YOU ARE MINE part 4

AUTHOR :: Yuyu

HEE CHUL POV
Kulirik jam tanganku, sekarang sudah jam 11 lewat 15 menit, jadwal penerbanganku sempat di-delay 45 menit dan aku akan berangkat 15 menit lagi. Tapi masih saja belum ada tanda-tanda kehadiran Youn Ji. Apakah dia tidak akan datang??
“Hee Chul-ah~~! Kenapa kau pergi mendadak sekali? Kau baru mengabariku semalam, sahabat macam apa kau? Aku belum siap untuk melepasmu. Bisakah kau tidak pergi? Aku akan kehilanganmu” omel Han Kyung tanpa henti.
“mianhae, aku tidak tau bagaimana untuk mengatakannya padamu sebelumnya.” Jawabku datar.
“oppa~! Harus sering sering mengabari kami ya, jangan sampai lost contact!” Sarang memelukku erat.
“Hee Chul-ah, kami semua akan merindukanmu, pulanglah dan temui kami di Busan kalau ada waktu, araseo?” Hyung menepuk bahuku pelan.
“araseo hyung.” Kubalas dengan senyuman terlebar.
“geundae~ mana Youn Ji? Bukankah harusnya dia juga datang?” Sarang yang sudah melepaskan pelukannya, langsung kembali ke sisi Hyung. Aku senang melihat mereka berdua bahagia.
“entahlah, sepertinya aku akan patah hati.”
“jangan khawatir, aku yakin dia pasti akan datang.” Han Kyung mencoba untuk meyakinkanku, meski kulihat dia sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang dikatakannya. Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Aku tidak tau harus berbicara apa lagi.
Kulirik lagi jam tanganku, 10 menit lagi aku akan berangkat. Oh Youn Ji, kau tidak akan datang? Apakah itu artinya kau tidak menyukaiku?
“Jagiya, coba kau hubungi Youn Ji, mungkin saja dia lupa,” pinta Lee Teuk hyung yang melihatku cemas.
“ye, jagi.”
Baru saja Sarang mengeluarkan handphone nya, aku langsung berkata,”tidak perlu. Aku sudah menghubunginya dari tadi, tersambung, tapi tidak ada yang menjawab. Sepertinya dia tidak akan datang.” Aku kembali memaksakan sebuah senyuman di wajahku, tapi baik Hyung, Sarang maupun Han Kyung, tidak ada satupun diantara mereka yang membalas senyumku. Mereka justru terlihat sedih. Separah itukah?
Aku duduk di sebuah kursi tunggu dan mengeluarkan secarik kertas. Sambil menunggu 10 menit waktu keberangkatanku, kuputuskan untuk menulis sebuah surat untuk Youn Ji. Setelah selesai menulis.
“Sarang-ah, tolong berikan surat ini padanya. Aku harus berangkat sekarang.”
“iye oppa, aku pasti akan memberikannya pada Youn Ji. Oppa, jaga dirimu baik-baik.” Sarang mulai terlihat meneteskan air mata, dan hyung segera memeluknya.
“Hee Chul-ah, kau tau kau tidak seharusnya melakukan hal ini. Kalau kau tidak ingin pergi, maka jangan pergi.” Hyung lagi-lagi mengatakan hal yang sama sejak pagi.
“Hee Chul-ah, kau harus terus mengabariku, ingat itu!” ancam Han Kyung.
Aku hanya tersenyum. Aku menatap wajah mereka satu per satu. Hyung yang sangat kusayangi dan sangat menyayangiku, kini terlihat sedih. Sarang, dongsaeng tiriku, bahkan sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. Dan Han Kyung, chingu terbaik yang kumiliki, selalu berada disisiku apapun yang terjadi, tapi sekarang kami tidak bisa bersama-sama lagi. Setelah puas menatap wajah mereka, kulambaikan tanganku dan berjalan membelakangi mereka. Aku tau aku bukan pergi untuk selamanya, karena kapan pun aku ingin, aku bisa saja terbang kembali ke Korea, tapi tetap saja aku merasa sangat sedih harus meninggalkan mereka. Dan aku rasa, sekarang aku tidak punya alasan lagi untuk sering-sering pulang ke Korea, satu-satu nya orang yang paling ingin kutemui ternyata tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Selamat tinggal, Oh Youn Ji.

AUTHOR POV
“jagiya, Hee Chul sudah berangkat sekarang. Lebih baik kita pulang.” Lee Teuk mencoba untuk menenangkan Sarang yang masih menangis.
“mianhae, jagi. Aku hanya merasa aku sangat jahat karena tidak bisa membiarkanmu pergi dariku dan memilih untuk melihat Hee Chul oppa dan Youn Ji berpisah seperti ini.”
“aku juga merasa sangat bersalah pada mereka, tapi ini keputusan Hee Chul. Dan aku heran, kenapa Youn Ji tidak datang? Kupikir dia juga menyukai dongsaeng-ku.”
“molla. Aku juga berpikir bahwa Youn Ji juga menyukai oppa. Aku tidak tau kenapa dia masih saja keras kepala dan tidak mau mengakui perasaannya sendiri.”
“sudahlah, tidak ada gunanya kita menduga-duga seperti ini. Sebaiknya kita segera antarkan surat ini pada Youn Ji, kajja!” Lee Teuk menarik tangan Sarang dan menggenggamnya erat agar Sarang merasa lebih tenang.
Selama perjalanan ke rumah Youn Ji, Sarang masih saja terihat tidak bersemangat dan terlalu sedih dengan kepergian Hee Chul. Tapi Lee Teuk mengerti perasaan Sarang, karena selama ini Sarang dan Hee Chul juga cukup dekat, mereka berdua sudah seperti saudara kandung. Dan berkat Hee Chul jugalah Lee Teuk dan Sarang bisa bersatu. Jadi Lee Teuk hanya membiarkan Sarang tenggelam dalam dunianya sendiri selama perjalanan.
“jagiya, kita sudah sampai.” Kata Lee Teuk lembut.
“ah~ ayo, kita turun.” Sarang tersenyum lemah.
“ye. Kau bawa suratnya kan?”
“ya, aku bawa, ada di tasku kok.”
Ting! Tong!! Ting!
“nuguseyo?” jawab sebuah suara dari dalam rumah.”Sarang-ah..”
“Youn Ji-ah, waeyo? Kenapa kau tidak datang ke bandara? Hee Chul oppa terus menunggumu.” Mata Sarang kembali berair dan Lee Teuk langsung merangkul Sarang untuk memberinya kekuatan.
“Mianhaeyo..” jawab Youn Ji lemah.
Lee Teuk memperhatikan Youn Ji, dia terlihat lusuh, sseperti tidak tidur semalaman. Karena Hee Chul kah, pikir Lee Teuk.
“kalau saja kau bukan sahabatku, aku pasti akan marah padamu! Tapi kau sahabatku, dan aku tau kau bukan orang yang suka menyakiti perasaan orang lain. Mungkin ini memang yang terbaik untuk kalian. Aku hanya ingin menyampaikan surat yang oppa tulis untukmu. Youn Ji-ah~ kami sekeluarga akan pindah ke Busan hari ini, appa membuka kantor baru di sana, dan appa memutuskan kami sekeluarga harus ikut pindah. Jadi, kita akan jarang bertemu sekarang, tapi tetap harus keep in touch ya!”
“ye.” Lagi-lagi Youn Ji menjawab dengan lemah, Lee Teuk bahkan ragu apakah Youn Ji mendengar perkataan Sarang, karena setelah menerima surat itu, dia hanya terus memandangi surat beramplop itu tanpa berkedip.

***
YOUN JI POV

Hmm~ sebenarnya aku juga tidak tau harus menulis apa. Hanya saja, tiba-tiba menyadari kau tidak akan datang. Aku merasa entah kapan aku punya kesempatan untuk bertemu dan berbicara lagi denganmu. Langsung saja aku menulis surat ini.
Apa kau tau? Banyak sekali yang ingin kusampaikan dan kutanyakan. Mengapa kau tidak datang? Kau tidak menyukaiku? Apakah aku semenyebalkan itu?
Taukah kau aku sangat sedih saat ini?
Kau memang bukan cinta pertama ataupun pacar pertamaku. Tapi kaulah satu-satunya yeoja yang membuatku berpikir,”aku ingin menjadikanmu yang terakhir dalam hidupku. Aku tidak butuh yeoja lainnya, aku hanya butuh kau.”
Apakah hanya aku sendiri yang berpikir seperti itu?
Keputusan ini sangat berat bagiku. Demi orang-orang yang kusayangi, aku rela mengorbankan apapun, bahkan mengorbankan diriku sendiri. Keluargaku, dan satu-satunya chingu terbaikku, merekalah orang-orang yang kuprioritaskan. Bagiku, hanya merekalah yang pantas mendapatkan pengorbananku.
Tapi sejak kapan itu semua berubah? Entahlah, sepertinya semua berubah setelah kau masuk ke dalam hatiku, kaulah prioritas utamaku. Aku akan melakukan apapun agar bisa membuatmu bahagia, meski itu harus mengecewakan keluargaku.
Kenapa kau tidak datang? Bisakah aku mendengar jawabanmu? Aku ingin sekali mendengarnya meski jawabanmu mungkin akan menyakitiku.
Apa kau tau apa yang kurasakan ketika menulis surat ini? Ini pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini, dan aku tidak suka itu. Sangat menyiksa.
Aku ingin sekali berteriak sekuat mungkin saat ini, tapi aku tidak bisa.
Aku ingin sekali membencimu, tapi aku tidak bisa.
Aku ingin sekali berlari sekencang mungkin ke rumahmu, tapi aku tidak bisa.
Aku ingin sekali kau juga menyukai, tapi lagi-lagi aku tidak bisa melakukan apapun.
Kalau saja…
Kalau saja kau datang dan mengatakan kau juga menyukaiku,
Maka aku tidak akan pergi~!
Aku akan selalu berada di sisimu, meski demi hal itu aku harus memisahkan Hyung dan Sarang.
Tapi itu semua hanya pengandaian, tidak akan ada ‘kalau’ ataupun ‘mungkin’ lagi.
Karena ketika kau membaca surat ini, aku sudah tidak berada di Korea.
Oh Youn Ji, aku sungguh-sungguh pernah menyukaimu, dan masih menyukaimu sampai detik ini ketika kau membaca suratku.
Tapi aku tidak ingin membebanimu, aku berjanji aku akan melupakanmu.
Aku akan menganggap ini hanyalah bagian dari mimpi indahku saja.
Selamat Tinggal, Oh Youn Ji.

Surat ini selalu aku baca setiap hari semenjak keberangkatanmu ke London, sudah kubaca sebanyak 1.561 kali. Apa aku tau itu? Dan setiap kali membaca suratmu, aku semakin merindukanmu. Aku semakin takut jika kau sekarang tidak ingat lagi siapa aku.
“Youn Ji-ah!”
Kuhentikan lamunanku, terdengar suara seorang namja di depan pintu rumahku.
“jamkkaman-yo” seruku seraya memasukkan surat yang mulai tampak lusuh ke dalam lemariku. Segera aku beranjak untuk membukakan pintu, dan di sana, berdiri seorang namja yang sangat kukenal.
“oppa.” Panggilku
“sudah siap? Kuantar kau ke toko sekarang.” Namja itu tersenyum manis padaku.
“ye~” kubalas senyumnya dan segera mengunci pintu rumah.
Tidak berapa lama, kami sudah sampai di sebuah toko roti, Smile Bakery.
“sampai jumpa.” Kata namja itu begitu aku turun dari mobilnya.
“lho? Oppa tidak ikut masuk?” tanyaku bingung.
“ani~ aku ada rapat hari ini, jadi tidak bisa mampir. Nanti siang aku akan mampir.”
“kenapa oppa tidak bilang? Kalau oppa tidak mampir, seharusnya oppa tidak perlu repot-repot mengantarku. Aku kan jadi tidak enak karena merepotkan oppa!”
“tidak repot kok, aku senang bisa mengantarmu.”
“tapi aku tidak senang. Lain kali tidak boleh seperti itu lagi oppa” kataku tegas
“hehe. Ne, araseo. Aku harus pergi sekarang. Sampai ketemu nanti siang.”
Aku menunggu sampai tidak bisa melihat bayangan mobilnya lagi, kemudian masuk ke dalam toko.
“annyeong noona.” Sapa pelayan toko ini.
“annyeong, Min Ho-ah” balasku.
“Noona, mana hyung?”
“dia harus ke kantor, ada rapat.”
“waah~ hyung khusus mengantar noona ke sini? Dia namjachingu yang baik, ya noona.”
“Ya, Choi Min Ho! Dia bukan namjachingu-ku, araseo!” jawabku kesal.
“geundae, noona. Dia adalah namja yang sangat baik, dan aku tau hyung sangat menyukaimu, kenapa kalian tidak pacaran saja sih? Lagipula Tae Jun juga sangat menyukainya, itulah kenapa mereka bisa berteman.”
“aku tidak ingin membahas masalah ini lagi, dan kau bukan dongsaengku! Jadi berhentilah bersikap seolah-olah kau itu dongsaengku, sana! Kerja lagi!”
“yes bos!!” jawabnya sambil berlalu meninggalkanku,” tapi kau dan Si Won hyung sangat serasi, sungguh!” teriaknya lagi meski kini aku sudah tidak bisa melihatnya.
“ya!! Choi Min Ho!!”
Smile Bakery, toko roti ini adalah milikku, akulah bosnya. Meski aku harus berterimakasih pada Si Won oppa, dialah yang meminjami modal tanpa bunga padaku. Dan namja yang dari tadi terus mengoceh tidak karuan itu adalah Choi Min Ho, chingu Tae Jun.
Aku tau Si Won oppa menyukaiku, tapi saat ini aku tidak ingin memikirkan tentang itu. Bagiku itu hanya buang-buang waktu saja. Karena itu, aku tau aku tidak bisa membalas perasaan Si Won oppa, jadi aku memilih untuk menjadi chingu yang baik baginya.
Aku mengenal Si Won oppa pada hari kelulusanku, sehari sebelum namja itu berangkat. Sekarang kami sudah mengenal selama 4 tahun, tapi tetap saja aku hanya bisa menganggap Si Won oppa sebagai oppa dan chingu yang sangat baik, tidak lebih.

AUTHOR POV
Seorang namja berjaket kulit sedang mondar-mandir di bandara Incheon. Sebentar-sebentar dia melirik jam tangannya.
“kenapa masih belum keluar juga?” gumam namja itu.
“Yaaa! Kau kah itu?” teriak seorang namja lainnya sambil tersenyum.
“ahh! Akhirnya kau muncul juga. Kupikir kau berubah pikiran di detik-detik terakhir!” merekapun berpelukan erat.
“apa kabarmu?”
“kupikir kau tidak ingat lagi padaku, seharusnya kau pulang lebih cepat. Tapi, sejak kapan rambutmu jadi blonde begini?”
“kenapa? Apa aku terlihat lebih tampan dari mu sekarang?”
“tidak akan pernah! Kau tidak akan pernah terlihat lebih tampan dariku, karena kau itu cantik!”
“yaaa! Masih saja mengataiku cantik, aku benar-benar akan mengirimmu ke China!”
“aku rindu sekali kata-katamu itu, Hee Chul-ah.”
“aku juga rindu untuk mengataimu seperti itu, Han Kyung-ah.”
“ayo, kuantar kau ke apartemenmu.”
“ne, kajja!”
Hee Chul yang masih mengalami jet-lag segera menyandarkan kepalanya begitu masuk mobil Han Kyung,”mana yeojachingu-mu?” tanya Hee Chul sambil memejamkan matanya.
“kami baru saja putus, beberapa minggu yang lalu.” Han Kyung terlihat sedih.
“jinjja? Bukankah kalian sudah pacaran selama 2 tahun lebih?”
“ne. tapi kami memang sering berantem.”
“araseo, jangan sedih. Kalau kau masih menyukainya, kejar lagi saja.”
“akan kupikirkan, haha. Kau sendiri? Siapa yeojachingu saat ini?”
Hee Chul terdiam dan membuka matanya perlahan-lahan,”eobseo.”
“wae yo? Kupikir kau akan membawa seorang cewe bule ke Korea.”
Lagi-lagi Hee Chul hanya terdiam.
“jangan katakan padaku, selama 4 tahun ini kau tidak pernah pacaran lagi?” Han Kyung menyelidik.
“aniyo. Aku hanya bilang aku tidak punya pacar saat ini, bukan berarti aku tidak pernah pacaran kan? Sudahlah, kau lebih baik menyetir saja, jangan ganggu aku. Aku masih jet-lag nih.” Hee Chul kembali menutup matanya.
Sisa perjalanan mereka lalui dalam kesunyian. Han Kyung sendiri tau, chingu nya itu masih memikirkan yeoja itu. Yeoja yang sama dengan 4 tahun lalu. Tapi tiba-tiba saja yeoja itu menghilang beberapa hari setelah keberangkatan Hee Chul, nomor telponnya tidak bisa di hubungi, dia pindah dari rumah yang biasa ia tempati, bahkan adiknya pun pindah sekolah. Benar-benar tidak tau di mana keberadaannya. Apakah dia sengaja menghindari kami semua dan Hee Chul, pikir Han Kyung. Tapi dia tidak pernah memberi taukan hal itu pada chingu-nya. Dia tidak ingin chingu nya semakin memikirkan yeoja itu, yeoja yang telah menyakiti hati Hee Chul.

SI WON POV
Rapat hari ini berlangsung lebih lama dari rapat-rapat biasanya. Rasanya ingin sekali aku segera menyelesaikan rapat ini. Aku ingin segera ke Smile Bakery dan menemui yeoja itu.
Aku mengenalnya 4 tahun lalu, dan kami sangat dekat saat ini. Tapi aku sama sekali tidak mengenal satupun temannya.
Selain itu, meskipun dia selalu tersenyum dan terlihat bahagia, kadang-kadang aku menangkap tatapan kesedihan dari matanya. Apa yang kau pikirkan? Ingin sekali aku bertanya padanya, tapi aku tidak pernah berani, aku takut jawabannya akan melukaiku.
Dan surat itu, surat yang selalu diam-diam dibacanya setiap hari. Siapa yang menulis surat itu? Ke mana orang yang menulis surat itu?
Begitu rapat selesai, aku segera melajukan mobilku ke toko rotinya. Kulihat dia sedang berbincang-bincang dengan pelanggannya. Senyumnya sangat ramah. Ah~ aku rasa aku benar-benar telah sangat menyukainya sekarang.
“oppa!?” dia segera menghampiriku ketika melihatku berdiri tepat di depannya. Aku hanya tersenyum lebar.
“oppa, sudah datang kenapa tidak langsung memanggilku? Malah berdiri di sana.”
“aku tidak mau mengganggumu. Kelihatannya kau sedang mengobrol asyik dengan mereka.”
“aku hanya meminta pendapat mereka tentang roti yang baru di sini.”
“sudah makan siang?”
“belum, mungkin sebentar lagi. Oppa sudah makan?”
“belum juga, aku ingin makan siang denganmu, boleh?”
“baiklah, tapi ada beberapa hal yang harus kuurus, oppa tunggu di sini dulu ya?”
“ne.” setelah mengantarku untuk duduk di tempat biasa aku duduki, dia segera menghilang ke balik dapur dan menyelesaikan urusannya. Dan aku masih saja tersenyum sendirian di sini.
“hyung!” sapa Min Ho.
“annyeong, Min Ho-ah.”
“ini, noona menyuruhku untuk mengantarkan roti dan kopi ini untukmu.”
“gomawo” kuminum perlahan kopi yang dibawakan untukku.
“hyung, kapan kau akan menyatakan perasaanmu pada noona?” tanyan Min Ho dengan polosnya. Aku sedang minum pun hampir tersedak dibuatnya, dan hanya bisa terbatuk-batuk sekarang.
“ya! Apa maksud?” tanyaku pura-pura tidak tau.
“kotjimal, hyung. Aku tau hyung sangat sangat sangat menyukai noona, kenapa tidak mau mengaku sih?”
“dari mana kau tau?”
“hyung, kau ini terkenal sangat hebat dalam dunia bisnis, tapi dalam hal percintaan, nol. Hyunng sangat pabo! Kurasa semua orang bisa melihat hal itu dengan jelas. Bahkan aku yakin noona pun sebenarnya tau perasaan hyung, hanya saja noona pura-pura tidak tau.”
“jinjjae yo?” apakah memang tertulis jelas di wajahku kalau aku menyukainya? Aku tidak pernah menyadari hal itu.
“annyeong..” tiba-tiba saja dua orang namja memasuki toko dan membuyarkan lamunanku.
“hyung, aku layani pembeli dulu yah.” Min Ho bergegas ke tempat dua namja itu berdiri.
Sementara namja yang memakai jaket terus membicarakan sesuatu dengan Min Ho, yang tidak bisa kudengar dari sini, seoarng namja lainnya yang mengenakan kaos putih mengedarkan pandang menelusuri lekuk-lekuk Bakery ini. Dan ketika pandangan mata kami bertemu, kami bertatapan selama beberapa detik, kemudian dia menundukkan kepalanya sedikit padaku lalu ikut memperhatikan apa yang Min Ho ucapkan pada temannya.
“oppa, bagaimana roti nya? Enak? Itu resep baru kami.” Youn Ji muncul dihadapanku dan langsung duduk tepat di depanku.
“enak, sangat lembut.” Senyumku merekah lagi dan dia membalas dengan senyum manisnya.
“noona!” teriak Min Ho di belakang Youn Ji yang dari tadi masih terus berbicara dengan 2 namja itu.
“ye?” seketika itu juga Youn Ji memalingkan wajahnya ke belakang untuk melihat si sumber suara.
Tanpa kusadari, detik itu jugalah segalanya akan berubah untukku.

To Be Continue . . .

16 thoughts on “YOU ARE MINE part 4

  1. waktu awal baca part nie saia sedih amat
    npa youn ji g dtang nemuin chul di bandara pdhal mereka sling cinta
    stelah 4 th bertemu mereka bertemu aknkah mereka masih cinta?
    lanjut

  2. Pingback: Berbagi FF Yang Bagus untuk Dibaca « Heebyctator

  3. Pingback: update 2 | Wulan's World

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s