TIME TO LOVE (1st : YunJae) [YAOI]

19980_1239888563740_14250814

A…O…. *gaya telletubbies*

Author sarap bin gendeng is back…

Kali ini korbannya YunJae,, kenapa?? Karena ada yang minta…

Dan untuk Time To Love ini bakalan ada 4 versi…

Jadi ikuti semua versinya…

Wokeeeeeeeeeeyyy…. Cekidot……….

Time To Love [Version 1 : YunJae]

Tittle : Time to Love

Author : Honey Park

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong.

Genre : drama/romantic.

Rating : PG17

Summary : Apakah serendah itu aku dimatamu? Kau memperlakukanku sebagai pembantu di apartemen mewahmu. Aku hanya menjadi pemuas nafsumu. Apakah aku tak ada artinya dihatimu? Ini bukan kehidupan yang aku inginkan. Tapi, tanpa sadar aku mencintaimu.

Time To Love

Anyeong. Jo neun Kim Jaejoong imnida. Aku ingin menceritakan kehidupanku setelah aku menikah dengan Jung Yunho. Aku tak pernah mengenalnya. Mendengar namanya  pun aku tak pernah.

Aku bisa menikah dengannya karena aku dipaksa menikah. Orang tuaku mempunyai hutang yang tak bisa dibayar ke perusahaannya. Aku menjadi korban dengan menjadi budaknya disini. Di apartemen super mewahnya.

Setiap hari aku harus membereskan dan membersihkan rumah, mencuci baju dan piring, menyiapkan sarapan dan makan malam, bahkan melayani nafsunya. Aku ingin sekali pergi dari kehidupanku ini, tapi aku tidak bisa. Jika aku melakukannya maka aku bunuh diri.

Seperti halnya malam ini, dia belum pulang. Aku selalu berpikir untuk kabur, tapi entah kenapa aku selalu mengurungkan niatku. Sudah jam 23.45, Yunho belum pulang juga. Tidak biasanya dia belum pulang selarut  ini. Salah satu tugasku juga untuk menunggunya pulang. Aku menghela nafasku. Saat aku beranjak dari dudukku untuk mengambil segelas air, pintu digedor keras oleh orang yang sedang kutunggu.

“YA, KIM JAEJOONG BUKA PINTUNYA!! PALLI!!”

Yunho berteriak diluar sana sambil terus menggedor pintu.

“Ne. Chakkamannyong.”

Aku tergopoh-gopoh membukakan pintu. Saat pintu terbuka ia segera jatuh kepelukanku. Bau alkohol menyeruak kehidungku. Tapi tiba-tiba saja ia mendorongku hingga aku terhuyung.

Ia mencoba berjalan kekamarnya. Mencium baunya membuat kepalaku pusing. Saat aku mencoba memapahnya, dengan kasar ia menepis tanganku.

“Diam kau!” bentaknya.

Aku menatapnya iba. Tapi saat ia melangkah keseimbangannya mulai hilang, aku segera memapahnya paksa dan membawanyanya kekamarnya. Ketika sampai aku segera menjatuhkannya diatas kasur empuknya.

Dengan telaten aku membuka dasi yang mencekik lehernya, membuka sepatu dan kaus kakinya, membuka ikat pinggang yang melingkar dipinggangnya, dan terakhir aku membuka jas dan kemejanya.

Aku masuk kekamar mandinya, membawa handuk basah dan kembali menghampirinya. Aku menyeka badannya yang bau alkohol. Saat aku akan bangkit, ia menarikku. Aku terjatuh diatasnya.

“Oddiga?” tanyanya dalam keadaan teler. *jiagh bahasa gue*

“Yunho-ssi, mwo… mwora…go?” tanyaku gugup.

Aku sedang tidak ingin melakukannya saat ini. Kepalaku sangat pusing. Aku mencoba bangkit, tapi dia menahannya. Dan dengan kecepatan cahaya *halah* dia mulai melumat bibirku kasar. Aku  merasakan alkohol dari mulutnya.

Aku menutup rapat mulutku. Aku mual. Entah kekuatan dari mana aku bisa melepaskan diri darinya. Aku segera berlari kekamarku dan segera menerobos masuk ke kamar mandi. Aku menumpahkan (?) semua isi perutku. Ya tuhan, kumohon. Jangan biarkan aku hamil.

Aku merebahkan diriku diranjangku. Air mataku meleleh. Entahlah perasaanku tidak karuan.

#######################

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Aku mengobrak-abrik laci kecil didekat tempat tidurku. Dan akhirnya aku menemukan apa yang aku cari. Benda kecil yang sangat berharga untukku saat ini. Test peck.

Aku menunggu dengan gelisah. Beberapa menit kemudian aku segera melihat benda kecil itu. Mataku membulat saat melihatnya, dua garis. Aku positif hamil. Pantas belakangan ini aku sering pusing dan lemas.

Aku bersandar ketembok. Air mataku mengalir. Sesuatu yang tidak aku harapkan terjadi. Aku hamil dan itu artinya aku tidak bisa lepas dari cengkraman Jung Yunho. Aku semakin terikat dengannya karena kehamilanku ini.

Dengan langkah gontai aku segera keluar dari kamar dan memulai kegiatanku seperti biasanya. Membuatkan Yunho sarapan, menyiapkan pakaiannya, dan menyiapkan keperluan kerjanya.

Pukul tujuh tepat Yunho keluar dari kamarnya. Aku sudah menyiapkan air madu untuknya.

“Aku mau kopi.” Kata Yunho datar.

“Ne, gidaryo.” Aku segera membuatkan segelas kopi.

Saat aku akan membawanya ke meja, tiba-tiba saja perutku terasa sangat sakit. Dan tanpa kusadari aku menjatuhkan cangkir kopi untuk Yunho. Aku memegangi perutku.

“Aaakkh.”

“Ya~ waeire?” tanyanya.

Entahlah aku tidak kuat lagi. Pandanganku menjadi gelap seketika.

#################

Aku membuka mataku perlahan. Memandang langit-langit yang kukenal. Aku menoleh dan melihat Yunho duduk sambil membaca buku. Aku mencoba bangkit, tapi aku merasakan tangan Yunho menahanku untuk bangkit.

“Kau jangan banyak bergerak dulu. Kalau kau sakit bilang padaku, jangan diam saja.” Katanya dengan nada yang lembut.

Aku menatapnya heran.

“Aku berangkat kerja dulu. Untuk hari ini kau istirahatlah. Jaga anakku baik-baik.” Katanya lalu berlalu dari kamarku.

Aku mendongakkan wajahku. Yunho sudah tahu aku hamil. Ya tuhan, bagaimana nasibku selanjutnya.  Aku bersandar menatap langit-langit kamarku. Dan tanganku memegang lembut perutku, merasakan kehidupan didalam sana.

Aku melihat jam dinding yang menggantung, waktu menunjukkan pukul 11.15. Aku baru sadar, Yunho baru berangkat bekerja lima belas menit yang lalu. Aku beranjak dari ranjangku. Saat mencoba bangkit, aku masih merasakan sakit diperutku.

“Baby, jangan nakal. Umma mau mengerjakan tugas umma.” Aku membelai perutuku yang masih rata.

Aku segera bangkit. Aku mendapati apartemen ini sudah rapi dan bersih. Aku pergi kedapur dan menemukan sebuah note dipintu kulkas.

‘Jaejoong-ah, makanlah. Ada bubur dimeja. Kalau dingin panaskan saja. Yunho.’

Aku tersenyum membacanya. Ternyata Yunho tidak seburuk yang aku pikirkan. Aku menghampiri meja makan dan menemukan bubur yang Yunho maksud. Aku mengambilnya dan memanaskannya. Setelah itu menikmati bubur hangat itu.

Aku senang sekali. Meskipun bubur ini bukan buatan Yunho, tapi setidaknya ia berusaha untuk mendapatkan bubur ini. Meski ujung-ujungnya aku memuntahkannya lagi diwastafel. Ternyata, hamil itu susah sekali. Tak ada makanan yang masuk sedikitpun.

Sore hari aku mencoba bangkit dari tempat tidur, tidak bisa. Lemas sekali rasanya. Seharian ini aku muntah-muntah terus. Padahal aku hanya makan sedikit. Dibandingkan asupan lebih banyak yang keluar.

Yang aku lakukan hanya banyak minum air putih agar aku tidak dehidrasi. Aku mencoba menutup mataku saat handphoneku berdering. Ada pesan masuk, aku segera membukanya.

‘Jaejoong-ah, tidak usah menyiapkan makan malam. Aku sudah makan. Kau sudah makan belum?’

Aku membalas pesannya.

‘Percuma aku makan, Yunho. Pasti sedetik kemudian aku akan memuntahkannya lagi.’

Aku menekan tombol send. Beberapa menit kemudian Yunho membalas lagi.

‘Kalau begitu kau tunggu aku.’

Aku segera menulis balasan untuk Yunho. Aku ingin muntah lagi.

‘Ne.’

Aku segera berlari kekamar mandi dan aku lupa menekan tombol send.

“Hueeekk… hueeekk…”

Tak ada yang keluar memang, tapi rasanya sangat mual. Isi perutku bergejolak, seperti ada yang ingin keluar dari mulutku. Tiba-tiba handphoneku berdering lagi. Kulihat nama Yunho dilayarnya.

“Yoboseyo…” jawabku lemah.

‘Kau kenapa?’ tanyanya disebrang sana.

“Mollayo.”

‘Yah, non gwenchana?’ tanyanya. Aku mendengar nada gelisah disuaranya.

“Nan gwenchana. Hueeekk.” Aku kembali memuntahkan udara kosong.

‘Non odiga?’ Tanya Yunho lagi.

“Kamar mandi.” Jawabku semakin lemah.

Saat ini aku terduduk dilantai kamar mandi didekat kloset. Tanganku yang memegang hp bergetar hebat. Aku sudah tidak kuat memegangnya. Bahkan aku sudah tidak kuat lagi untuk duduk seperti ini. Dalam hitungan detik tubuhku rubuh. Hp yang kupegang jatuh dari tanganku dan sekarang aku terbaring lemah dilantai kamar mandi.

Yunho masih bicara ditelpon. ‘Jaejoong-ah…! Jaejoong-ah!’ panggilnya.

Aku hanya diam, aku tidak punya tenaga untuk berbicara. Tanpa disadari air mataku meleleh. Beberapa menit kemudian aku merasakan sebuah tangan kekar mengangkat tubuhku yang tergolek dilantai. Aku memandang wajahnya.

“Yunho-yah…” bisikku.

“Jangan banyak bicara. Kau harus dibawa kerumah sakit.” Entahlah, Yunho membawa tubuhku kemobilnya. Ia mendudukkanku dan memasangkan sabuk pengaman untukku. Ia juga mengecup keningku.

Aku sudah tak bisa melakukan apapun. Lemas sekali rasanya. Ada yang keluar, ya ada yang keluar. Perutku kembali sakit sekali. Dengan sisa tenagaku aku mengerang.

“Aaaakh…”

~POV end~

~author POV~

“Aaaakh…” Jaejoong mengerang. Yunho yang sedang menyetir memalingkan wajahnya dari jalanan. Jaejoong memejamkan matanya menahan sakit. Ya, dia sedang menahan sakit. Wajahnya dipenuhi keringat dingin.

Yunho memegang tangan Jaejoong yang dingin dan berkeringat.

“Bertahanlah. Aku bersamamu Jae.”

Jaejoong merintih pelan. Yunho tahu istrinya itu sudah tidak mempunyai tenaga untuk sekedar berbicara. Sesampainya dirumah sakit ia segera menggendong Jaejoong keluar mobilnya dan membawanya keruang UGD.

Yunho menunggu diluar ruangan. Wajahnya terlihat sangat cemas. Setelah menunggu setengah jam lamanya, dokter keluar dari ruangan UGD.

“Dokter, bagaimana keadaan Jaejoong?” tanyanya pada dokter.

“Jaejoong-ssi mengalami pendarahan. Kandungannya lemah, jadi sebisa mungkin Jaejoong-ssi tidak melakukan pekerjaan berat dan tidak berpikir terlalu keras.” Jelas sang dokter.

“Ne.”

Beberapa saat kemudian, suster membawa ranjang yang diatasnya terbaring Jaejoong yang lemah. Wajahnya pucat dan terlihat masih menahan rasa sakit. Yunho mengikuti sang suster yang mendorong ranjang Jaejoong keruang rawatnya.

Setelah sampai, sang suster mengecek keadaan infusan dan keadaan Jaejoong. Setelah itu ia segera meninggalkan Jaejoong. Yunho lalu duduk disamping Jaejoong yang terbaring lemah. Ia menggenggam erat tangan Jaejoong.

“Jae, jangan tinggalkan aku. Aku sangat membutuhkanmu. Mianhae Jae karena aku memperlakukanmu dengan tidak baik selama ini. Jongmal mianhae.” Yunho mencium tangan Jaejoong.

Sebelah tangannya membelai pipi Jaejoong dan ia mengecup bibir merah Jaejoong.

~POV end~

~Jaejoong POV~

Sakali lagi aku membuka mataku. Aku membukanya dengan sangat pelan. Silau.

“Jae…”

Ada yang memanggilku. Aku menoleh kesumber suara dengan perlahan. Memfokuskan penglihatanku yang sedikit kabur. Saat penglihatanku mulai normal aku segera tahu siapa yang memanggilku.

“Yun…ho…” bisikku.

“Gwenchana?” tanyanya lembut.

Aku memejamkan mataku lalu mengangguk. Yunho menggenggam tanganku lalu mengecupnya lembut.

“Mianhae.”

Aku menatap wajah tampannya. Dan ia juga menatapku. Ia membelai lembut pipiku.

“Mianhe, Jae.” Bisiknya ditelingaku.

Aku membelai wajahnya. Entah sejak kapan aku mengagumi wajahnya dan mulai mencintainya. Yunho bangkit lalu duduk diranjang menghadapku. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya kewajahku. Semakin dekat dan aku memejamkan mataku.

Aku merasakan bibirnya menyentuh bibirku. Ia mulai melumat bibirku. Aku merasakan ciuman yang berbeda darinya. Ciuman Yunho kali ini lebih lembut dan penuh cinta. Tidak seperti ciumannya yang dulu, penuh nafsu dan kasar.

Aku membalas setiap lumatan Yunho. Ia melumat bibir bawah dan atasku bergantian. Lidahnya menerobos masuk ke rongga mulutku dan menelusuri setiap sudut mulutku.

“Nghhh.”

Aku mendesah saat tangan kekar Yunho menyentuh daerah sensitifku dan membelai lembut tubuhku. Saat ia sedang menikmati leher jenjangku, ada yang mengetuk pintu.

Yunho segera menghentikan kegiatannya dan segera membereskan dirinya dan diriku yang sedikit berantakan.

“Masuk.” Kata Yunho setelah rapi kembali.

Seorang suster masuk membawa obat dan makanan untukku. Yunho segera mengambil alih dan membawanya kehadapanku.

“Waktunya makan Jae.” Katanya.

Ia menyodorkan sesendok bubur kemulutku. Mau tak mau aku pun membuka mulutku dan mengunyahnya. Dengan susah payah aku menelannya. Saat Yunho akan menyuapkan sendok kedua, aku kembali mual.

“Huek.”

“Jae.” Yunho menutup mulutku. “Jangan dimuntahkan. Kau harus makan.”

“Huk.”

Air mataku menggenang disudut mataku. Menahan muntah itu sangat menyiksa. Aku menatap Yunho. Memohon untuk melepaskan tangannya dari mulutku. Ia mengerti dan membawa tubuhku kekamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, aku segera memuntahkan kembali sesendok makanan yang kumakan barusan.

Yunho mengusap lembut punggungku. Sementara aku terus mencoba memuntahkan semua isi perutku, meski tahu semua sia-sia. Tak ada yang tersisa didalam perutku.

“Huek.”

Setelah merasa lebih baik aku menoleh pada Yunho, mataku berkaca-kaca. Yunho melap sudut mulutku lalu memelukku.

“Kau pasti menderita.”

Aku balas memeluknya dan terisak dalam pelukan. Ya, Yun. Aku sangat menderita. Batinku dalam hati.

Sejak kejadian itu Yunho menjadi pria yang lembut. Dia juga sangat menjagaku. Sekarang aku tidak mengerjakan pekerjaan rumah lagi. Yunho sudah mempekerjakan pembantu. Tugasku sekarang hanya menjaga janin yang sedang kukandung.

Kandunganku sudah menginjak delapan bulan lebih dua minggu. Aku baru saja selesai meminum vitamin untuk kandunganku. Ya, kandunganku lemah. Berkali-kali aku masuk rumah sakit karena mengalami pendarahan.

Saat aku menyimpan gelas kedapur, bel berbunyi. Aku heran kenapa jam segini Yunho sudah pulang. Aku segera membuka pintu. Dan saat aku melihat orang yang ada dibelakang pintu aku sangat terkejut.

Pria yang sangat aku benci. Kenapa ia bisa tahu aku tinggal disini? Tubuhku kaku, lidahku kelu.

“Jaejoongie…”

Ia menarikku kedalam pelukannya. Aku membeku. Kenapa ia kembali kekehidupanku? Tiba-tiba perutku sakit. Saat ia memelukku aku melihat Yunho berdiri diujung sana menatap kami berdua. Aku bisa melihat kilatan marah dimatanya. Yunho berbalik. Aku segera mendorong tubuh pria itu dan mengejar Yunho.

Aku tidak peduli dengan rasa sakit yang menyerang perutku. Aku terus berlari mengejar Yunho. Sebelah tanganku memegangi perut buncitku. *takut jatoh y?*

“Yunho… Chakkaman…” aku berteriak memanggil Yunho.

Aku merasa semakin sulit untuk melangkah. Sebelah tanganku menyangga tubuhku ditembok. Perutku semakin sakit. Aku berjalan tertatih-tatih.

“Yun… Aaakkhh…”

Aku mengerang cukup keras. Sakit sekali. Aku melihat kakiku berlumuran darah. Begitu juga dengan celana putih selututku, penuh bercak darah.

“Jaejoongie…!!”

Seseorang merengkuhku. “Lepaskan aku Park Yoochun!”

Aku kembali berusa berjalan. Aku mengigit bibirku menahan sakit. Punggung Yunho semakin menjauh.

“Yunho…”

GUBRAK *halah*

Aku terjatuh. Rasanya semakin sakit. Aku melihat Yunho menoleh kearahku. Pipiku sudah banjir air mata. Aku menangis karena aku takut Yunho marah padaku dan karena perutku semakin lama semakin sakit. Bagaikan diperas rasanya. Yoochun kembali merengkuhku. Aku menepisnya kasar.

Aku memegangi perutku dan mencoba beringsut.

“Jaejoongie…” panggilnya.

“Ja…ngan huh…huh…huh… menyentuh… huh…huh…huh… ku.” Kataku disela-sela menahan rasa sakitku.

Aku memejamkan mataku menahan sakitnya. Aku mendengar derap langkah kaki. Yoochun mencoba menggendongku,tapi tiba-tiba ada yang menepis tangannya.

“Jangan sentuh istriku!” Yunho memeluk tubuhku.

Aku mendongak menatap wajahnya. “Yunho…AAAKKKHH!!”

Aku menjerit keras dan meremas rangan kekar Yunho.

“Boo…”

“Yun… Yunho-yah… appayo…”yunho segera membopong tubuhku. Meninggalkan Yoochun yang terpaku ditempatnya.

“Bertahanlah, boo.”

“Yu… Yunie… Nghhh…”

“Kumohon bertahanlah.”

Sakit sekali. Aku tidak kuat merasakan sakitnya.  Sakitnya tidak seperti biasanya. Yang mengalir keluar dari dalam tubuhku tidak hanya darah. Aku merasakan sesuatu yang lain dan cairan itu mengotori mobil mahal Yunho. Aku terus menjerit kesakitan didalam mobil Yunho.

Dirumah sakit aku dibawa kesebuah ruangan yang tidak kukenal. Yunho menggenggam erat tanganku dan mengusap rambutku. Nafasku tidak beraturan. Ada yang membuka celana dan celana dalamku. Aku kembali mengerang saat ada yang menggerakkan kakiku.

“AAAAKKHH!!”

Sakit sekali. Aku merasakan sesuatu mengalir dari dalam tubuhku.

“Yunho-ssi, Jaejoong-ssi tidak bias melahirkan secara  normal. Bayinya melintang.” Jelas dokter.

“Lakukan apa saja, cepat!” kata Yunho setengah berteriak.

“Cepat siapkan peralatan oprasi! Kita akan melakukan oprasi Caesar.” Perintah sang dokter.

Aku menggenggam erat tangan Yunho dan menatap wajahnya. Ia menatapku dan membelai pipiku lembut. Menghapus air mataku yang bercampur dengan keringat.

“Aku disini. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Rasa sakitku berkurang. Aku mencoba menoleh, melihat dokter sedang melakukan apa padaku. Dengan cepat Yunho menahan wajahku.

“Jangan lihat. Tatap saja wajahku.”

Aku mengangguk. Air mataku menggenang disudut mataku. Aku sedih tidak bisa melahirkan secara normal. Aku merasa tidak sempurna sebagai seorang ibu.

Yunho menyeka keringat dikeningku. Aku terus memandangnya. Aku memperhatikan Yunho sekali-kali menoleh melihat dokter dan suster yang sedang bekerja *tuk tik tak tik tuk… halah*. Tangannya tetap menahan wajahku agar aku tidak menoleh.

Yunho terlihat sedikit meringis. Aku tidak tahu kenapa. Dia menatapku lalu tersenyum. Cairan yang tadi mengalir, sekarang sudah berhenti.

Semenit kemudian aku mendengar tangisan bayi. Aku menatap Yunho, mataku berbinar. Yunho tersenyum lalu mengecup kilat bibirku. Aku ingin melihat anakku. Tapi Yunho tetap menahan wajahku. Aku menatapnya. Menatap mata sendunya.

“Tunggu, boo. Belum selesai.”

Aku menatapnya. Mataku berat. Lama kelamaan pandanganku kabur. Lalu gelap.

“JAE…!! BOO…!!” Yunho menepuk pipiku, tapi aku tidak bisa membuka mataku.

“Tenang Yunho-ssi, Jaejoong-ssi hanya tertidur.”

Itulah kalimat terakhir yang kudengar.

##############

Aku membuka mataku perlahan. Aku mendengar keributan disekitarku. Aku mendengar suara omma. Aku menoleh dan melihat ommaku dan omma Yunho sedang mengelilingi sebuah box bayi. Yunho ada disampingku. Tersenyum dengan indah. Aku menatapnya lama.

“Non gwenchana?” tanyanya.

“Ne…” bisikku. “Bagaimana anak kita?” tanyaku sedikit serak.

“Sempurna dan sehat.” Jawab Yunho sambil tersenyum.

“Jaejoongie, kau sudah bangun?” Tanya ommaku.

“Ne, omma.” Aku tersenyum padanya.

“Anak kalian lucu sekali.” Kata omma Yunho, ia membawa sebuah buntelan. “Lihatlah.”

Aku mencoba duduk. Yunho membantuku. Luka operasiku masih basah, aku sedikit susah untuk duduk. Aku mengambil alih buntelan itu. Menatap wajah kecil tanpa dosa yang sedang terlelap. Aku membelai pipi mungilnya.

“Aku akan memberinya nama, Jung Joongho.” Jelas Yunho padaku.

“Kyeopta. Dia mirip denganmu Yunnie.” Ucapku.

“Tentu saja. Karena dia anakku.” Katanya bangga. Aku tersenyum.

Yunho duduk disebelahku dan ikut menatap malaikat kecil kami. Dalam hati aku berterima kasih karena dengan kehadirannya, hidupku menjadi bahagia.

Aegya, jongmal gomawo. Kau telah mengubah hidup omma menjadi lebih bahagia. Kau yang telah mengubah sikap appamu. Kau mengubah semuanya. Kau benar-benar malaikat kecilku. Saranghae Joongho.

Aku mengecup keningnya. Yunho memelukku. Aku berdoa semoga keluarga kecilku ini semakin bahagia.

#THE END#

Finally it’s done…. *sujud syukur*

Tapi perasaan dari awal Jae menderita mulu…

Bias dihajar fans’na Jae… *ngumpet diketek Changmin*

Okey,, komen diharapkan… tapi g komen juga ga papa…

Author seneng kok kalo da yang baca…

Mw komen mw g terserah kalian…. Hehe…

Semoga kalian seneng ma cerita yg ane buat….

Advertisements

49 thoughts on “TIME TO LOVE (1st : YunJae) [YAOI]

  1. haaaaaaaaaaaaa,,
    KEREN,,
    mw dunx d’gendonx yuppa,!
    sekali2 yunppa aja yg mndrita npa? kan kasian jaemma, hikz
    lagi lagi lagi lagi lagiiiiiiiiiiii,,

  2. mpreg ya?? kereeeeen banget nih ff!! penjabaran tokoh nya ok ^^ cuma kurang dialog nya sama kependekaan *dibunuh author* but aku suka ma nih FF biar jaemma di awal kasian banget pas akhir cerita dia bahagia untuung ja dia bahagia good job author

  3. kasihan jae…
    masa yun tega sih jadikan jae sebagai pembantu??
    untung author, tidak menspesifik kan perlakuan yun terhadap jae, kagak sanggup aq bacanya (walaupun masih di baca juga)
    ternyata anak bisa membuat yun yang dulu kasar menjadi lembut..
    tapi chunnie itu mantan pacar ya?? kok masih aja gangguin jae (apa tak takut di gorok su-ie)

  4. Speechles bacanya. Setengah terharu setengah ga tau.
    Tapi tapi disitu aku berasa jadi jaenya hahaha .-.
    Lanjutkan thor!! Aku suka ff yaoi yang gini, so sweet gimana gitu hahaa ._.

  5. “kecepatan cahaya”hahahaha….g brenti ketawa pas bag. itu…..
    yunho akhirnya mendpkn hidayah,
    baik2 y ma jaejoong….#plaaak#

  6. Aigoo~~ yunjae baby pasti lucu n gemesin banget.
    Awal.y appa benci yah, ma umma?
    Tp sejak umma hamil, semua.y berubah ^^
    akhir cerita yg mengharukan…

  7. Ciyeee ffnya keyen banget ciyeee.
    Oww thankyou thor udah buat ff genre ini aku sukka banget pair ‘a juga keren. Two thumbs up for you lah :D

  8. dari dulu ampe skrg gw demen banget sama ff yg jae kasian begini emang cocok dah wkwkwkk *changmin-evil-smirk*
    kalo jae mah cocoknya jadi peran yg baik2, kaga cocok dpt peran galak, orang mukanya feminin-sok imut-minta-disayang-sama-yunho begitu hahahayy
    Jae umma sangat cocok peran yg hamil2 begitu
    pkoke jae sangat cocok utk yun, dan yun sangat cocok utk jae :3
    *kibarinbenderaYunJaeisReal*
    -YunJae Just Married-
    #jadi curcol gini gue#
    btw, thanks banget yaa fanfic YunJae nyaaa
    gw suka bgt :3

  9. anyooooooong sisva desuka…
    i like it. buat lg ya hehehekkk…
    klau bisa buat yunho yang mengejar cinta jj, aku suka jj yang sombong, angkuh tapi manja. buatkan ya…..
    aaa aku jg mau ty, bgaimana cr post cerpen melalui wp? aku br bkin nie tp g bs ngepost dr td….
    thanks

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s