Marionette Syndrome (2)

Marionette Syndrome

Main Character(s): Lee Jonghyun (CN Blue), Kim Hyoyeon (SNSD)
Other Character(s): CN Blue, SNSD
Rating: R, untuk kekerasan dan tema yang agak berat

Terinspirasi dari film NCIS, judul berasal dari lagu Vocaloid.


Heyya, I heard your new partner is NTS’s the most eligible bachelor?”


Hyoyeon, agen spesial NIF berumur 26 tahun, menghentikan gerak jemarinya di atas keyboard sebelum mendongak ke arah suara yang baru terdengar. Alisnya mengernyit, tampak mencoba untuk memahami bahasa yang asing di telinganya itu sebelum akhirnya ia menggelengkan kepala, menyerah.

“Gunakan Hangul, kau tahu aku tidak mengerti sepatah katapun, Tiff.”

Tawa terdengar dari agen wanita lain yang dipanggil Tiff itu, singkatan dari Tiffany. Setelah tiga tahun bertugas di Amerika, kawannya itu seringkali lupa bahwa kebanyakan warga Korea tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Itu, atau dia memang sengaja ingin membuat orang lain frustasi.

Ah, right. Maaf.”

“Tak apa. Kau bilang apa tadi?”

 

Hyoyeon tidak suka melihat cengiran di wajah temannya itu.

“Kudengar kau mendapatkan partner baru, Hyo~”

Dan ia juga tidak suka melihat arah pembicaraan ini akan berkembang. Karena hanya ada satu orang yang bisa disangkutpautkan dengan kata ‘partner baru’. Seeingatnya, Lee Jjong atau siapalah itu yang tidak ia ingat namanya, hanya ikut dalam penyelidikan bersamanya. Bukan menjadi partnernya; karena Kang Minhyuk adalah partnernya sampai mati dan Hyoyeon tidak akan pernah sudi menukar rekannya yang kecil dan manis itu dengan Lee Jjong yang kasar dan tak tahu diri itu. Jadi bukan, ia tidak mengakui agen NTS itu sebagai partnernya.

 

“Maksudmu?” tanya Hyoyeon pada akhirnya, “partnerku ‘kan Minhyuk. Bukannya kalian sudah pernah bertemu?”

“Bukan Minhyuk, aku tahu dia,” geleng Tiffany, masih dengan cengiran iseng di wajahnya, “Lee Jonghyun, yang kumaksud.”

Hyoyeon memutar matanya, mengerikan bagaimana ia masih bisa mengerti apa yang diucapkan oleh temannya itu meskipun kalimatnya berantakan.

“Kalau yang kau maksud agen NTS sombong itu maka bukan, Tiff,” ujarnya acuh tak acuh sambil kembali memusatkan perhatiannya pada layar komputernya, “kami hanya ‘bekerja berdampingan’. Dan sebelum kau tanya, tidak. Aku tidak menyukai perintah ini.”

“Kau yakin? Kudengar dia cukup—lumayan.”

“Tentu. Lumayan sombong, lumayan menyebalkan, lumayan brengsek. Terserahlah.”

If you say so~”

 

Hyoyeon sekali lagi mendongak ke arah Tiffany, yang masih bersandar di mejanya dan juga masih memiliki cengiran iseng yang sama. Entah memang dia setengah mengerti kata-kata Tiffany atau dia hanya tidak menyukai nada bicara temannya itu.

“Kau menyebalkan.”

Tiffany hanya tertawa. Agen yang lebih tua darinya beberapa bulan itu menyibakkan rambutnya dan memberikan map bewarna hitam kepadanya.

“Hampir lupa, ada titipan dari atas.”

“Apa ini?”

“Korban baru, katanya.”

Hyoyeon menarik file itu dari tangan Tiffany dan mendelik ke arahnya. Marionette ke empat. Ia tidak percaya ini, bisa-bisanya temannya itu mengajaknya mengobrol dulu sebelum menyampaikan informasi yang penting seperti ini. Dan tentang si NTS sialan itu pula. Ia bersumpah ada yang tidak beres dengan jalan pikiran Tiffany.

 

“Satu hal yang bisa kuucapkan padamu menggunakan Bahasa Inggris, I hate you, Tiff.”

Hahaha… I love you too, honey.”

 

oOo

 

Ketika Hyoyeon keluar dari mobilnya, dengan lemon tea dalam gelas plastik di tangan kiri dan burger di tangan kanan, Minhyuk yang sudah terlebih dahulu sampai di TKP menatapnya dengan mata terbelak lebar—yang Hyoyeon hiraukan dengan mudah karena Minhyuk memang absurd seperti itu. Meskipun begitu partnernya itu membuka mulut, ia harus memutar bola matanya dan menghela nafas.

“Kau membawa makanan dan minuman ke TKP.”

“Memang kenapa? Kau juga pernah melakukannya.”

“Ya, tapi ini kau, Hyoyeon yang patuhi-peraturan-kita-ini-agen-pemerintah-disiplinlah!”

“Aku butuh energi ekstra untuk menghadapi tuan itu.”

 

Minhyuk mengernyit ke arahnya. Yang ia balas dengan ekspresi yang sama.

 

“Dia tidak seburuk itu, kau tahu.”

“Dia ikut campur dalam kasus kita!” ujarnya tak percaya. Dari sekian orang yang dikenalnya, ia yakin dengan pasti bahwa Minhyuk akan sependapat dengannya. Tapi nyatanya, dia salah. Lee Jjong itu pasti sudah menyuap partnernya dengan sesuatu.

“Dia hanya menuruti perintah,” ujar Minhyuk mengangkat bahu, “tidak ada bedanya dengan kita.”

“Oke, katakan padaku dengan apa ia menyuapmu?”

Gelak tawa langsung terdengar dari partnernya itu. Minhyuk menyeruput lemon tea milik Hyoyeon dan memberikan isyarat padanya untuk mengikutinya.

 

Lokasi korban yang terbaru ini adalah di salah satu rumah dalam komplek angkatan laut. Korban yang terakhir ini adalah seorang bintara wanita yang sedang bebas tugas. Seperti sebelum-sebelumnya, sekilas mayat dari bintara itu akan terlihat seperti boneka tali ukuran raksasa. Kaki dan tangannya berada dalam posisi janggal yang tidak mungkin dilakukan jika tulang dan persendiannya dalam kondisi normal.

Singkatnya, tidak jauh beda dengan tiga korban pendahulunya.

Meskipun ada sedikit perbedaan yang mengganggunya. Sebelum Hyoyeon dan Minhyuk sudah ada orang lain yang membungkuk di dekat tubuh itu. Hyoyeon tahu bahwa ini akan terjadi, NTS juga kini memiliki hak untuk menyelidiki korban, tapi itu bukan berarti ia bisa menerimanya dengan lapang dada.

 

“Jonghyun-hyung, bagaimana? Ada petunjuk?” tanya laki-laki di sebelahnya, yang terdengar riang dan mengambil langkah cepat ke arah agen NTS itu. Dasar pengkhianat.

“Jongno, Jung, Yongsan, Dongjak,” ujar Jonghyun tiba-tiba.

 

“Eh, apa?”

“Itu lokasi-lokasi korban, Minhyuk,” ujar Hyoyeon ketus, “lalu kenapa, oh tuan yang hebat? Kita semua tahu di mana korban-korban ditemukan.”

“Ya, dan memalukan kalian tidak bisa mencegah pembunuhan keempat meskipun pola gerak pelaku sudah jelas.”

Hyoyeon mendelik ke arah laki-laki itu, yang perlahan berdiri dan melepaskan sarung tangannya. Belum pernah ia sangat ingin meninju orang seperti ini. Meskipun ia juga tergoda untuk meninju Minhyuk yang kelihatannya sangat akrab dengan agen NTS itu. Sejak kapan mereka saling kenal?

“Ah, hyung, kalau kau berkata begitu kami tidak akan mengerti. Jelaskanlah sedikit~”

“Ya, jelaskan teori jeniusmu, agen Lee.”

“Hyoyeon!” Minhyuk meninju bahunya pelan, membuat gadis itu berdecak pelan dan memalingkan wajahnya. Kesal.

“Apa dia selalu seperti ini?” tanya Jonghyun santai, mengedikan kepalanya ke arah Hyoyeon sebelum mengacak rambutnya dengan tangan kiri. Gestur yang tidak cocok dengan cara berpakaiannya yang serba rapi.

Minhyuk mengerling ke arah Hyoyeon sebelum menggeleng dan tertawa kecil, “kau belum lihat yang terburuk, hyung.”

 

Giliran Hyoyeon yang meninju bahu partnernya itu, meskipun dengan tenaga yang jauh lebih besar dan sukses membuat Minhyuk meringis kesakitan dan mengusap bahunya. Gadis itu benar-benar merasa dikhianati karena partnernya, yang seharusnya ikut menentang keterlibatan NTS dalam kasus ini, justru terlihat akrab dengan agen yang seharusnya jadi saingan mereka.

“Jadi bagaimana kasusnya?” tanya Hyoyeon pada akhirnya, dengan nada acuh tak acuh. Bukannya ia ingin mendengarkan pendapat tuan sok hebat itu, ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan kasus ini.

“Jelas kan? Pelakunya terus bergerak ke arah selatan, mayat berikutnya pasti akan ditemukan di Gwanak.”

“Oh. Benar juga,” ujar Minhyuk dengan wajah seperti baru mendapat pencerahan.

“Selatan? Jadi? Bisa saja pelakunya menuju Seocho, kan?”

“Mungkin,” jawab agen NTS itu sambil mengambil telepon genggamnya, “tapi itu tidak penting lagi sekarang.”

Hyoyeon menghentakan kakinya ke lantai. Ia menutup matanya dan menghitung sampai lima untuk mencegah emosinya meledak. Tidak penting lagi, katanya. Angkatan laut lain akan jadi korban dan itu tak penting untuk NTS.

“Hei, dengar ya—”

 

“Yonghwa,” ujar Jonghyun ke telepon genggamnya, mengacuhkan Hyoyeon sama sekali, “target berada di Jongno.”

Hyoyeon dan Minhyuk saling berpandang-pandangan, tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi. Baru saja Jonghyun berkata tujuan pelaku selanjutnya Gwanak, lalu dia menelpon dan mengatakan kepada entah siapa itu targetnya ada di Jongno. NTS membuat rumit masalah ini dan membuat Hyoyeon kesal bukan main.

“Ya, aku segera menuju ke sana.”

Hyoyeon menarik kerah baju agen NTS yang baru menutup teleponnya itu. Ia bosan menjadi outsider dalam kasus yang seharusnya adalah miliknya. Ia benci NTS—Anti-terror apanya, mereka hanya sekumpulan manusia sombong yang mengira mereka lebih baik karena menggunakan pakaian rapi yang dibeli dengan menggunakan uang rakyat.

 

“Sebaiknya kau jelaskan padaku apa yang terjadi sebelum aku mematahkan lehermu.”

 

oOo

“Ya, perketat penjagaan, mereka bisa datang kapan saja.”

Hyoyeon memutus hubungan teleponnya. Wajah gadis itu tampak campuran antara frustasi dan kesal.

Pengalihan perhatian, itu satu-satunya tujuan dari semua pembunuhan itu. Buat agar terlihat seperti pembunuhan berseri, buat NIF sibuk dan menerka-nerka siapa yang punya motif untuk membunuh para angkatan laut, mulai dari Jongno; karena pengetahuan umum penyelidik adalah pelaku tidak akan membuat ulah di tempat yang sama dua kali. Setir mereka menjauhi Jongno, buat perhatian mereka terpecah.

 

“Mereka ingin membobol gudang persenjataan angkatan laut.”

 

 

Hyoyeon masih mengutuk dirinya sendiri yang termakan tipuan para teroris itu dengan mudah. Ia menggigit bibir bawahnya sementara ia berkonsentrasi mempersiapkan revolver-nya. Ia dan Minhyuk bergabung dengan para NTS, Jonghyun dan empat orang rekannya yang lain. Awalnya para NTS menyuruhnya untuk tidak ikut campur karena ini sekarang sudah bukan merupakan wilayah kuasa NIF lagi; tapi Hyoyeon menentang keras dan memaksa ikut dalam penggrebekan itu.

 

“Kau siap?”

Gadis itu menoleh ke arah Jonghyun, yang juga memegang revolver dalam posisi bersiaga. Seharusnya dia merasa kesal karena pertanyaan itu seakan meragukan kredibilitasnya sebagai agen, tapi nyatanya rasa kesal itu tidak muncul. Mungkin emosinya sudah terlalu lelah setelah satu jam memaki-maki para penjahat.

“Katakan saja kapan kita mulai bergerak.”

Jonghyun mengedikan kepalanya ke arah salah seorang agen NTS lain yang baru pertama kali dilihatnya. Yonghwa, kalau tidak salah begitu Jonghyun menyebut namanya. Laki-laki yang berada sejauh tujuh meter darinya itu memberikan isyarat dengan jarinya, tiga hitungan. Tiga, Hyoyeon mengangkat senapannya. Dua. Satu—

 

Mereka mulai bergerak, berlari memasuki gedung yang dari luar terlihat terbengkalai. Hyoyeon melirik sekelilingnya, memperhatikan tiap sudut untuk mencari sosok siapapun yang seharusnya tidak ada di situ. Ia berhenti di depan pintu, memberikan isyarat kecil pada Jonghyun sebelum ia membuka pintu itu hingga menjeblak terbuka. Matanya awas mencari target di dalamnya; nihil. Ruangan itu kosong dan hanya ada debu di dalamnya.

“Clear,” seru Jonghyun keras, memberitahukan anggota tim yang lain. Sahutan yang sama terdengar dari yang lain.

 

“Kau bilang ini markas mereka!” hardik Hyoyeon ke arah agen NTS di dekatnya.

“Bukan berarti mereka akan berada selamanya di sini kan?”

Hyoyeon tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi teleponnya bergetar sehingga ia cepat-cepat mengangkat panggilan masuk. Tiga detik kemudian wajahnya berubah. Ia menatap Jonghyun, yang balas menatapnya dengan kedua alis terangkat. Hyoyeon tidak mengatakan apa-apa dan hanya menutup teleponnya.

“Ada apa?”

“Dari direktur, gudang senjata dibobol.”

 

Kakinya mendadak lemas. Ia sudah akan terjatuh kalau bukan berkat agen NTS yang cepat-cepat menghampirinya.

 

“Kau tidak apa-apa?”

 

Ia harus mencengkram lengan Jonghyun agar bisa tetap berdiri.

 

“Berjanjilah.”

 

“…apa?”

Hyoyeon tidak menatap agen NTS itu, matanya terpaku pada satu sudut random di ruangan itu.

 

“Berjanjilah kau akan melibatkanku dalam misi ini sampai akhir, walaupun ini bukan lagi wilayah yuridiksi NIF.”

14 thoughts on “Marionette Syndrome (2)

  1. tiap baca ff yang ini, aku gak tau nih kudu ngekomen apa, bagus banget sih!
    gila nih bahasanya menuntut pembacanya untuk berpikir
    saluuuuuuuuuuut! dan yang lebih penting, aku jadi suka hyoyeon sekarang xD why? karena tiap liat dia suka keinget dia di cerita ini! sosok wanita keren hahahaha
    nice thor! lanjutannya cepetan ya, dinanti banget loh!

  2. Daebak author……..keren…..jd gregetan ma jonghyun…heheh
    euhm…kritiknya mungkin sblum d publish,d bc ulang lg yah?soalnya td q nemuin bbrapa kata yg salah ketik n jg bbrp kalimat yg susunan katanya kurang pas…euhm,gtu j…smgt bwt author!
    Ps:sbnernya q takut bgt ma hyoyeon eonnie loh….tp FF ini plan plan mulai bikin q bs terbiasa ma dy…kekeke(apa deh?)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s