Khuntoria–Love?

Nichkhun melakukannya. Ia berhasil melaksanakan rencana yang dari dulu memang telah ia rencanakan, tapi entah apa yang di dapatkannya sekarang.

Gadis yang berusaha di senangkannya itu hanya balas menatapnya dengan mata menyipit, dan setiap kerutan di wajahnya membentuk senyum di wajahnya. Penuh senyum, penuh rasa terima kasih, tapi ini sama sekali bukan reaksi yang diharapkan Nichkhun.

Tahukah dia bahwa dirinya melakukan ini semua dengan nyata? Bukan sekedar akting atau hanya untuk menaikkan pamor? Atau hanya untuk menaikkan rating acara yang sedang mereka ikuti sekarang?

Tidak. Kalau itu adalah pertanyaan utama sekarang, maka jawabannya jelas tidak. Nichkhun benar-benar melakukan ini semua atas kemauannya sendiri. entah kenapa, ia hanya ingin melihat ‘istri’nya itu menangis bahagia melihat apa yang dilakukannya untuknya.

Gomawoyo…” kata Victoria berulang-ulang, masih sambil tersenyum.

Nichkhun membalas senyum itu, tapi dengan senyum kekecewaan. Reaksinya sama dengan saat Nichkhun melakukan sesuatu untuknya di atas kapal yang ia pesan khusus untuk mereka berdua. Hanya tersenyum, dan itu benar-benar tidak memuaskan Nichkhun.

“Eum… kemana kita sekarang?” suara itu bertanya lagi.

“Kita akan keluar, lalu baru putuskan kemana,” jawab Nichkhun.

Victoria mengangguk senang, lalu mengikuti langkah Nichkhun keluar dari bangunan besar itu.

Setelah hampir keluar dari gedung, Nichkhun menyadari sesuatu. Pakaian Victoria tidak cukup hangat. Ia hanya mengenakan celana pendek di dalam mantelnya, dan ia tidak mengenakan sarung tangan. Nichkhun segera mengeluarkan sarung tangan yang ia bawa, dan menyerahkan salah satu dari sarung tangan itu untuk Victoria dan satunya lagi untuk dirinya.

“Kau akan memakai sebelah ini, dan aku yang satunya,” Kata Nichkhun.

Lagi-lagi Victoria hanya mengangguk dan memakai sarung tangan itu ke tangan kanannya, begitu juga Nickhun, hanya saja Nichkhun mengenakannya di tangan kiri.

“Dingin,” kata Nichkhun saat angin malam menerpa wajahnya dan Victoria begitu saja. Walaupun sudah sering terkena dingin seperti ini, ia tidak pernah suka dengan kedinginan yang selalu ia derita saat musim dingin.

Nichkhun melirik tangan kiri Victoria yang tidak terbungkus apapun. Ingin sekali ia menghangatkan tangan lentik itu dengan cara menggenggamnya erat, tanpa melepaskannya sedikitpun.

Akhirnya, Nichkhun memberanikan diri. Ia tidak menggenggam tangan kanan Victoria seperti apa yang ia pikirkannya tadi, tapi ia merangkulnya, karena tadi Victoria mengeluh karena kedinginan. Akhirnya  tangan kanan Nichkhun menarik bahu kiri Victoria agar ia lebih merapat dengannya.

“Maaf, aku terlalu dingin,” katanya bohong. Ya, ini jelas-jelas bohong. Nichkhun hanya berpikir bahwa Victoria-lah yang sekarang sedang kedinginan, sehingga ia perlu menghangatkannya.

Nichkhun memang mengira seperti itu, karena pakaian Victoria tidak terlalu menutupi seluruh tubuhnya sehingga ia pasti merasa kedinginan di tengah-tengah malam seperti ini. Nichkhun ingin menjaganya. Ingin memastikan bahwa setidaknya ia melakukan usaha untuk menjaga Victoria.

“Tidak apa-apa, kan?” tanya Nichkhun, ia juga takut Victoria merasa tidak nyaman dengan perlakuannya.

Tapi ternyata tidak, Victoria hanya tersenyum dan menjawab ia baik-baik saja, sama sekali tidak keberatan dengan perlakuan Nichkhun terhadapnya. Sesuai harapan Nichkhun.

Beberapa saat kemudian akhirnya mereka sampai di sebuah coffee shop kecil-kecilan yang memang tadi menjadi tujuan mereka. Nichkhun—sebagai seorang lelaki—segera memesankan minuman yang ingin Victoria minum dan minuman yang ia sendiri inginkan, lalu kembali duduk di bangku tempat Victoria menunggunya.

Victoria meminum kopinya ketika kopi itu di sajikan di hadapannya. Nichkhun tersenyum ketika di bibir ‘istri’nya itu tersisa noda cokelat bekas kopi tadi. Refleks, Nichkhun menhapus noda itu dengan sapu tangan kesayangannya, yang biasanya enggan ia pinjamkan kepada orang lain, tapi sekarang, tangannya sendiri yang bersedia meminjamkan sapu tangan itu untuk menghapus sisa kopi di bibir Victoria.

“Hari ini aku senang,” jawab Victoria setelah tadi Nichkhun bertanya.

Nichkhun melepaskan jaket-jaket yang melapisi tubuhnya sambil menunduk, berusaha menyembunyikan wajah kecewanya dari Victoria. “Jinjjayo?” tanyanya tidak yakin, tapi Victoria menjawab dengan senang, dan itu cukup menghiburnya untuk sekarang ini.

“Tapi sepertinya tidak seperti itu. Reaksimu sama saja seperti di kapal waktu itu,” kata Nichkhun, akhirnya ia mengungkapkan rasa kecewanya.

“Aku tidak bisa membuat wajah yang benar-benar sedang terkesan seperti itu,” ia membela diri, lalu beberapa saat kemudian pembicaraan mereka tentang event itu terlah berhenti.

Nichkhun lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sesuatu yang sudah ia persiapkan sejak beberapa hari lalu. CD berisi dua lagu yang ia nyanyikan untuk Victoria, khusus untuk Victoria.

Victoria tampak sangat senang menerimanya, “Ah, kau lupa menuliskan pesannya di sini,” katanya.

Aish, Nichkhun lupa. Entah kenapa benar-benar lupa dengan note yang ada di belakang kaset itu. Itu karena, ia hanya memikirkan apa yang di dalamnya selain daripada kedua lagu itu.

Satu kata yang terasa berat jika diucapkan secara langsung. Satu kata yang berarti sangat banyak. Satu kata yang bisa membuat semuanya indah, tapi juga bisa membuat semuanya hancur seketika.

Satu kata itu, Saranghae.

@@@@

Nichkhun-ssi neomu johayo!

Itulah yang dituliskan Victoria untuk Nichkhun di kaca beralaskan embun yang ia buat sendiri. dituliskannya secara diam-diam, berharap saat Nichkhun kembali tulisannya sudah selesai, tapi tidak. Nichkhun keburu melihat apa yang di tuliskan Victoria.

Nichkhun tersenyum. Victoria memang orang yang sangat kekanakan untuk seumurannya. Ia juga terlihat malu saat menuliskan huruf demi huruf yang akhirnya membentuk sebuah kalimat yang Nichkhun inginkan. Ya, dia menginginkan kata-kata ini, tapi ia menginginkan lebih dari sekedar suka.

Tapi untuk sekarang, kata-kata ini cukup untuk menambal semua keinginannya yang belum terpenuhi. Kata-kata itu sudah berarti banyak dan sangat menyentuh hati Nichkhun. Jadi biarlah, paling tidak Victoria sudah berkata seperti itu, walaupun Nichkhun tetap saja ingin lebih dari itu.

@@@@

Malam harinya, setelah mengantar Victoria pulang ke dormnya, Nichkhun dan managernya pulang ke dorm. Nichkhun yang merasa lelah segera pergi ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur, tapi matanya tidak kunjung menutup.

Ia terus memikirkan, apa Victoria sudah melihat sehelai kertas yang di selipkannya di balik cover CD itu? Bagaimana reaksinya? Bagaimana kalau Victoria hanya menganggap dirinya hanya sebagai suami dalam sebuah variety show itu?

Nichkhun tidak berhenti memikirkannya. Rasa cintanya pada Victoria sudah terlanjur tumbuh seiring dengan berjalannya ‘pernikahan’ mereka berdua. Dan pada akhirnya, berat untuk mengatakannya. Terlalu banyak resiko untuk keduanya.

Ia tidak tahan lagi. Meskipun baru beberapa menit lalu Nichkhun tidak bertemu dengan Victoria, rasa ingin bertemunya muncul. Rasa ingin mendengar suara Victoria kembali. Akhirnya, Nichkhun meraih ponselnya dan segera menekan nomor telfon Victoria yang entah kenapa tiba-tiba sudah di hafalnya di luar kepala.

Yeoboseyo,” sapa Nichkhun di telfon.

Ne~ yeoboseyo, Nichkhun-ssi…” balas Victoria dengan suara khasnya, suara yang Nichkhun rindukan.

“Apa aku mengganggu tidurmu?” Nichkhun bertanya takut-takut.

Aniyo… aku belum tidur,” suara itu menjawab lagi, membuat bibir Nichkhun tertekuk dan akhirnya membentuk senyuman.

“Sudah dengar lagunya?” tanya Nichkhun langsung.

Ne~ gomawoyo…”

Cheonmaneyo. Baiklah, aku akan tutup sekarang. annyeong,” kata Nichkhun. Lalu memutuskan sambungan telfon.

Victoria tidak berkata apa-apa tentang kertas yang diam-diam Nichkhun selipkan di antara covernya. Apa ia memang belum mendapatkannya? Apa Nichkhun yang terlalu menyembunyikan kertas itu?

@@@@

Beberapa hari kemudian…

Nichkhun menatap layar laptopnya tidak percaya. Kaget. Shock. Bagaimana ini semua bisa terjadi?

Ia mengusap wajahnya pelan, berharap saat ia membuka mata gambar di laptopnya itu akan berubah, tapi tidak. Gambar itu tetap bergerak, dan pergerakannya sangat tidak disukai Nichkhun.

Entah untuk keberapa kalinya Nichkhun menghela napasnya, lalu ia putuskan untuk menutup layar latopnya itu. Dan akhirnya, ia berbaring di atas tempat tidurnya. Memikirkan apa yang sudah dilihatnya tadi, meskipun tidak secara langsung, tapi gambar-gambar itu dengan jelas memperlihatkan bahwa Victoria dan Cho Kyuhyun yang akrab.

Kenapa ia harus melakukannya?

Maksudnya… kalau dari dulu Victoria dan Kyuhyun dekat… atau mempunyai hubungan spesial… kenapa Victoria menyetujui kontrak dengan We Got Married?

Tapi… kenapa juga Nichkhun memikirkannya? Nichkhun tidak ada hubungannya dengan Victoria. Well, dia memang suaminya, tapi bukan ‘suami’ sungguhan, bukan?

“Ya~ Hyung, kau kenapa sih? Kenapa gelisah begitu?” tanya Junho saat melihat Nichkhun yang ekspresinya tiba-tiba berubah sehabis melihat ‘sesuatu’ di laptopnya.

Tanpa menatap Junho sedikitpun, Nichkhun menggeleng. Ia sedang tidak mau membagi perasaannya dengan siapapun sekarang. ia hanya perlu memikirkannya, dan hanya perlu menyadari, apa yang bisa membuatnya sekaget ini ketika melihat gambar tadi. Gambar Kyuhyun dan Victoria yang sedang bersalaman, mereka terlihat akrab, tidak, bahkan terlihat sangat akrab, dan itu membuatnya penasaran setengah mati.

Aish, kenapa seorang gadis bisa membuatnya seperti ini?

Ya, gadis itu. Gadis keturunan Cina itu telah mengisi hidupnya sekarang. mengisi hari-harinya dengan hal yang kekanak-kanakan, padahal ia tidak suka, tapi melihat Victoria melakukan hal yang kekanakan, ia tidak bisa berkata apa-apa selain, “Neomu kyeopta,”. Gadis bernama asli Song Qian itu sudah membuatnya penasaran, membuat Nichkhun berusaha agar air mata bahagia jatuh menuruni pipinya, walaupun mungkin selama ini selalu meleset.

Victoria sudah memenuhi otaknya. Bagaimana tidak? Setiap orang yang ditemui Nichkhun akan bertanya hal yang sama, “Bagaimana keadaan Victoria? Dimana dia? Apa yang ia lakukan akhir-akhir ini? bagaimana hubunganmu dengannya?”, bahkan, Ibunya sendiri bertanya seperti itu.

Ya… Victoria terlanjur masuk ke dalam kehidupannya. Mengisi hari-harinya seperti oksigen yang ia hirup tiap hari. Membuatnya selalu menunggu kapan ia bisa menemuinya. Membuatnya penasaran dengan apa yang dilakukan gadis itu setiap saat.

Dan perlahan, Victoria telah menjadi hidupnya. Sekarang Nichkhun sadar, Victoria bukan bagian dari hidupnya, tapi Victoria adalah hidupnya.

@@@@

Nichkhun melihat gadis itu tertawa di ujung sana. tertawa bahagia, dan tebak siapa di sampingnya? Cho Kyuhyun.

Hyung, kau kenapa sih?” tanya Junho yang lagi-lagi mendapati Hyungnya dalam keadaan aneh.

Lagi-lagi Nichkhun hanya menggeleng tanpa sedikitpun melirik Junho dan teman-temannya yang sedang bersiap untuk perform sebentar. Matanya terus terpusat pada seorang gadis dan seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya, sedang tertawa akrab, sambil sesekali melakukan high-five.

“Gara-gara itu? Hyung, ayolah, itu hanya Cho Kyuhyun-ssi,” kata Junho berusaha menghibur hyungnya. “Lagipula… kenapa kau merasa seperti itu ketika melihat Victoria nuna dengan Cho Kyuhyun-ssi? Kau bukan apa-apanya, hyung. kau hanya suami ‘palsu’-nya” kata Junho lagi.

Nichkhun melirik Junho tajam. Perkataan salah satu adiknya yang satu ini serasa memanaskan telinga dan menaikkan amarahnya ke ubun-ubun. Tapi, yang membuatnya marah bukanlah perkataan Junho barusan, tapi kenapa ia tidak bisa menjadi ‘apa-apa’ yang berarti untuk Victoria. Ia marah pada dirinya sendiri yang merasa tidak berguna.

Melihat kemarahan yang sangat jelas di mata Kyuhyun, Junho jadi ketakutan. Ia mundur beberapa langkah, “Mi-mianhaeyo, hyung…” katanya sedikit gemetaran lalu pergi menjauh dari Nichkhun yang sedang berusaha mengontrol emosinya.

@@@@

Nichkhun memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya setelah mengirimkan pesan pada Victoria beberapa menit lalu. Pesan yang berisi bahwa ia ingin bertemu dan berbicara dengannya sekarang juga di taman belakang gedung tempat mereka melakukan perform.

“Junsu-ya, aku pergi dulu. Tunggu aku, aku akan segera kembali,” katanya pada Junsu, lalu segera pergi ke tempatnya akan bertemu Victoria.

Setelah sampai di sana, ternyata ia masih sendiri. Victoria belum datang. jadi Nichkhun hanya duduk di bangku taman yang gelap itu, menatap kosong ke arah bintang yang entah kenapa muncul malam hari ini, padahal biasanya langit Seoul tidak pernah dihiasi bintang.

“Nichkhun-ssi~” sapa seseorang.

Nickhun menoleh, dan mendapati gadis yang ditunggunya sejak tadi sedang berjalan mendekatinya sambil tersenyum, seperti biasa.

“Jadi… apa yang kau akan bicarakan?” tanya Victoria saat mereka sudah saling berhadapan.

“Apa kau berbohong padaku?” Nichkhun langsung menuju topik pembicaraan mereka.

Pertanyaan Nichkhun membuat beberapa kerutan di dahi Victoria, “Apa maksudmu… Nichkhun-ssi?” tanyanya kembali.

“Victoria-ssi, aku sudah melihat semua beritamu dengan Cho Kyuhyun-ssi. Jadi berhentilah berkata kau menyukaiku… atau apapun itu. Aku rasa kita juga sudah harus ‘bercerai’, karena kau sudah punya Kyuhyun-ssi,”

Mata Victoria membelalak, “A-apa? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan… Nichkhun-ssi…”

“Kau membohongiku, itu sudah cukup, Victoria-ssi. Aku tidak mengerti seperti apa jalan pikiranmu. Dengan cara kekanak-kanakanmu itu, aku tidak mengerti. Kau membohongiku, dan itu sudah menjelaskan semuanya,” Nichkhun berkata tajam.

“A-aku tidak tahu apa maksudmu. Aku tidak pernah membohongimu, Nichkhun-ssi!

“Kau membohongiku, Victoria!” tanpa sadar Nichkhun membentak Victoria,

Victoria tersentak, “Lalu kenapa kau marah? Kenapa kau marah jika aku berbohong padamu? Kau bukan apa-apaku, Nichkhun-ssi!” Victoria membalas bentakannya.

Dan kata-kata Victoria tadi terdengar seperti petir di telinga Nichkhun. menyambar tepat di hatinya.

Ya, ia memang bukan apa-apa Victoria. Lalu kenapa ia harus marah? Victoria benar, ia seharusnya tidak marah. Karena apapun yang dilakukan Victoria bukan urusannya.

“Ya! Baiklah! Aku memang bukan apa-apamu, tapi aku juga bisa marah kalau kau membohongiku!” Nichkhun kembali membentaknya.

Mereka berdua terdiam. Menatap satu sama lain dengan ekspresi yang berbeda. Lalu perlahan, Nichkhun bisa melihat bulir-bulir air mata jatuh menuruni pipi Victoria. Hati Nichkhun sakit saat melihatnya. Nichkhun memang ingin melihat air mata Victoria, tapi bukan dengan cara seperti ini.

Lalu Nichkhun berbalik, dan berjalan meninggalkan Victoria yang menangis sendirian di belakangnya. Tapi Nichkhun tidak menoleh lagi.

@@@@

Luna mengetuk pintu kamarnya untuk ke sekian kalinya, tapi masih sama. tidak ada jawaban yang keluar dari dalam kamar itu.

“Bagaimana ini… Vic umma..” Sulli mulai khawatir, begitu juga dengan yang lainnya.

Kali ini Krystal ikut mengetuk pintu kamar itu, “unnie… keluarlah makan…” bujuknya, tapi tidak terdengar suara dari dalam kamar mereka berlima.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Apa ada hubungannya dengan Khun appa?” Luna mulai berasumsi.

Sulli menggaruk kepalanya, “Mollayo…”

Mereka bertiga begitu bingung melihat Victoria yang biasanya bersikap tegar tiba-tiba jadi seperti ini. begitu tertutup. Ia bahkan tidak menyahut apabila ditanya. Dan biasanya sehabis dari suatu acara, Victoria akan memasak makanan untuk anak-anaknya, tapi kali ini, ia masuk ke kamar, mengurung dirinya sendirian, dan entah apa yang ia lakukan di dalam sana.

Unnie… bukalah pintunya… kalau kau punya masalah ceritakanlah pada kami…” bujuk Luna.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pintu terbuka. Dan berdirilah Victoria dengan wajah sembab dan mata yang basah, ia menangis.

Mi-mianhaeyo… apa kalian ingin makan? Apa yang harus ku masak malam ini?” tanyanya, lalu menghapus air matanya.

Sulli mendekati ‘umma’nya, “Vic umma… ada apa? Kenapa kau menangis seperti ini? sesuatu terjadi?”

Luna yang ada tepat di hadapan Victoria mendekat dan memeluknya hangat. “Unnie… kau bisa cerita apa yang terjadi..”

“Kami adalah anak-anakmu, bukan? Jadi kami harus tahu apa yang terjadi padamu,” Krystal menambahkan.

Mereka berempat akhirnya masuk ke kamar dan duduk bersama di atas tempat tidur. Dan di situ, Victoria mulai menceritakan semuanya. Apa yang terjadi dengannya dan Nichkhun, dari A-Z.

@@@@

“Jadi… Khun appa cemburu?” tanya Luna diikuti dengan tatapan yang lainnya.

Tapi Victoria tidak menjawab, ia hanya mengangkat bahunya, lalu menghapus air mata yang kembali mengalir di pipinya.

“Khun appa pasti menyukaimu…” kata Sulli sambil tersenyum menggoda. “Tidak mungkin ia cemburu, kalau tidak ada apa-apa.”

“Eum… Aku setuju dengan Sulli. Dan Vic umma… kenapa kau menangis?” Krystal bertanya, “Kau tidak akan menangis jika bukan karena sesuatu, kan?” tanyanya lagi.

Victoria menatap satu persatu anak-anaknya yang sedang tersenyum penuh arti, padahal mereka tahu benar bagaimana keadaannya sekarang. “Mollayo…” ia menjawab.

Unnie, kau menyukai Khun appa, kan?” Luna bertanya halus.

Victoria menghela napasnya, “Molla… aku hanya… saat Nichkhun-ssi membentakku seperti itu, aku.. sedih… mungkin?”

Umma, aku sudah mengira, kau jatuh cinta pada Khun appa~” Sulli lagi-lagi menggoda Victoria.

@@@@

Victoria mengambil CD yang diberikan Nichkhun padanya sejak beberapa hari lalu, lalu segera memasukkan kaset itu ke dalam CD player yang ada di dalam kamarnya. Dan dengan cepat, lagu I Cant yang dilantunkan Nichkhun dan Jokwon mengalun dengan indahnya.

Entah kenapa, seperti flashback, semua yang dilakukannya bersama Nichkhun dalam beberapa bulan terakhir seperti terulang.

Apa mungkin semuanya akan berakhir? Apa Nichkhun akan betul-betul ‘menceraikannya’ karena ia mengira ada sesuatu antara Victoria dan Kyuhyun?

Apa… hubungannya dengan Kyuhyun terlihat begitu nyata sampai-sampai Nichkhun mengira seperti itu?

Sebenarnya, sungguh, Victoria tidak ada hubungan apa-apa dengan Kyuhyun. Hanya sebatas teman, tidak lebih. Mereka memang akrab, karena mereka ada di umur yang sama dan Victoria sudah berteman dengan Kyuhyun sejak mereka masih trainee. Dan saat Kyuhyun bergabung di Super Junior M, Victoria-lah yang mengajarkannya bahasa Mandarin karena Kyuhyun tidak pernah mengerti apa yang di katakan Hangeng waktu itu.

Victoria menghela napasnya, “Pabo Nichkhun…” ia menggumam sendirian.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, ternyata Sulli. Gadis itu melangkah masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi tempat tidur, di samping Victoria. “Unnie, apa yang kau lakukan?” tanyanya. “Ah~ mendengarkan lagu Khun appa,” tambahnya lagi.

Victoria menutup wajahnya dengan bantal, memangnya… Nichkhun masih bisa dipanggil ‘appa’ oleh anak-anaknya ini?

“Ya~ Unnie, ini tempat kasetnya?” tanya Sulli, tapi Victoria tidak menghiraukan pertanyaan dari anaknya itu. “Appa tampan sekali~” puji Sulli lagi ketika melihat cover kaset itu, dimana itu adalah foto Nichkhun yang sedang tersenyum sambil menggunakan headphone.

Karena penasaran, Sulli membuka tempat kaset itu dan melihat apa yang ada di dalamnya. Ternyata tidak apa-apa, karena kasetnya sedang di putar di CD player milik Victoria. Lalu Sulli membalik tempat kaset itu dan membaca note yang dituliskan Nichkhun, ia tersenyum. Entah kenapa tiba-tiba Sulli jadi sangat usil. Ia mengambil note itu dari dalam tempatnya, dan ketika kertas itu terlepas, sehelai kertas kecil terjatuh ke lantai. Sulli mengambil kertas itu dan membaca apa yang tertulis di sana, tapi hanya ada satu kata.

Satu kata yang mempunyai banyak makna. Kata itu—kata yang dituliskan oleh Nichkhun untuk Victoria—adalah, Saranghae.

Unnie~ coba lihat ini!” teriak Sulli histeris, lalu menyerahkan kertas kecil itu pada Victoria.

Victoria merenggut kertas itu dari tangan Sulli, dan matanya membelalak saat membaca satu kata yang tertulis di atas kertas itu. “Da-darimana kau mendapatkan ini?” tanyanya tidak percaya.

“Terselip di sini, Unnie,” Sulli menjawab sambil menunjukkan tempat kaset dan note yang berhasil ia lepas tadi. “Unnie… Khun appa mencintaimu,” tambah Sulli lagi.

Victoria menutup mulutnya yang terbuka, lalu perlahan air matanya mulai jatuh satu persatu. “Aku… aku sudah berkata jahat padanya…” Victoria bergumam tidak jelas karena bibirnya mulai bergetar, tidak tahu harus berbuat apa.

Unnie, kau harus temui Khun appa sekarang,” Sulli berkata, lalu ia keluar dari kamar dan memanggil kedua saudaranya.

@@@@

Luna, Krystal dan Sulli turun dari mobil van mereka. Baru saja mereka ingin berlari ke tempat pemotretan Nichkhun, mereka berhenti karena menyadari Victoria belum turun dari van.

Unnie, ayolah~ ayo turun,” bujuk Luna sambil menarik tangan Victoria, tapi Victoria tidak juga bergeming.

“B-bagaimana jika ia tidak mau bertemu denganku?” tanya Victoria khawatir.

Unnie, appa mencintaimu, aku yakin~” kata Sulli penuh percaya diri.

“Ya! Kalau tidak, ia tidak mungkin menuliskan kata itu di sini,” tambah Krystal sambil menunjukkan kertas kecil itu.

Akhirnya, setelah dibujuk dengan berbagai macam rayuan, Victoria turun dari mobil van f(x) dan langsung menuju lokasi pemotretan Nichkhun.

Dan disanalah, berdiri seorang laki-laki bertubuh kekar, tegap, berambut cokelat, sedang berpose sambil tersenyum—senyum yang amat dirindukan Victoria—bersama teman-teman segrupnya, Nichkhun terus tersenyum dan berpose menghadap kamera, tanpa menyadari kehadiran Victoria dan anak-anaknya.

“Okay, guys! Kalian selesai~ terima kasih sudah bekerja keras!” teriak fotografer itu pada member 2PM yang sekarang sudah membubarkan diri.

Unnie, ke sanalah~” kata Krystal lalu mendorong tubuh Victoria.

Victoria akhirnya maju selangkah dan itu membuat Nichkhun dan teman-temannya sadar akan kehadirannya. Victoria meringis, karena Nichkhun tiba-tiba membuang mukanya tidak menghadap dirinya. Lalu terlihat beberapa member mereka mendiskusikan sesuatu, sampai akhirnya Nichkhun kembali berbalik menghadap Victoria dan mendekati gadis itu.

Annyeonghaseo.” Sapa Nichkhun datar.

Annyeonghaseo,” Victoria membalasnya, sama datarnya.

Nichkhun menghela napasnya, “Ada apa?” tanyanya langsung.

“Nichkhun-ssi… aku dan Kyuhyun.. tidak ada apa-apa, jeongmal..” kata Victoria terbata.

“Antara kau dengan Kyuhyun… aku tidak peduli. Aku bukan apa-apamu, seperti yang kau bilang waktu itu, Victoria-ssi.”

Mendengar hal itu, hati Victoria seakan tertusuk. Kini ia termakan kata-katanya sendiri. beberapa saat kemudian ia kembali menyadari matanya memanas, tapi ia buru-buru menghapusnya sebelum air mata itu jatuh.

Arasseo… jadi, kau sudah tidak peduli lagi denganku. Maaf jika aku mengganggumu, Nichkhun-ssi. Selamat tinggal,” kata Victoria, lalu ia berbalik dan berjalan menuju anak-anaknya yang sedang menunggu dengan penasaran.

Begitu sampai di hadapan anak-anaknya, Victoria menatap mereka satu persatu. Tiba-tiba air mata Victoria jatuh membasahi pipinya. Anak-anaknya tidak bertanya apa-apa, mereka hanya cukup tahu, semuanya tidak berjalan dengan baik.

@@@@

1 month later…

“Aisssh~ Khun appa sialan!” Luna mengumpat sambil melemparkan tasnya ke atas tempat tidur. Dia benar-benar merasa kesal melihat Victoria yang selama sebulan ini seperti mayat hidup. Tiap hari ia hanya menatap ponselnya dengan tatapan kosong, memasak asal-asalan, sama sekali bukan Victoria yang biasanya.

Sulli menjatuhkan dirinya di atas kasur, “Aku tidak pernah merasakan masakan Vic umma yang tidak enak. Semuanya enak, tapi untuk tadi, benar-benar buruk.” Katanya sambil mengelus-elus perutnya.

Krystal ikut berbaring di samping Sulli, “Dia memasak samgyupsal tanpa rasa. Mengerikan, jinjja…” ia menambahkan.

“Ya, ya, ya. Ini karena Khun appa. Sejak kejadian itu, Vic umma jadi seperti mayat hidup,” kata Luna lagi.

Semuanya mengangguk, mereka saling berpandangan. “Kita harus melakukan sesuatu.” Luna berkata dan berpose layaknya seorang detektif. “Kita harus bicara pada Khun appa,” lanjutnya.

“Tapi… bagaimana?” Krystal mulai bertanya.

“Bagaimana kalau…” Sulli mengusulkan sesuatu yang menurutnya brilian. Ia membisikkan rencananya pada kedua temannya, keduanya tampak setuju. Mereka semua mengangguk sambil tersenyum penuh rahasia.

“Khuntoria’s daughters, FIGHTING~” teriak Luna penuh semangat.

“Ya! Unnie! Nanti kedengaran Vic umma!” Kata Krystal lalu memukul Luna dengan bantal yang dipeluknya.

@@@@

“Itu appa,” bisik Luna sambil menunjuk Nichkhun yang berdiri tak jauh dari mereka. Mereka bertiga sedang bersembunyi di balik sebuah mobil—yang entah mobilnya siapa—dan mengawasi gerak-gerik Nichkhun.

“Kita harus tetap bersembunyi. Kita harus mengawasi appa,” kata Sulli sambil mengamati Nichkhun lewat teropong kecilnya.

“Ya, Sulli-ya! Kenapa kau membawa teropong segala? Khun appa tidak jauh dari kita!” Krystal mengejek.

“Aiissh~ Krystal, biarkan aku terlihat keren sedikit,” kata Sulli, mencoba membela dirinya.

“Ya! Jangan ribut!” Luna berusaha menenangkan kedua temannya yang daritadi sibuk bertengkar.

Tiba-tiba mesin mobil tempat mereka bersembunyi menyala. Mereka bisa mendengar seseorang bernyanyi di dalam mobil itu, lalu beberapa saat kemudian, mobil itu bergerak meninggalkan tempat semulanya.

Luna, Sulli dan Krystal yang tadinya bersandar pada mobil itu otomatis terjatuh saat mobil tadi mulai jalan, mereka semua berteriak, membuat orang-orang di sekitar mereka menoleh.

“Aish, berani-beraninya dia membuat seorang idola jatuh,” krystal menggerutu sambil membersihkan pasir-pasir yang melekat di tubuhnya karena jatuh tadi.

Lalu seorang mendekati mereka bertiga, “Luna-ssi? Krystal-ssi? Sulli-ssi?” panggil seseorang. Luna, Krystal dan Sulli mengangkat wajahnya dan menatap siapa yang memanggil mereka, ternyata dia Wooyoung, salah satu member 2PM.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Wooyoung melihat ketiga gadis itu sedang membersihkan pasir-pasir di pakaian mereka.

“Kami mengawasi—“ kata Krystal, tapi buru-buru di potong oleh Luna. “Kami ingin bicara dengan Nichkhun-ssi,” jawab Luna tegas.

“Ah~ mau kupanggilkan?” tawar Wooyoung.

Luna mendekat, “Tidak. Jangan sampai appa—bukan, maksud kami, Nichkhun-ssi tahu kami ada di sini,” katanya.

Dahi Wooyoung berkerut. “Karena?”

“Wooyoung-ssi, begini…”

@@@@

Hyung!” panggil Wooyoung pada Nichkhun.

Nichkhun berbalik menghadap Wooyoung, “Ada apa?” tanyanya.

“Kau dipanggil oleh PD We Got Married,” jawab Wooyoung.

Dahi Nichkhun berkerut heran, “Jangan bercanda, Wooyoung-ah. Aku sudah berhenti dari sana, kau tahu itu.”

“Aku serius, hyung. PD-nya tadi menelepon ke Minjae Hyung, dan ia menyuruhku untuk memberitahumu. Ayolah, katanya ini untuk episode terakhir kalian,”

Nichkhun tidak memperdulikan Wooyoung lagi. Ia duduk di sofa dan meyalakan televisi.

Hyung, aku tahu kau merindukannya.” Kata Wooyoung lagi, lalu duduk di samping Nichkhun. “Jangan mengelak lagi, hyung. kau tahu, selama sebulan terakhir ini kau seperti mayat hidup.” Ejeknya.

Nichkhun hanya menatap Wooyoung, heran.

Hyung, bukankan Victoria nuna waktu itu sudah menjelaskan semuanya? Hanya kau yang tidak mau mendengarkan. Ayolah~ pergi ke tempatnya. Sekarang atau tidak pernah.”

Nichkhun menghela napasnya, “Arasseo. Dimana lokasi syutingnya?” tanyanya pada Wooyoung.

Seoul Central Park, sudah di pesan untuk kalian berdua,” jawab Wooyoung lagi, sambil menyembunyikan senyumnya.

Nichkun keluar dari ruangan dan pergi bersiap-siap. Sementara Wooyoung tersenyum penuh kemenangan. Ia mengambil ponsel dari saku celananya, lalu mengetikkan pesan untuk Luna yang sedang menunggu di seberang sana.

To: f(x) Luna

Mission Success!

@@@@

Unnie~” panggil Luna begitu ia masuk ke dalam dorm.

Ne~ Aku di dapur~” Victoria menyahut, lalu terdengar suara pisau yang sedang memotong dari dapur sana.

Sulli menggigit bibirnya dan meringis, “Semoga masakan unnie kali ini enak seperti biasa,” katanya, sambil mengikuti Luna yang berjalan menuju dapur.

Unnie, unnie~ manajer oppa barusan menelepon pada kami, katanya Unnie diminta ke Seoul Central Park sekarang juga.” Kata Krystal cepat.

Victoria memandang teman-temannya bergantian, dahinya berkerut. “Wae? Ada apa?”

PD We Got Married meminta kalian syuting untuk episode terakhir.” Kata Sulli.

Luna mengangguk, “Ya, betul! Unnie, bersiaplah sekarang juga~”

Mwo? Jangan bercanda! Aku sudah berhenti dari We Got Married, kalian tahu itu, bukan?”

“Katanya Khuntorian merindukan kalian, makanya PD-nim meminta kalian untuk syuting hari ini juga. Yang terakhir, unnie~ yang terakhir~” Luna berusaha meyakinkan Victoria.

“Memangnya…. Nichkhun-ssi mau bertemu denganku?” tanya Victoria takut.

Krystal memutar bola matanya, “Unnie~ Khun appa sudah diberitahu dari beberapa hari lalu, kau baru diberitahu hari ini karena kemarin manajer oppa lupa memberitahunya padamu,” katanya bohong.

“Aku takut… Nichkhun-ssi membenciku,” Victoria meringis takut, ia menunduk ke arah wortel, dan mulai melanjutkan acara potong-memotongnya.

Unnie, sekaranglah saatnya untuk meluruskan semuanya. Cepat bersiap. Ppalli~ ppalli~” kata Sulli, lalu menarik tangan Victoria menuju kamarnya.

Luna tersenyum puas, tiba-tiba ia merasa ponselnya bergetar. Ia mengambil ponselnya dari saku celana dan membaca pesan masuk itu.

From: 2PM Wooyoung

Mission Success!

Satu pesan masuk itu berhasil membuat senyumannya melebar. Dengan cepat, ia memencet tombol untuk membalas pesan itu.

To: 2PM Wooyoung

Mission Success too!

@@@@

Victoria melangkah dengan gugup menuju namja yang sudah berdiri di ujung sana. setelah satu bulan, akhirnya mereka bertemu lagi.

Victoria menekan dadanya, berusaha membuat jantungnya berdetak dengan normal, tapi tidak ada efeknya. Jantungnya masih berdetak lebih cepat daripada biasanya. Tidak, ini sudah biasa, karena setiap ia berada di dekat Nichkhun, jantungnya memang selalu berdetak lebih cepat.

Sekarang Victoria sudah ada di belakang Nichkhun. Tapi laki-laki itu tidak juga berbalik.

Annyeonghaseo, Nichkhun-ssi,” sapa Victoria.

Akhirnya Nichkhun berbalik, menghadap Victoria. “Ne, Annyeonghaseo, Victoria-ssi,” Nichkhun balas menyapanya.

Suasana agak canggung. Mereka sudah lama tidak bertemu, dan sekarang, saat mereka bertemu, mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakan.

“U-uhm, bagaimana kabarmu?” Victoria sudah tidak tahan dengan suasana canggung ini, akhirnya ia mulai memulai obrolan.

“aku baik. Kau?” Nichkhun balik bertanya.

Victoria mengangguk, “Aku juga baik-baik saja,”

Hening lagi.

“A-ah, kau tahu dimana kru yang lain?” tanya Nichkhun, sambil melihat berkeliling.

Victoria ikut melihat sekeliling mereka, tapi taman ini tampak sepi. Tidak ada orang yang terlihat selain mereka berdua. Taman ini hanya diterangi lampu-lampu kecil yang sudah agak redup, selain itu, tidak ada apa-apa lagi.

Tiba-tiba musik mengalun, entah dari mana asalnya. I’m In Love, lagu yang dinyanyikan Nichkhun dulu mengalun dengan indahnya dan itu semakin membuat kedua orang ini canggung.

“Berdansalah!” teriak seseorang, tapi Nichkhun tahu itu adalah Wooyoung.

Ia berdecak, baru menyadari sepertinya ia telah di permainkan oleh adiknya sendiri.

Waeyo?” tanya Victoria saat melihat ekspresi Nichkhun yang berubah tiba-tiba.

“Victoria-ssi, siapa yang menyuruhmu datang ke sini?”

“Hm, member-deul?”

“Hah~ jadi mereka bekerja sama,” desah Nichkhun.

Dahi Victoria kembali berkerut. “Siapa?” tanyanya polos, dengan mata besarnya, dengan sorot ingin tahu yang selalu terpancar dari matanya. Mata itu—yang entah kenapa—bisa membuat Nichkhun jatuh cinta pada pemiliknya.

“Aku rasa Wooyoung, dan membermu,” jawabnya.

Mata besar itu kembali berbinar, “Jinjjayo? Aish~ mereka itu.” Victoria menggerutu dengan kesal.

Nichkhun berjalan mendekati Victoria, lalu perlahan, ia mengulurkan tangannya. “Karena mereka sudah bekerja keras, kenapa kita tidak mengikuti permintaan mereka?” tanya Nichkhun.

Victoria menunduk, lalu menyambut tangan Nichkhun. Nichkhun menarik Victoria agar lebih dekat dengannya, dan mereka mulai berdansa seiring dengan lagu I’m In Love yang terus mengalun.

“Maaf.” Kata Nichkhun di sela-sela dansa mereka.

Victoria mengangkat wajahnya untuk menatap Nichkhun. “Aku yang harus meminta maaf. Aku membentakmu—“

“Tidak, kau tidak salah. Karena aku memang bukan apa-apamu.”

Kalimat barusan kembali membuat Victoria menunduk. “Aku tidak bermaksud—“

“Ya, aku bukan apa-apamu. Mungkin aku sudah salah mengartikan hubungan suami-istri yang kita jalani selama ini,” jelas Nichkhun jujur.

“Maaf. Aku memang bukan apa-apamu, tapi aku selalu menganggapmu sebagai seseorang yang berharga untukku. Dan itu membuat semuanya jadi serba salah. Maafkan aku,” Nichkhun menjelaskan sambil menatap Victoria, tapi gadis di hadapannya itu terus menunduk.

“Maaf aku tidak pernah menghubungimu selama sebulan ini, aku takut, jika aku kembali dekat denganmu, aku takut aku akan kelewatan daripada sebelumnya. Maaf…”

Victoria akhirnya mengangkat wajahnya, kali ini ia memberanikan dirinya untuk menatap Nichkhun. “Aku juga… minta maaf.” Katanya lirih.

“Aku terlalu munafik. Waktu itu aku mengatakan kau bukan apa-apaku, tapi sungguh, aku tidak bermaksud untuk mengatakan itu semua. Aku juga menganggapmu… sebagai seseorang yang berharga…” jelas Victoria.

“Saat aku menemukan kertas itu… aku ingin bicara padamu… tapi…”

“Sekali lagi, maaf.”  Nichkhun memotong pembicaraan Victoria. Ia menempelkan dahinya ke dahi Victoria, “Maaf dan… saranghae… umma…” bisiknya.

Air mata Victoria kembali jatuh, tapi kali ini, air mata itu adalah air mata bahagia. “Nado saranghae… appa…

@@@@

“Uwa~ Appa Umma…” Luna menatap Victoria dan Nichkhun yang sekarang sudah baikan. Luna tersenyum, lalu kembali melihat Victoria dan Nichkhun melalui teropong kecil milik Sulli.

Sulli yang juga ingin melihat pemandangan bagus itu, mengambil alih teropong itu dari Luna, “Biarkan aku melihat!” Katanya, “Kya~ mereka sudah baikan sekarang…” katanya senang.

Tiba-tiba tangan Krystal ikut menyambar teropong itu, “Ya! Aku juga ingin melihatnya!” pekiknya, lalu menempelkan teropong itu pada matanya.

“Ya~ Ya~ Ya~ apa kalian lupa, kalian punya Wooyoung yang tampan di sini?” kali ini Wooyoung ikut bicara, lalu mengambil teropong itu dan melihat Nichkhun dan Victoria dari sana.

“Ya! Sekarang giliranku!”

“Tidak! Yang punya lebih dulu!”

Ani! Magnae harus lebih duluan!”

“Yang tampan dulu!”

“Ya!”

“Ya!”

“Ya!”

Gubrak!

Akhirnya, karena mereka terlalu ribut dan saling berebut teropong itu, mereka terjatuh dari tempat persembunyian mereka. Dan tentu saja, itu membuat Nichkhun dan Victoria menyadari keberadaan mereka.

“Anak-anak~~~~” teriak Victoria gemas saat melihat anak-anaknya, dan Wooyoung terjatuh secara bersamaan.

“Biarkan mereka. Mereka anak-anak kita. Dimana lagi kita bisa mendapatkan anak-anak seperti mereka?” Nichkhun mencoba menenangkan.

“Ya. Kita harus berterima kasih pada mereka,” akhirnya Victoria mengiyakan, sambil tersenyum.

“Ya! Appa, Umma! Apa kalian tidak mau membantu anak-anak kalian yang terjatuh ini?!!” Luna berteriak, dan itu membuat Victoria dan Nichkhun tertawa bersamaan.

17 thoughts on “Khuntoria–Love?

    • sama ^^
      di sini critanya amber belum balik ke korea, hihi.
      nanti kalo aku bikin ff lagi, amber pasti muncul kok ^^

  1. Aku suka bgt ma khuntoria couple…aku brharap mreka jadian didunia nyata…

    Hhahaha..wooyoung narsis nih..yg tampan lbh dulu,dasar g mau kalah jg ma cwe” f(x) khehhehe…

  2. wow bagus ceritanya, feelnya dapet.. aah baca ini jadi kangen sama khuntoria jadinya, aku harap bisa nemu lebih banyak lagi ff tentang mereka dan author-nim jangan lupa buat lebih banyak cerita mereka yah hehe

Leave a Reply to Putri Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s