LOVE IN THE SILENCE (part 7)

author : dikariani

sebelumnya ff ini telah di publish di blog tetangga ^^

LOVE IN THE SILENCE (part 7)

Pagi telah tiba. Tetapi matahari belum menampakkan wajahnya. Eun Ri berdiri di tepi danau. Sendiri. Menatap danau. Dan menunggu kehadiran matahari. Kepalanya terus berputar –putar.

Kejadian kemaren cukup membuat nya tidak berani menampakkan wujud nyaris seharian. Eun Ri mengurung diri di dalam kamar. Hanya aya, Junsu, Jae Joong dan Yuuri yang senantiasa menemaninya.

Eun Ri kembali teringat semua kejadian masa lalunya. Semua kejadian yang selalu ia pendam selama ini dan ingin ia lupakan.

Tetapi , tidak bisa. Meski ia mencoba melupakannya, bukti nyata kejadian itu masih tersisa di diri Eun Ri.

Kebisuannya.

***

Shi Won termenung di tempat tidurnya. Nyaris semalaman matanya terbuka. Eun Ri. Gadis bisu itu yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.

Shi Won benar-benar merasa bersalah terhadap Eun Ri. Ia terlalu egois sehingga tidak menyadari kenapa gadis itu tidak meminta maaf padanya sedikit.

Bukan, bukan tidak meminta maaf. Tapi Shi Won tidak pernah memberikan kesempatan pada Eun Ri untuk meminta maaf. Tidak sedikitpun.

Kembali hati Shi Won terasa mencelos. Kim Eun Ri, gadis manis berambut panjang yang selalu di kuncir kuda itu memenuhi kepala dan fikirannya.

Shi Won menghela nafas. Ditatapnya notes Eun Ri yang tergeletak di sisi  kasurnya. Tak sampai hati Shi Won membayangkan kehidupan yang dijalani gadis itu selama ini.

Hidup di dunia yang penuh hingar bingar, penuh canda tawa serta suara-suara. Tetapi gadis itu sendiri tidak bisa bersuara. Tidak bisa berkata. Kata. Hanya melalui sebuah notes gadis itu bisa menyampaikan apa yang ia pikir dan rasakan.

Gadis itu berbeda dengannya. Terlalu berbeda. Shi Won yang selama ini bisa mengungkapkan apa yang ia rasa dengan benar selalu enggan berkata-kata. Shi Won selalu diam dan cenderung menjauhi keramaian.

Eun Ri? Gadis itu justru berusaha mencari keramaian. Agar semua orang dapat melihat dirinya. Dan mengingat dirinya. Meski tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya yang mungil itu.

Shi Won kembali menghela nafas panjang. Diraihnya notes yang terletak disisi kasurnya, dengan cepat Shi Won berjalan menuju keluar kamar. Terlalu penat baginya untuk tetap berada di dalam kamar.

***

Eun Ri menutup matanya. Pagi ini dingin. Sangat dingin. Eun Ri memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya. Rasanya ingin berteriak. Tapi lagi-lagi tidak mungkin. Suaranya tercekat.

Ia kembali teringat kejadian itu. Kejadian masa lalu detik-detik dirinya kehilangan suaranya. Detik-detik dimana nyawa seseorang dipertaruhkan. Dan Eun Ri menyelamatkannya.

——–FLASH BACK————

“JAE JOONG!!”

Junsu menatap Jae Joong geram. Jae Joong menatap Eun Ri dan Junsu yang jatuh terduduk di sisi jalan dengan dingin.

“Apa lagi?”

Eun Ri tergidik. Inikah sosok kakaknya selama ini? Kakak yang selalu ia banggakan di depan semua orang? Kakak yang selalu ia sayangi dan ia cintai? Kakak yang selalu tersenyum hangat jika melihat Eun Ri tertawa? Kakak yang selalu melindungi Eun Ri? Inikah kim Jae Joong?

“Oppa…”

Jae Joong menatap Eun Ri. Ada luka di mata Eun Ri. Jae Joong terdiam sejenak, mata Jae Joong melunak. Tetapi kembali mengeras ketika menatap Junsu.

“Bawa pulang Eun Ri, itu tugas mu. ‘tuan muda’ Junsu”

Junsu terdiam melihat sikap Jae Joong. Ia mengerti. Jae Joong memang membencinya. Sangat membencinya. Dan ia juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghilangkan kebencian Jae Joong padanya. Karena satu-satunya cara ia harus lenyap dari dunia ini. Hanya itu.

Jae Joong melangkah meninggalkan Junsu dan Eun Ri yang terpaku menatap sosok Jae Joong dari sisi jalan. Dengan segala macam rasa benci dan iri Jae Joong meninggalkan Eun Rid an Junsu.

Yah, Jae Joong membenci Junsu. Sangat membencinya. Kenapa kim Junsu harus hadir dalam kehidupannya yang bahagia? Kenapa kim Junsu harus menjadi anak pintar? Kenapa kim Junsu harus selalu dibanggakan ? Jae Joong adalah anak tertua dalam keluarga itu,tetapi kenapa harus selalu Junsu dan Junsu serta Junsu yang selalu diandalkan??? Apakah ia tak punya arti dalam keluarga itu??

Jae Joong terus melangkah menyebrangi jalan tanpa menghiraukan apapun yang ada di depannya. Tanpa ia sadari sebuah cahaya melintas mendekatinya.

“ OPPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Jae Joong terpaku. Menatap cahaya itu tidak bergerak. Hanya suara Eun Ri yang ia dengar. Suara jerit Eun Ri. Adik tersayangannya.

‘BRUK!’

***

Jae Joong membuka matanya. Apakah ia sudah mati? Digerakkan tangannya. Tidak. Ia tidak mati. Ia masih bisa merasakan seluruh tubuhnya bergerak.

Dengan perlahan Jae Joong duduk menatap pemandangan di depannya. Junsu terduduk di jalan. Dan Jae Joong terduduk di sisi jalan. Sementara di sisi seberang terlihat Eun Ri berdiri dengan wajah pucat.

Jae Joong menatap Junsu yang telrihat pucat. Kenapa? Kenapa Junsu orang yang ia benci harus menolongnya?? Kenapa????

***

Junsu terduduk dijalan. Kakinya bergetar. Sempat dirasakan aroma kematian mendekatinya. Jantungnya berdebar kencang. Apa yang ia pikirkan????

Tubuh Junsu serasa bergerak tanpa di komando begitu melihat Jae Joong yang diam mematung di tengah jalan memandangi mobil yang melintas menuju ke arahnya.

Gilakah dia? Tidak. Junsu tidak gila. Hanya saja ia merasa itu yang harus ia lakukan.

Junsu mendongakkan kepalanya menatap Jae Joong disisi jalan. Terlihat wajah pucat Jae Joong perlahan berona. Jae Joong selamat. Dan Junsu lega akan hal itu.

***

Eun Ri menatap punggung Junsu yang perlahan mulai beringsut dri tempatnya. Eun Ri menghela nafas begitu menyadari Jae Joong dan Junsu baik-baik saja.

Tetapi, entah kenapa mata Eun Ri menoleh ke sisi kanan Junsu. Seketika wajah Eun Ri memucat. Sebuah truk sedang melintas kea rah Junsu. Sedang Junsu belom menyadari nya.

Entah apa yang membuat Eun Ri begitu berani, kaki Eun Ri melangkah mendekati Junsu. Dengan sekuat tenaga Eun Ri mendekati Junsu. Dengan cepat Eun Ri mendorong tubuh Junsu menjauhi nya. Sangat kencang.

‘BRUKK’

Eun Ri terjatuh di aspal jalan. Sementara Junsu terlempar ke sisi jalan, tepat disebelah Jae Joong.

Eun Ri sempat merasakan sebuah cahaya mendekatinya.

‘Apa itu?’

Detik berikutnya Eun Ri sudah tidak mengingat apa-apa. Hanya gelap dan sebuah suara tubrukan yang mengerikan bergaung-gaung ditelinganya.

———END of FLASH BACK——–

Air mata Eun Ri mengalir. Luka itu terbuka kembali. Ia kembali mengingat hal pertama yang ia sadari ketika membuka mata adalah kehilangan suaranya. Suaranya tidak mau keluar meski Eun Ri berteriak. Teriakannnya hilang ditelan sunyi.

Dan mulai sejak itu Eun Ri hidup dalam kesunyian.

***

Shi Won terdiam di pintu cottage menatap gadis yang berdiri di tepi danau. Seribu pertanyaan terlintas di kepalanya. Beserta perasaan bersalah dan menyesal yang sangat dalam.

“Kim Eun Ri, sedang apa kau?”

***

Eun Ri terdongak begitu merasa sesuatu yang hangat dan bersinar menerpa wajahnya.

‘Matahari’

Eun Ri menatap mentari yang seperti masih malu-malu menampakkan wujudnya dengan semangat. Yah, Eun Ri memang sangat menyukai mentari.

Dengan wajah terdongak ke atas Eun Ri memejamkan mata dan merentangkan kedua tangannya.

‘Selamat datang matahari’

***

Shi Won tercengang. Eun Ri sedang merentangkan tangannya di depan danau. Jantung Shi Won berdegup kencang. Ia khawatir. Apa Eun Ri berniat untuk bunuh diri????

Tanpa Shi Won perintah kaki Shi Won melangkah cepat menuju Eun Ri yang sedang merentangkan tangannya di depan danau. Hanya ada satu tujuan di kepala Shi Won. Menangkap Eun Ri cepat cepat.

***

Eun Ri masih memejamkan mata ketika dirasakannya sesuatu dating mendekatinya. Eun Ri menoleh.

‘BRUKK’

Detik berikutnya Eun Ri merasa hangat dan nyaman. Jauh lebih nyaman dibanding ketika memejamkan mata di hadapan matahari yang berangsur terbit.

***

Shi Won mendekap erat tubuh Eun Ri. Jantungnya berdebar. Entah kenapa ia merasa sangat takut tubuh yang sedang ia dekap ini menghilang dari hadapannya. Berubah menjadi sosok tubuh yang tak bernyawa.

“Mianhae Eun Ri-a, mianhae..”

***

Eun Ri terdiam.

‘Shi Won? Shi Won kah yang memeluknya?’

Mata Eun Ri yang hitam ngejerjap-ngerjap. Tangannya yang lentik dengan pelan mendorong tubuh yang sedang memeluknya.

Eun Ri terdiam.

‘Shi Won-a?’

***

Nafas Shi Won masih memburu. Jantungnya masih berdetak kencang. Eun Ri menatapnya bingung. Shi Won menatap Eun Ri khawatir.

“Jangan melakukan hal itu lagi..kumohon.”

***

Mulut Eun Ri terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu. Tidak. Tidak jadi. Eun Ri tahu keterbatasannya. Dengan cepat di rogohnya sakunya. Tidak ada. Notesnya tidak ada.

“Ini yang kau cari?”

***

Shi Won menatap gadis kecil di depannya dengan hati-hati. Seakan gadis di depan adalah kaca yang retak dan mudah pecah kapanpun. Tangan Shi Won terjulur kearah gadis itu. Menyodorkan sebuah notes. Notes yang tertinggal pada Shi Wonsecara tidak sengaja karena kejadian kemaren.

Gadis itu menatap Shi Won bingung. Matanya berbina-binar.

‘deg’

Jantung Shi Won berdebar. Dapat dirasakan muka Shi Won memerah. Cantik. Sangat cantik. Gadis dihadapannya ini, gadis yang ia benci sekaligus gadis yang membuatnya simpati sangat cantik. Gadis yang bernama kim Eun Ri.

Tidak henti-hentinya Shi Won memandangi wajah Eun Ri yang mengerjap-ngerjap menatap Shi Won bingung.

Shi Won menghela nafas. Ternyata dirinya memang bodoh selama ini. Dirinya terlalu jahad untuk menyadari bahwa Eun Ri adalah gadis yang manis dan mempunyai mata yang sangat indah.

***

Eun Ri mengambil notes yang terjulur dari tangan Shi Won. Sekilas Eun Ri menatap Shi Won yang sedang memandang dirinya.

Seketika wjaah Eun Ri memerah. Ia dapat merasakan wajahnya memanas. Jantungnya berdebar kencang.

‘Kenapa kau menatapku seperti itu Shi Won-a ‘

Dengan kikuk Eun Ri menulis sesuatu di notesnya.

‘Kenapa tiba-tiba meminta maaf padaku Shi Won-a? kau tidak punya salah apa-apa padaku tidak ada yang perlu dimaafkan kan?’

***

Shi Won membaca notes Eun Ri. Hatinya mencelos. Ternyata memang benar. Gadis ini gadis baik. Bukan seperti yang ia fikirkan selama ini. Bahkan gadis ini tidak mempermasalahkan sikap Shi Won kemaren yang cenderung mempermalukannya di muka semua orang.

Ah, Shi Won memang menyesal. Sangat menyesal.

“Sikapku padamu kemaren keterlaluan. Mianhae..”

‘Andwe. Tidak usah di pikirkan’

Eun Ri tersenyum. Shi Won terdiam menatap Eun Ri yang terlihat begitu bersinar. Entah perasaan apa yang menghinggapi Shi Won, hanya rasanya Shi Won merasa sangat nyaman di dekat Eun Ri. Dan Shi Won berharap waktu berhenti. Meski hanya saat ini saja.

“Sedang apa kau disini? Kenapa kau tadi seperti ingin menceburkan dirimu ke danau? Kau ingin bunuh diri???”

Eun Ri menatap Shi Won heran. Shi Won menatap wajah Eun Ri yang sedang menatapnya. mata Eun Ri membesar.

‘Bunuh diri?’

“Loh, bukannya kamu henda bunuh diri disini? Aku lihat kau merentangkan tanganmu seperti hendak menceburkan dirimu kedalam danau”

Eun Ri terdiam menatap Shi Won bingung.

‘Dia pikir aku mau bunuh diri?’

Seketika Eun Ri tertawa hingga membungkuk-bungkuk memegang perutnya. Meski tidak ada satu suara pun terdengar dari mulutnya yang tebruka lebar.

Shi Won yang melihat tingkah Eun Ri langsung merasakan wajahnya memerah. Eun Ri semakin kencang memegangi perutnya yang sakit karena melihat wjaah Shi Won memerah.

‘Ommo, imut sekali wajahnya yang memerah’

‘Aku tidak bunuh diri, kau pikir untuk apa aku bunuh diri’

“Er,, aku pikir, kau… err..”

‘Sakit hati karena perkataan mu kemaren?’

Shi Won terdiam. Ditatapnya wajah Eun Ri yang sedang tersenyum menatapnya. ada luka terlihat disana.

“Mianhae..”

Eun Ri tertawa kembali. Di pukulnya pelan lengan Shi Won sehingga Shi Won terkaget.

‘Aku bukan tipe wanita yang frustasi hanya karena seseorang menghina ku’

Shi Won terdiam. Dalam hati Shi Won menyetujui ucapan Eun Ri. Tentu jika hal itu tidak benar Eun Ri tidak mungkin berada disini. Jauh sebelum ia mereka bertemu.

“Lalu apa yang sebenarnya kau lakukan?”

‘Memeluk matahari.’

“Ne?”

‘Aku sedang berbicara kepada matahari’

***

Junsu terbangun. Dengan malas ia duduk di atas tempat tidurnya. Dengan wajah yang masih ngantuk Junsu menoleh kea rah tempat tidur sebelahnya. Kosong.

“Shi Won-a?”

***

“Berbicara pada matahari?”

‘Ne’

“Bagaimana caranya?”

Eun Ri tersenyum. Ia marentangkan kedua tangannya dan menghadap matahari dengan mata terpejam. Ia tersenyum.

‘Trimakasih matahari, karena kau aku bisa bersama nya disini. Berbicara sebagai kawan untuk pertama kalinya. Tanpa rasa benci’

***

Shi Won terdiam melihat tingkah Eun Ri. Wajah putih Eun Ri yang putih terlihat merona dibawa sinar matahari pagi yang hangat.

Seketika wajah putih itu menoleh kea rah Shi Won, dengan segera muka Shi Won memerah. Untuk kedua kalinya dalam hari ini.

Shi Won menatap Eun Ri yang sedang tersenyum menatap nya sambil mengagguk-anggukkan kepalanya.

Dengan enggan Shi Won mengikuti hal yang dilakukan Eun Ri. Memeluk matahari.

***

Eun Hee terbangun ketika ia meraskaan sinar matahari memasuki kamarnya. Dengan enggan Eun Hee meringsut berjalan menuju jendela kamarnya.

Eun Hee terdiam ketika ia melihat pemandangan yang sangat menyesakkan hatinya.

“Kenapa oppa dekat-dekat dengan gadis tidak punya malu itu?”

***

‘Bagaimana?’

Shi Won menatap Eun Ri. Senyum lembut dan hangat terpasang di wajahnya. Yang membuat wajah Eun Ri merona.

“Hangat”

‘Ne. karena itu akus angat menyukai matahari. Ia adalah temanku’

“Teman?”

‘Ne. ia adalah temanku yang mempunyai keadaan yang sama denganku’

“Maksudmu?”

‘Ia tidak dapat berbicara.’

***

Junsu berjalan keluar kamar. Dengan resah dilangkahkan kakinya menuju pintu luar cottage. Perasaannya sangat tidak enak. Benar-benar tidak enak.

***

Shi Won terdiam ketika membaca notes Eun Ri. Rasa bersalah dan menyesal kembali mendera-dera di dalam hatinya. Eun Ri yang melihat Shi Won tersenyum manis. Yang membuat Shi Won melupakan perasaan itu sejenak.

‘Kau tahu aku sangat menyukai matahari, apa kau menyukainya?’

Shi Won terdiam. Mana mungkin seorang choi Shi Won sempat memikirkan hal itu. Shi Won selama ini selalu disibukkan dengan deretan angka yang tertera di meja kerja nya. Bahkan untuk menyadari kehadiran matahari saja tidak sempat.

“Memang nya kenapa?”

‘Karena matahari selalu membuat orang lain hangat, ia selalu memancarkan sinarnya dan membuat orang bahagia dan nyaman. Meski tidak berbicara sepatah katapun. Aku berharap suatu saat aku akan seperti dia’

Eun Ri menatap Shi Won lembut.

‘Seperti matahari.’

***

Shi Won terdiam. Hatinya berdebar kencang. Gadis di hadapannya benar –benar gadis baik dan ia dapat merasakan hal itu.

Diam-diam Shi Won mulai berjanji di dalam hatinya, apapun yang terjadi ia akan melindungi Eun Ri. Untuk menebus semua perkataannya kemarin. Ia akan melakukan apapun untuk Eun Ri. Apapun. Meski ia harus mengorbankan segalanya.

***

Tanpa Eun Ri dan Shi Won sadari. Junsu menatap mereka dari balik pintu cottage. wajah Junsu menegang.

TBC…

*gomawayo buat yang baca, sebelumnya maaf kalau kommentnya sebelumnya jarang dibales atau ga saya bales >.< tolong dimaklumin saya ngetiknya di kantor >.< but, makasih buat yang udah baca + comment :) *

12 thoughts on “LOVE IN THE SILENCE (part 7)

  1. Seru seru seru
    aih..awas aja tuh klo tunanganx siwon ampe ngapa2in eun ri,lgsg dPutusin ama siwon.ha’
    jungsu ama aya kan? Hehe
    lanjut2 ya author

  2. siwon udah mulai suka sama eun ri
    takut eun hee macem2…
    junsu kenapa?
    aduuh…penasaran…
    lanjutannya jangan lama2 ya…

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s