Cold Hearted Girl (Cry)

Anyeong reader….. *lemah, letih, lesu, lemas, lunglai*

Author lagi rajin bikin ff oneshoot….

Jadi yg nunggu The Kingdom,, sabar….

Author belum ada pencerahan….

Cerita kali ini sebenernya ngegambarin seluk beluk hati author yang ga jelas….

Hati ma pikiran author lagi berantakan….

Enjoy it guys….

Title : Cold Hearted Girl (Cry).

Author : Honey Park.

Cast : Jung Jisun/Bianca Jung, Park Sanghyun, Lee Joon, and others.

Genre : drama/romantic, angst(?).

Length : 1/1

Rating : PG15.

Summary : Semua senyuman manis yang dilontarkannya bukanlah senyuman yang sebenarnya. Semua yang tergambar diwajahnya adalah palsu. Wajah dan hatinya bertolak belakang dengan wajahnya. Wajahnya tersenyum, sementara hatinya berduka. Wajahnya terlihat berseri-seri, tapi hatinya kelam. Jung Jisun, hidup dalam kepalsuan. Her life is full of fakeness.

Disclaimer : I own nothing except the plot and story. The PLOT and the STORY BELONG to ROYAL ENTERTAINMENT!

Royal Company presented….

Royal Entertainment Company production…

167353_180388228658834_100000629751504_464175_2295444_n

167353_180388228658834_100000629751504_464175_2295444_n

Cold Hearted Girl (Cry)

Seorang pria berdiri dihadapan sebuah gundukan tanah yang masih basah. Ia menatap nisan yang menghiasi makam didepannya. Jung Jisun. Gadis yang beberapa bulan ini hadir dalam kehidupnya. Gadis ceria yang menyembunyikan sikap dinginnya dihadapan semua orang. Sekarang ia telah tiada dan meninggalkan banyak kenangan untuk pria itu. Park Sanghyun, ia menyimpan sebuah rangkaian bunga mawar putih didekat pusara Jisun.

Ia mengingat kenangannya bersama gadis bernama Jisun itu. Ia menatap foto yang terpampang di batu nisannya. Gadis yang menyadarkannya bahwa hidup ini penuh dengan kepalsuan. Termasuk dirinya.

“Sunnie, semoga kau mendapat keabadian disana. Rest in peace, my dear.”

Sanghyun lalu melangkahkan kakinya meninggalkan makam Jisun. Angin berhembus lembut menemani langkahnya dan menerpa wajahnya yang menitikkan air matanya. Ia sangat terpukul karena ia belum sempat menyampaikan perasaannya pada Jisun.

Few Months Before

~Sanghyun POV~

Aku menapakkan kakiku disekolah baruku. Aku melihat sekeliling. Sekolah kecil yang indah. Aku baru datang ke Korea seminggu yang lalu dari Philipina. Dan hari ini aku mulai masuk ke Seoul International Art School. Sekolah seni terkenal di Seoul yang kebanyakan muridnya berasal dari luar Korea atau pendatang di Korea sepertiku.

Aku menuju keruang kepala sekolah yang kemudian aku diantar ke ruang kelasku. Aku menuju kekelasku bersama seorang guru yang nyentrik. Aku menunggu dipanggil olehnya. Saat aku masuk, semua yang ada diruang kelas menatapku.

“Introduce your self.”

“Hallo. My name is Park Sanghyun. You can call me Thunder.” Aku memperkenalkan diriku. “Bangapseupnida.”

“Kau boleh duduk disebelah Jisun.” Sonsengnim menunjuk kepojok kiri dimana seorang gadis sedang duduk dan menatap keluar jendela.

Aku mengangguk dan segera menuju kesana. Aku menyapanya, karena sepertinya ia sedang melamun.

“Hay, can I sit here?” kataku berbasa-basi senelum duduk.

Dia menoleh lalu tersenyum. “Sure.” Katanya pendek lalu kembali menatap keluar jendela lagi.

Wajahnya berseri-seri tapi matanya terlihat kelam dan dingin. Aku duduk dan pelajaranpun dimulai. Seni musik, pelajaran yang sangat aku sukai. Aku sesekali menoleh kearah gadis yang duduk disampingku itu. Siapa namanya? Aku lupa.

Dia tidak terlalu memperhatikan pelajaran. Dia lebih fokus kearah buku dihadapannya dan mencorat-coret buku itu. Saat ini tatapannya menggambarkan kesedihan mendalam. Dia menoleh kearahku.

“Mwora?” tanyanya.

“Ani. Aku lupa namamu.” Kagetku.

“Jung Jisun.” Katanya pendek lalu menoleh kearah jendela.

Ia lalu kembali asyik dengan dunianya. Dan karena aku terus memperhatikan gadis disampingku ini tak terasa jam pelajaran habis dan saatnya istirahat.

“Kau mau kekantin?” tanyanya.

Aku menoleh dan mengangguk. “Kajja.”

Aku mengikutinya dan mensejajarkan langkahku. Disepanjang jalan menuju kantin, Jisun selalu tersenyum dan setiap orang yang berpapasan dengannya selalu menyapanya.

“Jisun-ah!”

Jisun menoleh kearah seseorang yang memanggilnya. Seorang namja. Ia lalu menghampiri Jisun. Jisun tersenyum.

“Joon sunbae, waeire?”

“Nothing. Let’s have lunch together.” Kata namja itu lalu merangkul Jisun.

“Sunbae…” Jisun melepas rangkulan namja bernama Joon itu.

“Who are you?” tanyanya padaku. Aku masih bengong.

“Ah, dia temanku. Park Sanghyun. Murid baru.” Jisun mewakiliku berbicara.

“Kalo begitu ayo kita kekantin.” Lagi-lagi Joon merangkul Jisun dan Jisun tidak menggubrisnya kali ini.

********

Hari ini aku sedang penat. Aku mencoba mencari tempat yang sepi. Tempat yang jarang didatangi siswa lainnya. Aku pun mencoba ke atap sekolah. Aku sedikit bernyanyi-nyanyi mendengarkan i-pod ku yang memutar lagu favoritku. Seperti perkiraanku, atap sekolah siang hari sepi. Aku segera menjatuhkan diriku didekat pagar pembatas dan menikmati angin yang berhembus pelan.

Aku membaca komik yang baru aku beli dan aku mendengar suara. Lebih tepatnya suara seorang perempuan. Aku membuka headsetku lalu mengedarkan pandanganku. Disana. Diatas sana. Aku yang penasaran segera naik kesana dan tercengang.

“Jisun-ah…” panggilku.

Ia menoleh dan membuka headphonenya. Tatapannya berbeda dengan tatapan biasanya. Tatapannya dingin. Ia tak mengucapkan sepatah katapun. Ia memasang headphonenya lalu menatap langit siang yang cerah. Aku duduk disampingnya tapi Jisun tetap diam memandang langit. Aku mendengarnya menyanyi. Suaranya sangat merdu.

Akupun mengikuti kegiatannya menatap langit. Indah. Aku menoleh kearah Jisun. Ia tidak menatap langit. Ia menutup matanya. Dia terlihat sangat menawan. Pantas Joon, sunbae paling terkenal disekolah ini tergila-gila pada Jisun. Jisun bagaikan ciptaan Tuhan yang sempurna. Relief wajahnya yang bulat, bibir tipisnya yang merona, hidung kecilnya yang lucu, pipinya yang sedikit chubby, dan matanya yang lebar. Dia terlihat seperti tokoh kartun Jepang.

Aku memalingkan wajahku. Ya, dia terlihat sempurna dimataku. Tapi ada yang berbeda. Aku kembali melihat wajahnya. Wajah putihnya terlihat pucat dan…

~POV end~

~Jisun POV~

Aku menutup mataku merasakan udara yang sejuk. Lalu aku merasakan sesuatu mengalir dari hidungku. Aku membuka mataku dan meraba hidungku. Aku tersenyum kecut melihat cairan merah yang keluar dari hidungku. Aku mengambil tissue dari saku seragamku dan mengusap darahku. Aku menoleh kearah Sanghyun yang terlihat keheranan.

“Gwenchana?” tanyanya heran.

“Gwenchana. Hanya mimisan biasa.” Jawabku tenang.

Aku mengambil botol obatku. Mengambil sebutir lalu meminumnya. Aku senang menatap langit karena aku tahu, sebentar lagi aku akan pergi kesana. Pergi kedunia yang lebih tenang tanpa kebohongan. Sanghyun masih menatapku.

“Wae?” tanyaku padanya.

“Sikapmu berbeda dengan biasanya.” Jawabnya.

Aku tersenyum hambar. Lalu memalingkan wajahku.

“Ini adalah diriku yang sebenarnya. The real Bianca Jung.” Aku menyebutkan nama asliku.

Sanghyun menatapku aneh. “Bi… Bianca?” tanyanya heran.

“Nama asliku. Aku bukan orang Korea asli. Ayahku berdarah campuran Korea-Inggris bermarga Jung dan ibuku asli orang Inggris. Kupikir kau bisa melihat dari wajahku yang terlihat sangat berbeda.” Jelasku.

“Ya. Tapi kupikir kau sepertiku. Hanya tinggal diluar Korea.” Katanya. “Orang tuamu disini?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng. “Mereka di Inggris. Aku disini sendiri.”

“Sendiri? Tak ada saudara?” Sanghyun kembali bertanya.

“My sister Angela Jung, live with my parents. My parents really proud of her and I’m not. I live far away from them because of something. I don’t want they feel my suffering. I already give them any circumstance. I love them. This is the way I love them.” Jelasku.

Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “But there’s no body here?”

“There is my father cousin here. I don’t try to find him. Because he’ll report to my parent what happen to me. I don’t want to any circumstance again. Any circumstance in my past is enough for me.” Aku menatapnya sendu.

Dia tersenyum. “I understand.”

Aku tersenyum. “Time to go.” Kataku lalu bangkit.

Aku mendahuluinya turun lalu segera keruang loker dan mengambil sepatuku. Aku lalu meninggalkan Sanghyun. Sudah waktunya aku check up.

~POV end~

~author POV~

Sanghyun menatap tempat duduk disebelahnya. Kosong. Sudah dua hari Jisun tidak masuk. Sanghyun sudah menanyakan pada teman-temannya, dan mereka menjawab Jisun belakangan ini memang sering tidak masuk. Ia sempat merasa aneh.

“Apa dia sakit ya.” Gumam Sanghyun saat ia sedang makan siang diatap sekolah.

Pulang sekolah, Sanghyun memutuskan untuk mencari alamat apartemen Jisun. Bisa dibilang Jisun tinggal disebuah apartemen mewah. Sanghyun lalu menuju lantai 4 dan menuju pintu bernomor 426. Ia tahu alamat ini dari teman sekelasnya. Ia memencet bel. Pintu tetap tertutup. Beberapa kali memencet bel, Sanghyun menyerah dan meninggalkan apartemen itu.

Saat ia berbalik seorang ahjumma bertanya padanya.

“Kau mencari Jisun?”

“Ne.” jawab Sanghyun lalu membungkukkan badannya.

“Dia pergi dua hari lalu.” Katanya.

“Ahjumma tahu kemana Jisun pergi?” Tanya Sanghyun.

“Dia pergi kerumah sakit. Dia selalu pergi kerumah sakit setiap tiga minggu sekali. Tapi jangan Tanya aku dia sakit apa. Aku tidak tahu.” Jelas ahjumma itu.

“Khamsahamnida atas informasinya, ahjumma.” Sanghyun membungkuk lalu pergi kerumah sakit.

Ia sampai di rumah sakit internasional. Aku segera kemeja resepsionis dan bertanya.

“Apa ada pasien bernama Jung Jisun?”

Suster yang sedang berjaga segera mencarinya. “Maaf tidak ada pasien dengan nama itu.” Jawabnya.

“Bagaimana dengan Bianca Jung?” tanyaku lagi.

Sekali lagi suster itu mencari. “Bianca Jung, baru saja pulang.” Jawabnya.

“Anda tahu dia sakit apa?” Tanya Sanghyun penasaran.

“Dia salah satu penderita kanker. Dua hari yang lalu ia melakukan kemoterapi.” Jawabnya singkat.

“Khansahamnida.”

~POV end~

~SanghyunPOV~

Jadi Jisun kanker. Tapi kanker apa? Aku terus bertanya-tanya disepanjang perjalanan pulang. Sebaiknya aku bertanya padanya. Tapi apa ia akan menjawabnya. Aish, tapi bagaimana kalau dia marah?

Aku masuk kerumah dan mendapati noonaku menatapku kesal.

“Daraimana saja kau jam segini baru pulang?” tanyanya kesal.

“Aku ada belajar kelompok dengan temanku.” Jawabku lalu masuk kekamarku.

“Ya~ Park Sanghyun! Aku belum selesai bicara denganmu!” teriak noonaku.

Aku tidak mempedulikan teriakkan noonaku itu. Aku menyalakan komputerku lalu mulai berkutat dengan komputerku.

~POV end~

~Jisun POV~

Aku pulang dengan langkah gontai. Aku benci kemoterapi. Lebih baik aku mati saja daripada harus melakukannya setiap tiga minggu sekali. Aku membuka pintu apartemenku lalu segera masuk kekamarku. Badanku sakit semua dan kepalaku tetap sakit. Aku mengeluarkan ponselku dan menghubungi Sanghyun.

‘Hallo…’ terdengar suaranya disebrang sana.

“Hallo, it’s me.” Kataku.

‘I know.’

“Besok aku lihat catatanmu.” Kataku to the point.

‘Jisun-ah, kau kemana saja dua hari ini?’ tanyanya.

“Aku tidak kemana-mana.” Jawabku datar.

‘Kalau kau punya masalah, ceritakan padaku.’ Tawarnya.

“I’m alright. Don’t worry.”

Setelah mengatakan itu aku menutup telepon dan segera tidur.

———————

Aku melangkah melewati gerbang sekolah lima belas menit sebelum bel berbunyi. Aku segera menuju kelasku dilantai tiga. Aku melihat Sanghyun sudah datang. Aku duduk dibangkuku.

“Morning.” Sapaku.

“Morning.” Balasnya.

Aku menengadahkan tanganku dihadapannya dengan senyuman palsuku. Ia menatapku lalu tersenyum dan menyerahkan buku catatannya. Aku mulai menyalin catatan dua hari yang lalu itu, tapi tiba-tiba penaku diambil Sanghyun. Ia juga mengambil bukuku dan bukunya. Ia mulai menulis dibukuku.

“Sanghyun-ah, biar aku saja.” Aku mencoba mengambil bukuku tapi Sanghyun menjauhkannya dari jangkauanku.

“Gwenchana… satu lagi. Kau panggil aku Doongie saja.” Katanya. “Dan aku akan memanggilmu Sunnie.” Lanjutnya.

“Alright, Mr. up to you.” Kataku lalu menatap keluar jendela.

Aku sangat senang menatap langit. Meskipun langit hari ini terlihat sedih, tapi aku tetap suka. Beberapa menit kemudian terdengar bel masuk berbunyi. Aku segera mengalihkan pandanganku dan melihat Sanghyun masih sibuk menyalin catatannya untukku. Kegiatannya berhenti saat guru kami masuk.

===================

Langit gelap menyelimuti Korea hari ini. Entah kenapa hatiku juga terasa gelap. Aku segera masuk ke lift dan menuju apartemenku. Saat aku tiba aku terkejut melihat siapa yang berdiri didepan pintu apartemenku.

“Mom, dad, what are you two doing here?” tanyaku heran.

“We’re looking for you.” Jawab mom.

“Why’d you looking for me?” tanyaku lagi.

“We need to talk about something.” Jawab dad tegas.

Aku berjalan kearah mereka dan membuka pintu apartemenku. Mereka masuk dan duduk diruang tamu. Aku membuatkan mereka teh lalu duduk duhadapan mereka.

“So, what do you want to talk about?” tanyaku lalu menyisip tehku.

“Go home with us.” Kata dad pendek.

Aku menatap mereka. “Why?” tanyaku.

“This is the time for you to go home.” Jawab dad singkat.

“I don’t want to. I’ll stay here.” Kataku mantap.

“Don’t make us disappointed. Your sister already disappointed us.” Dad terlihat sedikit kesal.

“She always make you happy, make you proud.” Kataku acuh.

“She ruins her life. I still can’t believe it. But we want you to make us proud.”

“Dad, I always do that. But now, I can’t do that. I’m even can’t proud of my self. I already lost hope.” Kataku pelan.

“What do you mean Bianca?” Tanya mom.

“I can’t make proud. I don’t have time.” Jawabku sambil menatap mom.

“You still young. What do you mean with you doesn’t have time?” Tanya dad marah.

“I shouldn’t tell you.” Jawabku lalu memalingkan wajahku kejendela.

Diluar hujan. Sama seperti hatiku. Aku sudah tidak bisa lagi menangis. Aku pergi ke Korea untuk memulai hidup baru. Meninggalkan kenangan pahitku. Selama aku tinggal dengan mom dan dad, aku jarang diperhatikan. Mom dan dad selalu mengutamakan Angela. Dan aku selalu dinomor duakan. Mungkin karena fisikku yang lemah dank arena aku tidak terlalu pintar dalam pelajaran eksak. Aku tahu mom dan dad tidak terlalu menyukai seni, tapi aku menyukai seni.

Aku pergi ke Korea untuk meningkatkan kretifitas seniku. Sudah dua tahun aku tinggal di Korea dan sebelum datang kesini aku sudah divonis terkena kanker otak. Aku menikmati hidupku disini. Tanpa ada paksaan mom dan dad ataupun bayang-bayang Angela. Dan sekarang mereka datang memintaku pulang disaat semua sudah terlambat.

Aku sudah berada ditahap akhir hidupku. Kanker otakku sudah berada di stadium empat. Beberapa minggu lagi juga aku akan mati. Dan aku tahu aku tidak bisa memenuhi permintaan mom dan dad. Bertahan sendiri di Korea membuatku lebih betah tinggal disini dibandingkan dirumahku di Inggris. Aku bangkit dan meninggalkan mom dan dad.

“Bianca! Where are you going?” teriak dad.

Aku tak mengidahkannya. Aku masuk kedalam lift dan pergi meninggalkan gedung tempat aku tinggal selama ini. Aku berjalan menerobos hujan yang lumayan lebat. Aku tak peduli dengan kepalaku yang sakit dan tubuhku yang menggigil. Aku berjalan tanpa arah. Aku bisa melihat air yang mengalir melewati wajahku berwarna lain. Aku menengadah melihat langit yang gelap dan cuaca yang dingin.

Semuanya sama seperti hatiku yang gelap dan dingin. Lalu GELAP.

~POV end~

~SanghyunPOV~

Aku berjalan menyusuri trotoar menuju apartemen Jisun. Tapi ditengah jalan aku melihat sesosok yang aku kenal. Jisun berjalan disebrang sana. Aku segera berlari kesana dan belum aku sempat memanggilnya, ia terjatuh ketanah. Secepat kilat aku menghampirinya.

Wajahnya pucat dan darah segar mengalir dari lubang hidungnya. Aku segera menggendongnya dan menghentikan taksi yang lewat.

“Sunnie, bertahanlah.” Bisikku sambil mencoba menghangatkan tubuhnya yang sedingin es.

Setelah membayar taksi aku segera membawa Jisun masuk dan Jisun segera di bawa keruang UGD. Aku menunggu dengan gelisah. Jisun sudah menceritakan semuanya padaku. Selama kurang lebih dua bulan ini aku mengetahui seluk beluk kehidupan Jisun.

#background song : Every bodies Fool – Evanescence#

Aku menatap pintu ruang UGD. Aku teringat senyum lepas jisun. Ia juga tahu selama ini ia tersenyum dan bersikap hangat untuk menyembunyikan kesedihannya dan menutupi sikapnya yang dingin sedingin es. Kesedihan, kesepian, kepalsuan, dan kesunyian adalah temannya selama ini. Tapi ia bilang padaku bahwa setelah aku datang, hidupnya sedikit berwarna.

Aku bisa merasakannya. Sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Aku bisa merasakan hatiny yang dingin. Tatapan matanya yang gelap dan kosong. Setiap senyum yang tersungging terlihat dipaksakan.

Lamunanku terputus saat dokter keluar dari ruangan.

“Anda keluarganya?” tanyanya.

“Ani. Aku teman sekolahnya. Keluarga Ji… Bianca di Inggris.” Jawabku.

“Baiklah. ikut keruanganku.”

Aku mengikuti dokter keruangannya.

“Keadaan Bianca semakin buruk. Sepertinya ia berpikir terlalu keras. Sel kankernya berkembang pesat, padahal hasil kemoterapi kemarin menunjukkan Bianca bisa hidup lebih lama dari perkiraan.” Jelas sang dokter.

“Sebaiknya keluarga Bianca segera dikabari. Keadaan Bianca sangat kritis. Dipastikan ia hanya bisa bertahan beberapa hari saja.” Lanjut sang dokter.

Aku menatap dokter itu. Aku lalu pamit dan menuju ruang rawat Jisun. Aku melihatnya terbaring lemah dengan berbagai macam alat mengelilinginya. Sebuah monitor menunjukkan detak jantung Jisun.

#background song : Cry – MBLAQ#

Aku mendengar denyut nadi Jisun yang lemah. Aku menatap wajahnya yang pucat. Aku menggenggam tangannya yang dingin dan mengecupnya. Air mataku mengalir membasahi pipiku. Entah sejak kapan aku menyukai gadis ini.

“Sunnie… please don’t leave me.” Bisikku.

Aku terisak. “Saranghae, Sunnie…” isakku.

“I love you, Bianca.” Lanjutku.

Dan yang kudengar selanjutnya adalah suara melengking panjang. Aku melihat garis hijau dilayar monitor Jisun. Aku mengecup bibirnya dan kembali terisak. Kemudian dokter dan suster masuk.

#play: Oh baby You make me cry yeah

Oh baby You make me cry yeah

Oh baby just tell me why yeah

Oh baby You make me cry yeah

===========================

Aku menghubungi sebuah nomor telepon. Lama aku menunggu hingga akhirnya terdengar sebuah suara berat diujung sana.

‘Hello.’

“Hello, can talk to Mr. Edmund Jung?” tanyaku sesopan mungkin.

‘It’s me.’

“I’m Bianca’s friend. I want to tell you something.” Kataku tertahan.

‘What about her?’ terdengar nada tidak senang saat aku menyebut nama itu.

“Bianca Jung, pass away fiveteen minutes ago.” Kataku sambil menahan air mataku.

‘Don’t be kidding boy!’ bentaknya padaku.

“I’m not kodding, sir. If you don’t believe me, just come to Seoul Internasional Hospital. We still take care about her.” Aku lalu menutup ponselku.

Setelah semua beres aku hendak membawa tubuh Jisun unutuk segera dikremasi, saat aku melihat seorang pria dan wanita menghampiriku. Mereka membuka kain putih yang menutupi wajah Jisun. Seketika itu juga wanita yang melihat langsung menangis histeris.

“Bianca…” teriaknya lalu memeluk tubuh kaku Jisun. “Wake up baby. I’m sorry. I’m so sorry.” Katanya terisak.

Pria yang datang bersamanya hanya diam. Ia menatap wajah Jisun dalam. Air mata menbasahi pipinya. Terlihat penyesalan yang mendalam diwajahnya.

“Dad really sorry, Bianca…” bisiknya.

~POV end~

~author POV~

Sanghyun menyimpan perasaannya. Ia memang mengutarakan perasaannya. Tapi ia tak tahu apakah Jisun mengetahuinya atau tidak. Tapi ia yakin, Jisun tahu perasaannya. Ia menoleh untuk melihat tempat peristirahatan terakhir Jisun.

“See you, Bianca Jung…”

Ia berbalik lalu meninggalkan pemakaman yang sepi dibelakangnya dan juga kenangannya.

~FIN~

Akhirnya selesai…..

Mian kali ini genrenya ga jelas…..

Author lagi mellow….

Silakan tumpahkan semua perasaan anda dikolom komen….

12 thoughts on “Cold Hearted Girl (Cry)

  1. Huweeee…..romantis!*gigit bantal*
    terharu thor bacanya……..kasian thunder….kasian jg si jisun….
    Biar orangtuanya jisun kapok!*manyun*
    keren….d tunggu next FF..(trutama yg main cast nya thunder…kekeke)
    see u…^.^

  2. wahahahaha cieee thunder udah mainan ama cewek nih :-| tapi kisahnya langsung tragis gitu aja, kasian :-|
    bagus ceritanya… tapi kayaknyaa scebe antara thunder dan jisun nya kurang banyak >,< jadi kesannya agak terburu2 gitu
    over all bagus kok ceritanya ^^
    di tunggu ff selanjutnya yaaaaaa! :)

  3. Wah thoor ff’nya keren.. Jdi ikut sedih bacanya :D good job thor.. ^^ oh iya,kalau berkenan skali2 nanti mampir ya ke blog ff aku.. Fangirlingff.wordpress.com. Makasiih :D

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s