I Don’t Care What Ever They Say

Hoho….

Author lagi seneng bikin cerita yang tragis2….

Ya seperti hidup author yang juga tragis… *PLAK*

Cerita kali ini isinya tentang pengalaman hidup banyak orang…*maybe*

Ya,, kehidupan anak muda yang kebablasan,, dan nyakitin berbagai pihak…

So,, kejedot…. Hahahaha….

Title : I don’t Care What Ever They Say.

Author : Honey Park.

Cast : Shim Changmin, Park Jungmi, Park Junghee, and others.

Genre : drama/romantic, angst(?).

Length : 1/1

Rating : PG15.

Summary : Apapun yang kalian katakan aku tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah kehormatan keluargaku. Aku akan tetap menjadi diriku sendiri. I’ll keep my pride and my family pride. I don’t care what ever will happen next.

Disclaimer : I own nothing except the plot and story. The PLOT and the STORY BELONG to ROYAL ENTERTAINMENT!

Royal Company presented….

Royal Entertainment Company production…

167381_184640041566986_100000629751504_489242_1241482_n

I don’t Care (What Ever They Say)

Seorang gadis terduduk ditepi tebing didekat sebuah pantai. Angin yang menghembus menerpa rambut panjangnya yang kecoklatan. Matanya terlihat kosong dan pipinya basah. Air mata terus mengalir membasahi pipi mulusnya. Lama-kelamaan terdengar isakan yang cukup keras.

~Flashback~

—jungmi POV—

Aku baru pulang dari kampus. Dengan malas aku masuk kerumah dan seperti biasa umma dan appa belum pulang. Kuliah hari ini cukup menguras tenagaku. Aku segera kekamarku dan mandi. Selesai mandi aku turun kedapur dan menyiapkan makan malam. Saat aku sedang menikmati makan malam telepon diruang keluarga berdering. Aku bangkit lalu mengangkat telepon itu.

“Yoboseyo…” kataku malas.

‘Jung, umma ada dirumah.?’ Ternyata onniku.

“Opso, onni. Wae?” aku menjawab dan balik bertanya.

‘Ani. Oh, ya. Jung, katakan pada umma dan appa aku pasti pulang.’

“Keure.” Kataku pendek terkesan dingin.

‘Jalga.’

“Jalga.”

Aku menutup teleponku dan mengingat kata-kata onniku. ‘Aku pasti pulang’. Ya, kalau dipikir-pikir onniku sudah enam bulan tidak pulang sejak saat itu. Sejak aku ada acara dikampusnya, ia ikut pulang denganku saat aku pulang. Aku sempat heran kenapa saat aku bertanya kenapa ia tidak pulang, onniku selalu menjawab.

‘Masih ada yang kurang dengan skripsiku.’

Okay, aku akui membuat skripsi memang tidak mudah. Dan untuk seorang mahasiswa semester satu sepertiku yang tidak tahu menahu soal seluk beluk skripsi hanya bisa iya-iya saja. Aku kembali menikmati makan malamku dan mengerjakan tugasku dikamar. Setelah itu aku tidur. Seperti biasa umma dan appa pulang larut.

Keesokan harinya aku bangun karena suara ponselku yang nyaring. Aku meraba-raba mencari ponselku. Mataku masih tertutup aku malas membuka mata.

“Yoboseyo…” sapaku setelah mendapatkan ponsel dan mengangkatnya.

‘Jung, jangan lupa hari ini aku wisuda.’ Kata suara diujung sana.

“Oppa… jam berapa?” tanyaku malas.

‘Jam delapan kau harus sudah ada dikampus.’ Jawabnya senang.

“Hmm…” desahku. “Kau menganggu hari kosongku, oppa.” Lanjutku lalu bangkit dari tempat tidurku.

‘Haha, kau mau melewatkan acara istimewa kekasihmu yang tampan ini?’

“Tch, kau pede sekali oppa.” Ejekku.

‘Biarin. Jangan terlambat!’

KLIK

“Tch, dasar. Awas kau Shim Changmin. Seenaknya saja menyuruhku.” Umpatku.

Aku segera mandi dan siap-siap. Yup hari ini aku tidak ada kuliah. Rencananya aku akan jalan-jalan seharian. Tapi karena ‘kekasihku yang tampan’ memintaku datang keacara wisudanya mau tak mau aku harus kekampus pagi ini.

Selesai mandi aku memilih pakaianku. Aku mengambil sebuah dress setengah betis berwarna coklat muda lalu menyampirkan selendang senada dibahuku. Aku mengambil kalung dan mengganti anting-antingku. Aku sedikit memoles wajahku dengan make-up tipis dan menata panjangku. Setelah itu aku turun keruang makan.

Umma dan appa terlihat kaget melihatku rapi dengan pakaian resmi pagi ini. Aku duduk lalu mulai menyantap sarapan. Tidak aneh melihat ekspresi mereka. Aku tidak punya pilihan lain selain berpenampilan seperti ini. Acara wisuda ini termasuk acara resmi. Sebisa mungkin aku mencoba berpenampilan seperti ini.

“Umma, hari ini Changmin oppa wisuda. Aku sepertinya pulang telat hari ini.” Kataku selesai makan.

“Ye~… Changmin wisuda hari ini? Ck, kapan onnimu wisuda ya?” Tanya umma.

“Molla.” Kataku sekenanya.

“Sampaikan salam kami padanya.” Kata appa.

“Ne, appa. Umma, appa aku pergi dulu.”

Aku mengecup pipi umma dan appa lalu melesat pergi menuju mobilku yang terparkir didepan rumah. Aku segera meluncurkan mobilku kekampus. Tiga puluh menit kemudian aku sampai dikampus dan segera menuju aula. Aku tiba lima menit sebelum acara dimulai. Aku lalu menghampiri Changmin oppa yang menunggu dengan gelisah.

Dia terlihat sangat tampan. Dengan kemeja putih  bersihnya dipadukan dengan jas hitam pekat dan dasi hitam yang melingkar dilehernya. Dia berkali-kali melirik jam tangannya. Aku tersenyum dan menepuk bahunya yang tinggi.

“Kau membuatku khawatir Park Jungmi!” geramnya.

“Wae~?” tanyaku.

“Tiga menit lagi!” lanjutnya lalu menarik tanganku.

“Ya…ya…ya…” teriakku.

Shim Changmin oppa adalah sunbaeku dikampus. Aku bertemu dengannya saat aku ospek. Aku tidak mengikuti ospek sebenarnya karena aku sakit. Sedikit saja kelelahan aku langsung ambruk. Jadi saat itu aku sedang menonton teman-temanku diospek dan Changmin oppa menghampiriku yang duduk disebuah kursi didekat pohon.

Aku gugup berada didekatnya. Jadi aku hanya diam saat itu. Toh, Changmin oppa juga diam saja. Hingga sebulan setelah itu aku dikagetkan olehnya. Ia menungguku didepan kelasku dan segera menarik tanganku ke halaman belakang kampus. Ia menyatakan cintanya begitu saja padaku. aku shock dengan tindakannya itu. Dan saat itu entah kenapa aku menerimanya. Aneh.

Aku tersadar saat Changmin oppa membawaku kepada orang tuanya. Aku membungkukkan badanku.

“Anyeong hasimnika, ahjumma, ajussi.” Sapaku.

“Kau pasti Jungmi. Benar kata Changmin, kau cantik.” Kata umma Changmin oppa.

“Gomaseupnida.” Aku tersenyum.

Wajahku panas. Aku yakin wajahku memerah. Aku menoleh kearah Changmin oppa yang tertawa.

“Acaranya akan dimulai sebentar lagi.” Kata Changmin oppa mencairkan suasana.

Kami berempat masuk keaula. Aku tidak tahu kenapa Changmin oppa mengajakku keacara wisuda ini. Yang kutahu farewell party diadakan nanti sore. Tapi ya sudah lah, aku sudah terlanjur ada disini. Aku duduk disamping Changmin oppa dan aku melihat teman-teman seangkatannya. Aku yakin aku yang paling muda diantara mereka semua.

“Pemberian penghargaan bagi mahasiswa dengan nilai tertinggi. Kepada Shim Changmin-ssi, silakan naik kepodium.”

Aku bertepuk tangan dan Changmin oppa menghentikan tepukan tanganku. Ia menarik tanganku dan menyeret tubuh mungilku ikut keatas panggung. Saat ia menerima penghargaan ia melepas tanganku lalu ia naik kepodium dan mengucapkan ucapan terima kasihnya. Saat ia menyebut namaku aku memandangnya.

“Khamsahamnida untuk kekasihku Park Jungmi. Dia yang telah memberikan aku inspirasi sehingga aku bisa menciptakan sebuah aransemen lagu yang indah. Sikapnya yang kadang kekanakan kadang dewasa membuatku bisa melihat arti kehidupan dan arti dari menyayangi yang sebenarnya. Khamsahamnida.”

Terdengar gemuruh tepuk tangan. Changmin oppa memelukku lalu membawaku turun kebelakang panggung. Aku sangat kaget sampai-sampai aku tidak bisa bicara apa-apa. Changmin oppa sepertinya senang membuatku kaget.

==================

Aku dan Changmin oppa duduk ditebing dekat pantai. Aku menyandarkan kepalaku dipundak Changmin oppa yang lebar. Angin malam menerpa tubuhku yang hanya terbalut kain tipis selendangku. Changmin oppa lalu memelukku. Saat sedang senang ataupun sedih aku selalu datang kesini. Memandang hamparan laut yang luas.

“Jung…” panggil Changmin oppa.

“Ne.” aku menoleh kearahnya.

“Gomawo.” Katanya menatapku.

“Untuk?” tanyaku bingung.

“Semuanya.” Ia mendesah lalu menatap laut malam yang gelap. “Kau yang telah membuatku berubah. Aku melihat tatapan sedih hari itu. Tatapanmu terlihat dingin. Kau yang memberiku tekad untuk membuat semua orang tersenyum. Kau segalanya bagiku. Dan sekarang aku berhasil menghilangkan tatapan matamu yang dulu. Sekarang matamu dipenuhi kebahagiaan.” Ia tersenyum menatapku.

Aku menunduk dan tersenyum. Changmin oppa benar. Sejak bertemu dengan Changmin oppa hidupku lebih berwarna. Selama kurang lebih lima bulan kami bersama dan Changmin oppa bisa mengubahku menjadi Jungmi yang ceria.

Aku lalu merasakan Changmin oppa menangkupkan tangannya diwajahku. Aku menatap matanya dan ia melakukan hal yang sama. Ia tersenyum manis lalu mendekatkan wajahnya kewajahku. Semakin dekat dan akhirnya bibirnya yang hangat menempel dibibirku. Dengan pelan ia memijat bibirnya kebibirku. Aku membalas setiap pijatan lembut Changmin oppa.

Sebuah ciuman lembut yang hangat. Sebuah ciuman yang hanya bisa kudapatkan dari Changmin oppa. Pria yang kucintai. Dan tanpa kusadari Changmin oppa sudah menelusuri mulutku dengan lidahnya. Aku sedikit mendesah dengan perlakuan Changmin oppa. Ia memelukku dengan erat, membuatku mau tak mau memeluk lehernya.

Sepuluh menit kemudian kami melepaskan ciuman kami. Changmin oppa tersenyum. Aku hanya bisa membalas senyumannya dan masuk kedalam pelukan hangatnya. Malam semakin larut dan Changmin oppa mengantarku pulang.

===================

Setelah bergelut dengan soal-soal selama dua minggu akhirnya aku libur. Changmin oppa mengajakku kencan hari ini dan aku memenuhi ajakkannya itu. Aku senang sekali akhirnya aku bisa bebas setelah dua minggu aku ujian.

Kami bermain di Amusement Park sepanjang hari. Dan seperti biasa Changmin oppa menyiksaku. Mengajakku naik wahana yang membuat jantungku berdetak kencang. Dan diakhir kami memutuskan untuk naik bianglala. Aku beristirahat dipundak Changmin oppa.

“Lelah?” tanyanya.

“Sangat. Kau hampir membuatku mati karena permainan itu.” Kesalku.

“Mian, tapi kau senangkan hari ini?” tanyanya lalu mengusap lembut rambutku.

Aku mengangguk lalu memejamkan mataku. Aku sangat lelah. Changmin oppa menggila hari ini. Ia mengajakku naik permainan gila sepanjang hari. Saat aku menikmati suasana yang aman dan tentram ini, ponselku berbunyi. Aku segera mengangkatnya.

“Yoboseyo… ne, aku segera pulang… ne, umma.”

Aku menyimpan kembali ponselku kedalam tas dan menoleh kearah Changmin oppa.

“Oppa, umma menyuruhku pulang.” Kataku.

Aku masih ingin bersama Changmin oppa tapi umma menyuruhku pulang.

“Keure. Setelah ini aku akan mengantarmu pulang. Kita masih bisa main lagi besok. Iya kan?” katanya.

Aku mengangguk dan saat kami turun dari bianglala, kami segera menuju mobil Changmin oppa dan segera meluncur kerumahku. Aku mencium pipi Changmin oppa sebelum masuk kegerbang rumah. Saat aku masuk kerumah, aku melihat omma, appa, dan Junghee onni.

“Jung, sini.” Umma menyuruhku duduk.

Aku melihat ada yang berbeda dengan Junghee onni. Tapi aku tidak menggubrisnya. Aku hanya diam. Sepertinya aku tahu apa yang terjadi disini.

“Jung, onnimu ingin mengatakan sesuatu.” Kata appa memecah kesunyian.

Aku tetap diam. Dan Junghee onni juga terdiam. Aku menarik nafas lalu mulai bicara.

“No need to talk.” Kataku pendek.

Kebiasaanku saat aku kesal atau marah ataupun sedih, berbicara dengan bahasa inggris.

“Aku tahu. Kau tidak usah memberitahuku onni. Aku tahu bedanya orang sakit dan sehat. Aku bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa, tapi aku juga bukan orang dewasa. Aku hanya remaja yang pemikirannya lebih matang. Aku tahu apa yang terjadi padamu saat aku melihatmu tadi. Tidak usah dijelaskan, aku tahu. Dan sepertinya mulai sekarang hidupku akan semakin sulit. Semua karena kau, onni.” Air mataku meleleh.

“Jung, ini bukan kemauan onnimu.” Jelas umma.

“Jika bukan kemauan onni, lalu kemauan siapa. Aku akan mencoba untuk tidak membencimu, onni. Meski sulit. Aku tidak mau merusak kehormatanku dengan membencimu. Aku akan melindungi kehormatanku dan kehormatan keluarga kita. Aku hanya ingin bertanya. Apa kau berpikir tentang kehormatanmu dan kehormatan keluargamu saat melakukannya. Kau lebih dewasa dari pada aku, onni. Aku percaya kau tidak akan melakukannya. Tapi ternyata aku salah. Kau telah mencoreng kehormatanku, umma, dan appa dimata orang lain. Kau semakin membuat hidupku sulit. Nan niga jongmal sirhoyo.”

Tanpa basa basi aku menyambar kunci mobilku yang kusimpan dimeja kecil didekat tempatku duduk dan berlari keluar menuju dimana mobilku terparkir. Aku tidak mendengar panggilan umma dan appa. aku segera melajukan mobilku ketempat favoritku.

Sesampainya disana aku segera keluar dari mobilku dan membanting pintunya. Aku terduduk ditanah berpasir dan air mataku mengalir tak tertahankan. Angin menerpa lembut rambutku. Lama-kelamaan isakanku terdengar semakin kencang. Aku mengangkat wajahku dan menatap matahari yang perlahan-lahan menghilang dibalik cakrawala.

~flashback end~still Jungmi POV—

Aku menatap kosong pemandangan didepanku. Aku tak habis pikir. Selama ini aku rela tidak terlalu diperhatikan umma dan appa. Ya, selama ini umma dan appa berharap banyak pada Junghee onni. Dan aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena aku akui aku adalah orang yang santai dan acuh. Dan mulai sekarang kehidupanku tidak akan sesantai dan seacuh dulu.

Dan yang pasti aku tidak seceria dulu. Aku sudah tidak bisa merasakan keadaan sekitarku. Bahkan aku sudah tak bisa merasakan lagi air mata yang mengalir dipipiku. Ponselku berbunyi, aku segera mengangkatnya dan menyimpannya didepan telingaku. Tapi tak ada sepatah katapun yang keluar.

‘Honey funny, kau dimana?’ Tanya suara disebrang sana.

Aku hanya diam.

‘Jung, gwenchana? Non odisso?’ tanyanya lagi.

Aku tetap diam.

‘Sepertinya aku tahu kau ada dimana.’ Katanya lalu sambungan telepon itu terputus.

Aku tetap dalam posisi itu. Percikan-percikan air mulai turun dari langit dan aku tetap ditempatku. Semakin lama semakin banyak percikan air yang turun. Membasahi tubuhku yang lemah dan menyamarkan air mataku yang masih mengalir. Aku tidak bergerak sedikitpun. Hingga aku merasakan sesosok tubuh memelukku. Aku tetap diam.

“Honey funny, non gwenchana?” tanyanya.

Aku menatap wajahnya. Changmin oppa terlihat khawatir. Aku menatapnya kosong dan ia kembali mendekapku. Aku tetap diam.

“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau seperti ini? Kau lebih parah dibandingkan saat itu.” Bisiknya.

Aku tetap diam dan akhirnya gelap.

—POV end—

~author POV~

“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau seperti ini? Kau lebih parah dibandingkan saat itu.” Bisik Changmin ditelinga Jungmi.

Dan setelah itu Changmin merasakan tubuh Jungmi yang melemas seketika. Changmin melepaskan pelukannya dan mendapati Jungmi pingsan. Changmin menepuk pelan pipi Jungmi. Dingin. Tubuh Jungmi sangat dingin. Dengan cepat Changmin mengangkat tubuh Jungmi dan memasukkannya kedalam mobilnya. Dengan cepat ia melajukan mobilnya kerumahnya.

“Bertahanlah, Jung.”

Sesampainya dirumah, Changmin segera membawa Jungmi kekamarnya. Umma dan adik-adik Changmin yang melihat segera menghampiri Changmin.

“Jungmi?! Kita harus segera mengganti bajunya. Changmin bawakan selimut lagi. Kalian berdua bantu umma membuka baju Jungmi.” Perintah umma Changmin.

“Ne.”

Setelah selesai mengganti baju Jungmi, Changmin menemani Jungmi yang tak sadarkan diri. Ia bahkan lupa member tahu keluarga Jungmi. Changmin menggenggam tangan Jungmi dan mengusap lembut kepala Jungmi.

“Jung, sebenarnya ada apa? Kenapa kau tidak menceritakannya padaku?” bisik Changmin.

===================

“Jung, kau dari mana saja!?”

“Kokjongma, appa. Tak ada seorangpun yang tahu tentang hal ini. Changmin oppa pun tidak tahu tentang hal ini. Bukannya aku pernah bilang pada appa, aku akan melindungi kehormatan keluarga ini. Aku tidak main-main dengan kata-kataku meski aku baru 18 tahun. Aku sungguh-sungguh. Aku tidak akan ikut campur dalam masalah ini.”

Jungmi meninggalkan ayahnya dan masuk kekamarnya. Ia menatap langit yang cerah. Ia belum tahu bagaimana cara agar ia bisa berhadapan dengan onninya nanti. Ia bahkan tidak tahu harus bersikap apa. Semua kesedihannya kembali seketika. Jungmi kembali menjadi Jungmi yang pemurung dan penyendiri. Changmin dengan sabar menemani Jungmi yang lebih pendiam.

——————–

Dua minggu sejak kejadian itu dan Jungmi kembali kekampus. Ia terlihat lebih senang sendirian dan bicara seperlunya. Changmin selalu mengantar dan menjemput Jungmi. Ia juga terlihat sering membawa Jungmi jalan-jalan. Jungmi mengalami depresi ringan. Ia juga mengidap sebuah penyakit yang membuat Changmin harus menjaga Jungmi ekstra.

Jungmi mengidap kelainan otak yang menyebabkannya tidak bisa berpikir terlalu keras. Ia akan kesakitan jika memaksakan dirinya untuk berpikir. Changmin sekarang mengambil alih kuasa atas Jungmi. Ia membawa Jungmi kerumahnya dan merawat Jungmi dengan telaten. Jungmi memang terlihat sehat tapi sebenarnya tidak.

Semakin hari tubuhnya semakin kurus. Dan akhirnya, Changmin memutuskan untuk menikahi Jungmi dan membawanya tinggal diluar negri. Ia ingin Jungmi melupakan semuanya dan memulai hidup baru.

~FIN~

Sebuah FF yang geje…

Tapi taka pa,, yang penting author bisa share…

FF nie mengandung sedikit makna…

Berhubungan dengan seseorang boleh aja,, tapi jangan kebabalasan ntar berabe…

And,, menghadapi segala sesuatu ntu jangan terlalu dipikirin…

Ntar depresi kaya Jungmi….

So,, author harap kejadian diatas ga bakalan terjadi dikehidupan readers maupun author…

Amin….

Silahkan yg mau ninggalin kritik, saran, nasehat, atau apapaun,, kotak komen selalu tersedia…

Keep your pride….

15 thoughts on “I Don’t Care What Ever They Say

  1. aku agak bingung..
    *reader babo*
    itu maksudnya onnie jungmi hamil?
    ah yg penting happy ending..
    jungmi nikah sama changmin..
    :D

  2. Kasian jungmi! :'( huaaaa~ hiks hiks hiks hiks!!

    Changmin oppa, jaga jungmi bae2 y! :) Thor bwt lanjutan’a donk! Cerita’a keren bgt,, dlm bgt bwt akuh! Sweety sgt la! Daebak! Nice chang-oppa ff i ever read! ^-^

  3. msh ga ngerti tu onnienya jung knpa???
    changmin kerennnn..ampe dibawa pas wisuda dan disebut2 namanya jg…huwaaaaa min salut…
    jungmi changmin,,moga hdupr bahagia yah ^^ #berasaBeneran

  4. Masih bingung…LOL..(mian…saya lemot berat)
    euhm…author…kelainan otak?
    Emang ada y jenis kelainan kayak gtu?itu klainan d bagian otak yg sblah mana?organ p?koq q blom pnah dger yah?(bawel dah!)
    euhm…author,mgkin dsni konfliknya blum d jlasin scra gamblang kali yah?jd msih bikin bingung…
    But, over all bgus koq…p lg da moral lesson nya…
    Author…keep writing!^^

  5. uhmm agak bingung sama cerita.a.. ==a
    tapi q suka.. :)
    q ngerasa kayak q itu masuk ke dalem cerita itu biarpun gg terlalu ngerti sama yg terjadi di situ.. Hehe
    feel.a dapet bgt nih klo mnurut q.. ^^

  6. Yes…!!! reader pda bngung…*jingkrak2*
    *dlmpar kneraka*

    onni’na jungmi hmil wahai reader skalian…
    pdahal slama nie jung prcaya onni’na g bkal nglakuin hal itu…
    trnyata jung slah sodara2…

    sdah mngertikah…??

    yg nanya soal klainan,, author jga g tw…
    tpi author ska kya gtu klo mkir trlalu brat…
    kpala brasa mw pcah…
    *curcol*

  7. Ceritanya keren, cuma pas ending nya kayak di cepet cepetin gitu ya??
    Bikin lanjutannya seru kayak nya. Haha

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s