COFFEE LATTE (part 3)

Part 1 Part 2

Nama Asli author :miss fish aka Kei

Cast: Lee Hyori, Lee Donghae, Park Yejin, Park Joong so (Leeteuk)

Genre: romantic

Kategori: chapters

Di seberang jalan terlihat seorang laki-laki di belakang setir sedang memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Dia terduduk dalam kegelapan dan sendirian. Tiba-tiba teleponnya berbunyi. Dia menjawab telepon itu dengan singkat tanpa mengalihkan pandangannya.

**

*Hyori POV*

Kurasa aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku adalah Hyori. Hyori yang tangguh dan tidak mudah terkalahkan dengan siapapun itu. Sekarang yang harus aku lakukan adalah membuat rencana agar semua ini cepat selesai. Aku lelah harus selalu khawatir. Ini tidak baik untuk mukaku. Banyak kerutan di umur segini akan membuatku harus memulai treatment yang tidak seharusnya dilakukan perempuan seumurku.

*Author POV*

Terlihat Hyori yang sedang mencorat-coret sebuah kertas. Kertas itu adalah kertas rencana yang dibuatnya. Ada beberapa warna dan coretan disana. Dia merencanakan semua itu dengan cermat. Entah berapa kertas yang telah dipakainya dan salah. Dia tidak peduli dengan sampah-sampah kertas yang berserakan disekitarnya.

“SELESAI.” Teriak Hyori. Setelah itu dia langsung mengambil handphonenya dan menelpon Yejin, Chaerin, dan Sungmin-oppa dan meminta mereka untuk bertemu di coffee shop di dekat tempat kerja Yejin sepulang kerja.

“Jadi apa?” Tanya Yejin yang sudah duduk dengan manis dan siap mendengarkan rancangan perang Hyori.

“Siapkan otak kalian untuk rencanaku yang paling spektakuler. “Jawab Hyori sambil mengeluarkan beberapa kertas dari tasnya.

“Aku rasa kalian benar. Aku memang harus menyiapkan diriku akan tes ini. Karena itu aku yang akan menentukan tesnya.”

“Maksudmu?”

“Kalian tahu kan kalau aku tidak suka kalau aku tidak memegang kontrol. Karena itu aku yang akan mengontrol segalanya.” Kata Hyori sambil tersenyum licik. “Aku akan membuat Jieun terlihat buruk di depan Hae sehingga Hae akan membencinya dan mencoretnya dari kehidupannya dan kalian bertiga akan membantuku.”

“Wow,,apa-apaan ini?” Tanya Sungmin kaget. “Aku tidak mau membantumu untuk menjatuhkan orang lain.”

“Ayolah oppa. Aku tidak akan menyakitinya. Cuma sedikit mempermainkannya.”

“Hyori, kau jahat sekali.” Kata Chaerin menyukai rencananya.

“Siapa suruh dia datang ke kehidupanku yang sudah hampir sempurna ini?” kata Hyori tidak mau disalahkan. “Aku yakin ini akan menjadi rencana yang sangat hebat.

Tapi sayang rencana Hyori tersebut tidak menjadi kenyataan. Beberapa kali sabotase yang dilakukan Hyori malah membuat hubungan Donghae dan Jieun semakin dekat dan intens. Untung saja Donghae, Jieun, ataupun orang lain tidak menyadari kalau kejadian-kejadian iu akibat ulah Hyori.

“AAAAHHHH!!!” teriak Hyori frustasi siang itu di coffee shop.

“Kan aku sudah pernah memperingatkanmu Hyori.” Kata Sungmin tenang sambil memainkan handphonennya. “Kalau kau memulai sesuatu dengan tidak baik maka akan berakhir dengan tidak baik juga.”

“Tapi oppa, rencanaku itu perfect sekali. Kau tahu kan kalau rencanaku selalu berhasil.” Kata Hyori sambil mengacak-acak rambutnya.

“Rencanamu itu perfect kalau mengandung unsur kebaikan. Kalau tidak? Jadinya seperti ini.”

“Ada kandungan unsur kebaikan dalam rencanaku oppa.”

“Kebaikan siapa?”

“Aku!!!!” kata Hyori merajuk pada Sungmin. Dia memainkan tangan Sungmin yang terbebas dari handphonenya.

“Lebih baik kau memakan chesse cake ini saja dan dinginkan kepalamu itu.” Kata Sungmin sambil menyuapkan chesse cakenya ke mulut Hyori yang sedaritadi manyun.

“Hyori-ssi?” panggil seorang perempuan kepada Hyori. Hyori yang sedang konsentrasi menikmati chesse cakenya dengan segera mencari asal suara tersebut dan kaget.

“Ji, Ji, Jieun-ssi?”

“Apa kabar? Kau sedang disini?”

“Iya. Aku memang lumayan sering kesini.” Kata Hyori kikuk. “Hae?”

“Ah, iya. Aku kemari bersama Donghae.”

“Bagaimana kalau kalian duduk bersama kami disini.” Tawar Sungmin sambil berdiri dan mempersilakan mereka untuk duduk.

Suasana di meja itu sangatlah aneh. Mereka berempat terduduk diam sebelum akhirnya pelayan datang untuk mengantarkan pesanan Jieun dan Donghae.

“Frapuchinno dan ice green tea.” Kata pelayan sambil meletakkan pesanan mereka di meja.

“Aku mau chesse cake satu lagi dan kau jadi pesan minum lagi, Hyori-ya?” Tanya Sungmin pada Hyori.

“Ha? Iya.” Kata Hyori kaget.

“Dan coffee latte ice satu. Tolong ice-nya jangan terlalu banyak dan tambahkan whipped cream yang banyak.” Kata Sungmin pada pelayan. “Benar kan pesananku?”

Hyori menjawabnya dengan senyuman singkat dan anggukan kepala.

“Wah, kau sudah hafal pesanan Hyori-ssi…” kata Jieun.

“Sungmin. Namaku Sungmin dan iya aku hafal diluar kepala pesanan Hyori.” Kata Sungmin tersenyum. “Oh ya. Aku Sungmin.”

Sungmin menjulurkan tangannya untuk menyalami Jieun dan Donghae sebagai tanda perkenalan.

“Aku Jieun. Teman Donghae sewaktu kuliah.” Kata Jieun pada Sungmin.

“Aku sunbae-nya Hyori di SMA dan kami sangat dekat sehingga aku sangat mengenal Hyori. Donghae-ssi, jangan salah paham pada hubungan kami.”

“Oppa, buat apa Hae harus salah paham dengan hubungan kita?” Tanya Hyori sambil bingung.

“Bukan begitu adikku sayang. Aku takut kalau kedekatan kita ini membuat pengantin baru seperti kalian bertengkar. Kau tidak ingat pacarmu sewaktu SMA yang mencemburuiku gila-gilaan karena kedekatan kita ini?” kata Sungmin sambil mengelus rambut Hyori dan tersenyum.

“Ah,sudahlah. Tidak usah membicarakan tentang hal itu.” Kata Hyori sambil cemberut.

“Omong-omong apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Jieun ramah.

“Kami sedang mengobrol. Hanya itu saja. Kami sudah lama tidak mengobrol. Kalian sendiri?” Tanya Sungmin balik.

“Kami ingin membicarakan project yang akan kami lakukan bersama.”

“Project apa kalau boleh tahu?”

“Donghae akan mendekorasi restaurant hotel kami yang akan kami buka 3 bulan lagi.”

“Wow. Restaurant apa itu?” Tanya Hyori dengan respon yang dibuat-buat. “Hae tidak pernah memberitahuku kalau kalian sedang terlibat dalam suatu project bersama.

Hyori memandang tajam Donghae dan anehnya Donghaepun memandang tajam Hyori. Mata mereka bertemu dan memancarkan kebencian.

“Restaurant western. Ada berbagai macam masakan dari barat.”

“Benarkah? Aku penggemar berat risotto dan Hyori sangat menyukai lasagna.”

“Wow, kebetulan sekali. Kalau begitu kalian harus datang pada pembukaannya.” Kata Jieun.

“Sudah sore. Aku takut kalau kami mengganggu pekerjaan kalian.” Kata Hyori kesal. “Lebih baik kami pulang lebih dulu.”

“Tapi pesanan kalian?”

“Akan kami ambil sewaktu kami keluar. Selamat sore.” Kata Hyori sambil berdiri dan menyeret tangan Sungmin.

**

“Darimana saja kau?” Tanya Donghae dari belakang counter dapur.

“Dari jalan-jalan.” Jawab Hyori santai. “Memangnya kenapa?”

“Tadi bukannya kau bilang mau langsung pulang?”

“Tadi oppa memintaku untuk menemaninya membeli beberapa benda.”

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”

“Buat apa? Kau kan sedang sibuk dengan teman kuliahmu itu.” Kata Hyori sambil membuka keripik kentang yang baru dibelinya.

“Kami sedang mengerjakan project bersama.”

“Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku lebih awal?”

“Memangnya apa bedanya?”

“Setidaknya aku tidak perlu sekaget itu tadi.”

“Kau sendiri sedang apa dengan laki-laki itu? Suap-suapan?”

“Dia itu sudah kuanggap seperti oppa kandungku sendiri.”

“Apa-apaan sih kau Hae?”

“Aku tidak suka melihatmu dengannya.”

“Memangnya kenapa kalau kami bersama? Toh aku nyaman dengannya dan kami juga tidak ada hubungan apa-apa. Tidak sepertimu.”

“Aku? Kenapa denganku dan Jieun?”

“Oh, ayolah. Aku tahu kalau dia pacarmu yang sampai sekarang tidak bisa kau lupakan. Kau bahkan berniat untuk menunggunya walaupun dia menggantungkanmu.”

Hyori menatap Donghae dengan penuh kebencian. Donghae terlihat kaget dengan perkataan Hyori yang terakhir. “Tidak penting aku tahu itu dari siapa. Tapi itu memang kenyataannya kan?” Kata Hyori menjawab tanya Donghae.

**

Setelah kejadian sore itu mulailah rumah tangga Hyori dan Donghae diterjang badai. Mereka mulai jarang bertemu dan berkomunikasi. Sekalinya mereka bertemu hanya pertengkaran yang dihasilkan. Mulai dari hal-hal kecil sampai hal-hal krusial seperti Jieun.

Malam itu Hyori dan Donghae sedang menghadiri undangan makan malam dari teman appa Hyori. Kebetulan malam itu, appa Hyori sedang tidak bisa hadir sehingga mereka yang menggantikan. Tiba-tiba saja Donghae mendapatkan telpon. Wajahnya berubah menjadi serius saat menerimanya.

“Ada apa?” Tanya Hyori khawatir.

“Jieun kakinya terkilir. Aku harus segera kesana.”

“Tapi tidak mungkin kita meninggalkan acara ini. Lagipula pasti sudah ada teman yang lain yang menjaganya kan?” jawab Hyori. Wajah Donghae terlihat sangat khawatir. “Tetap disini bersamaku.”

Hyori memegang tangan Donghae.

“Maaf, tapi aku harus mengecek keadaannya. Nanti aku akan kembali secepatnya.” Kata Donghae seolah tidak mendengar perkataan Hyori dan langsung pergi.

Hyori hanya bisa melihat kepergian Donghae. Dengan segera dia menyingkirkan wajah sedihnya dan menggantinya denagn wajah antusias karena beberapa teman appa-nya mulai mengajaknya mengobrol.

Malam itu Hyori modar-mandir di ruang keluarga sambil sekali-kali keluar ke arah halaman rumah menunggu Donghae pulang. Kurang lebih jam 2 pagi, mobil Donghae memasuki garasi rumah. Hyori yang sudah berada di kamarnya pura-pura tidur sambil tetap terjaga. Donghae masuk dengan hati-hati ke dalam rumah dan kamar mereka. Dia mengganti baju dan langsung tidur.

**

“Lalu kau tidak bertanya apa yang Hae lakukan sehingga pulang semalam itu?” Tanya Chaerin ingin tahu.

“Tidak.” Jawab Hyori sambil menggigit sedotan coffee lattenya.

“Dan kalian tidak membicarakan hal itu sampai sekarang?” Tanya Chaerin lagi dan di jawab dengan gelengan dari Hyori.

“Dan bisa kupastikan kalau kalian tidak pernah mengobrol lagi sampai detik ini.” Kata Yejin sok tahu.

Hyori hanya bisa menyenderkan punggungnya di sandaran kursi yang merupakan pertanda kalau kata-kata Yejin itu benar. Setelah kejadian malam itu. Hyori merasa sangat marah karena Hae mendahulukan Jieun daripada Hyori. Akibatnya Hyori menyibukkan diri dan sengaja untuk tidak bertemu dengan Hae.

“Dan kalian tahu apa yang paling bodoh?” Tanya Hyori sambil memandang nanar kearah depan.

“Apa?” Tanya Yejin dan Chaerin bersamaan.

“Kurasa Hae tidak keberatan dengan hubungan kami yang menggantung seperti ini dan itu semua karena otaknya sedang penuh dengan Jieun. Ottohke?”

“Kan kami sudah bilang padamu sampai mulut kami berbusa.”

“Kalian harus membicarakannya.”

“…”

“Dengan mendiamkannya seperti ini, kau membuatnya semakin menjauhimu dan Jieun sebagai teman yang baik pasti akan mendengarkan keluh kesah suamimu itu. Dasar perempuan bodoh. Sejak kapan sih kau itu berubah jadi sebodoh ini?” Tanya Yejin bingung.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Tanya Hyori.

“Buatkan dia makan siang. Kau antarkan ke kantornya dan kalian bisa makan bersama sambil ngobrol. Tapi topik obrolannya jangan yang berat-berat. Yang penting adalah membuat kalian kembali berkomunikasi lagi. Dan ingat jangan memancing kemarahannya atau kemarahanmu sendiri. Tahan dirimu Hyori.”

“Besok? Baiklah. Aku akan membuatkannya kimbab, telur gulung, sosis goring, dan pudding.” Kata Hyori.

“Simpel sekali. Tidakkah seharusnya kau membuatkannya sesuatu yang lebih berat?”

“Maksudmu?”

“Kenapa tidak kau buatkan spaghetti. Bukankah dia menyukainya?” kata Chaerin.

“Tidak. Itu akan membuatnya terlalu berkonsentrasi pada makanannya. Buat saja makanan yang simple agar kalian bisa berkomunikasi lebih intens.” Saran Yejin .

“Okay. So, wish me luck girls.” Kata Hyori bersemangat.

Sepulang dari café, Hyori mampir ke super market untuk membeli bahan-bahan makanan yang akan dibuatnya besok. Sesampainya di rumah, Hyori segera memasukkan bahan-bahan ke dalam kulkas sebelum Donghae pulang karena dia tidak ingin merusakkan kejutan.

Keesokan siangnya…

“Bekal makan siang cek. Dandanan cek. Lip glosh cek. Ayo Hyori kau bisa.” Kata Hyori berusaha menghipnotis dirinya sendiri di dalam lift yang membawanya ke ruangan Donghae.

“Nyonya Hyori, apakabar?” Sapa sekertaris Donghae ramah.

“Hai, Minyong. Apa kabar? Suamiku ada?”

“Masih di ruang rapat. Tapi sebentar lagi pasti selesai. Anda mau menunggu didalam?”

“Iya, aku akan menunggu didalam.” Kata Hyori sambil masuk ke ruang kerja Donghae.

Ruang kerja Donghae berdesign simple dan minimalis. Ada dua buah sofa di situ dan sebuah meja pendek kaca didepannya. Foto pernikahan mereka ada di salah satu meja bersama foto keluarga Donghae dan beberapa foto project perusahaan yang paling baru. Ada beberapa gulungan blue print yang belum tergulung rapi di meja kerjanya dan juga beberapa kertas yang berantakan.

Hyori mengambil salah satu blue print dan melihatnya secara seksama. Blue print yang diambil ternyata adalah blue print dari restaurant Jieun. Designnya adalah abad pertengahan Eropa yang glamour tapi di mix dengan gaya minimalis-green yang sedang marak di daratan Eropa karena keprihatinannya terhadap global warming.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Donghae tiba-tiba yang membuat Hyori kaget dan berpaling kearah Donghae.

“Aku ingin mengajakmu makan siang.” Kata Hyori sambil menaruh gulungan blue print itu ke tempatnya semula. “Kau pasti sangat lapar karena rapat kan? Karenanya kubawakan ini.”

Hyori tersenyum sambil memamerkan kotak bekal makan siangnya. Donghae hanya bisa melihatnya tanpa ekspresi dan tiba-tiba Jieun masuk.

“Hae-ya. Ini bekal makan siang yang kujanjikan.” Kata Jieun ceria tanpa menyadari kehadiran Hyori.

“Ini kubawakan bekal seperti yang sering kita makan dulu sewaktu …” Kata-kata  Jieun terpotong sewaktu melihat Hyori yang juga sedang memegang bekal makan siang. “Hyori-ssi?”

“Selamat siang, Jieun-ssi. Oh, jadi kau sudah ada janji makan siang.” Kata Hyori sambil berdiri dari kursi kerja Donghae. “Kalau begitu aku akan kembali ke kantorku saja.”

“Jangan. Seharusnya yang pergi aku.” Kata Jieun.

“Jangan Jieun-ah. Kau kan sudah menjanjikannya padaku sejak minggu kemarin.” Kata Donghae menahan Jieun untuk tidak pergi.

“Kenapa kau tidak menelpon dulu? Kau ini merepotkan saja.” Tanya Donghae sengaja memprovokasi Hyori.

“Iya aku salah. Tidak menelponmu dulu. Makanya lebih baik aku meninggalkan kalian sekarang.” Kata Hyori mencoba untuk menahan marahnya.

“Bagaimana kalau kita makan bersama saja disini. Ini akan asyik, seperti piknik. Bertukar bekal makanan.” Kata Jieun sambil menarik tangan Hyori yang saat ini sudah hampir memegang kenop pintu.

Mereka bertiga duduk di sofa di depan meja kerja Donghae. Hyori dan Donghae duduk bersebelahan sedangkan Jieun duduk di sofa yang terpisah -berada di sebelah kiri Donghae-. Jieun membuka bekal makan siangnya dan menatanya di meja. Menu makan siangnya benar-benar lengkap dan terlihat sangat menarik. Tidak seperti bekal makan siang Hyori yang sederhana.

“Wah, Jieun-ah. Banyak sekali yang kau masakkan untuk bekal makan siang kita.” Kata Donghae kembali memprovokasi Hyori.

“Ah, tidak seberapa. Ini hanya menu yang kau suka. Bukan kah dulu aku sering membuatkannya lebih dari ini sewaktu kuliah?”

“Iya kau benar.”

“Hyori-ssi kau bisa mencobanya.” Kata Jieun sambil menyodorkan bekal makanannya.

Mau tidak mau Hyori mencoba makanan yang disodorkan kepadanya. Memang enak makanan itu, Jieun memang pintar memasak.

“Donghae-ya. Kau ini bagaimana sih? Daritadi makan masakanku terus. Makanlah bekal dari Hyori-ssi juga. Dia pasti juga sudah membuatnya dengan susah payah.”

“Tapi tempatmu terlihat lebih enak.” Kata Donghae dengan tatapan menghina pada bekal makan siang Hyori.

Hyori yang sudah tidak bisa menahan amarahnya hanya bisa mengepalkan tangannya sambil terus menerus tersenyum dengan terpaksa sambil berkata, “Ini bukan bekal buatanku. Ini tadi buatan Yejin. Dia membuat terlalu banyak, jadi diberikan kepadaku sewaktu aku kemari.“

“Benarkah? Yejin terlihat pandai memasak.” Kata Donghae.

“Iya benar. Kau kira aku berbohong?” Tanya Hyori marah.

Donghae yang sedikit curiga dengan bekal makan siang itu terpaksa mencicipi karena Jieun yang menyuruhnya. “Bentuknya tidak cantik tapi rasanya lumayan kok.”

“Benarkan kataku? Tidak mungkin rasanya tidak enak.” Kata Jieun tersenyum.

“Tapi benarkah ini buatan Yejin? Kau bohong ya? Aku pernah makan masakan buatan Yejin dan tidak seperti ini.”

“Benar. Buat apa aku berbohong?” kata Hyori tidak terima.

“Aku mau mengambi minum di pantry.” Kata Jieun merasa tidak enak dengan suasananya dan pergi.

“Siapa tahu kau yang membuatnya dan merasa malu karena tidak ada ap-apanya dengan bekal buatan Jieun. Iya kan?”

“…”

“Sudahlah Hyori. Bilang saja kalau ini buatanmu kan?”

“…”

“Tidak usah malu. Jieun sedang tidak ada dan masakanmu itu tidak enak. Aku berbohong saja agar tidak membuatmu malu di depan Jieun.”

Brak.

Prang.

Tiba-tiba saja Hyori menggebrak meja sehingga membuat sumpitnya jatuh dari meja. “IYA!!! INI BEKAL BUATANKU. MEMANGNYA KENAPA? Kalau kau tidak menyukainya bilang saja dari awal. Lagipula juga tadi aku sudah mau pulang agar tidak mengganggu kencanmu dengan mantan pacarmu itu.”

“Lalu kenapa kau tidak pulang?” jawab Donghae yang tidak kalah emosi.

“Mantan pacarmu tersayang itu yang tidak memperbolehkanku. BUKAN AKU.”

“Benarkan ini bekal makananmu.” Kata Donghae sombong dan memandang Hyori meremehkan.

“Masakanku memang tidak bisa sesempurna Jieun, tapi tidak bisakah kau sedikit menghargai kerja kerasku dalam membuatnya?” Tanya Hyori.

Setelah mengatakan hal tersebut Hyori pergi dari ruangan itu dan kembali ke kantornya kesal. Mungkin karena terlalu kecewa sehingga dia tidak bisa menangis untuk mengekspresikan kekesalannya.

“How come I could falling in love with him? What a cold-hearted person!!” kata Hyori sambil memukul mejanya. ”Tidakkah dia tahu aku harus bangun sangat pagi untuk menyiapkan bekal itu. Memangnya kau tidak bisakah sedikit menghargainya, Lee Donghae? Memangnya siapa yang butuh makan siang selengkap itu? Itu bukan bekal makan siang. Tapi jamuan makan siang!! AAAHHHHH!!!!”

TIba-tiab handphone Hyori berbunyia.

“Yejin-ah. Gagal!!” kata Hyori lemas.

“Hah? Kau sudah melakukan semua yang aku dan Chaerin katakan kemarin kan?” Tanya Yejin bingung.

“Sudah. Bahkan aku sudah sangat menahan diri untuk tidak marah. Coba saja kau ada waktu itu. Pasti kau sangat bangga terhadap self-control ku.”

“Lalu apa yang salah.”

“Ada Jieun dan jamuan makan siangnya.”

“Maksudmu?”

“Ternyata mereka ada janji untuk makan bekal makan siang buatan Jieun dan dia membuat bekal makan yang lebih mewah dan lengkap dari bekalku.”

“Lalu kau tidak melemparkan bekalmu ke muka Jieun kan?”

“Aaah, aku tadi tidak memikirkannya.”

“HYORI!!”

“Tidak lah. Kan aku sudah janji padamu untuk sealu menahan diri dan tidak mudah terpancing emosi.”

“Aku malas cerita sekarang. Suasana hatiku sedang buruk. Bolehkah aku menginap dirumahmu saja?”

“Kau tahu kan jawabanku apa? Tidak. Kau tidak bleh keluar rumah. Kau harus menyelesaikan semuanya. Dan jangan harap Chaerin ataupun Sungmin-oppa akan membiarkanmu menginap di tempat mereka.”

“Baiklah nenek sihir. Aku tahu.”

**

 

41 thoughts on “COFFEE LATTE (part 3)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s