I Wish I Held An Umbrella

Author ; nyonyatukituki

for Kang Minhyuk Behind story

"첫눈에 반하는것... 일분 걸린다.
누군가를 좋아하게 되는것... 한시간.
누군가를 사랑하게 되는 시간... 하루..
누군가를 잊는것... 평생 걸린다.."
Falling for someone when you first see them...it takes a minute
Getting to like someone...one hour
Getting to love someone...one day
Forgetting that someone...it takes a lifetime.
--korean quotes--

“KANG MINHYUK~~ BOGOSHIPEOOO~!!” teriakku sambil melempar lima botol jus jeruk yang kubeli tapi pada akhirnya kubuang. Hari ini hujan, dan aku berdiri di tengah-tengah lapangan basket untuk melampiaskan semua air mataku.

aku masih menyimpan seluruh surat dalam amplop biru yang ia berikan padaku seminggu setelah kematiannya. Kang Minhyuk. kekasihku. Kang Minhyuk, selamanya milikku.

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN DISANA!” teriak seorang laki-laki. aku menoleh, kuusap wajahku yang basah agar aku bisa melihat wajah laki-laki itu dengan jelas. oh tidak, kepalaku pusing.

“HEI!!” panggilnya lagi.

kepalaku pusing. mataku juga tidak bisa melihat laki-laki itu dengan jelas. tidak, aku bahkan tidak bisa melihat semuanya. kupegang kepalaku, tanganku yang lainnya mencoba menggapai-gapai sesuatu yang bisa menopang badanku yang terasa amat sangat berat.

“HEI! KAU TIDAK APA-APA?!!” teriak laki-laki itu lagi, lalu aku tidak mendengar apapun. tidak melihat apapun, dan semuanya gelap. gelap gulita.

**

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Pertama kali yang kulihat adalah langit-langit berwarna putih. Lalu kurasakan sentuhan di punggung tanganku.

“Yeoja-ya. kau tidak apa-apa?” tanya laki-laki yang duduk di samping ranjangku. ia memandangku dengan tatapan cemas.

“Kau siapa? Apa terjadi padaku?” tanyaku heran, lalu kurasakan denyut nyeri di pelipisku. aku merintih sambil memegang kepalaku.

“Choi Minhwan imnida. Aku mendapatimu sedang menangis sambil melempar begitu banyak botol jus jeruk di tepi lapangan. Saat aku memanggilmu kau jatuh dan pingsan..” ucap laki-laki itu.

Aku membulatkan bibirku, “Oh. Kamsahamnida, Minhwan-ssi.”

Minhwan mengangkat tangan kirinya, aku memandang bungkusan itu seksama. botol-botol jus jerukku? untuk apa?

“Kupikir ini sayang jika dibuang begitu saja. kau membelinya dengan uang, bukan? Jadi kuputuskan untuk memungutnya. jika kau masih tidak ingin meminumnya, mungkin aku bisa memberikannya pada orang yang masih mau meminumnya. ini masih bersih,” ucap Minhwan seolah-olah tau apa yang ada di otakku.

“Aku sudah tidak minum jus lagi. apalagi jus jeruk,” sahutku.

“Tidak minum lagi? kau mengatakan hal itu seolah-olah jus jeruk adalah minuman beralkohol yang membuatmu ketagihan..” Minhwan tertawa. Ya Tuhan, kenapa saat ini aku ingin tersenyum melihat tawanya?

“jus jeruk memang membuatku ketagihan. dan aku ingin berhenti.” ucapku.

“Karena itu kau melempar-lempar sambil menangis?” tanya Minhwan. aku mengerutkan kening.

“Kenapa kau bisa tahu kalau aku menangis?” bukankah membedakan gadis yang sedang menangis di tengah hujan itu sangat sulit.

Minhwan tersenyum, “Kang Minhyuk tidak akan senang jka kau terus menerus menangisinya, Soojung-ah.”

Aku mengerutkan kening lagi, “Kau tau soal Minhyuk?”

“Tidak. yang kutahu hanya tentang kau. bukan tentang Minhyuk..” ucap Minhwan lirih.

“Maksudmu?” aku masih tidak paham.

tiba-tiba seorang gadis datang dan menepuk pundak Minhwan, “Dongsaeng-ah. ayo pulang. sedang apa disini?” gadis itu melirikku.

“Oh Sooyoung Noona. ya, sebentar lagi,” Minhwan tampak tidak ingin bangkit.

gadis bernama Sooyoung itu menarik lengan Minhwan, “Ayo cepat. Gadis ini kan tidak luka parah. lagi pula sudah ada Seunghyun dan Hyoyeon. Tidak usah khawatir!”

Minhwan menatap gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya, haha lucu sekali. kemudian Minhwan mengarahkan pandangannya padaku, “Soojung-ah, aku pulang dulu ya. Jangan lakukan hal yang sama lagi. oke? dah..”

aku hanya tersenyum tipis. kemudian Minhwan dan Sooyoung menghilang, meninggalkan aku di ruangan ini sendirian. aku bangkit, dan aku baru sadar, aku memakai mantel cokelat tebal. milik siapa? jangan-jangan ini milik… Minhwan? bukankah dia yang mengantarkan aku ke ruangan ini?

“Oh, Soojungie.. kau sudah bangun?” tanya seorang pria yang kukenal sebagai Seunghyun. aku tertawa kecil.

“Kau pingsan dua jam. dan kau bangun setelah Minhwan memegang tanganmu. kau seperti putri tidur yang menunggu pangerannya saja,” tawa Seunghyun lepas. aku terkekeh. “Ada-ada saja kau, Sunbae.”

“Soojung-ah, maaf aku baru datang. mencarikan obatmu dari gudang persediaan lama sekali. ini obatmu, lain kali jangan main hujan jika badanmu tidak fit, aratjyo?” ucap Hyohyeon sambil menyodorkan plastik berisi dua butir kapsul berwarna merah dan kuning.

“Terimakasih, Sunbae. Kalian memang penjaga UKS yang serasi!” ucapku begurau.

“Mm… Soojung-ah.. boleh kah aku bertanya?” tanya Hyoyeon. aku mengerutkan kening. aku mengangguk, mempersilahkan Hyoyeon mengeluarkan unek-uneknya.

“Apakah.. Kang Minhyuk meninggal karena kehujanan bersamamu saat seharusnya ia ada operasi kanker otaknya?” tanya Hyoyeon.

DEG! apa itu artinya aku yang menyebabkan kematian Minhyuk? BENARKAH ITU AKU YANG MENYEBABKANNYA? JADI MINHYUK MENINGGALKANKU KARENA AKU SENDIRI YANG MEMBUATNYA MENINGGALKAN AKU?

“Soojung-ah.. kenapa menangis? aku hanya bertanya. aku.. tidak ada maksud apapun..” ucap Hyoyeon meraih pundakku. air mataku menetes hangat. kenapa aku begitu rapuh setiap kali aku mendengar nama Minhyuk?

“Hyo, kau pulanglah. biar aku yang mengantar Soojung pulang,” ucap Seunghyun. aku mendongak, dengan mata basahku. “Sunbae..”

“Tidak apa-apa..” ucap Seunghyun.

**

“Kau jangan begini terus, Soojung..” ucap Seunghyun di tengah perjalanan. bus yang kunaiki dengannya melaju tidak begitu kencang. aku menoleh. “Maksud mu Sunbae?”

“Minhyuk. ini tahun kedua kematian Minhyuk. tapi kenapa kau masih saja seperti ini? Minhyuk mencintaimu, Jungie. Dia tentu tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Minhyuk tidak akan rela jika melihatmu seperti ini, Jungie..” ucap Seunhyun.

aku menarik nafas. “Aku hanya..”

“bergaullah. jangan hanya duduk di bawah pohon, membuang-buang jus jeruk yang kau beli, berdiri di tengah-tengah lapangan saat hujan. kau pikir Minhyuk menyukainya?” tanya Seunghyun.

“Aku..”

Seunghyun bangkit, ia turun. aku mengikutinya dari belakang. ia tampak marah. aku tahu, Seunghyun kan teman satu SD dengan Minhyuk. mereka sama-sama tumbuh berdua. aku tahu dia juga sama terpukulnya dengan aku.

“Kau tau, saat aku dengar Minhyuk sakit. tapi ia malah main hujan denganmu, agar kau tidak takut lagi pada hujan, aku INGIN MEMBUNUHMU!” Seunghyun menghentikan langkahnya tanpa membalikkan badan. aku diam.

“kenapa?”

Seunghyun memutar tubuhnya, “KENAPA KAU TEGA MEMBIARKANNYA SAKIT DAN MEMPERPARAH KEADAANNYA, SOOJUNG! BUKANKAH KAU MENCINTAINYA?”

hatiku sakit. dia benar. harusnya aku tahu kalau Minhyuk sakit. harusnya aku tahu kalau dia sakit. kenapa aku tidak tahu? kenapa dia menyembunyikannya dariku? apa aku tidak perlu tahu? apa aku begitu tidak berarti baginya?

“SELAMA INI.. aku selalu berpura-pura BAIK PADAMU! tapi kau!! KAU BEGITU JAHAT PADA MINHYUK!! dia SAHABATKU DARI KECIL, SOOJUNG!!” teriak Seunghyun, mendadak ia tampak seperti manusia yang sangat menakutkan. matanya merah, tajam seolah akan menelanjangiku.

“Seunghyun Sunbae..”

“Dan kenapa? KENAPA DIA HARUS MATI hanya demi menyelamatkanmu dari phobia hujanmu?!” bentak Seunghyun. aku diam. air mataku menetes semakin deras.

“TUTUP MULUTMU SONG SEUNGHYUN! kau tidak ada hak menyalahkan Soojung!” tiba-tiba Minhwan datang dan berdiri di hadapanku. dia seolah-olah melindungiku dari Seunghyun.

“KAU SEDANG AMA CHOI MINHWAN? Aku tahu kau lebih dulu mencintai gadis bodoh ini dari pada MINHYUK! Memangnya apa kelebihan gadis ini sampai DUA DRUMMER TERBAIK SEKOLAH bisa JATUH CINTA PADANYA?!” teriak Seunghyun.

Minhwan? mencintaiku lebih dulu dari pada Minhyuk? aku memandang punggung Minhyuk. apakah punggung itu tidak berat? menahan beban dan perasaan?

“Seunghyun. Kematian Minhyuk bukan kesalahannya! kau tidak bisa menyalahkannya! Mati dan hidup itu sudah diatur oleh Tuhan! kau tidak boleh menyalahkan manusia!” ucap Minhwan.

“Minhwan-ah..” panggilku lemah. ia menoleh. aku menatapnya, lalu berdiri di depannya. menghadap Seunghyun.

“KAU INGIN MEMBUNUHKU? BUNUHLAH! kalau itu bisa membuat MINHYUK KEMBALI, BUNUH SAJA AKU!” ucapku dengan nada tinggi yang mantap. Seunghyun memandangku tajam.

“Soojung-ah! Apa yang kau katakan!” Minhwan menarikku menjauh dari Seunghyun. Aku menepis tangannya.

“Lepaskan aku, Minhwan. Aku hanya ingin bicara padanya. Aku ingin memberi tahunya bahwa bukan hanya dia yang kehilangan Minhyuk. APA KAU LUPA SEUNGHYUN~ SIAPA YANG PALING KUCINTAI? KANG MINHYUK!” aku menekankan nama Minhyuk yang membuat dadaku semakin sesak. lebih sesak dari sebelumnya.

“Dan saat aku tahu Minhyuk meninggal karena aku.. aku ingin sekali membunuh diriku sendiri, Seunghyun!! BAGAIMANA PERASAANMU JIKA KEKASIHMU MATI KARENA KAU! Kau pikir aku tidak merasa bersalah? AKU LEBIH MENDERITA DARI PADA KAU!” marahku.

Seunghyun diam. Minhwan menarikku mundur, mendekapku yang tengah terisak hebat. aku tergugu-gugu, air mataku tumpah tidak berhenti. Minhwan memelukku lebih erat.

“Uljimarayo, Soojung-ah..” pinta Minhwan. aku masih terisak, aku melepaskan pelukan Minhwan dan kembali menatap Seunghyun.

“Kau masih ingin membunuhku untuk mengembalikan Minhyuk, Song Seunghyun?” tanyaku. Seunghyun menggeleng. aku menghela nafas panjang-panjang.

“Aku benar-benar berharap saat itu aku membawa payung agar Minhyuk tidak perlu kehujanan.. aku benar benar berharap..” ucapku lagi.

Seunghyun mendesah, “Mianhae Soojung-ah.. aku tahu kau lebih menderita dari pada aku. Mianhae aku membentakmu. aku.. aku hanya.. ingin meluapkan kekecewaanku, aku tidak bisa menjaga Minhyuk, Soojung. aku ingin menyalahkan diriku sendiri.”

Aku meraih Seunghyun yang tengah terduduk di tanah. aku mendekapnya, memeluknya. aku tahu ia sedang gusar.

“Seunghyun sunbae, menangislah. aku tahu kau sedih. jika kau ingin menangis, menangis lah saja, Sunbae..” ucapku.

“Soojungie.” panggil Minhwan. aku menoleh.

“Maukah kau melepas pelukan Seunghyun? aku.. aku.. dadaku sakit melihatnya,” ucap Seunghyun.

aku tersenyum tipis, kulepas pelukanku. Seunghyun sudah berhenti menangis dan dia melempar senyum manisnya lagi padaku. tak lama kemudian, Seunghyun berpamitan padaku. aku hanya membalasnya sambil tersenyum, “Jomsihaeyo Sunbaenim..”

aku melanjutkan jalanku, Minhwan masih berjalan beriringan denganku. aku menoleh ke arahnya, “Ini mantelmu kan?”

Minhwan mengangguk. aku tersenyum, “Gomabda.”

“Soojungie.. aku..” Minhwan membuka mulutnya. aku tahu dia akan mengatakan apa. aku tahu dia akan bilang bahwa ia mencintaiku.

“Hwannie..” panggilku centil, Minhwan mengangkat alisnya heran mendengarku memanggilnya dengan panggilan aneh itu.

“Soojung-ah.. aku mencintaimu..” ucap Minhwan. sesuai dugaanku. aku menghentikan langkahku, menoleh ke arah Minhwan dan memandangnya lurus-lurus.

“Minhwan-ah. aku benar-benar ingin membuka hatiku untuk pria lain. ini sudah sangat lama sejak Minhyuk meninggal. tapi.. Minhwan kau dan Minhyuk adalah orang yang hampir sama. kau drummer, dan Minhyuk juga. aku hanya takut, nanti aku hidup di bawah bayang-bayang Minhyuk. aku tidak ingin, Minhwan..” jelasku.

aku memandang wajahnya yang sendu. “Tapi aku mencintaimu, Soojung..”

“Aku tahu..” balasku.

Minhwan menatapku penuh harapan, senyumnya manis. aku tahu dia mencintai sejak sebelum Minhyuk mencintaiku.

“Minhwan-ah.. mianhae..” ucapku lagi. “Tidak apa-apa kan jika kita bersahabat saja? bagaimana?”

Minhwan mengangguk ia merekahkan senyumnya. “Tidak apa-apa Soojung. aku akan menunggu hingga kau membuka hatimu untukku tanpa bayang-bayang Minhyuk..”

Kami berjalan hingga pertigaan. aku berbelok kanan dan Minhwan berbelok kiri. aku melambaikan tanganku ke arahnya, “Sampai jumpa besok, Hwannieeee~~~”

ia melambaikan tangannya membalasku. aku tersenyum. aku benar-benar ingin membuka hatiku. semoga Tuhan masih dalam pihaku, karena aku tau.. Minhyuk pasti membantuku membuka hatiku.

# the end #

11 thoughts on “I Wish I Held An Umbrella

  1. wah pasti lanjutax cerita dari minhyuk #reader sotoy
    kemarin minhyuk sekarang minhwan yg sama2 drummer besok siapa lagi ???
    setelah baca benar2 menyayat hati (?), romantis(?), menyedihkan, memgharu biru (?)#sarap mode on/plak hehehe
    bener kata omma, klo omma buat ff pasti dari dalam lubuk hati,penuh cinta, penuh semangat #omma geer nie/plak *just kid* #abaikan

  2. *reader sarap dengan komen gak penting datang*
    waaa…
    hilang minhyuk, ditembak minhwan,
    envy dah ama soojung :)
    habis ini ceritanya masih tentang minhwan apa balik lagi flashback minhyuk ya?
    gak usah nebak nebak deh, langsung nunggu aja :D
    hohoho
    ^tuhkan komennya gapenting~

  3. Minhyuk mati ??? Andwae~~ T,T

    keren ceritanya… Umma emang jago mengendalikan prasaan reader… Saia hanyut dlm cerita.. #lebe dah…

    Umma, bikin crita ttg wonbin [bner ga nih namanya] kren kali yak ? Hehe

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s