YOU ARE MINE part 5

AUTHOR :: Yuyu


HEE CHUL POV
“noona!” teriak pelayan ber-badge name Choi Min Ho yang dari tadi terus melayani kami. Aku mengikuti pandangannya ke arah seorang yeoja yang tengah duduk bersama namja yang tadi ku lihat. Dia membelakangi kami, ketika dia membalikkan wajahnya untuk menjawab panggilan tersebut, kulihat wajah seorang yeoja dengan senyum manis yang hampir saja kulupakan. Perlahan-lahan senyum di wajahnya menghilang ketika dia menatapku, aku tidak lagi melihat pancaran kebahagiaan dari bola matanya. Kini dia terlihat, entahlah, takut mungkin? Yang pasti dia terlihat sangat tidak tenang.
“noona, ada tender untukmu!” teriak pelayan itu lagi.
Aku terus menatapnya, tanpa bisa mengalihkan perhatianku darinya. Namja yang duduk di depannya terlihat bingung dan memanggilnya, yeoja itu kembali membelakangiku, dia terlihat sedang berbicara dengan namja itu, dia menggeleng lemah lalu berjalan ke arah kami. Aku terus saja memperhatikan gerak-geriknya.
“annyeong.” Katanya begitu dia sudah berdiri di samping pelayan itu, di depanku tepatnya. Dia menundukkan kepalanya sedikit dan tidak berani menatapku.
“Youn Ji? Oh Youn Ji kan?” tanya Han Kyung.
“Ye..” lagi-lagi dia tersenyum kecil.
“noona, kau kenal mereka?”
“kami teman satu sekolah.” Han Kyung segera menjawab.
Sementara aku masih belum bisa berkata-kata dan tidak berhenti menatapnya, meski aku tau dia tidak akan melihatku.
“Hee Chul-ah, gweanchana?” Han Kyung menyenggol lenganku pelan.
“sepertinya aku masih jet-lag, aku tunggu di mobil, kau saja yang urus semuanya.” Akhirnya aku bisa mengalihkan pandanganku darinya.
“araseo, istirahatlah.” Kata Han Kyung lembut, aku yakin dia tau apa yang sebenarnya terjadi padaku.
Detik itu juga, aku langsung keluar dari toko tersebut. Karena aku tidak tau apa yang akan kulakukan jika aku masih berada di depan Youn Ji 1 detik lebih lama.
Kenapa bisa langsung bertemu dia? Siapa namja yang duduk dengannya? Namjachingu-nya kah?
Kenapa aku masih saja memikirkannya? Kenapa aku tidak bisa membuang dia dari pikiranku?
Entah sudah berapa lama aku berdiri di depan Smile Bakery ini, dan selama itu aku terus mencoba untuk menenangkan diriku sendiri.
“aku sudah mengatur semuanya, kajja! Aku antar kau pulang.” Han Kyung keluar dari toko dan menarik tanganku. Aku hanya diam saja dan mengikutinya.
Han Kyung tidak menanyakan atau mengatakan apapun padaku tentang Youn Ji. Dia hanya terus bercanda denganku. Aku tau dia sedang berusaha menghiburku.

YOUN JI POV
“Youn Ji-ah, gweanchana?” begitu sampai di depan rumahku, Si Won oppa langsung bertanya, dan dia terlihat sangat cemas.
“gweanchana oppa, aku hanya merasa tidak enak badan. Mianhae, tidak jadi menemanimu makan siang.” Jawabku lemah
“tidak apa-apa. Istirahatlah, jangan sampai sakit, araseo?”
“araseo oppa. Oppa pergilah makan, sudah jam 1.”
“ne, oppa pergi dulu ya.” Dengan berat hati Si Won oppa pergi dari rumahku.
Haaah! Yang kubutuhkan saat ini hanyalah istirahat. Kepalaku pusing sekali. 4 tahun, dia benar-benar kembali. Apa yang dipikirkannya ketika melihatku ya?
Aku masuk ke kamarku dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Kubuka penutup kotak itu dan mengeluarkan selembar foto yang terlihat mulai usang.
“selamat datang kembali,” ucapku pelan sambil terus melihat foto itu, karena aku tidak akan bisa mengatakan langsung padanya.
Aku kembali teringat alasan dia dan Han Kyung datang ke toko rotiku. Keluarga Hee Chul akan mengadakan pesta pertunangan LeeTeuk-Sarang, jadi mereka memesan cukup banyak roti dari kami. Aku memang menerima pesanan mereka, tapi bukan karena aku ingin dekat-dekat dengan dia. Aku melihat ini sebagai peluang bisnis yang sangat baik. Kalau saja bukan dia yang memesan, kurasa akan lebih baik lagi. Baiklah!
“Oh Youn Ji! Hwaiting! Kau harus fokus pada pesanan itu saja!” kataku pada diriku sendiri di depan cermin.
***
setelah beberapa hari menyibukkan diri untuk mengurusi pesanan itu, akhirnya selesai juga. Semua pesanan sudah kami siapkan dan akan diantarkan sore ini, 1 jam sebelum pesta di mulai. Dan aku bisa bersantai sekarang, karena Min Ho lah yang akan memastikan apakah pesanan itu diantar dengan selamat atau tidak. Meski aku ingin sekali bisa melihat pesta pertunangan Sarang dan mengucapkan selamat kepadanya, tapi itu berarti aku harus bertemu dengan Hee Chul lagi. Aku tidak mau itu terjadi lagi!
Akhir-akhir ini aku tidak bisa tidur dengan baik, kepalaku jadi sakit lagi. Jadi malam ini aku hanya akan mandi yang bersih dan ‘berduaan’ dengan bantalku saja.
Baru saja selesai mandi, kudengar telponku berdering,
*Min Ho calling*
“yeoboseyo.. wae yo, Min Ho-ah?” sapaku.
“noona, mianhae, sepertinya aku.. hatchii! Sepertinya aku tidak bisa memastikan roti-roti kita sampai atau tidak. Hatchii! Aku terserang flu, hatchiii!” suara diseberang sana terdengar sangat parah.
“mwo? Ah~ araseo, aku akan memastikannya sendiri.” Kataku dengan berat hati.
“jinjja? Geundae, kau akan pergi dengan siapa noona? Si Won hyung kan sedang ada di luar kota?”
’gweanchana, aku bisa naik taksi kok. Min Ho-ah, istirahat dan cepat sembuh ya.”
“ne, noona. Gomawo.”
Haah! Mimpi apa aku semalam? Kenapa jadi aku yang harus ke sana untuk mengecek rotinya?
Akhirnya dengan malas-malasan aku mengganti baju kaos dan celana pendekku dengan dress selutut berwana peach, kupakai juga cardigan warna hitam ku. Meski sebenarnya aku tidak ingin memakai make up, tapi aku tidak ingin mereka melihatku dan mengira aku baru bangun tidur. Jadi aku hanya memulas make up tipis pada wajahku.

HEE CHUL POV
Suasana rumah appa sangat meriah hari ini, meski tamu-tamu baru berdatangan, tapi terlihat sangat ramai. Dengan malas-malasan aku tersenyum pada para tamu undangan yang kulalui. Di mana hyung? Kenapa dia selalu berduaan dengan Sarang saja sih? Apakah dia tidak kangen padaku, dongsaeng nya?
‘Hee Chul-ah!” tuh, yang diomongin baru aja nongol.
“ya, hyung, mana Sarang? Tidak bersamamu?”
“ani, dia sedang bersama-sama temannya. Dia senang sekali karena bisa bertemu teman lamanya.”
“nugu?”
“hhm, R-A-H-A-S-I-A.”
“dasar hyung pelit!”
“oh iya, kau tidak mau mengucapkan selamat padaku?” tanya hyung tiba-tiba.
“oh, ye. Selamat Hyung, akhirnya kau dan Sarang bertunangan juga.”
“gomawo.”
“jagiya, kau ke mana saja? Aku mencarimu dari tadi.”
“ah, mian. Kupikir kau ingin menghabiskan waktu dengan temanmu berdua saja.”
“tapi dia sudah pulang.”
“cepat sekali?”
“hmm~ aku sudah menahan dia agar jangan pulang dulu dan menginap di sini, tapi dia tidak mau.”
Haaah! Kalau mereka berdua sudah masuk ke dunia mereka sendiri, itu artinya aku harus segera lenyap dari pandangan mereka.
“ya, Hee Chul-ah! Lebih baik kau antar teman Sarang itu. Sekarang hujan sudah mulai turun, dan sepertinya akan turun semalaman.”
“mwo? Kenapa harus aku?” bantahku.
“tapi kasihan kan kalau Youn Ji harus pulang sendiri.” Jawab Sarang cepat.
“Youn Ji?” tanyaku ragu.
“hem, kami tau kok kalau kau sudah bertemu dengannya lagi setelah kau pulang ke Korea. Antar lah dia.” Kata hyung lembut.
Aku berpikir sesaat. Aku tau kalau aku mengantarnya pulang sekarang, perasaanku akan menjadi tidak menentu lagi. Tapi tidak mungkin aku membiarkan dia pulang sendirian dengan cuaca seperti ini.
“aku pergi dulu!”
Aku yakin dia belum pergi terlalu jauh. Hujan mulai turun lebih deras, dan hembusan angin sangat kencang, membuat jangkauan mataku menjadi semakin terbatas, kulajukan mobil perlahan-lahan agar tidak melewatkan Youn Ji yang mungkin saja kulalui tanpa kusadari.
Sepertinya itu dia! Ku fokuskan mataku agar melihat dengan lebih jelas.
Tapi tiba-tiba saja, mobil brengsek ini mogok!
“sial!” umpat ku,”kok malah mogok sih.”
Masih dari dalam mobil, kulihat Youn Ji berlari-lari kecil ke tepi jalan berlindung dari hujan. Bajunya basah kuyup. Kuambil payung yang sengaja kubawa dan kuletakkan di kursi belakang, lalu turun dari mobil dan segera menghampirinya. Dia melihatku dengan sangat terkejut. Tapi dia tidak berkata apa-apa padaku.
“hujan nya sangat lebat. Tapi aku tidak bisa mengantarmu, mobilku mogok.” Kataku sambil menunjuk mobil yang kuparkir beberapa meter dari tempat kami berdiri.”akan ku panggilkan taksi.”
“tidak perlu. Aku sudah memanggil beberapa taksi dari tadi. Tapi tidak ada yang mau beroperasi lagi. Para supir memutuskan untuk pulang karena hujannya sangat lebat.” Jawabnya pelan.
“lalu, apa tidak ada yang bisa mengantarmu pulang?” tanyaku lagi.
Kali ini dia tidak menjawab, dia hanya menggeleng. Tidak ada yang bisa mengantarnya pulang? Bagaimana dengan namja itu? Bukankah namja itu adalah pacarnya? Kenapa tidak minta dia untuk mengantarnya pulang saja? Hampir saja aku membuka mulut untuk bertanya, tapi kuurungkan niatku.
“jadi, apa yang akan kau lakukan?”
“aku rasa aku akan menunggu hingga hujannya mereda dan berjalan pulang.”
Aku melihat sekitarku untuk mengetahui di tempat apa aku sekarang. “hujannya akan lama, mungkin sampai tengah malam. Kau yakin mau menunggu di sini?”
Lagi-lagi dia hanya diam.
Aku menghela nafas pelan,”ikut lah denganku.” Perintahku sambil menarik tangannya.
“mau ke mana?” dia mencoba untuk melepaskan tarikan tanganku.
“ke apartemenku, tepat di belokan sana. Lebih baik kau menunggu hujan reda di tempatku.”
“tapi …”
“apa kau mau mati kedinginan di sini?”

AUTHOR POV
Begitu membuka pintu apartemen, Hee Chul segera masuk dan membiarkan Youn Ji yang menutup pintu. Tanpa berkata apa-apa Hee Chul langsung masuk ke kamarnya, sementara Youn Ji di tinggal begitu saja di ruang depan.
“nih, mandi dan gantilah pakaianmu. Masih ingatkan di mana kamar mandi nya?” tanya Hee Chul sambil memberikan kemeja putih dan celana panjangnya.
“ne. kamsahamnida.” Youn Ji segera berjalan melewati Hee Chul menuju ke kamar mandi.
“jangan lupa mandi air hangat.” Teriak Hee Chul. Tanpa menunggu jawaban Youn Ji, Hee Chul kembali masuk ke kamarnya dan menganti pakaiannya yang basah.
Setelah mengganti dengan pakaian bersih, Hee Chul mengambil handuk kecil dan mengeringkan rambutnya yang basah, memandang sebentar ke pintu kamar mandi yang masih tertutup dan akhirnya berjalan menuju ke dapur untuk membuat 2 gelas cokelat panas.
Begitu Youn Ji selesai mandi, dilihatnya Hee Chul sudah duduk di sofa sambil mengganti-ganti channel tv dan meminum segelas cokelat panas.
Youn Ji hanya berjalan dalam diam, mendekati Hee Chul. Hee Chul yang menyadari kedatangan Youn Ji segera mengangkat gelas yang berisi cokelat panas yang dari tadi tergeletak di meja dan memberikannya pada Youn Ji.
“duduklah.” Kata Hee Chul sambil kembali terpaku pada layar tv.
Lagi-lagi Youn Ji menuruti perkataan Hee Chul dalam diam.
Setelah beberapa menit berdiam diri, akhirnya Hee Chul kembali membuka percakapan.
“kau baik-baik saja? Kau kedinginan?”
“ah. Aniyo, aku baik-baik saja.”
“baguslah kalau begitu.”
Tapi kemudian suasana kembali hening.
“apa kabar?” kali ini Youn Ji yang memulai percakapan.
Seolah tidak percaya, Hee Chul langsung menoleh ke arah Youn Ji dan terus menatapnya,”aku baik-baik saja. Kau sendiri?”
“aku juga baik-baik saja.”
“Smile Bakery, itu punya mu?”
Youn Ji hanya mengangguk.
“nama yang sederhana. Seperti Tae Jun. Bagaimana kabarnya?” Hee Chul sengaja mengalihkan pembicaraan ke Tae Jun
“dia.. sangat bahagia sekarang.” Youn Ji terlihat ragu ketika mengatakannya.
“baguslah kalau begitu. Sampaikan salamku padanya. Mungkin besok-besok aku akan melihat dia.”
Youn Ji memegangi kepalanya dan memejamkan matanya, Hee Chul merasakn nafas Youn Ji menjadi berat.
“waegeure?” tanya Hee Chul panik.
“gweanchana. Hanya sakit kepala saja.”
“apakah karena kehujanan tadi?”
‘entahlah, beberapa hari ini aku memang sudah sakit kepala.”
Hee Chul masih terus melihat Youn Ji, “kau harus tidur dengan baik.”
“mwo?”
“kau sakit kepala karena kurang tidur kan?” Hee Chul kini melipat kedua tangannya di depan dada dan yang dilihat malah menunduk.
‘bagaimana kau bisa ingat?’ batin Youn Ji, tapi tidak berani untuk mengeluarkannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, baik Youn Ji maupun Hee Chul masih terus duduk dan menonton tv. Hee Chul sudah menyuruh Youn Ji untuk tidur 2 jam lalu, tapi Youn Ji tidak mau karena dia bilang ingin segera pulang begitu hujan reda.
Hee Chul menatap ke arah jendela, masih terlihat jelas hujan sama sekali belum reda, malah tambah deras.
“Yaaa, sebaiknya kau tidur saja, hujannya justru tam..” belum selesai berbicara, Hee Chul merasakan sesuatu mendarat di pundaknya. Ternyata Youn Ji yang kelelahan sudah tertidur. Hee Chul tersenyum kecil lalu beranjak dan menggendong Youn Ji menuju kamarnya.
Dengan hati-hati Hee Chul membaring Youn Ji diatas tempat tidurnya, menarik selimut sepelan mungkin agar tidak membangunkan Youn Ji.
Hee Chul berjongkok di sisi tempat tidur dan menumpukan dagunya di atas tempat tidur.
“Youn Ji-ah, jeongmal bogoshipo.” Hee Chul mengecup kening Youn Ji dan berjalan keluar, kembali duduk di sofa dan menonton tv.

YOUN JI POV
Hmm~ kubuka mataku perlahan. Tidurku semalam sangat nyenyak. Sudah lama aku tidak tidur sepuas ini. Kupandangi langit-langit kamar yang berwarna putih. Kenapa aku merasa sangat asing? Dengan cepat aku melihat sekelilingku. Ini bukan tempat tidurku, ini bahkan bukan kamarku!! Akhhh! Di mana aku? Kenapa aku bisa di sini?
Ku tenangkan diriku sendiri dan mulai mengingat-ingat kejadian semalam. Ah! Kemarin hujan deras dan aku berteduh di apartemen Hee Chul. Tapi bagaimana aku bisa ada di kamarnya? Bukankah kemarin aku menonton tv di depan? Mana dia?
Aku turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah ruang depan sembil terus melihat ke sekelilingku, kalau-kalau saja Hee Chul tiba-tiba muncul. Ternyata dia tertidur di sofa! Sepertinya dia tidur malam sekali, tv yang di tontonnya pun malah balik menonton dia tidur. Kuambil romete tv dan mematikan tv tersebut. Lalu kupandangi wajah polosnya ketika tertidur. Sama sekali tidak berbeda, masih sama dengan 4 tahun lalu. Tidak habis pikir, bagaimana bisa wajah sepolos ini selalu berhasil mengerjaiku dulu.
Kualihkan perhatianku ke jendela yang masih tertutup tirai, kubuka tirai perlahan-lahan dan sesekali menoleh ke belakang, takut membangunkan Hee Chul. Dari lantai 6 ini, masih terlihat jelas jelas para pejalan kaki yang lalu lalang sambil membawa-bawa payung. Yah, hujan deras kemarin sekarang digantikan dengan rintik-rintik air. Apakah hujannya tidak berhenti dari semalam?
Sekali lagi kulihat Hee Chul masih tertidur pulas. Kuambil selimut dari kamarnya dan meletakkannya diatas tubuh Hee Chul.

HEE CHUL POV
Aku belum membuka mataku, tapi dapat kurasakan sinar matahari mulai memasuki ruang apartemenku. Dengan malas-malasan kubuka mataku. Benar saja, cahaya kekuningan menyusup masuk dari jendela. Sepertinya hujan sudah sepenuhnya berhenti. Tunggu dulu! Bukankah aku sudah menutup tirai semalam? Kenapa masih terbuka?
Aku tersentak dan segera berjalan ke kamar. Kamar itu kosong sekarang, dalam keadaan rapi, seolah-olah tidak ada orang yang tidur di sana sebelumnya.
Dia sudah pulang, tanpa berkata apa-apa padaku. Bahkan tidak satu ucapan terima kasih.
Baru saja aku tertunduk lesu, kudengar suara gemerisik dari dapur, tanpa pikir panjang aku langsung menuju dapur.
‘ah, kau sudah bangun?” tanya orang yang sedang berkutat dengan mesin pembuat kopiku.”mau kopi?”
aku mengangguk dan duduk di depan meja makan sambil memandangi makanan yang terhidang di sana.
“gomawo” begitu orang itu menyerahkan secangkir kopi padaku.”ini kau yang beli?” tanyaku sehabis meneguk kopi dan mulai mencicipi makanan yang menggugah seleraku.
“aniyo, apa aku pernah sebaik itu padamu?”
aku tidak menggubrisnya dan tetap saja makan.
“yaa, Hee Chul-ah, apa yang terjadi semalam?” kini orang itu duduk disampingku dan mendekatkan wajahnya padaku.
“mwoya?” aku balik bertanya.
“apakah semalam kalian . . .” dia membiarkan kata-katanya menggantung dan justru menatapku dari atas ke bawah.
“yaaa! Dasar namja mesum! Apa yang kau pikirkan?” aku mendorong wajahnya menjauh dariku.
“kalau begitu kenapa dia bisa ada di sini?”
“semalam hujan deras, dia kehujanan dan aku hanya menampungnya.”
“menampungnya? Kau pikir dia kangaji? Tapi, apakah benar tidak terjadi apa-apa?”
“Han Kyung-ssi, tidakkah kau lihat aku tertidur di sofa?”
“bisa saja kan kalian me-hmmpf!”
belum selesai dia berbicara aku langsung menyumpalkan roti ke mulutnya.
“kau bertemu dia waktu ke sini?” tanyaku lagi.
“ya, aku baru saja akan memencet bel, tiba-tiba pintu terbuka dan Youn Ji muncul. Dia bilang, dia membuat roti-roti ini untukmu, sebagai ucapan terima kasih.” Han Kyung mengunyah roti yang tadi disumpalkan ke mulutnya.
“hanya itu saja? Tidak ada yang lain?”
“ye, eobsoe.”
“araseo.” Jawabku kecewa.”aku mau mandi.” Kataku dan beranjak dari dapur.
Begitu selesai mandi, kulihat ada seuntai kalung dan hp milik Youn Ji di wastafel kamar mandiku. Kalung ini, kalau tidak salah kalung yang selalu dipakai Tae Jun. Apa Youn Ji tidak sadar kalung dan hp nya tertinggal?
Aku buru-buru keluar dari kamar mandi dan menemui Han Kyung yang sudah berpindah ke ruang depan.
“hei, mana kunci mobilmu?” tanyaku padanya.
“tuh, di meja, kenapa?” Han Kyung menjawab meski matanya terus menatap layar hp nya.
Kusambar kunci mobilnya dan bergegas keluar.
”aku pinjam dulu mobilmu, aku mau pergi ke satu tempat.” Kataku sambil lalu.
“mwo?” kini dia sudah mengejarku yang sudah berada di depan pintu.”andwae! aku harus ke tempat yeojachingu-ku!” teriaknya.
“bukankah kalian sudah putus?” tanya ku sambil membuka pintu.
“kami sudah berbaikan, semalam.”
“ah, araseo, chukaeyo. Semoga kalian tidak putus lagi. Aku pergi dulu ya! Bye “ aku tersenyum lebar dan pergi tanpa menghiraukan teriakan Han Kyung di belakangku.
“ya!! Hee Chul-ah!! Aigoooo! Menyebalkan sekali sih dia. Mau ke mana lagi…”

SI WON POV
Aku baru saja pulang pulang dari Busan 1 jam lalu, tanpa sempat istirahat, aku langsung datang ke sini. Tapi tidak biasanya dia belum datang jam segini. Min Ho juga tidak masuk karena sakit. Jadilah aku menunggu sendirian di sini. Hari ini toko sangat ramai, mungkin karena cuaca yang dingin, sehingga banyak orang memutuskan untuk memakan sesuatu yang hangat. Semua meja sudah terisi penuh, dan para pelayan sibuk mondar-mandir untuk melayani para pelanggan.
Apa terjadi sesuatu pada Youn Ji? Tidak biasanya dia datang terlambat dan tidak memberi kabar apa-apa pada pekerja.
Kukeluarkan hp ku dan menekan speed dial nomor 1 untuk menelponnya. Tersambung, tapi tidak ada yang mengangkat. Aku mencoba menelpon sekali lagi, kali ini telpon ku diangkat.
“yeoboseyo?” tanya suara di seberang sana. Bukan suara Youn Ji, suara seorang namja.
“yeoboseyo?” ulang suara di seberang sana karna aku tak kunjung juga menjawab, pada saat yang bersamaan, pintu toko terbuka.
Kulihat seorang namja berambut blonde sedang meletakkan telpon di telinganya. Aku terus melihatnya dari tempat dudukku, dan entah bagaimana, diapun melihatku diantara keramaian toko. Aku memutuskan saluran telpon dan melihat namja itu berjalan ke arahku.
“di mana Youn Ji?” dia berdiri tepat di depanku.
“dia belum datang.”
“apakah masih lama lagi?”
‘entahlah, aku tidak bisa menghubunginya.” Kataku sambil melihat hp yang digenggamnya.
“ah~ ini punya Youn Ji, sepertinya dia tidak tau kalau hp nya tertinggal. Anda ..?”
“ah~ Choi Si Won imnida.”
“ye. Kim Hee Chul imnida.”
“apakah aku chingu Youn Ji? Sepertinya aku belum pernah melihatmu sebelumnya.” Aku berusaha menyelidik.
“ye, bisa dibilang begitu. Aku meninggalkan Korea 4 tahun lalu, dan baru kembali beberapa hari yang lalu.”
“4 tahun lalu?” aku terbelalak.
“ne. Ah, lebih baik aku titipkan saja hp dan kalung Youn Ji padamu. Aku masih ada urusan lain, jadi aku pergi dulu, annyeong.” Namja itu berjalan keluar toko.
Aku masih bengong dengan kenyataan yang tiba-tiba membuatku takut. Tapi aku tidak bisa seperti ini terus, aku harus tau apa yang terjadi sebenarnya.
Aku meninggalkan toko dan berlari mengejar namja itu, tepat ketika ia membuka pintu mobilnya.
“bisa kita bicara di suatu tempat?” tanyaku tergesa-gesa.
Namja itu diam memandangiku.

AUTHOR POV
Si Won mengajak Hee Chul ke tepi sungai yang sepi. Hee Chul keluar dari mobil setelah Si Won berdiri diam di tepi sungai.
“wae geure?” tanya Hee Chul mengambil posisi di sebelah Si Won.
“apa hubunganmu dengan Youn Ji?” tanya Si Won tanpa basa basi.
Hee Chul tidak menjawab.
“bisakah kau beritau aku, apa yang terjadi pada kalian 4 tahun yang lalu?” Si Won masih terus bertanya.
“tidak ada apa-apa diantara kami. Kalaupun pernah ada sesuatu diantara kami, itu semua sudah berlalu.”
“jadi benar, orang itu adalah kau?”
“mwo? Apa maksud mu? Aku tidak mengerti.”
“orang yang selama ini selalu dipikirkan oleh Youn Ji.” Terlihat gurat kesedihan di wajah Si Won.
“Youn Ji memikirkanku? Aku tidak tau apa yang mendasarimu berkata seperti itu. Tapi sebagai namjachingu-nya, kau seharusnya mempercayai dia.”
“aku bukan namjachingu-nya. Kuakui aku menyukai dia. Tapi dia tidak pernah sekalipun membalas perasaanku.”
“aku jadi semakin tidak mengerti.” Hee Chul menggeleng lemah dan tersenyum kecil.
“ne.. dia tidak pernah membalas perasaanku karena ada orang yang meninggalkan dia 4 tahun lalu, tapi tidak pernah pergi dari pikirannya.”
“ani.. dia tidak pernah menyukaiku, sekalipun tidak pernah. 4 tahun lalu, ataupun sekarang!! Aku tidak pernah ada di hatinya!!” Hee Chul mulai merasakan gejolak emosinya meluap. Perasaan sakit yang selalu di tahannya siap meledak.
“akankah Youn Ji menangisi seseorang setiap harinya jika bukan karena dia menyukai orang itu? Akankah dia terus membaca sehelai surat usang setiap harinya secara teratur selama 4 tahun terakhir, hanya untuk terus mengingat orang itu? Untuk melampiaskan rasa rindunya!!?” Si Won mulai meninggikan nada suaranya.
Hee Chul kembali menggeleng lemah dalam kebingungan. Dia tidak yakin dia mendengar perkataan Si Won dengar benar.
“aku rasa ada kesalahan di sini. Aku tidak tau apa yang membuatmu yakin kalau dia menyukaiku, tapi aku punya alasan sendiri mengapa aku yakin yang kau katakan itu salah. 4 tahun lalu aku menyatakan perasaanku padanya dan meminta dia datang ke Incheon untuk mengantarku jika dia juga menyukaiku. Tapi dia tidak datang! Bahkan tidak sekalipun dia mencoba untuk menghubungiku. Bukankah itu sudah sangat jelas? Dia tidak menyukaiku!” Hee Chul mencoba untuk menahan perasaannya saat ini.
“aku sedang bersamanya, 4 tahun lalu, sehari sebelum kepergianmu, hari kepergianmu dan hari-hari setelah kepergianmu, aku terus berada di sisinya.”
“haha!” Hee Chul tertawa sinis, “lihatlah! Bahkan pada hari keberangkatanku pun, dia bersama denganmu, bukankah itu menunjukkan betapa sesungguhnya dia menyukaimu? Bukan menyukaiku!!”
“aniyo. Aku bukanlah alasan mengapa dia tidak menemuimu di Incheon. Tapi aku tau alasan sesungguhnya mengapa dia tidak mengantarmu…”

To Be Continue . . .

7 thoughts on “YOU ARE MINE part 5

  1. kira2 kenapa hayo yoon ji gak dateng ke bandara ? kata merr mah tae jun meninggal da..hahahaha*so tau amat yak ?*hahahaha
    lanjut chingu ^^

  2. Pingback: Berbagi FF Yang Bagus untuk Dibaca « Heebyctator

  3. Pingback: update 2 | Wulan's World

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s