MEMORABILIA (Memoirs Of Love) Chapter 6

Author : Nyonyatukituki/Asha

# CHAPTER 6 : IN MY ARMS

INCHEON AIRPORT

Aku mencari sosok Hongki di tengah kerumunan banyak orang. Dia bilang dia akan menjemputku pagi ini. Dia juga bilang sudah mempersiapkan kamar khusus untukku. Sebenarnya kupingku sedikit gerah mendengar suaranya sewaktu kemarin ia telepon.

Kulirik jam tanganku, sudah pukul 10.00 tapi Hongki tidak muncul juga. Sudah sepuluh menit aku berdiri di sini menunggu pria itu, apa dia lupa kalau aku paling tidak suka menunggu? Tahu begini aku akan minta Jungmin menjemputku!

Tunggu.. kenapa aku malah mengharapkan Jungmin? Ah~

Aku berbelok ke salah satu stan kopi. Kubeli satu kopi panas sambil terus mengawasi. Benar-benar membuatku muak menunggu.

Aku berbalik arah begitu kopi sudah ada di tanganku. Dan..

BRAKK~!!

Bagus! Kopi panas ini sekarang tumpah begitu saja di mantel putihku. Sial sekali orang ini.

“Oh My God!” marahku.

Pria dihadapanku itu tampak menampilkan raut menyesal, “jwoisonghamnida..”

Aku mengeluarkan tisu basah dari tas tanganku, mengelap mantel putihku yang sekarang berwarna kecoklatan dan berbentuk bundar besar di bagian dada.

Kulepas mantelku, dan yang tersisa hanya atasan berpotongan V rendah berwarna ungu muda.

Pria itu tampak memandangku.

“apa yang kau lihat? Payudara?” tuduhku.

“jwoisonghamnida..” pria itu membungkukkan badan.

Aku terus berusaha menghilangkan noda kopi itu dari mantel tapi sia-sia. Mana mungkin noda itu bisa langsung hilang hanya dengan tisu basah.

“apa yang harus saya tebus, Nona ?” ucap pria itu.

“kau pikirkan saja sendiri! bukankah kau juga punya otak!” aku malah membentak pria itu. sebenarnya aku tidak pernah sekasar ini. ini semua karena aku terlalu lelah karena perjalanan jauh dan Hongki tidak juga muncul!

Pria itu memberikan kartu nama, “ini kartu nama saya. mantel Nona akan saya laundry.. bagaimana?”

Kuserahkan mantelku padanya. “baiklah. Tapi ini bukan kartu nama palsu kan? mantel itu kubeli dari Swiss, asli bulu domba. Jangan coba-coba kau mencuri mantelku!”

“Algesseumnida, Nona..” ucap pria itu. lalu ia membungkuk dan menghilang dari pandanganku.

Kubaca kartu nama sekilas, “Choi Magazine Incorporation? Pria itu redaksi majalah? Tidak ada wajah wartawan..”

“LEE SARANG!!” panggil sebuah suara khas yang kukenal. Dari mana saja dia!

Aku menoleh, sosok Hongki dengan kemeja kotak-kotak dan celana kanvas pendek selutut dan topi melambaikan tangan ke arahku.

Itu Hongki? Kenapa dia.. tampak lebih tampan? Aish~ jinjja.

Pria itu berjalan mendekatiku, ia memandang pakaianku sejenak, “kau berbusana seperti ini? nomu yeppeudaa~”

Aku menarik alis, “mantelku kena noda kopi karena kau terlalu lama!”

“mianhae.. kaja~” Hongki memeluk pundakku sambil mengambil alih kendali koperku.

SEOUL HOSPITAL

Hyewon membuka kembali map yang dibawakan Taeyeon. Hyewon melirik susternya itu dari lensa kacamatanya.

“kau sedang senang, Taeyeon-sshi ?” tanya Hyewon.

“ye, Hyewon-ah. Kemarin lusa adalah ulangtahun paling indah untukku,” jawab Taeyeon.

“wae?” Hyewon tampak tertarik.

“Jungsoo-sshi memperlakukanku seperti seorang putri. memasakkan sarapan, makan siang dan makan malam. Jalan-jalan berkeliling pulau Jeju, naik kereta gantung, menikmati suasana dingin Jeju. Pokoknya aku benar-benar istrinya saat itu..” kenang Taeyeon.

“memangnya hari-hari sebelumnya kau bukan istrinya?” Hyewon tertawa. tapi Taeyeon tidak sama sekali.

“minggu ini Shiwon sedang ke Taipei, entahlah. Dia menyebalkan sekali. Sampai sekarang belum memberi kabar,” keluh Hyewon.

“kau ini selalu seperti anak kecil, Hyewon-sshi. Tenanglah, Shiwon pria baik-baik. Dia tidak mungkin akan melakukan sesuatu yang membuatmu cemas. Mungkin dia sedang sibuk, tidak sempat menghubungimu. Jungsoo sekarang juga sedang menginap di rumah orang tuanya,” ujar Taeyeon.

“untuk apa?” tanya Hyewon.

Taeyeon mengangkat bahu, “dia bilang, dia rindu ibunya.. tidak mungkin aku melarangnya..”

Hyewon mengangguk-angguk, “benar juga..”

“ohya, Hwanjangnim, pasien Ilyeong siap dioperasi dua hari lagi. apakah saya harus mempersiapkan berkas-berkasnya?” tanya Taeyeon sopan, karena ini sudah menyangkut pekerjaan.

“ye. Salhaseyo, Taeyeon-sshi..” ucap Hyewon,

(kerjakan dengan baik)

BUSAN

Jaejin dan Jinki jejingkrakan di kamarnya begitu tahu soal Sarang pulang pagi ini. seorang gadis di antara mereka hanya mampu tersenyum kecil.

“kau belum pernah melihat Sarang secara langsung kan, Chaeju-sshi ?” tanya Jaejin.

Chaeju menggeleng, “belum. Apa dia cantik ?”

Jinki menggeleng lalu mengedipkan sebelah matanya, “tidak. kau lebih cantik darinya, Jagi~”

Chaeju tertawa, Jaejin memukul kakaknya dengan pelan, “YA~ beraninya. Sarang memang tidak cantik. Tapi dia periang sekali. Kau harus bertemu dia, Chaeju-ah..”

Chaeju mengangguk, “ye. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya. Onjeya?”

Jinki mengerutkan kening, “molla. Mungkin dua hari setelah dia pulang. aku takut dia terlalu capek..”

“ye, araseo. Aku menunggu hari itu~” Chaeju tersenyum.

“Hyeong~ apa Appa tau soal ini ?” tanya Jaejin.

Jinki mengangguk, “sepertinya begitu. Bukankah Appa yang langsung diberitahu soal Sarang dari Hongki ?”

Jaejin mengangguk-angguk, “benar juga..”

“telepon.. telepon.. ayo telepon dia!” Jaejin mengeluarkan ponselnya. Menekan nomor telepon Hongki. Kemudian terdengar suara nada sambung.

Hongki menyetir santai. Ia sesekali melirikku, aku merasa sedikit risih.

“jangan menatapku seperti itu, Hongki. Aku tidak suka,” ucapku. Hongki tersenyum lebar minta maaf.

Ia menekan tombol musik di mobilnya. Mengalun lagu mellow yang kukenal. Cepat-cepat kutekan tombol merah.

“jebal jangan nyalakan lagu itu..” pintaku. Hongki tersenyum lagi untuk memintamaaf.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Hongki memasang earphone di telinganya. Lalu wajahnya tampak sumringah.

Ia memberikan earphonenya padaku, aku mengernyit. “terima saja..” ucap Hongki.

“Yeoboseyo?” sapaku.

“SARAAAAAAAANG~~ bagaimana kabarmuuu ?” teriak Jaejin. Aku tau pasti itu Jaejin. Kupingku sedikit sakit mendengarnya.

“ah, Oppa.. aku baik-baik saja. Kau sendiri? Jinki Oppa bagaimana ?” tanyaku balik. senang rasanya mendengar suara kedua kakak kandungku.

Hongki melirikku, ia memamerkan senyumnya lagi.

“kami baik-baik saja. Tenang saja. Apa kau semakin tinggi atau semakin gendut ?” tanya Jaejin. Tidak penting, haha.

“YA~ pertanyaan tidak bermutu! Apa kau sudah punya pacar? Pasti belum!” tebakku. Terdengar suara Jinki tertawa, rupanya teleponku di loudspeaker.

“haha, kau benar Sarang! Jaejin tidak laku!” ejek Jinki. Aku tertawa kecil.

“bagaimana dengan kau, Oppa? sudah punya ya?” ucapku. Kemudian terdengar suara seorang gadis.

“Annyeong, Chaeju imnida. bangabseumnida, Sarang-ah..” ucap gadis itu.

“Ah yaaa~~ begitu rupanya. ya ya, pantas saja kau mengejek-ejek Jaejin. Kau harus memperkenalkannya padaku, Oppa! harus!” ancamku.

“haha, ye. Aku akan memperkenalkan padamu. Aku akan menghubungimu nanti. Oke?” ucap Jinki.

“araseo~ ya sudah, nanti telepon lagi ya. daaaah~~” kuputuskan sambungan telepon.

Kuberika lagi earphone-nya pada Hongki. Ia mengernyit, “kenapa kau matikan? Kau tidak kangen?”

“aku akan menangis kalau mendengar suara mereka terlalu lama,” ucapku.

Hongki manggut-manggut. Kemudian kami berhenti di sebuah rumah berlantai dua dengan taman yang luas.

“uri jib?” tanyaku. Hongki mengangguk.

HONGKI’S HOME

Hongki dan Sarang masuk ke dalam pekarangan rumah seluas 7000 meter itu. Sarang tampak takjub begitu melihat rumah Hongki.

“kau menguras harta Appaku ?” tuduh Sarang.

Hongki tertawa, “untuk apa? ini hasil kerjaku dan Sooyoung Nuna. Kau ini, terlalu cepat menyimpulkan..”

Sarang memandang Hongki penuh rasa bersalah.

“Hongki-ah.. mianhae, aku belum bisa memanggilmu..” ucap Sarang terbata-bata.

“Oppa? tidak apa-apa. aku sepenuhnya mengerti perasaanmu,” sahut Hongki.

“dan untuk memanggil Sooyoung dan Hwang Taerin-sshi..” lanjut Sarang.

“mereka mengerti, Sarang-ah. geokjeonghasimaseyo..” Hongki mengacak-acak rambut Sarang.

begitu Hongki membukakan pintu, suara letusan balon dan beberapa pita menghambur dari terompet-terompet. Dua orang wanita berdiri sambil bertepuk tangan.

“Selamat datang kembali, Sarang-ah..” teriak mereka.

Aku memandang sekeliling, banyak balon dan pita. dan sambutan meriah mereka sedikit membuatku kaget. aku tersenyum kecil.

“tidak perlu disambut seperti ini. aku jadi tidak enak,” ucapku.

Hwang Taerin memelukku, tapi aku sedikit risih, “tidak apa-apa, Sarang. Kami semua sudah merindukanmu.”

Aku tersenyum masam, “gomabseumnida.”

“Sarang, ayo ke atas. Kuperlihatkan kamar yang sudah kami persiapkan,” ajak Sooyoung. Aku menurut.

Kami naik ke lantai dua. lalu masuk ke dalam pintu kedua yang tertulis “Lovely Room for Lovely Love”

Aku menahan senyumku, kamar tercinta untuk Sarang tercinta? Ada-ada saja.

Sooyoung membuka pintu kamarku. Dan aku benar-benar terkesiap melihat kamarku benar-benar serba warna biru muda dan ungu muda. warna kesukaanku dan Joe.

Ya Tuhan, bahkan aku terpaksa harus mengingatnya lagi.

“eotte? Joha?” tanya Sooyoung.

Aku tersenyum, “nomu johahae..”

“syukurlah. Kalau kau tidak seberapa nyaman dengan warna kamarmu, kau bisa bilang. Akan secepatnya kuganti wallpaper kamarmu,” ucap Sooyoung.

“gomabseumnida,” ucapku lagi.

Setelah makan siang aku memutuskan untuk menghubungi Kyungmi. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Ilyeong. Meskipun melihatnya sama saja menguak luka di dadaku. tapi bagaimana pun juga, aku harus merawatnya.

“kau yakin ingin pergi sendiri?” tanya Hwang Taerin.

“ye. Tidak apa-apa..” jawabku.

Hongki melempar sebuah kunci. Aku mengernyit, “bawa saja mobilku. kau bisa menyetir kan?”

Aku mengangguk. “gomabda, Hongki-ah..” ucapku terbata, tidak enak dengan Hwang Taerin.

“jaljinne, Sarang-ah..” pesan Hwang Taerin. Aku mengangguk.

Mobil metalik tanpa cap milik Hongki manis juga. Aku segera melajukan mobil ke tempat aku dan Kyungmi berjanji untuk bertemu.

ICE ISLAND

Tak lama kemudian, aku sudah sampai. Dan Kyungmi langsung melambaikan tangannya, Changsun ada di sana. Dan juga Ilyeong.

Rasanya aku rindu sekali dengannya. Aku menitipkan Ilyeong pada Kyungmi saat dia berumur 14 bulan.

“Oppaaaa~~” aku langsung menghambur ke pelukan Changsun. Badannya hangat sekali, sama seperti dulu. Changsun mengelus rambutku lembut.

“kau baik-baik saja ?” tanya Changsun, ia menatapku dalam. Aku mengangguk.

“sama seperti yang kau lihat..” jawabku sambil menunjukkan badanku.

“kau tampak kurus, Sarang-ah,” ucap Kyungmi. Aku memeluknya erat. Gadis ini yang sangat tulus membantuku. Sahabatku, sahabat terbaik yang pernah kupunya.

“tapi aku baik-baik saja..” elakku.

Aku memandang Ilyeong. Melebarkan lenganku, berharap dia menghambur ke pelukanku.

Ilyeong memandangku lama. Rasanya sakit sekali jika aku harus menghadapi kenyataan bahwa Ilyeong tidak mengenaliku sebagai ibunya.

Tiba-tiba Ilyeong menyambut pelukanku.

“Mama?” panggilnya. Aku kaget. kupandang Changsun dan Kyungmi bergantian.

Mereka mengangkat bahu.

“Mama?” ulang Ilyeong.

“ya sayang? Maafkan Mama… apa Mama sudah terlalu lama mennggalkanmu?” tanyaku. Air mataku menetes.

Ilyeong menggeleng, “animnida. Mama sudah sembuh? Ilyeong berdoa agar Mama cepat sembuh..”

Aku kaget untuk kedua kalinya. Kyungmi memberikan isyarat mengenai penjelasan itu. aku tersenyum, “Mama sudah sembuh Sayang. Apakah kau senang Mama sudah pulang?”

“ye. Jeongmal bogoshippeoyo, Mama..” ucap Ilyeong.

Kulepas pelukanku, kupandangi anak laki-laki itu lekat, “apa kau senang tinggal bersama Kyungmi Ahjumma dan Changsun Ahjusshi ?”

Ilyeong mengangguk, “ye, Mama.. Ilyeong senang sekali..”

Aku tersenyum, “mulai sekarang, Ilyeong tinggal bersama Mama ya?”

Ilyeong mengangguk, “jinjja? yaay.. yaay..” bocah itu berceloteh senang.

Hatiku lega sekali, reaksi Ilyeong baik-baik saja. Aku sudah berpikir yang tidak-tidak soal dia yang akan menolakku, dan tidak menganggap aku ibunya.

“jeongmal kamsahamnida, kalian sudah sangat banyak membantuku. Kalau tidak ada kalian..” ucapku, tetapi disela Kyungmi sambil menggenggam tanganku.

“itulah gunanya sahabat, Sarang..” kata Kyungmi tersenyum.

“Oppa, soal tawaranmu dulu.. gomawo. Tapi kau pantas dapatkan gadis baik-baik,” ucapku.

Changsun tersenyum, “gwaenchanha Sarang-ah. Sepertinya gadis baik-baik itu akan segera mengerti jika aku menjelaskan bahwa orang tua Ilyeong sudah kembali dan membawa Ilyeong..”

“mwo? Sudah ada calon?” aku kaget.

“ye. Namanya Lee Eunchan, salah satu duta kebudayaan Korea. Orangnya memang lebih cantik darimu, tapi.. dia tukang mengomel!” ucap Kyungmi.

Aku tertawa, “benarkah?”

Kyungmi mengangguk, Changsun tampak malu. Aku tertawa semakin keras. Syukurlah, jika Changsun sudah dapatkan gadis untuk calon istrinya. Dia tidak perlu mengorbankan dirinya karena kesalahan Joe.

Mana mungkin aku membiarkan dia menikahiku, bertanggungjawab atas apa yang tidak ia perbuat. Changsun terlalu baik untukku.

HOME

Aku sedikit kaget saat Changsun dan Kyungmi mengatakan bahwa Ilyeong harus operasi tenggorokan. Melihat wajah lugu Ilyeong yang tertawa riang membuatku tidak tega.

Hwang Taerin dan Sooyoung senang sekali sewaktu aku pulang bersama Ilyeong. Begitu juga Hongki. Sepertinya Ilyeong tahu siapa mereka, maksudku bahwa Sooyoung dan Hongki adalah paman bibinya sedangkan Hwang Taerin adalah neneknya.

“Halmoni.. bolehkan minta es krim cokelat?” pinta Ilyeong sambil menunjuk kulkas.

Hwang Taerin membukakan kulkas. Tapi kutahan.

“Ilyeong.. sementara tidak boleh makan eskrim dulu ya? tenggorokan Ilyeong harus diperiksa ke dokter. Nanti, kalau sudah sembuh, Mama akan belikan banyaaaak sekali es krim cokelat..” ucapku.

Ilyeong tampak kecewa, aku tidak tega.

“es krim cokelat, jalan-jalan, dan kue cokelat yang banyaaaaak sekali. Setuju?” bujukku.

Ilyeong tersenyum, “ye, Mama..”

Sementara Ilyeong sedang sibuk bermain air di kolam renang tiup bersama Sooyoung dan Hwang Taerin, aku duduk menyesap teh panasku sambil memandang mereka.

“aku ada pekerjaan untukmu. Kau tinggal serahkan CV lamaran kerja ke bagian personalia. Mereka sudah sediakan tempat untukmu..” ucap Hongki tiba-tiba datang.

“maksudmu?” aku tidak paham.

Hongki mengangsurkan sebuah majalah remaja. “Choi Magazine Incorporation. Pemiliknya adalah temanku. Dia kenal kau. saat aku bilang kau butuh pekerjaan, dia langsung berikan job sebagai penulis di majalah remaja ini. kau mau tidak?”

Choi? Sepertinya aku pernah dengar nama ini. dimana ya.. aduh, aku lupa!

Hongki menyenggolku, “so?”

“baiklah. Kapan aku harus ke sana?” tanyaku.

“kapan pun kau siap bekerja,” jawab Hongki.

Aku mengangguk mengerti, kemudian Hongki menepuk pundakku.

“sebaiknya setelah Ilyeong sembuh,” ucapnya.

“ye..”

JUNGMIN’S HOME

Jungmin lelah sekali rasanya setelah seharian memantau supermarket. Untunglah Ibunya membuatkan sup iga sapi sehingga perutnya rasanya sedikit hangat.

Rumah sepi, hanya ada Jungmin dan Ibunya. Sisanya sedang keluar, mungkin mengunjungi cabang supermarket lainnya.

Rrtt.. Rrrt..

Ponsel Jungmin bergetar hebat di meja. Cepat-cepat pria itu mengambil ponselnya.

[ sender : LEE SARANG ]

[send to : PARK JUNGMIN ]

HEI. AKU SUDAH DI SEOUL. SUDAH MENEMUI ANAKKU JUGA. RASANYA TIDAK LENGKAP TANPA BERTEMU SILUMAN KUDA ^^

Jungmin tertawa membaca pesan singkat dari Sarang itu. ia pun membalas pesan itu dengan mengirimkan alamat rumahnya. Karena Jungmin tidak bisa menemui Sarang, supermarket sedang sibuk-sibuknya.

Jungmin berjalan ke ruang tengah, menyalakan tivi. Kemudian ia memandang salah satu figura yang terpajang di dinding. Jungmin melihat foto pernikahan itu lekat-lekat. Rasanya benar-benar ada yang salah. Sampai saat ini, Jungmin belum sadar sesuatu pun. Tapi hatinya selalu bergetar dan membuatnya gelisah setiap kali Jungmin memandang foto pernikahan itu.

CAFE BAR

Jonghun menoyor kepala Kibum saat ia sudah datang dan duduk di meja yang sama dengannya.

“untuk apa kau memanggilku malam-malam begini Key? Apa minum saja juga harus ditemani?” omel Jonghun.

Kibum menggeleng, ia meneguk soju langsung dari botolnya. Jonghun mengelengg-gelengkan kepala.

“kenapa kau ini Key? Bukankah kau tidak tahan minum?” tanya Jonghun.

Kibum nyengir, “ye. Justru itu aku ingin minum..”

Jonghun mengambil botol soju Kibum, dan menjauhkannya dari jangkauan Kibum.

“hentikan, Key. Kau seperti bocah berusia 11 tahun yang tengah mengancam orang tuamu yang tidak membelikanmu ponsel!” omel Jonghun.

“Shikkeureo, Sunbae!! apa yang orang pikirkan tentang aku? aku tidak peduli!!” ucap Kibum mencoba merebut botol sojunya lagi.

“KEY! Apa Hyunjae membuatmu seperti ini?!” tanya Jonghun.

“kenapa? Apa yang salah dengan mencintai wanita yang lebih tua? Apa itu dosa?” tanya Kibum.

Jonghun menarik nafas, “Key.. kau kekanak-kanakan..”

“Apakah dalam alkitab tertulis bahwa pria tidak boleh jatuh cinta pada wanita yang lebih tuaa? Tidak ada kan?” oceh Kibum.

“Key. Ini bukan soal umurmu dan umurnya! Tapi soal sikapmu! Berpikirlah dewasa. Orang akan menghinamu jika sikapmu terus-terusan seperti anak kecil!” ucap Jonghun mencoba menyadarkan Kibum.

“diam kau Sunbae! kau pikir kau sukses dalam kisah cinta? Lalu kenapa kau putus dengan gadis bermarga Lee itu? kau dicampakkan karena kau lebih mencintai gitar dan pianomu dari pada dia? Haa? Atau kau mencampakkanya karena kau sudah dapat tubuhnya? Haa.. jawab aku, Sunbae..” tanya Kibum. Pikirannya sudah kacau.

PLAKK~!!

# TO BE CONTINUED..

11 thoughts on “MEMORABILIA (Memoirs Of Love) Chapter 6

  1. ini dah di post di fb ya??
    tp g pa2 aq mau baca lagi…
    hehehehehe
    abis klo di fb note’x udah yg terbelakang.. (diblakang bgd maksud’x)

    btw, asha kq name’x ganti?

  2. haha iya ganti uname :)
    soalnya eurekalee kan nama pena yang aku pake buat lomba bikin novel.
    jadi aku bikin blog wp buat diriku sendiri. kan aneh kalo pake nyonyatukituki.
    nah akhirnya pake eurekalee-teuk tanpa melupakan teuk tersayang :)

  3. ya ampuun eommaa..
    nih FF dilanjut euiiii
    gw kira bakal keputus ditengah jalan ..
    habis uda dari jaman kapaaaaan enggak dilanjut2 ..

    tapi syukurr dilanjut ..
    hhahha

    hampir putus asa niih nungguin
    *reader lebee*
    sarang bneran bakal balik ke korea ato enggak..
    sarang bakal ktemu anaknya ato enggak *kasian niih anak ditelantarin*
    bakal happy end sama jungmin ??
    akankah ??

    lanjut deehh eomma !!
    *jempol jempol*

  4. Seru tp msh ttp bingung blm ngerti alurnya, apalagi partnya jungmin msh misterius…

    Saran: Kyknya lbh enak di bc klo anak kclnya ngomong informal aja deh,,,

    dtngu lanjutannya

  5. aku reader baru disini.. pas liat-liat pengen baca.. aku langsung baca ff ini *gak ada yg nanya*..

    ff nya bgus bgt! lanjutin onnie

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s