My Diary For You Part 2

Author      : ME!!

Title        : My Diary For You

Cast         :

  • Choi Minho [SHINee]
  • Han _____ as Victoria Elise [YOU/Readers]
  • Yang Yoseob [BEAST]

Genre       : Romance, Mystery

Length      : Series

Rating       : PG-15

Disclaimer  : Ini FF asli kembangan aku lhoo ya, idenya mah dari temenku.. DO NOT HOTLINK AND COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION, I HATE PLAGIARISM !!!

prolog part 1 |

Part 2

[Author’s POV]

Minho terbangun dari tidurnya. Dia mendapati dirinya berada di kamar yang tak asing bagi penglihatannya dan juga perasaannya —mungkin dalam mimpi— tapi terasa asing bagi tubuhnya. Dia sendiri merasa aneh pada dirinya sendiri. Dia duduk dari tidurnya. Dia mendapati sebuah buku diary —dia merasa bahwa dia habis membaca buku itu— tergeletak disampingnya dengan kondisi terbuka.

“kamar siapa ini??? Dan…. buku diary?? Sejak kapan aku punya buku diary??” gumam Minho. Minho pun berjalan keluar dari kamar itu.

“appa….umma…” panggil Minho setengah berteriak seperti anak kecil yang meminta susu pada ibunya.

“YA! Minho, tidak usah berteriak!!” kata ibunya dari dapur. Minho pun langsung berlari ke arah dapur menghampiri orangtuanya.

“umma….kita dimana????” tanya Minho bingung.

“bukankah kau sendiri yang ingin ke Paris???!!! Ya tentu saja kita sedang berada di Paris sekarang” balas ayahnya sambil menyeruput kopinya.

“Paris?” Minho bingung. Bukankah ia sedari kemarin berada di rumahnya? Dan yang semalam itu, bukankah hanya mimpi??? Tapi mimpi itu aneh sekali. Aku bermimpi, sebelumnya aku berada di Seoul lalu ingin sekali ke Paris, tetapi tidak diizinkan oleh orangtua ku. Dan saat ku terbangun tadi, aku sudah berada di Paris??! Apakah ini masih di dalam alam mimpi ku???, gumam Minho tak bergeming dari tempatnya berdiri.

“jangan melamun terus!! Cepat sana mandi!” suruh ibunya. Ia berjalan mengambil handuk sambil memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam pikirannya.

“jadi, aku benar-benar ada di Paris?!” gumam Minho ketika sedang melamun di kamarnya. Dan juga sambil memegang buku diary yang menurutnya telah dia baca di alam mimpinya tadi sebelum bangun.

“tapi, bikankah yg semalam itu……” gumaman Minho terhenti karena mendengar suara lirihan seorang wanita, lebih tepatnya sebuah bisikan.

“Minho-ya….” bisikan itu memanggil namanya. Dan suaranya mirip sekali dengan suara kekasihnya.

“________” Minho menggumamkan nama gadis itu. Setelah itu, tidak ada lagi bisikan, seakan dia pergi. Dan Minho pun sudah tidak merasakan kehadirannya. Panggilan untuknya dalam bisikan yang baru saja dia dengar tadi seakan-akan menyuruhnya untuk kembali melanjutkan membaca buku diary yang sedang di pegangnya.

Suatu saat nanti, jika aku memang masih diberikan kehidupan—, aku ingin kau membaca semua tulisan yang aku tulis disini. Aku ingin membuat mu melihat bahwa sekarang gadis yang kau cintai sudah terbiasa menulis di buku diary walaupun terkadang ini sangat menyusahkan dan juga melelahkan—. Tapi sepertinya itu bukan takdir ku. Karena sebentar lagi aku tidak tau kapan pastinyaaku pasti akan dibawa oleh malaikat pencabut nyawa ke sebuah tempat yang tidak mungkin bisa didatangi manusia.

Aku rindu dengannya. Bahkan sangat. Aku ingin kau selalu ada disampingku, selamanya! Aku ingin kau menyemangati hidupku yang hanya tinggal dalam hitungan hari, jam, atau mungkin detik ini. Yah, aku memang tidak bisa menghitung berapa lama lagi aku akan hidup. Sekarang hanya ada KAU yang ada dipikiranku.

Lagi-lagi tulisannya berakhir. Isi diary di setiap halamannya sangat pendek, padahal kalau di pikir bukunya lumayan besar daripada porsi tulisannya. Dan gadis ini benar-benar sukses membuatku tambah penasaran.

Malam pun tiba. Suasananya sangat sepi saat itu, karena kedua orangtuanya sedang menghadiri acara pernikahan teman mereka. Karena jaraknya cukup lumayan jauh dari rumah yang mereka tempati sekarang, jadi orangtuanya tidak akan pulang malam ini. Dan sudah jelas malam ini Minho akan sendirian. Tapi tidak pada nyatanya! Ada seseorang yang juga ikut menemaninya malam itu. Ya, dialah Victoria Elise. Dia yang menemani Minho malam ini. Dan Minho tidak terlalu menyadari keberadaannya. Sampai dia mendengar sebuah bisikan itu lagi yang kekasihnya lontarkan dan kali ini malah membuat bulu kuduk Minho bergidik ngeri.

‘Minho-ya…carilah!! carilah!!! Carilah sesuatu yang membuat mu penasaran! Carilah! Aku yakin kau pasti bisa mencarinya’ lagi-lagi sebuah bisikan itu menyuruh Minho.

“cari??!!!! Mencari apa! Aku tidak mengerti” kata Minho terlontar begitu saja setelah mendengar bisikan tadi, lebih tepatnya terdengar seperti gumaman. Tanpa memikirkan apa yang harus dia cari, dia kembali ke ruang tengah sekedar untuk menonton tv dan mengembalikan pikirannya ke alam nyata.

“apa aku sedang bermimpi?! Aku tidak yakin jika aku sedang bermimpi. Tapi kenapa semua ini serasa seperti mimpi untuk ku???” gumam Minho.

“aisshhh!!!! Kenapa semua acara tv tidak ada yang seru??!!” Minho pun mematikan tv lalu memainkan hp dan mulai memasangkan headset di kedua telinganya. Dan kebiasaannya pun terulang. Dia tertidur di sofa dengan kedua headset menempel di kedua telinganya.

Minho terbangun. Ini seperti di alam mimpi. Dan memang benar dia berada di alam mimpi. Dalam mimpinya sendiri. Ia dituntun oleh ‘seseorang’ —yang tidak bisa ia jelaskan secara rinci siapa ‘seseorang’ itu— yang jelas ‘seseorang itu adalah yeoja. Yeoja itu membawanya ke dalam kamarnya sendiri. Sesampainya dikamar, yeoja itu menghilang dan meninggalkan seberkas cahaya putih yang menyilaukan yang nantinya cahaya putih itu pun menghilang. Minho tidak tau apa yang harus dikerjakannya disini, karena memang sejak awal dia hanya dibawa kekamar dan tidak mengetahui tujuan yeoja yang membawanya tadi.

Lagi-lagi Minho terbangun untuk yang kedua kalinya. Tetapi kali ini ia tidak terbangun dalam dunia mimpi, melainkan di dunia nyata. Karena sinar matahari mulai masuk dan menyinari tubuhnya yang masih terbaring diatas sofa juga menyilaukan pandangannya. Dia mengerjapkan matanya berulang kali sambil mengumpulkan jiwanya sedikit demi sedikit.

Setelah terkumpul, dia masuk ke dalam kamar mandi dan dengan segera membasahi seluruh tubuhnya.

Selesai. Buru-buru Minho masuk ke kamarnya dan mengganti bajunya dengan baju seragamnya. Setelah itu, dia duduk manis di meja makan. Bingung. Ya, itulah yang dia rasakan. Dia tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini. Bahkan pikirannya pun belum kembali ke alam nyata seutuhnya, dia masih memikirkan mimpinya semalam.

Dia mengambil sepotong roti lalu di olesinya dengan selai dan memanggangnya di alat pemanggan roti.

TINGG!

Tanda roti sudah selesai dipanggang. Dia memakannya dengan pandangan kosong. Dia masih tidak bisa berfikir jernih atas apa yang sudah dialaminya di mimpinya semalam. Dia masih penasaran siapa sebenernya ‘yeoja’ yang membawanya ke kamarnya sendiri.

Berangkat sekolah. Itulah yang akan dilakukannya. Sebenarnya sudah agak terlambat untuknya pergi ke sekolah. Dan mungkin ia sudah tau kalau ia akan mendapat hukuman dari gurunya.

Sesampainya di depan gerbang sekolah —ia belum masuk ke dalam sekolah, bahkan ia terlihat sangat malas untuk melangkahkan kakinya ke dalam sana— ia bertemu dengan sahabatnya dulu sewaktu kecil. ya, dialah Yoseob. Teman Minho semasa kecil dulu. Dulu mereka selalu 1 sekolah, tapi sayangnya tidak untuk di SMA. Yoseob ikut paman serta bibinya ke Paris untuk melanjutkan sekolah di kota itu. Dan Minho? Dia masih tetap berada di Seoul 1 tahun terakhir sebelum akhirnya dia juga pindah ke Paris karena tuntutan pekerjaan ayahnya. Usia mereka hanya terpaut 1 tahun saja, makanya mereka sangat akrab. Terkadang Minho memanggil Yoseob hanya dengan namanya saja, dan di lain waktu dia juga memanggil dengan embel-embel ‘hyung’ dibelakangnya.

“hey boy, kenapa tidak masuk?? 5 menit lagi mau bel lhoo~” kata Yoseob menepuk pundak Minho dan tentunya dengan wajah cerianya. Sayang Minho tidak membalas ke-ceria-an-nya.

“jujur! Aku malas sekali untuk melangkahkan kaki ku masuk ke dalam sekolah hari ini” sahut Minho.

“why? You have any problem?” tanya Yoseob.

“yeah. And I very confused now” jawab Minho. Bahasa inggris Minho memang belum selancar teman-temannya. Bahkan dia juga tidak bisa berbahasa Perancis. Karena dia datang tidak memakai modal bahasa. Terkadang jika Yoseob menggunakan bahasa inggrisnya, Minho masih bisa mengerti apa yang dikatakan sahabatnya itu. Tapi jika ia disuruh menggunakan bahasa inggrisnya, ia terlihat sangat kikuk karena dia bingung menyusun kata-katanya.

“can you tell me?!” pinta Yoseob.

“i’m sorry. I can’t tell you, because this is my problem” kata Minho.

“gwaenchana. Tapi jika kau mau menceritakannya padaku, i’ll be a good listener” kata Yoseob.

“khajja, sebentar lagi pintu akan ditutup” Yoseob menarik lengan Minho. Minho dengan ugal-ugalan mengikuti langakah Yoseob di belakang.

*__*

Di dalam kelas, Minho benar terlihat tidak konsentrasi pada pelajarannya. Tiba-tiba…..

“Minho, coba kau kerjakan soal di depan!!” suruh guru yang sedang mengajar di kelas itu. Kaget. Tentu saja dia kaget. Jelas! Karena dia tidak bisa mengerjakan soal itu, kecuali jika ia menyontek pada sahabatnya.

“hey teman, berikan aku jawaban soal itu, pleaseee!!” pinta Minho pada Yoseob.

“ahni…kau harus bisa mengerjakannya sendiri. Soal itu sangat mudah, Minho” tolak Yoseob. Bukannya tidak mau memberikan jawaban, tapi dia ingin melihat sahabatnya itu bisa. Dengan kata lain, maju!

Mau tak mau, Minho pun maju ke depan kelas, dan lalu mengambil spidol. Mula-mula dia menulis sebuah rumus. Dia tidak tau rumus yang di tulisnya benar atau tidak, yang terpenting sekarang dia harus menuruti kata-kata gurunya selama ia berada di kelas.

“aissshhh~ aku benar-benar tidak bisa. Eotteoke?? GOD! Tolonglah aku untuk menyelesaikan soal gila ini!!! Kirimkanlah malaikat mu untuk membantu ku, Tuhan!” Minho berteriak-teriak frustasi dalam hatinya. Tak ayal dia berdoa seperti itu. Kenapa? Karena, guru yang sedang mengajar di kelasnya termasuk ‘killer’. Ia takut jika ia tidak bisa menyelesaikan soal itu, ia akan dimarahi oleh guru killer itu. Bisa turun harga dirinya jika terkena omelan dari guru hanya karena tidak bisa menyelesaikan ‘sebuah’ soal semudah itu, itu bagi sahabatnya, tidak bagi Minho sendiri, ‘sebuah’ soal itu bagaikan benda yang haram untuk dilihat apalagi untuk dikerjakan.

“Minho, do you can or not??” guru itu mulai bersua.

“ye…yes, i can, miss” katanya. Walaupun ia tidak bisa, Minho masih menjaga ‘image’nya di depan teman-temannya. Dan akhirnya do’a Minho pun terkabul. Tuhan memberikannya malaikat penyelamat dirinya untuk saat itu. Yoseob mengetahui bahwa Minho benar-benar tidak bisa mengerjakan soal itu, maka dari itu, ia beranjak dari kursinya dan maju ke depan kelas.

‘sudah, tidak usah memaksakan diri’ sahut Yoseob tepat di sebelah tepat disebelah telinga Minho.

“I’m sorry, miss. My friend is can’t in this question. May i change the position???” kata Yoseob dengan bahasa inggrisnya yang sangat fasih.

“ohh, of course! Minho, sit down” kata guru itu kepada kedua muridnya.

“thanks, miss” kata Minho sambil melewati Yoseob.

‘gomapta hyung. Pulang sekolah nanti aku akan mentraktir mu’ kata Minho.

TBC….

>> IM BACK !!!!!!!!!!!!!!!!! HELLO YOROBEUN , ADAKAH YANG KANGEN ????? DI KOMEN YAA TETEP KALO ABIS BACA ^^

2 thoughts on “My Diary For You Part 2

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s