9

3 Namja (s) Part 2/end

by Ghea

“ saranghae…” bisiknya.

“ MWO~?!!!!” teriakku. Aku sangat kaget, kenapa tiba-tiba dia mengatakan seperti itu?

“ Sunny! Kenapa kamu berteriak? Kamu mengganggu konsentrasi yang lain untuk belajar! Kamu tau kan kalau di perpustakaan dilarang ribut?!” tegur Sarang seonsaengnim. Dia segera berdiri kecak pinggang dan melotot kearah ku.

“ mi…. mianhe seonsaengnim.” Kataku terbata-bata. Continue reading

8

3 Namja (s) Part 1

by Ghea

Sunny, Jessica, Hyoyeon dan Yoona telah lama menjadi sahabat. Kemana-mana selalu bersama. Seperti sekarang, mereka sedang duduk di pinggir lapangan basket untuk menonton team basket sekolah mereka latihan. Mereka menonton sambil memakan makanan ringan yang telah mereka beli.

Sunny >> anak yang biasa, nggak terlalu terkenal di sekolahnya, tapi dia pandai bergaul. dia anak yang rada cuek. Tapi tetap perhatian dengan apa yang ada di sekitarnya (?). apalagi kalau itu menyangkut dirinya dan sahabat-sahabatnya.

“ eh eh… liat tuh Shiwon mainnya keren banget!…. GO SHIWON! GO SHIWON! GO!….” teriak Jessica sambil berdiri dan lompat-lompat nggak jelas dengan gaya cheerleders nya.

Jessica >> Anaknya bisa dibilang centil, Cuma baik kalau ada maunya doang. Walaupun begitu dia sangat menyayangi sahabat-sahabatnya. Continue reading

6

MY EX part 2

by Vinny Pinot Juju

“Ah.. aku datang kepagian..” Ji Yeon melihat pada jam di tangannya. Ia sangat menantikan hari ini. Seseorang yang ia tunggu-tunggu, tak lain dan tak bukan, Seung Ho.

Waktu terus berlalu. Ji Yeon terus menunggu namun Seung Ho tak kunjung datang.

“Aisshh.. apa dia tak jadi datang?”

Sudah 1 jam ia menunggu, belum tampak kehadiran Seung Ho.

“Atau mungkin dia lupa?”

Ji Yeon terus menunggu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar tempat ia menunggu.

“Ji Yeon a~!”

Suara yang tidak asing bagi Ji Yeon, Seung Ho!

“Mian.. sudah membuatmu menunggu lama. Tadi ada urusan sebentar.”

“Gwaenchanna. Aku juga barusan datang.” Padahal Ji Yeon telah datang sejam yang lalu.

“Gurrae? Baiklah kalau begitu,gajja.” Seperti janji mereka semalam, mereka akan pergi menonton film yang ingin ditonton Ji Yeon.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Seung Ho.

“Hah?”

“Filmnya. Bagus tidak? Pemeran utamanya aktor kesukaanmu kan?”

“O. Bagus, aku suka film tadi.”

‘Tentu saja. Karena aku menontonnya bersamamu’ pikir Ji Yeon.

“Sekarang kita mau ke mana?”

“Er.. ke mana ya..” ‘Ke mana saja asal bersamamu aku senang.’ Ji Yeon ingin menawab seperti itu, tapi ia enggan untuk melakukannya.

“Jalan-jalan dulu deh. Gajja.” Seung Ho menarik tangan Ji Yeon, membuat Ji Yeon kaget setengah mati.

“Ah.. Mianhae!” Seung Ho kaget melihat tangannya yang menggandeng tangan Ji Yeon lalu melepasnya spontan.

“Gwaenchanna..” muka Ji Yeon memerah. Ia menatap wajah Seung Ho yang kini ikut memerah.

Seung Ho kembali menggandeng tangan Ji Yeon.

Seung Ho dan Ji Yeon memasuki sebuah toko.

“Kamu mau membeli sesuatu?” tanya Ji Yeon.

“Emm.. Lihat dulu apa yang bagus.” Jawab Seung Ho.

“Lihat, kacamata ini bagus tidak?” seru Seung Ho sambil mengenakan kacamata hitam itu. Ji Yeon tertawa.

“Ya~ Kenapa tertawa? Jelek ya?” tanya Seung Ho heran.

“Tidak, cocok untukmu.” Kata Ji Yeon geli melihat tampang culun Seung Ho.

“Hmm.. coba ini.” Seung Ho menyodorkan kacamata dan sebuah topi.”

“Begini?” Ji Yeon berpose.

“Ya~ Kenapa pose mu seperti itu?” Seung Ho dan Ji Yeon tertawa terbahak-bahak sampai dipelototi penjaga toko.

“Hey, kita sudah dilihatin tuh.” Kata Ji Yeon melihat sekelilingnya.

“Ayo pergi.” Ajak Seung Ho sambil menahan tawa.

“Hari ini menyenangkan.” Kata Seung Ho.

“Ne.. Aku.. masuk dulu ya.”

“O.”

Ji Yeon beranjak masuk ke apartemennya.

“Ji Yeon a~” panggil Seung Ho.

“Hm?” Ji Yeon menoleh.

“Aku boleh menghubungimu kapan-kapan?”

“Tentu.” Ji Yeon tersenyum.

“Baiklah. Sampai jumpa.” Seung Ho beranjak pergi.

DRRT.. DRRTT..

“Hm? Hyomin?” kata Ji Yeon melihat layar handphonenya.

“Yobosseyo..”

“Ji Yeon a~! Tolong aku!” terdengar suara panik Hyomin di telepon.

“Waeyo Hyomin?? Apa yang terjadi??” Ji Yeon ikut panik.

“Tolong aku. Gawat.”

“Gawat kenapa??”

“Datang ke apartemenku besok. Bisa kan? Tolong. Aku butuh bantuanmu.”

“Ne. Baiklah. Tapi ada apa sebenarnya?”

“Aku jelaskan besok.” TUUT.. Hyomin menutup telepon sebelum Ji Yeon sempat berkata.

“Wae?? Apa yang terjadi padanya?” kata Ji Yeon heran melihat tingkah temannya.

Sesuai permintaan sahabatnya, hari ini Ji Yeon pergi ke apartemen Hyomin. Ji Yeon memencet bel berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Ji Yeon mencoba menelepon Hyomin. Tapi mesin penjawab yang menjawab.

“Ya~! Hyomin a~! Aku sudah ada di depan! Bukakan pintu.”

Selang beberapa menit, masih belum ada yang membukakan pintu.

Ji Yeon berusaha mengintip ke dalam, dan tidak sengaja pintu itu dapat dibuka Ji Yeon.

“Mwo? Kenapa pintunya tidak terkunci?”

“Hyomin a~! Hyomin!!”

Ji Yeon terus memanggil tanpa ada yang menjawab.

“Grr.. Ke mana sih anak itu.”

Ji Yeon mencari ke semua ruangan, hingga tiba di kamar Hyomin.

“YA~! Kenapa berantakan begini??”

Keadaan kamar Hyomin kacau. Baju-baju berserakan di mana-mana.

“Ji Yeon a~ tolong aku..” isak Hyomin

“Hyomin a~ apa yang terjadi???” tanya Ji Yeon panik melihat keadaan kamar Hyomin.

“Aku.. aku.. direkomendasikan kakakku pada kenalannya untuk mengikuti audisi model iklan.”

“MWO?????” jerit Ji Yeon.

“Jadi yang kamu permasalahkan itu ini??”

“Ya~ Aku memintamu ke sini bukan untuk menjerit.” Kata Hyomin yang masih sibuk dengan baju-bajunya.

“Lalu kenapa kamu bingung? Cuma audisi model saja kan? Kamu hanya perlu berdandan saja.”

“Kamu cantik, makanya kamu menganggap hal ini biasa saja. Sedangkan aku..”

Ji Yeon menarik Hyomin ke cermin. Kemudian melepas kacamata dan kunciran rambut Hyomin.

“Ya~! Apa yang..”

“Lihat, Hyomin. Kamu itu batu permata yang belum diasah. Kamu itu cantik, hanya kamu selalu menyembunyikan kecantikanmu.”

Hyomin menatap dirinya di cermin, wajahnya tampak kusam, bajunya lecek, rambutnya kasar, tidak terlihat cantik sama sekali, menurutnya.

“Tidak.. Aku sangat jelek.”

“Kamu hanya belum dipoles.” Kata Ji Yeon tenang, “Kenapa kakakmu bisa merekomendasikan kamu? Kapan audisinya?”

“Besok. Seorang staff di sebuah redaksi majalah kenalan kakakku, mereka sedang sangat membutuhkan model baru untuk majalah mereka. Aku tidak mungkin bisa melakukannya, tapi aku juga tidak ingin mengecewakan kakakku.” Jelas Hyomin.

“Hmm.. Begitu ya.. Tenang saja Hyomin, kamu itu cantik. Kamu pasti bisa melakukannya.”

“Tapi..”

“Tenang. Ada kau di sini. Aku akan membantumu.” Kata Ji Yeon bangga sambil mengedipkan mata untuk meyakinkan Hyomin.

“…”

“Hyomin a~” Ji Yeon mengguncang badan Hyomin.

“Baiklah. Tapi kamu janji akan membantuku?”

“Janji!” Ji Yeon mengulurkan kelingkingnya sambil tersenyum, “Sekarang kita perlu mempersiapkan dirimu.”

“Hm?”

“Kita perlu membeli baju dan pergi ke salon. Let’s go!”

“Ya~! Ji Yeon a~!”

“Kyaa~ Hyomin a~ Lihat dirimu.”

“Wae?? Jelek?”

“Tidak. Cantik banget!!” Ji Yeon kegirangan.

“Benarkah?” Hyomin tersipu malu.

Ji Yeon dan Hyomin baru keluar dari sebuah salon. Sekarang mereka menelusuri sepanjang pertokoan untuk berbelanja.

Beberapa toko dimasuki, namun tak ada yang cocok.

Ji Yeon dan Hyomin memasuki sebuah butik. Ji Yeon memilih-milih baju untuk Hyomin dan menyuruhnya untuk mencoba baju-baju yang ia pilih.

Sudah berkali-kali Hyomin keluar masuk kamar ganti, namun tak ada yang cocok.

“Sudahlah Ji Yeon, aku memang tidak cocok memakai baju-baju bagus ini.”

“Tidak, semua bagus. Aku hanya ingin mencari baju yang benar-benar pas dengan kamu.” Kata Ji Yeon sambil terus memilih. Hyomin melihat semua baju, tapi tidak merasa ada yang cocok untuknya.

“Hm.. Hyomin, cobna yang ini.”

“Huff.. baiklah.” Hyomin menghela nafas.

“Hyomin a~ sudah?”

Hyomin berjalan keluar dari kamar ganti. Mata Ji yeon terbelalak untuk kedua kalinya.

“Hyomin a~ can.. cantik!!”

“Benarkah?” Hyomin melihat pakaian yang ia kenakan, lalu menatap Ji Yeon yang masih terkagum-kagum.

“Coba taruh tanganmu di pinggang.”

“Begini?”

“Satu lagi. Nah, sekarang coba tersenyum.”

“Begini?” Hyomin melakukan apa yang diarahkan Ji Yeon.

“Yap. Tunggu sebentar.” Ji Yeon mengambil handphone lalu memotret sahabatnya itu, “Lihat, kamu sudah kayak model beneran. Iputta!!”

Muka Hyomin kian memerah.

“Aku yakin kamu pasti diterima. Kita beli yang ini saja.”

“Ji Yeon a~ gomawo..”

“Ya~! Gak usah bilang terima kasih pada sahabat sendiri.” Kata Ji Yeon sambil berkacak pinggang, “Kita mampir ke minimarket dulu yuk.”

DRRRT.. DRRRTT..

Handphonemu?” tanya Hyomin.

“Siapa ini? Nomor tak dikenal.”

“Yobosseyo.” Ji Yeon mengangkat telepon.

“Ji Yeon a~ Ini aku.” kata pria di telepon.

“Hm?” Ji Yeon melihat Hyomin sedang asik mengambil permen, “Seung- Ho??”

“Ne. Kamu sedang apa?”

“Aku sedang pergi dengan Hyomin.” Ji Yeon berusaha mengecilkan suara agar tidak kedengaran Hyomin.

“Oh. Aku ingin mengajakmu keluar malam ini, bisa?”

“Malam ini? Bisa. Bisa!” Ji Yeon mengiyakan ajakan Seung Ho tanpa berpikir lagi untuk kedua kalinya.

“Baiklah, kujemput jam 7 nanti.”

“O.”

“Siapa itu?”

Ji Yeon buru-buru menutup telepon, “Er.. itu.. Oppa.”

“Oppamu? Kapan dia pulang?”

“Mungkin beberapa hari lagi.”

“Oh.. kamu pasti kesepian. Mau makan di rumahku hari ini?”

“Ah. Tidak apa. Aku makan sendiri saja. Aku juga harus beres-beres. Apartemen sudah sangat berantakan. Oppa pasti ngomel kalau dia pulang nanti melihat apartemennya seperti kapal pecah.”

Hyomin tertawa, “Baiklah kalau begitu.”

TBC–

15

Where Will You Go?

by  Anis (KEYzy_KYUmsy)

Judul: Where Will You Go?
Genre: gak yakin (roman angst??)
Ringkasan: Kibum menghentikan tangannya yang tadinya akan menyentuh Jinki yang sedang tertidur. Hatinya seperti lumpuh, tangannya sedikit gemetar, dia tidak mampu menyentuh pipi putih Jinki yang terlihat setengah basah. Dia bisa melihat tanda bekas aliran air mata yang hampir kering di pipi Jinki.
A / N: so’alnya waktu itu, gwu ngebuka file lama….eh nemu lagu ini!!jadi…. yahhh ngalir gitu ajah…=,= saking ngalirnya(???) nyampe-nyampe judulnya ajahh gwu pinjm dari judul lagu yang gwu masukkin dalem cerita .=, =. (Evanescence-Where Will You Go?).

Kibum menghentikan tangannya yang tadinya akan menyentuh Jinki yang sedang tertidur. hatinya seperti lumpuh, tangannya sedikit gemetar, dia tidak mampu menyentuh pipi putih Jinki yang dilihatnya setengah basah. Dia bisa melihat tanda bekas aliran air mata, yang hampir kering di pipi Jinki. Meskipun setengah wajah Jinki tertutupi oleh selimut kuningnya, pemandangan yang Kibum lihat itu nyata dan jelas. Kibum, hanya berdiri dan menatap wajah leader-nya.
“Ah dia masih tidur?!, Kamar mandi sudah kosong tuh!” Jonghyun tiba-tiba masuk, dengan handuk kecil nyangkut dikepalanya, dan melangkah maju untuk membangunkan Jinki.
“Eh! Biar aku saja!, Aku yang akan membangunkan dia!” kata Kibum mencegah. “kamu pergi untuk sarapan saja! sudah kusiapkan!”.
Jonghyun mengangkat bahu, dan meninggalkan kamar “Tapi, ingat! Onew-hyung punya jadwal pagi! Harus cepat Membangunkan dia!” lanjutnya dengan santai keluar kamar.
“Oke!” jawab Kibum singkat.

Kibum menoleh, kearah Jinki yang tertidur. Kemudian dia duduk disamping tempat tidur Jinki, ia menatap wajah Jinki lekat. “Mungkin, aku akan menunggu sampai itu benar-benar mengering!”. Continue reading