ETERNAL LOVE (KANGIN POV)

Author : Julia

Cast : Kangin, Sungmin, Jinki

halo semua~ ada yg rindu padaku? -_- /tabok

saya sedang hiatus selama sebulan sebenarnya. tp ini curi-curi waktu buat post 1 ff yang seharus nya sudah lama aku post.

ada yang udah baca ? Minjung POV ? nah, ini dia yg Kangin POV nya.

terima kasih yg sudah membaca. seperti biasa. JANGAN LUPA KOMEN NYA YA. saya tak ingin ada silent reader disini. terima kasih *bow* :)

***

When you believe that God always prepare the best for you


“Hei Kangin-ah! Kau di panggil Choi seongsaengnim! Cepat lah datang kalau tak ingin ada masalah.” seru temanku saat aku sedang asik berdiam diri di sudut kelas. Aish, aku sedang tak ingin kelur kelas. Aku tak ingin di kejar yeoja-yeoja yang tak jelas itu. Aku jadi di cap sebagai seorang playboy. Uh, mana wajahku sempat bengkak karena dikira merebut Hyerin. Padahal kan pacarnya itu yang dekat-dekat dengaku. Alhasil aku lampiaskan semuanya dengan minum-minum. Haaah~ hidup itu berat (~.~)

“Aku rasa hubungan kita sampai sini saja.” aku mendengar suara seorang yeoja saat aku sedang kabur dari panggilan Choi seongsaengnim melewati taman sekolah.

“Minjung. Kau bercanda kan? Katakan kalau kau hanya bercanda.” kali ini aku mendengar teriakan seorang namja. Err, sepertinya ku mengenali suara itu. Dengan rasa penasaran aku mengintip mereka dari balik semak-semak.

Ah, benar. Itu kan si Jinki. Namja yang banyak di kagumi yeoja di sekolah ini. Setelah aku tentunya. Aku kembali memperhatikan mereka. Wah, aku tak menyangka seorang Jinki di putuskan oleh seorang yeoja. Ckck, kasihan dia. Ternyata kekayaan tak membawa kebahagiaan untuknya (?).

Ah! Dia kemari! Aku rapatkan badanku ke dalam semak-semak dan kulihat Jinki pergi dengan wajah yang sedih dan juga marah. Kemudian suasana menjadi sedikit hening. Akupun sudah terlanjur nyaman di balik semak-semak ini (~.~)

“Hiks, hiks.” terdengar suara isakan. Akupun kembali mengintip dari celah semak-semak. Ah, yeoja yang tadi. Aneh. Kalau dia memang mencintai Jinki kenapa harus memutuskannya? Lihat dia sekarang menangis.

“Aw!” aku berseru dan terlonjak saat ada serangga yang menyengat wajahku. Aish, sialan. Sekarang posisiku sudah berdiri dan pasti yeoja itu melihatku. Aku angkat wajahku untuk melihatnya. Ah, tebakanku salah. Yeoja itu tak berpaling sedikitpun. Dia terus saja menangis. Aku keluar dari semak-semak perlahan dan memperhatikannya dari balik pohon tempat dia bersender dan menangis. Sepertinya dia tak menyadari kehadiranku.

Sudah setengah jam aku berdiri disini melihat yeoja itu menangis. Entah kenapa aku tak ingin pergi dari sini. Ada suatu perasaan yang aneh yang aku sendiri tak tau itu apa. Beberapa menit kemudian yeoja itu bangkit dan menyeka air matanya. Aku semakin merapatkan badanku di balik pohon. Kemudian yeoja itu pergi.

oOo

“Kangin! Parah kamu. Kemarin ga memenuhi panggilan Choi seongsaengnim. Bisa di bunuh kamu.”

“Ah?” aku tak terlalu memperhatikan perkataan temanku itu. Aku sedang melamun. Memikirkan yeoja itu.

“Aish, ngelamunin apa sih?” tanyanya sambil duduk di kursi di depanku.

“Eh, Sungmin-ah. Apa kau tau pacarnya Jinki?” secara spontan aku menanyakan tentang Jinki.

“He? Jinki?” tanyanya kebingungan. Mungkin dia heran aku mau bertanya tentang orang lain. Apalagi ini Jinki.

“Ne.” jawabku singkat.

“Err, setauku dia baru putus sama pacarnya kemarin.” ucap Sungmin sambil menaruh telunjuknya di dagunya. Aish, masih sempat dia bersikap aegyo?

“Wah?” hanya itu ekspresiku.

“Hmm, oia, tumben kau mau tau urusan orang lain.” tanyanya sambil menyenderkan badannya di kursi.

“Hanya ingin tau saja. Eh, siapa itu nama yeoja yang baru putus sama Jinki?” pertanyaanku ini membuat kening Sungmin berkerut.

“Ayolah, aku ingin tau.” aku mencoba membujuk Sungmin. Dapat kulihat sepertinya dia masih heran dengan tingkahku.

“Ne~ yeoja itu namanya Park Minjung. Apa kau ingin mengambil hatinya? Jadi sekarang kau benar-benar seorang playboy?” tanya Sungmin sambil menatapku. Sekarang dia mulai meragukanku.

“A, andwae. Aish, Sungmin-ah, kau taulah siapa aku. Aku, aku, aku hanya ingin tau saja. Hehe. Apakah itu salah?” aku coba membela diri.

“Hemm, aniyo. Aku hanya heran saja dengan sikapmu.” ucapnya dan kemudian dia berlalu keluar kelas karena kekasih nya sudah datang.

Ah, sekarang aku tau. Jadi, gadis itu namanya Minjung ya. Park Minjung.

oOo

“AAA! Appa! Hyelin! Kenapa tak ada yang membangunkan aku?” aku berseru dari dalam kamar saat melihat jam dan ternyata aku masuk 40 menit lagi! Astaga. Dengan sangat terburu-buru aku bersiap-siap.

“Kukira kau tak ingin sekolah Youngwoon.” ucap appa sambil menyeruput kopi nya saat aku tiba di meja makan.

“Mana mungkin aku tak sekolah appa!” seruku. Aku hanya meminum sedikit susuku dan langsung pergi kesekolah.

Ah~ syukurlah gerbang sekolah masih dibuka. Aku langsung berlari ke kelas. Mwo? Ada apa ini? Kenapa kelas kosong? Aish! Kim Youngwoon pabo sekali dirimu. Sekarang kan pelajaran olahraga! Akhirnya aku melempar tasku ke meja dan berlari menuju lapangan.

BRUK! Aish, sial kenapa aku malah manabrak seseorang saat sedang terburu-buru seperti ini???

“Ah, mianhae aku buru-buru jadi tak melihat jalan.” ucapku sambil membungkukkan badan.

“Yayaya, sudahlah sekarang bantu aku bereskan buku-bukuku yang berserakan karena kau tabrak tadi.” ucapnya tanpa melihat ke arahku. Dia terus sibuk dengan buku-bukunya yang berserakan.

“Bantu? Aduh, mianhae aku buru-buru tak bisa membantumu. Aku, aku, aku harus cepat-cepat pergi kelapangan karena sudah terlambat.” aku sedikit merasa malas sebenarnya. Jadi aku mencoba mencari alasan. Tapi aku memang terlambat ko.

“Ya! Kau kira aku tak terlambat! Aku juga terlambat pelajaran Choi seogsaengnim dan kau tau seperti apa . . .” yeoja itu terus menggerutu dan ucapannya terputus saat melihatku. Apa wajahku menyeramkan sampai dia terdiam seperti itu? Atau dia terpesona? :D

“Ah, gwaenchanayo?” tanyaku cemas. Aku cemas kalau ternyata dia takut padaku (=_=)

“Aaa, gwaenchana. Ya sudah kau juga terlambat. Pergilah.” Ya! Apa-apaan dia sekarang malah mengusirku.

“Mianhae, aku aku . . .” aku mencoba meminta maaf lagi padanya. Dia masih sibuk berkutat dengan buku-bukunya yang berserakan. Park Minjung. Nama itu tertera di setiap buku yang dia bawa. Mwo? Jadi, jadi, yeoja ini adalah Minjung? Minjung err Minjung yang kemarin?

“Aku bilang aku tak apa-apa. Ok. Sudah selesai.” ucapnya  saat memasukkan bukunya yang terakhir. Dia bangkit dan menepuk-nepuk roknya.

Mataku terus saja terpaku pada setiap gerakannya. Aish, kenapa malah jadi aku yang terpesona padanya?

“Ya! Kau bilang kau terlambat dan sekarang kau hanya menonton aku memungut buku-buku. Aish, sudahlah. Aku buru-buru.” dia membentakku dan kemudian berlari menuju kelas nya. Ah~ perasaan apa ini? Aku terpesona padanya. Park Minjung.

“Ah! Aku juga terlambat!” seruku saat tersadar kalau aku terlambat dan aku pun langsung berlari menuju lapangan.

“Kim Youngwoon. Kukira kau tak akan masuk pelajaranku.” ucap Lee seongsaengnim saat melihat aku datang.

“Maaf seongsaengnim tadi saya terlambat bangun.” Ucapku sambil membungkukkan badan dalam.

“Push-up.” ucapnya singkat.

“Ne, eh?”

“Aku bilang sekarang kau harus push-up!” ucapnya. Aku bergidik mendengar bentakkan nya. Akirnya aku menuruti saja perintahnya dan segera melakukan push-up.

oOo

“Parah kau.” ucap Sungmin saat istirahat.

“He?”

“Berani datang walau sudah terlambat. Kalau aku jadi kamu, lebih baik aku membolos saja.” ucapnya.

“Haha, apa ini Sungmin yang aku kenal? Ck, ternyata kau punya pikiran untuk membolos juga ya.”

“Ya! Aku juga seorang pelajar yang kadang jenuh dengan pelajaran di sekolah.” ucapnya.

“Ne~ baiklah.”

“Terus apa yang membuat km terlambat hari ini hah?”

“Aish! Sejak kapan kamu jadi berani berkata menyolot seperti itu padaku?” ucapku sambil menjitak kecil kepalanya.

“Aw! Aku kan hanya bertanya Kangin.” ucapnya sambil memegang kepala nya dan sedikit meringis karena jitakkanku.

“Tapi kan tak usah menyolot seperti itu. Aku sebal mendengarnya tau.” ucapku sambil memainkan bola yang kupegang. Ya, kami akan bertanding bola dengan adik-adik kelas yang berani menantang sunbaenya ini bertanding. Dasar bocah.

Aku menurunkan bola yang kubawa dan memainkannya dengan kakiku. Syuuuuh~ aku hilang kontrol dan menendang bola itu dengan agak keras.

“Pabo! Cepat ambil bolanya.” seru Sungmin padaku.

“Iya. Tunggu sebentar disini.” ucapku padanya.

Aku mengejar kemana arah bola itu. Ah! Sial! Kenapa bola itu ke arah kantin. Kulihat ada seorang yeoja yang memegang kepalanya. Sepertinya bola itu mengenai kepalanya.

“Mianhaeyo, tadi aku menendang bola nya terlalu kuat.” ucapku sambil membungkukkan badan. Ah, sepertinya hari ini aku banyak meminta maaf pada orang-orang (=_=). Kuperhatikan wajah yeoja yang sedang meringis itu.

“Ah, kau yang tadi pagi.” ucapku terkejut. Bagaimana bisa ada kebetulan seperti ini. Aku melakukan kesalahan padanya 2x. Oke Kim Youngwoon sekali lagi kau melakukan kesalahan padanya hari ini, kau akan mendapatkan piring cantik.

“A, jeongmal mianhaeyo. Aku sudah melakukan 2 kesalahan padamu hari ini.” kali ini aku minta maaf dengan bersungguh-sungguh.

“Kau lagi?” tanyanya ketus.

“Mianhae, kau Park Minjung kan?” tanyaku penasaran. Mungkin saja aku salah mengenali orang. Dia mengangkat alisnya. Seperti nya aku benar. Dia memang Park Minjung.

“Hmm, sudahlah aku tak ingin ada urusan. Aku maafkan kesalahanmu.” ucapnya dan mencoba beranjak dari tempat duduknya.

“Jamkanman!” seruku. Aduh, apa yang aku lakukan. Kenapa aku berseru seperti itu? Dia berbalik dan menatapku.

“Ah, mmm, aku belum memperkenalkan diri.” ucapku. Aish pernyataan konyol Youngwoon.

“Tak perlu. Tak ada yang tak mengenal seorang playboy sepertimu.” ucapnya sambil berlalu. MWO? Kenapa aku di cap sebagai seorang playboy sih? (T_T) Eh, tapi kenapa juga aku sewot?

PLETAK! Sebuah pukulan mendarat di kepalaku.

“Aw!” seruku.

“Ya! Kangin-ah. Lama sekali kau hanya mengambil bola. Malu tau dengan adik kelas.” ucap Sungmin padaku. Aku hanya memegang kepalaku. Pulukan dia keras juga.

oOo

Yes! Bel istirahat sudah bordering. Langsung saja aku keluar dari kelas dan mencoba, oke mencari, yeoja itu. Park Minjung. Aku ingin mencarinya di kantin tapi penuh sesak dengan manusia-manusia. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke taman. Saat melewati lapangan aku melihat ada seorang yeoja yang sedang mengusap peluhnya. Gotcha! Kau beruntung Youngwoon, itu orang yang kau cari. Langsung saja aku menghampirinya dan duduk disebelahnya.

“Kau kepanasan ya?” tanyaku sambil menepuk sedikit kakinya.

“Seperti yang kau lihat.” ucapnya sambil mengibaskan tangannya di atas kakinya. Ya ampun, sepanas itukah?

“Ah!” seruku. Lebih baik aku membelikannya minuman dingin sebagai permintaan maafku kemarin. “Aku belikan kau minum ya?” tanyaku. Tanpa menunggu jawabannya aku langsung berlari ke kantin dan menerobos kerumunan manusia yang kelaparan. Yup! Aku berhasil mendapatkannya.

“Ini.” ucapku sambil menyodorkan sebotol jus jeruk dingin padanya. Kuharap dia menyukainya. Aku tak tau apakah dia menyukai jus jeruk atau tidak (=_=”)

“Gomawo.” ucapnya sambil mengambil jus jeruk yang aku sodorkan.

“Hmm.” gumamku.

Aku memperhatikannya membuka botol itu, dan meminum isinya. Aish, dia sangat membuatku terpesona. Err, sepertinya aku menyukainya. Ya, sejak aku melihatnya menangis waktu itu. Tiba-tiba dia berdiri dari tempat duduknya dan hendak pergi.

“Jamkanman!” ucapku. Dia berhenti dan menatapku.

“Bolehkah aku menyukaimu?” tanyaku dan menatapnya penuh harap. Dia terdiam. Ya, mungkin ini terlalu cepat. Lagipula aku aku belum terlalu yakin kalau aku memang jatuh cinta padanya.

“Minjung-ssi?” aku mencoba menanyakannya lagi.

“Kita lihat saja nanti.” ucapnya sambil berlalu pergi. Ah, dia dingin sekali. Apa dia tak merasa berdebar kalau ada seorang namja yang mengungkapkan perasaannya seperti itu? (=.=?)

oOo

Aku tak akan menyerah. Kali ini aku sudah membawa roti melon yang kubeli dengan susah payah di kantin. Kucari kelasnya. Yup! Ini dia kelasnya. Kuintip dari pintu kelas nya. Ah, dia ada disana sedang mengobrol dengan temannya. Langsung saja aku masuk kelasnya.

“Minjung-ssi~” panggilku. Kulihat ekspresi temannya kegirangan.

“Ah, hai.” ucapnya singkat. Tapi aku dapat melihat ada sedikit senyuman di wajahnya.

“Ini, untukmu. Kau pasti lelah sehabis olahraga tadi.” ucapku sambil menyodorkan roti melon yang kubawa.

“A… Iya, gomawo Youngwoon-ssi.”

“Aniyo~. Panggil saja aku Kangin.”

“Mmm, baiklah. Gomawo Kangin-ssi.”

KRIIIIIIIING! Bel masuk berbunyi. Ah, sial, kenapa harus berdering di saat seperti ini sih? Aku masih ingin disini dan mengobrol lebih lama dengan Minjung~ (=3=) Eh? Ah! Sekarang pelajaran Choi seongsaengnim!

“Ah, aku harus kembali ke kelas. Sekarang pelajaran Choi seongsaengnim! Aku pergi dulu ya. Annyeong!” ucapku dan terburu-buru berlari keluar kelas. Kenapa aku sampai lupa kalau sekarang pelajaran setan itu.

oOo

Pulang sekolah! Aku ingin tau dimana rumah Minjung! Aku harus tau! Langsung saja kubereskan barang-brangku dan berlari ke kelasnya. Aish! Dia sudah pulang. Aku coba mencari nya di sekitar gerbang. Syukurlah! Dia masih ada disana.

“Minjung-ssi~”

“Ah, Kangin-ssi. Ada perlu apa?”

“Emm, bolehkah aku mengantarmu pulang?” tanyaku ragu. Semoga dia tak menolak permintaanku ini.

“Mengantar pulang?” tanyanya heran.

“Ne, tapi tapi kalau kau tak mau juga tak apa-apa. Aku, aku ga maksa ko.” aku tak ingin dia merasa terganggu dengan permintaanku ini. Walaupun aku ingin sekali.

“Mmm, boleh sih. Tapi kan rumah mu berlawanan arah dengan rumahku.” (O.O) dia mengijinkanku!!! (>o<)

“Ah, gwaenchana. Ga masalah. Santai saja. Kangin kan punya banyak energi.”

“Oke.” ucapnya.

Selama perjalanan aku terus bercerita tentang diriku. Kadang kalau aku terdiam suasana menjadi hening. Ah, aku tak menyukainya. Jadi, biarlah aku terus berkicau tentang apapun.

“Ah, sudah sampai ya. Ga kerasa.” ucapku saat dia menunjukkan rumahnya. Aku sedikit kecewa karena aku masih ingin terus bersamanya.

“Iya, jauh ya rumahku? Mian kau harus jauh-jauh mengantarku kemari.”

“Ani, ani, gwaenchana. Aku senang bisa mengantarmu pulang. Hehe. Aku pulang dulu ya.”

“Kau tak mau masuk dulu?”

“Ga, ga usah. Aku harus cepat sampai rumah. Gomawo Minjung-ssi. Annyeong!”

oOo

“Aku pulang!” seruku saat sampai di rumah.

Aku masuk ke ruang tengah dan kurasakan ada aura suram disini.

“Ada apa?” tanyaku pada appa, eomma, dan Hyelin.

“Youngwoon, kemarilah.” ucap eomma sambil menepukkan tangannya ke lantai.

Akupun menghampirinya dan duduk di samping appa.

“Hhh~ mianhae Youngwoon-ah.” ucap appa padaku.

“Eh? Kenapa appa harus meminta maaf padaku?” tanyaku heran.

“Youngwoon, kau tau bagaimana hubungan keluraga kita kan?” tanya eomma padaku. Aku mengerutkan dahi. Apa maksudnya ini? Aku merasa ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi.

“Youngwoon, sekarang kau sudah dewasa. Appa yakin kau sudah mengerti maksudnya.”

“Bulan depan, urusan perceraian eomma dan appa sudah selesai.” ucap eomma. Hatiku sakit rasanya mendengar ini. Jadi, eomma dan appa memang akan bercerai?

“Kau, ikut appa.” ucap appa.

“Kemana?” tanyaku kaget.

“Seoul. Sesudah urusan perceraian beres kau bersama appa dan Hyelin bersama eomma disini.”

“Kenapa bukan Hyelin saja yang ikut appa ke Seoul?” aku mencoba melawan. Aku tak mau berpisah dengan Minjung. Sungguh, aku yakin kalau aku mencintainya.

“Youngwoon. Kalau kau ikut dengan appa, kau akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Tidak seperti disini. Ini tempat terpencil. Lebih baik kau ikut appamu ke Seoul. Kalau kau merindukan kami. Kau bisa kemari.” ucap eomma.

“Ne, eomma.” ucapku. Aku pergi menuju kamarku dan membanting tasku. Apa yang harus kulakukan? Bulan depan? Berarti bertepatan dengan kelulusanku. Aku masih belum bias menjadi seseorang yang diidamkan Minjung. Aku tidak pintar, aku, aku. Argh! Aku mengacak rambutku.

oOo

Selama sebulan aku terus belajar. Setidaknya aku ingin saat lulus aku berprestasi. Walau aku tau ini terlambat, tapi aku ingin menunjukkan kalau aku bisa menjadi namja yang diidamkan Minjung.

“Mmm, Kangin-ssi.” panggil Minjung saat kami beranjak pulang.

”Ne?”

“Chukkahae.”

“Untuk?”

“Kau juara 2 sesekolah.”

“Ah, hehe. Gomawo. Aku jadi malu.” ucapku sambil mengusap kepalaku.

“Aku baru tau loh kalau ternyata kamu sepintar itu.”

“Ya, aku berusaha untuk menjadi pria yang kau dambakan.” aku menatapnya. Aku sungguh-sungguh. Aku ingin menjadi pria yang dia inginkan. Dia menatapku dengan ekspresi kaget. Minjung, mianhae. Aku tak ingin mengatakan kata perpisahan denganmu. Tapi aku belum cukup pantas untuk mendampingimu.

“Baiklah, mian hari ini kita ga bisa pulang bareng. Aku ada urusan. Semoga kita bisa bertemu lagi ya. Annyeong.” ucapku. Aku langsung pergi sambil melambaikan tanganku. Aku harus bersiap-siap untuk berangkat ke Seoul.

oOo

“Youngwoon. Apa kau tak ingin mengucapkan salam perpisahan dulu pada teman-temanmu?” tanya eomma saat aku sedang termenung di teras belakang rumah.

“Aniyo eomma. Aku tak kuat mengucapkan kata perpisahan pada mereka.” jawabku.

“Hhh~ kau ini. Malah seharusnya kau menampakkan dirimu setidaknya untuk terakhir kalinya.” ucap eomma dari dalam rumah.

“Kemana appa?” tanyaku tidak mengacuhkan perkataan eomma.

“Appa sedang di rumah nenekmu. Rasanya tak pantas sudah bercerai tapi masih tinggal satu atap.”

Aku mendengus. Hhh~ berat sekali meninggalkan tempat ini. Tempat aku dapat bertemu dengan Minjung. Dialah orang yang pertama kali membuatku jatuh cinta. Park Minjung.

“Annyeong~” seru seseorang dari depan rumah. Dan aku yakin itu appa.

“Kemana Youngwoon?” tanya appa pada eomma. Aku dapat mendengarnya dari sini.

“Disana.” jawab eomma. Kemudian aku mendengar langkah kaki mendekat.

“Youngwoon-ah.” ucapnya. Aku tak mengindahkan perkataannya.

“Mianhae. Kita harus melakukan ini. Ini demi masa depanmu juga. Kita berangkat besok ya.” ucapnya.

“MWO? Besok? Tak bisa kah aku ikut kelulusan dulu?” seruku. Aku meyadari kalau ucapanku sedikit menyentak.

“Mian, appa harus segera bekerja disana.” aku semakin membelalakan mataku. Sejak kapan appa bekerja di Seoul???

oOo

TOK TOK TOK

Kudengar ada seseorang mengetuk pintu kamarku.

“Oppa, bolehkan aku masuk?” kudengar suara seorang yeoja. Ah, ya. Dia Hyelin.

“Ne~ masuklah.” ucapku.

Dia membuka pintu perlahan dan menatap sekeliling kamarku yang sudah kosong. Sekarang aku sedang merapikan tas-tasku.

“Ada apa?” tanyaku masih tetap fokus membereskan barang bawaanku.

“Oppa, bogossippo!” ucapnya sambil memelukku. Aku merasa sakit. Baru kali ini Hyelin berkata seperti itu padaku. Walau kami adik kakak tapi kami tak terlalu dekat dengannya. Aku membalikkan badanku dan membalas memeluknya.

“Ne~ oppa juga akan merindukanmu Hyelin.” ucapku lembut.

“Oppa, bagaimana dengan kekasihmu?” tanyanya. Aku mengangkat alis. Kekasihku? Siapa?

“Nugu?” tanyaku heran.

“Gadis yang selalu kau antar pulang. Bukankah dia kekasihmu?” tanyanya.

“Ah, Minjung. Aniyo. Dia bukan kekasihku.”

“Tapi kau mencintainya kan oppa?”

Pikiranku menerawang.

“Ah, Hyelin. Mau kah kau membantu oppa?”

oOo

“Hati-hati Youngwoon. Eomma akan merindukanmu.” ucap eomma sambil memelukku.

“Nado.” ucapku sambil tersenyum.

“Ayo berangkat Youngwoon.” ucap appa.

Aku menatap Hyelin penuh arti. Seperti mengerti maksudku dia menganggukan kepalanya.

Hhh~ saat ini aku sudah di perjalanan menuju Seoul. Kapankah aku bisa kembali kesana untuk bertemu Minjung? Aku harap sampai saat nya tiba aku masih akan tetap mencintainya. Minjung-ah~ mungkin kali ini kau sedang membaca suratku. Tunggulah aku Minjung.

oOo

“Youngwoon! Cepatlah! Apa kau ingin terlambat di hari pertamamu di kantor pusat?” seru appa dari ruang tengah.

“Ne appa! Aku sedang merapikan jasku.” aku tak kalah berteriak dari dalam kamar.

Yup! Kau gagah sekali Youngwoon. Ucapku saat melihat diriku di cermin.

Kantor pusat aku dataaaaaang!!!! Akhirnya aku di pindahkan ke kantor pusat. Aku tak menyangka bisa secepat ini di pindahkan dari kantor cabang ke kantor pusat.

“Annyeong, saya Kim Youngwoon yang di pindahkan dari . . .”

“Ah, jadi kau? Cepatlah! Dia sudah menunggu!” ucap seorang yeoja sambil menarik tanganku. Hey! Hati-hati jasku bisa jadi kusut nanti.

“Nah, dia menunggu di dalam. Tak usah banyak omong. Katakan saja kau karyawan pindahan itu ara?” ucapnya panjang lebar sementara aku hanya dapat mengangguk karena tak ada jeda yang bisa membuatku membalas perkataannya.

Dengan tegang aku berdiri di depan pintu itu. Aku sedikit merapikan jasku kembali.

TOK TOK TOK.

“Silakan masuk.” ucap seseorang dari dalam. Dengan mantap aku membuka pintu dan melihat ada seorang yeoja yang sibuk mengurusi berkas.

oOo

“Apa kabarmu?” tanyaku padanya. Ah~ aku merindukan wajahnya.

“Aku? Beginilah.”

“Haha, itu bukan jawaban Minjung-ssi. Sudah lama tinggal di Seoul?”

“Mmm, yah lumayan. Sejak aku harus pindah ke kantor pusat. Sekitar 2 bulan lah. Bagaimana dengan kau sendiri?”

“Aku? Yah, seperti kau liat. Aku sekarang bekerja di kantor yang sama denganmu. Hehe. Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini.”

“Hhh, sudah 5 tahun ya.” dia bergumam. Aku dapat mendengarnya.

“Iya, 5 tahun. Apa kau masih menungguku?”

“Hehe, maaf aku belum sempat mencarimu. Karena aku belum merasa aku sukses.” Ucapku. “Apa sekarang kau punya kekasih?”

Dia menggelengkan kepalanya. Ah, apa dia benar-benar menungguku?

“Pulang nanti, kita pulang bareng ya. Aku mau mengantarmu pulang.” ucapku. Aku ingin kembali ke masa lalu. Saat aku dan dia selalu pulang bersama.

oOo

Selama setahun aku rutin mengunjungi rumahnya. Aku merasa aku sudah cukup dekat dengannya. Dan seperti nya aku memiliki harapan.

“Minjung-ssi. Mau kah kau menjadi kekasihku?” tanyaku padanya di suatu malam setelah aku mengunjungi rumahnya. Mungkin ini sudah terlambat. Seharusnya aku mengatakan ini 6 tahun yang lalu.

“Kalau kau memang serius mencintaiku. Lamarlah aku. Kita langsung menikah.” ucapnya. Aku menatapnya. Aku terlalu shock dengan pernyataannya itu.

“Ok, aku pulang dulu ya. Annyeong.” ucapku dan kemudian pergi pulang. Omo~ kau pengecut Youngwoon. Tak seharusnya seorang yeoja yang mengatakan itu padamu. Aku mengelutuk sepanjang perjalanan.

Selama beberapa hari aku terus mencari cincin yang bagus. Ya, aku akan memenuhi permintaannya. Aku akan melamarnya. Aku tak ingin lari lagi. Ah! Cincin itu bagus. Semoga dia menyukainya.

Ok! Aku sudah membeli seikat bunga mawar dan aku sudah menyiapkan hatiku. Dan kini aku ada di depan pintu rumahnya.

TOK TOK TOK. Aku mengetukkan tanganku di pintunya. Penantian ini terasa lama, sebenarnya aku cukup gugup. Beberapa saat kemudian kudengar suara pintu yang akan di buka. Aku menyodorkan buket bunga yang kubawa ke arah pintu. Saat pintu terbuka kulihat wajahnya yang terkejut.

“Annyeong Minjung-ssi.” ucapku. Dia mengambil buket bunga yang kubawa dan mempersilakan aku masuk.

Aku menuju ruang tengah. Kulihat ada eomma nya yang sedang menonton TV. Saat Minjung sedang kebelakang aku menghampiri eomma nya.

“Annyeong ahjumma.” ucapku. Dia menengokkan kepalanya dan tersenyum saat melihatku.

“Ah, Youngwoon-ssi.” ucapnya.

“Ahjumma.”

“Ne?”

“Ijinkan ku memiliki putrimu. Aku kan menjaga nya seumur hidupku. Aku berjanji. Aku tak akan pernah menyakitinya. Ijinkan aku hidup bersama nya sepanjang hidupku.” ucapku secara langsung dan bersimpuh di hadapannya.

“Waegurae?” kudengar Minjung datang. Aku mengangkat badanku.

Ahjumma memeluk Minjung. Aku hanya tersenyum. Aku mengeluarkan kotak kecil yang sudah kupersiapkan dengan sungguh-sungguh. Benda kecil tapi akan sangat berarti.

“Aku melamarmu. Mau kah kau jadi pendamping hidupku selama nya sehidup semati?” tanyaku padanya sambil menyodorkan kotak merah yang kubawa.

Dia menatap eomma nya sebentar dan kemudian menatapku sambil menangis.

Tuhan, terima kasih. Kau terus menjaganya selama aku tak ada disisinya. Terima kasih karena kau telah mempertemukan aku dengan nya. Park Minjung. Kali ini, aku tak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan selalu disisimu. Saranghae Park Minjung.

=============================================================================================

6 thoughts on “ETERNAL LOVE (KANGIN POV)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s