitu merindukan pria yang menemani hari-harinya selama 2 tahun belakangan ini, tapi tidak lagi sejak beberapa bulan lalu. Yoonhee begitu menyesal mengambil keputusan itu dulu, tapi ia tahu, ini adalah keputusan terbaik yang harus di ambilnya. Mau tidak mau.

Setelah menjalin hubungan spesial selama 2 tahun terakhir, tiba-tiba Yoonhee memutuskan segalanya. Memutuskan segala kontaknya dengan Donghae, dan membuat semua orang bertanya-tanya. Kenapa begitu, kenapa begini? Kenapa tiba-tiba Yoonhee memutuskan hubungannya dengan Donghae?

Tidak begitu saja, tentu saja ada alasan dibaliknya. Yoonhee dipaksa memutuskan Donghae oleh manajer Super Junior. Han Youngjae—manager Super Junior itu mengatakan bahwa Yoonhee hanya merusak konsentrasi Donghae saat bekerja. Dan entah kenapa, saat itu juga Yoonhee langsung memutuskan hubungannya dengan Donghae.

—Flashback—

“Donghae… mungkin sebaiknya kita akhiri sampai sini saja,” Yoonhee tidak berani menatap mata Donghae yang menyorotkan kesedihan saat Yoonhee mengucapkan kalimat barusan.

“M-mwo? Waeyo?” tanya Donghae tidak percaya.

Yoonhee memijat pelipisnya sendiri, “Aku tidak tahan lagi, Hae…”

Lidah Donghae kelu. Tidak bisa berkata apa-apa. Dia terlalu kaget, shock dengan apa yang baru saja Yoonhee katakan. Apa dia sudah melakukan kesalahan?

“Apa aku melakukan kesalahan? Apa salahku? Kenapa tiba-tiba…Yoonhee… aku…” ucapnya terbata.

Tolong jalan bertanya lagi…

“Yoonhee… aku… aku akan jadi lebih baik. Maafkan aku…”

Jangan minta maaf…

“Tolong berikan aku satu kesempatan lagi…”

Jangan meminta lagi…

Yoonhee memejamkan matanya. Seakan mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kata-kata yang sebenarnya berbanding terbalik dengan hatinya. Kata-kata yang sebenarnya tidak mau dan tidak bisa diucapkannya, apalagi pada Donghae. Tapi mau tidak mau, bisa tidak bisa, harus diucapkannya.

“Aku muak denganmu. Kita akhiri saja, Hae,” kata Yoonhee tegas, lalu berbalik dengan air mata yang mengalir di pipinya. Meninggalkan Donghae yang masih terdiam, terpukul dengan apa yang Yoonhee ucapkan barusan.

—Flashback End—

Yoonhee membuka matanya. Kejadian buruk yang tidak ingin ia ingat lagi muncul di mimpinya. Menghantuinya sampai-sampai ia merasa sangat takut.

Rasa rindu yang teramat sangat menyusup di hatinya. Menghantuinya setiap malam. Membuatnya menangisi perbuatanya dulu. Membuatnya memanjatkan doa agar Donghae bisa ada di sampingnya, tapi sepertinya, tuhan tidak mendengar doa itu. Donghae tidak pernah datang. Donghae hanya datang dalam mimpinya, dan itu hanya membuatnya semakin sakit.

“Aku merindukanmu…” lirihnya di tengah-tengah isak tangisnya sendiri.

_____

“Lee Donghae! Fokuslah!” teriak Leeteuk ketika lagi-lagi mendapati Donghae tidak melakukan gerakan tarinya dengar benar.

Tidak biasanya Leeteuk dan yang lain mendapati Donghae kehilangan semangatnya seperti ini. bahkan tidak pernah. Semua orang juga tahu Donghae adalah tipe orang yang pekerja keras dan penuh semangat, tapi sekarang, hanya gara-gara seorang gadis bernama Kim Yoonhee, Donghae kehilangan semangatnya.

Didekatinya Donghae yang kelihatan sangat lemas itu, “Hae, aku tahu kau sedih… tapi, tetaplah fokus. Masih banyak orang-orang di luar sana yang menunggumu, hae. Bersikaplah sebagai seorang professional.” ucap Leeteuk.

Donghae mengangguk, “Mianhae, hyung… aku hanya belum terbiasa tidak melihatnya,” Donghae menjawab sambil menunduk sedih. Jujur, bukan ‘belum terbiasa’, mungkin ia bahkan tidak akan bisa terbiasa apabila tidak ada Yoonhee di sisinya.

“Istirahatlah, anak-anak!” teriak seseorang.

Semua yang ada di dalam ruangan latihan itu menoleh ke arah pintu. Ah, ternyata manager mereka telah datang. Han Youngjae. Pemuda berusia sekitar 30-an itu tersenyum lebar pada sepuluh laki-laki yang lebih muda darinya.

“Kalian mau makan dulu? Aku sudah membawakan makanan,” ucap Youngjae.

Mendengar hal itu, semuanya bersemangat—kecuali Donghae. Lagi-lagi ia merasa kehilangan selera makannya.

“Donghae-ah, kau tidak mau makan? Nanti kehabisan,” tawar Youngjae sambil ikut mengambil makanan yang ia bawa.

Donghae hanya menoleh sebentar padanya, lalu menggeleng. Benar-benar menunjukkan bahwa ia sedang tidak berselera untuk makan. Seenak apapun makanan yang ada di depan matanya saat ini.

Youngjae menghentikan acara makannya, lalu mendekati Donghae. Ia menepuk bahu pemuda yang lebih muda bertahun-tahun darinya itu. “Waegurae? Tidak biasanya kau seperti ini,”

Karena enggan, Donghae menepis tangan yang bertengger dibahunya itu sampai terlepas. “Aku sedang tidak selera, hyung,” jawabnya.

Dahi Youngjae membentuk kerutan-kerutan yang disebabkan oleh jawaban Donghae tadi. “Waeyo? Waeyo? Masalah wanita?” youngjae langsung menebaknya. Dan ternyata tidak salah. Tebakannya tepat mengenai sasaran. Tidak heran, karena sebenarnya Youngjae-lah yang menyebabkan semuanya. “Donghae-ah… bukannya bagus kalau kau berpisah dengan Yoonhee?”

Donghae menatap Youngjae tajam, mulai curiga dengan apa yang Youngjae katakan. “Apa maksudmu, hyung?” tanyanya.

Youngjae mengangkat alisnya. “Bukannya bagus kalau Yoonhee meninggalkanmu? Kau bisa konsentrasi dengan pekerjaanmu, Donghae. Tidak salah aku memintanya melakukan itu.”

Sekarang Donghae tahu, Youngjae adalah penyebab kenapa Yoonhee  memutuskannya. Donghae kemudian merenggut kerah baju Youngjae dengan kasar, lalu di dorongnya tubuh Youngjae sampai rapat ke tembok. “Apa yang kau katakan pada Yoonhee ?!!” bentaknya.

Napas Youngjae tercekat. ia tidak bisa berkata apa-apa. Donghae memegang lehernya begitu erat sampai-sampai ia merasa tidak bisa bernapas.

Yang lain panik. Tidak pernah melihat Donghae akan begitu marah pada managernya sendiri seperti ini. mereka berkali-kali mencoba menghentikan Donghae, tapi berkali-kali juga Donghae menepis tangan-tangan yang berusaha untuk menghalanginya.

Akhirnya amarah Donghae sampai pada puncaknya. Naik terus ke ubun-ubun, membuat kepalanya terasa mendidih. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, dan segera melayangkan tinjunya itu ke pipi kiri milik Youngjae, sampai pemuda dihadapannya itu jatuh tersungkur di lantai.

“Kalau kau menggangguku dan Yoonhee lagi, kau akan mendapatkan hal yang lebih dari itu!” ancam Donghae, membuat Youngjae tidak mampu lagi berkata apa-apa.

Lalu Donghae segera pergi dari ruang latihan itu menuju mobilnya. Melesatkannya menuju apartemen Yoonhee. Hari ini, ia harus mendapatkan Yoonhee kembali.

_____

Yoonhee berjalan menyusuri perpustakaan  dengan santai. Ia sedang bosan, makanya ia pergi ke sini. Perpustakaan kota ini memang selalu jadi tempat rahasianya jika suasana hatinya sedang tidak baik. Hanya satu orang yang tahu Yoonhee akan berlari ke sini jika sedang marah—Lee Donghae.

Mata Yoonhee menangkap buku yang dari tadi ia cari. Ia mengambil buku itu, dan ketika buku itu sudah ada di tangannya, celah yang disebabkan oleh kekosongan buku itu membuat matanya langsung mengarah ke pintu perpustakaan. Tapi bukan pintunya yang membuat jantungnya serasa terhenti, tapi orang yang berdiri di depan pintu itu dengan napas terengah. Pemuda itu memakai topi, masker dan kacamata hitam. Lee Donghae.

Yoonhee menggosok matanya, tidak percaya ia baru saja melihat Donghae. Satu kali, dua kali, berkali-kali, tapi Donghae yang sedang terlihat kebingungan itu tidak hilang dari pandangannya.

“Kim Yoonhee,” panggil seseorang dengan pelan.

Yoonhee berbalik, dan entah kenapa Donghae sudah ada dihadapannya. Menatap kedua matanya lurus-lurus. Yoonhee bisa melihat, di mata Donghae tersirat rasa rindu, sedih. Sama dengan yang ia rasakan.

“Hae, kenapa kau mencariku lagi? Aku sudah bilang kita sudah tidak ada apa-apa lagi,” ucap Yoonhee tegas.

Seakan tidak peduli, Donghae mendekati Yoonhee, sementara Yoonhee terus mengambil langkah kebelakang.

“Hae, berhentilah,”

Donghae menurut, ia akhirnya menghentikan langkahnya. “Yoonhee… aku sudah tahu semuanya.”

“Tahu apa, Hae? Ini adalah yang sebenarnya. Kita tidak ada apa-apa lagi sejak hari itu,” Yoonhee mengelak.

“Tidak. Aku sudah tahu, ini semua karena si brengsek itu, kan? Han Youngjae memintamu untuk meninggalkanku kan?”

Hati Yoonhee terasa tertusuk dalam. Donghae sudah tahu semuanya, tapi ia tahu ia harus mengelak untuk kesekian kalinya. “Tidak, Hae. Ini semua karena kemauanku,” katanya bersikeras. “Aku memang tidak mencintaimu lagi, tidak seperti dulu.”

Donghae akhirnya menarik Yoonhee dalam pelukannya. Tidak peduli berapa kali gadis itu meronta dan berusaha melepaskan diri, Donghae memeluknya erat, seakan-akan ketika ia melepaskan pelukannya, Yoonhee akan menghilang.

“Aku sudah tahu, Yoon… jangan berbohong lagi.” Bisik Donghae di telinga Yoonhee. “Jangan buat aku sakit hati dengan perkataanmu seperti tadi. Jebal…”

Yoonhee memejamkan matanya, membiarkan air mata ia tahan dari tadi meluncur di pipinya. Tidak ada lagi yang bisa diperbuatnya. Donghae sudah tahu semuanya.

“Aku tidak akan membiarkannya lagi mengusik kita berdua. Jangan hiraukan si bodoh itu, Jebal…” Donghae memohon.

“Aku akan melakukan apapun… Kumohon, kembalilah padaku…” lagi-lagi Donghae memohon, ia berbisik di telinga Yoonhee pelan.

“Saranghae… Yoonhee-ya… Saranghae…” bisik Donghae berulang-ulang.

“Mianhae…” Akhirnya Yoonhee bicara di tengah-tengah isaknya.

“Aku merindukanmu…” entah kenapa bisa, Donghae dan Yoonhee mengucapkan itu secara bersamaan. Seakan membuktikan kalau mereka merasakan hal yang sama.

###END###

 

19 thoughts on “I Miss You

  1. jahat sih manager.a!!!
    o(>x<)o
    Yoonhee diminta putus dari donghae,,ntoh!!donghae.a lbh patah smgt klo gk ad yoonhee…rasain :p manager bego!!!*emosi*

    oh ya,,kq ad keselip nama Hyunmi…peran sblm.a hyunmi ya?? :D
    gk mslh kq,,kn cma 1x typo
    pemilihan kta.a bgs ^^b

  2. WAHAHAHAHA, miaaan itu typoooo xDDD
    iya, ini ff udah lama banget sebenernya, dan aku baru ganti castnya. hahahahaha malu banget xD

  3. Ikkkhhhhh~ manager’a jahat sekali! :P Hush hush pegi jaoh2 sono! :9

    Huaaaaaaaaaa~ Daebak sgt! I like it! Aku jg mw d nynyiin ama hae oppa (engke s abank kyu ngamuk deuih :o)
    So sweety bgt hae oppa.. dalem bgt crita’a.. kata2’a itu loh yg gw suka ^_^ Hae oppa emank jdoh de kaia na ama yoonhee.. :)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s