Marionette Syndrome (3)

Marionette Syndrome

Main Character(s): Lee Jonghyun (CN Blue), Kim Hyoyeon (SNSD)
Other Character(s): CN Blue, SNSD
Part 3 of 4

Rating: R, untuk kekerasan dan tema yang agak berat

Terinspirasi dari film NCIS, judul berasal dari lagu Vocaloid.

 

 

“Seohyun itu—temanmu?”

 

Sekaleng kopi disodorkan ke depan wajah Hyoyeon. Ia tersenyum kaku sebelum mengambil kaleng itu dengan ucapan terima kasih lirih, nyaris tak terdengar.

Mengingat hubungan keduanya beberapa hari yang lalu, mungkin apa yang terjadi sekarang akan terlihat mengejutkan bagi kebanyakan orang. Kim Hyoyeon, agen spesial NIF yang menentang habis-habisan keterlibatan NTS, duduk di sebelah Lee Jonghyun, agen NTS yang ikut campur dalam kasusnya. Tapi Hyoyeon tidak bisa peduli pada persoalan itu sekarang ini.

“Kami bersama-sama di akademi. Dia teman yang sangat baik. Pekerja keras.”

“Aku turut berduka.”

Hyoyeon mengangkat bahu. Ia membuka kaleng kopinya, meneguk isinya. Semuanya masih terasa seperti mimpi. Seohyun yang sudah dikenalnya lama sebelum mereka berdua masuk ke NIF sekarang sudah tiada. Mau tidak mau ia menyalahkan dirinya sendiri; berminggu-minggu ia menyelidiki kasus pembunuhan itu tapi dia tidak bisa mencegah kejadian ini. Senjata-senjata berharga dalam kepemilikan angkatan laut hilang, Seohyun yang kebetulan menjadi petugas administrasi di sana terbunuh dalam proses.

 

Lelaki di sebelahnya menyandarkan punggung ke kursi, “Kau bisa menangis kalau kau mau.”

“Berbeda dengan anggapan kebanyakan orang, tidak semua wanita menyalurkan emosinya dengan air mata.”

“Oh ya? Lalu apa yang kau lakukan?”

Agen wanita itu menolehkan wajahnya, tekad terpancar dari matanya. Ia tidak akan menangis karena sesuatu yang sudah terjadi—ia menolak untuk memperlihatkan kelemahannya. Salahnya yang tidak sigap dalam kasus inilah yang menyebabkan kematian Seohyun; dan ia akan membetulkan kesalahannya ini.

“Bekerja. Lebih baik lagi kalau aku bisa membunuh pelakunya.”

Jonghyun tertawa, mengambil kaleng kopi dari tangan Hyoyeon dan meminumnya sendiri. Membuat agen NIF itu berdecak kesal dan segera merebut kembali minuman itu.

“Bekerja. Kau selalu melakukan itu untuk menyelesaikan masalahmu?”

“Bisa dibilang begitu.”

“Kau selalu sekaku ini?”

Hyoyeon mendelik ke arah laki-laki itu. Sesuatu yang sangat sering ia lakukan akhir-akhir ini. Karena, yah, percayakan seorang Lee Jonghyun untuk membuat seorang Kim Hyoyeon naik darah.

 

“Kukira kau seorang pendiam yang menyebalkan, ternyata aku salah. Kau menyebalkan, dan cerewet.”

“Perkiraanku dari awal benar, kau keras kepala dan kaku.”

Gadis itu mendengus, sengaja agak memutar tubuhnya supaya tidak perlu menghadapi wajah sombong milik agen NTS di sebelahnya. Entah apa salahnya di dunia hingga perlu kenal dengan seorang Lee Jonghyun. Dia tidak repot-repot menyembunyikan ekspresi tidak setujunya ketika laki-laki di sebelahnya berkata sekali lagi.

“Kau bisa menangis kalau kau sedih. Tidak ada yang melarang.”

“Aku yang melarang. Keberatan?”

Hyoyeon berdiri ketika Jonghyun tertawa lagi—untuk alasan yang ia tidak mengerti. Menurutnya, menangis itu konyol karena tidak akan mengubah apapun. Daripada itu lebih baik ia melakukan sesuatu yang lebih konstruktif, sesuatu yang bisa berarti. Ia baru akan beranjak pergi ketika agen NTS di dekatnya bicara lagi.

 

“Menangis bukan kelemahan.”

Hyoyeon melirik laki-laki itu sekilas.

“Itu ‘kan menurutmu.”

___________________________

 

Ia bohong kalau ia mengatakan bahwa kematian Seohyun tidak mempengaruhinya. Rasa bersalah menggerogotinya—tidak, seperti akan menelannya. Selama tiga hari ini berdiam, mau tidak mau ia jadi berpikir apa jika ia bekerja sama dengan NTS hasilnya tidak akan seperti ini. Ia bahkan tidak ada di tempat saat kejadian, bersikeras ikut menangkap teroris itu meskipun seharusnya saat itu lebih dia mengutamakan keselamatan NIF—gudang senjatanya, agen-agennya. Seohyun. Mau tak mau dia menyalahkan egonya—yang menolak untuk kalah dari NTS.

Hyoyeon bukan tipe yang rapuh, tapi kali itu dia terdiam di depan mejanya. Ia bahkan tidak ingin lagi mengusut kasus marionette ini. Atau, sudah bukan kasus marionette, hanya sekelompok teroris keji. Tapi ia ingin membalas kematian Seohyun. Ia harus membalas mereka.

Telepon genggamnya berbunyi.

“Kim Hyoyeon.”

Hyoyeon? Kami menemukan petunjuk mengenai keberadaan mereka.”

 

Nafas gadis itu tercekat. Suara Jonghyun di ujung lainnya entah kenapa membuatnya semakin bingung. Ia tidak tahu mana yang seharusnya ia rasakan, sedih, marah, takut?

“Aku segera ke sana.”

Mungkin seharusnya ia merasakan antisipasi karena akan bertugas—tapi emosinya entah kenapa tidak terkendali. Ia akui ia tidak pernah bisa mengendalikan emosinya dengan baik, tapi kali ini semua menggelegak. Ia tidak mengerti lagi. Bahkan ketika dia sudah mengendarai mobilnya menuju lokasi yang ditunjuk Jonghyun, ia masih tidak bisa memahami apa sebenarnya yang ia rasakan.

 

 

Ketika ia keluar dari mobilnya pun, masih ada sedikit dari pikiran itu yang tersisa. Revolvernya siap di tangan, ia mengendap-ngendap bergabung dengan para NTS. Tim yang sama dengan yang terakhir, dengan Yonghwa sebagai ketua tim. Hyoyeon tidak mengatakan apa-apa, tahu pada saat begini mengajak bicara seseorang hanya akan merusak konsentrasi tim.

Tiga menit lima belas detik, setidaknya menurut perhitungan Hyoyeon. Mungkin ia menghitung terlalu lambat, karena rasanya ia berdiri diam di sana jauh lebih lama. Sebelum akhirnya, seseorang di kejauhan memberi isyarat kepada mereka untuk bergerak.

“Kau siap, agen Kim?” itu suara Yonghwa, yang dibalas affirmatif oleh gadis itu.

Ketua tim itu tidak bertanya pada anggota yang lain—otomatis membuat Hyoyeon bertanya-tanya apakah itu perlakuan ‘spesial’ lain karena dia perempuan. Atau hanya sekedar memastikan apa dia yang baru datang benar-benar mengerti. Yang manapun, tidak membuat perasaannya bertambah baik.

 

Pada waktunya mereka bergerak, Hyoyeon berusaha melupakan semua itu. Ia hanya memusatkan fokusnya pada memburu penjahat-penjahat ini. Mereka licin, ia bahkan tidak mengerti bagaimana NTS bisa menemukan orang-orang ini dalam waktu hanya tiga hari. Tapi ia rasa, ketika memiliki semua teknologi canggih yang diberikan pemerintah, itu bukan masalah untuk mereka. Sebaliknya, seharusnya mereka merasa malu kalau tidak bisa segera menemukan para penjahat ini.

Tapi yang penting saat ini adalah memenangkan ‘pertempuran’.

Hyoyeon beringsut di balik dinding. Posisi NTS dan dia sekarang kurang menguntungkan sebenarnya. Para teroris itu berada di atap-atap sementara mereka berada di jalanan. Dalam taktik peran Sun Tzu juga sudah dikatakan bahwa orang yang memiliki keunggulan geografis, atau ketinggian dalam hal ini, memiliki kesempatan lebih besar untuk menang. Bukan berarti ia menyerah.

Suara letusan senapan dan desing peluru terdengar. Hyoyeon menyipitkan matanya ketika ia membidikkan laras senapannya ke salah satu sosok di atas atap yang berada kira-kira dua belas meter dari tempatnya berdiri. Ia kembali merapatkan tubuhnya ke dinding ketika targetnya balas menembak, satu, dua. Ia menghitung hingga enam tembakan sudah diarahkan padanya, kemudian ia muncul kembali dari balik dinding—balas menembak.

 

Tembakannya tidak berhasil. Dari sudut matanya ia melihat beberapa target lain sudah tumbang, satu diantaranya jatuh dari atap ke jalan. Sial.

Sial.

Sial.

 

Hyoyeon keluar dari perlindungan dindingnya, membuatnya mendapatkan sudut yang lebih baik untuk menembak—meskipun itu berarti ia mengekspos dirinya sendiri. Ia menembak target yang sedari tadi diincar, dan tersenyum puas saat akhirnya targetnya itu jatuh. Terperangkap dalam euforia sesaatnya, gadis itu tidak menyadari ada laras yang terbidik ke arahnya. Yang disadari olehnya adalah satu saat ia melihat orang lain tumbang dan detik berikutnya—

Jonghyun berada di depannya.

 

“Lain kali, jangan berdiri di tempat yang bisa diincar musuh begitu. Dasar pemula.”

Hyoyeon terpaku—masih kesulitan memahami apa yang baru saja terjadi. Instingnya mengambil alih untuk menopang tubuh agen laki-laki itu, mendudukannya di tanah. Suara tembakan di sekitar mereka mulai berkurang hingga akhirnya berhenti.

 

“Kau bodoh ya? Untuk apa kau melindungiku?”

Laki-laki itu hanya meringis—memegang daerah rusuknya. Ia mengenakan rompi anti peluru memang, seragam standar operasi. Ia tidak akan mati, tidak terluka—tapi bukan berarti tidak sakit.

“Kau harusnya mengucapkan terima kasih.”

“Sok pahlawan. Kau kira semua perempuan butuh perlindungan?”

Hyoyeon merasakan amarahnya mulai timbul lagi. Sekali lagi, ia benci ketika gender menjadi pembeda dalam tugasnya sebagai agen. Ia lulus semua tes praktek dengan hasil gemilang, tidak ada alasan bagi orang lain untuk menganggap rendah dirinya. Meskipun ia akui ia memang membuat kesalahan dengan menerjang peluru tadi.

 

“Aku melindungimu karena kau partnerku, bukan karena kau perempuan.”

 

Ucapan Jonghyun berikutnya membuat gadis itu tersentak. Ia akui ia cukup terkejut ketika mendengar kalimat itu. Sudut bibirnya naik membentuk senyum sekilas. Agen NIF itu menggelengkan kepalanya, namun kali ini tidak ada lagi rasa marah.

“Sok keren.”

“Mungkin, tapi wajar kan kalau laki-laki ingin tampak keren di depan orang yang disukainya?”

 

Hyoyeon tertawa, mungkin untuk pertama kalinya di depan agen NTS itu.

 

“Seingatku ada peraturan di NTS untuk tidak mengencani rekan kerja maupun konselor dalam kasusnya.”

 

.

21 thoughts on “Marionette Syndrome (3)

  1. Daebak……..
    Hyoyeon eonni klo lg tugas ati ati donk….bahaya tau…nyawa bs melayang kalo lalai…*gapen*
    euhm…kayaknya kmrn q dah comment dsni tp koq tyata comment q gak ada y?
    Apa gak masuk?(ato aku yg amnesia,yg sbnernya bahwa q blom pnah comment eh?)#abaikan
    d tunggu next part…:)

  2. Hooooooo…… Keren!!!!!!!! Daebak bgt lah thor!!!! >,<
    Ga salah ane jadi bias Jonghyun!!! Saya mau juga di gombalin unyuuuuuuu ƪ(˘ε ˘)ʃ
    Tapi sekarang ane rela kok jong ama hyoyeon 언니,, u,u

    Thor!!! Part 4.a jangan lama.lama ya!!! Lumutan ane nunggu *padahal baru baca juga -_-*

  3. Ahihihi,, hah,,, itu jong uda ngegombal aja *yeah, beneran suka kan
    aduh thor,, ko uda mau tamat si? Belum rela nih nglepas jong yg keren
    jong ati2,,ntar tau2 ketembak beneran lagi

  4. sebelumnya maaf ya buat yang udah nunggu FF ini dilanjut, tapi saya lagi dalam masa2 ujian dan belum bisa ngelanjutin. tapi saya usahakan sabtu/minggu nanti di-update, udah dalam pengerjaan kok :)

    makasih comment dan supportnya, mohon sabar menunggu chapter selanjutnya ya :D

  5. Hyo satu2nya yg mikirin gender mlulu…

    “Dalam taktik peran Sun Tzu juga sudah dikatakan bahwa orang yang memiliki keunggulan geografis, atau ketinggian dalam hal ini, memiliki kesempatan lebih besar untuk menang. Bukan berarti ia menyerah.” => ini bukti bahwa ff itu: bukan “biarpun cuman FF”, tapi “karena ini FF” makanya harus bagus.

  6. Baca dari part 1, baru komen di part 3 ini….!!
    Ceritanya udah keren dari awal, tema yang diangkatpun bagus banget…
    Dan part 3 ini, adalah favoritku…
    Dasar jonghyun lagi tugas masih sempat-sempatnya ngegombal…
    Hehehe…

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s