This Is My Fault, Its My Love (PART 1)

Author: Nisaa

Cast: Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Kim Hyun Ah (4minutes), Hwang Mi Young (Tiffany SNSD), Lee Teuk, and other

Genre: Romance

Category: Chapters

Hallo, ini ff pertamaku, hehe… selamat membaca ya ^^ kalo ada yg pernah baca ff ini, emang pernah aku posting di blog sebelah *nunjuk :p

Ok reader, enjoy yaaa… ^^

PART 1

“jadi… selama 3 minggu ini, gadis bernama Kim Hyun Ah itu, tinggal di apartment mu hyung?” Tanya junsu meyakinkan…

Matanya terfokus pada wajah Jaejoong yang cuek, dan bibirnya terus tersenyum jahil

“ya, seperti itulah” jawab jaejoong pendek. Matanya terus tertuju pada layar Netbooknya, membaca e-mail – e-mail yang masuk… sesekali ia membenarkan kacamata dengan frame biru tua kesayangnya itu

“dan sama sekali hyung tidak menolak?” junsu menyesap kopi nya yang mulai hangat, “aku tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya kita tinggal dengan seorang perempuan dalam satu apartment, padahal bukan istri kita, ah… pacar saja bukan” Junsu melanjutkan perkataanya dengan hati-hati

“awalnya, aku akan menolaknya mentah-mentah, tapi setelah aku mengingat dia itu ‘siapa’, rasanya aku harus berpikir jutaan kali untuk menolaknya” jelas jaejoong, dia menutup layar Netbooknya. Dan menyandarkan punggungnya yang lelah itu ke sofa…

“Nae, aku bisa mengerti hal itu hyung”, junsu menyimpan cangkirnya diatas meja bergaya elegan itu… dan bersiap bercerita lebih lanjut dengan jaejoong, nampaknya orang yang berada di depannya ini sudah cukup siap untuk ‘berlarut-larut’ dengan ceritanya tanpa mengurusi hal lain – mengecek e-mail atau apapun itu

“apakah dia cantik?” Tanya nya dengan nada genit setengah mengejek

Jaejoong menoleh perlahan, “ah… jangan tanyakan hal seperti itu padaku, aku bukan yoochun”

Junsu hanya terkekeh, “ah, tapi aku pikir, bukan hanya Yoochun hyung yang boleh berpendapat atau menilai seorang wanita, hyung juga tentunya boleh, ayolah, tinggal katakan saja, cantik, atau tidak?” junsu tetap mendesak, matanya berbinar-binar jenaka

Jaejoong hanya mengangkat bahunya, “aku tidak tahu”

“masa tidak tahu?”

Jaejoong menggaruk kepalanya yang tidak gatal, terlihat tidak nyaman dengan topic pembicaraan ini, “kau ini seperti host reality show saja”

Junsu tertawa renyah, “mianhae hyung, aku hanya penasaran saja… lagi pula aku sudah lama tidak mampir ke apartment mu, jadi aku belum ada kesempatan untuk melihat gadis yang kini menjadi partner tinggalmu di apartment”

Jaejoong tersenyum kecut, ia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan, café nya hari ini Nampak sepi, berarti Jaejoong tidak salah pilih tempat, dia memang tidak begitu suka keramaian, dia sangat bersyukur sore itu tidak terlalu banyak pengunjung yang datang ke café ini…

“dia cantik” jaejoong baru menjawab pertanyaan junsu yang bertele-tele itu…

Junsu mengangkat alis, “jeongmal?”

“ya, dia cantik, karena dia itu wanita, setahuku wanita itu cantik, kalau tampan-“

“kalau tampan, tentu saja aku hahaha…” junsu memotong perkataan Jaejoong dengan satu kalimat yang sangat percaya diri, lagi-lagi jaejoong tersenyum kecut dibuatnya

Drrt… Drrt…

Handphone jajejoong bergetar diatas meja, jaejoong hanya melihat Display Name nya dan kemudian mengabaikannya. Untuk apa orang itu menelepon? Itu hanya membuat mood nya menjadi buruk saja. Ia hanya mengalihkan pandangannya ke luar jendela, melihat pemandangan orang yang sedang berlalu-lalang…

“siapa?” Tanya junsu heran, Jaejoong hanya menggeleng

Junsu melihat display name yang muncul di layar Handphone jaejoong, “kenapa tidak mengangkatnya?”

“sudahlah biarkan saja, aku sedang tidak ingin berbicara dengannya” kemudian ia menatap junsu tajam, “lebih tepatnya, aku malas”

“oh…” junsu mengangguk mengerti, “tadi siang dia juga mencarimu, dia bercerita padaku, katanya… hyung mengajaknya pulang sama-sama, tapi hyung malah… malah seperti menghindarinya dan pulang duluan.  Kenapa?”

Untuk beberapa saat jaejoong hanya diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Junsu yang mengenal jaejoong sudah cukup lama hanya bisa diam dan memaklumi… dia sudah cukup terbiasa dengan sikap jaejoong yang kadang kurang bersahabat dan kelewat pendiam, ah atau lebih tepatnya pasif…

“kalau hyung sedang tidak ingin membicarakan ini tidak apa-apa, kita bisa bicarakan hal yang lain kan?”

Jaejoong tersadar dari pikiran yang hampir saja menenggelamkannya, jadi merasa sedikit tidak enak pada junsu, ia menghela nafas panjang…

“ mianhae junsu, sebenarnya akhir-akhir ini aku lebih suka banyak berpikir daripada berbicara, apalagi bercerita tentang hal yang sebenarnya…kurang aku suka, soal hwang mi young… aku, aku akan menceritakannya lain kali, aku benar-benar sedang tidak mood membicarakan orang itu”

“gwaenchanhayo hyung, aku tidak pernah mempermasalahkan soal dirimu yang irit bicara itu, lagi pula aku cukup mengerti dan memahami”

“junsu ah.. kau tahu? Kau adalah satu-satunya teman yang paling banyak aku ajak bicara”

“ya aku tahu, sudahlah jangan sungkan padaku hyung, kamu sudah seperti kakak ku sendiri, hehe… oh ya, soal hwang mi young, kau boleh menceritakannya padaku kapan saja”

Jaejoong hanya tersenyum. Ia bersyukur bertemu dengan junsu. Meskipun umurnya lebih muda, tapi rasa-rasanya dia lebih dewasa daripada dirinya. Itu adalah alasan mengapa ia betah berteman dengan junsu dan menganggapnya sebagai adik. Sifatnya ceria, bertolak belakang sekali dengan jaejoong yang pendiam. Dia selalu menanggapi semua yang di ucapkan jaejoong, padahal jaejoong sendiri kadang bersikap cuek padanya…

“bagaimana pekerjaan mu hyung? Sudah selesai?” junsu mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih ringan, dan jaejoong nyatanya memang lebih suka membicarakan pekerjaannya daripada hal yang lain termasuk soal wanita…

“ah, pekerjaan yang kemarin, sudah rampung sekitar 75 persen, tapi, aku baru saja mendapat pekerjaan baru, aku di suruh membuat rancangan bangunan untuk hotel bintang 7 yang akan di bangun di Busan 3 bulan mendatang”

“itu bagus, kapan kau akan memulai kerjaan baru mu itu?”

“secepatnya, setelah kerjaan terakhirku ini sudah selesai sepenuhnya, dan  kau, aku harap kau siap membantuku”

Lagi-lagi Junsu tertawa, “tentu saja hyung, mana mungkin aku menolak di ajak kerja sama oleh mu yang notabene nya ada seorang arsitek hebat?” ucapnya agak mengejek

“ah kau ini berlebihan”

***

Gadis itu melihat deretan foto yang terpajang rapi di depannya. Sesekali ia tersenyum. Membayangkan bagaimana indahnya masa-masa itu, tangannya meraba setiap foto yang tergantung di tembok bercat broken white… senyuman orang yang ada di foto-foto ini nyaris selalu sama, canggung namun hangat…

Gadis itu menghela nafas panjang, menggigiti bagian bawah bibirnya. Rasanya cukup sakit juga melihat cara orang itu mengenang. Tiba-tiba saja, matanya tertuju pada foto yang ia yakini kalau usia nya sudah agak tua. Gambarnya agak sedikit pudar, namun ia masih bisa melihat dengan jelas siapa-siapa saja yang ada di dalamnya… seorang suami istri yang menggendong bayi laki-laki berumur sekitar 2 tahunan… Pikirannya terbawa melayang ketika ia melihat foto itu… ia menahan nafas, melihat foto itu lebih dekat, menyentuhnya…

“hyun ah? Kau sedang apa?” suara itu membuyarkan lamunannya… seorang laki-laki berdiri di ujung koridor, kemudian berjalan menghampirinya… ia menoleh perlahan

“kau sedang apa?” Tanya nya sekali lagi

“jaejoong oppa” ia berusaha menyadarkan diri dari lamunannya, sesadar-sadarnya, “ah tidak, aku hanya melihat-lihat foto ini…” jawabnya pendek

Jaejoong hanya diam mendengar jawaban Hyun ah, “apa ada yang aneh?”

Hyun ah menggeleng, “tidak, sama sekali tidak…”

ia membelai puncak kepala Hyun ah lembut, “sudahlah, ini sudah malam, lebih baik tidur” kemudian ia berjalan meninggalkan Hyun ah

“oppa” ucap hyun ah memanggil

Jaejoong menoleh, “mwo?”

“aku suka foto ini…” ucapnya tersenyum manis, jari telunjuknya menunjuk ke arah foto yang yang terakhir ia lihat

Jaejoong kembali mendekati Hyun Ah dan melihat ke arah foto yang Hyun Ah tunjuk, kepalanya sedikit tertunduk, ia… merasa ada kesakitan yang menyelinap masuk ke dalam tubuhnya yang lelah… jaejoong mengambil foto yang terpajang itu, dan melihatnya lekat-lekat…

“kenapa kau menyukainya?”

“ntah, tapi aku suka melihatnya…” jawab hyun ah memberikan alasan seadanya, dia tidak tahu harus menjawab apa. Yang ia tahu, ia sangat bahagia melihat foto  itu

Terdengar jaejoong membuang nafas, ia membuka laci meja yang ada di di bawah rentetan foto-foto yang terpajang rapi di dinding, meletakan foto itu didalam laci, dan menutup laci itu dengan agak kasar…

“waeyo?” hyun ah agak kaget dengan tindakan jaejoong

Jaejoong menoleh perlahan dan tersenyum pedih, “lebih bagus kalau disimpan disitu, sudah. Kau harus tidur, jangan memandangi foto-foto tak berguna ini” ucapnya sambil melengos pergi

***

Hyun ah bangun pagi sekali, ia ingin menyiapkan sarapan untuk jaejoong. Ia tahu, ia tidak bisa memasak. Maka dari itu, ia hanya membuatkan kimbap. Meskipun hanya membuat kimbap, tapi ia yakin kalau rasanya tidak begitu enak. Tapi sudahlah, yang penting ia sudah berusaha. Setelah ia selesai membuatnya, ia meletakannya di atas meja makan…

Ia melihat ke arah pintu kamar jaejoong, nampaknya jaejoong belum bangun, lagi pula sejak tadi, tidak ada suara-suara yang menandakan kalau jaejoong sudah bangun dari tidurnya.

“hacih! Hacih!” terdengar suara bersin

Hyun ah hanya tersenyum, suara bersin? Berarti jaejoong sudah bangun. Dia memang selalu bersin di pagi hari, ntah kenapa. Padahal dia tidak sakit flu…

Terdengar suara pintu terbuka, ia menoleh dari balik dapur untuk memastikan. Ternyata benar, itu jaejoong. Ia punkembali menyelesaikan pekerjaanya dulu, yaitu mencuci alat-alat masak…

Jaejoong berjalan mendekati meja makan, ia melihat sepiring kimbap, dan buah apel … juga secangkir kopi hangat. Agak heran dengan apa yang di lihatnya, ia mengedarkan pandangan, mencari orang yang meletakan sarapannya begitu saja di atas meja. Tak lama kemudian, hyun ah datang dari arah dapur dan berdiri di sebelah Jaejoong

“kau sudah bangun oppa?”

“ya” jawab jaejoong pendek, kemudian ia melihat keatas meja makan, “ini? Kau yang buat?” jaejoong memastikan

“nae, untuk oppa”

“tapi, buat apa?” jaejoong masih heran

“anniyo, aku hanya ingin membuatkan saja” hyun ah terdiam sejenak, “tidak suka?”

Jaejoong menggelengkan kepalanya, “bukan begitu, tapi untuk apa? Aku bisa sarapan di kantor nanti”

Hyun ah hanya terdiam, rasa-rasanya benar juga, ia tidak perlu repot-repot membuatkan sarapan untuk jaejoong… ia membuang nafas, sedikit kecewa

“tapi, gomawo, aku pasti akan memakannya, kau tenang saja” ia mengelus punggung hyun ah lembut, tersenyum. Hyun ah merasa cukup senang, ia pun membalas senyuman jaejoong…

“kalau begitu, aku mandi dulu”

“iya”

***

“jeongmal?!” yoochun kaget dan hampir tersedak ketika meminum kopi nya pagi itu…

“ya! Biasa saja, ekspresimu itu terlalu berlebihan hyung” ucap junsu yang heran melihat ekspresi yoochun, ia kembali membaca korannya

Hari itu, Junsu dan Yoochun datang ke kantor lebih awal, karena mereka akan menghadiri rapat dengan atasannya. Tapi, rapat baru akan di mulai 30 menit lagi, jadi mereka memutuskan untuk menunggunya di coffee bean yang ada di kantornya…

“ah beruntung sekali jaejoong, bisa satu apartment dengan wanita. Pasti wanita yang tinggal bersama Jaejoong hyung itu cantik” yoochun terdengar antusias

“hah, bagaimana kau bisa berpersepsi seperti itu hyung? Bertemu dengan wanita itu saja belum”

“hey, aku cukup peka terhadap wanita cantik, baru di ceritakan saja aku bisa memastikan bagaimana rupa wanita itu! Kau tidak percaya?”

“aigoo~ kau gombal sekali hyung, aku ingin muntah mendengarnya” junsu menyimpan korannya, menyesap hot lemon tea nya…

“tapi itulah kelebihanku, kau harus mengakuinya… biar aku jelaskan sedikit, pasti wanita itu berambut panjang, berwarna coklat tua, agak bergelombang, matanya agak sedikit besar, dan wajahnya cukup cute aku rasa…” wajahnya yoochun kali itu benar-benar terlihat sedang membayangkan wanita cantik, begitu focus dan begitu menikmati fantasinya… junsu hanya mendengus melihatnya

“hah! Kau aneh” junsu tidak begitu memperdulikan perkataan yoochun.

“selamat pagi. Junsu, yoochun” seorang wanita mengahampiri mereka berdua dan tanpa ragu duduk di sebelah junsu, yoochun yang berada di depan junsu hanya tersenyum pada wanita itu…

“mi young noona, selamat pagi” sapa yoochun

Junsu hanya mengangkat alis, “aish, aku kaget sekali, aku kira siapa”

Wanita itu terkekeh, “kalian terlihat sangat santai, memangnya tidak ada pekerjaan hari ini?”

“kebetulan tidak ada, kami hanya akan menghadiri rapat sekitar… 20 menit lagi, iya kan junsu?”

“nae…” jawab junsu pendek

“oh begitu rupanya” wanita –yang bernama Hwang mi young itu tiba-tiba memperhatikan ke sekitar mereka, merasa ada yang kurang…

“jaejoong mana?” tanyanya penasaran

Yoochun dan Junsu hanya saling bertatapan, sementara Mi young hanya terdiam dengan binar mata yang sangat penasaran, masih menunggu jawaban dari mereka

“jaejoong belum datang, lagi pula dia tidak ikut rapat, paling agak siang nanti dia datang ke kantor” jawab Junsu

Mi young hanya mengangguk, dia pun membenarkan blazernya yang berwarna merah marun itu… menatap Yoochun dan Junsu secara bergantian, “oh begitu ya, kalau begitu aku tinggal dulu ya? Aku juga masih banyak pekerjaan. Bye” tanpa mengharap balasan kata selamat tinggal dari Yoochun dan Junsu, Mi young pun akhirnya meninggalkan mereka berdua…

Hwang mi young, menjabat sebagai General Manager di perusahaan tempat mereke bekerja. Iya, secara tidak langsung, dia adalah atasan Jaejoong, Yoochun, dan Junsu. Seorang wanita cantik, menarik, dan pintar. Banyak pria yang manyukainya, termasuk… Jaejoong

“aigoo~ dia memang cantik, hah…” yoochun terlihat begitu terpesona

“ya, dia cantik, tapi dia itu bodoh” ucap Junsu polos,yang sebenarnya kurang menyukai atasanya itu

“waeyo?” mata yoochun melebar, mendengar perkataan Junsu

Junsu terkekeh, “ya,dia bodoh”

“kenapa? Seenaknya saja kau berkata”

Matanya sekilas melihat ke arah Mi young yang mulai menjauh dan menghilang dari pandangannya, kemudian ia menatap Yoochun kembali…

“kau tahu? Sekarang hwang mi young mengejar Jaejoong. Nampaknya dia jatuh cinta”

“mwo? Baguslah, hah… jaejoong beruntung sekali”

“nae, tapi mana mungkin jaejoong mau dengan wanita plinplan seperti itu”

“maksudmu?” yoochun semakin penasaran dengan cerita junsu

Junsu kemudian melirik jam tangannya, “ah sudahlah, lebih baik kita harus ke ruang rapat sekarang, ayo!” junsu beranjak pergi…

“ya! tunggu aku junsu, hah… kau membiarkan ceritamu itu menggantung, kau pikir bagus?” junsu tidak menghiraukan dan terus berjalan meninggalkan Yoochun, “ya! Aish… ku bilang tunggu!”

“memangnya kenapa kalau aku tidak menunggumu? Itu tak akan menyebabkan mu hilang dan tersesat disini kan hyung? Hah…”

***

Hyun ah menatap jaejoong yang ada di depannya. Dia ternyata memakan kimbap yang ia buat tanpa mengeluh. Ntahlah, hyun ah bingung. Apa karena kimbapnya enak, atau… sebenarnya tidak enak namun ia malas mengomentari. Ia hanya meminum susu nya dan pura-pura tidak memperhatikan jaejoong…

“oppa?”

“nae?”

“kimbapnya… enak?” Tanya nya ragu

Jaejoong hanya tersenyum, “kalau tidak enak, mana mungkin aku memakannya” jawabnya singkat

“oh…” hyun ah sedikit lega, “aku kan tidak bisa masak, bahkan… di bandingkan oppa, aku ini tidak ada apa-apanya dalam hal masak-memasak, hehehe…” Hyun ah nyengir, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal…

“kalau kau belajar, pasti kau bisa. Lagi pula… memang sudah seharusnya aku bisa melakukan apa pun sendiri, aku kan… hidup sendiri” jaejoong agak menunduk, kemudian menyesap kopi hangatnya…

Sungguh, perkataan jaejoong barusan membuat Hyun Ah menjadi sangat tidak enak, dadanya sesak. Ini benar-benar membuatnya terlempar ke masa lalu. Sendiri? Tinggal sendiri? Itu pasti sangat tidak menyenangkan. Itu menyedihkan…

“nae, maafkan appa…” suara Hyun ah nyaris tak terdengar…

Jaejoong kaget mendengar perkataan Hyun ah, dia menatap Hyun Ah… “hyun ah”

Hyun ah mencoba menatap Jaejoong dengan ragu, perasaanya agak sedikit takut… “mwo?”

Jaejoong tersenyum seramah dan seringan mungkin, berusaha mencairkan suasana yang membuat Hyun Ah jadi agak tegang… “ kau tenang saja, jangan pikirkan ucapanku tadi, kau berpikir terlalu jauh… lagi pula, aku…” Jaejoong menahan perkataanya, “aku sudah berusaha melupakan dan memaafkan, ah tidak, maksudku… melupakan, tidak ada yang harus dimaafkan, tidak ada yang salah”

“oppa…”

“aku pergi kerja dulu” jaejoong mengambil jas dan tas nya, meninggalkan hyun ah di ruang makan… hyun ah mengikuti jaejoong dari belakang…

“oppa, aku ingin mengatakan sesuatu”

Jaejoong berbalik di ambang pintu, “apa?”

“hari ini… hari pertama aku bekerja, a, aku mohon doanya ya” hyun ah membungkukan badannya sambil tersenyum.

Alis jaejoong terangkat, “jeongmal? Ah… baguslah” jaejoong berjalan mendekati Hyun ah

“bekerja dimana?”

“aku, bekerja di café, tidak jauh dari kantor oppa, oppa bisa mampir kesana kalau ada waktu”

“pasti, aku senang mendengarnya, kau kan selalu mengeluh bosan tinggal di apartment, semoga… kau menikmati hari-harimu sekarang ya, aku pasti mendoakanmu” tanpa di duga, jaejoong memeluk Hyun Ah…

Pelukan ini? Baru kali ini Hyun Ah merasakan pelukan ‘jenis’ ini lagi. Dia benar-benar… senang. Ia tak menyangka kalau dia akan merasakannya lagi… setelah sekian lama sosoknya hilang dan nyaris tak kembali…

“gomawo oppa”

***

“aigoo~ moderator tadi benar-benar tidak mahir menjelaskan, berbelit-belit, bertele-tele, dan… bahasanya terlalu sok’ intelek! Aku tidak suka, kenapa tidak menggunakan bahasa yang lebih santai dan mudah di mengerti? Memangnya sulit ya?” gerutu junsu panjang pendek, dia menggigiti pulpen, sesekali menuliskan apa yang dia tangkap saat rapat tadi…

Mereka memutuskan untuk memulai pekerjaanya di ruang kerja Yoochun…

“ah, kau benar junsu, aku juga dibuat pusing oleh orang itu” Yoochun membenarkan, dia membenamkan kepalanya atas di meja, sesekali melihat jam..

“sudah sesiang ini, tapi kenapa Jaejoong belum datang?”

“Nado molla hyung… mungkin saja di jalan macet” jawab junsu pendek, masih terfokus pada apa yang di kerjakannya…

***

“kau tidak mau menemuiku sejak kemarin siang, tidak menjawab teleponku, dan tidak membalas satu pun sms dariku, kau kenapa jaejoong?” rentetan pertanyaan itu tertuju pada jaejoong… Hwang mi young tidak sabar mendengar alasan kenapa laki-laki yang ada di depannya ini menghindarinya…

Ia memakan pancake cokelat yang ia pesan sambil memperhatikan lelaki tampan di depannya itu termangu, tenggelam, dan larut dalam pikirannya sendiri… sibuk memainkan lighter berwarna pink metalik kesayangannya…

“ok, kau jawab pertanyaanku nanti saja, sekarang kau pesan makanan dulu, atau apa kek… aku tidak suka melihatmu memainkan lighter itu, kau merokok? Hah… sudah ku bilang itu tidak baik jaejoong”

Jaejoong tidak bergeming, dia menyimpan lighternya di atas meja… “kau ini cerewet sekali noona”

Wajah Mi young terlihat kesal, “aku… siapa yang cerewet? Kau saja yang sejak dari tadi diam, sehingga membuatku tampak cerewet, dan satu lagi, sudah berapa kali ku bilang jangan panggil aku Noona, aku ini hanya beda 2 bulan denganmu, tidak terlalu tua kan?”

Kali ini Jaejoong tertawa kecil, “tetap saja lebih tua”

“ah kau ini…” ada perasaan lega dalam diri Mi young, karena setidaknya, Jaejoong tidak diam lagi seperti patung dengan ekspresi kosong…

Dia menghela nafas panjang, bersiap membicarakan permasalahan awal…

“jadi, kapan kau akan menjawab pertanyaanku?” Mi young sudah tidak sabar mendengar jawaban dari Jaejoong, “nae, sebelum rentetan pertanyaan yang lain keluar dari mulutku, lebih baik kau berikan dulu jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku sebelumnya”

Jaejoong hanya menatap Mi young dengan mata sayu nya… “Mianhae, aku tahu seharusnya aku tidak bertindak seperti itu,  tapi ntah kenapa… kemarin aku benar-benar ingin mengasingkan diri dari mu”

Mi young tidak mengerti dengan apa yang lelaki itu ucapkan, dahinya berkerut…

“ah, pokoknya maafkan aku Mi young, sebagai ganti janjiku yang kemarin… nanti sore aku akan mengantarkanmu pulang”

Mi young tersenyum dengan penuh kemenangan, “baguslah kalau kau meminta maaf, berarti kau merasa dirimu salah kan? Tapi aku rasa… mengantarku pulang saja, itu tidak cukup”

“maksudnya?”

“kau harus memasakan makan malam untuk ku Jaejoong, aku tidak mau tahu, nanti setelah pulang dari kantor aku akan mampir ke apartment mu” ucap Mi young samil beranjak dari sofa…

“ta, tapi…” Jaejoong menyusulnya

“tapi apa? Aku tidak mau tahu. Nanti sore aku ke apartment mu ya? Ah sudahlah, lebih baik sekarang kita ke kantor, aku kan baru saja menculikmu, orang-orang pasti sangat mengkhawatirkanmu, apalagi 2 sahabatmu itu, Junsu dan Yoochun”

***

Hyun ah menjalani harinya dengan sangat senang, ternyata… orang-orang yang ada di tempat kerjanya… semuanya ramah-ramah dan baik… nampaknya dia akan betah bekerja disini.

Café nya tidak begitu besar, namun mengusung tema ‘home sweet home’, karena dari segi bangunan dan gaya café nya… dibuat senyaman seperti di rumah sendiri, full colour dan sangat menarik. Disana terdapat 3 orang karyawan, dan 1 manager. Ada Sun hwa, gadis betubuh mungil yang sangat ramah kepadanya, Eun sung, lelaki manis dan agak sedikit pendiam, Ji won, lelaki yang selalu terlihat ceria, dan Nana… wanita cantik yang menjabat sebagai Manager Café.

“ah, hyun ah shii, biar aku saja” Eun sung berniat mengambil alih apa yang di kerjakan Hyun Ah..

“anni, biar aku saja, ini pekerjaan kecil” Hyun Ah menolaknya, ia terus menyapu bagian yang menurutnya kotor…

“ah sudahlah, lebih baik, kau layani saja tamu-tamu itu… ok?” tawar Eun sung sambil tersenyum…

Hyun ah menoleh ke arah meja dekat pintu masuk, disana di isi oleh 2 orang lelaki

“ah baiklah kalau begitu” Hyun Ah memberikan sapunya pada Eun sung dan menghampiri 2 lelaki itu…

“selamat siang, mau pesan apa?” Tanya Hyun Ah ramah

Kedua orang itu saling bertatap, “aku ingin spageti, ya! kau ingin pesan apa?”

“sama saja dengan mu, oh ya, jus jeruknya juga”

“aku juga, minumnya, colafloat ya”

Dengan sigap Hyun Ah mencatat semua yang mereka pesan, “ada lagi?”

“ah, sudah, itu saja” jawab salah satu dari mereka.

“ah baiklah, tunggu sebentar ya, pesanan anda akan di antarkan” Hyun ah pun membungkukan badannya dan bergegas meninggalkan ke 2 orang itu

Kedua orang itu saling bertatapan…

“dia cantik sekali…” ucap Yoochun sambil sesekali melihat ke arah Hyun Ah…

“ah, hyung! Kenapa yang kau bicarakan itu selalu saja soal wanita?” Junsu menatap Yoochun sinis, “aku bosan”

“itu bagus kan? Kau mau kalau aku membicarakan laki-laki? Memangnya aku ini, homo?”

“aku pikir itu lebih baik hyung, daripada aku di landa rasa bosan karena setiap yang kau bicarakan itu wanita, wanita, dan wanita! Aku mual mendengarnya…” keluh Junsu berharap Yoochun mengerti

Yoochun hanya terkekeh, “hah… baiklah, aku tidak akan membicarakan soal wanita lagi setelah…”

“setelah apa?”

“setelah aku mendapatkan nomor handphone gadis tadi, hehehe….”

Mata sipit junsu kian melebar saja ketika mendengar apa yang di katakan Yoochun, “mwoyo?! Kau ini sudah gila ya? Aish…” Junsu menepuk jidatnya, “kau ini, ya! Kau tidak lihat? Gadis tadi nampaknya terlalu muda untukmu! Dan, kau? Harusnya kau sadar umur, umurmu hampir menginjak 25! Ingat itu”

Yoochun memutar pikirannya, “ah ya, aku sudah tua, harusnya aku mencari wanita seperti Hwang Mi Young, ya… orientasi ku sekarang adalah mencari pasangan hidup, seorang istri, bukan pacar” Yoochun berdecak, kemudian menepuk-nepuk bahu Junsu, “terimakasih junsu, kau sudah menyadarkan ku”

“aish… apa-apaan kau ini?”

“ngomong-ngomong, saat ini yang di pikiran ku ini bukan wanita, tapi jus jeruk, ah aku haus sekali Junsu”

“siapa yang peduli?”

***

Sore itu, jaejoong menepati janjinya. Dia akan mengantarkan Mi young pulang. Dia menunggu di lobby. Tapi, dia masih bingung, bagaimana caranya agar Mi young tidak mampir ke apartment nya dulu? Ah. Di apartment nya kan ada Hyun Ah. Dia tidak ingin Mi young berpikiran macam-macam tentang Hyun Ah dan dirinya… dan dia juga nampaknya tidak mungkin menceritakan siapa Hyun ah. Itu terlalu pribadi dan kurang pantas di ceritakan pada Mi young, dia bukan siapa-siapa… hanya teman dan atasan. Tidak lebih…

Tak lama kemudian, Mi young datang dan menghampiri Jaejoong, “sudah lama?” Tanya Mi young sambil menyisir rambut hitam ikal sepunggungnya dengan menggunakan jari…

“anni, mau pulang sekarang?” Tanya Jaejoong memastikan

“pulang?” wajah Mi young terlihat sedikit kecewa…

“nae, pulang”

“jaejoong, aku kan sudah bilang kalau-“ belum selesai Mi young berbicara, tiba-tiba saja handphone yang di genggamnya berbunyi…

“ah sebentar..” Mi young mengangkat telepon itu…

“yeoboseyo..? ah… Lee teuk oppa… ya aku baru saja mau pulang…. Oh, tapi aku ada janji dulu dengan jae, ah dengan temanku… bagaimana kalau besok?… ayolah, hari ini aku tidak bisa… iya, tapi…. “ nampaknya orang di seberang sana memutuskan teleponnya…

“ah, jaejoong…” wajah Mi young terlihat sangat tidak enak… terlihat gurat kebingungan di wajah cantiknya…

“kenapa?”

“anni, tapi… rasanya hari ini kau tidak usah repot-repot mengantarku pulang…”

Jaejoong hanya menghela nafas panjang dan menatap Mi young dengan tatapan tajam, dia memang selalu seperti ini. Sejak dulu. Tidak berubah. Jaejoong benar-benar merasa dipermainkan, baru saja ia mau memaafkan, tapi dengan mudah Mi young membuatnya ‘malas’ seperti ini. Wanita ini memang sangat menyebalkan. Jauh di dalam hatinya, Jaejoong memang menyukainya, mencintainya. Tapi, kalau dia terus-terusan seperti ini, menariknya menjadi dekat tapi kemudian mendorongnya menjadi jauh (lagi), mungkin perasaanya akan hilang perlahan bersama permainan gadis ini…

“jaejoong… aku….”

“ah sudahlah, tidak apa-apa…” tanpa berkata apa-apa lagi jaejoong langsung meninggalkan Min young di lobby, berjalan dengan sangat cepat menuju parkiran…

“aish! Bodoh sekali aku, jae..jaejoong! tunggu!” Mi young berusaha mengejar Jaejoong, agar tidak kehilangan jejak…

“jaejoong, mianhae, kita bisa pulang bersama-sama besok kan?” ucap Mi young berharap Jaejoong mengerti, langkahnya berusaha menyamai langkah Jaejoong…

“ya” jawab Jaejoong pendek dan terus melangkahkan kakinya dengan cepat…

“jaejoong! Aku ingin bicara dulu sebentar!” Mi young menarik tangan jaejoong, jaejoong menepisnya, tapi ia menghentikan langkahnya…

“apa?”

“aku benar-benar minta maaf jaejoong! Kau jangan bersikap seperti anak kecil!”

“ok”

Wajah Jaejoong terlihat sangat dingin tak berekspresi, dia menatap mata Mi young lekat-lekat, berusaha sekuat tenaga untuk tidak egois dan mau mendengarkan ia berbicara…

***

“gomawo onnie, aku senang bertemu dengan kalian semua, kalian semua baik padaku” ucap Hyun ah sambil membungkukan badannya…

“ah, kau juga anaknya ramah dan mudah diajak bekerja sama Hyun Ah… kami juga senang kenal denganmu, tidak percuma aku menerimamu bekerja disini” ucap Nana

“iya, memang dasarnya kau orang yang menyenangkan” Sun hwa menambahkan

“gomawo!”

“kalau begitu,kau dan sun hwa boleh pulang, biar Eun sung dan Ji won yang membersekan café nya” ucap Nana sangat ramah

“baiklah, Eun sung, Ji won, aku pulang duluan”

***



4 thoughts on “This Is My Fault, Its My Love (PART 1)

  1. Aaaaaaaa~ akhir’a ada lg ff jaejae oppa! :)

    Aku lbih suka Hyun Ah drpd Miyoung!

    daebak bagus seru keren romantis ff’a.. mskpn s oppa na tiis.. :( lanjutin thor! aku mw bca part brikut’a! ngkekeke

    • iya nih aku jugaaa lagi suka sama JJ… makanya cast nya pake dia ^^
      makasih yaaa udah mau baca, lanjutannya segera deh :)

    • aku juga author baru dsini ^^
      hehehehe…
      makasih ya udah mau baca dan komen
      hubungan jj dan hyun?
      jawabannya di part 2 :)
      segera deh hehe

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s