BABY PLEASE DON’T GO FAR Part 2/end

Author : Asha Eureka Lee

==

Kikwang merasa tubuhnya berat sebelah, ketika akhirnya ia memutuskan untuk membuka matanya, mengerjap-ngerjap karena pandangannya masih terlalu kabur untuk melihat dengan jelas.

Kikwang memandang pundak kirinya, betapa kagetnya ia melihat Junhye sedang menyandarkan kepalanya disana. Gadis itu terlelap seolah pundak Kikwang adalah tempat tidurnya.

Kikwang menoleh ke arah Doojoon. Namja itu tampak tak peduli dengan apa yang sedang dilakukan Junhye. Buktinya ia hanya memandang jalanan lewat jendela. Kikwang berdehem, Doojoon menoleh.

“Doojoon-ah, Junhye.. sebaiknya.. dia.. di pundakmu saja..” ucap Kikwang.

Doojoon menggeleng, “Jangan. Biarkan saja, aku tidak mau itu akan membangunkannya nanti. Ia tampak lelah.”

Kikwang mengangguk mengerti. Meskipun ia sendiri tahu, ia lebih memilih Junhye tertidur di pundak Doojoon. Karena dengan Junhye tertidur dipundaknya sekarang, sama saja membuat dirinya tidak nyaman.

Ia sedikit senang, karena itu artinya Junhye masih memerlukannya. Ya, setidaknya meskipun walau hanya pundak dan itupun dalam keadaan tidak sadar.

Mobil berhenti. Matahari sudah bersembunyi dibalik awan senja. Ini sudah pukul 4 sore, karena tadi berangkat sudah terlalu siang. Minhyun menggoyangkan pipi Yoseob, membuat namja itu akhirnya terbangun.

Sementara Hyunseung, begitu memarkirkan mobil, ia langsung keluar dan meluruskan seluruh persendiannya yang kaku karena menyetir terlalu lama.

Chaeri turun, menyusul Hyunseung dan memberikan laki-laki itu kecupan agar energinya kembali pulih.

Kikwang masih menunggu Junhye bangun dengan sendirinya. Benar, baru lima menit mobil berhenti, Junhye langsung membuka mata, terbangun.

Doojoon, menepuk pundak Junhye, “Turun yuk..”

Junhye tersenyum, lalu mengikuti Doojoon yang turun dari mobil. Sementara Kikwang, menahan nafasnya.

Junhye bahkan belum sadar bahwa sepanjang perjalanan ia bersandar pada Kikwang, bukan pada Doojoon yang merupakan kekasihnya.

Seorang namja berlari kecil dari dalam villa, menyambut Minhyun. Melihat mata dan bibirnya, itu jelas Son Dongwoon, adik kandung Minhyun yang sengaja lebih dulu datang ke Gwangju untuk mempersiapkan semua yang diperlukan Minhyun.

“Noona, temanmu banyak sekali..” ucap Dongwoon sambil merekahkan senyumannya.

Minhyun mengangguk, “Tapi semua sudah siap kan?”

Dongwoon mengiyakan, “Iya. Kebetulan kita kekurangan dua selimut, dan Siyeon akan pergi bekerja jadi aku titip padanya. Dia akan membawakan dua selimut saat dia pulang bekerja nanti.”

“Oh, Siyeon?” Chaeri membuka mulutnya. “Kekasihmu, Woon?”

Dongwoon menggeleng, “Bukan.. dia tetangga sebelah.”

Hyunseung membulatkan bibirnya, “Ah.. bisa kah kita masuk dan mandi? Aku rasa aku sudah berselimutkan debu jalanan..”

Dongwoon tertawa, disusul tawa yang lain. Yoseob masih menguap berkali-kali membuat Minhyun menggeleng-gelengkan kepala. Doojoon dan Junhye, mereka berdua hanya memandang keadaan sekeliling. Sementara Kikwang, memasang kembali earphone-nya dan berpura-pura menikmati lagu, padahal matanya dengan jelas mengamati apapun yang sedang dilakukan oleh Junhye.

==

Junhye menyandarkan tubuhnya ke kursi yang ada di balkon villa. Kedua pasangan serasi itu, Minhyun Yoseob dan Chaeri Hyunseung sedang menikmati suasana danau sambil bermesraan di tempat yang berbeda.

Junhye harus puas menatap Doojoon yang sibuk bermain dengan benda bulat bernama bola yang tak pernah absen ia bawa.

Kikwang duduk di bawah pohon, tak jauh dari tempat Junhye duduk. Ia memasang earphone-nya, masih dengan gerakan-gerakan tangan seolah Kikwang menikmati lagu yang ia dengarkan. Padahal tidak ada yang tahu, bahwa lagu yang didengar Kikwang hanya semacam lagu kepedihan-kesepian-kesenduan dan semacamnya.

“Junhye noona,” panggil Dongwoon, lalu duduk di samping Junhye. Namja itu menyodorkan sebatang cokelat di tangannya.

Junhye menoleh, menerima cokelat dari tangan Dongwoon dan tersenyum berterimakasih.

“Kau datang dengan kekasihmu juga kan?” tanya Dongwoon. Junhye mengangguk kecil.

“Biar aku tebak..” pinta Dongwoon. Junhye tertawa, “Baiklah. Kau ingin hadiah apa jika tebakanmu benar?”

Dongwoon tampak memutar otaknya, “Kalau aku salah, berikan cokelat itu pada namja yang salah. Dan jika aku benar, berikan cokelat itu padaku lagi..”

“Ah.. ara.. kau tidak ikhlas memberiku cokelat rupanya,” Junhye terkekeh.

Dongwoon menjulurkan lidahnya, “Baiklah akan kutebak.”

Junhye mengangguk menandakan ia siap.

“Sejak kau turun dari mobil, sampai aku duduk di sampingmu, hanya ada satu namja yang terus memandangmu. Kekasihmu pasti hyung yang sedang duduk dibawah pohon itu kan?” tebak Dongwoon.

Junhye mengerjapkan matanya. Bukan karena tebakan Dongwoon yang salah, tapi alasan Dongwoon menyatakan bahwa Kikwang, terus memandangnya sejak ia turun dari mobil-lah yang membuat Junhye hampir terkena asma.

“Dongwoon-ah.. tebakanmu.. salah..” Junhye menggeleng.

Dongwoon membelalakkan matanya, “Salah? Benarkah? Maldo andwae!”

“Kekasihku adalah Doojoon, namja yang sedang sibuk dengan bolanya itu..” Junhye menunjuk Doojoon.

Dongwoon menggeleng, “Lalu kenapa kau mengenakan kalung yang sama dengan yang Kikwang hyung kenakan?”

Junhye tersenyum masam, sorot matanya menampilkan kepedihan, “Itu kalung dariku. Bagus kan? Aku juga sangat menyukainya..”

“Noona..” panggil Dongwoon.

Junhye menoleh, “Ya?”

“Kalau ada sesuatu hal yang belum selesai bahkan sebelum hal itu dimulai, kau tetap harus mengakhirinya. Jangan meninggalkan perasaan yang menggantung dan tidak jelas..” ucap Dongwoon.

“Kau bicara apa Dongwoon?”

Dongwoon tersenyum, “Setidaknya jujurlah pada dirimu sendiri sebelum kau jujur pada orang lain, Noona..”

Let the day pass quickly, stop this already
The more I do this, pain will only get deeper
But I’m okay. Because my heart that loved you
is already used to much pain
Because calluses got stuck,
I don’t even know if I am hurt
Scratched thousand times,
Scratched ten thousand times,
My heart doesn’t even know if it’s hurting

(FT Island – Calluses Got Stuck)

Dongwoon meninggalkan Junhye. Namja itu berlari ke arah Doojoon, dan entah apa yang dikatakan oleh Dongwoon sehingga dua namja itu meninggalkan pekarangan.

Tapi kemudian Junhye tahu apa alasannya karena Dongwoon berteriak pada Minhyun.

“Minhyun Noona, aku dan Doojoon hyung ke lapangan ya! Aku sudah janji akan main bola dengan teman-teman, dan Doojoon hyung ingin ikut!”

“Jangan pulang terlalu malam, Dongwoon!” balas Minhyun tak kalah kencang.

Doojoon melambaikan tangan ke arah Junhye, “Aku pergi dulu ya! Dah..”

Junhye hanya tersenyum tipis sambil membalas lambaian tangan Doojoon.

==

Lagi-lagi Kikwang mencoba memejamkan matanya. Melihat Junhye bisa tersenyum semanis itu, dan tertawa serenyah itu tapi Kikwang tidak bisa menjangkaunya membuat hati Kikwang berdesir perih.

Kikwang menutup matanya, sembari berharap, ketika ia membuka matanya, ia bisa melihat Junhye sedang tersenyum ke arahnya.

“Ki…” suara khas itu membuat Kikwang terpaksa membuka matanya.

Awalnya Kikwang merasa ia sedang berbicara pada dirinya sendiri, karena semenjak Junhye jauh darinya, Kikwang sering berhalusinasi karena ia terus membiarkan pikirannya kosong dan hampa.

“Ki.. kau dengar aku?” suara itu membuat Kikwang akhirnya terbangun dari ketidaksadarannya.

Kikwang mengangguk, “Ya, aku mendengarmu..”

Junhye mengulurkan cokelat di tangannya, “Ini untukmu.”

Kikwang mengerutkan kening, “Tadi bermain tebak-tebakan dengan Dongwoon dan kalau dia salah aku harus memberikan cokelat ini padamu.”

Tanpa banyak bertanya lagi, Kikwang menerima cokelat itu, lalu dalam hitungan sepuluh detik, Kikwang mengangsurkan cokelat itu pada Junhye, “Untukmu.”

“Itu kan punyamu..”

Kikwang mengangguk, “Iya, ini punyaku. Tapi aku ingin memberikannya padamu.”

Junhye tersenyum tipis, “Gomawo..”

Kikwang memandang pekarangan yang sepi, “Doojoon mana?”

“Main bola dengan Dongwoon,” jawab Junhye singkat.

Kikwang mengangguk-angguk paham. Ia melirik kalung sayap di leher Junhye.

“Junhye-ah..” panggil Kikwang.

Junhye menoleh, Kikwang menunjuk lehernya, “Kenapa masih pakai kalung itu?”

Junhye ikut menunjuk kalung di leher Kikwang, “Kau juga. Kenapa masih memakainya?”

“Tidak masalah jika kau ingin aku melepasnya. Toh ini akan membuat orang lain salah paham. Ya kan?” ucap Kikwang, lalu mencari pengait kalung itu.

“Jangan, Ki. Jangan dilepas, jebal..” pinta Junhye.

Kikwang menghentikan aksinya, “Kalau begitu lepas punyamu..”

Junhye menggeleng, “Aku juga tidak akan melepas punyaku.”

Kikwang mendesah, “Aku suka kalung ini, Junhye. Tapi aku tidak ingin Doojoon atau siapapun yang melihat kau dan aku memakai kalung yang sama akan salah paham.”

“Mereka sudah paham..” ujar Junhye.

Kikwang tampak terkejut, ucapan Junhye membuatnya tidak bisa bicara lagi.

Memangnya apa yang bisa dikatakan Kikwang? Mengatakan bahwa ia mencintai gadis yang sekarang sudah memiliki kekasih dan orang itu adalah sahabatnya?

Hei, namja bodoh! Teruslah jadi pecundang!

“Kau bilang Doojoon dan aku akan jadi pasangan yang manis. Ya kan?” tanya Junhye.

Kikwang tidak bereaksi. Ia hanya membasahi bibir tebalnya yang bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

“Kau bilang begitu karena kau memang menyetujuinya atau bagaimana? Setidaknya tunjukkan lah sikapmu, aku tidak tahu kenapa kau terus bersikap dingin padaku atau pun Doojoon..” lanjut Junhye.

Oh.. jadi gadis ini sedang memprotes sikap Kikwang yang dingin padanya dan pada Doojoon? Oh Tuhan.. ada berapa orang bodoh di dunia ini? Kikwang mendesah, ia memang tidak pernah setuju soal hubungan Doojoon dan Junhye.

Tapi karena inikah Junhye menghampirinya? Kikwang berdecak, ia mulai malas dengan topik pembicaraan ini.

“Aku sibuk dengan aktingku,” kata Kikwang. Alasan yang bodoh untuk namja bodoh bernama Lee Kikwang.

Junhye menarik nafas panjang, “Oh ya? Kau bahkan tidak sempat menelepon, mengirim pesan lagi seperti dulu? Ada apa dengan dirimu Ki?”

“Aku tidak tahu arah pembicaraanmu, Junhye..” ucap Kikwang.

Junhye bangkit, “Kalau sejak awal kau bilang kalau kau tidak suka jika aku dan Doojoon memulai hubungan ini, aku akan mempertimbangkannya. Tapi kau hanya berkomentar pendek yang membuat aku putus asa..”

Kikwang menahan nafas, menatap Junhye yang kini tengah berkaca-kaca menatap wajahnya.

“Aku terus memberimu keadaan agar kau tahu maksudku. Aku lebih suka sesuatu yang kau beri dari pada apa yang Doojoon beri. Aku lebih sering memujimu, dari pada Doojoon. Aku lebih memilih membeli gaun kuning yang kau pilihkan meskipun pilihan Doojoon jauh lebih baik. Tapi kau bahkan tidak merespon, Ki!” Junhye mulai menangis, pundaknya naik turun seiring nafas yang ia ambil.

Kikwang ikut berdiri, menarik nafas panjang. Ia akan mengutarakan semua yang ada di pikirannya tapi Junhye tak memberinya kesempatan bicara.

“Aku lebih suka datang untuk melihatmu syuting dari pada datang untuk melihat Doojoon main sepak bola. Dan saat aku memberimu kalung sayap itu. Kau bilang kau mengerti maksudku. Tapi apa yang aku dapatkan? Kau tidak mengatakan apapun..”

Kikwang menarik nafas, “Lalu kenapa harus Doojoon? Kalau kau tahu hatiku, seharusnya kau tidak membiarkan hati ini membeku, Junhye! Aku mungkin memang bodoh karena aku tidak bisa sepintar Yoseob. Kau seharusnya memberikan aku waktu sedikit lagi..”

“Waktu untuk apa? Aku sudah bertanya padamu sore itu, Doojoon mencintaiku. Aku bahkan tidak pernah berpikir akan menjalin hubungan dengannya. Tapi kau.. kau mengatakan hal yang tidak ingin aku dengar..” ucap Junhye. Isakannya semakin terdengar jelas.

“Lalu kenapa harus dengan Doojoon? Kau tahu Doojoon, dan aku bersahabat baik selama ini..” kilah Kikwang.

Junhye menatap Kikwang dalam, “Karena aku lelah, Ki! Apa aku salah, mencoba mencintai orang yang mencintaiku? Sementara orang yang aku cintai saja seperti tidak mau tahu!”

Kikwang menelan ludahnya, tapi cairan itu tak kunjun turun ke kerongkongan. Ada rasa sakit yang menusuk-nusuk dadanya. Seperti duri yang tersangkut dan menimbulkan infeksi.

Junhye mengatur nafasnya, ia menarik kalungnya kasar, dan melemparkannya ke tanah “Kau memang sejak awal tidak pernah ingin terbang bersamaku. Jadi terbanglah sendirian..”

Junhye meninggalkan Kikwang. Air matanya tumpah ke manapun ia melangkah. Dan Kikwang, menatap nanar punggung gadis itu. Untuk kesekian kalinya ia hanya bisa menatap punggung gadis itu.

Tapi mungkin lebih baik jika Kikwang tidak pernah melihat punggung itu lagi. sebab dadanya sudah tidak sanggup lagi menahan seluruh beban luka yang terus saja menghimpit setiap detik, terus menyakiti.

I wanted to embrace you with my two arms, but I couldn’t do that
Because I thought I was going to cry first
We can live apart
There is a farewell for us

Only fake laugh is coming out
I will send you away
So hurry up and go and be happy
Clenching my fists tight, I started to cry

We can’t meet again, now we really can’t meet
I bit my lips at these cold icy words
I don’t want to look back, I don’t want to ever look back
I tell myself over and over again, but I can’t do that

We loved each other, we really loved each other
Why are we breaking up like this?
(Let’s not break up)
Telling me that you couldn’t live without me,
Telling me that you were going to die without me
You who used to say such thing,
Where did you go? Where did you go?

(B2ST BEAST – Clenching My Fist Tight)

==

Chaeri menyenggol Hyunseung, “Kau dengar itu?”

Hyunseung hanya mengangguk kecil, “Tebak apa yang lebih menarik?”

Chaeri menggeleng tidak tahu, maka Hyunseung pun menjawab, “Doojoon bahkan sudah tahu kalau mereka berdua saling mencintai.”

“Apa?”

Hyunseung mengangkat bahu, “Junhye tertidur di pundak Kikwang selama perjalanan. Dan Doojoon mengetahuinya.”

“Lalu?” tanya Chaeri, menagih cerita yang lebih lengkap.

Hyunseung beranjak, “Sudah sore. Ayo kita siapkan makan malam.”

Chaeri menghampiri Minhyun, “Minhyun-ah.. ayo menyiapkan makan malam.”

“Dongwoon belum pulang, aku akan meneleponnya dulu. Seobie, kau dan Hyunseung siapkan alat pemanggangnya dulu ya..” ucap Minhyun.

“Araseo. Hyunseung-ah, ayo ikut aku ke belakang!” perintah Yoseob, dan Hyunseung hanya menurut.

Chaeri menghampiri Kikwang, “Kau ikut menyiapkan makan malam tidak?”

“Apa yang bisa kubantu?” tanya Kikwang datar. Wajahnya masih tampak pucat atas peristiwa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Junhye.

“Panggilkan Junhye saja, dia paling jago membakar daging,” ucap Chaeri.

Kikwang langsung lemas, “Memanggilnya?”

“Tolong ya.. Minhyun sedang menelepon, dia tidak mungkin melakukannya,” pinta Chaeri.

Kikwang mengangguk pasrah, adakah hal yang lebih buruk dari pada memanggil orang yang baru saja bertengkar denganmu? Namja bodoh, seorang Lee Kikwang hanya bisa mengangguk.

Yoseob dan Hyunseung sudah datang dengan alat pemanggang, Minhyun dan Chaeri sudah siap dengan dua senjata andalan, daging dan sweet potatoes yang sudah dibungkus dengan alumunium foil.

“Lho, Kikwang mana?” tanya Yoseob.

“Kusuruh memanggil Junhye,” jawab Chaeri enteng. Yang lainnya membelalakkan matanya.

“Hei, kau sendiri sudah dengar kan, mereka berdua baru saja bertengkar..” Minhyun seolah menyalahkan Chaeri.

Chaeri mengangguk, “Mungkin akan baikan setelah Kikwang memanggilnya.”

“Chaeri, kau seharusnya menyuruh orang lain. Kepala mereka masih sama-sama belum dingin. Aku akan menyusulnya,” ucap Hyunseung.

“Ara.. mianhae..” ucap Chaeri. “Gwaenchanha. Doojoon dan Dongwoon cepat dihubungi, ini sudah hampir malam..” tambah Hyunseung, lalu masuk ke dalam villa.

==

Junhye merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Menghirup udara banyak-banyak sebelum akhirnya ia menghembuskannya cepat-cepat.

Ponselnya berbunyi, Junhye menekan tombol hijau, “Yeoboseyo?”

“Apa yang kau lakukan? Menghancurkan perasaan orang lain sudah menjadi kepuasan bagimu?” suara Junhyung terdengar serius.

Junhye mendesah, “Kau sudah makan?”

“Yang kau lakukan hanya menyakitinya, Junhye. Aku tahu kau mencintainya, tapi kau tidak bisa bersikap seperti ini padanya..” lanjut Junhyung.

“Kami akan masak daging panggang. Kau mau?” Junhye terus mengalihkan topik pembicaraan.

“Sejak awal ia ingin terbang bersamamu, itu sebabnya ia terus memakai kalung yang kau beri. Untuk bisa mempunyai bayi, diperlukan satu ayah dan satu ibu. Percuma jika punya ayah yang kuat, tanpa ibu tidak akan bisa menghasilkan seorang bayi..” Junhyung terus melanjutkan ucapannya.

“Dia sudah punya kedua kalungnya. Dia pasti bisa terbang sendiri,” komentar Junhye, ia menyerah mengalihkan perhatian Junhyung.

“Ya Tuhan, Junhye. Ini bukan soal kalung. Ini soal kau!! Pada dasarnya ia hanya membutuhkan kau, bukan kalung, bukan sayap, bukan apapun. Hanya kau!” Junhyung mulai berteriak.

“Junhyung kau tidak tahu perasaanku..” elak Junhye.

“Aku tahu perasaanmu lebih dari kau mengetahuinya..” balas Junhyung.

Junhye menghela nafas, “Junhyung aku sudah tidak bisa lagi..”

“Kau hanya terlalu lelah..”

Junhye diam. Ia mulai terisak, “Kenapa Ibu hanya menemuimu? Apa Ibu tidak ingin bertemu denganku?”

“Tidak, Junhye. Ibu merindukanmu, sama seperti kau merindukan Ibu. Hanya saja Ibu punya alasannya sendiri kenapa ia tidak bisa menemuimu..” ucap Junhyung.

“Kenapa?”

“Kau tahu, aku selalu punya alasan kenapa aku bersikap dingin, kenapa aku terlalu over-protektif terhadapmu, aku ingin melindungimu dari apapun yang bisa menyakitimu,” ucap Junhyung.

Junhye mendesis.

“Saat itulah Ibu ada pada diriku. Saat aku marah, mengomel karena kau tidak mau membantuku membereskan meja setelah makan. Mengomel karena kau tidak mau bangun pagi dan membantuku menjemur pakaian. Saat itu lah Ibu menemuimu,” ucap Junhyung melanjutkan.

“Oppa..” panggil Junhye, ini adalah kali pertama Junhye memanggil Junhyung dengan sebutan itu.

“Ya?”

“Apa aku pernah mengatakan padamu bahwa aku sangat menyayangimu?” tanya Junhye.

“Tidak, belum..” jawab Junhyung.

Junhye menarik nafas, “Mulai saat ini, aku akan selalu mengatakannya. Aku menyayangimu, Junhyung Oppa..”

“Aku mencintaimu Junhye. Sangat amat mencintaimu,” balas Junhyung.

Junhye akan menutup teleponnya, tapi kemudian Junhyung menyela, “Junhye-ah..”

“Ya?”

“Kau tidak perlu sayap untuk mengajaknya terbang bersamamu..”

==

Hyunseung menyusul Kikwang, tapi Kikwang bukannya memangil Junhye, namja itu malah duduk membelakangi pintu kamar di mana Junhye berada.

Samar-samar Hyunseung mendengar suara Junhye berbicara. Sepertinya berbicara di telepon. Hyunseung pun kembali ke depan, karena menganggap tidak akan ada sesuatu yang serius.

“Ki.. sedang apa kau di sini?” Junhye kaget melihat Kikwang duduk di depan pintunya.

Kikwang kaget, dan langsung berdiri, “Ah. Itu.. aku harusnya memanggilmu untuk menyiapkan makan malam.”

“Oh. Begitu..” sahut Junhye, lalu berjalan keluar pekarangan villa.

Kikwang masih berjalan di belakangnya, “Junhye-ah..”

Junhye menoleh, “Hmm?”

“Maaf aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan Junhyung,” ucap Kikwang.

“Tidak apa-apa. Toh itu tidak akan mengubah apapun di antara kita,” ucap Junhye lirih.

It was my love since the beginning

That warmly shines on my icy heart

The love that comes to me step by step

Although I’m a bit afraid…

The one that moved me, my love

Just like the rain, disrupted my heart

My heart…my heart is already in love

Missing you so…

Do you understand it now?

Do you see through my heart now?

The love that comes silently

Did you…Did you hear it now?

(SNSD Taeyeon Sunny – It’s Love)

Semua sudah berkumpul di pekarangan. Junhye sibuk dengan apa yang ditugaskan oleh yang lain, yaitu memanggang daging. Sementara Chaeri dan Minhyun mempersiapkan meja dan beberapa yang harus di ambil seperti selada.

“Jangan sampai terlalu matang, Junhye. Jangan terlalu mentah juga,” pesan Chaeri sementara tangannya sibuk menata seluruh mangkuk berisi nasi panas.

“Ara.. ara.. Aaahh~~” teriak Junhye, tangannya terkena percikan api karena ia terlalu keras membalik daging yang tengah terbakar.

Doojoon yang ada di samping Junhye langsung mencari es batu dari kotak icebox. Tapi Kikwang bergerak lebih cepat, ia meraih tangan Junhye dan menggenggamnya dengan kausnya yang sudah dibasahi sebelumnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Kikwang, wajahnya tampak sangat panik.

Sementara Junhye menggeleng, Doojoon memandang dua wajah di hadapannya itu sambil menahan nafas.

Minhyun menepuk pundak Doojoon, “Mereka tidak sengaja. Jangan diambil hati..”

Doojoon mengangguk kecil. Bukankah justru yang tidak sengaja adalah sesuatu yang datang dari dalam hati? Hal itulah yang membuat dada Doojoon terasa semakin pedih.

“Kau sebaiknya duduk saja atau membantu Chaeri. Biar aku yang menggantikanmu, Junhye-ah,” kata Doojoon mengambil alih spatula yang dibawa Junhye.

“Doojoon-ah, aku tidak apa-apa,” ucap Junhye merasa tidak perlu dikhawatirkan.

Doojoon memandang Junhye, lalu memandang Kikwang, “Kwang, suruh dia duduk..”

Kikwang yang tidak paham keadaan hanya bisa menurutinya.

“Junhye-ah, tidak apa-apa jika kau tinggalkan pekerjaan ini untuk kami. Kau bergabunglah saja dengan Minhyun atau Chaeri,” ucap Kikwang.

Junhye memandang Doojoon, “Apa maksudmu menyuruh Kikwang seperti itu?”

“Karena kau pasti akan lebih mendengarkan Kikwang dari pada mendengarkan aku, Junhye. Sekarang duduklah, seperti yang Kikwang inginkan,” ucap Doojoon lalu membalik daging yang ada di hadapannya.

Junhye menghela nafas, ia memandang Doojoon dalam, “Katakan padaku, apa aku berbuat salah?”

Doojoon menggeleng, “Tidak ada Junhye..”

Junhye meraih lengan Doojoon, mengapitnya dengan kedua tangannya, “Doojoonnie..”

Doojoon lekas melepas tangan Junhye dari lengannya, “Aku sedang memanggang, Junhye nanti kau kena api lagi.”

Junhye menggigit bibirnya. Ia malah memeluk Doojoon dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung Doojoon.

Doojoon menahan dirinya untuk tidak bernafas selama beberapa detik, jantungnya merasakan dua kejadian dahsyat sekaligus. Rasa sakit yang berpadu dengan degup kencang jantungnya.

“Junhye-ah.. aku tidak apa-apa.. jangan bersikap seperti anak kecil, Junhye,” ucap Doojoon. Junhye melepas pelukannya terhadap namja itu.

“Araseo..” Junhye berjalan menjauhi Doojoon, ia duduk di samping Chaeri, membantu gadis itu membawa sup kimchi dari dapur.

Semuanya sudah siap, daging sudah selesai dipanggang semua. Nasi sudah siapkan, kola dingin juga sudah ada di meja.

Masing-masing mengambil posisi, Chaeri duduk di samping Hyunseung, Yoseob dan Minhyun masih saja berada di hadapan Chaeri, Junhye Doojoon berada di samping Hyunseung, sementara Kikwang dan Doojoon duduk di hadapan Yoseob.

“Jal meogesseumnida..” ucap mereka bersama-sama. Lalu menyendokkan nasi suapan pertama mereka.

Belum apa-apa kedua pasangan yang seperti pasangan paling bahagia, paling serasi dan paling mesra di dunia ini siapa lagi kalau bukan Hyunseung Chaeri dan Yoseob Minhyun langsung saling suap satu sama lain.

Kikwang tersenyum melihat tingkah mereka, Dongwoon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kakaknya.

Doojoon menyumpit sepotong daging, “Junhye-ah aaaa…”

Junhye tidak langsung membuka mulutnya, ia bukan tidak mau menerima suapan dari Doojoon, hanya saja sesuatu di dalam hatinya menolak mati-matian.

Jangan lakukan hal itu di depan Kikwang, gadis bodoh!

Doojoon meletakkan sumpitnya, lalu memandang Kikwang, dan menatap Junhye lagi, “Kau ingin Kikwang yang melakukannya untukmu? Atau kau ingin kusuapi, lalu kau menyuapinya?”

Junhye terkesiap, mulutnya seolah terkunci rapat. Ia tidak sanggup menyangkal Doojoon karena seluruh ucapan Doojoon adalah benar.

“Benar kan?” ulang Doojoon.

Suasana makan malammenjadi sangat amat canggung dan tegang. Chaeri dan Minhyun menjadi merasa bersalah atas adegan suap-menyuap mereka yang memancing keadaan menjadi seperti ini.

Dongwoon hanya bisa diam, melongo melihat situasi yang bahkan ia sendiri tidak begitu paham.

“Doojoon-ah..” panggil Kikwang, tapi Doojoon tidak menghiraukannya. Namja itu masih menatap tajam gadis yang tampak tertekan di depannya.

“Aku.. aku..,” Junhye membuka mulutnya, namun masih menundukkan kepala ketakutan.

“Kau sadar tidak dengan sikapmu? Kau mau aku membeberkannya atau kau sendiri yang mengakuinya?” tanya Doojoon, suaranya memang lembut, tapi tatapan matanya yang tajam membuat Junhye tetap diam.

“Doojoon-ah, hentikan ini,” pinta Hyunseung, namja itu mendekat ke arah Doojoon, tapi Doojoon menepisnya menjauh.

“Doojoon, kita kemari bukan untuk ini. Kita kemari untuk bersenang-senang!” ungkap Minhyun. Doojoon menoleh, “Itu bagimu. Dan Yoseob.”

“Hyung.. jangan buat Junhye noona ketakutan..” pinta Dongwoon.

“Kenapa? Kenapa kau peduli padanya? Dia bukan siapa-siapamu, jangan bersikap seolah-olah aku ini sedang melakukan kejahatan pada Junhye. Aku hanya ingin memberi tahu kekasihku, hal yang belum dia ketahui,” potong Doojoon, suaranya tegas, penuh penekanan.

“Doojoon-ah.. ini keterlaluan. Lihatlah Junhye! Kalau kau mencintainya, kau tidak akan membiarkannya ketakutan seperti itu terhadapmu,” ucap Kikwang, ia menarik Doojoon dari tempatnya.

Doojoon menyentak tangan Kikwang, “Lepaskan tanganmu dariku, Kikwang.”

Kikwang tersentak, Doojoon tidak pernah bersikap sekasar ini padanya.

Doojoon menggeram, menggertakkan rahangnya.

“Setiap kali kita main bola. Junhye selalu yang paling bersemangat menyoraki. Tapi ketika aku bermain tanpamu, dia hanya bertepuk tangan pelan, karena dia selalu menganggap, KAU yang tidak bisa main bola lah yang perlu disemangati, sedangkan aku tidak.” ucap Doojoon.

“Doojoon-ah, bukan begitu.. aku..”

Doojoon masih memandang Kikwang tajam, tidak menghiraukan Junhye yang berusaha menjelaskan, “Setiap kali kita jalan-jalan dan menemukan barang bagus, dia pasti akan memilih apa yang kau pilih. Sejelek apapun yang kau pilih, dia tetap akan memilih punyamu!”

“Setiap kali ia makan, orang pertama yang ingin ia ajak berbagi adalah KAU. dan dia akan membaginya padaku ketika aku memintanya..”

“Dia lebih memilih naik bus bermil-mil hanya untuk melihatmu syuting, dan mengabaikan turnamen pentingku yang sangat amat kutunggu, pada akhirnya aku kalah karena dia tidak datang, karena apa? Dia memilih duduk melihatmu mengoceh di depan kamera.”

“Doojoon-ah waktu itu aku bukannya tidak ingin datang, tapi aku sudah janji pada Kikwang,” ucap Junhye melakukan pembelaan.

Doojoon menoleh, “Oh ya? Jadi kau lupa bahwa sehari sebelum kau berjanji pada Kikwang, kau lebih dulu berjanji padaku untuk datang ke turnamen itu?”

Junhye terkesiap.

“Kau melupakan semuanya tentangku, kau hanya ingin mengingat Kikwang. Kikwang, Kikwang Kikwang dan Kikwang!” tukas Doojoon.

“Doojoon-ah hentikan! Hentikan kataku!” pinta Kikwang.

Doojoon menggeleng, matanya merah, “Aku tidak pernah yakin kau bisa mencintaiku, Junhye. Bahkan saat kau berada di sampingku, berstatus sebagai kekasihku, aku tahu kau lebih sering merindukan Kikwang daripada merindukan ku..”

Junhye meraih lengan Doojoon, “Doojoon-ah..”

“Better you said goodbye than you hates me because of my love. Aku bisa mengerti Junhye jika kau tak mencintaiku..” ucap Doojoon.

They day I were to say the truth
Would be the day we don’t meet.
There isn’t a time when I’m not thinking about you.
I just began to smile less,
And you started to cry more.
There isn’t really any reason,
And we didn’t really see the answer
..

(Shimizu Shota – Starlight)

Doojoon tersenyum tipis, belum bisa disebut senyuman sebenarnya, dasar namja bodoh. Kau pikir senyumanmu itu bisa menyembuhkan seluruh rasa sakitmu dalam sekejap? Kau mungkin bisa membohongi orang lain, tapi kau jelas tidak bisa membohongi dirimu sendiri.

Junhye terdiam. Ia memandang Doojoon penuh rasa bersalah. Makan malam berakhir dengan suasana hati yang tidak enak, baik Kikwang, Junhye, Doojoon maupun yang lainnya.

==

Minhyun mendesah, “Maaf, Junhye..”
Junhye menoleh, “Untuk?”

“Karena kami kalian jadi begini. Kau tidak apa-apa?” tanya Minhyun.

Junhye tersenyum masam, “Sudahlah Minhyun, tanpa kalian pun cepat atau lambat ini akan terjadi. Aku yang terlalu bodoh..”

“Bagaimana perasaanmu? Lebih baik atau?” tanya Chaeri, ia merapatkan selimutnya sementara Junhye masih duduk di ambang jendela, memandang langit yang rasanya mendung, tidak ada bintang sama sekali.

“Tidak pernah akan lebih baik..” ucap Junhye lirih.

Chaeri mengerutkan alis, “Setidaknya kau tidak perlu membohongi Doojoon lagi.”

“Aku tidak pernah berbohong, Chaeri. Aku memang tidak pernah mengatakan aku mencintainya. Doojoon memang hanya memintaku menjadi kekasihnya, bukan memintaku mencintainya,” balas Junhye.

Minhyun bangkit dan bersandar di kanopi ranjangnya, “Lalu, bagaimana perasaanmu?”

Junhye mengangkat bahu, “Aku rasa aku membutuhkan Junhyung sekarang..”

“Percayalah padaku, Junhye. Baik Kikwang maupun Doojoon, tidak pernah mengharapkan ini terjadi..” ucap Minhyun.

“Aku tahu. Tapi aku merasa bersalah sudah menyakiti mereka. Itu saja,” ucap Junhye lagi. Ia menghela nafas panjang.

“Sudah malam, kalian tidurlah,” Junhye beranjak dari ambang jendela.

Minhyun mengerutkan alis, disusul pertanyaan Chaeri, “Kau akan kemana?” tanyanya.

“Mencari udara segar.. kalian tidurlah, jaljayo..” ucap Junhye lalu membuka pintu kamar dan keluar.

==

Dongwoon menyandarkan kepalanya di kursi balkon villa. Di sampingnya ada Kikwang yang hanya diam sedari tadi.

“Hyung..” panggil Dongwoon. Kikwang menoleh.

“Kenapa kau tidak mengatakan saja sih, kalau kau mencintai Junhye Noona..” ucap Dongwoon.

Kikwang mengangkat bahu. Dongwoon mendesah, “Jangan tersinggung Hyung, tapi jika aku ada di posisi Junhye Noona, aku akan mencoba melupakan hyung dan mencintai Doojoon hyung sepenuhnya.”

“Mungkin Junhye memang harus begitu. Melupakan aku dan melanjutkan hidupnya bersama Doojoon,” tukas Kikwang.

“Tapi pada kenyataannya tidak kan? Noona itu masih mencintaimu, hyung. Dia hanya menunggu..” ucap Dongwoon.

“Anggap saja aku bukan orang yang tepat untuk ditunggu,” kata Kikwang.

Dongwoon menunjuk kalung di leher Kikwang, “Dan itu? Apa maksudnya? Kalian tidak akan bisa bertemu kalau seperti ini terus..”

Kikwang diam. Dongwoon mendongak. Kikwang mengikuti arah pandangan Dongwoon.

Junhye berdiri di sana, Kikwang sedikit kaget.

“Noona kau belum tidur?” tanya Dongwoon. Junhye mengangkat bahu, “Kurasa aku belum terbiasa tidur tanpa Junhyung. Aku selalu tidur di setelah ia menyanyikan aku sebuah lagu sejak aku kecil.”

Dongwoon tersenyum kecil, “Duduklah Noona. Kurasa kau perlu bicara dengan Kikwang hyung.”

“Tidak perlu, Dongwoon-ah. Aku keluar hanya untuk mencari udara segar, bukan untuk mencari teman bicara.” Junhye berjalan ke pekarangan, meninggalkan balkon.

Kikwang menarik nafas. Kapan kau berhenti menjadi pecundang?

Dongwoon mendesis, “Kalian seperti bermain petak umpet. Sama-sama bersembunyi, berharap seseorang menemukan kalian. Kalau kalian bersembunyi di tempat yang sangat sulit ditemukan, setidaknya kalian harus memberikan petunjuk agar bisa ditemukan.”

Dongwoon meninggalkan Kikwang sambil mengangkat bahu, pasrah.

==

Junhye menggigiti ujung bibirnya. Merapatkan mantelnya ditengah udara malam yang sangat dingin. Junhye menggosok-gosokkan kedua tangannya agar terasa hangat. Udara malam sangat dingin, terlebih lagi ini bulan Desember, akhir musim dingin.

Tapi bukan karena itu saja, sebenarnya hati Junhye lebih dingin dari sekedar salju yang sudah tidak turun belakangan ini.

Tiba-tiba Kikwang berdiri di sampingnya, “Dingin?”

Junhye menoleh, lalu menggeleng, “Ada yang lebih dingin dari itu.”

Kikwang diam, sepenuhnya ia tahu apa yang dimaksudkan oleh Junhye. Hubungannya, hubungan mereka bersama Doojoon, sebeku es. Kaku, canggung.

“Kau tidak tidur?” tanya Junhye.

Kikwang menghela nafas, “Bagaimana bisa tidur. Kejadian malam ini membuat kepalaku serasa dipukul dengan kayu.”

Junhye masih menggosok-gosokkan tangannya, “Aku minta maaf. Sebenarnya Doojoon tidak pernah mengajakmu untuk ikut bergabung bersama kami. Kupikir Joker akan ikut, jadi kuajak saja kau agar dia tidak sendirian.”

“Tapi ternyata justru Joker tidak ikut..” lanjut Kikwang. Junhye mengangguk kecil membenarkan ucapan Kikwang.

“Junhye-ah..” panggil Kikwang.

“Ng?”

“Boleh aku bertanya mengenai alasanmu terus memanggilku Ki? Bukan Kwang seperti orang-orang pada umumnya..” tanya Kikwang.

Junhye menggeleng, “Molla. Aku hanya asal memanggil.”

Kikwang diam, ia sudah kehabisan bahan untuk mengajak Junhye bicara. Gadis itu sama sekali tidak menatapnya lagi setelah menoleh saja saat ia baru berdiri di samping gadis itu.

“Ki, aku ingin tahu sesuatu..” ucap Junhye.

“Apa?”

Junhye maju beberapa langkah, “Junhyung lahir lebih dulu dari pada aku. Dokter bilang, saat itu hanya ada kemungkinan selamat bagi dua nyawa. Jika saat itu Ibu tidak memilih nyawaku daripada nyawanya, bagaimana menurutmu?”

Kikwang menghela nafas, “Kau tahu, tidak ada pertemuan yang sia-sia. Tidak ada kehidupan yang sia-sia, begitu pula dengan perpisahan, ataupun kematian. Semuanya ada artinya.”

“Jika kematian Ibu membuat aku dan Junhyung bisa jadi saudara kembar yang kuat dan saling menyayangi, apakah jika perpisahanku dengan Doojoon bisa berarti juga bagimu?” tanya Junhye.

Kikwang diam, ia menatap butiran-butiran pasir yang menggumpal dan beberapa bilah batu yang ada di tanah. Junhye membalikkan badannya, memandang Kikwang.

“Jawabanmu kali ini benar-benar berpengaruh, Ki. Jadi jawablah sesuai dengan apa yang kau rasakan,” ucap Junhye memohon.

Kikwang mendongak, “Aku tidak tahu..”

Junhye mendesah, menyesali dirinya sendiri yang sudah bertanya hal semacam itu pada Kikwang yang sudah jelas tidak akan pernah paham maksudnya.

Junhye menghela nafas. Kikwang berjalan selangkah lebih dekat, “Yang aku tahu.. aku ingin terbang bersamamu. Tanpa sayap sekalipun, asalkan bersamamu.”

Junhye tersentak. Mata jernih Kikwang kini tengah memandangnya lurus.

Must be love, love, I think he’s being loved

She awakens the rusty and stiffened heart

Give me a hug, Give me love as my wounds are hiding

The man was hidden by my tears for so long

The one I have been waiting so long

Must be at your side, I laughed with you even though

The deep scars or tears heal, you made it disappeared

I’ll show you everything, I’ll cherish all the love

The word loneliness, separation is not our path anymore

Only love remains

(SeeYa – My Heart Is Touched)

“Tapi aku tidak ingin menyakiti Doojoon, Junhye. Aku.. aku mencintaimu.. tapi Doojoon.. dia yang lebih mencintaimu dari pada aku. Aku tidak mau membuat hubungan kita bertiga semakin rumit..” lanjut Kikwang.

Junhye terasa lumpuh. Ia memejamkan matanya. Lalu membukanya lagi. Tapi ia terkejut, ia terkejut karena ia melihat seorang wanita cantik, berdiri di sampingnya dan berbisik.

“Seekor kucing, sekali saja ia diberi makan oleh seseorang, maka dia tidak akan pernah meninggalkan orang itu. sekalipun orang itu membuangnya jauh-jauh, kucing itu akan kembali ke rumah yang sama. Junhye-ah, kau tahu maksud Ibu?”

“Ibu?” gumam Junhye.

Kikwang mengerutkan keningnya, “Junhye-ah kau bicara pada siapa?”

Junhye merasa wanita cantik itu membelai rambutnya penuh kasih sayang, “Junhyung sedang tidak bisa tidur karena memikirkanmu. Karena itulah Ibu datang kemari..”

“Ibu.. Ibu.. aku merindukan ibu..” tangis Junhye pecah.

Kikwang mendekati Junhye yang mendadak terisak tanpa ia tahu sebabnya.

Wanita cantik itu tampak memegang pundak Kikwang, “Junhye-ah.. kau tahu kenapa Junhyung tidak ingin punya pacar? Karena baginya kau adalah segalanya yang ia perlu dan ia butuhkan. Tapi Junhyung tahu, kau butuh orang lain selain dia..”

Junhye menarik nafas panjang, udara dingin membuat hidungnya cepat tersumbat.

“Laki-laki ini.. Ibu menyukainya..” ucap wanita itu lagi.

“Kenapa Ibu menyukainya? Aku menyukainya lebih dulu dari pada Ibu,” protes Junhye.

Wanita itu tertawa kecil, “Dia.. tidak kah kau bisa melihat dari sorot matanya, Junhye? Dia seperti Ayahmu. Bodoh, naif, sama seperti saat sebelum Ibu dan Ayah menikah.. Ayah bahkan hampir saja merelakan Ibu dalam pelukan pria lain.”

“Lalu?” tanya Junhye.

Sementara Kikwang masih belum mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Junhye.

“Ibu melakukan apa yang harus ibu lakukan. Sama sepertimu saat ini Junhye.. kau harus tahu apa yang harus kau lakukan..”

“Aku harus apa?” tanya Junhye, ia mencoba menggapai wanita yang semakin lama semakin memudar dari penglihatan Junhye.

“Ibu.. Ibu…” panggil Junhye berulang-ulang.

Kikwang memegang kedua pundak Junhye, “Kau sedang berbicara pada Ibumu? Kau bisa melihat arwah Ibumu?”

Junhye menoleh ke arah Kikwang, menatap wajah namja itu dalam-dalam.

“Aku rasa aku tahu kenapa Ibu sangat mencintai Ayah..” gumam Junhye.

“Kau.. bicara apa, Junhye?” tanya Kikwang.

Junhye tidak menjawab, ia langsung menghambur dalam pelukan Kikwang. Kikwang yang tidak paham hanya bisa membalas pelukan Junhye, pelukan yang selama ini ia rindukan.

“Ki.. Jika aku memintamu untuk tidak melepaskan aku. Jika aku memintamu untuk tidak membiarkan orang lain memilikiku selain kau. Jika aku memintamu untuk terus mencintaiku. Jika aku memintamu untuk terus memelukku setiap kali aku membutuhkanmu, apa kau mau mengabulkannya?” tanya Junhye.

“Bagaimana dengan Doojoon?” tanya Kikwang lirih.

Junhye diam, ia tahu keputusan hatinya mau tidak mau pasti menyakiti salah satu pihak. dan ia pun tak mau menyakiti Doojoon.

Junhye melepas pelukannya dari Kikwang, menghela nafas panjang. Kikwang membuka mulutnya, “Yang membuat aku tidak kuasa untuk memintamu tetap tinggal di sisiku adalah dia, Junhye. Seandainya bukan Doojoon, aku pasti akan memintamu kembali padaku.”

“Bicara apa kau, Kikwang?” tanya Doojoon tiba-tiba berjalan mendekati Kikwang dan Junhye.

Kikwang terkejut, ia memandang Doojoon, “Aku..”

“Hei, aku tidak ingin nyawaku melayang di tangan Junhyung..” gurau Doojoon.

Kikwang dan Junhye sama-sama tidak paham. Doojoon tertawa pelan, menepuk pundak Kikwang, “Aku sudah dengar semuanya. Seluruhnya. Versi Lee Kikwang, versi Yong Junhye, aku sudah tahu apa yang kalian sembunyikan dariku.”

“Doojoon-ah, aku..” Junhyun mengerjap-ngerjap.

“Kau apa?” tanya Doojoon, nadanya berubah menjadi serius. Junhye membuka mulutnya, “Aku tidak bermaksud membohongi atau menyakitimu..”

Doojoon mengangkat alis, “Kalian hanya akan membuatku merasa bersalah jika membiarkan kalian sama-sama membohongi perasaan kalian sendiri.”

“Doojoon-ah,” ucap Kikwang.

Doojoon tertawa, “Orang yang saling mencintai harus bersama. Itu bedanya saling mencintai atau mencintai satu sisi. Maka itu, kalian harus bersama karena kalian saling mencintai kan?”

“Bagaimana denganmu?” tanya Junhye. Doojoon mengedipkan satu matanya, “Tuhan tidak pernah tidur, Junhye. Sometimes we have to say hello to farewell to welcoming another happiness.”

Kikwang tersenyum, “Dalam hal ini, kau melepas Junhye sepenuh hati kan? Kita akan tetap berteman kan setelah ini?”
“Tentu saja, aku tidak ingin kehilangan dua sahabat yang sangat kusayangi,” sahut Doojoon.

Kikwang tersenyum, ia menarik Junhye, merangkul pundaknya. Doojoon mendesis, “Umm.. bolehkah aku memeluk Junhye untuk yang terakhir kalinya?”

Tanpa aba-aba apapun, Junhye langsung berhambur pada pelukan Doojoon, “Aku menyayangimu, Doojoon..”

“Ya, aku juga. Jangan jauhi aku, aku tidak akan suka..” ucap Doojoon.

Junhye tertawa dalam dekapan Doojoon, “Kau harus cepat cari penggantiku..”

“Sudah..”

Junhye kaget, melepas pelukannya, “APA??”

Doojoon terkekeh, “Rahasia dooong..”

When the brand new you decided to follow the determination deep inside your heart,

I, unaware of anything, did not know to stay by your side

Only when I lost sight of you did I realized, far too late

Somewhere distant in my memory, I have let go of your hand

Even if we are separated, the dawn comes carrying light

I let my tears melt away, until my feelings are conveyed

I used to live my life in a rush, thinking that everything was for your sake

Even if we come to live on two different sides of the world, hold on to this eternal bond between us
(KAT-TUN – Faraway)

==

FLASH BACK

Doojoon dan Dongwoon sedang asyik main bola ketika seorang gadis memanggil Dongwoon dengan suara lantang. Doojoon mau tak mau ikut menoleh, penasaran dengan pemilik suara nyaring itu.

“Dongwoon!! Kau mau selimutmu tidaaaak?” omel gadis itu. Doojoon tertawa melihat Dongwoon yang tak bisa berkutik di depan gadis itu.

“Ara.. gomawo. Berapa semuanya?” Dongwoon mengeluarkan dompetnya.

“Lima puluh ribu won,” ucap gadis itu singkat. Dongwoon berdecak, “Mahal sekali. Ini, Noona. Terimakasih.”

Gadis itu mengangguk, lalu meninggalkan Dongwoon. Namja itu menghampiri Doojoon yang terkekeh sendiri.

“Kenapa kau tertawa hyung?” tanya Dongwoon.

Doojoon menunjuk gadis yang baru saja berlalu itu, “Nugu?”

“Im Siyeon. Yang kubilang tadi, tetangga. Cantik sih, tapi judes. Hehe, kenapa hyung?” tanya Dongwoon lagi.

“Ya. cantik sekali.. dia sudah punya pacar?”

Dongwoon tertawa, “Belum. Hei hyung.. akan kuadukan kau pada Junhye Noona..”

“Untuk apa? Dia tidak akan cemburu..” ucap Doojoon.

Dongwoon mengerutkan alis. “Kenapa begitu?”

“Karena.. ya, mudah saja. karena dia tidak mencintaiku, dia mencintai Kikwang.” Jawab Doojoon.

Dongwoon manggut-manggut. Lalu namja itu ditarik olek Doojoon, “Ayo pulang, sepertinya semua sudah menunggu.”

FLASH BACK END

The Next Day

“Jadi semuanya selesai dalam satu malam?” tanya Chaeri dan Minhyun. Junhye mengangguk. “Doojoon bilang dia tidak akan terluka dan dia sudah dapatkan penggantiku. Setidaknya itu membuatku lega..”

“Siapa?” tanya Minhyun.

Belum selesai Minhyun berkata, terdengar suara gaduh dari luar. Semuanya keluar untuk memeriksa. Begitu tahu apa yang terjadi diluar, Junhye dan Kikwang langsung tertawa. begitu juga dengan Dongwoon.

“YA!! INI TEMPAT SAMPAHKU. Bisa tidak kau membuang ke tempat sampah mu sendiri?!” omel seorang gadis dengan kuncir kuda, berkacak pinggang.

Doojoon mendesis, “YA! mana kutahu! Aku kan tidak tinggal disini. Dasar Judes!”

“Pria tidak sopan!! Beraninya mengatai orang,” omel gadis yang tak lain adalah Siyeon.

“Dongwoon! Minhyun eonni! Kenapa hanya melihat! Beritahu temanmu ini untuk membuang sampah ke tempat sampah kalian!” Siyeon menunjuk-nunjuk Doojoon.

Yoseob menoleh ke arah Minhyun, “Kenapa Doojoon? Bukankah dia selalu bersikap acuh pada gadis? Tumben sekali dia meladeni Siyeon?”

Hyunseung terkekeh, “Naksir mungkin..”

Junhye memandang Kikwang, “Ya.. setidaknya aku tidak perlu begitu merasa bersalah. Lebih bagus dong, kalau semua punya pasangan.. kita bisa sering main disini..”

Kikwang menggeleng, “Tidak.. masih kurang satu..”

Minhyun dan Chaeri menoleh ke arah Dongwoon yang terkekeh, sadar semua orang menatapnya, Dongwoon menoleh, “Apa?”

“Kau cari pacar juga doooong!!” teriak Yoseob dan Hyunseung bersamaan.

Dongwoon menggeleng, “Ah ah.. tidak mau. Jomblo itu asyik tahu, Hyung.. bisa menggoda semua gadis..”

Ucapan Dongwoon di sambut riuh sorakan para gadis yang ada, dan sandal yang sedang dipakai oleh Minhyun, “Dasar dongsaeng playboy!!”

I’m in love, I’m in love with you; the words my lips have hidden until now

The words I won’t be able to speak again

Sky, so that the road that person travels will not be difficult

So that I don’t somehow call that name by mistake

Love, no matter what it takes you must send that person away

Because in anyone’s eyes, that is the manly thing to do

(FT Island – Thunder)

 

THE END – FIN

17 thoughts on “BABY PLEASE DON’T GO FAR Part 2/end

  1. author yg manis,th g knp aq bru bc ff author stlah part endny klwr kl g 1S? Cz ff author kl d bc kpotog bkn ati nysek 1/2 wafat.bhsny dlm+ngna bgt. Contony ff ni,lht part end bru cri part 1.pkkny DAEBAK sllu..

  2. EOMMMMAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!

    DAEBAK euyy!!!!

    lucu, perannya dapet, feelingnya juga dapet…..

    pokoknya the best, tp masih ada bbrp kalimat yg blom aku ngerti ^^

  3. yeahhh….happy end I like it. keren bgt nih cerita soulnya dapet bgt….ga sbar nih pengen baca FF yg lainnya…

Leave a Reply to syiGaemELFishy Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s